KAMI NANTIKAN KESAKSIAN-KESAKSIAN SAUDARA YANG SUDAH MEMBACA FIRMAN TUHAN PADA BLOG INI

Terjemahan

Search This Blog

IBADAH RAYA MINGGU, 08 AGUSTUS 2026



IBADAH RAYA MINGGU, 08 AGUSTUS 2026

KITAB WAHYU

PENDAHULUAN WAHYU 20


Subtema: KERETA BARU ADALAH KETELEDORAN MEMBANGKITKAN MURKA TUHAN


Shalom.

Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, oleh karena rahmatnya kita sekaliannya dihimpunkan di atas gunung Tuhan yang kudus, kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh.


Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, yang turut bergabung lewat online atau live streaming, baik dari Youtube, Facebook atau media sosial lainnya yang digunakan. 

Doa dan harapan kami, biarlah kiranya Tuhan bertakhta di tengah-tengah ruangan ini dan juga bertakhta di hati kita msing-masing, sehingga ada kesukaan Sorgawi dan bahagia saat kita duduk diam menikmati Sabda Allah..


Selanjutnya, mari kita ikuti KITAB WAHYU sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu

Mari kita berdoa dalam Roh supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi.


Saudara, oleh karena kemurahan hati Tuhan kita sudah membahas Wahyu 19:17-21 dengan perikop: binatang serta nabinya dikalahkan”.

Doa dan harapan saya, kiranya pembahasan demi pembahasan yang telah kita bahas bersama-sama, betul-betul menjadi berkat bagi kita masing-masing untuk menolong hidup kita, baik nikah dan rumah tangga, baik ibadah dan pelayanan kita masing-masing.

Intinya; Firman itu menjadi manusia, Firman itu mendarah daging, kalau Firman itu mendarah daging, maka kita sama seperti Firman, kekal adanya, tetapi langit dan bumi satu kali akan berlalu, keadaan manusia sama seperti rumput, dan kemuliaannya sama seperti bunga rumput. Satu kali rumput menjadi kering, kemuliaannya turut raib, sebab 7 tahun nanti antikris akan menjadi raja dan berkuasa, serta memerintah atas seantero dunia ini, juga memerintah atas seluruh aspek-aspek kehidupan manusia, sehingga semua nanti akan di takeover (diambil alih) oleh antikris.

Jadi kita harus memahami itu, oleh sebab itu mari kita kumpulkan gandum (firman Allah) sebanyak-banyaknya, nanti itu akan diperlukan pada saat dunia mengalami resesi yang sangat hebat. 

Mari kita fokuskan diri ini untuk mendengarkan Firman, jangan turuti perasaan daging, supaya jangan ada gerakan yang sifatnya tidak menyukai hati Tuhan.


Dengan berakhirnya Kitab Wahyu 19 pada pemberitaan minggu yang lalu, maka kita akan masuk pasal berikutnya dari Kitab Wahyu, dan malam ini merupakan PENDAHULUAN dari Kitab Wahyu 20.


Wahyu 20 bila dikaitkan dengan Pola Tabernakel terkena kepada RUANGAN MAHA SUCI.

Adapun ukuran dari Ruangan Maha Suci ialah: 1000 hasta, dengan rincian: panjang x lebar x tinggi = 10 hasta x 10 hasta x 10 hasta = 1000 hasta.


Gambar Ukuran Ruangan Maha Suci


Pada Ruangan Maha Suci terdapat satu alat ialah: TABUT PERJANJIAN, alat ini merupakan alat yang terutama dari semua perabotan-perabotan yang ada di Tabernakel.

Adapun Tabut Perjanjian terdiri dari 2 (dua) bagian:

1.  Peti dari Tabut Perjanjian -> Sidang mempelai Tuhan / gereja Tuhan yang sempurna, tanpa cacat cela  atau kerut atau yang serupa itu.

2.  Tutup Pendamaian (tutupan grafirat) dengan 2 kerub di atasnya -> Allah Trinitas, itulah Tuhan Yesus   Kristus sebagai Mempelai Pria Sorga.


Pengertian rohani dari Tabut Perjanjian:

1.   Takhta Allah.

2.  Hubungan nikah, antara Kristus sebagai Mempelai Pria Sorga dengan sidang jemaat sebagai mempelai   wanita-Nya.

Adapun dasar atau landasan dari hubungan nikah ialah: KASIH AGAPE.


Terkait dengan: TAKHTA ALLAH.


2 Samuel 6:1-2 --- Perikop: "Tabut dipindahkan ke Yerusalem."

(6:1) Daud mengumpulkan pula semua orang pilihan di antara orang Israel, tiga puluh ribu orang banyaknya. (6:2) Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari Baale-Yehuda dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim.


Setelah 20 tahun lamanya Tabut Perjanjian ada di Kiryat-Yearim, di rumah Abinadab, maka Daud berusaha untuk memindahkannya ke Yerusalem, ke kota Daud.


Tabut Perjanjian arti rohaninya adalah: TAKHTA ALLAH atau hadirat Allah.

Kalau Tuhan bertakhta di hidup kita maka kita akan mengalami “damai sejahtera”, ayat referensinya … Ibrani 7:2 -- “... Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera …”

  1. Ada damai, itu berarti ia telah berdamai dengan Allah.

Prakteknya: Berdamai dengan diri sendiri atau sudah selesai dengan diri sendiri (ambisinya) serta berdamai dengan sesama.

  1.  Sejahtera, itu berarti Tuhan sudah memenuhi dan mencukupkan segala keperluan-keperluan.


2 Samuel 6:3-5

(6:3) Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu. (6:4) Uza berjalan di samping tabut Allah itu, sedang Ahyo berjalan di depan tabut itu. (6:5) Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap.


Tabut Allah itu dinaikkan ke dalam kereta yang baru atau diangkat oleh kereta yang baru. Sementara kedua anak Abinadab yaitu Uza dan Ahyo mengantarkan atau mengiringi kereta itu.

  • Uza berjalan di samping tabut Allah.

  • Ahyo berjalan di depan tabut Allah itu.

Kemudian, Daud dan seluruh kaum Israel 30.000 (tiga puluh ribu) orang banyaknya menari-nari di hadapan Tuhan dengan sekuat tenaga diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap. 

Itulah keadaan saat mereka mengangkut tabut perjanjian itu dari rumah Abinadab, rencanya akan dibawa ke Yerusalem, ke kota Daud.


Pendeknya, suasana mengangkut Tabut Perjanjian ada dalam suasana pemujaan kepada Allah, mereka mempersembahkan puji-pujian yang meriah dan luar biasa dengan satu anggapan, bahwasanya; Tuhan Allah semesta alam telah ditinggikan di atas muka bumi ini.


Fakta kebenarannya…

2 Samuel 6:6-7

(6:6) Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. (6:7) Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.


Ketika sampai di tempat pengirikan Nakhon, bangkitlah murka Tuhan kepada Uza, sebab Allah membunuh Uza karena keteledorannya. 

Adapun keteledoran Uza ialah: mengulurkan tangannya kepada Tabut Allah, lalu memegangnya.


Sesungguhnya pengertian rohani dari Tabut Allah adalah ...

  1. Takhta Allah.

Perlu untuk diketahui; campur tangan manusia terhadap Takhta Allah itu tidak diperbolehkan, contohnya; ibadah di campur dengan hawa nafsu daging itu tidak diperbolehkan, melayani di campur dengan hawa nafsu daging itu juga tidak diperbolehkan.

  1. Hubungan nikah antara Kristus sebagai Mempelai Pria dengan sidang jemaat sebagai mempelai wanita-Nya.

Campur tangan manusia terhadap hubungan nikah antara Kristus dengan sidang jemaat itupun tidak diperbolehkan, alasannya; sebab dasar / landasan nikah adalah KASIH ALLAH.


Perlu untuk diketahui: Takhta Allah maupun hubungan nikah antara Kristus dengan jemaat, seluruhnya ada didalam Cahaya Shekinah Glory, seluruhnya ada dalam Cahaya Kemuliaan Allah.

Sementara, tangan manusia adalah tangan yang kotor, sebab manusia telah jatuh dalam berbagai-bagai dosa oleh karena nafsunya yaitu:

-    Hidup dalam kebencian (penumpahan darah)

-    Hidup dalam kenajisan percabulan.

-    Hidup dalam kekejian dan kejahatan lainnya.

Jadi tangan manusia itu adalah tangan yang kotor sehingga tidak layak untuk menyentuh Tabut Allah, tidak diperbolehkan bercampur dengan Takhta Allah dan hubungan nikah yang suci.

Itu sebabnya Uza ketika dalam keteledorannya disitulah bangkit murka Tuhan dan membunuh Uza pada saat itu juga.


Pendeknya, tangan manusia tidak layak untuk menyentuh kemuliaan Allah.


Pertanyaannya: MENGAPA UZA MENGULURKAN TANGANNYA KE TABUT ALLAH?

Jawabnya: Karena lembu-lembu itu tergelincir.

Dari sinilah permulaan kesalahan atau keteledoran Uza itu terjadi, karena sesungguhnya Tabut Perjanjian itu harus dipikul para imam yang memang suku Lewi.

Jadi Takhta Allah itu harus dipikul, hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan dalam nikah yang suci dasarnya adalah kasih yang harus dipikul, tidak boleh asal diletakkan di kereta lalu ditarik oleh kedua lembu.

Bahkan segala sesuatu yang Tuhan percayakan kepada kita di tengah-tengah ibadah dan pelayanan inipun harus dipikul di atas pundak masing-masing, tidak boleh asal main tarik oleh kereta yang ditarik oleh kedua lembu, tidak boleh segampang itu.


Keluaran 25:12-14 --- Perikop: "Mengenai tabut perjanjian"

(25:12) Haruslah engkau menuang empat gelang emas untuk tabut itu dan pasanglah gelang itu pada keempat penjurunya, yaitu dua gelang pada rusuknya yang satu dan dua gelang pada rusuknya yang kedua. (25:13) Engkau harus membuat kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas. (25:14) Haruslah engkau memasukkan kayu pengusung itu ke dalam gelang yang ada pada rusuk tabut itu, supaya dengan itu tabut dapat diangkut.


Disini kita melihat, empat gelang emas dipasang pada empat sudut Tabut Perjanjian:

-    2 (dua) gelang emas pada rusuk yang satu 

-    2 (dua) gelang emas pada rusuk yang kedua.

-    2 (dua) kayu pengusung dimasukkan pada rusuk yang satu dan rusuk yang kedua.

Tujuannya adalah: supaya Tabut Allah itu dapat diangkut atau dipikul oleh para imam yang memang suku Lewi.

Keluaran 25:15

(25:15) Kayu pengusung itu haruslah tetap tinggal dalam gelang itu, tidak boleh dicabut dari dalamnya.


Dua kayu pengusung yang dimasukkan pada kedua rusuk tersebut tidak boleh dicabut, melainkan harus tinggal permanen pada Tabut Perjanjian, itu berarti, Tabut Perjanjian harus dipikul, tidak boleh ditarik oleh pedati, tidak boleh ditarik oleh kereta sekalipun kereta yang baru.


Pendeknya, ibadah pelayanan harus disertai sangkal diri dan pikul salib, sekalipun orang lain beranggapan dan mengatakan bahwa hal itu:

-    Kuno / ketinggalan zaman.

-    Tidak menarik.

Sebab, Tabut Allah (ibadah pelayanan) itu tidak boleh ditarik oleh pedati, tidak boleh ditarik oleh kereta sekalipun itu adalah kereta yang baru. 

Itulah sebabnya, saya tetap mempertahankan cara-caranya Tuhan di dalam hal menjalankan ibadah dan pelayanan ini, yaitu; Tabut Perjanjian harus dipikul di atas pundak.

CONTOH diantaranya:

-     Melayani pemberitaan Firman Tuhan menggunakan Alkitab.

Saya tidak akan izinkan ada Handphone/gadget/laptop di atas mimbar saya dan saya tidak akan berkhotbah dengan menggunakan HP/gadget/laptop, sebab berapa banyak kenajisan percabulan tersimpan/terdapat di sebuah gadget. Sekalipun nampaknya itu adalah kereta yang baru, namun saya akan tetap menggunakan Alkitab dan tidak akan berubah dari situ, memang resikonya banyak; salah satunya tidak menarik, tidak apa-apa, yang penting hati Tuhan suka.


-   Gereja kita tetap menggunakan lampu yang terang dengan apa adanya, bukan lampu seperti diskotik (kerlap-kerlip, penuh warna-warni). Sekarang ini betapa maraknya gereja apalagi jemaat yang sudah di atas seribu, mereka menggunakan lampu kerlap-kerlip berwarna warni seperti lampu diskotik, sehingga itu yang menjadi daya tarik mereka dan mata saya sendiri sudah melihatnya, bukan lagi dari kata orang. 

Inilah yang disebut kereta yang baru, hal-hal yang baru datang dari dunia.


Jadi saudara, pelayanan semacam ini sebenarnya sudah sangat memprihatinkan, anggapannya itu adalah kereta yang baru, namun sebetulnya tidak menyukakan hati Tuhan, persis seperti cara Daud, cara Uza membawa Tabut Perjanjian dalam kereta baru, dari rumah Abinadab, rencananya akan di bawa ke kota Yerusalem, kota Daud. Tetapi pada saat itu bangkitlah murka Tuhan, ini yang tidak disadari oleh banyak gereja di atas muka bumi ini. 

Memang yang saya sampaikan seperti menghakimi, tetapi ini fakta yang harus saya sampaikan dan harus jujur kepada Firman Allah di hadapan Allah, dan kita tidak boleh memakai perasaan didalam hal memikul Tabut Perjanjian.


Dengan pengertian ini, doa dan harapan saya kita menjadi kehidupan yang bijaksana, hikmat menyatu dengan akal kita, berarti kita menjadi bijaksana, menjadi dewasa untuk menyenangkan hati TUHAN dan kita bisa mengerti rencana Tuhan yang dinyatakan didalam kehidupan kita masing-masing.


Kita kembali membaca…

2 Samuel 6:8

(6:8) Daud menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang.


Oleh karena peristiwa yang hebat itu, “Daud menjadi marah” karena Tuhan membunuh Uza.

Sementara Daud merasa bahwa dia telah memuja Tuhan dengan sekuat tenaga, namun hal itu tidak berarti, karena Tabut Perjanjian harus dipikul, tidak boleh ditarik dengan kereta yang baru, tidak boleh ditarik dengan hal-hal yang baru sekalipun modern.

Kalau Daud marah seolah-olah Tuhan yang salah, hal ini menunjukkan bahwa Daud tidak menyadari bahwa Uza teledor.

Tidak sedikit orang Kristen menjadi marah karena merasa sudah banyak berkorban, karena merasa sudah banyak mempersembahkan segala sesuatu termasuk jerih lelahnya, akhirnya ketika dia menerima hukuman atas seizin Tuhan, disitu sering kali orang kristen menjadi marah, karena yang menjadi tolak ukur adalah kebenaran diri sendiri, dia tidak menyadari bahwa keteledoran bisa membangkitkan amarah TUHAN.

Oleh sebab itu anak-anak TUHAN jangan teledor, bahkan imam-imam/pelayan-pelayan TUHAN jangan teledor di dalam melayani TUHAN dan pekerjaan TUHAN.


Kemudian tempat dimana Uza mati disebutlah itu Peres-Uza, artinya: pelayanan itu sudah hancur.

Yang menyebut tempat itu "Peres-Uza" bukan Tuhan, tetapi orang itu sendiri, tetapi banyak anak-anak Tuhan yang tidak menyadari itu.

Kalau di dalam sebuah pelayanan (ibadah dan pelayanan itu) ditarik oleh kereta yang baru, maka tempat ibadah pelayanan itu adalah ibadah dan pelayanan yang sudah hancur.

Oleh sebab itu, jangan kita sesuka hati beribadah di  tempat-tempat yang teledor.


2 Samuel 6:9-10

(6:9) Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: "Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?" (6:10) Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu.


Akhirnya Daud menjadi takut kepada Tuhan, ia tidak berani memindahkan Tabut Allah itu ke kota Daud, tetapi membawa Tabut itu ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu.


2 Samuel 6:11

(6:11) Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.


Jadi tiga bulan lamanya Tabut Allah tinggal di rumah Obed-Edom, maka Tuhan memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.

Pendeknya, dimana ada hadirat Allah, disitu Tuhan melimpahkan / mencurahkan berkat-berkat dan kemurahan … 2 Samuel 6:2.


Saudara, mari kita membuka pintu rumah kita, bila mana diadakan kebaktian rumah tangga termasuk doa-doa (biston) rumah tangga untuk menghadirkan Tuhan disitu, karena dimana ada hadirat Tuhan disitu berkat Tuhan dilimpahkan dan dinyatakan. 

Jadi saudara, jangan tutup pintu rumah untuk Tabut Perjanjian, melainkan buka pintu rumah baik secara jasmani maupun secara rohani (pintu hatimu), ijinkan Tuhan masuk dan bertakhta disitu dalam setiap kali kita menyelenggarakan; doa dalam rumah tangga, dan kebaktian dalam rumah tangga atau apapun jenisnya.


CONTOHNYA: dahulu (beberapa tahun yang lalu) ada satu rumah dan rumah ini disediakan untuk sekolah minggu gereja kita sebelum pandemi (covid 19), rumah ini dibuat hanya dari batako saja, belum dilapisi (plester) hanya begitu saja. Ketika saya masuk, lantainya juga hanya disemen begitu saja.

Ketika saya berbincang dengan ibu rumah tangga ini, saya (gereja kita) dipersilahkan untuk adakan ibadah sekolah minggu di rumahnya, karena anaknya bersekolah minggu di tempat ini juga. Lalu singkat cerita, sekolah minggu pun berlangsung; minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun.

Satu tahun kemudian, saya datang melihat rumah ibadah sekolah minggu itu, rumah itu sudah berubah, yang dahulu rumah itu terbuat dari batako kini sudah di plester dan di cat, lantai rumah yang dahulu keropos kini sudah dikeramik dengan indah, lalu didalam rumah sudah ada kursi dan perlengkapan lainnya, lalu dalam hati saya berkata: "rumah ini adalah rumah Obed-Edom, dimana ada Tabut disitu ada berkat Tuhan dilimpahkan."


Pilih mana? Berkat dari Sorga atau berkat dari jerih payah tanpa Tuhan? Jika berkat dari Tuhan sudah pasti dinikmati, namun kalau hasil jerih payah tanpa Tuhan belum tentu itu dari Tuhan.


Mazmur 22:2-4

(22:2) Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. (22:3) Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang. (22:4) Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.


“... Allah bertakhta atau berhadirat di atas puji-pujian orang Israel…” Inilah yang menjadi pengakuan Daud.

Puji-pujian kepada Tuhan terjadi lewat:

a.    Nyanyi-nyanyian.

b.    Perkataan yang baik, manis menyukakan hati TUHAN dan sesama.

c.    Sikap dan perbuatan.


2 Samuel 6:12A

(6:12) Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: "TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu." Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.


Setelah Tuhan memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena Tabut Allah itu, maka berita itu sampai kepada Daud.


Tetapi sebelum kita melihat tentang berita sampai kepada Daud, maka kita akan terlebih dahulu melihat berkat apa yang Tuhan nyatakan kepada Obed-Edom dan seluruh rumah Obed-Edom, ada dalam…

1 Tawarikh 26:4-5 --- Perikop: "Para penunggu pintu dan para pejabat lain di antara orang Lewi"

(26:4) Obed-Edom mempunyai anak-anak, yakni Semaya, anak sulung, Yozabad, anak yang kedua, Yoah, anak yang ketiga, Sakhar, anak yang keempat, Netaneel, anak yang kelima, (26:5) Amiel, anak yang keenam, Isakhar, anak yang ketujuh dan Peuletai, anak yang kedelapan, sebab Allah telah memberkati dia.


Obed-Edom mempunyai 8 (delapan) anak orang laki-laki: 1) Semaya. 2) Yozabad. 3) Yoah. 4) Sakhar. 5) Netaneel. 6) Amiel. 7) Isakhar. 8) Peuletai.

Ini adalah satu bukti nyata bahwa Obed-Edom telah DIBERKATI oleh Tuhan.

Doa dan harapan saya, kiranya anak-anak kita sampai anak cucu kita semua diberkati oleh Tuhan karena Tabut Perjanjian ada di rumah kita (hidup kita), sehingga hadirat Tuhan ada dikehidupan kita masing-masing.


2 Samuel 6:12B

(6:12) Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: "TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu." Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.


Tadi Daud mengalami rasa takut. Karena mengalami rasa takut takut kepada Tuhan, menyimpanglah Daud, artinya; Tabut itu dibawa ke rumah Obed-Edom, Daud tidak berani lagi membawa ke Yerusalem ke kota Daud, tetapi setelah 3 (tiga) bulan lamanya Tabut Perjanjian ada di rumah Obed-Edom, maka Obed-Edom dan seisi rumahnya diberkati oleh Tuhan dan berita itu sampai, sehingga timbullah keberanian pada diri Daud untuk mengambil Tabut itu, lalu dibawa kembali ke Yerusalem ke kota Daud.


1 Tawarikh 15:1 --- Perikop: "Tabut dipindahkan ke Yerusalem."

(15:1) Daud membuat bagi dirinya gedung-gedung di kota Daud, lalu ia menyiapkan tempat bagi tabut Allah dan membentangkan kemah untuk itu. 


Persiapkan hidup ini untuk menjadi tempat dari Tabut Perjanjian. Oleh sebab itu; 

  • Biarkanlah kita memiliki hati yang lapang untuk sebuah Tabut Perjanjian, maka hadirat Tuhan ada disitu. 

  • Dan mendirikan gedung-gedung/ rumah besar hanya untuk menjadi tempat Tabut Perjanjian.

Kemudian membentangkan kemah untuk Tabut Allah. Pendeknya, kemah/hidup kita adalah tempat untuk hadirat Allah / Allah bertakhta.


1 Tawarikh 15:2

(15:2) Ketika itu berkatalah Daud: "Janganlah ada yang mengangkat tabut Allah selain dari orang Lewi, sebab merekalah yang dipilih TUHAN untuk mengangkat tabut TUHAN dan untuk menyelenggarakannya sampai selama-lamanya."


Jadi yang dianggap “layak untuk memikul Tabut Perjanjian” adalah imam-imam yang memang suku lewi. Siapa suku Lewi? Suku Lewi adalah satu suku yang dipisahkan Tuhan dari dua belas suku Israel, lalu mereka dijadikan sebagai anak sulung untuk mempersembahkan dua anak burung merpati.


Jadi tabut TUHAN tidak boleh diangkat dengan sembarangan, tidak boleh dengan asal-asalan, meskipun dengan kereta yang baru. 

Sangkal diri, pikul salib di tengah-tengah ibadah dan pelayanan, orang katakan kuno atau ketinggalan zaman, tidak apa-apa, yang penting hati Tuhan senang. Untuk kereta baru (modernisasi) tetapi asal-asalan, itu namanya teledor, membangkitkan amarah Tuhan, sebetulnya pelayanan seperti itu sudah hancur tetapi banyak orang tidak memahaminya.


Akan tetapi, pada akhirnya Daud mengikuti caranya Tuhan.

Yang PERTAMA: Tabut ditarik dengan kereta yang baru, hal-hal yang moderen masuk ke dalam rumah Tuhan. 

Contoh berikutnya, dengan kereta yang baru / moderen:

  • Perempuan-perempuan yang melayani, bebas memakai celana laki-laki, lalu rambut di cat, dengan warna-warni.

  • Laki-laki melayani, bebas memakai celana levis, jaket levis, dipadu dengan kaos oblong, ditambah dengan memakai sepatu mancung melengkung.

Pendeknya, laki-laki melayani dengan ala koboy, bebas dan sembarangan.


Yang KEDUA: Tabut TUHAN dipikul oleh imam-imam yang datang dari suku Lewi, itulah yang dipilih Tuhan untuk mengangkut Tabut Perjanjian. 

Siapa suku Lewi? Suku lewi adalah suku yang dipisahkan dari dua belas suku Israel, mereka dijadikan sebagai anak sulung untuk mempersembahkan dua anak burung merpati:

  1. Untuk melayani Tuhan dan melayani pekerjaan Tuhan di dalam Tabernakel.

  2. Membawa berita pendamaian dan pelayanan pendamaian … Bilangan 3:11-13 / Bilangan 8:18-19.

Kemudian suku Lewi ini adalah suku yang berpihak kepada Tuhan, peristiwa itu terjadi waktu bangsa Israel menyembah patung anak lembu emas tuangan. Jadi mulai sejak itu suku Lewi dipilih oleh Tuhan untuk mengangkat Tabut Perjanjian sampai hari ini, itulah yang dikatakan layak untuk memikul Tabut TUHAN.


DAMPAK POSITIF, KETIKA LEWI memikul Tabut Allah:

Yang pertama:

2 Samuel 6:13

(6:13) Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. 


Kita melihat, ketika imam-imam (yang memang suku Lewi) memikul Tabut TUHAN, 

  • disitu ada pekerjaan penebusan, 

  • sekaligus umat Israel diperdamaikan kepada Allah. 

Jadi bukan hanya pikul Tabut (bukan hanya sekedar melayani), tetapi disaat imam-imam memikul Tabut disitu ada korban yaitu; “seekor lembu”,  dan seekor anak lembu dikorbankan sebagai korban pendamaian kepada Allah kita

Kemudian mengorbankan “anak lembu gemukan" sebagai korban yang terbaik untuk Tuhan. 

Oleh sebab itu, kita tidak boleh sembarangan dan asal-asal didalam hal memikul Tabut, sebab setiap enam langkah Daud harus mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. Jadi, berapa banyak lembu dan anak lembu gemukan yang harus dipersembahkan untuk Tuhan? Sungguh luar biasa dan tidak terbayangkan.


Yang kedua:

2 Samuel 6:14

(6:14) Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.


Disini kita melihat, “... Daud memakai baju efod…”, berbicara tentang; SENGSARA. 

  • Dan oleh sengsara salib Yesus telah mati

  • kemudian bangkit pada hari ketiga, itu berarti;

  • Hidup dalam hidup yang baru. 

  • Hidup dalam kebenaran.

  • Dan hidup bagi Allah.

“Baju efod” adalah tanda bahwa Yesus adalah Imam Besar.


Jadi dari sini kita bisa melihat, ketika Daud mengangkat Tabut Perjanjian tidak asal-asal dan tidak sembarangan, bahkan Daud menari-nari di hadapan Tuhan dengan sekuat tenaga.


Yang ketiga:

2 Samuel 6:15

(6:15) Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.


Pada saat Daud mengangkat Tabut Tuhan, diiringi dengan: “sorak dan bunyi sangkakala”.

Sangkakala ditiup semakin lama akan semakin keras, demikian juga Firman Allah yang disampaikan; semakin lama akan semakin keras untuk mengadakan penyucian. 

Kemudian ada sorak yaitu: suatu pemujaan yang heran yang ditandai kemenangan besar dihadapan Allah yang mulia.

Jadi, YANG PERTAMA: Daud mengangkat Tabut dengan menggunakan kereta, berarti asal-asalan dan sembarangan, berbeda dengan cara YANG KEDUA: Tabut Allah diangkat atau dipikul oleh imam-imam yang memang suku Lewi, sebab mereka dipilih Tuhan.


Lalu bagaimana suasana yang terjadi pada saat imam-imam mengangkat Tabut itu? Sungguh luar biasa. 

Di ayat 13: “… setiap enam langkah, mereka mengorbankan seekor lembu …” 

Itu berarti; imam-imam dalam memikul Tabut harus mengerjakan pendamaian, kemudian mempersembahkan korban yang terbaik itulah seekor anak lembu gemukan

Lalu di ayat 14: “… Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, lalu dilengkapi dengan baju efod dari kain lenan …” 

BAJU EFOD, berbicara tentang, sengsara salib dan oleh sengsara itu:

  • Yesus telah mati

  • kemudian pada hari ketiga Yesus bangkit; hidup dalam kebenaran, hidup bagi Allah.

Kemudian di ayat 15: “… Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala …” ini adalah suara Firman yang menyucikan hidup kita masing-masing.


Suasana yang pertama ketika Tabut diangkat dalam kereta, tidak ada faedahnya bagi umat Israel.

Sedangkan, suasana yang kedua ketika imam-imam (suku Lewi) memikul Tabut, hasilnya kita rasakan yaitu; 

  • Kita berdamai dengan Allah.

  • Kita hidup dalam hidup yang baru, hasilnya berbeda dengan cara yang pertama.

  • Mengalami penyucian oleh berita penyucian. 

Nampaknya cara yang pertama memang modern dan luar biasa, serta menarik di mata manusia, namun tidak ada pengaruhnya bagi sidang jemaat. Tidak ada faedahnya untuk umat TUHAN, inilah pekerjaan yang sia-sia.

Tetapi cara yang kedua; Tabut dipikul oleh para imam yang memang suku Lewi, manfaatnya luar biasa; ada di ayat 13, 14, dan 15.

Jadi jangan kita datang beribadah hanya terlihat keren dan menarik secara lahiriah, tetapi tidak berfaedah bagi TUHAN dan sesama.

Kemudian,  jangan malu menjalankan suatu ibadah yang benar, suci, dan mulia, walaupun nampaknya kuno dan ketinggalan zaman. Pendeknya, jangan malu pada saat memikul salibnya di tengah-tengah pengikutan kita kepada TUHAN. 


Saudara, inilah yang dimaksud dengan Takhta Allah. Dimana tadi Wahyu 20 dikaitkan dengan Pola Tabernakel terkena kepada RUANGAN MAHA SUCI. Di dalam Ruangan Maha Suci terdapat satu alat itulah Tabut Perjanjian, satu alat yang terutama dari semua peralatan didalam Tabernakel.

Jika Tuhan izinkan, minggu yang akan datang kita akan melihat pengertian rohani yang kedua dari TABUT PERJANJIAN soal hubungan nikah

Tuhan memberkati kita semua. Amen.


TUHAN YESUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI










No comments:

Post a Comment