KAMI NANTIKAN KESAKSIAN-KESAKSIAN SAUDARA YANG SUDAH MEMBACA FIRMAN TUHAN PADA BLOG INI

Terjemahan

Search This Blog

IBADAH RAYA MINGGU, 23 AGUSTUS 2026


 

IBADAH RAYA MINGGU, 23 AGUSTUS 2026

KITAB WAHYU

PENDAHULUAN WAHYU 20 

(Seri )


Subtema:  PEMBUKA JALAN


Shalom.

Selamat malam, selamat hari minggu. Biarlah damai sejahtera yang melampaui akal dan pikiran kita memenuhi ruangan ini dan ruangan hati kita masing-masing. 


Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN yang turut bergabung lewat online atau live streaming atau video internet, baik dari YouTube, maupun Facebook, atau media sosial lainnya seperti tiktok. Biarlah kiranya damai sejahtera juga memenuhi Bapak/ibu saudara di sana, seperti kami juga merasakan urapan yang sama itu. 


Doa kami biarlah damai sejahtera dari Sorga memenuhi ruangan ini, sehingga kita ada dalam satu kesukaan Sorgawi, juga bahagia saat kita duduk diam menikmati Sabda Allah.


Selanjutnya, mari kita ikuti KITAB WAHYU sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu

Kita sudah menikmati berkat dan kemurahan TUHAN lewat Wahyu 19:1-21 mungkin ada dua tahun lebih. Kiranya apa yang sudah kita terima dari TUHAN sangat menolong kita semua, menyertai kita, memberkati kita, sampai TUHAN datang kembali sebagai Raja dan Mempelai Pria Sorga. 


Malam ini merupakan pendahuluan dari Wahyu 20.

Dalam susunan Tabernakel Wahyu 20:1-10 terkena pada TIRAI (tabir bait suci) dan TUJUH KALI PERCIKAN DARAH DI ATAS PETI PERJANJIAN. Kedua perkara tersebut tidak terpisahkan antara satu dengan yang lain.


Terkait dengan TIRAI/TABIR BAIT SUCI

Matius 27:50 --- Perikop: "Yesus mati"

(27:50) Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.


Yesus berseru pula dengan suara nyaring -> Doa Penyembahan.

Setelah berseru, selanjutnya Yesus menyerahkan nyawanya, artinya penyembahan = penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah


Matius 27:51-52

(27:51) Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, (27:52) dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.


Tirai atau Tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai bawah, berbicara tentang: perobekan daging.

Perlu untuk diketahui, daging hanyalah sebuah takhta dari setan

Oleh sebab itu, ibadah harus sampai pada tingkat yang tertinggi (puncaknya), itulah doa penyembahan, disebutlah itu penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah. Kemudian di dalam penyerahan diri disitu Tabir bait suci terbelah dua dari atas sampai kebawah, artinya mengalami perobekan daging. 

Daging akan menjadi takhta setan kalau tidak mengalami perobekan. Jadi daging (takhta setan) harus mengalami perobekan, meskipun sakit. Jangan biarkan daging utuh. Itu sebabnya kita juga menjalankan roda kehidupan ini hendaklah dipimpin oleh Roh TUHAN atau hidup kita ini sepenuhnya ada dalam pengaruh Roh El-Kudus. 


Tentang: "PEROBEKAN DAGING." TIRAI ATAU TABIR BAIT SUCI TERBELAH DARI ATAS SAMPAI KE BAWAH.

Ibrani 10:19-21 --- Perikop: "Ketekunan."

(10:19) Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, (10:20) karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, (10:21) dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.


Sebagai Imam Besar dan Kepala rumah Allah, Yesus telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui TABIR itulah diri-Nya sendiri, artinya: sebagai Imam Besar Yesus telah mengalami perobekan daging.

Pendeknya, dasar untuk mengalami perobekan daging adalah DOA PENYEMBAHAN, yaitu penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Berarti seseorang tidak akan sampai kepada perobekan daging kalau ibadahnya tidak sampai kepada tingkat yang tertinggi, kalau ibadahnya tidak sampai pada puncaknya, itulah Doa Penyembahan.


Ibrani 10:22-25 --- Perikop: "Ketekunan."

(10:22) Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. (10:23) Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. (10:24) Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. (10:25) Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.


Untuk sampai kepada perobekan daging harus melalui KETEKUNAN -- sesuai perikop yang ada --. Dalam hal ini adalah ketekunan dalam 3 (tiga) macam ibadah pokok, sebab pada ayat 22, 23, 24 akan menemukan 3 (tiga) macam ibadah pokok, antara lain:

  1. Ayat 22: ada kata IMAN -> Ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai perjamuan suci

Saya berharap supaya hati kita  menjadi tempatnya Firman Allah, sehingga kita bisa membagi-bagi roti kepada orang lain, seperti Yesus telah memecahkan segenap hidup-Nya di atas kayu salib. Namanya berbagi berarti tidak egois, tidak hanya memikirkan diri sendiri. 

  1. Ayat 23: ada kata PENGHARAPAN -> Ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh. Sama seperti pelita yang bernyala karena ada minyak itulah urapan Roh El-Kudus.  

  2. Ayat 24: ada kata KASIH -> Ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan.


“... Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan kita…”  berarti tekun dalam tiga macam ibadah pokok. 

Pertemuan ibadah itu banyak; ada ibadah kaum wanita, ada ibadah kaum pria, Ibadah kaum muda remaja, ada ibadah sekolah minggu, ada ibadah lansia. Tetapi yang dimaksud dengan pertemuan-pertemuan ibadah disini jelas itu menunjuk ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok, supaya sinkron dengan perikop yang ada itulah KETEKUNAN. 

Dan ketekunan tiga macam ibadah pokok semuanya ditulis pada ayat 22, 23,24. Lalu ayat 25 ingatkan kita: “... Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti  dibiasakan oleh beberapa orang.


Hati saya berat sekali rasanya jikalau ada salah satu dari anggota pastori tidak datang kepada TUHAN. Saya tidak tau dengan sidang jemaat. Baik itu orang tua,  anak, suami, istri, apakah saudara mengalami berat hati ketika salah satu anggota keluarga tidak datang beribadah?. Atau lebih suka karena bisnis, karena usaha, karena overtimenya yang lebih menjanjikan,  daripada ibadah. 

Kalau saya dan seisi pastori semoga tetap setia untuk terus tekun tiga macam ibadah pokok, karena TUHAN yang memelihara hidup. Langit bumi dan segala yang ada ini tidak menjanjikan, sebab satu kali di take over (diambil alih) oleh antikris. Jadi  untuk apa kita mengumpulkan semuanya ini kalau pada akhirnya diserahkan kepada setan tritunggal. Bijaksanalah saudara. Kalau dahulu sebelum kita terpanggil mungkin sebagai seorang yang cinta akan uang, kalau sekarang tidak boleh lagi. 


“... marilah kita saling menasehati…” Inilah tugas saya sebagai pemimpin jemaat, sebagai gembala sidang, menasehati kawanan domba Allah supaya semakin giat melakukan ketekunan tiga macam ibadah pokok, menjelang hari TUHAN yang sudah mendekat. 

Jadi harus tekun tiga macam ibadah pokok, tidak boleh tidak. Tekun  tiga macam ibadah pokok merupakan harga mati, tidak boleh ditawar-tawar lagi. Lalu saudara bertanya: kenapa gereja di sana tidak tekun? itu urusannya. Tapi yang saya tau masing-masing orang mempunyai tanggung jawabnya sendiri kepada TUHAN. Yang pasti kita sudah memperoleh pengertian lewat ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok, hidup rohani kita dibawa sampai kepada tingkat ibadah yang tertinggi (puncak ibadah); Doa Penyembahan, yang disebut juga dengan penyerahan diri sepenuhnya untuk taat kepada kehendak Allah. Dan inilah yang menjadi dasar (landasan) hidup rohani kita untuk mencapai kepada perobekan daging; Tirai (Tabir Bait Suci) terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Tabir itulah diri Yesus sendiri, yang telah mengalami perobekan daging. 


Matius 27:51-52

(27:51) Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, (27:52) dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.


Tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai kebawah = terjadi perobekan daging. Daging sudah dirobek-robek dari hidup kita ini, jadi wujud daging tidak nampak lagi.

Tadi sudah saya sampaikan daging hanya takhta setan, maka daging harus dirobek. 


Manifestasi/perwujudan dari perobekan daging ialah ...

YANG PERTAMA: “... Terjadilah gempa bumi …”

Masih jelas dalam ingatan kita masing-masing pada tahun 2020 terjadi gempa bumi secara serentak yaitu Covid-19 melanda seantero dunia:

  • Mengguncang pemerintah di tiap-tiap bangsa dan kerajaan.

  • Mengguncang ekonomi dan politik di semua bangsa dan negara.

  • Mengguncang nikah-nikah di bumi ini; hubungan gereja dengan Tuhan dan nikah jasmani


Kemudian ketika terjadi gempa bumi (Covid-19) mengguncang seluruh dunia:

  1. Yang mengalami sakit/terkonfirmasi Covid-19 kurang lebih 704.753.890 orang.

  2. Yang mati/meninggal oleh Covid-19 ialah kurang lebih 7.010.681 orang.


Ini jumlah yang fantastis, tidak sedikit. Pada saat itu orang mau menangis, tetapi tidak bisa, karena dia sendiri dihalangi medis mendekati jenazah itu. Ini situasi yang sangat mengerikan sekali. Jadi jangan kita pandang enteng. Bayangkan satu dari keluarga mati karena covid-19, tetapi tidak bisa mendekat dengan jenazahnya. Alangkah malangnya, alangkah pahitnya kehidupan yang ditinggal oleh yang mati tersebut. Betapa sakit, beta pilunya, anak mati orang tua tidak bisa mendekat, sebaliknya orang tua mati, anak tidak bisa mendekat. Tetapi itu terjadi atas seizin TUHAN, meskipun itu adalah pekerjaan dari setan tritunggal; naga, antikris, dan nabi-nabi palsu. 


YANG KEDUA: “ … Bukit-bukit batu terbelah dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit …”

Kalau anak-anak Tuhan sudah mengalami perobekan daging itu tanda kemenangan atas musuh terakhir itulah maut, kemenangan atas  dosa, termasuk batu-batu terbelah itulah kesombongan, kekerasan di hati, kecongkakan. Dan kemenangan atas pemerintah-pemerintah yang ada di atas muka bumi yang dibentuk oleh setan. 


Ini adalah satu pengertian yang harus kita pegang dan kita hidup di dalamnya dengan mantap. Mantapkan diri sampai mengalami perobekan daging. Daging harus dirobek karena daging adalah takhtanya setan.


Dahulu kita tidak mengetahui apa-apa, meskipun disebut orang kristen. Barangkali kita sering membaca Alkitab, memang ketika membaca Alkitab beroleh pengertian. Namun jika kita mau jujur, ketika kita memberikan diri menjadi domba yang tergembala, maka disitulah Gembala Agung terus menuntun kita lewat pengertian demi pengertian, digembalakan oleh korban sehari-hari, digembalakan oleh cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, itulah 

  1. Firman Pengajaran yang rahasianya dibukakan dalam terangnya Roh El-Kudus. 

  2. Pedang tajam bermata dua -> Pengajaran mempelai dalam terangnya Tabernakel.  

Sisi satu Pedang tajam bermata dua itulah: Pengajaran mempelai, sisi kedua; Pengajaran Tabernakel. 


Kita akan buktikan bahwa perobekan daging adalah tanda besar bahwa kita telah mengalami kemenangan atas maut, atas dosa, dan telah mengalami kemenangan atas pemerintahan yang telah dibentuk oleh setan tri tunggal.


Wahyu 20:1-3 --- Perikop: "Kerajaan seribu tahun."

(20:1) Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; (20:2) ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, (20:3) lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya.


Malaikat Tuhan menangkap naga si ular tua (iblis/setan) dan mengikat dengan rantai besar dan kuat 1000 tahun lamanya di bumi ini, itu berarti selama 1000 tahun ada damai di bumi:

  • Tidak ada lagi dosa, sebab orang tidak lagi berbuat dosa.

  • Tidak ada lagi godaan, tidak ada pencobaan-pencobaan dari si penyesat (Setan).

Sehingga disebutlah itu suatu perhentian besar bagi manusia/orang-orang saleh-Nya dan perhentian bagi nikah-nikah yang suci.


Sebelum setan diikat, betapa banyak penderitaan di atas muka bumi ini, nikah-nikah dalam kehancuran, terjadi perceraian (perpisahan), air mata tidak bisa dibendung, mengalami kesengsaraan, kepahitan. Tetapi pada akhirnya iblis/setan si ular tua merah padam akan diikat oleh malaikat yang turun dari Sorga dengan satu rantai yang besar dan kuat, lalu dilemparkan kepada jurang maut dengan materai, supaya tidak ada yang dapat membukanya. Dan itu berlangsung selama 1000 tahun di bumi ini. 

Pendeknya, kerajaan 1000 tahun damai disebut firdaus di bumi.








  • 2000 tahun pertama: Adam  sampai Abraham disebutlah itu zaman Allah Bapa = TUHAN. 

  • 2000 tahun kedua: dari Abraham sampai Yesus mati bangkit, naik, Roh Kudus turun di sebutlah itu zaman Anak = YESUS.

  • 2000 tahun ketiga: Yesus mati bangkit, naik, Roh Kudus turun  sampai hari ini disebutlah zaman Roh El-Kudus = KRISTUS.

Berarti, 3 x 2000 = 6 hari. Sedangkan hari ketujuh itulah 1000 tahun damai di bumi (Firdaus di bumi).


Pendeknya, kerajaan 1000 tahun di bumi itulah hari ketujuh/hari perhentian besar disebutlah itu FIRDAUS. Jadi Firdaus itu adalah hari perhentian bagi yang letih lesu, berbeban berat, hari perhentian bagi nikah-nikah di bumi ini. 


Kiranya pengertian ini bukan hanya kita dengar. Tetapi pengertian yang datang dari Sorga harus kita hidupi dan kita tinggal di dalamnya. Supaya baik hidup kita, maupun nikah rumah tangga dan seisi rumah kita satu kali nanti dibawa kembali kepada Firdaus di bumi, yaitu kerajaan 1000 tahun damai.  

Oleh sebab itu, tidak ada rasa bosan untuk beribadah. Orang kalau bekerja cari uang saja bisa giat, bagaimana dengan nyawa? Untuk perut, untuk kuliah  saja orang bisa giat bekerja, lalu bagaimana dengan nyawa? Mestinya berkali-kali lipat lebih giat untuk datang beribadah dan melayani TUHAN


Kita akan melihat SUASANA TAMAN EDEN / FIRDAUS dan melihat nikah Adam dan Hawa.

Kejadian 1:27

(1:27) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.


Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, berarti Tuhanlah yang menciptakan nikah. Jadi jangan asal menikah. Kalau cari pasangan carilah pasangan yang seimbang dari antara anak-anak TUHAN. Jangan lihat dari sisi lahiriahnya.  Kalau menikah harus sesuai dengan panggilan Tuhan, tanyalah apakah itu dari Tuhan atau tidak? lepaskan dulu diri dari pikiran-pikiran dan perasaan secara lahiriyah. Jangan sampai karena calon pasangan (jodoh) seseorang menjadi jauh dari penggembalaan. Hati-hati saudara. 


Kejadian 2:15-17

(2:15) TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. (2:16) Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, (2:17) tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."


Tuhan menempatkan nikah Adam dan Hawa dalam taman Eden, tujuannya: untuk Mengusahakan dan memelihara taman Eden (Firdaus).

Kita juga ditempatkan di tengah ibadah dan pelayanan ini supaya memelihara dan mengusahakan ketekunan tiga macam ibadah pokok

Syaratnya: Harus memperhatikan perintah dan larangan Tuhan.

  • Perintah Tuhan:  "Semua pohon dalam taman ini boleh kamu makan buahnya dengan bebas."

  • Larangan Tuhan: Dilarang untuk makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." 

Resiko melanggar larangan TUHAN ialah;  kematian (binasa). 


Jadi hidup kita dan nikah kita diciptakan oleh TUHAN tujuannya adalah untuk  mengusahakan dan memelihara ketekunan tiga macam ibadah pokok. Jadi kita tidak boleh tinggalkan dan jauh dari jam-jam ibadah. Kita hidup, termasuk nikah diciptakan tujuannya hanya untuk mengusahakan dan memelihara taman eden (Firdaus), tekun tiga macam ibadah pokok. Tapi syaratnya memperhatikan perintah dan larangan. 


Jadi ternyata untuk mengusahakan dan memelihara ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok tidak bisa sesuka hati. Saat senang datang beribadah, saat tidak senang tidak datang beribadah, nanti alasanya pilek, dan macam-macam. Yang seperti ini egois. Banyak orang egois tetapi tidak menyadari diri. Orang yang seperti ini hati-hati. 


Terkait HARI PERHENTIAN dan KETEKUNAN TIGA MACAM IBADAH POKOK

Kejadian 1:31

(1:31) Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.


Kejadian 2:1-4

(2:1) Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. (2:2) Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. (2:3) Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. (2:4) Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, --


Allah menciptakan langit dan bumi, serta isinya selama enam hari, tetapi pada hari ketujuh adalah hari  perhentian (hari sabat/hari kudusnya TUHAN), dan itulah hari yang diberkati oleh TUHAN. 

Jadi kalau kita tekun tiga macam ibadah pokok, maka yang kita alami:

  1. Dikuduskan oleh Firman Allah, Roh Allah, dan kasih Allah.

  2. Diberkati baik secara jasmani maupun Rohani.


Kejadian 2:6-7

(2:6) tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu – (2:7) ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.


Terkait dengan ketekunan dalam 3 (tiga) macam ibadah pokok:  

  1. Ada kabut naik ke atas dari bumi -> Doa Penyembahan = Tekun dalam Ibadah Doa Penyembahan = Tinggal di dalam kasih Allah.

  2. Tuhan membentuk manusia dari debu tanah -> Kuasa penciptaan dari firman Allah = Tekun dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan Perjamuan Suci.

  3. Menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya -> Kuasa penciptaan Roh El-Kudus = Tekun dalam Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh.

Inilah yang dimaksud dengan ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok. Jadi meskipun tidak ditulis secara gamblang  tapi dari arti rohani yang kita baca ini, ternyata di taman eden juga ada 3 (tiga) macam ibadah pokok. Dengan cara demikianlah mereka mengusahakan dan memelihara Taman Eden (Firdaus) di bumi. 


Singkat kata, pasal 1 (satu) dan 2 (dua) nikah Adam dan Hawa betul-betul mengalami damai sejahtera.

  • Manusia ada pada hari ketujuh (hari perhentian), maka ada damai. 

  • Manusia ada dalam nikah suci bahagia. Hubungan kita dengan TUHAN adalah hubungan dalam nikah suci. Kalau kita dalam nikah suci maka  akan mengalami bahagia. 


Namun sangat disayangkan pada Kejadian 3:1-5 tampillah ULAR itulah iblis setan di taman Eden, menggoda nikah Adam dan Hawa dengan segala penyesatan dan tipu dayanya, memutar balikan perintah dan larangan TUHAN. 

Akhirnya pada Kejadian 3:6-7, manusia jatuh ke dalam dosa sebab mereka telah melanggar aturan-aturan TUHAN dan oleh karena dosa itu mereka menjadi telanjang.

Telanjang, artinya:

  • Tidak ada lagi damai dalam nikah rumah tangga.

  • Tidak ada hari perhentian.

  • Hidup penuh dengan air mata oleh sengsara dan kepahitan yang dialami manusia.


Tuhan tidak pernah bermaksud jahat kepada manusia dari sejak semula. Tuhan menciptakan langit dan bumi dan segala isinya, Tuhan menciptakan makhluk hidup baik itu manusia maupun binatang. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tuhan menciptakan nikah di bumi ini dan ditempatkan di taman Eden supaya manusia dan nikah manusia ada dalam damai sejahtera, ada pada hari perhentian. Tetapi pasal 3 (tiga) ular tampil merusak damai sejahtera dalam nikah, air mata tidak bisa dibendung oleh derita, sengsara dan pahitnya hidup yang dialami manusia. 

Tapi percayalah, sampai hari ini TUHAN tidak meninggalkan kita. Dia tetap memperhatikan nasibku, nasibmu, nasib kita. Segala sesuatu di dalam diri kita diperhatikan, tidak ada yang kurang, sekalipun dosa itu sudah menjalar di dalam dunia ini oleh karena satu orang manusia. 


Kejadian 3:21

(3:21) Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.


Tuhan datang dengan segala kemurahan-Nya, membawa kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan manusia itu. Dan Yesus kita, Tuhan kita telah ditelanjangi/dikuliti di atas kayu salib untuk menutupi ketelanjangan manusia = Datang dengan membawa kemurahan.

Tuhan datang ke dunia tidak dengan tangan kosong, melainkan dengan segala berkat jasmani dan rohani, teramat lagi berkat-berkat dari Sorga, berkat pertolongan, berkat kemurahan, (belas kasihan) dinyatakan kepada manusia untuk menutupi ketelanjangan dosa manusia, berarti, manusia sudah berdamai. Inilah pendamaian pertama kali yang dikerjakan Tuhan Allah kepada manusia, yaitu kepada nikah Adam dan Hawa.


Kejadian 3:22-23

(3:22) Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." (3:23) Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil.



Adam dan Hawa sudah melanggar apa yang dilarang TUHAN, sebab mereka makan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Sebab itu mereka diusir dari taman Eden supaya mereka jangan mengambil buah dari pohon kehidupan; supaya dosa itu jangan permanen dalam kehidupan mereka.

Bayangkan ada di tengah-tengah taman Eden (ibadah) tapi berdosa permanen. TUHAN tidak izinkan itu terjadi. 

Pendeknya, mereka diusir dari taman Eden bukan berarti TUHAN bermaksud jahat, tapi supaya mengusahakan tanah darimana ia diambil. Saatnya kita mengusahakan tanah darimana kita diambil. Tanah itulah hati kita, jagalah hatimu dengan baik. Jadikanlah hati sebagai tempat (bejana) menampung curahan kasih TUHAN, itulah Firman Allah yang dinyatakan, Firman yang dibukakan. 


Kejadian 3:24

(3:24) Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.


Beberapa Kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan. Tetapi yang pasti kita sudah melihat Yesus sebagai Imam besar, Yesus sebagai kepala rumah TUHAN, Ia telah melewati beberapa Kerub dengan pedang bernyala-nyala. Dan pedang itu sudah menyambar pribadi Yesus sebagai Imam Besar, dan Dia sudah mengalami perobekan daging. Itu adalah salah satu tanda kemenangan, sebab batu-batu terbelah dua, kuburan-kuburan terbuka, lalu banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit (Matius 27:51-52)


Apa yang tertulis pada Kejadian 3:24 sudah digenapi Yesus di atas kayu salib 2000 tahun yang lalu. Dan itu diceritakan kembali oleh Rasul Paulus kepada orang Ibrani dalam Ibrani 10:19-21. Kerub dengan pedang bernyala-nyala sudah menyambar kehidupan Yesus sebagai Imam Besar Agung, Dia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita lewat tirai, yaitu: DiriNya sendiri. Ini rahmat TUHAN, ini belas kasihan TUHAN. Inilah yang dimaksud TIRAI BAIT SUCI terbelah dua dari atas ke bawah.


Kita bersyukur dan berterimakasih kepada TUHAN, karena besar kasih-Nya kepada kita masing-masing. Dan kalau TUHAN kehendaki kita akan melihat tujuh kali percikan di atas Peti di minggu yang akan datang. 


TUHAN YESUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI


Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang