KEBAKTIAN NATAL PERSEKUTUAN PENGAJARAN
PEMBANGUNAN TABERNAKEL
SERANG, 03 DESEMBER 2025 (SESI 1)
Tema: YESUS
SEBAGAI RAJA
Mula pertama saya ucapkan puji
syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya, kita sekaliannya dihimpunkan di
atas gunung TUHAN lewat Kebaktian Natal Persekutuan Pengajaran Pembangunan
Tabernakel. Memang kita bukan KKR tetapi bentuk fellowship / seminar
saja. Selamat datang di seminar ini, TUHAN memberkati kita sekaliannya.
Yang kami hormati, pengurus DPD
Sumatera Utara bapak, Pdt. Philip Surbakti, pengurus pusat DPD PPT; bapa Irwan
Setiawan sebagai pembina, juga penasihat; bapa Pdt. Mamahit, serta rekan-rekan
hamba TUHAN yang saya kasihi. Sebetulnya saya lebih suka menyebut “sahabat”,
sebab teman, tidak suka dengar suara Perjanjian Lama itulah nyanyian kidung
duka, juga tidak suka dengar Perjanjian baru itulah seruling. Jadi,
saya lebih suka menyebut rekan-rekan hamba TUHAN sebagai “sahabatku.” Kalau
hanya sebatas teman, persis seperti Yudas -- untuk itu sajakah kau datang
teman? Untuk uang sajakah kau datang teman ke fellowship ini?
Yang saya hormati, sahabat-sahabatku
yang datang dari Sumatera Utara, Palembang, Jambi, Riau, Lampung, tempat-tempat
yang jauh, akan tetapi menyempatkan untuk hadir. Juga hamba-hamba TUHAN yang
datang dari Jawa Tengah itulah bapa Lazarus yang tetap setia dalam setiap
kebaktian, ada juga bapa Pdt. Hakim dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan
satu persatu. Begitu juga yang dari Boyolali, Solo Raya, Semarang, Pati, Kota
Gede dan Salatiga dan lain-lain, saya tidak bisa sebutkan satu persatu, karena
terbatas ingatan saya.
Juga saya ucapkan selamat datang
kepada hamba-hamba TUHAN yang datang dari Bogor, Depok, Jakarta, Tangerang,
Bekasi bahkan dari Serang, Pandeglang sendiri juga ada.
Terimakasih buat kehadiran
rekan-rekan hamba TUHAN atau sahabat-sahabatku. Selamat datang dalam Kebaktian
Natal Persekutuan Pengajaran Pembangunan Tabernakel, yang akan kita
selenggarakan selama dua hari ke depan dan malam ini merupakan SESI PERTAMA.
Kita kembali membahas tema yang
sudah kita bahas di tahun yang lalu, yaitu dari Matius 2:6.
Namun, tetaplah berdoa dalam Roh,
mohon kemurahan dari TUHAN, kiranya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap
hati kita, pribadi lepas pribadi. Sebetulnya saya ingin merangkul saudara,
tetapi tangan saya terbatas, biarlah kiranya kasih TUHAN saja yang merangkul
kita semua. Saya sungguh menghargai kehadiran saudara yang datang dari berbagai
tempat dan untuk sementara meninggalkan pos pelayanannya, begitu juga penginjilan-penginjilan
yang meninggalkan pos pelayanannya, supaya kita dapat bersama-sama. Karena
memang kita semua harus digembalakan; gembala harus digembalakan, semua hamba TUHAN
yang menerima lima jabatan juga harus digembalakan, karena Yesus Kristus adalah
Gembala Agung. Supaya, kalau kita tergembala, niscaya domba-domba yang
dipercayakan juga tergembala dihadapan TUHAN. Itu yang menjadi doa kerinduan
kita semua.
Sekali lagi, tetaplah berdoa, supaya
Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Matius 2:6
(2:6) Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau
sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda,
karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan
menggembalakan umat-Ku Israel."
Dari Betlehem, tanah Yehuda, akan
bangkit seorang pemimpin.
Kepemimpinan ini ada kaitannya pada ayat
4.
Matius 2:4
(2:4) Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat
bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias
akan dilahirkan.
Yesus adalah Mesias. Mesias
artinya; pemimpin yang diurapi. Dalam bahasa Yunani disebut Kristus.
Saudara, di dalam Alkitab ada 3
(tiga) pemimpin yang diurapi:
1.
Nabi
2.
Imam
3.
Raja
Pendeknya, Yesus adalah nabi,
Imam ALLAH yang Maha tinggi, dan Raja.
Perlu untuk diketahui:
Kepemimpinan Yesus sebagai nabi,
imam dan raja, erat kaitannya dengan Betlehem, yang disebut rumah
roti.
Itu berarti, seorang pemimpin sudah
seharusnya terlebih dahulu penuh dengan roti hidup itulah Firman ALLAH untuk
selanjutnya diajarkan kepada umat TUHAN.
Saudara, Kebaktian Natal PPT pada
tahun lalu kita sudah membahas tentang YESUS SEBAGAI NABI, yang mengadakan
penyucian dosa di masa lalu, penyucian di masa sekarang, dan
penyucian di masa yang akan datang.
Kemudian, kita juga sudah membahas
tentang, YESUS SEBAGAI IMAM BESAR AGUNG.
Tugas Imam Besar Agung:
-
Melayani, berdoa dan
memperdamaikan dosa
-
Memimpin ibadah-ibadah
sampai kepada 2 (dua) klimaks:
- Mempelai TUHAN / gereja TUHAN yang sempurna
- Doa penyembahan, disebutlah itu hubungan intim /
hubungan nikah
Hal itu juga telah kita bahas bersama
pada tahun yang lalu.
Berarti pada kesempatan malam ini
kita akan bahas bersama-sama tentang: “YESUS SEBAGAI RAJA.”
“PENDAHULUAN”
Kita akan melihat daftar
keturunan / daftar silsilah raja yang tertulis dalam Matius 1:1-17.
Tetapi untuk mempersingkat waktu kita akan baca ayat 1, 2, 6, 11 dan 16 saja.
Matius 1:1, 2, 6, 11, 16 ---
Perikop: “Silsilah Yesus Kristus”
(1:1) Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
(1:2) Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub
memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, (1:6) Isai memperanakkan
raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria, (1:11)
Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke
Babel. (1:16) Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan
Yesus yang disebut Kristus.
Silsilah Yesus sebagai raja ditarik
dari Abraham melalui Daud dan Salomo. Lalu, silsilah itu
berlanjut sampai pembuangan ke Babel dan berakhir sampai kepada pribadi Yesus
Kristus sebagai Putera Raja.
Saudara, sesungguhnya, kalau kita
selidiki dan teliti daftar / silsilah TUHAN Yesus Kristus, maka kita akan
menemukan suatu hal yang bersifat “misteri / tersembunyi”. Karena ternyata,
daftar / silsilah keturunan Yesus ini berada di bawah naungan ALLAH Tritunggal.
Itu berarti, silsilah Yesus Kristus sebagai raja mempunyai “meterai keALLAHan”.
Adapun rahasia atau hal yang
bersifat misteri tersebut ditulis pada ayat 17.
Matius 1:17
(1:17) Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham
sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel,
dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.
Rahasia atau hal yang bersifat
misteri itu adalah keturunan yang terdiri dari 3 seri dan dari 14 keturunan,
diberitakan secara khusus, antara lain;
SERI PERTAMA: Dimulai dari
Abraham (Matius 1:2-5)
Abraham adalah bayangan dari ALLAH
Bapa.
SERI KEDUA: Dimulai dari Daud
(Matius 1:6-11)
Adapun Daud adalah bayangan dari Anak
ALLAH.
SERI KETIGA: Penyebaran atau pembuangan
ke Babel (Matius 1:12-16)
Pembuangan ke Babel adalah gambaran
dari ALLAH Roh Kudus / Roh ALLAH yang suci, di dalam penyebarannya /
perbanyakannya.
Inti sarinya…
-
Pertama-tama adalah;
Abraham sebagai sumber dari pemerintahan Sang Raja.
-
Kedua, Daud dan Salomo,
sebagai gambaran dari Anak ALLAH di dalam kematian, kebangkitan dan
kemuliaan-Nya.
Hanya saja, sesudah Salomo, mulailah degenerasi
yakni; kemerosotan / kemunduran
generasi, maksudnya; tidak sebaik dari generasi sebelumnya.
-
Pembuangan ke Babel
sebagai puncak dari degenerasi terbesar sampai abad ini. Namun demikian,
tetap ada di bawah lindungan Roh Kudus yang tabiatnya adalah penyebaran atau
perbanyakan. Sebagaimana penuangan Roh Kudus di loteng Yerusalem, dari sana
terjadi perbanyakan / penyebaran.
Singkatnya, silsilah Yesus
sebagai raja berada di bawah suatu meterai dari ALLAH Tritunggal yakni; ALLAH
Bapa, Anak ALLAH dan Roh Kudus. Betapa heran umat TUHAN, karena ternyata silsilah
Yesus Kristus, putera Raja berada di bawah lindungan ALLAH Tritunggal.
Selanjutnya, marilah kita melihat “garis
keturunan / silsilah keturunan raja.”
Matius 2:1-2 --- Perikop:
“Orang-orang majus dari Timur”
(2:1) Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada
zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem (2:2)
dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru
dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk
menyembah Dia."
Yesus adalah raja orang Yahudi, raja
orang Israel. Akan tetapi, silsilah itu ditarik sampai asal mulanya orang
Israel yaitu; Abraham, bukan Adam. Asal mulanya Israel adalah mulai dari
Abraham yang menerima perjanjian itu.
Ayat referensi: Aku akan membuat
engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa,
dan dari padamu akan berasal raja-raja (Kejadian 17:6). Dari
Abraham terpancarlah raja-raja di atas muka bumi ini.
Luar biasa sekali TUHAN kita, oleh
sebab itu jangan anggap enteng silsilah TUHAN Yesus Kristus sebagai raja; karena
ternyata ada di dalam meterai ke-ALLAHan. Jadi Yesus bukan Raja biasa, Yesus
adalah Raja mulia.
Itulah silsilah Yesus di dalam Injil
Matius. Sedangkan di Injil Lukas, Yesus dituliskan sebagai Anak Manusia,
oleh sebab itu silsilah / daftar keturunan Yesus ditetapkan sampai kepada Adam
(manusia pertama) dan melalui Daud dan Natan, bukan Daud dan Salomo.
.
Lukas 3:23-38 berbicara tentang “Silsilah Yesus sebagai Anak Manusia”.
Tetapi kita tidak perlu membaca semuanya.
Lukas 3:23 --- Perikop: “Silsilah
Yesus.”
(3:23) Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira
tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli, (3:37)
anak Metusalah, anak Henokh, anak Yared, anak Mahalaleel, anak Kenan, (3:38)
anak Enos, anak Set, anak Adam, anak ALLAH.
Di sini kita melihat, bahwasanya silsilah
Yesus ditarik sampai asal mulanya manusia pertama itulah Adam. Tetapi ini
menimbulkan pertanyaan jadinya.
Lukas 3:30
(3:30) anak Simeon, anak Yehuda, anak Yusuf, anak Yonam, anak
Elyakim, (3:31) anak Melea, anak Mina, anak Matata, anak Natan, anak
Daud,
Silsilah Yesus di sini dikatakan “anak
Daud dan Natan” bukan Salomo.
Di atas tadi kita lihat silsilah
Yesus…
-
Sebagai raja ditarik sampai Abraham asal mulanya Israel, lalu
Daud melalui Salomo.
-
Sementara Yesus
sebagai Anak Manusia, silsilahnya ditarik sampai manusia pertama (Adam)
lalu Daud dan Natan bukan Salomo.
Bila kita tarik garis dari Adam
(manusia pertama) sampai kepada Yesus lahir, itulah melalui jalur Daud dan
Natan, bukan Salomo. Itu berarti, Yesus tidak mempunyai hak atas takhta Daud, hal
ini menimbulkan pertanyaan.
Pertanyaannya: Bagaimana cara
Yesus memperoleh takhta Daud?
Jawabnya: hanya ada satu cara yaitu;
bila Maria (ibu Yesus) kawin dengan seorang laki-laki dari garis keturunan Salomo,
itu saja.
Mari kita perhatikan…
Matius 1:10, 11, 6 --- Perikop: “Silsilah
Yesus Kristus”
(1:10) Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon,
Amon memperanakkan Yosia, (1:11) Yosia memperanakkan Yekhonya dan
saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. (1:6) Isai
memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,
Intinya, Yusuf adalah keturunan
Yekhonya, sedangkan Yekhonya adalah keturunan Salomo.
Akan tetapi, TUHAN berfirman pada
Yeremia dalam…
Yeremia 22:24-30
(22:24) "Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, bahkan
sekalipun Konya bin Yoyakim, raja Yehuda, adalah sebagai cincin meterai pada
tangan kanan-Ku, namun Aku akan mencabut engkau! (22:25) Aku akan
menyerahkan engkau ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawamu,
ke dalam tangan orang-orang yang engkau takuti, ke dalam tangan Nebukadnezar,
raja Babel, dan ke dalam tangan orang-orang Kasdim. (22:26) Aku akan
melemparkan engkau serta ibumu yang melahirkan engkau ke negeri lain, yang
bukan tempat kelahiranmu; di sanalah kamu akan mati. (22:27) Tetapi ke
negeri yang mereka rindukan untuk kembali ke situ, mereka tidak akan
kembali!" (22:28) Adakah Konya ini suatu benda yang hina, yang akan
dipecahkan orang, atau suatu periuk yang tidak disukai orang? Mengapakah ia
dicampakkan dan dilemparkan ke negeri yang tidak dikenalnya? (22:29) Hai
negeri, negeri, negeri! Dengarlah firman TUHAN! (22:30) Beginilah firman
TUHAN: "Catatlah orang ini sebagai orang yang tak punya anak, sebagai
laki-laki yang tidak pernah berhasil dalam hidupnya; sebab seorang pun dari
keturunannya tidak akan berhasil duduk di atas takhta Daud dan memerintah
kembali di Yehuda."
Singkat kata, dari apa yang sudah
kita baca, intinya adalah tidak ada benih dari Yekhonya yang akan duduk di atas
takhta Daud.
Maksudnya di sini adalah Yusuf tidak
dapat menjadi bapa alamiah / lahiriah dari Yesus.
Silsilah Yesus sebagai raja dimulai
dari Abraham turun ke Daud, dan Salomo, lalu Yekhonya, barulah Yusuf. Tetapi
dari Injil Lukas, Yesus diceritakan sebagai Anak Manusia.
Di atas tadi timbul polemik, dari
Injil Lukas, Yesus disebut Anak Manusia, lalu bagaimana Dia menjadi raja di
atas takhta Daud? Jawabannya; ibu Yesus (Maria) harus menikah dari
keturunan Salomo supaya Yesus duduk sebagai raja atas takhta Daud.
Kita sudah melihat silsilah TUHAN
Yesus; Dia disebut sebagai raja, Dia disebut sebagai Anak Manusia. Kalau
dilihat dari sisi Anak Manusia; Yesus tidak akan menjadi raja di takhta Daud,
tetapi kita sudah mendapatkan jawabannya.
Sekarang, kita akan melihat “kelahiran
Sang raja.”
Matius 1:18 --- Perikop: “Kelahiran
Yesus Kristus”
(1:18) Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu
Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh
Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
Di sini kita melihat, sebelum Yusuf
dan Maria hidup sebagai suami isteri, ternyata, Maria sudah mengandung dari Roh
El Kudus. Sehingga, Yusuf pun bingung dan dalam kekalutan ia mau tinggalkan
Maria dengan diam-diam. Akan tetapi, malaikat TUHAN mencegah Yusuf, sebab,
apabila hal itu terjadi (Yusuf meninggalkan Maria), bisa merusak daftar
silsilah Yesus sebagai Raja atas orang Israel.
Sebagai tambahan:
Saya jadi teringat ketika Elimelekh
meninggalkan Betlehem (rumah roti), lalu pergi ke Moab untuk mencari kehidupan
yang lebih baik. Tetapi, bukan kehidupan yang lebih baik yang ia dapatkan,
melainkan lebih sulit, sampai akhirnya Elimelekh pun mati, sehingga tinggalkan
kedua anaknya dan Isteri (Naomi). Kemudian, tidak lama lagi kedua anak
laki-lakinya (Mahlon dan Kilyon) pun mati di Moab, setelah keduanya menikah
dengan perempuan Moab (Orpa dan Rut).
Singkat kata, Naomi kembali ke
Betlehem bersama dengan Rut. Kemudian mereka tiba di Betlehem pada musim menuai
jelai (ini juga bukan suatu kebetulan), lalu Rut menikah dengan Boas. Boas
adalah kerabat, sanak yang terdekat dari Elimelekh. Andaikata Rut tidak menikah
dengan Boas, maka silsilah Elimelekh berhenti / putus sampai di situ. Silsilah
Mahlon dan Kilyon yang dilahirkan dari rahim Naomi; putus juga sampai di situ, tidak
akan sampai mewarisi milik pusaka.
Tetapi puji TUHAN, silsilah
Elimelekh tidak putus, sebab Rut telah menikah dengan kerabat terdekat dari
Elimelekh itulah Boas. Boas memperanakkan Obed, terus, sampai TUHAN Yesus
lahir.
Jadi, sanak (keluarga) yang terdekat
dari kita, bukan adik, abang, saudara perempuan atau saudara laki-laki. Sanak
yang terdekat dengan kita adalah Yesus Kristus, Boas rohani, itulah Firman yang
rahasianya dibukakan menurut Amsal 7:4 --- Katakanlah kepada hikmat:
"Engkaulah saudaraku" dan sebutkanlah pengertian itu sanakmu.
Dari sanak inilah kita memperoleh
silsilah sampai kita mewarisi milik pusaka, itulah tanah air Sorgawi.
Jadi saudara, kalau kita datang
berfellowship, nantikanlah pembukaan Firman ALLAH, untuk kita jadikan sebagai
sanak kita masing-masing, lebih dari sanak sedaging. Jadikanlah pembukaan
Firman sebagai keluarga terdekat, Dialah Boas rohani; TUHAN Yesus Kristus yang
adalah Firman ALLAH, hikmat dan pengertian. Silsilah kita akan dibawa sampai ke
tanah air Sorgawi, tidak terputus.
Kita kembali membaca…
Matius 1:20-21
(1:20) Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat TUHAN
nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah
engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam
kandungannya adalah dari Roh Kudus. (1:21) Ia akan melahirkan anak
laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan
menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
-
Ayat 20, intinya adalah Yusuf anak Daud.
-
Ayat 21, dikatakan Dialah yang akan menyelamatkan
umat-Nya.
Dari dua ayat ini, menunjukkan
kepada kita bahwa Yesus adalah raja sejati, sebab Dialah satu-satunya Raja
yang akan menyelamatkan umat-Nya Israel.
Di atas tadi kita sudah melihat,
dimulai dari Salomo; terjadilah kemerosotan generasi, sampai akhirnya dibuang
ke Babel. Itu adalah sesuatu yang TUHAN tidak inginkan. Tetapi lihatlah, Yusuf
adalah Anak Daud, kemudian Yesus yang dilahirkan, Dialah yang akan
menyelamatkan umat-Nya. Dialah satu-satunya Raja yang akan menyelamatkan
umat-Nya.
Sekarang kita akan melihat; “raja
sebelum Yesus”, apakah dia mampu menyelamatkan umat Israel?
1 Samuel 10:1A
(10:1) Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak,
dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata:
"Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya
Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat TUHAN, dan
engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah
tandanya bagimu, bahwa TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya
sendiri:
Kita perhatikan bagian A: “TUHAN
telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel”
TUHAN mengurapi Saul menjadi raja
atas umat-Nya Israel, itu berarti…
-
Saul akan memegang
tampuk pemerintahan atas Israel
-
Dan menyelamatkan umat
Israel dari tangan musuh-musuh di sekitarnya
Itulah tanda pengurapan yang dialami
oleh Saul.
Pertanyaannya: Apakah Saul
mampu menyelamatkan Israel dari musuh di sekitarnya?
Mari kita lihat…
1 Samuel 10:1B-6
(10:1) Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak,
dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata:
"Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel?
Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat TUHAN, dan engkau akan
menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya bagimu,
bahwa TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya sendiri: (10:2)
Apabila engkau pada hari ini pergi meninggalkan aku, maka engkau akan bertemu
dengan dua orang laki-laki di dekat kubur Rahel, di daerah Benyamin, di Zelzah.
Mereka akan berkata kepadamu: Keledai-keledai yang engkau cari itu telah
diketemukan; dan ayahmu tidak memikirkan keledai-keledai itu lagi, tetapi ia
kuatir mengenai kamu, katanya: Apakah yang akan kuperbuat untuk anakku itu?
(10:3) Dari sana engkau akan berjalan terus lagi dan sampai ke pohon
tarbantin Tabor, maka di sana engkau akan ditemui oleh tiga orang laki-laki
yang naik menghadap ALLAH di Betel; seorang membawa tiga ekor anak kambing,
seorang membawa tiga ketul roti dan yang lain lagi sebuyung anggur. (10:4)
Mereka akan memberi salam kepadamu dan memberikan kepadamu dua ketul roti yang
akan kauterima dari mereka. (10:5) Sesudah itu engkau akan sampai ke
Gibea ALLAH, tempat kedudukan pasukan orang Filistin. Dan apabila engkau masuk
kota, engkau akan berjumpa di sana dengan serombongan nabi, yang turun dari
bukit pengorbanan dengan gambus, rebana, suling dan kecapi di depan mereka;
mereka sendiri akan kepenuhan seperti nabi. (10:6) Maka Roh TUHAN akan
berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah
menjadi manusia lain.
Tanda TUHAN mengurapi Saul menjadi
raja atas Israel, ada 3 (tiga) hal:
TANDA PERTAMA (ayat 2): Ayah
Saul khawatir terhadap keadaan Saul, bukan terhadap keledai-keledai, sebab
keledai-keledai itu telah ditemukan.
Hal ini berbicara tentang: KASIH sebagai naungan dari ALLAH BAPA.
TANDA KEDUA (ayat 3-4): Saul
menemui tiga laki-laki pada pohon Tarbantin Tabor yang naik menghadap ALLAH di
Betel.
-
Satu laki-laki membawa tiga
ekor anak kambing
-
Satu laki-laki membawa tiga
ketul roti.
-
Satu laki-laki membawa sebuyung
anggur.
Perlu untuk diketahui:
-
Yesus disebut Anak Domba,
juga disebut sebagai Roti Hidup, sebagai makanan. Sebab, Ia telah
memecahkan segenap hidup-Nya di atas kayu salib, dan sebagai Anak Domba Ia
telah tersembelih.
-
Sedangkan anggur (darah-Nya)
adalah benar-benar minuman.
Tetapi belum berhenti sampai di
situ, Saul akan mendapat salam dan dua ketul roti dari ketiga
laki-laki tersebut. Hal ini berbicara tentang FIRMAN ALLAH, sebagai naungan
dari YESUS, ANAK ALLAH
TANDA KETIGA (ayat 5-6): Saul
penuh dengan Roh ALLAH saat berjumpa dengan rombongan nabi di Gibea ALLAH.
Ciri-ciri penuh Roh ALLAH: Saul
berubah menjadi manusia lain, tidak sama dengan manusia dahulu / manusia
lama.
Berarti, manusia lain adalah manusia
baru yang sudah diasingkan oleh TUHAN.
Hal ini berbicara tentang naungan
dari ROH EL KUDUS, ROH ALLAH YANG SUCI.
Singkat kata, tiga tanda yang
dialami oleh Saul, itu merupakan naungan ALLAH Tritunggal.
Demikian juga di atas tadi, kita
sudah melihat silsilah Yesus sebagai raja, ada dalam naungan ke-ALLAHan /
naungan dari ALLAH Tritunggal.
Jadi, sebetulnya Saul ada dalam
naungan ke-ALLAHan, akan tetapi dia tidak menyadarinya.
Saudara, mulai dari malam ini dan
seterusnya, kita harus menyadari bahwa, imamat rajani / pelayanan kita ada
dalam naungan ke-ALLAHan, berada dalam naungan ALLAH Bapa, ALLAH Anak, ALLAH
Roh Kudus. Percayalah, jangan sampai kita tidak percaya, supaya kita jangan
bermain-main lagi. Entah itu satu jiwa atau dua jiwa, layanilah dengan
sungguh-sungguh, jangan suka ditinggalkan.
Sesibuk apapun Daud di istana Saul,
ia tetap pulang menggembalakan kambing domba (tiga ekor domba) ayahnya. Kalau
mengikuti fellowship semacam ini sangat bagus, akan tetapi kalau
tinggalkan domba-domba untuk cari uang, cari ketenaran; jangan dilakukan
saudara.
Kita lihat kembali, apakah Saul akan
menyadari bahwa dia ada dalam naungan ke-ALLAHan.
1 Samuel 10:7
(10:7) Apabila tanda-tanda ini terjadi kepadamu, lakukanlah apa
saja yang didapat oleh tanganmu, sebab ALLAH menyertai engkau.
Apabila ke-3 tanda itu terjadi,
Samuel berkata kepada Saul; “Lakukanlah apa saja yang didapat oleh
tanganmu.”
Apa saja yang didapat oleh tanganmu;
lakukan saja, karena imamat kita ada dalam naungan ke-ALLAHan, ada dalam
meterai ALLAH Bapa, anak ALLAH dan ALLAH Roh Kudus. Jangan
tunggu-tunggu donatur / korban dari luar.
Saudara, kalau malam ini kita bisa
melaksanakan Kebaktian Natal Persekutuan Pengajaran Pembangunan Tabernakel, itu
bukan karena donatur, tetapi karena meterai ke-ALLAHan. Apa yang didapat oleh
tangan kerjakan saja, tidak usah pakai hitung-hitungan.
1 Samuel 10:8
(10:8) Engkau harus pergi ke Gilgal mendahului aku, dan camkanlah,
aku akan datang kepadamu untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban
keselamatan. Engkau harus menunggu tujuh hari lamanya, sampai aku datang
kepadamu dan memberitahukan kepadamu apa yang harus kaulakukan."
Kemudian di sini kita melihat, Saul
diperintahkan untuk pergi ke Gilgal mendahului Samuel dan Saul harus
menunggu Samuel 7 hari lamanya.
Apa rahasia dibalik perintah ini? Artinya adalah kita juga harus menunggu 7 hari dengan
sabar, sebab…
-
6 hari kita bekerja
untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar
-
Sedangkan hari ke-7
adalah hari perhentian, disebut juga kekekalan -> kerajaan Sorga,
kalau dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena kepada RUANGAN MAHA SUCI.
Di dalam Ruangan Maha Suci ada 2 (dua) alat yang
dilihat oleh rasul Paulus.
Tabernakel yang dibangun oleh Musa hanya ada satu
alat, yaitu: Tabut Perjanjian (Tabernakel jasmani). Akan tetapi “Tabernakel
rohani” yang dilihat oleh rasul Paulus, ternyata sudah ada 2 (dua) alat di
dalam Ruangan Maha Suci yaitu; kekekalan / kerajaan Sorga.
Ketika rasul Paulus diangkat ke tingkat yang ketiga dari
Sorga itulah Ruangan Maha Suci, hal itu ia ceritakan kepada jemaat di Korintus:
“entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, ALLAH
yang mengetahuinya -- orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari
sorga” ( 2 Korintus 12:2). Lalu hal itu ditulis ulang kembali kepada
jemaat di Heber (orang Ibrani).
Mari kita lihat hal itu dalam…
Ibrani 9:1-4 --- Perikop: “Tempat kudus di bumi dan di
Sorga”
Dari perikop ini saja kita sudah langsung mempunyai
pengertian, yaitu; tidaklah mungkin kita bisa sampai ke “Tabernakel rohani”
kalau tidak memulai dari “Tabernakel jasmani” di bumi.
Ibrani 9:1-2
(9:1) Memang
perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan
untuk tempat kudus buatan tangan manusia. (9:2) Sebab ada dipersiapkan
suatu kemah, yaitu bagian yang paling depan dan di situ terdapat kaki dian
dan meja dengan roti sajian. Bagian ini disebut tempat yang kudus.
Pada ayat ini kita melihat, di dalam Ruangan Suci tidak
disebutkan lagi (tidak ditemukan lagi) Mezbah Dupa, hal ini disampaikan
oleh rasul Paulus kepada jemaat di Ibrani sesuai dengan apa yang ia lihat.
Ibrani 9:3-4
(9:3) Di belakang
tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut tempat yang maha
kudus. (9:4) Di situ terdapat mezbah pembakaran ukupan dari emas,
dan tabut perjanjian, yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam
tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang
pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian,
Di dalam Ruangan Maha Suci pada Tabernakel Musa hanya ada
satu alat, itulah Tabut Perjanjian. Tetapi, setelah rasul Paulus diangkat ke
tingkat yang ke tiga dari Sorga, dia telah melihat 2 (dua) perkara;
- Mezbah pembakaran ukupan dari emas
- Tabut perjanjian.
Inilah yang dilihat oleh rasul Paulus. Inilah hari ke-7,
hari perhentian, inilah kekekalan di dalam kerajaan Sorga.
Jadi sekali lagi saya sampaikan, ada 2 (dua) yang dilihat
oleh rasul Paulus di dalam Ruangan Maha Suci ketika ia diangkat ke tingkat
ketiga dari Sorga.
- Tabut perjanjian,
berbicara tentang…
a.
Takhta ALLAH -> sidang
mempelai wanita TUHAN / gereja TUHAN yang sempurna
b.
Hubungan nikah antara
Kristus Mempelai Pria Sorga dengan gereja TUHAN sebagai mempelai wanita-Nya,
dasarnya kasih. Dasar nikah adalah kasih, kalau bukan kasih nikah akan
berantakan.
- Mezbah pembakaran ukupan
-> doa penyembahan.
Doa penyembahan adalah tingkat ibadah yang
tertinggi / puncak ibadah.
Jadi, puncak ibadah bukan karunia-karunia, atau
seorang hamba TUHAN mengadakan mujizat kesembuhan atau kelepasan, bukan itu.
Tingkat ibadah tertinggi adalah doa penyembahan, di Sorga tidak ada lagi
kelepasan, mujizat kesembuhan, ajaran prosperity, kemakmuran, kekayaan
dan seterusnya.
Di hari ke-7 atau dalam kekekalan hanya bicara
soal penyembahan (Cawan Pembakaran Emas) dari gereja sempurna (Tabut
Perjanjian).
Jadi, kita sudah melihat hari ke-7,
tetapi, apakah Saul mengerti akan hal ini?
Di atas tadi kita sudah melihat…
-
Yusuf anak Daud
-
Yesus, Dialah yang
menyelamatkan umat-Nya.
Saul mengerti tidak akan hal ini? Kita akan bahas dan cari tahu; apakah benar Saul raja,
yang dimana tugas raja adalah menyelamatkan umat Israel dari tangan
musuh-musuh di sekitar, sebagaimana yang sudah kita baca dalam 1 Samuel 10:1
tadi?
Jadi saudara kita juga harus
demikian, menunggu dengan sabar sampai 7 hari. 6 hari bekerja, tetapi hari ke-7
adalah hari perhentian, supaya ibadah kita dibawa sampai 2 (dua) klimaks yaitu;
-
Menjadi mempelai wanita TUHAN.
-
Doa penyembahan, sebagai
wujud dari Mempelai TUHAN.
Inilah yang TUHAN nyatakan kepada
Saul lewat Samuel, dalam rangka penyelamatan atas umat Israel. Apakah Saul
mengerti hal ini?
Singkat kata, yang menjadi sasaran
dari gereja TUHAN adalah 2 (dua) klimaks:
1.
Menjadi gereja TUHAN
yang sempurna / sidang Mempelai TUHAN -> Tabut Perjanjian.
2.
Penyembahan -> Mezbah Pembakaran Ukupan Emas.
Penyembahan adalah wujud dari mempelai wanita TUHAN.
Jadi, yang namanya nikah, harus ada hubungan intim
(penyembahannya). Hamba TUHAN seperti saya harus suka menyembah, harus suka
melakukan hubungan intim dengan TUHAN sebagai Mempelai Laki-Laki Sorga.
Penyembahan disertai dengan bahasa lidah yang tidak dapat dipelajari
oleh orang lain selain orang itu dengan TUHAN, itu namanya hubungan nikah.
Itulah sasaran ibadah, tidak ada
yang lain. Inilah yang diperintahkan Samuel kepada Saul.
Pertanyaannya: Mengapa Saul harus menunggu Samuel 7 hari
lamanya?
Jawabnya; karena Samuel hendak
memberitahukan kepada Saul apa yang harus Saul lakukan. Akan tetapi, untuk
memberitahukan segala sesuatunya, tentu saja, setelah Samuel mempersembahkan; korban
bakaran dan korban keselamatan (seperti apa yang sudah kita baca pada
1 Samuel 10:8).
Mari kita lihat terlebih dahulu,
ketika Yesus mempersembahkan korban kepada Bapa di Sorga.
Matius 27:50 --- Perikop: “Yesus
mati”
(27:50) Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan
nyawa-Nya.
Di sini kita melihat…
Yesus berseru, memang, yang diserukan adalah isi hati manusia dengan segala
polemik dan persoalan yang dihadapi manusia di bumi ini. Tetapi ketika Yesus
berseru, itu merupakan penyembahan Yesus kepada ALLAH Bapa di Sorga.
ALLAH Bapa berkata kepada Yesus; “turun
ke dunia dan lakukan kehendak-Ku” dan Yesus berkata; “Eli, Eli lama
sabakhtani”, seruan (penyahutan) ini sekaligus penyembahan --- “Ya Bapa,
Saya lakukan kehendak-Mu.”
Kemudian, setelah berseru, Yesus
menyerahkan nyawa, singkat kata; penyembahan = penyerahan diri
sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak ALLAH. Itu sebabnya dari tadi saya
katakan; tingkat ibadah tertinggi adalah doa penyembahan, bukan karunia-karunia
yang dimiliki oleh seorang hamba TUHAN.
Inilah yang mau diajarkan oleh
Samuel kepada Saul; tunggu 7 hari supaya Samuel dapat memberitahukan segala
sesuatu terkait penyembahan dan hubungan nikah, tentu setelah
Samuel mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan.
Karena, tugas raja yang diurapi adalah menyelamatkan umat Israel, tidak lebih
dan tidak kurang.
Raja-raja di bumi diurapi menjadi
gembala, penginjil, tugasnya hanya satu; menyelamatkan umat ketebusan TUHAN
dari tangan musuh-musuh. Ada 3 (tiga) musuh abadi yaitu; daging, setan dan
dunia ini, yang sangat besar sekali pengaruhnya untuk menimbulkan dosa.
Jadi pendeknya, penyembahan artinya;
penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada ALLAH Bapa. Inilah tingkat
ibadah tertinggi, disebut juga puncak ibadah tidak ada yang lain. Jangan keliru
lagi dalam menggembalakan sidang jemaat, juga dalam pelayanan penginjilan juga
jangan keliru. Memang, dalam penginjilan mujizat kesembuhan harus terjadi
supaya orang-orang percaya, tetapi setelah percaya, ajarkan dan lanjutkan
kepada perkembangan sepenuhnya yaitu; menunggu selama 7 hari. Bukan hanya Saul
yang diajar untuk menunggu selama 7 hari, tetapi kita juga diajar oleh TUHAN
untuk menunggu 7 hari. Maksudnya, ibadah ini harus dibawa sampai kepada tingkat
ibadah tertinggi / puncak ibadah, itulah doa penyembahan.
Jadi saudara, kalau saya katakan
KEKEKALAN, saudara harus yakin untuk menyahut; PENYEMBAHAN dan kalau saya
katakan KEKEKALAN yang kedua, saudara harus yakin untuk menyahut; PENYERAHAN
DIRI. Jadi, yel-yel ini bukan untuk terlihat keren-keren, tetapi ini hasil
kajian.
Bukti doa penyembahan adalah puncak
ibadah.
Matius 27:51
(27:51) Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas
sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,
Setelah penyembahan dan penyerahan
diri, selanjutnya Tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.
Itulah bukti bahwa doa penyembahan
adalah puncak ibadah, bukan mujizat-mujizat yang dilakukan oleh seorang hamba TUHAN.
Saudara, mujizat-mujizat, tanda-tanda heran itu penting, tetapi harus berlanjut
sampai kepada puncak ibadah itulah doa penyembahan, wujud dari hubungan intim
(hubungan suami isteri). Dalam hubungan intim; tidak ada orang yang tahu,
begitu juga bahasa lidah; tidak ada yang tahu, kecuali orang itu sendiri
yang sedang melangsungkan hubungan intim dengan TUHAN.
Tabir Bait Suci terbelah dua atau
robek menjadi dua dari atas sampai ke bawah, arti rohaninya adalah…
Ibrani 10:22-24 --- Perikop:
“Ketekunan”
Saudara, ketekunan ini
sebenarnya bicara tentang ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok.
-
Ayat 22, di situ ada kata IMAN -> Ketekunan dalam Ibadah
Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci.
Dalam Ruangan Suci terkena kepada MEJA ROTI
SAJIAN.
-
Ayat 23, di situ ada kata PENGHARAPAN -> Ketekunan
dalam Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh.
Dalam Ruangan Suci terkena kepada PELITA EMAS.
-
Ayat 24, di situ ada kata KASIH -> Ketekunan dalam Ibadah
Doa Penyembahan
Dalam Ruangan Suci terkena kepada MEZBAH DUPA.
Itulah soal ketekunan. Tetapi
sebetulnya, itu hanya tambahan saja, yang mau saya bahas adalah arti rohani
dari Tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.
Ibrani 10:19-20
(10:19) Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh
keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, (10:20) karena Ia telah
membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya
sendiri,
Apa itu Tabir? Itulah tubuh (daging) atau diri Yesus yang robek dan
kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai Kepala rumah ibadah, Dia Imam besar,
Dia pemimpin yang baik, Dia sudah mengalami perobekan daging. Dengan
perobekan daging inilah jalan ke Sorga terbuka, kita tembus ke Sorga.
Jadi, kita tembus ke Sorga bukan
karena karunia-karunia tetapi karena perobekan daging. Kenapa terjadi
perobekan daging? Karena kita sudah berada pada puncak ibadah itulah doa
penyembahan. Jadi, puncak ibadah (doa penyembahan) adalah harga mati.
Saudara jangan mau lagi dibimbangkan dengan karunia-karunia yang ada di dunia
ini. Kita memang butuh karunia, tetapi puncak ibadah adalah doa penyembahan,
supaya terjadi perobekan daging dan terbukalah jalan menuju kerajaan Sorga
(tembus ke Sorga).
Pendeknya, kita harus sabar menunggu
7 hari, tetapi, apakah Saul mengerti hal ini? Apakah dia hanya tampil-tampil
saja di dalam kemegahan, kemewahan sebagai raja? Apakah saya juga sebagai
pembicara hanya mau tampil-tamil saja? Apakah saya mengerti rencana TUHAN,
seperti yang diperintahkan Samuel kepada Saul? Tetapi yang pasti, Saul
diurapi sebagai raja untuk menyelamatkan umat Israel dari tangan musuh-musuh di
sekitarnya.
Demikian juga saya sebagai pemimpin
jemaat yang sederhana ini, tugas saya hanya itu, bukan pamer-pamer supaya
kelihatan lebih rohani, lebih hebat, lebih terkenal. Terkenal tidak terkenal,
saya tidak peduli, tidak berarti bagi saya. Yang berarti adalah supaya kita
sampai kepada hari ke-7, hari perhentian kekal, ada penyembahan itulah hubungan
intim, dengan Yesus Mempelai Laki-Laki Sorga, tandanya; ada bahasa asing yang
tidak dapat dipelajari oleh orang lain selain kita dengan Dia.
Kalau seorang gembala ada dalam
penyembahannya yang heran, maka setiap satu kata yang keluar dari mulutnya
adalah “asap”, artinya; doa yang berkuasa itu sampai kepada jemaat. Setiap satu
kata “asap”, dua kata “asap”, sehingga sidang jemaat tertolong. Mulai malam ini
dan seterusnya, bukan soal hebat-hebat lagi dalam kita melayani TUHAN, itu
adalah kekeliruan dari Saul. Meskipun dipandang kolot oleh manusia, itu
tidak jadi soal, yang penting pengertian ini jangan bergeser. Saya mohon sekali
kepada semua rekan-rekan hamba TUHAN, jangan lagi bergeser dari pengertian
ini.
Kalaupun ada hamba TUHAN lain yang
memberi pengertian yang terlihat hebat, jangan bergeser lagi, sebab pengertian
ini sudah benar, jangan diubah-ubah. Mungkin hamba TUHAN lain lebih keren
bahasa Inggrisnya, bahasa Yunaninya; namun jangan bergeser ya saudara. Saya
mohon kepada semua rekan-rekan hamba TUHAN, kasihan jemaat biarpun dua atau
tiga orang saja. Saya berkata seperti ini, bukan supaya pribadi saya diterima,
tetapi pengertian ini yang harus diterima.
Pertanyaannya: Apakah Saul
mengikuti perintah Samuel yaitu; menunggu selama 7 hari?
1 Samuel 13:8A ---
Perikop: “Ketidaktaatan Saul waktu orang Filistin datang menyerang”
(13:8) Ia menunggu tujuh hari lamanya sampai waktu yang
ditentukan Samuel. Tetapi ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat
itu berserak-serak meninggalkan dia.
Singkat kata, Saul sudah berada di
Gilgal. Lalu disini dikatakan; Saul menunggu 7 hari lamanya sesuai
dengan jangka waktu yang ditentukan oleh Samuel.
Tetapi kita perhatikan bagian B --- Tetapi
ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak
meninggalkan dia. Namun, mulailah rakyat itu berserak-serak meninggalkan
Saul, tepatnya pada hari yang ke-7. Mengapa rakyat berserak-serak? Jawabannya
ada pada 1 Samuel 13:5.
1 Samuel 13:5
(13:5) Adapun orang Filistin telah berkumpul untuk berperang
melawan orang Israel. Dengan tiga ribu kereta, enam ribu orang
pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki sebanyak pasir di tepi laut
mereka bergerak maju dan berkemah di Mikhmas, di sebelah timur Bet-Awen.
Orang Israel melihat tentara Filistin.
-
3000 kereta
-
6000 orang pasukan
berkuda
-
Pasukan berjalan kaki
sebanyak pasir di tepi laut (pasir di tepi laut berarti; tidak terhitung
jumlahnya).
Ketika orang Israel “melihat”
suasana itu, akhirnya mereka merasa terjepit dan terdesak. Melihat suasana yang
begitu menakutkan, akhirnya mereka berserak-serak.
Memang, manusia melihat apa yang di
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati (1 Samuel 16:7). Artinya, kalau
bangsa Israel sama seperti Daud yang setia kepada ALLAH, maka mereka tidak akan
merasa terjepit dan terdesak. Kalau kita melihat situasi dengan mata; sulit /
susah dalam mengikuti TUHAN. Tetapi emang dasar orang Israel sering kali
menggunakan logika dan melihat situasi di sekitarnya dengan mata, akhirnya
mereka merasa terjepit dan terdesak, sehingga berserak-seraklah mereka.
Berserak-serak berarti; tidak ada kesatuan lagi. Kalau nikah pisah, Alkitab
berkata; tidak dapat bertahan. Kalau kerajaan berpisah-pisah
(pecah-pecah), itu tidak akan bertahan (Markus 3:24).
Jadi sekali lagi saya sampaikan,
bangsa Israel melihat dengan mata, atau manusia melihat apa yang di depan
mata, tetapi TUHAN melihat hati (1 Samuel 16:7) ... Kalau
saja orang Israel sama seperti Daud yang setia kepada ALLAH, maka mereka tidak
akan merasa terjepit dan terdesak.
Pendeknya, kita tidak boleh melihat
pekerjaan TUHAN ini dengan mata, tetapi harus melihat dengan hati. Meski gereja
kecil, jangan ditinggal-tinggalkan, tetapi tetaplah hati terpaut dengan TUHAN =
setia. Meskipun banyak ancaman, tetap setia kepada TUHAN = tidak
berserak-serak, supaya kita tetap bersatu dan kuat. Dalam himpunan kecil ini,
kalau kita bersatu, ke depannya kita pasti kuat. Oleh sebab itu, kita harus
setia kepada ALLAH dan mengarahkan pandangan kita kepada salib (panggilan
Sorgawi).
Sedikit melebar ...
Bukti orang-orang Israel tidak
setia.
1 Samuel 8:4-6 --- Perikop: “Orang
Israel menghendaki seorang raja”
(8:4) Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang
kepada Samuel di Rama (8:5) dan berkata kepadanya: "Engkau sudah
tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang
raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain."
(8:6) Waktu mereka berkata: "Berikanlah kepada kami seorang raja
untuk memerintah kami," perkataan itu mengesalkan Samuel, maka
berdoalah Samuel kepada TUHAN.
Ketika Samuel sang hakim Israel
telah menjadi tua dan ubanan, orang Israel menghendaki raja untuk memerintah
mereka, maksudnya; supaya sama seperti bangsa-bangsa lain.
Perlu untuk diketahui:
Bangsa Israel adalah bangsa pilihan
(sudah dipilih / diasingkan), tetapi mereka meminta raja untuk memerintah
mereka seperti bangsa-bangsa lain. Tetapi kita tidak sontoloyo ya saudara,
karena kita sudah memiliki Yesus, Raja di atas segala raja, tidak usah lagi
meminta raja yang lain seperti bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal ALLAH.
Mohon maaf kalau perkataan saya
kasar, tetapi itu fakta, bangsa Israel sontoloyo.
Saudara, permintaan dari bangsa
Israel ini mengesalkan hati TUHAN. Singkat kata, orang Israel berubah setia
dihadapan ALLAH, itulah bukti bahwa bangsa Israel tidak setia kepada ALLAH.
1 Samuel 8:7-8
(8:7) TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah perkataan
bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan
engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan
Aku menjadi raja atas mereka. (8:8) Tepat seperti yang dilakukan mereka
kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini,
yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada ALLAH lain, demikianlah juga
dilakukan mereka kepadamu.
Ketika orang Israel meminta raja
untuk mereka, sebetulnya mereka sedang menolak ALLAH dan menggeser kedudukan
ALLAH sebagai raja atas mereka. Singkatnya, bangsa Israel berubah setia dan sebenarnya
hal itu telah terjadi sejak ALLAH mengeluarkan mereka dari Mesir sampai hari
dimana mereka meminta seorang raja.
Kemudian, pada saat bangsa Israel
meminta seorang raja, sebenarnya mereka telah menolak ALLAH dan mereka telah
beribadah kepada “ALLAH lain”, kepada berhala-berhala. Itulah tanda orang yang
tidak setia.
Pendeknya, ibadah dan pelayanan yang
kita kerjakan sekarang ini, erat kaitannya dengan keberadaan Sang Raja. Lagi
pula muara dari ibadah dan pelayanan kita adalah perjamuan malam pesta kawin
Anak Domba (Wahyu 19:6-7). Di situ Yesus tampil sebagai Raja dan suami
(Mempelai Laki-Laki), berarti; imam. Jadi, muara dari ibadah dan pelayanan
ini adalah imamat rajani. Oleh sebab itu, semua jemaat harus menjadi imamat
rajani. Zangkoor saja sudah disebut imamat rajani, tidak harus pemimpin pujian,
pemain musik atau multimedia.
Dalam pesta nikah, Yesus tampil
sebagai Raja dan sebagai Mempelai Laki-Laki berarti; suami / kepala / imam.
Kita juga harus raja dan imam
(imamat rajani), di situlah tempat kita menantikan TUHAN pada kali yang
kedua, bukan di tempat lain.
Semoga pengertian ini sampai kepada
jemaat yang kita layani. Itulah pentingnya fellowship ini.
Jadi, sekali lagi saya sampaikan; dimana
kita menantikan kedatangan Yesus pada kali kedua? Jawabnya: dalam
kedudukan sebagai imamat rajani, di situlah kita menantikan TUHAN,
tidak ada tempat lain. Oleh sebab itu, yang belum imamat, berjuanglah,
layanilah TUHAN dengan sungguh-sungguh. Memang, dibutuhkan segala korban dalam
melayani TUHAN, baik tenaga, uang, pikiran, waktu, tetapi hasilnya kita bisa
berfellowship malam ini, kita boleh bergandengan tangan.
1 Samuel 12:12-13
(12:12) Tetapi ketika kamu melihat, bahwa Nahas, raja bani Amon,
mendatangi kamu, maka kamu berkata kepadaku: Tidak, seorang raja harus
memerintah kami, padahal TUHAN, ALLAHmu, adalah rajamu. (12:13) Maka
sebab itu, lihat itu raja yang telah kamu pilih, yang kamu minta.
Sesungguhnya TUHAN telah mengangkat raja atasmu,
Intinya, Saul menjadi raja karena
pilihan dan keinginan dari bangsa Israel, padahal bangsa Israel telah
mempunyai Raja yaitu TUHAN ALLAH, kepada-Nyalah mereka harus beribadah. Tetapi
supaya keren-keren seperti bangsa lain, mereka minta raja. Israel itu dipilih
oleh TUHAN dari semua bangsa, jadi tidak boleh sama dengan bangsa-bangsa lain.
Jadi, ibadah kita juga tidak boleh
untuk keren-keren, tetapi biarlah supaya TUHAN tetap menjadi Raja di tengah
ibadah dan pelayanan kita. Inilah hebatnya pembukaan rahasia Firman, dapat
menyelidiki segala sesuatu.
Singkat kata, TUHAN yang memilih
bangsa Israel dari semua bangsa di bumi, tetapi bangsa Israel justru menginginkan
Saul menjadi raja. Kelas mereka jadi turun, hanya karena supaya terlihat
keren, sebagai Raja di atas segala raja tidak ada di situ lagi.
Pilih mana, Raja segala raja ada di
tengah ibadah dan pelayanan atau keren-kerenan?
Saudara, TUHAN mau datang dan kita
tidak menantikan TUHAN dalam keadaan keren-kerenan, tetapi kita menantikan TUHAN
“di situ” yaitu; dalam keadaan imamat rajani (Filipi 3:20).
Singkat kata, baik Saul maupun bangsa Israel tidak
mengerti soal 7 hari. Bagaimana dengan kita malam ini setelah memperoleh
pengertian dari TUHAN? Apakah kita sontoloyo seperti Saul dan bangsa Israel?
Atau kita mau berlaku bijaksana soal 7 hari? Mari kita buktikan kepada TUHAN
malam ini, kita datang kepada TUHAN dan berkata; “inilah TUHAN yang saya
cari malam ini, bukan soal keren-kerenan, tetapi soal hari ke-7 itulah
penyembahan, hubungan intim dengan TUHAN disertai bahasa lidah.”
Rekan-rekan hamba TUHAN,
perhatikanlah jemaat di belakang, ia mengikuti gembala yang di depan, ia
mengikuti teladan kita. Kalau kita ada dalam hubungan intim, maka jemaat juga
ada dalam hubungan intim. Bawalah kekekalan ini sampai sidang jemaat juga ada
dalam kekekalan, ada penyembahan, ada penyerahan diri.
Besok pagi (SESI KEDUA) kita akan
telusuri seperti apa Saul di dalam kelemahannya, supaya kita jangan seperti
dia. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA,
MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U.
Sitohang

.png)
No comments:
Post a Comment