KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Saturday, March 7, 2026

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 24 FEBRUARI 2026



IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 24 FEBRUARI 2026

 

SURAT YUDAS PASAL 1:11

(Seri: 11)

 

Subtema: DUA JENIS IBADAH

 

Shalom.

Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, yang telah memberikan kesehatan, panjang umur, kesempatan bagi kita untuk datang menghadap Dia lewat Ibadah Doa Penyembahan pada malam ini.

Dan sebentar  kita akan tersungkur di ujung kaki salib TUHAN, merasakan suasana kasih, ketenangan, kebahagiaan manakala kita ada dalam doa penyembahan.

 

Saya juga tidak lupa untuk menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN, Bapak/Ibu, Saudara yang turut bergabung lewat online atau live streaming dimanapun saudara berada baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

 

Mari kita sambut Surat Yudas sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Doa Penyembahan dari Yudas 1:11 untuk pemberitaan Firman yang ke-11 kalinya. Namun tetaplah berdoa dalam Roh, mohon kemurahan TUHAN supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita.

 

Yudas 1:11

(1:11) Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.

 

"Celakalah mereka." Berarti ada orang yang celaka antara lain:

a. Karena mereka yang mengikuti jalan yang ditempuh Kain.

b. Karena mereka oleh sebab upah menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam.

c. Mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.

 

Tentang: Oleh sebab upah menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam (Bagian 6).

 

2 Petrus 2:15 -- Perikop: "Nabi-nabi dan guru-guru yang palsu."

(2:15) Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.

 

Guru-guru palsu telah meninggalkan jalan yang benar, itulah JALAN SALIB.

Akibatnya: TERSESATLAH MEREKA di jalan, istilah sekarang kesasar.

Praktek tersesat: Mengikuti jalan Bileam, yaitu suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.

Kisah tersebut ditulis oleh Musa di dalam Bilangan 22:2-20.

 

Sesungguhnya TUHAN sudah melarang Bileam untuk melakukan perbuatan yang jahat, yakni; mengutuk orang Israel, tetapi Bileam  tidak mau mendengar (Bilangan 22:12).

Jadi pada ayat ini jelas TUHAN melarang Bileam datang kepada Balak (Raja Moab) untuk mengutuk bangsa Israel sebab bangsa Israel telah diberkati oleh TUHAN.

Diberkati oleh TUHAN artinya: Dipilih dan ditetapkan oleh TUHAN untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

Jadi kalau TUHAN sudah memilih dan menetapkan bangsa Israel untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, sesungguhnya hal itu tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun, percuma orang mengganggu gugat bangsa yang dipilih, percuma orang mengganggu gugat bangsa yang ditetapkan oleh TUHAN untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa di dunia ini. Kemudian, percuma juga manusia mengganggu gugat hamba-hamba TUHAN, justru yang mengganggu gugat itu nanti akan mengalami kesusahan tersendiri. Tetapi dasar Bileam adalah orang bebal, dia melanggar apa yang sudah diperintahkan oleh TUHAN berarti melakukan perbuatan yang sia-sia. Sebetulnya sia-sia saja, tetapi dia tetap melakukannya karena dia adalah orang bebal.

 

Ayat referensi:

Keluaran 19:4-6

(19:4) Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. (19:5) Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan Firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. (19:6) Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya Firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel."

 

Dari tiga ayat ini jelas, TUHAN yang memilih bangsa Israel dari semua bangsa di bumi dan mereka telah ditetapkan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa di bumi. Jadi percuma Bileam mengutuk bangsa Israel karena bangsa Israel telah dipilih dan ditetapkan oleh TUHAN, menjadi berkat bagi bangsa-bangsa di atas muka bumi ini.

 

Adapun tugas dari bangsa yang dipilih dan ditetapkan menjadi berkat nampaklah di dalam ...

1 Petrus 2:9

(2:9) Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan ALLAH sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:

 

Orang yang memberitakan salib menjadi berkat bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal salib / mengenal TUHAN.

Mulai dari sekarang pastikan bahwa kita adalah bangsa yang dipilih dan ditetapkan oleh TUHAN. Itu bisa nampak dari gaya hidup / lifestyle /cara hidup dihadapan TUHAN yaitu memberitakan salib dalam perkataan, perbuatan, sikap, solah tingkah dimanapun berada.

 

Roma 11:11

(11:11) Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu.

 

“Oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain.”

Apa pelanggaran dari bangsa Israel? Pelanggaran mereka adalah menyalibkan Yesus, namun oleh salib keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain.

Maka jelas sekali, bangsa Israel telah dipilih dan ditetapkan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

Jadi rumus di dalam TUHAN adalah: diberkati untuk menjadi berkat, bukan menggemukkan diri supaya nanti sampai pada penyembahan.

 

Roma 9:4-6

(9:4) Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. (9:5) Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah ALLAH yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin! (9:6) Akan tetapi Firman ALLAH tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel,

 

Kalau TUHAN sudah memberkati bangsa Israel itu sudah pasti, tidak mungkin gagal, tidak bisa diganggu gugat oleh apapun dan siapapun, jangankan Bileam, Setan pun tidak bisa mengganggu gugat kedudukan dari bangsa yang dipilih dan ditetapkan oleh TUHAN untuk menjadi berkat.

Jadi kebebalan Bileam ini sebetulnya adalah kesia-siaan. Tetapi banyak juga orang Kristen melakukan hal yang sia-sia, kenapa? Karena dia bebal.

 

Berkali-kali saya sampaikan; “jangan terima jus racikan”, namun engkau mengelak dengan alasan begini begitu padahal seseorang bisa saja mengelak dari situ. Sekarang nama mu sudah terdaftar dibawa kepada antikris, resiko tanggung sendiri. Tetapi sesungguhnya masih ada kemurahan, tekunlah dalam tiga macam ibadah pokok, banyak menangis, mencucurkan air mata di kaki salib.

Mulai dari sekarang belajar rendah hati, jangan suka melawan gembala, sebab dosa mu tidak akan diampuni. Buktinya apa? Pelanggaran mu itulah yang menghukum mu.

Sudah dikatakan jangan pergi namun pergi juga, masih sempat-sempatnya pamer-pamer kebodohannya.

Seharusnya dengan melihat kebodohan itu malam ini menangis, semoga masygullah hati TUHAN melihat mu, melihat kita semua. Mulai sekarang belajarlah untuk menjadi orang yang bijaksana.

 

Jadi jelas di dalam Roma 9:6a; Firman ALLAH tidak mungkin gagal sebab bangsa Israel telah dipilih dan ditetapkan oleh TUHAN untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Sebab oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain.

Ingat rumus di dalam TUHAN: DIBERKATI UNTUK MEMBERKATI.

 

2 Petrus 2:16

(2:16) Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu.

 

Di dalam Bilangan 22:12; TUHAN sudah melarang Bileam untuk mengutuk bangsa Israel karena bangsa Israel telah diberkati, tetapi di dalam 2 Petrus 2:16, Petrus menjelaskan bahwa Bileam tetap datang kepada Balak untuk mengutuk bangsa Israel karena Bileam adalah orang bebal.

 

Bilangan 22:28

(22:28) Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: "Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?"

 

Karena kebebalan Bileam akhirnya TUHAN membuka mulut keledai dan berbicara seperti manusia, serta berkata kepada Bileam: "Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?"

 

Singkat kata: Bileam memukul keledai yang ditungganginya sebanyak 3 (tiga) kali.

-    Satu kali saat keledai ke ladang. Ladang -> kegiatan Roh (Pengharapan).

-    Dua kali saat keledai menekankan dirinya ke tembok. Tembok -> iman.

-    Tiga kali saat keledai meniarap. Meniarap = kegiatan kasih -> Doa Penyembahan.

 

Jadi karena keledai melakukan 3 (tiga) perkara ini maka Bileam dalam kebebalannya memukul keledai itu sebanyak 3 (tiga) kali karena apa yang diperbuat oleh keledai tidak sesuai dengan apa yang menjadi kehendak daripada Bileam itu sendiri.

 

Bilangan 22:29

(22:29) Jawab Bileam kepada keledai itu: "Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang."

 

Bileam memukul keledai sebanyak 3 (tiga) kali karena ia merasa dipermain-mainkan.

Perlu untuk kita ketahui:

-    Kegiatan Roh / Pengharapan -> Ketekunan Ibadah Raya Minggu disertai kesaksian Roh.

-    Kegiatan Iman -> Ketekunan Ibadah Pendalaman Alkitab disertai perjamuan suci.

-    Kegiatan Kasih -> Ketekunan Ibadah Doa Penyembahan.

Sebenarnya ketekunan dalam 3 (tiga) macam ibadah pokok, datangnya dari TUHAN, ibadah yang sesuai dengan Pola Kerajaan Sorga. Berarti kalau kita tekun dalam tiga macam ibadah pokok, menghargai dan menghormatinya bukan berarti TUHAN mempermain-mainkan kita. Tetapi kalau engkau mengabaikan jam-jam ibadah itu artinya engkau sedang dipermain-mainkan oleh Iblis (Setan). Sebab itu jangan kita mau dipermainkan Setan.

Dengan tekun dalam tiga macam ibadah pokok berarti kita sedang diperhatikan oleh TUHAN, bukan berarti sedang dipermain-mainkan oleh TUHAN, sebaliknya orang yang meninggalkan jam-jam ibadah, sesungguhnya orang tersebut sedang dipermain-mainkan dunia dan Setan, engkau sedang dipermain-mainkan perasaan manusia daging mu. Betapa bodohnya dan malangnya kalau seseorang dipermain-mainkan oleh Setan, oleh perasaan manusia dagingnya. Tetapi bijaksanalah orang kalau menyerahkan dirinya ke dalam rencana TUHAN, lepas dari kebebalan Bileam.

Pendeknya, kalau ibadah datang dari TUHAN maka ibadah itu pasti sesuai dengan Pola Kerajaan Sorga.

 

Ibrani 8:5

(8:5) Pelayanan mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah: "Ingatlah," demikian Firman-Nya, "bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu."

 

Ibadah pelayanan di bumi dengan pola Tabernakel adalah gambaran dan bayangan dari ibadah pelayanan yang ada di Sorga. Itu sebabnya kalau ibadah pelayanan di bumi tidak menggunakan Pola Kerajaan Sorga TUHAN berkata hati ku muak (Imamat 26:11).

Jadi supaya ibadah pelayanan di bumi ini merupakan gambaran dan bayangan dari ibadah pelayanan yang ada di Sorga maka ibadah itu harus menggunakan Pola Tabernakel, itu adalah harga mati karena ada ayatnya.

Saudara tidak perlu disesatkan oleh ajaran-ajaran yang lain, tidak perlu terganggu hati dan perasaan saudara, tidak usah kecil hati walaupun nampaknya kolot dan ketinggalan zaman, percayalah kepada TUHAN.

Memang kita menjalankan ibadah di bumi harus sesuai dengan ibadah di Sorga.

 

Oleh sebab itu, kita tidak boleh menganggap bahwa TUHAN sedang mempermain-mainkan kita lewat ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok. Justru ibadah dan pelayanan di bumi dengan Pola Tabernakel (Pola Kerajaan Sorga) kita mengenal 2 (dua) jenis ibadah.

Jadi kalau kita mengikuti TUHAN dengan menggunakan Pola Tabernakel (Pola Kerajaan Sorga), di situ nanti kita mengenal TUHAN, di situ kita mengenal 2 (dua) jenis ibadah di bumi ini, antara lain:

1. Ibadah yang sejati.

2. Ibadah yang murni.

Singkat kata; hanya ada dua jenis ibadah, tidak boleh ditambahkan dan dikurangkan.

 

Keterangan: IBADAH YANG SEJATI.

Roma 12:1 -- Perikop: "Persembahan yang benar"

(12:1) Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan ALLAH aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada ALLAH: itu adalah ibadahmu yang sejati.

 

Ibadah yang sejati ialah: Mempersembahkan tubuh kepada TUHAN sebagai persembahan:

1. Yang hidup.

2. Yang kudus.

3. Yang berkenan kepada ALLAH.

 

Yang Pertama: Persembahan yang HIDUP.

Persembahan yang hidup bila dikaitkan dengan Pola Tabernakel terkena pada daerah HALAMAN.

Di Halaman terdapat 2 (dua) alat:

1. Mezbah Korban Bakaran, bayangan dari salib tempat Yesus dikorbankan.

Ukuran Mezbah Korban Bakaran: panjang 5 hasta, lebar 5 hasta, tinggi 3 hasta (Keluaran 27:1).

-    Angka 5 (lima)    -> 5 (lima) luka utama Yesus, 2 (dua) di tangan, 2 (dua) di kaki, dan 1 (satu) tusukan pada lambung.

-    Angka 3 (tiga)     -> Pengalaman kematian.

2. Kolam Pembasuhan Tembaga, berbicara baptisan air, gambaran atau bayangan dari pengalaman Yesus dalam tanda kematian dan kebangkitan-Nya = mati bagi dosa, bangkit (hidup) bagi ALLAH.

Pendeknya, dua alat di Halaman adalah bayangan dari suatu persembahan yang hidup.

 

Yang Kedua: Persembahan yang KUDUS.

Persembahan yang kudus bila dikaitkan dengan Pola Tabernakel terkena pada RUANGAN SUCI di dalamnya ada 3 (tiga) macam alat -> Ketekunan dalam 3 (tiga) macam ibadah pokok.

1. Meja Roti Sajian -> Ketekunan Ibadah Pendalaman Alkitab disertai Perjamuan Suci = Dikuduskan oleh Firman ALLAH dan perjamuan suci.

2. Pelita Emas -> Ketekunan Ibadah Raya Minggu disertai kesaksian Roh = Dikuduskan oleh Roh ALLAH yang suci.

3. Mezbah Dupa -> Ketekunan Ibadah Doa Penyembahan = Dikuduskan oleh kasih ALLAH.

Perlu untuk diketahui; kekudusan / hidup kudus bukanlah akhir, tetapi awal untuk sampai berkenan kepada TUHAN.

Berkenan kepada TUHAN -> kehidupan yang sempurna.

Dari sini kita bisa melihat, ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok adalah HARGA MATI.

 

Berkenan kepada TUHAN -> Kehidupan yang sempurna.

Yang Ketiga: Persembahan yang BERKENAN.

Matius 3:17

(3:17) lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

 

Matius 17:5

(17:5) Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."

 

Saudara, dari dua ayat yang sudah kita baca, kata berkenan = dikasihi ALLAH / tinggal di dalam kasih ALLAH.

Jadi kedudukan dari orang yang berkenan adalah tinggal di dalam kasih ALLAH.

 

Berkenan (tinggal di dalam kasih) bila dikaitkan dengan Pola Tabernakel terkena kepada RUANGAN MAHA SUCI.

Jadi kata “berkenan” ini tidak semudah dan segampang lidah manusia mengucapkan, tetapi lebih daripada sekedar terucap begitu saja.

-       Iman -> Halaman.

-       Kesucian (pengharapan) -> Ruangan Suci.

-       Kasih -> Ruangan Maha Suci.

Pendeknya, kedudukan dari orang yang berkenan ialah: Ruangan Maha Suci.

Ayo buktikan saudara berkenan dihadapan TUHAN, kedudukannya berada di dalam kasih ALLAH.

Dasar nikah adalah kasih, membuat pasangan menjadi satu adalah kasih.

 

Jadi dari sini kita bisa melihat;

-       Sudahkah kita berkenan?

-       Sudahkah nikah kita berkenan?

-       Sudahkah ibadah kita berkenan?

-       Sudahkah pelayanan kita berkenan?

Yang namanya berkenan, kedudukannya ada di dalam kasih ALLAH.

Semestinya kalau sudah tergembala maka hari demi hari kedewasaan sudah semakin nampak di dalam diri kita. Ini justru, yang diperhatikan adalah bagaimana supaya bisa mencari uang banyak, bagaimana cara mengumpulkan banyak harta di bumi ini, sesungguhnya itu adalah perbuatan yang keliru.

Tidak salah diberkati, tetapi jangan sampai salah mengelola soal berkat.

Ada beberapa diantara kita, beribadah tetapi belum menyerahkan dirinya menjadi satu kehidupan domba yang tergembala. Bertindak, tetapi sesuai dengan keputusannya, sesuai dengan pemikirannya, sesuai dengan pengertiannya, sesuai dengan hatinya, akhirnya sikap dan perbuatannya serta semua yang dia lakukan selalu menyakiti hati TUHAN, tidak pernah menyukakan hati TUHAN, tidak pernah menyenangkan hati TUHAN.

Seandainya dia berkenan maka kedudukannya pasti di dalam kasih. Kasih itu yang mengikat kita dengan TUHAN, tidak bisa terpisah hanya karena pekerjaan, kebun, ladang, bisnis, daging-daging yang ada di sekitar kita.

 

Jadi Bileam ini betul-betul dia tidak paham rencana TUHAN, dia memukul keledai sebanyak tiga kali, padahal TUHAN yang membawa keledai tersebut untuk berada pada tiga tempat itu. Sehingga kalau kita mengikuti TUHAN, beribadah dan melayani TUHAN dengan menggunakan Pola Tabernakel maka kita pasti atau niscaya mengenal TUHAN secara pribadi dan mengenal dua jenis ibadah itu.

 

Namun saya tetap berdoa, kiranya di hari-hari terakhir ini saya dan saudara menjadi satu kehidupan yang berkenan supaya kelak kedudukan kita ada di dalam kasih. Tetapi itu tidak terlepas dari penyerahan diri seseorang untuk menyatakan dirinya kepada TUHAN sebagai satu kehidupan domba yang tergembala, tidak cukup hanya beribadah. Kalau hanya beribadah maka dimana saja bisa beribadah, di gereja mana saja bisa beribadah. Tetapi yang TUHAN mau supaya kita menjadi satu kawanan domba ALLAH dan dituntun oleh ALLAH (gembala Agung) sehingga ketika hendak bertindak apa saja, tidak asal bertindak begitu saja, namun tanya TUHAN.

 

Jadi malam ini kita harus belajar untuk menjadi orang yang menyerah, tidak seperti Bileam dikuasai oleh roh kebebalan, sehingga ia merasa dipermain-mainkan oleh ketekunan tiga macam ibadah pokok. Padahal sebetulnya kalau kita tekun dalam tiga macam ibadah pokok atau ibadah menggunakan Pola Tabernakel, kita mengenal TUHAN secara pribadi, kita mengenal dua jenis ibadah termasuk ibadah yang sejati ini.

 

Singkat kata; dari injil Matius 17:5 kita sudah mengerti bahwa orang yang berkenan kedudukannya ada di dalam kasih ALLAH.

Kemudian setelah Petrus yang tadinya merasa hebat, merasa kuat, merasa mampu oleh pengertian yang dia miliki, dan itu ditunjukkan kepada TUHAN, namun ALLAH berbicara langsung dari tengah awan; “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Pemahaman itu rupanya merasuki kalbu dan jiwa daripada Petrus dan dua murid lainnya (Yakobus dan Yohanes) sehingga mereka langsung berada pada doa penyembahan / tersungkur dihadapan TUHAN.

Inilah yang dimaksud dengan persembahkanlah tubuh mu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada ALLAH (doa penyembahan).

 

Kalau jauh dari ibadah hanya karena menanam padi di ladang, aduh bodohnya tidak ketulungan. Nah kalau sudah mendengar teguran semacam ini bagaimana pikiran mu, melawan atau menangis malam ini? Kalau engkau tetap melawan, engkau tidak akan pernah berubah seumur hidup mu, saya berani mengatakan itu.

Tetapi lihat Petrus, dia langsung tersungkur di kaki salib, dia langsung tinggal di dalam kasih, berkenan. Tanda berkenan; takut kepada TUHAN.

 

Pemuda-pemudi kalau kelak engkau menikah, dengar Firman ini. Jangan engkau suruh isteri mu pergi ke ladang, tinggalkan jam ibadah, terpisah dengan mu, lalu bagaimana nanti pribadi isteri mu, bagaimana kesuciannya di hadapan TUHAN, apakah isteri mu tidak najis, apakah suami mu tidak najis, engkau harus berpikir panjang. Engkau selalu menyakiti hati TUHAN, tetapi engkau tidak pernah merasa menyakiti hati TUHAN, hanya engkau saja yang selalu merasa dipermain-mainkan karena pandangan mu bukan kepada salib.

Coba kalau suami jauh dari isteri, isteri jauh dari suami, apa tidak berdosa itu? Panjangan dalam pikiran mu.

 

Ini pengalaman Petrus dibagi-bagikan kepada orang Israel...

2 Petrus 1:17-18

(1:17) Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari ALLAH Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." (1:18) Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.

 

Berkenan = tinggal di dalam kasih, berbicara tentang tingkat ibadah yang tertinggi (puncak ibadah) itulah doa penyembahan, gunung yang kudus.

Pengalaman Petrus dalam kegagalan di masa lalu juga dibagi kepada kita malam ini.

 

Jadi kalau kita dahulu merasa hebat, merasa mengerti dalam banyak hal, merasa mengerti kehidupan ini, sehingga menyepelekan gembala, namun pada akhirnya kita harus mengakui bahwa sesungguhnya anak-anak TUHAN harus mempersembahkan tubuhnya kepada TUHAN sebagai persembahan yang hidup, persembahan yang kudus, dan persembahan yang berkenan kepada ALLAH itulah ibadah yang sejati.

Sekarang dia mengerti ibadah yang sejati, dahulu merasa hebat, pintar, tidak butuh TUHAN, tidak dengar-dengaran kepada gembala. Tetapi pada akhirnya dia memahami soal ibadah yang sejati seperti Petrus. Ini teladan yang harus kita teladani dengan baik.

 

Keterangan: IBADAH YANG MURNI.

Yakobus 1:27

(1:27) Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan ALLAH, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

 

Ibadah yang murni dan tak bercacat dihadapan ALLAH adalah:

a.     Mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka.

b.    Menjaga dirinya supaya tidak dicemarkan oleh dunia.

Pendeknya, ibadah yang murni disebut juga ibadah yang tidak bercacat dihadapan ALLAH.

Tidak bercacat = sempurna.

 

Efesus 5:25-27

(5:25) Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya (5:26) untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan Firman, (5:27) supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

 

Yesus telah menyerahkan diri-Nya bagi jemaat untuk menguduskan jemaat dengan air dan Firman. Dengan demikian, TUHAN menempatkan jemaat dihadapan-Nya dengan cemerlang, tanpa cacat atau kerut, atau yang serupa itu = kudus, tidak bercela = sempurna.

 

Jadi betapa mulianya TUHAN kita dengan segala perbuatan-Nya sebab Ia telah menyerahkan diri-Nya bagi jemaat untuk menguduskan jemaat, lalu ditempatkanlah jemaat dihadapan-Nya dalam keadaan cemerlang berarti tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, singkat kata kudus tidak bercela. Betapa mulianya TUHAN kita dengan perbuatan-Nya itu saudara. Dia tidak peduli dengan diri-Nya, Dia telah mengunjungi yatim piatu, yang tidak punya bapa dan tidak punya ibu, (kehilangan induk). Kita ini bagaikan terpisah dari ALLAH sejak Adam diusir dari Taman Eden.

Jadi keadaan kita sekarang terpisah jauh dari TUHAN, kita dilemparkan di bumi ini sehingga terpisah jauh dari TUHAN, tetapi lihatlah TUHAN mengunjungi yatim piatu yang tidak punya induk, TUHAN mengunjungi janda-janda yang tidak punya kepala supaya Kristus tetap jadi Kepala, ini ibadah yang murni.

 

Lewat Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel kita dibawa menjadi satu kehidupan yang sempurna supaya menempatkan Kristus sebagai Kepala (Suami) sehingga sekalipun nampaknya kita terpisah jauh dari TUHAN namun oleh Firman Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel, satu kali kelak kita akan menyatu dengan Kristus Kepala, kita sudah dikunjungi oleh Kristus Kepala, dengan lain kata; Yatim Piatu telah dikunjungi oleh Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel, janda-janda sudah dikunjungi oleh Firman Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel.

 

Kita ini bagaikan anak-anak yang tidak punya induk sejak dari Taman Eden, kita ini bagaikan janda-janda (tidak punya kepala), tetapi betapa besar perhatian TUHAN kepada kita sampai pada detik malam ini.

 

Kita perhatikan keadaan janda akhirnya tidak bercacat di dalam...

Wahyu 21:9, berbicara Pengantin Perempuan, Mempelai Anak Domba.

Wahyu 21:10, digambarkan seperti gunung yang besar lagi tinggi.

Wahyu 21:11, keadaan Mempelai TUHAN tidak bercacat cela sebab Kota itu penuh dengan kemuliaan ALLAH dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.

Singkat kata; Mempelai TUHAN bercahaya kemuliaan ALLAH seperti permata yang paling indah itulah permata yaspis, jernih seperti kristal.

 

Kristal = transparan, artinya; bagian luar dan bagian dalam hati kita sama, tidak ada yang berbeda atau tidak ada yang ditutup-tutupi. Biasanya kehidupan semacam ini tidak suka pura-pura, tidak munafik, tidak pandai bersandiwara.

Itu kehidupan yang dikristalkan oleh TUHAN. Jadi kedudukan dan kualitas rohaninya sama seperti kedudukan dan kualitas rohani dari Mempelai Laki-laki Sorga, tanpa cacat cela, karena rencana ALLAH adalah menempatkan jemaat dihadapan-Nya tanpa cacat, sempurna.

 

Saudara malam ini tanpa kita sadari TUHAN Yesus adalah Kepala Gereja, Mempelai Pria Sorga telah mengunjungi janda-janda, gereja yang tidak punya kepala sejak jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa.

Kemudian Yesus adalah ALLAH dan Bapa kita, dan kita ini adalah anak-anak ALLAH yang dahulu terpisah jauh dari ALLAH, tidak punya ayah dan ibu (yatim piatu), tetapi malam ini TUHAN mengunjungi kita.

Itu yang dimaksud dengan ibadah yang murni.

 

Saudara, lewat Pengajaran Mempelai dan Pengajaran Tabernakel atau pengikutan kita dengan menggunakan Pola Kerajaan Sorga akhirnya kita mengenal TUHAN secara pribadi = mengenal 2 (dua) jenis ibadah. Hanya ada 2 (dua) jenis ibadah, tidak ada yang lain, tidak boleh ditambah-tambahi dengan pengetahuan manusia. Amin.

 

 

 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

 

Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang