IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 10 NOVEMBER 2022
KITAB MALEAKHI PASAL 1
(Seri: 14)
Subtema:
SUNYI
SENYAP
Pertama-tama
saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN yang sudah memungkinkan kita untuk
berada di tengah perhimpunan Ibadah Pendalaman Alkitab yang disertai dengan
perjamuan suci. Biarlah sejahtera bahagia di dalam kita duduk diam dan menikmati
Firman yang dibukakan sebentar.
Saya tidak lupa
menyapa sidang jemaat TUHAN yang ada di Bandung, di Malaysia, bahkan umat
ketebusan TUHAN yang senantiasa setia untuk digembalakan oleh GPT “BETANIA” Serang, Cilegon, Banten, Indonesia, lewat live streaming video internet Youtube,
Facebook, di mana pun anda berada.
Marilah kita
mohon kemurahan TUHAN, supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati
kita pribadi lepas pribadi.
Secepatnya kita
sambut STUDY MALEAKHI sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman
Alkitab yang disertai dengan perjamuan suci.
Kita masih
memperhatikan Maleakhi 1, dengan
perikop: “TUHAN mengasihi Israel”
Maleakhi 1:2-3
(1:2) "Aku mengasihi kamu," firman TUHAN.
Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi
kami?" "Bukankah Esau itu kakak Yakub?" demikianlah firman
TUHAN. "Namun Aku mengasihi Yakub, (1:3) tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat
pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang
gurun."
Sesungguhnya
TUHAN mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.
Yakub berganti
nama menjadi Israel.
Pernyataan TUHAN ini tentu mempunyai dasar yang sangat kuat, apabila kita meneliti kisah antara Esau dan Yakub.
Kejadian
25:24-26
(25:24) Setelah genap harinya untuk bersalin, memang anak
kembar yang di dalam kandungannya. (25:25) Keluarlah yang pertama, warnanya merah, seluruh
tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab itu ia dinamai Esau. (25:26) Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya
memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub. Ishak berumur enam
puluh tahun pada waktu mereka lahir.
Ribka melahirkan
anak kembar (dua anak laki-laki)
Anak yang pertama bernama ESAU.
Tanda lahirnya:
Warnanya merah, kemudian seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu.
Dari tanda
lahirnya ini, sudah sangat jelas; Esau adalah benar-benar anak sulung. Karena
tanda lahir itulah ia dinamai Esau.
Malam ini kita
datang kepada TUHAN, menghadap TUHAN lewat Ibadah Pendalaman Alkitab disertai
dengan perjamuan suci. Akan tetapi, kita datang menghadap TUHAN bukan hanya
semata-mata mempersembahkan tubuh jasmani (lahirnya) lewat kehadiran kita, namun
juga mempersembahkan hati kita, disebut juga manusia dalam atau batin kita kepada
TUHAN, supaya nama Esau tidak disematkan kepada kita masing-masing.
Anak yang kedua
diberi nama YAKUB.
Tanda lahirnya:
Seluruh tubuhnya klimis, dengan kata lain; lahir dengan tidak membawa apa-apa,
namun ia mempunyai kelebihan yaitu Yakub memegang tumit Esau.
Biarlah dua
tangan kita senantiasa memegang tumit Yesus supaya kita memperoleh kemenangan
demi kemenangan, sampai akhirnya kita memperoleh hak kesulungan itu dari TUHAN
dan kita berhak untuk mewarisi tanah air Kerajaan Sorga.
Dari tanda lahir
ini, itulah sebabnya ia dinamai Yakub. Itu berarti; namanya sesuai dengan
perbuatannya atau tabiatnya.
Kalau beribadah
hanya dalam bentuk lahiriah; tubuh jasmani dipersembahkan kepada TUHAN dalam
setiap pertemuan ibadah, tetapi manusia batin tidak dipersembahkan, itu adalah
ibadah Esau. Tetapi lihatlah Yakub; ia lahir dengan tidak ada apa-apa, tidak
membawa apa-apa, ia lahir dengan klimis, tetapi tangannya memegang tumit Esau.
Jangan kita
lepas tangan dalam setiap pertemuan ibadah kita kepada TUHAN, tetapi biarlah
kita gunakan dua tangan untuk melayani TUHAN.
Dalam satu hari
ada 12 (dua belas) jam, dalam satu hari satu malam ada 24 (dua puluh empat)
jam, lalu tangan ini gunakan untuk apa? Kalau kita berlaku dewasa dan
bijaksana, maka dua tangan harus memegang tumit Yesus supaya kita
berkemenangan. Jangan lepas tangan, jangan lepas tanggung jawab setiap kita ada
di tengah-tengah pertemuan ibadah kepada TUHAN.
Pengertian ini
harus diterima, jangan ditolak dan jangan panas hati, supaya kita dewasa. Hanya
orang yang dewasa, orang yang berhikmat yang memahami pengertian-pengertian
sorgawi.
Setiap kita
menghadap TUHAN dalam setiap pertemuan ibadah, biarlah kita gunakan dua tangan
untuk melayani TUHAN, melayani pekerjaan TUHAN, membawa korban dan
mempersembahkannya di atas mezbah.
Tangan
→ Perbuatan hidup atau tabiat hidup.
Sekilas
kita sudah melihat tanda lahir dari kedua anak Ribka, yakni Esau dan Yakub. Sekarang,
kita akan melihat SAAT KEDUANYA BERTAMBAH BESAR.
Kejadian
25:27-28
(25:27) Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau
menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di
padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka
tinggal di kemah. (25:28) Ishak
sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih
kepada Yakub.
Setelah bertambah
besar, pertama-tama kita akan melihat dari sisi ESAU.
ESAU menjadi
seorang yang pandai berburu daging. Itu berarti, hari-harinya dihabiskan hanya
dengan sibuk untuk berburu daging. Segala tabiat daging ditulis dengan komplit
dalam Galatia 5:19-21.
Kemudian, selain sibuk berburu daging, Esau adalah seorang yang suka tinggal di padang.
Padang → Dunia
dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya.
Menurut 1 Yohanes 2:16, Segala sesuatu yang ada
di dalam dunia ialah keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup; dan
ketiganya bukanlah berasal dari Bapa di sorga, melainkan berasal dari dunia.
Itu sebabnya
dalam 1 Yohanes 2:15, barangsiapa
mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya, maka kasih Allah Bapa tidak ada
di dalam orang itu.
Kasih adalah
yang terbesar, kasih itulah yang menyelamatkan, kasih itu tidak berkesudahan.
Jadi, kalau seseorang tidak memiliki kasih, maka pasti binasa. Itulah Esau yang
pada akhirnya binasa.
Sedangkan YAKUB adalah seorang yang tenang.
Kata
"tenang" bukan menunjuk bahwasanya Yakub sudah berada pada puncak
ibadah, yakni doa penyembahan sebagai wujud dari gunung Sion.
Suatu kali, dunia ini akan mengalami gempa bumi, yang sebetulnya sudah dapat kita rasakan sekarang ini. Segala sesuatu telah digoncang; pemerintahan digoncang, politik digoncang, ekonomi digoncang, sampai menggoncang nikah-nikah di dunia ini.
Akan tetapi,
mereka yang sudah berada pada puncak ibadah akan mengalami suatu ketenangan
yang sangat tinggi di tengah-tengah goncangan-goncangan yang terjadi atas dunia
ini. Kalau ibadah sudah memuncak sampai kepada doa penyembahan, maka kehidupan
semacam ini pasti tenang; tidak gusar, tidak gelisah, tidak takut masa depan, tidak
kuatir jika tidak mempunyai ini dan itu.
Dari pengertian
ini, kita sudah dapat mengukur kedudukannya kerohanian kita masing-masing.
Ayat referensi: Wahyu 8:1-5
-
Ayat 1 berbicara
tentang ketenangan, sebagai puncak ibadah.
-
Sedangkan
ayat 3-4, ibadah di bumi sudah
memuncak sampai kepada doa penyembahan.
-
Ayat 5, dunia
mengalami goncangan.
Ayat referensi
yang lain: Yesaya 30:15,
-
Dengan bertobat
dan tinggal diam kamu akan diselamatkan. Jadi, kita diselamatkan oleh darah
salib. Kalau dikaitkan dengan pola
Tabernakel, Bertobat → Mezbah Korban Bakaran.
-
Dalam tinggal
tenang dan percaya terletak kekuatanmu, itulah doa penyembahan.
Itu sebabnya di
atas tadi saya katakan: Kalau ibadah sudah memuncak sampai doa penyembahan, di
situ kita mengalami suatu ketenangan yang sangat tinggi. Di tengah-tengah
goncangan, kita tetap mengalami ketenangan yang tinggi; tidak takut, tidak
kuatir, sebab TUHAN yang memelihara hidup kita.
Selanjutnya,
pada puncak kesesakan, gereja yang sudah memuncak ibadahnya sampai doa
penyembahan berhak untuk menerima sayap burung nasar. Dan saat goncangan terjadi,
gereja TUHAN yang sempurna, gereja yang sudah menerima sayap burung nasar akan
diterbangkan ke padang belantara, padang gurun; diasingkan untuk dipelihara
selama kesesakan terjadi, tepatnya pada saat antikris menjadi raja selama 3.5 (tiga
setengah) tahun atas bumi ini.
Kemudian,
selain tenang, Yakub juga suka tinggal di kemah.
Kemah
→ Rumah TUHAN, itulah kehidupan manusia (saya dan saudara).
Kalau kita
mengacu pada 1 Korintus 3:16, 1 Korintus 6:19, Kemah atau rumah
TUHAN adalah tempat Roh Allah berdiam, tempat Roh Allah beraktivitas.
Dalam 1 Korintus 3:17, Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan
membinasakan dia. Jadi, perhatikanlah ibadah dan pelayanan setiap kali kita
menghadap TUHAN dalam rumah TUHAN, karena itu adalah kegiatan Roh. Jangan ada
yang merusak rumah TUHAN, jangan ada yang merusak kegiatan Roh, itulah ibadah
dan pelayanan, supaya ia jangan dirusakkan oleh TUHAN.
Orang yang tidak
menghargai ibadah dan pelayanan adalah orang yang sama dengan merusakkan kemah
TUHAN, membinasakan rumah TUHAN. Sama seperti antikris, binatang yang keluar
dari dalam laut;
-
bertanduk
sepuluh dan sepuluh mahkota di atas tanduk,
-
berkepala
tujuh, tetapi setiap kepala tertulis nama-nama hujat.
Apabila antikris
menjadi raja atas seantero dunia, antikris akan menghujat Bapa, menghujat
nama-Nya, Yesus Anak Allah, menghujat kemah kediaman-Nya, dan tidak akan
diampuni lagi.
-
Menghujat
Bapa; masih diampuni.
-
Menghujat
Anak; masih diampuni.
-
Tetapi
menghujat kemah kediaman Allah; tidak akan diampuni lagi.
Kalau kita sadar
bahwa kita adalah rumah TUHAN, maka lebih baik satu hari di dalam rumah TUHAN
dari pada beribu-ribu kali di tempat lain dalam pekerjaannya, dalam bisnisnya,
dalam kesibukannya, lalu menghasilkan uang dan kekayaan yang banyak, tetapi itu
yang menjadikan dia sebagai orang fasik, angkuh, tinggi hati, lupa kepada yang
memberi kesehatan, lupa kepada yang memberi panjang umur, lupa kepada yang
memberi berkat.
Tetapi selain
seorang yang tenang, Yakub suka tinggal di kemah; ia tidak membinasakan kemah
kediaman Allah, dia tidak merusak kegiatan Roh, karena dia sadar bahwa dia
adalah rumah TUHAN, tempat Roh Allah berkarya, beraktivitas dalam setiap
pertemuan-pertemuan ibadah setiap kali datang menghadap TUHAN.
Jangan binasakan
Bait Allah supaya engkau jangan binasa kelak. Biar engkau banyak uang, tetapi
bila engkau tidak menghargai ibadah, maka engkau binasa.
Janganlah kita
peka terhadap yang negatif, tetapi setiap kali didikan salib, nasihat Firman
kita terima dalam setiap pertemuan ibadah, kita harus berlaku dewasa dan
bijaksana, supaya oleh Firman yang dibukakan itu, kita didewasakan. Jangan kita
bersungut-sungut setiap kali kita diproteksi, disucikan oleh Firman, sebab
tujuan kita ada dalam kegiatan Roh adalah supaya rumah TUHAN jangan
dibinasakan.
Bukankah
sekarang TUHAN ada di dalam rumah Bapa di sorga? Dia sedang bekerja sampai
hari ini; Dia tidak tertidur; Dia tidak terlelap, Dia sedang membangun rumah sebanyak
jiwa yang diselamatkan. Maka, kita pun tidak boleh berhenti, tidak jauh dari
setiap pertemuan-pertemuan ibadah, sebab Penjaga kita tidak terlelap, Penjaga
kita tidak tertidur; Ia ada di rumah Bapa di sorga sedang membangun rumah,
mempersiapkan rumah kemah kediaman yang kekal untuk selama-lamanya. Oleh sebab
itu, siapa yang merusak rumah TUHAN, membinasakan rumah TUHAN, ia sendiri akan
dibinasakan.
Itulah tabiat
dari pada Yakub; selain tenang, ia suka tinggal di kemah. Perhatikanlah hal
ini. Jangan risau, jangan takut karena pengertian, pikiran, perasaan manusia daging.
Ingat: Waktu tahun-tahun
lalu engkau cemas, kuatir dan takut karena tidak ada sesuatu engkau miliki
dalam rumahmu. Tetapi lihatlah; sampai saat ini, kita semua diberi umur
panjang, diberi kesehatan, diberi kesempatan untuk datang menghadap TUHAN dalam
setiap pertemuan ibadah; tidak kekurangan apa-apa. Eben-Haezer, "Sampai di sini TUHAN menolong kita."
Apakah rasa
takutmu, kuatirmu di masa lalu membuat engkau jatuh dan tergeletak? Tidak.
TUHAN terus topang walaupun ditandai dengan ketakutan, kecemasan, dan penuh kekuatiran,
tetapi sampai hari ini TUHAN tolong.
Kalau kita
menyadari hal itu, mengerti hal itu, dan kita jadikan hal itu sebagai
pelajaran, maka tentu kita tidak akan lagi kuatir mulai sekarang, hari ini dan
sampai selama-lamanya. Oleh sebab itu, tinggallah di dalam rumah TUHAN.
Masakan engkau
takut kepada atasanmu, tetapi tidak takut kepada Atasan segala atasan? Padahal
segala sesuatu yang engkau miliki itu datangnya dari Raja di atas segala raja. Kecemasan,
ketakutan dan kekuatiranmu tidak dalam menolongmu.
Maka, kita harus
selalu berkata: Eben-Haezer, "Sampai
di sini TUHAN menolong kita." Setiap kali kita mendapatkan
pertolongan, biarlah kita katakan: Sampai
hari ini TUHAN tolong saya. Bila besok kita mendapatkan pertolongan, kita
kembali berujar: Eben-Haezer,
"Sampai di sini TUHAN tolong saya."
Tinggallah
di dalam rumah TUHAN, belajarlah dari pengalaman di waktu-waktu yang lalu. Jangan
rusakkan rumah TUHAN, supaya engkau jangan dibinasakan.
Dalam
Maleakhi 1:2-3, TUHAN berkata: Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.
TUHAN mempunyai dasar yang kuat mengatakan hal itu, dan kita sudah melihat hal
itu dari sisi tanda lahir Esau dan Yakub maupun dari sisi pada saat mereka
sudah bertambah besar.
Sekarang
kita akan melihat: DAMPAK NEGATIF DIBENCI OLEH TUHAN.
Maleakhi 1:3
(1:3) tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya
menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun."
TUHAN membuat
pegunungan Esau menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya TUHAN jadikan padang
gurun.
Tentang Yang
Pertama: PEGUNUNGAN ESAU MENJADI SUNYI
SEPI.
Sunyi sepi,
berarti; tidak ada sukacita, tidak ada keramaian, tidak ada hirup pikuk; semua
hening.
Terkait
dengan “sunyi sepi”, kita akan membaca Yehezkiel
35, dengan perikop: “Murka TUHAN atas
pegunungan Seir”
Yehezkiel 35:4-5
(35:4) Aku akan menjadikan kota-kotamu reruntuhan
dan engkau menjadi sunyi sepi, dan engkau akan mengetahui bahwa Akulah
TUHAN. (35:5) Oleh karena dalam
hatimu terpendam rasa permusuhan yang turun-temurun dan engkau membiarkan
orang Israel menjadi makanan pedang pada hari sial mereka, waktu
saatnya tiba untuk penghakiman terakhir,
Kota-kota Edom
menjadi reruntuhan, berarti; pegunungan Edom menjadi sunyi sepi.
Penyebabnya:
-
Dalam
hati Edom, terpendam rasa permusuhan turun temurun terhadap Yakub (Kejadian 27:35-37).
-
Membiarkan
Israel menjadi makanan pedang pada hari sial mereka.
Pendeknya: Edom memiliki tabiat:
-
Pendendam
= Tanpa pengampunan = Hidup tanpa kasih; terus menerus bermusuhan dengan
saudara kandung.
-
Tidak
mau memperhatikan Yakub, bahkan rela menjadikan Yakub makanan pedang pada waktu
sialnya = Tidak peduli dengan pekerjaan TUHAN = Egois = Kepentingan diri
sendiri. Mau diberkati TUHAN, diberi umur panjang dan kesehatan, diberi kemampuan
untuk bekerja dan mengerjakan kesibukannya, tetapi tidak mau membalas kasih
TUHAN, itulah Esau yang egois. Sekalipun orang lain sudah susah payah bekerja
memikul salib dalam pekerjaan TUHAN, namun ia tidak peduli; itu Esau, di mana yang
terpenting bagi dirinya adalah terberkati.
Hati-hati dengan
tabiat Esau ini, sebab inilah yang menyebabkan pegunungan Esau menjadi sunyi
sepi.
Lihatlah: Orang
yang hidup tanpa kasih, tidak peduli dengan orang lain, orang yang egois, tidak
peduli dengan kesusahan orang lain, pasti kehidupannya sunyi sepi; ibadah
pelayanannya tidak ada keramaian, hidupnya sunyi sepi saja. Itulah Esau, itulah
pegunungan Seir yang juga merupakan pegunungan Edom yang menjadi sunyi sepi.
Pertahankan hati
nurani yang baik. Jangan engkau abaikan itu. Jangan seperti Esau dengan
tabiatnya, sebab itulah yang menjadikan seseorang sunyi sepi.
Ayo, kita harus
saling melengkapi. Kalau yang satu kekurangan, maka yang lain harus saling memperhatikan.
Jangan tutup mata di saat orang lain dalam keadaan susah. Inilah yang membuat
pegunungan Edom, pegunungan Seir menjadi sunyi sepi, tidak ada keramaian.
Amos 1:11
(1:11) Beginilah firman TUHAN: "Karena tiga perbuatan
jahat Edom, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh
karena ia mengejar saudaranya dengan pedang dan mengekang belas
kasihannya, memendamkan amarahnya untuk selamanya dan menyimpan
gemasnya untuk seterusnya,
Kehidupan Esau
...
1.
Ia
mengejar saudaranya (Yakub) dengan pedang.
2.
Mengekang
(menahan) belas kasihan = Tidak peduli.
3.
Memendamkan
amarahnya untuk selamanya.
4.
Menyimpan
gemasnya untuk seterusnya.
Kehidupan
semacam ini pasti sunyi sepi, hidupnya pasti sunyi sepi. Ibadahnya tidak ramai,
tidak semarak.
Kalau pun dia
datang beribadah melayani TUHAN pasti terpaksa = Sunyi sepi. Kalau pun dia datang
beribadah melayani TUHAN, pasti bersungut-sungut = Sunyi sepi.
-
Datang
beribadah, tetapi terpaksa = Sunyi sepi.
-
Nampaknya
melayani TUHAN, tetapi terpaksa, bersungut-sungut, amarah dipendam = Sunyi
sepi.
Sunyi
sepi, berarti; tidak ada kegiatan keramaian di situ, tidak ada sukacita Roh Kudus
di situ, itulah Esau.
Jadi,
kalau TUHAN berkata: “Aku mengasihi Yakub,
tetapi membenci Esau”, alasan ini mendasar sekali.
Amos 1:12
(1:12) Aku akan melepas api ke dalam Téman,
sehingga puri Bozra dimakan habis."
TUHAN melepas
api ke dalam Téman, anak Esau.
-
Beribadah
tetapi terpaksa, ada api asing di situ.
-
Beribadah
tetapi bersungut-sungut, ada api asing di situ.
-
Beribadah
dan melayani TUHAN, tetapi penuh dengan emosional dan amarah yang terpendam di
dalam hati, ada api asing di situ.
Tetapi itu
terjadi atas seizin TUHAN. TUHAN tahu segala sesuatu yang terjadi, walaupun
Edom menyembunyikannya.
Kalau dia mau
bertobat, TUHAN akan ampuni. Tetapi jika tidak mau bertobat karena “api asing”
itu tetap dipertahankan, maka akan sampai kepada puncaknya, yaitu api neraka menghabiskannya.
Yoel 3:19
(3:19) Mesir akan menjadi sunyi sepi, dan Edom akan
menjadi padang gurun tandus, oleh sebab kekerasan terhadap keturunan
Yehuda, oleh karena mereka telah menumpahkan darah orang yang tak bersalah di
tanahnya.
Betapa Edom ini
menjadi sunyi sepi, karena dia menaruh rasa dendam, egois dan tidak ada kasih.
Yehezkiel 35:7-9
(35:7) Aku akan menjadikan pegunungan Seir musnah dan
sunyi sepi dan melenyapkan dari padanya orang-orang yang lalu-lalang. (35:8) Aku akan memenuhi juga
pegunungannya dengan orang-orang yang mati terbunuh. Di bukit-bukitmu, di
lembah-lembahmu dan alur-alur sungaimu akan berebahan orang-orang yang mati
terbunuh oleh pedang. (35:9) Aku
akan menjadikan engkau sunyi sepi untuk selama-lamanya dan
kota-kotamu tidak akan didiami lagi. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah
TUHAN.
Seir adalah
pegunungan Edom; pada akhirnya, pegunungan Edom menjadi sunyi sepi, dengan lain
kata; kota-kotanya tidak berpenghuni, tidak berpenduduk, tidak ada orang yang
berlalu-lalang, tidak ada kegiatan-kegiatan lagi.
Yehezkiel 35:10
(35:10) Oleh sebab engkau mengatakan: Kedua bangsa
itu dan kedua negeri itu akan menjadi milikku dan kita akan memilikinya
-- sebetulnya TUHAN ada di situ --
Edom ingin
berkuasa memiliki Israel dan Yehuda, padahal TUHAN ada di situ.
Setelah Rehabeam,
anak Salomo, menjadi raja, duduk di atas takhta, Israel terbagi (terpecah
belah) menjadi dua kerajaan.
-
Sebelas
suku menjadi kerajaan Israel.
-
Satu
suku, itulah kerajaan Yehuda.
Edom ingin
memiliki kedua negeri ini, Edom ingin menguasai kedua bangsa ini, padahal TUHAN
ada di situ.
Itulah Edom,
itulah manusia daging yang suka tinggal di padang; ingin berkuasa atas kehendak
TUHAN, ingin berkuasa atas daerah teritorialnya TUHAN Yesus.
Jangan kita datang beribadah dengan caranya Edom; sibuk dengan urusan daging dan kesukaannya tinggal di padang. Tabiat semacam ini ingin menguasai dua negeri (Israel dan Yehuda), padahal TUHAN ada di situ.
Maka, kalau kita
datang beribadah, biarlah kita datang menghadap TUHAN dengan hati yang tulus, dengan
hati yang murni. Jangan pengaruhi orang lain, sebab TUHAN ada di situ.
Israel dan
Yehuda adalah milik kepunyaan TUHAN, di mana TUHAN ada di dalam diri orang itu.
Jangan coba-coba pengaruhi dengan tabiat dagingmu dengan berbagai macam cara. Tetapi
itu adalah kenyataan yang diperbuat oleh Edom (Esau), padahal TUHAN ada di
situ.
Kita
bisa mengelabui orang dengan perkataan yang manis di saat seseorang sedang
mengalami hari sial bagi daging, tetapi TUHAN tidak bisa ditipu.
Sial
bagi daging adalah pada saat dimakan pedang, dikoreksi oleh Firman Allah. Jadi,
ketika seseorang sedang dimakan pedang (Firman Allah), sedang dikoreksi oleh
Firman Allah, itu adalah hari sial bagi daging.
Jika
seseorang mengalami sial bagi daging, lalu kita manfaatkan dengan pandainya
kita berbicara kepada orang itu dengan perkataan manis-manis, tetapi kita pengaruhi
dengan tabiat daging, hati-hati; engkau berurusan dengan TUHAN, karena TUHAN
ada di situ.
Lihatlah Edom:
Pada hari sial Yakub karena dimakan pedang, justru dibiarkan; padahal, TUHAN
ada di situ.
Jangan engkau
permainkan TUHAN, sebelum engkau dihancurkan oleh TUHAN. Sekarang, kita harus
hati-hati dalam bertindak. Kalau engkau tahu yang baik, pertahankan hati nurani;
itu adalah alarm terakhir. Kalau alarm itu rusak, maka akan kebablasan bagaikan
rem blong yang tabrak sana, tabrak sini, hantam sana, hantam sini, padahal TUHAN
ada di situ; itu adalah tabiat Edom, tetapi kita tidak seperti itu.
Jadi, TUHANlah
yang memiliki Israel dan TUHANlah yang mempertahankan Yehuda.
TUHAN memilih
Israel. Siapa yang kuat, itulah yang menjadi raja atas Israel, tetapi TUHAN
tidak pernah menyesal atas pilihanNya terhadap Israel.
Sementara Yehuda
dipertahankan oleh TUHAN; itu sebabnya, yang menjadi raja atas Yehuda adalah dari
garis keturunan Daud, sampai lahirnya Tunas Daud.
Jadi, TUHAN ada
di situ; oleh sebab itu, jangan pengaruhi orang lain dengan tabiat daging
(tabiat Edom).
Yehezkiel
35:11-12
(35:11) oleh sebab itu, demi Aku yang hidup, demikianlah
firman Tuhan ALLAH, Aku akan memperlakukan engkau seperti engkau memperlakukan
mereka dalam murkamu dan cemburumu, yang timbul dari kebencianmu terhadap
mereka; dan Aku akan menyatakan diri kepadamu pada saat Aku menghakimi
engkau. (35:12) Dan engkau akan mengetahui
bahwa Aku, TUHAN, mendengar segala penistaanmu yang kauucapkan melawan
gunung-gunung Israel yang demikian: Gunung-gunung itu sudah menjadi sunyi sepi
dan diserahkan kepada kita menjadi makanan kita.
Karena pengaruh atau
tabiat dari pada Edom, maka gunung-gunung Israel menjadi sunyi sepi, tetapi
TUHAN tetap ada di Israel, TUHAN tetap ada di Yehuda.
Walaupun saat ini kita seperti sunyi sepi tidak ada apa-apa, tetapi sekali waktu TUHAN akan menyatakan diri-Nya sebagai Hakim yang adil, tepatnya pada saat hari TUHAN, pada saat kedatangan-Nya kembali untuk yang kedua kali. TUHAN kita itu adil; TUHAN itu melihat.
Ini adalah suatu
pelajaran yang baik dan bagus, jangan diabaikan begitu saja:
-
Jangan
kita berlaku seperti tabiat dari pada Esau yang sibuk berburu daging dan suka
tinggal di padang.
-
Berbanding
terbalik dengan Yakub; seorang yang tenang, tidak sibuk berburu daging, tetapi
sibuk dalam kegiatan rohani, sampai kepada puncaknya, yaitu doa penyembahan,
sehingga dia tetap tenang sekalipun ada goncangan. Kemudian, dia suka tinggal
di kemah rumah TUHAN; dia tidak membinasakan rumah TUHAN, dia menghargai ibadah
dan pelayanan, dia menghargai pekerjaan pelayanan TUHAN sebagai kegiatan Roh,
aktivitas dari Roh Allah, itulah rumah TUHAN.
Tetapi lihatlah,
sekalipun demikian, Edom yang sibuk berurusan dengan daging dan suka tinggal di
padang -- gambaran dari dunia -- ingin menguasai, ingin memiliki Israel dan
Yehuda dengan cara dia. Sebetulnya, jika TUHAN kehendaki, ini bisa berkembang
arahnya sampai kepada antikris.
Tetapi yang mau
saya sampaikan saat ini: Hargai ibadah, jangan engkau rusak seperti Edom yang
menginginkan Israel dan Yehuda = Ibadah dan pelayanan dirusak.
Kelak akan ada
hari penghakiman, perhatikanlah itu baik-baik. Jangan engkau merasa hidup terpelihara
dengan berkat yang ada, tetapi sifatnya sementara.
Lebih
rinci kita perhatikan dalam Obaja 1,
dengan perikop: “Nubuat tentang Edom”
Obaja 1:1,8
(1:1) Penglihatan Obaja. Beginilah firman Tuhan ALLAH
tentang Edom -- suatu kabar telah kami dengar dari TUHAN, seorang utusan telah
disuruh ke tengah bangsa-bangsa: "Bangunlah, marilah kita bangkit memeranginya!"
-- (1:8) Bukankah pada waktu itu,
demikianlah firman TUHAN, Aku akan melenyapkan orang-orang bijaksana
dari Edom, dan pengertian dari pegunungan Esau?
Pegunungan Esau
menjadi sunyi sepi, tidak ada lagi keramaian kota, tidak ada lagi pengunjung,
tidak ada lagi penduduk, tidak ada lagi orang yang lalu lalang.
Tetapi di sini
lebih rinci lagi kita melihat: Pegunungan Esau menjadi sunyi sepi, sebab TUHAN
melenyapkan orang-orang bijaksana dan pengertian di gunung Edom lenyap.
Orang-orang bijaksana, orang-orang yang mempunyai pengertian → Bintang-bintang di langit.
Kalau orang
bijaksana lenyap, maka sidang jemaat yang dilayani orang bijaksana; tidak punya
pengertian.
Obaja 1:9
(1:9) Juga para pahlawanmu, hai Téman, akan tertegun,
supaya semua orang di pegunungan Esau lenyap terbunuh.
Kemudian, para pahlawan tertegun.
Pahlawan =
Tentara perang → Imamat rajani.
Para pahlawan
tertegun, berarti imamat rajani melongo, tidak ada kegiatan. Kalau pahlawan
yang melayani TUHAN tertegun, berarti tidak ada aktivitas, diam saja tertegun =
Sunyi sepi.
Tetapi yang
pasti: Pegunungan Esau menjadi sunyi sepi, sebab TUHAN melenyapkan orang-orang
bijaksana dan pengertian di gunung Edom pun lenyap.
Kita
lihat ORANG BIJAKSANA di dalam kitab Daniel
12.
Daniel 12:3
(12:3) Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya
seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang
kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk
selama-lamanya.
Orang-orang
bijaksana sama seperti bintang-bintang di langit (cakrawala).
Tugas orang
bijaksana, orang yang berpengertian dari sorga, orang yang berhikmat berakal
budi adalah menuntun banyak orang kepada kebenaran.
Tetapi kalau orang bijaksana binasa, maka tidak ada orang yang menuntun kepada kebenaran, sehingga tentu hidup menjadi sunyi sepi; hari-hari dirundung malang, hari-hari kesusahan, hari-hari kecewa dan putus asa.
Tetapi kalau ada
orang yang bijaksana, dia menuntun banyak orang kepada kebenaran, memberi
sebuah pengertian, sehingga sekalipun dalam persoalan pergumulan, dalam
permasalahan, dalam pergumulan, maka kebenaran memberi jalan keluar, sehingga
masalah selesai, tidak dirundung malang, tidak putus asa, tidak kecewa, tidak
sunyi sepi.
Kembali saya
sampaikan dengan tandas: Kalau orang yang bijaksana, orang yang berpengertian
sudah binasa, maka pengertian pun lenyap. Kalau pengertian pun lenyap;
-
Orang
yang bermasalah, maka masalahnya tidak selesai = Sunyi sepi.
-
Orang
yang berperkara, maka perkaranya tidak selesai = Sunyi sepi.
-
Orang
yang sedang berpersoalan, maka persoalannya tidak selesai = Sunyi sepi.
Mengapa dalam setelah selesai pemberitaan Firman disampaikan,
maka saat itu juga secepatnya kita langsung tersungkur di kaki salib? Karena orang
bijaksana yang menyampaikan pengertian dari sorga memberi jalan keluar dari
setiap masalah, memberi jalan keluar dari setiap persoalan; di situ ada
kebahagiaan. Tanpa sadar, kita hanyut dan tenggelam dihisap oleh kasih TUHAN;
hati hancur, air mata tidak tertahankan lagi, sehingga yang dahulu sunyi sepi,
kini terhibur.
Camkanlah apa
yang sudah TUHAN nyatakan kepada kita malam ini: Orang bijaksana itu seperti
bintang-bintang yang bercahaya di cakrawala, yang menerangi kegelapan,
menerangi kebuntuan, menerangi segala kesulitan, sehingga kita terhibur, tidak
lagi berada dalam sunyi sepi.
Sekarang,
kita perhatikan Matius 2, dengan
perikop: “Orang-orang majus dari Timur”
Matius 2:1-2
(2:1) Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea
pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke
Yerusalem (2:2) dan
bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan
itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah
Dia."
Bintang Timur
menuntun orang-orang majus sampai mereka tiba di Yerusalem (di Barat).
Saat ini kita
berada di kota Yerusalem, di kota Allah, lewat Ibadah Pendalaman Alkitab
disertai dengan perjamuan suci; kita menghadap TUHAN, lalu menyembah TUHAN.
Sebagaimana
pernyataan dari orang-orang majus kepada Yerusalem: Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami datang
untuk menyembah Dia. Jadi, sudah sangat jelas; puncak ibadah adalah doa
penyembahan.
Kita tidak perlu
ragu kalau hidup rohani kita dituntun sampai kepada puncaknya, itulah doa
penyembahan; itu sudah benar, karena orang majus dari Timur dituntun oleh
bintang yang bercahaya itu, mereka dituntun sampai tiba di Yerusalem. Lalu
setelah tiba di Yerusalem, mereka bertanya tentang raja yang dilahirkan itu. Mengapa? Karena tujuan mereka adalah
untuk menyembah.
Kalau orang bijaksana menuntun, maka dia akan menuntun sampai kepada puncak ibadah, itulah doa penyembahan.
Belum sempurna
rasanya seorang guru, seorang pemimpin rohani memimpin tanpa sampai kepada
puncak ibadah. Tetapi orang bijaksana akan lengkap kesempurnaan itu kalau dia
memimpin jiwa-jiwa sampai kepada puncak ibadah, doa penyembahan.
Di manakah Dia, raja
orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami datang untuk menyembah Dia. Itulah yang
ditanyakan oleh orang-orang majus kepada Yerusalem.
Yerusalem
itu, antara lain;
-
Raja
Herodes.
-
Imam-imam
kepala.
-
Tua-tua
dan ahli-ahli Taurat dari orang Yahudi.
Waktu
orang majus bertanya, maka terkejutlah Herodes beserta seluruh Yerusalem;
mereka tidak terima dengan kehadiran Yesus sebagai Raja.
Kita
kembali memperhatikan ayat 2 ini.
Matius 2:2
(2:2) dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja
orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di
Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."
Pertanyaannya: MENGAPA
KITA HARUS MENYEMBAH TUHAN?
Jawabnya: Karena
Dia adalah Raja orang Yahudi.
Kata "Raja" di sini menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah TUHAN dan Pemimpin yang bertanggung jawab, Pemimpin yang sejati yang mengasihi kita, berarti Dia bukanlah TUHAN yang egois, Dia adalah TUHAN yang peduli dengan kita, Dia tidak seperti Edom yang hanya peduli dengan dirinya sendiri.
Saya akan
tunjukkan bahwa Dia adalah Yesus Kristus TUHAN, Pemimpin yang bertanggung jawab
di dalam Matius 27, dengan perikop: “Yesus disalibkan”
Matius 27:37
(27:37) Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang
menyebut alasan mengapa Ia dihukum: "Inilah Yesus Raja orang Yahudi."
Yesus mati di
atas kayu salib, jelas karena Dia adalah Raja orang Yahudi. Jadi, Yesus mati
bukan mati konyol, bukan mati karena dosa, tetapi Yesus mati karena Dia adalah
Raja orang Yahudi
Pendeknya: Yesus
adalah TUHAN, Yesus adalah Pemimpin yang sejati, sebab Dia rela mati karena
dosa manusia; Dia peduli, Dia mengerti keadaan kita, Dia tahu seperti apa kita.
Dia
berkorban dan mati di atas kayu salib karena Dia adalah Raja; ini Pemimpin yang
bertanggung jawab, ini Pemimpin sejati, ini Pemimpin yang memahami, mengerti
dan tahu seperti apa kita, tahu kesusahan di hati.
Jadi,
bukan sekedar sebutan “Raja” begitu saja, tetapi lebih dari apa yang kita
pikirkan. Kata “Raja” menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah TUHAN, Dia Pemimpin
sejati.
Apa
bukti Pemimpin sejati? Dia mati karena dosa manusia, bukan karena kesalahannya.
Yesus bukan mati bodoh, Yesus tidak mati konyol, seperti pemahaman
saudara-saudara kita yang tidak mengenal Yesus.
Matius 27:38
(27:38) Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun,
seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.
Kalau Yesus
disalibkan bersama dengan kedua penjahat di sebelah kanan dan di sebelah kiri, itu
artinya; Yesus disamakan dengan dua penjahat = Ia rela menjadi hina, supaya
kita yang hina ini menjadi kaya; kaya dalam kebajikan, kaya dalam kelimpahan
kasih karunia, kaya dalam rahmat TUHAN.
Biarlah kita senantiasa sangkal diri, pikul salib, ikut TUHAN setiap hari, supaya manusia debu, kehidupan yang hina karena dosa menjadi mulia karena Yesus mau dihinakan, supaya kita menjadi kaya oleh karena kekayaan kasih karunia, kita kaya dalam perbuatan kebajikan.
-
Dia
rela menjadi miskin supaya kita yang miskin menjadi kaya.
-
Dia
rela menjadi hina supaya kita yang hina menjadi mulia.
Luar biasa; debu
tanah bisa menjadi mulia, bagaimana jalannya? Orang pandai, cendikiawan tidak
bisa memecahkan persoalan “hina menjadi mulia”;
-
tidak
bisa memecahkan persoala “debu tanah menjadi emas”,
-
tidak
bisa memecahkan persoala “debu tanah menjadi mur”,
-
tidak
bisa memecahkan persoala “debu tanah menjadi kemenyan”.
Itu hanyalah pekerjaan
dari pribadi seorang Pemimpin yang bertanggung jawab.
Coba kita ingat
dan renungkan; berapa kali berbuat dosa setiap harinya? Berapa hari yang sudah
kita lalui, berapa bulan yang sudah kita lalui, berapa tahun yang sudah kita
lalui? Sudah tidak terhingga lagi, sampai kita merasa bahwa kita tidak mungkin
selamat, karena begitu dalamnya kita jatuh dalam jurang kehinaan itu.
Tetapi lihatlah:
-
Yang
kaya rela menjadi miskin di atas kayu salib, supaya yang miskin menjadi kaya.
-
Yang
mulia rela menjadi hina supaya kita yang hina menjadi mulia.
Luar
biasa, bukan? Tetapi mengapa kita menganggap sepi kemurahan TUHAN, seolah-olah yang
lahiriah itulah yang memberikan sukacita? Mengapa menganggap enteng ibadah dan
pelayanan, tidak mau angkat tangan menyerah untuk terlibat dalam pekerjaan TUHAN?
Mengapa sunyi sepi kalau sudah tahu kekayaan dan kemurahan yang luar biasa ini?
Dalam
Roma 2:4, dikatakan: Maukah engkau menganggap sepi kekayaan
kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun
engkau kepada pertobatan?
Mengapa
engkau membuat dirimu sepi-sepi, mengapa engkau tidak lagi menghargai kemurahan
TUHAN? Padahal kalau kita menghadap TUHAN, ada dalam keramaian kota, itu
menuntun kita sampai kepada pertobatan sejati.
Jangan
anggap sunyi sepi kemurahan TUHAN, sebab maksud kemurahan Allah adalah menuntun
kita kepada pertobatan sejati.
Pertobatan
sejati, artinya; bertobat 100% (seratus persen), tidak hanya 50% (lima puluh
persen).
-
Pertobatan
50% (lima puluh persen), berarti; hanya berhenti berbuat dosa.
-
Pertobatan
100% (seratus persen), berarti; berhenti berbuat dosa, selanjutnya kembali
kepada Allah.
Jangan hanya
berhenti berbuat dosa, tetapi kembalilah kepada Sang Khalik.
Matius 27:35
(27:35) Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi
pakaian-Nya dengan membuang undi.
Yang terjadi
ketika Yesus disalibkan:
1.
Mereka
membagi-bagikan pakaian-Nya.
2.
Mereka
membuang undi untuk jubah-Nya.
Pakaian
Yesus dibagi menjadi 4 (empat) bagian, sementara jubah-Nya itu tidak dapat
dibagi-bagi, karena jubah itu tidak terjahit dari atas sampai ke bawah. Dan
yang menerima jubah-Nya adalah orang yang mendapatkan undi; itu sebabnya harus
dibuang undi.
Mazmur 22:17-18
(22:17) Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan
penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. (22:18) Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton,
mereka memandangi aku.
Ini adalah
peristiwa ketika Yesus disalibkan; ini adalah nubuatan dari nabi Daud, yang sudah
digenapi 2000 (dua ribu) tahun yang lalu di bukit Golgota.
Mereka menusuk
tangan dan kaki, menusuk lambung, tetapi tidak ada tulang-tulang-Nya yang
dipatah-patahkan; Dia melindungi kita semua.
Mazmur 22:19
(22:19) Mereka membagi-bagi pakaianku di antara
mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.
Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka. Pakaian →
Tabiat atau kebenaran, yang harus disampaikan kepada empat penjuru bumi.
Sedangkan jubah
tidak untuk dibagi, tetapi diterima lewat undian. Jubah adalah pakaian Imam Besar.
Tugas Imam Besar
Agung: Melayani, berdoa dan memperdamaikan dosa kita.
Kalau sampai malam
ini kita menikmati pelayanan Imam Besar Agung, di mana Dia berdoa untuk segala
keluhan kita, serta melayani dan memperdamaikan dosa kita kepada Allah Bapa,
itu bagaikan orang yang mendapatkan undian.
Mendapat undian
= Mendapat kemurahan. Kemurahan yang kita terima, itu bagaikan menerima undian.
Kita menikmati segala pelayanan Imam Besar, menikmati kemurahan TUHAN, bagaikan
menerima undian; itu sebabnya, jubah itu bukan untuk dibagi-bagi.
Mengapa disebut
seperti mendapatkan undian? Karena
yang tidak layak menjadi layak, itu adalah kemurahan, seperti mendapatkan
undian. Siapa yang tahu kalau seseorang mendapat undian? Tidak ada yang tahu. Dan
kalau seseorang mendapat undian, itu karena kemurahan.
Jadi, kalau
sampai hari ini kita masih menikmati pelayanan Imam Besar, dan Dia berdoa atas
segala persoalan, keluhan, pergumulan yang kita hadapi, lalu disampaikan kepada
Bapa di sorga, sekaligus mempersatukan kita dengan Allah Bapa, sebab Dia sudah
memperdamaikan dosa kita, itu adalah kemurahan, bagaikan menerima jubah lewat
undian.
Sekarang,
kita kembali untuk melihat: Tugas dari orang yang bercahaya (bintang).
Matius 2:8
(2:8) Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya:
"Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera
sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah
Dia."
Ini adalah ibadah
dan penyembahan palsu dari Herodes.
Matius 2:9-11
(2:9) Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah
mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului
mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. (2:10) Ketika mereka melihat bintang
itu, sangat bersukacitalah mereka. (2:11)
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria,
ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta
bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan
dan mur.
Bintang Timur,
itulah orang bijaksana, memimpin ibadah kita sampai kepada puncak ibadah, yaitu
doa penyembahan. Demikianlah orang-orang majus itu sujud menyembah kepada Dia,
Yesus Kristus, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu.
Kalau ibadah
kita dituntun oleh bintang timur, orang bijaksana, sampai kepada doa
penyembahan, dan secepatnya wujud dari gunung Sion itu terlaksana dalam
kehidupan kita, itu adalah kemurahan TUHAN.
Kita
dituntun sampai kepada puncak ibadah, doa penyembahan, wujud dari gunung Sion,
itu adalah kemurahan bagi kita.
Dalam
penyembahan itu, orang-orang majus membawa dan mempersembahkan 3 (tiga)
perkara:
1.
Mempersembahkan
emas
→ Kemurnian dari Pengajaran Firman Allah yang benar dan murni. Kalau dikaitkan
dengan pribadi yang bertabiatkan Ilahi (yang sudah terangkat naik ke sorga),
terkena pada pribadi MUSA, di tangannya ada hukum-hukum Allah.
2.
Mempersembahkan
kemenyan
→ Doa Penyembahan, wujud dari gunung Sion. Kalau dikaitkan dengan pribadi yang
bertabiatkan Ilahi, terkena pada pribadi HENOKH yang diangkat hidup-hidup.
3.
Mempersembahkan
mur
→ Urapan Roh El Kudus. Demikianlah ELIA diangkat setelah ia dijemput oleh
kereta berapi Roh Kudus.
Inilah 3 (tiga)
perkara yang dipersembahkan oleh orang majus saat mereka menyembah Yesus, Raja
orang Yahudi yang baru dilahirkan itu; inilah sasaran kita, yaitu memiliki tabiat
Ilahi supaya kelak kita diangkat ke sorga.
Lebih jauh
tentang bintang timur, orang yang bijaksana, yang akan kita bandingkan dengan Wahyu 1.
Wahyu 1:20
(1:20) Dan rahasia ketujuh bintang yang telah
kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh
bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu
ialah ketujuh jemaat."
Ketujuh bintang
di tangan kanan TUHAN adalah ketujuh
malaikat sidang jemaat di Asia Kecil.
Pendeknya:
Bintang-bintang → Guru-guru, pemimpin-pemimpin di dalam rumah TUHAN, itulah orang-orang
bijaksana yang menuntun kehidupan rohani kita sampai kepada puncak ibadah,
yaitu doa penyembahan. Saat kita berada pada puncak ibadah (doa penyembahan), di
situlah kita mempersembahkan 3 (tiga) perkara, yaitu emas, kemenyan, dan mur,
itulah 3 (tiga) manusia yang bertabiatkan Ilahi, yaitu Musa, Henokh dan Elia.
Kembali saya
sampaikan: Ketujuh bintang di tangan kanan TUHAN adalah ketujuh malaikat sidang jemaat di Asia Kecil,
itulah gembala-gembala, itulah guru-guru, itulah orang bijaksana yang menuntun sidang
jemaat di Asia Kecil sampai kepada puncak ibadah, itulah doa penyembahan.
Jadi, ada
persamaan antara Injil Matius 2
dengan Wahyu 1:20. Dan lebih terang
lagi, akan kita lihat dalam Wahyu 1.
Wahyu 1:16-18
(1:16) Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh
bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan
wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik. (1:17) Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya
sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku,
lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,
(1:18) dan Yang Hidup. Aku
telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku
memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.
Rasul Yohanes
adalah seorang yang bijaksana, yang menuntun banyak orang kepada kebenaran.
Tetapi seorang
pemimpin sejati; dia harus mengenal Pribadi Alfa dan Omega, Awal dan Akhir, Yang
Hidup - mati - hidup.
-
Hidup;
kedatangan Yesus ke dunia.
-
Kemudian
Dia mati di kayu salib.
-
Lalu
hari ketiga, Dia bangkit, Dia hidup.
Dari Alfa sampai
ke Omega; Hidup - mati - hidup.
Jadi, pemimpin
sejati harus mengenal pribadi Yesus Kristus, Dia adalah Pemimpin sejati.
Kata
“Raja” → Yesus Kristus adalah TUHAN dan Pemimpin yang bertanggung jawab, Dia
Pemimpin sejati.
Demikian juga
dalam Wahyu 1, di tangan kanan-Nya
ada ketujuh bintang, itulah ketujuh malaikat sidang jemaat, yang adalah
pemimpin, guru-guru atas sidang jemaat. Sebagai guru, dia harus mengenal Pribadi
Alfa dan Omega, Awal dan Akhir, Yang Hidup - mati - hidup.
Malam
ini kita sudah melihat penampilan dari pemberitaan Firman TUHAN. Kita sudah
melihat akibat atau dampak negatif dari tindakan Esau yang sibuk berburu daging
dan suka tinggal di kemah, yaitu akhirnya dia dibenci oleh TUHAN. Dan kebencian
itu sudah nyata, di mana pegunungan Seir, pegunungan Edom menjadi sunyi sepi.
Maukah
kita menganggap sunyi sepi kemurahan hati TUHAN? Bukankah kemurahan hati TUHAN
itu menuntun kita? Dia adalah orang bijaksana yang menuntun kita sampai kepada
pertobatan sejati.
Hati-hati,
janganlah ibadah kita menjadi sunyi sepi, supaya dampak negatif ini jangan
menjadi bagian kita, tetapi Dia yang mulia rela menjadi hina, supaya kita yang
hina menjadi mulia.
-
Bagaimana
mungkin tanah liat bisa berubah menjadi emas?
-
Bagaimana
mungkin tanah liat bisa berubah menjadi kemenyan yang berbau harum?
-
Bagaimana
mungkin yang hina bisa berubah menjadi mur, kehidupan yang diurapi?
Manusia
yang bertabiat Ilahi, itulah Musa, Henokh, dan Elia, bagaimana mereka bisa
dipermuliakan? Tentu saja bisa, karena Firman Allah, TUHAN Yesus Kristus, Dia
Raja di atas segala raja, Dia Pemimpin sejati, Dialah Firman Allah yang ajaib.
TUHAN menyatakan keajaiban-Nya supaya kita ada dalam keheranan yang ajaib; yang
hina menjadi mulia, yang miskin menjadi kaya, yang tidak mempunyai apa-apa menjadi
sesuatu yang berharga; dari tanah liat menjadi emas, dari tanah liat menjadi
minyak mur, dari tanah liat menjadi kemenyan yang berbau harum di hadapan TUHAN.
-
Dahulu
diinjak-injak begitu hina, tetapi berubah menjadi mur, kehidupan yang diurapi.
-
Dahulu
diinjak-injak begitu hina, tetapi berubah menjadi kemenyan yang berbau harum di
hadapan TUHAN.
-
Dahulu
diinjak-injak begitu hina, tetapi Dia mengubah kita yang hina ini menjadi
kehidupan yang murni bagaikan emas. Pertahankan kemurnian hatimu.
TUHAN YESUS
KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita
Firman:
Gembala Sidang;
Pdt. Daniel U. Sitohang