KAMI NANTIKAN KESAKSIAN-KESAKSIAN SAUDARA YANG SUDAH MEMBACA FIRMAN TUHAN PADA BLOG INI

Terjemahan

Search This Blog

IBADAH RAYA MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026



IBADAH RAYA MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

KITAB WAHYU

WAHYU 20:1-3

(SERI: 5)


Subtema: DI ZONA BERJAGA-JAGA, JANGAN DI ZONA NYAMAN


Shalom

Salam sejahtera di dalam kasih-Nya TUHAN kita Yesus Kristus, yang telah menghimpunkan kita di atas gunung TUHAN yang kudus, sehingga kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Raya Minggu yang disertai kesaksian Roh. Kita ada dalam hadirat-Nya, diliputi oleh kuasa Ilahi, Roh TUHAN mendominasi seluruh kehidupan kita,  kehendak-Nya jadi dalam setiap kehidupan kita masing-masing. 


Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN,  yang turut bergabung lewat online / live streaming / video internet, baik dari YouTube, maupun Facebook, ataupun Tiktok. 

Biarlah kiranya damai sejahtera dari Sorga memenuhi ruangan ini, memenuhi hati kita masing-masing, juga saudara yang turut bergabung lewat online. Sehingga kita dapat merasakan sukacita sorgawi, serta bahagia saat kita duduk diam menikmati sabda Allah. 


Selanjutnya, marilah kita mengikuti KITAB WAHYU sebagai Firman penggembalaan Untuk Ibadah Raya Minggu,  dari  Wahyu 20:1-3. Dan malam ini merupakan seri pemberitaan firman Allah yang kelima kalinya. 

Namun tetaplah berdoa dalam Roh, mohonlah kemurahan TUHAN, supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi. 


Wahyu 20:1-3 --- Perikop: “Kerajaan seribu tahun”

(20:1) Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; (20:2) ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, (20:3) lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya.


Malaikat yang turun dari Sorga, tidak lain tidak bukan itulah pribadi Tuhan Yesus Kristus: menangkap naga si ular tua dan mengikatnya seribu tahun lamanya. Lalu melemparkan naga itu ke dalam jurang maut dan memeteraikannya di atasnya.


Singkat kata, Tuhan menghadirkan kerajaan damai selama 1000 tahun di bumi ini, sama artinya Tuhan menghadirkan Firdaus kembali ke dunia ini. 

Di dalam kerajaan 1000 tahun damai:

  • tidak ada lagi godaan dan dosa

  • tidak ada lagi kesusahan, derita, sengsara dan air mata

  • tidak ada lagi kekuatiran tentang apa yang akan dimakan, diminum, dan dipakai dan tidak kuatir tentang masa depan.


Intinya, tidak ada lagi hal-hal yang ditakutkan, dikuatirkan, dicemaskan, sebab kerajaan 1000 tahun damai di bumi adalah hari perhentian yang besar bagi manusia dan bagi nikah-nikah di atas muka bumi ini. Karena kita tahu sebelum naga itu ditangkap, manusia penuh dengan dosa dan oleh dosa manusia menjadi telanjang dan tanda “telanjang”; manusia tidak berada pada hari perhentian, sehingga manusia mengalami kelelahan, menghadapi derita, sengsara, air mata dan kepahitan.

Pendeknya; dengan hadirnya kerajaan seribu tahun damai di bumi, Allah telah menudungi segenap bumi. Soal menudungi telah kita bahas pada mingu yang lalu.


Kemudian Kerajaan 1000 tahun damai di bumi bila dikaitkan dengan Peta Zaman terkena pada HARI KETUJUH.


GAMBAR PETA ZAMAN


  • 2000 tahun pertama disebut zaman Allah Bapa, dari Adam sampai Abraham.

  • 2000 tahun kedua disebut zaman Anak Allah, dari Abraham sampai Yesus mati.

  • 2000 tahun ketiga disebut zaman Roh El Kudus, dari Yesus mati sampai saat ini.

Jadi, disini kita melihat ada 3 x 2000 = 6000 = 6 HARI di hadapan TUHAN. 

Sedangkan HARI KETUJUH -> 1000 tahun damai di bumi. Berarti Tuhan menghadirkan kembali Firdaus di bumi ini.

Dengan demikian, hari ketujuh/kerajaan 1000 tahun damai itu adalah masa depan dan tujuan hidup kita. Berarti, hari perhentian yang besar adalah tujuan hidup kita.

Doa dan harapan saya kiranya kita semua kelak berada pada kerajaan seribu tahun damai. 

Oleh sebab itu, hendaklah kita semua berada didalam rencana Allah yang besar, jangan lari/keluar dari rencana Allah, supaya kita juga boleh berada pada hari perhentian yang besar, itulah kerajaan 1000 tahun damai di bumi ini.


Kita lihat kelanjutan dari HARI KETUJUH/KERAJAAN SERIBU TAHUN DAMAI pada…

2 Petrus 3:8

(3:8) Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.


Perlu untuk kita ketahui, di hadapan Tuhan 1 hari = 1000 tahun, sebaliknya 1000 tahun = 1 hari.

Berarti jelas, 1 (satu) hari adalah hari ke-7 (tujuh) -> kerajaan 1000 tahun damai.

Jadi, untuk berada pada kerajaan 1000 tahun damai, maka kita harus menggunakan 6 hari untuk mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar. Gunakanlah kesempatan itu sebaik mungkin, jangan di sia-siakan.


2 Petrus 3:9

(3:9) Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.


Panjang sabar Tuhan adalah KESEMPATAN bagi kita untuk berbalik kepada Tuhan dan bertobat.

BERTOBAT artinya: berhenti berbuat dosa dan kembali kepada Allah = bertobat 100%. 

Kalau hanya berhenti berbuat dosa = bertobat 50%, oleh sebab itu kalau kita sudah berhenti berbuat dosa, selanjutnya kembalilah kepada Allah, kepada Sang Khalik, maka Tuhan akan memelihara, melindungi, membela kita sampai Tuhan datang kembali sebagai Raja dan Mempelai Laki-laki Sorga.


Kita buktikan…

1 Petrus 2:25

(2:25) Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.


Singkat kata; “kembali kepada gembala” artinya: menjadi satu kehidupan domba yang tergembala.

TERGEMBALA berarti: domba-domba diberi makan, diberi minum, dan diberi nafas hidup.

1. Diberi MAKAN -> Ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci.

2. Diberi MINUM -> Ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu disertai dengan Kesaksian Roh ... 1 Korintus 12:13.

3. Diberi NAFAS HIDUP -> Ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan. Jadi penyembahan adalah nafas hidup.


Saudara, kita memang perlu makan, perlu minum, tetapi lebih dari pada itu kita juga harus memiliki nafas hidup, yaitu;  DOA PENYEMBAHAN. Artinya kita harus tekun dalam 3 macam  ibadah pokok.

Seseorang boleh saja makan, dan minum tetapi kalau tidak memiliki nafas hidup maka ia binasa. Tetapi sebaliknya orang yang makannya terbatas, minumnya terbatas, tetapi ada nafas hidup maka dia hidup. Demikianlah gembala memelihara jiwa domba-domba, maka kita harus menjadi satu kehidupan yang tergembala.


Banyak orang kristen tidak mengerti soal tergembala, itu sebabnya mereka datang beribadah dengan sesuka hati. Tetapi kehidupan yang sudah menyadari jiwanya adalah satu kehidupan domba yang tergembala, maka dia harus menyerahkan dirinya untuk digembalakan seorang gembala yang akan terus memlihara jiwanya lewat makanan, minuman dan nafas hidup.


Intinya; ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok adalah sarana/kereta api yang baik dari Tuhan untuk membawa kehidupan gereja Tuhan sampai kepada tingkat ibadah yang tertinggi atau berada pada puncak ibadah yaitu DOA PENYEMBAHAN.

Doa penyembahan adalah zona berjaga-jaga. Biarlah kiranya kita semua berada pada zona berjaga-jaga.

Sebaliknya, tidak berada di zona berjaga-jaga = hidupnya ada pada ujung tanduk.


2 Petrus 3:10A

(3:10) Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.


"… Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri ..." Artinya: tidak ada orang yang tahu, kapan Tuhan datang kembali ke dalam dunia yang fana ini, untuk yang kedua kalinya. Oleh sebab itu, gereja Tuhan sudah seharusnya berada di zona berjaga-jaga.


Kalau berada pada zona berjaga-jaga kita tidak pusing kapan saja Tuhan datang. Kalau soal makan dan minum pasti Tuhan pelihara, sebab tidak ada anak-anak Tuhan yang tidak dipelihara oleh Tuhan. Seharusnya yang kita pikirkan sekarang ini, adalah bagaimana hidup rohani kita berada pada zona berjaga-jaga, kalau soal masa depan ada di tangan Tuhan, asal kita tekun dalam tiga macam ibadah pokok.

Soal gaji 2 juta, 3 juta, atau berapa saja tidak perlu dipusingkan, sebab masa depan dari anak-anak Tuhan, tetap ada di tangan Tuhan.


Pokok pemikiran kita sekarang ini adalah bagaimana kita memanfaatkan inventaris yang Tuhan sudah percayakan tadi kepada kita, itulah kereta api rohani yaitu; ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok, sebagai sarana yang efektif dan sistematis untuk membawa kita sampai kepada tingkat ibadah yang tertinggi (puncak ibadah) itulah doa penyembahan.

Jadi jangan pusing soal apa yang akan di makan dan di minum dan apa yang akan dipakai, semua itu adalah bagian Tuhan, sedangkan bagian kita adalah bekerja. Jadi bagian Tuhan adalah; memenuhi hak kita, yaitu hari ketujuh/kerajaan seribu tahun damai, ini yang akan dipenuhkan oleh Tuhan. Sementara bagian kita adalah 6 hari bekerja, maka kerjakanlah keselamatan itu dengan takut dan gentar.


Jadi yang diperlukan oleh gereja Tuhan didalam hal menanti-nantikan kedatangan Tuhan kembali ke dalam dunia yang fana ini adalah berada pada zona berjaga-jaga -> doa penyembahan.


Lebih jelas lagi tentang: BERJAGA-JAGA

1 Tesalonika 5:1-2 --- Perikop: "Berjaga-jaga."

(5:1) Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, (5:2) karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.


“Tentang zaman dan masa tidak perlu dituliskan kepada kita” atau tentang kedatangan Tuhan kembali ke dalam dunia ini tidak perlu dituliskan, baik jam, hari, bulan dan tahun tidak perlu dituliskan.

Yang pasti kedatangan Tuhan ke dalam dunia yang fana ini untuk yang kedua kalinya, sama seperti PENCURI pada malam hari. Itulah sebabnya kita harus berada di zona berjaga-jaga untuk menantikan kedatangan-Nya kembali. 


1 Tesalonika 5:3

(5:3) Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman -- maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin -- mereka pasti tidak akan luput.


Disini kita melihat; adanya orang-orang yang bermasa bodoh, mereka berkata: DAMAI dan AMAN hanya karena segala sesuatu yang dimilikinya.

Dari perkataan ini kita bisa melihat; orang-orang yang bermasa bodoh ini mengentengkan tentang hari kedatangan Tuhan kembali untuk yang kedua kalinya ke dalam dunia ini. Sebab mereka merasa damai dan aman hanya karena ia merasa tercukupkan.


1 Tesalonika 5:4-5

(5:4) Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, (5:5) karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.


Orang-orang yang bermasa bodoh itulah orang-orang yang mengentengkan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya, sedangkan kedatangan Tuhan kembali kedalam dunia ini sama seperti pencuri, tidak ada yang tahu kapan Tuhan datang, maka disebutlah mereka itu sebagai orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.

Pendeknya, orang-orang malam/orang-orang kegelapan mengentengkan ibadah dan pelayanan.


Kita akan melihat tentang orang-orang malam dan orang-orang kegelapan. 

Terkait: “ORANG-ORANG MALAM” -> orang-orang yang tidak mengenal siang.

Tabiatnya: Suka tidur -> SI PEMALAS.


Mari kita lihat SI PEMALAS…

Amsal 24:30

(24:30) Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi.


Di sini kita melihat ada 2 (dua) orang, yaitu: SI PEMALAS dan ORANG YANG TIDAK BERAKAL BUDI.

  1. “… Si pemalas mempunyai sebidang ladang …”

Saudara, kita mempunyai HATI, biarlah itu dijadikan sebagai ladangnya Tuhan, untuk selanjutnya digarap dan dikerjakan oleh Tuhan sehingga menjadi lahan/ladang yang subur.

Selanjutnya Tuhan akan menaburkan benih Ilahi di atas ladang yang subur yaitu benih Firman Allah, benih Roh Allah, dan benih Kasih Allah. Ketiga benih yang ditaburkan itu akan bertumbuh, berakar dan berbuah.


  • Biarlah kiranya kita dipenuhkan dengan FIRMAN ALLAH, sehingga tabiat Yesus, Anak Allah nampak dalam kehidupan kita masing-masing yaitu melakukan apa yang menjadi kehendak Allah atau disebut Minum cawan Allah.


  • Biarlah kita semua penuh dengan Roh Allah yang suci, kita diurapi oleh Roh Allah yang suci.

Tanda seseorang diurapi oleh ROH ALLAH yang suci: “… tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu -- dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta … “ 1 Yohanes 2:27.

Seumpama ketika berada ditengah-tengah ibadah dan pelayanan, kita tidak perlu diajar. Ketika selesai ibadah kita akan bongkar pasang barang-barang seperti; tarik kabel dan digulung lagi, baik komputer, laptop, termasuk mic, alat musik, kabel-kabel dan perangkat lainnya juga, sound sistim dengan perangkat lainnya, memang hal itu kita kerjakan begitu ribet. Tetapi kalau dia penuh dengan Roh Allah salah satu dari benih Ilahi, maka dia tidak perlu diajar untuk mengerjakan semuanya itu, karena Roh Allah itu akan mengajarkan dia tentang segala sesuatu dan pengajaranNya itu benar, tidak dusta.


  • Selanjutnya biarlah kita juga penuh dengan KASIH ALLAH.

Tandanya: kita sanggup menutupi banyak sekali dosa dan kita sanggup mengampuni orang yang bersalah = Tidak ingat-ingat kesalahan masa lalu.


Biarlah kiranya 3 (tiga) dari benih Ilahi ini, memenuhi hati kita masing-masing. Jadikanlah hati kita masing-masing sebagai ladang Allah untuk digarap dan dikerjakan, sehingga menjadi ladang yang subur, selanjutnya siap untuk ditaburi dengan 3 jenis benih Ilahi. 


  1. “… Orang yang tidak berakal budi mempunyai kebun anggur …”

Kebun anggur -> Tanah perjanjian yaitu tanah air Sorgawi kelak menjadi milik pusaka yang diwariskan Tuhan kepada kita. Simulasinya nampak dengan jelas; 12 suku Israel dibawa ke tanah perjanjian, lalu tanah perjanjian itu dibagi-bagi menurut suku-suku Israel tadi, dan itu adalah milik pusaka yang diwariskan kepada keturunan dan tidak boleh beralih kepada suku-suku yang lain. Contoh: Tanah yang diwariskan kepada suku Ruben tidak boleh dialihkan kepada suku yang lain, demikian juga tanah yang diwariskan kepada suku Simeon tidak boleh beralih kepada suku yang lain, itu adalah milik pusaka yang harus dipertahankan.


Kita sekarang berada di kebun anggur Tuhan, ada di tengah ibadah dan pelayanan yang harus dipertahankan, jangan pernah dilepaskan, teramat lebih pelayanan yang Tuhan percayakan jangan pernah melepaskannya. Kalau sudah berada di tengah-tengah kebun anggur Allah (ibadah dan pelayanan), tetaplah itu dipertahankan, karena dari situlah kita nanti memperoleh milik pusaka yaitu; tanah air sorgawi yang diwariskan oleh TUHAN. 


Jadi kebun anggur (ibadah dan pelayanan) itu adalah tanah perjanjian; tanah air sorgawi kelak menjadi milik pusaka yang diwariskan oleh Tuhan. Itulah sebabnya kebun anggur harus dipertahankan, sama seperti Nabot rela mempertaruhkan segalanya bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi milik pusaka yaitu; tanah air Sorgawi dalam 1 Raja-Raja 21.


1 Raja-Raja 21:1-2 --Perikop: Kebun anggur Nabot 

(21:1) Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria. (21:2) Berkatalah Ahab kepada Nabot: "Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang."


Disini kita melihat; Ahab menginginkan kebun anggur Nabot dengan 2 (dua) tawaran, antara lain; 

  • Ahab akan memberikan kebun anggur yang lebih baik.

  • Ahab akan menggantinya dengan membayar harganya dengan uang.

Saudara, hal-hal yang nampaknya lebih baik di dunia ini, kemudian uang yang banyak itu tidak akan berarti bagi orang yang mempertahankan kebun anggurnya dan bagi orang yang mempertahankan milik pusakanya.

Sesuatu yang nampak lebih baik dari dunia ini, dan yang kelihatannya uang bisa menentukan segala sesuatu. Tetapi bagi orang yang menghargai milik pusaka, dia tidak akan mau melepaskan kebun anggurnya karena itu adalah milik pusaka yang diwariskan oleh nenek moyang.


Tadi saya sudah katakan; milik pusaka itu tidak boleh beralih kepada suku-suku yang lain. 12 suku Israel sudah dibawa ke tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan oleh Tuhan, lalu 12 belas suku Israel mendapat warisan (sebidang tanah) sesuai dengan jumlah suku-suku mereka, lalu dibagi-bagi.

Demikianlah Nabot mempertahankan milik pusakanya. Sekalipun Ahab menawarkan dua hal, yaitu: sesuatu yang lebih baik di dunia ini, namun Nabot menolaknya, Nabot juga tidak peduli dengan tawaran uang yang banyak. 

Bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki prinsip yang sama seperti Nabot? Yang mempertahankan kebun anggur sebagai milik pusaka lebih dari sesuatu yang dijanjikan di dunia ini, dan lebih dari uang yang banyak.


1 Raja-Raja 21:3

(21:3) Jawab Nabot kepada Ahab: "Kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!"


Nabot mempertahankan kebun anggurnya, Nabot tidak menyerahkan milik pusakanya kepada raja Ahab.

Ahab sebetulnya orang Israel juga, tentu saja dia menerima warisan, sebagai milik pusaka dan dia harus mempertahankan milik pusakanya dan Ahab juga mengerti, tetapi pengertian itu diabaikan oleh Ahab karena keserakahannya. Itu sebabnya Ahab menghendaki kebun anggur Nabot.

Memang Ahab ini terlalu kejam, dia tidak peduli dan tidak memikirkan keselamatan jiwa-jiwa, Ahab ini adalah gambaran dari hamba Tuhan yang tidak bisa diteladani, dia raja tetapi tidak memahami rakyatnya. 

Semestinya Ahablah yang memberi pengertian kepada rakyatnya supaya baik Ahab, dan nikahnya dan seluruh rakyatnya memperoleh tanah air sorgawi sebagai milik pusaka yang Tuhan wariskan kepada kita. 

Tetapi sayangnya pemilik kebun anggur yang dituliskan pada Amsal 24:30 ternyata adalah seorang yang tidak berakal budi, dan tidak bijaksana, artinya; tidak memiliki pandangan yang jauh ke depan. 

Kalau saja dia bijaksana, dia akan sama seperti Nabot, dia akan mempertahankan kebun anggurnya sekalipun ada tawaran sesuatu yang nampak lebih baik dari dunia ini, dan sekalipun ada tawaran uang yang banyak.


Itulah tentang Amsal 24:30; berbicara soal; si pemalas dan orang yang tidak berakal budi. 

Si pemalas memiliki sebidang ladang sementara orang yang tidak berakal budi memiliki kebun anggur.

Apalah artinya sebidang tanah bagi si pemalas? Apalah artinya kebun anggur bagi orang yang tidak berakal budi/bagi orang yang bodoh? … TIDAK ADA ARTINYA. 

Singkat kata, kerajaan Sorga tidak ada artinya, bagi orang bodoh dan orang yang tidak berakal budi. 


Apakah kita sama seperti si pemalas dan orang yang tidak berakal budi ini? Saya tidak mengerti jawabannya, buktikan saja dalam perbuatan sehari-hari didalam hal menantikan kedatangan Tuhan kembali untuk yang kedua kalinya.

Saudara jawablah pertanyaan itu, … lewat sikap dan perbuatan yang harus kita tunjukkan kepada Tuhan.


Amsal 24:30-31

(24:30) Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. (24:31) Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh.


Disini kita melihat ladang si pemalas dan kebun anggur yang tidak berakal budi, ditumbuhi oleh onak duri atau semak duri.

Itu sebabnya saya katakan; kebun anggur tidak ada artinya, bagi orang bodoh, dan sebidang tanah tidak ada artinya bagi si pemalas. 


Pendeknya, tidak ada sesuatu yang dapat diperoleh dari si pemalas dan tidak ada sesuatu yang dapat diperoleh dari orang yang tidak berakal budi itulah orang bodoh, kecuali hanya menusuk dan menyakiti hati Tuhan saja, persis seperti onak dan duri.


Sampai kapan kita berlaku malas dan bodoh (tidak berakal budi)? Dengan lain kata; sampai kapan kita menusuk dan menyakiti hati Tuhan?

Sampai kapan seorang anak menusuk (menyakiti) hati orang tuanya? Sampai kapan seorang isteri menusuk (menyakiti) hati suaminya? Sampai kapan seorang suami menusuk (menyakiti) hati isterinya? Sampai kapan menantu, mertua menusuk (menyakiti) hati mertua dan menantunya? Tetapi semuanya  itu akan terjadi karena KEMALASAN dan KEBODOHAN. 

Sebaliknya ladang orang yang rajin/tidak malas tidak ditumbuhi onak dan duri, demikian juga kebun anggur orang yang berakal budi tidak ditumbuhi onak dan duri


Lebih jauh kita melihat SI PEMALAS…

Amsal 26:13

(26:13) Berkatalah si pemalas: "Ada singa di jalan! Ada singa di lorong!"


Bunyi perkataan si pemalas: "… Ada singa di jalan! Ada singa di lorong! …"

Dari bunyi perkataan ini menunjukkan bahwa; si pemalas ini membesar-besarkan suatu persoalan, atau si pemalas menciptakan alasan yang dibesar-besarkan untuk menghindari tanggung jawab atau sebuah pekerjaan.


Jarang sekali singa ada di jalan, kalau monyet memang sering kali ada di jalan. Tetapi kalau ada singa di jalan itu tidak masuk akal, lalu si pemalas berkata lagi; ada singa di lorong.

Seumpama gereja kita GPT Betania berada pada lantai 3, lalu hanya karena dia malas melewati anak-anak tangga, akhirnya dia berkata; ada singa di lorong.

Jadi mudah sekali melihat si pemalas, ia suka sekali menciptakan alasan yang dibesar-besarkan, hanya untuk melepaskan diri dari sebuah tanggung jawab.


Amsal 26:14

(26:14) Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya.


Zona si pemalas adalah; TEMPAT TIDUR tidak lebih, tidak kurang, sama seperti pintu yang berputar-putar pada engselnya saja.


Pendeknya; si pemalas membesar-besarkan masalah supaya dia tetap tinggal di zona nyaman, itulah tempat tidur tadi.

Padahal yang TUHAN MAU adalah; supaya kita berada pada ZONA BERJAGA-JAGA, bukan di zona nyaman, karena itu adalah keinginan daging.


Saya bersyukur kepada Tuhan juga Kaum Muda Remaja dengan ibadah mereka. Kita menggunakan gedung gereja yang dibawah, dan sesudah selesai ibadah kita juga bongkar pasang semua barang-barang, dan kita semua mengambil bagian; ada yang tarik kabel, ada yang bawa sound sistim, beberapa speaker, mic, komputer dan laptop, itu semua dibawa kembali ke lantai 3 lagi, kemudian ada yang nyapu dan ngepel. Tidak ada yang saya lihat (yang suka) menciptakan alasan dan membesar-besarkannya, tetapi semua mengambil bagiannya, begitu juga dengan saya mengambil bagian. Karena yang kita rindukan adalah kedatangan TUHAN kembali, dan kita harus menantikan-Nya di zona berjaga-jaga. 


Lebih jelas lagi kita lihat SI PEMALAS…

Amsal 26:15

(26:15) Si pemalas mencelupkan tangannya ke dalam pinggan, tetapi ia terlalu lelah untuk mengembalikannya ke mulutnya.


Dalam setiap pertemuan ibadah kita sudah mendapatkan makanan rohani itulah Firman Allah. Tetapi disini kita melihat, si pemalas;  mencelupkan tangannya ke dalam pinggan, tetapi ia terlalu lelah untuk mengembalikannya ke mulutnya. Artinya: sudah mendengarkan Firman Allah tetapi malas untuk melakukannya, karena ia tidak mau lelah (tidak mau direpotkan) oleh firman Allah.

Itu lah sebabnya ladang si pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi ditumbuhi onak dan duri.


Andaikata firman Allah yang kita dengar, dan selanjutnya kita lakukan, maka ladang hati kita tidak ditumbuhi onak dan duri, sama seperti petani yang sibuk mengarap ladangnya, tidak akan ditumbuhi onak dan duri.


Amsal 26:16

(26:16) Si pemalas menganggap dirinya lebih bijak dari pada tujuh orang yang menjawab dengan bijaksana.


Ciri si pemalas: Menganggap dirinya lebih bijaksana dari pada 7 (tujuh) orang yang menjawab dengan bijaksana.

Kalau seseorang suka berhitung-hitung tetapi malas bekerja, itu namanya orang bodoh. Sebab, tidak ada artinya kepandaian tetapi malas bekerja/tidak rajin bekerja.


Tadi orang-orang yang bermasa bodoh itulah orang-orang yang mengentengkan hari kedatangan Tuhan, mereka disebut orang-orang malam, juga disebut orang-orang kegelapan. 

Kita sudah melihat TERKAIT DENGAN ORANG-ORANG MALAM adalah orang-orang yang tidak mengenal siang, tabiatnya; suka tidur -> si pemalas. Dan kita sudah melihat penjelasannya secara singkat.


Sekarang…

Terkait: “ORANG-ORANG KEGELAPAN” adalah orang-orang yang tidak mengenal terang.


Tidak mengenal terang -> orang buta.


Mari kita lihat ORANG BUTA…

Matius 23:16-18 --- Perikop: "Yesus mengecam  ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi."

(23:16) Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. (23:17) Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? (23:18) Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.


Singkat kata; orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat disebut PEMIMPIN-PEMIMPIN BUTA.

Alasannya: sebab mereka ada di tengah-tengah ibadah dan pelayanan tetapi terikat dengan perkara lahiriah.

Bayangkan seorang pemimpin jemaat/gembala sidang ada di tengah ibadah dan pelayanan tetapi terikat dengan yang lahiriah; terikat dengan batangan emas, terikat dengan uang atau persembahan di atas mezbah. Itu saja pemikiran dari pemimpin-pemimpin buta, tidak lebih tidak kurang.

Bagaimana saudara melihat pemimpin buta semacam ini? Saudara pasti berkata; ini pemimpin yang sangat menjijikkan.


  1. Terikat dengan emas pada Bait Suci = terikat dengan TUBUH BABEL.

  2. Terikat dengan persembahan di atas mezbah -> manusia daging yang tidak pernah mengalami perobekan daging.


Andai saja, ahli taurat dan orang farisi / pemimpin buta ini terlepas dari ikatan-ikatan lahiriah maka otomatis mereka adalah BAIT SUCI ALLAH.

Demikian juga, andaikata mereka tidak terikat dengan persembahan yang ada di atas mezbah, mereka pasti sudah ada dalam penyembahan/penyerahan diri, sampai mengalami perobekan daging.


Jadi karena mereka tidak melihat esensi/tujuan dari sebuah ibadah pelayanan, maka Tuhan menyebut mereka sebagai pemimpin buta. Andaikata mereka mengerti esensi/tujuan ibadah dan pelayanan mereka tidak akan disebut orang buta. 

  • Semestinya kita terikat dengan Bait Suci, supaya kita menjadi Milik Kepunyaan Allah, itulah Sidang Mempelai Tuhan, gereja yang sempurna.

  • Semestinya kita terikat dengan Mezbah, supaya kita mempersembahkan hidup ini di atas mezbah sebagai korban-korban yang sifatnya menyenangkan hati Tuhan, dimulai dari korban pendamaian, korban bakaran, korban tatangan yaitu; mentahbiskan diri kepada Tuhan.


Tetapi dasar ahli Taurat dan orang Farisi adalah pemimpin buta. Karena mereka tidak tahu esensi/tujuan dari sebuah ibadah dan pelayanan, maka disebutlah mereka pemimpin buta.

Jadi ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi adalah contoh pemimpin buta sebab mereka adalah orang-orang kegelapan.


Kita sering kali berkata; saya bukan orang kegelapan, saudara-saudaraku dan keluargaku bukan orang-orang kegelapan, karena saya dan saudaraku tidak pernah; dugem (dunia gemerlap), tidak pernah pergi ke diskotik, tidak keluyuran di malam hari mungkin saja itu benar, tetapi kalau pemikiran kita sama seperti ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi terikat dengan perkara-perkara lahiriah di tengah-tengah ibadah dan pelayanan, maka disebutlah itu orang-orang kegelapan.


Jadi perhatikanlah ini semua, jangan diabaikan dan jangan kita mengentengkan hari kedatangan Tuhan, yang sama seperti pencuri di malam hari.


Matius 23:19-21

(23:19) Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? (23:20) Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. (23:21) Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ.


Perlu untuk diketahui bersama:

  1. Barangsiapa terikat dengan mezbah maka ia terikat dengan persembahan yang ada di atas mezbah, antara lain:

  • Korban lembu jantan, berarti menjadi pendamaian sepenuh.

  • Korban domba jantan pertama, disebut juga korban bakaran, berbicara tentang penyerahan diri sepenuh = hangus.

  • Korban domba jantan kedua, disebut juga korban tatangan = Mentahbiskan diri, mengkhususkan diri hanya kepada Tuhan.

Namun masih banyak lagi korban-korban yang memang harus dipersembahkan kepada Tuhan di 

atas mezbah.


  1. Barangsiapa terikat dengan Bait Suci, maka ia terikat demi Dia yang ada di dalam Bait Suci.

Bait Suci bila dikaitkan dengan Pola Tabernakel maka terkena pada RUANGAN SUCI + RUANGAN MAHA SUCI.

  • Didalam Ruangan Suci terdapat 3 (tiga) macam alat yaitu:

  1. Meja Roti Sajian -> Pribadi Yesus Anak Allah.

  2. Pelita Emas -> Pribadi Allah Roh El Kudus.

  3. Mezbah Dupa -> Kasih dari Allah Bapa.

Itulah yang terjadi kalau kita terikat dengan Bait Suci, terikat dengan pribadi dari ALLAH TRINITAS yaitu; Firman, Roh, dan kasih-Nya dan itu akan terus menyucikan kehidupan kita.


  • Didalam Ruangan Maha Suci terdapat 1 (satu) alat, itulah TABUT PERJANJIAN.

“Tabut Perjanjian” berbicara tentang:

  1. Takhta Allah.

  2. Hubungan nikah antara Kristus sebagai Mempelai Laki-laki dengan sidang jemaat sebagai mempelai perempuan-Nya berdasarkan kasih.

Jadi kalau kita terikat dengan Bait Suci, maka kita akan disucikan sampai sempurna menjadi mempelai Tuhan. 


Tetapi berbeda dengan orang-orang kegelapan; ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi mereka disebut pemimpin buta, sebab mereka berkata; 

  • Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. 

  • Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. 

Jadi melayani tetapi terikat dengan hal-hal yang lahiriah, akhirnya disebutlah mereka pemimpin buta itulah orang-orang kegelapan.


Jangan kita disebut sebagai orang-orang kegelapan. Karena kenyataannya banyak orang kristen belum bisa membedakan, karena belum sampai pada pemahaman tersebut. Itu sebabnya sering kali dia merendahkan orang-orang yang pergi (keluar) malam entah itu ke diskotik, entah kemana saja main gelap-gelapan. Tetapi yang sebenarnya, jikalau ia terikat dengan hal-hal yang lahiriah, ia sama dengan pemimpin buta yang disebut sebagai  orang-orang kegelapan.


Oleh sebab itu, ukuran untuk masuk Sorga adalah Firman Allah, bukan pikiran perasaan manusia daging, itulah pentingnya pembukaan rahasia Firman Allah. Sekarang kalau pemahamanmu sudah sampai kepada kepenuhanNya, seperti apa yang Tuhan mau, maka terpujilah kasih karunia Allah, sebab Tuhan tidak menghendaki kebinasaan manusia, tetapi yang Tuhan kehendaki ialah supaya kita semua berbalik dan bertobat kepada Tuhan. 


Matius 6:22-23

(6:22) Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; (6:23) jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.


“... Mata adalah pelita tubuh …” Itu sebabnya kedudukan mata berada pada posisi yang tertinggi untuk menerangi seluruh tubuh.

Kemudian disini dikatakan; “... Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu …” Artinya: tidak disebut sebagai orang-orang kegelapan.

Sedangkan Matius 6:23 adalah gambaran dari pemimpin-pemimpin buta yang disebut sebagai orang-orang kegelapan. 


Tuhan telah memberi semua pengertian ini kepada kita demi satu tujuan yaitu esensi dari ibadah pelayanan, yakni; hari ketujuh, itulah kerajaan 1000 tahun damai di bumi disebut juga Firdaus, maka 6 hari lamanya kita gunakan kesempatan untuk bekerja, yaitu mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar.


JALAN KELUAR…

1 Tesalonika 5:6

(5:6) Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.


JANGAN KITA TIDUR, berarti jangan malas dan jangan bodoh, melainkan BERAKAL BUDI dan BIJAKSANA.

Tanda berakal budi dan bijaksana ialah: BERJAGA-JAGA dan SADAR.


Di atas tadi saya sudah katakan; biarlah kiranya kita semua berada pada zona berjaga-jaga, jangan mencari zona nyaman, itu adalah si pemalas.


Terkait dengan BERJAGA-JAGA…

Matius 26:36 --- Perikop:  "Di taman Getsemani."

(26:36) Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."


Singkat kata; Tuhan membawa murid-murid ke taman Getsemani, dalam suasana duduk.


Matius 26:37-38

(26:37) Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, (26:38) lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."


Berada pada titik pertama (dalam suasana duduk) bila dikaitkan dengan Pola Tabernekel terkena kepada: daerah HALAMAN. Kemudian dari situ (dari titik pertama) Yesus membawa 3 murid yaitu; Yakobus, Petrus, dan Yohanes ke titik kedua, lalu berkata kepada mereka: "… tinggallah disini …"


"Tinggallah disini" bila dikaitkan dengan Pola Tabernakel terkena kepada RUANGAN SUCI, sebab didalam Ruangan Suci terdapat 3 (tiga) macam alat yaitu:

  1. Meja Roti Sajian = Yakobus = IMAN -> Ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan Perjamuan Suci.

  2. Pelita Emas = Petrus = PENGHARAPAN -> Ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu disertai dengan Kesaksian Roh.

  3. Mezbah Dupa = Yohanes = KASIH -> Ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan.


Bila saya menyerukan: "TINGGALLAH DISINI", maka seluruh sidang jemaat menjawab: Tekun dalam 3 macam ibadah pokok.

Kalau kita tekun dalam tiga macam ibadah pokok itu adalah sarana untuk membawa kita sampai kepada tingkat ibadah yang tertinggi / puncak ibadah itulah DOA PENYEMBAHAN.

Apabila kita sudah berada pada puncak ibadah itulah doa penyembahan, disebutlah itu ZONA BERJAGA-JAGA.


Itu sebabnya tadi saya sudah katakan; kalau kita sudah berada pada zona berjaga-jaga maka kita tidak pusing, tidak takut, tidak kuatir, tidak cemas tentang hari kedatangan Tuhan, terserah Tuhan saja kapan Tuhan datang.

Sebenarnya yang mengalami rasa kuatir, rasa takut, rasa cemas adalah si pemalas yang berada pada zona nyaman. Andaikata dia bukan si pemalas maka dia akan senantiasa membaktikan dirinya (bekerja) di tengah ibadah dan pelayanan. Dan apabila kita melatih diri untuk beribadah, maka Tuhan pasti penuhkan, Tuhan pasti cukupkan, 


Hendaklah kita semua berada pada zona berjaga-jaga, karena kita rindu kerajaan seribu tahun damai. Hanya untuk ini kita bertahan sampai hari ini. Tetapi meski demikian jangan kita malas membawa kehidupan rohani kita sampai puncak ibadah itulah doa penyembahan.


Tetapi memang tidak dipungkiri di ayat 38 Yesus berkata kepada 3 (tiga) murid-murid: “… Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya …”

Hal-hal yang membuat hati menjadi sedih dan masuk dalam pengalaman kematian, itu memang suasana yang kita alami bilamana kita tekun dalam tiga macam ibadah pokok. Dahulu suasana semacam ini kita hindari, tetapi sekarang kita belajar untuk merendah, belajar untuk menekan sebisa mungkin sekalipun ada suasana yang membuat hati sedih. Itulah suasana yang akan kita alami bersama kalau tekun dalam tiga macam ibadah pokok. Memang pengalaman kematian itu harus kita alami juga, artinya; daging tidak bersuara lagi, bilamana kita tekun dalam tiga macam ibadah pokok.

Karena Mezbah Dupa lebih maju dari 2 (dua) alat yang lain itulah Meja Roti Sajian dan Pelita Emas yang ada didalam Ruangan Suci, artinya lebih dekat dengan tirai, yaitu; perobekan daging.


Banyak orang kristen tidak memahaminya, sehingga dia sedih kalau tidak ada uang, dia sedih kalau dia dirugikan, dia sedih kalau dia tidak mendapat sesuatu yang harus menjadi haknya. Tetapi didalam Tuhan tidak seperti itu lagi apalagi kalau sudah tekun dalam tiga macam ibadah pokok.


Matius 26:39

(26:39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."


Kata "… Ia maju sedikit …" menunjukkan bahwa Yesus adalah Imam Besar Agung. 

Artinya: Dialah yang memimpin ibadah-ibadah di atas muka bumi ini sampai kepada puncak ibadah itulah doa penyembahan.


Yesus telah menderita sengsara dan mati di atas kayu salib itu adalah doa penyembahan = Penyerahan diri sepenuh untuk taat hanya kepada kehendak Allah.


Matius 26:40

(26:40) Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?


Yesus mendapati Yakobus, Petrus, dan Yohanes sedang tidur, artinya; hidup rohani mereka belum sampai kepada doa penyembahan, itu sebabnya Yesus berkata kepada murid-murid: "… Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?..."


Matius 26:41

(26:41) Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."


Dari sini kita bisa melihat, bilamana kita sudah berada pada zona berjaga-jaga maka kita tidak takut kapan Tuhan datang, kita juga tidak takut kapan antikris menjadi raja dan berkuasa atas seantero dunia. 

Pendeknya, kita tidak takut menghadapi pencobaan yang memuncak pada saat antikris menjadi raja atas dunia ini, karena kita sudah berada pada puncak ibadah, yaitu; doa penyembahan. 

Itulah terkait BERJAGA-JAGA.

Pendeknya, untuk menghadapi puncak pencobaan, kita harus berada pada puncak ibadah, yaitu; doa penyembahan.


Terkait: SADAR = Bangun dari tidur.

Kerohanian yang masih tidur berarti BELUM SADAR, maka harus disadarkan.


Matius 25:1-4

(25:1) "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. (25:2) Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. (25:3) Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, (25:4) sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.


Ada sepuluh gadis menyongsong Mempelai Laki-laki Sorga; lima diantaranya bijaksana dan lima diantaranya bodoh.

  • “Lima gadis yang bodoh” hanya membawa pelita tetapi tidak membawa minyak dalam buli-buli sebagai persediaan.

  • Sedangkan “lima gadis yang bijaksana” membawa pelita + minyak dalam buli-buli sebagai persediaan.


Matius 25:5

(25:5) Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.


Baik lima gadis yang bijaksana maupun lima gadis yang bodoh sama-sama ada didalam kelemahan, akhirnya mereka tertidur = Tidak sadar.


APA CARA TUHAN UNTUK MEMBANGUNKAN KITA DARI TIDUR SUPAYA KITA SADAR?

Matius 25:6

(25:6) Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!


"… Mempelai datang! Songsonglah dia! …" ini adalah suara dari Pengajaran Mempelai, berkuasa untuk membangunkan,  supaya kita bangun dari tidur dan SADAR.

Hanya itu yang sanggup membuat kita sadar, bangun dari tidur.


Tetapi disini kita melihat; ada perbedaan antara lima gadis yang bijaksana dengan lima gadis yang bodoh, yaitu: pada saat mereka sadar (terbangun) ternyata pelita dari lima gadis yang bodoh ini hampir  padam, lalu mereka meminta sebagian minyak kepada lima gadis bijaksana. Tetapi lima gadis bijaksana tidak memberi, alasanya: nanti tidak akan cukup untuk lima gadis yang bijaksana, dan tidak akan cukup untuk lima gadis yang bodoh. Selanjutnya lima gadis yang bijaksana menyuruh lima gadis yang bodoh membeli minyak, menunjukkan bahwa lima gadis bijaksana mempertahankan minyaknya.


Pohon zaitun tidak ambisi menjadi raja, karena dia tetap mempertahankan minyaknya. Tetapi orang bodoh, akan berlaku bodoh, sebab detik-detik menjelang kedatangan TUHAN kembali, lima gadis yang bodoh justru pergi membeli minyak, padahal itu waktu yang tepat untuk menantikan kedatangan TUHAN, sehingga pada saat TUHAN datang mereka tidak ada (tidak ditemukan) karena mereka pergi untuk membeli minyak. Tetapi lima gadis yang bijaksana masuk dalam perjamuan pesta kawin, karena lima gadis yang bijaksana telah siap sedia. 


Saatnya kita membeli minyak, saatnya kita bayar harga untuk memperoleh urapan dari Sorga. Akhirnya saat lima gadis yang bodoh pergi membeli minyak, maka lima gadis yang bijaksana masuk dalam pesta kawin Anak Domba lalu pintu ditutup dan lima gadis yang bodoh tinggal di luar.


Ayo hargailah suara yang membangunkan hidup rohani kita, itulah suara yang keluar dari Pengajaran Mempelai yaitu Injil Kerajaan. Jadi oleh karena Injil Kerajaan ini kita sanggup menyongsong Mempelai Laki-laki Sorga. Inilah orang yang sadar, yang sudah dibangunkan dari tidur.


BANGUNLAH DARI TIDUR, hai yang masih tidur, SADARLAH, suara dari Mempelai Laki-laki Sorga sudah membangunkan kita semua. AMIN.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI



Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang