IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 03 FEBRUARI 2026
SURAT YUDAS
PASAL 1:11
(Seri: 8)
Subtema: PETANTANG PETENTENG
Shalom.
Segala
puji syukur, segala hormat, dan kemuliaan hanya bagi Dia, TUHAN kita Yesus
Kristus, yang telah memberi kesehatan,
umur panjang, dan memberi kesempatan untuk beribadah lewat Ibadah Doa
Penyembahan.
Dan malam ini kita akan menyembah
Dia, namun ijinkanlah Firman ALLAH yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati
kita, pribadi lepas pribadi.
Saya
juga tidak lupa untuk menyapa anak-anak TUHAN,
umat ketebusan TUHAN yang turut bergabung lewat online atau live streaming
baik dari video internet, baik dari Youtube Facebook atau video internet
lainnya yang dapat diakses. Selanjutnya, biarlah kiranya damai sejahtera dari
Sorga, memenuhi hati kita saat kita menikmati sabda ALLAH, ketika kita duduk
diam dekat kaki TUHAN.
Namun tetaplah berdoa dalam Roh,
mohonkanlah kemurahan daripada TUHAN supaya Firman yang dibukakan itu
meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi.
Selanjutnya,
mari kita sambut Surat Yudas sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Doa
Penyembahan dari Yudas 1:11.
Yudas
1:11
(1:11) Celakalah
mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena
mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan
mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.
“Celakalah mereka.” Siapakah mereka yang celaka di sini?
Antara lain:
a. Mereka
yang mengikuti jalan yang ditempuh Kain.
b. Mereka
oleh sebab upah menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam.
c. Mereka binasa karena
kedurhakaan seperti Korah.
Malam
ini kita kembali membahas.
Tentang: OLEH
SEBAB UPAH MENCEBURKAN DIRI KE DALAM KESESATAN BILEAM (Bagian 3).
2
Petrus 2:15 -- Perikop: "Nabi-nabi dan guru-guru yang palsu."
(2:15) Oleh karena
mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka,
lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk
perbuatan-perbuatan yang jahat.
Guru-guru
palsu telah meninggalkan jalan yang benar, yakni JALAN SALIB.
Jalan yang lebar adalah keinginan
daging, ujungnya maut. Tetapi jalan salib (jalan yang sempit) itulah jalan yang
benar.
Akibat meninggalkan jalan yang benar:
TERSESATLAH MEREKA.
Tersesat = kesasar = salah jalan.
Sebagai
gembala sidang, pemimpin jemaat, dan bapa rohani, saya berpesan: tetaplah
mengikuti jalan yang benar itulah JALAN SALIB sekalipun sempit / tidak enak
bagi daging. Jangan kita
mengikuti jalan yang lebar / jalan Bileam supaya jangan tersesat / kesasar /
salah jalan.
Praktek
meninggalkan jalan yang benar: Mengikuti jalan Bileam yaitu suka
menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat. Kisahnya ada pada Bilangan
22:1-20.
Minggu
lalu kita melihat pribadi Rasul Paulus, dia melayani TUHAN tanpa upah, melayani TUHAN dengan ketulusan di hati. Jadi Rasul
Paulus ini adalah kebalikan dari Bileam bahkan Rasul Paulus berkata; “Aku
lebih suka mati dari pada tidak memberitakan injil!... 1 Korintus 9:15.
1
Korintus 9:16
(9:16) Karena jika
aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab
itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
Melayani TUHAN dalam bentuk
pemberitaan injil itu adalah keharusan, maka ibadah pun adalah suatu keharusan.
Jadi kita tidak mempunyai alasan
untuk membesar-besarkan / memegahkan diri sekalipun dipercaya oleh TUHAN, berarti
Rasul Paulus menyadari tentang tahbisan dan urapan.
Perlu untuk diketahui; untuk
menerima jabatan imam, TUHAN menuntut dan menentukan 3 (tiga) korban binatang
sesuai dengan Keluaran 29:1-2.
Keluaran
29:1-2
(29:1) "Inilah
yang harus kaulakukan kepada mereka, untuk menguduskan mereka, supaya mereka
memegang jabatan imam bagi-Ku: Ambillah seekor lembu jantan muda dan dua
ekor domba jantan yang tidak bercela, (29:2) roti yang tidak beragi
dan roti bundar yang tidak beragi, yang diolah dengan minyak, dan roti tipis
yang tidak beragi, yang diolesi dengan minyak; dari tepung gandum yang terbaik
haruslah kaubuat semuanya itu.
1. Lembu
jantan muda, berbicara tentang pelayanan atau pendamaian sepenuh. Artinya:
Seorang imam (pelayan TUHAN)
harus rela menjadi PENDAMAIAN SEPENUH sebagaimana yang tertulis di dalam 2
Korintus 5:18-20.
2. Korban
domba jantan (pertama). Artinya: Seorang imam (pelayan TUHAN) harus hidup di dalam PENYERAHAN DIRI sepenuh, disebut juga korban bakaran. Ini juga yang TUHAN tuntut jika
seseorang hendak melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN. Binatang yang
dijadikan korban binatang itu hangus dari kepala sampai ekor.
3. Korban
domba jantan (kedua). Artinya: Seorang imam (pelayan TUHAN) harus hidup
di dalam TAHBISAN SEPENUH, berarti menjadi abdi Allah sepenuhnya, dalam bahasa Yunani disebut: “Hagiazo.”
Kalau kita sudah mengabdi kepada TUHAN,
maka hamba TUHAN harus taat, setia, dan dengar-dengaran kepada TUHAN,
menaklukkan diri kepada TUHAN Yesus Kristus sebagai tuan dari hamba-hamba TUHAN.
Kalau kita perhatikan di dalam 1 Korintus 9:16c; “Celakalah aku, jika aku tidak
memberitakan Injil.”
Inilah jawaban dari titik-titik pada
ayat 15. “Aku lebih suka mati daripada tidak memberitakan injil atau
Aku lebih suka mati daripada tidak melayani TUHAN, lebih suka mati
daripada tidak beribadah, lebih suka mati daripada tidak menyampaikan Firman TUHAN.”
Ini pengakuan dari Rasul Paulus, itu
sebabnya saya katakan; dia sangat memahami betul tentang tahbisan dan urapan
itu sendiri.
Itu sebabnya saya katakan, biar kita
melewati jalan sempit saja walaupun sesak (sakit) rasanya buat daging ini,
tetapi ujungnya adalah kehidupan kekal, daripada bebas untuk daging, namun
ujungnya maut. Berjalan di jalan yang lebar (bebas untuk hawa nafsu dan
keinginan daging), tetapi ujungnya maut, untuk apa?
Itulah praktek meninggalkan jalan
yang benar.
1
Korintus 9:17
(9:17) Kalau
andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak
menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri,
pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
Ibadah dan pelayanan yang disertai
dengan pikul salib adalah kehendak ALLAH.
Pendeknya, ibadah dan pelayanan adalah
suatu kepercayaan TUHAN kepada seorang imam (pelayan TUHAN).
Jadi anak-anak TUHAN (gereja TUHAN)
tidak pantas untuk bermegah (membesarkan dirinya) dihadapan TUHAN.
1
Korintus 9:18
(9:18) Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini:
bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak
mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.
Upah
yang lebih besar dari semua upah adalah DIPERCAYA UNTUK MELAYANI TUHAN tanpa upah. Kepercayaan
TUHAN jauh lebih besar dari semua upah-upah
yang ada di atas
bumi ini.
Jadi upah yang lebih besar dari
semua upah adalah kepercayaan. Maka peganglah segala sesuatu yang telah
dipercayakan oleh TUHAN bagi kita masing-masing.
Singkat
kata: Bileam menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat, sedangkan
Rasul Paulus melayani (memberitakan
injil) tanpa upah.
Upah yang lebih besar dari semua
upah adalah: dipercaya oleh TUHAN.
- Dipercaya sebagai seorang pemimpin
pujian.
- Dipercaya sebagai seorang bendahara.
- Dipercaya sebagai pemain musik, sebagai
singer.
- Dipercaya untuk mengelola multimedia,
mengelola mixer, dan sound system.
Jadi apa yang sudah dipercayakan
oleh TUHAN tidak boleh dianggap enteng, suka-sukanya. Kalau sedang suka dia
kerjakan, tetapi kalau sedang tidak suka dia tinggalkan, tidak boleh begitu.
Jadi upah yang lebih besar dari
semua upah di dunia ini adalah dipercaya oleh TUHAN.
Sebab,
Rasul Paulus menyadari betul:
a. Upah
yang lebih besar dari semua upah adalah menjadi kepercayaan TUHAN.
b. Melayani
TUHAN dalam tahbisan yang suci dan murni.
2
Petrus 2:16
(2:16) Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk
kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah
kebebalan nabi itu.
Untuk
upah kejahatannya Bileam beroleh PERINGATAN KERAS dari TUHAN, sebab keledai
betina yang ditungganginya dapat berbicara seperti manusia untuk mencegah
Bileam dalam kebebalannya.
Saudara, TUHAN berkuasa untuk
membuka mulut keledai.
Pada Bilangan 22:12, TUHAN
sudah berkata; “Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau
mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati.” Akan tetapi, Alkitab berkata, Bileam adalah orang
bebal… 2 Korintus 2:16. Berarti sukar mengerti, tidak cepat mengerti (tanggap)
perkataan TUHAN, itu namanya kebebalan.
Saya berdoa supaya setiap kita yang
hadir malam ini dibebaskan oleh darah salib dari roh kebebalan.
Seseorang tidak akan pernah bahagia
karena kebebalan, seseorang akan bahagia kalau dia sudah sampai pada kasih
ALLAH yang sempurna, yang keluar dari salib di Golgota.
Lihat seperti apapun seseorang
mengikuti kebebasan daging, dia tidak akan pernah puas dengan kebebasan daging
bahkan nanti ujungnya bisa menjadi satu kehidupan yang membosankan. Tetapi oleh
karena kasih yang sempurna yang keluar dari salib di Golgota, hidup ini di
tengah ibadah dan pelayanan penuh dengan dinamika, dinamika yang indah dalam
keindahan sorgawi.
Jadi terhadap upah kejahatan Bileam
itu TUHAN marah, TUHAN tegur dengan keras sebab keledai beban bisu yang dia
tunggangi itu berbicara seperti manusia, mencegah kebebalannya itu.
Bilangan
22:21-22
(22:21) Lalu
bangunlah Bileam pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya yang betina, dan
pergi bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab. (22:22) Tetapi bangkitlah
murka Allah ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai
lawannya. Bileam mengendarai keledainya yang betina dan dua orang bujangnya
ada bersama-sama dengan dia.
Pada pagi
harinya Bileam pergi (berangkat) kepada Balak dengan menunggangi
keledainya bersama dengan pemuka-pemuka Moab, tetapi berdirilah
malaikat TUHAN sebagai lawannya.
Bilangan
22:24-27
(22:23) Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN
berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tangan-Nya, menyimpanglah
keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul keledai itu
untuk memalingkannya kembali ke jalan.
Jika
TUHAN sudah menghadang jalan kita di jalan yang tidak baik supaya kita dibawa masuk ke ladang TUHAN, jangan kita seperti Bileam justru memukul keledai supaya kembali ke
jalan yang dikehendakinya. Mungkin
TUHAN sedang menghadang kita supaya kita jangan mengikuti jalan yang
dikehendaki daging, supaya kita ada di ladang TUHAN, itu jauh lebih baik,
tetapi Bileam seseorang yang bebal, itu sebabnya Bileam memukul keledai yang
ditungganginya dan mengarahkannya ke jalan yang dikehendaki dagingnya.
Bilangan 22:24-27
(22:24) Kemudian
pergilah Malaikat TUHAN berdiri pada jalan yang sempit di antara kebun-kebun
anggur dengan tembok sebelah-menyebelah. (22:25) Ketika keledai itu
melihat Malaikat TUHAN, ditekankannyalah dirinya kepada tembok, sehingga kaki
Bileam terhimpit kepada tembok. Maka ia memukulnya pula. (22:26)
Berjalanlah pula Malaikat TUHAN terus dan berdirilah Ia pada suatu tempat
yang sempit, yang tidak ada jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri. (22:27)
Melihat Malaikat TUHAN meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di
atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan
tongkat.
Di sini kita melihat, ternyata jalan
Bileam dihadang oleh malaikat TUHAN dengan pedang terhunus. Pedang terhunus itu
jelas berbicara tentang penghukuman karena ada suatu dosa atau pelanggaran yang
telah diperbuat sehingga oleh hukuman ini maka siapapun yang dihadang oleh
pedang terhunus maka ia akan berhenti berbuat dosa. Itu sebabnya, ketika
keledai itu melihat pedang terhunus, keledai itu langsung masuk ke ladang.
Ladang jelas berbicara tentang ladangnya TUHAN (kegiatan Roh).
Saudara, pedang terhunus memang
menghadang jalan kita, menghukum supaya dosa jangan terulang lalu diarahkan
untuk masuk ke ladang, itu sudah bagus, kita tidak perlu ngomel-ngomel, kita
tidak perlu marah-marah, kita tidak perlu menyalahkan TUHAN karena malaikat
TUHAN menghadang kita dengan pedang terhunus. Bukankah pedang Roh lebih tajam
dari pedang bermata dua manapun? Dia hidup dan kuat, dia menusuk amat dalam
sehingga mengadakan penyucian terhadap perasaan manusia terdalam. Itu sebabnya
dia sanggup memisahkan jiwa dan Roh, memisahkan sendi-sendi dan sum-sum, sanggup
membedakan pertimbangan dan pikiran hati manusia.
Akan tetapi, Bileam ini dasar
dikuasai roh kebebalan, dia memukul keledai dan dia mengarahkan keledai kembali
ke jalan yang dikehendaki dagingnya maka TUHAN pun kembali berdiri di antara kebun-kebun
anggur dengan tembok sebelah menyebelah. Ketika keledai melihat malaikat TUHAN
dengan pedang terhunus di tangannya, maka ditekankannyalah dirinya kepada
tembok.
Tembok berbicara soal iman.
Iman kita bukan lagi kepada yang lain-lain, iman kita hanya kepada pribadi
TUHAN Yesus Kristus yang telah menderita sengsara dan mati di atas kayu salib.
Karena kaki Bileam terhimpit ke
tembok, dia tidak suka. Memang kalau kita hidup dengan iman rasa-rasanya
terhimpit. Kalau dahulu kan hidup dengan daging, sekarang hidup dengan iman,
hidup dengan salib, rasanya perjalanan kita ini dihimpit, rasanya sakit, hal
itu membuat Bileam tidak suka sehingga keledai itu pun kembali dipukul supaya
mengikuti jalan yang dikehendaki dagingnya untuk yang kedua kali dia memukul
keledai tersebut.
Tetapi lagi-lagi, malaikat TUHAN
menghadang langkah (jalan) Bileam dengan pedang yang terhunus sebab pada ayat
26 dikatakan; “Berdirilah Ia pada suatu tempat yang
sempit, yang tidak ada jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri.”
Biasanya kalau sudah tidak ada lagi
jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri, barulah seseorang bisa meniarap.
Tetapi kalau masih ada sesuatu yang masih bisa diandalkan, seseorang sering
sekali petantang petenteng. Seseorang suka sekali beralasan (bermegah) untuk
meninggalkan ibadah dan pelayanan. Tetapi kalau sudah tidak ada lagi jalan
untuk menyimpang ke kiri atau ke kanan, di situlah orang langsung meniarap,
sudah tidak ada lagi yang bisa diandalkan.
Tiarap menunjuk kepada penyembahan.
Ketika
seseorang sudah kehabisan akal dan tidak ada lagi yang bisa diandalkan, sebetulnya itu terjadi atas seizin TUHAN, karena tujuan dari rencana TUHAN adalah
supaya kita segera TIARAP berarti hidup di dalam kasih, wujudnya adalah DOA
PENYEMBAHAN. Sebaliknya, ketika seseorang masih bisa mengharapkan ini dan
itu, maka dia akan berdalih dihadapan
TUHAN, dia akan sering meninggalkan ketekunan tiga
macam ibadah pokok. Tetapi
ingat, ketika seseorang tidak bisa lagi menyimpang ke kiri atau ke kanan,
ketika tidak ada lagi yang bisa diandalkan (diharapkan) dari dirinya atau orang
lain, barulah dia datang meniarap.
Itu sebabnya saya katakan untuk yang
kedua kalinya, kalau kita diijinkan oleh TUHAN sampai kepada habis-habisan,
tidak ada lagi yang bisa diandalkan, itu terjadi atas seijin TUHAN supaya kita cepat-cepat
meniarap, merendahkan diri dihadapan TUHAN lewat Doa Penyembahan.
Itu sebabnya, jangan kita cepat
marah-marah, salahkan orang tua, salahkan anak, salahkan suami, salahkan
isteri, salahkan orang-orang yang di sekitar. Memang orang bebal sukar tanggap (mengerti)
rencana TUHAN.
Itulah Bileam dikuasai roh
kebebalan.
Biarlah kita cepat-cepat meniarap
saja, hidup di dalam doa penyembahan, tinggal di dalam kasih ALLAH, itu yang
TUHAN mau.
-
Masuk ke
dalam ladang (kegiatan Roh), itu yang TUHAN mau.
-
Berjalan di
jalan sempit (jalan iman), itu yang TUHAN mau.
-
Meniarap /
hidup dalam doa penyembahan = tinggal di dalam kasih, itu yang TUHAN mau.
TUHAN tidak melihat paras mu, TUHAN
tidak melihat kulit mu, TUHAN tidak melihat keberadaan mu, TUHAN tidak melihat
kedudukan, jabatan, pangkat yang tinggi. Tetapi yang TUHAN kehendaki adalah 3
(tiga) hal saja, yaitu:
-
Supaya kita
masuk ke ladang TUHAN itulah kegiatan Roh.
-
Supaya kita
berjalan di jalan yang sempit / jalan iman artinya pikul salib, ikut TUHAN
meski rasanya terhimpit, meski rasanya sakit, tidak jadi soal, tetapi itu
adalah iman, ujungnya adalah keselamatan.
-
Supaya kita
tinggal di dalam kasih, meniarap = hidup di dalam doa penyembahan.
Tetapi itu pun tidak dikehendaki
oleh orang yang bebal. Yang dikehendaki oleh orang bebal adalah kebebasan untuk
bisa melampiaskan hawa nafsu dan keinginan-keinginan dagingnya yang jahat itu.
Bilangan
22:28
(22:28) Ketika itu TUHAN
membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: "Apakah
yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?"
Bileam
memukul keledai betina yang
ditungganginya sampai 3 (tiga) kali. Ketika Bileam memukul keledai betina untuk yang
ketiga kalinya, akhirnya TUHAN membuka mulut keledai dan keledai itu pun berbicara dan
berkata kepada Bileam: "Apakah yang kulakukan
kepada mu, sampai engkau memukul aku tiga kali?"
Bukankah keledai betina yang
ditunggangi oleh Bileam berada di tempat yang TUHAN kehendaki? Tetapi Bileam
ini memukul keledai sebanyak 3 (tiga) kali karena kebebalannya.
Intisari
Bilangan 22:21-28, keledai betina yang ditunggangi Bileam telah melihat
malaikat TUHAN menghadang jalan Bileam dengan pedang yang terhunus.
Kalau kita bisa melihat malaikat
TUHAN dengan pedang yang terhunus, kita akan berada di 3 (tiga) tempat ini;
- Masuk dalam ladang TUHAN.
- Berjalan di jalan sempit (jalan
iman) walaupun sesak.
- Tinggal di dalam kasih (doa
penyembahan).
Itulah yang akan dialami oleh
orang-orang yang memiliki mata yang terbuka terhadap pedang terhunus.
Tetapi, orang bebal tidak melihat
malaikat TUHAN dengan pedang terhunus. Itu sebabnya, ia memukul keledainya 3
(tiga) kali sehingga keledai itu pun dapat berbicara layaknya manusia karena
TUHAN membuka mulutnya serta berkata kepada Bileam: “Apakah yang kulakukan
kepada mu, sampai engkau memukul aku tiga kali?”
Kita lihat jawaban Bileam kepada
keledai itu di dalam…
Bilangan
22:29
(22:29) Jawab Bileam kepada keledai itu: “Karena
engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang
di tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.”
Saudara tekun dalam 3 (tiga) macam
ibadah pokok:
-
Tinggal di
ladang ALLAH (kegiatan Roh) = Tekun dalam Ibadah Raya Minggu.
-
Tinggal di dalam
iman = Tekun dalam Ibadah Pendalaman Alkitab.
-
Tinggal di
dalam kasih = Tekun dalam Ibadah Doa Penyembahan.
Lalu Bileam juga berkata; “Seandainya ada pedang di
tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.”
Pedang di sini berbicara tentang kebenaran
diri sendiri. Jangan kita hidup di dalam kebenaran diri sendiri, itu bisa
membunuh perasaan orang lain, membunuh hak orang lain, membunuh kebebasan orang
lain beribadah.
Kenapa seseorang hidup di dalam kebenaran diri
sendiri? Karena ia adalah orang bebal tidak memiliki mata yang terbuka untuk
melihat pedang yang terhunus, meskipun pedang terhunus sedang menghadang
langkahnya bagaikan malam ini Firman ALLAH dinyatakan. Apakah saudara melihat
kuasanya? Kalau tidak maka akan sama dengan kebebalan Bileam, hidup di dalam
kebenaran diri sendiri. Berkali-kali kita menikmati kemurahan TUHAN, nasihat
demi nasihat Firman dinyatakan, namun seolah-olah kita tidak melihatnya
sehingga hidup di dalam kebenaran diri sendiri.
Itulah Bileam, hidup di dalam kebenaran diri
sendiri.
Jangan kita seperti itu lagi, jangan pertahankan
itu lagi, itu adalah masa jahiliyah, masa lalu, masa kebodohan.
Bilangan
22:30
(22:30) Tetapi keledai itu
berkata kepada Bileam: "Bukankah aku ini keledaimu yang kautunggangi
selama hidupmu sampai sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian kepadamu?"
Jawabnya: "Tidak."
Perlu untuk diketahui; orang bebal tidak memiliki ROH KEPEKAAN.
Selama ini keledai tersebut nurut-nurut
saja, tetapi kalau ada perbuatan yang ganjil, semestinya dia peka.
Kalau melihat ada binatang yang
dapat berbicara, tentu kita akan terheran-heran. Beo saja berbicara, kita
sangat terheran-heran apalagi keledai. Tetapi dasar orang bebal yang sudah
hebat kebebalan menguasai dirinya, akhirnya tidak punya roh kepekaan.
Seharusnya kalau ada keganjilan dia harus bertanya kepada TUHAN; “Ko bisa
begini TUHAN?” Nanti TUHAN akan menjawab.
Bilangan
22:31
(22:31) Kemudian TUHAN
menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus
di tangan-Nya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan sujud.
Akhirnya TUHAN
menyingkapkan mata Bileam dan ketika mata Bileam terbuka, di
situlah dia melihat Malaikat TUHAN menghadang jalannya dengan pedang terhunus, lalu pada saat itulah dia berlutut dan sujud menyembah
kepada TUHAN.
Tetapi saudara, agak aneh juga,
keledai adalah gambaran dari bangsa Kafir, bisa melihat malaikat TUHAN dengan
pedang terhunus di tangannya. Sedangkan Bileam seorang nabi tidak bisa melihat
malaikat TUHAN menghadang jalannya dengan pedang terhunus. Kan ini suatu
pertanyaan besar.
Seandainya hubungan kita intim
dengan TUHAN, kita bergaul setiap hari dengan TUHAN pasti kita memiliki mata
yang terbuka dan melihat apa yang sedang TUHAN kerjakan serta melihat bagaimana
Firman ALLAH dibukakan untuk menyucikan kehidupan kita, tetapi Bileam tidak,
orang bebal tidak.
Kalau bangsa Kafir bisa melihat
malaikat TUHAN menghadang jalannya dengan pedang terhunus itu adalah suatu
anugerah. Kalau kita menikmati pembukaan rahasia Firman untuk menghadang jalan
kita, itu adalah anugerah, itu kemurahan bagi bangsa Kafir.
Bilangan
22:32
(22:32) Berfirmanlah Malaikat TUHAN kepadanya: “Apakah sebabnya engkau
memukul keledaimu sampai tiga kali? Lihat, Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan
ini pada pemandangan-Ku menuju kepada kebinasaan.
Jalan
yang dikehendaki Bileam menuju kepada KEBINASAAN, itu sebabnya malaikat TUHAN
menghadang jalan Bileam dengan pedang terhunus.
Jadi saudara, belajarlah untuk
menyadari diri bahwasanya TUHAN sedang menyatakan suatu kemurahan yang besar
kepada kita sebab malaikat TUHAN sedang menghadang jalan daging, menghadang
kita di jalan menuju kebinasaan dengan pedang yang terhunus (Firman TUHAN yang
dibukakan), bersyukurlah kepada TUHAN.
Bukan malah ngomel-ngomel,
marah-marah, menyalahkan TUHAN, menyalahkan orang tua, menyalahkan anak,
menyalahkan suami, menyalahkan isteri, menyalahkan situasi yang ada. Karena
sebenarnya jalan yang dikehendaki manusia itu adalah jalan menurut kehendak
dagingnya, muaranya adalah kebinasaan. Dan Firman ALLAH sedang menghadang kita
supaya jangan binasa. Dan Firman TUHAN malam ini yang dinyatakan kepada kita
bukan suatu kebetulan karena TUHAN sangat mengasihi mu. Jangan engkau tidak mau
tahu, jangan engkau tidak melihat itu, jangan kita lebih parah dari binatang
(keledai). Kalau keledai saja bisa melihat rencana TUHAN, semestinya kita juga
bisa melihat dengan mata yang terbuka.
Jangan pertahankan roh kebebalan sebab
itu kebodohan, itu menuju kebinasaan, percaya kepada Firman, jangan percaya
kepada kebenaran diri sendiri. Percayalah kepada pedang yang terhunus, pedang
Roh, Firman ALLAH, lebih tajam dari pedang bermata dua manapun.
Bilangan
22:33
(22:33) Ketika keledai ini melihat Aku, telah tiga kali
ia menyimpang dari hadapan-Ku; jika ia tidak menyimpang dari hadapan-Ku, tentulah
engkau yang Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan hidup.”
Ketika
malaikat TUHAN datang menghadang
langkah kita dengan pedang terhunus untuk membawa kita tekun dalam 3 (tiga)
macam ibadah pokok:
1. Masuk ke ladang ALLAH itulah kegiatan Roh ->
Ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu disertai kesaksian Roh.
2. Berada di jalan
sempit itulah iman
-> ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai Perjamuan Suci.
3. Meniarap -> Ibadah Doa Penyembahan (nafas
hidup) supaya kita tidak mati terbunuh.
Jadi ketekunan 3
(tiga) macam
ibadah pokok adalah harga mati. Jangan biasakan
karena kegiatan di dunia ini, kita gunakan alasan untuk meninggalkan ibadah. Tetapi biasanya, kenapa orang bisa melakukan itu? Mungkin masih
bisa berharap sesuatu dari orang tua nya, anaknya, suaminya, isterinya. Coba
kalau sudah tidak ada lagi yang diharapkan, mau tidak mau ia akan meniarap. Kenapa
orang petantang-petenteng? Karena masih ada yang diandalkan (diharapkan). Nanti
setelah semua itu lenyap baru menangis (meniarap).
Jadi jauh lebih baik kita diijinkan
TUHAN tidak memiliki apa-apa supaya cepat-cepat meniarap karena kalau ada
sedikit pun, nanti yang sedikit itu pun kita bisa jadikan untuk
petantang-petenteng.
Jadi supaya kita jangan
petantang-petenteng TUHAN ijinkanlah kita dihabisi dan tidak ada yang bisa kita
andalkan lagi.
Bilangan
22:34-35
(22:34) Lalu berkatalah
Bileam kepada Malaikat TUHAN: "Aku telah berdosa, karena aku tidak
mengetahui, bahwa Engkau ini berdiri di jalan menentang aku. Maka sekarang, jika
hal itu jahat di mata-Mu, aku mau pulang." (22:35) Tetapi Malaikat
TUHAN berfirman kepada Bileam: "Pergilah bersama-sama dengan orang-orang
itu, tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus
kaukatakan." Sesudah itu pergilah Bileam bersama-sama dengan pemuka-pemuka
Balak itu.
Intinya; lebih
baik menyerah kepada kehendak Allah dan kita hidup di dalam rencana ALLAH yang indah sebagaimana di
dalam Yeremia 29:11 --- Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan
apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan
damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari
depan yang penuh harapan.
Itulah:
-
Di ladang ALLAH (kegiatan
Roh) -> Ibadah Raya Minggu.
- Di jalan sempit -> Ibadah
Pendalaman Alkitab.
- Meniarap -> Ibadah Doa
Penyembahan.
Rancangan TUHAN di dalam diri kita
adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberi
masa depan yang penuh pengharapan.
Jadi malam ini kita belajar untuk
meniarap, tinggal di dalam kasih itulah doa penyembahan. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA
MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U.
Sitohang
.png)
No comments:
Post a Comment