KAMI NANTIKAN KESAKSIAN-KESAKSIAN SAUDARA YANG SUDAH MEMBACA FIRMAN TUHAN PADA BLOG INI

Terjemahan

Search This Blog

IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 17 OKTOBER 2026




IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 17 OKTOBER 2026

STUDY YUSUF

(Seri: 39)


Subtema:  KEMAH DI LANGIT.


Shalom.

Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya kita sekaliannya dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, sehingga kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Kaum Muda Remaja, semua karena kemurahan Tuhan. Biarlah kiranya kita semua ada dalam pengaruh yang besar dari Roh Allah yang suci sehingga nanti damai sejahtera dari Sorga memenuhi ruangan ini dan hati kita masing-masing, sehingga ada sukacita dan bahagia saat duduk diam menikmati sabda Allah.


Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan Tuhan yang turut bergabung lewat online/live streaming atau video internet baik dari YouTube, Facebook, juga dari TikTok. Selanjutnya Tuhan sebentar akan menolong kita dan kita akan ikuti firman penggembalaan untuk Ibadah Kaum Muda Remaja dari STUDY YUSUF. 


Mari kita mengikuti STUDY YUSUF sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Kaum Muda Remaja dan kita masih berada di Kejadian 44:18-34 dan malam ini merupakan seri ke-39 kalinya. Namun sebelum kita membahas Kejadian 44:18-34 biarlah kita semua tetap berdoa dalam roh dan mohon kemurahan dari TUHAN supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi. 


Singkat kata, seluruh ayat-ayat Firman ALLAH yang tertulis pada Kejadian 44:18-34, merupakan tutur kata Yehuda kepada Yusuf sebagai mangkunegara (raja muda) di Mesir. Dalam tutur kata tersebut, Yehuda memohon kelepasan bagi Benyamin, adiknya itu. Sebab apabila Benyamin tidak kembali ke Kanaan, maka Yakub:

  • Turun ke dunia orang mati karena nasib celaka … (ayat 29).

  • Turun ke dunia orang mati karena dukacita … (ayat 31).

Dari perhatian Yehuda kepada Yakub kita bisa melihat bahwa Yehuda hormat kepada orang tuanya.

Sementara Alkitab berkata, hormat kepada orang tua lanjut umur di tanah air Kerajaan Sorga, sesuai dengan yang tertulis pada Keluaran 20:12.

Maka kaum muda remaja tidak rugi apabila hormat kepada orang tua, sebab apabila hormat kepada orang tua Alkitab berkata lanjut umur di tanah air Kerajaan Sorga.


Perlu untuk kita ketahui bersama: Adapun tutur kata Yehuda kepada Yusuf adalah tutur kata yang terangkai dengan baik dan tertata dengan rapih menjadi perkataan yang elok, manis, dan sedap didengar.

Pendeknya, kaum muda remaja perlu untuk mencontoh Yehuda di dalam hal merangkai kata-kata menjadi kata-kata yang baik, manis dan sedap untuk didengar. Berarti, kaum muda remaja tidak mudah mengumbar kata-kata, tidak asal berucap apalagi mengucapkan kata-kata yang tidak penting dan kata-kata yang kotor.


Berjanjilah kepada Tuhan, kaum muda remaja tidak lagi asal berucap, tidak mengucapkan kata-kata yang tidak penting, tidak lagi mengucapkan kata-kata yang kotor, tetapi kata-kata itu tersusun dengan baik dan menjadi kata-kata yang baik, manis, dan sedap untuk didengar.


Amsal 16:24

(16:24) Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.


Perkataan yang menyenangkan adalah seperti SARANG MADU, berarti:

  1. Manis bagi hati.

Artinya: Perkataan yang terangkai dengan baik sifatnya menghibur.

  1. Obat bagi tulang-tulang.

Artinya: Perkataan yang terangkai dengan baik menguatkan orang yang rapuh. Itulah pentingnya ada sendi-sendi dan tulang-tulang pada anggota tubuh, sehingga anggota tubuh itu menjadi kuat.


Amsal 16:21

(16:21) Orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat meyakinkan.


Orang yang bijaksana disebut BERPENGERTIAN atau BERAKAL BUDI, sebab perkataannya manis lebih dapat meyakinkan, karena sifatnya menghibur dan menguatkan.

Singkat kata, Yehuda adalah orang yang bijaksana/pengkhotbah yang baik, sebab di mulutnya ada firman Allah, yaitu; perkataan yang manis (menghibur dan menguatkan), sesuai dengan Wahyu 10:9, “... di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu.”


CIRI-CIRI KHOTBAH YANG BAIK.

YANG PERTAMA: Tidak berpihak pada daging.

Sebab ketika Yehuda menyampaikan permohonannya yaitu perkataan yang terangkai kepada Yusuf, ia tidak membenarkan dirinya sedikitpun, sebagaimana yang tertulis pada Kejadian 44:16.

Kemudian, hal berikutnya Yehuda tidak kompromi terhadap kesalahan.

Sebab Yehuda sama sekali tidak membela Benyamin sebagai yang tertuduh karena kenyataannya piala perak Yusuf itu ditemukan di dalam karung Benyamin, sebagaimana yang tertulis dalam Kejadian 44:12.


Ketika kepala rumah Yusuf menggeledah semua karung dari saudara-saudara Yusuf mulai dari yang sulung (Ruben) sampai kepada yang bungsu (Benyamin), dan akhirnya ditemukanlah piala perak Yusuf di dalam karung Benyamin. Sebetulnya piala perak itu ada di dalam karung Benyamin itu sudah diatur oleh Yusuf, sebab Yusuf adalah sutradara yang baik, dia membuat semuanya itu karena ada sesuatu rencana yang indah yang nanti akan dialami oleh keluarga Yakub di Kanaan.

Jadi, Tuhan Allah yang kita sembah adalah sutradara yang handal, Dia adalah pembuat skenario, penulis yang baik terkait dengan karakter selama kita ada di atas muka bumi ini.


Itulah ciri khotbah yang pertama yaitu tidak berpihak kepada daging dan tidak kompromi kepada kesalahan.

Saya ini gembala atau disebut juga pemimpin sidang jemaat, di dalam hal menyampaikan firman Allah tidak boleh berpihak kepada daging, apalagi membenarkan diri saya sendiri, juga tidak boleh berpihak kepada daging dari sidang jemaat. 

Kemudian, seorang pengkhotbah yang baik tidak boleh kompromi terhadap kesalahan yang mungkin telah diperbuat oleh sidang jemaat dan mungkin kesalahan itu nampak di depan mata si pengkhotbah. Maka, pengkhotbah yang baik tidak boleh terbawa perasaan, tidak boleh takut, tidak boleh kuatir karena sidang jemaat adalah miliknya Tuhan, bukan milik seorang gembala.  Intinya, Yehuda adalah seorang pengkhotbah yang baik.


YANG KEDUA.

Kejadian 44:18

(44:18) Lalu tampillah Yehuda mendekatinya dan berkata: "Mohon bicara tuanku, izinkanlah kiranya hambamu ini mengucapkan sepatah kata kepada tuanku dan janganlah kiranya bangkit amarahmu terhadap hambamu ini, sebab tuanku adalah seperti Firaun sendiri.


“... Mohon bicara tuanku, izinkanlah kiranya hambamu ini mengucapkan sepatah kata kepada tuanku ...” Berarti dalam berkata-kata tidak boleh asal/sembarangan, umpama kita mau berbicara dengan orang tua maka tidak boleh asal berucap namun harus “mohon izin”.


Demikian juga kaum muda remaja; di sekolah, di tempat perkuliahan juga jangan asal berucap kepada dosen atau guru. Demikian juga kaum muda yang sudah bekerja, jangan asal berucap terhadap atasannya meskipun atasan itu bengis, yang pasti “atasan itu berasal dari Sorga.” Sebab tidak akan ada bawahan tanpa atasan. Oleh sebab itu jangan asal berucap kita harus tahu menempatkan diri sebagai anak-anak TUHAN yang baik, seperti Yehuda


Selanjutnya Yehuda berkata kepada Yusuf: "... tuanku adalah seperti Firaun sendiri."

Pendeknya, dari mulut Yehuda keluar perkataan yang sifatnya mengakui kebesaran, kekuasaan dan kemuliaan Yusuf. Hal itu sesuai dengan pengakuan Firaun kepada Yusuf di dalam  Kejadian 41:40-41, “Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.”


Terkait dengan ciri khotbah yang sifatnya mengakui kebesaran dan kemuliaan Tuhan, kita bisa telusuri di dalam Mazmur 19:2-5. 

Mazmur 19:2-5 --- Perikop: "Kemuliaan TUHAN dalam pekerjaan tangan-Nya dan dalam Taurat-Nya."

(19:2) Langit menceritakan kemuliaan ALLAH, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; (19:3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. (19:4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; (19:5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, 


Ada dua jenis khotbah yang menceritakan tentang kebesaran, kekuasaan, dan kemuliaan Tuhan:

YANG PERTAMA, ditulis pada ayat 2-4. Hal ini telah diterangkan dan telah kita bahas bersama-sama.


YANG KEDUA (ayat 5B): “Ia memasang kemah di langit untuk matahari”.

Singkatnya, di langit ada kemah atau tempat kediaman bagi matahari. Ini adalah sebuah lukisan/gambaran dari kebesaran, kekuasaan dan kemuliaan Allah.

Kemah juga disebut TABERNAKEL.

  • Tabernakel dalam bahasa Ibrani disebut "Mishkan."

  • Tabernakel dalam bahasa Yunani disebut "Skene."


Mengapa Alkitab ditulis dalam bahasa Ibrani dan ditulis dalam bahasa Yunani?

Jawabanya:

  • Perjanjian Lama yang disebut Kitab para nabi ditulis dalam bahasa IBRANI.

  • Sedangkan, Perjanjian Baru yang disebut Injil Kristus ditulis dalam bahasa YUNANI.

Dari bentuk penulisan ini dapat kita lihat bahwasanya, keselamatan itu datang dari Israel, karena Tuhan tidak hanya menyelamatkan bangsa Israel/bangsa Yahudi/orang Ibrani, tetapi pada akhirnya Tuhan juga menyelamatkan BANGSA KAFIR. Itu sebabnya, kitab suci di setiap negara akhirnya ditulis menurut suku, kaum, bahasa masing-masing.


Sebetulnya lukisan itu sudah dinyatakan di dalam Mazmur 19:2, “Langit menceritakan kemuliaan ALLAH, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” 

“Pekerjaan tangan-Nya, atau Karya Allah yang terbesar adalah salib di Golgota”, dimana peristiwa itu tersembunyi dari abad ke abad, dari keturunan ke keturunan. Namun, pada ayat 3 dikatakan: “hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.” 

Jadi, ayat 2 berbicara soal ruang yang luas /kesempatan, sedangkan ayat 3 berbicara tentang waktu. Untuk apa kesempatan dan waktu itu? Pada ayat 4-5 dikatakan: “Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia.” Akhirnya salib di Golgota terpencar di seluruh dunia dan sampai ke ujung bumi, sesuai dengan waktunya TUHAN.

Itulah sebabnya, kitab suci ditulis dalam 2 (dua) bahasa yaitu; 

  • Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani dan 

  • Perjanjian Baru (Injil Kristus) ditulis dalam bahasa Yunani.


Sedangkan, pengertian dari kemah atau Tabernakel adalah; TEMPAT KEDIAMAN.

Kita ini adalah kemah/rumah Tuhan disebut juga Tabernakel, tempat kediaman Allah, tempat Roh Allah beraktivitas.


Wahyu 21:2-3

(21:2) Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. (21:3) Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.


“Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.”  Dari ayat ini kita dapat melihat dan memperoleh pengertian bahwa mempelai wanita Tuhan adalah Tabernakel.

Hidup kita ini adalah kemah disebut juga Tabernakel, tempat kediaman Allah dalam roh.


Yohanes 1:14

(1:14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.


Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita = Allah BERTABERNAKEL = Tabernakel Bertabernakel.

Pendeknya, manusia adalah Tabernakel/tempat kediaman Allah.

 

Saya senang dan bahagia menyampaikan Ibrani 8:1-5 dengan perikop "Imam Besar perjanjian baru" tidak lain tidak bukan adalah pribadi Yesus Kristus. Kalau imam besar di Tabernakel Musa adalah Harun.


Ibrani 8:1-5 --- Perikop: "Imam Besar perjanjian baru."

(8:1) Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, (8:2) dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. (8:3) Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan korban dan persembahan dan karena itu Yesus perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan. (8:4) Sekiranya Ia di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang mempersembahkan persembahan menurut hukum Taurat. (8:5) Pelayanan mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah: "Ingatlah," demikian firman-Nya, "bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu."


Ibadah pelayanan di bumi adalah gambaran dan bayangan dari ibadah pelayanan yang ada di Sorga, bila ibadah pelayanan di bumi menggunakan pola Tabernakel.

Intinya, Tabernakel yang sejati ada di dalam Kerajaan Sorga (ada di langit) = kemah ada di langit.

Sedangkan yang menjadi Imam Besarnya adalah; Tuhan Yesus Kristus, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di Sorga.


Itu sebabnya saya katakan bahwa saya senang sekali untuk membahas Ibrani 8:1-5 bersama-sama dengan kaum muda remaja malam ini, supaya kita tahu kebenaran tentang “kemah”, disebut juga  Tabernakel, yang adalah tempat kediaman Allah itu sendiri.


Singkat kata, bila ibadah pelayanan di bumi ini, kita kerjakan dengan menggunakan pola Tabernakel maka Tuhan Yesus Kristus akan hadir di tengah-tengah ibadah pelayanan tersebut sebagai Imam Besar. Memang sekarang Dia melayani di Sorga tetapi kalau ibadah pelayanan di bumi ini kita kerjakan dan menggunakan pola Tabernakel, maka Tuhan ada di tengah-tengah peribadatan itu sebagai Imam Besar untuk melayani, berdoa, dan memperdamaikan kita kepada Bapa di Sorga.


Maka kita patut bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus, kaum muda remaja GPT "Betania" digembalakan oleh firman pengajaran Mempelai dan digembalakan oleh firman pengajaran Tabernakel. 

Ini bukanlah ajaran sesat, sebab dahulu banyak anak-anak Tuhan, bahkan tidak sedikit hamba-hamba Tuhan mengatakan bahwa, pengajaran Tabernakel adalah pengajaran kadaluarsa/expired karena tertulis di dalam Perjanjian Lama, padahal Tuhan sendiri mengatakan dalam Matius 5:18, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat ...”

Hanya saja kita membangun Tabernakel yang rohani, bukan Tabernakel secara lahiriah. Kemudian, membangun Tabernakel harus sesuai dengan petunjuk/model yang ditunjukkan oleh Tuhan kepada Musa di atas gunung Sinai, gunung Horeb, gunung Tuhan … (Ibrani 8:5).


Malam ini, kita ada di gunung Sinai, gunung Horeb, gunung Tuhan rohani, untuk dibangun, menjadi kemah ada di langit, seperti yang tertulis dalam Mazmur 19:5, “... Ia memasang kemah di langit.” 

Jadi, anak-anak Tuhan, umat ketebusan Tuhan atau mungkin hamba-hamba Tuhan yang turut bergabung lewat online, terimalah Pengajaran mempelai dalam terangnya Tabernakel. Alasannya; Gereja Tuhan (anak-anak Tuhan) harus dibangun menurut pola Tabernakel sesuai dengan contoh yang Tuhan berikan kepada Musa di atas gunung Sinai/gunung Horeb/gunung Tuhan.

Jemaat tidak boleh dibangun menurut model-model yang lain atau menurut model gembala itu sendiri. Tidak boleh dibangun menurut kehendak dan keinginan dari seorang hamba TUHAN.


Imamat 26:11

(26:11) Aku akan menempatkan Kemah Suci-Ku di tengah-tengahmu dan hati-Ku tidak akan muak melihat kamu.


Jadi, apabila ibadah pelayanan menggunakan pola Tabernakel, maka; HATI TUHAN ada disitu. Berarti di tengah ibadah pelayanan itu yang dibicarakan adalah soal hatinya Tuhan bukan yang lain-lain, sampai satu kali kelak, hati kita menyatu dengan hati Tuhan, dengan lain kata “kemah ada di langit.”

Jika hati Tuhan yang dibicarakan maka si pengkhotbah tidak lagi sibuk berbicara soal daging dan segala keinginannya, dunia dengan arus yang menghanyutkan, dan soal kenajisan percabulan.


Pendeknya, kita harus digembalakan oleh pengajaran Mempelai dan pengajaran Tabernakel yang sangat berkuasa membawa hidup kita, sampai ke langit.


Kita lihat persamaannya.

Efesus 4:12-13

(4:12) untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, (4:13) sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,


Firman pengajaran mempelai dalam terang Tabernakel membawa kita masuk dalam kegerakan yang besar yaitu; PEMBANGUNAN TUBUH KRISTUS, menjadi Gereja TUHAN yang sempurna, disebutlah itu sidang mempelai wanita Tuhan.

Dari ayat ini samar-samar kita melihat bahwa kemah ada di langit.


Bukan hanya pemazmur saja yang dapat melihat kemah ada di langit, namun kaum muda remaja GPT “Betania”  dan saudara yang mengikuti secara online sedang samar-samar melihat kemah ada di langit. 

Berarti ibadah pelayanan dalam penggembalaan GPT “Betania” yang menggunakan pola Tabernakel adalah satu sukacita besar dalam hidup kita, karena kalau kita digembalakan oleh pengajaran mempelai dan pengajaran Tabernakel maka kita dibawa sampai kepada tujuan hidup, masuk dalam pembangunan tubuh Kristus, menjadi Gereja TUHAN yang sempurna, disebutlah itu sidang mempelai wanita Tuhan. Dengan demikian, saat ini samar-samar kita melihat kemah ada di langit dan hati kita sudah diarahkan ke sana, kelak kita akan melihat Dia, secara face to face di awan-awan nan Permai (di langit).


Maka tidak ada ruginya, berada pada jam-jam ibadah, untuk duduk diam memuji Tuhan, duduk diam mendengarkan firman Tuhan apalagi digembalakan oleh Pengajaran mempelai dan pengajaran Tabernakel, sebab hidup kita sekarang sedang diarahkan ke langit. Saya bersyukur sebagai hamba Tuhan menjadi perpanjangan mulut Tuhan, di dalam hal menyampaikan Firman Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel. 


Efesus 4:15

(4:15) tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.


Hendaklah kita berpegang teguh kepada kebenaran yaitu firman pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel, maka:

  • Di dalam kasih kita bertumbuh.

Pertumbuhan itu nyata pada ayat 13, antara lain:

  1. Mencapai kesatuan iman.

  2. Mencapai pengetahuan yang benar tentang Anak Allah.

  3. Mencapai  kedewasaan penuh.

  4. Mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.


  • Dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala.

Pendeknya, pertumbuhan yang terjadi mengarah kepada Yesus Kristus sebagai Kepala. Kalau ada Kepala berarti ada tubuh, yang kita tahu Kristus adalah Kepala dan sidang jemaat adalah tubuh-Nya, kelak menjadi mempelai wanita Tuhan, dengan catatan berpegang teguh kepada kebenaran yaitu firman pengajaran Mempelai dan pengajaran Tabernakel.

Jangan pernah ada pemikiran untuk melepaskan pengajaran Tabernakel, jangan nekat melepaskan pengajaran Tabernakel, jika seseorang melepaskan pengajaran Tabernakel menurut saya orang itu = bunuh diri.


Kita bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan Yesus Kristus, yang sangat mengasihi kehidupan kita masing-masing. Jika pertumbuhan mengarah kepada Kristus sebagai Kepala, maka dengan demikian pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel membawa kita sampai ke langit, sesuai dengan Mazmur 19:5 “di langit ada kemah.” Apa yang ada padamu itu adalah hak kesulungan, supaya kita disulungkan lewat pengajaran Mempelai dan pengajaran Tabernakel. Mempelai wanita Tuhan itu adalah Roh kesulungan, milik kepunyaan Allah sendiri.


Wahyu 12:1 --- Perikop: “Perempuan dan naga.”

(12:1) Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.


“Tampaklah suatu tanda besar di langit” =  Di langit ada KEMAH, disebut juga Tabernakel, tempat kediaman Allah sendiri … Mazmur 19:5.

Kemah di langit -> gereja Tuhan yang sempurna yakni sidang mempelai wanita Tuhan.

  1. “Berselubungkan matahari” = Disalut oleh dari kasih Allah Bapa.

  2. “Bulan di bawah kakinya” = Berdiri di atas korban Anak Domba yang disembelih.

Kalau berdiri di tempat lain kita tidak kuat, tetapi pendirian yang benar adalah kalau berdiri di atas korban Anak Domba ALLAH yang telah disembelih (berdiri diatas korban Kristus) maka kita pasti kuat. Oleh sebab itu, arahkanlah pandanganmu senantiasa kepada salib, disitulah kita berdiri supaya kita memperoleh kekuatan di dalam hal menghadapi kesulitan-kesulitan / kesukaran-kesukaran yang sekarang ini semakin hari semakin menjadi-jadi. 

Sedikit kesaksian; saat ini saya berusia 53 tahun, saya berani berkata, bahwasannya keadaan dunia sekarang ini, tidak sama seperti keadaan 30 tahun yang lalu, tidak sama seperti 40 tahun yang lalu. 40 tahun yang lalu lebih damai dari 20 tahun yang lalu, 20 tahun yang lalu lebih damai daripada 10 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu, lebih damai dari sekarang ini. Itu berarti, dunia dan keadaanya semakin hari bukan semakin membaik melainkan semakin sulit dan sukar. Oleh sebab itu gereja Tuhan termasuk kaum muda remaja, harus berdiri di atas korban dari Anak Domba Allah yang telah disembelih. Maka, pada ayat lain dikatakan bulan itu merah, berbicara tentang Anak Domba yang telah disembelih.

 c. “Sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepala” = Ditinggikan -> orang yang diurapi 

     oleh Tuhan. Sudah mendapatkan mahkota berarti sudah menjadi ratu / Mempelai Wanita 

     TUHAN.


Jelas bahwa Wahyu 12:1 menampilkan gereja Tuhan yang sempurna, yaitu; Mempelai Wanita Tuhan, tempat kediaman Allah sendiri … (Wahyu 21:2-3).

Pada Wahyu 12:1 dikatakan; “tampaklah suatu tanda besar di langit” satu kali nanti, hal itu akan tergenapi, karena Firman Allah YA dan AMIN. 


Maka bukan suatu kebetulan jika kehidupan kaum muda remaja digembalakan oleh, Pengajaran Mempelai dan Pengajaran Tabernakel, karena Tuhan hendak menyatakan kasih karunia-Nya kepada kita. Maka engkau juga berada di tengah ibadah pelayanan dalam penggembalaan GPT “Betania” bukan suatu kebetulan karena Tuhan tahu apa yang hendak Dia perbuat kepada kita.


Kisah tentang, Tuhan memberi makan 5000 orang laki-laki dengan 5 roti dan 2 ikan, sisa 12 bakul, pada saat itu, Yesus berkata kepada Filipus; “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan? Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.” Yohanes 6:5-6.

Dalam keadaan situasi lapar dan tidak punya apa-apa itu bisa saja terjadi atas seizin Tuhan, karena sesungguhnya Tuhan tahu apa yang Tuhan mau lakukan kepada kita.


Itu sebabnya sekali lagi saya sampaikan dengan tandas, kita ini adalah orang-orang yang paling beruntung dan berterimakasih kepada Tuhan karena digembalakan oleh Pengajaran Mempelai dan Pengajaran Tabernakel yang akan mengarahkan kita kepada kesempurnaan, sehingga sekarang kita dengan “samar-samar” melihat “kemah ada di langit” itulah gambaran dari gereja Tuhan yang sempurna, sidang mempelai wanita Tuhan yang ditampilkan dalam Wahyu 12:1, “suatu tanda besar di langit”.


Sekali lagi saya sampaikan dengan tandas bahwa Kemah/Tabernakel adalah tempat kediaman Allah di langit. Jadi sudah terbukti apa yang tertulis di dalam Mazmur 19:5b; “kemah di langit “

Tabernakel terdiri dari 3 (tiga) daerah:

  • Daerah pertama disebut HALAMAN.

  • Daerah kedua disebut RUANGAN SUCI.

  • Daerah ketiga disebut RUANGAN MAHA SUCI.


Daerah Pertama: DAERAH HALAMAN disebut juga daerah pembenaran. Berarti dibenarkan oleh 2 (dua) alat yang ada di Halaman yaitu:

  1. Mezbah Korban Bakaran -> Pertobatan, gambaran dari salib di Golgota dimana Yesus yang menjadi korban.

  2. Kolam Pembasuhan Tembaga berbicara soal baptisan air -> Pengalaman kematian dan kebangkitan Yesus. Itulah yang membenarkan hidup dari gereja Tuhan, anak-anak Tuhan, termasuk yang membenarkan hidup dari kaum muda remaja GPT “Betania” Serang & Cilegon.


Daerah Kedua: DAERAH RUANGAN SUCI disebut juga tempat pengudusan, sesuai dengan 3 alat di dalamnya.

  1. MEJA ROTI SAJIAN, berarti dikuduskan / disucikan Firman Allah.

  2. PELITA EMAS, berarti dikuduskan / disucikan oleh Roh Allah yang suci.

  3. MEZBAH DUPA, berarti dikuduskan / disucikan oleh Kasih Allah.


DAERAH RUANGAN MAHA SUCI disebut juga tempat penyempurnaan.

Tempat penyempurnaan itu, sesuai dengan satu alat yang ada di dalamnya yaitu; Tabut Perjanjian. 

Pendeknya, ukuran dari kesempurnaan tersebut, tampak dengan jelas pada Tabut Perjanjian.

Sedangkan Tabut Perjanjian bicara soal 2 (dua) hal:

  1. Takhta Allah.

  2. Hubungan nikah antara Kristus sebagai Mempelai Laki-Laki dengan sidang jemaat sebagai Mempelai Perempuan-Nya yang dibangun di atas dasar kasih.

Pendeknya, Tabut Perjanjian mencerminkan kemuliaan dan kesempurnaan. 


Segala sesuatu diukur oleh tongkat pengukur itulah firman Allah;

  • Kebenaran diukur oleh firman Allah,

  • Kesucian diukur oleh firman Allah,

  • Kesempurnaan diukur oleh firman Allah.

Itu sebabnya kita harus digembalakan oleh Firman Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel.

Dari penjelasan demi penjelasan firman Allah yang kita terima malam ini, sekarang ini kita dengan “samar-samar” melihat kemah ada di langit karena Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel membawa kita kepada kegerakan yang besar itulah pembangunan tubuh Kristus yang sempurna disebutlah itu Sidang Mempelai Wanita Tuhan, “kemah Allah ada di langit.”

Jadi, Wahyu 12:1 sama persis dengan Mazmur 19:5B “di langit ada kemah.” 

Tuhan memberkati kita semua, jika Tuhan kehendaki kita akan melanjutkan pemberitaan firman ini di minggu yang akan datang. Amin.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI


Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang