IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 01 OKTOBER 2026
MALEAKHI 3:1A
(Seri: 13)
Subtema:
Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya kita sekaliannya di himpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, kita boleh datang menghadap Dia lewat ibadah pendalaman Alkitab, disertai dengan perjamuan suci.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN, yang turut bergabung lewat online, atau live streaming, atau video internet, baik dari Youtube, maupun Facebook, tiktok, dimanapun saudara berada.
Biarlah kiranya damai sejahtera dari Sorga, dari Allah memenuhi ruangan ini dan hati kita masing-masing, juga saudara yang mengikuti secara online. Sehingga oleh damai sejahtera, diikuti dengan sukacita sorgawi, bahagia saat kita duduk diam menikmati sabda Allah.
Selanjutnya, marilah kita mengikuti STUDY MALEAKHI sebagai firman penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab, disertai dengan perjamuan suci.
Mari kita mengikuti Maleakhi 3:1a, dan malam ini merupakan seri pemberitaan firman Allah untuk yang ke 13 kalinya. Namun tetaplah berdoa dalam Roh, mohonlah kemurahan dari TUHAN, supaya firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Maleakhi 3:1a
(3:1) Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.
Disini dikatakan: "… Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! ..."
Marilah kita melihat sekaligus mengenali suruan yang diutus oleh TUHAN dalam injil Matius 11.
Matius 11:10-11 --- Perikop: "Yesus dan Yohanes Pembaptis."
(11:10) Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. (11:11) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.
Utusan yang mendahului Tuhan tersebut adalah YOHANES PEMBAPTIS.
Adapun tugas pokok Yohanes Pembaptis sebagai utusan Tuhan ialah: mempersiapkan jalan bagi Tuhan.
Demikian juga seorang hamba Tuhan, apalagi seorang yang mengaku dirinya sebagai gembala (pemimpin sidang jemaat), memiliki tugas pokok, yaitu; mempersiapkan sidang jemaat untuk menyongsong kedatangan Tuhan kembali ke dalam dunia yang fana ini, untuk yang kedua kalinya.
Sebab pada saat Tuhan datang pada kali kedua, Dia tampil:
Sebagai Tuhan yang harus disembah.
Sebagai Raja di atas segala raja dan Mempelai Pria Sorga.
Terkait; Sebagai Tuhan yang harus disembah telah kita bahas bersama pada minggu yang lalu, maka malam ini tentu saja kita akan membahas terkait: Yesus tampil sebagai Raja di atas segala raja dan Mempelai Pria Sorga.
Terkait: YESUS TAMPIL SEBAGAI RAJA DI ATAS SEGALA RAJA YANG BERKUASA …
Wahyu 19:6-7 --- Perikop: "Perjamuan kawin Anak Domba."
(19:6) Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. (19:7) Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.
Kedatangan Tuhan Yesus kembali ke dalam dunia yang fana ini untuk yang kedua kalinya, nampak pada perjamuan kawin Anak Domba.
“Ia tampil sebagai Raja” .. (ayat 6)
“Dan tampil sebagai Mempelai Laki-Laki Sorga” ... (ayat 7)
DIAWALI YESUS TAMPIL SEBAGAI RAJA:
Ketika Yesus tampil sebagai Raja, pada saat itu terdengar suara penyembahan yang besar dan dahsyat dari himpunan besar orang banyak di bumi. Dalam penyembahan yang hebat itu mereka berkata: "HALELUYA".
Untuk memperoleh pengertian tentang HALELUYA, kita harus bandingkan dengan penyembahan dari himpunan besar orang banyak di Sorga.
Wahyu 19:1-5 --- Perikop: "Nyanyian atas jatuhnya Babel."
(19:1) Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: "Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, (19:2) sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu." (19:3) Dan untuk kedua kalinya mereka berkata: "Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya." (19:4) Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: "Amin, Haleluya." (19:5) Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: "Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!"
Intinya adalah; terdengar suara penyembahan yang hebat (yang heran) dari himpunan besar orang banyak di Sorga. Dalam penyembahan itu mereka berkata "HALELUYA" sebanyak 3 (tiga) kali. Berarti suasana penyembahan di bumi, yang berkata "HALELUYA", ternyata itu adalah pantulan suara penyembahan dari himpunan orang banyak di Sorga. Sehingga penyembahan di bumi sama dengan penyembahan yang ada di Sorga.
Jadi dalam suasana penyembahan, kita cukup mengatakan; Haleluya. Kalau memang tidak dikaruniakan bahasa lidah, tidak usah minder, karena karunia-karunia di dalam diri seseorang itu berbeda-beda, tidak mesti karunia bahasa lidah. Akan tetapi jikalau memang TUHAN karuniakan bahasa lidah, jangan ditahan-tahan (ditolak), karena bahasa lidah (bahasa Roh) berguna untuk untuk membangun hubungan kita dengan TUHAN.
Adapun kata, "HALELUYA" itu adalah bahasa Ibrani.
Artinya: Pujilah Tuhan, dengan rincian:
“HALELLU” = Pujilah.
“YAH” adalah singkatan dari Yahweh, artinya: Tuhan.
Haleluya PERTAMA dapat kita temukan pada (ayat 1.)
Seruan "Haleluya" ini terdengar dari penyembahan himpunan orang banyak, sebab Allah telah menghukum pelacur besar yaitu perempuan Babel.
Adapun pekerjaan perempuan Babel adalah “merusakkan bumi dengan percabulannya.”
Ketika seseorang dirusak oleh kenajisan percabulan, maka dia tidak akan sampai kepada tingkat ibadah tertinggi yaitu doa penyembahan, sehingga tidak akan terdengar suara penyembahan yang mengatakan "haleluya" dari mulutnya.
Tapi malam ini, dari mulut kita keluar penyembahan yang mengatakan Haleluya, karena kita tidak mau meninggalkan jam-jam ibadah, tidak hidup di dalam kenajisan percabulan.
Pendeknya setelah perempuan Babel dihukum, maka pada saat itu terdengarlah suara penyembahan yang heran dan hebat dari himpunan orang banyak di Sorga, mereka berkata: Haleluya.
Ibrani 12:16
(12:16) Tetapi bumi datang menolong perempuan itu. Ia membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga itu dari mulutnya.
Esau adalah anak sulung, berarti kepadanya dipercayakan hak kesulungan itu.
Tetapi sangat disayangkan sebab ternyata Esau dikuasai oleh KENAJISAN PERCABULAN.
Diangkat menjadi anak sulung, artinya sudah dipisahkan dari umat TUHAN, untuk selanjutnya menjadi imam-imam, melayani TUHAN, melayani pekerjaan TUHAN, dan dipercayakan tugas pendamaian.
Anak sulung seharusnya tidak boleh dikuasai kenajisan percabulan, tapi kenyataannya Esau sebagai anak sulung dikuasai kenajisan percabulan.
PRAKTEK KENAJISAN PERCABULAN: “Esau menjual hak kesulungan untuk sepiring makanan”, sama artinya menjual yang rohani demi yang lahiriah.
Berbeda dengan Yakub adiknya, meskipun anak bungsu, tidak punya apa-apa, sama seperti badanya klimis, tapi Yakub menjual yang lahiriah demi yang rohani.
Menjual yang rohani atau meninggalkan ibadah dan pelayanan demi sesuap nasi atau demi perkara-perkara lahiriah itu adalah NAFSU RENDAH.
Kalau seseorang sudah melayani TUHAN, tetapi hidup di dalam kenajisan percabulan, berarti nafsunya rendah. Kenapa saya katakan itu nafsu rendah? karena kalau kita melayani TUHAN dan bekerja untuk pekerjaan TUHAN, niscaya TUHAN pasti berkati, niscaya TUHAN pasti cukupkan segala keperluan-keperluan, karena tidak ada orang yang bekerja tanpa memperoleh hak dari TUHAN.
Orang yang bekerja pasti mendapatkan upah, Rasul Paulus yang berkata dalam suratan 1 Korintus 3:8.
TUHAN pasti memelihara umat ketebusanNya TUHAN secara ajaib, jadi tidak usah bingung bagaimana cara TUHAN menolong, memelihara dan memberkati.
Sekali lagi saya sampaikan dengan tandas; melayani tetapi dikuasai kenajisan percabulan, disebutlah itu nafsu rendah (murahan).
Singkat kata, Esau sebagai anak sulung telah dirusak oleh kenajisan percabulan, dengan kata lain Esau telah mabuk anggur dari perempuan Babel.
Hal yang senada juga ditemukan pada Wahyu 18:3.
Wahyu 18:3
(18:3) karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya."
Jadi bukan hanya Esau saja yang dikuasai oleh kenajisan percabulan;
Ternyata semua bangsa telah mabuk anggur dari perempuan Babel.
Juga raja-raja di bumi,
bahkan pedagang-pedagang di bumi telah mabuk anggur dari perempuan Babel.
Mereka berusaha menjadi kaya, tapi oleh kelimpahan hawa nafsu perempuan Babel.
Memang kita harus mabuk anggur, tetapi mabuk anggur dari Sorga, di dalam hal melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN.
Selanjutnya…
Kejadian 27:33-34, 36 --- Perikop: "Yakub diberkati Ishak sebagai anak sulung."
(27:33) Lalu terkejutlah Ishak dengan sangat serta berkata: "Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku? Aku telah memakan semuanya, sebelum engkau datang, dan telah memberkati dia; dan dia akan tetap orang yang diberkati." (27:34) Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya serta berkata kepada ayahnya: "Berkatilah aku ini juga, ya bapa!"
(27:36) Kata Esau: "Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku." Lalu katanya: "Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?"
Esau telah dirusak oleh kenajisan percabulan, sehingga Esau harus kehilangan 2 (dua) hal:
Hak kesulungan.
Berkat yang dijanjikan Ishak kepada dia.
Setelah Esau kehilangan kedua hal tersebut, “akhirnya Esau menangis, meraung-raung dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya”. Selanjutnya, Esau memohon berkat yang dijanjikan Ishak (ayahnya) kepadanya. Tetapi jawab Ishak kepada Esau; “aku telah memberkati dia (Yakub), dan ia akan tetap orang yang diberkati.”
Pendeknya, penyembahan tidak keluar dari mulut Esau, selain hanya meraung-raung dengan keras dalam kepedihan hati, karena Esau telah dirusak oleh kenajisan percabulan. Seandainya Esau menghargai dua hal, yaitu hak kesulungan yang dipercayakan oleh TUHAN, juga berkat yang dijanjikan Ishak, maka yang keluar dari mulutnya bukan raung-raungan dengan kepedihan di hati, melainkan suara penyembahan, dengan berkata; Haleluya, yang keluar dari dalam lubuk hati yang terdalam, berarti keluar dari dalam ketulusan, bukan keluar dari kepedihan hati.
Orang kristen, biar tiap hari beribadah, bahkan imam-imam sekalipun selalu berada di rumah TUHAN, melayani TUHAN dan pekerjaan TUHAN, tetapi manakala ia terikat dengan kenajisan percabulan, maka kenajisan percabulan itu merusak hidupnya dan rohaninya. Dari mulutnya tidak akan pernah keluar suara penyembahan yang mengatakan Haleluya, yang didorong oleh ketulusan di hati. Justru yang ada, sama seperti Esau, mulutnya meraung-raung sangat keras yang didorong kepedihan di hati.
Berbeda dengan Yakub; memang dia anak bungsu, badanya klimis artinya tidak punya apa-apa, tapi dia bijaksana. Dimana letak kebijaksanaan Yakub?
Dia menjual yang lahiriah demi hak kesulungan.
Cekatan dan dengar-dengaran kepada ibunya, Ribka.
Ibu -> Gembala.
Itu sebabnya, sebagai anak-anak TUHAN, kita harus tergembala dengan sungguh-sungguh supaya tampak (nyata) di dalam diri kita; Roh taat, setia, dengar-dengaran, itulah yang nyata di dalam diri Yakub.
Ibrani 12:17
(12:17) Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.
Ketika Esau hendak menerima berkat dari hak kesulungan itu, ia ditolak. Mengapa ia ditolak? … karena ia tidak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
Jadi sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki kesalahan. Kalau masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, pergunakanlah itu dengan baik, karena kesempatan itu adalah panjang sabar TUHAN. Kesempatan yang TUHAN berikan kepada kita adalah kemurahan hati TUHAN, jadi jangan disia-siakan.
Sekedar mengingatkan; 7 (tujuh) tahun kelimpahan dimulai dari tahun 2020 sampai 2027. Jadi kalau saudara masih tetap dikuasai kenajisan percabulan sampai hari ini, kesempatan untuk memperbaiki kelakukan masih ada, tetapi waktunya sudah sangat singkat untuk memperbaiki kelakuan.
Kalau saudara memperoleh sesuatu (harta benda) dengan cara kenajisan percabulan, lepaskan saja segera, jangan ditunda-tunda lagi.
Lebih terang tentang lagi; PEREMPUAN BABEL …
Wahyu 17:3-4 --- Perikop: "Penghakiman atas Babel."
(17:3) Dalam roh aku dibawanya ke padang gurun. Dan aku melihat seorang perempuan duduk di atas seekor binatang yang merah ungu, yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat. Binatang itu mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk.
(17:4) Dan perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya.
Saudara, jangan mau ditunggangi oleh perempuan Babel, seperti yang nampak pada Wahyu 17:3, baik ibadah dan pelayanan, maupun nikah dan rumah tangga kita.
Oleh sebab itu, kita harus hati-hati dengan penyamaran yang dilakukan oleh perempuan Babel, sebab perempuan Babel tampil dalam 3 (tiga) hal:
“Memakai kain ungu dan kain kirmizi”
Kain ungu berbicara soal kemuliaan raja, tetapi dalam kepalsuan.
Kain kirmizi berbicara soal sengsara derita namun palsu.
Ungu dicampur dengan kirmizi (merah) hasilnya biru, berbicara tentang kebangkitan dari seorang hamba, tetapi ini juga kebangkitan yang palsu.
Jadi, dari warna kain yang dipakai perempuan Babel menunjukan bahwa, seolah-olah dia telah menyatu dengan kematian, kebangkitan dan kemuliaan Kristus.
“Dihiasi dengan emas, permata dan mutiara.”
Emas berbicara soal kemurnian.
Kalau emas dilemparkan ke dalam dapur api, emas tidak akan pernah berubah menjadi abu, tetapi emas akan semakin dimurnikan. Jadi pencobaan yang kita hadapi itu maksudnya untuk memurnikan kehidupan kita masing-masing, sehingga kita tampil menjadi emas murni di hadapan TUHAN.
Jadi, seolah-olah perempuan Babel ini telah menghiasi diri dengan kemurnian.
Permata, berbicara kehidupan yang berharga dan bernilai tinggi, tetapi itu adalah kepalsuan.
Mutiara berbicara soal kehidupan yang sudah dibentuk lewat derita sengsara salib, tetapi itu adalah kepalsuan.
Jadi, seolah-olah perempuan Babel ada dalam pemurnian, seolah-olah dia sangat berharga (bernilai tinggi dan mulia), dan seolah-olah kehidupannya sudah dibentuk lewat derita sengsara. Namun sebetulnya, segala sesuatu yang melekat di dalam dirinya adalah KEPALSUAN. Itu sebabnya, di muka (diawal) tadi sudah saya katakan, terkait Wahyu 17:3-4; hati-hati dengan penyamaran dari perempuan Babel, karena segala sesuatu yang melekat di dalam dirinya itu bersifat kepalsuan.
“Di tangannya ada suatu cawan emas” penuh dengan kekejian dan kenajisan percabulan menunjukkan penyembahan tertinggi dari perempuan Babel adalah KENAJISAN PERCABULAN.
Kalau kita bandingkan dengan Wahyu 8:3-4, di tangan malaikat ada cawan emas, tapi isinya penuh dengan kemenyan. Sementara di tangan perempuan Babel ada cawan emas, tapi isinya penuh dengan kekejian dan kenajisan percabulan. Berarti jelas sekali bahwa; penyembahan tertinggi dari perempuan Babel (setan tritunggal) adalah KENAJISAN PERCABULAN.
Hati-hati untuk berada di sebuah tempat peribadatan, jangan kita terkecoh dengan penyamaran yang dilakukan oleh perempuan Babel.
Pilih mana; cawan emas di tangan malaikat yang turun dari sorga atau cawan emas di tangan perempuan Babel. Hati-hati saudara.
Cawan emas di tangan perempuan Babel selain kekejian, isinya adalah kenajisan percabulan, artinya penyembahan tertinggi dari perempuan Babel adalah kenajisan percabulan.
Sementara, di tangan malaikat yang turun dari Sorga ada juga cawan emas, isinya adalah kemenyan untuk dibakar, asapnya naik kehadirat Allah.
Pilih mana; penyembahan tertinggi dari setan atau penyembahan tertinggi dari TUHAN? Tetapi kita sudah melihat, penyembahan dari perempuan Babel hanyalah meraung-raung didorong oleh kepedihan hati. Sementara penyembahan yang heran dan besar dari himpunan orang banyak di bumi dan di Sorga, berkata; Haleluya, didorong oleh ketulusan hati.
Haleluya KEDUA ditemukan pada … (ayat 3).
Seruan "haleluya" terdengar sebab, “asapnya naik sampai selama-lamanya.”
Asap yang naik ke hadirat Allah -> Doa penyembahan, sebagai tingkat ibadah yang tertinggi / puncak ibadah.
Wahyu 8:3-4
(8:3) Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. (8:4) Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.
Naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus dari tangan malaikat itu di hadapan Allah.
“Naiklah asap kemenyan” -> Doa Penyembahan sebagai tingkat ibadah tertinggi / puncak ibadah.
Sedangkan, “seorang malaikat lain” -> Pribadi Yesus Kristus, sekaligus tampil sebagai Imam Besar Agung, untuk memimpin ibadah-ibadah di atas muka bumi ini sampai kepada puncaknya itulah Doa Penyembahan.
Jadi kita harus berjuang supaya ibadah maupun rohani kita, hendaklah berada pada tingkat ibadah tertinggi/puncak ibadah, itulah doa penyembahan.
Kita bandingkan dengan…
Matius 4:8-9
(4:8) Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, (4:9) dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."
Ibadah tertinggi / puncak ibadah dari iblis atau setan adalah “kerajaan dunia dengan kemegahannya” atau kemewahan atau keindahan yang ada di dalamnya, disebutlah itu KENAJISAN PERCABULAN.
Sedangkan, tingkat ibadah yang tertinggi/puncak ibadah di dalam Tuhan adalah DOA PENYEMBAHAN. Kita akan lihat itu pada ayat 10.
Matius 4:10
(4:10) Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"
Tingkat ibadah tertinggi/puncak ibadah dalam Tuhan adalah DOA PENYEMBAHAN.
Penyembahan, artinya: Penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah. Prakteknya: Hanya kepada Dia saja kita berbakti!
Berbakti, artinya: Mempersembahkan korban-korban kepada Tuhan di tengah-tengah ibadah dan pelayanan.
Kebaktian berarti berbakti di tengah ibadah dan pelayanan.
Jadi kalau seseorang berada di tengah ibadah dan pelayanan, tapi tidak membaktikan dirinya, tidak mau melayani TUHAN, tidak mau melayani pekerjaan TUHAN, itu namanya bukan berbakti (bukan kebaktian) kepada TUHAN, itu namanya sedang jalan-jalan di rumah TUHAN.
Jam-jam ibadah, jam-jam kebaktian, ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok itu jangan ditinggalkan karena pekerjaan, karena bisnis, karena perkara-perkara lahiriah lainnya atau kesibukan di bumi ini, karena praktek penyembahan; penyerahan diri sepenuh adalah; hanya kepada Dia sajalah kita berbakti.
Wahyu 4:11
(4:11) Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.
Di sini dikatakan: "Lalu iblis meninggalkan Dia" Menunjukkan bahwa ibadah/kehidupan rohani kita sudah berada pada puncak tertinggi yaitu doa penyembahan. Sehingga pada saat itu terdengar suara penyembahan yang berkata "HALELUYA." Berarti, asapnya naik untuk selama-lamanya.
Selama ibadah kita belum berada pada tingkat yang tertinggi (puncak ibadah), disitu setan terus menggocoh, disitu setan terus menguji. Tetapi manakala ibadah kita sudah sampai kepada tingkat yang tertinggi (puncak ibadah), pada saat itulah iblis mengundurkan diri dari kehidupan kita, sehingga terdengarlah suara penyembahan, yang berkata; Haleluya, lalu naiklah asap sebagaimana dengan penyembahan yang kedua di Wahyu 19:3: “… Dan untuk kedua kalinya mereka berkata: "Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya." …”
Kita harus membuktikan diri di hadapan Tuhan dan mengakui bahwa kita sedang menantikan kedatangan Tuhan kembali ke dalam dunia yang fana ini, sebagai Raja di atas segala raja. Itu berarti, Dia yang berkuasa dan berdaulat atas kehidupan kita. Maka otomatis suara penyembahan itu harus terdengar dan berkata; Haleluya.
Sebaliknya, kalau kita menantikan Yesus sebagai Mempelai Pria Sorga, kita harus menyucikan diri supaya sama dengan Dia. Tapi apabila kita menantikan Yesus sebagai Raja, Dia harus berdaulat dan berkuasa penuh atas kehidupan kita. Itulah sebabnya dari himpunan besar orang banyak di bumi, terdengar suara penyembahan, yang mengatakan Haleluya. Namun kita tidak menemukan secara rinci pengertian Haleluya. Sehingga kita membandingkan dengan penyembahan dari himpunan besar di sorga untuk memperoleh pengertian tentang Haleluya.
Dan kita sudah memperoleh pengertian tentang Haleluya yang kedua. Asapnya naik, karena iblis sudah mundur. Jikalau iblis terus menerus bersama-sama dengan seseorang, maka bagi dia tidak ada waktu untuk menyembah, karena ia sibuk dengan segala perkara-perkara di dunia ini. Tetapi apabila iblis sudah undur dari seseorang, maka ia akan berada pada puncak ibadah; Doa Penyembahan, asapnya naik sampai selama-lamanya. Hendaklah itu terjadi dalam hidup kita, karena Dia Raja di atas segala raja.
Haleluya KETIGA ditulis pada … (ayat 4)
Seruan ini terdengar sebab ke-24 tua-tua dan 4 makhluk tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu.
Pelajaran singkat tentang: 24 TUA-TUA, bermula dari…
Wahyu 4:4
(4:4) Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka.
Disini dikatakan; di sekeliling takhta itu ada 24 takhta, pada takhta-takhta itu duduk 24 (dua puluh empat) tua-tua.
Disini betul-betul kita bisa melihat, kesamaan antara Tabernakel di bumi dan Tabernakel di Sorga
Wahyu 4:2; sebuah takhta terdiri di Sorga -> Tabut Perjanjian.
Wahyu 4:4; di sekeliling takhta itu ada 24 takhta, dan di atas takhta-takhta itu duduk 24 tua-tua; mereka memakai pakaian putih dan mahkota emas di atas kepala mereka.
24 tua-tua bila kita bandingkan dengan Tabernakel Musa menggambarkan Meja dengan 12 ketul roti di atasnya.
Kita mengetahui 24 tua-tua adalah gambaran dari 12 rasul pada zaman hujan awal dan 12 rasul pada zaman hujan akhir.
Pendeknya, Meja dengan 12 ketul roti di atasnya adalah bayangan dari gereja TUHAN dengan 12 rasulnya. Dengan demikian terdapatlah persamaanya.
Jadi 12 rasul hujan awal -> injil keselamatan, dan orang-orang yang menerimanya menjadi: Percaya, bertobat, dibabtis dan dipenuhkan dengan Roh El-Kudus. Ayat Referensinya Kisah Para Rasul 2:36-40.
Tapi antusias ibadah kita tidak boleh berhenti sampai disitu saja, yang walaupun memang di tengah-tengah injil keselamatan itu diberitakan, lalu terjadi kegerakan, terjadi mujizat-mujizat, termasuk mujizat kesembuhan dan pengusiran setan. Namun antusias kita tidak boleh hanya berhenti pada karunia-karunia yang ada pada hamba-hamba TUHAN tersebut, yakni karunia menyembuhkan, karunia mengusir setan, karunia memindahkan gunung dan seterusnya, tidak boleh berhenti sampai disitu.
Itu sebabnya Paulus berkata dalam Ibrani 6:1: … beralihlah kepada perkembangannya yang penuh … berarti beralih kepada 12 rasul hujan akhir dengan pengajarannya, itulah injil kerajaan.
Jadi, 12 Rasul hujan akhir itu adalah injil kerajaan. Berarti injil kerajaan ini membawa kita sampai kepada kemuliaan. Itu sebabnya kita tidak boleh berhenti hanya pada asas-asas pertama tentang ajaran Kristus, yaitu; percaya, bertobat, dibabtis, dan dipenuhkan Roh Kudus, disebut juga injil keselamatan, itulah 12 rasul hujan awal.
Meski gereja mengalami mujizat tetapi kalau tidak sampai kerajaan Sorga (kemuliaan) apa artinya mujizat kesembuhan di bumi, apa arti tanda-tanda heran di bumi, tidak ada artinya. Sebab itu harus beralih pada perkembangan yang penuh, beralih pada injil kerajaan, beralih pada rasul hujan akhir.
CIRI INJIL KERAJAAN:
2 Korintus 4:3-4
(4:3) Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, (4:4) yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.
“Cahaya tentang kemuliaan Kristus”, itulah Firman Pengajaran yang rahasia nya dibukakan.
Oleh pembukaan rahasia firman Allah, Mazmur 119:130: “... Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh. Mulutku kungangakan dan megap-megap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu. …”
Bila terjadi pembukaan rahasia firman Allah:
“Akan memberi terang”. Artinya; pembukaan rahasia firman berkuasa untuk membawa kita kepada terang yang ajaib -> imamat rajani.
Memberi pengertian kepada orang-orang bodoh, berarti oleh pembukaan rahasia firman, berkuasa untuk membawa kita menjadi orang bijaksana disebut bintang-bintang di langit, tugasnya menuntun banyak orang kepada kebenaran.
Imamat yang rajani dan orang yang bijaksana, kedua-duanya berbicara soal kemuliaan.
Kalau gereja TUHAN ibadahnya hanya berhenti pada injil keselamatan (12 rasul hujan awal) maka seribu kali, bahkan sejuta kali mengalami mujizat kesembuhan dan perbuatan ajaib tidak ada artinya kalau dia tidak dibawa sampai kepada kemuliaan.
Tetapi untuk membawa kita sampai kepada kemuliaan harus beralih kepada 12 Rasul hujan akhir, disebut juga injil kerajaan, itulah cahaya injil tentang kemuliaan Kristus, karena injil kerajaan membawa kita kepada kemuliaan Kristus.
Kedatangan Yesus yang kedua kalinya tampil sebagai Raja yang mulia, maka kita juga harus sama dengan Dia dalam kemuliaan yang sama, berada pada kedudukan yang sama, antara lain;
Menjadi imamat rajani.
Menjadi bintang-bintang di langit (orang bijaksana).
Jangan kita berkata; saya sedang menantikan kedatangan Yesus kembali sebagai Raja di atas segala raja, sebagai Raja yang mulia, tetapi tidak menghargai cahaya injil tentang kemuliaan Kristus, yaitu; tidak menghargai firman yang rahasianya dibukakan, yang sanggup membawa kita kepada imamat rajani dan sanggup membawa kita kepada bintang-bintang di langit (orang bijaksana).
Jadi kalau seseorang bertahan, atau kerohaniannya tidak ditingkatkan, maka kelak ia akan mengalami kerugian yang besar.
Saya menghimbau pelayan-pelayan TUHAN, supaya tetap mempertahankan kedudukannya sebagai imamat rajani dan tetap pertahankan minyak urapan ada di atas kepala, sebab, oleh minyak urapan kita menjadi bintang-bintang di langit (orang bijaksana), tugasnya menuntun banyak orang kepada kebenaran.
Itulah terkait dengan 24 tua-tua secara singkat, tidak perlu kita bahas terlalu dalam.
24 tua-tua menunjuk kepada;
12 rasul, zaman gereja hujan awal berbicara injil keselamatan.
12 rasul, zaman gereja hujan akhir berbicara injil kerajaan.
Wahyu 19:4
(19:4) Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: "Amin, Haleluya."
Kita sudah melihat pelajaran singkat tentang 24 tua-tua. Sekarang kita mengikuti pelajaran singkat tentang empat makhluk.
Pelajaran singkat; EMPAT MAKHLUK.
Wahyu 4:6
(4:6) Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang.
Empat makhluk penuh dengan mata di sebelah muka dan di sebelah belakang.
“Penuh dengan mata”, artinya; hidup dalam terang.
“Mata”, artinya: Pelita, menerangi seluruh kehidupan kita.
“Mata di sebelah muka,” artinya: Perjalanan hidup rohani kita ke depan, ada dalam terang, karena hidup kita dituntun/digembalakan oleh Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel.
Bukti perjalanan hidup rohani kita ada dalam terang; dituntun (digembalakan) oleh Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel dan dituntun oleh korban sehari-hari, yaitu; korban sembelihan dan korban santapan.
“Mata di sebelah belakang,” artinya: Sudah lepas dan sudah diterangi dari dosa masa lalu. Kalau kita sudah dilepaskan dari manusia lama atau dosa masa lalu, kita tidak perlu takut dan kuatir, TUHAN pasti bela,
Sebab;
kebenaran adalah barisan depan,
kemuliaan TUHAN barisan belakang, kemuliaan TUHAN sudah menutupi semua itu.
Wahyu 4:7
(4:7) Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang.
Adapun rupa empat makhluk tersebut:
Muka yang pertama seperti singa -> kemuliaan Yesus sebagai RAJA.
Muka yang kedua seperti lembu -> kebangkitan Yesus HAMBA.
Muka yang ketiga seperti muka manusia -> sengsara derita Yesus sebagai manusia.
Muka yang keempat seperti burung nasar yang sedang terbang -> keadilan Yesus sebagai ANAK ALLAH.
Empat muka dari empat makhluk ini, sebetulnya menggambarkan perjalanan Yesus dari Sorga turun ke bumi, kemudian kembali lagi ke Sorga. Hal itu bisa kita lihat dalam Amsal 30.
Amsal 30:18-19.
(30:18) Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti: (30:19) jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.
Perjalanan Yesus dari Sorga ke bumi, kemudian kembali lagi ke Sorga, antara lain:
“Jalan rajawali di udara” -> Perjalanan Yesus sebagai RAJA turun ke bumi.
“Jalan ular di atas cadas,” berbicara tentang derita sengsara Yesus sebagai MANUSIA.
Begitu kerasnya dan hebatnya sengsara derita yang dihadapi Yesus di atas muka bumi ini, persis seperti jalan ular di atas cadas. Seluruh badannya (dari kepala sampai ekor) harus menghadapi kerasnya dunia ini seperti cadas. Semuanya itu menggambarkan tentang sengsara derita Yesus sebagai manusia. Dia harus menderita sengsara, bahkan mati di kayu salib.
Ular tidak punya kaki. Kalau ular punya kaki, saat melewati batu yang tajam dan terjal (cadas), maka ia akan lompati (langkahi), tapi ular tidak punya kaki. Maka soal sengsara derita yang dialami Yesus di gambarkanlah seperti jalan ular di atas cadas.
“Jalan kapal di tengah-tengah laut” -> Perjalanan kebangkitan Yesus sebagai HAMBA.
Lautan dunia -> kebangkitan Yesus sebagai Hamba.
Tapi pelayananNya sebagai hamba di bumi ini, digambarkan seperti jalan kapal di tengah-tengah lautan. Berarti sedang mengarungi lautan dunia ini yang begitu luas. Dia datang membawa segala kekayaan Sorgawi. Sekarang Ia sedang mencari pelabuhan hati kita untuk menyandarkan kapal itu di hati kita, supaya nanti barang-barang yang berharga dikeluarkan dan disimpan di dalam hati kita.
Sebab itu jadilah syahbandar yang baik, supaya kapal itu dilabuhkan di hati kita masing-masing, karena disitu banyak barang-barang yang berharga dari Sorga menjadi milik kita.
Tidak ada sesuatu yang tidak berharga di dalam diri Yesus, sama seperti makhluk yang kedua mukanya seperti lembu, gambaran dari kebangkitan Yesus sebagai hamba. Tidak ada sesuatu yang tidak berharga pada seekor lembu, semuanya berharga, kotorannya pun bisa jadi kompos (pupuk), apalagi kulitnya. Sementara potongan-potongan dagingnya dipersembahkan di atas Mezbah korban bakaran. Jadi, tidak ada sesuatu yang tidak berharga di dalam diri Yesus sebagai Hamba.
“Jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.” Inilah akhir perjalanan Yesus di atas muka bumi ini. Satu kali nanti, gereja yang sempurna, akan dibawa masuk dalam pesta nikah anak domba. Sama seperti seorang laki-laki dengan seorang gadis.
Maka kalau kita perhatikan dalam Wahyu 4:7; rupa makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang -> keadilan dan kebenaran Yesus.
Pendeknya, Gereja TUHAN yang sempurna (mempelai TUHAN) dibawa masuk dalam pesta kawin anak domba di awan nan permai, itu keadilan dan kebenaran TUHAN.
Selama kita di bumi kita juga mengalami seperti yang dialami Yesus, namun endingnya masuk dalam pesta kawin anak domba; jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis, disebutlah itu burung nasar yang sedang terbang, yaitu: keadilan dan kebenaran Yesus, Anak Allah.
Demikianlah kita melihat 3 x kata Haleluya yang keluar dari mulut himpunan besar dari orang banyak di sorga dan di bumi, terkait dengan menantikan kedatangan Yesus kembali ke dalam dunia yang fana ini, dimana Ia tampil sebagai Raja di atas segala raja, itulah sebabnya, terdengar suara penyembahan dari himpunan besar dari orang banyak di sorga dan di bumi, karena adalah Ia Raja.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment