IBADAH RAYA MINGGU, 16 AGUSTUS 2026
KITAB WAHYU
PENDAHULUAN WAHYU 20 (Seri 2)
Subtema: HUBUNGAN NIKAH (ISTERI TUNDUK PADA SUAMI)
Shalom.
Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, oleh
karena rahmat-Nya kita sekaliannya dihimpunkan di atas gunung Tuhan yang kudus,
kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Raya Minggu disertai dengan
kesaksian Roh.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, umat ketebusan
Tuhan, bapak/ibu, saudara/saudari yang turut bergabung lewat online atau live
streaming, baik dari Youtube, Facebook atau media sosial lainnya yang
digunakan.
Kiranya damai sejahtera dari Sorga berkuasa dan bertakhta di
tengah-tengah ruangan ini dan juga bertakhta di hati kita masing-masing,
sehingga ada kesukaan dan bahagia saat kita duduk diam menikmati Sabda Allah.
Selanjutnya, mari kita ikuti KITAB WAHYU sebagai Firman
Penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu. Namun tetaplah berdoa dalam Roh
supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi.
Minggu lalu kita sudah masuk pada Wahyu 20 sebagai
pendahuluan. Wahyu 20 bila dikaitkan dengan Pola Tabernakel terkena
kepada RUANGAN MAHA SUCI.
Adapun ukuran Ruangan Maha Suci adalah 1000 hasta, dengan
rincian:
Panjang x lebar x tinggi = 10 hasta x10 hasta x 10 hasta =
1000 hasta.
Pada Ruangan Maha Suci ada 1 (satu) alat
yaitu TABUT PERJANJIAN, ini merupakan alat yang terutama dari semua peralatan
yang ada di Tabernakel.
Tabut Perjanjian terdiri dari 2 bagian:
1.
PETI
DARI TABUT PERJANJIAN -> Gereja Tuhan yang sempurna yakni sidang mempelai
Tuhan.
2.
TUTUP
PENDAMAIAN (tutupan Grafirat) dengan 2 kerub di atasnya -> Allah
Trinitas, yaitu Tuhan Yesus Kristus sebagai Mempelai Pria Sorga.
Pengertian rohani dari Tabut Perjanjian:
1.
Takhta
Allah.
2.
Hubungan
nikah antara Kristus sebagai Mempelai Pria
dengan sidang jemaat sebagai mempelai wanita.
Adapun dasar atau landasan dari hubungan nikah adalah KASIH.
Pada minggu lalu kita telah membahas tentang takhta ALLAH.
Malam ini kita akan membahas hal yang kedua,
tentang: HUBUNGAN NIKAH.
Hubungan nikah berarti hubungan antara suami dan isterinya
yang dibangun atas dasar kasih mempelai (korban Kristus) dan bukan atas dasar
yang lain-lain.
Sama seperti dua jenis dasar bangunan rumah:
1.
Dibangun
di atas dasar batu penjuru yang mahal itulah korban Kristus, sanggup menghadapi 3 jenis ujian itulah:
-
Turunlah
hujan = ujian yang datang dari atas
itulah naga.
-
Datanglah
banjir jahanam, itulah ujian
yang datang dari antikris satu kali nanti.
-
Angin
melanda rumah itu, ujian
datang dari ajaran palsu dari nabi-nabi palsu.
Rumah itu tidak rubuh sebab rumah
itu dibangun di atas batu penjuru (korban Kristus)->
2.
Rumah
dibangun di atas dasar pasir
-> keinginan daging. Dampak negatifnya: tidak kuat menghadapi
3 (tiga) ujian:
-
turunlah hujan (naga),
-
datanglah banjir (antikris),
-
angin melanda rumah itu (angin-angin pengajaran palsu)
sehingga rubuhlah rumah itu, hebatlah kerusakannya.
Jadi, sekali lagi saya sampaikan dengan tandas, dasar (landasan) hubungan nikah antara suami istri adalah
kasih mempelai yaitu: korban Kristus. Jika nikah dibangun di atas dasar korban
maka sanggup menghadapi gelombang badai yang menerpa nikah itu, apapun yang
terjadi akan tetap bertahan.
Jadi, dalam hubungan nikah atau hubungan suami istri
mempunyai aturan yang jelas, yaitu aturan yang datang dari Allah, dari Sorga,
bukan dari bumi. Hal itu dapat kita lihat dalam Efesus 5:22-33 ---
Perikop: "Kasih Kristus adalah dasar hidup suami isteri."
Mari kita melihat sikap seorang suami dan sikap seorang
isteri dalam hubungan nikah yang suci.
PERTAMA-TAMA kita akan melihat: SIKAP ISTERI TERHADAP
SUAMINYA
Efesus 5:22-24 --- Perikop: "Kasih Kristus adalah
dasar hidup suami isteri."
(5:22)
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, (5:23)
karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.
Dialah yang menyelamatkan tubuh. (5:24) Karena itu sebagaimana jemaat
tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala
sesuatu.
“…Seorang isteri harus tunduk kepada suaminya dalam segala
sesuatu…”
Itu artinya ketundukan isteri:
a.
Tidak
dibuat-buat atau tidak pura-pura.
Ketundukan kita tidak dibuat-buat
dan tidak pura-pura. Kita juga datang menghadap Dia dalam setiap
pertemuan-pertemuan ibadah tidak pura-pura dan tidak dibuat-buat. Menikah tidak
paksaan, ibadah juga tidak paksaan. Ibadah adalah nikah, nikah adalah ibadah, kedua-duanya
dikerjakan tanpa paksaan.
b.
Bukan
karena ada sesuatu/bukan karena ada maunya.
Jadi, seorang perempuan memilih
laki-laki menjadi suaminya bukan karena ada sesuatu dan bukan karena ada
maunya, karena dasar dari hubungan nikah adalah kasih mempelai.
Perlu untuk diketahui:
Ketundukan seorang isteri kepada suaminya: seperti jemaat
tunduk kepada Kristus sebagai kepala.
Ketundukan seorang isteri kita akan pelajari dari seorang
isteri yang dapat diteladani.
Dalam Alkitab banyak perempuan yang sosoknya dapat dijadikan
sebagai teladan. Tetapi dalam kesempatan ini kita akan melihat pribadi SARAH.
1 Petrus 3:5-6 --- Perikop: "Hidup bersama suami
isteri."
(3:5)
Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu
perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk
kepada suaminya, (3:6) sama seperti Sara taat kepada Abraham dan
menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik
dan tidak takut akan ancaman.
Perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada
Allah, mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara. Dalam ketundukkan itu Sara
taat kepada Abraham suaminya itu.
Terkait dengan TAAT…
Matius 26:36 --- Perikop: "Di taman Getsemani."
(26:36)
Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang
bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah
di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."
Tuhan membawa murid-murid-Nya ke taman Getsemani untuk
berdoa.
Perlu untuk diketahui: di depan Getsemani ada Golgota, maka
untuk itu Yesus perlu berdoa.
Kalau kita tahu di depan ada ujian atau beban
pergumulan yang akan dihadapi maka kita perlu ada di Taman Getsemani, kita harus
berdoa untuk memperoleh kekuatan dari Allah.
Matius 26:37-38
(26:37)
Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia
merasa sedih dan gentar, (26:38) lalu kata-Nya kepada mereka:
"Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan
berjaga-jagalah dengan Aku."
Yesus membawa murid-murid ke Taman Getsemani untuk berdoa.
Lalu dari titik itu (titik pertama) Yesus membawa Yakobus, Petrus dan
Yohanes. Kemudian, setelah berada di titik kedua, Yesus berkata kepada 3
(tiga) murid-Nya:
a.
“...
Tinggallah disini ..”,
artinya: Tekun dalam 3 macam ibadah pokok = tergembala. Sebab:
1.
Yakobus
berbicara tentang IMAN -> Ketekunan
Ibadah Pendalaman Alkitab disertai perjamuan suci.
2.
Petrus berbicara tentang PENGHARAPAN -> Ketekunan Ibadah
Raya Minggu disertai kesaksian Roh.
3.
Yohanes berbicara tentang KASIH -> Ketekunan dalam Ibadah Doa
Penyembahan.
b.
“...Berjaga-jagalah
dengan Aku…”
Ibadah pelayanan harus sampai kepada
tingkat ibadah tertinggi disebut juga puncak ibadah itulah Doa penyembahan.
PENYEMBAHAN artinya: Penyerahan
diri sepenuhnya untuk taat sepenuhnya hanya kepada kehendak Allah.
Jadi penyembahan tidak dilihat saat
praise and worship, atau tidak dilihat pada saat berlutut. Walaupun memang saat menyembah harus dengan pujian penyembahan dan juga
harus berlutut. Tetapi penyembahan yang hakiki adalah penyerahan diri
sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah, itulah yang disebut
penyembahan.
Karena ada orang berlutut, tetapi
tidak nampak penyerahannya. Ada juga orang bernyanyi memuji dan menyembah (praise
and worship), tetapi tidak ada tanda penyerahan dirinya.
Jadi penyembahan yang sejati adalah penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya
kepada kehendak Allah yang kekal.
PENYEMBAHAN = kekalan
PENYEMBAHAN = penyerahan diri.
Jadi, arti perkataan Yesus “…berjaga-jagalah
dengan Aku…” artinya: ibadah harus memuncak sampai Doa Penyembahan.
Sementara penyembahan artinya: penyerahan diri sepenuhnya untuk taat
hanya kepada kehendak Allah, itulah yang dimaksud dengan penyembahan yang
sejati.
Matius 26:39
(26:39)
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku,
jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi
janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau
kehendaki."
"... Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa
..." menunjukkan bahwa Yesus adalah IMAM ALLAH YANG MAHA TINGGI/IMAM BESAR
AGUNG.
“ … Lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku,
jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi
janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
…”
Singkat kata, dari pokok doa yang dinaikkan Yesus kepada
Bapa, menunjukan bahwa Yesus taat kepada kehendak Allah Bapa. Sebab,
Yesus datang ke dunia ini bukan karena kehendak-Nya, melainkan karena kehendak
Bapa di Sorga yaitu minum cawan Allah, artinya: Yesus harus
menanggung penderitaan yang tidak harus Ia tanggung.
Pendeknya, oleh dosa manusia, Yesus yang menanggung
(menerima) hukumannya.
Roma 8:3A --- Perikop: "Hidup oleh Roh."
(8:3)
Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh
daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri
dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia
telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging,
Sebelum Yesus turun ke dunia, Allah terlebih dahulu
menurunkan hukum Taurat ke dalam dunia ini dan Musa telah menerimanya di atas
gunung Sinai. Namun kenyataannya, hukum Taurat tidak sanggup menolong dan
menyelamatkan manusia dari kebinasaan karena dosa.
Kemudian, hukum Taurat tidak berdaya oleh daging atau
lemah terhadap daging. Justru karena hukum Taurat daging merajalela. Umpama apabila kita menjalankan ibadah
Taurat, maka yang merajalela adalah dagingnya, dan keinginannya akan
terlampiaskan. Oleh sebab itu, ibadah tidak boleh dicampur dengan daging
Saya seringkali melihat ibadah di media sosial
dicampur-campur dengan daging. Berlonjak-berlonjak dari belakang (pintu masuk
ke dalam gereja) sampai ke mimbar, saya tidak tahu apakah itu benar kepenuhan
Roh kudus. Yang saya tahu pekerjaan Roh kudus itu tertib, tidak urakan, tidak
nakal, tidak main-main, tidak ugal-ugalan.
Jadi kalau orang dipenuhkan Roh Kudus ia akan merasakan
suasana yang datang dari Sorga turun di bumi di dalam hidupnya. Tapi sekarang
ini, orang yang sedang kepenuhan Roh Kudus seperti kuda lepas kandang. Dia
jungkir balik dari belakang (pintu masuk) sampai di depan altar, mutar-mutar,
bahkan berlonjak-lonjak di atas bangkunya. Dan ratusan bahkan ribuan orang
melakukan hal yang sama.
Saya tidak tahu, saya tidak mengerti, saya tidak menghakimi,
tetapi yang saya tahu adalah kalau ibadah dijalankan menurut hukum taurat, maka
daging ini yang merajalela.
Hampir-hampir kita tidak mengerti ini kepenuhan Roh kudus atau kepenuhan roh kuda (roh kudis).
Kalau kudisan bisa buat orang jungkir balik, karena orang kegatalan
kemana-mana. Tapi kalau Roh Kudus memimpin ibadah itu, ia tersungkur diam dan
tenang, hatinya tertuju penuh kepada TUHAN.
Jadi wajar saja kalau hukum taurat itu tidak sanggup menolong
dan menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Lagi pula hukum taurat itu, lemah terhadap daging.
Roma 8:3B-4
(8:3)
Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh
daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri
dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia
telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, (8:4) supaya tuntutan
hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi
menurut Roh.
Karena hukum Taurat tidak berdaya, maka Allah mengutus
anak-Nya yang tunggal menjadi manusia, lalu menderita sengsara di atas kayu
salib karena dosa manusia.
Pendeknya, dosa manusia diserap di dalam daging Yesus
sebagai manusia, sehingga hukuman atas dosa manusia ditanggung Yesus di atas
kayu salib. Untuk itu Yesus berkata "YA BAPAKU" berarti Dia
taat kepada kehendak Allah Bapa.
Dengan demikian maksudnya oleh sengsara salib tuntutan hukum Taurat digenapi dalam kita yaitu hidup
menurut Roh, bukan lagi hidup menurut daging. Hukum taurat itu adalah hukum
dosa (hukum maut).
Kita kembali untuk membaca…
Matius 26:39
(26:39)
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku,
jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi
janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau
kehendaki."
Doa Yesus kepada Bapa di Sorga: “... "Ya Bapa-Ku,
jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi
janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau
kehendaki."...”
Dari doa ini menunjukkan bahwa Yesus taat kepada Bapa di
Sorga.
Doa yang sama dinaikkan sebanyak 3 (tiga) kali, pada Matius 26:
-
ayat
39: Maka Ia maju sedikit, lalu
sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin,
biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki,
melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
-
ayat
42: Lalu Ia pergi untuk kedua
kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak
mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"
-
ayat
44:(26:44) Ia membiarkan mereka di
situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang
itu juga.
Ia membiarkan mereka di situ lalu
pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang sama, itu
berarti selain taat Yesus juga DENGAR-DENGARAN. Itulah pribadi Sarah, dalam
ketundukkannya ia taat kepada Abraham dan dengar-dengaran. Dengar-dengaran
artinya: Tidak suka memberontak dan tidak berbantah-bantah kepada suaminya.
Lebih rinci terkait; Yesus taat, kemudian Dia adalah
Imam Besar, tetapi Ia juga dengar-dengaran kepada Bapa di Sorga.
Hal yang senada diterangkan juga oleh Rasul
Paulus kepada jemaat di Ibrani.
Ibrani 5:5-6
(5:5)
Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam
Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: "Anak-Ku
Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini", (5:6) sebagaimana
firman-Nya dalam suatu nas lain: "Engkau adalah Imam untuk
selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek."
Sebagai Imam Besar, Yesus tidak memuliakan diri-Nya
tetapi dimuliakan Allah, sebab Yesus adalah Anak Allah, tetapi dijadikan
Allah sebagai Imam Besar untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.
Dalam hal ini, jika imam-imam dipercayakan melayani Tuhan
dalam rumah Tuhan itu kemurahan, itu tanda bahwa imam-imam dimuliakan Tuhan.
Sama seperti Yesus, Dia adalah Anak Allah , tapi dimuliakan oleh Bapa, sebab Dia
dijadikan sebagai Imam Besar (Imam Allah yang Maha tinggi) untuk selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek. Dia
tidak memuliakan diriNya, tetapi dimuliakan oleh Allah. Inilah imam-imam atau
Imam besar yang memiliki suatu kekuatan yang luar biasa, sebab 2 Korintus
10:18: “... sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan
orang yang dipuji Tuhan. …”
Mengacu dari ayat ini: Yesus adalah Imam besar yang punya
kekuatan yang luar biasa. Sebagai Anak Ia tidak memuliakan diriNya, tidak
mengambil hormat bagi diri-Nya, itu sebabnya Allah memuliakan Dia dan mengangkat
Ia sebagai Imam besar Agung menurut peraturan Melkisedek.
Oleh sebab itu, di tengah ibadah pelayanan, jangan kita
mengambil kehormatan untuk dirinya sendiri, hal seperti itu tidak ada artinya
di hadapan Tuhan. Nampak Rohani, tetapi bagi TUHAN tidak ada artinya. Orang
yang mengambil kehormatan bagi dirinya dengan trik-triknya, tapi pemakain TUHAN
tidak berlaku atasnya.
Jadi saudaraku, biarlah kita tetap dengan tulus saja datang
beribadah. Juga imam-imam tulus melayani TUHAN dan pekerjaan TUHAN, supaya
dimuliakan oleh TUHAN. Tidak perlu kita mengambil hormat bagi diri sendiri di
tengah ibadah dan pelayanan. Datang dengan tulus saja. Biarkan Roh TUHAN
mendominasi seluruh kehidupan ini
Ibrani 5:7
(5:7)
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan
dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari
maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.
Sebagai Imam besar Agung Yesus telah menaikkan segala doa
dan permohonan disertai dengan ratap tangis dan keluhan kepada Bapa di
Sorga. Tetapi sesungguhnya
keluhan kita yang disampaikan kepada
Bapa di Sorga.
Yesus sebagai Anak, diangkat sebagai Imam besar tidak pernah
mengeluh dengan pekerjaan yang Ia kerjakan, tidak mengeluh saat Ia minum cawan
Allah.
Ia menaikkan doa permohonan dengan segala ratap tangis dan
keluhan, tetapi sebenarnya keluhan kita yang dinaikkan, karena banyaknya
pergumulan-pergumulan yang kita hadapi di atas muka bumi ini. Sama seperti tapal dada Baju Efod Imam Besar. Panjangnya
sejengkal juga
lebarnya. Di tapal dada ini ada dua belas
batu permata. Di atas batu permata itu tertulis (terukir) 12 nama suku Israel.
Dan nama itu dibawa masuk ke dalam
Ruangan Maha Suci.
Jadi yang disampaikan bukan keluhan-Nya tetapi keluhan kita,
karena begitu banyaknya persoalan, beban hidup yang kita hadapi di atas muka
bumi ini.
Tetapi karena kesalehan-Nya Bapa mendengarkan doaNya.
Singkat kata, oleh ketaatan-Nya kepada Bapa, kita juga diselamatkan. Soal
ketaatan ini luar biasa. Itulah sebabnya ketundukan seorang istri sama seperti
ketundukan jemaat kepada Kristus kepala. Di dalam ketaatan itu terjadi sesuatu
yang sungguh luar biasa. Kita menaikkan doa permohonan disertai ratap tangis
dan keluhan, semuanya tembus kepada Bapa di Sorga, TUHAN mendengar doa-doa yang kita naikkan.
Memang khotbah malam ini menusuk hati istri-istri, sehingga
kadang-kadang kita tidak suka mendengarkan pemberitaan Firman semacam ini.
Tetapi di dalam membangun hubungan nikah itu dasarnya adalah kasih, maka sikap
istri juga harus kita tampilkan di hadapan TUHAN, sesudah itu sikap suami juga
harus ditampilkan.
Jadi menikah itu bukan karena ada sesuatu dan bukan karena
ada maunya. Jadi kalau malam ini sepertinya seorang istri tertusuk hatinya,
janganlah kecil hati, karena saya juga tidak bermaksud menyakiti hati
istri-istri.
Sarah tunduk, itu sebabnya ia taat. Ketaatan itu telah
dijabarkan dalam injil Matius 26, lanjut di dalam Ibrani 5:5-7,
kita telah baca dan kita bahas bersama-sama.
Jadi sepertinya kita berdukacita karena pemberitaan Firman,
tetapi dukacita semacam ini adalah dukacita menurut kehendak Allah (2
Korintus 7:9-10); “… dukacita
menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan …”
Memang ketika firman disampaikan kita berdukacita, tapi
paulus dengan terang benderang berkata saya tidak merugikan kamu, karena
dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan. Jadi ketundukan Sarah
ditandai dengan ketaatannya kepada Abraham. Ini yang sedang kita bahas
bersama-sama.
Ibrani 5:8-9
(5:8) Dan
sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah
diderita-Nya, (5:9) dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia
menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,
Sebagai Anak, “Ia telah belajar
menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya”
dan sesudah mencapai kesempurnaan-Nya, “Ia
menjadi pokok keselamatan yang abadi”
CIRI-CIRI ORANG TAAT
1 Petrus 3:6
(3:6)
sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah
anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman.
Sara menyebut Abraham suaminya itu sebagai TUAN. Pendeknya,
Sara mengambil rupa seorang hamba.
Biarlah kiranya kita mengambil rupa sebagai seorang hamba,
jangan datang beribadah mengambil rupa tuan. Sebab apabila mengambil rupa tuan
akan terjadi banyak perselisihan.
Lukas 22:24-25 --- Perikop: "Percakapan waktu
Perjamuan Malam."
(22:24)
Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang
dapat dianggap terbesar di antara mereka. (22:25) Yesus berkata
kepada mereka: "Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan
orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung.
Terjadi pertengkaran diantara murid-murid, sebab
masing-masing murid menganggap dirinya lebih besar dan lebih hebat dari yang
lain. Dengan demikian murid-murid mengambil rupa seorang tuan dan bukan
mengambil rupa hamba, sama seperti antikris satu kali menjadi raja,
sehingga pada saat itu terjadilah
kekacauan.
Oleh sebab itu, marilah kita semua mengambil rupa hamba.
Lukas 22:26-27
(22:26) Tetapi
kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah
menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. (22:27)
Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani?
Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai
pelayan.
Tuhan mau supaya murid-murid mengambil rupa hamba, berarti:
a.
“...
Yang terbesar hendaklah menjadi yang termuda…”
Muda artinya: Tidak merasa tua/tidak merasa senior, sekalipun
memiliki segudang pengalaman dan pengetahuan.
b.
“...
Pemimpin sebagai pelayan
…” sama seperti Yesus ada di tengah murid-murid sebagai pelayan. Jadi Yesus
adalah pemimpin sejati sepanjang masa.
Jadi seorang pemimpin harus melayani
TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN, harus melayani dan mengerti sesama, tidak hanya menunjuk-nunjuk -- itu pemimpin
dunia –
TUHAN Yesus adalah pemimpin, tetapi
Dia ada di tengah-tengah murid-murid sebagai pelayan. “... Siapa yang
terbesar yang duduk makan atau yang melayani? …” kalau ukuran dunia adalah
yang duduk makan, tetapi Yesus ada di tengah-tengah mereka untuk melayani
mereka saat duduk makan.
Jadi, Yesus ini adalah pemimpin
sejati sepanjang masa. Pendeknya, TUHAN mau supaya kita mengikuti teladan-Nya, yaitu: mengambil rupa sebagai hamba.
Rupa hamba, dalam kisah yang lain …
Matius 20:24-25 --- Perikop: "Permintaan ibu Yakobus
dan Yohanes Bukan memerintah melainkan melayani."
(20:24)
Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.
(20:25) Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu,
bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan
besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
Karena Yakobus dan Yohanes dianggap layak menjadi yang
terbesar, dianggap layak duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Sementara 10 (sepuluh)
murid yang lain juga menganggap dirinya layak menjadi yang terbesar. Akhirnya
terjadilah pertengkaran, dimana 10 (sepuluh) murid memarahi Yakobus dan
Yohanes. Jadi 12 (dua belas) murid sama-sama mengambil rupa tuan. Seandainya 12
(dua belas) murid sama-sama mengambil rupa hamba, maka tidak akan terjadi
kegaduhan di dalam satu komunitas, tidak akan terjadi suatu pertengkaran di
dalam satu kelompok dan golongan. Sebab itu TUHAN mau supaya kita mengambil
rupa hamba, supaya tidak terjadi pertengkaran, supaya tidak terjadi kegaduhan,
kekacauan baik di tengah ibadah pelayanan di dalam penggembalaan GPT BETANIA.
Murid-murid mengambil rupa tuan sama seperti antikris yang
satu kali menjadi raja dan berkuasa atas seantero dunia:
-
memerintah
dengan tangan besi,
-
menjalankan
kekuasaannya dengan kekerasan.
Matius 20:26-28
(20:26)
Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara
kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, (20:27) dan barangsiapa
ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; (20:28)
sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk
melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Tuhan mau supaya murid-murid mengambil rupa sebagai HAMBA,
maka ...
-
Yang
terbesar hendaklah menjadi
PELAYAN.
-
Yang
terkemuka hendaklah menjadi HAMBA.
Pendeknya, kalau ingin menjadi yang terbesar harus melayani TUHAN, kalau mau menjadi yang
terkemuka harus mengambil rupa hamba.
Sama seperti Yesus datang ke dunia bukan untuk dilayani
melainkan untuk:
1.
Melayani.
2.
Memberikan
nyawa sebagai tebusan.
Itulah ciri-ciri taat, yaitu: mengambil rupa hamba.
Demikianlah Sara mengambil rupa hamba di hadapan TUHAN.
Kita akan lanjutkan di minggu yang akan datang jika TUHAN
kehendaki, dan kita akan melihat dari sikap seorang suami di dalam membangun
hubungan nikah yang suci di hadapan TUHAN.
Sedangkan sikap istri di dalam membangun nikah yang suci:
tunduk kepada suami. Istri yang tunduk akan taat kepada suaminya seperti Sara,
ia taat kepada Abraham.
Soal ketaatan juga sudah kita pelajari. Di dalam injil Matius
26 Yesus taat kepada Allah Bapa di Sorga, taat minum cawan Allah, dan Dia
menaikkan doa itu sebanyak 3 (tiga) kali, menunjukkan selain taat Yesus juga
dengar-dengaran. Dengar-dengaran berarti tidak perlu harus berbantah-bantah. Seorang
istri tidak perlu mengajak suaminya berbantah-bantah, itu namanya
dengar-dengaran.
CIRI TAAT: Sara menamai suaminya tuan. Kalau Sara
menamai suaminya tuan berarti dia mengambil rupa hamba. Kalau kita mengambil
rupa sebagai hamba maka di tengah komunitas, di tengah suatu perkumpulan, di
tengah suatu perhimpunan di situ tidak ada kekacauan, disitu tidak ada
pertikaian, disitu tidak terjadi pertengkaran. Itu sebabnya satu kali antikris
mengambil rupa tuan bukan hamba, maka pada saat itu dunia mengalami kekacauan.
Dan tidak lama lagi antikris sudah ada di depan mata .
Ingat, Yesus membawa murid-murid ke taman Getsemani untuk
berdoa. Di depan taman Getsemani ada bukit Golgota. Pendeknya, ntuk menghadapi pergumulan kita perlu ada di taman doa
supaya TUHAN kuatkan kita. Selanjutnya kita mengambil rupa seorang hamba yang
taat dan dengar-dengaran, bukan tuan, niscaya TUHAN tolong dan TUHAN bela.
Tujuh tahun kelimpahan akan berakhir sampai di tahun 2027, sesudah itu akan
masuk pada pra aniaya. Maka kita harus semakin sungguh-sungguh. Gunakan waktu
satu tahun ini dengan baik mengumpulkan gandum sebanyak-banyak di dalam 7
(tujuh) tahun kelimpahan, itu akan berguna pada saat tujuh tahun kelaparan yang
dahsyat dibagi menjadi dua bagian:
-
3.5
(tiga setengah) tahun yang pertama disebutlah itu pra aniaya
-
3.5
(tiga setengah) tahun yang kedua itulah yang disebut dengan puncak pencobaan, sebab
disitu antikris menghujat Roh Allah, artinya menghentikan korban sehari-hari
itulah korban sembelihan dan korban santapan.
Selain itu ia akan menghujat Kemah
kediaman Allah; merobohkan kemah kediaman Allah, tidak ada lagi nanti ibadah
dan pelayanan pada saat itu.
Oleh sebab itu selagi ada kesempatan sekarang untuk
mengumpulkan gandum jangan acuh tak acuh. Nanti saudara pasti mengerti apa yang
saya ucapkan ini.
Saya sudah sampaikan, jadi kalau kita masih bermain-main,
masih tetap dalam kenajisan percabulan, nanti saudara rugi, nanti saudara
nangis darah. Dan kalaupun nanti nangis darah mencari berkat yang satu itu maka
TUHAN akan menolaknya, seperti TUHAN menolak Esau, karena tidak ada lagi
kesempatan untuk memperbaiki kesalahan (Ibrani 12:17).
Saudara, hari ini masih ada kesempatan untuk memperbaiki
kesalahan.
TUHAN masih bersama-sama dengan kita sampai hari ini, bukti
konkritnya: TUHAN selalu ingatkan kita tentang masa-masa yang akan datang,
TUHAN selalu ingatkan kita untuk selalu berada di taman Getsemani, taman Doa,
Ibadah harus sampai puncaknya yaitu doa penyembahan, karena di depan taman
Getsemani ada bukit Golgota, dimana Yesus harus menderita sengsara dan mati di
kayu salib. Untuk itu Yesus berkata: hatiKu sangat sedih seperti mau mati
rasanya. Ini bukan perkataan yang ringan, ini perkataan yang tidak
bisa terbayangkan lagi. Kita membaca ini hanya sekedar membaca dan tidak masuk
ke dalam apa yang dirasakan TUHAN, tapi kalau kita membaca ini dan masuk dalam
perkataan ini barulah kita bisa merasakan apa yang diucapkan Yesus ini. Tapi
banyak orang kristen tidak mau membawa dirinya ke taman doa untuk memperoleh
kekuatan. Bukankah ibadah harus sampai kepada puncaknya yaitu: Doa penyembahan?
Pendeknya, berdoalah dan berjaga-jagalah, Roh itu memang
penurut, kita tahu yang baik, tapi daging itu lemah. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA
MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang