IBADAH PENDALAMAN ALKITAB 12 FEBRUARI 2026
MALEAKHI
2:15
(Seri:
27)
Subtema:
MENGENAL SUARA GEMBALA
Shalom.
Mula pertama
saya mengucapkan syukur kepada Tuhan oleh karena rahmat-Nya kita sekaliannya
dihimpunkan di atas gunung Tuhan yang kudus, kita boleh menghadap Dia lewat
Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci. Terpujilah kasih
karunia Tuhan yang sudah melayakkan dan memungkinkan kita untuk berada di dalam
hadirat Tuhan, meskipun dalam perjalanan menuju tempat ini kita melalui jalan
yang berlobang-lobang atau mungkin juga melalui hujan yang deras tetapi
semangat kita untuk terus bersama dengan Tuhan tidak pernah surut. Demikian
kasih sayang dan kasih setia Tuhan dinyatakan pribadi lepas pribadi.
Saya juga
tidak lupa untuk menyapa anak-anak Tuhan, umat ketebusan Tuhan; bapa, ibu,
saudara terkasih yang mengikuti secara online dimanapun saudara berada,
biarlah kiranya damai sejahtera dari Sorga memerintah atas hati kita sehingga
ada sukacita dari Sorga saat kita duduk diam mendengarkan sabda Allah.
Mari kita
sambut KITAB MALEAKHI sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah
Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci dari Maleakhi 2:15
sebagai seri pemberitaan Firman Allah yang ke-27 kalinya. Namun tetaplah berdoa
dan mohon kemurahan hati Tuhan supaya firman yang dibukakan itu meneguhkan
setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Maleakhi
2:15
(2:15) Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh?
Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi
jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa
mudanya.
Demi
mencapai keturunan Ilahi, Allah berfirman: “Jagalah dirimu!”
Namun di
dalam hal menjaga diri maka kita perlu menggunakan caranya Tuhan, tidak perlu
berusaha menggunakan metode-metode atau cara-cara duniawi, sebab Alkitab
berkata di dalam Mazmur 127:1 “… jikalau bukan TUHAN yang mengawal
kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”
Soal menjaga
diri dengan caranya Tuhan dapat kita pelajari dan bahas di dalam Keluaran
23:20.
Keluaan
23:20
(23:20) "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat
berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk
membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan.
Tuhan
mengutus seorang malaikat berjalan di depan umat Israel, sama artinya: Tuhan mengutus gembala untuk menuntun
kawanan domba Allah. Adapun tugas seorang gembala:
a.
Untuk melindungi umat Israel di jalan.
Dalam perjalanan di padang gurun selama 40 tahun
bangsa Israel dihadang oleh banyak musuh, antaralain; Amalek, Amori, Moab,
Midian, dan Amon, bahkan Edom tidak mengizinkan Israel melewati daerah mereka.
Namun Tuhan berkata kepada Israel untuk tidak memerangi Edom sebab Alkitab
berkata “perjuangan kita bukan melawan darah dan daging”, karena Edom adalah
Esau dan Israel adalah ganti nama dari Yakub.
b.
Untuk membawa umat Israel ke tempat yang telah Tuhan sediakan.
Sebagai
kawanan domba Allah tentu saja kita bersyukur kepada Tuhan yang telah mengutus
malaikat-Nya di tengah-tengah kita …
-
Untuk melindungi kita di jalan, itu berarti gembala yang membela serta berperang melawan musuh-musuh. Hal
itu kita alami masing-masing, berapa banyak musuh-musuh yang menghadang di
tengah perjalanan (pengikutan) kita kepada
Tuhan baik itu daging dengan keinginannya, dunia dengan arusnya, bahkan iblis
setan yang senantiasa mempengaruhi, tetapi gembala melindungi, gembala membela,
gembala berperang melawan musuh kita semuanya.
Hal itu tidak bisa kita pungkiri sehingga kita seringkali mengakui bahwa Tuhan
adalah gembala yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita sehingga kita dapat
melewati segala pergumulan yang kita hadapi saat mengikuti Tuhan.
-
Untuk membawa domba-domba sampai kepada tujuan akhir, yaitu YERUSALEM BARU 🡪 Sidang mempelai Tuhan atau gereja Tuhan yang
sempurna.
Sidang mempelai Tuhan memiliki tempat yang
spesial di hati Tuhan dan kesitulah kita dituntun oleh Gembala Agung.
Perlu untuk
diketahui: Betapa besarnya peran dari seorang gembala di tengah-tengah
pengikutan kita kepada Tuhan dan kita sangat membutuhkan peran gembala, hal itu
tidak bisa kita pungkiri. Lihat saja orang Kristen apabila dia hanya beribadah
di tengah ketekunan tiga macam ibadah pokok namun tidak menyatakan dirinya
sebagai domba yang tergembala maka dia akan mengalami banyak persoalan dan dia tidak
akan bisa melewati persoalan yang terjadi. Jadi, jelas bahwa kawanan domba
sangat membutuhkan gembala.
Keluaran
23:21
(23:21) Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah
perkataannya, janganlah engkau mendurhaka kepadanya, sebab pelanggaranmu
tidak akan diampuninya, sebab nama-Ku ada di dalam dia.
Firman Allah
kepada umat Tuhan: JAGALAH DIRIMU di hadapan gembala dan dengarkan perkataan
gembala.
Pendeknya,
jagalah dirimu artinya: Tergembala dengan baik dan tulus hati di hadapan
Tuhan Allah.
Jadi, kita
tidak hanya sekedar datang beribadah, namun yang Tuhan mau tergembala dengan
baik. Sebab jika kita tidak tergembala maka kita tidak akan menyatakan diri
sebagai domba yang harus mendengar. Inilah cara dari Tuhan untuk menjaga diri.
Tanda
tergembala: Domba-domba mendengarkan perkataan gembala.
Oleh sebab
itu, jangan mendengar suara-suara asing baik itu suara setan, atau suara
daging.
Biarkanlah
kita memiliki tanda tergembala dan dimeteraikan Roh Kudus di dalam diri kita
masing-masing, artinya biarlah hinggap roh dengar-dengaran itu di dalam diri
kita masing-masing.
Terkait
dengan DOMBA YANG TERGEMBALA maka kita akan melihat lebih rinci di dalam Yohanes
10.
Yohanes
10:3-4 -- Perikop: “Gembala yang baik.”
(10:3) Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba
mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut
namanya dan menuntunnya ke luar. (10:4) Jika semua dombanya telah
dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti
dia, karena mereka mengenal suaranya.
Disini
dikatakan: PENJAGA MEMBUKA PINTU.
Penjaga 🡪 Seorang gembala, tugasnya: Membuka pintu bagi
domba-domba.
Jika pintu
dikaitkan dengan Pengajaran Tabernakel maka kita akan menemukan 3 hal:
1.
Pintu Gerbang berarti menerima Yesus atau PERCAYA KEPADA YESUS. Selanjutnya
bertobat dan dibaptis air.
2.
Pintu Kemah -- pemisah Halaman dan Ruangan Suci --, berbicara soal KEPENUHAN
ROH EL KUDUS. Selanjutnya berada di dalam Ruangan Suci dan di dalamnya terdapat
tiga macam alat, menunjuk kepada ketekunan tiga macam ibadah pokok.
3.
Tirai atau Tabir Bait Suci -- ini pintu yang lebih sempit lagi --,
berbicara soal PEROBEKAN DAGING.
Ketika
penjaga membuka pintu berarti domba-domba yang tergembala selalu didalam KEMURAHAN;
-
Menjadi percaya adalah kemurahan.
-
Dipenuhkan Roh Kudus adalah kemurahan.
-
Sampai mengalami perobekan daging adalah kemurahan.
Domba-domba
yang tergembala selalu berada dalam kemurahan sekalipun berada di tengah-tengah
kesukaran, sekalipun berada di tengah-tengah serigala yang buas selalu ada
kemurahan, sebab tugas dari gembala adalah menjaga, membela, melindungi dan
selanjutnya dihantar sampai akhir tujuan yaitu ada di hati Tuhan itulah sidang
mempelai Tuhan, gereja Tuhan yang sempurna.
Hal ini
harus diperhatikan sungguh-sungguh, jika kita mengingat sewaktu kita belum
tergembala maka betapa sulitnya hidup ini sekalipun saudara mengatakan “gaji
lebih besar” namun hal itu tidak membuat hidup saudara lebih indah, melainkan
hidup saudara lebih indah saat ini karena tergembala. Sebelum kita tergembala
wajah ini sudah dirusak seperti Adam dan Hawa merusakan wajah Tuhan, namun
begitu kita ada di dalam hadirat Tuhan maka ada Tuhan dalam diri kita dan
terpancar di wajah kita masing-masing.
Sikap
domba-domba ketika gembala/penjaga membuka pintu (kemurahan):
1.
Domba-domba mendengarkan suara gembala, sama artinya: DENGAR-DENGARAN.
2.
Domba-domba mengikuti penjaga/gembala.
Pada minggu
lalu kita sudah membahas tentang domba-domba mendengarkan suara gembala.
Contoh
pribadi yang dengar-dengaran telah kita bahas dari pribadi SAMUEL yang selalu
berlilitkan baju efod.
Ternyata
sebelum dipintal/dibentuk di dalam rahim sudah dinazarkan oleh Hana meskipun
imam Eli tidak mengerti apa isi pokok doa Hana kepada Tuhan, karena pada waktu
itu Eli berpikir bahwa Hana sedang mabuk anggur, tetapi Hana memang mabuk
anggur namun mabuk anggur dari Sorga sehingga segala keluhan hatinya
disampaikan kepada Tuhan. Hal itu terjadi karena Penina pada akhirnya
melahirkan anak bagi Elkana dan saat dalam tekanan berat disitu ada kesempatan
untuk menaikkan doa-doa disertai dengan bahasa roh kepada Tuhan. Akhirnya
setelah Hana melahirkan Samuel, Samuel langsung diserahkan kepada Tuhan dibawah
pengawasan imam Eli. Sekalipun pada saat itu belum ada Firman Allah dan belum
ada penglihatan namun Samuel adalah pribadi yang dengar-dengaran.
Sebelumnya
kita tidak mengerti bagaimana orang yang belum pernah diajarkan Firman Tuhan
dan belum pernah mendapatkan penglihatan memiliki roh dengar-dengaran, namun
Tuhan telah mencelikkan mata rohani kita bahwa dari sejak rahim ia sudah berada
di dalam doa ibunya.
Ibu 🡪 Gembala, oleh sebab itulah pentingnya kita tergembala,
dengar-dengaran kepada suara gembala, maka nanti gembala dengan tulus hatinya
menaikkan doa-doa permohonan untuk anak rohaninya, segala persoalan dibawa
kepada Tuhan. Salah satu contohnya jika saudara memiliki sepeda motor, rumah
dan kesehatan itu karena doa Imam Besar, saudara memiliki gaji itu karena doa
Imam Besar, sebab jika ditinjau dari sudut gaji dengan jumlah tiga juta namun
saudara menyicil rumah dua juta, jika dipikir secara logika itu tidak akan bisa
apalagi jika masih bisa menabung, itu adalah hal yang mustahil. Namun jika
saudara jujur dengan persembahan persepuluhan maka saya dapat mengetahui hal
tersebut bisa terjadi. Oleh sebab itu, jujurlah dalam persembahan persepuluhan
sebab segala sesuatunya Tuhan pertimbangkan. Saya juga belajar jujur di hadapan
Tuhan bahkan persepuluhan dari semua berkat saya korbankan kepada Tuhan baik itu
berkat makanan, minuman, pakaian.
Jelas bahwa
jika domba tergembala akan mengalami pintu kemurahan.
Kita akan
melihat: DOMBA-DOMBA MENGIKUTI GEMBALA.
Sejauh ini
kita telah digembalakan oleh firman pengajaran mempelai dalam terangnya
Tabernakel dan kita senantiasa mengikuti geraknya kemanapun kita dibawa.
Matius 16:24
(16:24) Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap
orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan
mengikut Aku.
Syarat untuk
mengikut Tuhan:
a.
Menyangkal dirinya dan menyangkali segala kelebihan-kelebihan yang ada didalam dirinya,
berarti tidak bermegah sekalipun memiliki kelebihan atau sekalipun hidup di
dalam kemurahan.
b.
Memikul salib, artinya: Sebuah kebenaran harus dipikul atau dipertanggung
jawabkan di hadapan Tuhan, seperti Yesus Kristus Anak Allah mempertanggung
jawabkan kebenaran itu di atas kayu salib, Dia harus minum cawan Allah, Dia
harus menanggung penderitaan yang tidak harus Ia tanggung di atas kayu salib.
Banyak hal yang dipercayakan oleh Tuhan kepada
kita, misalnya; seorang suami harus bertanggung jawab sebagai seorang suami,
seorang isteri harus mempertanggung jawabkan dirinya sebagai seorang isteri berarti
menjadi penopang yang baik, sebagai seorang anak harus mempertanggung jawabkan
kebenaran yaitu hormat kepada orang Tuhan, seorang hamba harus mempertanggung
jawabkan kebenaran yaitu taat, setia, dengar-dengaraN, banyak hal yang harus
dipertanggung jawabkan termasuk pekerjaan dimanapun saudara ditempatkan oleh
Tuhan. Pikullah tanggung jawab yang Tuhan percayakan, berlakulah jujur di
hadapan Tuhan sebab itulah yang memelihara masa depan.
Sedangkan hukum Taurat saling menuduh dan
membela, artinya: Tidak bisa mengampuni orang yang berdosa sama seperti
membuang salib dari atas pundak.
c.
Mengikut Tuhan, berarti dalam pengikutan kita kepada Tuhan, kita sebagai
domba-domba tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan supaya kita tidak sesat di
jalan.
CONTOH TIDAK
MENYIMPANG KE KIRI DAN KE KANAN.
Dalam Bilangan
22:2-12 Balak, raja Moab, meminta supaya Bileam datang kepadanya untuk
mengutuk bangsa Israel, sebab Balak menjanjikan upah kejahatan itu. Namun, pada
ayat 12, Tuhan melarang Bileam mengutuk bangsa Israel sebab bangsa
Israel telah diberkati oleh Tuhan. Pada ayat 13 sampai ayat 20,
oleh bujuk rayu Balak yang akan memberi upah yang besar maka akhirnya Bileam
datang kepada Balak untuk mengutuk Israel.
Bilangan
22:21-22
(22:21) Lalu bangunlah Bileam pada waktu pagi, dipelanainyalah
keledainya yang betina, dan pergi bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab. (22:22)
Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi, dan berdirilah
Malaikat TUHAN di jalan sebagai lawannya. Bileam mengendarai keledainya
yang betina dan dua orang bujangnya ada bersama-sama dengan dia.
Ketika
Bileam menunggangi keledainya untuk pergi kepada Balak bangkitlah murka
Tuhan, sebab dia dihadang di jalan oleh malaikat Tuhan meskipun
tidak nampak oleh mata Bileam.
Bilangan
22:23
(22:23) Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN berdiri di jalan,
dengan pedang terhunus di tangan-Nya, menyimpanglah keledai itu dari jalan
dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul keledai itu untuk memalingkannya
kembali ke jalan.
Pada saat
keledai itu melihat malaikat Tuhan berdiri di jalan dengan pedang terhunus di
tangannya, menyimpanglah keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang.
Ladang 🡪 Kegiatan Roh, jika dikaitkan dengan tiga alat di
Ruangan Suci terkena kepada PELITA EMAS.
Pelita Emas 🡪 Ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu disertai dengan
kesaksian Roh.
Namun,
Bileam memukul keledai itu dan mengarahkan kembali ke jalan yang
dikehendakinya.
Bilangan
22:24-25
(22:24) Kemudian pergilah Malaikat TUHAN berdiri pada jalan yang
sempit di antara kebun-kebun anggur dengan tembok sebelah-menyebelah. (22:25)
Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN, ditekankannyalah dirinya kepada
tembok, sehingga kaki Bileam terhimpit kepada tembok. Maka ia memukulnya
pula.
Keledai
kembali melihat malaikat Tuhan berdiri dengan pedang terhunus di jalan yang
sempit, di antara kebun-kebun anggur dengan tembok sebelah-menyebelah, maka
keledai menekan dirinya / ditindiskan dirinya ke tembok, lalu kaki
Bileam terjepit kepada tembok.
Tembok
berbicara tentang iman. Jika dikaitkan dengan tiga alat di Ruangan Suci
terkena kepada MEJA ROTI SAJIAN.
Meja Roti
Sajian 🡪 Ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan
perjamuan suci.
Selanjutnya
Bileam kembali memukul keledai itu untuk yang kedua kalinya dan mengarahkan ke
jalan yang dikehendakinya.
Bilangan
22:26-27
(22:26) Berjalanlah pula Malaikat TUHAN terus dan berdirilah Ia
pada suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan untuk menyimpang ke kanan
atau ke kiri. (22:27) Melihat Malaikat TUHAN meniaraplah keledai
itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu
dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat.
Ketika
keledai melihat Malaikat Tuhan berdiri di suatu tempat yang sempit, tidak ada
jalan untuk menyimpang ke kanan dan ke kiri, maka meniaraplah keledai itu
dengan Bileam masih di atasnya.
Meniarap
jika dikaitkan dengan tiga alat di Ruangan Suci terkena kepada MEZBAH DUPA.
Mezbah Dupa 🡪 Ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan = Tinggal di dalam
kasih.
Inilah yang
Tuhan mau di dalam pengikutan kita kepada Tuhan, bukan hanya menyangkal diri
dan memikul salib tetapi juga mengikut Tuhan berarti tidak menyimpang ke kiri
dan ke kanan. Kalau kita mengikut Tuhan dengan baik dan benar sesuai dengan
maunya Tuhan seperti Tuhan menghadang jalan Bileam maka berujung seperti yang
dilakukan keledai yaitu “meniarap.”
Mengapa
sampai hari ini gereja Tuhan belum sampai kepada doa penyembahan? Jawabannya
karena dia suka menyimpang ke kiri dan ke kanan, berarti tidak bisa mengikuti
Tuhan dengan baik dan benar, dia masih mengikuti kehendaknya sendiri. Namun,
yang Tuhan mau adalah supaya kita meniarap berarti tinggal di dalam kasih,
(hidup dalam doa penyembahan), itu sebabnya Tuhan terus menghadang jalan yang
akan dilalui Bileam sebab jalan yang akan dilalui Bileam adalah jalan yang
menuju kepada maut/kebinasaan.
Ketika kita
mengikuti Tuhan maka hidup kita disucikan maka seharusnya kita bersyukur sebab
kita disucikan dari segala dosa baik itu korupsi, kesombongan, kenajisan percabulan.
Namun, jika kita tidak mau dihadang oleh pedang yang terhunus maka kita akan
mengikuti jalan yang dikehendaki daging seperti keinginan dari Bileam. Keledai
melihat bahwa malaikat Tuhan menghadang dengan pedang terhunus maka masuklah ia
ke ladang berarti tekun dalam Ibadah Raya Minggu, tetapi Bileam tidak setuju
dalam kedudukan itu sehingga ia memukul keledainya dan diarahkan kembali ke
jalan yang ia kehendaki, tetapi lagi-lagi malaikat menghadang setelah keledai
itu melihat maka langsung menindiskan dirinya ke tembok, pada saat itu kaki
Bileam terjepit, ketika kita berjalan di jalan yang sempit maka sepertinya kaki
kita terjepit dan sakit rasanya karena tidak bebas melangkah sesuai dengan
keinginan daging, namun sekalipun sakit seharusnya kita terima tetapi Bileam
tidak itu sebabnya dia memukul keledainya kembali untuk yang kedua kali lalu di
arahkan ke jalan yang dia kehendaki. Malaikat Tuhan kembali menghadang dengan
pedang terhunus di tangannya di jalan yang sempit, yang tidak dapat menyimpang
ke kanan / ke kiri, akhirnya keledai itu meniarap dengan Bileam di atasnya,
itulah yang Tuhan mau.
Tuhan mau
kedudukan kita ada dalam doa penyembahan, tinggal di dalam kasih, suka tidak
suka inilah yang Tuhan kehendaki maka jangan engkau memukul penggembalaan
dengan caramu, sifatmu, egomu, kesombonganmu, namun ikuti saja keinginan Tuhan.
Mengikuti Tuhan sampai dengan apa yang Tuhan kehendaki itulah doa penyembahan.
Jangan ambisi sebab disitu ada dosa persundalan / kenajisan percabulan.
1 Petrus
2:18-21 -- Perikop: “Penderitaan Kristus sebagai teladan.”
(2:18) Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan
kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang
bengis. (2:19) Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar
akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. (2:20)
Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat
dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka
itu adalah kasih karunia pada Allah. (2:21) Sebab untuk itulah
kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah
meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
Petrus
menceritakan keadaan seorang hamba yaitu bukan hanya menyangkal diri dan
memikul salib tetapi harus meninggalkan teladan yang ditinggalkan oleh Tuhan
Yesus Kristus yaitu TAAT, SETIA, DENGAR-DENGARAN.
Kita
dipanggil untuk menjadi hamba kebenaran yaitu untuk mengikuti teladan yang
ditinggalkan Tuhan, itulah tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah itulah Dia yang
benar dijadikan dosa, Dia harus mengalami penderitaan yang tidak harus Dia
tanggung disebutlah itu sengsara karena salib/aniaya karena Firman Allah.
Itulah teladan dari Allah dan kita dipanggil untuk mengikuti teladan itu, bukan
mengikuti kehendak daging, bukan mengikuti jalan-jalan di dunia atau cara
setan.
Kalau kita
menderita karena salib atau teraniaya karena firman itu adalah KASIH KARUNIA
pada Allah. Jika menderita karena kesalahan sendiri itu bukanlah kasih
karunia namun itu memang upah dosa.
Kasih
karunia inilah yang kita rindukan dan kita tetap tinggal dalam kemurahan,
bukankah penjaga tadi membuka pintu bagi domba-domba dan domba-domba yang
tergembala hidup dalam kemurahan; percaya kepada Yesus, menerima Roh Kudus,
sampai mengalami perobekan daging. Namun apabila tidak menjadi kawanan domba
Allah maka domba tidak akan pernah mengalami pintu kemurahan yaitu tidak
mengerti arti percaya.
Kita
dipanggil untuk mengikuti teladan Allah bukan mengikuti teladan orang tua,
berarti yang kita ikuti adalah tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah itulah
aniaya karena firman, sengsara karena salib, dan itu adalah kasih karunia pada
Allah.
1
Petrus 2:18-21 bila
dikaitkan dengan Pengajaran Tabernakel terkena kepada daerah HALAMAN.
Ketika kita
menerima Yesus = Percaya. Orang yang percaya mau tidak mau harus bertobat
itu terkena kepada MEZBAH KORBAN BAKARAN dan selanjutnya dibaptis air
berbicara pengalaman kematian kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.
Namun, kita
tidak boleh berhenti sampai disitu melainkan harus beralih kepada perkembangan
selanjutnya yaitu perkembangan sepenuh.
1 Petrus
2:22-23
(2:22) Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam
mulut-Nya. (2:23) Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan
mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia
menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.
Pengikutan
dalam perkembangan selanjutnya antara lain:
1.
Ia tidak berbuat dosa 🡪 Yesus, Anak Allah, Dialah Firman Allah itu
sendiri = Penuh dengan Firman Allah.
Jika dikaitkan dengan tiga alat dalam Ruangan
Suci terkena kepada MEJA ROTI SAJIAN.
2.
Tipu tidak ada dalam mulut-Nya = Tidak ada dusta 🡪 Penuh dengan Roh Allah yang suci.
Jika dikaitkan dengan tiga alat dalam Ruangan
Suci terkena kepada PELITA EMAS berarti menjadi terang di tengah dunia ini.
Terang dunia sama seperti kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin
tersembunyi. Namun, untuk mempertahankan pelita supaya tetap bernyala maka
pelita tidak dinyalakan di bawah gantang artinya menjadi pelita tidak suka
mengukur orang lain dengan pengertian sendiri.
3.
Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki;
ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, artinya: Kejahatan tidak dibalas dengan
kejahatan.
Jika dikaitkan dengan tiga alat dalam Ruangan
Suci terkena kepada MEZBAH DUPA 🡪 Doa penyembahan = Tinggal di dalam kasih. Seseorang yang
tinggal di dalam kasih maka ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi
dengan adil, berarti menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Penyerahan itu
disebut juga doa penyembahan.
Inilah
pengikutan dengan perkembangan selanjutnya dan bila dikaitkan dengan pola
Tabernakel itu terkena kepada RUANGAN SUCI.
1 Petrus
2:24-25
(2:24) Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di
kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk
kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. (2:25) Sebab
dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada
gembala dan pemelihara jiwamu.
“Ia
sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita,
yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.” HIDUP DALAM KEBENARAN jika kita kaitkan dengan Pola
Tabernakel maka terkena kepada RUANGAN MAHA SUCI, alasannya ada di dalam Matius
6:33 “… carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya ...”
Di dalam
Kerajaan Sorga ada kebenaran yang membawa kita hidup selama-lamanya, sama
seperti Tabut Perjanjian.
Tabut Perjanjian 🡪 Sidang mempelai Tuhan atau gereja Tuhan yang sempurna dimana Tabut itu terbuat dari kayu penaga namun sudah dilapisi dengan emas murni baik dari dalam maupun dari luar berarti sifat dari daging manusia (kayu penaga) tidak terlihat lagi sebab telah ditutupi oleh kemurnian Tuhan.
Di dalam
Tabut Perjanjian terkandung 3 hal:
1.
Buli-buli Emas berisi Manna, berbicara soal iman yang permanen.
2.
Tongkat Harun yang bertunas, berbicara soal pengharapan yang
permanen.
3. Kedua loh batu, berbicara soal kasih yang permanen.
Iman yang permanen berangkat dari Meja Roti Sajian, berbicara soal ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai perjamuan suci.
Pengharapan yang permanen berangkat dari Pelita Emas, berbicara soal
ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu.
Kasih yang permanen berangkat dari Mezbah Dupa, berbicara soal
ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan.
Maka,
ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok adalah HARGA MATI, berarti dasar dari
kekekalan adalah tiga macam ibadah pokok.
ALASAN
MENGIKUT TUHAN.
Yohanes 10:4
(10:4) Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di
depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal
suaranya.
Alasan
mengikut gembala: Karena domba-domba mengenal suara gembala.
Yohanes 10:5
(10:5) Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah
mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka
kenal."
Kalau kita
mengikuti gembala itu karena kita mengenal suara gembala, jika ada suara asing
tidak akan kita ikuti karena suara itu asing dan tidak kita kenal.
Jangan
sampai serigala berbulu domba, sepertinya menceritakan salib, tetapi dia adalah
nabi palsu.
Nampaknya
domba tetapi mulutnya ular naga, suara semacam itu jangan diikuti. Nabi-nabi
palsu disebut juga serigala berbulu domba, sebagaimana yang tertulis dalam Wahyu
13:11.
Saya terlalu
yakin bahwa kita mengenal suara gembala kita masing-masing walaupun terkadang
tidak cocok di hati kita namun kita memiliki hati nurani karena kita tahu itu
baik dan benar. Jangan kita ikuti serigala sekalipun berbulu domba sebab
suaranya asing bagi kita karena ketika dia berbicara persis seperti seekor naga
penuh dengan tipu muslihat.
1 Timotius
4:1-3 -- Perikop: “Tugas Timotius dalam menghadapi pengajar sesat.”
(4:1) Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu
kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan
ajaran setan-setan (4:2) oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati
nuraninya memakai cap mereka. (4:3) Mereka itu melarang orang kawin,
melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan
pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal
kebenaran.
Di akhir
zaman ada orang murtad mengikuti serigala berbulu domba dan mendengar suara
asing.
Kita
digembalakan oleh Firman Pengajaran Mempelai dan Pengajaran Tabernakel itu
adalah suara dari Sorga, itu sebabnya sampai hari ini kita bertahan di tempat ini.
Sasaran dari Firman Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel adalah
perjamuan kawin Anak Domba.
Nikah
wujudnya adalah doa penyembahan, hubungan intim yang disertai dengan bahasa
lidah (bahasa roh), disebut nyanyian baru yang tidak dapat dipelajari selain
orang itu dan Tuhan.
Namun
gembala asing suaranya juga asing karena dia adalah pendusta dengan segala
penyesatan, yaitu:
1.
Melarang orang kawin. Ini bertentangan dengan pengajaran Mempelai dalam terangnya
Tabernakel.
2.
Melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah.
Kita akan
melihat makanan pokok Allah.
Yohanes 4:34
(4:34) Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah
melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
Makanan
pokok Yesus yang diciptakan Allah sendiri yang harus dinikmati.
YANG
PERTAMA: Melakukan kehendak Allah.
Untuk
melakukan kehendak Allah yang diperlukan adalah KETAATAN seperti Yesus taat
kepada Bapa di Sorga, dalam Ibrani 5:8-9.
Ibrani 5:8-9
(5:8) Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat
dari apa yang telah diderita-Nya, (5:9) dan sesudah Ia mencapai
kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang
yang taat kepada-Nya,
Karena Yesus
taat pada akhirnya Ia menjadi POKOK KESELAMATAN bagi semua orang yang taat
kepada-Nya, Ia juga pokok anggur yang benar dan menghasilkan buah anggur yang
benar itu berbicara soal persekutuan yang indah antara ranting dengan pokok.
Selain Yesus
adalah pokok keselamatan, Yesus juga POHON KEHIDUPAN (Wahyu 22:2). Pohon
kehidupan ditanam di tepi sungai seberang-menyeberang, berbuah 12 kali,
tiap-tiap bulan sekali. Berbuah 12 kali berarti 1 tahun, berbicara soal
kedewasaan. Kalau ada persekutuan yang indah dengan Tuhan itulah yang
mendewasakan kita di hadapan Tuhan. Selain menjadi kehidupan yang dewasa, daun
pohon-pohon itu digunakan menjadi obat bagi bangsa-bangsa berarti menjadi obat
bagi orang yang berputus asa, bagi orang yang lemah, bagi orang yang sudah
kering rohani dia menjadi obat.
Hati
yang gembira adalah obat
S'perti
obat hati yang senang
Tapi
semangat yang patah keringkan tulang
Hati
yang gembira Tuhan senang
Hati-hati
dalam soal pengikutan, perhatikan suaranya.
YANG KEDUA: Menyelesaikan
pekerjaan-Nya.
Supaya
pekerjaan selesai maka yang diperlukan adalah SETIA.
Biarlah
dipenuhkan roh setia supaya mampu menyelesaikan pekerjaan Allah, seperti Yesus
mampu menyelesaikan pekerjaan Allah seperti yang tertulis di dalam Filipi
2:5-8.
Filipi 2:5-8
(2:5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan
perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, (2:6) yang walaupun
dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik
yang harus dipertahankan, (2:7) melainkan telah mengosongkan diri-Nya
sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (2:8)
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat
sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Kesetiaan
dimulai dari merendahkan diri bahkan sampai mati. Inilah makanan pokok Yesus.
Perlu untuk
diketahui: Oleh karena kesetiaan Yesus, maka Ia menyelesaikan pekerjaan Allah.
Sebelum Ia
menyerahkan nyawa-Nya, Yesus berkata “sudah selesai” lalu menyerahkan
nyawa-Nya. Kemudian, suara ini bergema dan bergerak sampai Wahyu 16:17,
disitu dikatakan “sudah terlaksana” penghukuman dari 7 cawan murka
Allah” itulah pembalasan bagi orang-orang yang tidak menghargai kasih sebagai
dasar dari nikah. Gema dari salib di Golgota terus bergerak sampai pada
akhirnya dalam Wahyu 21:6 “semuanya telah terjadi.”
Wahyu 21:1-2
(21:1) Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru,
sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun
tidak ada lagi. (21:2) Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang
baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan
yang berdandan untuk suaminya.
Inilah yang
dimaksud “sudah terjadi” yaitu langit dan bumi pertama diganti oleh langit dan
bumi yang baru itulah kota kudus
Yerusalem Baru, sidang mempelai Tuhan, berdandan untuk suaminya.
Wahyu 21:3-4
(21:3) Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu
berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan
diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan
menjadi Allah mereka. (21:4) Dan Ia akan menghapus segala air mata dari
mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan,
atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah
berlalu."
Setelah
Yesus Kristus menggenapi rencana Allah maka tampillah sidang mempelai Tuhan.
Inilah
rencana Allah yang dikerjakan Yesus Anak Allah sampai selesai dan yang
diperlukan kesetiaan. Kita juga memerlukan kesetiaan utnuk menyelesaikan
pekerjaan Allah.
Dahulu kita
tidak mengerti yang disebut dengar-dengaran sekalipun sudah menjadi orang
Kristen, sehingga ketika kita datang beribadah tidak menyerahkan diri sebagai
kawanan domba Allah yang tergembala. Dahulu kita juga tidak mengerti yang
namanya mengikuti gembala sehingga kita mengambil jalannya masing-masing dan tidak
mengikuti suara gembala, namun malam ini kita diajar untuk mengikuti gembala.
Mengapa
kita diajar untuk mengikuti gembala? Karena
kita mengenal suaranya dan suara asing tidak kita kenal. Tuhan memberkati
pengikutan kita dari sekarang sampai selama-lamanya. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA,
MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U.
Sitohang



No comments:
Post a Comment