IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 05 MEI 2026
SURAT YUDAS 1:11
(Seri: 21)
Subtema: MEMUTAR
BALIK FAKTA
Shalom.
Mula
pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya kita
sekaliannya dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus untuk selanjutnya
digembalakan oleh korban sehari-hari sampai kepada dua klimaks;
1. Kesempurnaan dari Mempelai TUHAN.
2. Wujudnya doa penyembahan.
Dan
sebentar kita akan tersungkur di ujung kaki salib TUHAN, sujud menyembah kepada
Dia, biarlah itu terjadi, tentu saja setelah hati dan hidup kita diteguhkan
oleh kebenaran dari Firman Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel
karena Yesus adalah Tabernakel sejati.
Mari
kita sambut SURAT YUDAS sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Doa
Penyembahan dari Yudas 1:11 sebagai seri yang ke-21. Doa saya
biarlah kiranya damai sejahtera menguasai hati kita semua sehingga kita boleh
duduk diam dan tenang saat mendengarkan sabda ALLAH. Namun tetaplah berdoa
dalam Roh mohon kemurahan daripada TUHAN supaya Firman yang dibukakan itu
meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Yudas
1:11
(1:11) Celakalah
mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena
mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan
mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.
“Celakalah mereka...”
antara lain:
a.
Karena mereka mengikuti jalan yang
ditempuh Kain.
b.
Oleh sebab upah, menceburkan diri ke
dalam kesesatan Bileam.
c.
Mereka binasa karena kedurhakaan
seperti Korah.
Tentang: MEREKA BINASA KARENA KEDURHAKAAN
SEPERTI KORAH (Bagian 9)
Bilangan 16:1-2 -- Perikop: "Pemberontakan Korah,
Datan dan Abiram."
(16:1) Korah
bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram, anak-anak
Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak orang-orang (16:2)
untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang
Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat,
semuanya orang-orang yang kenamaan.
Korah dan kumpulannya bangkit untuk memberontak melawan
Musa.
Adapun orang-orang yang bergabung dalam kumpulan Korah
adalah: Datan, Abiram, dan On, serta 250 pemimpin-pemimpin kenamaan.
Bilangan 16:9-11
(16:9) Belum
cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh ALLAH Israel dari umat Israel dan
diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada
Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, (16:10)
dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu
bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi? (16:11)
Sebab itu, engkau ini dengan segenap kumpulanmu, kamu bersepakat melawan TUHAN.
Karena siapakah Harun, sehingga kamu bersungut-sungut kepadanya?"
Di sini kita melihat, Korah menuntut pangkat imam lagi.
Inilah yang menjadi motif sehingga Korah dan kumpulannya
memberontak melawan Musa dan Harun.
Padahal Korah dan segenap bani Lewi telah diberi kesempatan
untuk:
- Melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN.
- Bertugas untuk melayani umat Israel.
Singkat kata, Korah dan kumpulannya bersepakat melawan Musa.
Bilangan 16:12
(16:12) Adapun Musa
telah menyuruh orang untuk memanggil Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, tetapi
jawab mereka: "Kami tidak mau datang.
Datan dan Abiram tidak mau datang ketika dipanggil oleh
Musa, menunjukkan bahwa:
- Datan dan Abiram tidak memiliki Roh
ketundukan = Tidak taat dan tidak dengar-dengaran.
- Tidak menghormati tahbisan suci dan urapan.
Bilangan 16:13-14
(16:13) Belum cukupkah,
bahwa engkau memimpin kami keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah
susu dan madunya untuk membiarkan kami mati di padang gurun, sehingga masih
juga engkau menjadikan dirimu tuan atas kami? (16:14) Sungguh, engkau
tidak membawa kami ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,
ataupun memberikan kepada kami ladang-ladang dan kebun-kebun anggur sebagai
milik pusaka. Masakan engkau dapat mengelabui mata orang-orang ini? Kami tidak
mau datang."
Datan dan Abiram menuduh Musa telah melakukan 2 (dua) hal
yaitu :
- Musa dituduh menjadikan dirinya tuan atas
umat Israel.
Sebenarnya tidaklah demikian, karena
sesungguhnya Musa telah mengambil rupa hamba, dia telah merendahkan dirinya
serendah-rendahnya dan hidup di dalam doa penyembahan.
- Musa dituduh mengelabui mata umat Israel.
Tuduhan ini menunjukkan bahwa Musa berlaku
munafik / licik. Sebenarnya tidaklah demikian, karena sesungguhnya Musa setia
dalam segenap rumah TUHAN dan dia hidup dalam ketulusan di hadapan TUHAN.
Apapun yang dikerjakan oleh Musa di dalam
rumah TUHAN, itu karena dia adalah orang yang tulus dan dia juga setia dalam
segenap rumah TUHAN, bukan untuk mengelabui mata orang.
Kita pun datang menghadap TUHAN, beribadah
dan melayani TUHAN bukan untuk mengelabui mata orang, tidak untuk berlaku
munafik.
DAMPAK NEGATIF tidak tunduk atau tidak menghormati tahbisan
(urapan), Datan dan Abiram menganggap bahwa:
- Tanah Mesir adalah suatu negeri yang berlimpah-limpah
susu dan madunya sehingga layak menjadi milik pusaka. Sedangkan,
- Tanah Kanaan tidak diakui sebagai milik
pusaka / tanah warisan.
Itu dampak
negatif bila tidak ada ketundukan dan tidak menghormati tahbisan.
Intinya: Tidak percaya pada janji TUHAN, tidak percaya bahwa
Sorga itu nyata. Kalau percaya bahwa Sorga itu nyata pasti ada ketundukan,
pasti menghormati tahbisan dan yang terkait di dalamnya; ibadah dan pelayanan,
karunia-karunia dan jabatan-jabatan Roh Kudus.
Singkat kata, Datan dan Abiram memutar balik fakta
kebenaran.
Keluaran 1:10-12 -- Perikop: "Orang Israel ditindas
di Mesir."
(1:10) Marilah
kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah
banyak lagi dan -- jika terjadi peperangan -- jangan bersekutu nanti dengan
musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini." (1:11)
Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas
mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota
perbekalan, yakni Pitom dan Raamses. (1:12) Tetapi makin ditindas,
makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut
kepada orang Israel itu.
Orang Mesir menindas bangsa Israel dengan kerja paksa.
Tatapi anehnya, makin ditindas, makin bertambah banyak
dan berkembang.
Dari sini saja kita bisa melihat bahwa sesungguhnya tanah
Mesir adalah tanah perbudakan, bukan limpah susu dan madu.
Itu sebabnya tadi saya katakan; Datan dan Abiram telah
memutar balik fakta kebenaran karena sesungguhnya tanah Mesir adalah tanah
perbudakan.
Artinya: Oleh karena SALIB kerohanian seseorang akan
semakin bertumbuh dan berkembang.
Jadi, kerohanian bertumbuh dan berkembang ke kiri dan ke
kanan karena tekanan, penindasan itulah gambaran dan bayangan dari salib di
Golgota.
Kerohanian berkembang bukan karena seseorang berhasil dalam
hal mengerjakan suatu pekerjaan, bukan karena dia sudah mencapai cita-citanya.
Memang kita sudah mengakui bahwa tanah Mesir adalah tanah
perbudakan, tetapi meskipun demikian, kalau kita mau menerima kenyataan hidup,
kerohanian pasti bertumbuh dan berkembang. Tekanan dan penindasan adalah
gambaran dari salib di Golgota.
Jangan kita mau berselisih satu dengan yang lain sekalipun
ada sesuatu yang tidak cocok di hati. Jangan tiba-tiba kita hakimi orang lain,
sabar-sabar saja. Kalau kita mau menerima tekanan pasti kerohanian kita
bertumbuh dan berkembang, jangan cepat-cepat labrak orang lain, sabar-sabar
saja dulu, kita mengambil sisi positifnya saja, meskipun tadi saya katakan;
Mesir bukanlah milik pusaka, tidak limpah susu dan madu, tetapi sekalipun
demikian, kita harus mengambil sisi positifnya. Meskipun tertindas dan
tertekan, namun nanti kerohanian kita akan bertumbuh dan berkembang.
Kejadian 1:13-14
(1:13) Lalu dengan
kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, (1:14) dan memahitkan
hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat
dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan
yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.
Orang Mesir memahitkan hidup bangsa Israel dengan
pekerjaan yang berat. Adapun pekerjaan berat tersebut:
1. Mengerjakan tanah liat.
2. Mengerjakan batu bata.
3. Mengerjakan berbagai-bagai pekerjaan di
padang.
Tiga pekerjaan yang dikerjakan oleh bangsa Israel menandakan
terjadinya peralihan status, yang awalnya datang dari Kanaan ke Mesir sebagai tamu
yang dihormati, namun akhirnya menjadi budak tingkat rendah di Mesir.
Kalau umpamanya bekerja di Kantor, itukan lebih mulia dari
orang yang mengerjakan tanah bercampur lumpur. Kelasnya orang yang mengerjakan
tanah dengan orang yang bekerja di kantoran pasti beda.
Jadi dengan pekerjaan itu menandakan bahwa terjadilah
peralihan status, awalnya sebagai tamu dihormati dari Kanaan namun akhirnya
menjadi budak tingkat rendah di Mesir.
Hal ini mengingatkan kita pada pribadi Yesus Kristus, dari
Sorga turun ke bumi, dengan demikian Ia rela melepaskan status-Nya dan
reputasi-Nya sebagai ALLAH yang mulia dan menjadi manusia yang hina.
Sebagai manusia, Yesus telah
…
Filipi 2:5-8
(2:5) Hendaklah
kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga
dalam Kristus Yesus, (2:6) yang walaupun dalam rupa ALLAH, tidak menganggap
kesetaraan dengan ALLAH itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (2:7)
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa
seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (2:8) Dan dalam
keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,
bahkan sampai mati di kayu salib.
Yesus adalah ALLAH yang menjadi manusia, berarti dari Sorga
turun ke bumi.
Berarti, Yesus telah melepaskan status-Nya dan reputasi-Nya
sebagai ALLAH yang mulia, dan Ia rela menjadi manusia yang hina.
Sebagai manusia Ia telah:
a. MENGOSONGKAN DIRI, artinya:
1. Menghampakan diri = Hidup-Nya dengan sepenuhnya
didominasi oleh Roh ALLAH yang suci (Ayat referensi: Yohanes 3:8).
2. Berada di titik nol, artinya: Merendahkan diri
dengan serendah-rendahnya, bahkan mau menjadi kecil dan rela dikecilkan.
b. MENGAMBIL RUPA SEORANG HAMBA.
Dalam hal ini ALLAH telah dipermuliakan di
dalam diri Yesus, hal itu dapat dibaca dan dipelajari di dalam Lukas 17:7-10.
Pendeknya, Yesus rela menjadi miskin supaya kita menjadi
kaya, Dia yang mulia rela menjadi hina supaya kita menjadi mulia oleh karena
salib kasar hina itu sendiri.
Yesus harus turun dari Sorga ke bumi, Yesus adalah ALLAH
menjadi manusia supaya dengan demikian, Ia mendapat kesempatan menderita
sengsara dan mati di atas kayu salib supaya yang miskin menjadi kaya, yang hina
seperti tanah liat menjadi mulia.
Berarti dari sini kita bisa melihat, tidak ada ruginya
beribadah dan melayani di tengah-tengah ibadah itu sendiri meskipun harus
menyangkal diri dan memikul salib sampai berdarah-darah, tidak ada ruginya.
Hanya orang bodoh saja yang mengatakan salib itu adalah kebodohan seperti
Bangsa Kafir.
Kita lihat dulu, tanah liat / kehidupan yang hina menjadi
mulia, telah Yesus kerjakan di atas kayu salib dan nabi Yeremia memberi
perumpamaan itu di dalam …
Yeremia 18:1-6 -- Perikop: "Pelajaran dari pekerjaan
tukang periuk."
(18:1) Firman yang
datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: (18:2) "Pergilah dengan
segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan
perkataan-perkataan-Ku kepadamu." (18:3) Lalu pergilah aku ke rumah
tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. (18:4)
Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak,
maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa
yang baik pada pemandangannya. (18:5) Kemudian datanglah firman TUHAN
kepadaku, bunyinya. (18:6) "Masakan Aku tidak dapat bertindak
kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman
TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu
di tangan-Ku, hai kaum Israel!
Seperti tanah liat di tangan penjunan (tukang periuk),
demikianlah hidup manusia di tangan TUHAN.
TUHAN Yesus Kristus adalah penjunan (tukang periuk),
sedangkan manusia adalah tanah liat.
Berarti, TUHAN ALLAH berkuasa
membentuk setiap kehidupan kita pribadi lepas pribadi, dan Ia membentuk kita
menurut teladan ALLAH, segambar dan serupa dengan ALLAH sebagaimana Adam dan
Hawa di dalam penciptaan semula.
Namun, apabila tanah liat (manusia) yang dibentuk-Nya itu
rusak karena dosa-dosanya maka TUHAN
juga sangat berkuasa untuk membentuk kembali menjadi BEJANA YANG BARU, bejana
yang lebih baik lagi dan TUHAN telah mengerjakan hal itu 2000 tahun yang lalu
di atas kayu salib.
Mari kita menyerahkan hidup yang hina ini, gambaran dari
tanah liat ke dalam tangan pengasihan TUHAN sebab Dia adalah penjunan dan kita
adalah tanah liat, Dia berkuasa untuk membentuk kita. Kalaupun ada
kerusakan-kerusakan di sana-sini (dosa), Dia juga berkuasa untuk membentuk kita
kembali lebih baik dari yang semula.
Jadi saudara, tanah Mesir itu tidaklah limpah susu dan madu,
justru susu dan madu itu datang dari salib sebetulnya, kalau kita mengambil
sisi positif dari pengalaman hidup ini, dari situ nanti kita bisa menikmati
susu dan madu.
Tanah Mesir bukan tanah yang limpah susu dan madu.
Ayo, maknailah setiap pengalaman-pengalaman hidup yang kita
lalui. Itu sebabnya kita banyak belajar dan terus belajar setiap hari sampai
selama-lamanya, selama kita di bumi teruslah belajar untuk memaknai arti
kehidupan atau pengalaman yang kita lalui. Pengalaman adalah guru yang terbaik,
belajarlah dari pengalaman hidup.
Keterangan: BANGSA ISRAEL MENGERJAKAN BATU
BATA.
Tujuannya untuk membangun dua kota yaitu: Pitom dan Raamses
itulah kota-kota perbekalan bagi Firaun.
Hal ini mengingatkan kita pada zaman Yusuf, ia mendirikan
lumbung untuk mengumpulkan gandum pada tujuh tahun kelimpahan di Mesir. Lalu
setelah lewat tujuh tahun kelimpahan datanglah tujuh tahun kelaparan melanda
dunia.
Kejadian 41:57
(41:57) Juga dari
seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab
hebat kelaparan itu di seluruh bumi.
Yusuf mendirikan lumbung-lumbung untuk mengumpulkan gandum
sebagai perbekalan saat nanti tiba tujuh tahun kelaparan dan setelah tiba tujuh
tahun kelaparan atas dunia, seluruh dunia datang ke Mesir untuk membeli gandum.
Namun yang sangat disayangkan kalau kita melihat pengalaman
bangsa Israel pada ayat ini; kedua kota dibangun khusus untuk Firaun, bukan
untuk dijual belikan bagi orang yang dilanda kelaparan.
Padahal Alkitab berkata di dalam, Amos 8:11; satu
kali nanti akan terjadi kelaparan yang hebat, bukan kelaparan akan makanan dan
bukan kehausan akan air, melainkan lapar dan haus akan mendengarkan Firman
TUHAN.
Kalau Yusuf membangun / mendirikan lumbung-lumbung untuk
menyimpan gandum sebanyak-banyaknya, itu persediaan di masa kelaparan. Tetapi
Firaun mengumpulkan gandum sebagai perbekalan bagi dirinya sendiri, sangat
egois sekali.
Keterangan: BANGSA ISRAEL MENGERJAKAN
BERBAGAI-BAGAI PEKERJAAN DI PADANG.
Padang 🡪 Dunia dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya.
Hal ini mengingatkan kita kepada ESAU.
- Esau adalah seorang yang suka tinggal di padang,
sebab
- Esau adalah seorang yang suka daging buruan.
Yesus pernah berkata; tubuh-Nya adalah benar-benar makanan
dan darah-Nya adalah benar-benar minuman.
Inilah makanan dan minuman yang sebenarnya seperti yang
tertulis di dalam Yohanes 6:55 -- Sebab daging-Ku adalah benar-benar
makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. --
Tubuh dan darah Yesus adalah makanan dan minuman yang benar.
Jangan kita sama seperti Esau.
Keluaran 1:11
(1:11) Sebab itu
pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan
kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan,
yakni Pitom dan Raamses. (1:12) Tetapi makin ditindas, makin bertambah
banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel
itu.
Tujuan kerja paksa atas bangsa
Israel di Mesir adalah untuk MENINDAS.
Namun, semakin ditindas, semakin bertambah banyak dan
berkembang.
Saudara, kita senantiasa berdoa, mohonlah kemurahan-Nya
supaya TUHAN memberi kekuatan kepada kita untuk menghadapi segala jenis penindasan
dan bila kita menyadari penindasan itu terjadi atas seijin TUHAN maka tentu rohani
kita semakin hari akan semakin berkembang.
Jadi perkembangan rohani itu akan nyata dan semakin pesat
bila kita sadar bahwa kita harus benar-benar menyangkal diri dan memikul salib.
Kalau begitu, mana yang lebih diuntungkan? Si penindas atau
orang yang rela menerima tindasan?
Yang diuntungkan adalah: orang yang sadar dan rela menerima
penindasan dan tekanan. Yang dirugikan adalah: orang yang menindas (menekan)
orang lain. Itu dari sisi kacamata rohani, tetapi dari sisi kacamata manusia
daging, si penindas itu diuntungkan dan yang tertindas dirugikan. Pilih mana,
kita berpikir secara manusiawi atau berpikir secara rohani?
Singkat kata, tanah Mesir bukanlah suatu negeri yang
berlimpah susu dan madu dan Mesir tidak layak untuk dijadikan sebagai milik
pusaka.
Coba kita bandingkan dengan …
Ibrani 11:13-14
(11:13) Dalam iman
mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang
dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-l ambai
kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di
bumi ini. (11:14) Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa
mereka dengan rindu mencari suatu tanah air.
Lihat
orang-orang / keturunan Abraham yang hidup dari iman Abraham; menganggap bahwa
mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi. Dari situ kita
bisa melihat bahwa; Mesir gambaran dari bumi tidak layak untuk dijadikan
sebagai milik pusaka yang diwariskan. Tetapi mereka yang hidup dari iman
Abraham tetap merindukan satu tanah air itulah tanah air sorgawi bahkan sampai
mati pun mereka tetap melambai-lambaikan tangannya, mengharapkan satu tanah air
untuk diwariskan kepada mereka sebagai milik pusaka yaitu tanah air sorgawi
sebagaimana pada ayat 14; rindu mencari suatu tanah air.
Mesir
tidak layak untuk dijadikan sebagai milik pusaka sebab di Mesir tidak limpah
susu dan madu.
Jadi
jangan terlena dengan segala sesuatu yang disuguhkan oleh dunia ini, itulah
kerajaan dunia dengan kemegahannya.
Ibrani 11:15
(11:15) Dan kalau
sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka
tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.
Mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan,
maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. Tetapi sekalipun demikian, mereka tidak mau kembali kepada
masa lalu sekalipun ada kesempatan.
Ada peluang kerja di Dubai, ada peluang kerja di Eropa, ada
peluang kerja di Amerika, ada peluang kerja di negara-negara maju, mereka tidak
mau ke situ karena mereka rindu satu tanah air itulah Kerajaan Sorga yang
menjadi warisan (milik pusaka).
Jadi suadara bersyukur saja, tidak perlu kecewa melihat
orang yang nampaknya berhasil karena dia bekerja di negara-negara maju. Tetapi
apa artinya kalau ia tidak di dalam rumah TUHAN, apa artinya kalau dia tidak
tinggal di dalam TUHAN, apa artinya kalau dia jauh dari kasih ALLAH yang
sempurna, tidak ada artinya. Dahulu kita tidak memahami pengertian-pengertian
yang semacam ini. Tetapi setelah kita dipanggil dan kita tinggalkan masa lalu
barulah sekarang pikiran kita terbuka lalu mengerti dan melihat rencana ALLAH
begitu besar / begitu indah dinyatakan di dalam kehidupan kita masing-masing
saudara ku.
Jadi, Datan dan Abiram ini memutar balik fakta kebenaran,
mengapa? Karena mereka tidak tunduk dan tidak hormat kepada tahbisan suci. Coba
kalau mereka percaya bahwa Sorga itu ada, pasti tunduk kepada pimpinannya dalam
hal ini Musa, pasti dia menghormati tahbisan yang datang dari Sorga. Yang
terkait dengan tahbisan adalah ibadah dan pelayanan ini.
Dahulu kita hidup sama seperti Datan dan Abiram, tidak mau
datang, tidak mau tunduk, tidak mau hormat kepada tahbisan, tetapi sekarang,
kalau malam ini ketika kita datang menghadap TUHAN lewat Ibadah Doa Penyembahan
dan kita mau menghormati tahbisan suci yang dipercayakan oleh TUHAN, itu adalah
anugerah / kemurahan TUHAN yang besar dinyatakan kepada kita.
Sebaliknya negeri Kanaan adalah tanah yang layak dijadikan
sebagai milik pusaka bagi Abraham, Ishak, dan Yakub, serta keturunannya.
Tandanya; Kanaan itu limpah susu dan madu.
Itukan
yang dijanjikan TUHAN kepada Abraham, Ishak, dan Yakub?
TUHAN
memanggil Abraham dan dia taat terhadap panggilan itu, dia pun berangkat ke
tanah yang dijanjikan TUHAN meskipun tanah yang dijanjikan TUHAN itu tidak ai
ketahui, namun ia tetap berangkat dan selanjutnya TUHAN berkata bahwa Tanah
Kanaan itu limpah susu dan madu.
MADU,
bila dicicipi manis di langit-langit mulut.
Wahyu
10:8-9
(10:8) Dan suara yang telah kudengar dari langit itu, berkata pula
kepadaku, katanya: "Pergilah, ambillah gulungan kitab yang terbuka di
tangan malaikat, yang berdiri di atas laut dan di atas bumi itu." (10:9)
Lalu aku pergi kepada malaikat itu dan meminta kepadanya, supaya ia memberikan
gulungan kitab itu kepadaku. Katanya kepadaku: "Ambillah dan makanlah dia;
ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa
manis seperti madu."
Sesuai
dengan perintah TUHAN, Yohanes mengambil gulungan kitab yang terbuka itulah
Pengajaran Firman ALAH yang murni yang benar, yaitu:
1. Firman
Pengajaran yang rahasianya dibukakan, ayat menerangkan ayat, ayat yang satu
dijelaskan oleh ayat yang lain dari Kejadian sampai Wahyu.
2. Firman
Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel.
Sesudah Yohanes mengambilnya lalu
dimakan.
Malam
ini, kita datang menghadap TUHAN hanya untuk satu tujuan; memuliakan TUHAN, di
tengah-tengahnya kita mengambil gulungan kitab itulah Firman Pengajaran yang
rahasianya dibukakan dalam terangnya Roh EL-Kudus; Firman Pengajaran Mempelai
dalam terangnya Tabernakel. Memang ketika dimakan, Alkitab berkata; di perut
terasa pahit artinya; ketika Firman ALLAH yang dibukakan itu bekerja dan
mengerjakan seluruh bagian hidup kita, tinggal di dalam hidup kita dan mengerjakan
hidup kita, itu rasanya pahit sebab hidup di dalam kebenaran pasti ditandai
dengan banyak pengorbanan itulah yang disebut aniaya karena Firman ALLAH.
Rasanya pahit, tidak mungkin tidak pahit, tetapi kalau kita mau bersabar, di
mulut terasa manis seperti madu. Mengapa? Karena Firman ALLAH sangat berkuasa
untuk dua hal:
1. Mengadakan yang tidak ada menjadi ada.
2. Menghidupkan yang mati kaitannya adalah orang
yang berdosa sebab upah dosa adalah maut (mati).
Jadi
ketika Firman ALLAH itu bekerja di dalam hidup kita, pahit rasanya, tetapi di
mulut (hasilnya) terasa manis seperti madu. Itu bukti bahwa Tanah Kanaan itu limpah
susu dan madu.
Itulah
tanah yang dijanjikan TUHAN, TUHAN memanggil kita dari masa lalu (jaman
jahiliyah) lalu dibawa ke tanah Kanaan Rohani.
Apa
tandanya sekarang kita ada di tanah Kanaan rohani? Tanah Kanaan Rohani limpah
susu dan madu, ada pembukaan Firman ALLAH.
Waktu
pertama kali kita mendengarkan Firman yang rahasianya dibukakan dalam terangnya
Roh El-Kudus itulah Firman Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel
rasanya pahit dan tidak sedikit diantara kita hendak meninggalkan Kanaan rohani,
hampir semua kita seperti itu. Tetapi oleh kemurahan hati TUHAN kita disadarkan
karena memang harus bertahan sebagaimana Rasul Yohanes di Pulau Patmos, sesuai
perintah TUHAN dia pergi kepada malaikat itu dan meminta gulungan kitab yang
terbuka lalu memakan gulungan Kitab itu.
Ketika
gulungan kitab dimakan, di perut terasa pahit karena kita diajar untuk
hidup benar sesuai dengan Firman, bukan benar sesuai pengertian kita, tetapi
hasilnya terasa manis seperti madu.
Jadi
saudara, malam ini TUHAN tampil sebagai urim menerangi hati kita dari
segala jenis kegelapan, Dia juga tampil sebagai tumim, dialah pedang
ALLAH, Firman ALLAH yang hidup, kuat, dan berkuasa untuk menceraikan
(memisahkan) kita dari dosa.
Terpujilah
kasih karunia TUHAN yang telah memanggil kita, hendaklah kita taat terhadap
panggilan, karena TUHAN mau membawa kita ke Tanah Perjanjian (negeri Kanaan),
limpah susu dan madu. Jangan kita putar balik fakta kebenaran seperti Datan dan Abiram mengatakan bahwa
Mesir yang adalah gambaran dari dunia ini, limpah susu dan madu sehingga
dikatakan layak sebagai Tanah milik pusaka. Tetapi kita tidak mau memutar balik
fakta kebenaran, kebenaran tetaplah kebenaran. AMIN.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA
MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment