IBADAH
RAYA MINGGU 19 APRIL 2026
KITAB
WAHYU 19:13
(SERI
12)
Subtema: "JUBAH DICELUP DALAM DARAH" KEDATANGAN YESUS
KRISTUS YANG PERTAMA & KEDUA
Mula pertama saya
mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, oleh karena kemurahan hati Tuhan, kita
sekaliannya dihimpunkan di atas gunung Tuhan yang kudus. Sehingga, kita boleh
datang menghadap Dia lewat ibadah hari Minggu disertai dengan kesaksian Roh.
Puji nama Tuhan.
Saya juga tidak lupa
menyapa anak-anak Tuhan, umat ketebusan Tuhan yang turut bergabung lewat online
/ live streaming / video internet baik dari YouTube,
Facebook atau media sosial lainnya
yang dapat digunakan atau diakses. Selanjutnya, doa dan harapan kami dari
tempat ini; kiranya Tuhan menjadi Raja dan berkuasa untuk memberi damai
sejahtera, sukacita dan bahagia saat kita duduk diam dekat kaki Tuhan dan terus
dengar firman Tuhan Allah.
Mari selanjutnya kita
sambut kitab Wahyu sebagai firman
penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu.
Dan kita masih berada pada Wahyu 19:13
sebagai seri pemberitaan firman untuk yang ke-12 kalinya. Namun, tetaplah
berdoa dalam roh, mohon kemurahan daripada Tuhan, supaya firman yang dibukakan
itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Wahyu 19:13 --- Perikop:
“Firman Allah”
(19:13) Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah
dan nama-Nya ialah: "Firman Allah."
Ia
memakai jubah yang telah dicelup dalam darah. Menunjukkan bahwa Si Penunggang kuda putih itu, juga adalah
Imam Besar Agung.
Saudara, jubah yang telah dicelup dalam darah atau
jubah berlumuran darah, jika dikaitkan dengan KEDATANGAN YESUS YANG PERTAMA
itu adalah tanda penebusan. Sebab
Dia adalah Imam Besar yang telah mengerjakan penebusan 2000 tahun yang lalu di
atas kayu salib di Bukit Golgota (Calvari).
Kita akan buktikan
kebenarannya di dalam…
Matius 20:28
(20:28) sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk
dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan
nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Kedatangan Yesus yang
pertama ke dunia ini untuk 2 (dua) hal, yaitu:
YANG
PERTAMA: Untuk melayani
Jadi
kedatangan Yesus ke dunia ini bukan untuk tujuan yang lain, tetapi untuk
melayani.
Hasilnya:
keadaan manusia (murid-murid) menjadi baik.
Tandanya:
manusia termasuk murid-murid mengalami keubahan hidup.
Manusia
tidak akan mungkin mengalami perubahan kalau ia tidak menikmati pelayanan Imam
Besar. Kalau ia jauh dari ibadah; tidak akan bisa berubah.
Praktek
keubahan hidup: Satu dengan yang lain saling merendahkan diri sesuai dengan Matius 20:26-27. Di situ dikatakan:
-
Yang terbesar menjadi pelayan.
Berarti
kalau kita mengambil sikap sebagai pelayan menunjukkan bahwa kita adalah yang
terbesar di mata Tuhan, dari yang lain. Kalau orang lain malas-malas melayani,
biarkan saja, jangan diikuti.
Banyak
kali orang mengambil sikap sebagai yang terbesar dengan cara manusiawi, itu
salah. Tetapi mengambil sikap sebagai pelayan menunjukkan bahwa dia adalah yang
terbesar di mata Tuhan, inilah yang harus kita kejar.
-
Yang terkemuka menjadi hamba.
Berarti
mengambil sikap hamba menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang terkemuka
/ terdepan -- rohani, nikah, pekerjaan dan segala sesuatu terdepan, bukan ekor
tetapi kepala. Boleh dikatakan, sikap seperti ini akan menjadi teladan bagi
orang lain. Jangan kita mendengar, tetapi tidak melakukan, biarlah kita mendengar
untuk melakukan.
Dahulu sebelum kita
menikmati pelayanan Imam Besar, sama seperti keadaan murid-murid:
-
Menganggap
diri lebih besar, lebih layak, lebih utama daripada yang lain.
-
Ada
dalam amarah / perselisihan, satu dengan yang lain saling berbantah-bantah.
Hal itu nampak di dalam Matius 20:23-35.
-
Pada
ayat 23: Yakobus dan Yohanes merasa
diri lebih utama dari yang lain, mereka merasa layak duduk di sebelah kanan
Allah Bapa.
-
Pada
ayat 24: mereka saling menuduh
disertai dengan amarah.
-
Dan
kalau itu dibiarkan, itu artinya seseorang tidak menikmati pelayanan Imam
Besar, maka sikap semacam ini nanti akan menjurus kepada Antikris sebagaimana di ayat 25.
Jadi, kalau kesombongan
tidak dihentikan, nanti dia akan mengarah kepada tubuh antikris.
YANG KEDUA: Untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan
bagi banyak orang.
Kita akan buktikan itu sesuai
dengan narasi yang diungkapkan oleh Simon Petrus dalam suratannya.
1 Petrus 1:18-19
(1:18) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari
cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan
dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, (1:19) melainkan dengan darah yang
mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda
dan tak bercacat.
Kita telah ditebus dari
cara hidup yang sia-sia (perbuatan bodoh), hal itu disebut juga sebagai dosa
warisan, dosa turunan. Kemudian, kita ditebus bukan dengan barang fana,
bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal. Kenapa disebut darah yang mahal? Yaitu;
darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak
bercacat.
Jadi, ketika bangsa
Israel merayakan Paskah, mereka akan mengambil anak domba jantan berumur
setahun. Diambil pada tanggal 10, lalu disembelih tanggal 14, berarti; ada 4 (empat)
hari lamanya ia diuji. Kalau memang ada penyakitnya, cacat, cela, maka; ia
tidak layak dijadikan sebagai korban Paskah. Tetapi kalau setelah diperiksa (dikoreksi);
lulus, tidak ada kekurangan, tidak ada kudisan, tidak ada cacat dan lain
sebagainya; dia layak untuk dijadikan sebagai korban Paskah. Itu sebabnya darah
Kristus disebut darah yang mahal sama seperti darah anak domba tak bernoda,
tak bercacat ada.
Jadi, dosa tidak bisa
disucikan oleh dosa, berarti; manusia tidak dapat menebus dirinya dengan
perbuatannya, kecuali lewat darah anak domba Allah yang tak bernoda dan tak
bercacat. Karena, begitu manusia lahir, dia sudah mewarisi dosa Adam, dosa
turunan. Tetapi yang pasti, kedatangan Yesus yang pertama, selain untuk melayani
juga untuk menyerahkan nyawa, berarti; mengadakan penebusan bagi dosa manusia berdosa.
Sekarang kita akan
lihat: Muara dari penebusan
Wahyu 5:9-10
(5:9) Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya:
"Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya;
karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka
bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. 5:10)
Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi
imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."
Di sini kita melihat, orang
yang berdosa dari berbagai suku, bahasa, kaum, dan bangsa telah ditebus
oleh darah Kristus, darah anak domba.
Selanjutnya, Tuhan
membuat mereka…. (muara dari penebusan):
- Menjadi suatu kerajaan.
- Menjadi imam-imam bagi Allah.
Pendeknya menjadi imamat yang berkerajaan surga. Maksudnya;
mereka akan memerintah sebagai raja di bumi ini, berarti; dibawa pada satu
kedudukan yang sangat tinggi, sebab dunia dan kerajaannya tidak lagi berkuasa
atas dia.
Berarti, begitu
luhurnya, agungnya korban Kristus itu dinyatakan kepada umat ketebusan-Nya. Dan kalau kita mengatakan betapa agung-Nya
korban Kristus, jelas itu karena kita mengerti dan sangat menghargai dan
menghormatinya bukan?
Dunia dan kerajaannya
tidak berkuasa / memerintah / terikat atas dia =….
-
Terlepas
dari dosa kejahatan, kenajisan percabulan / persundalan.
-
Tidak
lagi menduakan hati Tuhan dengan barang-barang yang fana di dunia ini =
terlepas dari mangnet / daya tarik bumi.
Coba bayangkan kalau
kita tidak menikmati pelayanan dan pekerjaan penebusan yang telah dikerjakan
oleh Imam Besar Agung 2000 tahun yang lalu: jadi
apa kira-kira kita ini? Kehidupan yang hina pasti binasalah, jadi ulat dan
cacing saja.
Kita lihat dulu
kehidupan yang terlepas dari daya tarik bumi.
Wahyu 8:1 ---
Perikopnya: “Meterai yang ketujuh.”
(8:1) Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang
ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira setengah jam lamanya.
Pada saat meterai yang
ketujuh dibuka: Sunyi senyaplah di Sorga
à hari perhentian yaitu; doa penyembahan disertai dengan suatu
ketenangan, damai sejahtera, juga kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan
kata-kata, kecuali hanya dirasakan oleh orang itu dengan Tuhan.
Sebagaimana
halnya ketika firman itu meneguhkan hati kita, secepatnya kita tersungkur, kita
menyembah disertai dengan air mata yang berderai. Di situ kita tidak ada lagi
memikirkan hal-hal yang lain, selain melangsungkan hubungan yang intim dengan
Tuhan. Ini suatu kenikmatan yang tiada tara.
Jadi, Imam Besar Agung
yang memimpin kita sampai kepada doa penyembahan. Kita bersyukur telah
digembalakan oleh korban sehari-hari,
digembalakan oleh Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel. Di situ Yesus
tampil sebagai Imam Besar memimpin kita sampai kepada doa penyembahan di bumi
ini. Hendaklah penyembahan itu juga ada di bumi ini.
Wahyu 8:3
(8:3) Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia
pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya
diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa
semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu.
Intisari dari ayat ini: Yesus
Kristus adalah Imam Besar Agung. Tugasnya: memimpin ibadah-ibadah di bumi ini
sampai kepada puncak ibadah, itulah doa penyembahan.
Lalu
penyembahan itu digambarkan seperti apa? Jawabnya ada pada ayat 4.
Wahyu 8:4
(8:4) Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan
doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.
Jadi doa penyembahan itu
digambarkan seperti: asap dupa kemenyan
yang disebut sebagai ukupan wangi wangian. Dia naik ke hadirat Allah, berarti;
tembus ke takhta Allah.
Kiranya penyembahan
kita di bumi menjadi “gaya hidup” kita sekarang ini. Jangan
tinggalkan jam-jam penyembahan lagi hanya karena kesibukan, bisnis dan
seterusnya. Kalaupun seseorang berhasil dengan bisnis yang dicapai, apalah artinya kalau dia tidak tembus ke Surga?
Apa yang membuat kita lepas dari daya
tarik bumi? Ya, hanya doa
penyembahan -- bagaikan asap kemenyan naik ke hadirat Allah. Hanya satu
perkara yang membawa kita lepas dari magnet bumi / daya tarik bumi, itulah asap
kemenyan(doa penyembahan), tidak ada yang lain lagi.
Singkat kata,Yesus sudah
berada pada tingkat ibadah yang tertinggi itulah doa penyembahan.
Cirinya: terlepas dari daya tarik bumi. Hal itu
juga dibuktikan dalam Matius 4:8-9.
Matius 4:8-9
(4:8) Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang
sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan
kemegahannya, (4:9) dan berkata
kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud
menyembah aku."
Iblis membawa Yesus ke
atas gunung yang sangat tinggi dan di situ iblis memperlihatkan kepada Yesus
semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, kemewahannya dan keindahannya.
Jadi, penyembahan tertinggi dari setan tritunggal
adalah kerajaan dunia dengan kemegahannya
Tetapi kita bandingan
dengan penyembahan tertinggi dari Tuhan.
Matius 4:10
(4:10) Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah,
Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya
kepada Dia sajalah engkau berbakti!"
Inilah tingkat ibadah
tertinggi di dalam Tuhan: doa
penyembahan, berarti; terlepas dari penyembahan dari setan; kerajaan dunia
dengan kemegahannya. Itulah sebabnya, Yesus layak untuk menjadi Imam Besar
Agung, memimpin gereja-gereja sampai kepada tingkat ibadah tertinggi itulah doa
penyembahan, bagaikan asap kemenyan naik ke hadirat Allah / tembus ke takhta
Allah. Itulah imamat yang bersuasana kerajaan Sorga.
Saya berharap
penyembahan kita naik ke hadirat Allah, hidup kita tembus ke tahta Allah.
Jangan hanya tembus bisnisnya, ijazah yang tinggi, atau keberhasilan-keberhasilan
di bumi. Jauh lebih baik, lebih menarik, lebih indah kalau kita sampai kepada
penyembahan tertinggi; tembus ke takhta Allah. Ini kenikmatan lebih dari semua
kenikmatan-kenikmatan di dunia ini.
Kembali kita membaca…
Matius 20:28
(20:28) sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk
dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi
tebusan bagi banyak orang."
“Memberikan
nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”. Mari kita hal ini lebih lagi.
Imamat 17:11
(17:11) Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan
Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan
pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan
perantaraan nyawa.
Jadi, nyawa makhluk (manusia atau binatang) ada di
dalam darahnya.
Tapi lihatlah kalimat berikutnya: Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah
untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu --- Pendeknya, darah salib mengadakan pendamaian bagi
nyawa / darah yang sudah kotor karena dosa warisan.
Jadi, darah kita disucikan oleh darah Anak Domba.
Nyawa kita dipanjangkan oleh nyawa Anak Domba.
Begitu luhur, agunglah korban Kristus, sanggup
menyucikan darah yang kotor sampai kita nanti satu genetik dengan Dia, satu DNA
dengan Dia. Genetik kita dari orang tua sudah kotor, tetapi darah Yesus sucikan
kita sampai akhirnya satu DNA dengan Dia. Darah Yesus yang berlumuran dalam
jubah-Nya itu tidak menjadi sia-sia.
Yesus menyerahkan nyawa-Nya
dan menumpahkan darah-Nya di atas kayu salib untuk mengadakan pendamaian bagi nyawa manusia. Nyawa kita diganti dengan
nyawa Yesus supaya kita hidup, karena upah
dosa adalah maut (Roma 6:23).
Saya sudah sampaikan di
atas tadi: Yesus adalah Imam Besar, telah mengadakan pendamaian atas nyawa kita.
Darah diganti darah, nyawa diganti nyawa. Itu kemurahan yang dinyatakan Tuhan
kepada kita, supaya kita jangan menyia-nyiakan darah Anak Domba.
Kita lihat dulu sejenak: pekerjaan Imam Besar menurut hukum Taurat.
Imamat 16:3, 14-15
(16:3) Beginilah caranya Harun masuk ke dalam tempat kudus
itu, yakni dengan membawa seekor lembu jantan muda untuk korban penghapus
dosa dan seekor domba jantan untuk korban bakaran. (16:14) Lalu ia harus
mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya
ke atas tutup pendamaian di bagian muka, dan ke depan tutup
pendamaian itu ia harus memercikkan sedikit dari darah itu dengan jarinya
tujuh kali. (16:15) Lalu ia harus
menyembelih domba jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa bagi bangsa
itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemudian haruslah
diperbuatnya dengan darah itu seperti yang diperbuatnya dengan darah lembu
jantan, yakni ia harus memercikkannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan
tutup pendamaian itu.
Ketika Imam Besar Harun
masuk ke dalam Ruangan Maha Suci, ia harus membawa darah lembu jantan dan darah
domba jantan. Lalu mengadakan tujuh kali percikan darah di atas tutupan pendamaian dan di
depan tabut perjanjian.
Sebetulnya, tujuh kali
percikan darah di atas tutup pendamaian dan di depan tabut perjanjian itu berbicara
tentang sengsara tanpa dosa, sebagai
penyucian yang terakhir.
Darah Yesus terlebih
dahulu ditumpahkan di atas Mezbah Korban Bakaran, gambaran dari salib; tanda
penebusan. Tetapi, dari darah domba jantan sebagai korban penghapus dosa dan
darah lembu jantan sebagai korban pendamaian, dibawa lagi, masuk ke dalam Ruangan
Maha Suci. Kemudian, mengadakan tujuh kali percikan dengan jarinya di atas tutup pendamaian dan di depan tutup perjanjian. Sebetulnya
itu berbicara tentang sengsara tanpa dosa sebagai penyucian yang ter terakhir.
Pendeknya, orang lain
yang berbuat dosa tapi Yesus yang menanggungnya, itulah yang disebut percikan
darah.
Tanpa percikan darah, seseorang
tidak mungkin sempurna, meski ada di dalam rumah Tuhan mendengar firman Tuhan
setiap hari.
Kalau seseorang sengsara
karena dosa/kesalahan itu lumrah. Tetapi, kalau menderita sengsara tanpa dosa
itu adalah penyucian yang terakhir. Kalau dengan tulus dan sesadar-sadarnya
kita melakukan itu, berarti inilah penyucian yang terakhir untuk selanjutnya
kita disempurnakan. Tanpa percikan darah seseorang tidaklah mungkin sempurna.
Inilah yang telah
dikerjakan oleh Yesus Kristus 2000 tahun lalu di atas Bukit Golgota (Calvari). Sebagaimana
juga dituliskan dalam Wahyu 19:13
ejaan lama --- Ia berjubah yang dipercik
dengan darah
Jadi Dia sudah mengalami percikan darah. Dia layak
untuk membawa kita sampai kepada kesempurnaan. Dan DIALAH satu-satunya tidak
ada yang lain sebagaimana yang tertulis dalam 1 Timotius 2:5-6 --- karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang
menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang
telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian
pada waktu yang ditentukan.
Esa = satu / tunggal,
tidak ada yang lain. Jadi, hanya Dia satu-satunya yang layak untuk dijadikan
sebagai pengantara antara Allah dan manusia, tidak ada yang lain.
Jadi, jangan lagi
menaruh harap kepada sesuatu yang tidak tidak bisa meneteskan darah. Uang yang banyak
tidak bisa meneteskan darah. Bongkahan perak, emas dipecahkan; tidak juga meneteskan
darah. Tapi ketika Yesus memecahkan segenap hidup-Nya di atas kayu salib, darah-Nya
tercurah atas kita. Ini darah yang halal, layak untuk menebus dan mendamaikan
kita dengan Allah.
Kedatangan Yesus yang
pertama kaitannya; Jubah yang berlumuran darah: melayani dan menebus serta
memperdamaikan kita dengan Allah.
Sekarang, jubah yang dicelup dalam darah bila
dikaitkan dengan kedatangan Yesus
Kristus yang kedua sebagai penghukuman
bagi orang-orang yang tidak menghargai kasih di Golgota.
Rujukannya telah
dinubuatkan oleh Nabi Yesaya.
Yesaya 63:1-3 ---
Perikop: “Hukuman pembalasan atas Edom.”
Dahulu Esau anak sulung,
tetapi sekarang disebut Edom. Itu terjadi setelah ia menikmati yang
merah-merah. Ini manusia daging yang tidak menghargai darah Yesus, yang tetap
mempertahankan tabiat daging, yang akan menerima hukuman
Yesaya 63:1-3
(63:1) "Siapa dia yang datang dari Edom, yang
datang dari Bozra dengan baju yang merah, dia yang bersemarak dengan
pakaiannya, yang melangkah dengan kekuatannya yang besar?" "Akulah
yang menjanjikan keadilan dan yang berkuasa untuk menyelamatkan!" (63:2) "Mengapakah pakaian-Mu
semerah itu, dan baju-Mu seperti baju pengirik buah anggur?" (63:3) "Aku seorang dirilah
yang melakukan pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang
menemani Aku! Aku telah mengirik bangsa-bangsa dalam murka-Ku, dan Aku
telah menginjak-injak mereka dalam kehangatan amarah-Ku; semburan darah mereka
memercik kepada baju-Ku, dan seluruh pakaian-Ku telah cemar.
Bagaimana
perasaaan saudara setelah kita membaca ini? Masih tetap
bertahan dengan sikap Edom? Mempertahankan
diri menurut kebenaran diri sendiri / kekerasan di hati, masih tetap dalam
penyembahan berhala, tetap dengan persundalan? Kehidupan semacam ini akan
menerima hukuman sebagaimana dalam rujukan nubuatan Yesaya ini.
Jadi saudara jangan
merasa ngeri mengikuti GPT “Betania” Serang & Cilegon, karena lebih ngeri hukuman
yang akan ditimpakan kepada manusia yang dikuasai roh Edom pada saat kedatangan-Nya
pada kali yang kedua.
Tidak ada yang ngeri
ikut Tuhan. Sangkal diri, pikul salib; tidak ngeri, tergantung hati. Merendahkan
diri, menjadi kecil pun tidak susah, tergantung hatinya. Kenapa orang mempertahankan tabiat Edom, tabiat daging, yang diinginkan
hanya untuk menikmati yang merah-merah, menjual hak kesulungan demi semangkok
kacang merah? Kenapa dia selalu mempertahankan itu? Itu menunjukkan bahwa
dia keras hati = hidup dalam penyembahan berhala.
Tidak ada yang sulit
merendahkan diri, tergantung hati. Mau dikatain apapun; tidak jadi soal, difitnah
apapun; tidak jadi soal, tergantung hati. Seperti yang seringkali saya saksikan:
Setiap kali kita mengadakan PPT, ada saja hamba Tuhan yang menghina dan
menghakimi, lalu mengata-ngatai soal dana untuk mengadakan acara PPT ini dari
mana. Mengata-ngatai bahwa pengertian yang kita miliki masih terbatas. Lalu, ada juga
yang bertanya: “Apakah jemaatnya mengerti
tentang orang-orang bersunat?”Mendengar itu saya sabar-sabar saja,
tergantung hati. Sebetulnya, saya bisa labrak orang itu, tapi tidak perlu. Kalau
saya seperti itu, justru tidak layak untuk mengadakan persekutuan.
Saudara,
kerajaan surga juga berbicara tentang perlombaan. Sebab, yang terdahulu menjadi terkemudian, yang terkemudian menjadi yang
terdahulu (Lukas 13:30). Tidak
ada istilah senioritas, umur tua di dalam Tuhan, semua tergantung penyerahan. Dan
ukuran seseorang layak atau tidak adalah: Tuhan, bukanlah pelita yang diletakkan
di bawah gantang.
Jadi, penghukuman
itu terjadi karena masih mempertahankan tabiat Edom (roh Edom itu masih
menguasai dirinya). Karena pada ayat ini kita melihat bahwa; jubah Imam Besar
itu penuh dengan lumuran darah, tetapi sebagai tanda penghukuman atas Edom.
Jadi, jubah yang telah dicelup dalam darah bila dikaitkan dengan kedatangan
Yesus untuk yang kedua kali sebagai tanda penghukuman.
Doa saya untuk sidang
jemaat, kiranya kita lepas dari roh Edom / tabiat Edom dan tabiat daging juga.
Saya tidak hanya berdoa kepada nikah dan buah nikah saya secara pribadi, tetapi
saya juga tetap berdoa untuk seluruh sidang jemaat tanpa terkecuali. Kiranya
oleh Darah Anak Domba dan pekerjaan penebusan, pendamaian-Nya, kita dilepaskan
dari roh Edom, supaya pada saat kedatangan-Nya pada kali yang kedua, lepas dari
penghukuman bagi kita semua.
Pada ayat 2: "Mengapakah pakaian-Mu semerah itu, dan baju-Mu seperti baju
pengirik buah anggur?" Dia sudah mengadakan pengirikan
sehingga darah Edom terpercik.
“Aku seorang dirilah yang
melakukan pengirikan.”
Pengirikan di sini adalah;
penghukuman.
-
Kalau
dikaitkan dengan kedatangan Yesus yang
pertama: supaya kita boleh menikmati pelayanan dan diperdamaikan.
-
Tetapi
pengirikan yang dikaitkan dengan kedatangan Yesus untuk yang kedua adalah; sebagai tanda penghukuman.
Sekarang, kita bandingkan
dengan Yohanes Pembaptis:
Saudaraku, Yohanes
Pembaptis berkata kepada murid-murid untuk yang pertama: lihatlah Anak Domba Allah telah menghapus
dosa dunia – melayani dan
mengerjakan penebusan pendamaian (Yohanes 1:29). Dan itu diajarkan kepada
murid-muridnya.
Hasil pelayanannya:
orang menjadi percaya, bertobat, dibaptis
air, penuh dengan Roh Kudus dan itu di dalam Yohanes 1:29-34 dengan perikop: “Yohanes menunjuk kepada Yesus”
Inilah hasil pelayanan Yesus
terkait dengan kedatangan-Nya yang
pertama.
Tetapi kedatangan Yesus yang kedua..
Yohanes 1:35-36
(1:35) Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula
dengan dua orang muridnya. (1:36)
Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba
Allah!"
Kedatangan Yesus untuk
yang kedua kali bukan lagi sebagai penghapus dosa, tetapi tampil sebagai Raja
yang berkuasa untuk menghukum semua orang yang dikuasai oleh roh Edom.
Ini harus diperhatikan
dengan sungguh-sungguh. Jangan asal beribadah, dari hari ke hari tidak ada
keubahan, tidak ada penaklukan diri kepada Tuhan, tidak ada tanda kerendahan
hati. Terus saja dalam penyembahan berhala atau kekerasan di hati -- tetap
mempertahankan kebenaran diri sendiri.
Sejenak kita lihat; apa pengakuan
Natanael….
Yohanes 1:46
(1:46) Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu
yang baik datang dari Nazaret?" (1:47)
Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael
datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang
Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!"
Tentang Natanael, TUHAN berkata; "Lihat, inilah seorang Israel sejati."
Israel sejati; tidak ada kepalsuan
di dalamnya. Israel sejati tidak nampak keYahudiannya. Jadi orang baik tidak
pamer kebaikan, sebab ukurannya adalah; mata Tuhan. Ketulusan itu bukan
menampilkan ketulusan seperti manusia duniawi, tapi ukurannya; tetap mata Tuhan.
Israel sejati harus menjadi gaya hidup gereja TUHAN di
hari-hari terakhir ini, sebab TUHAN akan menceritakan semua keadaan manusia
pada saat kedatangan Tuhan pada kali yang kedua. Sebagaimana dalam Wahyu 20:11-12 -- Lalu aku
melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya.
Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.
Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu.
Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu
kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka,
berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.
Di situ Dia tampil
sebagai hakim dan semua orang akan
menghadap Dia dihadapan takhta putih. Kemudian saat itu dibuka semua kitab, semua perbuatan hidup, semuanya itu dibaca -- "Kamu begini, kamu begitu, kamu begini,
kamu begitu” –
Kenapa
demikian? Karena tidak
ada tanda pertobatan dan keubahan dalam hidup, sehingga darah Yesus tidak
menghapus dosanya itu.
Tetapi sesudah itu, Anak
Domba juga membuka sebuah kitab lain itulah;
kitab kehidupan yaitu; orang-orang yang namanya terdaftar dalam kerajaan
surga, dosa-dosanya tidak tertulis dalam semua kitab (sudah dihapus) atau
disucikan oleh darah Anak Domba. Lalu namanya dituliskan dalam kitab kehidupan
Anak Domba.
Jadi jangan saudara
berpikir dosa-dosa tidak tercatat. Semua dosa tercatat, semua kehidupan kita
ini akan dibuka, dibeberkan kalau memang belum bertobat (darah Yesus belum
sucikan). Tapi kalau sudah disucikan (sudah bertobat), maka dibuka juga sebuah
kitab yang lain, itulah kitab kehidupan. Tidak ada lagi dosa yang dibeberkan di
situ.
Yohanes 1:48
(1:48) Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau
mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil
engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara."
Saudara, sebelum kita
dibentuk / dipintal dalam rahim ibu, jauh sebelumnya Tuhan sudah tahu kita
siapa.
Dan untuk Natanael Tuhan
berkata: "Aku melihat engkau di bawah pohon ara – berarti; ada
dalam perlindungan pohon ara.
Kalau kita ingat pohon
ara, daunnya itu pernah dijadikan sebagai cawat atau celana dalam untuk
menutupi dosa ketelanjangan Adam dan Hawa. Tetapi sebetulnya, daun pohon ara
tidak lama akan menjadi kering. Kalau sudah kering akan rapuh, maka tentu
ketelanjangan itu akan nampak lagi. Artinya: kebenaran diri sendiri tidak bisa
menutupi dosa, kesalahan, pelanggaran yang diperbuat manusia. Pohon ara à Kebenaran manusia.
Mungkin Natanael hidup
seperti itu, tetapi Natanael bertanya, " Bagaimana
Engkau mengenal aku?"
Pertanyaan ini sekaligus
pengakuan hidup Natanael kepada TUHAN. Berarti darah Yesus sudah menyucikan
dia. Mungkin saja dia hidup dalam kebenaran diri sendiri, tapi dia memiliki
ketulusan di hati, sebab dia disebut sebagai Israel sejati.
Pendeknya, Tuhan tahu kelebihan
Natanael, Tuhan juga tahu kekurangannya.
Selanjutnya …
Yohanes 1:49
(1:49) Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak
Allah, Engkau Raja orang Israel!"
Untuk kedatangan yang
pertama Yesus mengerjakan penebusan dan pendamaian. Tetapi untuk kedatangan
yang kedua, Yesus tampil sebagai Raja. Dia akan mengadakan pengirikan buah
anggur. Satu kali akan nyata dan dialami oleh semua manusia di atas muka bumi
ini. Orang tidak bisa lari dari penghakiman takhta putih. Hari ini engkau bisa
lari, tetapi nanti tidak bisa. Hari ini seseorang bisa sembunyi dan lari dari
kenyataan, tetapi besok tidak bisa lari dari hari penghakiman takhta putih.
Setelah mendapat
pengertian ini, adakah timbul rasa takut
akan Tuhan atau tetap melarikan diri dan menyembunyikan dosa? Tetapi
sebagai orang bijaksana; bersikaplah dewasa.
Tujuan Yesus mengadakan
pengirikan buah anggur (menghukum manusia Edom)
1.
Demi pesta nikah Anak Domba (Wahyu 19:6-9).
Inilah
sasaran akhir dari perjalanan rohani kita di atas muka bumi.
2. Demi
kerajaan 1000 tahun damai di bumi.
Wahyu
20:1-3 --- Perikop: “Kerajaan seribu tahun damai”
Kapan kerajaan seribu tahun damai
itu? Setelah
terlaksana pesta nikah Anak Domba di awan nan permai. Kemudian, turun lagi ke
dunia ini sebagaimana dalam Wahyu 21:1-2 --- Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab
langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada
lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari
sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan
untuk suaminya. = menjadi kerajaan seribu tahun damai, turun dari Sorga
dari ALLAH.
Jadi kerajaan seribu
tahun damai bukan di Sorga tetapi di bumi ini.
Wahyu
20:1-2
(20:1) Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci
jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; (20:2) ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan
Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya,
Pada
akhirnya, TUHAN menghukum yaitu; orang yang hidup dalam dosa dan menghukum
sumber dosa yaitu; si ular tua disebut juga Iblis dan Setan, demi kerajaan seribu tahun damai.
Wahyu
20:3
(20:3) lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu
dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan
bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari
pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya.
Jadi,
kerajaan seribu tahun damai itu ada di bumi bukan di surga, bersama semua
bangsa-bangsa di bumi ini. Tapi yang memerintah di dalam kerajaan seribu tahun
damai hanya orang-orang kudusnya Tuhan.
Wahyu
20:4
(20:4) Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang
duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga
melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian
tentang Yesus dan karena firman Allah; yang tidak menyembah binatang itu dan
patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka;
dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan
Kristus untuk masa seribu tahun.
Tuhan mengadakan pengirikan di Edom
demi pesta nikah Anak Domba dan
demi kerajaan seribu tahun damai.
Oleh sebab itu, manusia jangan hanya berpikir bagaimana saya bisa makan hari
ini. Akibatnya, tidak mau mengembalikan miliknya TUHAN, yaitu; persembahan
persepuluhan, ia tidak jujur. Yang dipikirkan hanyalah soal uang, uang,
uang, dan uang. Itulah isi pikirannya, tidak ada yang lain. Padahal akar
kejahatan adalah cinta akan uang (1
Timotius 6:10). Kenapa seseorang
jahat, tidak mengasihi Tuhan? Jelas karena uang.
Apakah
engkau tidak menangis ketika hari ini dosa dikoreksi, daripada nanti semua
kitab dibuka tetapi untuk menghukum Edom dan tabiat Edom? Pilih mana: Hari ini disucikan atau nanti semua dosa dibeberkan? Saya kira
kalau kita bijaksana, lebih baik hari ini dosa-dosa dibeberkan / dikoreksi,
disucikan oleh darah Yesus daripada nanti Yesus tampil sebagai Raja untuk
mengadakan penghukuman -- Ada percikan darah dalam jubah-Nya tetapi sebagai
tanda penghukuman.
Berlakulah bijaksana, pikirkanlah
dua hal ini: pesta nikah Anak Domba dan
kerajaan seribu tahun damai.
Selamat beraktivitas dan
mengerjakan pekerjaan yang mulia. Selamat menyerahkan diri untuk dikerjakan
firman Allah, Roh Allah, dan kasih karunia Allah. Selamatlah sampai tujuan.
Tuhan senantiasa menyertai perjalanan rohani dalam hidup, nikah dari sekarang
sampai selama-lamanya. Tuhan tolong kita mengerjakan keselamatan itu dengan
takut dan gentar. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA
MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U.
Sitohang