KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Thursday, February 12, 2026

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 03 FEBRUARI 2026

 


IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 03 FEBRUARI 2026

 

SURAT YUDAS

PASAL 1:11

(Seri: 8)

 

Subtema: PETANTANG PETENTENG

 

Shalom.

Segala puji syukur, segala hormat, dan kemuliaan hanya bagi Dia, TUHAN kita Yesus Kristus, yang telah memberi kesehatan, umur panjang, dan memberi kesempatan untuk beribadah lewat Ibadah Doa Penyembahan.

Dan malam ini kita akan menyembah Dia, namun ijinkanlah Firman ALLAH yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita, pribadi lepas pribadi.

 

Saya juga tidak lupa untuk menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN yang turut bergabung lewat online atau live streaming baik dari video internet, baik dari Youtube Facebook atau video internet lainnya yang dapat diakses. Selanjutnya, biarlah kiranya damai sejahtera dari Sorga, memenuhi hati kita saat kita menikmati sabda ALLAH, ketika kita duduk diam dekat kaki TUHAN.

Namun tetaplah berdoa dalam Roh, mohonkanlah kemurahan daripada TUHAN supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi.

Selanjutnya, mari kita sambut Surat Yudas sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Doa Penyembahan dari Yudas 1:11.

 

Yudas 1:11

(1:11) Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.

 

“Celakalah mereka.” Siapakah mereka yang celaka di sini? Antara  lain:

a. Mereka yang mengikuti jalan yang ditempuh Kain.

b. Mereka oleh sebab upah menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam.

c. Mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.

 

Malam ini kita kembali membahas.

Tentang: OLEH SEBAB UPAH MENCEBURKAN DIRI KE DALAM KESESATAN BILEAM (Bagian 3).

 

2 Petrus 2:15 -- Perikop: "Nabi-nabi dan guru-guru yang palsu."

(2:15) Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.

 

Guru-guru palsu telah meninggalkan jalan yang benar, yakni JALAN SALIB.

Jalan yang lebar adalah keinginan daging, ujungnya maut. Tetapi jalan salib (jalan yang sempit) itulah jalan yang benar.

Akibat meninggalkan jalan yang benar: TERSESATLAH MEREKA.

Tersesat = kesasar = salah jalan.

 

Sebagai gembala sidang, pemimpin jemaat, dan bapa rohani, saya berpesan: tetaplah mengikuti jalan yang benar itulah JALAN SALIB sekalipun sempit / tidak enak bagi daging. Jangan kita mengikuti jalan yang lebar / jalan Bileam supaya jangan tersesat / kesasar / salah jalan.

 

Praktek meninggalkan jalan yang benar: Mengikuti jalan Bileam yaitu suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat. Kisahnya ada pada Bilangan 22:1-20.

 

Minggu lalu kita melihat pribadi Rasul Paulus, dia melayani TUHAN tanpa upah, melayani TUHAN dengan ketulusan di hati. Jadi Rasul Paulus ini adalah kebalikan dari Bileam bahkan Rasul Paulus berkata; “Aku lebih suka mati dari pada tidak memberitakan injil!... 1 Korintus 9:15.

 

1 Korintus 9:16

(9:16) Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.

 

Melayani TUHAN dalam bentuk pemberitaan injil itu adalah keharusan, maka ibadah pun adalah suatu keharusan.

Jadi kita tidak mempunyai alasan untuk membesar-besarkan / memegahkan diri sekalipun dipercaya oleh TUHAN, berarti Rasul Paulus menyadari tentang tahbisan dan urapan.

Perlu untuk diketahui; untuk menerima jabatan imam, TUHAN menuntut dan menentukan 3 (tiga) korban binatang sesuai dengan Keluaran 29:1-2.

 

Keluaran 29:1

(29:1) "Inilah yang harus kaulakukan kepada mereka, untuk menguduskan mereka, supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku: Ambillah seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan yang tidak bercela,

 

1. Lembu jantan muda, berbicara tentang pendamaian sepenuh. Artinya: Seorang imam (pelayan TUHAN) harus rela menjadi PENDAMAIAN SEPENUH sebagaimana yang tertulis di dalam 2 Korintus 5:18-20.

2. Korban domba jantan (pertama). Artinya: Seorang imam (pelayan TUHAN) harus hidup di dalam PENYERAHAN DIRI sepenuh, disebut juga korban bakaran. Ini juga yang TUHAN tuntut jika seseorang hendak melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN. Binatang yang dijadikan korban binatang itu hangus dari kepala sampai ekor.

3. Korban domba jantan (kedua). Artinya: Seorang imam (pelayan TUHAN) harus hidup di dalam TAHBISAN SEPENUH, berarti menjadi abdi Allah sepenuhnya, dalam bahasa Yunani disebut: “Hagiazo.”

     Seorang hamba TUHAN harus taat, setia, dan dengar-dengaran kepada TUHAN, menaklukkan diri kepada TUHAN Yesus Kristus sebagai tuan dari hamba-hamba TUHAN.

 

Kalau kita perhatikan di dalam 1 Korintus 9:16c; Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.

Inilah jawaban dari titik-titik pada ayat 15. “Aku lebih suka mati daripada tidak memberitakan injil atau Aku lebih suka mati daripada tidak melayani TUHAN, lebih suka mati daripada tidak beribadah, lebih suka mati daripada tidak menyampaikan Firman TUHAN.”

Ini pengakuan dari Rasul Paulus, itu sebabnya saya katakan; dia sangat memahami betul tentang tahbisan dan urapan itu sendiri.

 

Itu sebabnya saya katakan, biar kita melewati jalan sempit saja walaupun sesak (sakit) rasanya buat daging ini, tetapi ujungnya adalah kehidupan kekal, daripada bebas untuk daging, namun ujungnya maut. Berjalan di jalan yang lebar (bebas untuk hawa nafsu dan keinginan daging), tetapi ujungnya maut, untuk apa?

Itulah praktek meninggalkan jalan yang benar.

 

1 Korintus 9:17

(9:17) Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.

 

Ibadah dan pelayanan yang disertai dengan pikul salib adalah kehendak ALLAH.

Pendeknya, ibadah dan pelayanan adalah suatu kepercayaan TUHAN kepada seorang imam (pelayan TUHAN).

Jadi anak-anak TUHAN (gereja TUHAN) tidak pantas untuk bermegah (membesarkan dirinya) dihadapan TUHAN.

 

1 Korintus 9:18

(9:18) Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.

 

Upah yang lebih besar dari semua upah adalah DIPERCAYA UNTUK MELAYANI TUHAN tanpa upah. Kepercayaan TUHAN jauh lebih besar dari semua upah yang ada di atas bumi ini.

Maka peganglah segala sesuatu yang telah dipercayakan oleh TUHAN bagi kita masing-masing.

 

Singkat kata: Bileam menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat, sedangkan Rasul Paulus melayani (memberitakan injil) tanpa upah.

Upah yang lebih besar dari semua upah adalah: dipercaya oleh TUHAN.

-       Dipercaya sebagai seorang pemimpin pujian.

-       Dipercaya sebagai seorang bendahara.

-       Dipercaya sebagai pemain musik, sebagai singer.

-       Dipercaya untuk mengelola multimedia, mengelola mixer, dan sound system.

 

Jadi apa yang sudah dipercayakan oleh TUHAN tidak boleh dianggap enteng. Kalau sedang suka dia kerjakan, tetapi kalau sedang tidak suka dia tinggalkan, tidak boleh begitu.

Jadi upah yang lebih besar dari semua upah di dunia ini adalah dipercaya oleh TUHAN.

 

Sebab, Rasul Paulus menyadari betul:

a. Upah yang lebih besar dari semua upah adalah menjadi kepercayaan TUHAN.

b. Melayani TUHAN dalam tahbisan yang suci dan murni.

 

2 Petrus 2:16

(2:16) Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu.

 

Untuk upah kejahatannya Bileam beroleh PERINGATAN KERAS dari TUHAN, sebab keledai betina yang ditungganginya dapat berbicara seperti manusia untuk mencegah Bileam dalam kebebalannya.

Saudara, TUHAN berkuasa untuk membuka mulut keledai.

 

Pada Bilangan 22:12, TUHAN sudah berkata; Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati.” Akan tetapi, Alkitab berkata, Bileam adalah orang bebal… 2 Korintus 2:16. Berarti sukar mengerti, tidak cepat mengerti (tanggap) perkataan TUHAN, itu namanya kebebalan.

 

Saya berdoa supaya setiap kita yang hadir malam ini dibebaskan oleh darah salib dari roh kebebalan.

Seseorang tidak akan pernah bahagia karena kebebalan, seseorang akan bahagia kalau dia sudah sampai pada kasih ALLAH yang sempurna, yang keluar dari salib di Golgota.

 

Lihat seperti apapun seseorang mengikuti kebebasan daging, dia tidak akan pernah puas dengan kebebasan daging bahkan nanti ujungnya bisa menjadi satu kehidupan yang membosankan. Tetapi oleh karena kasih yang sempurna yang keluar dari salib di Golgota, hidup ini di tengah ibadah dan pelayanan penuh dengan dinamika, dinamika yang indah dalam keindahan sorgawi.  

 

Jadi terhadap upah kejahatan Bileam itu TUHAN marah, TUHAN tegur dengan keras sebab keledai beban bisu yang dia tunggangi itu berbicara seperti manusia, mencegah kebebalannya itu.                                                                                     

 

Bilangan 22:21-22

(22:21) Lalu bangunlah Bileam pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya yang betina, dan pergi bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab. (22:22) Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai lawannya. Bileam mengendarai keledainya yang betina dan dua orang bujangnya ada bersama-sama dengan dia.

 

Pada pagi harinya Bileam pergi (berangkat) kepada Balak dengan menunggangi keledainya bersama dengan pemuka-pemuka Moab, tetapi berdirilah malaikat TUHAN sebagai lawannya.

 

Bilangan 22:24-27

(22:23) Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tangan-Nya, menyimpanglah keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul keledai itu untuk memalingkannya kembali ke jalan.

 

Jika TUHAN sudah menghadang jalan kita di jalan yang tidak baik supaya kita dibawa masuk ke ladang TUHAN, jangan kita seperti Bileam justru memukul keledai supaya kembali ke jalan yang dikehendakinya. Mungkin TUHAN sedang menghadang kita supaya kita jangan mengikuti jalan yang dikehendaki daging, supaya kita ada di ladang TUHAN, itu jauh lebih baik, tetapi Bileam seorang yang bebal, itu sebabnya Bileam memukul keledai yang ditungganginya dan mengarahkannya ke jalan yang dikehendaki dagingnya.

 

Bilangan 22:24-27

(22:24) Kemudian pergilah Malaikat TUHAN berdiri pada jalan yang sempit di antara kebun-kebun anggur dengan tembok sebelah-menyebelah. (22:25) Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN, ditekankannyalah dirinya kepada tembok, sehingga kaki Bileam terhimpit kepada tembok. Maka ia memukulnya pula. (22:26) Berjalanlah pula Malaikat TUHAN terus dan berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri. (22:27) Melihat Malaikat TUHAN meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat.

 

Di sini kita melihat, ternyata jalan Bileam dihadang oleh malaikat TUHAN dengan pedang terhunus. Pedang terhunus itu jelas berbicara tentang penghukuman karena ada suatu dosa atau pelanggaran yang telah diperbuat sehingga oleh hukuman ini maka siapapun yang dihadang oleh pedang terhunus maka ia akan berhenti berbuat dosa. Itu sebabnya, ketika keledai itu melihat pedang terhunus, keledai itu langsung masuk ke ladang. Ladang jelas berbicara tentang kegiatan Roh.

 

Saudara, pedang terhunus memang menghadang jalan kita, menghukum supaya dosa jangan terulang lalu diarahkan untuk masuk ke ladang, itu sudah bagus, kita tidak perlu ngomel-ngomel, kita tidak perlu marah-marah, kita tidak perlu menyalahkan TUHAN karena malaikat TUHAN menghadang kita dengan pedang terhunus. Bukankah pedang Roh lebih tajam dari pedang bermata dua manapun? Dia hidup dan kuat, dia menusuk amat dalam sehingga mengadakan penyucian terhadap perasaan manusia terdalam. Itu sebabnya dia sanggup memisahkan jiwa dan Roh, memisahkan sendi-sendi dan sum-sum, sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati manusia.

 

Akan tetapi, Bileam ini dasar dikuasai roh kebebalan, dia memukul keledai dan dia mengarahkan keledai kembali ke jalan yang dikehendaki dagingnya maka TUHAN pun kembali berdiri di antara kebun-kebun anggur dengan tembok sebelah menyebelah. Ketika keledai melihat malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tangannya, maka ditekankannyalah dirinya kepada tembok.

Tembok berbicara soal iman. Iman kita bukan lagi kepada yang lain-lain, iman kita hanya kepada pribadi TUHAN Yesus Kristus yang telah menderita sengsara dan mati di atas kayu salib.

 

Karena kaki Bileam terhimpit ke tembok, dia tidak suka. Memang kalau kita hidup dengan iman rasa-rasanya terhimpit. Kalau dahulu kan hidup dengan daging, sekarang hidup dengan iman, hidup dengan salib, rasanya perjalanan kita ini dihimpit, rasanya sakit, hal itu membuat Bileam tidak suka sehingga keledai itu pun kembali dipukul supaya mengikuti jalan yang dikehendaki dagingnya untuk yang kedua kali dia memukul keledai tersebut.

 

Tetapi lagi-lagi, malaikat TUHAN menghadang langkah (jalan) Bileam dengan pedang yang terhunus sebab pada ayat 26 dikatakan; “Berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri.

 

Biasanya kalau sudah tidak ada lagi jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri, barulah seseorang bisa meniarap. Tetapi kalau masih ada sesuatu yang masih bisa diandalkan, seseorang sering sekali petantang petenteng. Seseorang suka sekali beralasan (bermegah) untuk meninggalkan ibadah dan pelayanan. Tetapi ketika tidak ada lagi jalan untuk menyimpang ke kiri atau ke kanan, di situlah orang langsung meniarap, sudah tidak ada lagi yang bisa diandalkan.

Tiarap menunjuk kepada penyembahan.

 

Ketika seseorang sudah kehabisan akal dan tidak ada lagi yang bisa diandalkan, sebetulnya itu terjadi atas seizin TUHAN, karena tujuan dari rencana TUHAN adalah supaya kita segera TIARAP berarti hidup di dalam kasih, wujudnya adalah DOA PENYEMBAHAN. Sebaliknya, ketika seseorang masih bisa mengharapkan ini dan itu, maka dia akan berdalih dihadapan TUHAN, dia akan sering meninggalkan ketekunan tiga macam ibadah pokok. Tetapi ingat, ketika seseorang tidak bisa lagi menyimpang ke kiri atau ke kanan, ketika tidak ada lagi yang bisa diandalkan (diharapkan) dari dirinya atau orang lain, barulah dia datang meniarap.

 

Itu sebabnya saya katakan untuk yang kedua kalinya, kalau kita diijinkan oleh TUHAN sampai habis-habisan, tidak ada lagi yang bisa diandalkan, itu terjadi atas seijin TUHAN supaya kita cepat-cepat meniarap, merendahkan diri dihadapan TUHAN lewat Doa Penyembahan.

Itu sebabnya, jangan kita cepat marah-marah, salahkan orang tua, salahkan anak, salahkan suami, salahkan isteri, salahkan orang-orang yang di sekitar. Memang orang bebal sukar tanggap (mengerti) rencana TUHAN.

Itulah Bileam dikuasai roh kebebalan.

 

Biarlah kita cepat-cepat meniarap saja, hidup di dalam doa penyembahan, tinggal di dalam kasih ALLAH, itu yang TUHAN mau.

-            Masuk ke dalam ladang (kegiatan Roh), itu yang TUHAN mau.

-            Berjalan di jalan sempit (jalan iman), itu yang TUHAN mau.

-            Meniarap / hidup dalam doa penyembahan = tinggal di dalam kasih, itu yang TUHAN mau.

 

TUHAN tidak melihat paras mu, TUHAN tidak melihat kulit mu, TUHAN tidak melihat keberadaan mu, TUHAN tidak melihat kedudukan, jabatan, pangkat yang tinggi. Tetapi yang TUHAN kehendaki adalah 3 (tiga) hal saja, yaitu:

-            Supaya kita masuk ke ladang TUHAN itulah kegiatan Roh.

-            Supaya kita berjalan di jalan yang sempit / jalan iman artinya pikul salib, ikut TUHAN meski rasanya terhimpit, meski rasanya sakit, tidak jadi soal, tetapi itu adalah iman, ujungnya adalah keselamatan.

-            Supaya kita tinggal di dalam kasih, meniarap = hidup di dalam doa penyembahan.

Tetapi itu pun tidak dikehendaki oleh orang yang bebal. Yang dikehendaki oleh orang bebal adalah kebebasan untuk bisa melampiaskan hawa nafsu dan keinginan-keinginan dagingnya yang jahat itu.

 

Bilangan 22:28

(22:28) Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: "Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?"

 

Bileam memukul keledai betina yang ditungganginya sampai 3 (tiga) kali. Ketika Bileam memukul keledai betina untuk yang ketiga kalinya, akhirnya TUHAN membuka mulut keledai dan keledai itu pun berbicara dan berkata kepada Bileam: "Apakah yang kulakukan kepada mu, sampai engkau memukul aku tiga kali?"

Bukankah keledai betina yang ditunggangi oleh Bileam berada di tempat yang TUHAN kehendaki? Tetapi Bileam ini memukul keledai sebanyak 3 (tiga) kali karena kebebalannya.

 

Intisari Bilangan 22:21-28, keledai betina yang ditunggangi Bileam telah melihat malaikat TUHAN menghadang jalan Bileam dengan pedang yang terhunus.

Kalau kita bisa melihat malaikat TUHAN dengan pedang yang terhunus, kita akan berada di 3 (tiga) tempat ini;

-       Masuk dalam ladang TUHAN.

-       Berjalan di jalan sempit (jalan iman) walaupun sesak.

-       Tinggal di dalam kasih (doa penyembahan).

Itulah yang akan dialami oleh orang-orang yang memiliki mata yang terbuka terhadap pedang terhunus.

 

Tetapi, orang bebal tidak melihat malaikat TUHAN dengan pedang terhunus. Itu sebabnya, ia memukul keledainya 3 (tiga) kali sehingga keledai itu pun dapat berbicara layaknya manusia karena TUHAN membuka mulutnya serta berkata kepada Bileam: “Apakah yang kulakukan kepada mu, sampai engkau memukul aku tiga kali?”

 

Kita lihat jawaban Bileam kepada keledai itu di dalam…

Bilangan 22:29

(22:29) Jawab Bileam kepada keledai itu: Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.”

 


Saudara tekun dalam 3 (tiga) macam ibadah pokok:

-            Tinggal di ladang ALLAH (kegiatan Roh) = Tekun dalam Ibadah Raya Minggu.

-            Tinggal di dalam iman = Tekun dalam Ibadah Pendalaman Alkitab.

-            Tinggal di dalam kasih = Tekun dalam Ibadah Doa Penyembahan.

 

Lalu Bileam juga berkata; “Seandainya ada pedang di tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.”

Pedang di sini berbicara tentang kebenaran diri sendiri. Jangan kita hidup di dalam kebenaran diri sendiri, itu bisa membunuh perasaan orang lain, membunuh hak orang lain, membunuh kebebasan orang lain beribadah.

 

Kenapa seseorang hidup di dalam kebenaran diri sendiri? Karena ia adalah orang bebal tidak memiliki mata yang terbuka untuk melihat pedang yang terhunus, meskipun pedang terhunus sedang menghadang langkahnya bagaikan malam ini Firman ALLAH dinyatakan. Apakah saudara melihat kuasanya? Kalau tidak maka akan sama dengan kebebalan Bileam, hidup di dalam kebenaran diri sendiri. Berkali-kali kita menikmati kemurahan TUHAN, nasihat demi nasihat Firman dinyatakan, namun seolah-olah kita tidak melihatnya sehingga hidup di dalam kebenaran diri sendiri.

Itulah Bileam, hidup di dalam kebenaran diri sendiri.

Jangan kita seperti itu lagi, jangan pertahankan itu lagi, itu adalah masa jahiliyah, masa lalu, masa kebodohan.

 

Bilangan 22:30

(22:30) Tetapi keledai itu berkata kepada Bileam: "Bukankah aku ini keledaimu yang kautunggangi selama hidupmu sampai sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian kepadamu?" Jawabnya: "Tidak."

 

Perlu untuk diketahui; orang bebal tidak memiliki ROH KEPEKAAN.

Selama ini keledai tersebut nurut-nurut saja, tetapi kalau ada perbuatan yang ganjil, semestinya dia peka.

Kalau melihat ada binatang yang dapat berbicara, tentu kita akan terheran-heran. Beo saja berbicara, kita sangat terheran-heran apalagi keledai. Tetapi dasar orang bebal yang sudah hebat kebebalan menguasai dirinya, akhirnya tidak punya roh kepekaan. Seharusnya kalau ada keganjilan dia harus bertanya kepada TUHAN, nanti TUHAN akan menjawab.

 

Bilangan 22:31

(22:31) Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tangan-Nya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan sujud.

 

Akhirnya TUHAN menyingkapkan mata Bileam dan ketika mata Bileam terbuka, di situlah dia melihat Malaikat TUHAN menghadang jalannya dengan pedang terhunus, lalu pada saat itulah dia berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN.

 

Tetapi saudara, agak aneh juga, keledai adalah gambaran dari bangsa Kafir, bisa melihat malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tangannya. Sedangkan Bileam seorang nabi tidak bisa melihat malaikat TUHAN menghadang jalannya dengan pedang terhunus. Kan ini suatu pertanyaan besar.

Seandainya hubungan kita intim dengan TUHAN, kita bergaul setiap hari dengan TUHAN pasti kita memiliki mata yang terbuka dan melihat apa yang sedang TUHAN kerjakan serta melihat bagaimana Firman ALLAH dibukakan untuk menyucikan kehidupan kita, tetapi Bileam tidak, orang bebal tidak.

Kalau bangsa Kafir bisa melihat malaikat TUHAN menghadang jalannya dengan pedang terhunus itu adalah suatu anugerah. Kalau kita menikmati pembukaan rahasia Firman untuk menghadang jalan kita, itu adalah anugerah, itu kemurahan bagi bangsa Kafir.

 

Bilangan 22:32

(22:32) Berfirmanlah Malaikat TUHAN kepadanya: Apakah sebabnya engkau memukul keledaimu sampai tiga kali? Lihat, Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandangan-Ku menuju kepada kebinasaan.

 

Jalan yang dikehendaki Bileam menuju kepada KEBINASAAN, itu sebabnya malaikat TUHAN menghadang jalan Bileam dengan pedang terhunus.

Jadi saudara, belajarlah untuk menyadari diri bahwasanya TUHAN sedang menyatakan suatu kemurahan yang besar kepada kita sebab malaikat TUHAN sedang menghadang jalan yang dikehendaki daging, menghadang kita di jalan menuju kebinasaan dengan pedang yang terhunus (Firman TUHAN yang dibukakan), bersyukurlah kepada TUHAN.

Bukan malah ngomel-ngomel, marah-marah, menyalahkan TUHAN, menyalahkan orang tua, menyalahkan anak, menyalahkan suami, menyalahkan isteri, menyalahkan situasi yang ada. Karena sebenarnya jalan yang dikehendaki manusia itu adalah jalan menurut kehendak dagingnya, muaranya adalah kebinasaan. Dan Firman ALLAH sedang menghadang kita supaya jangan binasa. Dan Firman TUHAN malam ini yang dinyatakan kepada kita bukan suatu kebetulan karena TUHAN sangat mengasihi mu. Jangan engkau tidak mau tahu, jangan engkau tidak melihat itu, jangan kita lebih parah dari binatang (keledai). Kalau keledai saja bisa melihat rencana TUHAN, semestinya kita juga bisa melihat dengan mata yang terbuka.

Jangan pertahankan roh kebebalan sebab itu kebodohan, itu menuju kebinasaan, percaya kepada Firman, jangan percaya kepada kebenaran diri sendiri. Percayalah kepada pedang yang terhunus, pedang Roh, Firman ALLAH, lebih tajam dari pedang bermata dua manapun.

 

Bilangan 22:33

(22:33) Ketika keledai ini melihat Aku, telah tiga kali ia menyimpang dari hadapan-Ku; jika ia tidak menyimpang dari hadapan-Ku, tentulah engkau yang Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan hidup.” 

 

Ketika malaikat TUHAN datang menghadang langkah kita dengan pedang terhunus untuk membawa kita tekun dalam 3 (tiga) macam ibadah pokok:

1. Masuk ke ladang ALLAH itulah kegiatan Roh -> Ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu disertai kesaksian Roh.

2. Berada di jalan sempit itulah iman -> ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai Perjamuan Suci.

3. Meniarap -> Ibadah Doa Penyembahan (nafas hidup) supaya kita tidak mati terbunuh.

 

Jadi ketekunan 3 (tiga) macam ibadah pokok adalah harga mati. Jangan biasakan karena kegiatan di dunia ini, kita gunakan alasan untuk meninggalkan ibadah. Tetapi biasanya, kenapa orang bisa melakukan itu? Mungkin masih bisa berharap sesuatu dari orang tua nya, anaknya, suaminya, isterinya. Coba kalau sudah tidak ada lagi yang diharapkan, mau tidak mau ia akan meniarap. Kenapa orang petantang-petenteng? Karena masih ada yang diandalkan (diharapkan). Nanti setelah semua itu lenyap baru menangis (meniarap).

 

Jadi jauh lebih baik kita diijinkan TUHAN tidak memiliki apa-apa supaya cepat-cepat meniarap karena kalau ada sedikit pun, nanti yang sedikit itu pun kita bisa jadikan untuk petantang-petenteng.

Jadi supaya kita jangan petantang-petenteng TUHAN ijinkanlah kita dihabisi dan tidak ada yang bisa kita andalkan lagi.

 

Bilangan 22:34-35

(22:34) Lalu berkatalah Bileam kepada Malaikat TUHAN: "Aku telah berdosa, karena aku tidak mengetahui, bahwa Engkau ini berdiri di jalan menentang aku. Maka sekarang, jika hal itu jahat di mata-Mu, aku mau pulang." (22:35) Tetapi Malaikat TUHAN berfirman kepada Bileam: "Pergilah bersama-sama dengan orang-orang itu, tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kaukatakan." Sesudah itu pergilah Bileam bersama-sama dengan pemuka-pemuka Balak itu.

Intinya; lebih baik menyerah kepada kehendak Allah dan kita hidup di dalam rencana ALLAH yang indah sebagaimana di dalam Yeremia 29:11 --- Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Itulah:

-       Di ladang ALLAH (kegiatan Roh) -> Ibadah Raya Minggu.

-       Di jalan sempit -> Ibadah Pendalaman Alkitab.

-       Meniarap -> Ibadah Doa Penyembahan.

 

Rancangan TUHAN di dalam diri kita adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberi masa depan yang penuh pengharapan.

Jadi malam ini kita belajar untuk meniarap, tinggal di dalam kasih itulah doa penyembahan. Amin.

 

 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

 

Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang