IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 13 JANUARI 2026
SURAT YUDAS
PASAL 1:11
(Seri: 5)
Subtema: BERCABANG HATI
Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, yang telah menghimpunkan kita sekaliannya di atas gunung TUHAN yang kudus, sehingga kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Doa Penyembahan, itu berarti sebentar kita akan membawa hidup kita rendah di ujung kaki salib tersungkur di hadapan TUHAN, sujud menyembah kepada Dia, dan hanya kepada Dia sajalah kita berbakti. Namun tetaplah berdoa, mohon kemurahan hati TUHAN, supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat tebusan TUHAN, yang turut bergabung lewat online atau live streaming atau video internet baik dari Youtube, maupun dari Facebook atau media sosial lainnya yang dapat diakses atau dapat digunakan. Biarlah kiranya damai sejahtera dari Sorga memenuhi hati kita, ruangan ini, baik juga saudara yang mengikuti secara online memberi sukacita, bahagia saat kita duduk diam menikmati sabda ALLAH.
Mari secepatnya kita sambut Surat Yudas sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Doa Penyembahan dari Yudas 1:11.
Yudas 1:11
(1:11) Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.
Celakalah mereka. Pertanyaannya: Siapakah yang disebut celaka di sini? Jawabnya:
1. Orang yang mengikuti jalan yang ditempuh Kain.
2. Oleh sebab upah menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam.
3. Binasa karena kedurhakaan seperti Korah.
Tentang: OLEH SEBAB UPAH MENCEBURKAN DIRI KE DALAM KESESATAN BILEAM (Pendahuluan).
2 Petrus 2:15-17
(2:15) Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat. (2:16) Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu. (2:17) Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat.
Guru-guru palsu telah meninggalkan jalan yang benar, maka pada saat itu, tersesatlah mereka.
Buktinya: Mereka menceburkan diri ke dalam KESESATAN BILEAM, yaitu suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.
Pendeknya, Bileam adalah contoh hamba TUHAN yang mempunyai hati BERCABANG, yaitu:
Menginginkan TUHAN; tetapi juga menginginkan uang (mamon).
Tidak salah mempunyai uang, tetapi jangan kita menginginkan uang hingga mempertuhankannya, seperti kita menginginkan TUHAN. Saudara menginginkan TUHAN, merindukan TUHAN, jangan sama ketika kita menginginkan uang.
Matius 6:24A
(6:24) Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada ALLAH dan kepada Mamon."
“Tidak ada seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan.”
Oleh sebab itu, jangan kita sama seperti Bileam dan menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam yaitu suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan jahat.
Singkat kata, Bileam adalah contoh hamba TUHAN mempunyai hati bercabang; menginginkan TUHAN, tetapi juga menginginkan uang (mamon).
Matius 6:24B
(6:24) Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada ALLAH dan kepada Mamon."
Seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan yaitu mengabdi kepada ALLAH dan mengabdi kepada mamon.
Kalau seseorang bercabang hati, resikonya antara lain;
Ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain.
Ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.
Ketika seseorang mengabdi kepada dua tuan (bercabang hati), maka tampaklah suatu tabiat:
Membenci dan mengasihi sekaligus.
Setia dan tidak setia sekaligus.
Itu sebabnya seseorang tidak boleh bercabang hati atau mengabdi kepada TUHAN dan kepada mamon.
Pendeknya, jika mengabdi kepada dua tuan (bercabang hati), maka seseorang akan dikuasai oleh roh serampangan.
Roh serampangan membuat seseorang menderita dan membuat orang lain juga pasti menderita.
2 Korintus 1:17
(1:17) Jadi, adakah aku bertindak serampangan dalam merencanakan hal ini? Atau adakah aku membuat rencanaku itu menurut keinginanku sendiri, sehingga padaku serentak terdapat "ya" dan "tidak"?
Sebagai seorang hamba TUHAN, Rasul Paulus tidak serampangan di dalam hal merencanakan pelayanan-pelayanannya / kunjungan-kunjungannya terhadap sidang jemaat yang di Asia kecil.
Yang dimaksud dengan serampangan adalah di dalam dirinya serentak terdapat YA dan TIDAK.
Maksudnya:
- Dalam satu kesempatan ia akan berkata YA.
- Tetapi dalam kesempatan yang lain ia akan berkata TIDAK.
Semestinya, “ya diatas ya” dan “tidak diatas tidak.” Kalau ikut TUHAN, ikutlah TUHAN dengan sungguh-sungguh, kalau tidak mau ikut TUHAN, tidak perlu ikut TUHAN.
Tetapi kita melihat orang yang bercabang hati seperti Bileam, di dalam dirinya serentak “Ya dan Tidak.” Ada keinginan kepada TUHAN, tetapi juga ada keinginan kepada uang.
Menerima upah di tengah ibadah dan pelayanan, itu adalah perbuatan yang jahat.
Kalau seorang suami serampangan, seorang isteri pasti menderita. Sebaliknya kalau seorang isteri serampangan, suaminya pasti menderita. Demikian juga, kalau kita ada di dalam satu komunitas; kemudian di situ ada satu kehidupan yang dikuasai oleh roh serampangan, pasti komunitas itu berantakan, kacau balau, dan seterusnya.
Tetapi kiranya di tengah ibadah dan pelayanan ini, kita dibebaskan dari roh serampangan.
2 Korintus 1:18-19
(1:18) Demi ALLAH yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak "ya" dan "tidak". (1:19) Karena Yesus Kristus, Anak ALLAH, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah "ya" dan "tidak", tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada "ya".
Rasul Paulus mengikuti teladan dari TUHAN Yesus Kristus, karena di dalam diri Yesus tidak terdapat serentak “ya” dan “tidak”, melainkan di dalam Kristus Yesus hanya ada “ya”. Jadi kita harus mengikuti teladan yang ditinggalkan oleh TUHAN Yesus Kristus.
Kita mengerti, ketika Yesus datang ke dunia ini, Dia datang bukan karena kehendak-Nya sendiri, tetapi karena kehendak ALLAH Bapa, dan terhadap kehendak ALLAH Bapa, Yesus berkata: "Ya Bapa-Ku."
Matius 26:38-39
(26:38) lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." (26:39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Inilah pengalaman Yesus terkait dengan sengsara Salib, dimulai dari taman Getsemani sampai kepada Bukit Golgota.
Saudara, itu juga yang diajarkan oleh Yesus kepada Yakobus, Petrus, dan Yohanes. Dimana Yesus berkata; “Tinggallah di sini.” Demikian juga kehidupan anak-anak TUHAN bila tergembala dengan sunggguh-sungguh pasti mengalami dan merasakan apa yang dirasakan oleh TUHAN Yesus Kristus karena memang kita harus mengikuti teladan yang ditinggalkan oleh TUHAN Yesus Kristus sebagaimana Rasul Paulus mengikuti teladan yang ditinggalkan oleh TUHAN Yesus Kristus, sebagaimana Rasul Paulus megikuti teladan Tuhan Yesus Kristus di tengah ibadah pelayanannya dihadapan TUHAN.
Kata "Ia maju sedikit." Menunjukkan bahwa Yesus tampil sebagai Imam Besar Agung, Imam ALLAH yang Maha tinggi.
Pekerjaan Imam Besar Agung: melayani, berdoa, dan memperdamaikan dosa.
Kita perlu menikmati pelayanan Imam Besar Agung, supaya satu dengan yang lain; saling merendahkan diri di hadapan TUHAN, sampai menjadi satu kehidupan yang kecil. Kemudian,
Kita juga perlu doa Imam Besar Agung, untuk memberi kekuatan, saat menghadapi pencobaan, yang memuncak pada saat Antikris menjadi raja, dan memerintah di atas muka bumi ini selama 7 (tujuh) tahun, puncaknya; 3½ (tiga setengah) tahun yang ke dua.
Itu sebabnya Yesus berkata; kepada Yakobus, Petrus, dan Yohanes, “tinggallah di sini”; artinya: tekunlah dalam tiga macam ibadah pokok.
Kita tidak bisa melepaskan diri dari dosa. Tetapi TUHAN Yesus Kristus adalah Imam Besar Agung, Dia telah mengerjakan pekerjaan penebusan dan pendamaian atas dosa, Dia rela menderita sengsara, bahkan mati di kayu salib, supaya yang jauh menjadi dekat, kembali kepada ALLAH, kembali kepada fitrahnya, kembali kepada sang Khalik.
Kemudian, terkait dengan pekerjaan Imam Besar Agung kita temuka di dalam…
(26:39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Yesus datang ke dunia ini adalah karena kehendak ALLAH, yakni; untuk minum cawan ALLAH berisi anggur asam bercampur empedu. Terhadap kehendak ALLAH Bapa, Yesus berkata: "Ya Bapa-Ku."
Jelas sekali bahwa Yesus tidak dikuasai oleh roh serampangan, karena di dalam Yesus hanya terdapat “YA.”
Sering sekali untuk hal yang enak kita berkata "ya", dan untuk hal yang mudah / gampang / ringan / sederhana kita berkata "ya", untuk hal yang tidak sulit kita akan berkata "ya", namun untuk hal yang sedikit lebih sulit / sukar / berat, kita seringkali berkata "tidak" dengan berbagai macam alasan, alasan ini dan alasan itu untuk menghindari salib Kristus. Tetapi terhadap kehendak ALLAH Bapa, Yesus berkata: "Ya Bapa-Ku."
2 Korintus 1:20-21
(1:20) Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji ALLAH. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan ALLAH. (1:21) Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah ALLAH yang telah mengurapi, (1:22) memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.
Oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan ALLAH. Juga untuk semua pekerjaan TUHAN kita mengatakan “Amin” saja untuk memuliakan ALLAH, tidak usah berbantah-bantah.
Lihat siapakah dia yang mengatakan “Amin”? Yang mengatakan AMIN atau tidak serampangan di tengah ibadah dan pelayanan adalah orang-orang yang diurapi oleh Roh El-Kudus, mereka sudah dimeteraikan oleh Roh EL-Kudus; itulah pribadi Rasul Paulus, Silwanus, dan Timotius, serta hamba-hamba TUHAN / rasul-rasul yang lain.
Jadi orang yang diurapi dan orang yang dimeteraikan oleh Roh El-Kudus (Roh ALLAH yang suci), tidak serampangan di tengah ibadah dan pelayanannya di hadapan TUHAN, di dalam dirinya tidak serentak terdapat “ya” dan “tidak”. Tetapi di dalam dirinya hanya terdapat kata “ya” selanjutnya kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan ALLAH.
Bileam adalah contoh hamba TUHAN yang bercabang hati (mendua hati).
Sebetulnya Bileam adalah nabi TUHAN, tetapi pada akhirnya binasa, dia tidak mendapat apa-apa, tidak menjadi ahli waris Kerajaan Sorga, juga tidak mendapatkan keselamatan kekal, karena dia adalah hamba TUHAN yang bercabang hati.
Jangan kita mengikuti contoh daripada Bileam (2 Petrus 2:15). Bileam ini suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat. Kita juga datang beribadah dan melayani, bukan mencari upah, bukan untuk yang lain-lain.
Bilangan 22:1,3,12
(22:1) Kemudian berangkatlah orang Israel, dan berkemah di dataran Moab, di daerah seberang sungai Yordan dekat Yerikho. (22:3) Maka sangat gentarlah orang Moab terhadap bangsa itu, karena jumlahnya banyak, lalu muak dan takutlah orang Moab karena orang Israel. (22:12) Lalu berfirmanlah ALLAH kepada Bileam: "Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati."
Ketika Israel berkemah di dataran Moab, membuat hati Balak raja Moab penuh dengan ketakutan disertai dengan rasa muak, benci kepada bangsa Israel, sebab itu dia mengutus utusannya; yaitu tua-tua orang Moab, dan tua-tua orang Midian untuk memanggil Bileam, yaitu supaya Bileam mengutuki bangsa Israel, bagi Balak dan orang Moab.
Bilangan 22:7
(22:7) Lalu berangkatlah para tua-tua Moab dan para tua-tua Midian dengan membawa di tangannya upah penenung; setelah mereka sampai kepada Bileam, disampaikanlah kepadanya pesan Balak.
Balak meminta Bileam untuk mengutuki (menyerapah) bangsa Israel, sebab untuk pekerjaan yang jahat ini, Bileam menerima upah daripada Balak, namun pada ayat 12, TUHAN berkata: "Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati." Sebetulnya TUHAN sudah berpesan kepada Bileam, namun Bileam memang cinta kepada TUHAN, tetapi cinta uang juga, hatinya bercabang (mendua hati).
Namun memang Bileam sempat memberkati Israel karena TUHAN berkata pada ayat 12: “Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati."
Jadi kutuk berubah menjadi berkat. Tetapi, sekalipun demikian, Bileam memberi anjuran yang lain kepada Balak, tentang cara menjatuhkan orang Israel yaitu, dengan; menyodorkan perempuan-perempuan Midian kepada laki-laki orang Israel. Bileam melakukan hal itu hanya demi upah. Akhirnya Balak memberi upah kepada Bileam.
Mari kita lihat kisah itu di dalam…
Bilangan 25:1 -- Perikop: "Israel menyembah Baal-Peor."
(25:1) Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab.
Ketika Israel berkemah di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab.
Ini atas anjuran daripada Bileam, memang di sini tidak dikatakan ini anjuran Bileam, tetapi nanti kita akan tahu bahwa ini anjuran Bileam kepada Balak untuk menjatuhkan Bangsa Israel, hanya dengan satu cara, yaitu; menyodorkan perempuan-perempuan cantik.
Bilangan 25:2-3
(25:2) Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi ALLAH mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban itu dan menyembah ALLAH orang-orang itu. (25:3) Ketika Israel berpasangan dengan Baal-Peor, bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel;
Bangsa Israel bukan hanya berzinah dengan perempuan-perempuan Midian, tetapi sekaligus menyembah Baal-Peor (penyembahan berhala), karena hati mereka sudah terpikat dengan perempuan-perempuan Midian.
Di akhir zaman ini banyak orang Kristen lupa kepada TUHAN, sang Khalik, dan jatuh ke dalam dosa berzinah dan menyembah berhala, sebagaimana yang tertulis di dalam Wahyu 17:1-5, Wahyu 18:2-3.
Demikian juga Esau hidup dalam kenajisan percabulann. Maka, jangan kita sama seperti Esau, yang memiliki nafsu rendah.
Jadi orang yang berzinah dan menyembah berhala; nafsunya rendah. Karena sesungguhnya TUHAN sangat berkuasa atas kehidupan kita, dan TUHAN dapat memelihara kehidupan kita dengan cara yang ajaib. Kita tidak perlu harus bercabang hati, hidup di dalam kenajisan percabulan, sebagaimana yang dialami oleh bangsa Israel ketika berkemah di Sitim, mereka berzinah dan menyembah berhala; disebut juga kenajisan percabulan.
Singkat kata: Bileam adalah seorang hamba TUHAN yang cinta akan uang, dia jatuh karena uang, jatuh karena upah perbuatan jahat, tetapi di sisi lain umat Israel jatuh ke dalam perzinahan dan penyembahan berhala.
Namun sebetulnya, apa yang dikerjakan Bileam dan kejatuhan bangsa Israel, keduanya sama-sama disebut dengan KENAJISAN PERCABULAN.
Bilangan 31:8
(31:8) Selain dari orang-orang yang mati terbunuh itu, mereka pun membunuh juga raja-raja Midian, yakni Ewi, Rekem, Zur, Hur dan Reba, kelima raja Midian, juga Bileam bin Beor dibunuh mereka dengan pedang.
Inilah akhir hidup seorang imam bahkan seorang siding jemaat apabila BERCABANG HATI. Ia tidak diselamatkan oleh uang sebagai upah kejahatan, dia tidak diselamatkan oleh kenajisan percabulan sekalipun berkelimpahan oleh kenajisan percabulan.
Bilangan 31:16
(31:16) Bukankah perempuan-perempuan ini, atas nasihat Bileam, menjadi sebabnya orang Israel berubah setia terhadap TUHAN dalam hal Peor, sehingga tulah turun ke antara umat TUHAN.
Kalau bangsa Israel berzinah dengan perempuan-perempuan Midian, itu karena nasihat atau anjuran Bileam kepada Balak raja Moab, yang akhirnya menyodorkan perempuan-perempuan cantik, lalu orang-orang Israel berzinah dengan perempuan-perempuan Midian. Akhirnya Israel berubah setia, dengan lain kata; dikuasai oleh ROH SERAMPANGAN. Dalam satu kesempatan mereka berkata “ya” kepada TUHAN, tetapi dalam kesempatan lain mereka berkata “tidak.” Dalam satu kesempatan mereka setia, tetapi dalam kesempatan lain berubah setia.
Jadi pengaruh dari pemimpin sidang jemaat sangat kuat di tengah ibadah dan pelayanan. Namun banyak orang Kristen tidak menyadari akan hal ini. Tetapi kita tetaplah berdoa, supaya ibadah dan pelayanan ini disertakan oleh berkat dan pemeliharaan dari TUHAN, sehingga baik hidup, maupun nikah dan rumah tangga kita, dipelihara dengan penyertaan berkat dari Sorga.
JALAN KELUAR:
Bilangan 31:17
(31:17) Maka sekarang bunuhlah semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh.
Segala keinginan-keinginan yang TIDAK SUCI harus DIMATIKAN.
Supaya hal ini terwujud maka kita semua harus mengarahkan pandangan kita kepada SALIB DI GOLGOTA.
Sampai pada akhirnya TUHAN berkata kepada 3 (tiga) murid, Yakobus, Petrus, dan Yohanes: “TINGGALLAH DI SINI”, artinya: tekun tiga macam ibadah pokok.
Dampak positif tekun tiga macam ibadah pokok:
Di situ Imam Besar Agung melayani, berdoa, dan memperdamaikan dosa kita, dan di situ pula Imam Besar Agung memimpin ibadah-ibadah, hidup rohani kita sampai kepada tingkat ibadah yang tertinggi itulah doa penyembahan.
Kalau kita sudah berada pada tingkat ibadah yang tertinggi, itulah doa penyembahan = berjaga-jaga.
Untuk apa kita berada pada puncak ibadah, doa penyembahan? Supaya kita berjaga-jaga untuk 2 (dua) hal:
1. Puncak pencobaan yaitu pada saat antikris menjadi raja pada 3,5 (tiga setengah) tahun yang kedua.
2. Karena kita tidak tahu kapan TUHAN datang kembali untuk kedua kali sebagai Raja dan Mempelai Pria Sorga,
Karena kedatangan TUHAN sama persis seperti pencuri di malam hari... 1 Tesalonika 5:3-4.
Sebaliknya, orang yang ibadahnya tidak memuncak sampai kepada doa penyembahan, akan ditimpa oleh sakit bersalin, berarti mereka tidak akan luput dari hukuman (tidak bebas dari hukuman).
Maka, keuntungan lain kalau kita sudah berada pada puncak ibadah; kepada kita tidak perlu dituliskan hari, minggu, tanggal, bulan, tahun, kapan TUHAN datang, kenapa? Karena kita sudah berada pada puncak ibadah itulah doa penyembahan, artinya kita sudah siap sedia (berjaga-jaga). Jadi, kapan saja TUHAN datang atau kapan saja antikris memerintah sebagai raja, kita ada di dalam keadaan berjaga-jaga.
Oleh sebab itu tekunlah dalam tiga macam ibadah pokok.
Ini merupakan pendahuluan dari kesesatan Bileam. Jangan kita menceburkan diri di dalam kesesatan Bileam. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment