IBADAH RAYA MINGGU, 17
AGUTUS 2025
KITAB WAHYU
Wahyu 19:9
Subtema: UNDANGAN UNTUK BANGSA KAFIR
Shalom.
Kembali saya
menyampaikan; damai sejahtera bagi kita semua, memenuhi kita, hati kita,
memberi sukacita dan bahagia saat kita duduk diam mendengarkan Sabda Allah.
Saya juga tidak lupa
menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN yang turut bergabung lewat online
/ live steraming / video internet baik dari Youtube, Facebook, atau
media sosial lainnya yang dapat digunakan.
Mari kita sambut KITAB
WAHYU sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu. Namun, tetaplah
berdoa dalam Roh, mohon kemurahan TUHAN, supaya Firman yang dibukakan itu
meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Wahyu 19:9
(19:9)
Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang
diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku:
"Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah."
Singkat kata, di sini
dikatakan; "Berbahagialah mereka
yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba."
Yang senada dengan kalimat
ini dapat kita temukan dalam…
Lukas 14:15-16 ---
Perikop: “Perumpamaan tentang
orang-orang yang berdalih”
(14:15)
Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah
orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah." (14:16) Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada seorang
mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang.
Singkat kata, di sini dikatakan; "Berbahagialah orang yang akan dijamu
dalam Kerajaan Allah."
Saudara, kita semua
merindu untuk dijamu dalam Kerajaan Allah, dan supaya hal ini menjadi kenyataan
maka di sini Yesus memberi perumpamaan tentang seorang yang mengadakan
perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang.
Lukas 14:17-20
(14:17)
Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para
undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. (14:18) Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang
pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi
melihatnya; aku minta dimaafkan. (14:19)
Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus
pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. (14:20)
Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.
Selanjutnya, orang yang
mengadakan perjamuan itu menyuruh hambanya untuk memanggil para undangan,
tetapi para undangan bersama-sama "meminta maaf". Maksud meminta maaf adalah menolak undangan secara
halus.
Ada 3 (tiga) hal yang dijadikan sebagai alasan oleh
orang-orang berdalih.
ALASAN PERTAMA: “Aku
telah membeli ladang dan aku
harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan”
ALASAN KEDUA: “Aku
telah membeli lima pasang lembu
kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan.”
Sekarang, mari kita
melihat; HUKUM TENTANG MEMBELI.
1 Korintus 7:30-31
(7:30)
dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang
bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli
seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli; (7:31) pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang
duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti
yang kita kenal sekarang akan berlalu.
Orang-orang yang membeli
seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka
beli.
Pendeknya, orang yang
mempergunakan barang duniawi seolah-olah
sama sekali tidak mempergunakannya.
1 Korintus 7:32
(7:32)
Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak
beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan
kepadanya.
Sesungguhnya yang Tuhan mau dari anak-anak Tuhan adalah supaya anak-anak TUHAN / gereja TUHAN; hidup tanpa kekuatiran
Soal “kekuatiran”
kita perhatikan dalam…
Matius 6:31-32
(6:31)
Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami
makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? (6:32) Semua itu dicari
bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga
tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
Orang-orang yang kuatir
soal apa yang akan dimakan, diminum, dan
dipakai, ternyata mereka adalah bangsa-bangsa
yang tidak mengenal Allah / orang-orang yang tidak berTuhan, sekalipun ia disebut orang Kristen.
Matius 6:33
(6:33)
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya
itu akan ditambahkan kepadamu.
Yang Tuhan mau supaya kita terlebih dahulu
memenuhi undangan, sehingga kelak dijamu dalam Kerajaan Sorga. Maka, semuanya akan ditambahkan, yaitu; umur,
kesehatan, kesabaran, kesetiaan, ketulusan di hati, kesucian semakin bertambah
sampai sempurna. Jadi semuanya ditambahkan baik lahir maupun batin
(jasmani dan rohani).
Matius 6:34
(6:34)
Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok
mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk
sehari."
Intinya di sini adalah janganlah kamu kuatir akan hari besok,
karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah
untuk sehari."
Demikianlah TUHAN
mengajarkan kepada kita di dalam Doa Bapa Kami.
Mari kita perhatikan hal
itu dalam…
Matius 6:11 --- Perikop:
“Hal berdoa”
(6:11)
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.
Berikanlah kami pada hari ini (bukan hari besok) makanan
kami yang secukupnya, karena kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.
Kita lihat…
Keluaran 16:18-19 ---
Perikop: “Manna Sabat”
(16:18) Ketika
mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak
kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap
orang mengumpulkan menurut keperluannya. (16:19) Musa berkata kepada mereka: "Seorang pun tidak
boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi."
Di sini kita melihat, tiap-tiap
orang mengumpulkan manna menurut keperluannya, kemudian tidak boleh
ditinggalkan sampai pagi. Itu berarti, kesusahan
sehari cukuplah untuk sehari, sebagaimana TUHAN mengajar kita dalam doa
Bapa kami dalam Matius 6:11 tadi ---
Berikanlah kami pada hari ini
makanan kami yang secukupnya
Keluaran 16:20
(16:20)
Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan dari padanya
sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi
marah kepada mereka.
Kalau anak-anak Tuhan tidak hidup sesuai ketetapan Tuhan yakni; "kesusahan sehari cukuplah sehari" maka kehidupan
seseorang menjadi berulat dan berbau busuk.
Jadi, orang kuatir,
cepat atau lambat akan berulat dan berbau busuk.
-
Berulat artinya:
hidupnya sama seperti ulat/ular, sementara ular adalah gambaran dari
iblis/setan.
Ayat referensi
Yohanes 8:44
Iblislah
yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia
adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran,
sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata
atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.
Tabiat ular
yang paling mendasar ada 3 (tiga):
1.
Pembunuh manusia sejak
semula,
menunjukkan bahwa ular atau iblis atau setan tidak memiliki kasih dari sorga.
2.
Tidak hidup dalam kebenaran, artinya: tidak memiliki
Firman Allah sebagai kebenaran.
3.
Ia adalah pendusta dan
bapa segala pendusta,
menunjukkan iblis tidak memiliki Roh
Allah yang suci.
Kemudian,
kalau kita perhatikan Kejadian 3:1 dikatakan “…
Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang
dijadikan oleh TUHAN Allah.”
Perlu untuk
diketahui;
Ø Cerdik tetapi tidak
tulus = licik.
Ø Sebaliknya, tulus tetapi
tidak cerdik = bodoh.
Jadi,
ternyata, kita berpikir selama ini dosa membunuh (mutilasi), dosa mencuri, dosa
berzinah itu adalah dosa yang paling besar. Ternyata, kekuatiran di dalam seseorang itu juga dosa besar. Sebab jika ia
tidak memperhatikan ketetapan Tuhan,
dengan lain kata; tetap dikuasai oleh roh kekuatiran seperti orang tidak
berTUHAN, maka hidupnya akan menjadi berulat
(hidupnya sama seperti iblis setan).
-
Berbau busuk,
artinya: hidup dalam dosa/kejahatan.
Dosa /
kejahatan itulah yang membuat kebusukan dan bau busuk ini juga dapat
mempengaruhi orang lain sehingga mereka bisa berbuat dosa juga. Aroma bau
busuknya itu menyebar dan orang lain jadi tersandung. Tidak ada orang yang
menyukai aroma bau busuk, sebab yang ada orang lain bisa tersandung (orang bisa
berbuat dosa).
Inilah gambaran orang
yang tidak berTUHAN, orang yang kuatir dengan apa yang dimakan, diminum, dan
dipakai, termasuk kuatir soal masa depan.
Kita kembali membaca…
Matius 6:27
(6:27)
Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan
sehasta saja pada jalan hidupnya?
Tidak ada seorang pun
yang karena dikuasai roh kekuatiran, maka dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya.
Justru, kekuatiran
membungkukkan seseorang (Amsal 12:25)
Bungkuk artinya melihat perkara-perkara
di bawah / perkara-perkara duniawi / perkara-perkara lahiriah. Dan orang
bungkuk tidak dapat melihat perkara Tuhan
(di atas) itulah ibadah dan pelayanan.
Saudara, sehasta = ± 45 cm, berarti; antara sikut
sampai ujung jari.
Demikian juga,
langkah-langkah kaki, kurang lebih sehasta. Kalau kita melangkah, mayoritasnya
± 45 cm.
Pendeknya, oleh
kekuatiran seseorang tidak dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya.
Praktek sehasta.
Matius 6:26
(6:26)
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak
menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi
makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
Tuhan perintahkan kepada kita
untuk memandang burung-burung di langit.
-
Langit
= Kerajaan
Sorga à Takhta Allah, gambaran
dari Mempelai Tuhan.
-
Sedangkan,
pasangan dari langit adalah bumi. Bumi adalah tumpuan kaki Tuhan à doa Penyembahan
Sebagaimana yang
tertulis dalam Kisah Para Rasul 7:49, dan Yesaya 66:1.
Singkat kata, jarak
langit dengan bumi adalah sehasta. Ini
adalah “sehasta” rohani, jangan saudara berpikir masakan dari langit ke bumi
hanya ± 45 cm. Sehasta berbicara
tentang mempelai TUHAN dengan
wujudnya yaitu; doa penyembahan.
Jadi, untuk sampai kepada
praktek sehasta, TUHAN perintahkan supaya kita senantiasa mengarahkan pandangan kepada burung di udara. Seperti apa burung di udara? Tidak menabur,
tidak menuai, tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung namun dipelihara oleh
TUHAN. Kalau burung di udara dipelihara oleh TUHAN, bukankah manusia melebihi burung-burung di udara?
Oleh sebab itu,
janganlah kita mengikuti contoh yang tidak baik seperti orang-orang yang
diundang.
-
“Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan.”
- “Aku telah membeli lima pasang
lembu kebiri dan aku harus
pergi mencobanya; aku minta dimaafkan.”
Sebetulnya ini adalah
penolakan secara halus, mereka menolak untuk dijamu dalam kerajaan Sorga.
Jangan kita mengikuti contoh yang seperti ini. Padahal, terkait dengan soal
“membeli” dalam 1 Korintus 7:30 tadi
dikatakan; “…. dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak
memiliki apa yang mereka beli. Yang TUHAN mau adalah sebagaimana yang
ditulis pada 1 Korintus 7:32; “…. Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa
kekuatiran.”
Bialah kita belajar
untuk mempraktekkan satu hasta, berarti; memandang langit.
-
Langit adalah takhta Allah à mempelai TUHAN.
-
Pasangan
dari mempelai TUHAN adalah bumi -- tumpuan kaki TUHAN, berarti; doa
penyembahan.
Berarti, kalau kita
memenuhi undangan (tidak menolak undangan), maka ketekunan tiga macam ibadah
pokok, itulah gambaran dari undangan, akan memimpin kita sampai kepada puncak
ibadah itulah doa penyembahan sebagai wujud dari mempelai TUHAN, itu dulu yang
nomor satu. Sebab, orang yang kuatir Alkitab berkata; adalah orang yang tidak
berTUHAN. Kuatir soal apa yang dimakan, diminum, dan dipakai, itu adalah
gambaran dari orang yang tidak berTUHAN, meskipun ia disebut orang Kristen.
Biarlah kiranya praktek sehasta itu nyata dalam kehidupan kita masing-masing.
Sebagaimana pada gambar
ini kita melihat…
-
Langit adalah takhta Allah.
-
Bumi
adalah
tumpuan kaki TUHAN.
Jadi, pasangan dari
langit adalah bumi dan wujud dari mempelai TUHAN adalah doa penyembahan.
Untuk sampai kepada
praktek sehasta, kiranya kita senantiasa mengarahkan pandangan kita kepada
burung di udara (di langit) berarti jangan menolak undangan.
Sekali lagi saya
sampaikan, kekuatiran tidak akan menambah sehasta saja pada jalan hidupnya,
tetapi kita harus menerima undangan supaya kelak dijamu dalam kerajaan Sorga.
Prakteknya; memandang burung-burung di udara, artinya; ibadah sampai pada
puncaknya yaitu doa penyembahan, sebagai wujud dari mempelai TUHAN di bumi ini.
Itulah terkait dengan
alasan pertama dan kedua. Sekarang kita melihat….
Ada 3 (tiga) hal yang dijadikan sebagai alasan oleh
orang-orang berdalih.
Alasan
KETIGA: “Aku
baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.”
Pendeknya, ikatan kawin
dijadikan sebagai alasan untuk menolak undangan
Jadi saudara…
-
Seorang
suami kalau sibuk memperhatikan perkara dunia, bagaimana mungkin ia
dapat memperhatikan isterinya.
-
Demikian
sebaliknya seorang isteri, kalau sibuk memperhatikan perkara dunia, bagaimana
mungkin ia dapat memperhatikan suaminya.
Jadi, jangan sampai
ikatan kawin dijadikan sebagai alasan untuk menolak undangan / perkara TUHAN /
perkara di atas / perkara rohani.
Kita baca terlebih
dahulu…
Matius 10:34-36 --- Perikop:
“Yesus membawa pemisahan, Bagaimana
mengikut Yesus”
(10:34)
"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi;
Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. (10:35) Sebab Aku datang untuk memisahkan
orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu
perempuan dari ibu mertuanya, (10:36)
dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
Ayat ini berbicara soal
ikatan kawin / ikatan rumah tangga. Tetapi yang pasti di sini kita melihat; Yesus
datang ke bumi membawa pedang untuk
mengadakan pemisahan antara lain:
-
Anak
laki-laki dari ayahnya.
-
Anak
perempuan dari ibunya.
- Menantu perempuan dari
ibu mertuanya.
Singkat kata, musuh semua orang ialah seisi rumahnya.
Apa
maksudnya? Apa TUHAN mau mengajarkan kita supaya satu dengan yang lain
bertengkar (bermusuhan)?
Mari kita perhatikan
pada ayat berikutnya.
Matius 10:37-39
(10:37)
Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak
bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan
lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. (10:38) Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia
tidak layak bagi-Ku. (10:39)
Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan
barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Perlu untuk diketahui;
-
Jika
anak laki-laki mengasihi bapanya lebih dari Tuhan, maka ia tidak layak bagi Tuhan.
-
Jika
anak perempuan mengasihi ibunya lebih dari Tuhan, maka ia tidak layak bagi Tuhan.
- Sebaliknya, apabila orang
tua mengasihi anak laki-laki atau anak Perempuan lebih dari TUHAN, maka ia
tidak layak bagi TUHAN.
Singkat kata, barangsiapa
tidak memikul salibnya dan mengikut Tuhan
maka ia tidak layak bagi Tuhan. Barangsiapa mempertahankan nyawanya (ikatan
kawin), ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi
sebaliknya, barangsiapa kehilangan
nyawanya karena Aku (sangkal diri, pikul salib, dan ikut TUHAN), ia akan memperolehnya.
Itulah yang dimaksud,
TUHAN datang membawa pedang untuk mengadakan pemisahan.
Saudara, pedang tajam itulah Firman Allah,
kegunaannya adalah untuk memisahkan
kita dari tabiat-tabiat yang tidak baik, supaya kita senantiasa menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Tuhan, tidak ada lagi alasan untuk
mempertahankan ikatan kawin. Sebagaimana dalam Ibrani 4:12 --- Sebab firman
Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun;
ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan
sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.
Ini
namanya penyucian terhadap perasaan terdalam yang tidak dapat dilihat mata
manusia. Itu sebabnya TUHAN berkata; “Aku datang membawa
pedang untuk mengadakan pemisahan.”
Saudara, pedang tajam
bermata dua ...
-
Mata
yang pertama à Pengajaran mempelai.
- Mata yang kedua à Pengajaran Tabernakel.
Demikianlah orang-orang
yang berdalih menggunakan 3 (tiga) alasan untuk menolak dijamu dalam Kerajaan
Allah.
Selanjutnya kita akan
membaca Injil…
Lukas 14:21-24
(14:21) Maka kembalilah hamba
itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu
dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan
lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat
dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. (14:22)
Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah
dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. (14:23) Lalu
kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan
paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. (14:24)
Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang
telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku."
Kembalilah hamba itu dan
menyampaikan semuanya kepada tuannya, lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata:
"Tidak ada seorangpun dari orang-orang yang telah diundang itu akan
menikmati jamuan-Ku." Berarti binasa untuk selama-lamanya.
Sesungguhnya yang diundang di sini merupakan bayangan dan gambaran dari pada
bangsa Israel (orang-orang Yahudi). Lalu akhirnya setelah semua dilaporkan oleh
hamba itu maka tuan dari hamba itu berkata; "Tidak ada seorangpun dari
orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku."
Akhirnya tuan tersebut memerintahkan
hambanya pergi ke segala jalan dan lorong kota.
Segala jalan dan lorong
kota adalah gambaran (bayangan) dari sebuah tempat dimana orang-orang sesat dan
orang-orang terhilang berada, itulah BANGSA KAFIR.
Terkait dengan sesat
dan terhilang kita lihat di dalam…
Lukas 15:1-5 --- Perikop:
“Perumpamaan tentang domba yang hilang.”
(15:1) Para pemungut cukai dan
orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. (15:2)
Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya:
"Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan
mereka." (15:3) Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: (15:4)
"Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan
jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan
puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia
menemukannya? (15:5) Dan kalau ia telah
menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,
Singkat kata; Yesus
datang ke dunia ini untuk mencari orang berdosa atau orang yang tersesat dan
terhilang seperti seseorang yang mempunyai 100 (seratus) ekor domba, jika kehilangan
1 (satu) ekor domba maka orang itu pergi meninggalkan 99 (Sembilan puluh
Sembilan) ekor di Padang Gurun lalu pergi mencari yang sesat (terhilang) sampai
Ia menemukannya.
Memang mencari yang
tersesat dan terhilang pasti ada tantangannya.
Kita datang untuk melayani
TUHAN disertai dengan ketulusan dan kerendahan di hati juga pasti ada
tantangannya.
Tantangan yang pertama
dari dalam; ahli taurat dan orang Farisi. Tetapi meskipun begitu hati kita
tidak boleh surut; kita tidak boleh surut untuk melayani TUHAN dan melayani
pekerjaan TUHAN dengan tulus dan rendah hati untuk mencari yang tersesat dan
terhilang. Memperhatikan orang lain berarti mencari yang tersesat dan terhilang
meskipun ada tantangannya.
Jadi yang pasti Yesus
datang ke dunia ini untuk mencari yang tersesat dan terhilang; orang berdosa.
Dia duduk makan bersama dengan orang berdosa. Orang berdosa di sini secara
khusus adalah pemungut cukai dan orang-orang berdosa.
Yesaya 53:6
(53:6) Kita sekalian sesat
seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi
TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.
Domba-domba sesat dan
terhilang jelas karena masing-masing mengambil jalannya sendiri.
Seringkali saya
menyampaikan kepada kita semua (keluarga ALLAH Gpt Betania) supaya menjadi satu
kehidupan domba yang tergembala berarti jangan kita mengambil jalannya
masing-masing. Tergembalalah dengan sungguh-sungguh supaya jangan sesat, jangan
hanya menuruti keinginan di hati saja.
Kalau hanya sekedar
beribadah, banyak gereja-gereja beribadah, tetapi tidak mengerti soal
penggembalaan. Kita semua harus menjadi satu kehidupan domba yang tergembala.
Jangan kita mengambil jalannya masing-masing, hanya menuruti keinginan di hati
saja. Kita tahu TUHAN adalah gembala Agung. Tetapi TUHAN juga memberikan kepada
kita gembala kecil, pemimpin sidang jemaat. Hanya satu gembala, Yesus adalah
Gembala Agung; kita semua adalah kawanan domba ALLAH. Disebut kawanan domba
ALLAH, tetapi hanya menuruti keinginan di hati, menjadi domba yang tersesat +
terhilang = liar.
Itu sebabnya kalau kita
mau bertindak, bertindaklah sebagaimana sewajarnya domba tergembala:
dengar-dengaran. Jangan melakukan sesuka hati saja, biarpun itu baik menurut
hati kita, biarpun itu halal tidak selamanya membangun, biarpun itu halal tidak
selamanya berguna. Segala sesuatu halal, tetapi bukan semuanya berguna.
Segala sesuatu halal, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu
apapun. Tidak berguna dan tidak membangun.
Contoh LIAR (tidak
tergembala):
Ayub 39:8-11
(39:8) Siapakah yang mengumbar
keledai liar, atau siapakah yang membuka tali tambatan keledai jalang? (39:9)
Kepadanya telah Kuberikan tanah dataran sebagai tempat kediamannya dan padang
masin sebagai tempat tinggalnya. (39:10) Ia menertawakan
keramaian kota, tidak mendengarkan teriak si penggiring; (39:11)
ia menjelajah gunung-gunung padang rumputnya, dan mencari apa saja yang hijau.
Praktek liar (tidak
tergembala):
1.
Menertawakan
keramaian kota,
artinya: menganggap kecil dan rendah ibadah pelayanan.
Saya harap kita tidak menganggap
kecil ibadah pelayanan.
2.
Tidak
mendengar teriak si penggiring, artinya: Tidak mendengar suara gembala = Tidak
dengar-dengaran kepada gembala. Hati-hati soal hal ini, TUHAN Adalah Gembala
Agung dan saya adalah gembala kecil; meterainya adalah domba-domba yang
dipercayakan oleh TUHAN. Jadi kalau ada yang tidak mengakuinya, TUHAN mengakui
saya sebagai gembala kecil.
3.
Menjelajah
gunung-gunung padang rumputnya, artinya: berada pada semua tempat-tempat
peribadatan. Alasannya: untuk mencari apa saja yang hijau (Firman ALLAH).
Saya kesana kan untuk cari Firman
TUHAN juga om, betul cari Firman, tetapi itu namanya bukan domba yang
tergembala. Setiap domba ada kandang penggembalaannya. Gembala selalu satu,
tidak dua, kemudian domba-domba mempunyai satu tempat pembaringan.
Biarlah kiranya hidup kita, nikah kita, juga buah
nikah semuanya tergembala dengan sungguh-sungguh, berada pada satu kandang
penggembalaan. Supaya kita benar, jangan mengambil jalannya masing-masing,
sesuka hati saja. Masing-masing kita menentukan pilihan, kita semua mempunyai
hati nurani, jangan dilawan hati nurani.
Itulah praktek domba
liar tidak tergembala, mengambil jalannya masing-masing. Lalu yang unik atau
ironis lagi,
Tempat bagi domba-domba
yang sesat dan hilang (tidak tergembala) ialah:
a.
Tanah
dataran
= tidak bergunung, tidak berlembah. Artinya: Hidup dengan mengandalkan manusia
dan kekuatannya. Ayat referensi: Yeremia 17:5.
Kanaan dengan Mesir berbeda. Kanaan
itu bergunung dan berlembah sehingga mendapat air sebanyak hujan yang turun
dari langit. Dipelihara oleh TUHAN, mata TUHAN tetap mengawasinya dari awal
sampai akhir tahun. Tetapi tanah dataran sama seperti Mesir, sama seperti kebun
sayur; setelah ditabur dengan benih harus diairi dengan jerih payah; berarti
mengandalkan manusia dan kekuatannya.
Sementara kita ada di Kanaan
Rohani; bergunung dan berlembah; itulah pengalaman kematian dan kebangkitan,
dipelihara oleh TUHAN sebab mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit,
mendapat kemurahan, berada di kebun anggurnya TUHAN. Tidak mungkin orang di
gunung turun ke bawah, mengambil air untuk menyiram kebun anggur di atas
gunung, tidak mungkin. Jadi kita tidak berada di tanah dataran seakan-akan
kebun sayur, disirami dengan kekuatannya sendiri. Itu sebabnya saya katakan; ironis
sekali kalau tidak tergembala, tempatnya tanah dataran.
b.
Padang
masin
artinya tidak mengalami datangnya keadaan baik dengan lain kata; tidak
akan pernah mengalami pemulihan baik hidupnya, nikahnya, rumah tangganya, seisi
rumah, tidak akan pernah mengalami pemulihan; masa depan suram.
Kalau kita sudah mendengar isi hati
TUHAN, taruhlah isi hati TUHAN di dalam hati kita supaya hati kita bersatu
dengan hati TUHAN. Kalau hati kita bersatu dengan hati TUHAN maka hati kita
akan bersatu dengan hati suami, hati kita bersatu dengan hati istri, hati kita
dengan hati anak, hati kita dengan hati orang tua, dan hati seisi rumah bersatu
kalau hati kita menyatu dengan hati TUHAN. Perhatikanlah Firman TUHAN yang
berasal dari hati TUHAN.
Yeremia 17:6
(17:6) Ia akan seperti semak
bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia
akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang
tidak berpenduduk.
Itu sebabnya sampai hari ini saya berjuang baik dalam
doa, baik dalam memberi contoh teladan supaya kita tetap menjadi satu, tidak
memisahkan diri satu dengan yang lain. Saya Batak tetapi istri saya China harus
bisa Bersatu. Pak Harun Batak istrinya Jawa harus bisa Bersatu; Jawa Batak
Bersatu, China Batak Bersatu, China Jawa Bersatu, suku dengan suku berbeda
harus bisa Bersatu. Jangan kita seperti kebanyakan tempat peribadatan, datang
pulang sendiri-sendiri. Jangan tersinggung, apa yang saya sampaikan ini, ini
maunya TUHAN, bukan maunya saya, mulut ini hanya sebatas mediator saja. Tetapi
Firman ini juga untuk saya, untuk nikah saya, untuk buah nikah saya, untuk kita
semua, untuk nikah kita, untuk buah nikah kita, untuk orang tua kita, menantu
kita, dan orang-orang di sekitar kita.
Itulah dua tempat bagi
mereka yang tidak tergembala (mengambil jalannya masing-masing):
1.
Tanah
dataran;
tidak berlembah dan tidak bergunung; dengan lain kata tidak mengalami
pemeliharaan dari TUHAN.
2.
Padang
Masin;
tidak pernah mengalami datangnya keadaan baik, tidak pernah dipulihkan, sendiri
saja.
Yesaya 53:6B
(53:6) Kita sekalian sesat
seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN
telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.
Tetapi Tuhan menimpakan
kepada-Nya kejahatan kita sekaliannya, menunjukkan bahwa Yesus datang ke dunia
ini untuk mencari yang tersesat dan yang terhilang.
Benarkah Dia sudah
mencari yang tersesat dan terhilang?
Lukas 15:5
(15:5) Dan kalau ia telah
menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,
Tuhan sudah memikul dosa
dan kesesatan kita, Tuhan telah menemukan kita, dan Ia lakukan itu dengan
SUKARELA, bukan dengan terpaksa, tetapi dengan GEMBIRA Ia mencari yang terhilang.
Jangan kita datang
beribadah karena aturan, oh sudah hari minggu maka kita beribadah, bukan
begitu. Imam-imam juga melayani jangan karena aturan, jangan karena diperintah,
tetapi ibadah pelayanan itu harus kita usahakan dan pelihara dengan GEMBIRA
sebagai tanda (take and give) bahwa kita sudah ditemukan oleh Tuhan.
Ciri sesat dan terhilang:
Lukas 14:21
(14:21) Maka kembalilah hamba
itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu
dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong
kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat
dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.
Ciri-ciri berada dalam
segala jalan dan lorong kota (sesat dan terhilang): Miskin, cacat, buta, dan
lumpuh.
Ø Miskin = Tidak punya harta;
serba kekurangan. Sehingga orang miskin tidak bisa memberi, justru sebaliknya
suka meminta-minta. Biar dia kaya kalau dia hanya mengharapkan uluran tangan
manusia, itu namanya miskin Rohani.
Ø Cacat = Tidak sempurna.
Ø Buta = Tidak dapat melihat
atau berjalan dalam kegelapan.
Orang yang berjalan dalam kegelapan,
tidak tahu arah tujuannya dan tersandung terhadap batu sandungan.
Kalau saya tidak salah hal itu ada
di dalam Yohanes 11:9; “Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam
dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk,
karena ia melihat terang dunia ini.” Sebaliknya buta = tidak dapat
melihat = berjalan dalam kegelapan maka dia tersandung terhadap batu sandungan.
Puncak gelap malam terjadi pada saat antikris menjadi raja. Jadi dia akan
tersandung dengan aniaya antikris yang akan terjadi nanti.
Ø Lumpuh = Tidak dapat melangkah;
tidak dapat berjalan dan mengikuti tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah-darah.
Tetapi TUHAN datang mencari kehidupan yang semacam ini. Sebab TUHAN berkata
kepada hamba-Nya yaitu; pergilah ke segala jalan dan lorong kota.
Tuhan datang mencari
kehidupan yang semacam ini. Bukankah kita seperti empat ciri ini saudara?
Tetapi TUHAN karena belas kasih-Nya mencari kehidupan kita masing-masing.
Lukas 14:22
(14:22) Kemudian hamba itu
melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun
demikian masih ada tempat.
Kembali hamba itu melapor: "… Tuan, apa yang tuan perintahkan
itu sudah dilaksanakan " Artinya: Yesus telah meminum cawan Allah yakni melakukan kehendak Allah
= Mencari yang tersesat dan terhilang.
Laporan berikutnya dari hamba kepada tuannya adalah "Sekalipun
demikian masih ada tempat." Artinya: Tuhan itu limpah dengan kasih.
Tadi yang tersesat dan terhilang sudah dicari di segala jalan dan lorong kota
namun laporan berikutnya dari hamba itu adalah masih ada tempat, menunjukkan
bahwa TUHAN itu limpah dengan kasih.
Efesus 2:4-7
(2:4) Tetapi
Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang
dilimpahkan-Nya kepada kita, (2:5) telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun
kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu
diselamatkan -- (2:6) dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan
memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, (2:7) supaya
pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih
karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam
Kristus Yesus.
Allah kaya dengan rahmat dan oleh karena kasih-Nya yang besar kepada kita:
a. Telah
menghidupkan kita bersama dengan Kristus = Diselamatkan.
b. Telah
membangkitkan kita, berarti memberi tempat bersama-sama dengan Dia di Sorga.
Saudara, ALLAH kaya dengan Rahmat dan limpah dengan
kasih-Nya yang besar.
Kita telah melihat pemaparan Firman walaupun sederhana dan singkat,
tetapi doa dan harapan saya kiranya Firman TUHAN ini mendapat tempat di hati
kita masing-masing.
Jadi TUHAN mencari yang tersesat dan terhilang. Mengapa terhilang? Karena
mengambil jalannya masing-masing. Namun yang TUHAN mau supaya kita menjadi satu
kawanan domba yang tergembala; dengar-dengaran, ikuti suara gembala. Pengajaran
Mempelai dalam terang Tabernakel yang telah menggembalakan kita. Jangan pergi
ke semua tempat-tempat peribadatan walaupun alasannya cari Firman, itu namanya
bukan domba tergembala.
Tetapi lihatlah, ketika orang miskin, orang buta, orang cacat, orang
lumpuh berada di segala jalan dan lorong kota, TUHAN datang mencarinya karena
TUHAN kaya dengan Rahmat. Mereka sudah diundang tetapi masih ada tempat; kaya
dengan Rahmat. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA
MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment