IBADAH RAYA MINGGU, 22 FEBRUARI 2026
KITAB WAHYU
WAHYU 19:13 (Seri: 4)
Subtema: BERGANTUNG
PADA JUBAH YESUS
Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, oleh
karena rahmat-Nya kita dihimpunkan di atas gunung Tuhan yang kudus. Sehingga
kita boleh datang beribadah menghadap kepada Tuhan lewat Ibadah Raya Minggu
disertai dengan kesaksian Roh.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, umat ketebusan
Tuhan yang turut bergabung secara online / live streaming / video internet dari
Youtube, Facebook atau media sosial lainnya. Kiranya damai
sejahtera dari Sorga berkuasa, bertakhta di hati kita, sehingga kita boleh
duduk diam dengan tenang menikmati Sabda Allah.
Selanjutnya, marilah kita sambut KITAB WAHYU sebagai Firman
Penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu. Kita masih membaca Wahyu
19:13 sebagai seri yang keempat. Namun, pertama-tama kita mohon
kepada kemurahan Tuhan supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita
pribadi lepas pribadi.
Wahyu 19:13 --- Perikop: “Firman Allah”
(19:13) Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah
dan nama-Nya ialah: "Firman Allah."
Ia memakai jubah yang telah dicelup
dalam darah.
Menunjukkan bahwa Si Penunggang kuda putih ini adalah Imam
Besar Agung.
Adapun jubah Imam Besar dibagi dalam 3 (tiga) hal pokok yang
semuanya itu ditulis secara lengkap dalam Keluaran 28:1-43.
1. Baju efod (ayat 6-15)
2. Gamis baju efod (ayat 31-32)
3. Kemeja beragi dari lenan halus (ayat 39)
Malam ini kita masih membahas tentang: GAMIS BAJU EFOD
(Bagian 3)
Keluaran 28:31
(28:31) Haruslah kaubuat gamis baju efod dari kain ungu tua
seluruhnya.
Gamis baju efod dibuat dari ungu tua / biru langit. Warna ini berbicara
tentang kuasa kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus.
Keluaran 28:32-34
(28:32) Lehernya haruslah di tengah-tengahnya; lehernya itu
harus mempunyai pinggir sekelilingnya, buatan tukang tenun, seperti
leher baju zirah haruslah lehernya itu, supaya jangan koyak. (28:33) Pada
ujung gamis itu haruslah kaubuat buah delima dari kain ungu tua,
kain ungu muda dan kain kirmizi, pada sekeliling ujung gamis itu, dan di
antaranya berselang-seling giring-giring emas, (28:34) sehingga satu
giring-giring emas dan satu buah delima selalu berselang-seling, pada ujung
gamis itu.
Di sini ada 2 (dua) hal penting yang menyangkut gamis baju
efod.
YANG PERTAMA: Menyangkut leher.
Adapun lehernya haruslah di tengah-tengah, berarti;
seimbang / adil. Kalau di tengah-tengah berarti tidak lebih berat ke kanan atau
tidak lebih berat ke kiri.
Kemudian, lehernya itu haruslah mempunyai pinggir
sekelilingnya. Tujuannya; supaya jangan koyak.
Singkat kata, penyembahan dalam kuasa kebangkitan
memungkinkan segala sesuatu terjadi (melenyapkan segala kemustahilan /
segala yang tidak mungkin bagi manusia), karena, bagi Tuhan tidak ada yang
mustahil.
Saudara, jangan koyak maksudnya; jangan kita terputus
dari Tuhan sampai Ia datang pada kali kedua. Jadi, penyembahan dalam suasana
kebangkitan adalah jaminan bagi kita sekaliannya.
Saudara, menyangkut leher telah kita bahasa sebanyak
dua minggu berturut-turut. Doa saya, kiranya penyembahan dalam kuasa
kebangkitan terjadi di dalam diri kita masing-masing, nikah kita masing-masing.
Kiranya apa yang sudah kita terima selama dua kali berturut-turut masih jelas
dalam ingatan kita, bahkan terpatri (dimeteraikan) oleh Roh Kudus dalam hati kita
masing-masing, supaya nyata bahwa penyembahan kita ada dalam suasana
kebangkitan.
YANG KEDUA: Menyangkut ujung gamis (ayat 33).
Saudara, pada ujung gamis harus digantungkan; buah delima
dan giring-giring emas pada sekelilingnya, berselang-seling. Jadi, satu buah
delima kemudian di selang dengan satu giring-giring emas, di sekeliling pada
ujung gamis baju efod tersebut.
-
Gamis baju efod 🡪 kuasa kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus.
-
Buah delima 🡪 sidang jemaat / gereja Tuhan
-
Giring-giring emas 🡪 hadirnya Imam Besar Agung dalam sebuah
pertemuan ibadah-ibadah kita.
Hal ini ditandai dengan; penyembahan disertai
dengan bahasa lidah, pasti di situ ada Imam Besar Agung. Atau sebaliknya, Imam
Besar Agung akan memimpin ibadah kita, hidup kita sampai kepada tingkat yang
Tuhan mau pada diri kita masing-masing. Kalau kita sudah merasakan pelayanan
Imam Besar, hal itu akan nampak dari penyembahannya, meskipun pelan; akan hidup
dan disertai dengan bahasa lidah.
Saudara, terlebih dahulu kita melihat: Buah delima
digantungkan pada ujung gamis efod.
Buah delima digantungkan pada ujung gamis efod arti rohani
bagi kita; sidang jemaat atau gereja Tuhan harus bergantung pada kuasa
kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, tidak bergantung kepada yang lain-lain.
Kalau kita diberkati sehingga memiliki pekerjaan, dipercaya
bisnis yang baik dan dipercaya banyak perkara itu hanya sebatas “kepercayaan”.
Namun, kehidupan gereja Tuhan (sidang jemaat) harus tetap bergantung kepada
kuasa kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, tidak kepada yang lain. Kita tidak
boleh bergantung kepada apa yang dititipkan
oleh Tuhan. Namanya titipian satu kali akan berlalu. Jadi kita harus bergantung
pada kuasa kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus.
Semoga dalam pemberitaan Firman malam ini kita diyakinkan,
sehingga kehidupan kita dipastikan tetap bergantung kepada kuasa kebangkitan
Tuhan kita Yesus Kristus, tidak kepada yang lain-lain. Jadi saudara, sekali
lagi saya sampaikan; semua yang ada ini akan berlalu. Maka kita harus
bergantung kepada jubah Kristus dalam kuasa kebangkitan-Nya.
Hal itu dapat kita buktikan langsung dalam sebuah kisah
nyata (bukan dongeng) dalam…
Markus 5:24-25 --- Perikop: “Yesus membangkitan anak
Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan.”
(5:24) Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong
mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. (5:25) Adalah di
situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita
pendarahan.
Singkat kata, dalam perjalanan ke rumah Yairus, banyak orang
berbondong-bondong dan saling berdesak-desakan untuk mengikuti
Yesus. Namun di antara kerumunan orang banyak itu, ada seorang perempuan yang
12 tahun menderita pendarahan (lelehan darah). Mohon maaf, jadi bukan bulanan
perempuan (haid) tetapi lelehan darah dan ia sangat menderita / tersiksa oleh
sakit tersebut.
Saudara, seorang perempuan yang sedang haid sebulan sekali
saja sudah menderita, lelah dan menyita waktu dengan lelehan tersebut. Selain
itu bikin malu dan ditambah lagi sakit pada bagian perutnya. Tetapi perempuan
ini sakit lelehan darah selama 12 tahun lamanya. Saudara bisa bayangkan
itu, kalau 12 tahun menderita lelehan darah, betapa kurusnya dia, maka,
akhir-akhirnya dia tidak akan berdaya. Biar bagaimanapun orang kurus karena
sakit, pasti tidak berdaya.
Markus 5:26
(5:26) Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib,
sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama
sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.
Perempuan ini telah berulang kali berobat ke berbagai tabib,
sampai habis segala sesuatu yang ia miliki, namun tidak kunjung sembuh, malah
sebaliknya; keadaannya semakin memburuk.
Saudara, dari kisah ini kita bisa melihat, ternyata
seseorang tidak bisa bergantung pada hartanya, tidak dapat bergantung kepada
manusia sekalipun ia tabib, orang yang berpengalaman di bidangnya (medis).
Semakin kita bergantung kepada yang lain-lain, maka semakin diizinkan keadaan
seseorang memburuk. Sebab di atas tadi kita sudah melihat; perempuan ini sudah berobat ke berbagai tabib
dan berulang kali ia pergi ke sana, bahkan menghabiskan segala yang
dimilikinya. Namun semua itu tidak ada faedahnya, justru keadannya semakin
memburuk. Kita harus belajar dari kisah ini ya suadara, jangan diabaikan.
Markus 5:28
(5:28) Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku
akan sembuh."
Di sini kita melihat, di dalam pikiran hatinya, perempuan
itu berkata: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Artinya
bagi kita: bila anak-anak Tuhan (sidang jemaat) bergantung pada ujung jubah
Yesus (kuasa kebangkitan Yesus), maka; kuasa dosa, kuasa maut, segala sakit
penyakit akan lenyap.
Kuasa maut adalah dosa, kuasa dosa adalah hukum Taurat (1
Korintus 15:56). Jadi, jangan lagi menjalankan ibadah dan pelayanan ini
secara Taurat.
Saudara, kita sedang berada dalam kuasa kebangkitan, karena
kita menghargai ibadah dan pelayanan. Tidak jauh dari jam-jam ibadah (tiga
macam ibadah pokok) dan ditengah-tengah ibadah itu kita melayani, berarti;
sedang berada dalam suasana kebangkitan. Kalau kita bergantung pada
kuasa kebangkitan Yesus, maka kuasa dosa lenyap dan kuasa maut lenyap serta
sakit penyakit yang diderita sembuh, karena bagi Tuhan tidak ada yang
mustahil.
Jadi, dari dalam diri perempuan ini ada satu tekad yang kuat
dan ia berkata di dalam hati dan pikiranya; "Asal kujamah saja
jubahNya, aku akan sembuh." --- sakit penyakit akan lenyap sekalipun
penyakitnya sudah kronis.
Saudara, bergantunglah pada kuasa kebangkitan Tuhan kita Yesus
Kristus, jangan bergantung kepada apa yang dititip oleh Tuhan. Karena
sebetulnya yang ada ini juga harus tetap bergantung kepada kuasa kebangkitan
Tuhan Yesus Kristus, tidak boleh bergantung kepada yang lain. Jangan turuti kata hati, jangan turuti suara
daging.
Padahal, kalau kita perhatikan pada ayat 24 tadi, di
situ ditulis dengan jelas; orang banyak berbondong-bondong mengikut Yesus.
Kemudian, karena terlalu banyak orang berbondong-bondong, akhirnya dalam
pengikutan itu mereka berdesak-desakan. Namanya juga banyak orang, sudah
pasti berdesak-desakan dengan kata lain; berhimpit-himpitan karena sama-sama
berusaha mendekat kepada Yesus. Siapa yang kuat itu yang bisa dekat.
Sedangkan pada ayat 27, perempuan ini sudah mendengar
berita-berita.
Markus 5:27
(5:27) Dia sudah mendengar
berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia
mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.
Jadi, sudah banyak hal ia dengar tentang Yesus. Itu
sebabnya, di tengah-tengah orang banyak itu, ia mendekati Yesus dari belakang
dan menjamah jubah-Nya. Jadi, ada suatu perjuangan untuk mendekat kepada
Yesus dan ia berhasil menjamah ujung jubah Yesus.
Pendeknya, di tengah-tengah kondisi tubuh yang lemah, tubuh
yang tidak berdaya, namun perempuan itu berjuang untuk mencapai ujung jubah
Yesus. Ia tidak langsung putus asa karena kelemahan, kekurangan, karena dicap
sebagai orang yang tidak baik, dicap sebagai orang yang memalukan. Dia tidak
putus asa dengan perkara-perkara tersebut, sebaliknya, dia tetap berjuang untuk
mencapai ujung jubah Yesus.
Singkat kata, ujung jubah Yesus adalah pelarian yang
terakhir bagi perempuan yang sakit lelehan darah tersebut, tidak ada yang
lain. Dia sudah pergi ke berbagai tabib tetapi tidak kunjung sembuh, bahkan,
ketika ia berobat dia harus menghabiskan hartanya. Kemudian, keadaannya bukan
membaik malah semakin parah.
Jadi saudara, pelarian terakhir kita adalah ujung jubah
Yesus dalam kuasa kebangkitan-Nya, tidak ada yang lain. Saat punya masalah,
jangan putus asa dan lemah. Saat dicap sebagai orang yang memalukan karena
perbuatan masa lalu, jangan putus asa, justru kita harus datang kepada ujung
jubah Yesus dalam kuasa kebangkitan-Nya, kita harus semakin sungguh-sungguh
beribadah dan melayani Tuhan. Sakit penyakit tidak dapat menghalangi kita untuk
datang kepada ujung jubah Yesus. Batuk pilek, capek sedikit, jangan terlalu
dibesar-besarkan. Padahal sakitnya pun dibuat sendiri karena suka pergi (suka
jalan-jalan). Kita sudah harus tahu
jam-jam ibadah saudara.
Tetapi lihatlah perempuan yang menderita lelehan darah ini,
ia sudah sakit selama 12 tahun, penyakitnya kronis, tetapi ia tidak putus asa.
Jadi, semoga kita semua sebagai suami, isteri atau anak, tidak menjadikan batuk
atau pilek sebagai “kambing hitam” untuk tidak datang dalam suasana kebangkitan
Tuhan Yesus (ibadah dan pelayanan).
Sebagai imam / kepala, saya harus memberi contoh kepada
isteri saya. Tetapi kalau ada suami yang tidak bisa menjadi contoh, isteri juga
bisa menjadi contoh dan teladan di dalam pengikutannya kepada Tuhan, jangan
justru sepakat dengan suami. Jangan sampai satu rumah sepakat untuk tidak
datang ke ujung jubah Yesus.
Sekali lagi saya sampaikan: ujung jubah Yesus adalah
pelarian yang terakhir bagi perempuan yang sakit lelehan darah selama 12 (dua
belas) tahun. Namun, perlu untuk diketahui: sebelum ia menjamah ujung jubah
Yesus, ternyata ia telah mendengar berita-berita tentang Yesus. Jadi hal-hal tentang
Yesus sudah ia ketahui, dan itu yang memotivasi dirinya untuk datang
kepada Tuhan.
Saudara, kita sudah banyak mendengar berita tentang Tuhan
Yesus Kristus yang telah menderita sengsara dan mati di kayu salib, kemudian
pada hari ketiga bangkit. Dan Ia selama empat puluh hari dalam suasana
kebangkitan di bumi, lalu Ia naik berarti dipermuliakan, duduk di sebelah kanan
Allah Bapa. Dan berita-berita tentang hal ini sudah kita terima berulang-ulang
kali dalam setiap pertemuan ibadah, seharusnya itu menjadi motivasi.
Semakin ia mendengar berita tentang Yesus, semakin ia
didorong untuk mendekat Yesus. Bayangkan, di situ banyak orang
berdesak-desakan, sikut-sikutan dan berhimpit-himpitan, bagaimana mungkin orang
yang tidak berdaya, orang yang sudah menderita 12 tahun, kurus kering, bisa
mendekat? Tetapi tekad yang kuat karena mendengar berita-berita tentang
Yesus yang sudah ia dengar selama ini memotivasi dia dan mendorong dia untuk
datang kepada ujung jubah Yesus. Jadi, kita harus bergantung pada ujung jubah
Yesus, jangan bergantung kepada manusia sekalipun ia ahli dalam bidangnya.
Itu juga yang memotivasi saya untuk tidak bergantung kepada
manusia, siapapun dia selain bergantung kepada Yesus dalam kuasa
kebangkitan-Nya --- Bagaikan buah delima bergantung pada ujung jubah imam besar
agung.
Mari kita baca…
Pengkhotbah 12:12 --- Perikop: “Akhir kata”
(12:12) Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku
tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.
Firman Tuhan Allah berkata: waspadalah!
(diakhiri dengan tanda seru) berati; sebuah peringatan kepada kita.
-
Membuat banyak buku tak
akan ada akhirnya
Tidak salah menulis buku, tidak salah menjadi
pencipta buku, penulis buku, tetapi di sini dikatakan; Membuat banyak buku
tak akan ada akhirnya. Perjalanan rohani gereja Tuhan di atas muka bumi ini
berakhir dalam sebuah rencana yang indah itulah pesta kawin Anak Domba.
Berarti; ada upah dalam pengikutan kita kepada Tuhan. Tetapi membuat banyak
buku tidak ada akhirnya., sangat melelahkan.
-
Banyak belajar
melelahkan badan.
Tetapi tidak salah,
sebagai seorang pelajar atau murid memang harus belajar tidak boleh tidak.
Tetapi Alkitab berkata; banyak belajar melelahkan badan. Orang yang
tidak peduli dengan kuasa kebangkitan Yesus, dia akan menjadi kutu buku;
buku-buku apa saja dipelajari, itu yang melelahkan badan -- belajar ini, belajar itu.
Artinya, sebetulnya semua itu tidak berguna. Yang
terpenting adalah gereja Tuhan / Sidang Jemaat, harus bergantung kepada Kristus
dalam kuasa kebangkitan-Nya, itu saja. Dan tidak boleh ada perkara yang bisa
menghalangi, baik itu rasa lelah, jemu, jengkel atau karena sakit flu, batuk
demam, atau alasan-alasan lainnya, tidak boleh jadi penghalang untuk datang
kepada Tuhan, selanjutnya menjamah ujung jubah-Nya.
Penghkotbah 12:13
(12:13) Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah
akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini
adalah kewajiban setiap orang.
Akhir kata dari segala yang di dengar:
-
Takutlah akan Allah.
Perlu untuk diketahui:
Takut akan Allah = benci kepada kejahatan antara
lain;
1.
Kesombongan.
Kalau melihat anak sombong; tegor. Kalau anak salaman pakai
tangan kiri, tegor. Kalau anak-anak lewat dari depan orang lain, tetapi tidak
permisi (tidak tunduk); tegor. Jangan biarkan anak kita bodoh.
Ada anak seorang hamba Tuhan dibiarkan bodoh dan sampai hari
ini tidak mau beribadah.
Kalau ada seorang anak tidak karu-karuan bicaranya padahal
saat itu ada orang tua, langsung tegor.
2.
Kecongkakan = tinggi hati / sombong.
3.
Tingkah laku yang jahat / perbuatan-perbuatan yang tidak baik.
4.
Mulut penuh muslihat
Kami suami isteri di rumah, dusta sedikit saja, langsung
tahu. Ini bukan sedang pamer-pamer, tetapi fakta. Sedikit saja melenceng, saya
dan isteri sangat peka. Dan yang melenceng itu harus kami bahas. Jadi, kalau
ada yang melenceng sedikit saja dalam perkataan, kami tidak biarkan, biarpun
alasannya; itu bercanda. Pendeknya, jenis dusta apapun harus dibenci.
-
Berpeganglah pada
perintah-perintah-Nya.
Itulah sebabnya, perempuan itu memiliki suatu tekad yang kuat. Sekalipun ia dalam keadaan sakit, berada dalam
kelemahan, dia tetap datang kepada Tuhan, dia pegang pada janji Firman Tuhan
dalam kuasa kebangkitan Yesus.
Kedua hal ini merupakan KEWAJIBAN SETIAP ORANG. Menjadi kutu
buku boleh, menjadi pengarang cerita boleh, tetapi itu bukan kewajiban.
Jadi saudara, perempuan yang menderita lelehan darah ini
mengerti kewajiban. Tetapi banyak orang Kristen, sudah banyak dengar
Firman Tuhan, akhir kata yang diterima adalah menuntut hak dan berkata;“Aku
tidak diperhatikan”, padahal kewajibannya tidak ditunjukkan kepada Tuhan,
ini bodoh namanya. Mau diperhatikan, tetapi kewajibannya tidak ada, tuntut hak
kepada Tuhan, tetapi kewajiban tidak ada, itu keliru, tidak seimbang. Padahal
soal leher harus ada di tengah-tengah, harus ada pada poros yaitu; keadilan.
Singkat kata, kewajiban anak-anak Tuhan adalah:
- Takut
akan Allah, berarti; tidak berani berbuat dosa di
tempat yang tersembunyi, sehingga kita tetap segambar dan serupa dengan Allah. Itu menunjuk kepada Pengajaran Tabernakel. Allah adalah
rumah Tuhan (Tabernakel).
- Berpegang
kepada Firman Allah yakni; Firman Pengajaran
Mempelai.
Singkat kata, kewajiban kita adalah berpegang teguh kepada Firman
Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel = pedang bermata dua.
-
Sisi pertama dari Pedang itulah Firman
Pengajaran Mempelai.
-
Sisi kedua dari Pedang itulah Pengajaran Tabernakel.
Ibrani 4:12
(4:12) Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam
dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan
jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan
pertimbangan dan pikiran hati kita.
Firman Allah itu hidup dan kuat.
Hidup berarti; beraktivitas, bekerja untuk mengerjakan
kehidupan kita. Lebih kuat dari pedang bermata dua manapun yang ada di dunia
ini. Hal itu dibuktikan dengan; menusuk amat dalam sehingga memisahkan;
-
Jiwa dan roh
-
Sendi-sendi dan sumsum
-
Sanggup membedakan
pertimbangan dan pikiran hati
Dengan lain kata, pedang bermata dua sanggup mengadakan
penyucian terhadap perasaan manusia terdalam. Kita hanya bisa melihat bagian
luar, tetapi perasaan manusia bagian dalam siapa yang bisa melihat?
Singkat kata, dari sini kita bisa melihat, perempuan yang
mengalami lelehan darah selama 12 tahun ini menyerahkan diri untuk disucikan
oleh pedang bermata dua sampai kepada penyucian perasan yang terdalam. Ia
serahkan dirinya untuk disucikan.
Saya tidak bisa melihat isi hati saudara sekarang seperti
apa, tetapi Tuhan maha tahu dan maha melihat. Dia Firman menjadi manusia, Dia
pedang yang lebih tajam dari pedang bermata dua manapun. Dialah Firman
Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel yang sangat berkuasa mengadakan
penyucian terhadap manusia yang terdalam sekalipun. Inilah kewajiban kita. Jadi
saudara, menjadi pengarang dan penulis buku, dan banyak belajar itu tidak
salah, sah-sah saja, tetapi itu bukanlah kewajiban kita.
Inilah yang memotivasi perempuan ini sehingga dalam keadaan
berdesak-desakan, berhimpit-himptan, tetapi terus maju, terobos, kalau manusia
berkata; entah kekuatan dari mana. Tetapi kita sudah melihat ini adalah
kekuatan dari kuasa kebangkitan. Tidak punya uang tetap datang beribadah, tidak
punya apa-apa tetap datang beribadah dan melayani Tuhan. Ada sakit penyakit
tetap datang, tidak ada yang bisa menghalangi dia. Dia terobos segala halangan
yang menghimpit, sampai ia menjamah ujung jubah Yesus. Inilah keadaan seseorang
bila mengerti akhir kata yang dia dengar; pasti ada kekuatan baru.
Kiranya kita semua yang ada malam ini dan juga yang
mengikuti secara online memahami, terkait dari kebenaran Firman Allah.
Kehidupan ini diukur oleh Firman Allah saja. Jangan kita ukur dengan pengertian
sendiri, nanti bisa keliru. Kita bisa menganggap sudah rohani padahal belum.
Sekarang kita lihat keadaan orang yang mengalami lelehan
dalam…
Imamat 15:25-26
(15:25) Apabila seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan
lelehan, yakni lelehan darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, atau apabila
ia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar kainnya, maka selama
lelehannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti pada hari-hari cemar
kainnya, yakni ia najis. (15:26) Setiap tempat tidur yang ditidurinya,
selama ia mengeluarkan lelehan, haruslah baginya seperti tempat tidur pada
waktu cemar kainnya dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis sama seperti
kenajisan cemar kainnya.
Menurut ayat ini, perempuan ini sangat menderita sekali
bahkan ia disingkirkan dari komunitasnya, dari keagamaannya. Karena, setiap
kali dia dekat dengan sesuatu, semua itu menjadi najis, maka ia harus
disingkirkan terlebih dahulu. Saya rasa hal ini dapat membuat mental seseorang
down. Kalau mental down, moral juga jadi rusak, biasanya seperti itu. Sebab itu
jangan biasakan orang lain dibuat mentalnya down, karena kaitannya; moral jadi
rusak.
Oleh sebab itu, kalau kita bicara jangan seringkali
mengecilkan orang lain. Suami jangan mengecilkan isteri, nanti mentalnya down;
hargai pendapatnya. Begitu juga kita sebagai keluarga GPT Betania Serang &
Cilegon, hargailah satu dengan yang lain. Hargai pendapat orang lain, jangan buat
mental seseorang down / jatuh, nanti efek sampingnya tidak baik, moralnya
rusak, perbuatan jahatnya jadi tidak karu-karuan. Saya juga sebagai pemimpin
seperti itu; menghargai, padahal saya sudah tau orang ini kemarin merokok, tapi
dia bilang tidak, tetap saya hargai. Saya tahu orang ini main HP sampai larut
malam, tetapi saya hargai dia. Saya harus tegas, tetapi belajar untuk
menghargai pendapat orang lain.
Jadi saudara, jangan suka menjatuhkan mental orang lain,
jangan suka menjustifikasi. Belum waktunya kita menghadapi penghakiman, nanti
ada takhta putih. Sebab hanya satu Allah dan satu pembuat hukum, Dialah yang
layak untuk menghakimi (Yakobus 4:2). Meskipun seseorang tidak punya
apa-apa, jangan dihakimi. Buat dia teguh dan tegap berdiri dihadapan Tuhan.
Oleh sebab itu, untuk para imam; perhatikanlah hal ini, jangan suka menghakimi
orang lain. Mungkin mulut tidak menghakimi, tetapi rohmu suka menghakimi; jangan
lagi.
Kembali kita melihat kondisi perempuan pada ayat ini, dia
disingkirkan dan diasingkan dari dunia sosialnya, dunia keagamaannya, selama
dia ada dalam lelehan. Betapa hati kecilnya itu menjerit dalam hari-hari yang
dia lalui. Tetapi Tuhan tahu, Tuhan melihat hati kita. Kalau kita bergantung
pada ujung jubah-Nya, segala rasa malu selama ini akan dihapuskan dari hidup
kita. Kuasa maut, kuasa dosa, sakit penyakit, semua dilenyapkan.
Kita kembali membaca…
Markus 5:29
(5:29) Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia
merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.
Akhirnya, pada saat ia menjamah ujung jubah Kristus, dengan
kata lain; berada dalam suasana kebangkitan, seketika itu juga berhentilah
pendarahannya. Kalau ada komitmen dalam diri kita masing-masing, ada tekad yang
bulat, seketika itu juga berhenti segala kesusahan, sakit penyakit, semua dosa,
semua dilenyapkan.
Sesudah berhenti pendarahannya, ia merasa sudah sembuh dari
penyakitnya, berarti sudah merasa lega, merasa bahagia, sudah plong, sudah
bebas dari segala penyakit. Yang tersisa rasa bahagia dan nikmat dihadapan
Tuhan, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, tetapi nampak dari air
mata. Bukan air mata kesusahan, tetapi air mata kebahagiaan, itu yang tersisa.
Jadi saudara, kita adalah jemaat Tuhan / gereja Tuhan yang
ternyata mendapat perhatian besar sebagaimana perempuan yang menderita karena
mengalami lelehan darah selama 12 (dua belas) tahun. Dan angka 12 (dua belas)
juga berbicara soal persekutuan dengan Tuhan. Jadi, persekutuan yang benar
adalah bersekutu dan bergantung pada Kristus dalam kuasa kebangkitan-Nya, tidak
kepada yang lain-lain. Hargailah ibadah dan pelayanan dan yang terkait di
dalamnya, sebab itu keluar dari pengalaman kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus
Kristus, itu saja yang kita hargai dan kita harus bergantung kepada itu, tidak
kepada yang lain, itulah kewajiban kita.
Akhir kata yang di dengar:
1.
Takutlah akan Allah.
2.
Berpeganglah pada
perintah-perintah-Nya.
Itulah kewajiban setiap orang. Bekerja tidak salah, kutu
buku tidak salah, tetapi bukan suatu kewajiban. Tetapi tekun tiga macam ibadah
pokok adalah kewajibanmu. Melayani di tengah-tengah ibadah itu adalah kewajiban
kita. Engkau tidak perlu sampai overtime dan tinggalkan ibadah, itu
bukan kewajiban kita. Sebab itu orang tua harus didik anak-anak untuk
beribadah, dan anak-anak harus berjuang untuk masa depanmu. Masa depanmu di
tangan Tuhan bukan pada pekerjaanmu, ijazahmu, bisnismu. Sebelum engkau
menyesal dan nanti nangis darah, lebih baik hari ini saya sampaikan dengan
tegas, seperti menarik puntung dari api, supaya kita diselamatkan, ditolong
oleh kuasa kebangkitan.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA
MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman oleh;
Gembala sidang: Pdt. Daniel U.
Sitohang
.jpg)
