IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 22 AGUSTUS 2026
STUDY YUSUF
(Seri: 31)
Subtema: DIDIKAN DARI PEDANG TAJAM BERMATA DUA.
Shalom.
Selamat malam, saya juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan yang turut bergabung lewat online, dimanapun saudara berada. Selanjutnya biarlah kesukaan Sorgawi memenuhi ruangan ini dan hati kita masing-masing saat kita duduk diam dalam kesukaan/bahagia saat menikmati sabda Allah.
Selanjutnya mari kita mengikuti STUDY YUSUF sebagai firman penggembalaan untuk Ibadah Kaum Muda Remaja. Kita masih memeriksa Kejadian 44:18-34 dan malam ini merupakan seri ke-31. Namun tetap berdoa dalam roh dan mohon kemurahan dari Tuhan supaya firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi.
Seluruh ayat firman Allah yang tertulis dalam Kejadian 44:18-34 merupakan tutur kata Yehuda kepada Yusuf di Mesir yang memohonkan kelepasan bagi Benyamin.
Pertanyaannya: Mengapa Yehuda memohon kelepasan bagi Benyamin?
Jawabnya dapat kita temukan di dalam ...
Kejadian 44:29-31
(44:29) Jika anak ini kamu ambil pula dari padaku, dan ia ditimpa kecelakaan, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena nasib celaka. (44:30) Maka sekarang, apabila aku datang kepada hambamu, ayahku, dan tidak ada bersama-sama dengan kami anak itu, padahal ayahku tidak dapat hidup tanpa dia, (44:31) tentulah akan terjadi, apabila dilihatnya anak itu tidak ada, bahwa ia akan mati, dan hamba-hambamu ini akan menyebabkan hambamu, ayah kami yang ubanan itu, turun ke dunia orang mati karena dukacita.
Apabila Benyamin tidak kembali ke Kanaan, maka Yakub:
Turun ke dunia orang mati karena nasib celaka … (ayat 29).
Turun ke dunia orang mati karena dukacita … (ayat 31).
Keterangan: MATI KARENA DUKACITA (Bagian 8).
2 Korintus 7:8-10
(7:8) Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat, bahwa surat itu menyedihkan hatimu -- kendatipun untuk seketika saja lamanya --, (7:9) namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikit pun tidak dirugikan oleh karena kami. (7:10) Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.
Ada 2 (dua) jenis dukacita menurut apa yang dipaparkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus:
“Dukacita menurut kehendak Allah” ... ayat 9.
“Dukacita yang dari dunia menghasilkan kematian” ... ayat 10.
Selanjutnya kita akan melihat contoh: DUKACITA MENURUT KEHENDAK ALLAH (Bagian 5).
Tertulis pada ayat 8: "... aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu"
Pendeknya, jemaat di Korintus bersedih hati karena firman Allah yang disampaikan oleh Rasul Paulus dalam bentuk surat yang ditulis ketika dia dalam penjara di Roma. Inilah yang dimaksud dengan dukacita menurut kehendak Allah
Perlu untuk diketahui: Firman Allah dapat disampaikan dalam bentuk ...
Lisan (khotbah dalam ungkapan/perkataan)
Tulisan.
2 Timotius 3:16 --- Perikop: "Iman bertumbuh dalam penganiayaan dan dalam pembacaan Kitab Suci."
(3:16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Segala tulisan yang diilhamkan Allah, artinya: Firman yang diurapi bermanfaat untuk 4 (empat) hal, yaitu:
Untuk mengajar.
Untuk menyatakan kesalahan.
Untuk memperbaiki kelakuan.
Untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Keempat hal tersebut sudah kita sudah bahas bersama-sama, namun malam ini kita kembali untuk membahas manfaat yang keempat.
Keterangan manfaat ke-4: MENDIDIK ORANG DALAM KEBENARAN (Bagian 2).
Kisah Para Rasul 22:3 --- Perikop: "Paulus berbicara kepada orang Yahudi."
(22:3) "Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini.
Paulus dididik dengan teliti menurut hukum Taurat, di bawah pimpinan Gamaliel, seorang guru besar dan tokoh terkemuka bagi orang-orang Yahudi pada masa itu. Sehingga, oleh didikan itu Paulus menjadi seorang yang GIAT BEKERJA BAGI ALLAH.
Pendeknya, orang yang giat bekerja bagi Allah adalah orang yang sudah menerima didikan.
Kisah Para Rasul 22:4
(22:4) Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara.
Pada ayat 3, oleh karena didikan dari hukum Taurat Paulus menjadi orang yang giat bekerja bagi Allah. Namun anehnya, pada ayat 4; Paulus menganiaya pengikut-pengikut jalan Tuhan sampai mati. Paulus juga menangkap baik laki-laki maupun perempuan, selanjutnya diserahkan dalam penjara.
Pendeknya, setelah dididik dengan teliti menurut hukum Taurat, Paulus justru ...
seorang penghujat,
seorang penganiaya,
seorang ganas.
Ayat referensi: 1 Timotius 1:13, “aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas ...”
Filipi 3:4-6 --- Perikop: "Kebenaran yang sejati."
(3:4) Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: (3:5) disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, (3:6) tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.
Ada 7 kelebihan Paulus secara lahiriah sebelum terpanggil sebagai Rasul:
Disunat pada hari kedelapan.
Dari bangsa Israel.
Dari suku Benyamin.
Orang Ibrani asli.
Tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi.
Tentang kegiatan aku penganiaya jemaat.
Tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat Paulus tidak bercacat.
Tujuh kelebihan Paulus dibagi menjadi 2 (dua) bahagian:
Bahagian PERTAMA: Hal 1-4 adalah hal yang dibawa dari lahir, artinya hal tersebut tidak bisa dihilangkan ataupun dirubah.
Bahagian KEDUA: Hal 5-7 adalah sikap dan tindakan-tindakan Paulus, semuanya menurut hukum Taurat.
Adapun sikap dan tindakan-tindakan Paulus yang menurut hukum Taurat, antara lain:
HAL KELIMA yaitu: “... Tentang pendirian hukum Taurat, ia orang Farisi …”
Kita akan melihat orang Farisi dalam Injil Matius 23:
Ayat 3-4, … mengajar dengan cakap tapi tidak melakukannya, serta membebani orang lain tetapi dia sendiri tidak terbeban/tidak menyentuh beban tersebut.
Ayat 5-7, … melakukan segala sesuatu hanya untuk dilihat oleh orang lain.
Ayat 8-10, … gila hormat. Orang yang gila hormat biasanya selalu duduk atau mengambil bagian di tempat terdepan.
Ayat 13-30, … hidup dengan 7 (tujuh) kemunafikan, artinya: Sempurna dalam kemunafikan, sama seperti kuburan yang dilabur putih; di luar tampak indah namun di dalam batinnya penuh dengan kedurjanaan (tulang belulang yang berbau busuk).
HAL KEENAM yaitu: “... Tentang kegiatan, ia penganiaya jemaat …”, yaitu orang-orang (jemaat TUHAN) yang tidak hidup dibawah hukum Taurat.
Adapun kelemahan yang mendasar dari hukum Taurat adalah:
Tidak mengampuni yang bersalah (Roma 2:15).
Lemah terhadap daging (Roma 8:2-3).
Membangkitkan/merangsang dosa (Ibrani 10:1-3).
HAL KETUJUH yaitu: “... Tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat ia tidak bercacat/tidak ada kurangnya …”
Berarti, seseorang menjadi disiplin dan teratur secara lahiriah sehingga membanggakan secara lahiriah.
Pendeknya, oleh didikan dari hukum Taurat secara teliti, Paulus menjadi orang yang LUAR BIASA, antara lain:
Memiliki pendirian sehingga tidak mudah goyah.
Tentang kegiatan ia penganiaya jemaat.
Tidak bercacat dalam mentaati hukum Taurat.
Akan tetapi, Paulus cacat moral dan tidak berakhlak serta tidak hidup dalam kasih. Hal semacam ini adalah kesia-siaan, menurut 1 Korintus 13:1-3.
Orang yang dididik di bawah hukum Taurat memang nampak tidak ada kurangnya secara lahiriah (disiplin, teratur dalam segala perkara) namun cacat moral, pikirannya tidak baik, di dalam batinnya banyak yang disembunyikan, sama seperti tadi yaitu merangsang/membangkitkan dosa pada orang lain.
Kisah Para Rasul 22:5
(22:5) Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-tua dapat memberi kesaksian. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di Damsyik dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut Jalan Tuhan, yang terdapat juga di situ dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum.
Semua kelebihan-kelebihan Paulus menurut hukum Taurat, diakui oleh 2 (dua) golongan yaitu: Imam Besar dan majelis tua-tua (orang cendekiawan pada masa itu). Bahkan Paulus membawa SK (surat keputusan) untuk menganiaya jemaat Tuhan di Damsyik.
Demikianlah keadaan Paulus setelah dididik oleh hukum Taurat di bawah asuhan Gamaliel.
Bandingkan dengan DIDIDIK OLEH CAHAYA INJIL TENTANG KEMULIAAN KRISTUS.
Kisah Para Rasul 22:6
(22:6) Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah dekat Damsyik, yaitu waktu tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi aku.
Sementara dalam perjalanan ke Damsyik “... memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi Paulus …” Ini menunjuk didikan CAHAYA INJIL TENTANG KEMULIAAN KRISTUS.
Yang disebut sebagai; Cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, antara lain:
Firman Pengajaran yang rahasianya dibukakan ... 2 Korintus 4:3-4.
Pedang tajam bermata dua.
Kita akan membahas “PEDANG TAJAM BERMATA DUA.”
Ibrani 4:12-13
(4:12) Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. (4:13) Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.
Pedang tajam bermata dua:
Mata pedang sisi yang satu -> Pengajaran Mempelai.
Mata pedang sisi yang lain -> Pengajaran Tabernakel.
Jadi, pedang tajam bermata dua itulah firman Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel.
Kuasa dari pedang tajam bermata dua:
Memisahkan jiwa dan roh.
Memisahkan sendi-sendi dan sum-sum.
Sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.
Pendeknya, pedang tajam bermata dua itulah firman pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel sanggup dan berkuasa menyucikan perasaan hati manusia yang terdalam yang tidak dapat dijangkau oleh mata manusia.
Ketika disucikan oleh pedang tajam bermata dua:
Seseorang mengalami rasa malu yang hebat, sebab disini dikatakan: "Tidak ada yang tersembunyi di mata Tuhan, semuanya telanjang dan terbuka." = dipermalukan/semua dosa ditelanjangi.
Kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab, maksudnya ketika firman datang ada pengakuan terhadap dosa dengan tuntas; mengakui dosa dengan jelas dan jujur, tidak lari dari kenyataan.
Jadi, terjadi perbedaan yang signifikan antara didikan dari hukum Taurat dengan didikan dari cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus.
Kalau tadi ketika Paulus dididik oleh hukum Taurat dia memang menjadi seorang yang giat, disiplin, teratur, tidak ada cacat dan kurangnya namun batin dan moralnya rusak, serta tidak memiliki belas kasih. Akhirnya sekalipun dia dikatakan orang yang tidak bercacat, disiplin, teratur, semua itu menjadi sia-sia.
Berbeda dengan didikan yang datang dari cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yaitu firman pengajaran mempelai dalam terangnya Tabernakel yang (pedang tajam bermata dua) menembusi manusia terdalam.
Ibrani 1:1 --- Perikop: "Allah berfirman dengan perantaraan Anak-Nya."
(1:1) Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi,
Hukum Taurat tidak dapat menyelesaikan masalah, buktinya bangsa Israel tetap berbuat dosa, melakukan kesalahan, sekalipun Tuhan sudah berbicara lewat perantaraan para nabi-nabi dengan berulang-ulang dan dengan berbagai cara.
Ibrani 1:2-4
(1:2) maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. (1:3) Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, (1:4) jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.
Zaman akhir Allah berbicara dengan perantaraan Anak-Nya yaitu: cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, dalam hal ini adalah pedang tajam yang berkuasa mengadakan penyucian dosa.
Setelah disucikan oleh pedang tajam bermata dua, selanjutnya dibawa sampai kepada kemuliaan, yaitu: layak duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, layak masuk dalam pesta kawin Anak Domba, menikmati mahligai-mahligai-Nya, berarti sempurna/sama mulia, menjadi mempelai Tuhan.
Itulah sasaran akhir dari cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, bukan hanya sekedar nampak disiplin, berwibawa secara lahiriah tetapi tidak memiliki belas kasih.
Kisah Para Rasul 22:6-8
(22:6) Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah dekat Damsyik, yaitu waktu tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi aku. (22:7) Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang berkata kepadaku: Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? (22:8) Jawabku: Siapakah Engkau, Tuhan? Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu.
“... mengapakah engkau menganiaya Aku?” Penyucian yang dikerjakan oleh cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yaitu firman Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel membuat kita teraniaya dan menderita (sakit bagi daging).
Sebab, oleh penyucian yang terjadi segala dosa ditelanjangi, tidak ada yang tersembunyi dan kita harus memberi pertanggungan jawab. Jadi, Kisah Para Rasul 22:6-8 = Ibrani 4:12-13.
Kisah Para Rasul 22:9
(22:9) Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar.
Malam ini kita hadir bukan hanya untuk melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, namun kita juga harus mendengar dan mengalami penyucian dari cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus (pedang tajam bermata dua itulah Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel).
Jangan kita sama seperti orang-orang yang bersama-sama dengan Paulus, mereka hanya melihat namun tidak mendengar dan merasakan kuasa penyucian itu. Jika kita datang hanya untuk melihat namun tidak mau mendengar, untuk apa? disebutlah itu, kristen penonton.
Kita datang untuk melihat, selanjutnya kita gunakan telinga untuk mendengar, berarti menyerahkan diri kepada Tuhan untuk disucikan oleh pedang tajam. Kita mengikut Tuhan bukan hanya sekedar teman melainkan harus menjadi sahabat.
Kisah Para Rasul 22:10
(22:10) Maka kataku: Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? Kata Tuhan kepadaku: Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu.
Paulus berkata kepada Tuhan: "Apakah yang harus kuperbuat?"
Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan telah berdaulat (TUHAN BERKUASA PENUH) dalam diri Paulus.
Pada akhirnya Tuhan berkuasa penuh dalam hidup Paulus disebutlah itu SUASANA KEBANGKITAN.
Dahulu waktu suasana kematian, pergi ke Damsyik untuk membunuh dan menganiaya, sekarang setelah Tuhan berkuasa atas Paulus, kepadanya dipercayakan tugas yang mulia.
Kisah Para Rasul 22:11
(22:11) Dan karena aku tidak dapat melihat oleh karena cahaya yang menyilaukan mata itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku ke Damsyik.
Oleh kuasa dari cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, Paulus tidak lagi melihat hal-hal yang lahiriah selain yang rohani saja.
2 Korintus 4:16
(4:16) Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
Ketika manusia batiniah dibaharui yaitu manusia dalam disucikan maka yang lahiriah semakin merosot.
2 Korintus 4:17-18
(4:17) Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. (4:18) Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.
Paulus tidak memperhatikan yang kelihatan melainkan memperhatikan yang tidak kelihatan, alasannya:
Yang kelihatan adalah sementara itulah yang lahiriah.
Yang tidak kelihatan adalah kekal itulah kerajaan Sorga.
Inilah keadaan orang apabila sudah disucikan oleh cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, tidak lagi memperhatikan yang kelihatan karena yang kelihatan sifatnya sementara.
Tuhan sudah mau datang, tidak lama lagi, maka sungguh-sungguhlah beribadah kepada Tuhan, berarti sungguh-sungguh disucikan oleh cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, dalam hal ini adalah pedang tajam bermata dua itulah firman pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel.
Kisah Para Rasul 22:12-15
(22:12) Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang saleh yang menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. (22:13) Ia datang berdiri di dekatku dan berkata: Saulus, saudaraku, bukalah matamu dan melihatlah! Dan seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia. (22:14) Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya. (22:15) Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar.
Paulus disuruh ke Damsyik dan Tuhan percayakan tugas-tugas kepada Paulus, antara lain:
Untuk mengetahui kehendak-Nya.
Untuk melihat Yang Benar. Berarti, tidak melihat yang salah, tidak menghakimi orang yang bersalah.
Untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya = Dengar-dengaran.
Kisah Para Rasul 22:16-17
(22:16) Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan! (22:17) Sesudah aku kembali di Yerusalem dan ketika aku sedang berdoa di dalam Bait Allah, rohku diliputi oleh kuasa ilahi.
Selanjutnya Tuhan berdaulat sepenuhnya atas hidup Rasul Paulus; kuasa ilahi meliputi dia. Paulus tidak lagi menjalankan ibadah secara Taurat, tidak lagi bersifat lahiriah.
Itulah hasil didikan dari cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus dalam hal ini adalah pedang tajam bermata dua yaitu Firman Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel.
Tuhan sudah mempercayakan tugas-tugas yang mulia kepada Paulus seperti kepada kita kaum muda remaja GPT “Betania”.
Biarlah roh kita diliputi oleh kuasa ilahi, jika rohani kita tidak diliputi oleh kuasa ilahi, keadaan seseorang persis seperti didikan pertama yaitu dididik oleh hukum Taurat, sepertinya disiplin, tidak bercacat, namun rohnya dan moralnya tidak berakhlak, tidak memiliki kasih. Namun setelah disucikan oleh cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, roh yang tidak terlihat dalam diri Paulus diliputi oleh kuasa ilahi.
Maka mulai dari saat itu sampai seterusnya kuasa Tuhan meliputi roh dari Paulus, itu sebabnya dia tidak lagi menjalankan ibadah secara Taurat, dia tidak lagi melihat yang salah, dia hanya melihat yang benar. Amin.
TUHAN YESUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment