IBADAH
RAYA MINGGU 22 MARET 2026
KITAB
WAHYU
WAHYU
19:13
(SERI 8)
Subtema: KEMEJA BERAGI DARI LENAN HALUS
Mula
pertama, saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN. Oleh karena rahmat-Nya kita
sekaliannya dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus. Kita boleh datang
beribadah dan melayani kepada TUHAN, semua karena kemurahan TUHAN. TUHAN beri
umur panjang, TUHAN beri nafas kehidupan.
Saya juga
tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN, yang turut bergabung
secara online / live streaming / video internet, baik dari Youtube
maupun Facebook atau media sosial lainnya yang dapat digunakan, diakses.
Selanjutnya
doa harapan kami dari tempat ini kepada TUHAN adalah supaya kiranya TUHAN
menjadi Raja dan bertakhta di tengah-tengah kita, di hati kita. Sehingga, dalam
kendali dari Surga kita boleh duduk diam dan tenang, menikmati sabda ALLAH dan
kita boleh merasakan pertolongan TUHAN malam ini.
Selanjutnya,
marilah kita sambut KITAB WAHYU
sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu.
Kita masih
berada pada Wahyu 19: 13 untuk seri yang ke-8.
Wahyu 19:13
--- Perikop: “Firman ALLAH”
(19:13) Dan Ia
memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman
ALLAH."
Dan
ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah.
Menunjukkan bahwa Si penunggang kuda putih itu adalah Imam Besar Agung.
Adapun jubah
imam besar dibagi dalam 3 (tiga) hal pokok, sesuai dengan apa yang tertulis
dalam Keluaran 28:1-43.
1.
Baju efod (Ayat 6-14).
2.
Gamis baju efod (Ayat
31-35).
3.
Kemeja beragi dari lenan
halus (Ayat 30)
Saudara,
malam ini kita akan masuk pada pembahasan tentang: KEMEJA BERAGI DARI LENAN HALUS.
Jadi, dengan
berakhirnya pembahasan kita tentang gamis baju efod, maka malam ini kita
akan masuk pada pembahasan berikutnya terkait dengan pakaian imam besar, yaitu kemeja
beragi dari lenan halus.
Keluaran
28:39
(28:39) Haruslah
engkau menenun kemeja dengan ada raginya, dari lenan halus, dan membuat
serban dari lenan halus dan haruslah kaubuat ikat pinggang dari tenunan yang
berwarna-warna.
Singkat
kata, kemeja beragi dari lenan halus disebut juga: pakaian putih.
Lenan halus
atau pakaian putih berbicara tentang kesucian dan kemuliaan.
Kemuliaan
ini diawali dari….
-
Baju efod 🡪 sengsara dan kematian TUHAN Yesus
Kristus.
-
Gamis 🡪 menunjuk kebangkitan dari TUHAN Yesus
Kristus
-
Lenan halus atau pakaian
putih 🡪 kemuliaan Yesus
Kristus pada saat Ia naik ke surga.
Mari kita
lihat “keadaan atau gambaran ketika Yesus naik ke Surga”.
Imamat
16:2-4 --- Perikop: “Hari Raya Pendamaian”
(16:2) Firman TUHAN
kepadanya: "Katakanlah kepada Harun, kakakmu, supaya ia jangan sembarang
waktu masuk ke dalam tempat kudus di belakang tabir, ke depan tutup pendamaian
yang di atas tabut supaya jangan ia mati; karena Aku menampakkan diri dalam
awan di atas tutup pendamaian. (16:3) Beginilah caranya Harun masuk ke
dalam tempat kudus itu, yakni dengan membawa seekor lembu jantan muda untuk
korban penghapus dosa dan seekor domba jantan untuk korban bakaran. (16:4)
Ia harus mengenakan kemeja lenan yang kudus dan ia harus menutupi
auratnya dengan celana lenan dan ia harus memakai ikat pinggang lenan dan
berlilitkan serban lenan; itulah pakaian kudus yang harus dikenakannya, sesudah
ia membasuh tubuhnya dengan air.
Disebutkan
di sini bahwa; pada hari raya pendamaian, imam besar masuk ke dalam Ruangan
Maha Suci untuk mengadakan pendamaian, bukan dengan pakaian imam
besar selengkapnya melainkan hanya dengan kemeja lenan halus atau
pakaian putih saja.
Jadi pada
saat imam besar Harun masuk ke Ruangan Maha Suci untuk mengadakan pendamaian,
ia hanya memakai pakaian lenan halus / pakaian putih. Dia tidak memakai pakaian
imam besar selengkapnya, tidak memakai pakaian baju efod dan gamis baju efod,
kecuali hanya lenan halus / pakaian putih saja.
Mengapa
demikian? Jawabnya; karena lenan halus /
pakaian putih 🡪 kemuliaan Kristus pada saat Ia naik
ke sorga.
Saat di
dalam Ruangan Maha Suci berarti; saat dipermuliakan.
Singkat
kata….
a.
Hidup-Nya dalam tanda kematian
di kayu salib sudah
lalu, bagaikan baju efod yang sudah ditanggalkan-Nya.
b.
Kebangkitan-Nya selama 40 hari di bumi juga sudah lalu,
bagaikan baju gamis yang sudah ditanggalkan-Nya.
c.
Ia pun naik ke
Sorga, berada di belakang tabir dalam kemuliaan-Nya, dengan pakaian putih / lenan
halus.
Pakaian putih berbicara soal kesucian dan
kemuliaan.
Ibrani 1:3-4
(1:3) Ia adalah
cahaya kemuliaan ALLAH dan gambar wujud ALLAH dan menopang segala yang ada
dengan Firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan
penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang
tinggi, (1:4) jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat,
sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama
mereka.
Setelah Ia
selesai mengadakan penyucian dosa di bumi, sekarang Ia duduk di sebelah kanan
yang Mahabesar, di tempat yang tinggi. Jadi, Ruangan Maha Suci adalah posisi TUHAN
dalam kemuliaan di sebelah kanan ALLAH Bapa.
Dalam
kemuliaan berarti:
-
Tidak lagi mengalami
sengsara dan mati = baju efod ditanggalkan.
-
Tidak ada lagi
kebangkitan, sebab sudah bangkit dari kematian di bumi = gamis sudah
ditanggalkan.
Itulah yang
dimaksud dalam kemuliaan.
Intinya bagi
kita sekarang, kita sedang melihat bahwa Yesus dipermuliakan, duduk di sebelah
kanan ALLAH Bapa. Saudara, kita tidak boleh tinggal diam atau hanya melihat
saja, tetapi kita juga harus bertindak dengan segala daya dan upaya. Kita tidak
boleh hanya tinggal diam melihat TUHAN Yesus sekarang duduk sebelah kanan ALLAH
Bapa. Apapun resikonya dan apapun harganya, harus kita bayar. Karena kita rindu
untuk berada di mana Yesus sekarang berada. Tidak boleh hanya Kristen penonton,
tetapi kita juga harus ada di dalam kerajaan Surga satu kali kelak, maksudnya
kita harus terlibat di dalam pekerjaan TUHAN, tidak boleh hanya penonton.
Kemudian di
sini juga dikatakan: di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada
malaikat-malaikat.
Artinya:
tempat ini tidak bisa dijangkau oleh…
-
Mata ular naga merah
padam, itulah antikris.
-
Yang hanya hidup menurut
hawa nafsu dan keinginan-keinginan daging yang jahat.
-
Pengetahuan dan
perkara-perkara lahiriah / perkara-perkara yang ada di bumi ini.
Itulah
pengertian dari tempat tinggi, jauh lebih tinggi daripada malaikat-malaikat.
Kemudian tempat
tinggi juga tidak bisa dijangkau hanya karena disebut sebagai malaikat-malaikat
yang sekedar melayani. Itu berarti; rohani kita pun harus meningkat
dengan laju, menuju kepada kesempurnaan.
Laju
berarti; tidak boleh berlambat-lambatan, pekerjaan TUHAN tidak boleh
ditunda-tunda, apalagi bermalas-malasan, kalau memang ada kerinduan
untuk berada di dalam kemuliaan yang kekal, duduk di sebelah kanan ALLAH Bapa.
Tetapi, kalau tidak ada kerinduan untuk masuk Surga, saya sarankan (bukan saya
mengusir saudara dari gereja ini, tidak): lebih baik tidak usah beribadah,
karena double nanti kerugiannya. Hatimu, perasaanmu, uangmu, waktumu,
bisa kau gunakan untuk kepentingan daging -- Makan, minum, kawin,
mengawinkan. Tetapi sudah harus siap dengan resikonya, yaitu; neraka.
Kalau sudah siap dengan neraka, tidak usah beribadah.
Jangan salah
tafsir, jangan salah mengerti dengan ucapan ini. Kalau memang ujungnya harus
binasa, tidak usah beribadah. Tetapi kalau ada kerinduanmu untuk masuk Surga, beribadahlah!.
Kalau beribadah, ya sungguh-sungguhlah, tidak boleh “sekedar”, hanya karena dia
disebut malaikat-malaikat yang “sekedar” melayani, tidak boleh. Kalau “sekedar
malaikat” / “sekedar melayani”, resikonya tidak bisa menjangkau tempat yang
tinggi tadi.
Jadi, sekali
lagi saya sampaikan; tempat tinggi, tidak bisa dijangkau hanya karena ia
disebut sebagai malaikat-malaikat (pelayan-pelayan, tetapi sekedar melayani).
Itu berarti rohani kita pun harus meningkat dengan laju, menuju kepada
kesempurnaan. Arti laju berarti; tidak berlambat-lambatan, tidak menunda-nunda
pekerjaan TUHAN, tidak boleh malas, tidak boleh lipat tangan. Karena orang yang
malas nanti tangannya akan diikat, kemudian kakinya akan diikat sebagaimana
dalam Matius 22:13 --- Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah
kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan
yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
Jadi itu
harus diingat.
TUHAN telah
menyatakan kemurahan yang begitu besar kepada manusia, lebih daripada
makhluk-makhluk di bumi ini. TUHAN beri kaki, TUHAN beri tangan untuk bisa
melangkah mengikut jejak Yesus; tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan. TUHAN
beri dua tangan untuk digunakan melayani TUHAN, melayani pekerjaan TUHAN,
berbuat yang baik, benar, suci dan mulia, supaya kelak jangan diikat dan
dicampakkan. Karena kita mempunyai kerinduan; bahagia bersama dengan TUHAN di
dalam kerajaan Sorga untuk selama-lamanya.
Alasan
rohani kita harus meningkat dengan laju menuju kesempurnaan:
Saat ini TUHAN
Yesus sudah berada dalam kemuliaan-Nya dan kesempurnaan-Nya dan menjadi Imam
Besar dalam kekekalan. Jadi kita harus menikmati pelayanan Imam Besar di bumi,
seperti di Surga.
Ibrani 8:1-2
(8:1) Inti segala
yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian,
yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, (8:2) dan
yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati,
yang didirikan oleh TUHAN dan bukan oleh manusia.
Dari dua
ayat ini kita bisa melihat; sekarang Yesus ada di tempat yang tinggi, dalam
kemuliaan yang sangat besar. Ia duduk di sebelah kanan ALLAH yang Maha
Besar. Ia adalah Imam besar dan sekarang
sedang melayani di kemah yang sejati, itulah ibadah di tempat kudus, yang
didirikan TUHAN, bukan didirikan oleh manusia.
Jadi, di
bumi ini kita harus menjalankan ibadah menurut ibadah buatan tangan TUHAN,
bukan ibadah buatan tangan manusia. Ibadah yang datang dari Surga berarti;
berpola kerajaan Surga.
Mari kita
lihat “ibadah berpola kerajaan Surga”
Ibrani 8:5
(8:5) Pelayanan
mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga, sama seperti
yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah:
"Ingatlah," demikian Firman-Nya, "bahwa engkau membuat
semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu."
Jadi, supaya
ibadah pelayanan di bumi adalah gambaran daripada ibadah pelayanan di surga,
maka ibadah di bumi harus menggunakan POLA
TABERNAKEL. Tabernakel dengan polanya sudah ditunjukkan oleh TUHAN
kepada Musa di atas gunung Sinai, Gunung Horeb disebut juga gunung TUHAN,
supaya nanti bangsa Israel menjalankan ibadah menurut pola itu. Kalau kita
beribadah dan melayani menurut pola ini, maka ibadah pelayanan di bumi
merupakan gambaran dari ibadah pelayanan yang ada di sorga. Dengan lain kata,
kita telah menikmati pelayanan Yesus Kristus sebagai Imam Besar, sekarang ada
di dalam kerajaan Surga.
Jadi, jangan
ragu dengan pola Tabernakel. Banyak orang Kristen beribadah dengan pola-pola
manusia, ibadah buatan tangan manusia, ibadah menurut pemikiran manusia, sibuk
hanya bicara soal prosperity, antusias hanya pada mujizat, tetapi Salib
diabaikan, dan seterusnya. Alangkah indahnya kehidupan yang telah menerima
ibadah dari Surga, ibadah yang menggunakan pola Tabernakel di dalam menjalankan
ibadah dan pelayanan selama di bumi.
Jadi, supaya
kerohanian kita laju sampai kepada kesempurnaan, ibadah dan pelayanan kita di
bumi ini harus menggunakan pola TABERNAKEL, untuk mencapai kesempurnaan,
kemuliaan kekal.
Mari kita
lihat apa yang diajarkan Paulus kepada orang Ibrani.
Ibrani 6:1-3
(6:1) Sebab itu
marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus
dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan
lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan
kepada ALLAH, (6:2) yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan
tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal. (6:3)
Dan itulah yang akan kita perbuat, jika ALLAH mengizinkannya.
Jadi, rohani
kita harus meningkat dengan laju menuju kesempurnaan.
Syaratnya: tinggalkan
asas-asas pertama tentang ajaran Kristus, selanjutnya beralih kepada
perkembangan yang penuh 🡪 kesempurnaan dari sidang mempelai TUHAN. Itu sebabnya
jangan kita bertahan dengan asas-asas pertama tentang ajaran Kristus, yaitu percaya,
bertobat, dibaptis, lalu kepenuhan Roh Kudus. Kemudian, dalam penumpangan
tangan, disitu ada mujizat kesembuhan, keajaiban, pengusiran setan. Itu semua
memang perlu tetapi kita tidak boleh berhenti dan antusias hanya sampai di situ
saja.
Saya akan
buktikan. Hal itu pernah dikatakan kepada murid-murid dalam Lukas 10:17-18
--- Perikop: “Kembalinya ketujuh puluh murid”. Jadi selain 12 murid, ada
murid yang lain, itulah 70 murid. Mereka telah diutus oleh TUHAN sebagaimana
dalam Lukas 10:1-12 ---Perikop: “Yesus mengutus ketujuh puluh murid”.
Jadi,
setelah selesai pelayanan, kembalilah ke 70 murid kepada Yesus, artinya;
membawa laporan hasil pelayanan. Begitu juga dengan kita, nanti semua akan
ditagih oleh TUHAN, bagaimana kita hidup selama di bumi ini.
Lukas
10:17-18
(10:17) Kemudian
ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "TUHAN,
juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." (10:18) Lalu
kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari
langit.
Hasil
pelayanan dari 70 murid-murid dilaporkan kepada Yesus; dimana setan-setan
takluk dalam pelayanan mereka, dan hal itu pun diketahui oleh Yesus. Jadi, TUHAN
tahu apa yang dikerjakan oleh 70 murid-murid di tengah pengutusan mereka. TUHAN
juga tahu apa yang sedang kita kerjakan di tengah ibadah dan pelayanan dalam
penggembalaan GPT Betania, seperti apapun pengikutan kita, TUHAN juga tahu. Itu
sebabnya; hati-hati, jangan asal melangkah, jangan asal mengambil keputusan
menurut pikiran perasaan daging.
Kemudian,
mereka memberitahukan hal itu dengan hati gembira. Mereka bangga
melakukan itu. Tidak salah mereka bangga, tetapi lihatlah ayat 19-20.
Lukas
10:19-20
(10:19)
Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan
kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang
akan membahayakan kamu. (10:20)
Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu,
tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga."
Sebetulnya
karunia itu dari TUHAN, termasuk karunia pengusiran setan dan juga kesembuhan.
Kalau kita
sadar itu karunia dari TUHAN, berarti; tidak perlu bangga di situ saja
sebetulnya. Tetapi yang terpenting adalah bersuka citalah karena namamu ada
terdaftar di surga. Berarti karunia kesembuhan, mengadakan mujizat, bukan
tolak ukur (bukan penentu), sehingga seseorang layak dikatakan masuk Surga.
Berarti yang
harus kita perhatikan adalah bagaimana kita sempurna sama dengan Dia, sama
mulia dengan Dia, itu saja yang kita harus perhatikan. Memang belum ada
yang sempurna, dan tidak ada yang sempurna, tetapi kita mengejar kesempurnaan.
Kalau kita merasa tertinggal, pasti kita kejar. Tetapi, kalau kita sudah merasa
baik, benar, suci, tidak akan pernah ada usaha-usaha di dalam hal memperbaiki
dirinya.
Jadi, yang
terpenting adalah bagaimana kita mencapai kesempurnaan, sama mulia dengan TUHAN.
Sebab TUHAN sekarang duduk di sebelah kanan ALLAH Bapa.
Jadi sekali
lagi saya sampaikan; mengadakan mujizat di tengah-tengah ibadah pelayanan itu
perlu.
Misalnya…
-
Pengusiran setan.
-
Menyembuhkan orang sakit
-
Mengadakan
perbuatan-perbuatan ajaib.
Akan tetapi
tidak boleh berhenti sampai di situ saja, tidak boleh berhenti pada penginjilan
saja, tetapi harus meningkat sampai kepada kesempurnaan. Artinya: yang
terpenting nama tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba atau nama kita
terdaftar di Surga. Kelak kita dalam kemuliaan yang kekal, sebagaimana sekarang
Yesus ada dalam kemuliaan, duduk di sebelah kanan ALLAH Bapa. Dan Dia adalah
Imam Besar, sekarang melayani di dalam kekekalan.
Jadi
saudara, kalau kita beribadah menggunakan pola Tabernakel di bumi ini,
sebetulnya itu adalah nilai plus (+) yang harus kita banggakan. Tetapi
tidak boleh hanya euforia, melainkan kita harus berada di dalamnya,
hanyut dan tenggelam di dalam kasih ALLAH, dihisap oleh kasih ALLAH.
Jangan
bangga dengan karunia-karunia. Saudara harus bisa membedakan karunia
dengan salib. Yang menentukan (tolak ukur) dari keselamatan itu adalah salib,
bukan karunia yang dimiliki oleh seorang hamba TUHAN, misalnya; karunia
kesembuhan, dan karunia mengadakan mujizat.
Wahyu 20:11
--- Perikop: “Hukuman yang terakhir.”
(20:11) Lalu aku
melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya.
Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi
tempatnya.
Jadi harus
paham, harus mengerti, yang ada ini tidak akan ada lagi, pada saat Yesus duduk
di atas tahta putih yang besar. Kemudian, pada saat itu tidak ada lagi langit
dan bumi yang pertama dan segala sesuatu atau unsur-unsur di dalamnya tidak ada
lagi.
Maka lihat
ayat 12…
Wahyu 20:12
(20:12) Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri
di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah
kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut
perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab
itu.
Itu sebabnya
saya katakan tadi; yang terpenting nama kita tertulis dalam kitab kehidupan
Anak Domba. Sebab, pada hari penghakiman, Yesus tampil sebagai Hakim Agung
mengadakan pengadilan di takhta putih yang besar. Semua orang yang mati
dibangkitkan dan yang hidup datang, lalu diadili di hadapan-Nya. Kemudian TUHAN
membuka semua kitab. Semua riwayat-riwayat yang tidak baik, yang tidak suci,
yang tidak benar, semua nampak, yang diperbuat oleh setiap orang ada di situ.
Kemudian, orang itu akan menerima hukuman yang setimpal / sesuai dengan
perbuatannya.
Sesudah itu
dibuka juga kitab kehidupan Anak Domba. Dan orang-orang yang namanya tertulis
dalam kitab kehidupan, layak untuk
berada dalam kemuliaan kekal / terdaftar di Sorga.
Saudara,
sekarang ini, mungkin nama kita tertulis dalam kitab-kitab itu. Perbuatan kita
masih tertulis di situ, kejahatan kita masih ada di situ, kenajisan, kekerasan
hati, kesombongan, keangkuhan, merasa diri paling benar dan suci, masih
tertulis di situ. Tetapi, TUHAN telah menyediakan bagi kita sarana itulah
ibadah dan pelayanan untuk menghapuskan semua noda kotoran, kejahatan,
kenajisan yang tertulis dalam kitab-kitab itu. Supaya nanti, sesudah terhapus
oleh darah Anak Domba, maka nama kita tertulis dalam kitab kehidupan Anak
Domba.
Pakaian
putih kalau dikaitkan dengan 3 (tiga)
hamba yang kepadanya dipercayakan talenta.
-
Hamba pertama dipercaya lima talenta.
-
Hamba kedua dipercaya dua talenta.
-
Hamba ketiga dipercaya
hanya satu talenta.
Kepada
hamba-hamba ini dipercayakan talenta dan itu harus dikerjakan / dikelola /
dikembangkan, jangan dinodai, karena itu adalah pakaian putih.
Kepada hamba
yang ketiga dipercayakan satu talenta, juga upahnya sama. Tetapi kebiasaan
buruk dari manusia daging; selalu mengecilkan yang kecil, tidak setia di
hadapan TUHAN. Dia menodai pelayanannya kepada TUHAN, menodai pakaian putih
itu, sebab hamba yang ketiga ini jahat dan malas.
Jadi jahat
+ malas adalah kehidupan yang seringkali mengecilkan yang kecil. Padahal
upah lima talenta, dua talenta, satu talenta nanti sama di surga.
TUHAN telah
memberi kesempatan. TUHAN telah mati, bangkit dan sekarang telah pergi ke luar
negeri, tinggalkan dunia ini ke negeri keabadian. Tetapi dari situ Dia akan
kembali ke dunia ini, lalu duduk sebagai hakim yang mulia di atas takhta putih
yang besar dan akan menghakimi semua orang sesuai dengan perbuatannya.
-
Apakah pakaian putih itu
yang dikaitkan dengan hamba pertama?
-
Atau pakaian putih
dikaitkan dengan hamba kedua?
-
Atau pakaian putih yang
dikaitkan dengan hamba yang ketiga? Malas dan jahat, kelemahan daging, tidak
setia.
Saudara TUHAN
setia dan telah menunjukkan kesetiaan-Nya. Dia adalah Imam Besar, melayani di
kemah yang sejati. Biarlah kiranya kita menikmati pelayanan Imam Besar, supaya
kita semua masing-masing saling merendahkan diri satu dengan yang lain. Tidak
saling menuding, saling menyalahkan, lalu merasa paling benar.
Seandainya
pakaian putih itu tertuju ke atas, tidak perlu dia mengharapkan orang lain,
tidak perlu dia tuding orang lain, tidak perlu salahkan orang lain dan
membenarkan diri, tidak perlu. TUHAN saja yang benar.
JALAN KELUARNYA.
Kita kaitkan
dengan peristiwa dalam…
Lukas 10:21
--- Perikop: “Ucapan syukur dan bahagia”
(10:21) Pada waktu
itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku
bersyukur kepada-Mu, Bapa, TUHAN langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau
sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada
orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. (10:22) Semua
telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu
siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang
kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu."
Semuanya itu
TUHAN sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai 🡪 orang yang merasa diri bisa, hebat,
mampu dan kuat. Tetapi TUHAN nyatakan kepada orang yang kecil. Artinya; rahasia
Firman (rahasia sorga) TUHAN bukakan hanya kepada orang yang kecil.
Jadi,
pembukaan rahasia Firman itu berlaku hanya kepada orang kecil. Tidak berlaku
kepada orang yang merasa diri bisa, mampu, hebat, kuat, merasa diri sanggup
mengatasi segala persoalan di bumi. TUHAN tutup pembukaan Firman kepada mereka.
Jadilah
kecil berarti merendahkan diri sampai menjadi kecil. Jangan sampai; sudah
miskin (tidak kaya), sudah kecil di bumi ini tetapi tidak mau jadi kecil. Kita
datang dari pegunungan, dari kampung, miskin, tidak punya apa-apa, lalu tidak
mau jadi kecil, tidak tahu diri namanya itu. Tetapi, sekalipun kita bukan
datang dari pegunungan, bukan orang kecil, bukan orang kampung, dengan lain
kata; memiliki kelebihan di bumi ini, harus tetap menjadi kecil, demi rahasia Firman
yang dibukakan, rahasia sorga disingkapkan. Sehingga kita boleh mengerti
rencana TUHAN, maunya TUHAN dalam hidup dan nikah rumah tangga.
Sudah
kecil tetapi tidak mau jadi kecil, tidak tahu diri namanya. Sebab itu, belajar
berkaca, jangan kepada kaca spion; hanya melihat yang di belakang. Berkaca
kepada Firman ALLAH, sebagaimana yang tertulis dalam Yakobus 1:23-24 ---
Sebab jika seorang hanya mendengar Firman saja dan tidak melakukannya,
ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya
di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera
lupa bagaimana rupanya.
Kalau hanya
sekedar mengamati, itu namanya tidak tahu diri. Tetapi kita tetap bercermin
supaya kita tahu siapa diri kita ini yang sebenarnya. Sebab kita mempunyai
kerinduan yaitu; kerajaan Sorga. Dari mana kita tahu kerajaan Surga kalau
rahasia Surga tidak disingkapkan? Jadi rahasia Surga tersingkap hanya bagi
orang yang kecil.
Jadi, TUHAN
bergembira atau bersukacita dalam Roh kalau kita satu dengan yang lain mau jadi
kecil, mau merendahkan diri di hadapan TUHAN serendah-rendahnya. Kalau mau
melihat kerajaan Surga; harus mau menjadi kecil, itu yang TUHAN mau, yang
berkenan kepada Bapa di Surga. Jadilah pribadi-pribadi yang berkenan kepada TUHAN.
Biarlah
Ia semakin besar kita semakin kecil. Dia semakin bertambah-tambah, kita semakin
berkurang-kurang (dagingnya, keinginannya, nafsunya makin berkurang-kurang).
Seperti Yohanes Pembaptis dalam Yohanes 3:30 --- Ia harus makin
besar, tetapi aku harus makin kecil. Dan pernyataan ini, diakui Yesus
kepada orang lain di dalam Matius 11:11 --- Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di
antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang
lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan
Sorga lebih besar dari padanya.
Kenapa
Yohanes pembaptis besar di mata TUHAN?
Karena dia mau jadi kecil di hadapan TUHAN. Jadi ukuran menjadi kecil itu harus
dari pengakuan yang keluar dari mulut TUHAN, bukan dari pembelaan diri dan
berkata -- Aku kan sudah mengalah, bukan itu ukurannya. Ukuran kita
menjadi kecil adalah mulut TUHAN, bukan mulut manusia, apalagi mulut sendiri.
Banyak diantara kita begitu, setelah kita rajin, orang lain diomongin; dia
pemalas, itu bukan orang besar.
Orang yang
mau besar di mata TUHAN harus mau jadi kecil, dan ukurannya adalah perkataan
yang keluar dari mulut ALLAH (Firman ALLAH).
Lihatlah “kuasa
Firman Yang keluar dari mulut orang kecil”
Matius 11:16
(11:1 ) Dengan
apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang
duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: (11:17) Kami
meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan
kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.
-
Kami meniup seruling
bagimu (Firman Pengajaran Mempelai), tetapi kamu tidak menari.
Kalau kita menerima Pengajaran Mempelai pasti
ada sukacita mempelai, bagaikan menari.
Itu mewakili Perjanjian Baru.
-
Kami menyanyikan kidung
duka, tetapi kamu tidak berkabung.
Tidak
mau berkabung, berarti; tidak mau merendahkan diri, tidak mau jadi kecil.
Karena ternyata dia hanyalah orang Kristen dengan roh teman-teman, bukan
sahabat. Satu kali teman bisa putus di tengah jalan, dia tinggalkan TUHAN
seperti Orpa. Itu teman seperjalanan. Tetapi, sahabat sampai kapanpun akan
tetap bersama dengan TUHAN, sampai akhir ruas jalan TUHAN; kematian dan
kebangkitan di bumi ini.
Itu mewakili Perjanjian lama (Hukum Taurat).
Satu-satunya
nabi dalam Perjanjian Baru yang mewakili Perjanjian Lama adalah Yohanes
pembaptis.
Matius 11:18
(11:18) Karena Yohanes
datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia
kerasukan setan.
Ciri hamba TUHAN
Yang merendahkan diri: suka berpuasa (tidak makan dan tidak minum).
Ketika
berpuasa, merendahkan diri dan kecil, mereka (teman-teman) berkata; Yohanes
adalah orang yang kerasukan Setan.
Matius 11:19
(11:19) Kemudian
Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia
seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi
hikmat ALLAH dibenarkan oleh perbuatannya."
Hikmat ALLAH
/ pembuka rahasia Firman, nanti itu jadi benar kalau kita hidupi (lakukan).
Itu sebabnya
dari tadi saya katakan: Firman
pengajaran yang rahasianya dibukakan, kerajaan Surga disingkapkan, itu berlaku
hanya untuk yang kecil. Dia dibenarkan karena dia mau jadi kecil. Jadi
pembukaan rahasia Firman (hikmat) dibenarkan dari perbuatannya.
Yesus mau
jadi kecil. Yohanes pembaptis mau jadi kecil. Maka kalau kita perhatikan Lukas
10:21 --- TUHAN Yesus bersukacita dalam Roh Kudus. Jadi, kalau kita
mau jadi kecil, di situlah nanti Yesus bersukacita / bergembira dalam roh.
Inilah yang
diajarkan oleh Yesus kepada 70 murid-murid. Supaya nanti hendaknya nama mereka
tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba, dipermuliakan, seperti Yesus
sekarang dipermuliakan dalam kerajaan Surga. Itulah pakaian putih saudara.
Ayo,
sadarilah! Jangan bertingkah, kita bukan siapa-siapa. Kita hanya debu tanah
yang dibentuk oleh TUHAN jadi mulia, segambar serupa dengan TUHAN, dibentuk
menurut teladan TUHAN.
Jika TUHAN kehendaki, bantu doa terus, supaya kita tetap
melihat pakaian putih ini lebih dalam lagi. Kita dibawa oleh TUHAN masuk dalam
kerajaan sorga. Amin.
TUHAN
YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita
Firman oleh;
Gembala
sidang: Pdt. Daniel U. Sitohang