KAMI NANTIKAN KESAKSIAN-KESAKSIAN SAUDARA YANG SUDAH MEMBACA FIRMAN TUHAN PADA BLOG INI

Terjemahan

Search This Blog

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 13 OKTOBER 2026



IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 13 OKTOBER 2026

YUDAS 1:12-16

(Seri 10)


Subtema: MENGGERUTU & MENGELUH AKAN NASIBNYA


Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya kita sekaliannya dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, kita boleh datang menghadap Dia lewat ibadah penyembahan. Itu berarti, sebentar kita akan tersungkur di ujung kaki salib TUHAN, sujud menyembah kepada Dia, tentu saja sesudah hati kita diteguhkan oleh Firman ALLAH yang akan kita terima sebentar. 


Selanjutnya, marilah kita mengikuti SURAT YUDAS, sebagai Firman penggembalaan untuk ibadah Doa Penyembahan. Kita masih membahas Yudas 1:12-16, dan malam ini  merupakan seri pemberitaan Firman yang ke-10 kalinya karena kemurahan TUHAN.

Namun, tetaplah berdoa dalam Roh, mohonlah kemurahan dari TUHAN, supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi. 


Yudas 1:12-13, 16

(1:12) Mereka inilah noda dalam perjamuan kasihmu, di mana mereka tidak malu-malu melahap dan hanya mementingkan dirinya sendiri; mereka bagaikan awan yang tak berair, yang berlalu ditiup angin; mereka bagaikan pohon-pohon yang dalam musim gugur tidak menghasilkan buah, pohon-pohon yang terbantun dengan akar-akarnya dan yang mati sama sekali. (1:13) Mereka bagaikan ombak laut yang ganas, yang membuihkan keaiban mereka sendiri; mereka bagaikan bintang-bintang yang baginya telah tersedia tempat di dunia kekelaman untuk selama-lamanya. (1:16) Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan.


Di sini kita melihat, ada 7 (tujuh) tabiat dari orang-orang yang menggabungkan dirinya dengan Setan tritunggal, yaitu; Naga, Antikris, dan Nabi-nabi palsu. Antara lain:

Tabiat PERTAMA: “mereka adalah noda dalam perjamuan kasih” … (ayat 12).

Tabiat KEDUA: “mereka bagaikan awan yang tak berair, yang berlalu ditiup angin” … (ayat 12).

Tabiat KETIGA: “mereka bagaikan pohon-pohon yang dalam musim gugur tidak menghasilkan buah” … (ayat 12).

Tabiat KEEMPAT: “mereka bagaikan ombak laut yang ganas, yang membuihkan keaiban mereka sendiri” … (ayat 13).

Tabiat KELIMA: “mereka bagaikan bintang-bintang yang baginya telah tersedia tempat di dunia kekelaman untuk selama-lamanya” … (ayat 13).

Tabiat KEENAM: “Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya” … (ayat 16).

Tabiat KETUJUH: “Mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan” … (ayat 16).


Malam ini kita akan masuk pada pembahasan yang baru.

Tabiat Keenam: MEREKA ITU ORANG-ORANG YANG MENGGERUTU DAN MENGELUH TENTANG NASIBNYA.


Saudara, mari kita melihat; orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya …

Yohanes 6:34

(6:34) Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."


Di sini kita melihat bahwa orang-orang banyak berbondong-bondong mengikuti Yesus, hanya karena roti, makanan secara jasmaniah.

Berarti dari ayat ini sebetulnya sudah nampak dengan jelas keberadaan mereka adalah manusia daging, sebab roti terhubung langsung dengan daging. 


Yohanes 6:35

(6:35) Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.


Yesus berkata kepada orang banyak; “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Berarti:

  • Datang kepada Yesus, ia tidak akan lapar.

Itu sebabnya malam ini kita datang kepada TUHAN lewat Ibadah Doa Penyembahan karena kita sadar diri kita lapar terhadap Firman ALLAH, kita membutuhkan Firman ALLAH. 

  • Percaya kepada Yesus, ia tidak akan haus lagi.

Malam ini kita datang kepada TUHAN karena memang kita haus akan Firman ALLAH.


Yohanes 6:41

(6:41) Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."


Pada ayat ini kita melihat, orang-orang Yahudi bersungut-sungut karena Yesus menyatakan diri-Nya sebagai roti hidup, roti yang telah turun dari Sorga.


Yohanes 6:42

(6:42) Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"


Pendeknya, orang-orang Yahudi melihat pribadi Yesus dari sisi yang lahiriah, sebab hal itu bisa kita lihat dari pengakuan mereka yang berkata; “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?" 


Orang-orang Yahudi gagal / tidak dapat melihat pribadi Yesus Kristus dari sisi yang ilahi atau tidak dapat melihat keilahian Yesus, menunjukkan bahwa mereka adalah manusia daging, bukan manusia rohani.

Andaikata orang-orang banyak / orang-orang Yahudi tadi melihat Yesus dari sisi keilahian-Nya maka tentu saja mereka adalah manusia rohani. Hanya manusia rohani yang dapat melihat sisi keilahian Yesus.


Kalau kita melihat ibadah pelayanan yang disertai dengan sangkal diri, pikul salib sampai berdarah-darah dari sisi yang lahiriah, maka ibadah semacam ini tentu saja tidak masuk logika.

Demikian juga bangsa Yahudi, mereka berbondong-bondong, mengikut Yesus, tetapi kenyataannya mereka adalah manusia daging, bukan manusia rohani. 


Maka sekarang, bagaimana sikap kita menanggapi ibadah pelayanan yang disertai sangkal diri, pikul salib sampai berdarah-darah?


Yohanes 6:43

(6:43) Jawab Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut.


Jawab Yesus kepada mereka; “Jangan kamu bersungut-sungut.” Berarti jangan menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya. 

TUHAN berkata: jangan kamu bersungut-sungut, karena Yesus melihat orang-orang Yahudi merasa apes / merasa sial bahkan tidak nyaman menjadi pengikut-pengikut Kristus Yesus. Orang-orang Yahudi menganggap bahwa Yesus bukan TUHAN dan juruselamat, karena sesungguhnya mereka tidak dapat melihat Yesus dari sisi keilahian-Nya. 

Itulah sebabnya mereka bersungut-sungut, berarti menggerutu, dan mengeluh tentang nasibnya. Nasib yang bagaimana? Nasib merasa apes, merasa sial karena mereka merasa yang diikuti bukan siapa-siapa, hanyalah anak tukang kayu. 


Bagaimana dengan kita? Apakah kita merasa sial mengikuti TUHAN? Merasa sial sangkal diri pikul salib? Merasa sial memikul sebuah tanggung jawab? 

Orang  yang merasa sial karena salib adalah orang yang suka menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, tidak tahu bersyukur, tidak tahu berterimakasih. 


CIRI-CIRI; MENGGERUTU DAN MENGELUH TENTANG NASIBNYA. 

Yohanes 6:1-2

(6:1) Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. (6:2) Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.


Orang banyak berbondong-bondong mengikut Yesus karena mereka melihat; mujizat kesembuhan yang diadakan-Nya terhadap orang sakit. 

Jadi memang tidak bisa dipungkiri, pengikut-pengikut TUHAN akan lebih banyak melihat mujizat kesembuhan yang diadakan oleh seorang hamba TUHAN. Kebanyakan orang lebih suka melihat karunia-karunia yang dimiliki oleh seorang hamba TUHAN, termasuk karunia mengadakan mujizat kesembuhan atas orang sakit. 

Inilah ciri-ciri orang yang suka menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya; mengikut TUHAN hanya karena mujizat kesembuhan atas orang sakit. 


Sikap Yesus terhadap orang banyak …

Yohanes 6:3

(6:3) Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya.


Sikap Yesus terhadap orang banyak adalah: “... Naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya …”


Saudara, saya ini tidak sedang menghukum atau menghakimi seorang gembala sidang yang jemaatnya banyak. Tetapi biasanya manusia daging, ketika melihat jemaat banyak pasti senang. Akan tetapi manusia Yesus tidaklah demikian, meski orang banyak berbondong-bondong mengikut Dia, justru kenyataannya Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-muridnya = menyendiri. 

Sikap yang ditunjukkan oleh Yesus menimbulkan pertanyaan bagi kita sekarang ini. 


Yang mau saya sampaikan adalah; biarlah kiranya kita senantiasa menyikapi segala berkat kemurahan yang dinyatakan oleh TUHAN dengan naik ke atas gunung dan menyendiri di situ, itu jauh lebih baik. Jangan kita terlena dengan segala sesuatu yang kita peroleh dari dunia ini. Tetapi biar kita menyendiri di atas gunung-Nya TUHAN Yesus. 

Biarlah kiranya oleh berkat itu, ibadah kita termasuk rohani kita semakin naik dan terus naik di puncak gunung dan seorang diri saja di sana, jangan terlena. 


Inilah yang sedang ditunjukkan oleh TUHAN kepada gereja TUHAN di hari-hari terakhir ini. Dan gereja TUHAN harus tanggap dengan sikap yang ditunjukkan oleh Yesus. Maka kita juga harus tanggap dengan sikap yang ditunjukkan oleh Yesus kepada kita malam ini.


Yohanes 6:4-11

(6:4) Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. (6:5) Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" (6:6) Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. (6:7) Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." (6:8) Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: (6:9) "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" (6:10) Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. (6:11) Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.


Kita harus mengucap syukur saudara, jangan selalu menggerutu dan mengeluh tentang nasib, apapun yang terjadi. Lihatlah, kalau ada UCAPAN SYUKUR, 5 (lima) roti dan 2 (dua) ikan nanti itu sisa. 

Kalau ada ucapan syukur senantiasa terhadap apa yang sedang kita alami (hadapi), sehingga meskipun yang kita punya tidak seberapa di tangan, itu akan sisa dan berkelimpahan karena berkat TUHAN ajaib. 


Jadi, kita tidak perlu menggerutu dan mengeluh tentang nasib, sebab: 

  • TUHAN tahu apa yang TUHAN mau kerjakan kepada kita semua, 

  • TUHAN tahu apa yang TUHAN mau perbuat kepada kita semua. 


Memang, TUHAN berkata kepada Filipus; "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?". TUHAN mengatakan hal itu kepada Filipus, sebetulnya TUHAN ingin melihat isi hati Filipus. 

Lalu ketika Andreas mendengar perkataan Yesus kepada Filipus, Andreas pun memberitahukan bahwa seorang anak memiliki 5 (lima) roti dan 2 (dua) ikan. Tetapi bagi Andreas hal itu tidak ada artinya untuk 5000 (lima ribu) orang laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.


Pendeknya, Filipus dan Andreas, mempunyai pola pikir yang tidak ada bedanya dengan manusia duniawi (orang banyak yang mengikut Yesus). Padahal Filipus dan Andreas adalah murid-murid yang dipilih langsung oleh Yesus.  


Yohanes 6:10-13

(6:10) Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. (6:11) Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. (6:12) Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." (6:13) Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan.


Yang terpenting adalah; UCAPAN SYUKUR, sebab dari ucapan syukur itu nanti tampaklah pemeliharaan TUHAN, seperti TUHAN memberi makan 5000 (lima ribu) orang laki-laki dari 5 (lima) roti dan 2 (dua) ikan, bahkan setelah dikumpulkan ternyata masih ada sisa 12 (dua belas) bakul roti sesuai dengan jumlah murid-murid. Jadi yang terpenting adalah, UCAPAN SYUKUR senantiasa kepada TUHAN.



Sementara dari pihak 5000 orang laki-laki; “.. duduk di atas rumput …” … (ayat 10)

Rumput -> Firman Penggembalaan. 

Jadi kita harus duduk di atas rumput untuk menikmati Firman penggembalaan. Kalau kita berdiri, ketika ada goncangan maka ada kemungkinan untuk terjatuh. Tetapi kalau kita duduk di atas rumput penggembalaan, meskipun ada gempa bumi, kita tetap aman. Oleh sebab itu, jangan kita menjauhkan diri dari ketekunan tiga macam ibadah pokok, karena hal itu = duduk di atas rumput. 


Sikap Yesus terhadap orang banyak …

Yohanes 6:14

(6:14) Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia."


Setelah melihat, mujizat 5 (lima) roti dan 2 (dua) ikan yang diadakan oleh Yesus, akhirnya orang banyak tersebut, mengaku bahwa Yesus adalah; “benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” .

Saudara, kalau kita review kembali di dalam Yohanes 6:41; orang banyak tersebut, bersungut-sungut hanya karena Yesus berkata; “Aku adalah roti hidup, roti yang turun dari Sorga.” Berarti; kalau mengikut TUHAN hanya karena kegerakan / mujizat kesembuhan, perbuatan-perbuatan ajaib (Lima roti dan dua ikan), termasuk pengusiran Setan, satu kali orang semacam ini akan bersungut-sungut, berarti menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya.  


Tadi saya bertanya kepada semua jemaat; mengikut TUHAN karena apa? Lalu bagaimana sikap kita menjalakan ibadah yang disertai sangkal diri, pikul salib bahkan sampai berdarah-darah? Kalau dia adalah manusia daging, tentu saja dia akan bersungut-sungut, berarti; menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, merasa sial (apes) mengikuti TUHAN karena salib, namun itu yang terjadi.


Saya juga heran, kenapa orang Kristen mengikut TUHAN, bahkan banyak berbondong-bondong dan berkumpul (berhimpun) di satu tempat peribadatan hanya untuk melihat mujizat kesembuhan atas orang sakit dan melihat perbuatan-perbuatan ajaib lainnya. Alkitab berkata, pengikutan semacam ini satu kali akan bersungut-sungut apabila diperhadapkan dengan; “roti hidup, roti yang turun dari Sorga”, itulah pribadi Yesus yang telah memecah-mecahkan segenap hidup-Nya di atas kayu salib.

Kita sudah melihat setelah Yesus menceritakan tentang; roti hidup, roti yang dipecahkan di atas kayu salib, mereka mulai bersungut-sungut, karena merasa sial / merasa apes mengikut Yesus. 


Tadi mereka mengaku; Yesus adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia. 

Sedangkan tugas nabi adalah; bernubuat, berarti menyampaikan segala sesuatu tentang apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu orang-orang Yahudi harus mendengarkan perkataan Yesus.


Jadi ketika mereka melihat Yesus melakukan mujizat kesembuhan atas orang sakit dan mujizat 5 (lima) roti dan 2 (dua) ikan, mereka mengaku bahwa Yesus benar-benar nabi yang akan datang ke dunia. Itu berarti orang-orang Yahudi mengakui apa yang pernah dinubuatkan oleh Musa kepada bangsa Israel di Padang Gurun. 


Mari kita selidiki di dalam …

Ulangan 18:14 --- Perikop: "Bertenung dan bernubuat."

(18:14) Sebab bangsa-bangsa yang daerahnya akan kaududuki ini mendengarkan kepada peramal atau petenung, tetapi engkau ini tidak diizinkan TUHAN, Allahmu, melakukan yang demikian. 


TUHAN telah menjanjikan tanah Kanaan kepada; Abraham, Ishak, dan Yakub. Kemudian, apabila bangsa Israel tiba di tanah Kanaan, mereka dilarang keras untuk mengikuti cara hidup orang Kanaan yaitu suka mendengarkan peramal atau petenung. Hal itu tidak diijinkan oleh TUHAN.

Maka sidang jemaat jangan suka mendengarkan khotbah tentang ramalan, tenung, horoskop, perbintangan, zodiak, dan sejenisnya. Hal itu tidak diijinkan oleh TUHAN.


Contohnya; ada yang bertanya, “Bintang mu apa?” umpama saya, bintang Aquarius, lalu di situ dikatakan; “hari ini kamu susah, besok dapat uang”, kemudian besoknya dibaca lagi zodiak dengan bintang Aquarius; “hari ini kamu kena malapetaka, besok kamu sukses”. Besoknya ini kapan? Karena tidak kunjung tiba hari yang baik. Namun di dalam TUHAN tidaklah begitu, sebab di dalam TUHAN ada kepastian. 

Itu sebabnya TUHAN juga melarang, satu ayat Firman ditambah dengan cerita-cerita isapan jempol, dongeng nenek-nenek tua, takhayul-takhayul, filsafat kosong. TUHAN juga melarang mendengarkan petenung-petenung, yang senantiasa memberikan petunjuk, tetapi bukan dari Alkitab / dari TUHAN, namun dari arwah-arwah nenek moyang.


Jadi kita sekarang ini ada di Kanaan rohani saudara, berarti dalam suasana kebangkitan. Maka jangan lagi suka mendengarkan khotbah ramalan dan petenung. 


Ulangan 18:15

(18:15) Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.


Musa telah bernubuat bahwa ALLAH akan membangkitkan seorang nabi bagi bangsa Israel, dan selanjutnya Musa berkata "Dialah yang harus kamu dengar."


Tetapi ketika Yesus Kristus tampil diantara orang banyak (bangsa Yahudi) dan berkata; “Akulah roti hidup, Akulah roti yang turun dari Sorga, dan Aku telah mememecah-mecahkan segenap hidup-Ku di atas kayu salib.” Namun mendengar hal itu mereka justru bersungut-sungut.

Padahal jauh sebelum Yesus dibangkitkan bagi orang Israel, Musa sudah berkata; “TUHAN akan membangkitkan Seorang nabi dari tengah-tengahmu, Dialah yang harus kamu dengarkan.” Tetapi faktanya bangsa Israel tidak mau mendengarkan perkataan Yesus. Sebaliknya, mereka bersungut-sungut (menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya), sebab mereka mendengarkan khotbah tentang roti yang dipecah-pecahkan, yaitu pengajaran salib (didikan salib). Sesungguhnya mereka mendambakan mujizat kesembuhan atas orang sakit, dan perbuatan-perbuatan ajaib yaitu lima roti dan dua ikan, bukan soal roti yang dipecahkan di atas kayu salib. 


Ulangan 18:16-17

(18:16) Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. (18:17) Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik;


Cikal bakal seorang nabi dibangkitkan di tengah-tengah bangsa Israel adalah justru karena bangsa Israel bersungut-sungut, terkait dengan kehadiran TUHAN di atas gunung Sinai, dengan api yang menghanguskan. Sebab TUHAN berkata kepada Musa; “Apa yang dikatakan mereka itu baik.” Artinya; TUHAN akan membangkitakan seorang nabi di tengah-tengah mereka, dengan syarat mereka harus mendengarkan dia. 

Tetapi faktanya bagaimana? Ketika Yesus berbicara soal roti hidup, roti yang turun dari Sorga, lalu memecah-mecahkan segenap hidup-Nya di atas kayu salib, justru mereka bersungut-sungut. 


Pendeknya, orang Israel adalah; orang yang keras kepala, keras hati, bebal, dan hidup dengan sesuka hati (maunya sendiri). TUHAN sudah menuruti segala maunya mereka, tetapi dasar bangsa Israel tegar tengkuk, tidak bersunat hati.

Jangan kita seperti itu, TUHAN sudah turuti apa yang kita inginkan, lalu kita tuntut lagi yang lain-lain, kemudian dari mulut kitapun tidak pernah ada ucapan syukur, sebaliknya bersungut-sungut, itu namanya orang yang keras hati dan keras kepala, tidak bersunat hati. 


Ulangan 18:18

(18:18) seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.


Ternyata, Yesus menyatakan segala sesuatu kepada bangsa Yahudi sesuai dengan perintah ALLAH / kehendak ALLAH, hal itu bukanlah kehendak-Nya. Berarti ketika Yesus berkata; Akulah Roti hidup, roti yang turun dari sorga, lalu  dipecah-pecahkan, itu adalah kehendak Allah.  


Yohanes 6:36

(6:36) Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya. (6:37) Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.


“Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.”

Asal kita mau mendengarkan Firman ALLAH, kita datang karena lapar dan kita percaya karena haus, maka tidak akan dibuang saudara, berarti berharga. Sesuatu yang dibuang setara dengan sampah dan kotoran. 


Yohanes 6:38-39

(6:38) Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. (6:39) Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.


Firman ALLAH yang disampaikan oleh Yesus, sesuai dengan perintah ALLAH. 

Itu Sebabnya Yesus berkata kepada orang Yahudi; “Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” 

Adapun kehendak ALLAH Bapa adalah; supaya kita jangan terhilang, melainkan dibangkitkan pada akhir zaman. Tetapi banyak orang Kristen bersungut-sungut ketika Yesus berbicara soal roti hidup, roti yang turun dari Sorga, lalu dipecah-pecahkan di atas kayu salib. 

Pendeknya, mereka tidak mengerti kehendak ALLAH Bapa. 


Marilah kita mengambil keputusan dari detik ini, malam ini, dengan bersikap dewasa dan bijaksana untuk menghadapi roti hidup, roti yang dipecah-pecahkan di atas kayu salib. Berarti di hari-hari terakhir ini, kita harus menjalankan ibadah disertai dengan sangkal diri, pikul salib, sampai berdarah-darah, sebab itu adalah kehendak Allah Bapa. 

Sebetulnya tujuan TUHAN adalah, supaya kita (manusia) dibangkitkan pada akhir zaman, jangan terhilang. 


Bilangan 6:40

(6:40) Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."


Singkat kata; kalau kita mengerti kehendak ALLAH Bapa itulah Firman yang disampaikan oleh Yesus Anak ALLAH maka:

  1. Tidak dibuang.

Berarti berharga di mata TUHAN. Sesuatu yang dibuang adalah sesuatu yang tidak berharga, seharga dengan sampah dan kotoran. Maka tidak dibuang artinya; berharga di mata TUHAN.

Jadi hidup ku dan hidup mu, hidup kita berharga di mata TUHAN. 

  1. Tidak terhilang.

Terhilang disebut juga sesat di jalan karena tidak tergembala dengan sungguh-sungguh.

Oleh sebab itu, mari kita duduk di atas rumput penggembalaan, kemudian,

  1. Dibangkitkan pada akhir zaman.

Artinya memperoleh hidup kekal.


Jadi saudara, buang jauh-jauh (lepaskan diri) dari roh bersungut-sungut, jangan membiasakan diri, menggerutu dan mengeluh tentang nasib, apapun yang sedang terjadi dan apapun yang sedang kita alami. 

Yang terpenting mengucap syukur, dari ucap syukur segalanya akan TUHAN sediakan bahkan sampai berkelimpahan. Apa arti berkelimpahan? Berkelimpahan artinya; satu wadah sudah penuh, tetapi diisi lagi maka menjadi limpah ruah akhirnya kecipratan ke kiri, kecipratan ke kanan, kecipratan dengan orang-orang di sekitar kita. 


Saudara, biarlah kiranya, orang lain turut merasakan berkat dan kemurahan dari Sorga lewat sikap kita yang senantiasa belajar untuk mengucap syukur kepada TUHAN, tidak lagi bersungut-sungut, atau tidak lagi menggerutu dan mengeluh tentang nasib, seperti apapun nasib mu tidak usah bersungut-sungut. 

Mungkin gaji mu hari ini sedikit lebih kecil, bersyukur saja. Dari rasa syukur itu nanti akan terjadi kelimpahan, seperti 5 (lima) roti dan 2 (dua) ikan, sisa 12 (dua belas) bakul. Itupun setelah mereka semua (5000 laki-laki) makan sampai kenyang. 

Dan TUHAN akan memelihara kita dengan cara yang ajaib karena ada ucapan syukur. Tetapi kalau bersungut-sungut, maka tidak akan terjadi mujizat keajaiban dari Sorga. AMIN.



TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI


Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang 



No comments:

Post a Comment