KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Wednesday, February 25, 2026

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB 05 FEBRUARI 2025

 


IBADAH PENDALAMAN ALKITAB 05 FEBRUARI 2025

 

KITAB MALEAKHI

(Seri: 26)

 

Subtema: MENDENGARKAN SUARA GEMBALA

 

Shalom.

Mula pertama saya ucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya kita sekaliannya dihimpuna di atas gunung TUHAN yang kudus, sehingga kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci.

Kiranya hadirat TUHAN, kuasa dari tempat yang Maha Tinggi menguasai seluruh kehidupan kita, Dia berkuasa dan bertakhta di hati kita sehingga kita boleh duduk diam dan bahagia saat mendengarkan sabda ALLAH dekat kaki TUHAN.

 

Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN, Bapak/Ibu Saudara terkasih yang mengikuti secara online dimanapun saudara berada, biarlah kiranya damai sejahtera dari Sorga memerintah di hati kita sehingga ada sukacita dari Sorga saat kita duduk diam mendengarkan sabda ALLAH.

 

Secepatnya kita sambut KITAB MALEAKHI sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab dari Maleakhi 2:15 sebagai seri pemberitaan Firman TUHAN untuk yang ke-26 kalinya.

 

Maleakhi 2:15

(2:15) Bukankah ALLAH yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.

 

Demi KETURUNAN ILAHI, ALLAH berfirman: “Jagalah dirimu!”

Oleh sebab itu, kita sebagai anak-anak TUHAN / umat TUHAN harus menjaga diri kita masing-masing dengan baik. Namun di dalam hal menjaga diri harus menggunakan caranya TUHAN, tidak perlu bersusah-susah dengan menggunakan metode ini dan itu; menggunakan cara-cara manusiawi dan duniawi di dalam hal mengerjakan apapun, sebab seringkali kita menggunakan cara sendiri, bertindak menggunakan cara manusiawi, bahkan seringkali kita mengabaikan penggembalaan dan suara gembala. Sebab di dalam Mazmur 127:1 dikatakan: “… jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”

 

Soal menjaga diri dengan caranya TUHAN kita akan belajar dari Keluaran 23:20.

Keluaran 23:20 -- Perikop: “Janji dan tegoran kepada Israel.”

(23:20) "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan.

 

TUHAN mengutus seorang malaikat berjalan di depan umat Israel, pernyataan ini sama artinya: Seorang gembala menuntun kawanan domba ALLAH.

Adapun tugas gembala di tengah pengutusannya:

a.       Melindungi umat Israel di jalan.

Sebab di dalam perjalanan bangsa Israel di padang gurun, bangsa Israel dihadang oleh banyak musuh.

YANG PERTAMA: dihadang oleh bangsa Amalek (Ayat referensi: Keluaran 17:8-16). Kemudian, sasaran dari Amalek adalah barisan belakang -> orang-orang yang lemah dan lelah. Lemah dan lelah adalah gambaran dari orang-orang yang tidak berada pada hari perhentian = Tidak menghargai hari sabat yakni ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok.

Kalau kita bekerja tanpa hari perhentian, tanpa hari ketujuh, mengabaikan hari sabat, mengabaikan ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok maka orang semacam ini akan menjadi lelah dan lemah.

 

MUSUH BERIKUTNYA: bangsa Israel dihadang oleh bangsa Amori, Moab, Amon dan Midian, bahkan Edom tidak mengizinkan bangsa Israel lewat dari daerah mereka / pegunungan mereka. Tetapi tidak mengapa karena Edom (Esau) adalah saudara sedaging daripada Yakub, mereka dilarang untuk berperang menghadapi Edom.

Saudara, kalau kita tergembala maka kita juga harus memperhatikan saudara sedaging, memperhatikan orang lain. Sebab perjuangan kita bukan melawan darah daging, itu sebabnya Israel dilarang untuk menghadapi Edom.

 

Tetapi Amalek, Amori, Moab, Amon, dan Midian semua bangsa-bangsa yang menghadang ini pada akhirnya dikalahkan oleh bangsa Israel.

Itulah sebabnya TUHAN mengutus seorang malaikat TUHAN berjalan di depan bangsa Israel, sama seperti gembala berjalan di depan domba-domba, tujuannya untuk melindungi mereka di jalan, sebab di jalan banyak sekali musuh yang menghadang. Dimulai dari Amalek, sasaran mereka adalah barisan belakang, kemudian Amori, Moab, Amon, dan Midian. Walaupun pada akhirnya semua bangsa-bangsa yang menghadang di Padang Gurun dikalahkan oleh umat Israel karena ada seorang malaikat TUHAN yang menuntun perjalanan bangsa Israel.

 

b.       Untuk membawa umat Israel ke tempat yang telah TUHAN sediakan à Tanah Perjanjian.

Yesus adalah Gembala yang baik, sebab Ia telah menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya, hal ini menunjukkan bahwa selain sebagai Gembala, Yesus juga Imam Besar Agung yang memimpin umat-Nya sampai ke tempat yang TUHAN sediakan.

Tempat yang TUHAN sediakan bila dikaitkan dengan Pengajaran Tabernakel terkena kepada RUANGAN MAHA SUCI.

Menurut apa yang dilihat oleh Rasul Paulus ketika ia diangkat ke tingkat yang ketiga dari Sorga, yang tertulis di dalam Ibrani 9:4, di dalam Ruangan Maha Suci terdapat 2 (dua) hal:

1.       Tabut Perjanjian à Sidang mempelai TUHAN atau gereja TUHAN yang sempurna.

2.       Mezbah Pembakaran Ukupan dari Emas à Doa penyembahan.

Inilah tempat yang TUHAN sediakan dan tempat ini bersifat abadi, tidak akan pernah berubah lagi.

 

Setelah kita melihat pekerjaan TUHAN sangat mulia dimana TUHAN mengutus seorang malaikat berjalan di depan umat Israel, maka dari sini kita dapat melihat betapa pentingnya peran dari seorang gembala. Maka, mau tidak mau kita harus menempatkan diri kita sebagai domba yang tergembala sehingga dua hal ini nyata dalam kehidupan kita yaitu DIJAGA DALAM PERJALANAN ROHANI sampai titik akhir (tapal batas) perjalanan rohani bahkan dibawa sampai ke TEMPAT YANG TUHAN TELAH SEDIAKAN, Yerusalem Baru itulah Sidang Mempelai TUHAN, wujudnya adalah doa penyembahan.

Kalau tidak tergembala maka kedua hal ini tidak mungkin nyata dalam kehidupan seorang Kristen, maka belajarlah menjadi satu kehidupan domba yang tergembala, jangan setiap mengerjakan sesuatu selalu hanya sesuai keinginannya dan tidak pernah melibatkan Yesus sebagai Gembala Agung, gembala yang baik, yang telah menyerahkan nyawa-Nya.

 

Maka kita juga harus menempatkan diri sebagai domba-domba yang tergembala untuk mencapai dua sasaran ini;

-            Dilindungi di tengah perjalanan rohani kita selama di bumi, dan

-            Membawa kita ke tempat yang telah disediakan oleh TUHAN itulah kekekalan.

 

Intisari menjaga diri dengan baik, dengan caranya TUHAN ada di dalam…

Keluaran 23:21

(23:21) Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya, janganlah engkau mendurhaka kepadanya, sebab pelanggaranmu tidak akan diampuninya, sebab nama-Ku ada di dalam dia.

 

Jadi lebih baik kita mengecilkan yang lahiriah, bersifat daging daripada mengecilkan Yesus, Gembala Agung.

Mendurhaka kepada gembala = mendurhaka kepada TUHAN, nama TUHAN ada di dalam diri seorang gembala.

Kalau kita mendurhaka kepada seorang gembala maka tidak ada pengampunan saudara.

Ini bukan mengancam, tetapi memberi tahu supaya kita mengetahui.


Inti dari ayat 21; Firman ALLAH kepada umat-Nya: “Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya.”

JAGALAH DIRIMU artinya: Tergembalalah dengan baik.

Jadi menjaga diri dengan baik harus dengan caranya TUHAN yaitu tergembala dengan baik.

 

Tanda tergembala: Domba-domba mendengarkan suara gembala.

 

Terkait dengan mendengar suara gembala diperjelas di dalam…

Yohanes 10:3-4 -- Perikop: “Gembala yang baik.”

(3:4) Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. (3:4) Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.

 

Gembala berjalan di depan domba-domba, kemudian PENJAGA MEMBUKA PINTU.

Penjaga à Seorang gembala. Tugas gembala: Membuka pintu bagi domba-domba.

 

Pendeknya, saat tiada jalan di situ TUHAN membuka jalan sebab TUHAN berkuasa membuka pintu-pintu yang tertutup bagi kawanan domba ALLAH, bagi domba-domba yang tergembala. Itulah hebatnya / dahsyatnya keberadaan dari satu kehidupan domba yang tergembala; TUHAN sanggup menyelesaikan segala perkara, TUHAN sanggup menyelesaikan segala masalah. Namun kalau kita menjadi domba-domba yang tergembala maka TUHAN sanggup membuka pintu-pintu yang tertutup sebab bagi TUHAN tidak ada yang mustahil, bahkan sampai pintu masa depan TUHAN bukakan bagi kita asalkan kita tergembala dengan sungguh-sungguh.

 

Sikap domba-domba ketika penjaga membuka pintu:

1.       Domba-domba mendengarkan suara gembala.

2.       Domba-domba itu mengikuti penjaga (gembala).

 

Hal yang dapat kita temui di dalam Yohanes 10:3-4.

HAL PERTAMA: Penjaga membuka pintu.

Hal ini telah kita bahas bersama-sama pada minggu yang lalu, doa dan harapan saya kiranya kita diberkati oleh TUHAN.

Artinya apa yang sudah kita terima tidak berlalu begitu saja, tetapi diingat dan direnungkan (memamah biak rohani).

 

HAL KEDUA: Sikap domba-domba yang tergembala, antara lain:

1.       Domba-domba mendengarkan suara gembala.

2.       Domba-domba mengikuti gembala.

 

Keterangan: MENDENGARKAN SUARA GEMBALA = Dengar-dengaran.

Marilah kita melihat pribadi yang dengar-dengaran supaya nanti kita semua menjadi satu kehidupan yang dengar-dengaran.

Dengar-dengaran itu indah dan manis hidupnya dan keadaannya dihadapan TUHAN.

1 Samuel 3:3 -- Perikop: “Samuel terpanggil.”

(3:8) Lampu rumah ALLAH belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam bait suci TUHAN, tempat tabut ALLAH.

 

Dari sini kita bisa melihat Samuel betul-betul menyatu dengan Tabut Perjanjian.

 

1 Samuel 3:4-8

(3:4) Lalu TUHAN memanggil: "Samuel! Samuel!", dan ia menjawab: "Ya, bapa." (3:5) Lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Tetapi Eli berkata: "Aku tidak memanggil; tidurlah kembali." Lalu pergilah ia tidur. (3:6) Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi. Samuelpun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Tetapi Eli berkata: "Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali." (3:7) Samuel belum mengenal TUHAN; Firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya. (3:8) Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Iapun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Lalu mengertilah Eli, bahwa TUHANlah yang memanggil anak itu.

 

Samuel mendengar suara / panggilan TUHAN sebanyak 3 (tiga) kali. Kemudian terhadap suara / panggilan itu Samuel menjawab: “YA BAPA.”

Dari jawaban Samuel ini menunjukkan bahwa Samuel adalah pribadi yang dengar-dengaran sekalipun Samuel masih muda atau kanak-kanak. Usianya masih muda / belia / kanak-kanak namun dalam hal rohani Samuel sudah dewasa, dari sini kita dapat melihat bahwa Samuel adalah domba yang dengar-dengaran. Jadi, kedewasaan tidak dilihat dari umur yang sudah tua atau muda namun kedewasaan dilihat dari sikap rohani, seperti Samuel pribadi yang dengar-dengaran.

 

-          YA BAPA yang pertama, artinya: Dengar-dengaran kepada bapa jasmani.

-          YA BAPA yang kedua, artinya: Dengar-dengaran kepada bapa rohani / orang tua rohani, ini dengar-dengaran dua kali lipat.

-          YA BAPA yang ketiga, artinya: Dengar-dengaran kepada bapa di Sorga, Dialah segala-galanya lebih dari bapa jasmani dan bapa rohani.

 

Ciri-ciri dengar-dengaran: Ketika mendengar suara / panggilan itu, Samuel berlari dan mendekat kepada Eli.

Demikianlah Samuel melakukannya sebanyak 3 (tiga) kali, hal ini menunjukkan:

-          Samuel mengabaikan kepentingan sendiri.

Lihat orang yang sedang tidur malam hari, ketika dibangunakan belum tentu mau. Jangankan tidur malam hari, tidur siang hari saja dibangunkan untuk pekerjaan TUHAN belum tentu mau. Tetapi lihatlah Samuel dia mengabaikan kepentingan dirinya.

-          Samuel tidak suka bersungut-sungut, tidak suka ngomel, dan tidak suka mempersalahkan situasi, kondisi / keadaan bahkan orang lain.

-          Samuel tidak pernah merasa dipermain-mainkan oleh TUHAN.

Meski susah dan berat tidak pernah merasa dipermain-mainkan oleh TUHAN.

Itulah ciri-ciri orang yang dengar-dengaran.

Oleh sebab itu, belajarlah menjadi kehidupan yang dengar-dengaran kepada suara TUHAN, Gembala Agung dan ketika mendengar suara Gembala cepatlah berlari dan mendekat kepada Dia.

 

Itu juga yang dibuktikan oleh Rasul Paulus dihadapan TUHAN, ALLAH Israel di dalam…

Filipi 3:13-14 -- Perikop: “Kebenaran yang sejati.”

(3:13) Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, (3:14) dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan Sorgawi dari ALLAH dalam Kristus Yesus.

 

Rasul Paulus berlari-lari kepada tujuan itulah panggilan Sorgawi dari ALLAH.

Jangan kita mengabaikan panggilan itu, begitu kita mendengar panggilan segeralah berlari dan mendekat kepada panggilan itu di dalam Kristus Yesus. Sebab, Yesus Kristus Anak ALLAH sudah ditentukan menjadi Pengantara antara ALLAH dan manusia.

TUHAN sudah dalam perjalanan-Nya dan kedatangan-Nya sudah diambang pintu, berkali-kali hal ini saya sampaikan, saya tidak merasa bosan dan capek, dan tidak menakut-nakuti, tetapi supaya kita kembali disadarkan. Oleh sebab itu bangunlah dari tidur sebelum menyesal di kemudian hari.

Prakteknya: Rasul Paulus melupakan apa yang di belakangnya.

 

Apa yang ada di belakang Rasul Paulus, kita lihat di dalam ayat sebelumnya…

Filipi 3:4-6

(3:4) Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: (3:5) disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, (3:6) tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.

 

Inilah tujuh kelebihan Rasul Paulus secara lahiriah yang dibagi menjadi dua bagian:

Bagian pertama: HAL 1 – HAL 4.

1.       Disunat pada hari kedelapan.

2.       Dari bangsa Israel.

3.       Dari suku Benyamin.

4.       Orang Ibrani asli.

Ini adalah kelebihan Paulus dari lahir dan hal ini tidak bisa dipisahkan dari dia bagaimanapun juga.

 

Bagian kedua: HAL 5 – HAL 7.

5.       Tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi.

6.       Tentang kegiatan aku penganiaya jemaat.

7.       Tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.

Ini adalah kelebihan Rasul Paulus di dalam menjalankan hukum Taurat sebagai bentuk sikap dan perbuatan.

 

Kalau saja Paulus mengingat hal yang dibelakang itulah 7 (tujuh) perkara lahiriah yang menjadi kelebihannya itu maka tentu saja dia akan selalu bermegah dengan kelebihan-kelebihan itu dan orang yang senantiasa bermegah dengan dirinya dan kelebihannya, orang semacam ini sukar untuk merendahkan diri dan sukar untuk membawa dirinya turun ke bawah, sehingga orang semacam ini tidak akan pernah menghargai panggilan / suara Sorgawi.

Berbeda dengan Samuel yang kecil / muda belia / kanak-kanak, begitu dia mendengar suara / panggilan ALLAH, dia langsung berlari dan mendekat karena memang Samuel tidak memiliki apa-apa, demikian juga Rasul Paulus karena dia sudah meninggalkan segala sesuatu yang dibelakang itulah 7 (tujuh) kelebihan secara lahiriah maka terhadap panggilan Sorgawi itu dia tidak bersungut-sungut, dia mengabaikan kepentingan sendiri, dia tidak mempersalahkan siapapun, dan tidak merasa dipermain-mainkan oleh TUHAN.

 

Lihatlah seseorang yang sudah mendengar suara panggilan namun masih bermegah dengan segala sesuatu yang dibelakang itulah segala kelebihannya misalnya gaji satu bulan atau bisnisnya maka dia tidak akan bisa menghargai dan mendekat kepada panggilan Sorgawi dari ALLAH dalam Kristus Yesus. Namun, malam ini TUHAN ajar kita soal menjaga diri dengan baik sesuai dengan caranya TUHAN.

 

Ibrani 3:1-2 -- Perikop: “Yesus lebih tinggi dari Musa.”

(3:1) Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan Sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, (3:2) yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musapun setia dalam segenap rumah-Nya.

 

Yang mendengar suara / panggilan Sorgawi maka harus memandang kepada Yesus Kristus sebab Dia adalah RASUL dan IMAM BESAR.

 

Terkait dengan: RASUL.

Yesus adalah Rasul dan melebihi dari semua rasul-rasul ALLAH. Kita tahu 24 (dua puluh empat) tua-tua adalah bayangan dari 12 (dua belas) rasul hujan awal dan 12 (dua belas) rasul hujan akhir, berarti di dalam Dia kita boleh percaya, bertobat, dibaptis air, dan dipenuhkan Roh Kudus. Kemudian di dalam Kristus Yesus kita dijadikan sebagai:

1.       Sidang mempelai TUHAN.

2.       Hidup dalam doa penyembahan.

Itu kuasa dari 12 (dua belas) rasul hujan akhir, itulah 24 (dua puluh empat) tua-tua duduk di atas takhta itu, sebagaimana yang tertulis dalam Wahyu 4:4.

 

Terkait dengan: IMAM BESAR YANG MAHA TINGGI.

Tugas Imam Besar adalah:

-          Melayani, berdoa, dan memperdamaikan dosa kita kepada ALLAH Bapa.

-          Memimpin hidup gereja TUHAN sampai kepada 2 (dua) klimaks yaitu menjadi mempelai TUHAN dan hidup dalam doa penyembahan.

Kita juga rindu dengan apa yang dikerjakan oleh Imam ALLAH yang Maha tinggi

Jadi kita yang sudah mendengar suara / panggilan dari Sorga, dari ALLAH maka arahkanlah pandangan kepada Kristus Yesus, Dia adalah Rasul dan Imam Besar.

 

Ibrani 10:19-21 -- Perikop: “Ketekunan.”

(10:19) Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, (10:20) karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, (10:21) dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah ALLAH.

 

Sebagai Imam Besar Agung: Dia telah mengalami perobekan daging, berarti Dia telah membuka jalan yang baru.

Tabir Bait Suci yang robek dari atas sampai ke bawah itu adalah daging Yesus yang sudah dirobek dan kita juga harus mengalami perobekan daging. Perobekan daging ini dialami oleh kehidupan yang rohaninya sudah mencapai doa penyembahan. Oleh sebab itu, nikmatilah penyembahan di rumah masing-masing, tidak ada sesuatu yang membosankan di dalam penyembahan. Jika menikmati doa penyembahan maka akan terpancar kemuliaan ALLAH dari wajah, bercahaya kemuliaan ALLAH, dan hal itu tidak akan bisa dibuat-buat.

 

Tanda-tanda ini ada pada pribadi Samuel.

1 Samuel 2:17 -- Perikop: “Kejahatan anak-anak Eli.”

(2:17) Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN.

 

Anak-anak Eli yakni; Hopni dan Pinehas, memandang rendah korban untuk TUHAN = Tidak mengarahkan pandangan kepada Kristus Yesus, memandang rendah korban Kristus bahkan pada ayat 12 dikatakan: “Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN.”

 

1 Samuel 2:18-19

(2:18) Adapun Samuel menjadi pelayan di hadapan TUHAN; ia masih anak-anak, yang tubuhnya berlilitkan baju efod dari kain lenan.

(2:19) Setiap tahun ibunya membuatkan dia jubah kecil dan membawa jubah itu kepadanya, apabila ia bersama-sama suaminya pergi mempersembahkan korban sembelihan tahunan.

 

Sekalipun Samuel masih kanak-kanak, tetapi ia telah memakai JUBAH, sebab ibunya membuat jubah kecil dan memberikan kepada Samuel. Kalau berbicara jubah berarti erat kaitannya dengan pelayanan Imam Besar. Jadi, yang mengarahkan pandangannya kepada suara/panggilan Sorgawi dari ALLAH di dalam Yesus Kristus maka dia harus mengarahkan pandangannya kepada Yesus Kristus sebab Yesus adalah Rasul dan Dia adalah Imam Besar, demikianlah Samuel yang masih kecil dia telah memakai jubah buatan ibunya, Hana.

 

Jubah Imam Besar dibagi menjadi tiga bagian:

1.       Baju efod.

2.       Gamis baju efod.

3.       Kain lenan halus bentuknya berjala-jala seperti mata.

Itu sebabnya pada ayat 18 dikatakan: “… tubuhnya berlilitkan baju efod …”

 

Keluaran 28:6

(28:6) Baju efod itu harus dibuat mereka dari emas, kain ungu tua dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya: buatan seorang ahli.

 

Baju efod dibuat dan ditenun/dipintal dari:

1.       Emas.

2.       Kain ungu tua / biru langit.

3.       Kain ungu muda / ungu.

4.       Kain kirmizi / merah darah.

5.       Lenan halus / putih.

Singkat kata, baju efod memiliki 4 (empat) warna antara lain:

-       Ungu tua (biru).

-       Ungu muda (ungu).

-       Kirmizi (merah darah)

-       Lenan halus (putih)

Ini menceritakan kepada kita tentang SALIB KRISTUS.

Inilah pribadi Samuel sekalipun masih kanak-kanak namun dia berlilitkan baju efod, berarti SALIB KRISTUS tidak asing lagi bagi dia.

 

Salib Kristus juga tidak asing lagi bagi kita sebab itu adalah sarana untuk membawa kita untuk satu dalam kematian dan ketika sudah satu dalam kematian Yesus Kristus maka kita akan satu dengan kebangkitan-Nya karena itu adalah satu paket.

 

1 Samuel 1:11

(1:11) Kemudian bernazarlah ia, katanya: "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya."

 

Di dalam 1 Samuel 3:7, Samuel belum mengenal TUHAN dan Firman TUHAN belum dinyatakan kepada dia, namun kenapa bisa Samuel dikuasai oleh Roh dengar-dengaran, mendengar suara panggilan dari ALLAH.

Ternyata jawabannya ada di dalam 1 Samuel 1:11, sebelum dia ditenun / dipintal di rahim ibunya Samuel sudah dinazarkan kepada TUHAN, dia sudah diserahkan kepada TUHAN untuk seumur hidupnya menjadi milik TUHAN.

Jadi TUHANlah yang menenun, TUHANlah yang memintal, TUHANlah yang membentuk kehidupan Samuel dari sejak kandungan.

 

Jika kita sudah dibentuk TUHAN di dalam kandang (rahim) penggembalaan ini maka niscaya kita akan menjadi NAZIR TUHAN, menyerahkan diri sepenuhnya kepada TUHAN. Namun, orang Kristen yang tidak pernah ditenun / tidak dipintal / tidak dibentuk di di dalam rahim kandang penggembalaan maka tidak akan pernah menjadi nazir, tidak akan pernah menjadi satu kehidupan yang diserahkan kepada TUHAN.

Oleh sebab itu, pasangan suami isteri sebelum dikaruniakan TUHAN seorang anak perlu menghargai ketekunan tiga macam ibadah pokok, perlu menghargai TUHAN, perlu mengarahkan pandangannya kepada Yesus sebab Dia Rasul dan Dia Imam Besar Agung, seperti Hana dia mengarahkan pandangan kepada Korban Kristus, ketika dalam keadaan sengsara dia mengarahkan pandangannya kepada korban TUHAN. Biasanya kalau orang sengsara, salahkan TUHAN, salahkan sesama, salahkan ini itu, semua disalahkan. Tetapi Hana tidak, justru dia datang kepada TUHAN,  di situlah dia bernazar untuk menyerahkan anak laki-lakinya itulah Samuel kepada TUHAN.

Jadi kehidupan yang sudah dibentuk dari sejak rahim pasti menjadi nazir ALLAH untuk selama-lamanya.

Tanda NAZIR ALLAH: Pisau cukur tidak akan pernah menyentuh kepalanya.

 

Bilangan 6:5 -- Perikop: “Hukum mengenai kenaziran.”

(6:5) Selama waktu nazarnya sebagai orang nazir janganlah pisau cukur lalu di kepalanya; sampai genap waktunya ia mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, haruslah ia tetap kudus dan membiarkan rambutnya tumbuh panjang.

 

“… haruslah ia tetap kudus dan membiarkan rambutnya tumbuh panjang.”

Sama seperti Simson yang adalah nazir ALLAH, dia membiarkan rambutnya tumbuh panjang dan ketika rambutnya dipotong dia kehilangan kekuatan. Roh Kudus adalah kekuatan kita dan Roh Kudus memimpin kita untuk taat kepada TUHAN.

Jadi, rambut panjang berbicara tentang kemuliaan ALLAH; dia taat, setia, dengar-dengaran, tunduk kepada kehendak ALLAH. Itulah nazir ALLAH yaitu mengkhususkan diri kepada TUHAN.

 

Kalau kita melihat rangkaian ayat dari awal sampai akhir terkait dengan pembahasan kita yaitu “menjaga diri dengan baik dengan menggunakan caranya TUHAN”, maka marilah kita menjaga diri dengan caranya TUHAN dengan TERGEMBALA, tandanya dengar-dengaran, maka pasti TUHAN akan tolong dan TUHAN sertai dengan berkat kemurahan dari Sorga sampai TUHAN datang pada kali yang kedua dari awan nan permai. Amin.

 

TUHAN YESUS KRISTUS, KEPALA GEREJA DAN MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

 

Pemberita Firman:

Gembala Sidang: Pdt. Daniel U. Sitohang

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment