IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 24 MARET 2026
SURAT YUDAS 1:11
(Seri: 15)
Subtema: MENGHARGAI & MENGHORMATI TAHBISAN
Shalom.
Mula
pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya,
kita sekaliannya dimungkinkan untuk berada di atas gunung TUHAN yang kudus, kita
sekarang ada dalam hadirat TUHAN, menghadap Dia lewat Ibadah Doa Penyembahan,
itu berarti sebentar kita akan membawa hidup kita rendah dan tersungkur di
ujung kaki salib TUHAN, sujud menyembah kepada Dia.
Saya
juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN yang turut bergabung
lewat online atau live streaming atau video internet, baik dari
Youtube, Facebook, atau media sosial lainnya yang dapat digunakan atau diakses.
Doa
dan harapan kami dari tempat ini, kiranya kita semua berada dalam kendalinya TUHAN
berarti TUHAN yang bertakhta di hidup kita sehingga kita boleh tenang saat kita
duduk diam mendengarkan sabda ALLAH dekat kaki TUHAN, tidak perlu gelisah dan
membuat rancangan-rancangan yang tak suci.
Mari
kita sambut Surat Yudas sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Doa
Penyembahan dari Yudas 1:11, namun tetaplah berdoa dalam Roh mohon
kemurahan daripada TUHAN supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati
kita pribadi lepas pribadi. Kehidupan yang sudah diteguhkan nanti dengan mudah
tersungkur di ujung kaki salib TUHAN.
Yudas
1:11
(1:11) Celakalah
mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena
mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan
mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.
“Celakalah mereka...”
antara lain:
a.
Karena mereka mengikuti jalan yang
ditempuh Kain.
b.
Oleh sebab upah, menceburkan diri ke
dalam kesesatan Bileam.
c.
Mereka binasa karena kedurhakaan
seperti Korah.
Pada malam hari ini kita masih melanjutkan pembahasan,
Tentang: MEREKA
BINASA KARENA KEDURHAKAAN SEPERTI KORAH (Bagian ketiga).
Bilangan 16:1-2
(16:1) Korah
bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram,
anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak
orang-orang (16:2) untuk memberontak melawan Musa, beserta dua
ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu
orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan.
Korah
beserta Datan, Abiram, dan On + 250 (dua ratus lima puluh) orang-orang Israel
bangkit untuk memberontak terhadap Musa dan Harun.
Marilah
kita mengenali Korah dan kumpulannya tersebut, antara lain:
- Korah berasal dari keturunan LEWI.
-
Datan dan
Abiram adalah anak-anak Eliab. Sedangkan, On adalah anak Pelet.
Tetapi ketiga-tiganya adalah keturunan RUBEN.
-
250
(dua ratus lima puluh) orang Israel adalah PEMIMPIN-PEMIMPIN
YANG DIPILIH oleh rapat, mereka adalah orang-orang yang kenamaan.
Itulah
keberadaan dari Korah dan kumpulannya (konco-konco).
Bilangan
16:3
(16:3) Maka mereka berkumpul mengerumuni
Musa dan Harun, serta berkata kepada keduanya: "Sekarang cukuplah itu!
Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah
mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?"
Korah
dan kumpulannya menuduh bahwa Musa dan Harun telah meninggikan diri terhadap
umat Israel.
Namun,
ketika Musa mendengar tuduhan itu SUJUDLAH IA, menunjukkan bahwa Musa
berserah penuh kepada TUHAN. Berarti, Musa tidak membalas kejahatan dengan
kejahatan sebagai tanda kerendahan di hati.
Terkait
dengan kepasrahan kepada TUHAN, kita dapat menemukan hal itu di dalam...
1
Petrus 2:21 -- Perikop: "Penderitaan Kristus sebagai teladan."
(2:21) Sebab untuk itulah kamu
dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah
meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
Kita
dipanggil untuk mengikuti teladan Yesus yaitu JEJAK-NYA; tapak-tapak kaki Yesus
yang berdarah.
Pendeknya,
orang-orang yang dipanggil hendaklah berpadanan dengan panggilan itu.
1
Petrus 2:22-23
(2:22) Ia tidak berbuat dosa, dan
tipu tidak ada dalam mulut-Nya.
(2:23) Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak
membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam,
tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.
Adapun
teladan yang ditinggalkan TUHAN bagi kita yaitu:
1.
Ia tidak berbuat dosa berarti penuh dengan Firman ALLAH.
2.
Tipu tidak ada di dalam mulutnya berarti penuh dengan Roh El-Kudus.
3.
> Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak
membalas dengan mencaci maki, itu telah ditunjukkan oleh Musa
dan Harun. Ketika ia dituduh meninggi-ninggikan diri terhadap umat Israel, ia
langsung sujud, menyerahkan perkaranya kepada TUHAN, ia tidak membalas kejahatan
dengan kejahatan.
Ø Ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam.
Banyak orang
kalau sudah menderita suka mengancam. Banyak orang ketika ditegur sedikit saja,
dia langsung mengancam dengan berkata; “Lihat saja saya tidak akan datang
beribadah, lihat saja saya tidak akan kembalikan persepuluhan saya, lihat saja
saya akan tinggalkan penggembalaan ini, lihat saja saya hasut orang lain.”
Tetapi lihatlah ketika Yesus
menderita, dalam penderitaan yang hebat dari Jumat malam sampai Sabtu Sore di
Bukit Golgota, Dia tidak mengancam tentara Romawi. Dia tidak mengancam
Imam-Imam
kepala yang menyerahkan Yesus kepada tentara Romawi, tetapi Dia menyerahkan
segala perkara itu kepada ALLAH Bapa karena ALLAH adalah hakim yang adil.
Pendeknya, ketika
Korah menuduh Musa meninggi-ninggikan diri; maka mendengar itu “Sujudlah
ia.”
Ia menyerahkan persoalannya (perkaranya) kepada TUHAN. Itu
berarti Musa penuh dengan kasih. Kasih itu fungsinya adalah menutupi dosa,
mengampuni dosa kemudian mengikat dan mempersatukan.
Bayangkan kalau seorang pemimpin rumah TUHAN arogan / tidak
penuh kasih, maka tidak ada kesatuan diantara umat itu. Tetapi baik Yesus
maupun Musa penuh dengan Firman ALLAH, penuh dengan Roh ALLAH, penuh dengan
kasih ALLAH. Ketika dia dituduh meninggi-ninggikan diri terhadap
umat TUHAN, dia hanya sujud, berserah kepada TUHAN (Bapa di Sorga), Dialah ALLAH
yang berhak untuk menghakimi setiap orang, Dia adalah hakim yang
adil.
Jika berperkara dengan sesama tidak perlu membawa perkara
itu sampai ke meja hijau namun sujud (berserah) saja kepada TUHAN. Semakin kita
membawa ke meja hijau, perkara itu semakin besar, tidak selesai, maka sujud
saja.
Pendeknya, sebagai seorang hamba TUHAN Musa berpadanan
dengan panggilannya, dengan lain kata: Menghargai dan menghormati
tahbisannya.
Jadi saya sebagai hamba TUHAN, imam-imam dan pelayan TUHAN
masing-masing harus menghargai dan menghormati tahbisan itu sendiri.
1
Petrus 2:24
(2:24) Ia sendiri telah memikul dosa
kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati
terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.
Yesus
telah memikul dosa manusia di dalam tubuh-Nya di kayu salib, berarti Yesus
telah mengadakan penyucian terhadap dosa, sekaligus mengerjakan grafirat /
pendamaian. Menunjukkan bahwa Yesus menghargai dan menghormati tahbisan yang
benar dan suci.
Sekali
lagi saya sampaikan, imam-imam, pelayan-pelayan TUHAN teramat lebih hamba-hamba
TUHAN harus menghargai dan menghormati tahbisan.
Tahbisan
imam apa?
1.
Menjadi pendamaian sepenuh
(korban lembu jantan muda).
2.
Penyerahan diri sepenuh (korban domba jantan pertama).
3.
Tahbisan
sepenuh berarti, disucikan untuk dikhususkan bagi TUHAN (korban domba jantan
kedua).
Pendeknya,
hamba-hamba TUHAN, pelayan-pelayan TUHAN, imam-imam harus menjadi grafirat,
harus menjadi pendamaian, tidak saling menuding-nuding, tidak saling
mempersalahkan.
Demikianlah
TUHAN Yesus Kristus memikul dosa manusia di dalam tubuh-Nya di atas kayu salib,
itu pekerjaan grafirat (pendamaian), kalau memang kita bisa mengerjakannya,
kerjakan saja, tidak usah alihkan kepada orang lain, misalnya karena tidak mau
pusing, banyak cara untuk menghindarinya, itu tidak benar, sekalipun dia
ada di tengah ibadah pelayanan, tetapi dia tidak menghormati tahbisan, TUHAN
menguji setiap Roh manusia.
Perlu
untuk diketahui: Surat 1 & 2 Timotius dan surat Titus adalah
surat tahbisan.
2
Timotius 2:23-25
(2:23) Hindarilah soal-soal yang
dicari-cari, yang bodoh
dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, (2:24)
sedangkan seorang hamba TUHAN tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah
terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar
2:25 dan
dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin TUHAN
memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka
sehingga mereka mengenal kebenaran,
Hal-hal
yang perlu diperhatikan oleh seorang hamba TUHAN, imam-imam, pelayan-pelayan TUHAN
di dalam menjaga tahbisannya: Hindarilah soal-soal yang dicari-cari,
istilah sehari-hari "jangan mencari persoalan."
Kalau
sudah tahu ya sudahlah, langsung sujud saja di kaki salib, doakan saja. Sebab,
hal itu menimbulkan PERTENGKARAN, sedangkan seorang hamba TUHAN tidak boleh
bertengkar. Itu tahbisan, dan Musa tahu persis hal itu. Itu sebabnya dia
tidak berbantah-bantah, ia tidak bertengkar dengan Korah dan kumpulannya,
tetapi ketika ia dituduh meninggi-ninggikan diri maka secepatnya “sujudlah
ia” (Bilangan 16:4).
Sebaliknya,
seorang hamba TUHAN hendaklah memiliki kata “HARUS”:
- Harus
ramah terhadap semua orang. Tidak boleh pilih kasih, apalagi seorang
gembala sidang tidak boleh pilih kasih. Karena yang seorang perpuluhannya kecil
lalu
diabaikan, kemudian yang lain perpuluhannya lebih besar maka dia mengadakan
pendekatan yang erat. Tidak boleh pilih kasih, tetapi harus ramah terhadap semua orang.
Kita
semua harus belajar mengembalikan persepuluhan. Tetapi andaikata pun jemaat
tidak mengembalikan sepersepuluh (milik TUHAN), seorang gembala tetap berlaku
ramah supaya jemaat jangan kecewa kepada TUHAN.
- Harus
cakap mengajar. Berarti, tidak boleh asal-asalan menyampaikan Firman ALLAH.
Menyampaikan Firman TUHAN dengan maksimal, sepenuh hati,
menyampaikan segala sesuatu yang TUHAN mau. Jangan dikurang-kurangi, jangan
ditambah-tambahi, dan tidak perlu takut di tengah-tengah pemberitaan Firman
ALLAH.
Semoga
kita mendapatkan ajaran yang baik, benar, dan suci supaya kita tetap
berkobar-kobar, bergairah di dalam setiap ibadah dan pelayanan kita dihadapan TUHAN.
- Harus
sabar dan lemah lembut, dengan demikian dapat menuntun orang yang suka
melawan (memberontak) seperti yang ditunjukkan oleh Musa kepada Korah dan
kumpulannya.
Banyak
jemaat yang melawan, mungkin tidak dari mulut, tetapi matanya mendelik, matanya
melotot, ngomel, ngedumel, menggerutu, bersungut-sungut, itu juga termasuk
pemberontakan. Kemudian sikap dengan ketus-ketus, terhadap sikap seperti ini
harus sabar dan lemah lembut.
Maksud dan tujuan dari semua
itu adalah: mungkin TUHAN memberikan
kesempatan kepada mereka untuk bertobat, selanjutnya memimpin mereka sehingga mengenal kebenaran.
Doakan saya supaya bisa lebih sabar lagi dari hari-hari yang
lalu.
Saya tidak tuduh siapa-siapa yang melawan, tetapi yang saya
minta adalah doakan saya supaya lebih sabar dan lemah lembut, mungkin TUHAN
memberi kesempatan kepada dia untuk bertobat, selanjutnya memimpin dia sehingga
mengenal kebenaran dan saya terus belajar di situ.
Kemudian, muara dari pertobatan dan mengenal kebenaran
adalah sadar kembali. Kalau sadar
berarti lepas dari jerat Iblis yang mengikat dia selama ini. Jadi menghadapi
orang yang memberontak harus sabar dan lemah lembut, muaranya: sadar kembali
berarti lepas dari jerat Iblis yang selama ini mengikat dia sesuai kehendaknya
supaya terus memberontak (melawan) seperti Korah dan kumpulannya. Tetapi dengan
kesabaran dan kelemahlembutan, berarti TUHAN memberikan kesempatan kepada
mereka untuk bertobat dan memimpin dia untuk mengenal kebenaran.
Ini dari pihak seorang pemimpin sidang jemaat, tetapi dari
pihak jemaat yang suka memberontak, sadarlah dan mengertilah kebenaran ini
bahwa dengan pemberontakan itu, seseorang sedang diikat oleh kehendak Setan, dan
sedang dipermain-mainkan oleh Setan. Sadarilah itu, menangislah sebentar di
kaki salib.
Pertanyaannya:
Mengapa Korah dan kumpulannya bangkit memberontak terhadap Musa dan Harun?
Bilangan
16:9-10
(16:9) Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu
dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat
kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan
bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, (16:10) dan bahwa engkau
diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan
sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi?
Korah dan kumpulannya menuntut pangkat imam.
Sesungguhnya
Korah bin Kehat adalah keturunan Lewi, sedangkan Lewi telah dipisahkan dari
umat Israel sehingga mereka boleh mendekat kepada ALLAH. Maksudnya;
diberi kepercayaan dan tanggung jawab.
Adapun tugas Lewi:
- Memperhatikan
mezbah dan alat-alat di dalam Ruangan Suci.
Bagi
orang Israel, perabotan dan alat-alat di dalam Ruangan Suci itu sangat penting
sebab tanpa alat-alat tersebut, orang Israel tidak bisa menjalankan ibadahnya.
Sebetulnya,
diberi kesempatan untuk mendekat yaitu untuk memperhatikan alat-alat di dalam
Ruangan Suci itu sudah bagus sebab tanpa alat-alat yang ada di dalam
Tabernakel, tidak mungkin orang Israel dapat beribadah.
Artinya betapa pentingnya peran dari suku Lewi.
- Dipercaya
melayani umat Israel.
Pendeknya,
diberi kesempatan untuk mendekat kepada ALLAH itu lebih dari kata CUKUP, maka
Korah dan kumpulannya seharusnya tidak perlu menuntut pangkat imam lagi.
Melayani
TUHAN bukan untuk mencari popularitas, bukan untuk mencari ketenaran supaya
diakui dan seterusnya, bukan untuk mencari pujian dan hormat. Tetapi di sini
kita melihat, Korah dan kumpulannya sesungguhnya sudah diberi kesempatan untuk mendekat
kepada ALLAH, diberi kesempatan untuk melayani TUHAN dan pekerjaan TUHAN, itu
sudah lebih dari cukup. Tetapi anehnya, Korah dan kumpulannya masih juga
menuntut pangkat imam, tidak ada kata cukup pada Korah dan kumpulannya.
Marilah
kita melihat lebih dalam lagi, tanggung jawab dan kepercayaan TUHAN terhadap
suku Lewi.
Bilangan
3:6-7
(3:6) "Suruhlah suku Lewi
mendekat dan menghadap imam Harun, supaya mereka melayani dia. (3:7)
Mereka harus mengerjakan tugas-tugas bagi Harun dan bagi segenap umat Israel
di depan Kemah Pertemuan dan dengan demikian melakukan pekerjaan jabatannya
pada Kemah Suci. (3:8) Mereka harus memelihara segala perabotan Kemah
Pertemuan, dan
mengerjakan tugas-tugas bagi orang Israel dan dengan demikian melakukan
pekerjaan jabatannya pada Kemah Suci.
Suku
Lewi diberi kesempatan mendekat kepada ALLAH, itu berarti:
-
Mereka harus mengerjakan tugas-tugas
bagi Harun dan bagi umat Israel.
-
Mereka harus memelihara perabotan
atau alat-alat yang ada di dalam kemah suci.
Bilangan
3:9-10
(3:9) Orang Lewi harus kauserahkan kepada
Harun dan anak-anaknya; dari antara orang Israel haruslah orang-orang itu
diserahkan kepadanya dengan sepenuhnya. (3:10) Tetapi Harun dan
anak-anaknya haruslah kautugaskan untuk memegang jabatannya sebagai imam,
sedang orang awam yang mendekat harus dihukum mati."
Tadi
suku Lewi diambil dari antara umat Israel supaya mereka mendekat kepada ALLAH
berarti melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN, memperhatikan
perabotan-perabotan, dan seterusnya. Sementara di ayat 10; Harun dan
anak-anaknya ditugaskan untuk memegang jabatan IMAM. Imam berarti pemimpin
(kepala).
Singkat
kata, ketika Korah dan kumpulannya menuntut pangkat imam, menunjukkan bahwa:
- Dalam
satu kesempatan, ia sedang meninggi-ninggikan diri dan membesarkan diri di
hadapan ALLAH
- Dalam
kesempatan lain, Korah dan kumpulannya merendahkan tahbisan serta merendahkan
kehendak dan ketetapan ALLAH.
TUHAN
sudah menetapkan suku Lewi dengan pekerjaannya, sedangkan Harun dan
anak-anaknya juga sudah diberi tanggung jawab sebagai imam. Itu tidak boleh
diputar balik.
Bilangan
3:11-12
(3:11) TUHAN berfirman kepada Musa: (3:12)
"Sesungguhnya, Aku mengambil orang Lewi dari antara orang Israel ganti
semua anak sulung mereka, yang terdahulu lahir dari kandungan, supaya orang
Lewi menjadi kepunyaan-Ku,
ALLAH telah mengambil suku Lewi menjadi anak sulung, berarti menjadi milik kepunyaan ALLAH sendiri.
Pengalaman
semacam ini LEBIH DARI CUKUP, tidak perlu lagi menuntut pangkat imam. Diangkat
menjadi anak sulung, diambil dari antara suku-suku Israel, diberi kesempatan
untuk mendekat, itu sesungguhnya sudah lebih daripada cukup.
Maka mau jadi apapun, kalau sudah
diberi kesempatan mendekat, sudah kerjakan saja, yang penting kita jadi
hamba-Nya TUHAN.
Jadi Roh kita harus bersih ketika
diberi kesempatan untuk mendekat kepada TUHAN. Diberi kesempatan untuk mendekat
kepada TUHAN berarti menjadi milik kepunyaan TUHAN, itu lebih dari
segala-galanya. Maka untuk apa lagi kita menuntut pangkat imam.
Sebab di dalam
Bilangan 3:10, orang awam yang mendekat saja harus dihukum mati. Orang awam tidak boleh mendekat,
kalau dia mendekat, dihukum mati. Maka, menjadi milik kepunyaan ALLAH itu sudah
lebih dari cukup.
Datan,
Abiram dan On ketiganya berasal dari suku Ruben, serta 250 orang Israel, mereka adalah pemimpin-pemimpin yang
dipilih oleh rapat, mereka adalah orang-orang kenamaan.
Singkat kata, baik Korah sebagai
orang Lewi, maupun Datan, Abiram, dan On yang merupakan orang Ruben serta 250
pemimpin kenamaan, mereka semua adalah orang-orang yang masuk dalam golongan
ANAK SULUNG.
Ruben itu adalah anak sulung, sedangkan
Lewi diangkat menjadi anak sulung, kemudian 250 pemimpin-pemimpin kenamaan.
Pendeknya, kumpulan ini adalah orang-orang yang masuk dalam kategori anak
sulung. Tetapi sangat disayangkan, mereka tidak mengerti tahbisan, suka
membesar-besarkan diri sehingga kehendak daging mengatasi kehendak ALLAH. Jangan
kita seperti itu saudara.
Saya sebagai gembala sidang juga
para imam dan pelayan TUHAN jangan kita seperti itu. Menjadi milik kepunyaan
ALLAH itu lebih dari cukup. Apapun yang kita kerjakan, ya kerjakan saja, tidak
usah pilih-pilih pekerjaan, tidak usah memilih pekerjaan supaya tampak lebih
terhormat dari yang lain, yang terpenting adalah menjadi milik kepunyaan ALLAH
sendiri. Tetapi sangat disayangkan, Korah dan kumpulannya sebetulnya adalah
golongan anak sulung, tetapi mereka tidak menghargai dan tidak menghormati
tahbisan. Kalau kehendak daging mengatasi kehendak ALLAH itu namanya tidak
menghargai dan tidak menghormati tahbisan.
Dahulu diantara kita ada yang
seperti itu, kalau berbicara kepada orang lain, dia mengatakan “pendeta itu”,
tidak mengakui saya sebagai gembalanya. Semoga bertobat dari situ. Kalau engkau
malu mengakui saya sebagai gembala mu maka engkau malu diakui sebagai
domba-domba yang harus digembalakan oleh TUHAN.
Apa salahnya “Bapak gembala saya”
supaya engkau diakui sebagai domba, meskipun tubuh saya pendek, tidak punya
pendidikan tinggi, tetapi saya sudah ditempatkan sebagai gembala, kenapa
saudara meniadakan apa yang sudah ditetapkan oleh TUHAN?
Saudara mau bertobat? Bertobatlah,
rendahkan diri dihadapan TUHAN.
Itu sebabnya tadi saya katakan,
melayani TUHAN harus dengan Roh yang bersih, tidak boleh sembarangan, hargai
tahbisan, jangan keras hati lagi, TUHAN sedang dalam perjalanannya, kemarin
sudah disaksikan.
JALAN KELUAR:
Bilangan
16:4-7
(16:4) Ketika
Musa mendengar hal itu, sujudlah ia. (16:5) Dan ia berkata kepada
Korah dan segenap kumpulannya: "Besok pagi TUHAN akan memberitahukan,
siapa kepunyaan-Nya, dan siapa yang kudus, dan Ia akan memperbolehkan orang itu
mendekat kepada-Nya; orang yang akan dipilih-Nya akan diperbolehkan-Nya mendekat
kepada-Nya. (16:6) Perbuatlah begini: ambillah perbaraan-perbaraan, hai
Korah, dan kamu segenap kumpulannya, (16:7) bubuhlah api ke dalamnya
dan taruhlah ukupan di atasnya, di hadapan TUHAN pada esok hari, dan orang
yang akan dipilih TUHAN, dialah yang kudus. Cukuplah itu, hai orang-orang
Lewi!"
Pada Ayat
4, “sujudlah ia”
à Doa Penyembahan, bagaikan asap kemenyan atau ukupan wangi-wangian yang naik
ke hadapan ALLAH.
Ukupan
ini dibubuhkan di atas perbaraan api, berarti sudah dihancurkan terlebih dahulu barulah
dibubuhkan di atas perbaraan api.
Inilah yang disebut asap dupa kemenyan (ukupan wangi-wangian).
Singkat
kata, hidup dalam doa penyembahan adalah kehidupan yang SUDAH DIHANCURKAN oleh
penderitaan itu sendiri. Jadi kalau
ada penderitaan tidak usah lari, itu adalah satu kesempatan bagi kita sampai hancur.
Kalau sudah hancur maka dia akan dibubuhkan di atas perbaraan api, itulah
kehidupan dalam doa penyembahan.
Setelah dibubuhkan, naiklah asap
dupa kemenyan, itulah yang disebut dengan ukupan wangi-wangian.
Siapa yang hidup dalam doa
penyembahan? Itulah kehidupan yang sudah dihancurkan oleh penderitaan itu.
Jadi sengsara karena salib dan
aniaya karena Firman adalah satu kesempatan yang indah dan kesempatan emas
untuk dihancurkan oleh penderitaan itu sendiri supaya dibubuhkan di atas
perbaraan api. Itulah Musa.
Dan itulah Yesus dalam pengalaman-Nya
di atas kayu salib. Ketika Yesus berkata; “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Matius
27:50), kemudian Dia menyerahkan nyawa-Nya. Dia sudah dihancurkan oleh
penderitaan itu.
Jadi tidak usah lari dari sengsara
salib dan aniaya karena Firman. Biar kita hancur karena penderitaan itu sendiri,
selanjutnya nanti dibubuhkan di atas perbaraan api, itulah yang disebut asap
dupa kemenyan, ukupan wangi-wangian yang naik ke hadirat TUHAN, yakni doa
penyembahan. Berarti mereka yang hidup dalam doa penyembahan sudah dihancurkan
oleh penderitaan itu.
Beberapa yang dijadikan ukupan,
antara lain: Getah damar, kulit lokan (kerang-kerangan), getah rasamala,
kemenyan tulen, semua itu dihancurkan (digiling halus) barulah dibubuhkan
di atas perbaraan api.
Inilah jalan keluar yang bisa kita
lihat dari pribadi Musa, dia seorang pemimpin yang sabar dan lemah lembut
karena mungkin TUHAN memberi kesempatan kepada orang lain untuk bertobat
selanjutnya memimpin dia kepada kebenaran, muaranya supaya dia sadar. Kalau
sudah sadar maka lepas dari jerat Setan yang selama ini mengikat dia sehingga
dia hidup di dalam kehendak Setan.
Hebat sekali Musa ini sebenarnya,
dahsyat sekali seorang imam kalau dia berada dalam tahbisan yang benar, mampu
menolong seisi rumahnya, isterinya dan anak-anaknya, meningkat lagi mampu
menolong sidang jemaat dalam satu kandang penggembalaan GPT Betania ini. Dan
Yesus adalah pribadi yang sangat menghormati tahbisan. Dia sujud menyembah
dalam segala penderitaan-Nya, Dia bagaikan ukupan wangi-wangian yang dibubuhkan
di atas perbaraan api, dan Dia adalah Mezbah Dupa yang besar sesuai dengan Wahyu
8:3-4.
Wahyu
8:3-4
(8:3) Maka
datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan
sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk
dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas
di hadapan takhta itu. (8:4) Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama
dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.
Jadi
kalau pemimpin sidang jemaat hidup dalam tahbisan yang suci dan benar,
pemimpin semacam ini akan memimpin umat TUHAN sampai kepada puncak ibadah; Doa
Penyembahan.
Jadi
kalau ibadah tidak dipimpin sampai kepada tingkat ibadah yang tertinggi,
percuma kita menjalankan ibadah di situ, tidak ada artinya. Yang melepaskan
kita dari daya tarik bumi (magnet bumi) adalah asap dupa kemenyan. Hanya satu
perkara yang mampu melepaskan kita dari daya tarik bumi (perkara-perkara di
bawah) itulah doa penyembahan. Semua perkara kalau dilemparkan ke atas,
termasuk pena ini akan jatuh ke bawah, kecuali asap dupa kemenyan, doa
penyembahan.
Percayalah
dari ajaran yang kita terima sampai malam ini, Yesus tampil di tengah-tengah
kita sebagai Imam Besar Agung; melayani, berdoa, dan memperdamaikan dosa
kita, lebih daripada itu, memimpin kita sampai kepada dua klimaks:
1.
Menjadi sidang Mempelai TUHAN.
2.
Hidup dalam doa penyembahan.
Dari
ajaran ini kita baru sadar sekarang, kita berpikir selama ini semua ibadah itu
sama saja, tidak sama saudara. Tetapi saya tidak salahkan ibadah orang lain.
Yang saya katakan, kalau kita menjalankan ibadah dan pelayanan dengan
menggunakan Pola Tabernakel, ibadah itu berbeda karena ibadah semacam ini
buatan tangan TUHAN yang dibawa langsung oleh Yesus turun ke bumi, keluar dari
kayu salib.
Malam
ini kita sudah melihat bagaimana Musa setia dalam mengepalai Rumah TUHAN (Ibrani
3:2-3).
Ibrani
3:1-3
(3:1) Sebab itu,
hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi,
pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, (3:2)
yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musa pun setia
dalam segenap rumah-Nya. (3:3) Sebab Ia dipandang layak mendapat
kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih
dihormati dari pada rumah yang dibangunnya. (3:4) Sebab setiap rumah
dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah
Allah. (3:5) Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai
pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, (3:6)
tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya
ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada
kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.
Musa
sudah tunjukkan itu; “Sujudlah Ia” berarti memimpin sidang jemaat sampai
pada tingkat ibadah yang tertinggi.
Di
dalam Wahyu 8:3-4; sudah digenapi oleh Yesus Kristus.
Pada
ayat 6; Kristus setia sebagai
Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai
kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita
megahkan.
Peganglah
apa yang sudah kita terima, bermegahlah dengan ajaran yang benar, Pengajaran
Mempelai dalam terangnya Tabernakel memimpin kita sampai kepada tingkat ibadah
tertinggi, doa penyembahan, AMIN.
TUHAN YESUS
KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita
Firman:
Gembala
Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang