KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Tuesday, June 23, 2026

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 18 JUNI 2026

 


IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 18 JUNI 2026

 

MALEAKHI 2:16

(Seri: 4)


Subtema: PERCERAIAN ADALAH KEKEJIAN BAGI TUHAN


Shalom.

Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, oleh karena kemurahan hati-Nya kita sekaliannya dihimpunkan di atas gunung Tuhan yang kudus, kita boleh datang menghadap dia lewat Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci.


Selanjutnya doa dan harapan kami biarlah kiranya damai sejahtera dari Sorga memerintah di hati kita dan berkuasa di tengah-tengah ibadah malam ini sehingga ada satu kesukaan besar saat kita duduk diam mendengarkan sabda Allah.


Saya juga tidak lupa menyapa saudara/saudari, bapak ibu yang turut bergabung lewat online / live streaming dimanapun anda berada. Kiranya damai sejahtera dari Sorga ada di tengah-tengah kita bertakhta di hati ada kesukaan saat kita menikmati sabda Allah.

 

Selanjutnya mari kita sambut STUDY MALEAKHI sebagai firman penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci. Malam ini kita membahas Maleakhi 2:16 sebagai seri ke-4.

 

Maleakhi 2:16

(2:16) Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel -- juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!

 

Tuhan membenci dua hal, antara lain:

  1. Perceraian.

  2. Menutupi pakaiannya dengan kekerasan.


Keterangan: TUHAN MEMBENCI PERCERAIAN (Bagian 4).

Matius 19:3 --- Perikop: “Perceraian.”

(19:3) Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"


Orang-orang Farisi mencobai Yesus dengan sebuah pertanyaan, yaitu: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"

Dari pertanyaan ini dapat kita melihat bahwa persoalan dalam nikah di atas muka bumi ini tidak ada habisnya dari sejak zaman purbakala hingga saat ini, bahkan Bapak Pdt. In Juwono pendiri Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT) mengatakan bahwa: “korban perang dunia pertama dan korban perang dunia kedua tidak lebih banyak dari korban nikah-nikah di atas muka bumi ini.”


Matius 19:4

(19:4) Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?


Jawab Yesus kepada orang-orang Farisi; Allah yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan.

Intinya, laki-laki dan perempuan sudah menjadi satu daging, bukan dua, dan hal itu Tuhan ciptakan dari sejak semula di taman Eden.


Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka ... Kejadian 1:27.


Kita kembali memeriksa percakapan tentang “perceraian” antara orang Farisi dan Yesus.

Matius 19:5-6

(19:5) Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. (19:6) Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."


Yesus berkata kepada orang-orang Farisi: Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia, apapun alasannya. Hal itu terjadi dari sejak semula, sesuai dengan Matius 19:4, “... Ia yang menciptakan manusia sejak semula.”


Matius 19:7

(19:7) Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"


Reaksi orang-orang Farisi atas pernyataan Yesus ialah; orang-orang Farisi membahas tentang Musa yang memerintahkan laki-laki untuk memberikan surat cerai jika laki-laki menceraikan isterinya. 


Intinya, orang-orang Farisi sangat mengharapkan adanya suatu PERCERAIAN, sekalipun Yesus sendiri telah menceritakan nikah dari sejak semula yaitu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia apapun alasannya. 


Dari hal ini dapat kita melihat bahwa orang-orang Farisi adalah AHLI TAURAT, artinya: Mengerti firman Allah namun tidak menjadi pelaku. Berarti, orang-orang Farisi adalah orang munafik. 


Contoh: Munafik:

Matius 23:2 --- Perikop: “Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.”

(23:2) "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.


Menduduki kursi Musa artinya ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menjadi pemimpin rohani bagi orang-orang Yahudi. Tuhan yang memberitahukan itu kepada orang Yahudi.


Matius 23:3

(23:3) Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.


Orang-orang Farisi mengajarkan firman Allah tetapi mereka sendiri tidak melakukannya, menunjukkan bahwa orang-orang Farisi adalah orang munafik.

MUNAFIK, artinya: Bagian dalam hidupnya tidak sama dengan bagian luar hidupnya, berarti ada banyak hal yang harus ditutupi oleh orang Farisi. Padahal yang disebut pemimpin dia harus berada di depan, berarti menjadi teladan dalam segala perkara terlebih dalam hal nikah.


Bantu doa kiranya pribadi saya dan nikah saya betul-betul menjadi teladan bagi sidang jemaat, bahkan dalam perkataan perbuatan juga menjadi teladan bagi sidang jemaat.


Matius 23:4

(23:4) Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.


Orang Farisi mengajarkan untuk berkorban atau terikat dengan korban Kristus, tetapi mereka sendiri tidak mau berkorban, bahkan menyentuhnya pun tidak. Dari sini terlihat bahwa mereka adalah ORANG MUNAFIK.


Matius 23:5-7

(23:5) Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; (23:6) mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; (23:7) mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.


Semua pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang Farisi tujuannya hanya untuk supaya DILIHAT ORANG LAIN = Pamer rohani.


Contoh PERTAMA: “Mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang”.

Dengan demikian, orang-orang akan menganggap bahwa mereka terikat dengan kebenaran dan kasih Allah ... Ulangan 6:8 dan Bilangan 15:38.


Contoh KEDUA: “Mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat”. Intinya, mereka gila hormat, dalam bentuk penojolan diri. 


Contoh KETIGA: “Mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi”.

PASAR merupakan tempat jual beli, menunjukkan bahwa ahli Taurat dan orang Farisi dikuasai oleh roh jual beli itulah roh antikris = Dikuasai kenajisan percabulan. Jika seseorang dikuasai kenajisan percabulan memang sangat suka menerima penghormatan.

RABI, artinya: Guru. Jadi, status sebagai guru adalah suatu kebanggaan bagi mereka.


Matius 23:8

(23:8) Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 


“... hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.” 

Hanya satu guru/satu pengajar itulah Tuhan Yesus Kristus, dan kita adalah sesama saudara bukan seorang guru, yang selalu menggurui sesama. 


Yakobus 3:1

(3:1) Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.


Jadi jika kita menempatkan diri sebagai guru, yang pekerjaannya hanya untuk mengajari sesama, satukali akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. Singkat kata, hanya ada satu Rabi, yaitu: Tuhan Yesus Kristus.


Matius 23:9-10

(23:9) Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. (23:10) Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.


Pendeknya;

  • Hanya satu Rabi/guru itulah Yesus Anak Allah 🡪Firman Allah.

  • Hanya satu Bapa itulah Bapa di Sorga 🡪Kasih Allah. 

  • Kemudian, hanya satu Pemimpin itulah Mesias 🡪 Roh El-Kudus. 


KEMUNAFIKAN orang-orang Farisi yang terdapat dalam Matius 23 ada sebanyak 7 (tujuh) kali:

  1. Matius 23:13, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik ...”

  2. Matius 23:14, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik ...”

  3. Matius 23:15, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik ...”

  4. Matius 23:23, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik ...”

  5. Matius 23:25, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik ...”

  6. Matius 23:27, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik ...”

  7. Matius 23:29, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh.”


KEMUNAFIKAN YANG KETUJUH dari orang-orang Farisi yaitu; “... membangun makam nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh”. Ketika saya melayani di Sumatera Utara (Tapanuli) saya melihat disepanjang jalan, tugu-tugu indah sekali; dikeramik, dimarmer, dilabur putih, namun rumahnya sendiri tidak seindah tugu tersebut. Hal itu tidak masuk diakal sehat saya.


Matius 23:30-31

(23:30) dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. (23:31) Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu.


Kemunafikan dari orang munafik dapat dilihat dari pekerjaannya, perbuatan/sikapnya. 

Mereka berkata “kami bukan orang munafik” tetapi mereka membangun makam nabi-nabi, dan memperindah tugu orang-orang saleh, menunjukkan bahwa mereka adalah orang munafik/keturunan ular beludak dan keturunan dari Pembunuh nabi-nabi itu.


Ini adalah suatu pelajaran yang sangat manis, artinya untuk menampilkan diri di hadapan Tuhan tidak perlu dengan perkataan namun Tuhan akan mengenal siapa kita dari perbuatan. Oleh sebab itu, baik perbuatan maupun perkataan harus selaras, jika tidak disebutlah sebagai orang munafik. 


Selanjutnya kita akan melihat KEMUNAFIKAN YANG KEENAM dari orang-orang Farisi.

Matius 23:27

(23:27) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.


Contoh kemunafikan berikutnya dari orang munafik adalah seperti KUBURAN, di luarnya indah (dilabor putih) tetapi bagian dalamnya hanya tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran, semua jenis kotoran ada di dalam hatinya. Tulang belulang 🡪 kerohanian yang kering-kering.


Kita kembali untuk membaca ...

Matius 19:7

(19:7) Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"


Pada Matius 19:3, orang Farisi mencobai Yesus dan berkata: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” 

Pada ayat 4, Yesus menjawab: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?” 

Jadi, Tuhan yang menciptakan nikah dan laki-laki perempuan sudah menjadi satu daging, bukan lagi dua.


Namun, pada ayat 7, orang-orang Farisi mengungkit hal yang sama namun dengan cerita yang berbeda, sebab mereka mengungkit kisah tentang Musa yang memerintahkan laki-laki untuk memberikan surat cerai apabila akan menceraikan isterinya. Artinya: Orang-orang Farisi adalah orang munafik, sangat mengharapkan adanya perceraian.


Ulangan 24:1-4 --- Perikop: “Tentang perceraian.”

(24:1) "Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya,  (24:2) dan jika perempuan itu keluar dari rumahnya dan pergi dari sana, lalu menjadi isteri orang lain, (24:3) dan jika laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi kepadanya, lalu menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu serta menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau jika laki-laki yang kemudian mengambil dia menjadi isterinya itu mati, (24:4) maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN. Janganlah engkau mendatangkan dosa atas negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.


Intinya, perceraian tidaklah menyelesaikan masalah sebab pada pernikahan yang kedua dari istri yang diceraikan juga mengalami hal yang sama. Pendeknya, justru perceraian adalah suatu perbuatan KEJI bagi Tuhan.


Maka berdoa saja untuk pasangannya masing-masing supaya tetap setia kepada pasangannya, demikian juga saya sebagai seorang suami tetap setia kepada isteri saya dan sebaliknya. Maka, suami-suami setialah kepada isterinya, demikian sebaliknya. 

Oleh sebab itu, pemuda pemudi perhatikanlah hal ini supaya jika kelak menjadi suami atau isteri tetaplah setia terhadap pasangan hidupmu, karena perceraian tidak menyelesaikan masalah.

Mungkin saja pasangannya selingkuh (terdapat perbuatan tidak senonoh) namun yang Tuhan katakan disini ialah perceraian adalah KEKEJIAN DI HADAPAN TUHAN.


Yesus mengatakan hal itu kepada ahli Taurat dan orang Farisi bukan tanpa alasan melainkan Yesus memilik alasan yaitu Yesus penuh dengan kasih yang sempurna; berkali-kali orang berzinah tetapi Tuhan selalu mengampuni orang yang berbuat zinah termasuk perempuan yang kedapatan berzinah di pagi hari ... Yohanes 8:3.


Yohanes 8:3-6

(8:3) Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. (8:4) Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. (8:5) Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" (8:6) Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.


Selain memberikan surat cerai ternyata perempuan yang kedapatan berbuat zinah sesuai dengan hukum Taurat harus dilempari dengan batu. 


Setelah menyatakan bahwa perempuan yang berbuat zinah itu harus dilempari dengan batu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus: “Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”. Yesus tidak menjawab pertanyaan tersebut, melainkan Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.


Yohanes 8:7-8

(8:7) Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (8:8) Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.


Karena terus menerus bertanya, Yesuspun bangkit berdiri, lalu bertanya: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." 

Setelah mengatakan itu Yesus membungkuk untuk kedua kalinya dan menulis kembali dengan ujung jari-Nya di tanah.


Yohanes 8:9

(8:9) Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.


Dari sini kita dapat melihat bahwa hukum Taurat digenapi oleh kasih yang sempurna. Fungsi kasih yang sempurna adalah menutupi banyak sekali dosa seperti Yesus mengampuni dosa dari pada perempuan yang kedapatan berzinah di pagi hari.


Bukti bahwa Yesus telah menunjukkan kasih yang sempurna kepada perempuan itu ialah; Yesus  membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah. Sesudah itu Ia bangkit lalu membungkuk dan menulis lagi, hal itu berbicara soal pengalaman kematian dan kebangkitan 🡪 Kasih kepada TUHAN dan kasih kepada sesama. 

Kiranya kasih Tuhan lewat pengalaman kematian dan kebangkitan-Nya tertulis di hati kita, kiranya kasih itu tergores di hati kita, sebab kegunaan dari kasih adalah untuk menutupi banyak sekali dosa (mengampuni dosa), sebagaimana yang tertulis di dalam … 1 Petrus 4:8.


Kasih itu yang mengampuni dosa seseorang, sedangkan orang yang berbuat zinah menurut hukum Taurat harus dilempari dengan batu, hal itu tidak menyelesaikan masalah, tidak menolong orang berdosa, tidak menyelamatkan orang berdosa tetapi justru membinasakan orang berdosa. Padahal dalam kitab Yehezkiel 33:11 dikatakan: “... Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik.”

Perceraian dan hukum Musa yang memerintahkan untuk memberikan surat cerai itu tidak menyelesaikan masalah, justru menambah masalah. Sebab perceraian tidak menyelamatkan/menolong melainkan membinasakan. Itu sebabnya, perceraian merupakan kekejian di hadapan Tuhan.


Yohanes 8:10

(8:10) Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" (8:11) Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."


Ketika kedapatan berbuat zinah, semestinya tidak hanya perempuan itu yang dibawa ke penghukuman massal namun laki-laki itu juga harus dibawa, namun kenapa laki-laki itu tidak dibawa ke pengadilan ? 

Dibalik cerita itu, Tuhan ingin menampilkan pribadi-Nya sebagai suami yang sejati, Yesus sebagai Mempelai Laki-Laki yang penuh dengan kasih dan mengampuni dosa, yang telah menggenapi hukum Taurat. Pendeknya, laki-laki atau seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya apapun alasanya. 


Menurut hukum Taurat, Musa memerintahkan laki-laki memberikan surat cerai apabila ia menceraikan isterinya, kemudian juga menurut hukum Taurat apabila seorang perempuan kedapatan berbuat zinah harus dirajam/dilempari batu sampai mati, namun hal itu tidak dapat menyelesaikan masalah. Akan tetapi Yesus adalah Mempelai Laki-Laki yang sempurna, Dia Kepala, Dia Suami yang sempurna yang mengampuni kesalahan kita sebagai sidang mempelai Tuhan.


Dalam kasih Tuhan berkata kepada perempuan itu: “Pergilah” artinya: Jangan diam ditempat dosa berada yaitu dosa perzinahan. Kemudian, Yesus kembali berkata: “Jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” artinya: Jangan kembali mengulangi dosa yang sama yang pernah diperbuat, dengan demikian menjadi orang yang merdeka di dalam TUHAN. 


Kalau kita bandingkan Ulangan 24:1-4 dengan Yohanes 8:6-11, sungguh berbanding terbalik:

  • Ahli Taurat dan orang Farisi berpegang kepada hukum Taurat dan akhirnya perbuatan mereka keji.

  • Sedangkan Yesus mengampuni dosa karena Dia penuh cinta kasih, Dia Mempelai Laki-Laki yang mampu menerima kekurangan gereja Tuhan, sidang mempelai-Nya, karena tidak ada satupun manusia yang sempurna mulai dari zaman Adam sampai detik ini. Namun Yesus mengerti keadaan kita masing-masing.

 

Terkait dengan “PERBUATAN KEJI.”

Ulangan 24:4

(24:4) maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN. Janganlah engkau mendatangkan dosa atas negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.


Menceraikan isteri adalah perbuatan keji di hadapan Tuhan.


ANTIKRIS juga disebut dengan pembinasa keji, tertulis di dalam Daniel 9:27.


Daniel 9:27

(9:27) Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu."


Antikris disebut juga sebagai pembinasa keji.

Praktek kekejian yang membinasakan ialah menghentikan korban sehari-hari yaitu; “korban sembelihan dan korban santapan.


Daniel 11:31

(11:31) Tentaranya akan muncul, mereka akan menajiskan tempat kudus, benteng itu, menghapuskan korban sehari-hari dan menegakkan kekejian yang membinasakan.


Antikris disebut pembinasa keji karena mereka menghentikan korban sehari-hari itulah korban sembelihan dan korban santapan.

  • Korban sembelihan -> Ibadah pelayanan disertai sangkal diri dan pikul salib sampai berdarah-darah. Jadi, ibadah itu harus sampai berdarah-darah. 

Namun satu kali korban sembelihan akan dihentikan, apabila korban sembelihan dihentikan maka tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat/diampuni dosanya. Jadi, pada saat antikris berkuasa pada 3,5 tahun kedua disitu tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat, darah Yesus sudah tidak berlaku lagi. Namun sampai pada malam hari ini darah Yesus masih berlaku untuk mengampuni dosa kita.

Oleh sebab itu, biarlah kita menghargai korban sembelihan berarti menjalankan ibadah pelayanan disertai sangkal diri pikul salib selama masih ada kesempatan, selagi darah Yesus masih berlaku maka harus kita manfaatkan, marilah kerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar.


  • Korban santapan -> Pengajaran firman Allah yang murni dan benar, disebut juga:

  1. Firman pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel -> Injil Kerajaan.

  2. Firman yang dibukakan rahasianya dalam terang Roh El Kudus disebut juga cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus.


Terkait tentang; cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus.

2 Korintus 4:3

(4:3) Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa,


Kalau ibadah tanpa pembukaan firman maka orang yang beribadah itu pasti akan BINASA. 

Oleh sebab itu, kita harus senantiasa berdoa supaya dalam setiap pertemuan ibadah ada pembukaan rahasia firman.


2 Korintus 4:4

(4:4) yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.


Cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus itulah firman pengajaran yang rahasianya dibukakan dalam terangnya Roh El Kudus, berkuasa membawa kehidupan gereja Tuhan kembali kepada wujud semula, yaitu: segambar dengan Allah.


Jadi, saudara dapat dibayangkan, apabila korban santapan dihapuskan maka yang terjadi adalah manusia tidak dapat bertobat lagi dan manusia tetap dalam kelakuan yang lama yaitu segambar dan serupa dengan setan. Maka, yang suci biarlah tetap suci (menjaga kekudusan), tetapi yang jahat akan tetap berlaku jahat.


Contoh perbuatan keji:

Ulangan 25:13-15

(25:13) "Janganlah ada di dalam pundi-pundimu dua macam batu timbangan, yang besar dan yang kecil. (25:14) Janganlah ada di dalam rumahmu dua macam efa, yang besar dan yang kecil. (25:15) Haruslah ada padamu batu timbangan yang utuh dan tepat; haruslah ada padamu efa yang utuh dan tepat -- supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.


Jangan ada dua batu timbangan di dalam hati kita masing-masing, melainkan biarlah ada batu timbangan yang utuh dan tepat dalam hati kita masing-masing supaya lanjut usia (panjang umur) di tanah yang Tuhan berikan kepada kita.


Ulangan 25:16

(25:16) Sebab setiap orang yang melakukan hal yang demikian, setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu."


  • Batu timbangan yang besar ditujukan kepada yang lahiriah, sedangkan batu timbangan yang kecil ditujukan kepada yang rohani.

  • Kemudian, efa yang besar ditujukan kepada yang lahiriah, efa yang kecil ditujukan kepada yang rohani.

Keduanya adalah PERBUATAN KEJI/kekejian bagi TUHAN.


Jadi, sekalipun kita mungkin tidak berbuat jahat kepada orang lain, tidak menyakiti perasaan orang lain, namun apabila ada dua macam batu timbangan dan ada dua macam efa di hati ini, itu adalah KEJI di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu, Alkitab berkata: Perbuatan baik/amal sholeh tidak menyelamatkan, yang menyelamatkan ialah SALIB.


Contoh perbuatan keji: Menaikkan doa tetapi tidak mau mendengarkan firman Tuhan adalah kekejian ... Amsal 28:9.

Berdoa tidaklah salah namun harus terlebih dahulu mendengarkan firman supaya terjadi hubungan timbal balik. Kalau kita mau Tuhan mendengarkan perkataan kita yang terucap dari mulut lewat doa, maka terlebih dahulu kita harus mendengarkan ucapan dari mulut Allah lewat firman Allah yang kita terima, sehingga ada hubungan timbal balik. Jika tidak ada hubungan timbal balik maka disebutlah itu perbuatan keji.


AKIBAT PERBUATAN KEJI.

Ulangan 24:4

(24:4) maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN. Janganlah engkau mendatangkan dosa atas negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.


Akibat perbuatan keji karena menceraikan isterinya adalah berdosa terhadap kerajaan Sorga = Tidak layak masuk Sorga.


Berdoalah apabila kita melihat diantara saudara-saudara kita terjadi hal yang demikian yaitu; menceraikan isterinya atau suaminya, lalu kawin lagi dengan perempuan/laki-laki lain, sebab orang semacam ini tidak pantas masuk Sorga. Namun fenomena yang terjadi sekarang ini banyak hamba Tuhan sebagai seorang suami menikah lagi sekalipun isterinya masih hidup.


Matius 23:11-12

(23:11) Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. (23:12) Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.


Orang yang berlaku keji tidak pantas masuk Sorga, sebaliknya dia pantas ditempatkan di tempat yang paling rendah itulah API NERAKA (alam berzah/alam maut/alam setan).


Matius 19:8

(19:8) Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.


Karena ketegaran hati, Musa mengizinkan memberikan surat cerai, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Sebab laki-laki dan perempuan sudah menjadi satu daging, kemudian apa yang dipersatukan manusia tidak boleh diceraikan manusia dan oleh apapun.


Tanggung jawab dari Yesus memang tidak ringan, Dia ingin menampilkan diri-Nya sebagai Mempelai Laki-Laki (Suami) yang mampu menerima kekurangan isteri-Nya bagaimanapun bentuknya. Oleh sebab itu kepada Adam diperintahkan untuk cepat tidur/mati.


Matius 19:9

(19:9) Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."


Dari ayat ini dapat kita simpulkan bahwa TUHAN betul-betul menolak adanya perceraian apapun alasannya.


Kita mendapat suatu perhatian dari Tuhan yang mengajar kita sehingga kita memperoleh pengertian yang suci dan mulia supaya kita mengikuti contoh teladan-Nya, betapa hebatnya kasih-Nya membebat hati kita, Dia menerima kekurangan-kekurangan kita, Dia menerima keberadaan kita apa adanya seperti yang tertulis dalam Yohanes 8:11. 

Dalam Yohanes 8:11 terdapat kisah perempuan yang kedapatan berzinah, namun Yesus mengampuni sebagai Mempelai Laki-Laki, sebagai Suami, sebagai Kepala yang mampu menerima kekurangan dengan kasih yang sempurna. Karena hukum Taurat/perceraian tidak dapat menyelesaikan masalah.


Kita bersyukur sebab tidak rugi bagi kita datang mengharap Dia, seperti perempuan yang kedapatan berbuat zinah, untung saja dia diperhadapkan kepada Yesus, kalau dia tidak dibawa menghadap Yesus maka dia binasa. Demikian apabila kita tidak datang menghadap Yesus dalam setiap pertemuan ibadah maka binasalah kita kelak. 


Bukankah kita sudah berzinah di hadapan Tuhan? Mungkin secara fisik tidak berzinah tetapi kita banyak berzinah secara rohani di hadapan Tuhan, kita hidup dalam kenajisan rohani di hadapan Tuhan, namun malam ini kita dibawa ke hadapan Tuhan karena Tuhan yang akan menolong kita, Tuhan mengampuni kita dan mengangkat harkat dan martabat kita kembali, sebab selama ini kita sudah malu karena kesalah kita dan karena kenajisan percabulan kita selama ini. Apa yang dahulu hilang Tuhan mau kembalikan lagi supaya kita memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam setiap kali kita menghadap Tuhan (ibadah dan pelayanan). 

Kalau dalam hal lahiriah kita memiliki selera tinggi maka dalam hal rohani kita memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk menghadap Dia disertai dengan kerendahan di hati dan ketulusan hati.


JALAN KELUAR.

Matius 19:5

(19:5) Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging


Laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah hal itu telah dikerjakan dan digenapi Tuhan Yesus Kristus 2000 tahun yang lalu di atas kayu salib, sebagaimana yang tertulis di dalam ... Filipi 2:5-8.


Filipi 2:5-8

(2:5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, (2:6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (2:7) melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (2:8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.


Yesus telah melepaskan reputasi-Nya, (melepaskan kemuliaan-Nya) kemudian turun ke bumi dan menjadi manusia supaya Dia menderita sengsara dan mati di atas kayu salib, taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib. Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah laki-laki yang setia, Dia setia kepada saya dan saudara.


Ibrani 2:14

(2:14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; 


Iblis setan menghendaki perceraian, berpisah dari Tuhan. Namun, Yesus, Mempelai Laki-Laki setia, turut merasakan apa yang dirasakan calon mempelai perempuan-Nya.


Ibrani 2:15

(2:15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.


Yesus harus menjadi manusia dan merasakan apa yang kita rasakan, mati di atas kayu salib, sehingga dengan demikian Dia memusnahkan pekerjaan Setan yaitu perceraian.


Matius 20:28

(20:28) sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."


Anak Manusia datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk:

  1. Melayani.

Hasil pelayanan yang kita terima dari Tuhan ialah satu dengan yang lain saling merendahkan diri, supaya tidak terjadi  perceraian.

  1. Memberikan nyawa-Nya;

  1. Untuk menebus kita.

  2. Memperdamaikan kita kepada Bapa.

Ini adalah tugas laki-laki saat dia meninggalkan ayah dan ibunya.


Jika isteri salah dan diceraikan maka masalah tidak terselesaikan, perempuan itu tidak tertolong dan laki-laki itupun tidak pantas masuk dalam Kerajaan Sorga. Jadi, perceraian merugikan dua belah pihak.

Betapa mulianya Tuhan, Dia turut merasakan apa yang kita rasakan.


Malam ini kita dibawa kembali kepada Dia, diperdamaikan kepada Dia, oleh korban yang dibawa oleh Mempelai Laki-Laki, bahkan oleh korban-Nya kita dibawa segambar serupa dengan Dia, tanpa cacat cela atau kerut atau yang serupa itu, berarti bercahaya kemuliaan Allah. Ini adalah tugas laki-laki.

Dahulu saya sering menyakiti perasaan isteri saya, namun puji Tuhan, seiring waktu berjalan oleh ketajaman dari firman Tuhan mengoreksi saya, menyelidiki hati saya, menyucikan saya dari tabiat yang lama supaya saya menjadi seorang laki-laki (suami) yang baik dan benar, memperhatikan kehidupan seorang isteri dan pantas masuk Sorga.

Maka, apapun alasannya laki-laki tidak boleh menceraikan isterinya.


Saya dipercayakan oleh Tuhan menjadi suami untuk menolong isteri saya, sebab Alkitab berkata bahwa perempuan itu lemah, dari sejak taman Eden perempuan itu lemah. Saya dikirim Tuhan sebagai laki-laki atau suami dan sebagai Kepala untuk menyelamatkan tubuh.

Saya diutus oleh Tuhan menjadi Kepala, pemimpin rohani untuk menolong kehidupan sidang jemaat.

Betapa mulianya hati Tuhan, Dia pantas menjadi Mempelai Laki-Laki Sorga, Dia pantas menjadi suami.


Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN. ... Hosea 2:18-19.



Perceraian tidak menyelesaikan masalah. Ingatlah akan ayat ini. Amin.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI


Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang