KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Thursday, February 5, 2026

IBADAH RAYA MINGGU, 25 JANUARI 2026

 


IBADAH RAYA MINGGU, 25 JANUARI 2026

 

WAHYU 19:12

(SERI 6)

 

Subtema: NAMA BARU PADA BATU PUTIH

 

Mula pertama saya ucapkan puji syukur kepada Tuhan, yang oleh karena rahmat-Nya kita sekalian dihimpunkan di atas gunung Tuhan yang kudus. Kita boleh datang kepada Dia lewat Ibadah Raya Minggu yang disertai dengan kesaksian Roh.

 

Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan Tuhan, bahkan hamba-hamba TUHAN yang turut bergabung secara lewat online / live streaming / video internet baik dari Youtube, maupun Facebook atau media sosial lainnya yang dapat digunakan atau diakses.

 

Selanjutnya, marilah kita sambut KITAB WAHYU sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu. Namun tetaplah berdoa dalam Roh, mohon kepada Tuhan supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi.

 

Saudara, kita masih berada pada Wahyu 19:11-16 dengan perikop “Firman Allah”.

Bagian-bagian dari ayat ini telah diterangkan beberapa minggu berturut-turut. Mulai dari ayat 11 dan 12 secara khusus. Akan tetapi, Wahyu 19:11-16 berbicara tentang kegerakan kuda putih. Namun di dalam ayat 11-13 kita melihat ada nama yang berbeda yang disematkan kepada Si Penunggang kuda putih.

-          Pada ayat 11, Si penunggang kuda putih itu bernama YANG SETIA DAN YANG BENAR → Ia adalah KASIH dan sangat mengasihi kita sekaliannya.

-          Pada ayat 13, namanya ialah FIRMAN ALLAH.

Perlu untuk diketahui: Kalau ada KASIH ALLAH dan ada FIRMAN ALLAH, berarti di situ juga ada ROH ALLAH YANG SUCI, karena ketiganya itu merupakan tabiat dari Allah Trinitas.

-          Itu sebabnya pada ayat 12 dikatakan; padanya ada suatu NAMA YANG TIDAK DIKETAHUI SEORANGPUN, kecuali Ia sendiri.

 

Singkat kata, yang terpenting bagi kita di akhir zaman ini adalah supaya kita penuh dengan Roh Kudus. Dan memberikan diri dipimpin / dikontrol / dikendalikan oleh Roh Kudus dengan sepenuhnya, sehingga nama yang baru diberikan (dinyatakan) oleh Roh Kudus kepada kita pribadi lepas pribadi.

 

Mari kita lihat suatu gambaran yang real / nyata tentang “NAMA YANG BARU”.

 

Wahyu 2:17 — Perikop: “Kepada jemaat di Pergamus”

(2:17) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya."

 

Kepada jemaat di Pergamus Tuhan menjanjikan batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya.

 

Mengapa Allah menjanjikan “nama baru” kepada jemaat di Pergamus?

 

Untuk menemukan jawabannya, terlebih dahulu kita membaca …

Wahyu 2:12-13

(12:12) Karena itu bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut!  karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat." (2:13) Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam.

 

Jemaat di Pergamus disebut: "diam di tempat takhta iblis", berarti berada di tengah-tengah suasana kefasikan, kemunafikan dan kejahatan-kejahatan dunia ini. Kemudian, jemaat di Pergamus juga menghadapi ancaman maut. Sebab dikatakan: “saksi Tuhan yang setia dibunuh dihadapan mata mereka sendiri”. Namun jemaat Pergamus ...

-          Tetap berpegang pada nama Tuhan yang ajaib

-          Tidak menyangkal imannya kepada Tuhan, berarti; iman mereka tetap teguh, tidak gugur meskipun tinggal di tengah-tengah takhta Iblis.

 

Singkat kata, kondisi jemaat di Pergamus cukup luar biasa. Akan tetapi, iblis tidak tinggal diam, ia berusaha menjatuhkan dan merobohkan bangunan rohani jemaat di Pergamus dengan ajaran sesat yaitu; dengan AJARAN BILEAM dan AJARAN NIKOLAUS

 

Tuhan tahu persis keadaan mereka itu, sebab ...

-      Pada Wahyu 2:14 dikatakan ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam

-      Pada Wahyu 2:15 dikatakan ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus.

Mari kita memeriksa kedua ajaran sesat ini.

 

Tentang: AJARAN BILEAM

Bileam memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah (Wahyu 2:14).

 

Mari kita lihat peristiwa itu ditulis di dalam …

Bilangan 25:1-2 --- Perikop: "Israel menyembah Baal-Peor"

(25:1) Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab. (25:2) Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu.

 

Di sini kita melihat, Bangsa Israel berzinah dengan perempuan-perempuan Moab dan menyembah berhala orang Moab yaitu; Baal Peor. Intinya; ajaran Bileam adalah ajaran sesat, yang juga disertai dengan penyembahan berhala dan diikuti dengan persundalan.

 

Singkat kata, dalam penyembahan berhala, di situ ada roh zinah / roh najis / persundalan. Dan roh ini tidak memandang apakah dia orang kaya, miskin, cantik, jelek, tua, muda bahkan melanda semua kalangan dari lapisan masyarakat. Oleh sebab itu, kita harus waspada terutama dalam nikah kita. Maka, jangan ada orang menikah tetapi tanpa Tuhan, sebab Dia adalah Kepala atas tubuh dan Gembala yang menggembalakan semua nikah-nikah di bumi ini. Kalau kita tidak hati-hati dengan penuh kewaspadaan, bisa saja diterkam oleh roh najis, sebab ajaran Bileam ini sudah masuk dalam rumah-rumah Tuhan.

 

Pertanyaan: Mengapa Bileam memberi nasihat kepada Balak?

 

2 Petrus 2:15

(2:15) Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.

 

Di sini kita melihat, Bileam memberi nasihat kepada Balak, raja Moab. Supaya pada akhirnya bangsa Israel jatuh dalam penyembahan berhala. Saudara, di dalam penyembahan berhala terdapat roh zinah, roh najis / roh persundalan.

Kenapa Bileam memberi nasihat semacam ini kepada Balak? Sebab ia suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.

 

Sedikit kesaksian:

Banyak orang datang kepada saya, mereka minta pelayanan pemberkatan nikah, tetapi saya menolak. Banyak sekali yang sudah terlanjur hamil datang memohon dan akan memberikan upah yang besar. Saya bisa saja melakukan itu untuk upah kejahatan, tetapi semua saya tolak mentah-mentah. Saya bisa melayani mereka, tetapi dengan satu syarat; kalau sudah diberkati, nikah harus digembalakan, baru saya akan menerimanya. Kalau tidak demikian, saya tidak mau. Karena nanti, Tuhan menuntut nikah mereka kepada saya, karena saya yang mengerjakan pemberkatan nikah tersebut. Untuk upah semacam ini saya tidak mau terima, sampai hari ini, kecuali ia mau digembalakan dalam kandang penggembalaan GPT Betania. Kalau karena upah, biar 1 Miliar, bahkan 1 Triliun pun, saya tidak akan terima. Ini bukan mau sombong-sombong, tetapi suatu fakta yang sudah saya buktikan dihadapan Tuhan. Saya tidak mau terima upah kejahatan seperti itu.

 

Saudara, pada Bilangan 22:21-41; Bileam menunggangi keledainya ke perkemahan Israel.

Tujuannya; mengutuki / menyerapah bangsa Israel yang sedang berkemah. Ia melakukan itu demi upah yang sudah ia terima dari Balak lewat utusan pertama dan kedua.

 

Berbanding terbalik dengan Tuhan kita Yesus Kristus, Ia Raja segala raja, Ia menunggangi keledai betina untuk dibawa masuk ke kota Yerusalem Baru. Lalu, Ia dipermuliakan dan keledai yang ditunggangi-Nya pun turut dipermuliakan. Kemudian, adapun keledai tersebut belum pernah ditunggangi oleh siapapun. Keledai -> bangsa Kafir.

 

Setelah kita mengenal Tuhan secara pribadi dan akhirnya ditunggangi oleh Tuhan, tujuannya; dibawa masuk ke kota Yerusalem. Kita tidak rugi ditunggangi Tuhan. Sekecil apapun yang bisa kita kerjakan; kerjakanlah sedapat mungkin. Tidak rugi kita ditunggangi Tuhan, supaya nanti, apabila ia dipermuliakan di kota Yerusalem, maka kita pun turut dipermuliakan seperti keledai itu,

 

Singkat kata, di hari-hari terakhir ini gereja Tuhan menjadi “rebutan” untuk ditunggangi oleh ajaran sesat dengan kekuatan Mamon dan iming-iming yang menggiurkan. Padahal semua itu arahnya kepada kebinasaan (maut). Tetapi, kalau Tuhan yang menunggangi kita, muaranya adalah Yerusalem baru.

 

Mengapa Balak meminta supaya Bileam mengutuk / menyerapah bangsa Israel?

Sebetulnya, Balak dan bangsa Moab sedang ketakutan terhadap bangsa Israel. Dan Balak tahu bahwasanya; siapa yang diberkati oleh Bileam maka diberkatilah dia. Demikian juga sebaliknya; siapa yang dikutuk Bileam, maka terkutuklah ia (Bilangan 22:6). Itu sebabnya, Balak memberi upah kepada Bileam, supaya ia mau mengutuki / menyerapah bangsa Israel. Singkat kata, Balak raja Moab, termasuk orang-orang Moab itu sendiri muak, terhadap bangsa Israel, juga mengalami ketakutan yang begitu hebat.

 

Kita lihat hal itu…

Bilangan 22:1-4

(22:1) Kemudian berangkatlah orang Israel, dan berkemah di dataran Moab, di daerah seberang sungai Yordan dekat Yerikho. (22:2) Balak bin Zipor melihat segala yang dilakukan Israel kepada orang Amori. (22:3) Maka sangat gentarlah orang Moab terhadap bangsa itu, karena jumlahnya banyak, lalu muak dan takutlah orang Moab karena orang Israel. (22:4) Lalu berkatalah orang Moab kepada para tua-tua Midian: "Tentu saja laskar besar itu akan membabat habis segala sesuatu yang di sekeliling kita, seperti lembu membabat habis tumbuh-tumbuhan hijau di padang." Adapun pada waktu itu Balak bin Zipor menjadi raja Moab.

 

Saudara, bangsa Israel dalam Keluaran 19:4-5 adalah…

-      Bangsa yang didukung oleh Tuhan

-      Harta kesayangan Tuhan sendiri, milik kepunyaan Allah sendiri.

-      Mereka adalah imam-imam dan raja-raja / hamba Tuhan.

Jadi wajar saja, kalau bangsa Israel digambarkan seperti lembu yang membabat habis tumbuh-tumbuhan yang hijau (bukan tumbuh-tumbuhan yang berbiji) di padang,

 

Tumbuhan hijau tersedia hanya untuk binatang. Sedangkan tumbuh-tumbuhan yang berbiji, dari semula adalah makanan bagi Adam dan Hawa (Kejadian 1:29-30). Tumbuhan yang berbiji, kalau sudah mati bisa menjadi “benih” yang akhirnya jatuh ke tanah, mati, kemudian tumbuh dan berbuah. Sedangkan tumbuh-tumbuhan hijau begitu selesai masanya, ia akan layu; tidak ada proses ulang berulang untuk kehidupan yang baru (kelangsungan hidup).

 

Demikianlah bangsa Israel akan membabat habis bangsa Moab. Bangsa Moab digambarkan seperti tumbuh-tumbuhan hijau di padang, yang tidak akan mengalami hidup yang baru. Tidak ada suasana kebangkitan untuk bangsa Moab. Bangsa Moab mengalami ketakutan yang hebat terhadap bangsa Israel, mereka sangat muak terhadap bangsa Israel.

 

Pendeknya, kehidupan yang tidak menyatu dengan pengalaman kematian dan kebangkitan, tidak akan suka melihat hamba Tuhan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan, seperti bangsa Moab;

-      Anti kepada hamba Tuhan yang didukung oleh Tuhan.

-      Dia tidak akan suka kepada hamba Tuhan yang betul-betul menjadi milik kepunyaan Allah sendiri (Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel).

-      Dia anti kepada imamat rajani (pelayanan dengan sistem kerajaan Sorga). Persis seperti orang Moab anti kepada bangsa Israel.

Itulah alasan Balak raja Moab mengupah Bileam, supaya Bileam mau mengutuk / menyerapah bangsa Israel. Karena Balak tahu siapa yang dikutuk Bileam, maka terkutuklah ia dan sebaliknya, siapa yang diberkati Bileam; diberkatilah dia.

 

Maka saudara, dalam Bilangan 22:36 sampai Bilangan pasal 23, Bileam datang kepada Balak untuk mengutuk bangsa Israel, tetapi; di situ kutuk berubah menjadi berkat. Kutuk tidak akan pernah berlaku kepada bangsa Israel, terkait dengan Keluaran 19:4-6. Bangsa Israel adalah bangsa yang diberkati oleh Tuhan (Bilangan 22:12).

Persamaannya dalam kehidupan kita sehari-hari, di tengah pengikutan kita kepada Tuhan adalah orang yang tidak mau masuk dalam pengalaman kematian dan kebangkitan, tidak suka dengan…

-          Hamba Tuhan yang didukung oleh Firman Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel.

-          Tidak suka melihat hamba Tuhan yang memiliki Firman Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel.

-          Tidak suka melihat hamba Tuhan yang melayani dengan sistem kerajaan Sorga di bumi.

-          Dia suka melihat hamba Tuhan yang bicara soal perkara di bawah / di bumi, yang lucu-lucu. Kalau bisa, dari awal sampai akhir ibadah melawak terus.

 

Tetapi doa saya, kiranya keluarga Allah sidang jemaat GPT Betania Serang & Cilegon, mencintai gembala sidang / pemimpin jemaat yang…

-      Didukung oleh Tuhan.

-      Menjadi milik kepunyaan Allah karena Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel.

-      Melayani dengan sistem Kerajaan Sorga.

Itu doa saya dan kiranya sampai ke hadirat Tuhan.

 

Sekarang kita akan membahas….

Tentang: AJARAN NIKOLAUS

Wahyu 2:15

(2:15) Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus.

 

Ajaran Nikolaus menitikberatkan pada jumlah jiwa.

Artinya; berusaha mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya tetapi tidak mempedulikan kualitas rohani dari sidang jemaat. Pendeknya, peduli kuantitas tetapi mengabaikan kualitas rohani.

 

Saudara, jiwa yang terhimpun dalam rumah Tuhan dengan jumlah yang banyak tidak salah. Karena memang, jiwa-jiwa harus direbut dari tangan musuh yang membinasakan, sama seperti puntung yang ditarik dari api. Akan tetapi, apalah arti jumlah jiwa yang banyak, bila kualitas rohani diabaikan? Hal itu tidak berarti di hadapan Tuhan. Ini harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

 

Ajaran Nikolaus sedang marak di hari-hari terakhir ini dan hal itu tidak disadari oleh jiwa-jiwa yang sudah terhimpun di dalamnya. Tetapi, bagi kita, pengertian ini hendaklah mendarah daging, sehingga kita tidak disesatkan dengan ajaran Bileam dan ajaran Nikolaus.

 

Saya berpikir seperti ini; ajaran Nikolaus sama seperti Santa Claus yang suka memberi dan membagikan berkat untuk mengumpulkan massa. Memang tidak tertulis dalam Alkitab, tetapi hal itu tersirat di hati saya. Ini harus diperhatikan sungguh-sungguh.

 

INGAT!!! Kepada seorang utusan, kepadanya dipercayakan:

1.       Pelayanan pendamaian

2.       Berita pendamaian

(Ayat referensi: 2 Korintus 5:18-19)

Berarti, supaya manusia berdamai dengan Allah, maka yang menjadi pengantaranya adalah utusan-utusan Tuhan. Jadi, seorang utusan harus rela menjadi korban pendamaian dan korban penebusan. Itu namanya pengantara.

 

Pengantara dari Sorga ke bumi adalah Imam Besar Agung. Dia harus menjadi korban supaya manusia berdosa berdamai dengan Allah. Semestinya, inilah yang harus dipikirkan oleh seorang hamba Tuhan / utusan Tuhan. Hamba Tuhan tidak boleh berfokus kepada ajaran Nikolaus yang menitikberatkan kepada jumlah jiwa / mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya, tetapi mengabaikan kualitas rohani dari sidang jemaat. Ini suatu kekeliruan, tetapi hal itu sengaja dilanggar. Mungkin, hal itu dilakukan untuk popularitas (ketenaran), upah dan seterusnya.

 

Mari kita bandingkan dengan rasul Paulus di tengah ibadah dan pelayanannya kepada Tuhan, yang menitikberatkan kualitas rohani daripada hanya sekedar mengumpulkan massa.

 

Kita lihat buktinya dalam…

2 Korintus 11:1

(11:1) Alangkah baiknya, jika kamu sabar terhadap kebodohanku yang kecil itu. Memang kamu sabar terhadap aku!

 

Saudara, tidak dijelaskan secara detail kebodohan Paulus; apakah itu masa lalunya? Bisa jadi. Atau apakah karena dia tidak menikah? Bisa jadi. Dan masih ada lagi kemungkinan-kemungkinan lainnya. Akan tetapi, terlepas dari kekurangan itu, sebagai kebodohan, rasul Paulus berkata kepada jemaat di Korintus; Alangkah baiknya, jika kamu sabar terhadap kebodohanku yang kecil itu. Dia harus mengatakan hal ini supaya jemaat Korintus, jangan fokus pada kesalahan yang kecil itu, melainkan fokus pada satu ajaran yang dirindukan oleh Tuhan, supaya nampak kualitas rohani.

 

2 Korintus 11:2

(11:2) Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.

 

Rasul Paulus berusaha membawa jemaat di Korintus sebagai perawan suci kepada Kristus (Dialah Kepala Gereja dan Mempelai Pria Sorga). Jadi, pelayanan rasul Paulus menitikberatkan kualitas rohani.

Menjadi perawan suci adalah kualitas rohani yang sangat dinantikan oleh Tuhan. Karena, dengan kualitas rohani semacam ini, seseorang layak datang kepada Tuhan dan layak masuk dalam pesta nikah Anak Domba. Dan itu merupakan sasaran akhir dari perjalanan rohani kita di atas muka bumi ini.

 

Jadi, pelayanan Paulus berbanding terbalik dengan ajaran Nikolaus.

-      Nikolaus menitikberatkan jumlah jiwa; kumpulkan massa sebanyak-banyaknya.

-      Tetapi rasul Paulus membawa sidang jemaat di Korintus, termasuk jemaat-jemaat di Asia kecil, sebagai perawan suci kepada Kristus.

Sebetulnya, jemaat-jemaat di Asia kecil, sebelum mengenal Allah; hidup dalam penyembahan berhala. Di dalam penyembahan berhala terdapat roh najis / persundalan. Tetapi lihatlah, Pengajaran Mempelai dan Pengajaran Tabernakel sangat berkuasa membawa gereja Tuhan kepada Kristus sebagai perawan suci.

Serusak-rusaknya jemaat di Asia kecil, termasuk jemaat di Korintus, bisa dikembalikan menjadi perawan suci. Satu-satunya yang bisa menjadikan seseorang perawan suci hanyalah Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel, tidak ada yang lain. Tidak ada ajaran yang bisa mengembalikan kesucian yang rusak, menjadi perawan suci kecuali; Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel, Alkitab yang mengatakannya.

 

Di atas tadi saya sudah sampaikan, sasaran akhir dari perjalanan rohani kita di atas muka bumi ini adalah pesta kawin Anak Domba (Wahyu 19:6-9). Menjadi perawan suci berarti menjadi mempelai wanita Tuhan. Tetapi ada “wujud” dari mempelai Tuhan di tengah-tengah pengikutan kita kepada Tuhan.

 

Mari kita lihat itu…

Wahyu 14:1 -- Perikop: “Anak Domba dan pengikut-Nya yang ditebus-Nya”

(14:1) Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.

 

Dalam Wahyu 19:11-16, di situ diceritakan tentang kegerakan kuda putih. Tetapi pada ayat 11-13, kepada Si Penunggang kuda putih disematkan suatu nama yang berbeda.

-      Ayat 11, Si Penunggang kuda putih bernama Yang Setia dan Yang Benar 🡪 Ia adalah KASIH.

-      Ayat 13, Si Penunggang kuda putih nama-Nya ialah FIRMAN ALLAH.

 

Kita sudah melihat pribadi yang adalah kasih, pribadi yang adalah Firman Allah. Maka tentu ada yang namanya pribadi Roh Allah yang suci. Itu sebabnya pada ayat 12 dikatakan; pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri. Sedangkan pada Wahyu 2:17, kepada jemaat di Pergamus Tuhan berjanji akan mengaruniakan batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya. Inilah yang sedang kita bahas, semoga saudara bisa mengikuti.

 

Kemudian, inti dari Wahyu 14:1 Anak Domba berdiri di bukit Sion bersama dengan 144.000 orang.

1440.000 orang -> inti mempelai wanita Tuhan. Kemudian, di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.

Inilah yang menjadi kerinduan kita, sebagaimana Tuhan berjanji kepada jemaat di Pergamus; mengaruniakan batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru yang tidak diketahui oleh siapapun, kecuali oleh yang menerimanya. Betapa Tuhan mengasihi jemaat di Pergamus. Tuhan juga sangat mencintai jemaat GPT BETANIA Serang & Cilegon, supaya janji yang sama juga dinyatakan kepada kita yaitu; mengaruniakan batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru yang tidak diketahui oleh siapapun, selain kita yang akan menerimanya kekal.

 

Jadi saudara, ibadah ini mengandung janji baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang. Saudara jangan berpikir, ibadah yang terselenggara di bumi ini sama; tidak. Saya berani mengatakan itu.

 

Wahyu 14:2

(14:2) Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya.

 

Bunyi guruh yang keluar dari mulut singa Yehuda seperti deru guruh yang dahsyat, membawa jemaat sampai kepada doa penyembahan seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya.

 

Wahyu 14:3

(14:3) Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu.

 

Nyanyian baru berbicara soal bahasa lidah (bahasa Roh).

Dulu nyanyiannya; jorok dan bersifat daging. Tetapi sekarang ada nyanyian baru keluar dari mulut, itu namanya bahasa lidah / bahasa Roh. Tidak ada seorangpun dapat mempelajarinya, selain dia yang melangsungkan hubungan intim dengan Tuhan lewat doa penyembahan.

 

Saudara, “kepada mereka disematkan nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya”. Siapa yang menerimanya? Itulah mempelai Tuhan, mereka hidup dalam doa penyembahan disertai dengan bahasa lidah.

Betapa dahsyatnya pengertian yang datang dari Sorga ini, karena Tuhan adalah singa dari suku Yehuda. Bilamana Ia mengaum, maka aumannya itu bagaikan deru guruh yang dahsyat (Amos 3:8).

Firman Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel memimpin kita sampai kepada doa penyembahan. Di tengah penyembahan ada nyanyian baru, tidak ada yang dapat mempelajarinya, itulah bahasa lidah. Kepada mereka itulah dituliskan nama-Nya dan nama Bapa-Nya.

 

Kiranya nama-Nya dan nama Bapa-Nya tertulis dalam diri kita. Maka, jangan lepaskan Pengajaran Mempelai dan Pengajaran Tabernakel hanya karena perkara daging atau perkara lahiriah. Seperti apapun sakitnya dagingmu mengikuti Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel, bertahan saja, karena ini sesaat saja, tetapi upahnya selamanya; bahagia bersama dengan Dia di dalam kerajaan Sorga.

 

Praktek ajaran Nikolaus di dalam mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya:

-      Satu ayat Firman ditambahkan dengan cerita-cerita isapan jempol, dongeng-dongen nenek tua, takhayul-takhayul, filsafat-filsafat kosong manusia, disebutlah itu dengan FIRMAN YANG DITAMBAHKAN. Kemudian, ditambah lagi dengan guyon-guyon (lelucon) dari seorang hamba Tuhan yang menyampaikan Firman Tuhan.

Kalau hal ini diterapkan dalam rumah Tuhan, orang-orang berduyun-duyun mengikutinya. Tetapi, satu kali nanti, orang akan mencari Pengajaran Mempelai (Yesaya 2:2-3).

-      Berita salib ditiadakan, kemudian sibuk hanya mengadakan mujizat-mujizat, tanda-tanda heran disebutlah itu FIRMAN YANG DIKURANGKAN (Matius 7:21-23, 2 Tesalonika 2:8-10)

 

Masih banyak lagi cara-cara Nikolaus di dalam mengumpulkan masa sebanyak-banyaknya.

 

Supaya lepas dari 2 (dua) ajaran ini, mari kita lihat…

JALAN KELUAR

Wahyu 2:16

(2:16) Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini.

 

Langkah pertama: bertobat, artinya: berhenti berbuat dosa lalu kembali kepada Allah.

Kalau hanya berhenti berbuat dosa = bertobat 50%. 50% nya lagi adalah kembali kepada Allah.

Misalnya; orang berhenti merokok, tetapi tidak cukup hanya berhenti, harus kembali kepada Allah. Itu namanya bertobat 100%.

 

Langkah kedua: Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini.

Terkait dengan “pedang yang di mulut-Ku”, mari kita perhatikan…

Wahyu 2:12

(2:12) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua:

 

Jemaat di Pergamus dikoreksi oleh pedang tajam bermata dua.

Pedang bermata dua -> Pengajaran Mempelai dan Pengajaran Tabernakel

Pedang bermata dua, berarti; pada kedua sisinya tajam.

 

-      Kuasa Pengajaran Mempelai: hidup anak-anak Tuhan DIKRISTALKAN

Wahyu 21:9-11

(21:9) Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba." (21:10) Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah. (21:11) Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.

 

Di sini nampak dengan jelas, mempelai perempuan bercahaya kemuliaan Allah. Jadi kualitas rohaninya sederajat dengan kualitas rohani Mempelai Laki-Laki Sorga. Digambarkanlah itu seperti permata yaspis, permata yang paling indah. Karena permata itu jernih seperti kristal.

Kristal = transparan (tembus pandang), berarti; bagian luar sama seperti bagian dalam (tidak ada yang ditutup-tutupi). Itulah suatu kehidupan yang sudah dikristalkan oleh Pengajaran Mempelai.

 

Kiranya kita menjadi suatu kehidupan yang sudah dikristalkan oleh kuasa dari Pengajaran Mempelai.

 

-      Kuasa Pengajaran Tabernakel:  ibadah dibawa kepada satu titik yang sesuai dengan pola kerajaan Sorga

Ibrani 8:1-2 --- Perikop: “Imam Besar perjanjian baru”

(8:1) Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, (8:2) dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia.

 

Di Sorga ada ibadah, yang melayani adalah Imam Besar Agung. Ibadah yang dilayani adalah ibadah sejati, bukan buatan tangan manusia.

 

Ibrani 8:3-5

(8:3) Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan korban dan persembahan dan karena itu Yesus perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan. (8:4) Sekiranya Ia di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang mempersembahkan persembahan menurut hukum Taurat. (8:5) Pelayanan mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah: "Ingatlah," demikian firman-Nya, "bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu."

 

Supaya ibadah dan pelayanan di bumi sama seperti ibadah di Sorga, maka, mau tidak mau, enak tidak enak, suka tidak suka, harus menggunakan pola kerajaan Sorga (pola Tabernakel), tidak bisa tidak. Supaya, kedudukan kita berada pada satu titik yang ditentukan oleh pola Tabernakel itu sendiri.

 

Imamat 26:11

(26:11) Aku akan menempatkan Kemah Suci-Ku di tengah-tengahmu dan hati-Ku tidak akan muak melihat kamu.

 

Kalau di tengah ibadah tidak ada Tabernakel, hati Tuhan akan muak. Ibadah tanpa pola kerajaan Sorga (pola Tabernakel) adalah ibadah buatan tangan manusia. Sementara di atas tadi kita sudah melihat, di kemah sejati ada ibadah dan yang melayani adalah Imam Besar Agung; Tuhan Yesus Kristus. Ibadah itu bukan buatan tangan manusia, tetapi buatan Tuhan.

Berarti, kalau ibadah menggunakan pola Tabernakel, maka ibadah di bumi merupakan gambaran dan bayangan dari ibadah dan pelayanan di Sorga. Jadi, oleh pola Tabernakel ini, kita ditentukan dan dibawa pada satu kedudukan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

 

Inilah langkah kedua; sebilah pedang tajam bermata dua keluar dari mulut Si Penunggang kuda putih. Ternyata itu adalah Pengajaran Mepelai dan Pengajaran Tabernakel. Dua sisi yang tajam dan ia menusuk amat dalam untuk memisahkan; jiwa dan roh, sendi dan sum-sum, bahkan sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati yang tidak nampak oleh mata manusia (Ibrani 4:12). Itulah tajamnya pedang yang keluar dari mulut Allah.

 

Inilah yang membawa kita, supaya akhirnya janji Tuhan dinyatakan kepada kita. Seperti Tuhan menjanjikan batu putih, di atasnya tertulis nama baru.

 

Kalau bicara batu putih --- Urim warnanya putih, sedangkan Tumim warnanya hitam.

-      Urim bicara tentang Roh Kudus yang menerangi segala sesuatu.

-      Tumim; menghukum, menyucikan kita dari dosa, oleh Firman Allah.

Jadi, batu putih ini jelas kehidupan yang sudah berkemenangan, kehidupan yang diterangi, di atasnya tertulis nama baru.

 

Wahyu 2:17

(2:17) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya."

 

“Yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya.”

Ini kaitannya adalah doa penyembahan disertai dengan bahasa lidah. Inilah yang Tuhan mau.

Kedudukan dari pola Tabernakel erat kaitannya dengan doa penyembahan disertai dengan bahasa lidah (bahasa asing) -- yang tidak dapat dipelajari oleh siapapun, kecuali orang yang sedang melangsungkan hubungan intim dengan Tuhan.

 

Betapa berbahagianya keluarga Allah, jemaat GPT “Betania”, karena rahmat Tuhan tidak berkesudahan. Meskipun kita sering membuat hati Tuhan jengkel, sakit hati, tetapi Tuhan tidak pernah ingkar janji. Kalau kita tidak setia, Tuhan tetap setia (kalau masih ada kesempatan).

 

 

 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

 

Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang