KAMI NANTIKAN KESAKSIAN-KESAKSIAN SAUDARA YANG SUDAH MEMBACA FIRMAN TUHAN PADA BLOG INI

Terjemahan

Search This Blog

IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 18 JULI 2026

 


IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 18 JULI 2026 

STUDY YUSUF

(SERI 26)


Subtema: DARAH ORANG YANG TAK BERSALAH


Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, karena TUHAN telah menghimpunkan kita semua untuk berada di tengah-tengah ibadah kaum muda remaja. Semua karena kemurahan TUHAN, karena kita butuh pertolongan dari TUHAN untuk menghadapi dunia yang semakin hari semakin sukar, semakin hari semakin sulit. 

Dan saya pribadi juga betul telah menyaksikannya, sejak saya kecil sampai sekarang. Saya betul-betul mengikuti perkembangan zaman ini. Jadi benar saja, keadaan dunia semakin hari semakin sukar (sulit), bahkan keadaan juga tidak menentu. Sebab itu, kaum muda remaja, marilah kita bersandar kepada TUHAN, tidak lagi bersandar kepada manusia dan pengertiannya.


Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN, yang turut bergabung lewat online, atau live streaming, atau video internet, baik dari Youtube, Facebook, atau media sosial apa saja yang dapat digunakan.


Selanjutnya, mari kita  mengikuti Study Yusuf, sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah kaum muda remaja.  Kita masih  berada pada Kejadian 44:18-34 (seri ke-26). 


Namun, tetaplah berdoa dalam Roh, mohon kemurahan TUHAN, supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap kehidupan kita, secara khusus kaum muda remaja GPT BETANIA, dan kita semua yang hadir di malam ini. 


Perlu untuk diketahui:

Seluruh ayat Firman Allah yang tertulis pada Kejadian 44:18-34, merupakan tutur kata Yehuda kepada Yusuf sebagai mangku negara atau raja muda di Mesir, yang memohonkan kelepasan bagi Benyamin.


Pertanyaannya: Mengapa Yehuda memohon kelepasan bagi Benyamin

Jawabannya akan kita temukan pada … 

Kejadian 44:29-31.

(44:29) Jika anak ini kamu ambil pula dari padaku, dan ia ditimpa kecelakaan, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena nasib celaka. (44:30) Maka sekarang, apabila aku datang kepada hambamu, ayahku, dan tidak ada bersama-sama dengan kami anak itu, padahal ayahku tidak dapat hidup tanpa dia, (44:31) tentulah akan terjadi, apabila dilihatnya anak itu tidak ada, bahwa ia akan mati, dan hamba-hambamu ini akan menyebabkan hambamu, ayah kami yang ubanan itu, turun ke dunia orang mati karena dukacita.


Apabila Benyamin tidak kembali ke Kanaan, maka Yakub:

  • Turun ke dunia orang mati karena nasib celaka… (ayat 29).

  • Turun ke dunia orang mati karena dukacita… (ayat 31).


Setelah kita membahas tentang: “turun ke dunia orang mati karena nasib celaka…” untuk beberapa seri pemberitaan Firman, malam ini kita akan membahas tentang: TURUN KE DUNIA ORANG MATI KARENA DUKACITA. 


Tentang: MATI KARENA DUKACITA (Bagian 3)


Terkait dengan DUKACITA …

2 Korintus 7:8-10 --- Perikop: “Sukacita sesudah dukacita

(7:8) Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat, bahwa surat itu menyedihkan hatimu -- kendatipun untuk seketika saja lamanya --, (7:9) namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikit pun tidak dirugikan oleh karena kami. (7:10) Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.


Ada 2 (dua) jenis dukacita menurut apa yang dipaparkan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Korintus:

  1. Dukacita menurut kehendak Allah.

  2. Dukacita dari dunia.


Terkait:  DUKACITA YANG DARI DUNIA. 


Dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. Contohnya …

Matius 27:1-2 --- Perikop:  “Yesus diserahkan kepada Pilatus kematian Yudas”

(27:1) Ketika hari mulai siang, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus. (27:2) Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.


Semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi sepakat untuk membunuh Yesus. Itulah sebabnya, mereka menyerahkan Yesus kepada Pilatus sebagai wali negeri (kepala daerah/perpanjangan tangan kekaisaran romawi).


Matius 27:3-5

(27:3) Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, (27:4) dan berkata: "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Tetapi jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!" (27:5) Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.


Selanjutnya, melihat Yesus dijatuhi hukuman mati, Yudas mengalami dukacita (penyesalan yang sangat mendalam). Hal itu terlihat dengan jelas dari reaksi-reaksi Yudas...

  1. Mengembalikan 30 uang perak kepada imam-imam dan tua-tua

  2. Terlihat dari perkataannya:aku telah berdosa karena telah menyerahkan darah orang yang tak bersalah”.

  3. Melemparkan uang perak, lalu menggantung diri

Singkat kata, Yudas turun ke dunia orang mati karena dukacita yang berasal dari dunia.


Inilah DUKACITA DARI DUNIA, sebab oleh karena 30 keping uang perak, Yudas menyerahkan darah orang yang tak bersalah. 


Kita telah membahas tentang 30 keping uang perak, sekarang kita akan membahas: 

“MENYERAHKAN DARAH ORANG YANG TAK BERSALAH”


Pengakuan Yudas tentang Yesus sebagai orang yang tidak bersalah, menunjukkan bahwa Yesus hidup tanpa cacat cela, tanpa dosa dan kesalahan (pelanggaran-pelanggaran).


Pendeknya, dosa dan pelanggaran tidak mengalir di dalam darah Yesus. Hal itu dapat kita buktikan bersama dari pengakuan-pengakuan hamba-hamba TUHAN yang dipercaya. Salah satu hamba TUHAN yang dapat dipercaya adalah Simon Petrus. 


Mari kita lihat PENGAKUAN SIMON PETRUS …

1 Petrus 2:18-19 --- Perikop: “Penderitaan Kristus sebagai teladan”

(2:18) Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. (2:19) Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.


Disini kita melihat, Simon Petrus berkata: “... hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu …” Pengajaran yang disampaikan oleh Simon Petrus ini merupakan Pengajaran yang luar biasa, Pengajaran yang tidak dapat dipikirkan secara logika.


Kita adalah hamba dari kebenaran Firman Allah, maka kita harus menunjukkan ketundukan itu di hadapan Allah, bukan kepada manusia. Sebab ketundukan kita kepada Firman Allah harus penuh dengan ketakutan; (takut akan TUHAN, benci kejahatan.) Itu bagian ketundukkan dari seorang hamba kepada kebenaran Firman Allah. 


Alasan untuk tunduk dengan penuh ketakutan kepada Firman Allah adalah: supaya kita memperoleh kasih karunia, karena menanggung penderitaan yang tidak harus kita tanggung itu adalah kasih karunia. Pendeknya, salib Kristus adalah sumber kasih karunia. Jadi, rahmat TUHAN datang dari salib Kristus, tidak datang dari yang lain-lain. 


1 Petrus 2:20.

(2:20) Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.


Menderita karena berbuat baik, itu adalah kasih karunia pada Allah. Berarti, menanggung penderitaan yang tidak harus kita  tanggung harus kita buktikan di hadapan Allah, sehingga dengan demikian kita pun memperoleh kasih karunia dari Allah. 


1 Petrus 2:21-23

(2:21) Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. (2:22) Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. (2:23) Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.


Yesus Kristus adalah hamba Tuhan. Kita juga adalah hamba dari kebenaran Firman Tuhan.


Bukti Yesus Kristus hamba Tuhan: Ia telah melakukan kehendak Allah Bapa sebab Ia  telah menderita demi manusia berdosa, dan telah meninggalkan teladan yang demikian bagi kita, untuk kita ikuti.

Antara lain:

  1. Ia tidak berbuat dosa -> Tabiat dari Firman Allah.

Biarlah kita semua dipenuhkan oleh Firman Allah, karena tabiat dari Firman Allah adalah tidak berbuat dosa.

  1.  Tipu tidak ada di dalam mulut-Nya -> Tabiat dari Roh Allah yang suci.

Biarlah kita semua dipenuhkan oleh Roh Allah yang suci, supaya kita tidak hidup dengan dusta (tipu tidak ada di dalam mulut)

  1. Tidak membalas caci maki dengan caci maki; tidak membalas kejahatan dengan kejahatan; bahkan ketika menderita tidak mengancam, tetapi menyerahkannya kepada Bapa Sorgawi sebagai Hakim yang adil -> Tabiat dari kasih Allah.

Singkat kata, tiga tabiat ini menguasai/mendominasi TUHAN YESUS KRISTUS sebagai hamba Tuhan.


Sekali lagi saya sampaikan: kita adalah hamba-hamba TUHAN, kita harus tunduk sepenuhnya kepada kebenaran Firman Tuhan, dan hal itu harus kita buktikan di hadapan TUHAN, supaya kita memperoleh kasih karunia dari pada-Nya. Inilah Pengajaran Simon Petrus dalam tulisannya pada 1 Petrus 2:18-24.


Bahkan sebagai hamba Tuhan, Yesus rela menderita, menyangkal diri dan memikul salib.

Tujuannya: supaya dosa, pelanggaran, kesalahan tidak mengalir di dalam darah-Nya.
Itu berarti, oleh SALIB...

  1. Yesus telah mati terhadap dosa.

  2. Yesus telah bangkit / hidup untuk kebenaran.


Kita memang harus menunjukkan satu ketundukan penuh dihadapan Allah. Menjadi hamba-hamba dari kebenaran, tunduk penuh kepada kebenaran Firman Allah. 


1 Petrus 4:1-2 --- Perikop: “Menderita dengan sabar” 

(4:1) Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, -- karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa --, (4:2) supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.


Barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa.

Jadi, sebagai hamba-hamba dari kebenaran Firman Allah, kita wajib menyangkal diri, memikul salib, ikut TUHAN,  supaya dengan menderita penderitaan badani, berhenti berbuat dosa.


Kristus telah menderita penderitaan badani (menyangkal diri, memikul salib-Nya), maka kita juga harus mempersenjatai pikiran yang demikian. Tujuannya: sanggup menghentikan lajunya dosa yang telah bergulir dari sejak taman Eden (6000 tahun yang lalu).


Petrus mengajarkan hal itu kepada kita , tentu saja sesuai dengan apa yang dia lihat dan apa yang ia dengar dari Allah. Oleh sebab itu, seorang hamba Tuhan tidak boleh menyampaikan Firman Allah dengan sesuka hati.


Saya ini sebagai gembala sidang (pemimpin jemaat) tidak boleh menyampaikan Firman Allah dengan sesuka hati. Demikian juga Simon Petrus mengajarkan hal ini kepada kita malam ini, tentu saja sesuai dengan apa yang ia lihat, dan apa yang ia dengar dari Allah. 


  • Petrus mengajarkan salib Kristus karena ia telah melihatnya. Lalu hal itu diceritakan dan dituliskan di dalam: 1 Petrus 2:22-24


  • Petrus mengajarkan salib sesuai dengan apa yang ia dengar.

  1. 2 Petrus 1:17-18

(1:17) Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." (1:18) Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.


Sekali lagi saya sampaikan, seorang gembala sidang atau pemimpin jemaat tidak boleh menyampaikan Firman Allah sesuai kehendaknya sendiri, itu adalah perbuatan keji. Tidak ada bedanya dengan antikris dan orang yang menaikkan permohonan kepada TUHAN lewat doa-doa, tapi tidak mau dengar Firman (mengesampingkan Firman Allah), doa semacam ini adalah kekejian. 

Itu sebabnya, malam ini pun saya menyampaikan Firman Allah, tentu sesuai dengan apa yang saya lihat, dengar dari TUHAN lewat pergumulan di kaki salib. 


Ciri-cirinya: ayat menjelaskan ayat, ayat menerangkan ayat. Kemudian disampaikan secara berurut dan teratur, tidak sembarangan. Disebutlah itu Firman pengembalaan.

Firman penggembalaan itu harus disampaikan secara berurut dan teratur, tidak boleh sesuka hati. Supaya domba-domba tergembala dengan baik dan benar di hadapan TUHAN. 


  1. Matius 17;5

(17:5) Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."


Jadi, mengajarkan sengsara salib harus sesuai dengan apa yang didengar dari TUHAN


Selanjutnya, Petrus melakukannya (hidup di dalam salib Kristus). Istilah lain: Petrus bersembunyi di balik salib.

Jangan sampai seorang hamba TUHAN mengajarkan sesuatu, tetapi tidak hidup di dalamnya, itu namanya pendusta. 

Jauh lebih baik kalau kita bersembunyi di balik salib, jangan kita bersembunyi di balik kebenaran diri sendiri, sebab kebenaran diri sendiri tidak bisa menutupi dosa. 


Kita harus bersembunyi di balik salib, sebab Allah Bapa nanti hanya melihat salib itu, tidak lagi melihat pelanggaran kita. 


Jadi, kita bersyukur malam ini, dengan Pengajaran Simon Petrus yang mengajarkan salib Kristus. Namun, Simon Petrus tidak hanya mengajarkannya, tetapi juga hidup di dalamnya, istilah lain bersembunyi di balik salib Kristus. Kalau kita bersembunyi di balik salib Kristus, yang dilihat  Allah Bapa nanti salib, dosa kita semua sudah ditutupi oleh salib, yang nampak hanya salib, dosa sudah tertutupi.


Petrus mengajarkan salib Kristus, tetapi juga melakukannya (hidup di dalamnya) istilah lain Petrus bersembunyi di balik salib, mari kita lihat hal itu …

Yohanes 21:15-17 --- Perikop: Gembalakanlah domba-domba-domba-Ku

(21:15) Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (21:16) Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (21:17) Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.


Disini, Yesus tampil mengoreksi Simon Petrus di dalam hal "mengasihi Tuhan". Tujuannya ; Supaya Simon Petrus mengasihi TUHAN lebih dari orang-orang yang mengasihi TUHAN.

Oleh sebab itu, hendaklah kita mengasihi Tuhan dengan KASIH AGAPE. Itu berarti lebih dari Fileo, lebih dari Eros, lebih dari Storge.

  • Agape = Kasih tanpa syarat ; rela berkorban dalam segala ketulusan.

  • Fileo = kasih persaudaraan. 

Berbuat baik, kalau orang lain berbuat baik. Berarti masih ada syarat. 

  • Eros = kasih terhadap lawan jenis karena hasrat dan hawa nafsu. 

  • Storge = kasih yang mengalir dari orangtua kepada anak secara alami. Contoh seorang ibu mengasihi anaknya. 


Selanjutnya Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Jadi, dalam hal mengasihi itu didapati dari domba-domba yang tergembala. Di luar itu orang tidak mengenal kasih Agape. Kalau kita hanya datang sekedar beribadah, tetapi tidak terikat dengan penggembalaan, maka orang semacam ini hanya sekedar datang beribadah. Tetapi kalau kita mau menunjukkan kasih Agape, maka kita harus membuktikan diri kepada Tuhan sebagai domba yang tergembala. Alasannya; Pada domba yang tergembala ditemukanlah kasih Agape.


Yohanes 21:18

(21:18) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."


Disini kita melihat keadaan Petrus dalam hidupnya:

KETIKA MASIH MUDA..

  1. “… Mengikat pinggangnya sendiri…” artinya; hidup dalam kebenaran diri sendiri.

  2. “… Berjalan sesuai dengan kehendak sendiri…” artinya: sesat dan tidak tergembala = menolak salib. Ayat referensinya:

  • Yesaya 53:6 … Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

  •  1 Petrus 2:25 … Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.


Jadi, hendaklah tergembala dengan sungguh-sungguh, ikuti pengertian yang benar sesuai dengan pengajaran salib yang diajarkan Simon Petrus dalam tulisannya ini, supaya kita ada dalam rencana Allah = tidak sesat, tidak liar, sebaliknya tergembala dan terpelihara.


Jadi, sekali lagi saya sampaikan dengan tandas, kita harus menjadi satu kehidupan domba yang tergembala di dalam satu kandang penggembalaan dengan seorang gembala. Jangan ada gembala yang lain. Memang secara jasmani ada satu  gembala, tetapi di dalam praktek hidup, terkadang masih ada gembala yang lain, yaitu: uang, hasrat, keinginan sendiri, egois, ambisi dan seterusnya. Itukan namanya dua gembala secara tidak disadari. 


Jadi kalau domba tergembala, maka pada domba itu ditemukan 

  1. kasih Agape.

  2. Terpelihara jiwanya. 

Apalagi hari ini adalah hari-hari terakhir, keadaan dunia sudah semakin tidak menentu (fluktuasi), keadaan dunia sudah semakin sulit, semakin sukar, tidak semakin baik. Jadi, kita harus menjadi satu kehidupan domba yang tergembala; sehingga didapati kasih Agape, dan jiwa kita terpelihara sekaligus, sampai TUHAN datang kembali, jiwa kita selamat. 


Keadaan Petrus dalam hidupnya: KETIKA SUDAH TUA : “...Petrus mengulurkan tangannya…”

Artinya: penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Menunjukkan bahwa…

  • Petrus telah dewasa rohani dan bijaksana.

  • Berada pada tingkat ibadah yang tertinggi / puncak ibadah itulah doa penyembahan.

Penyembahan artinya: penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah. Penyembahan itu tidak dilihat dari Praise and Worship (nyanyi-nyanyi), penyembahan tidak dilihat pada saat berlutut, tetapi penyembahan dilihat dari menyerahkan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah.


CIRI-CIRINYA:

  1. Orang lain yang mengikat pinggang Petrus

Tanda ketundukan penuh kepada Tuhan karena kebenaran dan kesetiaan-Nya kepada TUHAN.  

Yohanes 21:18 (Terjemahan Lama) … Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu: Tatkala engkau muda, engkau sendiri mengikat pinggangmu, lalu pergi barang ke mana-mana kehendak hatimu; tetapi apabila engkau sudah tua kelak, engkau akan mengulurkan tanganmu, lalu seorang lain akan mengikatkan pinggangmu, dan membawa engkau barang ke mana yang tiada engkau suka.” 


  1. Dibawa ke tempat yang tidak dikehendaki oleh daging.

Sebelum seseorang (kaum muda remaja) mengerti tentang mengambil rupa seorang hamba, dia tidak akan memahami perkataan Tuhan soal; “...membawa engkau ke tempat yang tidak engkau kehendaki…” 

Saudara, Yesus datang ke dalam dunia ini, untuk melakukan kehendak Allah Bapa, yaitu: menderita sengsara dan mati di kayu salib. Jadi Yesus datang ke dunia itu bukan karena  kehendak-Nya, tetapi oleh kehendak Allah Bapa.

Jadi, dari dua ciri-ciri ini kita sudah melihat, bahwasannya Petrus adalah hamba TUHAN, sepenuhnya tunduk kepada kebenaran Firman Allah / kehendak Allah.


Itulah Pengajaran salib yang disampaikan oleh Rasul Petrus dalam tulisannya, sesuai dengan apa yang ia dengar, sesuai dengan apa yang ia lihat, tetapi ia juga melakukannya. Dia hidup di dalamnya, sehingga tidak hanya omdo (omong doang), tidak hanya bisa mengajari tetapi tidak menjadi pelaku. Istilah dalam bahasa jawa jarkoni (iso ngajar, tapi ga iso nglakoni). Pendeknya, Simon Petrus setelah tua (dewasa) dia bersembunyi di balik salib, tidak jarkoni/tidak omdo.


Yohanes 21:19

(21:19) Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

 

Yesus mengatakan hal itu kepada Simon Petrus, karena pada akhirnya Simon Petrus betul-betul menyangkal diri, memikul salib, sampai mati. Dan memuliakan Allah. 


Sesudah berkata demikian selanjutnya Yesus berkata kepada Petrus: “...Ikutlah Aku…”

Kita bandingkan waktu Petrus masih muda… 

Yohanes 13:36-38

(13:36) Simon Petrus berkata kepada Yesus: "Tuhan, ke manakah Engkau pergi?" Jawab Yesus: "Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku."  (13:37) Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!"  (13:38) Jawab Yesus: "Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."


Jadi, setelah TUHAN melihat kondisi rohani Petrus dewasa (tua), barulah TUHAN berkata:  ikutlah Aku. Tetapi waktu masih muda, dengan terang-terangan Yesus berkata kepada Petrus: "Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku."


Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!"

Ini hanya perkataan anak kecil saja, perkataan yang meluap-meluap tetapi tidak dipikirkan, meluap dari hati tetapi ia tidak tahu apa yang diungkapkannya. Seolah-olah TUHAN yang salah, tidak mengerti dia dan tak mengenal Petrus.


Jadi, Yesus berkata pada Yohanes 21:19: “...ikutlah Aku...” setelah Simon menjadi tua (dewasa) rohani. Kalau kanak-kanak, tidak mengerti soal menyangkal diri dan memikul salib. 

Lihat gereja-gereja, lihat rumah-rumah TUHAN sekarang ini, salib tidak diajarkan (disampaikan) di dalamnya.

Kenapa gembala sidang tidak berani mengajar sidang jemaat untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut TUHAN? Karena takut kehilangan jemaat, tapi ia tidak takut kehilangan nyawa. Ia hanya takut kehilangan jemaat, takut jemaat mundur dari gerejanya. Akhirnya jemaat tidak dewasa-dewasa (tua rohani). Dan itu dilukiskan di dalam Yohanes 21:18a: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki. Melakukan sesuai kehendaknya, tetapi sesat dan tidak tergembala dan jiwanya tidak terpelihara/binasa.

Jadi, kalau jemaat tidak diajarkan tentang salib, maka jemaat menjadi sesat, jemaat terhilang, jiwanya tidak terpelihara. 


Kita patut bersyukur, karna kita sudah menjadi pengikut Kristus, lewat Pengajaran salib yang dituliskan oleh Simon Petrus kepada kita malam ini. Mengikut TUHAN bukan sekedar mengikuti dari belakang (ikut-ikutan) seperti orang berjalan saja. Tetapi mengikut dalam bentuk kedewasaan rohani. 


Kita sudah melihat bagaimana Simon Petrus mengajarkan semuanya itu, sesuai dengan apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar. Namun pada akhirnya ia melakukannya (hidup di dalamnya).


Singkat kata, kesalahan dan pelanggaran atau dosa tidak mengalir di dalam darah Yesus. Demikian juga dengan kita, kalau kita mau mengikut TUHAN, berarti menyangkal diri, memikul salib, maka kesalahan (pelanggaran), atau dosa-dosa tidak mengalir di dalam darah kita masing-masing. 

Barangsiapa mempersenjatai diri dengan penderitaan badani, maka ia berhenti berbuat dosa. Jadi salib itu yang menghentikan dosa, bukan dengan akal pikiran manusia, bukan dengan kekuatan, bukan dengan kepintaran, tetapi oleh salib. 


Jadi, kalau TUHAN berkata kepada Simon Petrus: “Ikutlah aku” berarti Yesus menganggap bahwa Simon Petrus telah tua (dewasa rohani). Sedangkan kanak-kanak tidak sanggup ikut Tuhan dengan benar.


KEGUNAAN DARAH YESUS

1 Petrus 1:18-19

(1:18) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, (1:19) melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.


Kita semua telah ditebus dari cara hidup yang sia-sia disebut juga dosa warisan, bukan dengan:

  • Barang fana itulah harta kekayaan dan uang yang banyak.

  • bukan pula dengan perak dan emas yang berbatang-batang.

Tetapi kita ditebus dengan darah yang mahal, itulah darah Kristus darah Anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat, sebagaimana dilukiskan oleh nabi Yesaya di dalam Yesaya 53:7: … Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya


Hal itu diakui langsung oleh Simon Petrus di dalam 1 Petrus 1:18-19Darah Yesus darah yang mahal, darah Yesus sama seperti darah Anak Domba yang tak bernoda dan tak bercacat, kalau ada cacatnya tidak dapat dijadikan sebagai korban sembelihan.


Jadi, kegunaan darah yang tidak dicemari dosa, darah Yesus yang tak bernoda adalah untuk: MENEBUS.  

Jadi kita sudah ditebus. 


Berarti Yesus sudah menggenapi apa yang dituliskan oleh Musa di dalam …

Imamat 17:11

(17:11) Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.


Jadi, kegunaan darah yang tak bernoda ialah; untuk menebus kita, dan hal itu sudah digenapi di atas kayu salib. Darah-Nya sudah dipersembahkan di atas kayu salib untuk saya dan saudara, selanjutnya kita diperdamaikan kepada Bapa di Sorga oleh nyawaNya. 


Istilah ditebus berarti dibeli =  harganya sudah lunas dibayar.


1 Korintus 6:20

(6:20) Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!


Karena kita telah ditebus dengan darah yang mahal, kita wajib untuk memuliakan TUHAN dengan tubuh, sebab kita tidak berhak lagi atas tubuh ini. Kita sudah menjadi haknya TUHAN, karena TUHAN sudah membeli kita. Oleh sebab itu, kita wajib memuliakan Allah dengan tubuh ini, karena kita sudah ditebus, kita sudah menjadi milik Allah. 


Tidak ada alasan untuk tidak memuliakan Allah, tidak ada alasan untuk tidak datang beribadah, tidak ada alasan tidak melayani TUHAN, tidak ada alasan untuk tidak melayani pekerjaan TUHAN. Jadi, kalau kita datang beribadah, datang melayani TUHAN dan pekerjaan TUHAN, itu wajib hukumnya, karena TUHAN sudah menebus kita. 


Dulu kita hamba dosa,  hamba kepada daging, hamba kepada setan. Tapi selanjutnya ditebus dari perhambaan dosa tersebut. Akhirnya kita menjadi miliknya TUHAN, maka kita wajib memuliakan TUHAN, wajib untuk beribadah, wajib untuk melayani TUHAN, wajib untuk melayani pekerjaan TUHAN. Wajib hukumnya; tidak boleh terpaksa, apa lagi malas-malasan dan bersungut-sungut (uring-uringan)


1 Petrus 2:5

(2:5) Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.


Singkat kata, menjadi batu hidup berarti manusia rohani, manusia yang sudah ditebus oleh TUHAN menjadi milik kepunyaan TUHAN:

  • Untuk pembangunan suatu rumah rohani.

  • Untuk mempersembahkan persembahan rohani.

Jadi, batu hidup itulah imamat kudus, melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN.


1 Korintus 7:22-23

(7:22) Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya. (7:23) Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.


Dulu kita terikat (hamba terhadap dosa) hamba terhadap setan, hamba terhadap daging,  hamba terhadap dunia. Tapi sekarang sudah ditebus dari situ, sudah dibeli, harganya sudah lunas dibayar dengan darah yang mahal.


Sekarang kita adalah orang bebas, milik kepunyaan TUHAN. Jadi, hamba TUHAN itu orang bebas, tidak ada ikatan lagi. Yang melayani camkanlah ini, yang disebut imam harus tahu ini. Tetapi kaum muda remaja juga harus tahu kebenaran semacam ini. 


Ingat kita sudah ditebus, harganya sudah lunas dibayar, berarti kita tidak ada lagi hak untuk diri sendiri, kecuali TUHAN. 


Kita sudah melihat pengakuan dari Yudas Iskariot. Dia menjual Yesus dengan 30 keping uang perak, dia menyerahkan darah orang yang tidak bersalah, tetapi Yudas sendiri mengalami dukacita dari dunia hasilnya mengalami kematian. Itulah duka cita dari dunia. 


Kita doakan minggu yang akan datang kita akan melihat: Dukacita dalam TUHAN. 



TUHAN YESUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI.


Pemberita Firman:

Pdt. Daniel U.Sitohang

























No comments:

Post a Comment