KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Thursday, March 5, 2026

IBADAH RAYA MINGGU, 22 FEBRUARI 2026



IBADAH RAYA MINGGU, 22 FEBRUARI 2026

 

KITAB WAHYU

WAHYU 19:13 (Seri: 4)

 

Subtema: BERGANTUNG PADA JUBAH YESUS

 

Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, oleh karena rahmat-Nya kita dihimpunkan di atas gunung Tuhan yang kudus. Sehingga kita boleh datang beribadah menghadap kepada Tuhan lewat Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh.

 

Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, umat ketebusan Tuhan yang turut bergabung secara online / live streaming / video internet dari Youtube, Facebook atau media sosial lainnya. Kiranya damai sejahtera dari Sorga berkuasa, bertakhta di hati kita, sehingga kita boleh duduk diam dengan tenang menikmati Sabda Allah.

 

Selanjutnya, marilah kita sambut KITAB WAHYU sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu. Kita masih membaca Wahyu 19:13 sebagai seri yang keempat. Namun, pertama-tama kita mohon kepada kemurahan Tuhan supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi.

 

Wahyu 19:13 --- Perikop: “Firman Allah”

(19:13) Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah."

 

Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah.

Menunjukkan bahwa Si Penunggang kuda putih ini adalah Imam Besar Agung.

 

Adapun jubah Imam Besar dibagi dalam 3 (tiga) hal pokok yang semuanya itu ditulis secara lengkap dalam Keluaran 28:1-43.

1.       Baju efod (ayat 6-15)

2.       Gamis baju efod (ayat 31-32)

3.       Kemeja beragi dari lenan halus (ayat 39)

 

Malam ini kita masih membahas tentang: GAMIS BAJU EFOD (Bagian 3)

Keluaran 28:31

(28:31) Haruslah kaubuat gamis baju efod dari kain ungu tua seluruhnya.

 

Gamis baju efod dibuat dari ungu tua / biru langit. Warna ini berbicara tentang kuasa kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus.

 

Keluaran 28:32-34

(28:32) Lehernya haruslah di tengah-tengahnya; lehernya itu harus mempunyai pinggir sekelilingnya, buatan tukang tenun, seperti leher baju zirah haruslah lehernya itu, supaya jangan koyak. (28:33) Pada ujung gamis itu haruslah kaubuat buah delima dari kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi, pada sekeliling ujung gamis itu, dan di antaranya berselang-seling giring-giring emas, (28:34) sehingga satu giring-giring emas dan satu buah delima selalu berselang-seling, pada ujung gamis itu.

 

Di sini ada 2 (dua) hal penting yang menyangkut gamis baju efod.

YANG PERTAMA: Menyangkut leher.

Adapun lehernya haruslah di tengah-tengah, berarti; seimbang / adil. Kalau di tengah-tengah berarti tidak lebih berat ke kanan atau tidak lebih berat ke kiri. 

Kemudian, lehernya itu haruslah mempunyai pinggir sekelilingnya. Tujuannya; supaya jangan koyak.

Singkat kata, penyembahan dalam kuasa kebangkitan memungkinkan segala sesuatu terjadi (melenyapkan segala kemustahilan / segala yang tidak mungkin bagi manusia), karena, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

 

Saudara, jangan koyak maksudnya; jangan kita terputus dari Tuhan sampai Ia datang pada kali kedua. Jadi, penyembahan dalam suasana kebangkitan adalah jaminan bagi kita sekaliannya.

 

Saudara, menyangkut leher telah kita bahasa sebanyak dua minggu berturut-turut. Doa saya, kiranya penyembahan dalam kuasa kebangkitan terjadi di dalam diri kita masing-masing, nikah kita masing-masing. Kiranya apa yang sudah kita terima selama dua kali berturut-turut masih jelas dalam ingatan kita, bahkan terpatri (dimeteraikan) oleh Roh Kudus dalam hati kita masing-masing, supaya nyata bahwa penyembahan kita ada dalam suasana kebangkitan.

 

YANG KEDUA: Menyangkut ujung gamis (ayat 33).

Saudara, pada ujung gamis harus digantungkan; buah delima dan giring-giring emas pada sekelilingnya, berselang-seling. Jadi, satu buah delima kemudian di selang dengan satu giring-giring emas, di sekeliling pada ujung gamis baju efod tersebut.

 

-          Gamis baju efod 🡪 kuasa kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus.

-          Buah delima 🡪 sidang jemaat / gereja Tuhan

-          Giring-giring emas 🡪 hadirnya Imam Besar Agung dalam sebuah pertemuan ibadah-ibadah kita.

Hal ini ditandai dengan; penyembahan disertai dengan bahasa lidah, pasti di situ ada Imam Besar Agung. Atau sebaliknya, Imam Besar Agung akan memimpin ibadah kita, hidup kita sampai kepada tingkat yang Tuhan mau pada diri kita masing-masing. Kalau kita sudah merasakan pelayanan Imam Besar, hal itu akan nampak dari penyembahannya, meskipun pelan; akan hidup dan disertai dengan bahasa lidah.

 

Saudara, terlebih dahulu kita melihat: Buah delima digantungkan pada ujung gamis efod.

Buah delima digantungkan pada ujung gamis efod arti rohani bagi kita; sidang jemaat atau gereja Tuhan harus bergantung pada kuasa kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, tidak bergantung kepada yang lain-lain.

 

Kalau kita diberkati sehingga memiliki pekerjaan, dipercaya bisnis yang baik dan dipercaya banyak perkara itu hanya sebatas “kepercayaan”. Namun, kehidupan gereja Tuhan (sidang jemaat) harus tetap bergantung kepada kuasa kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, tidak kepada yang lain. Kita tidak boleh  bergantung kepada apa yang dititipkan oleh Tuhan. Namanya titipian satu kali akan berlalu. Jadi kita harus bergantung pada kuasa kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus.

 

Semoga dalam pemberitaan Firman malam ini kita diyakinkan, sehingga kehidupan kita dipastikan tetap bergantung kepada kuasa kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, tidak kepada yang lain-lain. Jadi saudara, sekali lagi saya sampaikan; semua yang ada ini akan berlalu. Maka kita harus bergantung kepada jubah Kristus dalam kuasa kebangkitan-Nya.

 

Hal itu dapat kita buktikan langsung dalam sebuah kisah nyata (bukan dongeng) dalam…

Markus 5:24-25 --- Perikop: “Yesus membangkitan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan.”

(5:24) Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. (5:25) Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.

 

Singkat kata, dalam perjalanan ke rumah Yairus, banyak orang berbondong-bondong dan saling berdesak-desakan untuk mengikuti Yesus. Namun di antara kerumunan orang banyak itu, ada seorang perempuan yang 12 tahun menderita pendarahan (lelehan darah). Mohon maaf, jadi bukan bulanan perempuan (haid) tetapi lelehan darah dan ia sangat menderita / tersiksa oleh sakit tersebut.

 

Saudara, seorang perempuan yang sedang haid sebulan sekali saja sudah menderita, lelah dan menyita waktu dengan lelehan tersebut. Selain itu bikin malu dan ditambah lagi sakit pada bagian perutnya. Tetapi perempuan ini sakit lelehan darah selama 12 tahun lamanya. Saudara bisa bayangkan itu, kalau 12 tahun menderita lelehan darah, betapa kurusnya dia, maka, akhir-akhirnya dia tidak akan berdaya. Biar bagaimanapun orang kurus karena sakit, pasti tidak berdaya.

 

Markus 5:26

(5:26) Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.

 

Perempuan ini telah berulang kali berobat ke berbagai tabib, sampai habis segala sesuatu yang ia miliki, namun tidak kunjung sembuh, malah sebaliknya; keadaannya semakin memburuk.

 

Saudara, dari kisah ini kita bisa melihat, ternyata seseorang tidak bisa bergantung pada hartanya, tidak dapat bergantung kepada manusia sekalipun ia tabib, orang yang berpengalaman di bidangnya (medis). Semakin kita bergantung kepada yang lain-lain, maka semakin diizinkan keadaan seseorang memburuk. Sebab di atas tadi kita sudah melihat;  perempuan ini sudah berobat ke berbagai tabib dan berulang kali ia pergi ke sana, bahkan menghabiskan segala yang dimilikinya. Namun semua itu tidak ada faedahnya, justru keadannya semakin memburuk. Kita harus belajar dari kisah ini ya suadara, jangan diabaikan.

 

Markus 5:28

(5:28) Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."

 

Di sini kita melihat, di dalam pikiran hatinya, perempuan itu berkata: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Artinya bagi kita: bila anak-anak Tuhan (sidang jemaat) bergantung pada ujung jubah Yesus (kuasa kebangkitan Yesus), maka; kuasa dosa, kuasa maut, segala sakit penyakit akan lenyap.

Kuasa maut adalah dosa, kuasa dosa adalah hukum Taurat (1 Korintus 15:56). Jadi, jangan lagi menjalankan ibadah dan pelayanan ini secara Taurat.

 

Saudara, kita sedang berada dalam kuasa kebangkitan, karena kita menghargai ibadah dan pelayanan. Tidak jauh dari jam-jam ibadah (tiga macam ibadah pokok) dan ditengah-tengah ibadah itu kita melayani, berarti; sedang berada dalam suasana kebangkitan. Kalau kita bergantung pada kuasa kebangkitan Yesus, maka kuasa dosa lenyap dan kuasa maut lenyap serta sakit penyakit yang diderita sembuh, karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

 

Jadi, dari dalam diri perempuan ini ada satu tekad yang kuat dan ia berkata di dalam hati dan pikiranya; "Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh." --- sakit penyakit akan lenyap sekalipun penyakitnya sudah kronis.

 

Saudara, bergantunglah pada kuasa kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, jangan bergantung kepada apa yang dititip oleh Tuhan. Karena sebetulnya yang ada ini juga harus tetap bergantung kepada kuasa kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, tidak boleh bergantung kepada yang lain.  Jangan turuti kata hati, jangan turuti suara daging.

 

Padahal, kalau kita perhatikan pada ayat 24 tadi, di situ ditulis dengan jelas; orang banyak berbondong-bondong mengikut Yesus. Kemudian, karena terlalu banyak orang berbondong-bondong, akhirnya dalam pengikutan itu mereka berdesak-desakan. Namanya juga banyak orang, sudah pasti berdesak-desakan dengan kata lain; berhimpit-himpitan karena sama-sama berusaha mendekat kepada Yesus. Siapa yang kuat itu yang bisa dekat.

 

Sedangkan pada ayat 27, perempuan ini sudah mendengar berita-berita.

 

Markus 5:27

(5:27) Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.

 

Jadi, sudah banyak hal ia dengar tentang Yesus. Itu sebabnya, di tengah-tengah orang banyak itu, ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Jadi, ada suatu perjuangan untuk mendekat kepada Yesus dan ia berhasil menjamah ujung jubah Yesus.

 

Pendeknya, di tengah-tengah kondisi tubuh yang lemah, tubuh yang tidak berdaya, namun perempuan itu berjuang untuk mencapai ujung jubah Yesus. Ia tidak langsung putus asa karena kelemahan, kekurangan, karena dicap sebagai orang yang tidak baik, dicap sebagai orang yang memalukan. Dia tidak putus asa dengan perkara-perkara tersebut, sebaliknya, dia tetap berjuang untuk mencapai ujung jubah Yesus.

 

Singkat kata, ujung jubah Yesus adalah pelarian yang terakhir bagi perempuan yang sakit lelehan darah tersebut, tidak ada yang lain. Dia sudah pergi ke berbagai tabib tetapi tidak kunjung sembuh, bahkan, ketika ia berobat dia harus menghabiskan hartanya. Kemudian, keadaannya bukan membaik malah semakin parah.

Jadi saudara, pelarian terakhir kita adalah ujung jubah Yesus dalam kuasa kebangkitan-Nya, tidak ada yang lain. Saat punya masalah, jangan putus asa dan lemah. Saat dicap sebagai orang yang memalukan karena perbuatan masa lalu, jangan putus asa, justru kita harus datang kepada ujung jubah Yesus dalam kuasa kebangkitan-Nya, kita harus semakin sungguh-sungguh beribadah dan melayani Tuhan. Sakit penyakit tidak dapat menghalangi kita untuk datang kepada ujung jubah Yesus. Batuk pilek, capek sedikit, jangan terlalu dibesar-besarkan. Padahal sakitnya pun dibuat sendiri karena suka pergi (suka jalan-jalan).  Kita sudah harus tahu jam-jam ibadah saudara.

 

Tetapi lihatlah perempuan yang menderita lelehan darah ini, ia sudah sakit selama 12 tahun, penyakitnya kronis, tetapi ia tidak putus asa. Jadi, semoga kita semua sebagai suami, isteri atau anak, tidak menjadikan batuk atau pilek sebagai “kambing hitam” untuk tidak datang dalam suasana kebangkitan Tuhan Yesus (ibadah dan pelayanan).

 

Sebagai imam / kepala, saya harus memberi contoh kepada isteri saya. Tetapi kalau ada suami yang tidak bisa menjadi contoh, isteri juga bisa menjadi contoh dan teladan di dalam pengikutannya kepada Tuhan, jangan justru sepakat dengan suami. Jangan sampai satu rumah sepakat untuk tidak datang ke ujung jubah Yesus.

 

Sekali lagi saya sampaikan: ujung jubah Yesus adalah pelarian yang terakhir bagi perempuan yang sakit lelehan darah selama 12 (dua belas) tahun. Namun, perlu untuk diketahui: sebelum ia menjamah ujung jubah Yesus, ternyata ia telah mendengar berita-berita tentang Yesus. Jadi hal-hal tentang Yesus sudah ia ketahui, dan itu yang memotivasi dirinya untuk datang kepada Tuhan.

 

Saudara, kita sudah banyak mendengar berita tentang Tuhan Yesus Kristus yang telah menderita sengsara dan mati di kayu salib, kemudian pada hari ketiga bangkit. Dan Ia selama empat puluh hari dalam suasana kebangkitan di bumi, lalu Ia naik berarti dipermuliakan, duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Dan berita-berita tentang hal ini sudah kita terima berulang-ulang kali dalam setiap pertemuan ibadah, seharusnya itu menjadi motivasi.

 

Semakin ia mendengar berita tentang Yesus, semakin ia didorong untuk mendekat Yesus. Bayangkan, di situ banyak orang berdesak-desakan, sikut-sikutan dan berhimpit-himpitan, bagaimana mungkin orang yang tidak berdaya, orang yang sudah menderita 12 tahun, kurus kering, bisa mendekat? Tetapi tekad yang kuat karena mendengar berita-berita tentang Yesus yang sudah ia dengar selama ini memotivasi dia dan mendorong dia untuk datang kepada ujung jubah Yesus. Jadi, kita harus bergantung pada ujung jubah Yesus, jangan bergantung kepada manusia sekalipun ia ahli dalam bidangnya.

 

Itu juga yang memotivasi saya untuk tidak bergantung kepada manusia, siapapun dia selain bergantung kepada Yesus dalam kuasa kebangkitan-Nya --- Bagaikan buah delima bergantung pada ujung jubah imam besar agung.

 

Mari kita baca…

Pengkhotbah 12:12 --- Perikop: “Akhir kata”

(12:12) Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.

 

Firman Tuhan Allah berkata: waspadalah! (diakhiri dengan tanda seru) berati; sebuah peringatan kepada kita.

-          Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya

Tidak salah menulis buku, tidak salah menjadi pencipta buku, penulis buku, tetapi di sini dikatakan; Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya. Perjalanan rohani gereja Tuhan di atas muka bumi ini berakhir dalam sebuah rencana yang indah itulah pesta kawin Anak Domba. Berarti; ada upah dalam pengikutan kita kepada Tuhan. Tetapi membuat banyak buku tidak ada akhirnya., sangat melelahkan.

 

-          Banyak belajar melelahkan badan.

Tetapi tidak salah, sebagai seorang pelajar atau murid memang harus belajar tidak boleh tidak. Tetapi Alkitab berkata; banyak belajar melelahkan badan. Orang yang tidak peduli dengan kuasa kebangkitan Yesus, dia akan menjadi kutu buku; buku-buku apa saja dipelajari, itu yang melelahkan badan -- belajar ini, belajar itu.

Artinya, sebetulnya semua itu tidak berguna. Yang terpenting adalah gereja Tuhan / Sidang Jemaat, harus bergantung kepada Kristus dalam kuasa kebangkitan-Nya, itu saja. Dan tidak boleh ada perkara yang bisa menghalangi, baik itu rasa lelah, jemu, jengkel atau karena sakit flu, batuk demam, atau alasan-alasan lainnya, tidak boleh jadi penghalang untuk datang kepada Tuhan, selanjutnya menjamah ujung jubah-Nya.

 

Penghkotbah 12:13

(12:13) Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.

 

Akhir kata dari segala yang di dengar:

-          Takutlah akan Allah.

Perlu untuk diketahui:

Takut akan Allah = benci kepada kejahatan antara lain;

1.       Kesombongan.

Kalau melihat anak sombong; tegor. Kalau anak salaman pakai tangan kiri, tegor. Kalau anak-anak lewat dari depan orang lain, tetapi tidak permisi (tidak tunduk); tegor. Jangan biarkan anak kita bodoh.

Ada anak seorang hamba Tuhan dibiarkan bodoh dan sampai hari ini tidak mau beribadah.

Kalau ada seorang anak tidak karu-karuan bicaranya padahal saat itu ada orang tua, langsung tegor.

2.       Kecongkakan = tinggi hati / sombong.

3.       Tingkah laku yang jahat / perbuatan-perbuatan yang tidak baik.

4.       Mulut penuh muslihat

Kami suami isteri di rumah, dusta sedikit saja, langsung tahu. Ini bukan sedang pamer-pamer, tetapi fakta. Sedikit saja melenceng, saya dan isteri sangat peka. Dan yang melenceng itu harus kami bahas. Jadi, kalau ada yang melenceng sedikit saja dalam perkataan, kami tidak biarkan, biarpun alasannya; itu bercanda. Pendeknya, jenis dusta apapun harus dibenci.

-          Berpeganglah pada perintah-perintah-Nya.

Itulah sebabnya, perempuan itu memiliki suatu tekad yang kuat. Sekalipun ia dalam keadaan sakit, berada dalam kelemahan, dia tetap datang kepada Tuhan, dia pegang pada janji Firman Tuhan dalam kuasa kebangkitan Yesus.

Kedua hal ini merupakan KEWAJIBAN SETIAP ORANG. Menjadi kutu buku boleh, menjadi pengarang cerita boleh, tetapi itu bukan kewajiban.

 

Jadi saudara, perempuan yang menderita lelehan darah ini mengerti kewajiban. Tetapi banyak orang Kristen, sudah banyak dengar Firman Tuhan, akhir kata yang diterima adalah menuntut hak dan berkata;“Aku tidak diperhatikan”, padahal kewajibannya tidak ditunjukkan kepada Tuhan, ini bodoh namanya. Mau diperhatikan, tetapi kewajibannya tidak ada, tuntut hak kepada Tuhan, tetapi kewajiban tidak ada, itu keliru, tidak seimbang. Padahal soal leher harus ada di tengah-tengah, harus ada pada poros yaitu; keadilan.

 

Singkat kata, kewajiban anak-anak Tuhan adalah:

  1. Takut akan Allah, berarti; tidak berani berbuat dosa di tempat yang tersembunyi, sehingga kita tetap segambar dan serupa dengan Allah. Itu menunjuk kepada Pengajaran Tabernakel. Allah adalah rumah Tuhan (Tabernakel).
  2. Berpegang kepada Firman Allah yakni; Firman Pengajaran Mempelai.

Singkat kata, kewajiban kita adalah berpegang teguh kepada Firman Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel = pedang bermata dua.

-          Sisi pertama dari Pedang itulah Firman Pengajaran Mempelai.

-          Sisi kedua dari Pedang itulah  Pengajaran Tabernakel.

 

Ibrani 4:12

(4:12) Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

 

Firman Allah itu hidup dan kuat.

Hidup berarti; beraktivitas, bekerja untuk mengerjakan kehidupan kita. Lebih kuat dari pedang bermata dua manapun yang ada di dunia ini. Hal itu dibuktikan dengan; menusuk amat dalam sehingga memisahkan;

-            Jiwa dan roh

-            Sendi-sendi dan sumsum

-            Sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati

Dengan lain kata, pedang bermata dua sanggup mengadakan penyucian terhadap perasaan manusia terdalam. Kita hanya bisa melihat bagian luar, tetapi perasaan manusia bagian dalam siapa yang bisa melihat?

 

Singkat kata, dari sini kita bisa melihat, perempuan yang mengalami lelehan darah selama 12 tahun ini menyerahkan diri untuk disucikan oleh pedang bermata dua sampai kepada penyucian perasan yang terdalam. Ia serahkan dirinya untuk disucikan.

 

Saya tidak bisa melihat isi hati saudara sekarang seperti apa, tetapi Tuhan maha tahu dan maha melihat. Dia Firman menjadi manusia, Dia pedang yang lebih tajam dari pedang bermata dua manapun. Dialah Firman Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel yang sangat berkuasa mengadakan penyucian terhadap manusia yang terdalam sekalipun. Inilah kewajiban kita. Jadi saudara, menjadi pengarang dan penulis buku, dan banyak belajar itu tidak salah, sah-sah saja, tetapi itu bukanlah kewajiban kita.

 

Inilah yang memotivasi perempuan ini sehingga dalam keadaan berdesak-desakan, berhimpit-himptan, tetapi terus maju, terobos, kalau manusia berkata; entah kekuatan dari mana. Tetapi kita sudah melihat ini adalah kekuatan dari kuasa kebangkitan. Tidak punya uang tetap datang beribadah, tidak punya apa-apa tetap datang beribadah dan melayani Tuhan. Ada sakit penyakit tetap datang, tidak ada yang bisa menghalangi dia. Dia terobos segala halangan yang menghimpit, sampai ia menjamah ujung jubah Yesus. Inilah keadaan seseorang bila mengerti akhir kata yang dia dengar; pasti ada kekuatan baru.

 

Kiranya kita semua yang ada malam ini dan juga yang mengikuti secara online memahami, terkait dari kebenaran Firman Allah. Kehidupan ini diukur oleh Firman Allah saja. Jangan kita ukur dengan pengertian sendiri, nanti bisa keliru. Kita bisa menganggap sudah rohani padahal belum.

 

Sekarang kita lihat keadaan orang yang mengalami lelehan dalam

Imamat 15:25-26

(15:25) Apabila seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan lelehan, yakni lelehan darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, atau apabila ia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar kainnya, maka selama lelehannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti pada hari-hari cemar kainnya, yakni ia najis. (15:26) Setiap tempat tidur yang ditidurinya, selama ia mengeluarkan lelehan, haruslah baginya seperti tempat tidur pada waktu cemar kainnya dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis sama seperti kenajisan cemar kainnya.

 

Menurut ayat ini, perempuan ini sangat menderita sekali bahkan ia disingkirkan dari komunitasnya, dari keagamaannya. Karena, setiap kali dia dekat dengan sesuatu, semua itu menjadi najis, maka ia harus disingkirkan terlebih dahulu. Saya rasa hal ini dapat membuat mental seseorang down. Kalau mental down, moral juga jadi rusak, biasanya seperti itu. Sebab itu jangan biasakan orang lain dibuat mentalnya down, karena kaitannya; moral jadi rusak.

Oleh sebab itu, kalau kita bicara jangan seringkali mengecilkan orang lain. Suami jangan mengecilkan isteri, nanti mentalnya down; hargai pendapatnya. Begitu juga kita sebagai keluarga GPT Betania Serang & Cilegon, hargailah satu dengan yang lain. Hargai pendapat orang lain, jangan buat mental seseorang down / jatuh, nanti efek sampingnya tidak baik, moralnya rusak, perbuatan jahatnya jadi tidak karu-karuan. Saya juga sebagai pemimpin seperti itu; menghargai, padahal saya sudah tau orang ini kemarin merokok, tapi dia bilang tidak, tetap saya hargai. Saya tahu orang ini main HP sampai larut malam, tetapi saya hargai dia. Saya harus tegas, tetapi belajar untuk menghargai pendapat orang lain.

 

Jadi saudara, jangan suka menjatuhkan mental orang lain, jangan suka menjustifikasi. Belum waktunya kita menghadapi penghakiman, nanti ada takhta putih. Sebab hanya satu Allah dan satu pembuat hukum, Dialah yang layak untuk menghakimi (Yakobus 4:2). Meskipun seseorang tidak punya apa-apa, jangan dihakimi. Buat dia teguh dan tegap berdiri dihadapan Tuhan. Oleh sebab itu, untuk para imam; perhatikanlah hal ini, jangan suka menghakimi orang lain. Mungkin mulut tidak menghakimi, tetapi rohmu suka menghakimi; jangan lagi.

 

Kembali kita melihat kondisi perempuan pada ayat ini, dia disingkirkan dan diasingkan dari dunia sosialnya, dunia keagamaannya, selama dia ada dalam lelehan. Betapa hati kecilnya itu menjerit dalam hari-hari yang dia lalui. Tetapi Tuhan tahu, Tuhan melihat hati kita. Kalau kita bergantung pada ujung jubah-Nya, segala rasa malu selama ini akan dihapuskan dari hidup kita. Kuasa maut, kuasa dosa, sakit penyakit, semua dilenyapkan.

 

Kita kembali membaca…

Markus 5:29

(5:29) Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

 

Akhirnya, pada saat ia menjamah ujung jubah Kristus, dengan kata lain; berada dalam suasana kebangkitan, seketika itu juga berhentilah pendarahannya. Kalau ada komitmen dalam diri kita masing-masing, ada tekad yang bulat, seketika itu juga berhenti segala kesusahan, sakit penyakit, semua dosa, semua dilenyapkan.

 

Sesudah berhenti pendarahannya, ia merasa sudah sembuh dari penyakitnya, berarti sudah merasa lega, merasa bahagia, sudah plong, sudah bebas dari segala penyakit. Yang tersisa rasa bahagia dan nikmat dihadapan Tuhan, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, tetapi nampak dari air mata. Bukan air mata kesusahan, tetapi air mata kebahagiaan, itu yang tersisa.

 

Jadi saudara, kita adalah jemaat Tuhan / gereja Tuhan yang ternyata mendapat perhatian besar sebagaimana perempuan yang menderita karena mengalami lelehan darah selama 12 (dua belas) tahun. Dan angka 12 (dua belas) juga berbicara soal persekutuan dengan Tuhan. Jadi, persekutuan yang benar adalah bersekutu dan bergantung pada Kristus dalam kuasa kebangkitan-Nya, tidak kepada yang lain-lain. Hargailah ibadah dan pelayanan dan yang terkait di dalamnya, sebab itu keluar dari pengalaman kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, itu saja yang kita hargai dan kita harus bergantung kepada itu, tidak kepada yang lain, itulah kewajiban kita.

 

Akhir kata yang di dengar:

1.       Takutlah akan Allah.

2.       Berpeganglah pada perintah-perintah-Nya.

Itulah kewajiban setiap orang. Bekerja tidak salah, kutu buku tidak salah, tetapi bukan suatu kewajiban. Tetapi tekun tiga macam ibadah pokok adalah kewajibanmu. Melayani di tengah-tengah ibadah itu adalah kewajiban kita. Engkau tidak perlu sampai overtime dan tinggalkan ibadah, itu bukan kewajiban kita. Sebab itu orang tua harus didik anak-anak untuk beribadah, dan anak-anak harus berjuang untuk masa depanmu. Masa depanmu di tangan Tuhan bukan pada pekerjaanmu, ijazahmu, bisnismu. Sebelum engkau menyesal dan nanti nangis darah, lebih baik hari ini saya sampaikan dengan tegas, seperti menarik puntung dari api, supaya kita diselamatkan, ditolong oleh kuasa kebangkitan.

 

 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

Pemberita Firman oleh;

 

Gembala sidang: Pdt. Daniel U. Sitohang

 

 


Wednesday, March 4, 2026

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB 19 FEBRUARI 2026



IBADAH PENDALAMAN ALKITAB 19 FEBRUARI 2026

 

MALEAKHI 2:15

(Seri: 28)

 

Subtema: LIANGNYA SERIGALA

 

Shalom.

Mula pertama saya mengucapkan syukur kepada TUHAN oleh karena rahmat-Nya kita sekaliannya dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, kita boleh datamh menghadap Dia lewat Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci.

 

Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN, saudara/i, bapa/ibu dalam kasih Kristus, bahkan hamba-hamb TUHAN yang turut bergabung secara online baik di dalam negeri maupun di luar negeri dimanapun saudara berada. Kiranya damai sejahtera yang melampaui akal pikiran kita senantiasa berkuasa dan bertakhta di hati kita sehingga kita dapat duduk diam tenang menikmati sabda ALLAH.

 

Mari kita sambut KITAB MALEAKHI sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci. Namun tetaplah berdoa dan mohon kemurahan hati TUHAN supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.

 

Maleakhi 2:15

(2:15) Bukankah ALLAH yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.

 

ALLAH yang Esa memberkati laki-laki dan perempuan sehingga keduanya menjadi SATU DAGING. Yang dikehendaki atau didambakan dari kesatuan itu ialah: KETURUNAN ILAHI.

Kiranya oleh kelimpahan kasih karunia TUHAN kita semua secara khusus keluarga besar GPT “Betania” adalah keturunan Ilahi karena itulah yang dikehendaki dari kesatuan, dari hubungan intim kita dengan TUHAN yaitu lahirlah keturunan Ilahi, anak laki-laki.

 

Demi keturunan Ilahi, ALLAH berFirman: “Jagalah dirimu!”

Namun di dalam hal menjaga diri kita perlu menggunakan caranya TUHAN; tidak perlu berusaha menggunakan metode ini dan itu, tidak perlu menggunakan cara-cara manusia duniawi, sebab Alkitab berkata di dalam Mazmur 127:1 “… jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”

 

Soal MENJAGA DIRI DENGAN CARANYA TUHAN dapat kita pelajari dan bahas di dalam Keluaran 23:21.

Keluaan 23:20 -- Perikop: “Janji dan tegoran kepada Israel.”

(23:20) "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan.

 

TUHAN mengutus seorang malaikat berjalan di depan umat Israel, sama artinya: Gembala menuntun domba-domba.

Dampak positif apabila gembala menuntun domba-domba:

1.      Untuk melindungi umat Israel di jalan.

Dengan demikian di dalam perjalanan kita dibela oleh gembala karena banyak sandungan di tengah pengkutan kita, kemudian banyak musuh yang menghadang baik daging dan keinginannya, maupun dunia dan arusnya, termasuk iblis setan yang membuat pendurhakaan/pemberontakan kepada TUHAN, dengan praktek kenajisan percabulan dan kekejian di hadapan TUHAN.

Oleh sebab itu, kita harus menjadi domba dan menyerahkan diri untuk digembalakan maka nanti gembala yang akan menuntun domba-domba sehingga kita dilindungi di tengah perjalanan rohani kita di hadapan TUHAN.

2.      Untuk membawa umat Israel ke tempat yang telah TUHAN sediakan.

Itulah tanah air Sorgawi yang kelak menjadi milik pusaka kita, disanalah kita bahagia bersama dengan Dia untuk selama-lamanya, itulah hatinya TUHAN, tempat mempelai perempuan TUHAN, kota kudus, Yerusalem yang baru.

 

Keluaan 23:21

(23:21) Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya, janganlah engkau mendurhaka kepadanya, sebab pelanggaranmu tidak akan diampuninya, sebab nama-Ku ada di dalam dia.

 

Belajarlah mendengar suara gembala. Jangan mendurhaka kepada gembala karena akibatnya fatal yaitu dosa tidak diampuni.

Oleh sebab itu, gembala harus tulus melayani TUHAN, melayani pekerjaan TUHAN, termasuk menuntun domba-domba.

 

Intisarinya: Jagalaah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya.

JAGALAH DIRIMU, artinya: Tergembala dengan baik dan benar = Menjadi domba-domba yang tergembala dengan baik. Tandanya: Mendengar suara gembala dan jangan mendurhaka atau memberontak.

 

Lebih rinci tentang “DOMBA TERGEMBALA.”

Yohanes 10:3-4

(10:3) Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. (10:4) Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.

 

Di sini dikatakan: Penjaga membuka pintu.

Pendeknya, tugas penjaga atau gembala adalah membuka pintu bagi domba-domba, itu berarti domba-domba selalu di dalam kemurahan meskipun berada di tengah-tengah kesukaran, bahkan sekalipun ada di tengah-tengah serigala yang buas.

 

Sikap domba-domba ketika gembala atau penjaga membuka pintu:

1.      Domba-domba mendengarkan suara gembala.

2.      Domba-domba mengikuti penjaga atau gembala.

Demikianlah cara untuk menjaga diri dengan baik. Menjaga diri dengan baik berarti menjadi diri dengan caranya TUHAN yaitu menjadi domba yang tergembala.

Biarlah kiranya dengan mata terbuka kita melihat pribadi Yesus Kristus yang adalah Gembala Agung senantiasa menuntun perjalanan rohani kita dari belakang.

 

Tentang: DOMBA-DOMBA MENGIKUTI GEMBALA (Bagian 2).

 

Matius 8:18 -- Perikop: “Hal mengikut Yesus.” Berarti iman dan dengar-dengaran.

(8:18) Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang.

 

Yesus menyuruh murid-murid bertolak ke seberang. Berarti, pergi dari tempat dimana ia berada ke tempat lain, menyeberangi lautan manusia atau lautan dunia. Sebab di dalam hal mengikut Yesus bukan berarti berjalan (melewati) menurut kehendak kita sendiri, tetapi melewati daerah maut sehingga kita berada dalam suasana kebangkitan dan hidup di tempat yang lain. Daerah maut 🡪 Daging, dimana kuasa maut berkuasa.

 

Matius 8:19-20

(8:19) Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." (8:20) Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."

 

Seorang ahli Taurat berkata kepada Yesus: “Ia akan mengikuti Yesus, kemana saja Dia pergi.”

Akan tetapi TUHAN menunjukkan kesalahan dalam pengikutannya kepada TUHAN, sebab Yesus berkata: “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Artinya: Mengikut TUHAN tetapi tidak menempatkan Kristus sebagai Kepala = TUBUH TANPA KEPALA. Ini adalah pengikutan yang keliru dan banyak orang Kristen yang seperti itu.

 

Saya berdoa supaya keluarga GPT “Betania” di dalam hal mengikut TUHAN menempatkan Kristus sebagai Kepala. Jangan sampai hal-hal lain yang menjadi kepala.

 

Dampak negatif TUBUH TANPA KEPALA:

1.      Menjadi liangnya serigala.

2.      Menjadi sarangnya burung.

 

Keterangan: MENJADI LIANGNYA SERIGALA.

 

Kita akan melihat pribadi yang menjadi liangnya serigala.

Lukas 13:31-32 -- Perikop: “Yesus harus mati di Yerusalem.”

(13:31) Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: "Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau." (13:32) Jawab Yesus kepada mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.

 

Ahli Taurat dan orang Farisi berkata kepada Yesus: : "Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau." Kemudian Yesus berkata: "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala …”

Singkat kata, Herodes disebut SI SERIGALA, itu berarti Herodes adalah liangnya serigala.

Pekerjaan dari serigala adalah MEMBUNUH.

 

Matius 7:15 -- Perikop: “Hal pengajaran yang sesat.”

(7:15) "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

 

Nabi-nabi palsu disebut juga serigala berbulu domba.

Pekerjaan si serigala: Menerkam dan mencerai-beraikan domba-dombaYohanes 10:12.

 

Yang dibunuh, diterkam, dan dicerai-beraikan di sini adalah hal yang rohani itulah manusia batin bukan manusia jasmaniah.

 

Wahyu 13:11 -- Perikop: “Binatang yang keluar dari dalam bumi.”

(13:11) Dan aku melihat seekor binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama seperti anak domba dan ia berbicara seperti seekor naga.

 

Binatang yang keluar dari dalam bumi: Bertanduk dua sama seperti anak domba, tetapi mulutnya seperti seekor naga. Pendeknya, parasnya seperti anak domba, tetapi mulutnya seperti seekor naga. Jadi, antara paras dan mulut tidak sama, itu sebabnya binatang yang keluar dari dalam bumi disebut NABI-NABI PALSU.

Ada orang yang semacam ini mulutnya manis sekali tetapi penuh dengan dusta itulah nabi-nabi palsu, itulah liangnya serigala, itulah Herodes.

 

Oleh sebab itu, jangan ada kepalsuan di antara kita, baik dalam nikah juga jangan ada kepalsuan. Jika disekitar kita ada orang yang semacam ini maka berdoa saja kepada TUHAN supaya kita dikuatkan oleh TUHAN. Kiranya dengan kekuatan dari TUHAN kita menjadi kesaksian dimanapun kita berada, sehingga tidak perlu menggurui. Maka beberapa waktu lalu saya sampaikan bahwa “guru tetaplah guru” dan kesaksiannya pasti diterima.

 

1 Timotius 4:1-3

(4:1) Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan (4:2) oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. (4:3) Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan ALLAH supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.

 

Di hari-hari terakhir ada orang akan murtad/mundur dari salib, lalu mereka mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan, sumbernya adalah NABI-NABI PALSU.

 

Nabi-nabi palsu:

1.      Melarang orang kawin.

Sebenarnya muara dari ibadah-ibadah di atas muka bumi ini bukan soal berkat keberkatan, bukan soal berhasil keberhasilan, tetapi PESTA KAWIN ANAK DOMBAWahyu 19:6-9. Namun, hal ini dilarang oleh nabi-nabi palsu, maka jelas ajaran mereka itu palsu.

2.      Melarang orang makan makanan yang diciptakan ALLAH.

Perlu untuk diketahui: Makanan pokok Yesus ada dua, sebagaimana yang tertulis di dalam Yohanes 4:34 yaitu:

1)      Melakukan kehendak ALLAH Bapa.

2)      Menyelesaikan pekerjaan ALLAH Bapa.

Namun hal ini juga dilarang oleh nabi-nabi palsu, sebab hati nuraninya memakai cap mereka = Melayani tanpa urapan Roh Kudus = Melayani karena kepentingan-kepentingan daging.

 

Imam-imam harus melayani dengan cap dari Sorga, melayani dengan meterai Roh Kudus, dan hamba-hamba TUHAN atau imam-imam harus menghargai karunia-karunia Roh kudus yang TUHAN percaya kepadanya. Namun tidak hanya seorang imam, jemaat juga ketika datang menghadap TUHAN lewat ketekunan tiga macam ibadah pokok biarlah juga memiliki cap atau meterai dari Roh Kudus yang suci itu sendiri, sehingga ketika memuji TUHAN didorong oleh Roh ALLAH itu sendiri, sampai duduk mendengarkan Firman TUHAN didorong oleh Roh ALLAH itu sendiri sehingga tidak ada tindakan atau perbuatan yang didorong oleh daging.

Apabila ada perbuatan yang didorong oleh daging itu bisa merusak konsentrasi saat mendengarkan Firman TUHAN, memutuskan hubungan dengan TUHAN, membatalkan berkat dan perjanjian dari TUHAN. Jadi, daging itu membatalkan perjanjian, perjanjian TUHAN dengan Abraham adalah sunat berarti memutuskan ikatan daging.

 

2 Petrus 2:1-3

(2:1) Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat ALLAH, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. (2:2) Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. (2:3) Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.

 

Nabi-nabi palsu di tengah-tengah pelayanan: Mereka menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka = Menyangkal salib.

Jika salib yang disangkali maka daging yang timbul di tengah-tengah ibadah dan pelayanan itu kepada TUHAN, sehingga satu dengan yang lain tidak ada kasih mesra. Oleh sebab itu, hati-hati dalam pelayanan kepada TUHAN tetaplah memikul salib supaya daging yang disangkali.

 

Kemudian, nabi-nabi palsu melayani karena hawa nafsu daging, berarti bukan dalam urapan Roh Kudus.

Jika melayani karena hawa nafsu terkadang memang nampak indah namun itu adalah hawa nafsu, sehingga ujungnya kacau balau.

Tandanya: Nabi-nabi palsu mencari untung dari jemaat dengan ceritera-ceritera isapan jempol, dengan dongeng nenek tua, dengan takhayul-takhayul, dengan filsafat-filsafat kosong bahkan bisa juga ditambah dengan guyon-guyon. Jadi, begitu fasih nabi-nabi menyenangkan telinga dari jemaat/audiens yang mendengarkan paparan Firman ALLAH.

 

Inilah keadaan dari nabi-nabi palsu di tengah ibadah pelayanan mereka:

-          Melayani tetapi menyangkali salib Kristus = Tidak menempatkan Kristus sebagai Kepala.

-          Melayani karena nafsu daging bukan karena urapan Roh Kudus. Tandanya: Mencari untung dari sidang jemaat lewat ceritera-ceritera isapan jempol.

Singkat kata, nabi-nabi palsu adalah orang yang SERAKAH = Tamak = Cinta akan uang. Ayat referensi: 1 Timotius 6:10; akar segala kejahatan adalah cinta akan uang.

Oleh sebab itu, jangan kita cinta akan uang sebab orang yang cinta akan uang berani mencuri milik TUHAN yaitu: perpuluhan dan mencuri milik sesama.

 

1 Timotius 6:3-4 -- Perikop: “Mengenai penyakit bersilat kata dan mengenai cinta uang.”

(6:3) Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat -- yakni perkataan TUHAN kita Yesus Kristus -- dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, (6:4) ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,

 

Nabi-nabi palsu menolak ajaran sehat sehingga ibadah pelayanan mereka tidak sesuai dengan ibadah pelayanan yang berpola Kerajaan Sorga. Akibatnya: Berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa.

 

Saya ini hamba TUHAN bukan karena bergelar tinggi tetapi selama saya mengikuti pendidikan atau sekolah Alkitab di Makasar kami diajar dengan satu ibadah yang sesuai dengan pola Tabernakel dan kami belajar mengikuti ibadah yang sesuai dengan pola Tabernakel selama kami mengikuti pendidikan di Makasar. Sehingga dengan pola ini saya mengerti ibadah ini sehat atau tidak dan kita juga pada akhirnya mengerti ibadah yang kita jalankan ini sehat dan bekenan kepada TUHAN atau tidak, karena ibadah dan pelayanan kita diukur oleh pola Tabernakel dan bukan lagi diukur oleh pengetahuan dan logika manusia.

Ini adalah suatu keuntungan besar bagi keluarga ALLAH GPT “Betania” atau bagi umat TUHAN yang menjalankan ibadah dan pelayanannya menurut pola Tabernakel.

 

Sistem pelayanan nabi-nabi palsu ini menerkam dan mencerai-beraikan bukan mempersatukan gereja TUHAN, tetapi jika ibadah dan pelayanan menggunakan ajaran sehat, menggunakan pola Tabernakel maka pasti kita dibawa kepada suatu kedudukan di hadapan TUHAN atau kita dibawa masuk ke dalam pembangunan tubuh Kristus yang sempurna, menjadi sidang mempelai TUHAN, milik kepunyaan ALLAH sendiri. Itu sebabnya dengan tegas Yesus berkata kepada orang Farisi: "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala …”

Malam ini kita harus memiliki sikap yang tegas seperti teladan TUHAN kepada kita di dalam Lukas 13:31-32.

 

Oleh sebab itu, menjaga diri ini harus menggunakan caranya TUHAN berarti kita mau tidak mau harus menjadi kehidupan domba yang tergembala untuk selanjutnya mendengar gembala dan mengikuti gembala. Jika hanya sekedar beribadah namun hidup ini tidak diserahkan kepada TUHAN untuk menjadi kawanan domba ALLAH maka tidak ada artinya, sehingga sesuka hati ibadah, akhirnya tidak mendapat perlindungan dan tidak sampai kepada Kerajaan Sorga.

Mulai sekarang kita harus belajar dari Firman ALLAH yang kita terima supaya jangan menjadi liangnya serigala, jangan dikuasai nabi-nabi palsu.

 

Penyakit orang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa:

-          Mencari-cari soal.

Apa saja dicari-cari menjadi suatu bahan makalah dan didiskusikan.

-          Bersilat kata.

Nabi-nabi palsu pandai bersilat kata untuk memikat hati jemaat sekaligus mendapat keuntungan dari jemaat.

Malam ini apakah model pemberitaan semacam itu? Saya kira tidak, karena pemberitaan Firman malam ini bukan untuk memikat hati saudara, tetapi untuk memikat manusia batiniah menjadi miliknya TUHAN.

 

2 Timotius 2:14 -- Perikop: “Nasihat dalam menghadapi pengajar yang sesat.”

(2:14) Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan ALLAH, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya.

 

Dampak bersilat kata di tengah ibadah pelayanan: Mengacaukan orang yang mendengar, berarti jemaat menjadi kacau balau. Kacau balau berarti fluktuasi, tidak tenang baik dalam hidup maupun dalam beribadah dan melayani.

 

Namun ada orang yang semacam ini beribadah, kacau namun beribadah, akhirnya saya berkata kepada beliau “orang buta menuntun orang buta jatuh ke dalam lobang yang sama.” Jika lobang itu dipertahankan maka ujungnya akan berada pada lobang jurang maut (Wahyu 9:2).

Kita harus memperhatikan ini dengan sungguh-sungguh.

Saya yakin dan dengan pasti saya sampaikan malam ini bahwa TUHAN tidak akan membiarkan ibadah pelayanan ini kacau balau karena berita yang saya sampaikan menurut pola Kerajaan Sorga.

 

2 Timotius 2:15-16

(2:15) Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan ALLAH sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. (2:16) Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.

 

Seorang gembalas sidang atau hamba TUHAN harus LAYAK di hadapan TUHAN, masudnya:

-          Seorang pekerjaan yang tidak usah malu. Berarti, tidak malu merendahkan diri di hadapan TUHAN, tidak malu memikul salib.

Saat ini kondisi gereja kita masih bongkar pasang dan saya tidak malu ikut bongkar pasang sound system beserta kabel-kabel, maka kita juga tidak perlu malu merendahkan diri di hadapan TUHAN.

-          Berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itulah berita salib Kristus.

Jangan menyampaikan salib hanya bagian bungkusnya saja tetapi isinya bukan salib penuh dengan dongeng-dongeng nenek tua, takhayul-takhayul, filsafat-filsafat kosong.

 

2 Timotius 2:17-18

(2:17) Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, (2:18) yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang. (2:19) Tetapi dasar yang diletakkan ALLAH itu teguh dan meterainya ialah: "TUHAN mengenal siapa kepunyaan-Nya" dan "Setiap orang yang menyebut nama TUHAN hendaklah meninggalkan kejahatan."

 

Nabi-nabi palsu seperti Himeneus dan Filetus mengajarkan kebangkitan tanpa pengalaman kematian = Merusak iman jemaat. Oleh sebab itu, dalam setiap pertemuan ibadah kita diajar untuk menyangkal dan memikul salib, itulah hal mengikut TUHAN. Maka, jangan melarikan diri untuk meninggalkan salib sebab dapat menyebabkan iman saudara rusak.

Inilah yang terus saya himbau supaya saudara semakin kuat di dalam TUHAN, tidak cengeng, tidak ngomel, tidak bersungut-sungut.

 

Mengajarkan kebangkitan tanpa kematian, ajaran seperti ini akan menjalar seperti penyakit KANKER, berarti seluruh sel-sel dalam tubuh dirusak.

Saya bersyukur TUHAN Yesus menguatkan hati saya, TUHAN Yesus juga menyelamatkan seluruh sidang jemaat GPT “Betania” Serang & Cilegon sehingga kita menjadi sel-sel pada tubuh Kristus, menjadi sidang mempelai TUHAN, gereja TUHAN yang sempurna, tubuh Kristus yang sempurna.

Semestinya ketulusan hati semacam ini kita hargai dan kita hormati, maka kita harus tahu dimana kita meletakkan penghormatan.

 

1 Timotius 6:4

(6:4) ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,

 

Mengajarkan kebangkitan tanpa kematian menyebabkan seluruh sel-sel dalam tubuh dirusak, tanda dirusak: Ada roh dengki, roh cidera, roh fitnah, roh curiga.

-          Seharusnya satu dengan lain saling mengasihi bukan saling mendengki.

-          Seharusnya satu dengan lain bukan saling menciderai / menyakiti tetapi saling mengobati.

-          Seharusnya satu dengan lain saling menutupi kesalahan bukan membeberkan kesalahan tanpa sebab.

-          Seharusnya satu dengan lain saling mempercayai bukan saling mencurigai.

 

Herodes yang disebut serigala membunuh karakter yaitu dengki, cidera, fitnah, curiga, timbul dalam diri orang lain.

Kemudian, nabi-nabi palsu menerkam dan mencerai-beraikan kawanan domba, sehingga tidak ada kesatuan satu sama lain.

 

JALAN KELUAR.

1 Timotius 4:6-7

(4:6) Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini. (4:7) Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

 

Inilah nasihat Rasul Paulus sebagai bapa rohani kepada Timotius sebagai anak rohaninya, antaralain:

1.      Terdidik soal-soal pokok iman.

2.      Terdidik dalam ajaran sehat.

 

Tentang: SOAL-SOAL POKOK IMAN.

Soal-soal pokok iman disebut juga asas-asas pertama tentang ajaran Kristus.

 

Ibrani 6:1-2

(6:1) Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada ALLAH, (6:2) yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal.

 

Soal-soal pokok iman atau asas-asas pertama dalam ajaran tentang Kristus yaitu; percaya, bertobat, dibaptis air, dan penuh dengan Roh Kudus. Kemudian, di tengah-tengahnya terjadi mujizat, perbuatan ajaib, pengusiran setan dan seterusnya.

 

Namun dikatakan disini beralihlah kepada perkembangan yang penuh, itulah ajaran Sehat (1 Timotius 4:6).

Ajaran sehat jika dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena kepada Bait Suci ALLAH, dimulai dari RUANGAN SUCI sampai RUANGAN MAHA SUCI.





Sementara asas-asas pertama tentang ajaran Kristus jika dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena kepada daerah HALAMAN.

 

Pada RUANGAN SUCI terdapat 3 macam alat 🡪 Ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok.

1.      Meja Roti Sajian 🡪 Ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci, berbicara soal IMAN.

2.      Pelita Emas 🡪 Ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian, berbicara soal PENGHARAPAN.

3.      Mezbah Dupa 🡪 Ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan, berbicara soal KASIH.

Ketekunan 3 macam ibadah pokok adalah dasar/awal untuk mencapai kesempurnaan = Ketekunan 3 macam ibadah pokok adalah dasar kita untuk berada tingkat ibadah yang tertinggi itulah doa penyembahan.



Jika ibadah itu sehat maka pasti ibadah itu menggunakan pola Tabernakel, tetapi nabi-nabi palsu mengadakan ibadah yang tidak sesuai dengan pola Tabernakel (1 Timotius 6:3).

 

Dari sini kita dapat melihat bahwa seorang hamba TUHAN dipakai TUHAN bukan karena gelarnya tinggi tetapi dilihat dari penyerahan dirinya; melayani TUHAN dengan penyerahan diri sepenuh, tahbisan sepenuh, pendamaian sepenuh dan semuanya dikerjakan dengan ketulusan hati. Jika demikian ibadah tersebut kandungannya adalah ajaran sehat yaitu tekun dalam 3 macam ibadah pokok, kemudian itu adalah dasar kita sampai kepada puncak ibadah itulah doa penyembahan.

Jika kedudukan kita sudah sampai kepada tingkat ibadah tertinggi itulah doa penyembahan maka ini sarana yang efektif masuk dalam perobekan daging. Tanpa penyembahan maka tidak mungkin masuk dalam perobekan daging sebab kedudukan dari Mezbah Dupa sangat dekat dengan Tabir Bait Suci, inilah jalan untuk masuk ke dalam Ruangan Maha Suci.

Ruangan Maha Suci 🡪 Gereja yang sempurna, tandanya: Di dalamnya terdapat Tabut Perjanjian.

Tabut Perjanjian adalah gambaran dari sidang mempelai TUHAN, gereja TUHAN yang sempurna, itulah takhta ALLAH.

 

Jadi, ibadah yang berpola itulah ajaran sehat, disebut juga perkembangan yang penuh, karena sejatinya Kristus adalah Kepala (Efesus 1:22).

Sementara dalam Efesus 1:23, jemaat adalah tubuh-Nya, kepenuhan Kristus. Maka, kita bukan hanya diberkati tetapi harus menjadi kepenuhan Kristus, berarti menjadi Sidang Mempelai TUHAN = kepenuhan Kristus.

 

Oleh sebab itu, lewatilah 3 pintu dalam Tabernakel:

1.      Terima Yesus = Percaya, terkena kepada Pintu Gerbang.

Selanjutnya, bertobat terkena kepada Mezbah Korban Bakaran dan dibaptis air terkena kepada Kolam Pembasuhan.

2.      Kepenuhan Roh Kudus, terkena kepada Pintu Kemah.

Selanjutnya berada di dalam Ruangan Suci.

3.      Perobekan daging, terkena kepada Pintu Tirai.

Bertahanlah untuk melewati 3 pintu ini.

Jika tidak bisa melewati 3 pintu ini berarti berada di luar Tabernakel = Di luar takhta ALLAH.

 

Inilah jalan keluarnya, seperti Timotius terdidik dalam soal-soal pokok iman istilah lain terdidik soal asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus, terkena kepada Halaman.

Kemudian, terdidik dalam ajaran sehat disebutlah perkembangan yang penuh 🡪 Gereja TUHAN yang sempurna, sesuai dengan Efesus 1:22-23.

 

Inilah ajaran sehat yang diajarkan kepada kita dan inilah pengikutan kita kepada TUHAN.

Jangan kita seperti ahli Taurat dan orang Farisi berkata: “Aku akan mengikuti Yesus, kemana saja Engkau pergi.”  Namun, TUHAN mengenal ahli Taurat dan orang Farisi, itu sebabnya Yesus berkata: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Kalau kita mengikut TUHAN tetapi tidak menempatkan Kristus sebagai Kepala maka menjadi liangnya serigala dan sarangnya burung.

 

Malam ini kita sudah melihat liangnya serigala itulah Herodes dan nabi-nabi palsu, namun TUHAN sudah memberikan jalan keluar seperti yang disampaikan Rasul Paulus kepada anak rohaninya itulah Timotius, yaitu soal pokok iman dan ajaran sehat.

Ajaran sehat membawa kita sampai kepada kepenuhan Kristus, berarti menjadi sidang mempelai TUHAN. Namun, jangan kita menerima ajaran-ajaran yang menyesatkan dari nabi-nabi palsu karena ajaran itu seperti PENYAKIT KANKER; berbicara soal kebangkitan namun tanpa kematian, itu merusak iman. Amin.

 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang