IBADAH RAYA MINGGU, 25 OKTOBER 2026
KITAB WAHYU
WAHYU 20:4
(SERI: 4)
Subtema: JIWA-JIWA YANG DIPENGGAL KEPALANYA
Shalom
Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, yang oleh karena kemurahan hati Tuhan, kita sekaliannya dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, sehingga kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh.
Biarlah kiranya kita semua didominasi Roh Allah dan Tuhan bertahta di hidup kita sehingga ada damai sejahtera, sukacita, bahagia saat kita duduk diam mendengarkan sabda Allah.
Saya juga tidak lupa menyapa Bapak/Ibu saudara terkasih, yang mengikuti secara online atau live streaming, video internet, baik dari Youtube, Facebook atau tiktok.
Selanjutnya, marilah kita mengikuti KITAB WAHYU sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu dan kita masih berada pada Wahyu 20.
Namun tetaplah berdoa dalam Roh, mohonlah kemurahan dari pada TUHAN, supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Wahyu 20:4B
(20:4) Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena Firman ALLAH; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun.
Rasul Yohanes melihat: “… jiwa-jiwa yang telah dipenggal kepalanya …” atau dipancung, istilah lain; leher mereka digorok oleh pedang antikris, karena 2 (dua) hal, antara lain:
Karena kesaksian tentang Yesus -> Pelita Emas.
Karena mempertahankan Firman Allah -> Meja Roti Saji.
Gambar: Ruangan Suci

Tetapi kita tidak menemukan satu alat lagi yaitu soal Mezbah Dupa pada ayat 20. Inilah yang menjadi persoalan besar bagi gereja Tuhan, sehingga kepala/leher menjadi taruhan.
Oleh sebab itu, marilah kita mengikuti pemberitaan Firman Allah dengan rangkaian-rangkaian ayat yang akan kita bahas bersama-sama, supaya kita beroleh keselamatan didalam rencana Allah yang besar.
Kita terlebih dahulu membaca…
Wahyu 12:15-16 --- Perikop: "Naga memburu perempuan itu."
(12:15) Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu. (12:16) Tetapi bumi datang menolong perempuan itu. Ia membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga itu dari mulutnya. (12:17) Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.
Singkat kata; “… maka marahlah naga itu kepada perempuan itu …” sebab “… bumi datang menolong perempuan itu …”
Dengan demikian, bumi tampil sebagai pembela/pahlawan yang hebat/yang heran.
Jadi, rencana dari iblis/setan adalah untuk menghanyutkan gereja Tuhan (perempuan itu).
Tadi sebelum kita baca Kejadian 2:6, di Wahyu 12:16 dikatakan; bumi datang menolong perempuan itu, maka kita akan melihat pengertian rohani dari bumi dalam Kitab Kejadian, tinggal mengurangi angka satu di depan, supaya nanti kita bisa melihat kesamaannya.
Mari kita lihat: PENGERTIAN ROHANI DARI BUMI.
Kejadian 2:6
(2:6) tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu --
"… Ada kabut naik ke atas dari bumi …" -> Doa Penyembahan, bagaikan asap kemenyan yang naik ke hadirat Allah, persamaannya ada dalam … Wahyu 8:4 -- Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.
Jadi pengertian “bumi” disini adalah “doa penyembahan.”
Dari sini kita bisa melihat; yang menolong perempuan (gereja Tuhan) yang sempurna (sidang Mempelai Wanita Tuhan) adalah jelas: DOA PENYEMBAHAN.
Itu sebabnya saya katakan tadi, jangan kita anggap sepele dengan kurangnya satu alat yang kita baca dalam Wahyu 20:4B … mereka orang-orang yang mati martir memang sudah memiliki kesaksian Yesus (penuh dengan Roh Kudus), itulah PELITA EMAS, mereka sudah memiliki Firman Allah itulah MEJA ROTI SAJIAN, tetapi mereka kekurangan satu alat yaitu MEZBAH DUPA.
Ini tidak boleh dianggap sepele, ini adalah perkara yang besar, karena leher bisa jadi taruhannya.
Kejadian 2:2-3
(2:2) Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. (2:3) Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.
Berbicara tentang hari ketujuh, itu berbicara hari perhentian. Jadi sesudah Tuhan menyelesaikan langit bumi selama 6 (enam) hari, maka pada hari ketujuh Tuhan berhenti.
Jadi hari ketujuh adalah hari perhentian -> Ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok, seperti malam ini, kita masuk pada hari perhentian, yaitu; Ibadah Raya Minggu; berarti; berhenti dari aktivitas dunia.
Singkat kata, puncak ibadah adalah; doa penyembahan. Sedangkan tiga macam ibadah pokok itulah hari ketujuh/hari perhentian sebagai sarana yang Tuhan berikan, supaya kita berada pada puncak ibadah yaitu; DOA PENYEMBAHAN.
Jadi ayat 2 dan ayat 3 ini berbicara soal ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok, puncaknya itulah doa penyembahan, nampak pada ayat 6.
Simulasi terkait tiga macam ibadah pokok TUHAN sudah tunjukkan, dengan demikian Tuhan sudah memberitahukan rencana-rencana yang indah kepada manusia, sebelum Adam dan Hawa ditempatkan di taman Eden, sebelum Adam dan Hawa mengerti untuk mengusahakan dan mengerjakan ibadah pelayanan itu.

Sementara…
Kejadian 2:4-5
(2:4) Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, -- (2:5) belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu;
Tetapi luar biasanya Tuhan sudah memberikan simulasi kepada kita malam ini terkait ketekunan tiga macam ibadah pokok dan itu adalah harga mati, sebab ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok merupakan sarana mutlak untuk membawa gereja Tuhan sampai kepada puncak ibadah itulah doa penyembahan, supaya nanti dari bumi asap naik, orang-orang yang tinggal di bumi ada dalam puncak ibadah itulah doa penyembahan.
Itulah satu-satunya cara untuk menolong dan melepaskan kita dari air yang banyak yang disemburkan dari mulut naga, tujuannya untuk menghanyutkan gereja atau perempuan itu.
Kalau Tuhan memperlihatkan semua rencana ini secara terang benderang, maka kita patutlah bersyukur dan berterima kasih. Jadi untuk apa lagi kita mencari pola-pola yang lain? Ada apa dengan kita sebetulnya.
Begitu jelasnya pengertian ini, supaya Tuhan membawa kita dalam rencana Allah yang besar sehingga kita diselamatkan.
Sementara rencana dari naga ialah; berusaha untuk menghanyutkan gereja Tuhan yang sempurna dengan air sebesar sungai yang disemburkan dari mulut naga.
Sebagaimana yang tertulis Wahyu 12:15 -- Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu.
Sebenarnya hal ini, jauh sebelumnya telah dinubuatkan oleh nabi Yeremia.
Yeremia 47:2
(47:2) "Beginilah firman TUHAN: Lihat, air yang meluas mengamuk dari utara menjadi sungai yang membanjir, membanjiri negeri serta isinya, kota serta penduduknya. Manusia akan berteriak, dan seluruh penduduk negeri akan meratap,
“… Air yang meluas/air yang banyak mengamuk dari utara …”
Berarti air yang banyak ini datangnya dari Setan. Sebab, utara adalah gambaran dari pada takhta iblis/setan, sebagaimana yang tertulis dalam … Yesaya 14:13 -- Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara.
Jadi air yang banyak (banjir) air yang meluas mengamuk. Amukannya sudah kita lihat didalam Wahyu 12:15, ternyata air yang banyak itu datangnya dari sebelah utara/dari setan.
Kemudian, air yang banyak ini;
Membanjiri negeri serta isinya. Ini tidak bisa tidak terjadi, berarti harus terjadi.
Membanjiri kota serta penduduknya.
Istilah kota disini, berbicara soal ibadah dan pelayanan, dan itu akan dibanjiri oleh air yang banyak yang datang dari sebelah utara, dan ini tidak bisa dipungkiri, sudah nampak dengan jelas.
Air yang banyak, yang mengamuk dari sebelah utara sudah masuk di dalam rumah-rumah Tuhan. Saya tidak menunjuk rumah Tuhan yang mana, tetapi saya melihat sudah masuk dalam rumah Tuhan, dan penduduk-penduduk kota itu atau orang-orang yang beribadah di tengah-tengah ibadah itu, tidak sadar.
Tetapi oleh karena kemurahan hati Tuhan, keluarga besar GPT "Betania" mendapat perhatian yang besar dari Tuhan, kita bisa mengerti tentang gelagat dari air yang banyak ini akan mengamuk dari sebelah utara, karena Tuhan yang memberi pengertian ini kepada kita semua.
Hati-hati, karena ini yang akan membinasakan gereja. Oleh sebab itu, jangan sampai satu alat ini yaitu; Mezbah Dupa kurang dalam kehidupan kita.
Akibat air yang banyak mengamuk/banjir yang hebat:
“Manusia akan berteriak”. Ini adalah suatu sinyal/tanda bahwa manusia menanggung penderitaan yang hebat oleh karena banjir itu.
Jadi saudara, sungguh-sungguhlah perhatikan rencana Tuhan ini, karena ini akan terjadi.
“Seluruh penduduk negeri akan meratap”. Berarti, berkabung disertai dengan tangisan yang hebat.
Saudara, bilamana hal ini nanti akan terjadi, maka siap sedialah, berjaga-jagalah mulai dari sekarang ini, berjaga-jagalah mulai dari detik malam ini, jangan anggap enteng lagi.
Yeremia 47:3
(47:3) mendengar bunyi derap kuku kudanya, mendengar derak-derik keretanya, kertak-kertuk rodanya. Para ayah tidak lagi berpaling menoleh kepada anak-anak, sebab tangan mereka sudah lemas,
Jadi jelas dikatakan disini, seorang ayah pun tidak akan sanggup menolong anaknya dari air yang banyak, dari banjir yang menghanyutkan anaknya itu.
Coba saudara bayangkan … kalau leher ini digorok/dipancung oleh pedang antikris. Saya sendiri saja tidak sanggup menghadapi kenyataan semacam ini.
Sekarang begini … sanggup tidak kita melihat satu saja dari antara keluarga kita lehernya digorok? Siapa yang sanggup melihatnya? Adakah orangtua yang sanggup melihat anaknya digorok? Adakah seorang suami tahan melihat isterinya digorok? Atau sebaliknya, adakah seorang isteri sanggup melihat suaminya digorok? Adakah seorang adek yang sanggup melihat kakaknya digorok? Atau adakah seorang kakak yang sanggup melihat adeknya digorok? Tidak ada yang sanggup.
Sebab Alkitab berkata: seorang ayahpun tidak sanggup menolong anaknya dengan kekuatan, kemampuan, kelebihan yang ada dalam dirinya, karena tangannya sudah lemas, tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Jadi ingat dan camkanlah, air yang banyak/banjir jahanam satu kali akan mengamuk yang datangnya dari sebelah utara, dan amukan itu sudah nampak di … Wahyu 12:16-17.
Mari kita melihat: BENTUK AIR YANG BANYAK/BANJIR YANG MENGHANYUTKAN ITU…
Wahyu 17:1-2 --- Perikop: "Penghakiman atas Babel."
(17:1) Lalu datanglah seorang dari ketujuh malaikat, yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku: "Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya. (17:2) Dengan dia raja-raja di bumi telah berbuat cabul, dan penghuni-penghuni bumi telah mabuk oleh anggur percabulannya."
Air yang banyak diduduki oleh perempuan Babel, yang disebut juga “pelacur besar”.
Jadi perempuan Babel bukan pelacur biasa, tetapi ini pelacur besar. Berarti; kalau diumpamakan dalam kehidupan sehari-hari, dia adalah seorang perempuan yang mempunyai daya pikat, atau mempunyai suatu pesona yang sanggup mempengaruhi kehidupan manusia, khususnya laki-laki hidung belang.
Pendeknya, banjir/air yang banyak berbicara soal kenajisan percabulan, karena air yang banyak diduduki oleh perempuan Babel.
Kemudian, raja-raja di bumi dan penghuni-penghuni di bumi mabuk oleh anggur percabulan perempuan Babel = dihanyutkan oleh air yang banyak.
Sekarang kita mungkin bertanya-tanya; tentang; apa sih air yang banyak (kenajisan percabulan)?
Saya akan tunjukkan: PRAKTEK AIR YANG BANYAK/BANJIR YANG BANYAK (kenajisan percabulan) ada dalam…
Wahyu 18:3
(18:3) karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya."
Disini kita bisa melihat; “… semua bangsa, raja-raja di bumi, dan pedagang-pedagang di bumi …” mabuk anggur dari perempuan Babel = hidup dalam kenajisan percabulan.
Artinya: telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsu perempuan Babel.
Contohnya:
Kaya dan berhasil tetapi meninggalkan jam-jam ibadah.
Kaya dan berhasil tetapi dengan cara korupsi/tidak halal.
Kaya dan berhasil tetapi tidak sesuai dengan Firman Allah.
Itu namanya telah dikuasai oleh kenajisan percabulan, telah dihanyutkan oleh air yang banyak.
Saudara tidak salah untuk menjadi orang yang berhasil di bumi ini, tidak salah juga menjadi orang yang kaya, kita semua juga ingin berhasil, tetapi jangan karena kelimpahan hawa nafsu perempuan Babel.
Inilah yang disebut orang yang dihanyutkan oleh air yang banyak, ini yang disebut mabuk anggur dari perempuan Babel, hidup dalam kenajisan percabulan secara rohani. Sekalipun seorang suami dan seorang isteri tidak selingkuh. Tetapi kalau dia inginkan kekayaan tetapi dengan cara meninggalkan jam-jam ibadah itu adalah kenajisan percabulan secara rohani dihadapan Tuhan, itu menunjukkan bahwa dia sedang dihanyutkan oleh air yang banyak yang disemburkan dari mulut naga.
Lebih rinci soal: KENAJISAN PERCABULAN
Matius 4:3-8 --- Perikop: "Pencobaan di padang gurun."
(4:3) Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." (4:4) Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (4:5) Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, (4:6) lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." (4:7) Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (4:8) Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
Semua perkataan ular/iblis setan pada ayat 3-8 adalah gambaran dari air yang banyak/banjir yang disemburkan dari mulutnya.
Tujuannya adalah: untuk menghanyutkan Yesus dan penduduk bumi.
Contoh: ketika seorang pemuda dan pemudi sedang dimabuk cinta, kalau laki-laki itu adalah laki-laki pendusta, tidak benar, tidak jujur atau hidung belang, maka dia akan mengucapkan kata-kata yang membuat akhirnya perempuan itu terbuai/terhanyut.
Itulah yang sedang diterapkan oleh ular/naga disebut juga iblis/setan kepada Yesus, dia berusaha untuk menghanyutkan pribadi Yesus, juga berusaha menghanyutkan gereja Tuhan di hari-hari terakhir ini, dengan air yang banyak yang keluar dari mulutnya itu.
Akhirnya oleh karena kata-kata buaian, seorang perempuan yang bodoh tidak bijaksana, tidak memiliki hikmat dari pembukaan rahasia Firman Tuhan, akan terbuai (hanyut) dengan kata-kata yang sifatnya membuai.
Tetapi Yesus bukanlah seorang lelaki hidung belang, Yesus adalah Mempelai Laki-laki Sorga; tulus, murni, jujur, setia di dalam hal mencintai saya dan saudara. Walaupun perkataan-perkataan yang tulus dan murni ini sepertinya menemplak, tidak apa-apa, itu adalah bukti dari satu kemurnian, karena Yesus bukan pembual seperti ular tadi.
Tanda apabila seseorang dihanyutkan oleh air yang banyak/kenajisan percabulan:
“Hidup menurut daging”.
Sebab, iblis berkata kepada Tuhan, di ayat 3: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." Roti itu terhubung dengan daging/perut. Kalau soal makan dan minum itu urusannya daging.
Kalau anak-anak Tuhan hidup dalam keinginan daging itu tanda/sinyal bahwasanya ia sudah dihanyutkan oleh air yang banyak
Sesungguhnya, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." … (Matius 4:4).
“Dalam keangkuhan hidup”/ sombong / tinggi hati.
Sebab, iblis berkata di ayat 6: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah.”
Berada di tempat yang tinggi/menara gereja (bubungan Bait Allah) artinya;
tekun dalam tiga macam ibadah pokok,
kemudian imam-imam mengambil bagian dalam pelayanan di tengah-tengah ibadah itu. Gereja Tuhan senantiasa memikirkan perkara di atas/perkara rohani itulah tempat tinggi (bubungan Bait Allah).
Tetapi kalau akhirnya dia menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi, jatuh ke bawah hanya memikirkan perkara di bawah/perkara lahiriah di bumi, itu namanya keangkuhan hidup di hadapan Tuhan. Angkuh berarti merasa diri hebat tanpa Tuhan. Kenapa dia angkuh? Karena dia terhanyut dengan air yang banyak, yang disemburkan dari mulut naga.
Seharusnya kita tetap berada di tempat yang tinggi yaitu; senantiasa memikirkan perkara rohani/perkara di atas itulah ibadah pelayanan dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya.
Jadi hati-hati, ikutilah rencana Tuhan ini, perhatikanlah baik-baik, karena ini sangat relevan sekali dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini, saudara bisa saksikan sendiri. Percaya saja dengan ayat Firman yang sudah kita baca ini.
Orang benar hidup karena iman. Iman itu percaya meskipun tidak melihat.
“Hidup menuruti keinginan mata”.
Sebab, alasannya pada ayat 8; iblis membawa Yesus ke gunung yang sangat tinggi dan dari gunung yang tinggi itu iblis memperlihatkan kepada Yesus semua kerajaan dunia dengan kemegahannya.
Kalau mata ini akhirnya diarahkan hanya kepada kerajaan dunia dan keindahan-keindahan yang telah diperlihatkan tadi, itu namanya keinginan mata. Kalau seseorang matanya hanya tertuju pada keindahan dunia, itu namanya sudah dihanyutkan oleh air yang banyak.
Seharusnya mata ini senantiasa ditujukan kepada Kerajaan Sorga , sentralnya adalah salib di Golgota. Tetapi perempuan yang bodoh telah dihanyutkan oleh air yang banyak, dikuasai oleh kenajisan percabulan yang disemburkan dari mulut naga, sehingga dia hidup menurut keinginan mata.
Jangan salah mengerti dengan ucapan saya, saya ini suka apabila sidang jemaat berhasil; menjadi menteri, menjadi dokter, menjadi pejabat tinggi, tetapi kita harus arahkan pandangan kepada perkara di atas/perkara di Sorga, sentralnya adalah SALIB. Kalau Tuhan yang membawa kita kesana, puji Tuhan, tetapi kalau seseorang hidup menurut keinginan mata, maka ia terpikat dengan kerajaan dunia, dengan keinginan-keinginannya, keindahannya, maka kehidupan semacam ini, akan mengabaikan jam-jam ibadah atau tinggalkan perkara rohani. Kenapa ada keinginan mata? Karena dia sudah dihanyutkan oleh air yang banyak/banjir jahanam.
Kita telah melihat rencana Allah yang besar dan heran, serta rencana dari naga yang disebut juga iblis/setan.
Adapun RENCANA ALLAH YANG BESAR ialah: Tuhan menyediakan hari ketujuh disebut hari perhentian -> Ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok.
Inilah yang dijadikan oleh Tuhan sebagai sarana untuk mencapai kepada puncak ibadah yaitu; doa penyembahan. Jadi ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok adalah inventaris dari Tuhan, maka kita rawat dengan baik.
Kaum muda remaja rawat baik-baik ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok, itu adalah inventaris dari sorga, jangan diabaikan untuk mencapai puncak ibadah, itulah doa penyembahan.
Penuh Firman Allah sudah bagus, kemudian kita ada dalam kegiatan roh = penuh Roh Kudus, sudah bagus, tetapi antusias kita beribadah tidak boleh berhenti sampai disitu, kita harus menggunakan inventaris dari Sorga itulah ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok, untuk membawa kita sampai kepada puncak ibadah itulah doa penyembahan.
Dahulu kita tidak mengerti apa-apa, kita ini hanya orang kristen turunan seperti saya ini, tetapi sekarang Tuhan sudah berikan pengertian kepada kita, maka jangan kita abaikan.
Sedangkan, RENCANA ULAR/NAGA disebut juga iblis/setan adalah ingin menghanyutkan gereja Tuhan, anak-anak Tuhan, dengan air yang banyak sebesar sungai yang disemburkan dari mulut naga
Intinya, iblis/setan berusaha menggagalkan rencana Allah yang besar.
Yang pasti: rencana ALLAH TIDAK AKAN PERNAH GAGAL, rencana Allah pasti akan BERHASIL.
Seperti lagu… Psallo 77: Allah pasti berhasil
Allah pasti berhasil! Allah pasti berhasil!
Mempersatukan orang-orang suci berperangai ilahi!
Allah pasti berhasil! membentuk mempelaiNya!
Oleh sbab karya pengurbananNya Dia pasti berhasil!
Yang gagal adalah orang yang tidak bisa menangkap rencana Allah.
Oleh sebab itu, gereja Tuhan di hari-hari terakhir ini harus mempunyai keinginan yang kuat didalam hal memperhatikan rencana Allah yang besar, supaya hidup kita dan nikah rumah tangga kita, seisi rumah kita tidak digagalkan oleh iblis/setan.
Kita kembali membaca…
Wahyu 12:17
(12:17) Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.
Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, yakni gereja Tuhan yang sempurna disebut juga Mempelai Tuhan, namun kemarahannya digagalkan oleh bumi itulah DOA PENYEMBAHAN.
Jadi saudara, sekali lagi saya sampaikan dengan tandas; Doa penyembahan bagaikan dam raksasa, bagaikan bendungan yang besar yang sanggup menampung debit air yang banyak.
Karena perempuan itu ditolong oleh dam/bendungan rohani itulah doa penyembahan, selanjutnya sasaran amarah dari ular naga atau iblis/setan dilampiaskan kepada “keturunan yang lain” yaitu:
“Menuruti hukum-hukum Allah” = Penuh dengan Firman Allah = MEJA ROTI SAJIAN.
“Memiliki kesaksian Yesus” = Penuh dengan Roh Kudus = PELITA EMAS.
Namun masih kurang satu alat lagi yaitu MEZBAH DUPA, itu adalah doa penyembahan.
Sudah penuh Firman memang bagus, sudah penuh dengan Roh Kudus memang bagus, tetapi harus juga sampai kepada doa penyembahan (Mezbah Dupa)
Singkat kata, keturunan yang lain disebutlah itu GEREJA YANG TERTINGGAL, sebab ibadahnya belum sampai kepada tingkat ibadah yang tertinggi atau belum sampai kepada puncaknya itulah DOA PENYEMBAHAN.
Saya akan buktikan: GEREJA YANG TERTINGGAL
Lukas 17:32-33
(17:32) Ingatlah akan isteri Lot! (17:33) Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.
Pilih mana? Kehilangan nyawa atau mempertahankan nyawa?
Tetapi Alkitab menganjurkan kepada kita, supaya kita dengan rela kehilangan nyawa untuk memperoleh hidup dan diselamatkan.
Sebab orang yang mempertahankan nyawa, akan kehilangan nyawa = binasa, seperti isteri Lot.
Tuhan sudah menunjukkan satu rencana kepada isteri Lot supaya selamat dari hukuman Sodom dan Gomora, tetapi isteri Lot tetap mempertahankan nyawanya (mempertahankan yang dibelakang) maka jadilah tiang garam.
Ini baru contoh kecil saja; saudara ada di tengah ibadah 2-3 jam, berarti, kehilangan sesuatu dalam hidup saudara atau kehilangan dalam bentuk lahiriah, padahal menurut anjuran daging, kita bisa pergi kerumah teman, kita bisa pergi ke pantai, kita bisa pergi ke ladang dan seterusnya, tetapi saudara rela kehilangan 3 (tiga) jam itu hanya untuk Tuhan, itu baru contoh kecil saja.
Mempertahankan nyawa, artinya:
Mempertahankan harga diri dan kepentingan diri/egosentris.
Mempertahankan harta kekayaan, uang yang banyak, termasuk mempertahankan kedudukan, pangkat, jabatan yang tinggi.
Ada dari antara kita seorang pemuda, dia harus tinggalkan ibadah dan pelayanan atau mempertahankan nyawanya hanya untuk gaji puluhan juta, lalu pergi ke Arab Saudi, sungguh sangat disayangkan. Sebenarnya boleh saja dia memperoleh seisi dunia, tetapi apa artinya kalau dia harus kehilangan nyawa?
Cara berpikir kita jangan pendek, berarti kita harus memandang jauh ke depan, kalau bisa sampai ke sorga, demikian kita jangan hanya di dunia ini saja; jangan hanya untuk sesuap nasi. Tapi pandangan kita harus sampai ke Sorga disebutlah itu pandangan nubuatan, dalam bahasa secara lahiriah; pribadi yang visioner.
Memang Firman Allah bila dengan tulus dan murni disampaikan seperti menemplak hati kita, tetapi tidak apa-apa, yang penting si pengkhotbah tidak ada maksud jahat kepadamu.
Rela kehilangan nyawa, artinya: beribadah dan melayani Tuhan disertai dengan sangkal diri pikul salib sampai berdarah-darah.
Akan tetapi, isteri Lot sama seperti orang-orang Sodom dan Gomora, hatinya tetap terpaut kepada harta, uang yang banyak, hatinya dikuasai oleh kenajisan percabulan. Itu sebabnya kata Sodom berasal dari Sodom.
Ketika malaikat datang kerumah Lot, penduduk Sodom dan Gomora berkata; bawalah orang-orang itu kepada kami, kami mau memakai dia. Padalah Lot sudah berkata; ini ada dua putriku, itu jauh lebih baik.
Jadi isteri Lot ini persis seperti orang-orang di Sodom, mempertahankan harta, kekayaan, uang yang banyak, juga dia mempertahankan kenajisan percabulannya = mempertahankan nyawa.
Hal ini menunjukkan bahwa isteri Lot tidak sampai kepada tingkat ibadah/puncak ibadah yang tertinggi itulah doa penyembahan
Jangan kita sama seperti orang dunia walaupun kita ada di dunia sekarang ini.
Lukas 17:34-36
(17:34) Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. (17:35) Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan." (17:36) [Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.
Disini kita dapat melihat tiga macam ibadah pokok yaitu:
Tempat tidur -> Doa Penyembahan/penuh dengan kasih Allah = MEZBAH DUPA.
Mengilang -> Firman Allah = MEJA ROTI SAJIAN.
Ladang -> Roh El Kudus/penuh dengan Roh El Kudus = PELITA EMAS.
Meskipun tekun dalam tiga macam ibadah pokok; ada yang DIBAWA dan ada yang TERTINGGAL.
Memang kita belum melihat apa alasannya satu dibawa, dan satu ditinggal, ayat 34-36 belum menjelaskannya, akan tetapi kita akan melihat penjelasan selanjutnya pada…
Lukas 17:37
(17:37) Kata mereka kepada Yesus: "Di mana, Tuhan?" Kata-Nya kepada mereka: "Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar."
Disini dikatakan: "… Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar ...."
Mayat/bangkai sama artinya: Masuk dalam pengalaman kematian -> Doa Penyembahan sebagai puncak dari ibadah.
“Penyembahan”, artinya: Penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah.
Sama seperti Yesus di atas kayu salib … Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya … Matius 27:50.
Pendeknya, penyembahan artinya penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah.
Ukuran dari penyembahan bukan dilihat:
Pada saat mengadakan pujian dan penyembahan atau disebut juga praise and worship, walaupun memang menyembah itu harus dengan pujian dan penyembahan.
Pada saat berlutut, walaupun saat menyembah harus tersungkur/berlutut.
Dari karunia-karunia yang dimiliki oleh seorang hamba Tuhan yaitu; karunia mengadakan mujizat kesembuhan atas orang sakit, karunia untuk mengadakan perbuatan-perbuatan yang ajaib, karunia untuk mengusir setan, bukan diukur dari situ.
Tetapi penyembahan yang sejati adalah penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah, seperti yang saya gambarkan tadi: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” sesudah itu menyerahkan nyawa. Itulah mayat, itulah bangkai. Inilah gambaran dari Gereja yang akan DIBAWA/tidak tertinggal.
Sedangkan ibadah yang belum sampai kepada penyembahan/bangkai; akan tertinggal. Jadi banyak gereja akan tertinggal kalau tidak memahami pengertian semacam ini. Itu sebabnya saya gemes kalau orang tidak sungguh-sungguh beribadah, padahal sudah diberi pengertian tetapi tidak juga sungguh-sungguh.
Zaman Sodom dan Gomora cuman 4 (empat) orang yang selamat, 1 tertinggal/tereliminasi, kalau ada 10 yang selamat dari antara kita, mewakili provinsi Banten itu sudah sangat bagus, lebih hebat dari orang-orang yang ada di Sodom dan Gomora, artinya tidak segampang yang kita pikirkan untuk masuk dalam kerajaan sorga.
Betapa hebatnya Nuh berjuang, menghimbau dari gunung yang tinggi supaya mereka membangun segera hidupnya sebab akan datang air yang banyak, tetapi mereka tidak percaya.
Saudara mungkin masih merasa tidak apa-apa, tetapi nanti saudara akan mengingat apa yang saya sampaikan ini, saudara akan menyaksikan sendiri. Saya tidak sedang menakut-nakuti dan tidak mengancam, saya hanya sedang memberitahukan supaya saudara ingat apa yang saya sampaikan ini. Apakah nyawa itu hanya seharga nyawa binatang? Saya kira tidak.
Jadi kita sekarang, sudah tahu gereja yang akan di bawa dan juga sudah tahu gereja yang tertinggal?
Gereja yang dibawa adalah gereja yang sudah sampai kepada puncak ibadah itulah doa penyembahan, bagaikan mayat/bangkai, itulah penyembahan; penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah.
Dampak positif: berada pada puncak ibadah/doa penyembahan: KEPADANYA DIPERCAYAKAN DUA SAYAP BURUNG NASAR YANG BESAR … Lukas 17:37 -- "Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar."
Jadi, untuk memperoleh dua sayap burung nasar yang besar bukan karena gagah hebat dan kuat kita, bukan karena kelebihan yang kita punya tetapi ibadah itu harus sampai kepada puncak ibadah itulah doa penyembahan, sarananya adalah tekun dalam tiga macam ibadah pokok.
Kita lihat GEREJA yang sudah MENDAPATKAN SAYAP BURUNG NASAR YANG BESAR.
Wahyu 12:14 --- Perikop: "Naga memburu perempuan itu."
(12:14) Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.
Oleh sayap burung nasar yang besar, gereja Tuhan yang sempurna atau sidang Mempelai Wanita Tuhan diterbangkan ke padang belantara/padang gurun, sehingga jauh dari mata ular, dan itu berlangsung selama 3 ½ tahun, dimana antikris sedang berkuasa penuh atas bumi. Tetapi sekalipun antikris berkuasa penuh atas bumi selama 3 ½ tahun, gereja Tuhan yang sudah mencapai puncak ibadah itulah doa penyembahan, kepadanya dipercayakan kedua sayap burung nasar yang besar, sehingga ia diterbangkan ke padang belantara/padang gurun, tempat pengungsian/diungsikan jauh dari mata ular (jauh dari mata antikris) disitu dia dipelihara, sedangkan dunia dalam keadaan gejolak, penghukuman, berkecamuk. Tetapi mempelai Tuhan lepas dari penghukuman.
Tetapi gereja yang tertinggal dia tetap tertinggal, dia tidak dibawa ke padang belantara karena dia tidak memiliki sayap burung nasar yang besar, sekalipun dia tekun dalam tiga macam ibadah pokok.
Sementara gereja Tuhan yang tertinggal menderita, dan untuk selamatpun dia harus serahkan leher ini, itulah cerita Wahyu 20:4 tadi.
Pilih mana? Leher digunakan sekarang untuk menundukkan kepala di ujung kaki salib atau nanti leher digorok/dipenggal?
Kalau saudara mau bermain-main terus dalam beribadah, nanti leher yang menjadi taruhannya, itupun kalau selamat, kalau tidak selamat bagaimana?
Itu sebabnya yang sudah terlanjur-lanjur 1 kali, 2 kali, apalagi 3 kali, sungguh-sungguh tekun dalam tiga macam ibadah pokok, andaikata pun tidak mendapat sayap burung nasar yang besar (dapat dilihat oleh mata ular/antikris) terpaksa leher dogorok, itulah jalan satu-satunya.
Tetapi saya tidak tega melihat jemaat ada yang digorok lehernya, saya tidak akan sanggup, kalaupun diselamatkan karena kelalaian-kelalaian di waktu-waktu yang lalu.
Wahyu 20:4B
(20:4) Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun.
Mereka memang hanya memiliki Firman Allah dan Roh Allah, berarti ibadahnya tidak sampai kepada puncaknya itulah doa penyembahan, namun kelebihan mereka ialah…
Tidak menyembah binatang dan patungnya.
Tidak menerima tanda pada dahi dan tangan mereka / tidak menerima cap meterai dari antikris yaitu; 666.
Akhirnya mereka hidup kembali dan duduk di atas takhta memerintah sebagai Raja bersama-sama dengan Kristus di dalam kerajaan selama seribu tahun damai.
Ini yang disebut mati martir, dimana leher mereka digorok, dipenggal/dipancung oleh pedang antikris.
JALAN KELUAR…
Yesaya 8:6-8
(8:6) "Oleh karena bangsa ini telah menolak air Syiloah yang mengalir lamban, dan telah tawar hati terhadap Rezin dan anak Remalya, (8:7) sebab itu, sesungguhnya, Tuhan akan membuat air sungai Efrat yang kuat dan besar, meluap-luap atas mereka, yaitu raja Asyur dengan segala kemuliaannya; air ini akan meluap melampaui segenap salurannya dan akan mengalir melampaui segenap tebingnya, (8:8) serta menerobos masuk ke Yehuda, ibarat banjir yang meluap-luap hingga sampai ke leher; dan sayap-sayapnya yang dikembangkan akan menutup seantero negerimu, ya Imanuel!"
Marilah kita menghargai “air Syiloah”, ini adalah gambaran dari air sungai kehidupan yang keluar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba.
Air Syiloah ini mengalir lamban, ini berbicara soal betapa lembutnya Tuhan, betapa sabarnya Tuhan, betapa setianya Tuhan menuntun kehidupan kita sampai hari ini lewat air Syiloah (Firman Allah).
Tetapi Yehuda tidak menghargai panjang sabarnya Tuhan, tidak menghargai kemurahan hati Tuhan, itulah air Syiloah yang mengalir lamban.
Akibatnya: keluarlah air yang melimpah sebesar sungai yang disemburkan dari mulut naga meluap di atas sayap kekejian tepatnya pada saat antikris menjadi raja.
Jadi perhatikanlah ayat 6 ini: “air Syiloah yang mengalir lamban” itu adalah panjang sabarnya Tuhan, kasihNya yang begitu lembut, terus menuntun kita dengan Firman Allah (air Syiloah). Tetapi Yehuda justru berpihak kepada raja Asyur dan raja Israel. Semestinya kita tidak perlu bersandar kepada manusia, jangan menaruh harap kepada siapapun.
Hargailah panjang sabar Tuhan, HARGAILAH AIR SYILOAH, Firman Allah dinyatakan dengan kesabaranNya, Firman Allah dinyatakan dengan kesetiaanNya, Firman Allah disampaikan dengan kelemah lembutanNya, Firman Allah disampaikan dengan kasih sayang dan kasih setiaNya, supaya jangan nanti ada air yang lain, yang meluap-luap, seperti banjir yang menghanyutkan, bagaikan air sungai Efrat, itu berbicara tentang kenajisan percabulan.
Belajarlah menghargai air Syiloah. Air Syiloah kita nikmati, kemurahan Tuhan kita nikmati. Kiranya Tuhan oleh RAHMAT-NYA, kita semua tertolong.
Tuhan memberkati kita semua. Amen.
TUHAN YESUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Gembala sidang:
Pemberita Firman; Pdt. Daniel U. Sitohang