KAMI NANTIKAN KESAKSIAN-KESAKSIAN SAUDARA YANG SUDAH MEMBACA FIRMAN TUHAN PADA BLOG INI

Terjemahan

Search This Blog

IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 10 OKTOBER 2026



IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 10 OKTOBER 2026

STUDY YUSUF

(Seri: 38)


Subtema: 5000 TAHUN ALLAH BERURUSAN DENGAN UMAT-NYA 


Shalom.

Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya kita sekalian dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Kaum Muda Remaja, semua karena kemurahan hati Tuhan.


Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan secara khusus kaum muda remaja atau umat ketebusan Tuhan yang mengikuti secara online. Kiranya damai sejahtera dari Sorga memenuhi ruangan ini dan hati kita masing-masing sehingga oleh damai sejahtera ada sukacita dan damai sejahtera saat kita duduk diam mendengarkan sabda Allah.


Mari kita mengikuti STUDY YUSUF sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Kaum Muda Remaja dan kita masih berada di Kejadian 44:18-34.


Singkat kata, seluruh ayat-ayat Firman ALLAH yang tertulis dalam Kejadian 44:18-34, merupakan tutur kata Yehuda kepada Yusuf yang memohonkan kelepasan bagi Benyamin adiknya itu. Sebab apabila Benyamin tidak kembali ke Kanaan, maka Yakub:

  • Turun ke dunia orang mati karena nasib celaka … (ayat 29).

  • Turun ke dunia orang mati karena dukacita … (ayat 31).

Dari sini dapat kita lihat bahwa Yehuda hormat kepada orang tuanya.

Sementara Alkitab berkata, hormat kepada orang tua lanjut umur di tanah air Kerajaan Sorga, sesuai dengan Keluaran 20:12. 

Oleh sebab itu, hendaklah kaum muda remaja hormat kepada orang tuanya supaya lanjut umur di tanah air Kerajaan Sorga. 


Adapun tutur kata Yehuda kepada Yusuf terangkai dengan baik, menjadi ...

  • sebuah kata-kata yang tersusun dengan rapi,

  • sebuah pernyataan yang elok, manis dan sedap untuk didengar.

Jadi kita semua, secara khusus kehidupan kaum muda remaja perlu mencontoh Yehuda dalam merangkai kata-kata menjadi tutur kata-kata yang baik, manis dan sedap untuk didengar. Oleh sebab itu, jangan lagi asal berkata-kata (berucap), maksudnya jangan mudah untuk mengucapkan kata-kata yang tidak penting (sifatnya tidak membangun) apalagi kata-kata yang kotor.


Amsal 16:24

(16:24) Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.


Perkataan yang menyenangkan adalah seperti MADU, berarti:

  1. Manis bagi hati = Menghibur.

Berarti, kata-kata yang rapi tersusun sifatnya menghibur hati yang terluka.

  1. Obat bagi tulang-tulang = Menguatkan orang yang rapuh.

Berarti, perkataan yang baik dan rapi tersusun dapat menguatkan orang yang rapuh.


Amsal 16:21

(16:21) Orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat meyakinkan.


Orang bijaksana disebut BERPENGERTIAN, sebab perkataannya manis sehingga dapat meyakinkan setiap orang yang mendengarkannya.

Pendeknya, Yehuda adalah orang yang bijaksana/pengkhotbah yang bijaksana, sebab di mulutnya ada firman Allah yaitu perkataan yang manis, sebagaimana yang tertulis dalam Wahyu 10:9, “... di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu.”


CIRI-CIRI KHOTBAH YANG BAIK

YANG PERTAMA: Tidak berpihak pada daging dengan kepentinganya.

Buktinya: Ketika Yehuda menyampaikan permohonan kepada Yusuf, ia tidak membenarkan dirinya.

Kemudian, tidak kompromi kepada kesalahan. Buktinya: Yehuda tidak membela Benyamin sebagai yang tertuduh karena kenyataannya piala perak Yusuf ditemukan di dalam karung Benyamin ... Kejadian 44:16.


Setelah kepala rumah Yusuf menggeledah karung dari saudara-saudara Yusuf mulai dari yang sulung (Ruben) sampai kepada yang bungsu (Benyamin), ternyata piala perak Yusuf ditemukan di dalam karung Benyamin. Pendeknya, pengkhotbah yang baik tidak berpihak kepada daging dan kepentingannya dan juga tidak kompromi kepada kesalahan, kalau salah maka tetap salah.


Seumpama saya ini seorang pengkhotbah, kalau berkhotbah ya berkhotbah saja, jangan berpihak kepada kepentingan daging saya. Kemudian kalau khotbah ya khotbah saja, jangan kompromi kepada kesalahan dari sidang jemaat.

Banyak juga pengkhotbah tidak berani untuk menyampaikan firman Allah yang murni dan benar artinya masih berpihak kepada daging dan kompromi kepada kesalahan. 

Menyampaikan firman yang murni dan benar, sifatnya menyucikan, sehingga sidang jemaat yang berlaku salah dan masih dikuasai oleh dagingnya, kemungkinan bisa meninggalkan tempat peribadatan itu. Namun, Yehuda tidak berpihak kepada daging dan kepentingannya, juga tidak kompromi kepada kesalahan adiknya, Benyamin. 

Sebenarnya Benyamin tidak salah namun dibuat bersalah, itulah hikmat dari pada Yusuf sehingga peristiwa itu berjalan dengan baik karena semua peristiwa itu sedang disutradarai oleh Yusuf. Yusuf ini sutradara yang bagus sehingga nanti terlihatlah rencana Allah yang heran dan ajaib.


YANG KEDUA.

Kejadian 44:18

(44:18) Lalu tampillah Yehuda mendekatinya dan berkata: "Mohon bicara tuanku, izinkanlah kiranya hambamu ini mengucapkan sepatah kata kepada tuanku dan janganlah kiranya bangkit amarahmu terhadap hambamu ini, sebab tuanku adalah seperti Firaun sendiri.


Tutur kata Yehuda kepada Yusuf terangkai dengan baik dan rapi tersusun, bahkan dari ayat ini dapat kita lihat bahwa Yehuda berusaha untuk melunakkan hati dari pada Yusuf.


Singkat kata ...

Yehuda berkata kepada Yusuf: "... tuanku adalah seperti Firaun sendiri."

Pendeknya, dari mulut Yehuda keluar perkataan yang mengakui kebesaran, kekuasaan dan kemuliaan Allah.

Firaun sendiri mengakui kebesaran, kekuasaan dan kemuliaan Yusuf atas istana Firaun dan atas seluruh rakyat di Mesir, tertulis dalam Kejadian 41:40-41.


Jadi, ciri-ciri khotbah yang baik bagian kedua adalah; “mengakui kebesaran, kekuasaan, dan kemuliaan Allah.” Itulah yang benar, jadi tidak sibuk berbicara soal yang gampangan/murahan, tidak sibuk berbicara hal-hal yang lahiriah itulah perkara di bawah/perkara dunia, karena semua itu bersifat remeh temeh.


Kita akan melihat khotbah yang baik.

Mazmur 19:2-6 --- Perikop: "Kemuliaan TUHAN dalam pekerjaan tangan-Nya dan dalam Taurat-Nya."

(19:2) Langit menceritakan kemuliaan ALLAH, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; (19:3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. (19:4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; (19:5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, (19:6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.


Ada dua jenis khotbah yang menceritakan tentang kebesaran, kekuasaan, dan kemuliaan Allah:

YANG PERTAMA (ayat 2-4):

  • Langit menceritakan kemuliaan ALLAH, dan cakrawala memberitakan perbuatan tangan-Nya.

  • Hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.

Hal ini telah kita bahas bersama-sama.


YANG KEDUA (ayat 5-6): Di langit ada kemah/tempat kediaman bagi matahari.

Ini adalah metafora/gambaran dari kebesaran, kekuasaan dan kemuliaan Allah.


Kemah juga disebut TABERNAKEL.

  • Tabernakel dalam bahasa Ibrani disebut "Mishkan."

  • Tabernakel dalam bahasa Yunani disebut "Skene."

Mengapa ada istilah Tabernakel dalam bahasa Ibrani dan Tabernakel dalam bahasa Yunani? Karena Alkitab yang kita punya saat ini atau disebut Bible, itu menggunakan bahasa Ibrani pada Perjanjian Lama dan menggunakan bahasa Yunani pada Perjanjian Baru.


Pertanyaanya, Mengapa harus menggunakan bahasa Ibrani pada Perjanjian Lama dan menggunakan bahasa Yunani pada Perjanjian Baru? Karena sebetulnya keselamatan itu datangnya dari Israel (orang Yahudi) tetapi pada akhirnya keselamatan itu dibawa sampai keujung bumi, dari ujung bumi yang satu menuju ujung bumi yang lain (Timur ke barat, utara ke selatan) ke seluruh dunia, menjangkau bangsa kafir, orang-orang yang bukan bangsa Israel. 


Pengertian dari Tabernakel adalah tempat kediaman. Sementara dalam Mazmur 19:5, “... tempat kediaman untuk matahari.” Ini juga adalah gambaran/metafora dari kebesaran, kekuasaan, dan kemuliaan Allah kepada kita masing-masing.


Lebih rinci tentang "tempat kediaman Allah."

Wahyu 21:1 --- Perikop: "Langit yang baru dan bumi yang baru."

(21:1) Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.


Langit dan bumi yang pertama diganti dengan langit dan bumi yang baru. Oleh sebab itu, kita tidak boleh terlena dengan dunia dan segala sesuatu yang disuguhkan oleh dunia ini. Marilah kita memfokuskan diri pada ibadah pelayanan, pandangan ini kepada kerajaan kekal. Sebab, langit dan bumi yang pertama ini akan berlalu dan dari situ nanti Tuhan akan nyatakan suatu kebesaran dan kemuliaan-Nya. 


Wahyu 21:2-3

(21:2) Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. (21:3) Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.


“Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.” Menunjukkan bahwa mempelai wanita Tuhan adalah Tabernakel Allah/kemah Allah.

Maka fokuslah pada langit dan bumi yang baru itulah mempelai wanita Tuhan, dan menjadi tempat kediaman Allah.


Kemudian dalam Yohanes 1:14 dikatakan bahwa: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Jadi, firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita = BER TABERNAKEL.

Pendeknya, manusia adalah Tabernakel = Tempat kediaman Allah.

 

Ibrani 8:1-5 --- Perikop: "Imam Besar perjanjian baru."

(8:1) Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, (8:2) dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. (8:3) Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan korban dan persembahan dan karena itu Yesus perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan. (8:4) Sekiranya Ia di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang mempersembahkan persembahan menurut hukum Taurat. (8:5) Pelayanan mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah: "Ingatlah," demikian firman-Nya, "bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu."


Ibadah dan pelayanan di bumi adalah gambaran dan bayangan dari ibadah pelayanan yang ada di Sorga, bila ibadah pelayanan di bumi menggunakan pola Tabernakel.

Intinya, Tabernakel yang sejati, ada di dalam Kerajaan Sorga, dimana Imam Besarnya adalah Tuhan Yesus Kristus, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di Sorga … (Ayat  1-2)


Maka setiap kali kita beribadah dan melayani di bumi ini, dengan menggunakan pola Tabernakel berarti ibadah dan pelayanan yang kita kerjakan di bumi ini adalah gambaran dari ibadah dan pelayanan yang ada di Sorga dan di tengah-tengah ibadah pelayanan itu Yesus tampil sebagai Imam Besar Agung, melayani berdoa dan memperdamaikan dosa kita.

Itulah kelebihan/kesulungan dari ibadah pelayanan di bumi, bila menggunakan pola Tabernakel.


Oleh sebab itu, kita semua harus mencari dan menggandrungi ibadah pelayanan di bumi yang menggunakan pola Tabernakel, karena ibadah pelayanan semacam ini merupakan gambaran/pantulan dari ibadah pelayanan yang ada di dalam Kerajaan Sorga, Alkitab yang mengatakan, bahkan Imam Besarnya adalah Tuhan Yesus Kristus.


Pada ayat 5, Musa harus membangun/mendirikan Tabernakel menurut contoh dan model yang telah diperlihatkan atau ditunjukkan Allah kepada Musa di atas gunung Sinai/gunung Horeb, gunung Tuhan. Sehingga umat Israel beribadah menggunakan pola Tabernakel.

Ini yang belum dipahami gereja Tuhan, namun saya melihat di hari-hari terakhir ini apalagi hamba-hamba TUHAN karismatik sudah mulai menggunakan kata-kata “mempelai” dan kata “Tabernakel.”

Dahulu banyak sekali hamba Tuhan yang anti dengan kata “mempelai” dan kata “Tabernakel” karena menurut mereka Tabernakel adalah ajaran yang expired atau kadaluawarsa, padahal kita tidak membangun Tabernakel secara lahiriah melainkan Tabernakel secara rohani.


Saya merindu kiranya kaum muda remaja mengerti dan berpegang teguh terhadap Pengajaran mempelai dan Pengajaran Tabernakel, supaya kita semua kelak menjadi Tabernakel/kemah Allah/tempat kediaman Allah.

Maka, jangan kita sibuk mencari ibadah yang di dalamnya tidak menggunakan pola Tabernakel (kemah Allah). Jangan mencari ibadah yang bentuknya jalan pintas, itu sebabnya Tuhan melarang bangsa Israel melewati daerah Filistin karena itu merupakan jalan pintas.

Memang jika melewati jalan itu sangat singkat sekali tidak sampai beberapa bulan, mungkin maximal 40 hari saja, tetapi Tuhan tidak izinkan. Israel harus turun ke bawah melewati laut Teberau, dan berputar-putar di padang gurun, bahkan dua kali melewati gunung Edom.


Maka jangan kita mencari ibadah dengan jalan pintas tetapi ibadah harus sesuai pola dari Kerajaan Sorga supaya ibadah dan pelayanan itu menjadi satu tanggung jawab yang harus kita pikul, berarti ibadah dan pelayanan harus disertai dengan sangkal diri, pikul salib, ikut Tuhan sampai berdarah-darah. 

Yang pasti Tuhan tetap menyertai kita seperti Tuhan menyertai perjalanan Israel di padang gurun selama 40 tahun, 

  • “kaki mereka tidak bengkak-bengkak”, begitu juga hutang dosa kita tidak bengkak di bumi ini.

  • Kemudian, “baju mereka juga tidak usang” karena Tuhan sudah memberikan pakaian dari langit, dari Sorga, yaitu: pakaian dari kulit binatang -> kasih.

Seperti yang kita ketahui dari sejak semula, (taman Eden), begitu mereka (Adam dan Hawa) telanjang, Tuhan datang membawa kulit binatang, berarti segenap bumi telah mengalami tudung Tabernakel. 

Sesuai dengan Ulangan 8:4, “Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini.” Hutang dosa tidak bengkak, serta pakaian tidak menjadi buruk, tidak dimakan ngengat dan karat.


Musa harus membangun/mendirikan Tabernakel menurut contoh dan model yang telah diperlihatkan (ditunjukkan) Allah kepada Musa di atas gunung Sinai. Singkat kata, Tabernakel adalah gambaran dan bayangan dari Kerajaan Sorga tempat kediaman Allah.


Tabernakel terdiri dari 3 (tiga) daerah:

  • Daerah pertama disebut HALAMAN.

  • Daerah kedua disebut RUANGAN SUCI.

  • Daerah ketiga disebut RUANGAN MAHA SUCI. Kita akan mempelajari kemah/tempat kediaman Allah yang disebut Tabernakel secara singkat sesuai dengan 3 (tiga) daerah yang ada di dalamnya.

Terkait: Daerah HALAMAN.

  • Panjang sekeliling Tabernakel adalah 300 hasta.

  • Tingginya adalah 5 hasta. 

Kisah mengenai pelataran ada di dalam Keluaran 27:9-19.


Keluaran 27:18

(27:18) Panjang pelataran itu harus seratus hasta, lebarnya lima puluh hasta dan tingginya lima hasta, dari lenan halus yang dipintal benangnya, dan alas-alasnya harus dari tembaga.


Panjang Pelataran sebelah utara dan selatan; 100 hasta, sementara lebar Pelataran sebelah Timur dan Barat adalah; 50 hasta. 

Jadi panjang sekeliling Tabernakel adalah; 300 hasta dan tinggi tiang (pagar) dari sekeliling Tabernakel adalah 5 hasta. Dengan rincian:

  • 100 hasta panjang sebelah utara.

  • 100 hasta panjang sebelah selatan.

  • 50 hasta lebar bagian barat.

  • 50 hasta lebar bagian timur.


Pendeknya,  luas dari halaman Tabernakel, adalah 100 hasta x 50 hasta = 5000 hasta.

Sementara, pengertian rohani dari 5000 hasta menunjuk; kurun waktu yang ditentukan, dimana Tuhan berurusan secara langsung dengan umatnya yaitu Israel dan kafir, dimulai dari zaman Abraham sampai akhir kerajaan 1000 tahun damai di bumi.


Jika dikaitkan dengan peta zaman:

  • 2000 tahun pertama disebut zaman ALLAH BAPA, dari Adam sampai Abraham.

  • 2000 tahun kedua disebut zaman ANAK ALLAH, yaitu; Yesus, dari Abraham sampai Yesus Anak Allah, mati dan naik ke Sorga. 

  • 2000 tahun ketiga disebut zaman ALLAH ROH EL-KUDUS, dari Yesus naik Roh Kudus turun, sampai sekarang.  

  • Selanjutnya, masuk dalam 1000 tahun kerajaan damai di bumi, itulah hari ketujuh, hari perhentian yang besar.

Itulah gambaran/bayangan secara rohani; yaitu; dari 5000 hasta.


Jadi dengan pelajaran Tabernakel, kita semakin mengerti, rencana Tuhan dan mengerti kehendak Tuhan dalam kehidupan kita masing-masing.

Maka gereja Tuhan (kaum muda remaja) di hari-hari terakhir ini harus menggunakan kesempatan/waktu yang ada, sebab Tuhan sudah menentukan waktu-Nya untuk berurusan dengan manusia, dimulai dari Abraham sampai dengan; kerajaan 1000 tahun damai = 5000  tahun. 


Jadi, ukuran yang ada pada Tabernakel bukanlah suatu kebetulan, tetapi setiap ukuran demi ukuran dalam Tabernakel sudah ditentukan Allah sendiri dan ukuran itu mempunyai pengertian rohani, sehingga kita betul-betul mengerti rencana Tuhan dan kehendak Allah dinyatakan kepada kaum muda remaja dan bahkan umat Tuhan seantero dunia ini.


Berarti, marilah kita gunakan waktu yang ada ini, sekarang ini kita sudah melewati 2000 tahun yang kedua yaitu Abraham sampai kepada Yesus, sedangkan 2000 tahun ketiga dari zaman Yesus sampai sekarang, berarti sudah 4000 tahun, untuk selanjutnya dibawa masuk pada hari ketujuh yaitu Kerajaan 1000 tahun damai.


Maka kita harus menggunakan “waktu” dan “kesempatan” yang ada ini dengan baik, jangan main-main lagi. Inilah pelajaran Tabernakel sehingga kita dapat mengerti rencana Tuhan.


Kita kembali untuk membaca…

Mazmur 19:2-3

(19:2) Langit menceritakan kemuliaan ALLAH, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; (19:3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.


Disini kita menemukan 2 hal:

  1. KESEMPATAN … (ayat 2)

  2. WAKTU … (ayat 3)

Sebab pada ayat 2 dikatakan: “Langit menceritakan kemuliaan ALLAH, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya”, berbicara soal kesempatan. Mengapa? Sebab saat ini kita ada di atas muka bumi tetapi ada di bawah kolong langit berarti kita mempunyai ruang yang luas, kesempatan untuk kita gunakan dengan baik.


2 Petrus 3:8

(3:8) Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.


Di hadapan Tuhan, 1 hari = 1000 tahun. Sebaliknya, 1000 tahun = 1 hari.

Pendeknya, 1 hari di sini -> Kerajaan 1000 tahun damai di bumi yang disebut juga Firdaus.


Sementara kita sudah berada pada 4000 tahun yang terakhir artinya: kerajaan 1000 tahun damai sudah di depan mata. 

Perlu untuk kita ketahui bahwa kedatangan Tuhan sudah diambang pintu dan kita tidak boleh terlena dengan segala sesuatu yang disuguhkan oleh dunia ini. Berarti, selama kita hidup di bumi, di bawah kolong langit yang luas ini merupakan kesempatan, maka kita gunakan dengan baik, jangan disia-siakan.


2 Petrus 3:9

(3:9) Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.


Panjang sabar Tuhan tidak boleh disalah artikan sebagai kelalaian Tuhan, tetapi panjang sabar Tuhan merupakan kesempatan bagi manusia. Mengapa? Jawabnya: Tuhan tidak menghendaki kebinasaan melainkan pertobatan. Bertobat artinya: Berhenti berbuat dosa dan kembali kepada Tuhan.


Kemudian pada ayat 10A dikatakan: “... tetapi hari Tuhan akan seperti pencuri.” Berarti bagi orang yang tidak menghargai kesempatan yang luas ini, maka bagi mereka kedatangan Tuhan persis seperti pencuri di malam hari. Sedangkan mereka yang menggunakan ruang yang luas (menggunakan kesempatan) yang Tuhan berikan, ia tidak takut kapan saja Tuhan datang = telah siap sedia. 

Oleh sebab itu, tentang hari kedatangan TUHAN tidak perlu dituliskan, yang penting hari ini, besok dan lusa, kita sudah harus mempergunakan kesempatan yang ada ini untuk mencapai kerajaan 1000 tahun damai.


Kita kembali untuk  membaca …

Mazmur 19:2-3

(19:2) Langit menceritakan kemuliaan ALLAH, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; (19:3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.


Hari dan malam berbicara tentang WAKTU.

Berarti kita harus menggunakan waktu yang Tuhan berikan dengan baik. Jangan habiskan waktu dengan hal-hal yang tidak penting, perhatikan tugas dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan, dahulukan tugas dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan.

Pendeknya, selain memperhatikan kesempatan, kita juga harus menggunakan waktu dengan baik.


Efesus 5:15-16

(5:15) Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, (5:16) dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.


Perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup:

  • Jangan seperti orang bebal (orang bodoh) yang terus menerus mengulangi kesalahan.

  • Tetapi hidup seperti orang arif/bijaksana.

Kelebihan orang arif/bijaksana adalah; mempergunakan waktu yang ada dengan baik.


Dahulu pelajar (anak-anak sekolah) dari SD, SMP, SLTA tidak diperkenankan membawa HP (hanphone) ke sekolah, namun semua menjadi berubah atas seizin Tuhan, secara khusus, ketika terjadi gempa bumi pada tahun 2020 yaitu; covid-19 mengguncang seluruh dunia, sejak itulah Handphone/telepon genggam/gadget dipergunakan oleh semua anak sekolah karena sesaat lamanya pembelajaran (proses belajar mengajar) dilakukan dari rumah disebutlah itu daring. Tetapi kenyataannya setan begitu hebat mempelintir keadaan yang ada (mengubah waktu dan mengubah keadaan) sehingga anak-anak sekolah dimulai dari SD, SMP, SLTA, sampai perguruan tinggi bahkan nenek-nenek (orang yang sudah tua) juga sibuk menggunakan Handphonenya sehingga dengan HP yang ada di tangannya dia melupakan waktu yang ada, dia melupakan tugas dan tanggung jawab yang ada sampai jatuh sakit, karena kurang tidur.

Tetapi Alkitab berkata “jadilah arif dan bijaksana” yang mempunyai kelebihan yaitu; mempergunakan waktu yang ada dengan baik.


Kemudian, pada ayat 16 juga dikatakan: "Karena hari-hari ini adalah jahat." Artinya:

  1. Hari-hari ini adalah hari-hari terakhir.

  2. Waktu yang ada sudah sangat terbatas/singkat.

Sebab “waktu” erat kaitannya dengan dosa/kejahatan, tanpa dosa tidak ada waktu dan tanpa dosa maka yang ada hanyalah KEADAAN KEKAL. 

Sebelum manusia melakukan dosa (kejahatan) belum ada waktu melainkan manusia berada dalam kekekalan (taman Firdaus). Namun begitu manusia jatuh dalam dosa, Adam dan Hawa diusir dari taman Eden, sejak itulah waktu berlaku bagi manusia dan waktu terus bergulir sampai sekarang.


Oleh sebab itu pergunakan waktu yang baik, jangan gunakan dengan hal yang sia-sia, prioritaskan pekerjaan yang Tuhan percayakan. Tidak salah memiliki gadget (handphone) tetapi perhatikan dahulu tugas dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan.


Selanjutnya …

Alkitab berkata pada Kejadian 1:1 dikatakan "pada mulanya Allah" berarti dalam keadaan kekal, belum ada waktu karena Allah itu sempurna adanya, sementara manusia belum ada (belum diciptakan) begitu juga dosa belum ada.

Pada Yohanes 1:1 dikatakan "pada mulanya adalah firman." Itu berbicara tentang kesempurnaan/kekekalan, jadi belum ada waktu namun begitu dosa masuk, kejahatan pun bertambah-tambah, barulah ada waktu dan waktu bergulir sampai sekarang.

Namun Alkitab berkata “hari-hari ini adalah jahat” berarti hari-hari ini adalah hari-hari terakhir, waktunya sudah singkat. Maka gunakanlah waktu yang ada sesuai dengan penjelasan Mazmur 19:2-3.

Jadi kita harus mengakui bahwa kita harus menggunakan kesempatan dan waktu dengan baik.


Bagaimanakah caranya menggunakan kesempatan (Ruang yang luas)  dan waktu yang ada dengan baik?

Jawabnya; di daerah HALAMAN terdapat 2 (dua)  alat:

  1. Mezbah Korban Bakaran merupakan gambaran dan bayangan dari salib di Golgota, dimana Kristus yang menjadi korbannya. 

Sementara, Mezbah Korban Bakaran -> Pertobatan, dasar kita untuk dibaptis air.

  1. Kolam Pembasuhan Tembaga, berbicara tentang baptisan air. 

 Baptisan air -> Pengalaman Yesus dalam tanda kematian   

 dan kebangkitan-Nya.

Jadi, sebelum masuk dalam baptisan terlebih dahulu bertobat.


Jadi, yang mau mempergunakan “waktu” dan “kesempatan” dengan baik adalah orang yang menghargai Korban Kristus, berarti orang yang mau BERTOBAT. 

Bertobat artinya: Berhenti berbuat dosa dan kembali kepada Allah. Kemudian, masuk dan menyatu dalam pengalaman kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

  • Kuasa kematian Yesus: Mengubur hidup lama, daging tidak bersuara lagi.

  • Kuasa kebangkitan Yesus: Hidup dalam hidup yang baru, artinya: Hidup dalam kebenaran dan hidup bagi Allah


Inilah orang yang mempergunakan waktu dan kesempatan yang ada, dia tidak menyia-nyiakan darah salib sehingga ia mengalami pertobatan, kemudian ia tidak menyia-nyiakan BAPTISAN berarti; satu dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.


Tadi pertanyaannya: Bagaimanakah cara untuk menggunakan “kesempatan” dan “waktu” yang ada dengan baik? Jawabnya: Tidak menyia-nyiakan 2 (dua) alat yang di daerah Halaman yaitu:

  • Mezbah Korban Bakaran = tidak menyia-nyiakan darah salib.

  • Kolam Pembasuhan Tembaga, menyatu dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Itulah pelajaran singkat tentang Halaman.


Jika Tuhan izinkan kita akan mempelajari lagi tentang daerah pertama yaitu: Halaman, daerah kedua Ruangan Suci, dan daerah ketiga Ruangan Maha Suci di minggu-minggu yang akan datang jika Tuhan berkehendak. Tuhan Yesus memberkati kita semua khususnya kaum muda remaja. Amin.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang






No comments:

Post a Comment