IBADAH RAYA MINGGU, 06 SEPTEMBER 2026
KITAB WAHYU
WAHYU 20:1-3
(SERI: 2)
Subtema: ROH PENGASIHAN DAN ROH PERMOHONAN
Salam sejahtera di dalam kasihnya TUHAN kita Yesus Kristus, yang telah menghimpunkan kita di atas gunung TUHAN yang kudus, sehingga kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Raya Minggu disertai Perjamuan Suci pada minggu yang pertama ini.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN yang turut bergabung lewat online atau live streaming, atau video internet, baik dari YouTube, maupun Facebook, ataupun Tiktok.
Selanjutnya, doa dan harapan kami, kiranya damai sejahtera dari Sorga memenuhi ruangan ini, memenuhi hati kita masing-masing, dan juga saudara yang turut bergabung lewat online, dimanapun saudara berada. Dan oleh damai sejahtera itu, kita juga merasakan kesukaan sorga, serta bahagia saat kita duduk diam menikmati sabda Allah.
Selanjutnya, marilah kita mengikuti KITAB WAHYU sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Raya minggu.
Namun tetaplah berdoa dalam Roh, mohonlah kemurahan TUHAN, supaya firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Wahyu 20:1-3 --- Perikop: “Kerajaan seribu tahun”
(20:1) Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; (20:2) ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, (20:3) lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya.
Tampaklah, “seorang malaikat turun dari Sorga” memegang kunci jurang maut, dan suatu rantai besar di tangannya.
Selanjutnya malaikat tersebut:
menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan.
mengikatnya seribu tahun lamanya,
melemparkan naga itu ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa di bumi.
Dari sini kita mendapat pengertian yang nyata, sekaligus melihat dengan jelas bahwasannya:
Allah Israel adalah Allah yang hidup.
Allah yang berkuasa atas langit dan bumi.
Tuhan dan Juruselamat bagi manusia
Lanjut kita baca …
Matius 28:18-20a --- Perikop “Perintah untuk memberitakan injil”
(28:19) Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (28:20) dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Amanat agung adalah perintah terakhir Yesus Kristus kepada murid-murid, antara lain:
“Pergi dan memuridkan." Tujuannya menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus.
Yang diperlukan seorang murid adalah sepasang telinga, berarti dengar-dengaranlah. Pendeknya, seorang murid cepat mendengar, lambat untuk berkata-berkata (Yakobus 1:19). Apalagi kalau kita sedang diajar oleh TUHAN, jangan suka ngomel, menggerutu, dan mempersalahkan ajaran TUHAN.
“Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”
Syarat untuk dibaptis:
Terlebih dahulu menerima Yesus = percaya. Bila dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena pada PINTU GERBANG.
Bertobat = berhenti berbuat dosa dan kembali kepada Allah. Bila dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena pada MEZBAH KORBAN BAKARAN.
“Mengajarkan segala sesuatu yang diperintahkan Yesus kepada murid-murid.”
Matius 28:20b
(28:20) dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Janji TUHAN kepada murid-murid di tengah-tengah pengutusannya: “TUHAN menyertai mereka senantiasa sampai kepada akhir zaman”, sampai akhir dari segala sesuatu, sampai berakhirnya langit bumi dan segala isinya.
Kita mengetahui tentang zaman, yaitu:
Zaman Allah Bapa; 2000 tahun yang pertama; dari Adam sampai Abraham.
Zaman Anak Allah; 2000 tahun yang kedua; dari Abraham sampai Yesus Kristus.
Zaman Roh Kudus; 2000 tahun yang ketiga; dari Yesus sampai Roh Kudus turun.
Dan kita tau zaman ini akan berakhir sampai kepada 2000 tahun yang ketiga. Jadi TUHAN beri kesempatan bekerja hanya selama 6 (enam) hari = 6000 tahun, karena bagi TUHAN 1 hari = 1000 tahun. 1000 tahun = 1 hari.
Sesudah zaman ini berakhir, maka akan masuk kepada kerajaan 1000 tahun damai, itulah yang disebut hari ke 7, atau PERHENTIAN YANG BESAR.
“TUHAN menyertai mereka senantiasa sampai kepada akhir zaman” TUHAN telah menepati janji-Nya, hal itu telah kita baca pada Wahyu 20:1-3: TUHAN menangkap, mengikat naga, lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan itu berlangsung selama 1000 tahun lamanya, disebutlah itu kerajaan 1000 tahun damai di bumi, itulah hari ketujuh, hari perhentian yang besar, sesudah berakhir zaman terakhir..
Kaitan dari amanat agung…
Yohanes 19:36
(19:36) Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: "Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan."
Kegenapan firman para nabi adalah: “tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan”, itu berarti terwujudnya pembentukan (pembangunan) tubuh Kristus yang sempurna, dan itu adalah pekerjaan Yesus sendiri. Kita tidak layak membangun rumah bagi Yesus, bagi Musa dan Elia.
Pembangunan tubuh Kristus yang sempurna itu adalah pekerjaan Allah sendiri, sebab disini dikatakan: tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan. Kalau kita bandingkan dengan Kejadian 2:22: “... Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu …”
Dibangun-Nyalah seorang perempuan, artinya kita dibawa masuk dalam pembangunan tubuh Kristus yang sempurna menjadi mempelai TUHAN. Itu adalah pekerjaan Allah, sesuai nubuat para nabi atau kitab taurat.
Jadi, perempuan itu keluar dari laki-laki. Allah yang membangun gereja-Nya sampai sempurna, dengan satu bukti kuat ialah: tidak ada satupun dari tulang-tulang-Nya yang dipatah-patahkan.
Yohanes 19:37
(19:37) Dan ada pula nas yang mengatakan: "Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam."
Kitab para nabi juga menubuatkan: “mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam.”
Intinya, pada akhirnya semua bangsa di bumi ini akan menyadari diri sebagai orang yang berdosa, menyadari kesalah-kesalahan mereka, lalu berbalik dan mengakui Dia yang adalah Allah yang hidup, Allah yang berkuasa atas langit dan bumi, serta Juruselamat umat manusia.
Kalau Yesus datang ke dunia sebagai TUHAN, bukan sebagai manusia yang menderita sengsara di atas kayu salib, maka Dia bukan Juruselamat. Tetapi yang benar, Yesus datang ke dunia ini menjadi manusia, supaya mendapat kesempatan untuk menderita sengsara dan mati di kayu salib, sehingga benar, Dialah yang tertikam itu, Dia Allah yang hidup, Allah yang berkuasa atas langit dan bumi, Dialah TUHAN dan Juruselamat. Pendeknya, amanat agung ada kaitannya dengan Yohanes 19:36-37.
Kita lihat pembuktian ayat 37 dalam Wahyu 1:7.
Wahyu 1:7.
(1:7) Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.
Ketika Yesus kembali ke dalam dunia yang fana ini, Ia datang dengan awan-awan:
“Setiap mata akan melihat Dia”
Jadi bukan hanya satu bangsa, satu benua, tetapi semua orang di semua bangsa di bumi akan melihat Dia di awan-awan.
“Termasuk orang-orang yang menolak dan menikam Dia akan melihat”
Wahyu 1:7b: Dan semua bangsa akan meratapi Dia. Itu artinya, terjadi penyesalan besar-besaran, penyesalan secara masal.
Kita patut bersyukur, sebab TUHAN kita adalah TUHAN yang hidup, berkuasa atas langit dan bumi, TUHAN dan Juruselamat. Kita bersyukur Allah kita bukan Allah yang mati.
“Dan semua bangsa akan meratapi Dia.” Inilah nanti yang akan dialami orang yang menyalibkan Yesus, termasuk orang yang menolak Yesus dan salibNya, menolak Yesus sebagai TUHAN dan Juruselamat, pada akhirnya akan meratapi Dia, disertai dengan penyesalan diri. Tapi penyesalan selalu di akhir datangnya. Kalau ia masih ada kesempatan untuk meratap, puji TUHAN.
Tapi kalau tidak ada lagi kesempatan, mau bilang apa lagi? nanti TUHAN berkata; bye, bye, selamat tinggal. Namun sebelum TUHAN mengatakan hal itu, masih ada kesempatan bagi kita sekarang ini untuk meratap, dan untuk menyadari diri bahwa kita orang berdosa, telah banyak melakukan kesalahan. Camkanlah ini dengan sungguh-sungguh. Hal ini sudah dinubuatkan oleh nabi Zakaria.
Zakaria 12:10 --- Perikop: “Ratapan atas Dia yang tertikam”
(12:10) "Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung.
Di akhir zaman ini TUHAN akan mencurahkan: Roh pengasihan (kemurahan) dan Roh permohonan (Roh Doa). Tujuannya supaya orang-orang kristen (umat TUHAN) di atas muka bumi ini tertolong dan terlepas dari segala persoalan hidup, selagi masih ada kesempatan.
Jadi kalau masih ada kesempatan untuk meratap, menyadari diri, itu bagus. Tetapi jikalau penyesalan terjadi pada saat hari TUHAN tiba, tidak ada lagi artinya, sebab TUHAN akan katakan good bye, (selamat tinggal) sehingga pada saat itu, tidak ada lagi yang bisa kita perbuat. Memohon pengampunan akan ditolak, karena tidak ada lagi kesempatan, walaupun mencarinya dengan mencucurkan air mata.
Itu sebabnya malam ini kita berkumpul, untuk menantikan Roh pengasihan dan Roh permohonan, supaya kita dibuat sungguh-sungguh memohon, berdoa kepada TUHAN. Hati saya sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi saudara, tapi saudara juga harus memperhatikan kesempatan yang ada ini, jangan main-main.
Mereka yang menerima Roh pengasihan (kemurahan) dan Roh permohonan (doa) ialah; keluarga Daud dan penduduk Yerusalem.
Sepertinya kita sedikit menjadi pesimis karena yang menerima Roh pengasihan dan Roh permohonan itu hanya keluarga Daud dan penduduk Yerusalem. Sepertinya TUHAN curang (tidak adil), tetapi tidaklah demikian. Sebab kita melihat hal ini dari pengertian secara rohani.
Keluarga Daud -> Raja.
Ibadah ini adalah takhta Allah, menunjukkan bahwa kita sekarang ini ada di dalam kerajaan Allah, percayalah. Itu sebabnya kita menikmati suasana cinta – yang dalam malam ini – yang tidak pernah kita temukan di luaran sana.
Penduduk Yerusalem -> imam-imam atau ibadah dan pelayanan.
Pendeknya, Roh pengasihan (kemurahan) serta Roh permohonan (doa) dicurahkan kepada imamat rajani.
Saudara, kita ada di tengah-tengah ibadah dan pelayanan dari imamat rajani. Kita datang menghadap TUHAN lewat ibadah Raya Minggu malam ini bukan mencari soal apa yang akan dimakan, apa yang akan diminum, apa yang akan dipakai, tetapi kita datang di tengah ibadah karena kita sedang mencari kerajaan Sorga, di dalamnya ada kebenaran. Pendeknya, malam ini kita ada di tengah-tengah pelayanan IMAMAT YANG RAJANI.
Oleh sebab itu ibadah ini tidak boleh disibukkan hanya dengan perkara-perkara lahiriyah, sampai kita nanti memperoleh apa yang dijanjikan TUHAN itulah Roh pengasihan (kemurahan) dan Roh permohonan (Roh doa).
Ibadah harus dijalankan dengan sistem kerajaan Sorga artinya, tidak sibuk dengan perkara-perkara lahiriah. Jika ibadah dikaitkan hanya kepada perkara-perkara lahiriah, yang bersifat duniawi, itu sangat merugikan sidang jemaat. Tetapi kita harus berada di tengah-tengah pelayanan dari imamat rajani untuk menantikan Roh pengasihan dan Roh permohonan.
Selamat menunaikan ibadah di tengah pelayanan imamat rajani, selamat menantikan Roh pengasihan dan Roh permohonan itu. Buka hati selebar-lebarnya untuk curahan Roh sulung TUHAN. Pendeknya, tanpa Roh pengasihan dan permohonan maka masalah-masalah yang terjadi tidak akan pernah selesai.
KEGUNAAN ROH PENGASIHAN (KEMURAHAN) ialah: agar manusia menyadari siapa dirinya, sampai manusia itu mengalami belas kasihan Allah.
CIRI-CIRI MENGALAMI BELAS KASIHAN:
Mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh.
Mencelikkan mata rohani kita hingga mampu melihat Dia yang tertikam artinya; senantiasa mengarahkan pandangan kepada salib, tidak lagi mengarahkan pandangannya kepada yang lain-lain. Oleh karena Dia yang tertikam kita mendapat pengasihan (kemurahan).
Mampu melunakkan hati TUHAN dalam setiap pertemuan-pertemuan ibadah.
Banyak orang kristen hanya mampu melunakkan hati manusia dan sesamanya. Mungkin ada sesuatu, mungkin ada kepentingannya. Tetapi ciri orang yang menerima Roh pengasihan mampu melunakkan hati TUHAN. Kalau kita mampu melunakkan hati TUHAN, pasti kita juga mampu mengasihi sesama, tanpa kepentingan, tanpa ada sesuatu yang kita ambil disitu. Jadi nantikanlah Roh pengasihan itu saudara.
KEGUNAAN ROH PERMOHONAN (DOA): membangkitkan kerinduan kita untuk menaikkan permohonan atau doa kepada TUHAN.
Kalau tidak ada Roh permohonan maka orang tidak akan mau menaikkan permohonannya dan doa-doanya kepada TUHAN. Jadi kita harus dipenuhkan dengan Roh permohonan, supaya oleh Roh itu kita menaikkan segala permohonan dan doa dipanjatkan kepada TUHAN, terkait persoalan yang kita hadapi di hari-hari terakhir ini.
Saudara, yang ada ini sekarang sedang mengarah kepada kehancurannya. Jadi saudara jangan merasa anteng-anteng, enak-enak, seperti aman saja, perhatikan yang ada ini. Semua negara sudah mengarah kepada kehancuran, dan setiap bangsa sudah mengerti akan hal itu, tetapi mereka tidak tahu jalan keluarnya. Tetapi kepada kita keluarga GPT BETANIA, TUHAN beri pengertian supaya kita ada di dalam rencana TUHAN.
Zakaria 12:10
(12:10) "Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung.
Kemudian, orang-orang yang dipenuhkan Roh pengasihan dan Roh permohonan akan:
memandang kepada Dia yang telah mereka tikam. Jelas itu adalah pekerjaan dari Roh pengasihan (kasih karunia).
Dengan Yesus menderita sengsara dan mati di atas kayu salib, bangsa kafir mendapatkan kemurahan (belas kasihan) atau disebut kasih karunia. Karena Roh pengasihan itu, kita memandang kepada Dia yang telah tertikam, mengarahkan pandangan kepada salib.
Banyak orang kristen rajin ke gereja, seorang pelayan sibuk melayani di tengah pelayanan, tapi tidak mau memandang kepada salib di Golgota? jawabnya; karena kepadanya tidak dicurahkan Roh pengasihan.
Ibadah dan pelayanan memang dijalankan, tapi tidak mau mengarahkan pandangannya kepada salib, kenapa? karena kepadanya tidak dicurahkan Roh pengasihan, matanya hanya ditujukan kepada perkara di bawah, sibuk dengan perasaan hatinya. Padahal ada di tengah ibadah dan pelayanan selalu, tapi tidak mengarahkan pandangannya kepada salib di Golgota, tidak memandang kepada Dia yang tertikam. Jangan sampai kita kehilangan Roh pengasihan. Tetaplah pertahankan pelayanan dari imamat rajani yang tidak mencari perkara lahiriah.
Meratapi Dia seperti orang yang meratapi anak tunggal.
Meratapi Dia, jelas itu adalah pekerjaan dari Roh permohonan, sebab oleh Roh permohonan itu mereka:
akan meratapi Dia seperti meratapi anak tunggal.
Kalau memiliki satu anak, lalu anak itu mati, betapa pedihnya hati orang itu. Seperti itulah seseorang jika ia dipenuhkan Roh permohonan, akan terus meratap kepada TUHAN, menangis sejadi-jadinya, sambil memukul-mukul dadanya, sebagai tanda rasa penyesalan yang besar kepada TUHAN.
Sebaliknya, tanpa Roh permohonan, seseorang tidak akan pernah menyesal, walaupun dia sudah melakukan kejahatan. Baginya hal itu biasa saja. Apalagi kalau dia menggantungkan hidupnya pada perkara lahiriah, pada gaji sebulan, bisnis, uang, harta, kekayaan, tidak akan pernah menyesali diri, sekalipun ada di tengah ibadah dan pelayanan.
Akan menangisi Dia dengan pedih seperti menangisi anak sulung.
Sesungguhnya Yesus Kristus adalah Anak tunggal Bapa, sekaligus Anak sulung.
Yesus bukan benih dari seorang laki-laki, tetapi Yesus dikandung oleh Maria -- seorang perawan -- dari benih ilahi, yaitu: Firman Allah, Roh Allah, kasih Allah. Jadi dari sini kita dapat melihat, Yesus adalah Anak sulung.
“Anak tunggal” adalah Anak yang dikasihi (2 Petrus 1:17) (Matius 17:5)
“Anak sulung” -> Yang diurapi TUHAN untuk satu tanggung jawab.
Kita tau suku Lewi dipisahkan dari 12 (dua belas) suku Israel, lalu dijadikan sebagai anak sulung. Mereka dipisahkan dan diurapi untuk sebuah tanggung jawab, yaitu; melayani TUHAN dan pekerjaan-Nya, juga melayani umat Israel … Bilangan 8:18-19.
Terkait; ANAK SULUNG DAN ROH SULUNG, mari kita selidiki dengan teliti …
Roma 8:18-19 --- Perikop: Pengharapan anak-anak Allah
(8:18) Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. (8:19) Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.
Penderitaan sekarang ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita, itulah kerajaan Sorga. Untuk hal ini tentu saja anak-anak Allah merindukannya bukan? jadi tidak usah ngomel, tidak usah bersungut-sungut, dan panas hati, tidak perlu menggerutu, bila di zaman akhir ini kita sedang menderita sengsara, karena Alkitab berkata: penderitaan sekarang ini tidak sebanding dengan keindahan (kemuliaan) kerajaan Sorga yang akan kita nikmati nanti. Jadi sabar-sabar saja dulu, jangan cepat putus asa, bertahan saja dulu, hanya bersifat sementara saja, untuk menantikan kemuliaan yang akan dinyatakan. Lagipula penderitaan kita sekarang ini tidak sebanding dengan keindahan yang kita alami di Sorga, percayalah.
Roma 8:22-23
(8:22) Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. (8:23) Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.
“... Sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh …” Jadi jangan saudara kecil hati saat menderita sengsara ikut TUHAN. Sebab yang kaya mengeluh, yang setengah kaya juga mengeluh, yang miskin mengeluh, yang setengah miskin juga mengeluh, bahkan yang papah dina juga mengeluh. Jadi, kesusahan yang terjadi tidak perlu untuk dibesar-besarkan.
Semua makhluk “... sama-sama sakit bersalin …”, artinya: sama-sama menderita, hingga berada pada puncaknya. Puncak penderitaan dari seorang perempuan adalah, saat melahirkan.
Seringkali kita menjadi kecil hati, karena merasa bahwa, suami orang lain, istri orang lain dan anak orang lain lebih baik.
Malam ini semua diungkapkan, tidak ada sesuatu yang tersembunyi, yang tidak diungkapkan oleh hati TUHAN. Sebab itu secepatnya lah kita berserah kepada TUHAN. Ada lagu “Ku berserah”
Tidak usah putus asa, tidak usah ngomel. Mungkin seorang istri berkata; kenapa suamiku begini, kenapa suami orang lain lebih baik? Atau seorang suami berkata; kenapa istriku begini, kenapa istri orang lebih baik? Atau orang tua berkata; anakku nakal, suka melawan, kok anak orang lain baik-baik? atau sebaliknya, anak berkata; orang tuaku sering bertengkar, tidak pernah ada damai, orangtua orang lain kasih mesrah? Tidak usah kita repot disitu. Bersabarlah, nantikanlah Roh sulung itu. TUHAN akan mencurahkan Roh pengasihan dan Roh permohonan kepada kita semua untuk menyelesaikan semua problematika yang sedang kita hadapi di atas muka bumi ini.
Kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi sekarang ini tanpa Roh sulung itu. Tinggal berserah saja, TUHAN nanti yang ambil alih, apapun itu, termasuk persoalan kecil, besar dan menengah.
Jadi kita ini sangat membutuhkan karunia sulung Roh, “... sambil menantikan pengangkatan sebagai anak …” yaitu pembebasan tubuh kita = dipermuliakan sebagai anak-anak Allah.
Saya tidak tahu, apakah saudara merasa bahwa dunia ini sedang mengarah kepada kehancuran atau tidak? Kalau saya melihat dari pemberitaan firman sangat relevan sekali dengan situasi, kondisi dan keadaan dunia sekarang ini, apalagi di bumi Pertiwi Nusantara yang kita cintai ini.
Jadi kita sangat membutuhkan karunia sulung Roh, itulah Roh pengasihan dan Roh Permohonan, sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu; pembebasan tubuh kita = kelak dipermuliakan sebagai anak Allah.
Roma 8:25
(8:25) Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.
“Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun”.
Tekunlah dalam tiga macam ibadah pokok, tekunlah dalam hal menuruti Roh permohonan, tekunlah di dalam menuruti Roh pengasihan, tekunlah dalam kegiatan Roh sulung, senantiasa mendominasi seluruh kehidupan ini.
Roma 8:26
(8:26) Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
Karena begitu hebat, begitu berat penderitaan yang kita alami, bibir ini tidak bisa lagi berkata-berkata, selain hanya bisa menangis. Tapi Roh pengasihan dan Roh permohonan itu akan menolong kita untuk terus memohon belas kasihan TUHAN, meratap, menangis sambil menyadari diri bahwa kita ini banyak dosa. Inilah yang kita perlukan di hari-hati terakhir ini, karena masih ada kesempatan walaupun tinggal sedikit lagi, manfaatkan waktu yang ada ini. Tidak ada lagi waktu untuk mencuri, berdusta, berlaku munafik, akal-akalan, pura-pura baik padahal tidak baik.
Sekarang bagi kita adalah bagaimana supaya kita sepenuhnya didominasi oleh Roh sulung, yaitu; Roh belas kasihan, dan Roh permohonan sehingga olehnya kita mampu menaikkan segala keluhan-keluhan yang tak terkatakan kepada TUHAN. Disitu kita datang kepada TUHAN mengakui segala kekurangan-kekurangan, menyadari diri sebagai orang yang berdosa, untuk memperoleh belas kasihan.
Singkat kata: TUHAN akan menyertai murid-murid di tengah-tengah pengutusannya, demikian juga Gereja TUHAN, mendapat penyertaan dari TUHAN, sampai akhir zaman.
Kita kembali membaca …
Wahyu 20:1-3
(20:1) Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; (20:2) ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, (20:3) lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya.
Malaikat dari Sorga menangkap naga itu dan mengikatnya dengan rantai, lalu melemparkannya ke dalam jurang maut. Jurang maut itu dimeteraikan selam 1000 tahun lamanya. Inilah yang disebut hari perhentian yang besar bagi manusia dan bagi nikah-dikah di dunia.
Kemudian, pada hari perhentian itu:
Tidak ada lagi dosa dan godaan-godaan setan,
tidak ada lagi penyesatan-penyesatan,
tidak ada lagi derita sengsara dan air mata, serta perkabungan.
Jadi 1000 tahun damai di bumi ini, disebut juga hari perhentian yang besar untuk manusia, inilah firdaus di bumi. Tapi nanti dari Firdaus lanjut kepada Yerusalem baru = kekekalan.
Tentu saja setiap orang mendambakan kerajaan 1000 tahun damai, yaitu: hari perhentian. Tetapi untuk mencapai hari perhentian yang besar atau kerajaan 1000 tahun damai di bumi, maka di hari–hari terakhir ini kita sudah seharusnya sungguh-sungguh menghormati, menghargai hari perhentian yaitu hari ketujuh, hari sabat, itulah ibadah dan pelayanan, maksudnya; jangan kita jauh dari jam-jam ibadah hanya karena penghormatan kepada yang lain.
Kesibukan lebih dihormati daripada ibadah dan pelayanan. Kemudian manusia, dagingnya, keinginannya dan bisnisnya lebih dihormati daripada ibadah. Kehidupan semacam ini tidak akan mungkin mencapai kerajaan 1000 tahun damai, tidak mungkin mencapai hari perhentian yang besar. Jadi di akhir zaman ini sudah seharusnya kita lebih lagi menghormati hari ketujuh (hari sabat) itulah ibadah dan pelayanan. Jangan kita lebih menghormati yang lahiriah, supaya jangan kita meninggalkan jam-jam ibadah. Untuk pekerjaan on time, tapi untuk ibadah sengaja ditinggalkan demi penghormatan kepada yang lahiriah. Berarti lebih menghormati yang lahiriah daripada menghormati TUHAN. Ini aneh.
Tapi kalau ditanya; apakah merindukan kerajaan 1000 tahun damai?, jawabnya; iya. Kalau ingin mencapai kerajaan 1000 tahun damai, ayo hargai hari sabat (hari ketujuh) yaitu; ibadah dan pelayanan yang TUHAN percayakan ini. Ibadah pelayanan adalah sebuah kereta api, kreta Roh Kudus, sarana untuk membawa kita mencapai kerajaan 1000 tahun damai.
Terkait hari ketujuh sudah kita bahas, namun mengacu kepada Keluaran 20. Ketika kita mengacu dari Keluaran 20 maka kita dapat MENGIKUTI TELADAN TUHAN.
Sekarang kita akan mengacu kepada Ulangan 5. Kita melihat, APA YANG TUHAN MAU?
Ulangan 5:12-14.
(5:12) Tetaplah ingat dan kuduskanlah hari Sabat, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. (5:13) Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (5:14) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau lembumu, atau keledaimu, atau hewanmu yang mana pun, atau orang asing yang di tempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki dan hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga.
Ingat dan kuduskanlah hari sabat.
6 (enam) hari lamanya bekerja, beraktifitas di bumi ini. Itu kesempatan yang TUHAN berikan.
Hari ke 7 (tujuh) adalah hari sabat TUHAN Allah, berarti setiap orang berhenti dari segala aktivitasnya, berhenti dari bisnis, usaha, dagang, pertanian, kuliah, apa saja.
Apakah kita mau taat kepada firman atau lebih taat kepada yang lahiriah?
Ulangan 5:15
(5:15) Sebab haruslah kauingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat.
Apabila berhenti pada hari ketujuh, tidak ada maksud TUHAN yang lain, bukan untuk menyengsarakan saya dan saudara, bukan untuk menghentikan bisnis saudara, bukan untuk membuat saudara susah dan semakin miskin, tapi supaya kita mengalami kelepasan dari dunia ini. Tanpa hari ketujuh kita tidak mungkin mengalami kelepasan dari dunia ini. Orang yang tidak menghargai hari ketujuh, hari sabat, hari perhentian itulah ibadah dan pelayanan tidak akan pernah bebas dari dunia ini (akan tetap di dunia) ini, dan dia akan disebut orang pribumi di bumi ini.
Tetapi orang-orang yang menghargai hari sabat;
dia menganggap dirinya sebagai pendatang dan orang asing di bumi, bukan orang pribumi di bumi ini,
dan tidak terlena dengan segala sesuatu yang disuguhkan oleh bumi.
Dan kita harus ingat seperti TUHAN mengingatkan bangsa Israel, bahwasannya dahulu mereka adalah budak di tanah Mesir. Jangan lupa bahwa kita ini sedang diperbudak oleh dosa, sementara dunia ini berada dibawah kuasa si jahat. Bagaimana kita berada dalam terang, atau bagaimana kita melepaskan diri dari kegelapan, kalau kita tidak menghargai hari sabat? tidak mungkin kita bisa melepaskan diri dari perbudakan dosa, kalau tidak menghargai hari sabat.
Pada hari sabat TUHAN mengulurkan tangan-Nya, dengan “tangan yang kuat, tangan yang teracung” menarik kehidupan kita seperti menarik puntung dari api neraka. Tapi orang yang tidak menghormati ibadah, maka dia sama dengan puntung sampai binasa. Camkanlah ini dengan sungguh-sungguh, tidak usah khawatir soal apa yang dimakan, diminum dan dipakai, cari dahulu kerajaan Sorga semua akan ditambahkan. Hormatilah hari sabat.
Sebagai tambahan, TUJUAN HARI SABAT (IBADAH DAN PELAYANAN): kita menyadari diri bahwa sekarang ini kita masih tinggal di dunia yang fana ini. Sementara di dalam dunia ini hanya ada keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16) dan semuanya itu bukan dari Bapa, melainkan dari dunia.
Pendeknya, dunia ini adalah;
Tempat perbudakan dosa
juga tempat setan menjajah manusia.
Selama kita ada di bumi ini kita harus menganggap, bahwa kita adalah pendatang dan orang asing, artinya kita tidak terlena dengan dunia dan segala sesuatu yang disuguhkan oleh dunia ini, sehingga sebagai pendatang kita menyadari, bahwasannya dunia ini adalah tempat perbudakan dosa, dan tempat setan untuk menjajah manusia.
Itu sebabnya TUHAN berkata kepada bangsa Israel: Dahulu kamu budak di Mesir, ingat, camkan. Dan kitapun harus menyadari itu, supaya bila kita menghormati hari perhentian (hari ketujuh) disitu nanti tangan TUHAN yang kuat, dan lengan TUHAN yang teracung menolong kita semua, untuk menarik kita dari perbudakan dunia. Siapa yang sanggup menghadapi perbudakan dosa di dunia ini? jawabnya; tidak ada. Dengan kepintaran dan kemampuan manusia tidak bisa. Biar dia s3, bahkan sampai habis s, bahkan disebut profesor tidak akan bisa lepas dari perbudakan.
Hanya dengan tangan TUHAN yang kuat dan lengan yang teracung kita ditarik dari tempat perbudakan, yaitu: dunia (Mesir rohani)
Kemudian saya tanya lagi; siapa yang bisa melepaskan diri dari pengaruh iblis atau setan, hanya karena dia punya kelebihan, antara lain: harta, kekayaan, uang yang banyak, kedudukan, jabatan dan pangkat yang tinggi, atau punya gelar sarjana s1, s2, s3, siapa yang bisa melepaskan diri dari setan? justru orang yang merasa diri pandai, hebat, ia jauh dari TUHAN, sehingga ia pun dijajah oleh setan, prakteknya; dia tidak takut korupsi, ia tidak takut menyelewengkan kepercayaan TUHAN di lembaga-lembaga yang ada di dunia ini.
Perhatikanlah ini sungguh-sungguh, itu sebabnya TUHAN ingatkan kita untuk menguduskan hari sabat seperti mengingatkan bangsa Israel: supaya bebas dari perbudakan Mesir.
Bagi anak-anak TUHAN yang sungguh-sungguh menghormati hari sabat, hari perhentian yaitu ibadah dan pelayanan, dibela oleh TUHAN, dengan tangan TUHAN yang kuat.
Lebih jauh kita melihat TANGAN TUHAN….
Yesaya 58:13-14 Menghormati hari sabat.
(58:13) Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat "hari kenikmatan", dan hari kudus TUHAN "hari yang mulia"; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, (58:14) maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya.
Kita harus dengan sungguh-sungguh menghormati hari sabat (hari ketujuh) berarti berhenti dari segala aktivitas dan kesibukan-kesibukan dunia ini.
Sebagai tambahan: kalau mau mengunjungi seseorang (orang-orang dicintai) kunjungilah, tapi jangan pada hari sabat (jam ibadah). Hormati hari sabat, jangan injak-injak hari sabat hanya demi seseorang siapapun itu yang engkau kasihi. Hormati hari sabat, supaya TUHAN hormati kita.
Karena sesungguhnya hari sabat adalah:
Hari kenikmatan.
Hari kudus TUHAN.
Hari yang mulia.
Mari kita menyelidiki ketiga hal tersebut satu persatu.
Tentang: HARI KENIKMATAN.
Bila dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena pada daerah, HALAMAN.
Di halaman ada dua alat:
MEZBAH KORBAN BAKARAN -> Salib di Golgota, dimana Yesus menjadi korbannya.
Pendeknya, sengsara salib harus dinikmati, bukan untuk dipersoalkan (diperdebatkan) dan jangan bersungut sungut.
Lagi pula, potongan-potongan daging dari korban sembelihan yang di persembahkan di atas Mezbah, itu kita nikmati sampai hari ini. Yesus adalah Anak Allah telah disembelih di atas Mezbah korban bakaran itulah salib di golgota, dan potongan daging itu kita nikmati malam ini. Nikmatilah sengsara salib, nikmati potongan-potongan daging dari korban sembelihan. Jangan banyak menggerutu, ngomel, jangan mempermasalahkan apapun, nikmati saja. Dihina nikmati saja, diludahi nikmati saja, tertawa saja, jangan terpancing.
Tapi jujur, saya juga harus memohon kemurahan dari TUHAN, supaya saya kuat, karena saya juga manusia biasa kalau dicubit masih terasa. Kiranya kita sama-sama memperoleh kekuatan dari TUHAN.
Intinya, kalau kita bisa menikmati daging babi panggang, kita juga harus bisa menikmati potongan daging korban sembelihan yang dipersembahkan di atas Mezbah korban bakaran.
KOLAM PEMBASUHAN TEMBAGA, bayangan dari pengalaman kematian dan kebangitan TUHAN Yesus.
“Kuasa kematian Yesus”; hidup lama dikubur. Kalau mati tidak dikubur, orang lain akan mencium aroma bau. Kalau kita mengubur hidup lama, orang lain juga tertolong, tidak terpancing.
“Kuasa kebangitan Yesus”: hidup dalam hidup yang baru, karena yang lama sudah berlalu. Prakteknya; hidup dalam kebenaran dan hidup bagi Allah saja, tidak hidup bagi yang lain-lain. Selama ini kita sering hidup bagi yang lain-lain, tetapi sekarang kita hidup bagi kebenaran dan bagi Allah saja, maka hidup kita juga pasti diperlukan orang lain. Itulah suasana kebangkitan, semuanya itu dinikmati saja.
Tentang: HARI KUDUS TUHAN.
Bila dikaitkan dengan pola kerajaan Sorga, terkena pada RUANGAN SUCI.
Pada Ruangan suci terdapat 3 (tiga) alat:
Meja roti sajian -> ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai perjamuan suci = dikuduskan oleh FIRMAN ALLAH dan oleh tubuh dan darah Yesus lewat perjamuan suci.
Pelita Emas -> Ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh = dikuduskan oleh ROH TUHAN.
Mezbah Dupa -> ketekunan dalam ibadah Doa Penyembahan = dikuduskan oleh KASIH ALLAH.
Jadi jelas, hari sabat (hari perhentian) adalah hari kudus TUHAN, tidak bisa dipungkiri. Kenapa kita bisa mengerti hari sabat adalah hari kudus TUHAN? jawabnya: karena kita menggunakan pola kerajaan Sorga. Kalau hanya berfokus pada Theologia-theologia manusia, kita tidak akan mengerti ini semua.
Tentang: HARI YANG MULIA.
Terkait hari yang mulia bila dikaitkan dengan pola kerajaan Sorga itulah Tabernakel, terkena pada: RUANGAN MAHA SUCI. Maha suci = mulia/sempurna.
Di Ruangan Maha Suci terdapat satu alat, itulah Tabut Perjanjian.
Tabut Perjanjian terdiri dari:
Peti Perjanjian. Terbuat dari kayu penaga, tapi sudah dilapisi emas = tabiat daging sudah dilapisi tabiat ilahi.
Tutupan Grafirat (Tutupan pendamaian).
Selanjutnya, arti rohani Tabut Perjanjian:
Takhta Allah.
Hubungan nikah antara Kristus sebagai mempelai laki-laki Sorga dengan sidang jemaat sebagai mempelai wanita-Nya berdasarkan kasih. Hubungan nikah dasarnya adalah kasih.
Jangan menikah tanpa kasih. Kalau seorang wanita menikah dengan seorang laki-laki karena ganteng atau sebaliknya laki-laki melihat wanita cantik, itu dasarnya bukan kasih, itu penipuan, satu kali akan terjadi gejolak dalam nikah. Sementara hubungan kita dengan TUHAN adalah hubungan dalam nikah suci, dasar kita membangun hubungan dengan TUHAN adalah kasih mempelai.
Setelah sepasang kekasih masuk dalam nikah, andaikata ada persoalan akan terselesaikan, karena dasarnya kasih. Tidak ada nikah yang tidak menghadapi ujian. Semua nikah-nikah di bumi ini baik jemaat, maupun pendeta (gembala sidang) selalu menghadapi ujian. Tapi kalau dasarnya kasih, maka masalah akan selesai. Kalau dasarnya adalah uang atau harta, maka satu kali akan berantakan, hingga terjadi perpisahaan, diawali dengan perabotan rumah tangga terbang terlebih dahulu, sesudah itu dirinya pun terbang tinggalkan rumah (terjadilah perceraian.)
Dari sini kita bisa melihat, untuk mencapai kemuliaan dibutuhkan kasih mempelai.
Pendeknya, menjadi takhta Allah, dan masuk dalam pesta nikah Anak Domba -> HARI YANG MULIA.
DAMPAK POSITIF MENGHARGAI HARI SABAT:
Bersenang-senang karena TUHAN. Ini adalah kebahagiaan Sorgawi.
Ada bersenang-senang di luar TUHAN, itu kebahagiaan yang datang dari dunia, mungkin bisa disebabkan karena keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, tapi sifatnya sementara (tidak kekal). Sedangkan bersenang-senang karena TUHAN, kebahagiaan itu datang dari Sorga; makan tidak makan, tetap kumpul dalam rumah = bersenang-senang karena TUHAN . Jangan kita bersenang-senang karena dunia, itu kebahagiaan dari dunia, tidak kekal.
TUHAN membuat kita sanggup melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan.
Puncak bukit-bukit = puncak pencobaan -> siksaan yang dahsyat pada saat antikris menjadi Raja.
Jadi pada saat antikris menjadi raja, berkuasa dan memerintah atas seantero dunia disitu ada suatu siksaan yang dahsyat. Aniaya antikris disebutlah itu siksaan yang dahsyat, itu sebabnya pada saat antikris menjadi raja yang berkuasa, itulah yang disebut puncak pencobaan (puncak bukit-bukit di bumi).
Dampak positif menghormati hari ketujuh; TUHAN membuat kita sanggup melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan, tepatnya pada saat antikris menjadi raja berkuasa di atas muka bumi ini, kenapa? jawabnya : karena TUHAN memberi sarana (akomodasi) yang disebut kendaraan kemenangan.
Saya akan beri satu gambaran tentang KENDARAAN KEMENANGAN.
Dengan pola kerajaan Sorga, kita diajar untuk tekun dalam tiga macam ibadah pokok.
Pada Ruangan Suci, terdapat 3 (tiga) alat:
Meja Roti; ketekunan Ibadah pendalam Alkitab.
Pelita emas; ketekunan Ibadah Raya Minggu.
Mezbah Dupa; ketekunan Ibadah Doa Penyembahan.
Lewat ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok ini kita dibawa sampai kepada puncak ibadah yaitu Doa Penyembahan. Jadi ketekunan tiga macam ibadah pokok adalah kendaraan kemenangan membawa kita sampai kepada tingkat ibadah yang tertinggi (puncak ibadah) itulah Doa Penyembahan. Sehingga dengan kendaraan kemenangan (puncak ibadah) TUHAN membuat kita sanggup menghadapi puncak pencobaan.
Puncak bukit-bukit (pencobaan) tidak akan bisa dilewati/dilintasi oleh kendaraan yang lain, itu hanya bisa dilintasi oleh kendaraan kemenangan dari TUHAN, yaitu DOA PENYEMBAHAN.
Betapa TUHAN itu sangat perduli dengan nasib kita, karena TUHAN tidak izinkan kita mengalami kekalahan terhadap puncak pencobaan. Tapi TUHAN mau supaya kita mampu melewati puncak pencobaan, itu sebabnya kita dibawa sampai kepada puncak gunung tertinggi yaitu Doa Penyembahan, ini kendaraan kemenangan dari TUHAN.
Jangan kita mengabaikan kendaraan ini, kita harus berada di dalamnya. Itu kendaraan yang TUHAN berikan kepada kita supaya kita berkemenangan terhadap puncak pencobaan. Puncak pencobaan hanya bisa dihadapi dengan puncak ibadah, yaitu: Doa Penyembahan, tidak bisa dengan cara-cara yang lain.
Puncak pencobaan (puncak gelap malam) berlangsung selama tujuh tahun. Hal itu, terjadi setelah tujuh tahun kelimpahan, selanjutnya akan masuk pada tujuh tahun dimana antikris menjadi raja.
Kemudian tujuh tahun ini dibagi dua, antara lain:
3.5 TAHUN YANG PERTAMA di sebutlah itu pra aniaya, ibadah masih bisa dijalankan, tapi sudah dipersulit, buktinya: harga firman menjadi mahal yakni: secupak gandum sedinar, tiga cupak jelai sedinar, tapi janganlah rusakkan minyak dan anggur walaupun ibadah sulit. Apalagi sekarang ini masih ada kesempatan seluas-luasnya untuk beribadah, jangan rusakkan minyak dan anggur, jangan rusakkan Roh kudus, jangan rusakkan anggur sukacita dari Sorga (sukacita mempelai) disitu kita mendapat gandum kasih karunia, dan tiga jelai sedinar yaitu; ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok dari situ kita mendapatkan pembukaan firman.
Dalam 3.5 tahun pertama disebut pra aniaya kita masih bisa beribadah, tapi sudah sulit, buktinya harga firman TUHAN sudah mahal (langka), hal itu yang disebut pembukaan meterai yang ketiga, pada saat itulah tampilnya kuda hitam, yang menungganginya memegang timbangan Wahyu 6:5-6.
Jadi untuk mendapatkan secupak gandum sedinar, tiga cupak jelai sedinar harus antrian dengan timbangan itu. Sementara saya lihat setiap kali saya pulang ke Cilegon setelah ibadah, betapa kendaraan diesel sedang antri di setiap pom bensin, dari Serang sampai ke kota Cilegon. Betapa menderitanya nanti, itu baru pra aniaya.
3.5 TAHUN YANG KEDUA ANTIKRIS MENGHENTIKAN KORBAN SEHARI-HARI, itulah korban sembelihan dan korban santapan.
Korban sembelihan -> Ibadah dan pelayanan disertai sangkal diri, pikul salib sampai berdarah-darah. Dengan demikian kita mendapat kesempatan untuk diselamatkan oleh karena darah salib.
Korban santapan -> Pengajaran Firman Allah yang benar dan murni harus kita santap.
Tapi sayangnya pada 3.5 tahun yang kedua korban sehari-hari dihentikan:
Tidak ada lagi korban sembelihan, berarti tidak ada lagi kesempatan untuk mengalami suatu penebusan oleh darah salib = darah Yesus tidak berlaku lagi pada saat itu.
Kemudian korban santapan juga dihentikan, disitu tidak ada lagi firman Allah untuk dinikmati. Kalau pada 3,5 tahun yang pertama (pra aniaya) masih bisa ibadah tapi sulit, buktinya harga firman mahal, tapi bisa menolong kita, artinya darah Yesus masih berlaku disitu bagi orang berdosa.
Tapi pada 3.5 tahun yang kedua itu yang disebut puncak gelap malam (puncak pencobaan) atau disebut puncak bukit-bukit di bumi . Tidak apa-apa asal saja kita berada dalam kendaraan kemenangan itulah tingkat ibadah tertinggi (puncak ibadah) Doa Penyembahan. Hanya itu satu-satunya kendaraan kemenangan, tidak ada yang lain. Jangan mau disesatkan oleh pengertian-pengertian yang lain.
Bagaimana saudara menanggapi kendaraan kemenangan ini, apakah saudara hanya menganggap itu lelucon, itu hanyalah isapan jempol, itu hanyalah dongeng?
Firman TUHAN Ya dan Amin, mulut TUHAN yang mengatakannya (Yesaya 58:14). Jadi saudara harus percaya kepada kendaraan kemenangan (puncak ibadah) yaitu: Doa Penyembahan. Jangan anggap enteng akan hal itu.
3. TUHAN memberi makan dari milik pusaka, Yakub, bapa leluhurmu.
Perlu untuk diketahui, satu kali nanti TUHAN akan mewariskan kepada kita tanah air sorgawi untuk dijadikan sebagai milik pusaka asal kita hidup dari iman Abraham.
Sementara Ishak dan Yakub adalah ahli waris dari janji TUHAN kepada Abraham. Apa yang dijanjikan TUHAN? tanah air sorgawi, milik pusaka Yakub leluhur Israel. Betapa bahagianya nanti kita di situ.
Bukankah Adam dan Hawa menikmati kebahagiaan di taman eden. Hanya saja begitu tampil setan (ular) rusaklah kebahagiaan itu, hancurlah rumah tangga dan nikah mereka, telanjanglah mereka.
Tetapi ternyata TUHAN mau mengembalikan kita ke sana, yaitu; kebahagiaan yang semula, sebab TUHAN memberi makan dari milik pusaka.
Jadi sekali lagi saya sampaikan; untuk mencapai hari perhentian yang besar, kerajaan 1000 tahun damai, maka di hari-hari terakhir ini kita harus menghormati hari sabat, hari ketujuh, hari perhentian, jangan jauh dari ketekunan tiga macam ibadah pokok, ini kendaraan kemenangan.
Dan yang ketiga kita menikmati milik pusaka Yakub bapa leluhur, yaitu tanah air Sorgawi dengan kebahagiaan yang ada di dalamnya.
Oleh sebab itu belajarlah untuk menghormati/menghargai hari sabat/hari ketujuh/hari perhentian saat sekarang ini untuk mencapai kerajaan 1000 tahun damai. Dampak positifnya; TUHAN janjikan tiga hal itu: bersenang-senang dengan TUHAN, melintasi puncak bukit di bumi itulah puncak pencobaan saat antikris menjadi raja, kemudian ada di dalam tanah air sorgawi sebagai milik pusaka kita.
Orang tua hanya bisa mewariskan 1 gram emas atau lebih, bahkan dosa diwariskan juga, tetapi TUHAN dalam pengudusan-Nya mewariskan tanah air sorgawi kepada kita. Dan itu menjadi milik pusaka kita selama-lamanya. Itu sebabnya orang yang memiliki kebun anggur seperti Nabot tidak akan pernah menjual kebun anggurnya sebab itu adalah milik pusakanya untuk selama-lamanya. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment