IBADAH RAYA MINGGU, 03 MEI 2026
KITAB WAHYU 19:15
(Seri 1)
Subtema: MENTAL TUAN BUKAN
MENTAL HAMBA
Salam sejahtera, di dalam kasih sayang dan kasih setia
Tuhan, yang sudah menghimpunkan kita malam ini di atas gunung Tuhan, lewat
Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, umat ketebusan
Tuhan, yang turut bergabung lewat live streaming / video internet, baik dari
Youtube maupun Facebook, dimanapun saudara berada sekarang. Harapan kami dari
tempat ini, kiranya dalam keadaan sehat, Tuhan bertakhta di hati kita, supaya
kita boleh merasakan sukacita dan bahagia saat duduk diam mendengarkan Sabda
Allah. Tidak gelisah dengan penyucian, tetapi dengan syukur yang dalam kita mau
disucikan sampai disempurnakan.
Selanjutnya, marilah kita sambut KITAB WAHYU sebagai Firman
Penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu. Sekarang kita akan memasuki ayat yang
baru yaitu Wahyu 19:15.
Namun, tetaplah berdoa dalam Roh, mohon kemurahan Tuhan
supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas
pribadi. Bersikaplah laki-laki dalam menghadapi kebenaran Firman Tuhan.
Wahyu 19:15
(19:15) Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang
akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada
besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka
Allah, Yang Mahakuasa.
Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah
pedang tajam. Pedang tajam 🡪 Firman Allah, digunakan untuk
memukul segala bangsa.
Saudara, diwaktu yang singkat ini, marilah kita menghormati
dan menghargai Firman Allah setinggi-tingginya, lebih dari apapun. Lebih dari
kepentingan kita dan juga apa yang ada di bumi ini. Sebab, Firman Allah
adalah pribadi Allah itu sendiri, sangat berkuasa, dan memiliki daya cipta
dari yang tidak ada menjadi ada.
Tuhan menciptakan langi dan bumi serta segala sesuatu yang
ada di dalamnya, oleh Firman-Nya. Bahkan, Alkitab berkata, oleh karena Firman
Allah yang mati dihidupkan kembali.
Roma 4:17-19 --- Perikop: “Abraham dibenarkan karena
iman.”
(4:17) seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan
menjadi bapa banyak bangsa" -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia
percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan
dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. (4:18) Sebab
sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga
dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah
difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (4:19)
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah
sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan
bahwa rahim Sara telah tertutup.
Kembali saya sampaikan; Allah menghidupkan orang mati dan
menjadikan dengan Firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Dalam hal ini
kuasa Firman Allah dinyatakan kepada pribadi Abraham. Sebab ia telah ditetapkan
sebagai bapa banyak bangsa, bapa orang beriman, meskipun…
1.
Tubuhnya sudah sangat
lemah, istilah lain lemah
syahwat atau mati pucuk. Karena memang, saat janji Firman Allah dinyatakan
usianya ± 100 tahun.
2.
Rahim Sara telah
tertutup dengan lain kata mandul.
Jadi sebetulnya tidak ada dasar bagi Abraham untuk dijadikan
bapa segala bangsa, bapa orang beriman. Tetapi Abraham tetap percaya kepada
Firman Allah, sekalipun tidak logis / tidak masuk akal.
Mengikut Tuhan tidak boleh pakai logika, tetapi kita harus
percaya, karena iman saja. Jangan bertindak karena logika tetapi karena iman.
Iman = percaya meskipun tidak melihat.
Apa yang dijelaskan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma,
rupanya kutipan yang dinyatakan Allah kepada Abraham.
Kejadian 17:3-6
(17:3) Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: (17:4)
"Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan
menjadi bapa sejumlah besar bangsa. (17:5) Karena itu namamu
bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi
bapa sejumlah besar bangsa. (17:6) Aku akan membuat engkau beranak cucu
sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan
berasal raja-raja.
Terkait ditetapkannya Abraham menjadi bapa banyak bangsa,
maka, Tuhan mengganti nama Abram menjadi Abraham. Itu berbicara soal
pembaharuan / transformasi yang terjadi lewat penyucian air Firman
Allah.
Banyak di antara kita sesudah lahir baru diberikan nama baru
atau nama rohani, jangan lagi nama-nama duniawi. Harapan saya, kiranya nama baru
itu sesuai dengan tokoh-tokoh Alkitab. Bukan saya tidak menghargai nama yang
diberikan oleh orangtuanya. Dari manusia jasmani menjadi manusia rohani, itulah
harapan saya.
Jadi, pendeknya, penyucian itu tidak boleh berhenti pada
baptisan air tetapi harus lanjut kepada penyucian oleh Firman Allah. Hal itu
juga dinyatakan oleh Paulus kepada jemaat di Efesus.
Efesus 5:26-27
(5:26) untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan
memandikannya dengan air dan firman, (5:27) supaya dengan demikian Ia
menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut
atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
Singkat kata, gereja Tuhan dikuduskan setelah disucikna oleh
air (baptisan air) dan Firman Allah, sehingga gereja Tuhan
menjadi cemerlang, tanpa cacat, atau kerut, atau yang serupa itu. Selanjutnya,
gereja Tuhan di tempatkan di hadapan diri-Nya. Oleh sebab itu mari kita
menghargai dan menghormati Firman Tuhan setinggi-tingginya lebih dari segala
yang ada ini.”
Cemerlang tanpa cacat Ã
gereja Tuhan yang sempurna, yakni; sidang mempelai Tuhan.
Dan hal itu ditampilkan dalam Wahyu 21…
-
Ayat 9, berbicara mempelai Tuhan
-
Ayat 10, gambaran dai kota kudus Yerusalem yang baru
-
Ayat 11, bercahaya kemuliaan Allah, karena dia adalah
permata yaspis, jernis seperti Kristal.
Kristal
= transparan, itu berarti di luar sama dengan di dalam. Kehidupan seperti ini
di tempatkan di hadapan Tuhan.
Di tempatkan di hadapan Tuhan, artinya; layak bersanding dengan Dia dalam pesta nikah Anak
Domba.
Sebab muara dari ibadah adalah pesta kawin Anak Domba (Wahyu
19:6-7).
Mari kita lanjutkan sampai surat tahbisan…
Titus 3:3
(3:3) Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan:
tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan
keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling
membenci.
“Dahulu”,
berarti; sebelum dipanggil oleh Tuhan kita semua hidup dalam kejahilan,
maksudnya:
1.
Tidak taat = tidak tunduk dan tidak memiliki roh takut
akan Tuhan
2.
Sesat = menyimpang dari jalan kebenaran yaitu; jalan
salib.
3.
Menjadi hamba
berbagai-bagai nafsu dan keinginan
= hidup tanpa Roh Allah.
Kita tidak boleh asal hidup, harus berarti di
hadapan Tuhan. Jangan hidup hanya untuk mencapai cita-cita setinggi langit
tetapi jauh dari Firman, Roh Allah dan kasih. Yang penting ada
makanan dan minuman serta pakaian, itu namanya asal hidup, akan tetapi itu yang
dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan / bangsa kafir.
Sedikit melebar..
Matius 6:31
(6:31) Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan
kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
Yang dikuatirkan di sini hanya soal makan,
minum dan pakaian. Siapa yang mengkuatirkan ketiga hal ini?
Matius 6:32
(6:32) Semua itu dicari
bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga
tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
Ketiga hal tersebut dicari oleh bangsa kafir. Jadi,
keduniawian atau hidup secara duniawi, akan mengarah kepada antikris, bangsa
yang tidak mengenal Allah.
Mengikuti pendidikan setinggi-tingginya tidak salah, boleh
bekerja dan berbisnis, tidak dilarang. Tetapi, yang terutama di dalam hidup ini
adalah kerajaan Sorga dan kebenaran yang ada di dalamnya. Sorga dan Tuhan yang
ada di dalamnya, itulah yang nomor satu / terutama.
4.
Hidup dalam kejahatan
dan kedengkian.
Dia hidup dalam semua jenis kejahatan ditambah
lagi dengan kedengkian. Dengki = tidak suka dengan keberhasilan orang lain
karena iri hati.
5.
Keji.
Contoh keji; Ulangan 25:13-16 --
"Janganlah ada di dalam pundi-pundimu dua macam batu timbangan, yang besar
dan yang kecil. Janganlah ada di dalam rumahmu dua macam efa, yang besar dan
yang kecil. Haruslah ada padamu batu timbangan yang utuh dan tepat; haruslah
ada padamu efa yang utuh dan tepat -- supaya lanjut umurmu di tanah yang
diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Sebab setiap orang yang melakukan hal
yang demikian, setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi
TUHAN, Allahmu."
Contoh keji berikutnya dihadapan Tuhan. Banyak
orang Kristen berdoa kepada Tuhan. Saat susah berdoa, saat bingung berdoa,
tetapi tidak mau mendengar Firman, maka doanya adalah kekejian bagi Tuhan,
sebagaimana dalam Amsal 28:9 --- Siapa memalingkan telinganya untuk
tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian.
Kita mau supaya Tuhan dengar doa kita, tetapi
kita tidak mau mendengar Firman (suara) Tuhan, doa semacam ini keji dihadapan
Tuhan. Itulah kehidupan orang Kristen yang belum mengerti panggilan Tuhan.
6.
Saling membenci, menunjukkan bahwa kasih Allah tidak tinggal
dalam dirinya.
Perlu untuk diketahui; membenci sesama setara
dengan dosa membunuh… 1 Yohanes 3:15.
Itulah zaman kejahilan, sebelum mengerti kebenaran sekalipun sudah Kristen.
Sekarang…
Titus 3:4-7
(3:4) Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan
kasih-Nya kepada manusia, (3:5) pada waktu itu Dia telah
menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan,
tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan
yang dikerjakan oleh Roh Kudus, (3:6) yang sudah dilimpahkan-Nya kepada
kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, (3:7) supaya kita, sebagai
orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang
kekal, sesuai dengan pengharapan kita.
Dahulu kita hidup dalam kejahilan,
tetapi pada akhirnya kita diselamatkan. Abraham juga seperti itu,
sebelum dipanggil, ia hidup dalam kejahilan, hidup di dalam noda kekafiran,
yaitu; penyembahan berhala dan kenajisan percabulan, tetapi pada
akhirnya ia diselamatkan.
Kita diselamatkan bukan karena
perbuatan baik kita, amal soleh, melainkan oleh karena rahmat Allah, kemurahan
hati Allah yaitu;
a.
Lewat permandian
kelahiran kembali.
Jadi, orang yang hidup dalam kejahilan juga bisa
dilahirkan kembali oleh air dan Firman, asal mau, tidak lari dari kenyataan
hidup.
b.
Lewat pembaharuan yang
dikerjakan oleh Roh Kudus.
Saudara, kalau kita sungguh-sungguh di dalam
kegiatan Roh pasti ada pembaharuan. Dibaharui berarti sama seperti dilahirkan
kembali.
Oleh sebab itu, tetaplah dalam
kegiatan Roh Kudus itulah ibadah dan pelayanan, dari situ nanti terjadi
pembaharuan atau lahir kembali. Sampai akhirnya berhak menerima hidup kekal
yang sesuai dengan pengharapan kita.
Kejadian 17:6
(17:6) Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau
akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja
Setelah dilahirkan kembali oleh air
Firman Allah, orang-orang yang hidup dari iman Abraham selanjutnya dijadikan
raja-raja.
Wahyu 5:10
(5:10) Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan,
dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah
sebagai raja di bumi."
Imamat rajani akan memerintah sebagai Raja di bumi, itu
berarti; menjadi tuan bukan hamba, kepala bukan ekor.
Sekarang kita melihat terkait TUAN dan HAMBA.
Galatia 4:1-5 --- Perikop: “Tidak ada lagi perhambaan”
(4:1) Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum
akil balig, sedikit pun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun
ia adalah tuan dari segala sesuatu; (4:2) tetapi ia berada di bawah
perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh
bapanya. (4:3) Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk
juga kepada roh-roh dunia. (4:4) Tetapi setelah genap waktunya, maka
Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada
hukum Taurat. (4:5) Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada
hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.
Di sini kita akan melihat keadaan tuan dan hamba.
Tetapi terlebih dahulu kita perhatikan, apa yang dimaksud
dengan HAMBA, yaitu;
a.
Belum akil balig.
Berarti; masih kanak-kanak, belum dewasa.
Ciri kanak-kanak; tidak mengenal kewajiban,
selain hanya menuntut hak disertai dengan persungutan.
b.
Berada di bawah
pengawasan atau perwalian.
Artinya; belum dipercaya bahkan tidak dipercaya
= belum mandiri à orang-orang yang belum mengenal kepribadian.
c.
Takluk kepada roh-roh
dunia, itulah orang-orang
yang menjalankan hidupnya secara manusia duniawi, tidak berlandaskan Tuhan.
Berarti, berfokus pada materi, ego dan kemampuannya sendiri.
Padahal, roh – roh dunia itu lemah dan miskin,
sebagaimana pada ayat 9 --- Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah,
atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada
roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi
kepadanya?
Tetapi, biar
bagaimanapun, seorang hamba berharap pada roh-roh dunia, tetap lemah dan
miskin. Roh apapun yang ada di dalam dunia ini, tidak sama dengan Roh Tuhan,
sebab Roh Tuhan lebih besar dari roh-roh di dunia ini.
d.
Takluk pada hukum Taurat, itu berarti;
menjalankan ibadah secara Taurat / lahiriah saja.
Contoh ibadah Taurat:
mulut memuliakan Tuhan, tetapi hatinya jauh dari pemberitaan Firman (Matius
15:8).
Dampak negatif menjalankan ibadah Taurat:
Tidak diampuni dan tidak mengampuni orang yang
bersalah sebagaimana dalam Roma 2:15 -- Sebab dengan itu mereka
menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka
dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau
saling membela.
Inilah keadaan dari seorang hamba. Itu sebabnya saya
katakan; sidang jemaat mengertilah untuk menghargai, pekerjaan penebusan yang
telah dikerjakan oleh Yesus.
Tanda mengerti penebusan: mengerti muara dari penebusan
yaitu; dijadikan imamat rajani, berarti memerintah sebagai Raja di bumi = tuan
bukan hamba (Wahyu 5:9-10).
Keadaan dari seorang TUAN.
Galatia 4:6-7
(4:6) Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh
Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (4:7)
Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu
juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.
Tuan; memerintah sebagai raja di bumi, sehingga ia layak
menjadi ahli waris kerajaan Sorga. Kita perhatikan kembali ayat 1.
Galatia 4:1
(4:1) Yang dimaksud ialah: selama seorang
ahli waris belum akil balig, sedikit pun ia tidak berbeda dengan seorang
hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu;
Jadi,
menjadi tuan berarti layak menjadi ahli waris kerajaan Sorga.
Kalau kita
menjadi imamat rajani, melayani dengan sistem kerajaan Sorga, berarti;
memerintah sebagai raja di bumi, ini yang disebut tuan; layak menjadi ahli
waris kerajaan Sorga.
Jadi, kalau
saudara tidak memiliki mental sebagai tuan yaitu; imamat rajani (berada pada
kedudukan yang sangat tinggi), jangan berharap untuk masuk dalam kerajaan
Sorga. Sebab walaupun ia adalah tuan, kalau belum akil balig, dengan lain kata;
keadaannya sama seperti keadaan hamba, tidak akan mewarisi kerajaan Sorga. Yang
mewarisi kerajaan Sorga adalah imamat rajani (tuan).
Oleh sebab
itu, mulai dari sekarang, mengertilah muara dari penebusan, berjuanglah untuk
menjadi imamat rajani (seorang tuan). Jangan hidup seperti manusia duniawi,
normatif saja. Saya akan buktikan, imamat rajani berhak mewarisi kerajaan
Sorga.
Ibrani 11:12
(11:12) Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang
yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di
langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.
Dari satu
orang yang telah mati pucuk atau lemah syahwat 🡪 Abraham. Dari situlah
terpancar keturunan besar seperti bintang di langit.
Bintang di
langit
🡪 orang yang ditinggikan oleh Tuhan,
itulah hamba-hamba yang diurapi Tuhan, tuan yang memerintah sebagai raja di
bumi.
Pendeknya,
dari Abraham lahirlah raja-raja.
Mari kita
lihat kondisi seorang “tuan”
Ibrani
11:13-14
(11:13) Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang
yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh
melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka
adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. (11:14) Sebab mereka
yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu
tanah air.
Ini adalah
mental tuan bukan mental hamba.
Bintang-bintang di langit / imamat rajani disebut juga tuan,
memerintah sebagai raja di bumi, mereka mengaku sebagai’ ORANG ASING dan
PENDATANG di bumi. Itu berarti, mereka tidak merindukan bumi ini. Mengapa?
Karena mereka merindukan tanah air Sorgawi, mereka terus-menerus
melambai-lambai sebelum kerinduan itu tercapai.
Ibrani 11:15-16
(11:15) Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah
asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan
untuk pulang ke situ. (11:16) Tetapi sekarang mereka merindukan tanah
air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak
malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi
mereka.
Tuhan sudah siapkan kota kudus, Yerusalem baru kepada orang
yang bermental tuan. Dan Tuhan tidak malu disebut sebagai Allah oleh
orang-orang yang bermental tuan. Oleh sebab itu, singkirkanlah dirimu dari
mental hamba. Mau susah atau senang, kerja atau nganggur, miliki mental tuan.
Sebab yang saya tahu, carilah dahulu kerajaan Sorga maka semua akan di
tambahkan (Matius 6:33). Berbahagialah mereka yang memiliki mental
tuan.
Itulah kuasa dari Firman Allah yang keluar dari mulut Si
penunggang kuda putih. Sangat berkuasa untuk menjadikan yang tidak ada menjadi
ada serta menghidupkan yang mati.
Kita memang sudah membahas kuasa Firman yang sangat luar
biasa membaharui lewat penyucian Roh Tuhan. Tetapi dalam Wahyu 19:15,
Firman yang keluar dari mulut Allah, sifatnya bukan lagi untuk mengadakan yang
tidak ada menjadi ada atau membaharui kita, melainkan MEMUKUL segala bangsa.
Ini yang harus kita perhatikan.
Siapa yang dihukum oleh pedang tajam
(Firman Allah)? Tentu saja; orang-orang yang
sekarang ini menolak pemberitaan Firman Allah. Saya akan
buktikan hal itu.
2 Tesalonika 1:6-10 – Perikop: “Ucapan syukur dan doa”
(1:6) Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan
kepada mereka yang menindas kamu (1:7) dan untuk memberikan kelegaan
kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari
dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya,
dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-nyala, (1:8) dan mengadakan
pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak
mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. (1:9) Mereka ini akan menjalani
hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari
kemuliaan kekuatan-Nya, (1:10) apabila Ia datang pada hari itu untuk
dimuliakan di antara orang-orang kudus-Nya dan untuk dikagumi oleh semua orang
yang percaya, sebab kesaksian yang kami bawa kepadamu telah kamu percayai.
Kedatangan
Tuhan kembali ke dunia ini untuk yang kedua kalinya, di sini dinyatakan; dalam
api yang bernyala-nyala untuk mengadakan PEMBALASAN terhadap mereka yang:
a.
Tidak mau mengenal Allah, artinya; tidak mau menyangkal diri dan memikul salib serta ikut
Tuhan.
b.
Tidak taat kepada pemberitaan Firman Allah yaitu; Injil keselamatan dan Injil
Kerajaan.
Kalau untuk Injil keselamatan, banyak orang
Kristen yang suka. Nyanyi-nyanyi lalu di tengahnya ada mujizat, mereka senang
sekali. Maunya dalam ibadah itu cukup satu atau dua ayat Firman Tuhan, tidak
usah ada koreksi (penyucian). Tetapi yang benar, setelah kita menerima Injil
keselamatan, hendaklah beralih kepada Injil Kerajaan.
Jadi
saudara, alangkah bersyukurnya kita malam hari ini, sesuai dengan perikop yang
ada; bersyukur lalu berdoa, supaya penghukuman dari Firman Allah
itu tidak jatuh kepada kita. Jangan kita menolak koreksi dari pembukaan rahasia
Firman Allah.
Pendeknya: menolak
Firman Allah akan dihukum oleh Firman Allah itu sendiri.
Orang-orang yang menolak Firman Allah akan dihukum dan
dibinasakan untuk selama-lamanya, berarti;
-
Jauh dari hadirat Tuhan
-
Jauh dari kekuatan Tuhan
Yohanes
12:44-45 --- Perikop: “Firman Yesus yang menghakimi”
(12:44) Tetapi Yesus berseru kata-Nya: "Barangsiapa percaya
kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang
telah mengutus Aku; (12:45) dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat
Dia, yang telah mengutus Aku.
Kalau kita
percaya kepada Firman, maka kita percaya kepada Allah. Kalau kita melihat
Firman dan kuasanya maka kita juga akan melihat Allah.
Yohanes
12:46
(12:46) Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.
Aku
telah datang ke dalam dunia sebagai terang, berarti sebagai URIM.
Kalau Roh
Kudus ada berarti Firman juga ada. Firman Allah 🡪
Tumim, berguna untuk menceraikan kita dari dosa.
Yohanes
12:47
(12:47) Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak
melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk
menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. (12:48) Barangsiapa menolak
Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang
telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.
Jadi, Tuhan
datang ke dunia ini untuk menyelamatkan manusia bukan menghakimi. Tetapi
barangsiapa menolak Firman (Yesus) ia akan dihukum oleh Firman itu sendiri.
Hari-hari ini saudara boleh saja menolak Firman, tetapi pada saat Tuhan datang
kali kedua, Ia tampil sebagai Si penunggang kuda putih, dan dari mulut-Nya
keluar sebilah pedang tajam, memukul bangsa-bangsa yaitu: orang yang sebelumnya
menolak Firman Allah.
Tidakkah
saudara bersyukur mendengar hal ini?
Oleh sebab itu lanjutkanlah dengan doa, supaya Firman jangan menghukum kita
semua. Hargailah pemberitaan Firman lebih dari segala-galanya.
Yohanes
12:49-50
(12:49) Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi
Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa
yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. (12:50) Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya
itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya
sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku."
Ingatlah, Firman
Allah adalah sarana untuk membawa kita pada hidup kekal. Tetapi, kalau hari
ini kita menolak Firman Allah, maka pada hari penghakiman orang-orang yang
menolak Firman Allah akan dihukum oleh Firman Allah yaitu: pedang tajam yang
keluar dari mulut Si penunggang kuda putih.
Jadi, malam
ini, Tuhan sudah menampilkan Firman-Nya pada Wahyu 19:15 --- dari
mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam, tetapi sifatnya / bentuknya
penghukuman bagi orang-orang yang menolak Firman.
Kita harus
mengakui bahwa Firman itu berkuasa menjadikan yang tidak ada menjadi ada serta
menghidupkan orang mati. Kemudian, Firman Allah itu menyucikan sampai sempurna
dan menjadikan kita imamat rajani, itu berarti; menjadi tuan bukan hamba. Itu
semua betul kalau kita mau menyerahkan diri pada rencana Tuhan, digiring dalam
penggembalaan. Tetapi, kalau menolak pemberitaan Firman Allah, maka orang yang
semacam inilah yang akan dihukum oleh Firman itu sendiri.
Demikian
juga…
-
Kalau kita menolak kegiatan Roh, maka 7 meterai yang akan
menghukum
-
Kalau menolak kasih Allah, maka 7 cawan murka Allah yang akan
menghukum
Jadi,
camkanlah hal ini, sebelum terjadi penyesalan di kemudian hari. Menyesal dan
menangislah di bawah kaki salib, jangan lari dari kenyataan tetapi hadapi.
Kalau menghadapi kenyataan hidup saat ini, kehidupan semacam inilah yang akan
sanggup menghadapi kedatangan Tuhan kembali. Dan Tuhan tidak malu disebut
sebagai Tuhannya, tetapi Tuhan malu melihat pengecut.
TUHAN
YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita
Firman:
Gembala
Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang