IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 26 SEPTEMBER 2026
STUDY YUSUF
(Seri: 36)
Subtema: KHOTBAH TANPA SUARA
Shalom.
Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya kita sekalian dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, kita boleh datang menghadap TUHAN lewat Ibadah Kaum Muda Remaja malam ini.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN yang turut bergabung lewat online/live streaming atau video internet baik lewat YouTube, Facebook, TikTok, dimanapun saudara berada.
Mari kita mengikuti STUDY YUSUF sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Kaum Muda Remaja. Kita masih memperhatikan Kejadian 44:18-34 dan malam ini merupakan seri pemberitaan Firman ALLAH ke-36. Namun tetaplah berdoa dalam roh dan mohon kemurahan dari TUHAN supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi. Selanjutnya biarlah damai sejahtera dan sukacita meliputi kehidupan kita saat kita duduk diam menikmati sabda ALLAH.
Singkat kata, seluruh ayat Firman ALLAH yang tertulis dalam Kejadian 44:18-34, merupakan tutur kata Yehuda kepada Yusuf sebagai raja muda (mangkunegara) di Mesir. Dalam tutur kata itu Yehuda memohon kelepasan bagi Benyamin adiknya itu.
Adapun alasan Yehuda memohon kelepasan bagi Benyamin, dituliskan dengan lengkap pada ayat 29-31, yaitu: Apabila Benyamin tidak kembali ke Kanaan, maka Yakub:
Turun ke dunia orang mati karena nasib celaka … (ayat 29).
Turun ke dunia orang mati karena dukacita … (ayat 31).
Dari sini dapat kita bisa melihat bahwa Yehuda adalah anak yang hormat kepada orang tuanya. Sementara apabila hormat kepada orang tua maka lanjut umur di tanah kerajaan Sorgawi, sesuai yang tertulis dalam Keluaran 20:12.
Hormat kepada orang tua jasmani, hormat kepada orang tua rohani dua kali lipat dan hormat kepada Bapa si Sorga lebih dari segala-galanya supaya lanjut umur di tanah yang dijanjikan TUHAN itulah tanah Sorgawi yang menjadi milik pusaka kita untuk selama-lamanya. Sebagaimana simulasi dari 12 suku Israel berada di tanah Kanaan, kemudian tanah itu dibagi masing-masing kepada 12 suku Israel.
Adapun tutur kata Yehuda kepada Yusuf sangat terangkai dengan baik, sehingga menjadi ...
sebuah kata-kata yang tersusun dengan rapih,
sebuah pernyataan yang elok, indah dan manis untuk didengar.
Kaum muda remaja perlu mencontoh pribadi Yehuda didalam hal merangkai kata-kata yang baik dan manis sehingga sedap untuk didengar. Berarti, jangan asal berucap/asal berbicara, maka berucap itu perlu dipikirkan terlebih dahulu, apakah perkataan itu menyenangkan hati TUHAN atau tidak.
Jika perkataan itu menyenangkan hati TUHAN maka sifatnya membangun orang lain, menghibur orang lain. Kemudian, jangan mengucapkan kata-kata kotor yang tidak berfaedah.
Oleh sebab itu, kita tidak boleh asal berucap namun harus terlebih dahulu dipikirkan dahulu. Jika perkataan itu hanya asal terucap itu hanyalah perkataan kosong saja. Kemudian, jangan berucap karena kepentingan daging, sebab jika diukur dengan waktu ternyata perkataan itu tidak terbukti.
Amsal 16:24
(16:24) Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.
Perkataan yang menyenangkan adalah seperti SARANG MADU, berarti:
Manis bagi hati.
Pendeknya, orang yang sedang bermasalah dengan hatinya sangat mendambakan perkataan yang manis.
Contoh:
Amsal 15:1A, "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman ..."
Amsal 12:18B, “... tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.”
Amsal 12:25B, “... tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.”
Obat bagi tulang-tulang.
Pendeknya, orang yang rapuh dikuatkan oleh perkataan yang baik dan manis.
Amsal 16:21
(16:21) Orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat meyakinkan.
Orang yang bijaksana memiliki pengertian atau berakal budi, sebab perkataannya manis dan perkataan seperti ini dapat meyakinkan orang lain.
Pendeknya, Yehuda adalah orang yang bijaksana dan berakal budi, sebab pada mulutnya ada Firman ALLAH yakni perkataan yang manis … Wahyu 10:9, “... di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu.”
Pendeknya, perkataan yang terangkai dengan baik sehingga tersusun dengan rapih, elok, dan manis didengar itulah khotbah yang keluar dari mulut orang bijasakana.
CIRI-CIRI KHOTBAH YANG BAIK.
YANG PERTAMA: Tidak berpihak pada daging.
Sebab, ketika Yehuda menaikkan permohonan kepada Yusuf, ia tidak membenarkan dirinya sedikitpun, sebagaimana yang tertulis Kejadian 44:16.
Kemudian, tidak kompromi terhadap kesalahan, sebab Yehuda tidak membela Benyamin sebagai yang tertuduh karena kenyataannya piala perak Yusuf ditemukan di karung Benyamin.
YANG KEDUA.
Kejadian 44:18
(44:18) Lalu tampillah Yehuda mendekatinya dan berkata: "Mohon bicara tuanku, izinkanlah kiranya hambamu ini mengucapkan sepatah kata kepada tuanku dan janganlah kiranya bangkit amarahmu terhadap hambamu ini, sebab tuanku adalah seperti Firaun sendiri.
Yehuda berkata kepada Yusuf: "... tuanku adalah seperti Firaun sendiri."
Pendeknya, khotbah yang baik cirinya adalah mengakui kebesaran, kekuasaan dan kemuliaan dari TUHAN.
Oleh sebab itu, seorang hamba TUHAN jangan sibuk menyampaikan kemuliaan yang berasal dari bawah itulah perkara lahiriah dan perkara daging.
Kejadian 41:40-41 --- Perikop: "Yusuf di Mesir sebagai penguasa."
(41:40) Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu." (41:41) Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: "Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir."
Perkataan Yehuda kepada Yusuf sesuai dengan pengakuan Firaun terhadap Yusuf yaitu:
Menjadi kuasa atas istana Firaun.
Seluruh rakyat taat kepada Yusuf.
Berarti, Yusuf menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.
Singkatnya, salah satu ciri khotbah yang baik adalah mengakui kebesaran, kekuasaan, dan kemuliaan yang datang dari TUHAN. Itulah yang dihadirkan di bumi ini dalam setiap pertemuan-pertemuan ibadah supaya nama TUHAN dijunjung tinggi dalam kehidupan kita masing-masing.
Jadi seorang hamba TUHAN, terlebih seorang gembala sidang, apabila ia sibuk berbicara soal kebesaran, kekuasan dan kemuliaan dari dunia itu merupakan contoh khotbah yang tidak baik.
Saya sebagai seorang gembala sidang (pemimpin sidang jemaat) boleh saja sekali waktu menceritakan seorang hamba TUHAN dalam kelebihannya, yaitu; didalam hal mentaati Firman ALLAH, tetapi pokok pembahasan Firman ALLAH tidak boleh sibuk disitu.
Hal itu ditulis dengan lengkap oleh raja Daud yang juga diakui sebagai NABI.
Tugas nabi adalah bernubuat berarti menyingkapkan segala sesuatu yang akan terjadi supaya keadaan kita baik di depan.
Mazmur 19:2-6 --- Perikop: "Kemuliaan TUHAN dalam pekerjaan tangan-Nya dan dalam Taurat-Nya."
(19:2) Langit menceritakan kemuliaan ALLAH, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; (19:3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. (19:4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; (19:5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, (19:6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.
Ada dua jenis khotbah yang menceritakan tentang kebesaran, kekuasaan, dan kemuliaan ALLAH:
Jenis KHOTBAH PERTAMA: Lewat perbuatan tangan TUHAN / suara dari perbuatan (ayat 2-4A).
Disini dikatakan:
Langit menceritakan kemuliaan ALLAH, dan cakrawala menberitakan perbuatan tangan-Nya.
Hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.
Saudara, kalau kita berbicara langit/cakrawala, jelas itu menunjuk pada; Ruang.
Sebab kita ini hidup di atas muka bumi tetapi ada di bawah kolong langit.
Sementara "ruang" berbicara tentang KESEMPATAN luas yang harus dipergunakan dengan baik selama kita tinggal di atas bumi, di bawah kolong langit.
Mari kita gunakan kesempatan yang luas ini dengan baik, jangan disia-siakan dan jangan buang-buang tetapi pergunakan kesempatan yang ada untuk datang menghadap TUHAN lewat pertemuan-pertemuan ibadah kita.
2 Petrus 3:8 --- Perikop: "Hari TUHAN."
(3:8) Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan TUHAN satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.
Di hadapan TUHAN, 1 (satu) hari =1000 (seribu) tahun sebaliknya 1000 (seribu) tahun = 1(satu) hari. Jelas ayat ini berbicara tentang HARI KETUJUH jika kita kaitkan dengan PETA ZAMAN.
2000 tahun pertama disebut zaman ALLAH Bapa, dimulai dari Adam sampai Abraham.
2000 tahun kedua disebut zaman ALLAH Anak, dimulai dari Abraham sampai Yesus mati di atas kayu salib.
2000 tahun ketiga disebut zaman Roh El Kudus, dimulai dari Yesus mati, Roh Kudus turun sampai hari ini.
Saat ini kita berada pada 2000 tahun ketiga; zaman Roh-El Kudus berarti sudah 6000 tahun. Kemudian 6000 tahun = 6 hari dihadapan Tuhan, dimana kita harus bekerja, sebab hari ketujuh -> Kerajaan 1000 tahun damai di bumi, disebut juga dengan Firdaus.
Maka, untuk sampai hari ketujuh (1 hari itulah 1000 tahun) kita harus menggunakan kesempatan yang ada selama kita hidup di kolong langit, yaitu: 6000 tahun. Sebagaimana ALLAH, 6 hari lamanya bekerja menciptakan langit dan bumi dan segala isinya, tetapi hari ketujuh ALLAH berhenti itulah hari perhentian TUHAN ALLAH, seperti yang tertulis dalam Kejadian 1:31 dan Kejadian 2:1.
Kalau kita tidak menghargai kesempatan yang TUHAN berikan maka kita tidak akan sampai kepada hari ketujuh yaitu kerajaan seribu tahun damai.
Ibadah Kaum Muda Remaja adalah salah satu sarana bagi kita untuk mencapai kerajaan 1000 tahun damai.
2 Petrus 3:9
(3:9) TUHAN tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.
Kesabaran TUHAN adalah kesempatan yang indah supaya kita dapat bertobat/berbalik kepada TUHAN, sampai akhirnya adalah mencapai hari ketujuh itulah kerajaan 1000 tahun damai di bumi.
Tujuan untuk bertobat adalah supaya tidak ada yang binasa.
Jadi, “TUHAN tidak lalai” tetapi TUHAN sedang menunjukkan masa kesabaranNya supaya kita mendapat kesempatan untuk berbalik dan bertobat. Sebab TUHAN tidak menghendaki kebinasaan.
2 Petrus 3:10
(3:10) Tetapi hari TUHAN akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.
“Tetapi hari TUHAN akan tiba seperti pencuri.” Berarti kedatangan-Nya tiba-tiba, tidak ada yang mengetahuinya. Itu sebabnya, kita harus menghargai panjang sabar TUHAN sebab panjang sabar TUHAN adalah kesempatan, untuk berbalik dan bertobat kepada TUHAN karena TUHAN tidak menghendaki kebinasaan dari manusia.
Orang yang tidak menggunakan kesempatan yang TUHAN berikan satu kali akan lenyap dan binasa seperti langit bumi yang pertama dan segala yang ada di dalamnya, itulah unsur-unsurnya.
Kaum muda remaja sudah berapa banyak dan berapa kali kita mendapat pengertian terkait panjang sabar TUHAN yang adalah kesempatan bagi manusia. Sudah sampai sejauh mana kita menghargai kesempatan yang TUHAN berikan kepada kita? Apakah khotbah/Firman TUHAN yang berulang kali disampaikan itu hanya satu kebiasaan yang tidak perlu diperhatikan seperti ibadah orang munafik yang menjalankan ibadah tetapi hanya dalam bentuk Taurat/seremonial?
Namun apabila kaum muda remaja berlaku bijaksana, maka kesempatan demi kesempatan yang Tuhan beri adalah panjang sabar TUHAN maka kita tentu saja akan memperhatikannya dengan sungguh-sungguh, supaya kita jangan turut binasa seperti langit bumi dan segala unsurnya.
2 Petrus 3:11-12
(3:11) Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup (3:12) yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari ALLAH. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya.
Tanda-tanda apabila seseorang menghargai panjang sabar TUHAN sebagai kesempatan yang indah:
Hidup SUCI.
Kesucian = Pengharapan, sebagaimana yang tertulis dalam 1 Yohanes 3:3, “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.” Orang yang hidup suci adalah orang yang menaruh pengharapan kepada TUHAN yang berkuasa dan menolong manusia dari kebinasaan, dia tidak menaruh pengharapan kepada apapun di dunia ini, baik itu kepada kedudukan jabatan pangkat yang tinggi, juga tidak menaruh harap kepada ijazah, atau gaji sebulan.
Hidup SALEH.
Berarti takut akan TUHAN benci kejahatan, sebagaimana yang tertulis dalam Amsal 8:13, “takut akan TUHAN adalah benci kejahatan, antara lain: benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.”
2 Petrus 3.:13-14
(3:13) Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. (3:14) Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.
Orang-orang yang menantikan TUHAN, berusaha supaya kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan TUHAN di dalam perdamaian.
Marilah kita berusaha untuk tidak bercacat dan tidak bernoda dihadapan TUHAN berarti senantiasa memberikan diri disucikan oleh darah salib Kristus, sebab darah anak domba disebut darah yang tak bernoda dan tak bercacat, sebagaimana yang tertulis dalam 1 Petrus 1:18-19.
Contoh: disucikan oleh darah salib.
1 Yohanes 1:9-10
(1:9) Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1:10) Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan Firman-Nya tidak ada di dalam kita.
Jika kita berkata bahwa kita tidak ada berbuat dosa maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan Firman-Nya tidak ada di dalam kita.
Singkatanya, darah Yesus mampu menyucikan dosa manusia, namun syaratnya harus mengakui dosa, sebab dosa tidak dapat berlalu begitu saja karena lamanya waktu.
Perlu untuk kita ketahui; orang yang mengakui dosa tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, tetapi orang yang tidak mau mengakui dosanya akan terus mengulangi dosa yang sama.
Oleh sebab itu, akuilah segala dosa, kekurangan, kelemahan yang telah kita perbuat, tanda ia disucikan oleh darah anak domba yang tidak bernoda dan tidak bercacat.
TANDA TELAH DISUCIKAN OLEH DARAH YESUS.
2 Petrus 3:14
(3:14) Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.
Tanda disucikan oleh darah Yesus: Ia telah berdamai dengan ALLAH.
Berarti, kembali kepada ALLAH/bersatu dengan ALLAH.
Dahulu terpisah jauh dari ALLAH bahkan memusuhi ALLAH dalam hati dan pikiran. Begitu Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka diusir dari taman Eden, bagaikan kita tercampak di dunia ini sehingga jarak kita terpisah jauh dari TUHAN bahkan jarak langit dan bumi tidak bisa diukur.
Namun, kita telah memberikan diri disucikan oleh darah Anak Domba yang tak bernoda dan tak bercacat, cirinya adalah berdamai dengan ALLAH berarti bersatu kembali kepada ALLAH, karena Dia pemilik jiwa kita.
Seorang hamba TUHAN di tengah pengutusannya dipercayakan dua hal:
Pelayanan pendamaian.
Berita pendamaian.
Jadi orang yang terpisah jauh dari TUHAN membutuhkan pelayanan pendamaian dan berita pendamaian. Yesus telah mengerjakan pekerjaan penebusan dan pendamaian di atas kayu salib, berita semacam ini yang harus disampaikan supaya manusia berdamai dengan ALLAH itu berarti manusia bersatu dengan ALLAH.
Kolose 1:19-20 --- Perikop: "Keutamaan Kristus."
(1:19) Karena seluruh kepenuhan ALLAH berkenan diam di dalam Dia, (1:20) dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
Kita berdamai dengan ALLAH atau kembali bersatu dengan ALLAH karena BERITA PENDAMAIAN yaitu berita tentang; sengsara Yesus, sebagai pekerjaan penyelamatan yang telah dikerjakan Yesus di atas kayu salib 2000 tahun lalu.
Kolose 1:21-22
(1:21) Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari ALLAH dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, (1:22) sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.
Dahulu kita jauh dari ALLAH bahkan memusuhi ALLAH dalam hati, kemudian memusuhi ALLAH dalam pikiran, dan itu nyata dari perbuatan yang JAHAT.
Sekarang kita telah berdamai dengan ALLAH lewat salib Kristus, sebab disini dikatakan: “sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.”
Yesus telah mengalami sengsara dan mati di atas kayu salib itu pekerjaan penyelamatan sehingga kita bersatu dengan ALLAH.
Kita bersyukur dan berterimakasih kepada TUHAN, sebab bagaimana jadinya jika kita tidak diperdamaikan dengan ALLAH? Maka, tentu saja kita masih terpisah jauh dari TUHAN dan tidak bisa beribadah pada malam hari ini.
Orang jahat tidak dapat berdamai dengan ALLAH, bagi orang jahat lebih suka cari uang daripada datang berdamai dengan ALLAH lewat pertemuan ibadah, Namun, kejahatan kita telah dihapuskan oleh darah salib sebab Yesus telah menderita sengsara di atas kayu salib bahkan telah mati sehingga kita berdamai dengan ALLAH.
ALLAH menciptakan langit dan bumi selama enam hari dan hari ketujuh Dia berhenti, maka kita mempunyai kesempatan untuk mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar atau menyucikan diri dengan darah Yesus hanya enam hari saja.
Kita sudah melihat TUHAN menciptakan langit dan cakrawala dengan tangan-Nya, artinya khotbah yang baik adalah menceritakan kebesaran, kekuasaan dan kemuliaan TUHAN dengan dua cara yaitu berkhotbah dengan perbuatan hidup bukan dengan mulut.
Kita hidup di atas muka bumi di bawah kolong langit. Jadi kalau berbicara soal hidup dibawah kolong langit itu berbicara soal kesempatan, sebab langit -> Ruang. Maka kita harus gunakan kesempatan dengan baik.
Perbuatan tangan TUHAN telah menceritakan kebesaran TUHAN secara konsisten dan berkesinambungan sampai hari ini dan tidak berhenti.
Oleh sebab itu, seorang hamba TUHAN di tengah-tengah pengutusan, kepadanya dipercayakan pelayanan pendamaian dan berita pendamaian itulah perbuatan hidup yang ajaib.
Karya ALLAH yang terbesar adalah salib di Golgota dan TUHAN sudah memberikan ruang yang luas, yaitu: menghargai kesempatan.
2 Petrus 3:15
(3:15) Anggaplah kesabaran TUHAN kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.
Panjang sabar TUHAN adalah kesempatan emas untuk memperoleh selamat.
Jadi panjang sabar TUHAN itulah kesempatan, sementara kesempatan yang ada ini adalah KEMURAHAN bagi kita. Ruang yang luas ini adalah kesempatan emas untuk beroleh keselamatan.
1 Korintus 15:9
(15:9) Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat ALLAH.
Sebelum terpanggil untuk menerima jabatan Rasul, Paulus adalah seorang penganiaya jemaat, karena dia berpegang kepada hukum Taurat, maka dia menganiaya semua orang yang menjadi pengikut salib Kristus.
Sebagai seorang penganiaya Rasul Paulus menganggap dirinya hina/rendah bagaikan debu tanah, itulah akibat dosa.
1 Korintus 15:10
(15:10) Tetapi karena kasih karunia ALLAH aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia ALLAH yang menyertai aku.
Rasul Paulus mengaku bahwa dia ada sebagaimana dia ada atau dia hidup itu semua, hanya karena KASIH KARUNIA. Kemudian, kasih karunia yang dianugerahkan kepada dia itu tidak menjadi sia-sia. Kesempatan untuk melayani TUHAN dan pekerjaan TUHAN tidak disia-siakan oleh Rasul Paulus, dia tidak menyia-nyiakan kemurahan yang TUHAN berikan.
Bukankah upah dosa adalah maut? Tapi jika TUHAN beri kesempatan (ruang yang luas) untuk hidup yang kedua itu adalah KEMURAHAN dan kemurahan tidak boleh disia-siakan, kesempatan tidak boleh disia-siakan, ruang gerak kita selama di bumi jangan disia-siakan untuk memperoleh kerajaan seribu tahun damai.
Kehidupan yang menghargai kesempatan yang TUHAN berikan ialah bekerja lebih keras dari pada orang lain.
Kiranya damai sejahtera dan kasih karunia ALLAH senantiasa menyertai perjalanan rohani dari kaum muda remaja dari malam ini sampai seterusnya sampai TUHAN datang pada kali yang kedua, sehingga kita semua diselamatkan. Amin.
Kita akan melihat kembali di minggu yang akan datang, malam ini kita telah melihat langit (ruang) dan minggu depan kita akan melihat khotbah dalam jenis yang lain/yang kedua yang tertulis dalam Mazmur 19:3, “hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.”
Hari dan malam -> Waktu, jadi waktu juga harus kita pergunakan dengan baik untuk membawa kita kepada kemuliaan ALLAH. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment