KAMI NANTIKAN KESAKSIAN-KESAKSIAN SAUDARA YANG SUDAH MEMBACA FIRMAN TUHAN PADA BLOG INI

IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 04 JULI 2026

 


IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 04 JULI  2026

STUDY YUSUF

(Seri 1 )


Subtema: DUKACITA DARI DUNIA


Salam sejahtera di dalam kasihNya TUHAN kita Yesus Kristus, yang  telah memungkinkan kita untuk boleh datang beribadah kepada TUHAN lewat Ibadah Pemuda Remaja. Kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, yang telah memberi kesehatan dan kekuatan baru, sehingga hidup kita, sebagai persembahan, kita persembahkan di atas Mezbah TUHAN malam ini. 


Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN yang turut bergabung lewat online atau live streaming, atau video internet, baik dari  Youtube, Facebook, atau media sosial apa saja yang dapat dipergunakan. 


Kiranya damai sejahtera turun di tengah-tengah kita, di hati kita, sehingga kita boleh merasakan satu damai sejahtera, kesukaan, bahagia, saat duduk diam menikmati sabda Allah. 


Kita kembali menyelidiki Kejadian 44:18-34 --- Perikop:  “Yehuda membela Benyamin”

Kejadian 44:18-34 seluruhnya adalah tutur kata Yehuda kepada Yusuf, sebagai mangku negara atau raja muda di Mesir, yang memohonkan kelepasan bagi Benyamin.


Alasan Yehuda memohon kelepasan bagi Benyamin…

Jawabnya ada pada…

Kejadian 44:29-31

(44:29) Jika anak ini kamu ambil pula dari padaku, dan ia ditimpa kecelakaan, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena nasib celaka. (44:30) Maka sekarang, apabila aku datang kepada hambamu, ayahku, dan tidak ada bersama-sama dengan kami anak itu, padahal ayahku tidak dapat hidup tanpa dia, (44:31) tentulah akan terjadi, apabila dilihatnya anak itu tidak ada, bahwa ia akan mati, dan hamba-hambamu ini akan menyebabkan hambamu, ayah kami yang ubanan itu, turun ke dunia orang mati karena dukacita.


Apabila Benyamin tidak kembali dari Mesir ke Kanaan, maka Yakub:

  • Turun ke dunia orang mati karena nasib celaka… (ayat 29).

  • Turun ke dunia orang mati karena dukacita… (ayat 31).


Kita telah membahas tentang mati karena nasib celaka, untuk beberapa seri pemberitaan Firman Allah. Sebagaimana pada Wahyu 9 dan Wahyu 11 terdapat tiga kali celaka, sebagai penghukuman dari sangkakala kelima,  sangkakala keenam dan sangkakala ketujuh. Dan semua sudah kita bahas, tentu saja sesuai dengan takaran kasih karunia TUHAN, yang diperuntukkan bagi kaum muda remaja GPT BETANIA Serang dan Cilegon, Banten.


Kita patut bersyukur. Kita telah diberkati dari penjelasan celaka satu, celaka dua dan celaka tiga.  

  • Celaka satu terjadi pada saat sangkakala kelima ditiup.

  • Celaka dua terjadi saat sangkakala keenam ditiup.

  • Celaka tiga terjadi saat sangkakala ketujuh (terakhir) ditiup.


Dan minggu lalu kita sudah mengakhiri celaka tiga, tepatnya saat sangkakala terakhir ditiup.


Dengan berakhirnya celaka satu, celaka dua, celaka tiga, maka sekarang kita akan masuk pada pembahasan tentang: Mati karena dukacita.


Tetaplah berdoa dalam Roh, mohon kemurahan daripada TUHAN, supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita, pribadi lepas pribadi.  Kaum muda remaja nanti diteguhkan untuk menghadapi masa-masa yang sulit ini. 


Tujuh tahun kelimpahan akan berakhir di tahun 2027. Sebab itu, sungguh-sungguhlah mengumpulkan gandum sebanyak-banyaknya, supaya nanti pada saat tujuh tahun kelaparan yang dahsyat, kita sanggup menghadapi segala sesuatu yang terjadi di depan mata. Sebab  itu, jangan anggap enteng Ibadah dan pelayanan.


tentang: MATI KARENA DUKACITA. 


Terkait: Mati karena dukacita kita awali pembacaan dari …

2 Korintus 7:8-10 --- Perikop: “Sukacita sesudah dukacita

Jadi, sukacita itu nanti terjadi diawali dengan sengsara salib (dukacita). Tidak ada kemuliaan tanpa melewati salib di Golgota (dukacita). Karena itu, hal ini harus diketahui kaum muda remaja atau anak-anak TUHAN yang bergabung lewat online. Jangan berubah dari kebenaran semacam ini.  


2 Korintus 7:8-10

(7:8) Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat, bahwa surat itu menyedihkan hatimu -- kendatipun untuk seketika saja lamanya --, (7:9) namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikit pun tidak dirugikan oleh karena kami. (7:10) Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.


Disini kita melihat ada dua jenis dukacita menurut apa yang telah dipaparkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus:

  1. Dukacita menurut kehendak Allah, atau dukacita atas seizin TUHAN

Contohnya: menyangkal diri, memikul salib, dan diajar banyak untuk membawa korban persembahan kepada TUHAN. 

  1. Dukacita dari dunia

Dukacita ini bukan kehendak Allah. 


Kita akan membahas kedua dukacita tersebut … 

Terlebih dahulu kita membahas: DUKACITA DARI DUNIA. Contohnya ada pada injil Matius 27:1-2.


Matius 27:1-2 --- “ Yesus diserahkan kepada Pilatus kematian Yudas

(27:1) Ketika hari mulai siang, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus. (27:2) Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.


Semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi sepakat untuk membunuh Yesus. Lalu Yesus pun diserahkan kepada Pilatus, karena Pilatus adalah wali negeri atau kepala daerah, istilah sekarang, gubernur (perpanjangan tangan Kekaisaran Romawi).


Terkait dengan kesepakatan ini ..

Matius 27:3-5

(27:3) Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua. (27:4) dan berkata: "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Tetapi jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!" (27:5) Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.


Reaksi Yudas ketika melihat Yesus dijatuhi hukuman mati, antara lain:

  • Reaksi pertama: “… Mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua …”

  • Reaksi kedua : Yudas berkata … “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah …”

  • Reaksi ketiga : Melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ …” 



Dari ketiga reaksi tersebut kita simpulkanlah bahwa Yudas mengalami: dukacita dari dunia. Sebab, 

  • Oleh 30 keping uang perak, 

  • Yudas menyerahkan nyawa orang yang tidak bersalah.


Menjual Yesus seharga 30 keping uang perak menunjukkan kepada kita bahwa Yudas cinta akan uang


1 Timotius 6:10

(6:10) Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.


“... Akar dari segala kejahatan adalah cinta uang…”

Pendeknya, kejahatan itu akarnya adalah cinta uang. Itu berarti, kalau seseorang cinta uang, maka akar kejahatan itu ada di dalam hidupnya. 

Jadi, berusahalah supaya anak-anak TUHAN tidak cinta akan uang. Kalaupun ada uang, tinggal mengucap syukur saja. Itu berarti, orang-orang yang membeli, seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli 1 Korintus 7:30.


Oleh karena cinta uang (memburu uanglah) orang-orang:

  1. menyimpang dari iman, akibatnya; tidak sampai kepada tujuan hidup. 

Prakteknya:

  • Menolak penyucian untuk sempurna = tidak menjadi mempelai TUHAN.

  • Tanpa Penyembahan, berarti tidak hidup dalam penyerahan diri.


Sebetulnya, klimaks pengikutan kita kepada TUHAN: Menjadi sempurna, itulah sidang  mempelai TUHAN. Wujudnya: Doa Penyembahan. Tetapi karena cinta uang menyimpanglah dari iman, berarti tidak sampai kepada tujuan hidup, yaitu: kesempurnaan dan doa penyembahan. 


b. Menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

    Prakteknya; 

  • Memforsir dan memperbesar  tenaga, menyita waktu dan perhatian yang besar hanya untuk uang = menghambakan diri kepada mamon = menyiksa diri. 

Yang saya tau, cari dahulu kerajaan sorga serta kebenaran yang ada di dalam kerajaan sorga, maka semua akan ditambahkan, sesederhana itu sebetulnya. Tetapi karena seseorang cinta uang, akhirnya menyiksa diri dengan berbagai-bagai duka.

  • Berdusta dan berlaku munafik.

Memang, kalau seseorang cinta akan uang, dia akan menyiksa diri dengan berbagai-bagai  duka, prakteknya: dia akan berdusta dan berlaku munafik. 

  • Mencuri, antara lain:

  1. Mencuri milik sesama, berarti hutang tidak dibayar.

Saya masih teringat, sebelum saya berangkat bekerja ke Tembagapura kurang lebih tahun 1996, saya pernah berhutang kepada seseorang sebesar 200 ribu. Jika dihitung nilainya sekarang kurang lebih setara dengan Rp 3 Juta – kalau diukur dengan harga emas –. 

Setelah kembali dari tembagapura, lupa dengan hutang itu, namun setelah saya jadi hamba TUHAN berarti tahun 2001 pertengahan saya masuk ke provinsi Banten, saya mendatangi orang tersebut lalu mengembalikan utang saya sebesar Rp 200rb itu, karena saya tau kebenaran Firman Allah. 

Jadi, saya mengembalikan uang itu bukan karena supaya saya dipuji atau dikatakan orang baik, tetapi saya mengembalikan uang itu karena Firman Allah.

  1. Mencuri milik TUHAN: itu berarti persepuluhan tidak dikembalikan kepada TUHAN.

           

Jadi, yang berhutang kepada sesama, kembalikan cepat-cepat. Kemudian yang      mencuri milik TUHAN, belajar untuk praktek Firman.


Sedikit tambahan: persembahan persepuluhan bukan hanya gaji pokok saja, tapi semua dari penghasilan. Jadi, persepuluhan dari semua penghasilan juga harus dikembalikan (dibayar) kepada Tuhan. Bahkan overtime, berkat-berkat yang diterima, ditraktir makan, dan seterusnya, semuanya itu harus dihitung. Saya juga belajar untuk menghitung akan hal itu. Sekecil apapun itu, saya hitung, supaya TUHAN juga memperhitungkan kehidupan kita semua, memperhitungkan kaum muda remaja GPT Betania.


Sekarang kita akan melihat, betapa Yudas adalah seorang yang cinta akan uang:

Dapat kita lihat lebih rinci lagi …

Yohanes 12:3-5

(12:3) Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. (12:4) Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: (12:5) "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?"


Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang murni dan mahal, harganya 300 dinar. Berarti setara dengan upah setahun di Israel, sebab setahun ada 365 hari, dipotong hari-hari  merah. Sebab upah buruh/pekerja di Israel ialah: sedinar sehari. Jadi itulah yang dipersembahkan oleh Maria dengan utuh.


Melihat apa yang diperbuat Maria, maka Yudas berkata, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?"


Jadi, dari perkataan Yudas ini, seolah-olah dia hamba TUHAN yang memang suka memperhatikan orang miskin. Memang hamba TUHAN harus memperhatikan orang miskin, tetapi ini hanyalah seolah-olah.


Yohanes 12:6

(12:6) Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.  


Yudas mengatakan demikian:

  • Bukan karena ia memperhatikan nasib orang miskin, menunjukkan bahwa Yudas:

  1. Tidak mengenal belas kasihan.

  2. Yudas adalah orang munafik dan pendusta

Apa yang diucapkan Yudas sebetulnya bukan karena ia memperhatikan nasib orang miskin, tetapi karena dia adalah seorang pencuri, berarti dia adalah orang munafik dan pendusta. 


  • Melainkan dia adalah seorang pencuri.

Pencuri milik sesama (hutang tidak dibayar), pencuri milik TUHAN (persembahan persepuluhan  tidak dikembalikan) = cinta akan uang

Jadi, Yudas ini cinta uang, sedangkan cinta uang adalah akar dari semua kejahatan. 


Kemudian disini dikatakan, Yudas sering mengambil uang kas yang ia pegang, karena Yudas memang seorang bendahara. Hati-hati yang bertugas sebagai bendahara. Jangan suka mengambil uang kas gereja. Bahaya, masa depan suram. Saya mengatakan itu karena itu  fakta. 


Jadi, Yudas adalah seorang pencuri (cinta akan uang), sebab Yudas seringkali mengambil uang kas gereja. Yudas adalah seorang bendahara, tapi tidak bisa dipercaya, karena ia seringkali mengambil uang kas gereja yang ia pegang.


Kita harus belajar untuk menjadi pribadi yang bisa dipercaya oleh TUHAN. Dipercayakan satu pekerjaan, persepuluhan dari gaji satu bulan kembalikan, itu miliknya TUHAN. Dipercaya dengan karunia-karunia dan jabatan-jabatan Roh Kudus, untuk dipertanggungjawabkan di hadapan TUHAN. Seringkali orang hanya bereuforia saat diberkati, tetapi lupa dengan tanggung jawab.


DAMPAK NEGATIF CINTA AKAN UANG: 

  • Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, … Yohanes 12:4

Artinya: cepat atau lambat Yudas akan menyerahkan Yesus kepada pihak imam-imam kepala dan tua-tua orang Yahudi

Itu sebabnya saya katakan, orang yang sengaja mencuri kas gereja masa depannya suram. Sebab itu, cepat-cepat bayar hutang. Cepat-cepat juga kembalikan milik TUHAN (perpuluhan). Apabila ada yang cicil rumah, ikuti angsurannya dengan baik. Sungguh-sungguhlah dalam ibadah dan pelayanan. Nanti TUHAN pasti akan tolong. 


  • dan berkata: "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Tetapi jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!"Matius 27:4.

Perlu untuk diketahui: Ada dosa yang tidak mendatangkan maut, dan ada dosa yang mendatangkan maut … 1 Yohanes 5:16-17.

  1. Dosa yang tidak mendatangkan maut, segera bertobat selagi masih ada kesempatan. 

  2. Dosa yang mendatangkan maut. Bagi dia tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat/memperbaiki kesalahan.


Sebaliknya di atas tadi kita sudah melihat, MARIA TELAH MENYERAHKAN SEGENAP HIDUPNYA KEPADA TUHAN, yaitu 300 dinar harga minyak narwastu, setara dengan upah setahun. Berarti segenap   hidupnya dipersembahkan (diserahkan) kepada TUHAN = SEGENAP HIDUPNYA DIPECAH-PECAHKAN KEPADA TUHAN. 


Markus 14:3. --- Perikop: “Yesus diurapi

(14:3) Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.


Untuk mempersembahkan minyak narwastu yang murni dan mahal, maka Maria harus terlebih dahulu memecahkan leher buli-buli itu. Pendeknya, memecahkan diri adalah cara yang terbaik untuk mempersembahkan segenap hidup kepada TUHAN. Dengan demikian, Maria telah mengikuti teladan TUHAN


Bukti bahwa Maria mengikuti teladan Yesus dalam hal memecahkan segenap hidup…

Yohanes 12:7.

(12:7) Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.


Kalau Maria memecahkan leher buli-buli itu, berarti sama dengan ia mengingat hari penguburan TUHAN Yesus. Berbicara tentang “penguburan”, berarti berbicara “kematian”. Artinya, Yesus telah memecah-mecahkan segenap hidupNya di atas kayu salib, bahkan sampai mati diatas kayu salib, dikubur, lalu bangkit pada hari ketiga


Maria ini adalah orang yang bijaksana dalam hal mengambil keputusan. Biarlah kita duduk diam mendengarkan firman Allah seperti Maria, dan terus mendengar Firman, supaya kita menjadi satu kehidupan muda yang bijaksana dalam hal mengambil keputusan. 


Tadi kita sudah melihat: Maria mempersembahkan segenap hidupnya (upah setahun), dengan cara memecah-mecahkan segenap hidupnya, berarti dia telah mengikuti teladan TUHAN. Inilah bukti bahwa Maria adalah orang yang bijaksana. 


Dalam Lukas 10:39, Maria duduk diam mendengarkan Firman, sedangkan Marta sibuk melayani tetapi tidak mau dengar firman. Tetapi Maria duduk dekat kaki TUHAN, terus mendengarkan perkataan TUHAN, dan Firman itu mendarah daging, sehingga ia menjadi satu kehidupan yang bijaksana di dalam hal mengambil keputusan di hadapan TUHAN, yaitu menyerahkan segenap hidupnya dengan cara memecahkan segenap hidupnya, berarti mengikuti teladan TUHAN. Itu orang bijaksana. 


Banyak sekali orang Kristen mengikuti contoh-contoh yang tidak baik, tidak benar, tidak suci.  Baik dari hp (gadget) dan yang lain-lain. Itu tidak bijaksana. Orang-orang dunia ( hidup di luar Tuhan) nampak pandai tapi tidak bijaksana. 


Tetapi Maria mengambil keputusan yang bijaksana, sesuai dengan teladan TUHAN, bukan mengikuti yang lain-lain. 

Untuk yang jahat memang muda sekali orang mengikutinya. Tetapi kita belajar untuk menjadi bijaksana seperti Maria. 


Yohanes 6:34-38

(6:34) Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." (6:35) Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. (6:36) Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya. (6:37) Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (6:38) Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.


Yesus adalah Roti hidup, Roti yang turun dari Sorga. Sebagai Roti hidup, Ia telah memecah-mecahkan segenap hidupNya diatas kayu salib = telah menderita sengsara dan mati di  kayu salib. Inilah Roti hidup, Roti yang benar, yang turun dari Sorga dari Allah.


Bagaimana sikap orang-orang Yahudi dengan pernyataan Yesus sebagai Roti hdiup? Apakah nanti mereka sama seperti Maria, menyerahkan hidupnya dengan cara memecah-mecahkan segenap hidupnya, mengikuti teladan TUHAN ?


Yohanes 6:39-40

(6:39) Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. (6:40) Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."


Tujuan menikmati roti yang dipecah-pecahkan (memecahkan segenap hidup) di hadapan TUHAN adalah: supaya jangan ada yang hilang dari antara kita, melainkan:

  • Dibangkitkan pada akhir zaman.

  • Beroleh hidup kekal -> Yerusalem Baru

Hidup kekal itu dimulai dari kerajaan 1000 tahun di bumi, kemudian lanjut sampai kepada Yerusalem baru, itulah kerajaan yang kekal. 

Yang mati di dalam TUHAN, dari zaman Adam, Abraham, Musa, Daud, dan sebelum antikris tampil, tidak dibangkitkan pada kebangkitan pertama (kerajaan 1000 tahun damai). Tetapi nanti akan dibangkitkan pada kebangkitan yang kedua, tepatnya saat penghakiman takhta putih. 


Maria memecahkan segenap hidupnya supaya ia jangan terhilang, nama tidak dihapus dari kitab kehidupan Anak domba, melainkan dibangkitkan pada akhir zaman, dan beroleh hidup kekal -> Yerusalem baru. Inilah yang menjadi tujuan hidup kita.


Yohanes 6:41

(6:41) Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."


Jangan kita bersungut-sungut, jangan ngomel pada saat kita memecahkan segenap hidup supaya jangan kita terhilang. Nikmati saja proses demi proses yang sedang berlangsung, untuk memperoleh hidup yang kekal (tidak terhilang).


SEGENAP HIDUP menunjuk: pada dua hal:

YANG PERTAMA: Tubuh, jiwa, dan Roh.

  • Tubuh harus dipecahkan. 

Untuk pekerjaan TUHAN kita memang harus berlelah-lelah tidak apa-apa. 


  • Bahkan jiwa pun harus dipecahkan: jiwa kita harus menyatu dengan jiwanya TUHAN. 

Artinya, semua pekerjaan TUHAN ada di hati = dijiwai. Jangan asal bekerja. 

Jadi, yang dipecahkan bukan hanya tubuh, tetapi jiwa juga turut dipecahkan.


  • Roh pun harus dipecahkan. 

Maksudnya, pada saat sangkal diri, pikul salib itu sudah harus mendarah daging, sudah menyatu dengan salib di Golgota. Pendeknya, salib itu sudah menjadi Roh kita.


YANG KEDUA: Hati, pikiran, perasaan.

  1. Hati. 

Oleh karena Firman, hati kita patah dan remuk = hati sudah dipecah-pecahkan.


  1. Pikiran. 

Pikiran kita tulus, pikiran kita benar, pikiran kita suci, tetapi dituduh yang tidak-tidak. Ya, biarin saja, mau bilang apa lagi. Karena kalau kita lanjutkan dengan penjelasan demi penjelasan, ujung-ujungnya perbantahan. 


Hati dan pikirannya tulus mengasihi, tetapi ada tuduhan-tuduhan yang tidak masuk di akal. Ya sudahlah, mau bilang apa lagi.

Masak kita harus ngotot, ambil pedang, seperti murid-murid berkata: TUHAN ini ada dua pedang, lalu Yesus berkata: “sudah cukup…” Lukas 22:38. Pendeknya,  pandang saja salib, dimana dua tangan terpaku, dua kaki terpaku, serta satu tusukan tombak pada lambung, itu sudah cukup = masalah selesai.


  1. Perasaan. 

Kadang perasaan ini sakit. Tapi ingat, hanya satu pembuat hukum, dan hanya ada satu hakim. Jangan kita bertindak sebagai pembuat hukum dan hakim. 

Kalau hati, pikiran dan perasaan ini dipecah-pecahkan, memang sakit, ya sudahlah mau bilang apa lagi. 


Jadi, tubuh, jiwa, dan Roh, serta hati, pikiran, perasaan harus dipecah-pecahkan supaya kita hidup. Bukan supaya kita semakin merosot,  bukan supaya kita semakin terhilang jauh dari TUHAN. TUHAN tidak sekejam itu. 

Itu sebabnya Rasul Paulus berkata kepada jemaat di Korintus. Kepada mereka ia berkhotbah  dalam bentuk tulisan. Memang tulisan itu terlalu tajam, itu yang disebut pedang bermata dua. Dia hidup, kuat menusuk amat dalam, berarti mengadakan penyucian terhadap perasaan manusia yang terdalam, yang tidak bisa dijangkau oleh mata manusia. Sehingga jemaat di Korintus mengalami dukacita. Memang sempat Paulus menggunakan logika (perasaan manusia daging). Ia berkata: “pernah aku menyesalkannya, tapi sekarang tidak lagi. Justru karena dukacita itu nampakalah kemajuan rohani”.


Yohanes 6:42-43

(6:42) Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?" (6:43) Jawab Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut.


Manusia lahiriah (manusia daging) tidak memahami soal memecahkan segenap hidup. Itu sebabnya Yesus berkata untuk yang kedua kalinya kepada orang banyak: “jangan bersungut-sungut”. Padahal, terkait dengan roti yang mereka harapkan, mereka mengakui bahwa Yesus adalah TUHAN. Tetapi begitu diajar untuk memecahkan segenap hidup, mereka bersungut-sungut. Lalu berkata:  "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"


Kalau tadi mereka katakan Yesus adalah TUHAN … (Yohanes 6:34), berarti mereka tau Yesus datang dari Sorga karena terkait dengan roti makanan. Tetapi begitu diajar untuk memecahkan segenap hidup, mereka tidak mengakui bahwa Yesus adalah Roti hidup, Roti yang  turun dari sorga, dari Allah. 


Tidak sedikit orang Kristen meninggalkan yang benar karena tidak mau memecahkan segenap hidupnya. Akhirnya ia cari tempat peribadatan yang cocok dengan dagingnya, cocok dengan hidupnya sebagai manusia daging, yang masih terikat dengan hal-hal lahiriah. 


Kemudian mereka berkata; "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal?. berarti mereka memandang Yesus dari sisi yang jasmani (lahiriah), hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah manusia lahiriah atau manusia daging tidak mau berubah.


Tetapi terkait dengan roti makanan mereka mengakui bahwa Yesus adalah TUHAN. Betapa munafiknya orang Yahudi ini. Mereka tidak jujur dalam mengikuti TUHAN. 

Bagaimana dengan kita, apakah kita juga berlaku munafik (tidak jujur) dalam mengikuti TUHAN? Jangan kita berlaku munafik, jujurlah di hadapan TUHAN.


Yohanes 6:44-45

(6:44) Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. (6:45) Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku.


Singkat kata, belajarlah untuk memecahkan segenap hidup, supaya kita menjadi tubuh Kristus. Kita sudah menerima ajaran dari Sorga: dimana Yesus adalah Roti hidup, roti yang turun dari Sorga. Dia telah memecah-mecahkan segenap hidupNya. Ini ajaran dari Bapa. 


Kita harus belajar dari Bapa di Sorga. Bapa telah mengutus Yesus Anak-Nya yang disebut Roti hidup (roti yang turun dari Sorga), lalu memecahkan segenap hidup-Nya, supaya kita menjadi bagian dari tubuh Kristus. Belajarlah memecahkan segenap hidup. Belajarlah dari teladan Yesus supaya kita menjadi milik Kristus.


CIRI-CIRI TELAH MEMECAHKAN SEGENAP HIDUP 

Markus 14:3 ---Perikop “Yesus diurapi” 

(14:3) Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.


Maria memecahkan leher buli-buli itu. Artinya, leher dapat digunakan untuk menundukkan kepala di ujung kaki salib = hidup dalam Doa Penyembahan

Ciri-ciri seseorang telah memecahkan segenap hidupnya ialah: hidup dalam doa penyembahan, suka menyembah.


Yohanes 12:3

(12:3) Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.


Maria “... menyeka kaki Yesus dengan rambutnya …”, artinya; segala kemuliaan hanya bagi TUHAN. Rambut adalah mahkota perempuan, yang berbicara kemuliaan hanya bagi TUHAN saja, lewat ketundukan.  


Saya sebagai hamba TUHAN, sebagai gembala sidang (pemimpin jemaat) juga harus memperhatikan hal ini. Menggunakan leher untuk menundukan kepala di ujung kaki salib  TUHAN, itu doa penyembahan. Selanjutnya, menyeka dengan rambutnya berarti kemuliaan hanya bagi Bapa di Sorga. 


Ciri memecahkan segenap hidup, ia hidup dalam doa penyembahan. Selanjutnya, segala kemuliaan hanya bagi TUHAN. Yang memiliki seolah-olah tidak memiliki, yang mempunyai seolah-olah tidak mempunyai, yang membeli seolah-olah tidak membeli … Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli; … 1 Korintus 7:29-30. Singkat kata; segala kemuliaan hanya bagi TUHAN.


TUHAN begitu rinci dalam hal mengajar kita, begitu spesifik dalam urutan-urutannya. Tuhan ajarkan kita menyerahkan segenap hidup, dengan memecahkan segenap hidup, selanjutnya hidup dalam doa penyembahan. Kemudian kita mengerti bahwasanya  segala kemuliaan hanya bagi TUHAN, sehingga kita bisa menata hidup dengan baik. Ibadah dan pelayanan ini pun tertata dengan baik, sesuai dengan pola Kerajaan Sorga. 


Yohanes 12:3

(12:3) Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.


Setelah kemuliaan hanya bagi TUHAN, akhirnya bau minyak semerbak diseluruh rumah itu, persamaannya  …


Matius 26:13b ---Perikop:  “Yesus diurapi’’

(26:13) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."


“… apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia…"

Pendeknya, memecah-mecahkan segenap hidup (hidup dalam doa penyembahan) = penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah, taat hanya kepada kemuliaan Allah, adalah korban ingat-ingatan

Singkatnya, oleh karena Doa Penyembahan, TUHAN ingat kita kembali. Saya akan buktikan dalam Imamat 24:7.


Imamat 24:5-7 --- Perikop: “Roti sajian” 

(24:5) "Engkau harus mengambil tepung yang terbaik dan membakar dua belas roti bundar dari padanya, setiap roti bundar harus dibuat dari dua persepuluh efa; (24:6) engkau harus mengaturnya menjadi dua susun, enam buah sesusun, di atas meja dari emas murni itu, di hadapan TUHAN. (24:7) Engkau harus membubuh kemenyan tulen di atas tiap-tiap susun; kemenyan itulah yang harus menjadi bagian ingat-ingatan roti itu, yakni suatu korban api-apian bagi TUHAN.


Yang pasti Yesus adalah Roti hidup, Roti yang turun dari Sorga. Ia telah memecah-mecahkan segenap hidupNya, sehingga kita bisa melihat dua belas ketul roti di atas Meja Roti sajian. 


Selanjutnya; Membubuhkan kemenyan tulen di atas 12 roti sajian, sebagai bagian ingat-ingatan atau sebagai korban api-apian bagi TUHAN. 

Pendeknya; doa penyembahan bagaikan ukupan wangi-wangian. Itulah ingat-ingatan bagi TUHAN

Jadi, lewat Doa Penyembahan TUHAN ingat kita kembali. TUHAN ingat kembali kehidupan yang telah memecahkan segenap hidupnya. 


Penyembahan itu bagaikan dupa harum (ukupan wangi-wangian) naik ke hadirat TUHAN (tembus ke takhta Allah). Biarlah kiranya Penyembahan kita bagaikan ukupan wangi-wangian, tercium di hadapan TUHAN, dan TUHAN ingat kita kembali. Itu sebabnya TUHAN perintahkan untuk membubuhkan kemenyan murni di atas 12 ketul roti yang ada di atas Meja Roti Sajian, sebagai korban ingat-ingatan. TUHAN ingat kita kembali. 


Jangan malas menyembah. Kalau kita malas menyembah, Tuhan juga malas mengingat kita. Tetapi apabila kita berada di ujung kaki salib, dalam suasana Doa Penyembahan, bagaikan ukupan wangi-wangian, maka TUHAN ingat kita kembali.


Jadi, orang yang sudah memecahkan segenap hidupnya, dalam penyembahan, TUHAN ingat kembali. Jadi, sungguh penyembahan adalah harga mati. Jangan ikuti cara-cara Ibadah yang lama, Ibadah yang dijalankan secara rutinitas/lahiriah, TUHAN tidak ingat. 


Jadi, harus membubuhkan kemenyan murni (tulen) di atas 12 ketul roti di atas Meja Roti sajian, sebagai korban api-apian, supaya TUHAN ingat kita.


Ingat urutannya tadi:

  • 300 dinar upah setahun = mempersembahkan hidup, 

  • kemudian ia memecah-mecahkan segenap hidup, untuk hidup dalam Doa Penyembahan,

  • untuk selanjutnya kemuliaan hanya bagi TUHAN, 

= TUHAN ingat kita kembali.


Mazmur 141:2

(141:2) Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang.


Jadi, doa penyembahan atau penyerahan diri kepada TUHAN adalah dupa (ukupan wangi-wangian) bagi TUHAN, bau harum bagi TUHAN. TUHAN ingat kita kembali. 


Apalagi hari-hari ini adalah waktu yang terakhir (waktu petang). Sudah seharusnya kita berada pada kedudukan untuk menyerahkan hidup, memecahkan segenap hidup, dalam doa penyembahan, sehingga kemuliaan hanya bagi TUHAN. Kedudukan rohani kita sudah berada pada kedudukan seperti itu supaya TUHAN SELALU INGAT, Amin.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI


Pemberita Firman oleh;

Pdt. Daniel U. Sitohang


No comments:

Post a Comment

Terjemahan