IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 10 SEPTEMBER 2026
MALEAKHI 3:1A
(Seri: 10)
Subtema: MENGHARGAI FIRMAN NUBUATAN
Salam sejahtera di dalam kasihnya TUHAN kita Yesus Kristus, yang telah menghimpunkan kita di atas gunung TUHAN yang kudus, sehingga kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah pendalaman Alkitab yang disertai dengan perjamuan suci.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN, yang turut bergabung lewat online atau live streaming, video internet, baik dari YouTube, Facebook, dan Tiktok. Selanjutnya, biarlah damai sejahtera dari Sorga ada di tengah-tengah kita, memenuhi hati kita. Selanjutnya kesukaan Sorgawi, bahagia saat kita duduk diam menikmati sabda Allah.
Marilah kita ikuti STUDY MALEAKHI sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab yang disertai dengan perjamuan suci.
Namun tetaplah berdoa dalam Roh, mohon kemurahan dari TUHAN, supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi, juga diteguhkan sebentar lewat perjamuan suci.
Maleakhi 3:1a (seri 9)
(3:1) Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.
Disini dikatakan: "Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku!"
Marilah kita melihat dan mengenali SURUHAN (UTUSAN TUHAN) yang mempersiapkan jalan di hadapan TUHAN
Matius 11:10-11 (bagian 7) --- Perikop: “Yesus dan Yohanes Pembaptis.”
(11:10) Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. (11:11) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.
Utusan yang mendahului Tuhan tersebut ternyata : YOHANES PEMBAPTIS.
Adapun tugas pokok Yohanes pembaptis adalah; mempersiapkan jalan bagi Tuhan.
Demikian juga seorang hamba Tuhan, teramat lebih pemimpin sidang jemaat, tugas pokoknya adalah: mempersiapkan sidang jemaat untuk menyongsong kedatangan Tuhan kembali ke dunia yang fana ini untuk kedua kalinya sebagai Raja di atas segala raja, yang kelak bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
Perlu untuk kita pahami: sebagai utusan Tuhan, Yohanes Pembaptis bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaannya di dalam hal mempersiapkan jalan bagi Tuhan.
Hal itu secara lengkap ada dalam pengakuan Yesus terhadap orang-orang Yahudi, yang tertulis dalam Matius 11:7-9.
ARTI KEHADIRAN YOHANES SEBAGAI UTUSAN TUHAN (Bagian 3)
Matius 11:12-13
(11:12) Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. (11:13) Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes
Disini dikatakan: “ … Kerajaan Sorga diserong …”
Kerajaan Sorga bila dikaitkan dengan Pola Tabernakel terkena kepada RUANGAN MAHA SUCI.
Yang bentuknya empat persegi, sebab; panjang - lebar - tingginya adalah 10 x 10 x 10 = 1000 hasta.
1000 hasta juga, bila dikaitkan dengan peta zaman menunjuk pada hari ketujuh, hari perhentian yang besar, disebut juga kerajaan 1000 tahun damai di bumi ini.
Pendeknya, ukuran dari Ruangan Maha Suci tidak boleh dirubah-rubah supaya bentuknya tetap empat persegi. Demikian juga dengan Kerajaan Sorga tidak boleh diserong.
Lebih rinci kita lihat hal itu dalam …
Wahyu 21:15-16 --- Perikop: "Yerusalem yang baru."
(21:15) Dan ia, yang berkata-kata dengan aku, mempunyai suatu tongkat pengukur dari emas untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya. (21:16) Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan ia mengukur kota itu dengan tongkat itu: dua belas ribu stadia; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama.
Kota Yerusalem baru bentuknya empat persegi, sebab panjang dan lebarnya sama.
Kemudian, kota itu diukur dengan tongkat pengukur dari emas dan didapati hasilnya 12.000 stadia, baik panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama.
Secara angka memang tidak sama dengan ukuran Ruangan Maha Suci, namun kita dapat menemukan kesamaannya bila kita melihat dari SISI ROHANI, antara lain:
TONGKAT PENGUKUR DARI EMAS, artinya:
Kota kudus Yerusalem baru itu nyata (tidak abstrak/mistis). Dan berita tentang kota kudus Yerusalem baru, bukan isapan jempol, bukan dongeng semata, tetapi nyata sebagai tempat tinggal yang bersifat kekal, yang benar-benar ada disediakan Allah bagi sidang mempelai-Nya, gereja TUHAN yang sempurna.
Yerusalem baru adalah kota Allah yang dirancang dengan bentuk yang sempurna, serta terukur yaitu empat persegi/kubus.
Dari sini kita bisa melihat kesamaan antara kota kudus Yerusalem baru dengan Ruangan Maha Suci. Jadi kita harus melihat dari sisi yang rohani.
Sedangkan Emas berbicara tentang “kemurnian Ilahi dan kekudusan yang tidak berubah”. Emas kalau diuji tetap tampil sebagai emas, ia tidak akan pernah berubah-ubah, demikian juga kemuliaan dan kesucian Allah itu.
Maka kota kudus Yerusalem baru dalam kemuliaan yang tetap tidak berubah-ubah, maka kerajaan Sorga (kekal) juga tidak boleh berubah, maksudnya tidak boleh diserong, bentuknya tetap seperti itu, terukur, dan sempurna.
12.000 STADIA -> Kehidupan yang dimeteraikan Allah untuk masuk dalam bilangan mempelai Tuhan.
Sebagai contoh ….
Wahyu 7:4-8:
(7:4) Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel. (7:5) Dari suku Yehuda dua belas ribu yang dimeteraikan, dari suku Ruben dua belas ribu, dari suku Gad dua belas ribu, (7:6) dari suku Asyer dua belas ribu, dari suku Naftali dua belas ribu, dari suku Manasye dua belas ribu, (7:7) dari suku Simeon dua belas ribu, dari suku Lewi dua belas ribu, dari suku Isakhar dua belas ribu, (7:8) dari suku Zebulon dua belas ribu, dari suku Yusuf dua belas ribu, dari suku Benyamin dua belas ribu.
12.000 bila dikali dengan 12 suku israel hasilnya: 144.000, itulah inti dari mempelai. Yang dimeteraikan ada 12 000 tidak boleh dikurang-kurangi atau dilebih-lebihkan, supaya 12.000 nanti dikali 12 suku hasilnya; 144.000.
Dari pemaparan singkat ini, jelas kita melihat, kerajaan Sorga tidak boleh diserong/diubah-ubah sesuai kehendak daging manusia, sebab Wahyu 21:17: Lalu ia mengukur temboknya: seratus empat puluh empat hasta, menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat. Jadi ukuran manusia juga ukuran malaikat.
Jadi dari sini kita bisa melihat ukuran dari Yerusalem Baru tidak bisa dirubah (diserong), karena ukuran manusia juga ukuran malaikat di Sorga. Kerajaan Sorga (kekal) tidak boleh diserong, sekecil apapun tidak boleh diserong, tidak boleh dirubah-rubah. Demikian juga kebenaran Allah, kekudusan Allah dan kemuliaan-Nya tidak boleh diserong.
KEBENARAN Allah bila dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena pada HALAMAN. Itu tidak boleh diserong. Demikian juga dengan 2 (dua) alat yang ada di HALAMAN, yang berbicara tentang: SENGSARA SALIB, pengalaman kematian dan kebangkitan Yesus. Hal ini harus tinggal tetap.
KEKUDUSAN Allah bila dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena pada RUANGAN SUCI. Itu pun tidak boleh diserong, tidak boleh dikurangi atau ditambahkan, baik ukuran; panjang, lebarnya, maupun tingginya. Bahkan posisi dari alat-alat di dalam Ruangan Suci juga tidak boleh dirubah-rubah.
Meja roti sajian, kedudukannya di sebelah Utara
Pelita emas, kedudukannya di sebelah selatan.
Mezbah Dupa, kedudukannya harus lebih maju dari Meja roti sajian dan pelita emas, artinya harus lebih mendekat kepada tirai (tabir bait suci Allah). Semua mengandung arti secara rohani, tidak boleh dirubah-rubah.
KEMULIAAN Allah bila dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena pada RUANGAN MAHA SUCI, dimana panjang, lebarnya, dan tingginya sama : 10x10x10= 1000 hasta.
Di Ruangan Maha Suci terdapat satu alat, itulah Tabut Perjanjian, dimana gereja TUHAN dibawa sampai kepada terang yang sempurna yaitu: Shekinah Glory, ada di antara dua kerubium.
Pendeknya, bentuk yang sempurna dari Yerusalem baru telah dirancang Allah dengan TELITI dan dengan seksama, dan terukur menggunakan tongkat pengukur dari emas, bukan tongkat pengukur dari kayu yang sebentar kering dan dilemparkan ke dalam api pembakaran, melainkan diukur menurut kemuliaan ilahi dan kekudusan yang tidak berubah-ubah.
Sekali lagi saya sampaikan, bentuk yang sempurna dari Kota Yerusalem baru itulah Ruangan Maha suci telah dirancang oleh Allah dengan teliti atau seksama, hal itu diakui oleh Abraham, bapa orang beriman dalam Ibrani 11:10.
Ibrani 11:10
(11:10) Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.
Kota kudus, Yerusalem baru, turun dari Sorga dari Allah, “direncanakan dan dibangun oleh Allah” sendiri, dengan teliti dan seksama, tidak ada kurangnya tetapi SEMPURNA.
Jadi, untuk menjadi layak masuk dalam kerajaan Sorga harus SEMPURNA. Singkatnya, Kerajaan Sorga tidak boleh di serong / diubah-ubah.
Segala sesuatu yang berasal dari Allah sifatnya kekal, termasuk kota Kudus Yerusalem baru betul-betul direncanakan dan dibangun oleh Allah, sifatnya kekal, dan bentuknya 4 (empat) persegi. Itu berarti tidak boleh diserong. Beda dengan planet-planet, termasuk bumi tempat kita tinggal sekarang ini, bentuknya bulat.
Bumi bulat; itu berarti, di dalam dunia ini, tidak ada kepastian/berubah-ubah, sebentar bisa di atas, sebentar bisa di bawah, artinya tidak ada yang tinggal tetap di bumi ini. Dan bumi akan terus berputar, tidak berhenti.
Berbeda dengan kerajaan 1000 tahun damai disebut hari perhentian yang besar dan sempurna, tidak ada disitu perputaran lagi, sebab bentuknya saja empat persegi tidak bisa diputar-putar. Kalau dia sudah diletakan pada tempatnya, tidak boleh dirubah-rubah. Dan TUHAN lah yang membangun, dengan satu perencanaan yang sempurna.
Kita bersyukur oleh rahmat-Nya Tuhan memberi pengertian kepada kita, supaya mulai dari malam ini untuk seterusnya tidak ada niatan untuk merubah pola kerajaan Sorga baik itu kebenarannya, maupun kesuciannya, bahkan kemuliaan Allah itu sendiri. Berarti betul-betul ketetapan TUHAN terkait dengan ibadah dan pelayanan harus kita hormati, harus kita junjung setinggi-tingginya, tidak boleh diserong, tidak boleh direbut dengan kegagahan.
Singkatnya, setelah pesta nikah di awan-awan permai, selanjutnya mempelai TUHAN (gereja Tuhan yang sempurna) turun ke bumi dan memerintah di dalam kerajaan 1000 tahun damai bersama dengan orang-orang yang mati martir. Ayat referensi Wahyu 21:2 / Wahyu 20:4.
Wahyu 21:2
(21:2) Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
Jadi, Kota Kudus, Yerusalem Baru, turun dari Sorga, dari ALLAH, direncanakan dan dibangun oleh ALLAH.
Oh…, bahagianya kehidupan dari sidang mempelai TUHAN bila kelak nanti bersama dengan Dia untuk selama-lamanya. Biarlah hati kita terus terpaut dengan kota Kudus Yerusalem Baru yang sudah dibangun dan direncanakan oleh Allah sendiri, dibentuk dengan sempurna, dengan landasan yang kuat.
Biarlah pikiran kita terfokus ke sana mulai dari sekarang, pikiran kita terus terkait dengan kota kudus Yerusalem Baru. Dan itu yang diajarkan TUHAN, secara khusus surat yang dikirim Rasul Yohanes kepada jemaat di Filadelfia sesuai dengan Wahyu 3:12: “… (3:12) Dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru. …”
Inilah yang TUHAN sampaikan, sesuai dengan penglihatan yang diterima oleh Yohanes di pulau Patmos. Hal ini ditujukan kepada jemaat di Filadelfia, supaya kelak mereka menjadi kota Kudus Yerusalem baru.
Sedangkan Wahyu 14:1: “… Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya. …”
Pada dahi dari inti mempelai (144.000) tidak lagi ditulis kota Kudus Yerusalem baru, selain nama-Nya dan nama Bapa-Nya karena mereka adalah mempelai TUHAN (Kota Kudus Yerusalem Baru). Berbeda dengan jemaat di Filadelfia.
Maka dipikiran kita inipun kiranya tertulis kota kudus Yerusalem Baru, artinya hati dan pikiran ini senantiasa terpaut dengan ibadah dan pelayanan yang TUHAN percayakan itulah hari ketujuh / hari sabat / hari perhentian, yaitu: ketekunan tiga macam ibadah pokok yang TUHAN percayakan, dengan segala kegiatan-kegiatan yang ada di dalamnya.
Pikiran kita terus fokus ke arah yang TUHAN sudah rencanakan yaitu kota kudus, Yerusalem baru. Sampai nanti rencana TUHAN tergenapi di dalam hidup kita masing-masing.
Jadi Wahyu 21:2 kota kudus Yerusalem baru turun dari Sorga, turun dari Allah, pengertiannya ialah; TUHANlah yang merancang dan membangun kota Kudus Yerusalem Baru. Namun setelah pesta kawin Anak domba di awan nan permai, Mempelai TUHAN turun ke bumi dan berada di dalam kerajaan 1000 tahun damai, untuk memerintah bersama dengan orang-orang yang mati martir. Kemudian dari kerajaan 1000 tahun damai di bumi (firdaus) akan lanjut dan finish sampai pada Yerusalem baru, kerajaan kekal.
Pendeknya, kita sampailah pada satu kesepakatan, bahwasannya kerajaan kekal tidak boleh diserong, sama halnya dengan kota Kudus, Yerusalem Baru, tidak boleh diubah-ubah.
Kita kembali membaca…
Matius 11:12
(11:12) Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya.
Selanjutnya, pada ayat ini dikatakan "Orang yang menyerongnya mencoba menguasainya." Mari kita selidiki lebih dalam ayat ini, pada injil Lukas 16.
Tabiat dari: ORANG-ORANG YANG MENYERONGKAN KERAJAAN SORGA.
Lukas 16:13-14 --- Perikop: "Setia dalam perkara yang kecil Nasihat"
(16:13) Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (16:14) Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia.
Kita tidak boleh mengabdi kepada 2 (dua) tuan secara serentak yaitu; mengabdi kepada Allah dan kepada mamon. Yesus mengatakan hal itu karena ternyata orang-orang Farisi adalah hamba-hamba uang, sama artinya: “Cinta akan uang”, dan itu merupakan akar dari segala kejahatan (1 Timotius 6:10).
Tetapi orang-orang Farisi mencemoohkan ajaran itu, berarti menghina dan menyepelekan Yesus dan ajaran yang disampaikan kepada mereka.
Jangan kita menghina dan menyepelekan TUHAN serta ajaran yang suci dan mulia itu. Jangan kita menolak Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel, apalagi mencemoohkannya.
Lukas 16:15
(16:15) Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.
Hal-hal lain dari orang-orang Farisi “… membenarkan diri mereka di hadapan orang…” menunjukkan bahwa:
Orang Farisi adalah orang MUNAFIK.
Munafik artinya:
Diluar tidak sama dengan bagian dalam hidupnya = Tidak transparan banyak hal yang harus ditutup-tutupi oleh orang farisi.
Diluar tampak baik tetapi dalam hatinya penuh dengan kejahatan (kedurjanaan).
Orang Farisi masih MEMPERTAHANKAN HUKUM TAURAT/hidup di bawah bayang-bayang hukum Taurat.
Sejenak kita baca, Ibrani 10:1: “... Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri…”
Saudara, tidak ada yang bisa kita temukan dari bayang-bayang. Kita mencoba meraih namun kita tidak akan pernah mendapatkannya, seperti itulah jikalau seseorang berada di bawah bayang-bayang hukum taurat, karena hukum taurat itu bukan hakekat dari keselamatan itu.
“Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya.”
Sekali setahun Imam Besar Harun membawa dan mempersembahkan korban lembu jantan muda dan domba jantan. Lalu sebagian dari darah itu dibawa masuk ke Ruangan Maha Suci untuk mengadakan penebusan dan pendamaian. Tetapi dengan korban yang sama yang setiap tahun terus menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. Artinya: mereka yang hidup dibawah bayang-bayang hukum taurat tidak akan mungkin suci apalagi sempurna oleh karena korban dari domba jantan dan lembu jantan muda.
Tapi kenyataannya kita sendiri melihat bahwa:
Orang-orang farisi adalah hamba-hamba uang = cinta akan uang, menunjukkan bahwa orang-orang farisi hidup dan dikuasai oleh kenajisan percabulan.
Orang-orang farisi membenarkan diri di hadapan orang, jadi kebenaran itu hanya menurut hukum Taurat saja.
Perlu untuk kita ketahui bersama, kebenaran dari Sorga akan tembus sampai ke dalam hati manusia, yang walaupun tidak bisa dijangkau oleh mata manusia.
Jadi orang yang seperti inilah yang mencoba merebut Sorga dengan cara-cara yang serong, itu tidak mungkin, itu mustahil. Sebab mereka yang hidup dibawah bayang-bayang hukum Taurat tidak akan mungkin sempurna.
Ibrani 10:2: “... Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya …”
Justru oleh korban-korban binatang yang dipersembahkan, orang-orang mengulangi dosa karena di tahun yang akan datang, imam besar akan membawa darah korban penebusan dan pendamaian ke dalam Ruangan Maha Suci, sehingga sesudah disucikan, orang-orang akan terus berbuat dosa.
Ibrani 10:3: “... Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa ....”
Jadi korban itu merangsang dosa. Seperti itulah kehidupan orang-orang farisi, orang-orang munafik tadi. Jadi mereka itu tampak benar hanya pada bagian luarnya saja, itu sebabnya TUHAN berkata: kamu membenarkan diri di hadapan orang. (Lukas 16:15)
Mata manusia tidak bisa menembusi hati dan pikiran manusia yang terdalam. Tetapi TUHAN sanggup menebusi setiap hati dan pikiran manusia, tidak ada yang tersembunyi bagi TUHAN. Sebab itu kita tidak boleh hidup di bawah bayang-bayang hukum Taurat, ibadah tidak boleh kita jalankan menurut Hukum Taurat, dengan lain kata kita tidak boleh menjalankan ibadah ini hanya secara fisik (lahiriah) saja.
CONTOH: mulut memuliakan TUHAN, tapi hatinya jauh dari pemberitaan firman. Inilah ibadah yang dijalankan secara Taurat, tidak akan mungkin sempurna Ibrani 10:4.
Lukas 16:15b
(16:15) Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.
Selanjutnya Allah berkata kepada orang-orang Farisi: "Apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah." Dari pernyataan ini menunjukkan bahwa orang-orang farisi adalah sarangnya burung yang najis.
Wahyu 18:2-3
(18:2) Dan ia berseru dengan suara yang kuat, katanya: "Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci, (18:3) karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya."
Pendeknya, orang-orang farisi hidup di dalam kenajisan percabulan. Dan dosa semacam ini sangat dibenci oleh TUHAN.
Babel adalah ...
Tempat kediaman roh-roh jahat.
Tempat bersembunyi roh najis.
Tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci Tuhan.
Sebagai tambahan, biarlah kita mabuk anggur, tapi hendaklah mabuk anggur dari Sorga, sehingga…
Kita dengan mabuk kepayang cinta kepada TUHAN,
mabuk kepayang mengerjakan segala pekerjaan yang dipercayakan TUHAN di tengah ibadah dan pelayanan.
Sebab itu jangan kita mabuk anggur dari Babel, yang disebut kenajisan percabulan, yaitu: kaya, tapi oleh kelimpahan hawa nafsu perempuan Babel. Prakteknya;
meninggalkan jam-jam ibadah.
Berhasil mengelola bisnis, tapi meninggalkan jam-jam ibadah.
Kemudian memperoleh segala sesuatu, tetapi tidak sesuai dengan firman Allah, itu juga disebut kenajisan percabulan, dan seterusnya.
Dosa kenajisan percabulan ini sangat dibenci oleh TUHAN. Apa yang dikagumi oleh manusia, dibenci oleh Allah. Apa yang dikagumi orang farisi? jawabnya: uang. Satu sisi ada di tengah ibadah dan pelayanan, tapi disisi yang lain hatinya terpaut dengan mamon, terpaut dengan tuan yang lain, karena ternyata mereka adalah hamba-hamba uang.
TUHAN sangat membenci orang farisi, tetapi TUHAN akan mencintai kita bila terlepas dari kenajisan percabulan.
Perlu untuk diketahui:
Anak-anak Tuhan harus penuh dengan Roh Kudus = mabuk anggur dari Sorga. Sebagai gambarannya: Burung merpati hinggap di hidup kita.
Supaya anak-anak Tuhan tidak mabuk anggur dari Babel = Tidak dikuasai kenajisan percabulan atau bukan tempatnya (sarangnya burung yang najis).
Sesungguhnya, hidup kita adalah “tempatnya burung merpati”, bukan tempatnya burung yang najis.
Jadilah merpati-merpati bagi TUHAN, jadilah kekasih TUHAN yang mendapat pujian dari TUHAN. Di dalam Kidung Agung 4:1: “... Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau! Bagaikan merpati matamu di balik telekungmu. Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead …”
Betapa tulusnya Mempelai TUHAN menjalankan kehidupannya sehingga mendapat pujian dari sang kekasih jiwa kita, yaitu: Kepala Gereja, Mempelai Pria Sorga yang kita nanti-nantikan sekarang ini.
“Mata mempelai bagai merpati,” sebab dia tulus memandang ibadah dan pelayan ini, tulus memandang pekerjaan TUHAN. Tidak seperti orang farisi berlaku munafik di hadapan TUHAN, mereka berada di bawah bayang-bayang hukum taurat, mereka juga cinta akan uang/hidup dalam kenajisan percabulan.
“Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang” hal ini berbicara tentang kehidupan yang tergembala, berarti; dengar-dengaran dan mengikuti Gembala.
Turun dari pegunungan Gilead” berbicara tentang; ketundukan.
Jadi mempelai TUHAN selain tulus, juga hidup di dalam ketundukannya = taat / patuh pada ajaran yang benar.
Puji-pujian yang datang dari Mempelai Pria Sorga kepada sidang mempelai wanita TUHAN sungguh luar biasa. Pendeknya, kita dicintai oleh TUHAN apabila kita lepas dari kenajisan percabulan.
Jadilah merpatinya TUHAN, jangan menjadi tempatnya burung yang najis.
Lukas 16:16
(16:16) Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya.
TUHAN yang merancang (membentuk) Kerajaan kekal, Yerusalem baru hingga begitu rupa (sempurna), itu bukan milik nenek moyang. Jadi untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga tidak boleh suka-suka, kita harus ikuti caranya TUHAN. Kalau begitu, dalam menjalankan ibadah juga tidak boleh suka-suka. Imam-imam tidak boleh melayani TUHAN dengan suka-sukanya, harus dengan taat, setia, dengar-dengaran.
Saya berusaha menghimbau malam ini; bawalah hatimu menyatu dengan penggembalaan, menyatu dengan Yesus sebagai Gembala Agung, jangan sesuka hati untuk datang di tengah-tengah ibadah pelayanan.
Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai tampilnya Yohanes Pembaptis. Adapun tugas nabi dan kitab Taurat adalah untuk BERNUBUAT.
Tujuan dari nubuat adalah supaya kita mempunyai masa depan yang penuh pengharapan. Singkatnya, di masa yang akan datang hidup kita menjadi baik.
Namun ketika Yohanes Pembaptis menceritakan tentang masa depan (kerajaan Kekal), orang orang menggagahinya berebut memasukinya. Artinya: Seolah-olah untuk masuk ke dalam kerajaan Sorga bisa dengan cara mengandalkan kekuatan dan kelebihan-kelebihan yang ia miliki. Tetapi sesungguhnya tidaklah demikian.
Malam ini kita telah mendapat pengertian dari sebuah pemberitaan tentang kerajaan yang kekal yang dibentuk (dibangun) dan direncanakan oleh TUHAN. Maka kita tidak boleh menggagahinya, lalu berebut memasukinya, karena kerajaan Sorga tidak boleh diserong.
Kita bandingkan dengan Matius 11:12 : “... Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya …”
Sejak kerajaan kekal disampaikan oleh utusan TUHAN, kerajaan Sorga diserong, kemudian orang yang menyerongnya mencoba menguasainya dengan sesuka hatinya. Tidak bisa seperti itu, itu bukan warisan nenek moyang, itu warisan dari Sorga, dari TUHAN.
Lebih rinci …
Lukas 13:24 --- Perikop: "Siapa yang diselamatkan."
(13:24) Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.
Seseorang tidak akan masuk ke dalam kerajaan Sorga dengan kegagahannya, kemampuan, dan kelebihan yang dimiliki, dengan cara egonya. Tetapi kita harus rendah hati, artinya kita harus MENGIKUTI CARANYA TUHAN, bukan dengan cara manusia menggagahi, berebut untuk memasukinya.
Mulai sekarang, jadilah orang yang bijaksana, itu berarti; rendah hati untuk mengikuti cara TUHAN.
Akan tetapi, Yesus menunjukkan jalan untuk menujuk kerajaan kekal yaitu: Berjuang untuk masuk melalui pintu yang sesak + jalan yang sempit, sebagaimana yang tertulis dalam injil Matius 7:14: “... karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." …”
Pintu sesak + jalan sempit -> SALIB KRISTUS.
Mengapa kita harus menyebut dan mengakui salib Kristus? Dapat dianologikan dengan:
kedua penjahat yang dihukum gantung bersama Yesus (di sebelah kiri dan kanan), itu karena kejahatan mereka.
Tetapi Yesus dihukum gantung bukan karena kejahatanNya. Dia tidak berdosa, tetapi dijadikan dosa (dihukum gantung) itu namanya salib Kristus.
Sebaliknya, kalau seseorang berdosa, lalu karena dosa itu dia harus dihukum, itu bukan salib, tetapi itu adalah ganjaran yang sepantasnya.
Yesus tidak berdosa, tetapi dihukum di atas kayu salib, sehingga kita mengakuinya sebagai; salib Kristus, maka hal itu disebut dengan; pintu sesak dan jalan sempit. Pendeknya di dalam hal mengikut TUHAN, kita memang harus sangkal diri, pikul salib, bukan karena bersalah/berdosa.
Yohanes 14:3
(14:3) Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.
Sekarang Tuhan ada di dalam Kerajaan Kekal, namun akan kembali lagi untuk menjemput kita dan membawa kita ke tempat Dia berada saat ini.
Jadi kita tidak boleh merasa ditinggalkan seorang diri, meskipun menanggung banyak penderitaan, dengan menyangkal diri memikul salib saat ikut TUHAN. TUHAN sedang bekerja menyediakan tempat sebanyak jiwa yang diselamatkan.
Yohanes 14:4-5
(14:4) Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." (14:5) Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?"
Yesus berkata kepada murid-murid; “Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ."
Kita pun pasti tau jalan ke situ, karena TUHAN sudah melewati jalan itu.
Jalan TUHAN, sesuai dengan: Amsal 30:19.
YANG PERTAMA: “Yesus turun dari Sorga ke bumi menjadi manusia.”
Dalam keadaan manusia Yesus mendapat kesempatan untuk menderita sengsara dan mati di kayu salib, seperti jalan ular di atas cadas.
YANG KEDUA: “jalan kapal di atas laut” itu berbicara tentang; kebangkitan.
Biru laut -> kebangitan seorang hamba.
YANG KETIGA: “Jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.” Mempelai laki-laki dan mempelai perempuan satu kali masuk dalam pesta kawin Anak domba… Wahyu 19:6-8.
Sebenarnya, TUHAN sudah menunjukkan jalan itu kepada murid-murid, termasuk kepada Tomas.
Tetapi Tomas berkata kepada Yesus:
"Kami tidak tahu kemana Engkau pergi."
"Bagaimana kami tahu jalan ke situ." = tidak tahu jalan ke Sorga.
Yohanes 14:6-7
(14:6) Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (14:7) Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui pintu sesak dan jalan sempit.
“…Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku…”
Dari pernyataan Yesus kepada murid-murid; ternyata Tomas dan murid-murid yang lain belum mengenal Yesus secara pribadi.
Pendeknya, “jalan menuju kerajaan Sorga” ialah; harus terlebih dahulu mengenal Yesus dan salib-Nya secara pribadi.
Filipi 3:10-11
(3:10) Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, (3:11) supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
Untuk mengenal Tuhan secara pribadi, dimulai dari: “Persekutuan dalam penderitaan-Nya” = Menderita sengsara di atas kayu salib.
Oleh karena penderitaan di atas kayu salib ...
Yesus mati.
Yesus bangkit = Hidup untuk selama-lamanya.
Jadi, jalan untuk menuju kerajaan Sorga (kerajaan kekal) ialah: pintu sesak, jalan sempit. Kita tidak mungkin berada di dalam kerajaan Sorga dengan mengambil jalannya sendiri, yaitu: mencoba menguasai dan menggagahi kerajaan Sorga.
CIRI-CIRI TELAH MELEWATI JALAN SEMPIT DAN PINTU SESAK
Lukas 16:16-17
(16:16) Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya. (16:17) Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.
Sebetulnya, ciri-ciri telah melalui pintu sesak + jalan sempit: menjadi SATU TITIK.
Satu titik artinya: Kerendahan di hati hingga mau dan rela menjadi kecil.
Dan Yohanes Pembaptis adalah orang yang rendah hati. Namun, orang yang mau menjadi kecil adalah pribadi Yesus Kristus, itulah satu titik. Sebab pada Injil Matius 11:11: “... Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. …”
Yang terkecil itu Titik, itulah Pribadi Yesus Kristus. Sedangkan yang rendah hati, itulah pribadi Yohanes Pembaptis, karena ia tidak sampai kepada rahim bumi. Yang sampai kepada rahim bumi adalah titik, Yesus Kristus, Dia mau menjadi kecil dan rela dikecilkan di dalam perut bumi.
Inilah ciri orang yang melewati jalan sempit dan pintu sesak, pertama-tama ia rendah hati, yang kedua ia mau menjadi kecil dan rela dikecilkan, itulah satu titik.
Tidak usah kita panas hati dan mudah tersinggung, lalu mencari pembelaan diri dengan menghasut orang lain. Jangan seperti itu lagi. Kalau salah langsung datang berdamai kepada Allah, akui; saya salah. Ini orang yang rendah hati = 1 (satu) iota. Dan TUHAN sudah mengambil alih satu titik; kecil dan rela dikecilkan. TUHAN yang menyempurnakan kerendahan di hati kita masing-masing.
Selamat berjuang, selamat menempuh PINTU SESAK + JALAN SEMPIT. Kiranya TUHAN merahmati kita semua hingga tiba di dalam Kerajaan Kekal, Kota Kudus, Yerusalem Baru.
Jangan ada satupun diantara kita yang coba-coba mengurangi atau menambahi atau berlaku serong terhadap kerajaan Sorga. Dan tidak ada yang bisa masuk ke dalam kerajaan Sorga dengan merebut dan menguasainya dengan sesuka hati. Tetapi kita harus rendah hati, artinya mau mengikuti caranya TUHAN.
Sebenarnya TUHAN telah menunjukkan jalan ke Sorga, sebab TUHAN berkata; Akulah jalan, Akulah kebenaran, Akulah hidup (Yohanes 14:6). Tidak ada seorang pun yang sampai kepada Bapa kalau tidak melalui pintu sesak, jalan sempit, ciri-cirinya mau merendahkan diri dan SATU TITIK.
Dan Yesus sendiri adalah: titik; kecil dan rela dikecilkan. Sedangkan Kerendahan di hati kita disempurnakan oleh satu titik, karena dengan satu titik lajunya dosa berhenti.
Titik (.) kecil tapi mampu menghentikan lajunya dosa seperti menghentikan sebuah kalimat dengan kata-kata yang begitu panjang. Begitu koma datang, masih lanjut berbuat dosa, tetapi begitu tampil Yesus yang mau menjadi satu titik, Dia menyempurnakan kerendahan di hati (,) sehingga dosa itu berhenti di dalam kehidupan kita, sehingga kita layak dikatakan masuk dalam kerajaan kekal (hidup kekal), AMIN.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment