Salam sejahtera di dalam kasih Yesus Kristus. Sebagai tanda rasa syukur kepada Tuhan, lewat media ini kami membagi - bagikan Firman Tuhan yaitu Firman Pengajaran yang benar yang rahasianya dibukakan.
Semoga menjadi berkat untuk kita semua. Tuhan Yesus Kristus memberkati.
Mula
pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya kita
sekaliannya dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, kita boleh datang
menghadap Dia lewat Ibadah Doa Penyembahan, dan sebentar kita akan tersungkur
di ujung kaki salib TUHAN sujud menyembah kepada Dia, tentu saja setelah hati
kita diteguhkan oleh Firman TUHAN ALLAH.
Oleh
sebab itu, kiranya damai sejahtera dari Sorga senantiasa memerintah di hati
kita sehingga ada kesukaan besar saat kita duduk diam menantikan sabda ALLAH.
Saya
juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN yang turut
bergabung lewat online/ live streaming / video internet baik
dari Youtube, Facebook atau media sosial apa saja yang dapat digunakan.
Mari
kita sambut SURAT YUDAS sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Doa
Penyembahan dan kita masih berada pada Yudas 1:11 seri ke-27.
Namun,
tetaplah berdoa dalam Roh, mohon kemurahan TUHAN supaya Firman yang dibukakan
itu meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi.
Yudas
1:11
(1:11)Celakalah
mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena
mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan
mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.
“Celakalah
mereka...” antara lain:
a.
Karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain.
b.
Oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam.
c.
Mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.
Tentang: MEREKA BINASA KARENA KEDURHAKAAN
SEPERTI KORAH (Bagian 14).
Bilangan
16:1-2 --- Perikop: "Pemberontakan Korah, Datan dan Abiram."
(16:1)Korah
bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram,
anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak
orang-orang (16:2) untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus
lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang
dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan.
Korah
dan kumpulannya bangkit untuk memberontak melawan Musa.
Orang-orang
yang masuk dalam kumpulan Korah, antara lain: Datan, Abiram, dan On, serta
250 (dua ratus lima puluh) pemimpin-pemimpin kenamaan.
Yang
menjadi pemicu terjadinya pemberontakan ialah Korah menuntut pangkat imam
lagi, menunjukkan bahwa Korah tidak puas menjadi pelayan dalam Kemah Suci
(Ruangan Suci) dan bertugas melayani umat Israel… Bilangan 16:9-11.
Kita
periksa: SIKAP DATAN dan ABIRAM.
Bilangan
16:12
(16:12) Adapun Musa
telah menyuruh orang untuk memanggil Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, tetapi
jawab mereka: "Kami tidak mau datang.
Musa
memanggil Datan dan Abiram, tetapi mereka “tidak mau datang.”
Menunjukkan
bahwa Datan dan Abiram:
- Tidak
tunduk pada kedaulatan TUHAN.
- Tidak
menghormati tahbisan dan urapan TUHAN.
Bilangan
16:13-14
(16:13) Belum
cukupkah, bahwa engkau memimpin kami keluar dari suatu negeri yang
berlimpah-limpah susu dan madunya untuk membiarkan kami mati di padang gurun,
sehingga masih juga engkau menjadikan dirimu tuan atas kami? (16:14) Sungguh,
engkau tidak membawa kami ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,
ataupun memberikan kepada kami ladang-ladang dan kebun-kebun anggur sebagai
milik pusaka.Masakan engkau dapat mengelabui mata orang-orang ini?
Kami tidak mau datang."
Selain
tidak tunduk, ternyata Datan dan Abiram menuduh bahwa:
a. Musa
menjadikan dirinya tuan atas umat Israel.
b. Musa
mengelabui mata umat Israel.
Alasannya:
- Musa
tidak membawa umat Israel ke negeri yang berlimpah-limpah air susu dan limpah
madunya.
- Musa
tidak memberikan kepada umat Israel ladang-ladang dan kebun-kebun anggur
sebagai milik pusaka.
Sebab
bagi Datan dan Abiram, negeri Mesir adalah negeri yang berlimpah susu dan
madunya dan dapat juga dijadikan sebagai ladang-ladang dan kebun anggur sebagai
milik pusaka, sedangkan Kanaan bagi mereka adalah kebalikan dari Mesir.
Namun
sesungguhnya, tidaklah demikian kalau kita bandingkan perkataan TUHAN kepada
Musa di dalam Keluaran 3:7-8 dan Keluaran 3:16-17, dimana TUHAN
mengutus Musa untuk membebaskan bangsa Israel dari Mesir, selanjutnya dibawa
masuk ke Tanah Perjanjian (Tanah Kanaan). Sebab Mesir adalah negeri perbudakan,
sedangkan Tanah Kanaan adalah negeri yang baik dan luas. Itu berarti;
-Kanaan adalah negeri yang berlimpah-limpah susu
dan madunya.
-Dapat dijadikan ladang-ladang dan kebun-kebun
anggur sebagai milik pusaka.
Berlimpah-limpah
susu dan madunya berbicara tentang kelimpahan Firman ALLAH, memberi dua
hal:
1.Kekuatan -> Kelimpahan air susu.
2.Kemanisan ->
Kelimpahan madu.
Sedangkan,
ladang-ladang dan kebun-kebun anggur, kaitannya adalah dengan milik pusaka,
berarti Tanah Warisan.
Jadi
milik pusaka adalah segala sesuatu yang diwariskan -> Kerajaan Sorga.
-Ladang-ladang berbicara tentang tanah yang harus digarap dan
dikerjakan, selanjutnya ditaburi benih ilahi yaitu Firman ALLAH, Roh ALLAH,
Kasih ALLAH.
Pendeknya, Tanah (hati) ini adalah miliknya
TUHAN, bukan miliknya dunia dan si jahat.
-Kebun-kebun anggur.
Yang dinantikan dari kebun anggur adalah buah
anggur yang manis -> perbuatan yang sesuai dengan kebenaran dan
keadilan. Pendeknya, kebenaran dan keadilan adalah buah anggur yang manis
yang dapat dicicipi dan dinikmati oleh TUHAN dan sesama lewat ibadah dan
pelayanan.
Jadi kebenaran dan keadilan harus menjadi tabiat
kita.
Itulah
tentang Tanah Kanaan.
Terkait
dengan Tanah Warisan yakni; Kerajaan Sorga, kita telusuri di dalam…
Ibrani
11:9
(11:9) Karena iman
ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di
situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli
waris janji yang satu itu.
Abraham
TINGGAL DI KEMAH dengan Ishak dan
Yakub yang turut menjadi ahli waris.
KEMAH
-> TABERNAKEL, terdiri dari 3
(tiga) daerah:
I. HALAMAN
= Daerah pembenaran.
Terdapat 2 (dua) alat:
1. Mezbah
Korban Bakaran, gambaran dari salib dimana Yesus yang dijadikan sebagai
korban.
2. Bejana
Pembasuhan Tembaga, berbicara soal pembaptisan, gambaran dari pengalaman
kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Jadi kita semua dibenarkan oleh
Korban Kristus, itulah daerah Halaman.
II. RUANGAN
SUCI = Daerah pengudusan.
Terdapat 3 (tiga) macam alat -> Ketekunan dalam 3 (tiga)
macam ibadah pokok.
3. Mezbah
Dupa-> Ketekunan
Ibadah Doa Penyembahan, berbicara kasih.
Berarti supaya kita ada di dalam pengudusan, mau tidak mau
kita harus berada di dalam Ruangan Suci, yang disebut sebagai daerah
pengudusan.
Jangan kita keluar dari daerah pengudusan, berarti tekun
dalam tiga macam ibadah pokok, dalam ketulusan hati.
Jangan kita menjalankan ibadah taurat, ibadah rutinitas.
Maksudnya beribadah dan melayani sesuai dengan kehendak sendiri (menurut
kehendak daging). Tuhan tidak berkenan kepada manusia daging, TUHAN malu
terhadap manusia daging.
III. RUANGAN MAHA SUCI = Daerah Kesempurnaan.
Gambarannya seperti Tabut Perjanjian yang ada di dalam
Ruangan Maha Suci.
Tabut Perjanjian terdiri
dari 2 (dua) bagian:
1.Peti terbuat
dari kayu penaga yang sudah disalut dengan emas murni dari dalam maupun dari
luar.
Artinya: Tabiat Ilahi telah menutupi tabiat
daging.
Emas,
berbicara tentang kekudusan dan kemurnian Ilahi.
Kayu penaga, berbicara soal tabiat daging.
Peti / Tabut -> Sidang Mempelai Wanita TUHAN / Gereja
TUHAN yang sempurna.
2.Tutup pendamaian dengan 2 (dua) kerub di atasnya -> Allah Trinitas, yaitu Tuhan
Yesus Kristus sebagai Mempelai Pria Sorga.
Arti rohani dari Tabut Perjanjian:
1.Takhta Allah.
2.Hubungan nikah antara Kristus sebagai Mempelai Pria dengan Sidang jemaat sebagai
Mempelai Wanita-Nya berdasarkan kasih. Sedangkan, cerminan dari nikah suci
ialah DOA PENYEMBAHAN dan cerminan dari doa penyembahan adalah NIKAH SUCI.
Ibrani
11:12
(11:12) Itulah
sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk,
terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti
pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.
Adapun
keturunan Abraham digambarkan seperti:
- Bintang
di langit -> Kehidupan yang ditinggikan atau diurapi oleh Tuhan itulah
Bangsa Israel, bangsa pilihan TUHAN.
- Seperti
pasir di tepi laut tidak terhitung banyaknya -> Bangsa Kafir.
Ibrani
11:13-14
(11:13) Dalam iman
mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang
dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai
kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang
di bumi ini. (11:14) Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan,
bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air.
Mereka
yang hidup dari iman Abraham mengaku sebagai ORANG
ASING dan PENDATANG di bumi
ini, sebab mereka rindu mencari suatu tanah air sebagai milik pusaka,
bagaikan tangan yang melambai-lambai.
Jadi
kita tidak boleh terlena di bumi ini saudara ku. Kalau kita merindukan tanah
air sorgawi sebagai milik pusaka yang diwariskan, maka kita menganggap bahwa
kita adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.
Jangan
kita sama seperti Datan dan Abiram, memutar balik fakta kebenaran. Mereka
mengatakan bahwa Mesir limpah susu dan madu dan mereka juga katakan Mesir dapat
dijadikan ladang-ladang dan kebun-kebun anggur sebagai milik pusaka, sebaliknya
mereka mengatakan bahwa tanah Kanaan tidak limpah susu dan madu dan tidak dapat
dijadikan sebagai ladang-ladang dan kebun anggur serta tidak dapat dijadikan
sebagai milik pusaka.
Sebenarnya,
apa yang dikatakan oleh Datan dan Abiram, tidak punya dasar kebenaran jikalau
kita mengacu pada kitab.. (Ulangan 11:10-12).
Ibrani
11:15-16a
(1:15) Dan kalau
sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka
tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.
(11:16a) Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih
baik yaitu satu tanah air sorgawi.
Mereka
yang hidup dari iman Abraham tidak ada keinginan untuk kembali kepada masa
lalu, sekalipun ada kesempatan. Mengapa? Sebab mereka merindukan tanah air
Sorgawi sebagai milik pusaka mereka.
Jadi
betul-betul mereka tidak terlena di bumi ini, sekalipun ada kesempatan untuk
menghasilkan sesuatu yang sifatnya lahiriah, tetapi kalau perkara itu membuat
dia jauh dari TUHAN, dia tidak mau kembali ke masa lalu.
-Dahulu sebelum mengenal TUHAN dengan
benar, kita hidup dalam penyembahan berhala (kekerasan di hati),
tandanya kita berani meninggalkan ibadah hanya demi berhala-berhala di bumi.
-Dahulu juga kita hidup di dalam kenajisan
percabulan, mabuk anggur dari perempuan babel, berarti ada keinginan kaya
tetapi oleh kelimpahan hawa nafsu perempuan babel, itu masa lalu kita.
Tetapi sekarang, kita telah
meninggalkan tanah asal, tidak ada keinginan untuk kembali ke tanah asal.
Saudara,
tadi kita sudah melihat bahwa TUHAN menjanjikan tanah Kanaan sebagai milik
pusaka bagi Abraham, dan Tanah Kanaan itu juga turut diwariskan kepada Ishak
dan Yakub, tetapi syaratnya mereka tinggal di kemah itulah TABERNAKEL,
terdiri dari tiga daerah;
-HALAMAN,
daerah pembenaran oleh korban-Nya.
-RUANGAN SUCI,
berarti tekun dalam tiga macam ibadah pokok sesuai dengan 3 macam alat
yang ada di dalamnya, dan kita harus tulus mengerjakannya, tidak boleh
dijalankan menurut daging dan kepentingan daging, tidak boleh dijalankan secara
taurat, TUHAN malu melihat kehidupan semacam ini.
-RUANGAN MAHA SUCI itulah daerah kesempurnaan, gambarannya adalah
Tabut Perjanjian.
Denah Tabernakel.
Jadi
mereka yang merindukan Tanah Air Sorgawi sebagai warisan yang menjadi milik
pusaka, syaratnya; tinggal di Kemah. Yang turut menjadi ahli waris adalah Ishak
dan Yakub.
Maka
mari kita belajar dari pengertian yang sudah kita terima selama ini hingga
sampai pada malam ini.
Jangan
kita sama seperti Datan dan Abiram, mereka tidak mau datang, mereka tidak
tunduk pada kedaulatan TUHAN, kemudian mereka juga menuduh Musa sebagai
pemimpin yang tidak bertanggung jawab dan pemimpin yang mengelabui mata umat
Israel. Ini tuduhan yang tidak berdasar (tidak punya alasan). Orang semacam ini
hidup bukan dari iman Abraham, tetapi hidup menurut cara atau pola berpikir
manusia duniawi, menjalankan hidup secara manusiawi.
Ibrani
11:16b
(11:16b) Sebab itu Allah
tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota
bagi mereka.
Allah Tidak Malu Disebut Allah Mereka, yaitu mereka yang merindukan tanah air Sorgawi sebagai
milik pusaka mereka. Berarti, Allah tetap memperlihatkan wajah-Nya dan tidak
menyembunyikan wajah-Nya kepada mereka yang merindukan Tanah Air Sorgawi.
Tetapi sebaliknya, TUHAN malu / menyembunyikan wajah-Nya, terhadap mereka yang
tidak merindukan tanah air Sorgawi sebagai milik pusakanya, Allah
menyembunyikan wajah-Nya terhadap mereka, dan hal itu pernah terjadi menimpa
bangsa Israel, dimulai dari Maleakhi sampai Matius, ALLAH menyembunyikan wajah-Nya
selama 400 tahun lamanya.
Jadi
jarak antara Maleakhi sampai kepada Injil Matius ialah: + 400 tahun,
disitulah ALLAH menyembunyikan wajah-Nya, berarti malu terhadap bangsa Israel,
sebab bangsa Israel ini tegar tengkuk, keras hati, keras kepala, kepala batu,
itulah gambaran dari orang yang tidak bersunat, yang mempertahankan sifat
tabiat dagingnya yang besar itu, yang tidak merindukan tanah air Sorgawi.
Ulangan
32:18
(32:18) Gunung batu
yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang
melahirkan engkau. (32:19) Ketika TUHAN melihat hal itu, maka Ia menolak
mereka, karena Ia sakit hati oleh anak-anaknya lelaki dan perempuan.(32:20) Ia berfirman: Aku hendak menyembunyikan wajah-Ku
terhadap mereka, dan melihat bagaimana kesudahan mereka, sebab mereka itu
suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan.
Hati-hati
saudara, TUHAN malu kepada mereka yang tidak merindukan tanah air Sorgawi
apalagi yang menjalankan ibadah taurat, TUHAN malu terhadap orang semacam ini,
bagaikan TUHAN menyembunyikan wajah-Nya seperti TUHAN pernah menyembunyikan
wajah-Nya kepada bangsa Israel selama 400 tahun lamanya terhadap bangsa Israel,
sebab mereka adalah: angkatan yang bengkok dan yang tidak mempunyai kesetiaan.
Tetapi terhadap mereka yang merindukan tanah air sorgawi sebagai milik pusaka,
ALLAH tidak malu disebut ALLAH mereka berarti ALLAH memperlihatkan wajah-Nya,
memancarkan wajah-Nya kepada mereka.
Kita
lihat hal itu di dalam ...
Bilangan
6:24-26
(6:24)TUHAN
memberkati engkau dan melindungi engkau; (6:25)TUHAN menyinari
engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; (6:26)TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
Ayo,
jangan buat TUHAN malu dan menyembunyikan wajah-Nya, berarti kita harus
mempunyai satu kerinduan yang besar untuk memperoleh Tanah Air Sorgawi sebagai
milik pusaka.
Saudara,coba renungkan wajah dan rupa dari perbuatan
hidup kita bagaikan wajah yang begitu suram (jelek), wajah yang tidak berbentuk
karena sudah merusak gambar dan rupa ALLAH, tetapi kalau kita mempunyai
kerinduan untuk mewarisi Tanah Air Kerajaan Sorga, maka Allah tidak malu
disebut Allah mereka dan Tuhan tidak pernah menyembunyikan wajah-Nya.
Sekali-kali
kita belajar merenungkan, seperti apa wajah dari kelakuan perbuatan-perbuatan
hidup kita di masa lalu kita. Tetapi meskipun demikian, kalau kita mempunyai
kerinduan untuk mewarisi Tanah Air Sorgawi sebagai milik pusaka, TUHAN berkata;
ALLAH tidak malu, sebaliknya; ALLAH menghadapkan wajah-Nya kepada kita,
berarti;
-Memberkati dan melindungi.
-Menyinari dan memberi kasih karunia (kemurahan).
-Memberi kepada kita damai sejahtera.
Itulah
yang terjadi apabila, TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepada kita.
Tetapi
Datan dan Abiram, perbuatannya tidak menimbulkan damai sejahtera, membuat susah
hati seorang gembala, dia hanya memikirkan hatinya saja, tidak memikirkan hati
TUHAN dan hati sesamanya, menjalankan ibadahnya sesuka hati, akhirnya semua
berantakan.
Tetapi
bagi mereka yang merindukan tanah Air Sorgawi, wajah TUHAN dipancarkan kepada
mereka; sehingga ada berkat, hidup dalam kasih karunia (kemurahan), ada damai
sejahtera.
Sikapnya
menimbulkan damai sejahtera, ibadah dan pelayanannya menimbulkan damai
sejahtera.
Jangan
kita hanya menangis-menangis ketika melayani, tetapi di sisi lain, sesuka hati
menjalankan ibadah dan pelayanan, TUHAN malu kepada orang semacam ini.
Itu
sebabnya saya katakan, orang yang menjalankan ibadah taurat, TUHAN malu dan
TUHAN sembunyikan wajah-Nya, tidak ada berkat kepada orang semacam ini, tidak
hidup dalam kemurahan, dan tidak menimbulkan damai sejahtera, sebaliknya
merusak damai sejahtera.
Belajarlah
dari pengertian yang kita terima, jangan lagi bertahan seperti sikap Datan dan
Abiram. Kalau mau menerima warisan, tanah Air Sorgawi sebagai milik pusaka,
tinggallah di kemah, tetaplah berada pada tiga daerah tersebut.
Daerah pertama; dibenarkan
oleh darah salib.
Daerah kedua; tinggal di
Ruangan Suci, tempat pengudusan, tekun dalam tiga macam ibadah pokok.
Sampai
nanti kita disempurnakan di dalam Ruangan Maha Suci bagaikan Tabut
Perjanjian, gambaran dari Mempelai Wanita TUHAN.
TUHAN
tidak malu berarti wajah-Nya dipancarkan.
Sadarilah
itu karena kita memang merindukan Tanah Air Sorgawi, AMIN.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA
MEMBERKATI
Mula
pertama saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, oleh karena rahmat-Nya, kita
sekaliannya dihimpunkan di atas gunung Tuhan yang kudus. Kita boleh datang
menghadap Dia lewat Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh.
Kita bersyukur, Tuhan beri umur panjang, nafas nafas kehidupan, kesehatan bagi
kita semua, sehingga kita dapat membawa korban dan persembahan untuk
selanjutnya dipersembahkan di atas mezbah Tuhan. Sebab, tubuh kita ini adalah
persembahan kepada Tuhan.
Saya
juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, umat ketebusan Tuhan yang turut
bergabung lewat online / live streaming / video internet baik dari YouTube,
Facebook atau media sosial apa saja yang dapat digunakan. Selanjutnya,
kiranya Tuhan bertahta di hati kita, di tengah-tengah ibadah ini, berkuasa
memberi damai sejahtera sehingga ada kesukaan besar saat kita duduk diam
mendengarkan sabda Allah.
Selanjutnya,
mari kita sambut KITAB WAHYU
sebagai firman penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu. Dan kita masih
berada pada Wahyu 19:16 sebagai seri pemberitaan Firman Allah untuk yang
ketiga kalinya.
Tetap
berdoa dalam roh, mohon kemurahan Tuhan, supaya Firman yang dibukakan itu
meneguhkan hati kita. Lepaskan dulu harga diri dan yang di belakang, supaya
kita boleh merasakan uluran tangan belas kasih Tuhan
Wahyu
19:16 --- Perikop: “Firman Allah”
(19:16) Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis
suatu nama, yaitu: "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan."
Pada
jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama yaitu: Raja segala raja dan Tuan
di atas segala tuan.
Terkait
dengan pada jubah-Nya tertulis suatu nama, yaitu: Raja segala raja dan Tuan
di atas segala tuan, telah kita bahas bersama pada 2 minggu yang lalu dan
tentu kita diberkati oleh Tuhan.
Jubah atau pakaian -> tabiat /
kelakuan / perbuatan hidup. Jadi, dari tabiat / kelakuan / perbuatan hidup,
kita dikenal oleh Tuhan. Kita mengenal siapa kita di hadapan Tuhan. Hal itu
telah kita bahas bersama-sama.
Sekarang
kita akan membahas tentang:
PADA PAHA-NYA TERTULIS SUATU NAMA, YAITU: RAJA SEGALA
RAJA DAN TUAN DI ATAS SEGALA TUAN.
Pada
minggu yang lalu kita sudah mendapatkan sedikit kisi-kisi tentang paha.
Paha ada kaitannya dengan perjalanan
atau langkah-langkah hidup.
Kejadian
49:10A
(49:10)Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun
lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak
atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.
Tongkat
kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda atau lambang pemerintahan tidak
beranjak dari antara kakinya. Itu artinya: pada paha-Nya tertulis Raja
segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Pada anatomi manusia, paha
disebut juga tungkai atas.
-Tungkai bawah dari mata kaki sampai ke lutut.
-Sedangkan tungkai atas dari lutut sampai ke lubang rahim /
pangkal paha.
Bila
diposisikan dengan pola Tabernakel, paha (tungkai atas), sejajarlah dengan Kolam
Pembasuhan Tembaga -> baptisan air.
(30:19) Maka Harun dan anak-anaknya haruslah membasuh tangan dan
kaki mereka dengan air dari dalamnya. (30:20) Apabila mereka masuk
ke dalam Kemah Pertemuan, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki
dengan air, supaya mereka jangan mati. Demikian juga apabila mereka datang
ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian dan untuk membakar korban
api-apian bagi TUHAN,(30:21)
haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati.
Itulah yang harus menjadi ketetapan bagi mereka untuk selama-lamanya,
bagi dia dan bagi keturunannya turun-temurun."
Sebelum
melangkah atau berjalan untuk memulai pelayanan antara lain:
-Masuk ke dalam kemah pertemuan atau Ruangan Suci,
-Datang ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian,
-Untuk membakar korban api-apian bagi Tuhan.
Maka,
terlebih dahulu seorang imam membasuh tangan dan kaki di dalam kolam pembasuhan tembaga, supayaseorang
imam jangan mati. Dan itu merupakan ketetapan dari Tuhan turun temurun
(selamanya).
-Tangan -> perbuatan hidup; harus terlebih dahulu disucikan
-Kaki-> perjalanan atau
langkah-langkah hidup; terlebih dahulu disucikan
1.BAPTISAN
AIR, berarti ada dalam
tanda kematian dan kebangkitan/hidup
Maksudnya….
-Mati dari dosa dan kehidupan yang lama (masa lalu).
-Bangkit atau hidup dalam hidup yang baru = hidup dalam kebenaran = hidup
bagi Allah.
Sebagaimana dalam Roma 6:2-4---Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah
mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak
tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah
dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama
dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan
dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup
dalam hidup yang baru.
2.PEMBAHARUAN, berarti; hidupnya telah dibaharui dari sehari
ke sehari.
3.PENYUCIAN oleh mandi air Firman ALLAH.
Ayat referensi: Efesus
5:26 --- untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannyadengan air dan firman,
Pendeknya,
tanpa pembaharuan dan penyucian, kita tidak dapat beribadah dan melayani Tuhan,
justru akan mengalami kematian rohani. Itu sebabnya, sebelum
berjalan/melangkah/datang kepada Tuhan beribadah dan melayani, seorang imam
terlebih dahulu membasuh tangan dan kaki di dalam bejana pembasuhan tembaga,
supaya jangan mati.
Sebagai
contoh: YAKUB.
Kejadian
32:3-5 --- Perikop: “Yakub takut ketemu dengan Esau”
(32:3) Sesudah itu Yakub menyuruh utusannya berjalan lebih
dahulu mendapatkan Esau, kakaknya, ke tanah Seir, daerah Edom. (32:4)
Ia memerintahkan kepada mereka: "Beginilah kamu katakan kepada tuanku,
kepada Esau: Beginilah kata hambamu Yakub: Aku telah tinggal pada Laban sebagai
orang asing dan diam di situ selama ini. (32:5)Aku telah mempunyai
lembu sapi, keledai dan kambing domba, budak laki-laki dan perempuan, dan
aku menyuruh memberitahukan hal ini kepada tuanku, supaya aku mendapat
kasihmu."
Yakub
sedang dalam perjalanan dari Haran Mesopotamia ke tanah Seir, daerah Edom,
untuk bertemu Esau (kakaknya). Akan tetapi, Yakub menyuruh utusannya berjalan
lebih dahulu untuk mendapatkan Esau, sekaligus membawa pesan yaitu: bahwa Yakub
telah mempunyai lembu sapi, kambing domba, budak laki-laki dan perempuan.
Tujuan pemberitahuan itu adalah supaya Yakub mendapatkan kasih dari Esau,
kakaknya.
Dari
sini kita bisa melihat bahwa Yakub menggunakan mamon untuk mendapatkan kasih
dan perhatian dari Esau, kakaknya. Ini adalah cara-cara manusia duniawi,
bukan pola pikir di dalam Tuhan, kalau kita bandingkan dengan Filipi 2:5-8.
Filipi
2:5-8
(2:5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran
dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, (2:6) yang
walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
sebagai milik yang harus dipertahankan, (2:7) melainkan telah mengosongkan
diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan
manusia. (2:8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah
merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Ini
adalah pola pikir Sorgawi --- menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat
juga dalam Kristus Yesus, yaitu:
Melepaskan
reputasi-Nya / kemuliaan-Nya, lalu turun ke bumi menjadi manusia, sehingga
dengan demikian Ia mendapat kesempatan untuk menderita sengsara dan mati di
kayu salib. Tandanya:
-Mengosongkandiri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, dan
menjadi sama dengan manusia, dalam keadaan rendah hati
-Kemudian, taat sampai
mati, bahkan sampai mati di kayu salib, sebagai tanda kesetiaan.
Tetapi
di atas tadi kita melihat, untuk menemui Esau (kakaknya) Yakub harus
menggunakan cara-cara manusia duniawi. Dan hal itu disampaikan melalui (dengan
perantaraan) hamba-hambanya/utusannya. Pendeknya, paha atau kaki
(langkah-langkah perjalanan hidup) dari Yakub, belum mengalami penyucian dan
pembaharuan oleh Kolam Pembasuhan Tembaga.
Kejadian
32:6-7
(32:6) Kemudian pulanglah para utusan itu kepada Yakub dan
berkata: "Kami telah sampai kepada kakakmu, kepada Esau, dan ia pun
sedang di jalan menemui engkau, diiringi oleh empat ratus orang." (32:7)
Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah
orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya
menjadi dua pasukan.
Kemudian,
pulanglah utusan-utusan Yakub itu dan memberitahukan bahwa Esau sedang di jalan
untuk menemui Yakub diiringi oleh 400 orang. Mendengar berita itu sangat takutlah
Yakub, bahkan sesak hatinya, sebab Yakub berpikir bahwa Esau akan
membunuhnya.
Kenapa
dia punya pemikiran seperti itu? Karena kalau kita lihat di atas tadi, dia masih memiliki
pola pikir secara manusia duniawi. Kalau kita menggunakan pola pikir manusia
duniawi, maka akan terus mengingat hal-hal negatif, berpikir negatif, termasuk
kesalahan di masa lalu, yaitu: Esau balas dendam, untuk membunuh Yakub.
Kita
buktikan hal itu dalam…
Kejadian
27:41-42
(27:41)Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang
telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri:
"Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada
waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh." (27:42) Ketika
diberitahukan perkataan Esau, anak sulungnya itu kepada Ribka, maka
disuruhnyalah memanggil Yakub, anak bungsunya, lalu berkata kepadanya:
"Esau, kakakmu, bermaksud membalas dendam membunuh engkau.
Ini
yang diingat Yakub, bahwa Esau menaruh dendam. Pola pikir ini sudah dibentuk
dalam pikiran Yakub. Yakub selalu ingat masa lalu orang lain, rasa dendam Esau
yang disampaikan Ribka kepada Yakub terngiang-ngiang dalam pikirannya.
Semestinya, di dalam Tuhan tidak boleh seperti itu.
Saya
kasih sedikit kesaksian:
Satu
kali anak hamba Tuhan diutus ke tempat ini. Ternyata, dia sedang bermasalah
besar. Saya tidak perlu sebut masalahnya apa, pokoknya taruhannya adalah nyawa,
dia akan dibunuh, sebab teman kerjanya sudah disiksa menderita, tetapi yang
menjadi sasarannya sebenarnya adalah dia. Waktu saya mendapatkan berita ini,
dalam hati berkata: “wah luar biasa ini”, karena ini bukan masalah
kecil, tetapi besar sekali. Akhirnya saya mengatakan kepada dia: "Asal
kamu sungguh-sungguh tergembala, Om akan doa puasa untukmu”. Setelah doa puasa,
tidak lama kemudian saya dapat berita bahwa “sindikat” itu tahu kalau anak
hamba Tuhan ini ada di Serang dan Cilegon. Mereka berkata: "Saya tahu
kamu ada di Serang-Cilegon, saya tahu kamu tinggal di gereja.”
Kemudian,
satu kali saya ajak anak ini ke Serang, karena ada persekutuan. Pada saat
pulang, saya tidak bawa dia ke pastori, melainkan saya turunkan di persimpangan
jalan menuju ke rumah dimana ia tinggal. Pada saat dia berdiri di situ
menantikan jemputan, tiba-tiba ada orang datang naik sepeda motor (berboncengan),
berhenti persis di depan dia lalu bertanya: "Kamu….. (disebut
namanya)?”, dia menjawab: “oh, tidak, tidak, tidak.” Pada saat yang
sama, yang menjemput datang, akhirnya kaburlah dua orang ini.
Sindikat
ini kaitannya dengan …….. , jadi nyawa taruhannya.Tetapi saya sudah katakan: "Asal kamu
sungguh-sungguh, saya doa puasa untuk kamu", kalau istilah dunia;
pasang dada. Walaupun ketika saya pakai “pikiran ini” saya mulai gentar, tetapi
saya berpikir dengan iman saja. Tidak lama, anak ini ditelepon kembali oleh
sindikat tersebut. Mereka berkata: “Saya tahu kamu sekarang tinggal di
gereja, kalau kamu mau pulang, saya akan kasih ongkos untuk pulang, tetapi
kalau mau bertobat di situ, bertobatlah” Dan kepada anak ini pun justru
diberikan uang beberapa ratus ribu.
Pendeknya,
yang saya mau saksikan di sini adalah: kalau saya menggunakan pola pikir
manusia duniawi, saya juga akan terganggu. Tetapi saya lepaskan pola pikir
manusia duniawi, saya gunakan pikiran yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.
Dengan iman saja, bukan menggunakan / mengandalkan kekuatan seperti Yakub. Itu
yang membuat manusia menjadi kacau dalam hidupnya, ibadahnya, dalam
pelayanannya. Sebelum kehidupan semacam ini tersentuh kolam pembasuhan tembaga
(pembaharuan dan penyucian), kehidupan semacam ini tidak akan tenang sampai
kapanpun.
Seharusnya
kita menggunakan pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.
Tandanya:
-Kosongkan diri
-Mengambil rupa hamba.
-Lanjut merendahkan diri.
-Taat sampai mati bahkan
sampai mati di kayu salib = setia.
Itu
yang benar. Kesetiaan itu yang harus ditunjukkan. Tetapi Yakub masih kental
dengan pola pikir manusia duniawi, pikirannya tidak lepas dari dendam Esau,
kakaknya itu. Dia terngiang-ngiang dan selalu ingat perkataan ibunya (Ribka).
Saudara,
rasa takut yang dialami oleh Yakub menunjukkan bahwa ia tidak hidup di dalam
kasih Allah.
Saya
berdoa, kiranya kehidupan kita tersentuh dengan kolam pembasuhan tembaga
(baptisan air, pembaharuan, disucikan), supaya pola pikir kita berubah.Hendaklah kita menaruh pikiran, perasaan yang
terdapat juga dalam Kristus Yesus.
Mari
kita lihat…
1
Yohanes 4:17
(4:17) Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita,
yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman,
karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.
Dalam
hal ini kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu; kalau kita mempunyai
keberanian percaya pada hari penghakiman (berani menghadapi kedatangan Tuhan).
Berarti
selama kita di dunia ini, sama seperti Kristus Yesus, rela menyerahkan
hidup-Nya.
Pendeknya,
tidak takut berkorban, baik tenaga, pikiran, waktu, bahkan materi.
1
Yohanes 4:18
(4:18)Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang
sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa
takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.
Perlu
untuk diketahui;
Di
dalam kasih tidak ada ketakutan --- Itu berarti kita harus hidup di dalam kasih ALLAH, sebab
kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Sebab ketakutan mengandung
hukuman dan barang siapa takut ia tidak sempurna di dalam kasih. Berarti,
Yakub belum sempurna dalam kasih.
Berarti,
yang menjadi motor penggerak sehingga Yakub melakukan perbuatan baik, bukan
kasih Allah, tetapi kekuatan dan kemampuan daging yang berasal dari pola pikir
manusia duniawi.
Setelah
kita melihat kisah Yakub ini, banyak juga kekurangan/pelanggaran/kesalahannya,
meskipun dia adalah bapa leluhur orang Israel.
Pendeknya,
barang siapa takut, ia tidak sempurna dalam kasih.
Jangan
takut lagi menyerahkan hidup kepada Tuhan. Jangan hitung-hitungan lagi.
Siapa
yang berani menghadapi kedatangan Tuhan? Siapa berani untuk masuk surga? Yaitu; orang-orang yang berani
menghadapi persoalan di dunia ini.
1
Yohanes 4:19
(4:19) Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu
mengasihi kita.
Kalau
kita mengasihi sesama, itu karena Allah telah terlebih dahulu menderita
sengsara bahkan mati di kayu salib. Dan semua itu Dia lakukan untuk kita. Jadi,
mengasihi bukan karena orang lain telah berbuat baik atau mengasihi kita, sehingga
kita juga mengasihi dia, bukan seperti itu --- Itu metode-metode (pola pikir)
yang berasal dari manusia duniawi. Tetapi kita mengasihi orang lain (sesama)
karena salib di Golgota yang sudah terlebih dahulu menolong, menebus, memperdamaikan
kita dengan Allah Bapa, itu saja. Bukan karena dia sudah kirim kebaikan kepada
kita dalam bentuk apapun, lalu kita balas dengan kebaikan juga, bukan itu
motornya, itu pemikiran manusia duniawi.
1 Yohanes 4:20-21
(4:20) Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah,"
dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena
barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin
mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (4:21) Dan perintah ini kita
terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi
saudaranya.
Berkata:
“Aku mengasihi Allah”, tetapi membenci saudaranya = pendusta.
Alasannya:
barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi
Allah yang tidak dilihatnya. Kalau kita mengasihi yang tidak kelihatan, maka
kita harus bisa mengasihi yang kelihatan.
Jadi,
kalau kita berkata mengasihi Allah, maka kita wajib mengasihi sesama.
Ciri-ciri
apabila seseorang tidak sempurna dalam kasih:
Kejadian
32:7B-8
(32:7) Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka
dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya,
lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan. (32:8) Sebab pikirnya:
"Jika Esau datang menyerang pasukan yang satu, sehingga terpukul kalah,
maka pasukan yang tinggal akan terluput."
Selanjutnya
di sini kita melihat: Yakub membagi orang-orangnya menjadi dua pasukan,
termasuk kambing domba, lembu sapi dan unta. Dasar pemikiran Yakub membagi
menjadi 2 (dua) bagian adalah:
-Jika Esau menyerang pasukan yang satu sehingga terpukul kalah,
-Maka pasukan yang tertinggal (yang kedua) akan luput.
Itu
adalah pola pikir Yakub, pola pikir manusia duniawi, sebab Yakub masih
mengandalkan kekuatan dan kemampuannya, menunjukkan bahwa Yakub belum sempurna
dalam kasih.
Jadi
dari sini kita melihat bahwa kehidupan yang tidak sempurna dalam kasih
identik dengan pola pikir manusia duniawi, menggunakan strategi-strategi /
cara-cara manusia duniawi --- Kalau tidak begini nanti begitu, kalau tidak
begitu nanti begini. Ini ciri-ciri kehidupanyang tidak sempurna dalam kasih, banyak sekali akalnya, licik.
Padahal
Daud pernah berkata: “di tangan Tuhanlah pertempuran” (1 Samuel 17:47).
Artinya, yang menentukan siapa yang menang atau siapa yang kalah adalah Tuhan.
Tidak usah pakai strategi atau pola pikir menurut dunia.
Kejadian
32:9-10
(32:9) Kemudian berkatalah Yakub: "Ya Allah nenekku Abraham
dan Allah ayahku Ishak, ya TUHAN, yang telah berfirman kepadaku: Pulanglah ke
negerimu serta kepada sanak saudaramu dan Aku akan berbuat baik kepadamu -- (32:10)
sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang
Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini
waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua
pasukan. (32:11) Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan
Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga
ibu-ibu dengan anak-anaknya.
Selanjutnya
di sini kita melihat: Yakub berdoa kepada Allah, memohonkan supaya ia
dilepaskan (jangan dibunuh) dari tangan Esau. Yakub takut kalau nanti Esau
datang hanya untuk membunuh dia, istri-istrinya, serta anak-anaknya. Itulah
sebabnya dia berdoa sejadi-jadinya.
Saudara,
saya mau sampaikan dengan tandas:
Berdoa
kepada Tuhan tidak salah. Memang kita harus berdoa kepada Tuhan, karena doa merupakan
“sarana” yang Tuhan berikan kepada kita untuk dapat menyampaikan isi
hati, keluh kesah oleh karena banyaknya tekanan, beban hidup, pergumulan,
kesulitan yang menghimpit. Tetapi yang menjadi persoalan adalah, doa menjadi
tidak berarti kalau kita masih menggunakan pola pikir manusia duniawi, tidak
hidup dengan iman, tidak hidup di dalam kasih yang sempurna,
(masih takut).
Di
sini kita melihat, Yakub menaikkan permohonan kepada Allah, tetapi dia takut
kepada Esau. Maksudnya, takut kalau nanti Esau membunuh dia, istrinya, dan
anak-anaknya. Bukankah doa yang kita naikkan/panjatkan kepada Tuhan
dinaikkan oleh iman yang kuat?Karena kita begitu mengasihi Tuhan dengan
segenap hati, segenap jiwa, akal budi
(bukan karena ketakutan)?
Setelah
saya membaca ayat ini, saya berkata:“lucu juga hidup Yakub ini ya”. Mungkin,
masih banyak di antara kita berdoa karena ketakutannya, karena ada
kepentingannya, bukan karena iman dan kasihnya kepada Tuhan, ini keliru. Doa
semacam ini menjadi kekejian di
hadapan Tuhan. Karena Alkitab berkata: “Siapa memalingkan telinganya untuk
tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian.” (Amsal 28:9)
Banyak
orang Kristen berpikir; kalau sudah berdoa berarti rohaniawan atau rohaniwati,
tidak seperti itu. Sebab, kalau dia tidak mau dengar Firman, doanya adalah
kekejian. Jadi, doa yang dipanjatkan hingga tembus ke surga (didengar oleh
telinga Tuhan) adalah doa yang dikerjakan oleh orang-orang yang hidup dengan
iman dan mengasihi Tuhan dan sesama.
Saudara,
rasa takut yang dialami oleh Yakub menunjukkan bahwa Yakub tidak sempurna dalam
kasih dan iman. Jadi Yakub berdoa karena takut nanti Esau membunuh. Coba kita
bandingkan dengan neneknya itulah Abraham.
Roma
4:16-17 --- Perikop: “Abraham dibenarkan karena iman”
(4:16) Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya
merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan
Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi
mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, -- (4:17)
seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak
bangsa" -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah
yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa
yang tidak ada menjadi ada.
Pertama-tama
yang saya sampaikan adalah: Firman Iman (Firman Kristus) berkuasa untuk…
-Mengadakan yang tidak ada menjadi ada.
-Menghidupkan yang mati.
Roma
4:18-19
(4:18) Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun
Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak
bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti
keturunanmu." (4:19)Imannya tidak menjadi lemah, walaupun
ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya
telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. (4:20)
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan,
malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,
Terhadap
janji Allah, Abraham tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat
dalam imannya dan ia tetap memuliakan Tuhan. Abraham ditetapkan oleh Tuhan
sebagai bapak bagi banyak bangsa (bapak orang beriman), padahal, sebetulnya
tidak ada dasar. Mengapa demikian?
-Sebab usianya sudah tua. (Kalau dalam Ibrani
11:12 --- lemah syahwat atau mati pucuk).
-Sara (istrinya) juga sudah tua. Rahimnya sudah tertutup alias mandul.
Beda
dengan Yakub; berdoa bukan karena iman, berdoa karena takut dibunuh oleh Esau,
karena bayang-bayang masa lalu, yaitu; orang-orang yang masih mengandalkan
kekuatan dan kemampuannya, bertahan dengan pola pikir manusia duniawi. Kehidupan
semacam ini, akan menjadi jahat sekali, merusak diri sendiri, merusak
lingkungan, merusak orang lain, merusak nikah dan rumah tangga, merusak
penggembalaan.
Jangan
pertahankan pola pikir manusia duniawi. Jangan ingat cerita masa lalu.
Akhirnya, doanya kepada Tuhan oleh karena rasa takut dibunuh Esau. Ada juga
yang berdoa karena takut tidak punya pekerjaan, takut tidak punya uang dan
takut tidak makan dan minum, itu bukan iman.
Bagi
saya, Yakub ini lucu. Ternyata banyak juga kekurangannya sebelum tersentuh
kolam pembasuhan tembaga (belum ada tanda baptisan, pembaharuan, penyucian
air Firman). Masih menggunakan pola pikir manusia duniawi, tidak sempurna
dalam kasih, karena dia masih penakut, dan itu dasar dia menaikkan doa. Tidak
salah berdoa, memang kita harus berdoa, sbab doa adalah sarana, tetapi
harus tahu cara berdoa.
Kejadian
32:12
(32:12) Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat
baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena
banyaknya tidak dapat dihitung."
Padahal
Yakub tahu bahwa Tuhan akan mengaruniakan keturunan padanya seperti pasir di
laut banyaknya, seperti janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, Yakub.
Saudara,
Kejadian 32:9-11 tadi, Yakub berdoa kepada Allah memohon supaya ia
dilepaskan dari tangan Esau (Esau tidak membunuh Yakub). Berdoa tetapi bukan
dasar iman, melainkan karena dasar takut.
Padahal
ayat 12, Yakub tahu bahwa Tuhan akan mengaruniakan keturunan padanya
seperti pasir di laut banyaknya.
Jadi
jelas, rasa takut yang dialami oleh Yakub menunjukkan bahwa Yakub tidak
sempurna dalam iman dan kasih.
Di
atas tadi kita sudah baca: Tuhan berjanji kepada Abraham, bahwa ia akan
dijadikan sebagai bapa banyak bangsa (bapa orang beriman) meskipun tidak ada
dasarnya, karena:
-Usianya sudah 100 tahun berarti; lemah syahwat / mati pucuk.
-Istrinya mandul.
Tetapi
dia tetap percaya oleh iman, diperkuat oleh iman. Jadi, kalau berdoa itu
harus diperkuat oleh iman. Beda dengan Yakub, dia berdoa karena takut dibunuh.
Seperti yang tadi sudah saya katakan: takut tidak punya makanan, pakaian, uang
(takut miskin) dan lain-lain.
Kesalahan
Yakub berikutnya, karena rasa takut…
Kejadian
32:13-18
(32:13) Lalu bermalamlah ia di sana pada malam itu. Kemudian
diambilnyalah dari apa yang ada padanya suatu persembahan untuk Esau,
kakaknya, (32:14) yaitu dua ratus kambing betina dan dua puluh
kambing jantan, dua ratus domba betina dan dua puluh domba jantan,
(32:15)tiga puluh unta yang sedang menyusui beserta
anak-anaknya, empat puluh lembu betina dan sepuluh lembu jantan, dua
puluh keledai betina dan sepuluh keledai jantan. (32:16)
Diserahkannyalah semuanya itu kepada budak-budaknya untuk dijaga,
tiap-tiap kumpulan tersendiri, dan ia berkata kepada mereka: "Berjalanlah
kamu lebih dahulu dan jagalah supaya ada jarak antara kumpulan yang satu
dengan kumpulan yang lain." (32:17) Diperintahkannyalah kepada
yang paling di muka: "Apabila Esau, kakakku, bertemu dengan engkau dan
bertanya kepadamu: Siapakah tuanmu? dan ke manakah engkau pergi? dan milik
siapakah ternak yang di depanmu itu? -- (32:18) jawablah: milik
hambamu Yakub; inilah persembahan yang dikirim kepada tuanku Esau, dan Yakub
sendiri pun ada di belakang kami."
Di
sini kita melihat, Yakub menyuruh hamba-hambanya untuk membawa persembahan
kepada Esau: Antara lain:
1)200 kambing betina
2)20 kambing jantan
3)200 domba betina
4)20 domba jantan
5)30 unta
6)40 lembu betina
7)10 lembu jantan
8)20 keledai betina
9)10 keledai jantan
Pendeknya,
Yakub membawa suatu persembahan besar kepada Esau, kakanya, dengan tiga
kumpulan/kelompok, lalu persembahan tersebut dijaga oleh budak-budaknya di
dalam tiga kelompok tersebut, sambil menjaga jarak.
Antara
kumpulan yang satu dengan kumpulan yang lain istilah sekarang “konvoi” tetapi
jarak tetap dijaga. Secara logika, begitu hebat Yakub menyusun strategi, sebab
dia takut kepada Esau.
Akan
tetapi, tampaklah dengan jelas kesalahan-kesalahan Yakub karena takutnya kepada
Esau, antara lain:
-Yakub
mengatakan dirinya adalah hamba terhadap
Esau. Padahal, menurut Tuhan dia adalah tuan, sedangkan Esau adalah hamba,
sebagaimana dalam Roma 9:12 --- dikatakan kepada Ribka: "Anak
yang tua akan menjadi hamba anak yang muda," --- Itu Tuhan yang
berkata, tetapi karena Yakub takut, semua jadi berubah. Kata Tuhan diubah oleh
kata manusia.
-Yakub
sendiri pun ada di belakang kami. Saudara, inilah posisi Yakub berada.
Seharusnya seorang pemimpin berjalan
di depan, tetapi Yakub justru berada pada barisan belakang. Dalam hal ini,nampaklah tabiat Goliat di dalam diri Yakub.
Yang paling muka (depan) jaga jarak
dengan kelompok berikutnya. Itulah strategi yang dia gunakan. Sebetulnya, di
dalam hal mengasihi tidak perlu pakai strategi. Sebab satu dengan yang lain
harus saling mengasihi.
Saudara,
apa yang telah diperbuat oleh Yakub ini, kita bandingkan dengan Goliat, untuk
melihat persamaan yang ada.
1
Samuel 17:5-7
(17:5)Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju
zirah yang bersisik; berat baju zirah ini lima ribu syikal tembaga. (17:6)
Dia memakai penutup kaki dari tembaga, dan di bahunya ia memanggul
lembing tembaga. (17:7) Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun, dan
mata tombaknya itu enam ratus syikal besi beratnya. Dan seorang pembawa perisai
berjalan di depannya.
Goliat diperlengkapi dengan segala
perlengkapan di dalam tubuhnya, antaralain: ketopong
tembaga pada kepala, baju zirah, penutup kaki dari tembaga,tetapi masih juga seorang pembawa perisai
berjalan di depannya. Padahal tingginya 6 hasta sejengkal.
Biasanya, seorang tentara di dalam
medan perang harus membawa perisa sendiri (iman sendiri). Iman kita bukan
tergantung kepada pembawa perisai di depan, tetapi iman kita di dalam diri kita.
Dari sini kita bisa melihat, Yakub tidak ada bedanya dengan Goliat, dengan kata
lain; Yakub adalah manusia daging.
Sedangkan Goliat berbicara tentang
daging besar di dalam diri seseorang.
Perlu untuk diketahui:
Kalau kita mau memberi, kitalah yang
memberikannya, bukan orang lain. Kemudian ketika kita memberibukan untuk memegahkan diri, tetapi ada
“kebanggaan” tersendiri --- bangga untuk berbagi, berjabat tangan, berpelukan
dalam kasih dan seterusnya. Kita memberi sesuatu ke orang lain, tetapi kita
suruh pembantu yang antarkan. Maka, yang menerima kiriman itu “sekelas/selevel”
dengan pembantu yang memberikan.
Kalau kita mau menghargai orang,
maka kitalah yang datang, bawalah persembahan itu langsung kepada orang itu
dengan ketulusan hati. Persembahan yang kita miliki tidak pantas dibawa oleh
orang lain, termasuk persembahan
persepuluhan, persembahan khusus, buah sulung dan persembahan-persembahan
lainnya kepada Tuhan.
Kita
sudah semakin melihat keberadaan Yakub. Sampai pada ayat ini, Yakub masih belum
tersentuh dengan kolam pembasuhan tembaga (belum mengalami penyucian dan
pembaharuan).
Sekarang…
Kejadian
32:19-20
(32:19)Begitulah diperintahkannya baik kepada yang kedua
maupun kepada yang ketiga dan kepada sekalian orang yang berjalan menggiring
kumpulan hewan itu, katanya: "Seperti perkataanku tadilah kamu katakan
kepada Esau, apabila kamu berjumpa dengan dia; (32:20) dan kamu harus
mengatakan juga: Hambamu Yakub sendiri ada di belakang kami." Sebab pikir
Yakub: "Baiklah aku mendamaikan hatinya dengan persembahan yang
diantarkan lebih dahulu, kemudian barulah aku akan melihat mukanya; mungkin
ia akan menerima aku dengan baik."
Memang
persembahan Yakub besar, tetapi dikirim melalui hamba-hambanya. Dari sini saja
sudah tidak ada etika, karena yang akan menerima persembahan itu akan menjadi
selevel dengan seorang hamba. Tetapi, menurut Yakub itu bagus, dengan
pesembahan yang banyak itu untuk kakaknya (Esau) akan menerima dia dengan muka
berseri, maksudnya; tidak ada lagi keinginan untuk membunuh atau balas dendam.
Itu menurut pola pikir Yakub.
Kejadian
32:21
(32:21) Jadi persembahan itu diantarkan lebih dahulu, tetapi
ia sendiri bermalam pada malam itu di tempat perkemahannya.
Yakub
berkemah di tempat perkembahannya yaitu di sungai Yabok (Tinggal sendiri pada
bagian belakang).
Sekarang
kita lihat…
Kejadian
32:22-24--- Perikop: “Pergumulan
Yakub dengan Allah”
(32:22) Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua isterinya,
kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat
penyeberangan sungai Yabok. (32:23) Sesudah ia menyeberangkan
mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya. (32:24) Lalu tinggallah
Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar
menyingsing.
Sementara
semua sudah diseberangkan, dia tinggal di belakang dan bermalam di sungai Yabok
di kemahnya itu. Pada malam itu seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai
fajar menyingsing.
Begitu
juga dengan kita dalam hidup ini, setiap harinya bergumul dalam banyak perkara.
Bergumul menghadapi segala keinginan daging yang masih kuat di dalam diri kita.
Antara lain: hasrat atau ambisi, ego, kesombongan, ke-aku-an, maka untuk itu
kita harus bergumul. Dan kalau bisa, kiranya kita berkemenangan terhadap segala
pergumulan-pergumulan itu.
Kejadian
32:25
(32:25) Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat
mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi
pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.
Ketika
orang itu melihat bahwa ia tidak dapat mengalahkan Yakub, yang hidup sama
seperti Goliat yang masih mengandalkan kekuatan dan kemampuannya untuk menopang
hidupnya, maka, mau tidak mau, laki-laki itu memukul pangkal paha
persendiannya. Sehingga terpelecoklah Yakub, itu berarti Yakub tidak
bisa lagi menopang bagian dari hidupnya.
Itulah
cara Tuhan, walaupun nampaknya kejam, tetapi tidak. Karena Tuhan tidak mau
melihat kehidupan yang hari-harinya selalu mengandalkan kekuatan, kemampuannya
sendiri,dengan menggunakan strategi ini
dan itu, pola pikir manusia duniawi, menggunakan cara-cara manusia daging,
bahkan cara-cara seperti Goliat pun dilakukan.
Tujuan
Tuhan membuat Yakub terpelecok: supaya Yakub bergantung / bersandar hanya
kepada Tuhan, bukan kepada kekuatan, kemampuan manusia daging.
Jangan
lagi kita bersandar kepada gaji sebulan, bisnis/usaha, pekerjaan, proyek,
kedudukan, jabatan, pangkat. Kalau kita merasa kuat karena semua yang kita
miliki, satu kali Tuhan akan pukul pangkal pahammu sampai terpelecok, sampai
tidak berdaya. Ingat firman ini!
Kalau
masih ikut Tuhan namun masih tetap mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri,
satu kali akan Tuhan pukul pangkal pahammu sampai terpelecok, supaya pada
akhirnya tidak berdaya lagi, tidak lagi mengandalkan kekuatan, kemampuanmu,
untuk menopang seluruh kehidupan, kecuali bersandar/bergantung kepada Tuhan dan
kemurahan-Nya.
Kejadian
32:26-28
(32:26) Lalu kata orang itu: "Biarkanlah aku pergi, karena
fajar telah menyingsing." Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan
engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku." (32:27)
Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?" Sahutnya:
"Yakub." (32:28) Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan
disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan
Allah dan manusia, dan engkau menang."
Itulah
Israel, pejuang kemenangan, sebab ia telah bergumul melawan Allah dan manusia,
dan ia menang.
Sebetulnya,
jikalau seseorang telah melihat Allah, haruslah dia mati. Karena tidak ada orang
yang dapat melihat wajah Allah, pasti mati, tetapi nyatanya, Yakub masih hidup.
Itu kemurahan Tuhan
Kejadian
32:29-30
(32:29) Bertanyalah Yakub: "Katakanlah juga namamu."
Tetapi sahutnya: "Mengapa engkau menanyakan namaku?" Lalu
diberkatinyalah Yakub di situ. (32:30)Yakub menamai tempat itu Pniel,
sebab katanya: "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku
tertolong!"
Karena
Yakub bergulat dengan laki-laki dan berkemenangan, akhirnya disebutlah tempat
itu Pniel (Pnuel).
Dalam
bahasa Ibrani artiya: Yakub telah melihat Allah --- Pniel dari kata panim yang berarti wajah, dan El yang
berarti Allah. Itu sebabnya nama nabi-nabi banyak diakhiri dengan “El”. Contoh:
Israel, Daniel, Samuel, masih banyak
lagi.
Yakub
melihat Allah tetapi masih hidup, itu adalah kemurahan. Pada saat itulah Tuhan
memberkati Yakub dan berganti nama menjadi Israel. Berkat yang diterima oleh
Yakub: sekarang dia bersandar kepada kemurahan Tuhan. Hidupnya sudah
terkena kepada kolam pembasuhan tembaga, berarti mengalami baptisan
(mati-bangkit, mengalami penyucian
dan pembaharuan). Itu berkat yang
dia terima dari Tuhan, buktinya namanya menjadi Israel. Sekarang kaki Yakub
tidak bisa lagi diandalkan --- untuk bertemu dengan Esau, tidak ada lagi
strategi-strategi selain berharap hanya kepada kekuatan dan kemurahan hati Tuhan
saja.
Saya
berharap, yang sudah dibaptis juga berhenti mengandalkan kekuatannya, bagaikan
pangkal paha telah dipukul Tuhan hingga terpelecok, tidak bisa lagi bergantung
kepada kekuatan dan kemampuan sendiri.
Supaya
lebih terang lagi kita lanjut pembacaan dalam…
Hosea
12:4
(12:4) Di dalam kandungan ia menipu saudaranya, dan dalam
kegagahannya ia bergumul dengan Allah.
Di
sini sudah nampak 2 (dua) hal:
-Dari kandungan sudah menipu
-Dalam kegagahannya bergumul dengan Allah = mengandalkan kekuatan dan kemampuan daging.
Itulah
Yakub sebelum disucikan dan dibaharui oleh Tuhan dalam bejana pembasuhan
tembaga.
Hosea
12:5-6
(12:5) Ia bergumul dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan
memohon belas kasihan kepada-Nya. Di Betel ia bertemu dengan Dia, dan di
sanalah Dia berfirman kepadanya: (12:6) -- yakni TUHAN, Allah semesta
alam, TUHAN nama-Nya --(12:7) "Engkau ini harus berbalik kepada
Allahmu, peliharalah kasih setia dan hukum, dan nantikanlah
Allahmu senantiasa."
Sesudah
mengalami baptisan (kolam pembasuhan tembaga), Yakub meninggalkan dosa masa
lalunya….
-Suka menipu
-Mengandalkan kekuatan, kegagahan -> Goliat rohani, yaitu: daging besar.
-Mengandalkan pola pikir dan cara-cara manusia duniawi.
Sekarang,
untuk bertemu dengan Esau, dia menangis untuk memohon kepada kemurahan hati
Tuhan. Inilah doa yang di dorong oleh iman dan kasih kepada Tuhan, dan
akhirnya dia selamat oleh pertolongan Tuhan. Tidak perlu pakai
stragei-strategi, itu merusak lingkungan, merusak hati.
Sesudah
kaki terpelecok berarti kekuatannya sudah dirontokkan dari dalam dirinya (tidak
bisa lagi menopang seluruh hidup ini), barulah Yakub menangis, memohon belas
kasih, sehingga dalam doa ia berkata: Tuhan tolonglah hamba ini.
Pendeknya,
pada paha-Nya tertulis suatu nama yaitu: Raja segala raja dan Tuan
di atas segala tuan. Itulah Israel, pejuang yang berkemenangan. Yakub tetap
raja dan tuan dan yang menjadi hamba adalah Esau sebagaimana yang
tertulis dalam Roma 9:12. Jadi jelas, perkataan Tuhanlah yang benar,
bukan perkataan manusia, bukan prinsip manusia, bukan pola pikir manusia yang
masih mengandalkan kekuatan dan kemampuannya.
Engkau ini harus berbalik kepada
Allah-mu.
Tujuannya ialah: peliharalah kasih setia dan
kebenaran, itu
namanya iman, supaya kalau kita berdoa, kita berdoa karena kasih dan iman.
Dan nantikanlah Allahmu senantiasa --- tunggu jawaban dari Tuhan. Yang
pasti Tuhan akan menolong, membela, menyertai, memberkati kita dari sekarang
sampai selama-lamanya. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA
MEMBERKATI