IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 16
AGUSTUS 2017
(Seri
124)
“KITAB KOLOSE”
Subtema: DIASUH DAN DIRAWAT.
Shalom
saudaraku...
Selamat malam, salam sejahtera,
salam di
dalam kasih Tuhan kita
Yesus Kristus. Oleh karena
kemurahan hati Tuhan kita dapat kembali melangsungkan Ibadah Doa Penyembahan pada
malam hari ini.
Segera saja kita memperhatikan
firman penggembalaan untuk Ibadah Doa Penyembahan dari surat yang dikirim oleh
Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose.
Kolose 1: 23
(1:23) Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap
teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang
telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit,
dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.
Kita memperhatikan kalimat: “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman.”
Bertekun dalam iman, artinya;
1.
Tetap teguh.
2.
Tidak bergoncang.
3.
Jangan mau digeser dari pengharapan Injil.
Keterangan: JANGAN MAU DIGESER
DARI PENGHARAPAN INJIL.
Galatia 1: 6-7
(1:6) Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari
pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti
suatu injil lain,
(1:7) yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang
yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.
Perhatikan pernyataan Rasul
Paulus kepada jemaat di Galatia: “Dan
mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil”, menunjukkan bahwa jemaat di Galatia
mau digeser dari pengharapan Injil.
Ini terjadi karena ada orang
yang mengacaubalaukan mereka dengan jalan memutarbalikkan Injil Kristus.
Injil Kristus adalah
menceritakan pribadi Yesus Kristus yang disalibkan = menceritakan pribadi Yesus
seutuhnya dimulai dari lahir tumbuh menjadi kanak-kanak, melayani 3.5 tahun
bersama dengan murid-murid, kemudian mati di atas kayu salib, hari ketiga
bangkit, kemudian Dia naik dipermuliakan, itu Injil sepenuh, (Injil Kristus). Jadi menceritakan pribadi Yesus Kristus yang
disalibkan = Injil sepenuh = Injil Kristus = pengajaran salib.
Galatia 1: 8-9
(1:8) Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari
sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang
telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.
(1:9) Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang
kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu
injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.
Orang yang memutarbalikkan
Injil Kristus adalah orang yang terkutuk = orang yang tidak mengasihi Allah
sesuai dengan 1 Korintus 16: 22.
Galatia 1: 10
(1:10) Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan
manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya
aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.
Rasul Paulus memberitakan Injil
Kristus untuk menyukakan hati Tuhan, bukan menyukakan hati manusia.
Sebaliknya orang yang
memutarbalikkan Injil Kristus hanya untuk menyukakan hati manusia.
Orang yang tidak menyampaikan
Injil Kristus (tidak menceritakan pribadi Yesus Kristus yang disalibkan), hanya
untuk menyukakan hati manusia, itulah hamba yang menyampaikan firman yang
ditambahkan dan dikurangkan.
Firman yang ditambahkan seperti
yang seringkali saya sampaikan; menyampaikan satu, dua ayat kemudian ditambahkan
cerita-cerita, lucu-lucu, dongeng-dongeng, dan lain sebagainya.
Firman dikurangkan;
berita salib diganti dengan dua hal;
1.
Diganti dengan teori kemakmuran; orang Kristen
tidak boleh miskin, harus kaya. Dengar berita seperti ini kan enak, menyukakan
hati manusia.
2.
Pelayanan hanya sebatas tanda-tanda heran, mujizat,
salib tidak ditegakkan, hanya menyukakan hati manusia.
Tetapi di sini kita melihat;
Rasul Paulus memberitakan injil Kristus bukan untuk menyukakan hati manusia,
melainkan untuk menyukakan hati Tuhan.
Demikian juga saya dan kita semua
belajar untuk selalu menyukakan hati Tuhan. Di tengah-tengah ibadah dan
pelayanan sangkal diri dan pikul salib, untuk menyukakan hati Tuhan.
1 Tesalonika 2: 3-6
(2:3) Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan
atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya.
(2:4) Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami
layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara,
bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji
hati kita.
(2:5) Karena kami tidak pernah bermulut manis -- hal
itu kamu ketahui -- dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi --
Allah adalah saksi --
(2:6) juga tidak pernah kami mencari pujian dari
manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat
berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.
Jadi Rasul Paulus menyampaikan
Injil Kristus bukan untuk menyukakan manusia melainkan untuk menyukakan Allah,
yang menguji hati manusia, sehingga dengan demikian dia layak bagi Allah untuk
memberitakan Injil Kristus.
Bukti bahwa Rasul Paulus
menyukakan hati Allah: nasihat firman yang disampaikan oleh Rasul Paulus:
-
Tidak lahir dari kesesatan.
-
Tidak lahir dari maksud yang tidak murni.
-
Tidak lahir dari tipu daya.
Praktek menyukakan hati Allah:
- Tidak pernah
bermulut manis.
Orang yang bermulut
manis adalah orang yang tidak jujur. Tidak jujur di tengah-tengah ibadah dan pelayanan,
tidak jujur di hadapan Tuhan, tidak jujur di hadapan sesama.
Kalau
melayani dengan tidak jujur sebetulnya tidak ada artinya karena Rasul Paulus
melayani, memberitakan Injil Kristus untuk menyukakan hati Allah sebab Dia yang
menguji hati. Jadi apa yang kita perbuat adalah untuk Tuhan bukan untuk dilihat
manusia. Jadi jangan keliru dalam hal melakukan pekerjaan-pekerjaan,
tindakan-tindakan di tengah-tengah ibadah dan pelayanan ini. Jangan pernah
berpikir apa yang kita kerjakan untuk dilihat manusia, itu kesalahan besar,
Tuhan menguji hati manusia. Kalau orang yang tidak jujur kelihatan bekerja
padahal tidak, karena sesungguhnya hatinya tidak di situ.
-
Tidak pernah bermaksud loba yang tersembunyi. Loba = serakah = tamak = cinta akan
uang.
-
Tidak pernah mencari pujian dari manusia, sebaliknya orang yang mencari pujian dari manusia (menyukakan
hati manusia) adalah orang yang suka memutarbalikkan kebenaran (Injil Kristus).
Kesimpulannya: Rasul Paulus
layak untuk memberitakan Injil Kristus.
Galatia 1: 11-12
(1:11) Sebab aku menegaskan kepadamu,
saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia.
(1:12) Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan
manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan
Yesus Kristus.
Rasul Paulus menerima Injil
Kristus, bukan dari manusia dan bukan manusia yang mengajarkannya tetapi dia
menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.
Perhatikan kalimat: “Aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus”,
menunjukkan bahwa Allah telah menganggap Rasul Paulus layak untuk mempercayakan
Injil Kristus kepadanya.
Kisah Para Rasul 26: 15-16
(26:15) Tetapi aku menjawab: Siapa Engkau, Tuhan? Kata
Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu.
(26:16) Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku
menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi
tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang
akan Kuperlihatkan kepadamu nanti.
Perhatikan kalimat: “Aku menampakkan diri kepadamu untuk
menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah
kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti.”
Artinya; Rasul Paulus menerima
Injil Kristus oleh penyataan Yesus Kristus sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh
Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia tadi. Jadi betul-betul Yesus Kristus yang
menyatakan diri-Nya kepada Rasul Paulus.
Jadi Injil Kristus yang
diberitakan itu bukan injil manusia, dan bukan manusia pula yang mengajarkannya
kepadanya, tetapi betul-betul Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kepadanya.
Yesus Kristus yang disalibkan itu menyatakan diri-Nya kepada Rasul Paulus. Dia
melihat dan mendengar dan apa yang dilihat dan didengar, itu yang diajarkannya/diberitakan.
Maka terlalu indah kehidupan
anak-anak Tuhan apalagi yang sudah melayani Tuhan apabila dia melakukan atau berbuat
sesuai dengan apa yang dia dengar, sesuai dengan apa yang dia lihat dari Tuhan.
Terlalu indah kehidupan dari anak-anak Tuhan yang beribadah. Berbeda dengan
orang yang jauh dari Tuhan, jauh dari ibadah, jauh dari pelayanan, hidupnya tidak
indah. Kalau ibadah itu sudah mendarah daging, maka kehidupan seperti ini terlalu
indah di dalam Tuhan, sebab perkataan dan perbuatan kita sesuai dengan apa yang
kita lihat, sesuai dengan apa yang kita dengar dari Tuhan. Jangan pernah
terpaksa, jangan pernah merasa rugi berkorban di tengah-tengah ibadah dan pelayanan.
Ciri-ciri hamba Tuhan yang telah
dianggap layak untuk memberitakan Injil Kristus.
1 Tesalonika 2: 6-7
(2:6) juga tidak pernah kami mencari pujian dari
manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat
berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.
(2:7) Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama
seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.
Rasul Paulus berlaku ramah di
tengah-tengah ibadah dan pelayanannya kepada Tuhan.
Berlaku ramah sama seperti seorang
ibu mengasuh dan merawati anak-anaknya.
Inilah ciri-ciri hamba Tuhan
yang telah dianggap layak memberitakan Injil Kristus.
Seorang gembala, dia ibu bagi
sidang jemaat, untuk mengasuh, dan merawati sidang jemaat yang
dipercayakan Tuhan. Itu harus kita pahami, digaris bawahi di dalam hati dan
pengertian masing-masing; seorang gembala (hamba Tuhan) yang melayani sidang
jemaat harus berlaku ramah seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawati
anak-anaknya.
Keterangan: MENGASUH.
Seorang ibu yang mengasuh anak
= memberi didikan kepada anaknya.
Kisah Para Rasul 7: 21-22
(7:21) Lalu ia dibuang, tetapi puteri Firaun
memungutnya dan menyuruh mengasuhnya seperti anaknya sendiri.
(7:22) Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang
Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.
Musa diasuh oleh puteri Firaun
sehingga Musa mendapat didikan dengan segala hikmat orang Mesir.
Perhatikan ibu-ibu, perhatikan
pemudi yang belum menikah; seorang ibu yang baik harus memberi didikan kepada
anak-anaknya, beri contoh yang baik, bukan hanya perkataan saja, tetapi contoh
teladan dari manusia batiniah yang tidak dilihat oleh mata manusia, itu seorang
ibu yang baik; mengasuh, memberi didikan yang baik.
Jangan justru sebaliknya;
memberi didikan yang tidak baik. Banyak orang tua setelah anaknya tumbuh besar,
tumbuh dewasa lalu perbuatannya jauh dari apa yang diinginkan Tuhan; narkoba,
jatuh dalam pesta seks, dan lain sebagainya. Setelah jatuh dalam dosa semacam
itu, orang tua menderita, lalu bertanya: apa salahku Tuhan? Mengapa jadi
begini? Sementara dia tidak memberi didikan kepada anak-anaknya dari sejak
kecil. Setelah jatuh dalam dosa dan oleh karena dosa itu banyak masalah dan
penderitaan, lalu mempersalahkan Tuhan, dan bertanya kepada Tuhan: apa salahku?
Seolah-olah Tuhan yang salah.
Gembala sidang harus memberi
didikan yang baik kepada sidang jemaat. Hamba Tuhan tidak serta merta hanya
sebatas kotbah, selesai kotbah pulang. Tetapi betul-betul harus menjadi seorang
ibu; mengasuh, berarti memberi didikan yang baik.
Ibrani 12: 5-6
(12:5) Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang
berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah
anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau
diperingatkan-Nya;
(12:6) karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,
dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
Tuhan menghajar orang yang
dikasihi dan Ia menyesah orang yang diakui sebagai anak.
Kesimpulannya; didikan Tuhan
datang dari salib.
Itu sebabnya seorang gembala
sidang harus menjadi seorang ibu, maksudnya, harus memberitakan Injil Kristus (Yesus Kristus yang
disalibkan), sebab didikan itu datangnya dari salib. Tetapi kalau seorang gembala
sidang tidak memberitakan Injil Kristus, tidak memberitakan Yesus Kristus yang
disalibkan (Injil
sepenuh), berarti dia bukan seorang gembala, dia belum pantas
menjadi seorang ibu yang mengasuh anaknya.
Dari situ kita harus belajar
untuk mengerti mana gembala yang baik dan mana yang bukan gembala.
Ibrani 12: 7
(12:7) Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah
memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar
oleh ayahnya?
Kalau harus menanggung ganjaran
sebagai didikan, berarti Allah memperlakukan kita anak-Nya.
Kalau seorang
gembala tidak mendidik sidang jemaat, berarti hubungan antara gembala dengan
sidang jemaat tidak seperti ibu dengan anak, hanya sebatas kenal dan hanya
dikenal saja, hanya sebatas mengenal tanpa berbuat sesuatu yang baik.
Ibrani 12: 8
(12:8) Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang
harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
Kalau seseorang bebas dari
ganjaran, dia bukanlah anak, tetapi dia adalah anak-anak gampang.
Anak-anak gampang = anak-anak
yang lahir di luar nikah. Belum menikah tetapi melahirkan anak, itu anak
gampang.
Amsal 8: 10-12
(8:10) Terimalah didikanku, lebih dari pada perak, dan
pengetahuan lebih dari pada emas pilihan.
(8:11) Karena hikmat lebih berharga dari pada permata,
apa pun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya.
(8:12) Aku, hikmat, tinggal bersama-sama dengan
kecerdasan, dan aku mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan.
Pengetahuan dan hikmat sumbernya adalah dari didikan
salib.
Perlu untuk diketahui; hikmat
lebih berharga dari permata, bahkan dilanjutkan di sini: apapun yang diinginkan
orang, tidak dapat menyamai hikmat.
Sesuatu yang diinginkan tentu
adalah sesuatu yang sangat berharga. Tetapi apapun yang diinginkan orang lain
karena sesuatu itu berharga, tidak bisa menyamai hikmat dari Tuhan.
Dan hikmat tinggal bersama-sama
dengan orang cerdas, yang membuka pikirannya untuk firman, tidak menutup
hatinya untuk firman.
Kelebihan orang berhikmat:
Yang Pertama: Menjadikan seseorang kaya seperti Salomo.
Oleh
hikmat ratu negeri Syeba datang berkunjung dan membawa harta kekayaannya untuk
dipersembahkan kepada Salomo...1 Raja-raja 10:10.
Karena
hikmat, dipercaya untuk membangun Bait Allah (pondok Daud).
Kelebihan orang berhikmat:
Yang Kedua.
Wahyu 13: 17-18
(13:17) dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau
menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu
atau bilangan namanya.
(13:18) Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa
yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan
itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam
puluh enam.
Dengan
hikmat dapat menghitung bilangan itu.
Adapun
bilangan itu adalah bilangan seorang manusia dan bilangannya ialah 666.
Dunia
tidak tahu tentang bilangan binatang ini, dunia tidak memahami itu. Oleh sebab
itu, tanpa mereka sadari, mereka akan menerima tanda di tangan kanan ataupun di
dahi mereka. Memang mereka yang menerima tanda di dahi atau di tangan kanan
bebas menjual, bebas membeli tetapi berujung pada maut, kebinasaan. Yang dapat
menghitung bilangan binatang itu, hanyalah orang yang berhikmat.
Berarti
tubuh maupun jiwa dan rohnya telah dikuasai oleh daging.
Itu bilangan manusia.
Pendeknya,
angka 6 adalah angka daging. Berarti bilangan 666 menunjukkan bahwa: tubuh,
jiwa dan roh dikuasai oleh daging.
-
6 -> tubuh dikuasai daging.
-
6 -> jiwa dikuasai daging.
-
6 -> roh dikuasai daging.
Siapa
yang bisa menghitung bilangan semacam ini kalau bukan hikmat?
Ibrani 12: 5
(12:5) Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang
berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah
anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau
diperingatkan-Nya;
Oleh sebab itu, perhatikan dua
hal: janganlah anggap enteng didikan Tuhan dan janganlah putus asa
apabila kita mendapatkan teguran-teguran, itulah didikan salib.
Hikmat adalah kekayaan, hikmat
adalah kehidupan, sebab dia dapat menghitung bilangan binatang itu.
Keterangan: MERAWATI.
Jadi seorang ibu, selain
mengasuh juga merawati anak-anaknya. Di antara kita ada seorang perawat,
bekerja di rumah sakit, biarlah menjadi seorang perawat yang baik, tulus.
Lukas 10: 30
(10:30) Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun
dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja
merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu
pergi meninggalkannya setengah mati.
Seorang yang turun dari
Yerusalem ke Yerikho. Ini gambaran dari orang yang meninggalkan pelayanan =
kerohanian yang sudah turun/merosot.
Yerusalem = ibadah dan pelayanan. Yerikho = hal-hal yang
lahiriah.
Kalau seseorang lebih
mengutamakan kerajaan dunia dan kemegahannya, lebih mengutamakan
perkara-perkara lahiriah di dunia ini, maka itu menjadi tembok pemisah bagi dia
dengan Tuhan dan oleh tembok ini dia akan terkurung, dia tidak bisa melihat
kemuliaan Tuhan.
Pendeknya, meninggalkan
pelayanan hanya karena perkara-perkara lahiriah = kerohanian yang sedang turun.
Akibat meninggalkan pelayanan:
“Jatuh ke tangan para penyamun.”
Ketika jatuh ke tangan
penyamun, ada dua hal yang terjadi:
a.
Hartanya dirampok sampai habis-habisan.
Harta rohani yang
kita miliki antara lain;
-
Karunia-karunia Roh Kudus dan jabatan-jabatan yang
dipercayakan Tuhan.
-
Pengalaman-pengalaman bersama dengan Kristus, yakni
kematian dan kebangkitan-Nya, itulah harta dalam bejana tanah liat.
Coba kalau seseorang tinggalkan ibadah pelayanan, yang
pertama terjadi, akan dirampok habis-habisan. Apabila seseorang tinggalkan
pelayanan, maka dagingnya mulai bersuara, dengan kata lain hidup rohani akan
digerogoti
oleh daging.
b.
Dipukuli setengah mati = menderita karena kesalahan.
1 Petrus 2: 19-20
(2:19) Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena
sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.
(2:20) Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu
menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan
karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
Menderita karena
pukulan (akibat kesalahan), itu bukan kasih karunia, itu kebodohan.
Beda dengan orang
yang menderita karena salib, aniaya karena firman (sengsara salib), itu kasih
karunia. Tetapi kalau menderita akibat kejahatan, kenajisan, dan lain
sebagainya, itu kebodohan. Itu yang terjadi menimpa orang yang meninggalkan
pelayanan (Yerusalem turun ke Yerikho).
Lukas 10: 31-34
(10:31) Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan
itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
(10:32) Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat
itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
(10:33) Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam
perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya
oleh belas kasihan.
(10:34) Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya,
sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang
itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan
dan merawatnya.
Seorang Samaria merawati
orang yang telah menderita setengah mati karena meninggalkan ibadah pelayanan,
itulah orang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Kemudian membalut luka-luka
orang yang menderita karena pukulan itu.
Saudaraku, di sini ada dua
pelayan; imam dan Lewi, tidak mau memperhatikan orang yang menderita. Ini gambaran dari
seorang hamba Tuhan yang tidak menyampaikan Injil sepenuh, Injil Kristus, dia
tidak peduli dengan orang yang menderita, tidak peduli dengan orang yang
meninggalkan ibadah dan pelayanan.
Ayub 5: 18
(5:18) Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang
membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula.
Perhatikan kalimat: “Dialah yang melukai, tetapi juga yang
membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula.”
Injil Kristus atau Injil
sepenuh, itulah pemberitaan firman tentang salib Kristus; melukai hati tetapi
juga yang akan membebat, membalut hati kita semua.
Ketika terjadi pembukaan
rahasia firman, maka segala rahasia yang terkandung dalam hati akan tersingkap.
Pada saat dosa yang terselubung itu disingkapkan, sakit bagi daging tetapi itu
juga yang membebat hati kita, itu juga yang membalut hati kita. Maka jangan
pernah menolak Injil sepenuh, Injil Kristus, itulah berita salib yang
mengoreksi dosa. Maka dikoreksi bagaikan
pedang tajam melukai daging Adam, tetapi setelah dilukai, (dioperasi) oleh
pedang roh, yaitu: firman Allah, selanjutnya luka itu ditutup (Dia yang melukai,
Dia yang menyembuhkan hati kita semua).
Awalnya kita tidak paham bahwa
Tuhan merawat. Kita tolak karena sakit bagi daging, tetapi Tuhan tetap
menyatakan kasih-Nya. Dia yang melukai hati kita, Dia juga yang membebat, Dia
yang membalut hati kita, masalah selesai.
Kalau kita tolak Dia yang akan
merawat kita, masalah tidak akan pernah selesai.
Mengapa seseorang menderita?
Karena dia masih mengalami sakit penyakit, dia mengeluh oleh sakit
(masalah belum selesai).
Ulangan 32: 39
(32:39) Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia.
Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku
telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorang pun tidak ada
yang dapat melepaskan dari tangan-Ku.
Dia yang meremukkan tetapi Dia
juga yang menyembuhkan, lewat pengalaman salib, Yesus mati dan
pada hari yang ketiga Dia bangkit
(hidup).
Pengalaman kematian itu sakit
bagi daging, tetapi lewat pengalaman kematian, Dia bangkit, untuk menghidupkan kita semua.
Hosea 6: 1-2
(6:1) "Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN,
sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah
memukul dan yang akan membalut kita.
(6:2) Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada
hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di
hadapan-Nya.
Sebagai gambaran ketika Injil
Kristus (pengajaran salib) mengoreksi dosa: Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah
memukul dan yang akan membalut kita.
Lewat pengalaman salib, Yesus
mati, dan hari ketiga Yesus bangkit. Kita hidup oleh-Nya.
Ketika kita mengalami
kesembuhan, terjadi kelegaan, hidup ini menjadi ringan walaupun sangkal diri
pikul salib di tengah ibadah pelayanan.
Ibarat orang yang mencintai
ibadah dan pelayanan, biar berat seberat-beratnya, semuanya menjadi ringan,
tetapi kalau hatinya tidak di situ melayani Tuhan, pekerjaan kecil menjadi
berat sekali.
1 Tesalonika 2: 8
(2:8) Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar
akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup
kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.
Inilah keberadaan dari Rasul
Paulus ketika memberitakan Injil sepenuh (Injil Kristus): dalam kasih sayang
yang besar, bukan saja rela membagi injil tetapi juga rela memberi hidupnya.
Saudaraku, saya mau belajar
untuk mengasihi pelayanan ini, bukan saja rela untuk memberitakan Injil
sepenuh, tetapi juga rela memberi hidup saya untuk pelayanan ini. Saya tidak
mau membanggakan diri, tetapi saya belajar untuk terlibat dalam segala perkara
yang saudara rasakan. Belajar terlibat.
Jadi semata-mata bukan hanya
bisa memberitakan Injil sepenuh tetapi belajar untuk terlibat di dalamnya
karena kita mengasihi pelayanan ini.
Kita bersyukur kepada Tuhan,
jangan mau digeser dari pengharapan Injil. Yesus telah menyatakan diri-Nya; Dia mengasuh,
Dia merawati kita semua. Jangan mau digeser dari pengharapan Injil.
Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA
MEMBERKATI
Pemberita firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment