IBADAH RAYA MINGGU, 12 SEPTEMBER 2021
WAHYU 13:11-18
(Seri: 14)
Kita bersyukur, kemurahan TUHAN memungkinkan kita untuk berada di tengah Ibadah Raya Minggu yang disertai dengan kesaksian.
Harapan saya yang besar kepada TUHAN adalah supaya TUHAN menarik jiwa-jiwa datang kepada Dia, yang berawal dimulai dari saya, kami suami isteri, sampai kepada para imam, dan tanpa terkecuali sampai kepada seluruh sidang jemaat, supaya senantiasa meninggikan korban Kristus. Apabila Anak Manusia (korban-Nya) ditinggikan di bumi ini, maka TUHAN yang akan menarik jiwa-jiwa; maka, biarlah kita datang kepada TUHAN harus dengan penyerahan diri dengan segenap hati, segenap jiwa, akal budi, di dalam hal memikul salibnya di tengah ibadah pelayanan yang TUHAN percayakan ini.
Kalau kita memang betul-betul mau memperhatikan kehidupan orang lain, maka kita pertama-tama menghalau, menyingkirkan perasaan manusia daging; itulah langkah pertama untuk memperhatikan orang lain. Singkirkan terlebih dahulu perasaan manusia daging, dimulai saat mendengar Firman TUHAN, sehingga;
- kita akan menjadi kesaksian bagi isteri,
(13:13) Dan ia mengadakan tanda-tanda yang dahsyat, bahkan ia menurunkan api dari langit ke bumi di depan mata semua orang.
Wahyu 13:12A
(13:12) Dan seluruh kuasa binatang yang pertama itu dijalankannya di depan matanya. Ia menyebabkan seluruh bumi dan semua penghuninya menyembah binatang pertama, yang luka parahnya telah sembuh.
Kemudian, adapun kuasa itu dijalankan oleh nabi-nabi palsu persis di depan mata dari antikris, berarti; disoroti (dilihat) dengan jelas oleh antikris. Maka, dari hal ini saya berani berkata, bahwa; suatu kali nanti, dunia pun akan menyoroti segenap ibadah-ibadah kita ini, percayalah.
Wahyu 13:1
(13:1) Lalu aku melihat seekor binatang keluar dari dalam laut, bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh; di atas tanduk-tanduknya terdapat sepuluh mahkota dan pada kepalanya tertulis nama-nama hujat.
- bertanduk 10 (sepuluh),
(13:2) Binatang yang kulihat itu serupa dengan macan tutul, dan kakinya seperti kaki beruang dan mulutnya seperti mulut singa. Dan naga itu memberikan kepadanya kekuatannya, dan takhtanya dan kekuasaannya yang besar.
1. Macan tutul.
1. Kekuatannya.
Antikris dan kekuasaannya, suatu kali nanti bekerja sama -- bersinergi, berkolaborasi -- dengan nabi-nabi palsu (pemimpin-pemimpin rohani yang palsu); percayalah dengan apa yang saya sampaikan ini. Kita bersyukur, sebab Yesus, Gembala Agung, menuntun kita dengan langkah-langkah yang pasti, sampai kepada tujuan kelak, sesuai dengan ketetapan Firman yang dibukakan.
(104:4) yang membuat angin sebagai suruhan-suruhan-Mu, dan api yang menyala sebagai pelayan-pelayan-Mu,
- selain mengosongkan diri dan menghampakan diri seperti angin,
Oleh sebab itu, kita pun datang menghadap TUHAN dalam setiap pertemuan ibadah harus dengan api TUHAN, bukan semangat api daging, jangan, supaya kita adalah milik kepunyaan TUHAN. Biasakanlah menjadi milik kepunyaan TUHAN.
Yohanes 14:16-17
(14:16) Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, (14:17) yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.
Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya supaya mereka jangan memberitahu kepada Firaun bahwa mereka adalah gembala kambing domba, karena itu merupakan kekejian bagi Firaun dan Mesir, kekejian bagi Setan dan dunia. Itulah dasarnya tadi saya mengatakan, bahwa; suatu kali nanti, dunia ini pun akan menyoroti kegiatan ibadah.
(14:26) tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
Saya ini orang bodoh; tidak mungkin saya dapat menyampaikan Firman, kalau saya mengandalkan kemampuan yang terbatas ini, tetapi Roh TUHAN yang memberi kemampuan dan yang mengajar dalam segala perkara, percaya saja. Kalau engkau merasa dirimu bodoh, berikanlah dirimu berada dalam kegiatan Roh dan berikanlah dirimu senantiasa dipimpin oleh Roh TUHAN, maka engkau akan mampu untuk mengerjakan segala sesuatu, percaya saja. Hal ini saya sampaikan berdasarkan pengalaman saya, bukan berdasarkan pengetahuan saya semata.
Yohanes 16:8,13
(16:8) Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; (16:13) Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
1. Penolong.
(4:5) Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.
Wahyu 5:6
(5:6) Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.
Itulah yang disampaikan oleh TUHAN Yesus di dalam Injil Matius 22, di mana suasana kebangkitan itu seperti malaikat, tidak ada lagi darah dan daging, tidak kawin dan mengawinkan, berarti tidak ada rasa, tidak mudah tersinggung.
- Masakan saya menyampaikan ayat Firman TUHAN, namun ternyata ayat Firman itu kena terhadap seseorang, lalu akhirnya tersinggung.
Mari kita perhatikan Zakharia 4, dengan perikop: “Penglihatan kelima: Kandil emas yang berhiaskan dua pohon zaitun” Adapun penglihatan nabi Zakharia yang kelima ialah kandil emas yang berhiaskan dua pohon zaitun. Kita akan periksa hal itu.
(4:1) Datanglah kembali malaikat yang berbicara dengan aku itu, lalu dibangunkannyalah aku seperti seorang yang dibangunkan dari tidurnya.
(4:2) Maka berkatalah ia kepadaku: "Apa yang engkau lihat?" Jawabku: "Aku melihat: tampak sebuah kandil, dari emas seluruhnya, dan tempat minyaknya di bagian atasnya; kandil itu ada tujuh pelitanya dan ada tujuh corot pada masing-masing pelita yang ada di bagian atasnya itu. (4:3) Dan pohon zaitun ada terukir padanya, satu di sebelah kanan tempat minyak itu dan satu di sebelah kirinya."
(4:4) Lalu berbicaralah aku, kataku kepada malaikat yang berbicara dengan aku itu: "Apakah arti semuanya ini, tuanku?" (4:5) Maka berbicaralah malaikat yang berbicara dengan aku itu, katanya kepadaku: "Tidakkah engkau tahu, apa arti semuanya ini?" Jawabku: "Tidak, tuanku!" (4:6) Maka berbicaralah ia, katanya: "Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.
(4:7) Siapakah engkau, gunung yang besar? Di depan Zerubabel engkau menjadi tanah rata. Ia akan mengangkat batu utama, sedang orang bersorak: Bagus! Bagus sekali batu itu!"
Tetapi kalau kita melayani tanpa Roh TUHAN, maka pekerjaan ringan sekalipun akan terasa berat sekali. Kalau tidak ada api Roh TUHAN yang memberi semangat luar biasa, maka pekerjaan kecil saja rasanya berat, padahal tidak ada apa-apanya sebetulnya.
Apa sulitnya memuji TUHAN dengan sukacita? Apa sulitnya bertepuk tangan? Apa sulitnya dengan sungguh-sungguh untuk datang mendengar Firman TUHAN? Tidak ada yang sulit di situ. Duduk diam memperhatikan Firman TUHAN, tidak ada yang sulit di situ. Untuk tepuk tangan memuji TUHAN, tidak ada yang sulit di situ. Tetapi hal yang ringan sekalipun bisa menjadi sulit, kalau tidak ada api Roh TUHAN.
Tetapi lihatlah Zerubabel; melayani TUHAN, melayani pekerjaan TUHAN dengan api Roh TUHAN, maka gunung besar pun menjadi rata. Sekali lagi saya sampaikan: Kalau melayani dengan api Roh TUHAN, maka gunung besar sekalipun akan menjadi tanah rata, tidak ada perkara yang sulit di hadapan TUHAN. Jadi, jangan pakai alasan ini dan itu.
Jangan dalam setiap ibadah; hamba-hamba Tuhan sibuk hanya mengadakan sensasi-sensasi, sedikit-sedikit bicara berkat. Saya ini bukan arti berkat, tidak mungkin saya anti dengan berkat; saya ini juga bukan anti mujizat (sensasi), tidak, saya butuh mujizat. Tetapi, jangan setiap kali kita datang beribadah kepada TUHAN, yang dikerjakan hanyalah sensasi, hanyalah mujizat, hanyalah bicara berkat-berkat, tidak ada lebih dari pada itu.
Tetapi lihatlah Zerubabel; kehidupan yang dikuasai oleh api TUHAN, dia juga mengangkat batu utama, berarti; meninggikan korban Kristus di tengah ibadah dan pelayanan, dengan kata lain; ibadah pelayanan itu betul-betul dihubungkan dengan salib, tidak lagi dihubungkan dengan perkara-perkara lahiriah di bumi ini.
Artinya, orang lain, termasuk sidang jemaat, turut mengutamakan, turut meninggikan korban Kristus di tengah ibadah pelayanan, lebih dari segala-galanya. Kalau kita sudah tinggikan korban, pasti lebih dari perasaan kita, lebih dari keinginan kita, lebih dari maunya kita, lebih dari berkat-berkat lahiriah; itulah dampak positifnya, di mana sidang jemaat juga turut meninggikan korban Kristus, bahwasanya korban Kristus itu lebih dari segala-galanya.
(4:8) Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, demikian: (4:9) "Tangan Zerubabel telah meletakkan dasar Rumah ini, dan tangannya juga akan menyelesaikannya. Maka kamu akan mengetahui, bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku kepadamu.
Tidak akan mungkin terwujud pembangunan rumah TUHAN, jika tidak dibangun di atas dasar korban Kristus. Dari sinilah kita ketahui; jangan kita datang mencari ibadah sesuai selera, jangan, tetapi harus sesuai dengan Firman.
(4:10) Sebab siapa yang memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil, mereka akan bersukaria melihat batu pilihan di tangan Zerubabel. Yang tujuh ini adalah mata TUHAN, yang menjelajah seluruh bumi."
Ciri-ciri meninggikan korban Kristus senantiasa memandang hina hari peristiwa-peristiwa kecil di bumi ini.
Zakharia 4:10B
(4:10) Sebab siapa yang memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil, mereka akan bersukaria melihat batu pilihan di tangan Zerubabel. Yang tujuh ini adalah mata TUHAN, yang menjelajah seluruh bumi."
(4:11) Lalu berbicaralah aku kepadanya: "Apakah arti kedua pohon zaitun yang di sebelah kanan dan di sebelah kiri kandil ini?" (4:12) Untuk kedua kalinya berbicaralah aku kepadanya: "Apakah arti kedua dahan pohon zaitun yang di samping kedua pipa emas yang menyalurkan cairan emas dari atasnya itu?" (4:13) Ia menjawab aku: "Tidakkah engkau tahu, apa arti semuanya ini?" Jawabku: "Tidak, tuanku!" (4:14) Lalu ia berkata: "Inilah kedua orang yang diurapi yang berdiri di dekat Tuhan seluruh bumi!"
Dan dua pohon zaitun itu tadi terukir pada sisi kanan dan sisi kiri tempat minyak pada kandil. Hal ini juga menunjukkan bahwa kedua hamba TUHAN ini juga sudah termeterai (terukir) menjadi milik kepunyaan TUHAN. Jadi, dua orang hamba TUHAN yang melayani dengan api TUHAN, berdiri di dekat TUHAN seluruh bumi.
Jadi, sama seperti Zakharia 4:11 kebalikannya adalah Wahyu 11:4, itulah kedua pohon zaitun itu; jadi, tidak ada yang kebetulan.
Wahyu 11:3-4
(11:3) Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya. (11:4) Mereka adalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam.
Jadi, rugilah kalau saudara ngantuk-ngantuk saat mendengar Firman; oleh sebab itu, singkirkanlah itu perasaan manusia dagingmu.
(11:5) Dan jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, keluarlah api dari mulut mereka menghanguskan semua musuh mereka. Dan jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, maka orang itu harus mati secara itu.
Imamat 10:1
(10:1) Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintah
Kita juga datang melayani TUHAN bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk menyenangkan hati TUHAN. Saya pun tidak boleh melayani TUHAN, terkhusus dalam pemberitaan Firman TUHAN, hanya karena untuk kepentingan pribadi saya, tetapi saya belajar untuk melayani TUHAN, teramat lebih dalam pemberitaan Firman untuk kepentingan kita semua, dan saya sudah buktikan walaupun saudara tidak melihat apa yang saya kerjakan. Itulah yang saya sampaikan di atas tadi, bahwa di tangan Zerubabel ada batu utama; mengutamakan (meninggikan) korban, supaya mendapat pembukaan Firman. Kalau saya bilang “saya tiga jam menyembah”, apakah saudara melihat saya? Tentu tidak.
Tidak boleh melayani karena kepentingan pribadi, golongan dan kelompoknya, sebab itu adalah api asing. Saudara datang menghadap TUHAN lewat Ibadah Raya Minggu untuk apa? Untuk menyenangkan TUHAN atau untuk kepentingan diri, atau karena malu kepada tetangga kalau tidak datang beribadah? Biarlah kita jujur dan tulus saat datang menghadap TUHAN.
Imamat 10:2
(10:2) Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN.
Mari kita perhatikan Bilangan 16, dengan perikop: “Pemberontakan Korah, Datan dan Abiram”
Bilangan 16:1-2
(16:1) Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak orang-orang (16:2) untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan.
(16:3) Maka mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata kepada keduanya: "Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?"
Bilangan 16:4
(16:4) Ketika Musa mendengar hal itu, sujudlah ia.
(16:5) Dan ia berkata kepada Korah dan segenap kumpulannya: "Besok pagi TUHAN akan memberitahukan, siapa kepunyaan-Nya, dan siapa yang kudus, dan Ia akan memperbolehkan orang itu mendekat kepada-Nya; orang yang akan dipilih-Nya akan diperbolehkan-Nya mendekat kepada-Nya. (16:6) Perbuatlah begini: ambillah perbaraan-perbaraan, hai Korah, dan kamu segenap kumpulannya, (16:7) bubuhlah api ke dalamnya dan taruhlah ukupan di atasnya, di hadapan TUHAN pada esok hari, dan orang yang akan dipilih TUHAN, dialah yang kudus. Cukuplah itu, hai orang-orang Lewi!"
(16:8) Lalu berkatalah Musa kepada Korah: "Cobalah dengar, hai orang-orang Lewi! (16:9) Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, (16:10) dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi?
1. Meja Roti Sajian Ã
![]() |
- Roti harus selalu baru.
Ingat: Semua perkara kalau dilempar ke atas akan jatuh ke bawah. Hanya satu perkara yang lepas dari daya tarik bumi, yaitu asap dupa kemenyan yang berbau harum.
Itulah sebabnya, Musa memerintahkan Korah dan konco-konconya: Ayo, besok bawa perbaraanmu, taruh ukupan, lalu kita lihat bau harum atau tidak? Kalau Ibadah Raya Minggu, itu belum bau harum, walaupun sudah menjadi kesaksian. Kalau Firman sudah mendarah daging, itu bagus, tetapi harus bau harum, harus memuncak sampai Doa Penyembahan.
Jangan saudara tidak mau mengerti akan hal ini. TUHAN sudah memberi pengertian, tetapi kita menolak, itu adalah kebodohan.
Mereka masih menuntut pangkat imam. Jadi, yang dicari dalam ibadah pelayanan adalah pangkat, bukan TUHAN Yesus. Sangat disayangkan bila melayani, namun mencari pangkat; ini adalah suatu sikap yang keliru dan salah kaprah di hadapan TUHAN.
(16:11) Sebab itu, engkau ini dengan segenap kumpulanmu, kamu bersepakat melawan TUHAN. Karena siapakah Harun, sehingga kamu bersungut-sungut kepadanya?"
Ingatlah hal ini; kalau sudah diberi pengertian semacam ini, jangan diulangi. Kalau dahulu bersungut-sungut melawan hamba TUHAN karena tidak mengerti, masih dengan mudah mengampuni, tetapi kalau sudah diberi pengertian semacam ini namun masih tetap bersungut-sungut terhadap hamba TUHAN yang memikul salib, itu sama dengan melawan TUHAN. Jadi, kalau sekarang sudah memiliki pengertian akan hal ini, jangan coba-coba lagi untuk bersungut-sungut.
Sedikit kesaksian: Ada seorang pemuda remaja datang ke sini, namun dia tidak sungguh-sungguh; akhirnya dia disentil TUHAN, bagaimana caranya? Setan membisikkan telinganya; ditiup telinga dari kanan ke kiri. Akhirnya, takutlah dia, minta ampunlah dia, menangislah dia sejadi-jadinya.
Lalu saya sampaikan yang benar supaya dia sungguh-sungguh. Lalu saya bertanya: Kamu mau datang ke sini, apa motifnya? Rupanya, motifnya masih kuliah, masih mencari kerja, masih ini dan itu; rupanya, ibadah pelayanan ini hanya batu loncatan. Akhirnya, saya sampaikan kepada mereka supaya berdoa bersama-sama, supaya Setan itu ditengking.
Jangan lawan TUHAN lagi mulai dari sekarang, caranya; jangan bersungut-sungut kepada hamba TUHAN yang benar-benar jujur memikul salib.
- Begitu suami bersungut-sungut, isteri harus mengingatkan supaya jangan bersungut-sungut.
(16:12) Adapun Musa telah menyuruh orang untuk memanggil Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, tetapi jawab mereka: "Kami tidak mau datang. (16:13) Belum cukupkah, bahwa engkau memimpin kami keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya untuk membiarkan kami mati di padang gurun, sehingga masih juga engkau menjadikan dirimu tuan atas kami? (16:14) Sungguh, engkau tidak membawa kami ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ataupun memberikan kepada kami ladang-ladang dan kebun-kebun anggur sebagai milik pusaka. Masakan engkau dapat mengelabui mata orang-orang ini? Kami tidak mau datang."
- Memimpin pujian, namun tidak dengar-dengaran, sesuka hatinya saja, itu tidaklah benar.
Praktek tidak taat, tidak setia, tidak dengar-dengaran dari seorang imam (pelayan TUHAN) ialah:
YANG PERTAMA: Menuduh Musa sebagai hamba TUHAN yang mengambil rupa tuan.
Mereka menuduh bahwa Musa adalah seorang hamba TUHAN yang tinggi hati (sombong) dan mengambil rupa tuan, bukan hamba TUHAN yang lemah lembut dan rendah hati.
YANG KEDUA: Mereka tidak yakin bahwa TUHAN mengutus Musa untuk memimpin perjalanan bangsa Israel masuk ke negeri Kanaan yang berlimpah-limpah susu dan madu.
Inilah kalau tidak taat, tidak setia, tidak dengar-dengaran itu, maka prakteknya ialah menuduh hamba TUHAN yang tidak-tidak; selain menuduh hamba TUHAN mengambil rupa tuan, selanjutnya mereka menuduh hamba TUHAN bukan hamba TUHAN yang diutus TUHAN untuk membawa sidang jemaat ke tempat perjanjian (hari perhentian, hari ketujuh, Sabatnya TUHAN Yesus, kerajaan seribu tahun damai).
YANG KETIGA: Mereka juga tidak yakin bahwa TUHAN mengutus Musa untuk memberikan ladang-ladang penggembalaan dan kebun-kebun anggur untuk menjadi milik pusaka mereka, singkatnya; tidak yakin bahwa Musa diutus menjadi gembala sidang.
Ingat: Ibadah pelayanan dalam ladang penggembalaan ini asalnya adalah dari TUHAN, yang membawa kita sampai kepada tanah air sorgawi sebagai milik pusaka kita. Percayalah. Hal ini pun menjadi tujuan saya, sehingga saya harus rela berkorban untuk mengorbankan perasaan ini; saya tahu siapa yang memberontak, saya tahu siapa yang melawan, saya tahu siapa yang main belakang, namun saya harus tahan perasaan ini, karena TUHAN selalu memberi penglihatan. Baru-baru ini TUHAN beri penglihatan; seorang pemimpin pujian sudah duduk di kumpulan ibu-ibu yang kepalanya bertudung kerudung, ia berada dalam pengaruh pimpinan yang lain. Apa saja yang tidak berkenan, saya tahu, tidak ada yang tidak saya tahu; semua saya tahu, tetapi saya harus menahan perasaan ini.
YANG KEEMPAT: Bahkan, mereka menuduh bahwa Musa mengelabui mata umat Israel, atau berlaku munafik. Orang munafik itu berdoa dengan panjang-panjang untuk mengelabui mata orang.
- Sungguh, engkau tidak membawa kami ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya … Mereka tidak yakin kepada Musa untuk memimpin mereka masuk ke tanah Kanaan, tanah yang limpah susu dan madu.
(16:15) Lalu sangat marahlah Musa dan ia berkata kepada TUHAN: "Janganlah perhatikan segala persembahan mereka. Belum pernah kuambil satu ekor keledai pun dari mereka, dan belum pernah kulakukan yang jahat kepada seseorang pun dari mereka."
Kemudian, Musa ini juga bukan seorang hamba TUHAN yang melakukan yang jahat kepada sidang jemaat, karena dia adalah pohon zaitun yang terukir pada kaki dian emas pada tujuh pelita yang menyala-nyala; dia adalah hamba TUHAN yang melayani dengan api TUHAN, dialah hamba TUHAN yang diutus TUHAN, yang berdiri di dekat TUHAN atas alam semesta.
(16:16) Lalu berkatalah Musa kepada Korah: "Engkau ini dengan segenap kumpulanmu harus menghadap TUHAN, engkau dan mereka dan Harun, pada esok hari.
(16:17) Baiklah kamu masing-masing membawa perbaraannya membubuh ukupan di atasnya, lalu kamu mempersembahkan masing-masing perbaraannya ke hadapan TUHAN, dua ratus lima puluh perbaraan; juga engkau ini dan Harun masing-masing harus membawa perbaraannya." (16:18) Maka mereka masing-masing membawa perbaraannya, membubuh api ke dalamnya, menaruh ukupan di atasnya, lalu berdirilah mereka di depan pintu Kemah Pertemuan, juga Musa dan Harun.
(16:19) Ketika Korah mengumpulkan segenap umat itu melawan mereka berdua di depan pintu Kemah Pertemuan, tampaklah kemuliaan TUHAN kepada segenap umat itu. (16:20) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: (16:21) "Pisahkanlah dirimu dari tengah-tengah umat ini, supaya Kuhancurkan mereka dalam sekejap mata."
Hati-hati, jangan terlanjur-lanjur dalam memberontak. Kalau pun memberontak, cepat-cepatlah menyesal, karena TUHAN yang benar, kita yang banyak salah.
(16:22) Tetapi sujudlah mereka berdua dan berkata: "Ya Allah, Allah dari roh segala makhluk! Satu orang saja berdosa, masakan Engkau murka terhadap segenap perkumpulan ini?"
(16:23) Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: (16:24) "Katakanlah kepada umat itu: Pergilah dari sekeliling tempat kediaman Korah, Datan dan Abiram."
(16:25) Lalu pergilah Musa kepada Datan dan Abiram, dan para tua-tua Israel mengikuti dia.
(16:26) Berkatalah ia kepada umat itu: "Baiklah kamu menjauh dari kemah orang-orang fasik ini dan janganlah kamu kena kepada sesuatu apa pun dari kepunyaan mereka, supaya kamu jangan mati lenyap oleh karena segala dosa mereka." (16:27) Maka pergilah mereka dari sekeliling tempat kediaman Korah, Datan dan Abiram. Keluarlah Datan dan Abiram, lalu berdiri di depan pintu kemah mereka bersama-sama dengan isterinya, para anaknya dan anak-anak yang kecil.
(16:28) Sesudah itu berkatalah Musa: "Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: (16:29) jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN. (16:30) Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN."
- Kalau Korah dan konco-konco mati dengan cara yang wajar, berarti Musa tidak diutus TUHAN; itulah tanda-Nya yang dinyatakan kepada Musa, Korah dan dan konco-konco.
Bilangan 16:31-33
(16:31) Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang di bawah mereka, (16:32) dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. (16:33) Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu.
(16:34) Dan semua orang Israel yang di sekeliling mereka berlarian mendengar teriak mereka, sebab kata mereka: "Jangan-jangan bumi menelan kita juga!" (16:35) Lagi keluarlah api, berasal dari pada TUHAN, lalu memakan habis kedua ratus lima puluh orang yang mempersembahkan ukupan itu.
Manakala suara daging (api asing) itu mulai bersungut-sungut, mulai mempengaruhi kejiwaan, hati, pikiran, perasaan, segera lawan, dan katakan: “Saya mau dengar Firman dengan sungguh-sungguh, oleh api TUHAN.” Jangan tersinggungan; cengeng, seperti anak kecil itu namanya. Rendah hati itu bukan karena etika, tetapi harus dari pekerjaan TUHAN.
(16:40) Itu menjadi suatu peringatan bagi orang Israel, supaya jangan tampil orang awam yang bukan dari keturunan Harun untuk membakar ukupan di hadapan TUHAN, dan jangan ia menjadi seperti Korah dan kumpulannya -- seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya dengan perantaraan Musa.
1. Jangan kita datang menghadap TUHAN lewat ibadah pelayanan dengan api asing. Jangan lagi beribadah melayani hanya untuk mencari kepentingan golongan dan kelompoknya, jangan lagi. Ini adalah suatu pelajaran bagi kita di hari-hari terakhir ini.
Kita akan memperhatikan 1 Raja-Raja 18, dengan perikop: “Elia di gunung Karmel”
1 Raja-Raja 18:20-22
(18:20) Ahab mengirim orang ke seluruh Israel dan mengumpulkan nabi-nabi itu ke gunung Karmel. (18:21) Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia." Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah kata pun. (18:22) Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: "Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya.
Lalu, Elia berkata: “Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.” Elia sudah meluruskan pemikiran yang keliru dan salah kaprah, tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah kata pun, mereka bergeming, tidak mau berubah. Sementara mereka berlaku timpang dan bercabang hati, namun mereka tidak mau diluruskan; bayangkan, keras hatinya itu luar biasa.
(18:23) Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Aku pun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api.
Banyak pemantik di tengah ibadah pelayanan sebagai api asing, baik itu melayani sebagai pemain musik karena dibayar, itu adalah pemantik (api asing), pemimpin pujian dibayar dengan alasan supaya semangat ada ongkos; seolah-olah TUHAN tidak mampu memelihara imam-imam, pelayan TUHAN. Semua pelayanan dibayar, itu adalah pemantik, itu adalah api asing, dan itu tidak boleh. Korban bakaran memang terlihat hangus, tetapi itu tidaklah murni.
- Wah, dia sudah berkorban ya, nyanyinya bagus singer itu, terlihat korban bakaran seperti hangus, padahal ada api asing.
(18:24) Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan aku pun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!" Seluruh rakyat menyahut, katanya: "Baiklah demikian!"
(18:25) Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu: "Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggillah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api."
(18:26) Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: "Ya Baal, jawablah kami!" Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu.
Berjingkat-jingkat, berarti; berlonjak-lonjak dalam kesukaan yang besar di dalam memuji TUHAN ketika menghadap TUHAN, ketika beribadah dan melayani TUHAN. Tetapi kalau dia menolak Firman, tidak menghargai Firman yang disampaikan, itu merupakan api asing.
Memuji TUHAN dengan sukacita itu bagus, tetapi manakala Firman disampaikan lalu ditolak, itu adalah api asing. Kalau kita datang menghadap TUHAN dengan api asing, maka TUHAN tidak menjawab doa-doa.
(18:27) Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: "Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga."
(18:28) Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka.
Rela berkorban, tetapi tanpa kasih Allah, itu semua tidak ada artinya. Banyak orang Kristen yang untuk sesamanya, ia rela korban tenaga, korban pikiran, dan waktu, bahkan di hutan sekalipun dikejar, tetapi korban tenaga pikiran untuk TUHAN tidak ia kerjakan; itu adalah api asing.
Saya banyak belajar dari Firman TUHAN; oleh sebab itu, saya banyak memperhatikan sidang jemaat tentang bagaimana kemajuan rohaninya, sebab masakan saya perhatikan orang di luaran sana? Oleh sebab itu, saudara juga belajar untuk memperhatikan dan melakukan hal itu. Mulai sekarang, harus dewasa; kita harus memiliki pengertian dari sorga, bukan lagi pengertian dari diri sendiri.
Sekali lagi saya sampaikan: Untuk orang kita rela korban sampai jauh-jauh malam, sampai berdarah-darah, tetapi untuk TUHAN tidak mau berkorban, itu adalah api asing.
(18:29) Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian.
- Pada waktu pagi; berjingkat-jingkat.
Matius 26:73-74
(26:73) Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu." (26:74) Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam.
Petrus berkata: “Aku tidak kenal orang itu”, dan itu adalah penyangkalan Petrus yang ketiga. Tetapi sebelum menyangkal, Petrus mengutuk dan bersumpah.
- Kutuk itu sama seperti hidup di bawah hukum Taurat, yang hanya mengeluarkan bahasa terkutuk.
Hati-hati, kalau memang lidah tidak digerakkan oleh Roh Kudus, itu sama dengan kerasukan Setan. Berkata “sikaraba, sikabara”, padahal lidahnya tidak digerakkan oleh Roh Kudus, itu namanya dirasuk Setan. Kalau memang lidah digerakkan oleh Roh api TUHAN, maka lidah itu tidak bisa ditahan.
Tetapi orang yang kerasukan Setan, banyak sekali dusta; seharusnya adalah “ya” di atas “ya”, “tidak” di atas “tidak”, tidak usah pakai sumpah demi apa pun.
1 Raja-Raja 18:30
(18:30) Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: "Datanglah dekat kepadaku!" Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu.
(18:36) Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: "Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.
(18:37) Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali." (18:38) Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.
Saya akui, terlalu banyak persembahan di tempat ini, tetapi itu bukanlah untuk saya, melainkan untuk saudara juga, karena tidak ada sesuatu pun yang saya ambil dari situ; TUHAN tahu, tidak ada yang saya ambil dari situ. Dan saya belajar untuk tidak mendustai saudara, saya belajar jujur di hadapan TUHAN, bukan di hadapan manusia.
1 Raja-Raja 18:37,39
(18:37) Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali." (18:39) Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: "TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!"
(18:40) Kata Elia kepada mereka: "Tangkaplah nabi-nabi Baal itu, seorang pun dari mereka tidak boleh luput." Setelah ditangkap, Elia membawa mereka ke sungai Kison dan menyembelih mereka di sana.
Saudara jangan hanya simbolik datang beribadah, tetapi harus memiliki pengertian sorgawi, supaya kita dapat menyenangkan hati TUHAN setiap kali kita datang menghadap TUHAN.
Kalau saya menerima korban persembahan, misalnya; saya mendapat persembahan baju, maka saya akan hitung persepuluhannya. Saya cari di google berapa harga bajunya, lalu saya ambil persepuluhannya; saya belajar untuk jujur.
Ukupan berbau harum di hadapan TUHAN, ibadah yang memuncak sampai doa penyembahan diawali dengan pertobatan yang sungguh-sungguh, maka ibadahnya pasti memuncak; kalau tidak, leher digorok.
Masakan kalau kita duduk mendengar dan menonton cerita dongeng di televisi, kita bisa duduk sabar-sabar, tetapi TUHAN bicara dengan penuh daya tarik malah kita abaikan? Itu menunjukkan bahwa sudah miring, sudah tidak waras lagi rohaninya.
Yesaya 64:1-5
(64:1) Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun, sehingga gunung-gunung goyang di hadapan-Mu (64:2) -- seperti api membuat ranggas menyala-nyala dan seperti api membuat air mendidih -- untuk membuat nama-Mu dikenal oleh lawan-lawan-Mu, sehingga bangsa-bangsa gemetar di hadapan-Mu, (64:3) karena Engkau melakukan kedahsyatan yang tidak kami harapkan, seperti tidak pernah didengar orang sejak dahulu kala! (64:4) Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian. (64:5) Engkau menyongsong mereka yang melakukan yang benar dan yang mengingat jalan yang Kautunjukkan! Sesungguhnya, Engkau ini murka, sebab kami berdosa; terhadap Engkau kami memberontak sejak dahulu kala.
Hati-hati, jangan kita seperti ranting kering. Mengapa menjadi kering? Karena ranting sudah tidak lagi melekat pada pohon. Beribadah, tetapi tidak ada persekutuan dengan TUHAN, sedikit pun tidak ada hatinya lagi dalam penggembalaan, menunjukkan bahwa ia adalah ranting kering, yang melayani dengan api asing; maka api asing itu nanti akan dihabisi oleh api TUHAN.
Orang yang pernah sempat datang menghadap TUHAN dengan api asing, dengan ranggas, maka ia harus mengakui kesalahannya. Akui dosa masa lalu, bahwa kita ini pernah datang menghadap TUHAN dengan api asing, kehidupan ranggas (ranting kering).
(64:6) Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.
(64:7) Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu; sebab Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami. (64:8) Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.
(64:9) Ya TUHAN, janganlah murka amat sangat dan janganlah mengingat-ingat dosa untuk seterusnya! Sesungguhnya, pandanglah kiranya, kami sekalian adalah umat-Mu.
(64:10) Kota-kota-Mu yang kudus sudah menjadi padang gurun, Sion sudah menjadi padang gurun, Yerusalem sunyi sepi.
Sampai kapan kita mau terus kering-kering? Datang membawa persoalan, pulang tambah persoalan hanya karena tidak mau berubah setelah ditegor.
(64:11) Bait kami yang kudus dan agung, tempat nenek moyang kami memuji-muji Engkau, sudah menjadi umpan api, maka milik kami yang paling indah sudah menjadi reruntuhan.
(64:12) Melihat semuanya ini, ya TUHAN, masakan Engkau menahan diri, masakan Engkau tinggal diam dan menindas kami amat sangat?
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA,
MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
