IBADAH RAYA MINGGU, 01 FEBRUARI 2026
KITAB WAHYU
WAHYU 19:13
(SERI 1)
Subtema:
PENYEMBAHAN MELENYAPKAN KEMUSTAHILAN
Shalom. Selamat malam, salam
sejahtera bagi kita semua. Oleh karena kasih-Nya yang yang besar, kita
sekaliannya dihimpunkan di atas gunung Tuhan yang kudus, sehingga kita boleh
datang menghadap kepada Tuhan lewat Ibadah Raya Minggu disertai dengan
kesaksian Roh.
Saya juga tidak lupa menyapa
anak-anak Tuhan, umat ketebusan Tuhan yang turut bergabung lewat online, baik
di dalam negeri maupun di luar negeri, dimanapun saudara berada. Selanjutnya,
harapan kami dari tempat ini, kiranya damai sejahtera dari Sorga berkuasa di
hati kita, sehingga kita dapat menikmati Sabda Allah, menikmati segala
kemurahan dan pertolongannya yang disertai dengan berkat-berkat dari Sorga.
Selanjutnya, marilah kita sambut KITAB
WAHYU sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu. Kita
sudah diberkati oleh Tuhan dalam Wahyu 19:11-12. Dan sekarang kita sudah
berada pada Wahyu 19:13, jelas itu karena kemurahan Tuhan. Namun
tetaplah berdoa dalam Roh, mohon kemurahan Tuhan, supaya Firman yang dibukakan
itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Wahyu 19:13
(19:13) Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah
dan nama-Nya ialah: "Firman Allah."
Ayat ini mengatakan: Dan Ia memakai
jubah yang telah dicelup dalam darah.
Hal ini menunjukkan kepada kita
bahwa Ia adalah Imam Besar Agung.
Adapun tugas pokok dari Imam Besar
Agung adalah…
A.
Melayani, berdoa dan
memperdamaikan dosa manusia.
-
Kita butuh pelayanan
Imam Besar Agung supaya keadaan hidup, ibadah dan pelayanan, juga nikah dan
rumah tangga kita semua baik-baik saja dihadapan Tuhan. Setiap orang yang
menikmati pelayanan Imam Besar Agung, masing-masing saling merendahkan diri
satu dengan yang lain.
-
Kita butuh doa
syafaat dari Imam Besar Agung, untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang
terjadi di atas muka bumi ini. Dan kita sudah melihat dengan mata kepala
sendiri, keadaan dunia ini sudah tidak menentu, kacau balau, keadaan sudah
semakin sulit. Bahkan alam saja sudah tidak bersahabat lagi dengan kita. Maka,
untuk menghadapi pergumulan-pergumulan semacam ini, kita butuh doa Imam Besar
Agung. Sampai nanti kita tertolong saat menghadapi pencobaan yang memuncak pada
saat antikris menjadi raja, di situ kita butuh doa Imam Besar Agung. Jadi, kita
tidak boleh menganggap enteng ibadah dan pelayanan ini.
-
Tugas Imam Besar Agung
adalah untuk mengerjakan pekerjaan penebusan, berarti dosa
diampuni. Kemudian, mengerjakan pekerjaan pendamaian atas dosa
dunia, sehingga manusia dengan Allah berdamai -- kehidupan yang jauh menjadi
dekat dengan Allah. Jadi Imam Besar Agung adalah Pengantara antara Allah dengan
manusia.
Sebelum Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, hubungan
mereka begitu intim dengan Tuhan. Tetapi, ketika mereka melanggar Firman Tuhan,
mereka diusir dari taman Eden, bagaikan kita sekarang; dilempar ke dunia ini,
sehingga, hubungan kita dengan Tuhan begitu jauh. Tetapi, oleh karena Imam
Besar Agung mengerjakan pekerjaan pendamaian; memperdamaikan manusia dengan
Allah, menjadi Pengantara antara Allah dengan manusia, kita sekarang menjadi
dekat. Amin.
B.
Memimpin ibadah-ibadah
di bumi ini sampai kepada 2 (dua) klimaks, yaitu;
1.
Menjadi mempelai
Tuhan, itulah gereja Tuhan yang sempurna.
Inilah yang merupakan sasaran akhir dari perjalanan
rohani gereja Tuhan di atas muka bumi ini; masuk dalam perjamuan malam pesta
kawin Anak Domba.
2.
Hidup dalam doa
penyembahan, yang disebut juga puncak ibadah.
Yang pasti, sebagai Imam Besar, Ia memakai
jubah dan jubah itu telah dicelup dalam darah.
Adapun JUBAH IMAM BESAR, itu dibagi
menjadi 3 (tiga) bagian. Semua itu ditulis dengan lengkap dalam Keluaran
28:1-43 sebagaimana perikopnya “Mengenai pakaian Imam”. Antara lain…
1.
Baju efod (Keluaran
28:6-14)
2.
Gamis baju efod berwarna
biru (Keluaran 28:8)
3.
Kemeja beragi dari lenan
halus (Keluaran 28:39)
Marilah kita membahas jubah Imam
Besar ini, dimulai dari: BAJU EFOD.
Keluaran 28:6
(28:6) Baju efod itu harus dibuat mereka dari emas, kain
ungu tua dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus
yang dipintal benangnya: buatan seorang ahli.
Adapun baju efod dibuat dari:
1.
Emas
2.
Ungu tua (warna biru)
3.
Ungu muda (ungu)
4.
Kain kirmizi (warna
merah / darah)
5.
Lenan halus (warna
putih)
Sehingga, nampaklah empat warna
utama 🡪
salib Kristus (Emas bukanlah warna).
-
Putih ada di atas, berbicara soal kemuliaan.
-
Kemudian, Yesus turun ke
bumi, itulah warna merah.
-
Lalu di bumi Yesus
tampil sebagai Raja, itulah warna ungu.
-
Kemudian, Yesus juga
adalah hamba, itulah warna biru.
Dari
empat warna itu akhirnya, nampaklah salib Kristus, salib di Golgota.
Singkat kata, seorang imam /
hamba Tuhan / pelayan Tuhan, haruslah menyalibkan daging dengan segala hawa
nafsunya.
Kembali kita membaca…
Galatia 5:24
(5:24) Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan
daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.
Barangsiapa menjadi milik Kristus
Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.
Milik Kristus -> imam-imam /
hamba-hamba TUHAN (ayat referensi: Keluaran 19:4-6, 1 Petrus 2:9)
Selanjutnya…
Matius 16:21-22 --- Perikop: “Pemberitahuan
pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikuti Dia”
(16:21) Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada
murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak
penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh
dan dibangkitkan pada hari ketiga. (16:22) Tetapi Petrus menarik
Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah
menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
Pada akhir pelayanan Yesus Kristus
di atas muka bumi ini, Ia akan menanggung banyak penderitaan dari pihak
tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Ia mati di atas kayu salib,
tetapi bangkit pada hari yang ketiga.
Singkat kata, Yesus mengajarkan
salib yang disebut dengan didikan salib kepada murid-murid. Supaya kelak,
mereka menjadi hamba TUHAN yang kuat dan tangguh di tengah ibadah dan
pelayanannya. Akan tetapi Petrus menolak ajaran salib, dan berkata
kepada Yesus: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu
sekali-kali takkan menimpa Engkau."
Saudara, mengikut TUHAN tanpa salib
di tengah ibadah dan pelayanan adalah hal yang tidak mungkin (mustahil). Sebab tanpa
salib Kristus semuanya sia-sia.
-
Ibadah tanpa salib,
ibadah itu sia-sia.
-
Melayani di tengah
ibadah tanpa salib, pelayanan itu sia-sia.
-
Mengikut TUHAN tanpa
salib, pengikutan semacam ini sia-sia, tidak berarti.
Manusia menjadi suatu kehidupan yang
berharga, jelas karena salib Kristus. Ibadah tanpa salib tidak mungkin berkenan
kepada TUHAN.
Kita sudah melihat, jubah dari Imam
Besar Agung terdiri dari tiga hal, yang pertama; baju edod.
Jadi, pakaian-Nya itu sedang
memamerkan / menunjukkan / menampilkan keadaan sidang jemaat yang sedang
memikul salib. Itu sebabnya, pada Matius 16:24 Yesus berkata: Lalu
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku,
ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
-
Menyangkal dirinya berarti; menyangkali segala sesuatu yang ada di
dalam dirinya termasuk kelebihan-kelebihan apapun bentuknya.
-
Memikul salibnya.
Jadi kebenaran harus dipikul. Aniaya karena
Firman harus dipikul. Sengsara karena salib harus dipikul. Kalau kita diusik /
difitnah / didzolimi; tanggung dan pikul saja. Jangan kita bertengkar atau
membalas kejahatan dengan kejahatan.
-
Mengikut TUHAN berarti; jangan menyimpang ke kiri dan ke kanan
= bersikap sama seperi laki - laki (1 Korintus 16:13). Jangan sampai;
saat tidak enak, menyimpang ke kiri atau ke kanan, itu namanya hidup rohaninya
tidak seperti laki-laki. Seperti apapun beratnya pengikutan kita kepada TUHAN,
jangan menyimpang ke kiri dan ke kanan.
Kita memang harus mengikuti teladan yang
ditinggalkan oleh Yesus, itulah tapak-tapak / jejak kaki Yesus yang berdarah.
Meskipun harus berdarah-darah, tetaplah mengikut TUHAN, jangan menyimpang ke
kiri dan ke kanan, supaya jangan sesat di jalan. Sehingga nanti, dimana
TUHAN berada, di situ kita juga berada (Yohanes 12:26).
Jadi pendeknya, tanpa salib Yesus
semuanya menjadi sia-sia. Mari kita lihat “contohnya.”
Matius 7:15 --- Perikop: “Hal
Pengajaran yang sesat”
(7:15) "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang
datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka
adalah serigala yang buas.
Nabi-nabi palsu adalah serigala
berbulu domba.
Kita lihat kegiatan mereka sebagai
kepalsuan kepada TUHAN di tengah ibadah.
Matius 7:22-23
(7:22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku:
Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir
setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
(7:23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan
berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian
pembuat kejahatan!"
Di sini kita melihat, nabi-nabi
palsu dan guru-guru palsu melakukan 3 (tiga) hal dan semuanya itu mereka
lakukan “demi nama TUHAN.”
1.
Bernubuat, berati; menyampaikan Firman TUHAN bahkan
menyampaikan segala sesuatu yang akan terjadi ke depan.
2.
Mengusir setan demi nama
TUHAN, sehingga orang yang kerasukan setan dilepaskan.
Tetapi pada saat murid-murid kembali kepada
Yesus…
Lukas 10:19-20
(10:19) Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk
menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh,
sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. (10:20) Namun demikian janganlah
bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah
karena namamu ada terdaftar di sorga."
TUHAN berkata kepada murid-murid: bersukacitalah
karena namamu ada terdaftar di sorga. Salib di Golgota yang mendaftarkan
nama kita di Sorga, tidak ada yang lain, bukan karena seorang hamba TUHAN
dengan karunia yang ia miliki, teramat lebih dalam hal pengusiran setan. Hal
itu tidak membuat nama jemaat terdaftar di Sorga. Saudara jangan keliru
terhadap pengikutan kita kepada TUHAN. Itu sebabnya di atas tadi sudah saya
katakan; ibadah tanpa salib adalah sia-sia (percuma).
Dalam nats lain dikatakan; namamu tertulis
dalam kitab kehidupan Anak Domba yang telah disembelih (Wahyu
13:8). Jadi ada kata “penyembelihan”. Nama terdaftar di Sorga, ada
kaitannya dengan kehidupan Anak Domba yang telah disembelih -- Yesus
telah menderita sengsara dan mati di kayu salib.
Jadi, tidak mengapa kalau kita belajar
merendahkan diri. Tidak perlu harus membalas kejahatan dengan kejahatan. Yang
terpenting; nama kita tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba yang telah
disembelih, nama kita didaftarkan di dalam kerajaan Sorga.
Saya berharap sepenuhnya kepada TUHAN supaya
nama kita sekaliannya terdaftar di dalam kerajaan Sorga, nama kita tertulis
dalam kitab kehidupan Anak Domba. Jadi, bukan soal karunia pengusiran setan.
3.
Mengadakan banyak
mujizat.
Saudara, tidak dipungkiri, semua itu
kita perlukan. Meskipun semua itu kita perlukan, namun ternyata karunia-karunia
yang dimiliki oleh hamba TUHAN tidak sanggup untuk mendaftarkan nama kita di
dalam kerajaan Sorga.
Nabi-nabi palsu melakukan semuanya
itu demi nama Tuhan, bukan demi nama siapa-siapa. Mereka mengusir
setan demi nama TUHAN. Mengadakan mujizat juga demi nama TUHAN.
Kemudian, berkhotbah dimana-mana demi nama Yesus. Namun kenyataannya,
pada hari TUHAN / kedatangan TUHAN pada kali kedua, Ia berterus terang dan
berkata kepada mereka sebanyak 2 (dua) kali;
-
Aku tidak pernah
mengenal kamu!
Perkataan ini jelas menunjukkan bahwa guru-guru palsu / nabi - nabi palsu menolak salib di
Golgota. Kita dikenal dan nama terdaftar di Sorga, jelas semua itu karena
salib.
-
Enyalah dari pada ku,
kamu sekalian pembuat kejahatan.
Singkat kata, hamba TUHAN / pelayan
TUHAN sibuk hanya untuk mengadakan 3 (tiga) perkara tersebut, tetapi
mengabaikan didikan salib seperti Petrus, TUHAN akan berkata 2 (dua) hal
tersebut.
Menolak salib = pembuat kejahatan.
Kita bangga ketika ada mujizat, tetapi, kalau salib di tolak, hamba TUHAN ini
adalah pembuat kejahatan, terlebih gembala sidang. Kalau seorang penginjil
mengadakan penginjilan dimana-mana, lalu mengadakan pengusiran setan, itu
dunianya. Tetapi, kalau seorang gembala sidang selalu sibuk mengadakan mujizat
namun jemaat tidak dididik dengan salib = pembuat kejahatan.
Kalau dia adalah seorang gembala,
maka ia harus melayani sesuai dengan karunianya yaitu; menggembalakan kawanan
domba Allah; memberi makan dan minum kawanan domba Allah. Seperti
ketika Yesus datang ke dunia, pertama-tama ada di kandang domba. Lalu ketika
Yesus lahir, diletakkan dalam palungan -> Yesus adalah makanan dan
minuman bagi domba-domba. Jadi, daging Yesus benar-benar makanan dan darah
Yesus benar-benar minuman bagi kawanan domba.
Saudara, saya tidak mau kalau TUHAN pada akhirnya
berkata kepada saya; Enyalah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan.
Saat ini saya dan saudara ada di tengah suasana kerajaan Sorga secara rohani,
tetapi kalau pada akhirnya diusir dari dalam kerajaan Sorga, saya tidak mau.
Hanya karena mengabaikan salib di Golgota.
Matius 7:21
(7:21) Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku:
Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan
kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Bukan orang yang berseru kepada TUHAN atau telah melakukan 3 (tiga) hal di atas
akan layak masuk dalam kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak
Allah Bapa di Sorga.
Perlu utnuk diketahui, Yesus datang ke dunia ini
bukan karena kehendak-Nya. Tetapi Yesus datang ke dunia ini karena kehendak
Allah Bapa.
Matius 26:39
(26:39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa,
kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini
lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti
yang Engkau kehendaki."
Yesus turun ke dunia, menderita dan mati di atas
kayu salib, sesuai dengan kehendak Allah. Dan terhadap kehendak Allah Bapa, Ia
berkata; Ya Bapaku. Jadi, cawan Allah adalah kehendak Bapa.
Kalau oleh karena karunia-karunia yang dimiliki
oleh seorang hamba TUHAN, nama jemaat / umat TUHAN terdaftar di Sorga, saya
kira, TUHAN Yesus tidak perlu minum cawan Allah, tidak perlu menanggung
penderitaan yang tidak harus Ia tanggung di atas kayu salib. TUHAN Yesus cukup berkhotbah saja,
mengadakan banyak mujizat saja. Tetapi kenyataannya, sekalipun hamba TUHAN
telah melayani sesuai karunia-karunia yang ia terima dari TUHAN, itu tidak
cukup untuk membuat nama dari jemaat terdaftar di dalam kerjaaan Sorga.
Jadi, Yesus harus minum cawan Allah, menanggung
penderitaan yang tidak harus Ia tanggung. Isi cawan adalah anggur / darah yang
ditumpahkan dari atas kayu salib. Semua dosa yang diperbuat oleh manusia
diserap dalam dagingnya = minum cawan Allah. Dan terhadap kehendak Allah ini,
Yesus berkata; Ya Bapa, itulah doa penyahutan Imam Besar.
Dia harus menanggung penderitaan yang tidak
harus ditanggung. Yang seharusnya menderita adalah orang yang berbuat dosa.
Tetapi kenyataannya, dosa manusia telah diserap dalam diri-Nya, sehingga yang
menerima hukuman Allah adalah tubuh di dalam diri Yesus. Dan terhadap hal ini
Yesus berkata; Ya Bapa, inilah doa penyahutan.
Di atas tadi saya sudah sampaikan;
-
Ibadah tanpa salib,
ibadahnya sia-sia.
-
Pelayanan tanpa salib, pelayannya
sia-sia.
Dan kita sudah lihat contohnya dalam
Matius 7:15, 21-23.
Sekarang, kita kembali membaca…
Matius 16:23
(16:23) Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus:
"Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan
memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
Menolak didikan salib / ajaran salib
Kristus = tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang
dipikirkan manusia. Sementara dari semula saya sudah sampaikan; pikiran manusia
semuanya sia-sia.
Jadi, orang yang menolak salib di
tengah ibadah dan pelayanan = tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah,
melainkan apa yang dipikirkan manusia.
Akibat tidak memiliki pikiran Allah:
Di ayat ini TUHAN berkata kepada
Simon Petrus: Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku.
Jadi, akibatnya adalah menjadi batu
sandungan. Artinya; menghalang-halangi / merintangi umat TUHAN untuk masuk ke
dalam kerajaan Sorga. Kalau sibuk dengan karunia-karunia saja, tetapi didikan
salib diabaikan, berarti; dia itulah hamba TUHAN yang menjadi batu sandungan,
yang menghalang-halangi jemaat masuk Sorga.
Saudara, bukan untuk menyombongkan
diri, saya takut untuk menjadi batu sandungan, takut menjadi penghalang bagi
sidang jemaat masuk ke dalam kerajaan Sorga. Oleh sebab itu, sekiranya sidang
jemaat GPT “Betania” Serang & Cilegon dan anda yang mengikuti pemberitaan
Firman secara online mengerti rencana TUHAN, mau menerima didikan / pengajaran
salib yang senantiasa ditegakkan, saudara tidak perlu sakit hati. Sebaliknya,
bila mengerti rencana TUHAN, justru berbahagia dan ada ucapan syukur yang
setinggi-tingginya kepada TUHAN.
Kalau saudara datang kepada seorang
hamba TUHAN yang di tengah khotbahnya hanya menyampaikan satu ayat, lalu ditambah
dengan cerita-cerita isapan jempol, dongeng-dongeng nenek tua dan guyon-guyon,
lalu saudara tertawa terpingkal-pingkal, dan berkata: “saya bahagia di
gereja ini” -- itu adalah pikiran daging (pikiran manusia). Kalau
pikiran Allah ada di dalam kita, niscaya mata kita senantiasa mengarah kepada
didikan salib, telinga senantiasa disendengkan kepada didikan salib, itu yang
benar. Tetapi, pikiran manusia jauh dari salib Kristus, kalau bisa tidur terus
di rumah sambil main HP. Kalau bisa tidak usah kerja, makan, minum, tidur,
tetapi punya uang, itulah pikiran manusia. Jadi, pikiran manusia tidak sama
dengan pikiran Allah. Dan kalau manusia hanya mengadopsi pikiran seperti ini,
hidupnya hanya di bumi ini saja. Tetapi orang yang bijaksana, tidak pernah
menyia-nyiakan didikan salib, dia akan menyatu dengan pikiran Allah.
Sekali lagi saya tandaskan, kalau
hanya menyampaikan satu ayat, lalu berusaha memikat hati sidang jemaat dengan
guyon-guyon, cerita si kancil dan si kura-kura, Alkitab berkata; itu adalah
contoh hamba TUHAN batu sandungan -- menghalangi jemaat masuk Sorga.
Tetapi banyak gereja TUHAN / umat TUHAN / anak-anak TUHAN tidak mengerti soal
ini, sehingga ia berusaha mencari gereja yang bisa membuat tertawa
terpingkal-pingkal.
Saya akan buktikan kepada saudara,
kalau hamba TUHAN sibuk dengan karunia-karunia tetapi mengabaikan salib di
Golgota, maka dia adalah batu sandungan.
2 Petrus 2:1 --- Perikop: “Nabi-nabi
dan guru-guru yang palsu”
(2:1) Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah
umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka
akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka
akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan
demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.
Guru-guru palsu di hari-hari
terakhir ini menyangkal / menolak ajaran dan didikan salib.
2 Petrus 2:2
(2:2) Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai
hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat.
Jadi sudah jelas bahwa dua ayat ini
menunjukkan kepada kita bahwa guru-guru palsu menjadi batu sandungan,
menghalangi umat TUHAN masuk ke dalam kerajaan Sorga. Karena ulah mereka,
banyak orang / jemaat menghujat Jalan Kebenaran.
Yesus adalah jalan, kebenaran
dan hidup (Yohanes 14:6). Tetapi karena nabi-nabi palsu /
guru-guru palsu di hari-hari terakhir ini, banyak orang akan mengikuti cara
hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan
dihujat -- Pendeknya Guru-guru palsu menjadi sandungan.
Jadi, Matius 7:15, 21-23 = 2 Petrus 2:1-2.
Kemudian…
2 Petrus 2:3
(2:3) Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan
berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol
mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan
kebinasaan tidak akan tertunda.
Sebetulnya mereka bukan saja sudah
menjadi batu sandungan, tetapi mereka juga serakah. Kalau dia tidak
serakah, tidak mungkin menyampaikan satu ayat lalu ditambahkan dengan cerita si
kancil, si kura-kura, si buaya dan si ular dan seterusnya.
Padahal, di atas tadi kita sudah
melihat, pakaian imam-imam terdiri dari 3 (tiga) hal dan yang pertama; baju
efod. Baju efod menggambarkan / memamerkan sidang jemaat yang juga harus
memikul salib. Tetapi nabi-nabi palsu / guru-guru palsu takut kehilangan
jemaat, kehilangan nama besar, dia takut kehilangan sebuah ketenaran
(popularitas) dan takut tidak punya uang.
Kita sekaliannya, baik jemaat GPT
“Betania” Serang & Cilegon, ataupun anda yang mengikuti secara online
dimanapun berada, perhatikanlah kebenaran Firman Allah malam ini. Meskipun
sakit bagi daging, tetapi itu jauh lebih baik dari pada menderita
selama-lamanya di dalam api neraka. Lebih baik sekarang kita sangkal diri,
pikul salib dan ikut TUHAN, dari pada selamanya menderita di dalam
api neraka. Untuk apa kebahagiaan sesaat, tetapi selamanya di dalam api neraka?
Kalau saya lebih baik sangkal diri, pikul salib dan ikut TUHAN,
menderita sesaat lamanya di bumi, tetapi selamanya bahagia di dalam kerajaan
Sorga. Dari pada sesaat bahagia, malas sangkal diri, pikul salib dan ikut
TUHAN, jauh dari ketekunan tiga macam ibadah pokok, tetapi pada akhirnya,
menderita untuk selamanya di api neraka.
Kiranya akal kita menyatu dengan
hikmat, pengertian yang datang dari Sorga, supaya kita semua menjadi satu
kehidupan yang arif dan bijaksana di dalam mengambil tindakan dan keputusan di
hadapan TUHAN.
Di atas tadi kita sudah melihat
dalam Matius 16:21, Yesus mengajarkan salib kepada murid-murid.
Dan di situ Yesus berkata; Aku harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak
penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat orang Yahudi.
Dia menderita sengsara, disalibkan, mati tetapi bangkit pada hari ketiga. Hal
itu diceritakan / di ajarkan kepada murid-murid = TUHAN Yesus sebagai
Imam Besar sedang memamerkan baju efod; bahwa jemaat juga harus mengalami
sengsara salib.
Jadi sebetulnya, pengalaman kematian
atau sengsara itu hanya tiga hari, tidak lama. Yang bikin lama dan susah adalah
ulah dari manusia itu sendiri yang senantiasa memikirkan pikiran daging bukan
pikiran Allah. Karena sesungguhnya, cepat mati berarti cepat bangkit, itu yang
benar.
Saudara, Petrus benar-benar
digembleng / dididik habis oleh salib, karena dia adalah manusia dengan pikiran
manusia, tidak memiliki pikiran Allah. Tetapi selama 3½ tahun ia masuk dalam
sebuah proses untuk sampai kepada pemurnian. Sehingga, ketika lidah-lidah api
turun, diapun layak dan pantas menerima jabatan rasul. Setelah melewati proses
yang sangat panjang dalam memurnikan kerohaniannya, barulah dia layak
memberitakan salib, karena awalnya ia menolak salib dalam Matius 16:21-22
tadi. Setelah melewati proses yang sangat panjang, proses pemurnian di dalam
api, akhirnya ia menerima lidah-lidah api di loteng Yerusalem. Dan dari situlah
TUHAN memakai Petrus dengan luar biasa, TUHAN perlengkapi dengan lidah-lidah
yang diurapi oleh Roh Kudus. Di situ juga ia berbicara sesuai dengan lidah api
itu, dia berani menyampaikan soal Pengajaran salib. Ajaran itu ada dalam Kisah
Para Rasul pasal 4-5.
Waktu di pengadilan, orang-orang
berkata kepada Petrus bahwa ia adalah orang yang tidak berpendidikan, kenapa ia
bisa menyampaikan Pengajaran salib (Kisah Para Rasul 4:13). Orang-orang
bingung, kuasa dari mana sehingga ia dapat menyampaikan ajaran salib. Dan hal
itupun ditulis lagi sesuai dengan pengalamannya di dalam 1 Petrus 2:6-7.
1 Petrus 2:6-7
(2:6) Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya,
Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang
mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." (2:7)
Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak
percaya: "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan,
telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu
sandungan."
Di sini Petrus dapat menjelaskan,
ahli-ahli bangunan tidak menghargai korban Kristus. Mereka mencoba untuk
membangun rumah, merangka bangunan, tetapi tanpa dasar bangunan itulah batu
penjuru yang mahal, itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal (mustahil). Hal
pertama yang dipikirkan oleh ahli bangunan adalah landasan / pondasi / dasar.
Tetapi lihatlah, ahli-ahli bangunan,
itulah imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, mereka adalah orang-orang yang
sontoloyo, mengaku sebagai ahli bangunan, tetapi tidak memikirkan apa yang
dipikirkan Allah. Padahal, mengkonsep sebuah bangunan, di mulai dari kerangka,
harus dimulai dengan pikiran Allah, namun kenyataannya mereka membuang batu
itu, mereka menyalibkan Yesus Kristus.
Itulah yang diceritakan Yesus kepada
murid-murid di dalam Matius 16:21-23. Tetapi saat salib diajarkan,
Petrus masih dalam pemikiran manusiawi. Akhirnya TUHAN berkata, kalau kamu
memiliki pikiran manusia bukan pikiran Allah, menjadi batu sandungan,
menghalang-halangi sidang jemaat masuk Sorga. Tetapi, dengan proses yang sangat
panjang dan didikan terakhir yang ia terima adalah lewat tegoran suara ayam
berkokok (setelah Petrus tiga kali menyangkal Yesus). Di situlah ia menangis
dan ia dapat menceritakan semua ini dalam ayat ini.
Mestinya, baju efod dikenakan oleh
seorang imam / pelayan TUHAN, seperti Yesus menggunakan baju efod; memamerkan
sidang jemaat yang turut memikul salib. Tetapi lihatlah, Petrus akhirnya juga
dapat menceritakan semua itu dengan baik melewati proses yang panjang. Jadi, khotbah
yang baik adalah pengalaman hidup, bukan teori kata profesor-profesor,
bukan juga dengan teologi-teologi ini dan itu. Tetapi Petrus berkhotbah dalam
bentuk tulisan dan lisan menurut pengalamannya.
1 Petrus 2:8
(2:8) Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak
taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.
Jadi saudara, sekali lagi saya
sampaikan, tukang-tukang bangunan itulah tua-tua, imam-imam kepala dan
ahli-ahli Taurat orang Yahudi tersandung terhadap salib Kristus, karena
mereka tidak taat kepada Firman Allah (didiksan salib). Kita mau belajar
menjadi suatu kehidupan yang taat, setia dan dengar-dengaran kepada Firman
Allah.
1 Petrus 2:9
(2:9) Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani,
bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan
perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari
kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
Di sini dikatakan; “Kamulah
bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus.”
Perlu untuk diketahui, bangsa Israel
adalah bangsa yang dipilih TUHAN dari antara bangsa-bangsa di bumi. Tetapi dari
antara bangsa Israel, TUHAN memilih Lewi. Kemudian, dari antara suku Lewi,
TUHAN memilih Kehat. Dari antara Kehat TUHAN memilih Harun. Begitu Hebatnya
TUHAN mengadakan penyaringan itu, tidak asal-asalan.
Untuk apa dipilih? Untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari
Dia.
Singkat kata, karya Allah terbesar
bukan karunia-karunia seperti 3 (tiga) karunia dalam Matius 7:22-23 tadi.
Karya Allah terbesar adalah salib di Golgota. Itu perbuatan yang besar
dari Allah.
Inilah yang harus diberitakan oleh
seorang imam / pelayan TUHAN, itulah hanba-hamba TUHAN. Bagaikan Yesus Imam
Besar Agung menurut peraturan Melkisedek sedang mengenakan baju efod;
menampilkan salib pada sidang jemaat.
Jadi saudara, perbuatan besar /
karya Allah terbesar itulah salib Kristus, bukan karunia-karunia yang dimiliki
oleh seorang hamba TUHAN, antara lain; bernubuat, mengusir setan dan
mengadakan banyak perbuatan-perbuatan ajaib.
Roma 1:19
(1:19) Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata
bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.
Kalau kita mendengarkan Firman Allah
dan hidup di dalamnya, itu akan nampak dari sikap dan perbuatan kita. Nampak
dari pikiran kita.
Roma 1:20
(1:20) Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya
yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari
karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.
Kita memang tidak melihat dengan
kasat mata bagaimana kekuatan Allah yang dahsyat itu, bagaimana keilahian
Allah itu sendiri yang penuh dengan kemuliaan. Tetapi semua itu akan
nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan itulah salib
Golgota, sehingga mereka tidak dapat berdalih lagi.
Jadi, salib di Golgota dapat
mengoreksi kedalaman isi hati manusia, termasuk mengoreksi hati dan pikiran
dari guru-guru palsu tadi. Memang saat ini kita tidak bisa melihat kekuatan
Allah yang begitu dahsyat dan kemuliaan Allah yang begitu hebat dan besar,
tetapi semua yang ada di dalam diri Allah akan nampak dari pikiran-Nya
itulah salib di Golgota.
Dari pikiran Allah ini kita tahu
bahwa Dia mulia, Dia dahsyat di tempat kudus-Nya. Kita tidak bisa melihat
keilahian-Nya, kemuliaanNya, kekuatan-Nya yang dahsyat hanya karena
karunia-karunia yang dimiliki oleh seorang hamba TUHAN yang bernubuat, mengusir
setan dan mengadakan banyak mujizat. Dan kita tidak dapat berdalih lagi dari
ini, seperti guru-guru palsu penuh dengan kepalsuan. Banyak umat TUHAN yang
suka berdalih ini dan itu, padahal dia tidak mau menyatu dengan pikiran Allah,
dikoreksi Firman Allah.
Apa yang tertulis di dalam Wahyu
19:13 bukan asal tulisan. Kalau rahasia Firman tidak dibukakan, maka Wahyu
19:13 adalah huruf yang mati. Tetapi siapa yang dapat membukakan rahasia
Firman kalau bukan TUHAN itu sendiri. Maka, di sinilah kita perlu menyadari
diri bahwa alangkah besarnya kasih TUHAN kepada jemaat GPT “Betania” ini, tidak
bisa lagi kita berdalih.
Roma 1:21
(1:21) Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak
memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran
mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.
Sekalipun kita sudah Kristen dari
sejak semula, tetapi kalau tidak memiliki pikiran Allah semua menjadi sia-sia,
sampai akhirnya hati menjadi gelap.
Roma 1:22
(1:22) Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi
mereka telah menjadi bodoh.
Lihat mereka yang menolak pikiran
Allah, menyampaikan Firman seperti orang yang pandai karena menggunakan bahasa
Gerika atau Yunani. Kemudian ditambah lagi dengan bahasa Ibrani dan bahasa
Inggris, bahasa Mandarin dan seterusnya. Nampaknya berhikmat, tetapi mereka
telah menjadi bodoh kalau mempertahankan pikiran manusia, tidak memiliki
pikiran Allah.
Roma 1:23-24
(1:23) Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana
dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung,
binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.
(1:24) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka
akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.
Akhirnya mereka jatuh dalam penyembahan
berhala. Di dalam penyembahan berhala terdapat persundalan, kenajisan atau
perzinahan. Mungkin tidak berzinah secara lahiriah, tetapi berzinah secara
rohani; tinggalkan jam ibadah, ketekunan tiga macam ibadah, meninggalkan
penggembalaan hanya demi keinginan daging, memuaskan hawa nafsu. Sudah jelas,
di dalam dirinya tidak ada pikiran TUHAN, yang ada di dalam dirinya pikiran
manusia. Lama-lama hatinya menjadi gelap dan itu bahaya. Hati gelap ini pada
akhirnya berada pada puncak gelap malam; dikuasai oleh antikris.
Jadi, tanpa salib pikiran manusia
menjadi bodoh, prakteknya; hidup dalam penyembahan berhala.
Bandingkan dengan pelayanan rasul
Paulus.
Galatia 5:24
(5:24) Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah
menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.
Barangsiapa menjadi milik Kristus
Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.
Itulah yang disampaikan rasul Paulus
kepada jemaat di Korintus. Apakah perbuatan / tindakannya sesuai dengan
khotbanya?
1 Korintus 2:16B
(2:16) Sebab: "Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan,
sehingga ia dapat menasihati Dia?" Tetapi kami memiliki pikiran
Kristus.
Singkat kata, rasul Paulus memiliki
pikiran Kristus, berarti; memikirkan nasib orang banyak, memikirkan keselamatan
umat TUHAN, dia tidak akan pernah menjadi batu sandungan, tidak menghalangi
umat TUHAN masuk Sorga.
Sebagai gambaran atau analoginya:
Dalam Keluaran 28 ada 2 (dua)
hal yang ditanggung oleh baju efod.
1.
Tutup bahu.
2.
Tutup dada atau tutup
data pernyataan
Tentang: TUTUP BAHU
Keluaran 28:6-7
(28:6) Baju efod itu harus dibuat mereka dari emas, kain ungu tua
dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya:
buatan seorang ahli. (28:7) Haruslah ada pada baju efod itu dua tutup
bahu yang disambung kepadanya, pada kedua ujungnyalah harus baju efod itu
disambung.
Haruslah ada pada baju efod dua
tutup bahu dan pada ujungnya baju efod disambung.
Keluaran 28:9-11
(28:9) Haruslah kauambil dua permata krisopras dan mengukirkan
nama para anak Israel pada permata itu, (28:10) enam dari
nama mereka itu pada permata yang pertama dan keenam nama lagi
pada permata yang kedua, menurut urutan kelahirannya. (28:11) Seperti buatan seorang pengasah permata, diukirkan seperti
meterai, demikianlah harus kauukirkan pada kedua permata itu nama para anak
Israel; dililit dengan ikat emas harus kaubuat permata itu.
Di sini kita melihat, haruslah
kauambil dua permata krisopras dan mengukirkan nama-nama 12 suku Israel
menurut ukuran kelahirannya. Jadi, satu batu permata terukir enam nama suku
Israel. Lalu keenam batu permata itu ditaruh pada tutup bahu.
Keluaran 28:12
(28:12) Kemudian haruslah kautaruh kedua permata itu pada kedua
tutup bahu baju efod sebagai permata peringatan untuk mengingat orang Israel;
maka ke hadapan TUHAN haruslah Harun membawa nama mereka di atas kedua tutup
bahunya menjadi tanda peringatan.
Kedua batu permata krisopras, dimana
keduabelas nama bangsa Israel terukir, ditaruh pada tutup bahu baju efod.
Pendeknya, di atas bahu Imam
besar ada nama suku-suku Israel yang merupakan suatu tanggung jawab dihadapan
TUHAN. Begitu juga dengan gembala sidang di hari-hari terakhir ini,
haruslah bertanggung jawab atas hidup rohani sidang jemaat dihadapan TUHAN
dengan senantiasa menaikkan doa penyahutannya kepada TUHAN.
Ini analogi pertama bahwasanya rasul
Paulus memiliki pikiran Allah.
Ibrani 13:17
(13:17) Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka,
sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus
bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya
dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa
keuntungan bagimu.
Seorang gembala sidang harus
bertanggung jawab terhadap sidang jemaat Allah yang dipercayakan TUHAN
kepadanya. Dan tanggung jawab itu tidak dikerjakan dengan sungut-sungut atau
ngomel-ngomel di hadapan TUHAN tetapi dengan penuh dedikasi dan loyalitas,
penuh dengan urapan / tahbisan. Inilah pikiran Allah yang dimiliki oleh rasul
Paulus, dimiliki oleh seorang hamba TUHAN yang memiliki baju efod.
Tentang: TAPAL DADA
Keluaran 28:15-16
(28:15) Haruslah engkau membuat tutup dada pernyataan
keputusan: buatan seorang ahli. Buatannya sama dengan baju efod, demikianlah
harus engkau membuatnya, yakni dari emas, kain ungu tua, kain ungu muda, kain
kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya haruslah engkau membuatnya. (28:16)
Haruslah itu empat persegi, lipat dua, sejengkal panjangnya dan sejengkal
lebarnya.
Di sini TUHAN perintahkan untuk
membuat tutup data pernyataan atau tapal dada. Bentuknya empat
persegi sebab panjang dan lebarnya sama, masing-masing; sejengkal panjangnya
dan sejengkal lebarnya, ditaruh di atas dada / hati imam besar.
Saudara, tutup dada atau tapal
dada berbicara soal Yerusalem baru itulah kota empat persegi (Wahyu
21:16). Jadi, dari sini kita sudah mendapat suatu pemahaman bahwasanya
seorang gembala sidang bukan hanya bertanggung jawab tetapi harus berjuang
untuk membawa sidang jemaat menjadi sidang mempelai TUHAN, itulah mempelai
perempuan yang sempurna. Sebagaimana pernyataan rasul Paulus kepada jemaat di
Korintus dalam 2 Korintus 11:2 --- Sebab aku cemburu kepada kamu
dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu
laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.
Selain bertanggungjawab terhadap hidup rohani jemaat, berjuang untuk
membawa sidang jemaat menjadi perawan suci kepada Mempelai Laki-Laki Sorga
Jemaat di korintus adalah bangsa
kafir, bukan orang Yahudi, tidak mengenal Allahnya bangsa Israel. Mereka hidup
dalam penyembahan berhala dan kenajisan percabulan. Berarti kesucian /
keperawanan itu sudah dirusak. Tetapi, serusak-rusaknya keperawanannya, bisa
diperbaiki oleh Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel. Hanya Pengajaran
Mempelai dalam terang Tabernakel yang bisa memperbaiki keperawanan gereja
TUHAN. Tidak ada ajaran yang bisa memperbaiki keperawanan. Kalau keperawanan
sudah dirusak, ya rusak, tetapi Pengajaran Mempelai bisa memperbaiki yang sudah
rusak sampai menjadi perawan suci (mempelai TUHAN).
Itulah
semestinya isi hati dari seorang gembala sidang, bukan khotbah-khotbah begitu
saja, lalu terima persembahan perpuluhan, persembahan khusus, persembahan ini
dan itu.
Inilah hati dari seorang imam besar
Agung dan ini juga hati dari seorang gembala sidang. Ini tanda bahwa gembala
sidang sudah memiliki pikiran Kristus.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI
PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman oleh;
Gembala sidang: Pdt. Daniel U.
Sitohang


No comments:
Post a Comment