IBADAH RAYA MINGGU, 30 AGUSTUS 2026
KITAB WAHYU 20:1-3
SERI 1
Subtema: HARI PERHENTIAN BESAR = FIRDAUS DI BUMI
Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya kita sekalian dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, sehingga kita boleh datang menghadap Dia lewat ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN yang turut bergabung lewat online atau live streaming atau video internet, baik dari YouTube, maupun Facebook, Tiktok atau media sosial lainnya. Biarlah kiranya damai sejahtera dari Sorga memenuhi hati kita masing-masing, sehingga olehnya ada sukacita dan bahagia saat kita diam menikmati sabda Allah.
Selanjutnya, mari kita ikuti KITAB WAHYU sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh.
Namun tetaplah berdoa dalam Roh, mohon kemurahan TUHAN, supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Pada minggu lalu kita sudah membahas pendahuluan Wahyu 20. Dalam susunan Tabernakel Wahyu 20:1-10 terkena pada TIRAI (Tabir) berbicara soal perobekan daging.
Pendeknya, kita harus mengalami perobekan daging supaya kehidupan kita layak untuk menjadi takhta ALLAH.
Jadi, setiap orang harus mengalami perobekan daging karena daging tidak lebih dan tidak kurang hanyalah takhta setan. Daging itu jangan dieman-eman, jangan disayang-sayang.
Terkait dengan PEROBEKAN DAGING
Ibrani 10:19-21 --- Perikop: "Ketekunan."
(10:19) Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, (10:20) karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, (10:21) dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.
Sebagai Imam Besar dan Kepala rumah Allah, Yesus telah membuka jalan yang baru dan jalan yang hidup bagi kita untuk masuk ke tempat kudus, yaitu: Ruangan Maha Suci, melalui TABIR yaitu diri-Nya sendiri, artinya: Kita masuk ke Ruangan Maha Suci melalui perobekan daging, sebab Tabir Bait Suci telah robek dari atas sampai ke bawah.
Doa saya, kiranya kita semua mengalami perobekan daging dengan satu tujuan supaya kelak kita semua berada di takhta Allah dan kita adalah takhta Allah.
Setelah Tabir bait suci terbelah dua, selanjutnya di Ruangan Maha Suci ada sesuatu yang luar biasa terjadi yaitu 7 (tujuh) kali percikan darah:
Di atas tutup pendamaian.
Di depan Tabut Perjanjian.
Berarti, oleh percikan darah ...
Gereja Tuhan diperdamaikan sepenuh.
Hingga mengalami kemuliaan Tuhan yang disebut sebagai terang dari Shekinah Glory. Terang dari Shekinah Glory ada di atas tabut di antara dua kerub.
Percikan darah, artinya: Sengsara tanpa dosa = Tidak berdosa tetapi dijadikan dosa dengan segala kerelaan dan kemauan yang berasal dari Tuhan. Hal semacam ini disebut sebagai penyucian terakhir untuk sampai kepada kesempurnaan.
Jadi kita semua harus mengalami percikan darah untuk sampai kepada kesempurnaan. Itu sebabnya TUHAN berkata: Akulah jalan kebenaran dan hidup. Jadi tanpa salib tidak sampai kepada kemuliaan.
Sekarang kita akan membaca …
Wahyu 20:1-3 --- Perikop: "Kerajaan seribu tahun."
(20:1) Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; (20:2) ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, (20:3) lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya.
Tampak “seorang malaikat turun dari Sorga” di tangannya ada 2 (dua) hal:
Kunci jurang maut.
Rantai besar (alat pengikat yang besar dan kuat).
Kemudian, malaikat itu menangkap naga, si ular tua, yaitu, iblis atau setan, lalu mengikatnya seribu tahun lamanya.
Selanjutnya naga itu “dilemparkannya ke dalam jurang maut”, dan menutup jurang maut dan memeteraikan di atasnya supaya naga jangan menyesatkan bangsa-bangsa.
Inilah yang disebut HARI PERHENTIAN yang besar bagi manusia dan bagi nikah-nikah di dunia ini.
Pada hari perhentian itu TUHAN menghapus air mata, derita, sengsara, tidak ada lagi dosa dan godaan, tidak ada lagi kesusahan dan kepahitan. Pendeknya, lembaran lama dalam hidup sudah berlalu. Itulah suasana pada hari ketujuh, hari perhentian besar bagi bangsa-bangsa di bumi, hari perhentian bagi nikah-nikah di bumi ini.
Tetapi untuk mencapai hari perhentian, yang disebut juga kerajaan seribu tahun damai, maka kita mulai sekarang, harus menghormati HARI SABAT (hari ketujuh) itulah hari perhentian bagi Allah, yaitu ibadah dan pelayanan.
Tidak mungkin kita mencapai hari perhentian yang besar kalau kita tidak menghargai hari perhentian di bumi sekarang ini.
Soal HARI KETUJUH kita mengacu pada …
Keluaran 20:8-11
(20:8) Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: (20:9) enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (20:10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. (20:11) Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.
"Ingat dan kuduskanlah hari Sabat":
6 (enam) hari lamanya bekerja di bumi.
hari ke7 (tujuh) adalah hari Sabat Tuhan Allah
Berarti, setiap orang yakni, besar kecil, tua muda, laki-laki perempuan, bahkan hewan sekalipun harus berhenti dari segala aktivitasnya.
Demikian halnya dengan Allah;
6 (enam) hari lamanya menciptakan langit dan bumi dan segala isinya.
berhenti pada hari ke 7 (tujuh)
Pendeknya, menghormati hari Sabat, menghormati hari perhentian, menghormati ibadah dan pelayanan = Mengikuti teladan Tuhan.
Kalau seseorang jauh dari hari perhentian, jauh dari ibadah dan pelayanan, maka dia tidak akan pernah mengikuti teladan TUHAN. Kita lihat kebenarannya pada Kejadian 2.
Kejadian 2:2
(2:2) Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.
Jadi, kalau kita berhenti pada hari ketujuh, menguduskan hari sabat, masuk pada pertemuan-pertemuan ibadah, tidak jauh dari jam-jam ibadah, itu artinya kita sedang mengikuti teladan Tuhan. Berarti, jangan kita mengikuti setan karena ia tidak pernah meninggalkan teladan yang baik kepada manusia dari sejak taman Eden, sampai sekarang. Akan tetapi, jika kita beribadah, maka kita pasti mengikuti teladan TUHAN. Sebaliknya jauh dari ibadah pasti yang diikuti bukan TUHAN, pasti mengikuti yang lain-lain.
Ayub 1:6
(1:6) Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis.
“Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap Tuhan” -> Hari Sabat/hari ketujuh. Seperti malam ini kita datang menghadap TUHAN lewat Ibadah Raya minggu disertai dengan kesaksian Roh, karena kita adalah anak-anak Allah.
Disini dikatakan "pada suatu hari" berarti pertemuan ibadah itu tidak ditentukan pada hari Minggu saja.
Contoh ibadah dalam penggembalaan GPT BETANIA:
Ibadah Pelita Emas itulah Ibadah Raya Minggu disertai kesaksian roh jatuh pada hari MINGGU.
Ibadah Meja Roti Sajian itulah Ibadah Pendalaman Alkitab disertai perjamuan suci jatuh pada hari KAMIS.
Ibadah Mezbah Dupa itulah Ibadah Doa Penyembahan jatuh pada hari SELASA.
Namun dalam pertemuan ibadah itu ternyata iblis atau setan tidak tinggal diam, sebab disini dikatakan: “di antara mereka datang juga iblis”
Jadi jangan saudara berpikir, kalau anak-anak TUHAN datang beribadah, disitu tidak ada iblis. Justru di tengah-tengah ibadah itu ada iblis. Itulah sebabnya sebelum kita memasuki ibadah ada baiknya pribadi lepas pribadi berdoa terlebih dahulu, menyerahkan segenap hidupnya kepada TUHAN. Lalu pada saat ibadah dimulai seorang pemimpin pujian juga harus berdoa, mengajak jemaat bersama-sama mengusir setan dengan darah Yesus Kristus, bukan dengan kekuatan manusia.
Ayub 1:7-8
(1:7) Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi." (1:8) Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan."
Tuhan bertanya kepada iblis: "darimana engkau?"
Jawab iblis: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi."
Jawaban ini menunjukkan bahwa iblis/setan tidak mempunyai hari perhentian. Artinya: Iblis tidak menghormati/menghargai pertemuan-pertemuan ibadah, itulah ketekunan dalam 3 (tiga) macam ibadah pokok.
Itulah sebabnya tadi saya katakan, kalau seseorang tidak menghargai jam-jam ibadah, tidak menghormati pertemuan-pertemuan ibadah, khususnya ketekunan tiga macam ibadah pokok, maka orang semacam ini tentu saja tidak bisa mengikuti teladan TUHAN, selain mengikuti yang lain-lain, itu sudah pasti, Alkitab yang berkata.
Apabila iblis ada diantara anak-anak Tuhan saat hari perhentian, tujuannya bukan memuji dan memuliakan TUHAN, tetapi tujuannya hanya satu; untuk merusak persekutuan yang indah antara manusia dengan Tuhan.
Ayub 1:8-10
(1:8) Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (1:9) Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? (1:10) Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.
Tuhan mengakui bahwa Ayub adalah hamba Allah. Hal itu diakui dengan terang benderang kepada setan.
Sebab, Ayub pribadi yang ...
Saleh dan jujur.
Jujurlah dalam keuangan, jujurlah dalam perkataan, jujur dalam sikap dan perbuatan, jujur di tengah ibadah dan pelayanan, berarti jujur dalam nikah. Jujurlah terhadap hati nurani, jujurlah dalam segala perkara. Itu adalah suatu tanda, bahwa ia adalah hamba TUHAN, sekalipun tidak sekolah Alkitab, sekalipun tidak sekolah Theologia.
takut akan Allah.
Berarti tidak berani berbuat dosa di tempat tersembunyi, karena dia takut TUHAN.
menjauhi kejahatan.
Pendeknya, anak-anak TUHAN harus membuat jarak terhadap segala bentuk kejahatan.
Jangan kita berkata takut akan Allah, di depan berbuat baik, tetapi di belakang tidak. Itu bukan takut akan TUHAN. Takut akan TUHAN itu tidak pernah main belakang. Di tempat yang tersembunyi pun ia tidak berani berbuat dosa, karena ia takut akan TUHAN.
TUHAN mengakui Ayub hamba Allah. Namun, iblis datang mengkritik kepada Tuhan, karena menurut iblis/setan; Ayub takut akan Allah karena telah mendapat banyak hal dari TUHAN antara lain:
ia diberkati TUHAN,
kemudian Allah telah memagari (menjaga) hidupnya, rumahnya, miliknya, segala sesuatu yang ada padanya,
bahkan semakin hari semakin bertambah-tambah segala sesuatu yang dimilikinya. Kalau bahasa simpelnya; itu kan karena TUHAN memberkati dia, jika saja TUHAN tidak memberkati dia, bagaimana dia saleh dan jujur, bagaimana dia takut akan TUHAN.
Ayub 1:11
(1:11) Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu."
Selain mengkritik Tuhan terkait kebaikan Tuhan kepada Ayub, setan juga meminta Tuhan mengambil kembali segala milik kepunyaan Ayub. Menurut setan, Ayub akan mengutuki Allah secara terang benderang.
Dari sini, kita melihat iblis berusaha...
merusak kebahagiaan manusia
merusak persekutuan yang indah antara manusia dengan Tuhan
Pendeknya, iblis setan akan mengambil damai sejahtera dari bangsa-bangsa di bumi, itulah gambaran dari naga si ular tua disebut juga iblis/setan.
Jadi, sekali lagi saya sampaikan dengan tandas, untuk mencapai hari perhentian yang besar (hari ketujuh) yaitu: kerajaan 1000 tahun damai sejahtera, disebutlah itu firdaus di bumi kita harus betul-betul menghormati dan menghargai hari ketujuh, hari sabat TUHAN Allah, hari perhentian, itulah ibadah-ibadah yang TUHAN percayakan. Kalau tidak, bisa terguncang, karena pekerjaan iblis, naga si ular tua merah padam, berusaha untuk mengambil damai sejahtera dari bumi, merusak kebahagiaan hidup, merusak kebahagiaan nikah. Dan serangan semacam ini sedang dilancarkan kepada Ayub dan nikah rumah tangganya.
Ingat satu kali damai sejahtera memang akan diambil dari bumi ini atas seizin TUHAN, kita akan buktikan dalam Wahyu 6.
Wahyu 6:3-4 — Perikop: "Keenam meterai pertama dibuka."
Sedikit melebar, ada 21 (dua puluh satu) penghukuman dari Allah Tritunggal (TUHAN Yesus Kristus) yang dibagi dalam tiga bahagian.
Yang pertama: penghukuman dari 7 meterai, penghukuman dari Allah Roh Kudus kepada mereka yang tidak menghargai kegiatan Roh.
Yang kedua: penghukuman dari 7 sangkakala kepada orang-orang yang menolak FIRMAN ALLAH.
Yang ketiga: penghukuman dari 7 cawan murka Allah kepada orang-orang yang menolak KASIH ALLAH.
Wahyu 6:3-4
(6:3) Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar makhluk yang kedua berkata: "Mari!" (6:4) Dan majulah seekor kuda lain, seekor kuda merah padam dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga mereka saling membunuh, dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar.
Saat meterai yang kedua dibuka tampillah kuda merah padam, untuk mengambil Damai sejahtera dari atas muka bumi ini.
Hati-hati saudara, setan itu tidak mempunyai hari perhentian, dia berusaha untuk merusak kebahagiaan manusia. Sebab satu kali atas seizin TUHAN damai sejahtera akan diambil dari bumi ini, tepatnya pada saat meterai yang kedua dibuka, tampillah kuda merah padam, artinya: Damai sejahtera diambil dari atas muka bumi ini. Sehingga pada manusia dan segala bangsa di bumi tidak ada lagi damai sejahtera, tandanya satu dengan yang lain: Saling memusuhi dan saling membunuh. Inilah yang disebut keadaan berdarah-darah.
Siapa kira-kira yang sanggup menghadapi situasi, dimana damai sejahtera diambil dari bumi? Saya kira tidak ada yang sanggup mengalami penderitaan yang hebat ini. Itulah sebabnya di awal tadi saya sampaikan; kalau kita memang merindukan hari perhentian yang besar, hari ketujuh, itulah kerajaan 1000 tahun damai, maka mulai dari sekarang, mulai dari detik ini setiap kita haruslah sungguh-sungguh didalam hal menghormati hari ketujuh, hari perhentian, hari sabat TUHAN, menghormati dengan sungguh-sungguh ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok.
Jadi ketekunan tiga macam ibadah pokok itu adalah harga mati. Bukankah kita sudah menyaksikan dengan mata rohani sendiri pribadi Ayub diguncang dengan hebat? bagaimana setan berusaha merusak kebahagiaan dalam hidupnya, kebahagian dalam nikahnya, kebahagiaan dalam rumah tangganya, karena pekerjaan setan adalah mengambil damai sejahtera. Dan itu akan terjadi nanti tepatnya saat meterai kedua dibuka oleh Anak domba, tampillah kuda merah padam untuk mengambil damai sejahtera. Merah artinya berdarah-darah, disitu terjadi pembunuhan, karena tidak ada lagi damai sejahtera.
Jangan bunuh perasaan orang lain dengan sifat (tabiat) manusia lama kita, kemudian kita cuci tangan (membersihkan diri). Takutlah akan TUHAN.
Jadi sekali lagi saya sampaikan; pekerjaan setan adalah untuk mengambil damai sejahtera. Tandanya: saling memusuhi dan saling membunuh. Keadaan yang semacam ini disebut keadaan yang berdarah-darah.
Sebenarnya hal itu sudah tampak hari ini, bangsa kita bangsa Indonesia, telah diadu domba oleh iblis/setan. Semua pihak bertikai dan saling menuntut, berarti saling menuduh dan saling mempersalahkan. Kemudian masing-masing pihak saling membela dirinya. Namun di pihak yang menuntut dan di pihak yang dituntut sama-sama berdarah-darah, sama-sama mengalami penderitaan yang hebat.
Itu yang terjadi di hari-hari ini. Betul-betul tanda meterai yang kedua sudah dibuka, dan kuda merah sudah tampil sekarang ini.
Berbicara kuda berbicara tentang kekuatan: Horse (power). Dan kekuatan sudah dinyatakan, setan sudah mengambil damai sejahtera.
Dan hal yang sama dialami oleh Ayub, sebab kalau kita perhatikan, pada akhirnya nanti istri Ayub mempersalahkan Ayub. Marilah kita selidiki hal itu.
Ayub 2:9
(2:9) Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!"
Ayat ini terang benderang menerangkan bagi kita bahwa setan telah mengambil damai sejahtera dari nikah rumah tangga Ayub.
Sebab, iblis/setan mempengaruhi isteri Ayub untuk merusak damai sejahtera.
Hal itu bisa dilihat dari perkataan-perkataan istri Ayub, antara lain:
"Masih bertekunlah engkau dalam kesalehanmu?"
Orang-orang saleh itu adalah orang yang taat pada ibadah.
Artinya: Setan berusaha merusak ketekunan dalam 3 (tiga) macam ibadah pokok.
“Kutukilah Allahmu” Istri memerintahkan suami untuk mengutukki TUHAN. Istri yang seperti ini adalah istri yang tidak tau diri, lupa diri, istri yang kurang ajar.
"Kutukilah Allahmu." Maksudnya, menistakan Tuhan dan salib-Nya.
"Matilah!" Berarti, Ayub disuruh untuk bunuh diri.
Pendeknya, isteri Ayub dipakai oleh iblis atau setan untuk menyingkirkan KASIH ALLAH dari diri Ayub.
Yohanes 3:16
(3:16) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Kalau istri Ayub memerintahkan Ayub suaminya berkata matilah, berarti = menyuruh Ayub untuk bunuh diri.
Padahal, Allah sendiri telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Dari 3 (tiga) perkataan isteri Ayub, menunjukkan bahwa isteri Ayub betul-betul bertolak belakang dengan karakter (tabiat) Allah Tritunggal.
"Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Bertolak belakang dengan tabiat ROH KUDUS.
“Kutukilah Allahmu” berarti menistakan TUHAN dan salibNya, itulah kebenaran dari FIRMAN ALLAH. Bertolak belakang dengan tabiat Yesus Anak Allah, Dialah Firman yang menjadi manusia, menderita sengsara di atas kayu salib.
“ matilah!" Bertolak belakang dengan tabiat dari Allah Bapa itulah KASIH.
Memang kita tadi melihat anak-anak Allah menghadap TUHAN, termasuk Ayub, tetapi diantaranya ada setan.
Jadi kalau setan ada di tengah ibadah dan pelayanan bukan untuk memuliakan TUHAN, tetapi untuk mengambil damai sejahtera, dengan cara merusak persekutuan yang indah antara manusia dengan TUHAN.
Setan itu awal mulanya adalah malaikat TUHAN, Dia sudah ada di Sorga, tapi ia makar di istana kerajaan Sorga, maka ia dilemparkan ke bumi. Di bumi ia merusak damai sejahtera dari antara manusia di bumi.
Jadi, sebagai istri jangan mau dipakai oleh setan. Dan suami-suami juga jangan mau dipakai oleh setan untuk merusak kebahagiaan nikah dan rumah tangga.
CIRI-CIRI DAMAI SEJAHTERA DIRUSAK IBLIS
Ayub 1:12-19.
(1:12) Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya." Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN. (1:13) Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, (1:14) datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: "Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya, (1:15) datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan." (1:16) Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan." (1:17) Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan." (1:18) Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, (1:19) maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan."
Segala milik kepunyaan Ayub telah diambil daripadanya, antara lain:
7000 ekor kambing domba, 3000 ekor unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina, dan budak-budak dalam jumlah yang besar (ayat 3)
10 anak Ayub semuanya mati (ayat 19)
Segala milik kepunyaan Ayub telah diambil daripadanya. Dan itu terjadi atas seizin TUHAN, karena TUHAN berkata kepada iblis: “segala kepunyaanya ada dibawah kekuasaanmu”.
Ayub 1:20-22
(1:20) Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, (1:21) katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (1:22) Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.
Reaksi Ayub terhadap ujian yang dihadapi ...
Ayub mengoyak jubahnya, istilah sekarang hati hancur.
Banyak juga istri-istri yang hancur hati karena kelakuan suaminya. Sebaliknya banyak juga suami-suami yang hatinya hancur karena kelakuan istrinya. Atau banyak juga anak-anak yang hancur hatinya karena kelakuan orang tuanya. Sebaliknya banyak juga orang tua yang hancur hatinya karena kelakuan anak-anaknya. Semua kita mengalami hati yang hancur. Kenapa? jawabnya: karena kita rela. Kalau kita tidak rela maka kita akan berusaha pertahankan kebenaran diri sendiri.
Tapi kita lihat Ayub mengoyakkan jubahnya, istilah sekarang hancurlah hatinya. Dan itu terjadi karena penyerahannya kepada TUHAN. Pendeknya, Ayub tidak perlu berdukun untuk mencari pembelaan diri. Kalau kata orang dukun itu adalah orang pandai. Tapi kalau kata saya dukun orang bodoh, bukan orang pandai. Kalau orang pandai kita harus datang kepada TUHAN, sedangkan orang bodoh tidak mau datang kepada TUHAN.
Perlu untuk diketahui:
Orang bijaksana mendirikan rumahnya diatas korban TUHAN.
Sedangkan orang bodoh mendirikan rumahnya diatas pasir. Pasir -> daging. Sementara daging ini tidak lebih tidak kurang hanyalah sebatas takhta setan.
Mencukur kepalanya, artinya: Segala hormat dan kemuliaan hanya bagi Tuhan saja.
Ada juga orang potong rambutnya setelah putus dari pacarnya. Kemudian karena tidak kesampaian cita-citanya. Itu tidak benar, itu bukan kemuliaan bagi TUHAN.
Sujudlah ia dan menyembah -> Pada puncak ibadah itulah doa penyembahan, artinya: Penyerahan diri sepenuhnya untuk taat kepada kehendak Allah saja.
Buktinya di ayat 21 Ayub berkata: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
Dia tidak marah ketika segala milik kepunyaannya diambil daripadanya. Dia sadar datang ke dunia ini tidak bawa apa-apa. Kita harus sadar, nanti juga kita kembali kepada TUHAN juga tidak bawa apa-apa, tabungan dari gaji sebulan tidak dibawa. Simpanan bank nanti akan di take over oleh antikris. Jadi jangan kikir untuk pekerjaan TUHAN.
Ayub berkata: TUHAN yang memberi. Kalau TUHAN mau mengambil, ya terserah TUHAN, jangan marah-marah, jangan ngomel. Kita berdagang, satu kali bisa rugi, ya biarin saja. Asalkan kita jujur di hadapan TUHAN. Kita sebagai pegawai jujur, sepertinya Great tidak naik-naik, ya sudah, ada maksud TUHAN di balik itu semua. Tidak usah ngomel, katakan dalam hatimu: TUHAN yang memberi, maka TUHAN yang mengambil. Terserah TUHAN saja, suka-suka TUHAN saja kepada hidup kita. Seperti ada lagu baru sekarang ini, dengan lirik atur sajalah TUHAN hidup ku ini.
Ayub 1:22
(1:22) Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.
Dalam semuanya itu, “… Ayub tidak berbuat dosa …”, berarti Ayub tidak lari kepada pelampiasan.
Biasanya orang kalau putus cita-cita, maka ia akan melarikan diri kepada pelampiasan. Misalnya kalau gagal masuk pns merusak dirinya dengan cara dia mabuk-mabukan, merokok, narkoba, dan seterusnya. Tapi Ayub tidak demikian.
Kemudian, “… Ayub tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut …”, berarti tidak mempersalahkan Tuhan sedikitpun dalam hidupnya.
Namun, iblis tetap saja berusaha untuk mengambil damai sejahtera dari manusia, termasuk damai sejahtera dari Ayub. Setan ini tidak pernah tinggal diam, sebelum manusia hancur sejadi-jadinya. Iblis akan terus kejar, karena ia tidak rela sendirian di dalam neraka bersama dengan pasukannya. Iblis mau supaya manusia sebagai ciptaan TUHAN yang tertinggi juga dibinasakan. Iblis tidak mau tinggal diam, dia terus berusaha untuk menghancurkan dengan cara mengambil damai sejahtera dan kebahagiaan yang ada dalam diri manusia, termasuk Ayub.
Sekarang, kita akan memasuki FASAL 2…
Ayub 2:1
(2:1) Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN.
“Datanglah anak-anak Allah menghadap Tuhan”, artinya: Masuk pada hari perhentian (hari ke 7) = Menguduskan dan menghormati hari Sabat (hari perhentian). Seperti malam ini kita datang menghadap TUHAN, menghormati hari sabat (hari perhentian) lewat Ibadah Raya Minggu (Ibadah Pelita emas).
“Tetapi diantara mereka datang juga iblis menghadap Tuhan”
Tadi sudah saya jelaskan, dalam setiap pertemuan ibadah, setan juga ada diantara anak-anak TUHAN. Tujuannya, untuk merusak persekutuan yang indah, antara anak-anak TUHAN dengan TUHAN.
Ayub 2:2
(2:2) Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi."
Kembali lagi saya sampaikan, Iblis itu tidak mempunyai hari perhentian, berarti: tidak menghargai hari ketujuh (hari Sabat), itulah ibadah pelayanan.
Ayub 2:3
(2:3) Firman TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan."
Tuhan Allah melihat Ayub tetap bertekun dalam KESALEHANNYA, sekalipun ia telah kehilangan segala sesuatu yang ia punya; harta kekayaan, dan 10 anaknya sudah mati.
Kesalehan Ayub antara lain:
Saleh dan jujur.
Takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.
“Ayub tetap bertekun dalam kesalehannya” = tekun tiga macam ibadah pokok, meskipun segala sesuatu yang ia miliki telah diambil daripadanya.
Jangan putus asa ya saudara. Contoh:
kalau istri tersakiti oleh suami, tetaplah tekun dalam kesalehan, tetap menghormati ketekunan tiga macam ibadah pokok.
Atau sebaliknya, seorang suami mengalami penderitaan yang hebat karena kelakuan istrinya, tetaplah bertekun dalam kesalehan, jangan putus asa.
Anak-anak yang belum mencapai cita-citanya tetaplah bertekun dalam kesalehannya, jangan putus asa.
Ayub 2:4
(2:4) Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya.
Selanjutnya, iblis menuntut Tuhan dengan: "kulit ganti kulit" maksudnya: Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya.
"kulit ganti kulit" maksudnya dan tujuannya: adalah pada akhirnya Ayub akan mempertahankan nyawanya. Padahal syarat ikut Tuhan adalah sangkal diri, pikul salib, ikut Tuhan. Berbeda dengan istri Lot, dia mempertahankan nyawanya. Buktinya ia tetap menoleh ke belakang, hatinya terpaut dengan harta dan kekayaan dan uang yang ia tinggalkan, dia tetap mempertahankan nyawanya. Itu sebabnya iblis berkata: "kulit ganti kulit" maksudnya Ayub akan mempertahankan nyawanya. Apakah prediksi setan ini betul? kita akan selidiki…
Ayub 2:5-7
(2:5) Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu." (2:6) Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya." (2:7) Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.
Nyawa Ayub di tangan Tuhan, tetapi “iblis menimpa Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kaki sampai ke batu kepalanya seizin TUHAN”. Inilah penderitaan Ayub berikutnya.
Karena saya tadi sudah katakan setan tidak tinggal diam. Sebelum manusia itu betul-betul terpisah dari TUHAN, setan tidak akan pernah berhenti mengambil damai sejahtera dari manusia, iblis tidak akan berhenti mengambil kebahagian dari manusia.
Penderitaan Ayub berarti semakin hebat; PENDERITAAN PERTAMA: segala kepunyaannya diambil, orang yang dicintai diambil diambil daripadanya.
PENDERITAAN KEDUA: barah busuk menimpa Ayub, dari telapak kaki sampai ke batu kepala, membuat hidupnya semakin menderita. Sempurnalah penderitaan yang dialami Ayub, lahir batin.
Penderitaan yang pertama: Yang tersakiti adalah Batin (kehilangan harta dan anak-anaknya).
Penderitaan yang kedua: Yang tersakiti, juga adalah lahir batin (ditimpa barah busuk dan kelakuan istrinya)
Kita sudah melihat, “kulit ganti kulit” sudah terjadi, yaitu: ditimpa barah busuk dari telapak kaki sampai batu kepala Ayub. Apakah dia menyangkali TUHAN dan mempertahankan nyawanya?
Kita bisa menikmati hidup dengan gaji meskipun kecil, sedang, besar. Kita bisa menikmati hidup dengan makan 3 kali sehari, bersyukurlah kepada Tuhan, sebab penderitaan yang kita alami tidak sebanding dengan penderitaan Ayub.
Maka, tidak ada alasan untuk membuat kita jauh dari ketekunan tiga macam ibadah pokok, tidak ada alasan untuk tidak menghormati hari ketujuh (hari perhentian), karena kita rindu mencapai hari perhentian yang besar; kerajaan 1000 tahun damai sejahtera disebut juga Firdaus di bumi.
Tadi kita sudah melihat damai sejahtera diambil dari atas muka bumi, tepatnya pada saat meterai kedua dibuka, tampilah kuda merah, terjadilah pembunuhan, berdarah-darahlah, tanda tidak ada lagi damai sejahtera.
Sementara dalam UJIAN YANG KEDUA barah busuk dari kaki sampai batu kepala.
Tadi di Wahyu 6:2, sekarang Wahyu 16:2. Penulisan ini tidak ada secara kebetulan.
Tadi penghukuman dari tujuh meterai, sekarang penderitaan hebat yang dialami Ayub ini sudah berada pada penghukuman tujuh cawan murka Allah, penghukuman yang terakhir, yaitu: Bara busuk secara khusus, penghukuman dari cawan murka yang pertama.
Wahyu 16:2 --- Perikop: "Ketujuh malapetaka."
(16:2) Maka pergilah malaikat yang pertama dan ia menumpahkan cawannya ke atas bumi; maka timbullah bisul yang jahat dan yang berbahaya pada semua orang yang memakai tanda dari binatang itu dan yang menyembah patungnya.
Hukuman malaikat yang pertama (cawan murka yang pertama): “Timbullah bisul yang jahat dan yang berbahaya”, itu bara busuk dari telapak kaki sampai batu kepala.
Hukuman ini ditimpakan kepada orang-orang yang masih mempertahankan nyawanya.
Tanda seseorang mempertahankan nyawanya:
“Memakai tanda dari binatang”/cap meterai dari antikris yaitu 666. Kegunaannya adalah bebas untuk membeli dan bebas untuk menjual. Jadi roh antikris adalah roh jual beli.
Kenapa harus menerima tanda 666 di dahi atau di tangan kanan, karena dia mempertahankan nyawanya. Andai saja gereja TUHAN/anak-anak TUHAN di atas muka bumi ini mengerti ketekunan tiga macam ibadah pokok, lalu lewat ketekunan tiga macam ibadah pokok itu dia dibawa sampai kepada puncak ibadah, itulah doa penyembahan, berarti sudah berada pada penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah, maka kepadanya niscaya akan dipercayakan dua sayap burung nasar yang besar, karena dia sudah menyerahkan nyawanya kepada TUHAN, dia tidak mempertahankan nyawanya.
Jadi apa yang dialami Ayub adalah suatu nubuatan di akhir zaman ini. Dan TUHAN sudah memperlihatkan kisah ini kepada kita, supaya mulai dari sekarang kita tidak boleh lagi bermain-main di tengah ibadah dan pelayanan ini.
“… Menyembah patung binatang (antikris)…”
Patung sama artinya BERHALA, berarti segala sesuatu yang melebihi dari Tuhan, termasuk kekerasan di hati.
Kalau sesuatu melebihi dari TUHAN, umpama pekerjaan melebihi dari ibadah itu namanya berhala. Termasuk kekerasan di hati dan kebenaran diri sendiri, itu juga penyembahan berhala, meskipun seseorang tidak mendirikan patung, terafim atau arca di rumah masing-masing. Orang semacam ini akan menerima hukuman dari cawan murka Allah yang pertama, yaitu: bisul di seluruh tubuhnya, bara busuk dari ujung kaki sampai batu kepala.
Kita bandingkan dengan Ayub…
Ayub 2:8
(2:8) Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu.
Sikap Ayub terhadap ujian kedua itulah bisul/barah berbau busuk:
Mengambil sekeping beling, tujuannya untuk menggaruk-garuk badannya.
Sekeping beling adalah pecahan kaca/pecahan dari bejana tanah liat (keramik). Jadi untuk menggaruk-garuk badannya ia hanya membutuhkan sekeping beling, pecahan dari satu wadah kaca atau bejana tanah liat.
Kita ingat satu peristiwa waktu Musa marah sejadi-jadinya kepada bangsa Israel terkait penyembahan berhala anak lembu emas tuangan. Begitu ia melihat bangsa Israel menyembah itu sambil menari-nari, ia pecahkan dua loh batu berisi 10 hukum. Sekeping beling semacam ini sangat dibutuhkan oleh Ayub. Dia tidak pergi untuk mencari tabib (dokter), tetapi ia hanya mengambil sekeping beling, dia tau diri (menyadari siapa dirinya di hadapan Allah)
“… Duduk di tengah-tengah abu …”
Begitu Adam jatuh dalam dosa maka nikahnya hancur, mereka kuatir, termasuk kuatir akan masa depan; juga kuatir akan apa yang dimakan, diminum, dipakai. Sehingga keadaan Adam dan Hawa menjadi kacau, saling menuduh, saling mempersalahkan.
TUHAN berkata kepada Adam: kamu diambil dari tanah (debu), kamupun akan kembali ke tanah untuk mengusahakan tanah itu (Kejadian 3:19).
Pendeknya, ketika Ayub duduk di atas abu bukan berarti dia orang bodoh, tetapi ia tahu apa yang diucapkan TUHAN kepada Adam, ia tahu firman Allah: Engkau dari abu, kembali ke abu, dari situ engkau harus mengusahakan hidupmu. (Kejadian 3:19). Disini ada kata mengusahakan. Kalau Ayub duduk di atas abu, berarti ia ingat firman yang disampaikan kepada Adam, ia sedang berusaha memperbaiki dirinya.
Apa yang sudah kita lihat dari Wahyu 20 ini adalah pemberitaan firman yang tulus dari TUHAN untuk kita mengerti rencana TUHAN sedang dinyatakan kepada kita, supaya kita betul-betul menghormati hari ketujuh atau hari perhentian, yaitu: ibadah dan pelayanan, tujuannya; untuk mencapai kerajaan 1000 tahun damai, inilah yang disebut; HARI PERHENTIAN YANG BESAR.
Pertanyaannya: BAGAIMANA CARA MENCAPAI KERAJAAN 1000 TAHUN DAMAI? jawabnya; KARENA ADA SEORANG MALAIKAT pada Wahyu 20:1.
Seorang -> manusia. Kalau disebut “malaikat sidang jemaat” berarti gembala sidang, berarti manusia.
“ … Melihat seorang malaikat turun dari Sorga ...” berarti melihat gembala, dan melihat penggembalaan dengan sungguh-sungguh. Ini satu-satunya cara (tidak ada cara lain) untuk mencapai hari ketujuh, yaitu; kerajaan 1000 tahun damai di bumi.
Jadi kalau kita “melihat malaikat turun dari Sorga” = melihat gembala, artinya TERGEMBALAH DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH. Nanti gembala Agung langsung menggembalakan kita, berarti memelihara jiwa kita, membela kita dari segala perkara di atas muka bumi ini, hingga kita mencapai kerajaan 1000 tahun damai.
Bukankah dari tadi kita sudah melihat iblis itu pekerjaannya hanyalah untuk mengacaubalaukan manusia, mengambil kebahagiaan dari nikah rumah tangga, mengambil damai sejahtera dari bumi ini? Siapa yang kuat ? jawabnya: tidak ada yang kuat.
Maka dengan kasih TUHAN menuliskan dalam Wahyu 20:1: “melihat seorang malaikat dari sorga” Malaikat sidang jemaat tidak lain tidak bukan adalah gembala sidang. Oleh sebab itu, tergembalah dengan sungguh-sungguh, tekun tiga macam ibadah pokok, tidak ada cara lain. Jangan ikuti metode-metode lain, ikuti metode yang TUHAN tetapkan di hati dimana ibadah dan pelayanan itu, menggunakan Pola Kerajaan Sorga, yaitu: Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel.
Ingat Sorga itu Tabernakel, Allah itu Tabernakel, hidup manusia Tabernakel (rumah TUHAN) , berarti untuk sampai ke Tabernakel SORGAWI harus dengan Pengajaran Tabernakel. Tidak usah pakai metode lain, dengar-dengaran saja, ikuti saja, TUHAN tidak akan pernah menyesatkan kita.
Tanda domba-domba tergembala: taat, setia, dengar-dengaran, kehidupan semacam ini, akan dibawa sampai kepada hari perhentian yang besar; kerajaan 1000 tahun damai, yaitu; firdaus di bumi. Tapi dari situ nanti lanjut ke Yerusalem baru, hidup kekal.
Dari pesta nikah, turun ke bawah (ke bumi), yaitu: kerajaan 1000 tahun damai di bumi, lanjut kepada Yerusalem baru yakni; bahagian di dalam kekekalan. Sungguh-sungguhlah tergembala.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang