IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 08 OKTOBER 2026
MALEAKHI 3:1A
(Seri: 14)
Subtema: PENGANTIN-NYA TELAH SIAP SEDIA
Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya kita dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan Perjamuan Suci.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN Bapak, Ibu saudara/saudari yang terkasih dalam kasih Kristus yang turut bergabung. Kiranya damai sejahtera dari Sorga memenuhi kehidupan kita masing-masing. Selanjutnya, bahagia saat kita duduk diam menikmati sabda ALLAH. Biarlah damai sejahtera dari Sorga memenuhi ruangan ini dan hati kita.
Selanjutnya, mari kita ikuti Study Maleakhi sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan Suci.
Namun tetaplah berdoa dalam Roh, mohonlah kemurahan dari hati TUHAN, supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Maleakhi 3:1A Perikop: TUHAN datang untuk menghukum.
(3:1) Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak TUHAN yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, Firman TUHAN semesta alam.
Disini dikatakan: "Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku!"
Mari kita melihat dan mengenali UTUSAN TUHAN tersebut ...
Matius 11:10-11 (bagian 11)
(11:10) Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. (11:11) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.
Adapun utusan yang mendahului TUHAN adalah YOHANES PEMBAPTIS.
Tugas pokok Yohanes Pembaptis sebagai utusan TUHAN adalah mempersiapkan jalan bagi TUHAN.
Demikian juga seorang hamba TUHAN, teramat lebih seorang gembala/pemimpin sidang jemaat, memiliki tugas pokok yaitu mempersiapkan sidang jemaat di dalam hal menyongsong kedatangan TUHAN kembali ke dunia yang fana ini untuk yang kedua kalinya.
Pada saat TUHAN datang pada kali kedua, Dia tampil:
Sebagai TUHAN yang harus disembah.
Sebagai Raja di atas segala raja dan Mempelai Pria Sorga.
Saudara, kita telah membahas tentang; sebagai TUHAN yang harus disembah pada dua minggu yang lalu. Sedangkan tentang Raja di atas segala raja juga telah kita bahas pada minggu yang lalu. Itu berarti, malam ini kita akan membahas terkait sebagai; Mempelai Pria Sorga
Terkait: YESUS TAMPIL SEBAGAI MEMPELAI PRIA SORGA…
Wahyu 19:6-7 --- Perikop: "Perjamuan kawin Anak Domba."
(19:6) Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena TUHAN, ALLAH kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. (19:7) Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.
Kedatangan Yesus kembali ke dalam dunia yang fana ini untuk yang kedua kalinya:
“Ia tampil sebagai Raja” .. (ayat 6)
“Dan tampil sebagai Mempelai Laki-Laki Sorga” ... (ayat 7)
Pada ayat 7 dikatakan: "Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia" menunjukkan bahwa Yesus tampil sebagai Mempelai Laki-laki Sorga.
Sementara, gereja TUHAN yang dianggap layak menjadi pengantin perempuan adalah gereja yang telah “SIAP SEDIA”
Kalau belum siap sedia, jangan coba-coba masuk dalam pesta kawin, nikah bukan untuk coba-coba.
Terkait dengan SIAP SEDIA, kita hubungkan dengan ….
Efesus 4:11-13
(4:11) Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (4:12) untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, (4:13) sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak ALLAH, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,
Yesus telah mati dan bangkit. Oleh karena kematian dan kebangitanNya Ia memberikan 5 jabatan (rasul, nabi, penginjil, gembala dan guru) untuk memperlengkapi hamba-hamba TUHAN, disebut juga orang-orang kudus TUHAN:
Bagi pekerjaan pelayanan.
Bagi pembangunan tubuh Kristus
Istilah "pembangunan tubuh Kristus" merujuk kepada KESATUAN TUBUH KRISTUS, dimana anggota tubuh Kristus memang banyak dan berbeda-berbeda, namun sudah menjadi satu. Sama halnya dengan sebuah bangunan, terdiri dari beberapa material, antara lain; berasal dari batu, pasir, semen, kawat, besi, dan lain sebagainya, namun sudah menjadi satu.
Sudah menjadi satu = Sempurna = Mulia. Kalau kita mengacu kepada injil Yohanes 17:22-23: “ …Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: (17:23) Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu.
Kalau anggota tubuh yang banyak, yang berbeda-beda belum menjadi satu, di sebutlah itu cacat. Ibaratnya satu tangan tidak ada (putus) disebut cacat. Kaki tidak ada (buntung) disebutlah itu cacat. Tapi kalau anggota tubuh yang berbeda-beda dan banyak itu sudah menjadi satu, di sebutlah itu tubuh Kristus yang sempurna = mulia, sebab di ayat 22 TUHAN berkata kepada Bapa; Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan.
Singkat kata, gereja yang sempurna adalah gereja yang telah siap sedia. Berarti, ia telah …
“Mencapai kesatuan iman”. Berarti, percaya kepada Yesus Kristus sebagai TUHAN dan Juruselamat manusia, tidak ada yang lain. Hal itu juga dinyatakan dalam Efesus 4:1-6. Orang yang percaya ini selanjutnya bertobat, dibaptis air, selanjutnya dipenuhkan oleh Roh El-Kudus.
“Mencapai pengetahuan yang benar tentang Anak ALLAH”. Artinya: Gereja TUHAN telah mengenal TUHAN secara pribadi
Contoh; MENGENAL TUHAN SECARA PRIBADI
Filipi 3:10-11
(3:10) Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, (3:11) supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
Rasul Paulus mengenal TUHAN secara pribadi atau mempunyai pengalaman yang sangat mendalam bersama dengan Pribadi Yesus Kristus. Adapun pengenalan itu dimulai dari: Persekutuan dalam penderitaan-Nya = sudah menyatu dengan salib Kristus.
Doa dan harapan saya, kiranya kita semua; baik saya, istri saya, anak-anak saya, maupun seluruh sidang jemaat dan nikah-nikah rumah tangga dari seluruh sidang jemaat, hendaklah sudah menyatu dengan salib Kristus.
Kemudian, oleh karena salib, kita satu dalam kematian dan satu dalam kebangkitan-Nya.
Ayub adalah orang yang “saleh, jujur dan takut akan TUHAN dan menjauhi kejahatan.”
Kemudian Ayub:
Mempunyai tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan.
Memiliki harta benda, kekayaan, dan sagat diberkati oleh TUHAN, bahkan menjadi orang yang terkaya dari semua orang di sebelah Timur, ayat referensi Ayub 1:1-3. Timur dari tanah Kanaan adalah Mesir dan Pilistin.
Namun Ayub belum mengenal TUHAN secara pribadi, meskipun dia adalah orang yang saleh, jujur, takut akan TUHAN, dan diberkati oleh TUHAN, sehingga dalam menghadapi pergumulan dan dihimpit oleh kesulitan, masih juga ditandai dengan persungutan, ngomel, bahkan berbantah-bantah dengan TUHAN, berbantah-bantah dengan sesama, menunjukkan bahwa Ayub hidup menurut kebenaran diri sendiri. Mengapa ia hidup menurut kebenaran diri sendiri? jawabannya , karena sesungguhnya dia belum mengenal TUHAN secara pribadi.
Demikian juga dengan Rasul Paulus, waktu dia masih berada di bawah bayang-bayang hukum taurat, dia juga belum mengenal TUHAN secara pribadi, sehingga itu tampak dengan jelas dalam Filipi 3:5-7.
Filipi 3:5-7
(3:5) disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, (3:6) tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. (3:7) Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
Disini tampak dengan jelas keadaan Paulus, hidup di bawah hukum Taurat, sama seperti kanak-kanak yang belum dewasa, secara rohani;
YANG PERTAMA: “terhadap hukum Taurat aku orang Farisi”
Orang farisi adalah orang yang cendikiawan, orang yang ingin diakui keberadaannya. Ini keadaan Paulus ketika masih berada di bawah bayang-bayang hukum taurat.
YANG KEDUA: “tentang kegiatan aku penganiaya jemaat”,
Ada satu kebanggaan bila ia menjalankan kegiatan, meskipun itu penganiaya. Tetapi menurut hukum taurat, orang yang menganiaya, berarti dia adalah seseorang yang sudah mempunyai kekuasaan yang besar.
YANG KETIGA: “tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat”
Ini berbicara kelebihan, tetapi bersifat lahiriah, bukan bersifat manusia batiniah. Jadi cenderung nanti kepada penonjolan diri.
Singkat kata; Ayub belum mengenal TUHAN secara pribadi, sama halnya dengan Rasul Paulus, ketika masih di bawah bayang-bayang hukum taurat.
Ayub 42:3
(42:3) Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.
Ayub banyak khotbah dimana-mana dan seringkali bersaksi dimana-mana tentang kebaikan dan kemurahan hati TUHAN. Ayub juga bersaksi tentang berkat-berkat yang ia terima, namun kenyataannya pada saat itu Ayub belum mengenal TUHAN secara pribadi, itu sebabnya disini dikatakan; Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan?
Singkat kata, Ayub bersaksi dimana-mana, berkhotbah dimana-mana, Ayub belum mengenal TUHAN secara pribadi. Banyak orang Kristen hidup sama seperti Ayub.
Ayub 42:4-5
(42:4) Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berFirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. (42:5) Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
Akhirnya, Ayub mengakui kepada TUHAN secara gamblang bahwa Ayub mengenal TUHAN hanya karena kata orang, hanya karena khotbah-khotbah di gereja dari seorang pendeta tanpa mengenal TUHAN secara pribadi. Tetapi pada akhirnya Ayub berkata: mataku sendiri memandang Engkau, bukan lagi karena kata orang, bukan karena khotbah-khotbah yang ia dengar (hanya sebatas pengetahuan, belum menjadi pengalaman).
Oleh sebab itu, jangan kita ngomel kalau kita dibawa oleh TUHAN masuk dalam sebuah pengalaman yang terkait dengan salib di Golgota, supaya kita mengenal TUHAN secara pribadi, artinya; mengenal TUHAN lebih dalam lagi.
Banyak orang kristen mengenal TUHAN hanya karena ia telah diberkati, anaknya sembuh, anaknya kuliah sampai mencapai s1, s2, s3, atau mempunyai bisnis yang baik, sehingga oleh karena berkat-berkat semacam ini, dia sering dipakai untuk khotbah-khotbah di gereja-gereja, dia sering bersaksi dimana-mana. Namun sesungguhnya Ayub, belum mengenal TUHAN secara pribadi, itu baru hanya karena khotbah, itu baru hanya karena kata orang saja.
Memang kalau anak TUHAN ada di tengah ibadah pasti diberkati, apalagi kalau melayani TUHAN. Tapi orang yang berada di tengah ibadah dan pelayanan belum tentu mengenal TUHAN secara pribadi, kalau masih suka bersungut-sungut (ngomel) karena salib di Golgota. Pendeknya, menolak salib, berarti dia belum mengenal TUHAN secara pribadi.
Kalau bersaksi hanya karena diberkati, bersaksi karena mujizat kesembuhan ,orang dunia, di luar TUHAN juga bisa. Tapi yang TUHAN mau supaya kesaksian kita ini lebih dalam lagi, yaitu; kesaksian karena mengenal TUHAN secara pribadi. Jadi tidak usah ngomel dengan beratnya salib, beratnya tekanan dan himpitan, yang begitu sulit. Memang tidak semudah mulut berbicara dan tidak semuda membalikan telapak tangan, ketika kita harus mengenal TUHAN secara pribadi; berarti; menyangkal diri, memikul salib.
Yang pasti Kita harus mengerti dan harus mengenal TUHAN secara pribadi, supaya TUHAN nanti jangan bertanya: siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? mulut banyak bersaksi (berbicara), tapi tidak praktek Firman ALLAH = menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan. Jadi kita tidak perlu merasa aneh dan asing terhadap salib di Golgota, sebab untuk mengenal TUHAN secara pribadi dimulai dari persekutuan dengan penderitaan, berarti menyatu dengan salib Kristus.
Pendeknya, Ayub belum mengenal TUHAN secara pribadi, ayat 5: Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau,
Namun setelah melewati pergumulan demi pergumulan, melewati kesukaran demi kesukaran yang begitu hebat, akhirnya Ayub berkata dan mengaku secara terus terang kepada TUHAN: tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau; sama artinya mengenal TUHAN secara pribadi, bukan karena kata orang, tetapi salib sudah menjadi pengalamannya / menyatu dengan salib.
Perlu untuk kita ketahui bersama;
oleh salib kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh TUHAN,
oleh karena salib kita mengerti rencana TUHAN dan kehendak TUHAN. Tanpa salib kita tidak tau siapa TUHAN yang sebenarnya, karena setan juga bisa memberkati. Jangan keliru untuk memperTUHANkan TUHANnya Israel.
Jadi yang disebut gereja yang telah siap sedia: telah mencapai pengetahuan yang benar tentang Anak ALLAH. Ini gereja yang sudah dibawa masuk dalam pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.
“Mencapai kedewasaan penuh”.
Saudara, gereja yang telah siap sedia adalah gereja yang telah mencapai kedewasaan penuh, sedangkan kanak-kanak tidak layak untuk menjadi mempelai TUHAN. Kerohanian yang masih ingusan tidak layak masuk dalam pesta nikah anak domba; tidak layak menjadi mempelai TUHAN.
Mari kita lihat: KEROHANIAN YANG SUDAH MENCAPAI KEDEWASAAN PENUH, dalam pelajaran …
Kidung Agung 8:10 --- Perikop: "Mempelai perempuan dan adiknya"
(8:10) -- Aku adalah suatu tembok dan buah dadaku bagaikan menara. Dalam matanya ketika itu aku bagaikan orang yang telah mendapat kebahagiaan.
Apapun yang terjadi, tetaplah ikut TUHAN dengan sungguh-sungguh. Apapun yang kita alami, jangan kita undur karena suatu pergumulan, supaya nanti TUHAN menganggap kita bagaikan orang yang “telah mendapat kebahagiaan”. Ini adalah bagian dari kedewasaan yaitu tidak mudah berputus asa dan kecewa, dia tidak akan undur dari TUHAN, sampai TUHAN menganggap dia bagaikan orang yang telah mendapat kebahagiaan.
Kebahagiaan kanak-kanak beda dengan kebahagiaan orang dewasa. Kanak-kanak dengan mendapat satu permen sudah merasa bahagia. Kehidupan kanak-kanak juga tidak memperhatikan hidupnya, dia tidak malu meskipun ingusan. Tapi kebahagiaan orang yang dewasa sangat berbeda.
Seumpama seorang suami bahagia melihat istrinya dalam segala perkara, yang penting istrinya ada mendampingi dirinya. Sebaliknya seorang istri bahagia melihat suaminya menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, memiliki cinta kasih yang begitu mendalam. Itulah kebahagiaan orang dewasa. Beda dengan kebahagiaan kanan-kanak; bahagia jika mendapat satu permen saja. Dan TUHAN dapat melihat dengan jelas keadaan gereja yang sudah mencapai kedewasaan penuh, buktinya TUHAN mengatakan langsung kepada gereja yang dewasa (mempelai perempuan) “… Dalam matanya ketika itu aku bagaikan orang yang telah mendapat kebahagiaan …”
Tetapi yang pasti yang disebut layak menjadi mempelai TUHAN, ia dikatakan:
“suatu tembok”
“Sudah mempunyai buah dada” Kalau kanak-kanak belum mempunyai buah dada.
Mari kita telusuri dengan Roh TUHAN dan kemurahan-Nya, terkait dua hal ini.
Terkait: SUATU TEMBOK.
Suatu “TEMBOK”, menunjuk ia telah dipisahkan oleh TUHAN dari antara dunia ini, sama seperti orang-orang kudus TUHAN (hamba-hamba TUHAN) yang dipilih oleh TUHAN yang dilengkapi dengan 5 jabatan, bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, dijadikan biji mata TUHAN, dilindungi (ditemboki) berarti sudah dipisahkan dari dunia ini.
Memang gereja bila sudah mencapai kedewasaan rohani, dia sudah terpisah dari dunia, terpisah dari segala sesuatu yang ada di dalam dunia, dia tidak tertarik lagi dengan segala sesuatu yang ada di dalam dunia, karena dia sudah dipisahkan, itulah keadaan dari suatu tembok.
Kemudian … suatu Tembok merujuk kepada KETEGUHAN DI HATI -> Orang-orang yang tidak mudah goyah, berarti kuat dan teguh hati.
Tentang: KUAT DAN TEGUH HATI akan kita pelajari dari PRIBADI YOSUA.
Yosua 1:6
(1:6) Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.
Kuat dan teguh hati adalah jiwa dari seorang PEMIMPIN terkait dengan tanah perjanjian.
Ada pemimpin yang mengkaitkan diri dengan perkara duniawi, perkara lahiriah, perkara-perkara di bawah. Namun disini Yosua adalah pribadi yang kuat dan teguh hati, sebab hidupnya terkait dengan tanah perjanjian (perkara di atas/rohani itulah ibadah pelayanan).
Memang TUHAN sudah menjanjikan tanah air kerajaan Sorga kepada orang-orang yang sudah menyatu dengan janji TUHAN, itulah orang-orang yang kuat dan teguh hati, tidak mudah goyah dengan pengaruh-pengaruh duniawi, tidak mudah goyah dengan pengaruh-pengaruh yang lahiriah, tidak mudah goyah dengan perkara-perkara di bawah.
Kalau pemimpin masih terpengaruh dengan perkara daging, perkara di bawah, itulah perkara duniawi, disebut juga dengan perkara lahiriah, itu namanya bukan kuat dan teguh hati, tetapi mudah goyah. Tetapi pemimpin apabila jiwanya telah menyatu dengan perkara di atas, tidak tergoyahkan dengan apapun yang disuguhkan dunia dan segala sesuatu yang ada di dalamnya tidak akan tergoyahkan sampai kapanpun. Ayat referensinya, antara lain:
Mazmur 27:14: “... Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN! …”
Mazmur 31:24: “... Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihi-Nya! TUHAN menjaga orang-orang yang setiawan, tetapi orang-orang yang berbuat congkak diganjar-Nya dengan tidak tanggung-tanggung …”
Jadi kepemimpinan yang kuat dan teguh hati, jiwanya selalu dikaitkan dengan janji TUHAN yaitu; kerajaan Sorga. Hatinya tidak mudah digoyahkan oleh hal-hal yang lain, karena ia tidak berharap kepada yang lain-lain, kecuali kepada TUHAN.
Itulah tadi pengakuan dari gereja yang dewasa, sidang mempelai TUHAN; aku adalah suatu tembok, tidak akan goyah, disebutlah itu kuat dan teguh hati.
Kembali kita melihat pribadi Yosua …
Yosua 1:7
(1:7) Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi.
Kuat dan teguh hati, berarti “sungguh-sungguh” dalam segala hal;
sungguh-sungguh menghidupi Firman ALLAH,
sungguh-sungguh memberikan dirinya dipimpin oleh Roh ALLAH,
sungguh-sungguh hidup dalam kasih ALLAH.
Orang yang kuat dan teguh hati; sungguh-sungguh menghidupi Firman ALLAH, sungguh-sungguh memberikan dirinya dipimpin oleh Roh ALLAH, sungguh-sungguh hidup dalam kasih ALLAH; mengasihi TUHAN dan sesama. Dan oleh tiga tabiat dari ALLAH ini dia semakin sungguh-sungguh, semakin giat dalam beribadah dan melayani TUHAN, melayani pekerjaan TUHAN.
Ciri-cirinya: Tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan. Kehidupan semacam ini berhasil dan beruntung dalam kegiatan dan aktivitasnya di bumi ini, sebagai pegawai, sebagai pedagang, sebagai petani, sebagai angkatan darat, sebagai angkatan laut, atau TNI, sebagai pebisnis, dia pasti berhasil dan beruntung. Sebagai seorang suami berhasil dan beruntung, sebagai seorang istri berhasil dan beruntung, sebagai apapun dia akan berhasil dan beruntung.
Saudara, suatu pelajaran dapat kita petik dari gereja sempurna, kehidupan yang dewasa, mengaku bahwa ia adalah suatu tembok, berarti; kuat dan teguh hati.
Mari kita lihat lebih dalam lagi pribadi Yosua
Yosua 1:9
(1:9) Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, ALLAHmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi."
Kuat dan teguh hati berarti tidak mudah tawar hati, tidak mudah kecewa, dan tidak mudah putus asa.
Mungkin engkau mengharapkan sesuatu, mungkin hari ini belum tercapai, tapi kalau dia adalah suatu tembok, maka dia adalah suatu kehidupan yang kuat dan teguh hati, berarti tidak mudah kecewa, tidak mudah untuk putus asa, tidak mudah tawar hatinya.
Melihat suami bersungut-sungut (kecewa) jangan turuti, jangan bela, apalagi untuk menyalahkan ibadah dan pelayanan, dan menyalahkan orang lain. Sebaliknya, kalau engkau melihat istrimu bersungut-sungut, lalu menyalahkan ini dan itu, jangan turuti. Justru kita harus buktikan kepada pasangan hidup kita dan seisi rumah kita, seperti dari perkataan mempelai TUHAN; aku adalah suatu tembok. Jangan nanti pasangan ngedumel, turut ngedumel.
Ayo kita belajar. Dahulu sebelum dewasa kita memang kaget-kaget, terkait pelajaran yang mendewasakan, tetapi sekarang kita harus mau menjadi seorang yang dewasa.
Katakan: Aku adalah suatu tembok, kuat dan teguh hati, tidak mudah tawar hati, walaupun belum mencapai satu cita-cita dan keinginan di hati.
Contoh seorang laki-laki hendak melamar si a atau si b, tapi belum tercapai, ya sudah, jangan tawar hati, sebab kita mempunyai TUHAN.
Yosua 1:16-18
(1:16) Lalu mereka menjawab Yosua, katanya: "Segala yang kauperintahkan kepada kami akan kami lakukan dan ke mana pun kami akan kausuruh, kami akan pergi; (1:17) sama seperti kami mendengarkan perintah Musa, demikianlah kami akan mendengarkan perintahmu. Hanya, TUHAN, ALLAHmu, kiranya menyertai engkau, seperti Ia menyertai Musa. (1:18) Setiap orang yang menentang perintahmu dan tidak mendengarkan perkataanmu, apa pun yang kauperintahkan kepadanya, dia akan dihukum mati. Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu!"
“Kuat dan teguh hati”, berarti mau menerima keberadaan orang lain, termasuk pernyataan-pernyataan orang Israel kepada Yosua. Berarti, tidak memandang dari sisi lahiriah orang Israel dengan berbagai lapisannya.
Intinya, Yosua menerima semua masukan dari orang Israel, itu berarti menerima keberadaan orang Israel dari berbagai lapisannya.
Banyak orang hanya mau mendengar kalau yang bicara itu datang dari lapisan masyarakat kelas atas atau menengah ke atas, tetapi tidak mau mendengar masukan atau perkataan dari kalangan (lapisan) masyarakat dari tengah ke bawah. Tapi Yosua tidak demikian, dia mau menerima keberadaan orang lain dari berbagai lapisannya. Persis seperti tembok ratapan, simbol dari keteguhan di hati dan mau menerima keberadaan dan keadaan yang pernah terjadi, dimana tembok Yerusalem pernah mengalami kerunTUHAN dan penghancuran namun dibangun kembali.
TUHAN menerima keberadaan kita, menerima segala sesuatu yang kita naikkan (mohonkan) kepada TUHAN, persis seperti tembok Yerusalem berkali-kali dirobohkan dan dihancurkan, dan didirikan kembali, mau menerima keberadaan yang seperti ini. Akhirnya tembok ratapan di Yerusalem adalah suatu gambaran dari gereja yang dewasa rohani; menerima keberadaan; dihancurkan … ya sudah, dibangun kembali … ya sudah.
Demikianlah sekarang ini keberadaan orang Yahudi datang ke tembok ratapan, berdoa, menyampaikan segala permohonannya, dan juga menyampaikan segala pergumulannya.
Dan setiap orang yang datang ke tembok ratapan mempunyai pergumulannya masing-masing, semuanya itu disampaikan kepada TUHAN, dan TUHAN menerima keberadaan kita masing-masing dengan berbagai-bagai lapisan.
Lanjut kita melihat tentang kedewasaan ….
Efesus 4:14-15
(4:14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, (4:15) tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.
Keadaan orang yang kuat dan teguh hati; tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran palsu dari nabi-nabi palsu yang menyesatkan, sebab mereka adalah orang yang licik dan licin perkataannya.
Zakharia 2:3-5 --- Perikop: "Penglihatan ketiga: seorang yang memegang tali ukuran."
(2:3) Dan sementara malaikat yang berbicara dengan aku itu maju ke depan, majulah seorang malaikat lain mendekatinya, (2:4) yang diberi perintah: "Berlarilah, katakanlah kepada orang muda yang di sana itu, demikian: Yerusalem akan tetap tinggal seperti padang terbuka oleh karena banyaknya manusia dan hewan di dalamnya. (2:5) Dan Aku sendiri, demikianlah Firman TUHAN, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya."
(2:4) yang diberi perintah: "Berlarilah, katakanlah kepada orang muda yang di sana itu, demikian: Yerusalem akan tetap tinggal seperti padang terbuka oleh karena banyaknya manusia dan hewan di dalamnya. (2:5) Dan Aku sendiri, demikianlah Firman TUHAN, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya."
Gereja yang sudah mencapai kedewasaan rohani disebutlah menjadi tembok berapi. Artinya: Gereja yang sudah mencapai kedewasaan rohani adalah gereja yang kuat dan teguh hati, kemudian berarti berapi-api dalam melayani TUHAN dan pekerjaan TUHAN, dan berapi-api dalam mengasihi TUHAN, berapi-api mengerjakan segala sesuatu yang dipercayakan oleh TUHAN. Tetapi Zerubabel berkata; … Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, Firman TUHAN semesta alam … (Zakharia 4:6).
Api Roh kudus membakar hati kita, itu sebabnya kita berapi-api mengasihi TUHAN dan sesama, berapi-api dalam beribadah dan melayani TUHAN serta mengerjakan segala sesuatu, karena api Roh Kudus membakar hati kita.
Jadi selain kuat dan teguh hati, tetapi juga berapi-api di hadapan TUHAN, demikianlah keberadaan dari gereja TUHAN yang sempurna atau keberadaan dari gereja bila sudah mencapai kedewasaan, dia bahagia dengan semua yang ia kerjakan di hadapan TUHAN walaupun ditandai dengan pengorbanan. Beda dengan kebahagiaan anak kecil (anak ingusan) hanya dengan satu permen saja ia sudah bahagia. Ibarat berhasil dalam satu pencapaian itu kan = satu permen, tambah lagi keberhasilan = dua permen.
Sebaliknya, bila kanak-kanak merasa dirugikan, dia akan nangis, ngomel dan bersungut-sungut.
Tentang: MEMPUNYAI BUAH DADA.
Kidung Agung 8:10
(8:10) -- Aku adalah suatu tembok dan buah dadaku bagaikan menara. Dalam matanya ketika itu aku bagaikan orang yang telah mendapat kebahagiaan.
Buah dada adalah tanda dari seorang perempuan bahwasanya ia telah dewasa.
Dewasa = Telah meninggalkan sifat kanak-kanak.
Jangan sampai umur bertambah, tapi sifatnya masih terus kanak-kanak, itu namanya bonsai rohani. Tapi kalau dia sudah dewasa, otomatis dia akan meninggalkan sifat kanak-kanak.
Mari kita belajar dari Paulus …
1 Korintus 13:11
(13:11) Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Pengakuan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus ketika kerohaniannya masih kanak-kanak, maka yang nampak ada 3 (tiga) hal:
“Berkata-kata seperti kanak-kanak.”
Jadi apapun yang ada di dalam hatinya diucapkan, yang salah dan yang benar semua diucapkan. Berbeda dengan kehidupan yang sudah dewasa, tidak asal berucap. Tetapi ketika dia berucap, dia mengucapkan kata-kata yang sudah dirangkai dengan rapi tersusun, elok dan sedap untuk didengar.
Kelebihan orang dewasa, perkataannya tidak menusuk seperti onak dan duri. Perkataanya tidak seperti perkataan si pemalas. Si pemalas sedikit bekerja, perkataannya langsung menusuk, apalagi saat melihat orang duduk-duduk dan tidur-tiduran. Tapi kehidupan yang dewasa akan berkata-kata dengan kata-kata yang sudah terangkai dengan baik, tersusun dengan rapi, menyenangkan hati TUHAN dan sesama, menjadi obat yang menyembuhkan, menguatkan tulang yang rapuh. Tetapi kanak-kanak akan berkata seperti kanak-kanak.
“Merasa seperti kanak-kanak.”
Perasaan kanak-kanak tentu saja berbeda dengan perasaan orang yang dewasa.
Menanggapi segala sesuatu perlu dengan perasaan yang dewasa, jangan dengan perasaan seperti kanak-kanak, akhir nya kerajaan sorga diukur dengan perasaan saja, kebenaran juga diukur dengan perasaan saja. Tapi beda dengan orang yang dewasa, kerajaan sorga tidak diukur dengan perasaannya, tapi diukur dengan tongkat pengukur yaitu: Firman ALLAH, kebenaran diukur dengan Firman ALLAH, apapun yang diperbuat senantiasa diukur oleh Firman ALLAH.
Tongkat pengukur dari TUHAN, jelas itu Firman ALLAH. Jangan kita rubah tongkat pengukur menjadi kaca spion yang hanya melihat bagian belakang saja/masa lalu.
“Berpikir seperti kanak-kanak”
Pemikiran kanak-kanak berbeda (tidak sama) dengan pemikiran orang yang dewasa. Kanak-kanak berpikir pendek, pemikirannya sesuai dengan apa yang ada di depan mata. Tetapi kehidupan orang yang dewasa berpikir jauh ke depan, sama seperti orang yang mempunyai pengertian, akal budi dan kebijaksanaan.
Inilah keadaan Rasul Paulus waktu masih kanak-kanak; Berkata-kata seperti kanak-kanak, merasa seperti kanak-kanak, berpikir seperti kanak-kanak; tidak layak masuk dalam pesta kawin anak domba, karena ia kanak-kanak yang masih ingusan.
1 Korintus 13:11b
(13:11) Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Setelah mencapai dewasa rohani maka Paulus meninggalkan sifat kanak-kanak; tidak lagi berkata-kata, merasa, dan berpikir seperti kanak-kanak, melainkan berkata-kata, merasa, berpikir secara dewasa.
Orang dewasa mudah diterima di dalam satu komunitas, sebab orang dewasa mudah melebur, menyatu dengan yang lain. Jadi jangan kita seperti kodok dalam tempurung, hanya bisa di dalam saja. Tapi kita harus dewasa; “berkata-kata, merasa, berpikir” secara dewasa, mudah diterima dalam satu komunitas, karena dia mudah melebur atau menyatu dengan orang lain. Kehidupan semacam ini menjadi kesaksian, menjadi contoh dan teladan, perkataan dan perbuatannya bisa diteladani oleh orang-orang yang ada di komunitasnya, dimulai dari dalam nikah dan rumah tangga. Mari kita tinggalkan sikap kanak-kanak, jangan bertahan dengan sikap kanak-kanak.
Kita akan buktikan itu sesuai dengan pengakuan Rasul paulus….
1 Korintus 15:8-9
(15:8) Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. (15:9) Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat ALLAH.
Kemurahan TUHAN besar kepada Paulus, dia diangkat sebagai rasul. Kemurahan itu digambarkan seperti anak yang lahir sebelum waktunya (prematur), berarti bayi itu tidak berdaya, kaki dan tangannya saja tidak bisa digoyangkan, bahkan menangis saja susah. Akan tetapi, kepada Paulus dipercayakan jabatan Rasul, itu kemurahan.
Kerohanian kanak-kanak, itu tercermin dari perbuatannya, yaitu, sebagai seorang penganiaya jemaat. Sifat kanak-kanak; tidak bisa terima keberadaan dan kekurangan orang lain. Inilah keadaan Paulus ketika dia masih berada di bawah bayang-bayang hukum taurat, kerohaniannya masih kanak-kanak, tidak bisa terima keberadaan orang lain kalau tidak sesuai dengan hatinya, tidak sesuai dengan keinginannya, tidak sesuai dengan hukum taurat yang ia hidupi.
Sifat kanak kanak; kalau tidak cocok ngambek, kalau tidak cocok nangis, kalau tidak cocok asal nyeletuk saja.
Belajarlah untuk meninggalkan sifat kanak-kanak, jangan menjadi orang yang sadisme.
Tadi sudah saya sampaikan; orang dewasa berbeda dengan kanak-kanak. Kanak-kanak selalu menggunakan pikiran dan perasaan kanak-kanak, tetapi orang dewasa tidak. Orang dewasa mengukur segala sesuatu dengan tongkat pengukur, yaitu Firman ALLAH.
Rasul Paulus ketika masih kanak-kanak, sifanya kanak-kanak, melihat orang lain yang tidak sesuai dengan pemikiran dan perasaannya, dan tidak sesuai dengan hukum taurat dianiaya. Seperti anak-anak, tidak cocok marah, tidak cocok nyeletuk, karena tidak memiliki tongkat pengukur dari sorga dia hanya memiliki pikiran dan perasaan kanak-kanak. Dan hal itu kita sudah lihat di dalam Filipi 3:5-6. Rasul Paulus waktu kanak-kanak menonjol dalam yang lahiriah, tapi masih dalam sifat kanak-kanak, karena dia masih berada di bawah bayang-bayang hukum taurat, belum mengenal kasih karunia ALLAH. Kasih karunia itu berasal dari salib di Golgota.
Sekarang kita belajar untuk didewasakan, jangan lagi asal nyeletuk (asal bertindak) sehingga mampu menerima perbedaan.
1 Korintus 15:10
(15:10) Tetapi karena kasih karunia ALLAH aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia ALLAH yang menyertai aku.
“Tetapi karena kasih karunia ALLAH aku adalah sebagaimana aku ada sekarang” artinya mengakui dia hidup dan menerima jabatan Rasul karena kasih karunia.
Kita juga ada sebagaimana ada malam ini karena kasih karunia. Diberi kesempatan untuk beribadah dan melayani TUHAN itu karena kasih karunia. Dan kalau kita mau mengakui kasih karunia, itu tanda bahwa kita sudah mempunyai kerohanian yang sudah dewasa.
Kemudian kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia., artinya menghargai dan menjunjung tinggi kemurahan dan kasih karunia TUHAN. Jangan kita lupa diri.
Kita menjadi anak TUHAN itu karena kasih karunia, jangan disia-siakan. Mengenal TUHAN secara pribadi itu juga karena kasih karunia, jangan disia-siakan. Digembalakan oleh korban sehari-hari, digembalakan oleh Pengajaran mempelai, itu juga karena kemurahan jangan disia-siakan. Hargailah kesempatan yang TUHAN berikan.
1 Korintus 15:10b
(15:10) Tetapi karena kasih karunia ALLAH aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia ALLAH yang menyertai aku.
Selanjutnya, keadaan Paulus saat ia dewasa rohani; ia bekerja lebih keras dari antara hamba-hamba TUHAN lain. Tetapi kalau dia mampu mengerjakan segala sesuatu yang dipercayakan TUHAN bukan karena kemampuannya, bukan karena kelebihannya, melainkan karena kasih karunia TUHAN menyertai. Dia mengakui semua karena penyertaan dari kasih karunia TUHAN. Inilah keadaan orang yang dewasa, mau mengakui segala kebaikan dan kemurahan hati TUHAN.
Kita kembali melihat kembali keberadaan mempelai TUHAN (gereja yang dewasa)
Kidung Agung 8:10
(8:10) -- Aku adalah suatu tembok dan buah dadaku bagaikan menara. Dalam matanya ketika itu aku bagaikan orang yang telah mendapat kebahagiaan.
Buah dada -> 2 loh batu yang berisi 10 hukum.
Inti dari 10 hukum hanya satu, yaitu; KASIH, kasih kepada TUHAN dan kasih kepada sesama.
Kemudian, disini dikatakan; buah dada itu bagaikan menara, berarti bangunan yang sangat tinggi.
Pendeknya, kasih kepada TUHAN (kasih Agape) yang ditandai dengan menara -> Doa Penyembahan.
Jadi kehidupan yang dewasa rohani ibadahnya sudah berada pada puncaknya, itulah doa penyembahan. Ibarat bayi (balita) ada di buah dada ibunya, ia sangat mengharapkan kasih dari ibunya.
Penyembahan = Penyerahan diri sepenuhnya untuk taat kepada kehendak ALLAH.
Kidung Agung 4:4
(4:4) Lehermu seperti menara Daud, dibangun untuk menyimpan senjata. Seribu perisai tergantung padanya dan gada para pahlawan semuanya.
"Leher seperti menara Daud."
Fungsi dari leher:
Untuk menundukkan kepala di ujung kaki salib -> Doa Penyembahan.
Penghubung tubuh dengan Kepala = Pengantara.
Yesus Kristus adalah kepala, tetapi Dia juga Imam besar, Dia adalah Pengantara, sebagaimana yang tertulis dalam suratan 1 Yohanes 2:1-2: “... Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. (2:2) Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia …’
Tugas Imam Besar Agung memperdamaikan manusia dengan ALLAH, sebab manusia sudah terpisah jauh dari TUHAN sejak peristiwa taman Eden.
Begitu Adam dan Hawa melanggar hukum ALLAH, mereka menjadi telanjang, lalu TUHAN mengusir mereka dari taman Eden, bagaikan kita sekarang tercampak di dunia yang fana ini, hubungan kita terpisah jauh. Tapi puji TUHAN kita mempunyai seorang pengantara, Yesus Kristus, Dia memperdamaikan kita dengan ALLAH supaya kita kembali bersatu dengan ALLAH. Mari kita menikmati pelayanan Imam besar.
Dan menara juga adalah tempat untuk menyimpan senjata. Lalu 1000 perisai tergantung padanya. Senjata rohani yang kita terima dari TUHAN bergantung pada menara -> Doa Penyembahan.
Ayo sungguh-sungguh menjadi suatu kehidupan yang digambarkan seperti menara, berarti hidup dalam doa penyembahan, juga menjadi pendamaian. Inilah gambaran dari satu kehidupan gereja yang sudah dewasa rohani; TELAH SIAP SEDIA, SESUAI DENGAN Wahyu 19:7: “... Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia …” = dewasa.
Terkait dengan dinamika kedewasaan telah diuraikan dan telah kita pelajari. Selamat menempuh kedewasaan rohani. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang