KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Thursday, August 14, 2025

IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 09 AGUSTUS 2025

 


IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 09 AGUSTUS 2025

 

STUDY YUSUF

(Seri 4)

 

Subtema: MENGANGKAT CAWAN PERAK

 

Shalom.

Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan oleh karena rahmat-Nya kita dihimpunkan di atas gunung Tuhan yang kudus sehingga kita dapat menghadap Dia lewat Ibadah Kaum Muda Remaja.

Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, kaum muda remaja secara khusus dimanapun berada, biarlah kiranya damai sejahtera memenuhi kehidupan kita dan hati kita sehingga kita boleh merasakan sukacita bahagia saat kita duduk diam mendengarkan sabda Allah.

 

Marilah kita mengikuti STUDY YUSUF sebagai firman penggembalaan untuk Ibadah Kaum Muda Remaja. Namun, tetaplah berdoa dalam roh, memohon kemurahan Tuhan supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi.

 

Kejadian 44:1-2 -- Perikop: “Piala Yusuf hilang dan didapati.”

(44:1) Sesudah itu diperintahkannyalah kepada kepala rumahnya: "Isilah karung orang-orang itu dengan gandum, seberapa yang dapat dibawa mereka, dan letakkanlah uang masing-masing di dalam mulut karungnya. (44:2) Dan pialaku, piala perak itu, taruhlah di dalam mulut karung anak yang bungsu serta uang pembayar gandumnya juga." Maka diperbuatnyalah seperti yang dikatakan Yusuf.

 

Dalam kunjungan yang kedua dari kakak-kakak Yusuf di Mesir ada tiga hal penting kita temukan di sini:

1.       Yusuf memberi gandum kepada kakak-kakaknya seberapa kuat mereka membawa gandum.

2.       Uang pembelian gandum dikembalikan.

3.       Piala perak Yusuf ditaruh di dalam karung Benyamin.

Ketiga hal tersebut merupakan usaha Yusuf yang terakhir sebelum ia memperkenalkan dirinya kepada kakak-kakanya.

 

Malam ini kita kembali membahas hal yang ketiga.

Keterangan: PIALA PERAK YUSUF DITARUH DI DALAM KARUNG BENYAMIN.

Perak berbicara tentang ketebusan, dalam kesempatan Ibadah Kaum Muda yang terakhir tentang perak telah kita bahas. Maka, malam ini kita akan membahas tentang PIALA.

 

Mazmur 116:13 -- Perikop: “Terluput dari belenggu maut.”

(116:13) Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN

 

Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama Tuhan, inilah bunyi dari Mazmur 116:13.

Yang pasti disini dinyatakan PIALA KESELAMATAN. Pada malam ini Tuhan sedang mengajar kita untuk mengangkat piala keselamatan atau piala ketebusan.

 

Terkait soal “piala keselamatan atau piala ketebusan” mari kita membaca Lukas 22.

Lukas 22:39-40 -- Perikop: “Di taman Getsemani.”

(22:39) Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia. (22:40) Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: "Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan."

 

Tuhan mengajak murid-murid-Nya ke taman Getsemani untuk BERDOA selama satu jam.

Tujuan berdoa ialah: Supaya jangan jatuh ke dalam pencobaan.

 

Selama kita mendiami kemah tubuh ini maka kita akan mengalami banyak penderitaan/pergumulan/pencobaan, dari pencobaan yang satu akan muncul pencobaan yang lain. Sedangkan, puncak pencobaan itu adalah saat antikris berkuasa dan memerintah atas seantero dunia. Itu berarti, anak-anak Tuhan harus bergumul dalam doa supaya jangan jatuh dalam pencobaan.

 

Lukas 22:41-44

(22:41) Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: (22:42) "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (22:43) Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. (22:44) Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.

 

Tampak dengan jelas bahwa Yesus dengan sungguh-sungguh bergumul dalam doa, hingga peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Ini adalah bukti bahwa Yesus sangat sungguh-sungguh bergumul dalam berdoa, bahkan Dia sangat ketakutan.

Namun, percayalah, malaikat Tuhan akan tetap memberi kekuatan kepada kita sekaliannya, sebab Tuhan akan memerintahkan malaikat-Nya untuk melayani kita, memberi support kepada kita.

 

Yesus dengan sungguh-sungguh bergumul dalam doa, hingga peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah, sebab Yesus harus minum cawan Allah yaitu menanggung penderitaan di atas kayu salib untuk menanggung dosa dunia, termasuk dosa-dosa murid-murid-Nya.

Terhadap cawan Allah Yesus berkata: “… ,ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Pendeknya, cawan Allah harus diminum oleh Yesus, maksudnya pekerjaan penebusan itu tetap harus dikerjakan oleh Yesus. Ini adalah pergumulan yang sangat berat sekali, oleh sebab itu Dia harus bergumul dalam doa.

 

Kemudian, pekerjaan penebusan ini tidak hanya berlaku pada zaman lalu, tetapi juga berlaku untuk masa sekarang dan masa yang akan datang untuk mencapai kesempurnaan dari gereja Tuhan itu sendiri.

Anak Tuhan harus berpegang pada ketebusan Kristus, itulah anak-anak Tuhan yang tidak menyayangkan dirinya untuk mengalami sengsara yang bersifat sementara. Jadi, kalau Tuhan Yesus bergumul dalam doa maka kita juga harus bergumul dalam doa untuk minum cawan Allah, kita tidak boleh menghindar dari sana.

 

Lukas 22:45

(22:45) Lalu Ia bangkit dari doa-Nya dan kembali kepada murid-murid-Nya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita.

 

Namun kenyataanya murid-murid Yesus tidak sanggup berdoa selama satu jam, karena mereka masih berada di dalam kelemahan daging yaitu tidur karena dukacita.

 

Jadi, berdukacita itu sebetulnya tidak boleh, apapun kehendak Allah sekalipun rencana Allah itu adalah minum cawan Allah tidak boleh berdukacita, itu sebabnya yang minum cawan Allah adalah anak-anak Tuhan yang tidak menyayangkan dirinya.

 

2 Korintus 4:17-18

(4:17) Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. (4:18) Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

 

Penderitaan yang kita alami di bumi ini bersifat sementara dan kemuliaan yang kita terima tidak sebanding dengan penderitaan yang kita alami di bumi. Oleh sebab itu, jangan kita berpegang pada sifat tabiat daging, yaitu berdukacita. Tetapi kita harus fokus pada perkara yang tidak kelihatan itulah kehidupan yang kekal.

 

Singkat kata: Yang ada pada Yusuf adalah PIALA PERAK yakni cawan berisi anggur itulah pekerjaan penebusan atas dosa-dosa dunia.

Cawan semacam ini harus dimiliki secara pribadi oleh anak-anak Tuhan. Memiliki piala perak atau cawan berisi anggur itulah pengalaman Getsemani, namun piala perak Yusuf tadi hanya diberikan kepada satu pribadi itulah pribadi BENYAMIN. Berarti, sidang mempelai Tuhan dan Anak-anak laki-laki harus ditandai oleh sengsara.

 

Jadi, yang mengalami sengsara adalah …

1.       Mempelai Tuhan 🡪 Pribadi Yusuf.

2.       Anak laki-laki 🡪 Pribadi Benyamin.

Oleh sebab itu, jangan kita melepaskan diri dari piala perak, jangan kita berdukacita atas cawan yang berisi anggur. Itu sebabnya, malam ini Tuhan sedang mengajar kita untuk mengangkat piala ketebusan atau piala keselamatan dan itu harus ada di tangan ini.

Kalau Tuhan mengajar kita untuk mengangkat piala perak maka kita juga harus mengangkat piala perak. Namun bagi anak-anak Tuhan yang tidak mengerti ia seringkali berdukacita.

Perlu untuk diketahui, tidak ada keselamatan jika kita tidak mengangkat piala perak, oleh sebab itu jangan mengeluh, jangan berlambat-lambatan, jangan bermasa bodo, jangan terpaksa, jangan melakukan sesuatu karena aturan.

 

Sebagaimana Tuhan mengajar kita untuk mengangkat piala keselamatan maka kita juga harus dengan rela hati menyerahkan diri kepada Tuhan = mengangkat piala perak. Bersyukurlah dan berterimakasihlah kepada Tuhan karena Dia mengajar kita untuk mengangkat piala perak di tangan kita dan jangan dilepaskan.

Seringkali diantara kita jika sudah merasa lelah terpaksa mengerjakan pekerjaan Tuhan. Padahal Tuhan sedang mengajar kita untuk mengangkat piala perak, jadi yang mengangkat piala perak adalah anak Tuhan yang tidak menyayangkan nyawanya, itulah yang tidak mempertahankan harga dirinya, yang tidak suka mengelus-elus perasaan daging.

 

Perlu untuk diketahui: Sengsara yang dialami gereja Tuhan di bumi ini memuncak pada saat melahirkan Anak laki-laki.

 

Wahyu 12:1-2 -- Perikop: “Perempuan dan naga.”

(12:1) Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. (12:2) Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.

 

Puncak penderitaan dari sidang mempelai Tuhan adalah saat melahirkan anak, sebab di sini dikatakan: “… dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.”

Namun percayalah apabila penderitaan itu sudah sampai di leher  maka tinggal tunggu waktu sedikit lagi, jangan kita lantas lemah dan putus asa, lalu meninggalkan Tuhan.

 

Wahyu 12:4-5

(12:4) Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. (12:5) Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.

 

Anak laki-laki ditandai dengan sengsara maut, sebab ketika Anak laki-laki ini lahir ular naga sudah menantikan dan siap untuk menelan. Namun, kita lihat disini, Anak laki-laki diselamatkan, sedangakan Benyamin adalah gambaran dari Anak laki-laki.

 

Kita ini sudah dekat dengan ancaman maut bahkan tidak lama lagi antikris akan memerintah dan berkuasa atas dunia ini dan itu berlangsung dari Wahyu 12 sampai dengan Wahyu 18, lamanya tiga setengah tahun.

Jadi anak-anak Tuhan harus tahu piala emas di tangan Babel berbeda dengan piala perak yang dimiliki Yusuf.

Piala pada Babel seperti piala keemasan tetapi memabuki seluruh dunia. Emas di sini bukan emas rohani tetapi berbicara tentang kekayaan dunia.

 

Kita lihat “piala keemasan dari Babel.”

Wahyu 18:3

(18:3) karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya."

 

Semua orang, baik raja-raja bahkan sampai lapisan masyarakat yang terendah menjadi mabuk karena piala emas dari Babel, menjadi kaya tetapi oleh karena kelimpahan hawa nafsu dari Babel.

Inilah piala emas dari Babel sangat berbeda dengan piala perak dari Yusuf.

 

Wahyu 18:4-7

(18:4) Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: "Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya. (18:5) Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Allah telah mengingat segala kejahatannya. (18:6) Balaskanlah kepadanya, sama seperti dia juga membalaskan, dan berikanlah kepadanya dua kali lipat menurut pekerjaannya, campurkanlah baginya dua kali lipat di dalam cawan pencampurannya; (18:7) berikanlah kepadanya siksaan dan perkabungan, sebanyak kemuliaan dan kemewahan, yang telah ia nikmati. Sebab ia berkata di dalam hatinya: Aku bertakhta seperti ratu, aku bukan janda, dan aku tidak akan pernah berkabung.

 

Jangan mabuk dari piala emas Babel, sebab piala emas daripada Babel bukan berbicara soal hal yang rohani tetapi berbicara kelimpahan dan kekayaan dari hawa nafsu. Oleh sebab itu, jangan turut dalam dosa-dosanya supaya jangan ditimpa malapetaka-malapetakanya.

Tuhan akan mengadakan pembalasan kepada piala keemasan dari Babel, maka jangan berpuas diri dengan segala kenajisan percabulan karena Tuhan akan membalaskan kepadanya dua kali lipat menurut pekerjaannya.

 

Kalau kita perhatikan kisah ini dengan seksama pada perkara ketiga yaitu Yusuf memberikan piala perak kepada Benyamin, kita melihat Tuhan sedang memimpin gereja Tuhan sampai kepada dua klimaks yaitu:

1.       Menjadi mempelai Tuhan.

2.       Doa penyembahan.

Apabila kita sudah berada pada dua klimaks ini menunjukkan bahwa kepada kita diberikan piala perak. Maka, jangan heran jika kita diajarkan untuk mengangkat piala perak sebab itu tanda bahwa kita ada sidang mempelai Tuhan, tanda bahwa kita berada pada puncak ibadah itulah doa penyembahan.

 

Kemarin saya berbicara dengan salah satu jemaat GPT Betania”, memang terlalu berat penggembalaan GPT Betaniaini ada di provinsi Banten, sebab tidak dapat sembarangan mendirikan gereja di provinsi Banten. Maka sekarang ini kita sedang menyewa sebuah gedung dan tentunya dibutuhkan biaya yang banyak dan belum lagi keperluan operasional, dan hal lainnya. Kemudian persembahan pada penggembalaan GPT Betania memang lebih banyak dari kebanyakan gereja, dan terhadap hal tersebut saya mengerti bahwa itu berat namun saya renungkan kembali bahwa Tuhan sedang mengajar kita untuk mengangkat piala perak atau piala ketebusan. Dengan demikian, kita dapat menolak piala keemasan dari Babel, sebab piala keemasan itu bukan bersifat rohani namun bersifat lahiriah yaitu kenajisan percabulan; kaya oleh karena hawa nafsu dari pada Babel.

 

Wahyu 12 sampai dengan Wahyu 18 itulah piala keemasan dari Babel berlangsung selama tiga tahun setengah di bumi ini. Jadi, kita mengerti siapa yang menjadi mempelai dan siapa yang menjadi Anak laki-laki.

Jika kita tidak mau mengangkat piala perak maka sampai kapanpun dia tidak akan pernah berada di dalam rencana Allah yang besar.

 

Pertanyaannya: SIAPAKAH ANAK LAKI-LAKI INI?

Wahyu 12:5

(12:5) Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.

 

Anak laki-laki ini adalah anak yang lahir dari benih ilahi.

 

1 Yohanes 3:9

(3:9) Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.

 

Yang dilahirkan dari benih ilahi tidak dapat berbuat dosa, itulah Anak laki-laki.

Sebab hubungan intim antara mempelai perempuan dan mempelai Laki-laki sudah berlangsung selama sembilan bulan, dari Wahyu 8 sampai dengan Wahyu 12.

 

Sang pemilik piala perak juga tidak berbuat dosa. Kita tahu bahwa Yusuf ini adalah anak yang paling dikasihi oleh Yakub, ayahnya, lebih dari saudara-saudaranya sehingga kepadanya diberikan jubah yang maha indah itu berbicara tentang karunia-karunia Roh El Kudus dan jabatan-jabatan Roh El Kudus, dan hal itulah yang membuat saudara-saudaranya cemburu.

Hal tersebut terjadi atas seizin Tuhan karena Tuhan jauh lebih mengerti dan Tuhan yang mengerti isi hati setiap manusia, sehingga kepada Yusuf dipercayakan karunia mimpi, karunia untuk membukakan rahasia Firman Allah sehingga kebencioan itu semakin bertambah. Namun sekalipun demikian, Yusuf tidak pernah bertambah dosa, sekalipun kecemburuan itu bertambah dua kali lipat, bahkan sekalipun Yusuf dijual pada orang Ismael, saudagar dari Midian, seharga 20 keping perak, dan Yusuf tidak berbuat dosa. Sampai akhirnya berada di rumah Potifarpun Yusuf tidak berbuat dosa, bahkan kepada Yusuf diberikan kuasa yang sangat besar yang setara dengan Potifar atas rumah Potifar. Namun, isteri Potifar suka menggoda Yusuf, tertapiYusuf tetap tidak berbuat dosa, sebab Yusuf yang memegang piala perak, demikian juga Anak laki-laki yang lahir dari benih ilahi bagaimanapun tidak akan berbuat dosa.

Jadi, Yusuf tidak salah menaruh piala perak ke karung Benyamin atau Anak laki-laki.

 

Kemudian, Anak laki-laki dikatakan: Akan menggembalaan semua bangsa dengan gada besi.

Kalau kita perhatikan pada kisah Yusuf dan Maria yang ditulis dalam Matius 1, Yusuf sebenarnya berusaha untuk menceraikan atau meninggalkan Maria dengan diam-diam, karena Yusuf seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama Maria di muka umum, tetapi malaikat Tuhan menampakan diri kepada Yusuf dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” Hal ini menunjukkan anak yang ada di dalam kandungan Maria dari benih ilahi dan tidak mungkin berbuat dosa.

Inilah yang akan menggembalakan semua bangsa, tetapi Anak laki-laki pada Wahyu 12:5 bukan pribadi Yesus Kristus, melainkan Anak yang lahir dari benih ilahi; dimana mempelai perempuan melakukan hubungan intim dengan Mempelai Laki-Laki dari Wahyu 8 sampai dengan Wahyu 12.

 

Kita bandingkan dengan Wahyu 2.

Wahyu 2:25

(2:25) Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang.

 

“Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang.”

Yang harus kita pegang adalah piala perak/piala ketebusan/piala keselamatan.

 

Wahyu 2:26-27

(2:26) Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; (2:27) dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk -- sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku –

 

Anak laki-laki yang menggembalakan bangsa-bangs adalah Anak laki-laki dengan kriteria;

1.       Menang.

Berarti dosa tidak berkuasa atau tidak kalah terhadap dosa yang ditimbulkan oleh;

-          daging dengan segala hawa nafsu yang jahat,

-          dunia dengan segala arusnya yang menhanyutkan,

-          dan tipu muslihat dari pada si pendurhaka itulah iblis atau setan.

2.       Melayani Tuhan dan melayani pekerjaan Tuhan sampai mati.

Berarti, tidak menyayangkan dirinya melainkan tetap berpegang teguh dan mengangkat piala perak/piala ketebusan/piala keselamatan.

 

Kemudian, apabila dia akan menggembalakan dengan GADA BESI, sebab dengan gada besi dia akan meremukkan bangsa-bangsa seperti tembikar di tangan tukang periuk, diubahkan dan dibentuk sesuai dengan kehendak Tuhan.

 

Tuhan mau pakai kita semua untuk menggembalakan bangsa-bangsa. Amin.

 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang

 


No comments:

Post a Comment