KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Thursday, August 21, 2025

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 14 AGUSTUS 2025

 


IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 14 AGUSTUS 2025

 

MALEAKHI 2:15

(SERI 4)

 

Subtema: BERKUASA ATAS BINATANG YANG MERAYAP

 

Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya kita sekaliannya dihimpunkan di tengah Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci.

 

Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN yang turut bergabung lewat online / live streaming / video internet baik dari Youtube maupun Facebook, atau media sosial lainnya yang dapat digunakan. Kiranya damai sejahtera dari Sorga memenuhi kehidupan kita masing-masing memberi sukacita, bahagia saat kita duduk diam mendengarkan Sabda Allah.

 

Selanjutnya, marilah ktia sambut STUDY MALEAKHI sebagai Firman Penggembaalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci. Namun, tetaplah berdoa dalam Roh, mohon kemurahan TUHAN supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.

 

Mari, kembali kita memeriksa…

Maleakhi 2:15A

(2:15) Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.

 

Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh.

Kata "mereka" à Laki-laki dan perempuan .

 

Kita lihatlah hal itu dalam…

Kejadian 1:26-27

(1:26) Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (1:27) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

 

Allah menjadikan laki-laki dan perempuan menurut gambar dan rupa Allah, berarti; dijadikan sempurna, berarti…

a.       Tanpa cacat atau cela atau kerut atau yang serupa itu (Ayat referensi: Efesus 5:26-27)

b.       Sama mulia dengan Allah atau bercahaya kemuliaan Allah (Ayat referensi: Wahyu 21:9-11)

 

Kejadian 1:28

(1:28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

 

Selanjutnya di sini kita melihat; Allah memberkati mereka (laki-laki dan perempuan).

Kata "memberkati" disini merujuk kepada SALIB KRISTUS yang berkuasa untuk mempersatukan laki-laki dan perempuan. Ayat referensi: Matius 19:5 --- Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Dan hal itu juga telah digenapi di atas kayu salib, sebagaiman tertulis dalam Filipi 2:5-8.

 

Kembali kita memperhatikan….

Kejadian 1:28

(1:28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

 

Tanda nikah (laki-laki dan perempuan) diberkati ialah: beranakcucu dan menaklukkan bumi, maksudnya adalah berkuasa atas 3 (tiga) hal ...

1.       Berkuasa atas ikan-ikan di laut.

2.       Berkuasa atas burung-burung di udara.

3.       Berkuasa atas segala binatang yang merayap di bumi.

 

Saudara, malam ini kita akan membahas bagian yang ketiga, sebab kita sudah membahas bagian yang pertama dan yang kedua.

 

Keterangan: BERKUASA ATAS SEGALA BINATANG YANG MERAYAP DI BUMI

Binatang yang merayap di bumi à Nabi-nabi palsu

Wahyu 13:11

(13:11) Dan aku melihat seekor binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama seperti anak domba dan ia berbicara seperti seekor naga.

 

Binatang yang keluar dari dalam bumi (merayap di bumi) à Nabi-nabi palsu.

Adapun penampilannya: Bertanduk dua sama seperti anak domba tetapi mulutnya sama seperti seekor naga (penuh dengan tipu daya atau dusta).

 

Selanjutnya kita akan melihat mulut ular di semua zaman dan malam ini kita melihat….

MULUT ULAR PADA ZAMAN ALLAH BAPA

Kita periksa hal itu dalam…

Kejadian 3:1-5 --- Perikop: “Manusia jatuh ke dalam dosa”

(3:1) Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" (3:2) Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, (3:3) tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." (3:4) Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, (3:5) tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."

 

Ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat (di bumi).

Perlu untuk diketahui:

-          Cerdik tetapi tidak tulus disebutlah itu licik.

Cerdik mengerjakan segala sesuatu, cerdik dalam beribadah dan melayani TUHAN, tetapi tanpa ketulusan itu namanya licik.

-          Tulus namun tidak cerdik di dalam beribadah dan melayani TUHAN (kurang kreatif) disebutlah itu bodoh.

Pendeknya: ular adalah binatang yang masuk dalam kategori licik --- cerdik tetapi tidak tulus.

 

Adapun kelicikan ular ialah: memutar balik fakta kebenaran Allah, sebagai bukti ...

Pada ayat 1, ular berkata kepada Hawa:  "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" Perkataan ular kepada Hawa ini bertolak belakang dengan perintah TUHAN.

 

Sementara pada ayat 2-3, Hawa menjawab kepada ular, yaitu:

-          Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan

Hawa memberitahukan apa yang menjadi perintah Allah kepada Adam dan Hawa meskipun ada yang dikurangkan.

-          Tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.

Pendeknya, Hawa memberitahukan apa yang menjadi larangan bagi Adam dan Hawa meskipun ada yang ditambahkan.

 

Jadi, jawaban Hawa kepada ular ada pada ayat 2-3. Hawa menceritakan apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dilarang Allah. Namun…

-          Pada saat ia menceritakan apa yang diperintahkan Allah, ada yang dikurangkan.

-          Dan pada saat ia menceritakan apa yang dilarang Allah ada yang ditambahkan.

 

Dan pada ayat 4-5, selanjutnya ular berkata kembali pada Allah..

-          Sekali-kali kamu tidak akan mati,

-          Pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat

Sesungguhnya, perkataan ular kepada Allah bertolak belakang dengan larangan Allah, karena di sini ular seolah-olah menganjurkan / memerintahkan untuk memakan buah yang dilarang.

 

Pendeknya, ular memutarbalikkan fakta kebenaran, sebab…

-          Apa yang diperintahkan Allah diputar balik oleh ular menjadi larangan.

-          Apa yang dilarang oleh Allah diputar balik ular menjadi suatu perintah yang harus dikerjakan

Inilah liciknya ular itu.

 

Selanjutnya marilah kita melihat fakta kebenaran itu di dalam…

Kerjadian 2:15-17

(2:15) TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. (2:16) Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, (2:17) tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

 

Allah menempatkan Adam dan isterinya di taman Eden, dengan satu tujuan: untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden. Taman Eden berbicara tentang ibadah dan nikah.

Pendeknya, nikah = ibadah, dan ibadah = nikah.

 

Namun, untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden, Adam dan Hawa harus memperhatikan perintah dan larangan Allah. Demikian juga sekarang ini, kita ada di tengah-tengah taman Eden rohani yaitu; ibadah dan pelayanan dalam penggembalaan GPT Betania Serang & Cilegon, tujuannya; untuk mengusahakan dan memelihara kelangsungan tiga macam ibadah pokok, namun syaratnya; harus memperhatikan perintah dan apa yang dilarang Allah. Jadi, tidak boleh serampangan --- tahu yang baik tetapi tahu juga melakukan yang jahat --- tidak boleh seperti itu. Tidak boleh juga sesuka hati dalam beribadah dan melayani TUHAN.

 

Saudara…

-          Perintah Allah kepada Adam dan Isterinya: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas. Hal ini diputarbalik oleh ular menjadi LARANGAN, sebagaimana yang tertulis dalam Kejadian 3:1 --- Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"

-          Larangan Allah kepada Adam dan Istrinya: "tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Perkataan ini diputar balik oleh ular menjadi suatu PERINTAH; seolah-olah boleh dimakan dan saat mereka makan, Adam dan Hawa tidak akan mati. Bahkan ada jaminan dari ular yaitu; mereka akan menjadi sama dengan Allah; tahu tentang yang baik dan yang tahu juga tentang yang jahat.

 

Akibat memutarbalik fakta kebenaran.

Kejadian 3:2-3

(3:2) Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, (3:3) tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."

 

Tampak dengan jelas ...

-      Hawa mengurangkan kata "BEBAS" dari perintah Allah, sebab dalam Kejadian 2:16 dikatakan --- "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas

-      Hawa menambahkan kata "RABA" dari larangan Allah, sebab dalam Kejadian 2:17 dikatakan --- tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati --- tidak ada kata “raba” di sini.

 

Dampak negatif mengurangkan kata "BEBAS" dari perintah Allah.

Apabila kata "bebas" dikurangkan, maka yang nampak adalah IKATAN. Maka ini harus kita perhatikan supaya ikatan itu tidak nampak di tengah-tengah ibadah dan pelayanan kita di hadapan TUHAN.

 

Contoh ikatan di tengah ibadah.

Matius 23:16-18 --- Perikop: “Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi”

(23:16) Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. (23:17) Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? (23:18) Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.

 

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi ada di tengah-tengah ibadah pelayanan tetapi terikat dengan perkara-perkara lahiriah, yaitu terikat dengan;

-      Emas di bait suci,

-      Persembahan di atas mezbah.

 

Perlu untuk diketahui:

Terikat dengan emas, berarti mengabaikan Bait Suci.

Bait Suci jika dikaitkan pada Pola Tabernakel terkena pada RUANGAN SUCI dan RUANGAN MAHA SUCI.

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Pada RUANGAN SUCI terdapat 3 (tiga) macam alat 🡪 Ketekunan 3 (tiga) macam ibadah pokok, yaitu ...

1.       Meja Roti Sajian 🡪 Ketekunan Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci, berbicara soal IMAN.

2.       Pelita Emas 🡪 Ketekunan Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh, berbicara soal PENGHARAPAN.

3.       Mezbah Dupa 🡪 Ketekunan Ibadah Doa Penyembahan, berbicara soal KASIH.

 

Pada RUANGAN MAHA SUCI terdapat satu alat yaitu Tabut Perjanjian.

Tabut Perjanjian berbicara tentang:

1.       Takhta Allah.

2.       Hubungan nikah antara Kristus sebagai Mempelai Pria dengan sidang jemaat sebagai mempelai wanita-Nya berdasarkan kasih. Dasar nikah adalah kasih.

 

Singkat kata, bila kebebasan dihilangkan dari perintah Allah, maka yang nampak dalam diri seorang imam adalah terikat dengan perkara lahiriah. Maka ia bebas / lepas dari;

-      Ruangan Suci, itulah iman, pengharapan dan kasih.

-      Ruangan Maha Suci = tidak berada pada pesta nikah Anak Domba, ia bukan takhta Allah, sebab ia bukan mempelai TUHAN.

 

Inilah resiko yang harus ditanggung oleh seorang anak TUHAN apalagi seorang pelayan TUHAN bila melepaskan kebebasan dari perintah TUHAN, maka yang nampak adalah sebuah ikatan perkara lahiriah. Ketika terikat dengan perkara lahiriah nampaknya ia seperti terberkati / terpelihara oleh ikatan itu, tetapi sebetulnya ia telah melepaskan;

1.       Iman, harap dan kasih

2.       Melepaskan Tabut Perjanjian, berbicara soal takhta Allah dan mempelai TUHAN.

Artinya, satu kali kelak, orang terikat tidak akan berada pada takhta Allah (pesta nikah Anak Domba), sebab dia bukanlah mempelai wanita TUHAN. Kalau bukan takhta Allah dan mempeelai TUHAN berarti satu kali akan masuk dalam pesta burung-burung (Wahyu 19:17-18)

-      Berada pada pesta nikah Anak Domba 🡪 Tubuh Kristus yang sempurna

-      Berada pada pesta burung-burung🡪 Tubuh Babel

Mau pilih mana, pesta nikah Anak Domba atau pesta burung-burung? Kalau merindu pada pesta nikah Anak Domba, maka jangan menghilangkan kata “bebas” dari apa yang diperintahkan oleh TUHAN.

 

Contoh “BEBAS” di tengah-tengah ibadah

1 Korintus 9:1 --- Perikop: “Hak dan kewajiban rasul”

(9:1) Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?

 

Paulus adalah…

-      Seorang rasul.

-      Orang bebas, berarti bebas dari ikatan = bukan hamba dosa

-      Telah melihat TUHAN Yesus

 

Yang dapat melihat Yesus TUHAN kita adalah orang bebas, bukan hamba dosa, dan lepas dari segala ikatan yang ada.

Jika seseorang masih berada dalam ikatan, maka seseorang itu tidak akan pernah melihat Yesus Tuhan kita.

 

Kita buktikan perkataan rasul Paulus dalam…

2 Korintus 12:1-4 --- Perikop: “Paulus menerima penglihatan dan penyataan”

(12:1) Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan. (12:2) Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau -- entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya -- orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. (12:3) Aku juga tahu tentang orang itu, -- entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya -- (12:4) ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.

 

Rasul Paulus diangkat ke tingkat ketiga dari Sorga (Firdaus), itu berarti; Paulus telah melihat Yesus TUHAN kita. Pada saat ia melihat TUHAN Yesus, ia menerima dari TUHAN…

-      Penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan,

-      Mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia

 

Sesungguhnya, tingkat ketiga dari Sorga jika dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena kepada Ruangan Maha Suci

 

Mari kita melihat Ruangan Maha Suci…

Ibrani 9:1-4 --- Perikop: “Tempat kudus di bumi dan di Sorga”

(9:1) Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan tangan manusia. (9:2) Sebab ada dipersiapkan suatu kemah, yaitu bagian yang paling depan dan di situ terdapat kaki dian dan meja dengan roti sajian. Bagian ini disebut tempat yang kudus. (9:3) Di belakang tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut tempat yang maha kudus. (9:4) Di situ terdapat mezbah pembakaran ukupan dari emas, dan tabut perjanjian, yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian,

 

Pada saat Paulus diangkat ke tingkat ketiga dari Sorga, ia melihat 2 (dua) hal, yaitu;

1.       Ukupan emas 🡪 Doa Penyembahan.

Itu sebabnya, kalau kita perhatikan pada ayat 2, yang ada di situ hanya kaki dian dan meja dengan roti sajian 🡪 ibadah harus sampai kepada puncaknya yaitu; doa penyembahan lewat ketekunan tia macam ibadah pokok.

Tekun dalam tiga macam ibadah pokok adalah keharusan; tidak boleh tidak. Karena, jika tidak tekun dalam tiga macam ibadah pokok, maka, tidak mungkinlah seseorang berada pada tingkat ibadah yang tertinggi (puncak ibadah) itulah doa penyembahan. Penyembahan, artinya: penyerahan diri sepenuhnya untuk taat kepada kehendak Allah.

Kalau ibadah masih bolong-bolong berarti masih belum menyerah untuk taat kepada kehendak Allah

2.       Tabut Perjanjian 🡪 gereja TUHAN (tubuh Kristus) yang sempurna itulah mempelai wanita TUHAN.

 

Inilah yang dilihat oleh rasul Paulus ketika ia diangkat ke tingkat ketiga dari Sorga disebut juga dengan Firdaus.

Kenapa ia bisa melihat perkara-perkara yang begitu agung dan mulia? Karena dia adalah hamba TUHAN yang telah menerima jabatan rasul, orang yang bebas (tidak ada ikatan dosa / bukan hamba dosa). Sehingga, ia pun diangkat ketingkat yang ketiga dari Sorga untuk memperlihatkan dua hal ini.

Setelah dua hal ini diperlihatkan oleh TUHAN kepada Rasul Paulus, selanjutnya ia menceritakan dua hal ini kepada jemaat-jemaat di Asia Kecil, secara khusus jemaat di Korintus setelah 14 belas tahun lamanya ia melayani TUHAN.

 

Jadi saudara, kata  “BEBAS” dalam perintah Allah jangan dihilangkan, supaya jangan nampak ikatan itu di dalam diri kita. Kalau kita orang bebas di tengah ibadah dan pelayanan, kita akan melihat segala perkara-perkara yang mulia dan agung. Ini adalah janji TUHAN lewaw Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel.

 

Saya bangga memiliki Allah yang besar, sebab oleh karena kebesaran kasih-Nya, kepada kita dipercayakan Pengajaran Mempelai dalam terang Tabarnakel, ini adalah kebanggan kita. Kita boleh memiliki segala perkara-perkara lahiriah di bumi ini, tetapi semestinya kita lebih bangga lagi karena kita digembalakan oleh Pengejaran Mempelai dalam ternganya Tabernakel, di dalamnya ada jaminan pasti untuk melihat dan keagungan dan kemuliaan Allah.

 

1 Korintus 7:22

(7:22) Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya.

 

Orang yang melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN adalah orang bebas, dialah milik TUHAN. Sebaliknya, orang bebas yang dipanggil Kristus adalah hamba TUHAN. Melayani TUHAN tetapi terikat dengan perkara lahiriah; dia bukan hamba TUHAN tapi hamba dosa.

 

Dampak negatif menambahkan kata "RABA" dari larangan Allah

Apabila kata raba (sentuhan / menjamah) ditambahkan pada larangan Allah, maka yang nampak adalah KENAJISAN PERCABULAN

 

Mari kita buktikan hal itu dalam…

2 Korintus 6:14

(6:14) Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

 

Pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya disebutlah itu noda kekafiran.

Noda kekafiran antara lain;

a.       Kenajisan percabulan

b.       Penyembahan berhala

Ayat referensi: 1 Korintus 12:2.

 

Contoh menjadi pasangan yang tidak seimbang.

2 Korintus 6:15-16

(6:15) Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? (6:16) Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini:  "Aku akan diam bersama-sama dengan mereka  dan hidup di tengah-tengah mereka,  dan Aku akan menjadi Allah mereka,  dan mereka akan menjadi umat-Ku.

 

Bait Allah dengan berhala merupakan pasangan yang tidak seimbang, disebut juga dengan noda kekafiran.

Jadi, jika menjadi pasangan yang tidak seimbang, maka ia berada pada 2 (dua) hal:

1.       Kenajisan percabulan.

2.       Penyembahan berhala.

 

Kejadian 3:6

(3:6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.

 

Hawa makan buah pohon yang dilarang.

Pendeknya, gereja Hawa meraba / menjamah buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Sudah dilarang, tetapi diraba juga, akhirnya nampaklah kenajisan percabulan.

 

Tentang: BUAH POHON PENGETAHUAN YANG BAIK.

Ada 3 (tiga) buah pohon yang baik secara khusus ditulis dalam Perjanjian Baru.

1.       Buah pohon anggur (Ayat referensi: Yohanes 15:1-5).

Hal ini berbicara tentang persekutuan yang indah dengan TUHAN dan sesama;

-      Ranting dengan pokok anggur = persekutuan dengan TUHAN

-      Ranting dengan ranting = persekutuan dengan sesama

2.       Buah pohon atau pokok keselamatan (Ayat referensi: Ibrani 5:8-9).

Hal ini berbicara tentang ketaatan.

3.       Buah pohon kehidupan, sebagaimana dalam Wahyu 22:2 --- Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.

Hal ini berbicara tentang pengajaran rasul-rasul yang berkuasa untuk menyucikan dan menyempurnakan gereja TUHAN.

 

Inilah buah pohon pengetahuan yang baik yang harus kita nikmati. Tetapi sayangnya, kata “raba” ditambahkan pada larangan Allah. Itu sebabya, dia tahu tentang yang baik tetapi juga tahu tentang yang jahat.

 

Tentang: BUAH POHON PENGETAHUAN YANG JAHAT, yaitu;

a.       Kenajisan percabulan.

b.       Penyembahan berhala.

 

Tahu tentang apa yang baik, ada persekutuan yang indah dengan sesama, ada ketaatan, selanjutnya memberi diri disucikan dengan pengajaran rasul-rasul, namun anehnya, menikmati juga buah pohon pengetahuan tetang yang jahat yaitu; hidup dalam kenajisan percabulan dan penyembahan berhala (disebut juga dengan noda kekafiran). Itulah yang terjadi bila kata “raba” ditambahkan pada larangan TUHAN.

 

Saudara, TUHAN telah memberikan ibadah dan pelayanan kepada kita, maka, kita harus menguduskan hari sabat / hari ketujuh / hari pehentian = tekun dalam tiga macam ibadah pokok (Keluaran 20:8). Kalau hal ini kita lakukan berarti; kita tahu tentang yang baik, ada persekutuan yang indah dengan TUHAN dan sesama, ada tanda ketaatan, kemudian memberi diri disucikan. Tetapi tahu juga buah pohon pengetahuan yang jahat yaitu; tidak tekun dalam tiga macam ibadah pokok, akhirnya nampaklah kenajisan percabulan dan penyembahan berhala itu di dalam dirinya.

Tinggalkan ibadah karena pekerjaan, bisnis atau apapun kegiatan-kegiatan di bumi, itu adalah kenajisan percabulan.

 

Setelah melihat mulut ular pada zaman Allah Bapa ini; sangat mengerikan sekali. Binatang yang keluar dari dalam bumi; mulutnya mulut ular dan mulut ular pada zaman Allah; sudah kita lihat malam ini.

Biarlah kita di hari-hari terakhir ini semakin menyerahkan diri untuk berada pada kehendak Allah dan dalam rencana Allah. Percayakan hidupmu dalam rencana Allah, jangan percayakan dirimu kepada dunia ini. Tidak lama lagi langit, bumi dan segala yang ada ini akan berlalu, termasuk tempat pekerjaanmu itulah; lautpun tidak ada (kenajisan percabulan).

 

Oleh sebab itu, camkanlah hal ini dengan baik-baik. Kalau kita mau masuk Sorga, tentu kita tidak akan menambahkan kata “raba” pada larangan Alllah. Supaya, jangan nampak di dalam diri kita ada penyembahan berhala dan kenajisan percabulan (noda kekafiran) karena menjadi pasangan yang tidak seimbang.

 

Pendeknya, tahu untuk melakukan apa yang baik, tetapi tahu juga untuk melakukan apa yang jahat, hal itu sebetulnya dilarang oleh TUHAN. Kemudian kata “raba” ditambahkan pada larang itu, sehingga nampaklah penyembahan berhala dan kenajisan percabulan.

 

2 Korintus 6:17

(6:17) Sebab itu:  Keluarlah kamu dari antara mereka,  dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan,  dan janganlah menjamah apa yang najis,  maka Aku akan menerima kamu.

 

-      "Keluarlah kamu dari antara mereka"

Kata "keluar" berarti jangan ada di dalamnya, jangan mengambil bagian di dalamnya.

-      "Pisahkanlah dirimu dari mereka"

Berarti jangan menjadi pasangan yang tidak seimbang supaya jangan nampak penyembahan berhala dan kenajisan percabulan.

-      "Janganlah menjamah apa yang najis"

Berarti, kata raba jangan ditambahkan dalam larangan Allah, supaya jangan nampak kenajisan percabulan.

Kalau kita mau melakukan hal tersebut, maka TUHAN akan menerima kita.

 

2 Korintus 6:16

(6:16) Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini:  "Aku akan diam bersama-sama dengan mereka  dan hidup di tengah-tengah mereka,  dan Aku akan menjadi Allah mereka,  dan mereka akan menjadi umat-Ku.

 

-        Aku akan diam bersama-sama dengan mereka 

-        Hidup di tengah-tengah mereka.

-        Aku akan menjadi Allah mereka

Ketiga perkara ini jika dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena kepada Tutupan Pendamaian dengan dua kerub di atasnya.

 

Mereka akan menjadi umat-Ku, bila dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena kepada Tabut (peti) Perjanjian.

 

Singkat kata, kalau kita tidak menjamah apa yang najis maka ALLAH BERTABERNAKEL sampai selamanya.

 

Wahyu 21:1-3 -- Perikop: “Langit yang baru dan bumi yang baru”

(21:1) Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. (21:2) Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. (21:3) Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.

 

Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka = Allah bertabernakel, sampai kapan? dari Kitab Korintus sampai kitab Wahyu --- sampai selamanya. Selamanya kita menjadi milik kepunyaan TUHAN, bahagia bersama dengan Dia di dalam kerajaan Sorga.

 

Jika TUHAN berkemurahan, di minggu yang akan datang kita akan mempelajari kembali binatang yang keluar / merayap tetapi mulutnya mulut ular. Kita sudah melihat mulut ular pada zaman Allah Bapa, sungguh tragis dan mengerikan sekali dan kita tidak boleh mengabaikan pelejaran ini, mengingat kedatangan TUHAN sudah sangat dekat sekali -- sudah diambang pintu.

 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang

 

No comments:

Post a Comment