KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Wednesday, August 20, 2025

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 12 AGUSTUS 2025


 

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 12 AGUSTUS 2025

SURAT YUDAS

 

Yudas 1:6

(Seri: 3)

 

Subtema: MENGIKUTI JEJAK YESUS

 

Shalom.

Mula pertama saya mengucapkan puji Syukur kepada TUHAN, oleh karena Rahmat-Nya kita dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Doa Penyembahan, itu berarti setelah diteguhkan oleh Firman, kita akan tersungkur di ujung kaki salib TUHAN, sujud kepada Dia sebab Dia adalah ALLAH sesembahan kita, sebab hanya kepada Dia sajalah kita berbakti, tidak kepada yang lain.

 

Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN yang turut bergabung lewat online atau live streaming baik dari video internet; YouTube maupun Facebook ataupun media sosial lainnya yang dapat digunakan. Selanjutnya biarlah kiranya damai Sejahtera yang dari ALLAH memenuhi hati kita sekaliannya sehingga kita datang untuk beribadah kepada TUHAN bukan sebatas liturgis, bukan secara lahiriah supaya ibadah ini betul-betul menyenangkan hati TUHAN, jangan dengan hati panas, jangan dengan hati terpaksa, tetapi betul-betul digarap dan dikendalikan oleh Roh TUHAN.

 

Kita sambut Surat Yudas sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Doa Penyembahan. Saya berharap menjelang kedatangan TUHAN ini semakin hari kita semakin dewasa, karena hanya orang dewasa yang layak untuk berdampingan dengan Yesus Kepala Gereja, Mempelai Pria Sorga.

 

Yudas 1:6

(1:6) Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar,

 

Malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, meninggalkan tempat kediaman mereka.

 

Jadi singkat kata; pada saat malaikat memberontak kepada TUHAN maka pada saat yang sama malaikat telah meninggalkan tempat kediamannya.

Ayat referensi: Wahyu 12:7-9.

 

Perlu untuk diketahui; anak-anak TUHAN sebagai anggota-anggota tubuh juga mempunyai daerah territorial (daerah kekuasaan) sebagai tempat kediamannya yang tidak boleh ditinggalkan.

 

Contoh:

1 Korintus 12:12

(12:12) Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.

 

Tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak namun sekalipun anggota-anggota tubuh banyak merupakan satu tubuh.

 

1 Korintus 12:14-17

(12:14) Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. (12:15) Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? (12:16) Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? (12:17) Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman?

 

Di sini kembali dikatakan bahwa; tubuh tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota, antara lain: ada tangan, ada kaki, ada mata, ada penciuman (hidung) dan seterusnya; jadi penyebutan itu sesuai dengan apa yang tertulis pada ayat 14-17.

 

1 Korintus 12:18

(12:18) Tetapi ALLAH telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.

 

ALLAH telah memberikan kepada masing-masing anggota secara khusus suatu tempat pada tubuh, maka setiap anggota tubuh tidak boleh meninggalkan tempat sebagai kediaman yang telah ALLAH tentukan.

Di sini dikatakan;

-            Kaki tidak boleh menjadi tangan.

-            Telinga tidak boleh menjadi mata.

 

Keterangan: KAKI TIDAK BOLEH MENJADI TANGAN.

Mengapa tidak boleh demikian? Karena setiap anggota-anggota tubuh mempunyai fungsi yang berbeda-beda.

Jadi fungsi kaki tidaklah sama dengan fungsi tangan. Itu sebabnya kaki tidak boleh menjadi tangan.

-       Adapun fungsi kaki ialah berjalan dengan langkah-langkah yang pasti/tidak ada keragu-raguan.

 

1 Petrus 2:21-23

(2:21) Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. (2:22) Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. (2:23) Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

 

Singkat kata; kita dipanggil untuk mengikuti jejak TUHAN yaitu tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah, antara lain:

1.    Ia tidak berbuat dosa.

Menunjukkan bahwasanya Yesus penuh dengan Firman ALLAH yang Ajaib sebab Firman ALLAH menghidupkan dan mengadakan dari yang tidak ada sebagaimana dalam Roma 4:17.

 

2.     Tipu tidak ada dalam mulutnya (tidak berdusta).

Menunjukkan bahwasanya Yesus penuh dengan Roh Kudus dan dikendalikan oleh Roh Kudus sepenuhnya.

Kalau orang berdusta itu tanda bahwa dia belum penuh dengan Roh Kudus, tetapi orang yang penuh Roh Kudus, tipu tidak ada dalam mulutnya, dengan lain kata; ia tidak suka berdusta.

Biarlah kiranya Roh Kudus senantiasa mengendalikan segenap hidup kita dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Tandanya: Roh Kudus memberikan kekuatan hingga kita mampu menghadapi kenyataan hidup.

Ayat referensi: Matius 4:1. Susah senang kita dimampukan untuk menghadapi kenyataan itu, tidak suka menuntut-nuntut, sementara kewajiban kita, tidak mampu kita lakukan.

 

Harusnya orang lain acuh tak acuh, tidak dihormati, ya tidak apa-apa – mampu menghadapi kenyataan hidup – tidak perlu berharap belas kasihan manusia, nanti kecewa kita.

Kita sudah memberi banyak, kita berharap penghormatannya, ketundukannya, maka kalau tidak dapat bisa kecewa. Kita akan berkata; saya sudah didik dari kecil, saya sudah didik, saya sudah doakan, tetapi tidak ada rasa hormat, maka hal itu akan membuat kita kecewa.

Tetapi kalau Roh Kudus menguasai kita, tandanya; Roh kudus itu memberi kekuatan hingga kita mampu menghadapi kenyataan hidup sekalipun itu pahit.

 

3.    Tidak membalas caci maki dengan caci maki.

Menunjukkan bahwa Yesus penuh dengan kasih ALLAH yang sangat berkuasa untuk mengampuni dan menutupi dosa orang lain.

Tandanya: Ketika menderita, ia tidak mengancam, tetapi menyerahkannya kepada Dia yang menghakimi dengan adil yaitu; ALLAH.

Banyak orang kalau sudah susah, menderita suka mengancam. Dan berkata; Lihat saja saya tidak mau beribadah, lihat saja saya tidak mau mengembalikan sepersepuluh, lihat saja saya tidak mau melayani TUHAN.

Tetapi kita semua ini Adalah anak-anak TUHAN yang dipanggil oleh TUHAN untuk mengikuti jejak Yesus, mengikuti tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah, itu yang disebut berjalan dengan Langkah-langkah pasti.

 

Perlu untuk kita ketahui bersama:

Tapak-tapak kaki Yesus dimulai dari taman Getsemani hingga bukit Golgota.

Matius 26:47-56; ini adalah peristiwa ketika Yesus ditangkap di Taman Getsemani. Dalam pembagiannya:

 

Yang Pertama: YESUS TIDAK BERBUAT DOSA.

Matius 26:47-52

(26:47) Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. (26:48) Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: "Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia." (26:49) Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: "Salam Rabi," lalu mencium Dia. (26:50) Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Hai teman, untuk itukah engkau datang?" Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya. (26:51) Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. (26:52) Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.

 

Di sini kita melihat; ciuman palsu dari Yudas yang diawali dengan perkataan; “Salam Rabi.”

Terhadap sikap Yudas, Yesus berkata; "Hai teman, untuk itukah engkau datang?"

Kemudian pada saat Petrus memutuskan salah satu telinga Imam Besar Kayafas, Yesus berkata; “barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.”

Saudara, dari fakta-fakta kebenaran ini jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak berbuat dosa, sebab yang berbuat salah adalah murid-murid yaitu;

-       Yudas; karena dia berkhianat.

-       Petrus; karena dia memutuskan telinga hamba Imam Besar Kayafas.

Dari fakta kebenaran ini menunjukkan bahwa Yesus tidak berbuat dosa = penuh Firman ALLAH.

Orang yang tidak berbuat dosa dikatakanlah itu penuh dengan Firman ALLAH.

 

Yang Kedua: TIPU TIDAK ADA DALAM MULUT YESUS.

Matius 26:55-56

(26:55) Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait ALLAH, dan kamu tidak menangkap Aku. (26:56) Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.

 

Di sini dikatakan; tiap-tiap hari Yesus duduk mengajar di Bait ALLAH = tipu tidak ada di dalam mulut Yesus = Yesus penuh dengan Roh El-Kudus = tidak ada dusta.

Bagaimana dengan hari-hari yang kita lalui? Apakah ada perkataan-perkataan dusta sengaja atau tidak sengaja? Tetapi yang kita lihat di sini adalah: setiap hari Yesus duduk mengajar di Bait ALLAH.

Bagaimana dengan kehidupan kita sebagai Bait ALLAH, perkataan yang keluar dari mulut kita bagaimana setiap hari? Apakah setiap hari kita berkata dusta atau tidak?

 

Yang Ketiga: KEJAHATAN TIDAK DIBALAS DENGAN KEJAHATAN.

Matius 26:53-54

(26:53) Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? (26:54) Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?"

 

Pada saat menghadapi kejahatan (kezoliman), Yesus berdiam diri artinya Yesus tidak meminta pembelaan kepada Bapa di Sorga menunjukkan bahwa Yesus penuh dengan KASIH.

Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan = penuh dengan kasih.

 

Bagaimana dengan kita, ketika disakiti; apakah juga membalas kejahatan dengan kejahatan lalu engkau menunjukkan rasa benci mu kepada orang lain?

Hati-hati saudara ku, jangan kita membuat orang lain meradang, orang tua meradang, anak meradang, hanya karena kesalahan sendiri.

 

Lihatlah Yesus di sini; tidak meminta pembelaan dari Bapa di Sorga. Dia bisa saja membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi Yesus tetap berdiam diri menunjukkan bahwa Yesus penuh dengan kasih di Sorga.

 

Kemudian langkah-langkah kaki Yesus berikutnya; ketika Yesus diadili: DI HADAPAN MAHKAH AGAMA.

Matius 26:57-68 dalam pembagiannya:

 

I.          Matius 26:59-60 Perikop: Yesus di hadapan Mahkamah Agama –

(26:59) Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, (26:60) tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang, (26:61) yang mengatakan: "Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait ALLAH dan membangunnya kembali dalam tiga hari."

 

Di sini kita melihat; Yesus tidak berbuat dosa sekalipun tampil saksi dusta. Terhadap saksi dusta Yesus tidak berbuat dosa, menunjukkan bahwa Yesus penuh dengan FIRMAN ALLAH.

Biar kiranya kita semua penuh dengan Firman ALLAH.

 

II.       Matius 26:63-64

(26:63) Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi ALLAH yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak ALLAH, atau tidak." (26:64) Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit."

 

Tipu tidak ada dalam mulut Yesus sebagaimana dikatakan pada ayat 63: “Apakah Engkau Mesias, Anak ALLAH, atau tidak. Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya.” Dari dialog ini; kita melihat bahwasanya tipu tidak ada di dalam mulut Yesus menunjukkan bahwa Yesus penuh dengan ROH KUDUS

 

III.    Matius 26:66-68

(26:66) Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!" (26:67) Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, (26:68) dan berkata: "Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?"

 

Peristiwa berikutnya ketika diadili dihadapan Mahkamah Agama; orang-orang yang hadir di persidangan itu;

1.       Meludahi muka Yesus.

2.       Meninju Yesus.

3.       Orang-orang lain memukul Yesus.

4.       Yesus dipermain-mainkan. Sebab mereka berkata; “Cobalah katakan kepada kami Mesias, siapakah yang memukul engkau?”

Tetapi sekalipun demikian; kejahatan tidak dibalas dengan kejahatan menunjukkan bahwa Yesus penuh dengan KASIH dari ALLAH Bapa.

Inilah Langkah berikutnya ketika Yesus diadili di hadapan Mahkamah Agama, di hadapan Imam Besar Kayafas.

 

Kemudian langkah berikutnya; Yesus diadili di hadapan: PONTIUS PILATUS = PENGADILAN DUNIA.

Peristiwa itu ditulis di dalam Matius 27:11-31 dalam pembagiannya, antara lain:

 

I.          Matius 27:19

(27:19) Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam."

 

Ayat ini menampilkan bahwa Yesus Adalah orang benar karena Yesus tidak berbuat dosa, menunjukkan bahwa Yesus penuh dengan FIRMAN ALLAH.

 

II.       Matius 27:11-15

(27:11) Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." (27:12) Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apa pun. (27:13) Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" (27:14) Tetapi Ia tidak menjawab suatu kata pun, sehingga wali negeri itu sangat heran. (27:15) Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak.

 

Di ayat ini kita melihat; tipu tidak ada di dalam mulut Yesus -> Yesus penuh dengan ROH KUDUS

 

III.    Matius 27:27-31

(27:27) Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. (27:28) Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. (27:29) Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai raja orang Yahudi!" (27:30) Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. (27:31) Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.

 

Di sini kita melihat; Yesus diolok-olokan oleh serdadu-serdadu wali negeri dengan:

-            Menanggalkan pakaiannya dan mengenakan jubah ungu kepadanya.

-            Mengenyam mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala.

-            Memberikan kepadanya sebatang buluh di tangan kanannya.

-            Mereka berlutut di hadapannya dan mengolok-olokkan dia dan berkata; “salam hai raja orang Yahudi.”

-            Mereka meludahi Yesus.

 

Itulah kejahatan dari pada serdadu-serdadu wali negeri, tetapi di sini kita melihat; kejahatan tidak dibalas dengan kejahatan menunjukkan bahwa Yesus penuh dengan KASIH dari Sorga. Kasih itu menutupi banyak sekali kesalahan.

 

Langkah-langkah Yesus berikutnya;

Matius 27:32-33

(27:32) Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus. (27:33) Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak.

 

Langkah-langkah perjalanan Yesus berakhir di Bukit Golgota. Golgota artinya bukit tengkorak.

Kita bersyukur Langkah-langkah perjalanan Yesus berakhir di bukit tengkorak supaya kita tidak menjadi tengkorak, supaya kita tidak menjadi binasa.

 

Ini akhir perjalanan dari pada langkah-langkah Yesus sampailah (tibalah) di Bukit Golgota.

Mengapa harus demikian? Supaya kita tidak binasa, supaya kita tidak menjadi tengkorak.

Kita Adalah tulang dari tulang Yesus, daging dari dagingnya Yesus (miliknya TUHAN) dan itu sudah dibuktikan dari langkah perjalanan Yesus diakhiri di bukit Golgota supaya kita jangan binasa (Yohanes 19:32-33).

Suatu perjalanan yang sangat mulia, itu sebabnya kita dipanggil untuk mengikuti tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah.

 

Matius 27:34

(27:34) Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya.

 

Singkat kata; dari langkah-langkah perjalanan Yesus yang berakhir di bukit tengkorak menunjukkan bahwa Yesus telah menanggung semua dosa dunia dan dia tanggung semua itu walaupun rasanya pahit.

 

Matius 27:35

(27:35) Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi.

 

Oleh salib Kristus umat manusia di atas bumi ini;

-       Menerima kebenaran -> pakaian yang dibagi-bagi.

-       Menerima pelayanan Imam Besar -> Jubah yang Maha Indah.

 

Perlu untuk diketahui; menikmati pelayanan Imam Besar itu merupakan kemurahan yang besar seperti kita menerima undian. Yesus Adalah Imam Besar Agung, Dia telah melayani, Dia telah berdoa, Dia telah memperdamaikan dosa manusia.

 

Inilah hasil dari pelayanan dari Imam Besar supaya kita merendahkan diri di hadapan TUHAN, saling merendahkan diri satu dengan yang lain, tempatkan diri di bawah karena kita bukan siapa-siapa. Kita bisa menjadi satu kehidupan yang utuh itu karena pelayanan Imam Besar, tidak ada yang harus disombongkan di atas muka bumi ini. Kalau engkau punya pekerjaan ya bagus itu hasil pelayanan Imam Besar, kalau engkau sehat itu hasil pelayanan Imam Besar, kalau engkau menjadi satu kehidupan yang baik, engkau bisa hormat itu juga hasil dari pelayanan Imam Besar. Setan maunya engkau tidak hormat kepada orang tua. Tetapi TUHAN Yesus meayani kita supaya kita menjadi rendah hati.

 

Yesus juga berdoa untuk kita supaya kita jangan putus asa dan iman kita tidak gugur. Itu kuasa dari doa Imam Besar. Kemudian hasil dari pendamaian yang dikerjakan oleh Yesus sebagai Imam Besar; kita berdamai dengan ALLAH juga berdamai dengan sesama. Dan kalau kita bisa merasakan; pelayanan, doa, dan pendamaian yang telah dikerjakan oleh Imam Besar Agung itu adalah kemurahan seperti menerima undian (lotre). Maka kalau kita mendapat undian itu kemurahan.

 

Kalau kita melihat langkah-langkah perjalanan Yesus Kristus begitu mulia maka kita dipanggil untuk mengikuti teladan yang ditinggalkan, mengikuti tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah supaya nanti dimana Yesus berada di situ pun kita berada; jangan menyimpang dari situ. Karena tidak cocok di hati akhirnya kita menyimpang dari tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah, itu merugikan diri sendiri, TUHAN tidak rugi.

 

Perlu untuk diketahui; Imam Besar Agung akan terus memimpin langkah-langkah perjalanan rohani kita sampai kepada dua klimaks, yaitu:

1.         Bukit Sion -> Mempelai TUHAN.

2.         Penyembahan -> Wujud dari Mempelai TUHAN.

Ayat referensinya: Wahyu 14:1-3.

 

Ciri-ciri mengikuti tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah:

Matius 26:69-75 —  Perikop: “Petrus akan menyangkal Yesus.”

Penyangkalan Petrus yang pertama:

Matius 26:70

(26:70) Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: "Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud."

 

Sudah tahu yang baik, tetapi pura-pura tidak tahu melakukan yang baik.

 

Penyangkalan Petrus yang kedua:

Matius 26:72

(26:72) Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu."

 

Menunjukkan bahwa Petrus adalah seorang pendusta karena dia tidak mau mengakui pribadi Yesus Kristus dengan segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Yesus kepadanya.

Bukankah Yesus yang telah memanggil dia dari penjala ikan kepada penjala manusia? Bukankah Yesus telah memberi satu pengertian sebab Yesus Adalah guru dan TUHAN yang terus mendidik Petrus dan yang lain-lain? Tetapi Petrus berkata; “Aku tidak kenal orang itu.” Bayangkan sampai sedemikian rupa Petrus menyangkali Yesus. Tetapi inilah ciri-ciri mengikuti tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah; rela menerima kenyataan hidup seperti Petrus menyangkali Yesus sebanyak tiga kali.

 

Penyangkalan Petrus yang ketiga:

Matius 26:74

(26:74) Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam.

 

Petrus kembali berkata; “Aku tidak kenal orang itu.” Namun diawali dengan kata mengutuk dan bersumpah.

Saudara, mengutuk menunjukkan bahwa Petrus tidak lepas dari dosa warisan / dosa turunan disebutlah itu kutuk. Kemudian bersumpah menunjukkan bahwa Petrus masih menjalankan ibadah taurat (ibadah lahiriah). Seharusnya; ya di atas ya, tidak di atas tidak; apapun resikonya terima saja. Kita tidak perlu bersumpah demi apapun baik demi langit, demi bumi, demi kepala, demi Yerusalem. Semestinya ya di atas ya tidak di atas tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

 

Jadi intinya dari sini kita melihat bahwa; Petrus sudah sampai kepada genggaman (kekuasaan) dari pada Iblis (setan). Tetapi di nats Firman TUHAN yang lain; Lukas 22:31-32 di situ kita bisa melihat Yesus berdoa untuk Simon Petrus supaya Petrus dan imannya jangan gugur.

 

Jadi ciri mengikuti tapak kaki Yesus yang berdarah dalam Matius 26:69-75; rela menerima kenyataan hidup seperti Petrus menyangkali Yesus sebanyak tiga kali.

 

2 Timotius 2:11-13 – Perikop: “Panggilan untuk ikut menderita.”

(2:10) Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan ALLAH, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. (2:11) Benarlah perkataan ini: "Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; (2:12) jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita; (2:13) jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."

 

Pada ayat 10: Rasul Paulus juga mengikuti tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah sampai nanti ciri-cirinya terlihat di dalam dirinya sesuai dengan Firman yang diajarkan kepada Timotius.

 

Petrus menyangkal Yesus sebanyak 3 kali, tetapi sekalipun demikian Dia mampu menerima kenyataan yang ada.

Di sini dikatakan; jika kita tidak setia seperti Petrus tidak setia; Dia tetap setia.

Mengapa Dia setia? Karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya di hadapan ALLAH; dia tidak dapat menyangkal janji-janji Firman ALLAH yang disampaikan kepada kita.

 

Ada kalanya ketika menjalankan hidup yang begitu berat; kita sangkalilah semua. Baik TUHAN, kebenaran, ibadah dan pelayanan, semua kita sangkali. Tetapi lihatlah orang yang mengikuti jejak atau tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah; rela menerima kenyataan hidup seperti Petrus menyangkali Yesus sebanyak 3 (tiga) kali. Tetapi sekalipun demikian, jika kita tidak setia, Dia tetap setia karena Dia tidak dapat menyangkali dirinya dan Dia juga tidak dapat menyangkali janji-janji-Nya.

 

Jadi kesetiaan TUHAN tidak tergantung kepada kesetiaan manusia. Kalau kita tidak setia, TUHAN tetap setia, TUHAN setia bukan karena kita setia; kita tidak setia, tetapi TUHAN tetap setia karena Dia tidak dapat menyangkali diri-Nya, Dia tidak dapat menyangkali janji-janji-Nya kepada kita semua. Jadi kesetiaan TUHAN tidak tergantung karena kita setia.

 

Nah saudara, inilah sebabnya kita diajar oleh TUHAN untuk mengikuti tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah bilamana kita mengikuti tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah maka kita akan berjalan dengan langkah-langkah yang pasti; tidak ada keraguan sedikit pun. Tidak pusing soal penghidupan, soal apa yang akan dimakan, diminum, dan dipakai. Kita tetap berjalan dengan langkah-langkah yang pasti. Jangan kita keluar dari tempat kediaman yang sudah TUHAN tentukan. Tubuh satu anggota-anggotanya banyak. Tetapi meskipun anggota-anggota itu banyak, tubuh tetap satu. Oleh sebab itu kaki tidak boleh berkata; “aku bukan tangan.” Juga telinga tidak boleh berkata; “Aku bukan mata.”

 

Jadi kaki tidak boleh meninggalkan tempat kediamannya dan berada di kediaman tangan. Lihat malaikat-malaikat di sorga; pada saat ia memberontak, pada saat yang sama ia telah meninggalkan tempat kediamannya. Oleh sebab itu, kalau kita ditempatkan sebagai kaki biarlah kita berjalan dengan langkah-langkah yang pasti, jangan tinggalkan tempat kediaman kaki.

 

Inilah Firman ALLAH yang TUHAN ajarkan kepada kita supaya mulai dari detik ini kita berjalan dengan langkah-langkah yang pasti; penuh dengan Firman ALLAH, penuh dengan Roh ALLAH (tidak ada dusta), penuh dengan Kasih Alllah (tidak membalas kesalahan orang lain dengan kesalahan). Amin.

 

 

 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

 

Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang

No comments:

Post a Comment