IBADAH RAYA MINGGU, 16
NOVEMBER 2025
KITAB WAHYU
PASAL 19:11
(Seri: 1)
Subtema: MELIHAT SORGA TERBUKA
Shalom
Mula pertama saya
mengucapkan puji syukur kepada TUHAN yang telah memungkinkan kita untuk melihat
kemurahan demi kemurahan yang akan dinyatakan. Sampai puncaknya nanti, kita
bisa melihat ketika pintu Sorga bagi kita dan kita juga akan melihat segala
sesuatu yang ada didalamnya.
Saya juga tidak lupa
menyapa anak-anak TUHAN yang turut bergabung lewat online / live streaming /
video internet baik dari Youtube,
Facebook, bahkan dari media sosial lainnya yang dapat digunakan.
Selanjutnya, doa dan
harapan kami, kiranya damai sejahtera dari Sorga memenuhi hati kita sekaliannya.
Ada sukacita, bahagia, damai sejahtera, saat kita duduk diam menikmati sabda
ALLAH. Namun tetaplah berdoa dalam roh, mohon kemurahan dari pada TUHAN, supaya
Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Firman Allah berkuasa untuk menolong kita, membentuk kehidupan kita seturut dengan
kehendak ALLAH dan kita dibawa kembali untuk segambar / serupa kepada dengan
ALLAH.
Selanjutnya marilah kita
sambut KITAB WAHYU sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu dari….
Wahyu 19:11 --- Perikop: “Firman Allah”
(19:11) Lalu aku melihat
sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang
menungganginya bernama: "Yang Setia dan Yang Benar", Ia menghakimi
dan berperang dengan adil.
Singkat kata, Rasul
Yohanes “melihat sorga terbuka.”
Hal yang sama juga dapat
kita alami, seperti yang dialami oleh Rasul Yohanes yakni; melihat sorga
terbuka.
Syaratnya; mengerjakan keselamatan dengan takut dan
gentar. Itu berarti, memberi diri untuk disucikan oleh darah salib atau
menghargai Korban Kristus.
Praktek menghargai
korban Kristus: bertekun di dalam 3
macam ibadah pokok.
Saudara jangan bosan,
bila pengertian ini terus-menerus / berulang-ulang disampaikan. Sebeab, Firman
ALLAH yang disampaikan berulang-ulang memberi kepastian, iman teguh, sehingga kita
kuat menghadapi segala sesuatu yang terjadi di atas muka bumi ini (Filipi 3:1).
Bila dikaitkan dengan
Pengajaran Tabernakel, terkena pada 3 macam alat yang ada di dalam Ruangan Suci;
1.
Meja Roti Sajian à Ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab = Persekutuan
yang mendalam dengan Yesus Anak ALLAH lewat FirmanNya
dan perjamuan suci.
2.
Pelita Emas à Ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu, disertai dengan
kesaksian roh. = Persekutan yang mendalam dengan Roh ALLAH yang suci.
3. Mezbah
Dupa à Ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan = Persekutuan
yang mendalam dengan Kasih ALLAH.
Pertanyaannya sekarang: Mengapa
anak-anak TUHAN harus tinggal di dalam Ruangan Suci atau tekun dalam 3 macam
ibadah pokok? Jawabnya; sebab Yesus hadir di tengah-tengah ibadah-ibadah
tersebut sebagai Imam Besar Agung.
Jadi, kalau kita tekun
dalam 3 macam ibadah pokok, di situ Yesus hadir sebagai Imam Besar Agung untuk….
a.
Melayani,
berdoa dan memperdamaikan dosa umat-Nya.
Kita butuh
kehadiran dari Imam Besar Agung dalam setiap pertemuan-pertemuan ibadah.
b.
Memimpin
ibadah-ibadah di bumi sampai kepada tingkat ibadah yang tertinggi / puncak
ibadah yakni; doa penyembahan.
Jadi,
mengerjakan ibadah tanpa pengertian yang jelas, maka ibadah itu akan sia-sia
(menurut saya). Tetapi, kalau ibadah itu berpola, maka, ibadah itu akan
diarahkan kepada satu titik sebagai sasaran yang TUHAN kehendaki, itulajh doa
penyembahan.
Jadi, banyak
anak-anak TUHAN menjalankan ibadah, teteapi tidak mengerti sasaran ibadah itu
sendiri. Kita memang harus beribadah dan melayani, tetapi kita harus tahu sasaran
ibadah itu sendiri, sebagaimana dalam Wahyu
8:3-4; Yesus sebagai Imam Besar Agung memimpin ibadah-ibadah di bumi ini
sampai kepada tingkat ibadah tertinggi (puncak ibadah), itulah doa penyembahan.
Bagaikan asap dupa kemenyan, ukupan wangi-wangian, naik di hadirat TUHAN,
menembusi Takhta ALLAH
Keluaran 28:31-35 ---
Perikop: “Mengenai pakaian imam”
(28:31) Haruslah kaubuat gamis
baju efod dari kain ungu tua seluruhnya. (28:32) Lehernya haruslah
di tengah-tengahnya; lehernya itu harus mempunyai pinggir sekelilingnya, buatan
tukang tenun, seperti leher baju zirah haruslah lehernya itu, supaya jangan
koyak. (28:33) Pada ujung gamis itu haruslah kaubuat buah delima dari
kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi, pada sekeliling ujung gamis
itu, dan di antaranya berselang-seling giring-giring emas,
(28:34) sehingga satu
giring-giring emas dan satu buah delima selalu berselang-seling, pada ujung
gamis itu. (28:35) Haruslah gamis itu dipakai Harun, apabila ia
menyelenggarakan kebaktian, dan bunyinya harus kedengaran, apabila ia masuk ke
dalam tempat kudus di hadapan TUHAN dan apabila ia keluar pula, supaya ia
jangan mati.
Pakaian Imam Besar ada
yang disebut dengan; gamis baju efod
(baju selimut berwarna ungu tua / biru langit seluruhnya). Kemudian, pada ujung
gamis itu digantungkanlah buah delima dan giring-giring emas di sekelilingnya
berselang-seling; satu buah delima, satu giring-giring emas.
Gamis baju efod berwarna
biru langit / biru tua à Kebangkitan TUHAN Yesus
Kristus.
-
Buah
delima à sidang jemaat / gereja
sempurna.
Pada atas
buah delima ada mahkota, kemudian kalau buah delima dibelah, di situ ada banyak
biji-biji yang dibungkus, dan disekat-sekat. Itulah anggota-anggota tubuh
Kristus yang menjadi satu, yang pada akhirnya menjadi mempelai Tuhan (mahkota).
-
Giring-giring
emas à hadirnya Imam Besar di
tengah-tengah ibadah tersebut.
Singkatnya, kehadiran
Imam Besar Agung di tengah-tengah sidang jemaat dibuktikan dengan penyembahan disertai bahasa lidah / bahasa asing / bahasa roh.
Sekarang kita akan
melihat itu di dalam…
Matius 27:50
(27:50) Yesus berseru
pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.
Yesus berseru dengan
seruan; "Eli, Eli, lama sabakhtani?".
Seruan ini menunjuk penyembhaan disertai dengan bahasa lidah / bahasa asing. Kemudian,
sesudah berseru, Yesus menyerahkan nyawa-Nya = mati di kayu salib.
Matius 27:51
(27:51) Dan lihatlah, tabir
Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi,
dan bukit-bukit batu terbelah,
Pada saat Yesus mati di
kayu salib, tabir (tabir) Bait Suci terbelah dua (robe) dari atas sampai ke
bawah.
Kita lihat pengertian
rohani “tabir (tirai) Bait Suci robek / terbelah dua dari atas sampai ke bawah”….
Ibrani 10:19-21 ---
Perikop: “Ketekunan”
(10:19) Jadi, saudara-saudara,
oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat
kudus, (10:20) karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup
bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, (10:21) dan kita
mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.
Pendeknya, Yesus sebagai
Imam Besar Agung telah mengalami perobekan daging. Maka, selaku Imam Besar
Agung, Yesus telah membawa kita sampai kepada takhta ALLAH (kekekalan). Pendeknya,
kita sudah melihat sorga terbuka.
Itu sebabnya di atas
tadi saya berani berakata, kalau Rasul Yohanes melihat sorga terbuka, maka, hal
yang senada akan kita alami yakni; melihat sorga terbuka, tetapi ada syaratnya,
yaitu; tekun 3 (tiga) macam ibadah pokok, tidak ada cara lain.
Jadi, jangan sampai
karena kurang suka dengan Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel, akhirnya
cari ajaran lain, hati-hati. Saya sampaikan dengan tandas; bertahan saja,
karena kedatangan TUHAN Yesus sudah tidak lama lagi. Jangan karena gara-gara
sedikit kita binasa .
Saudaraku, sebagai Imam
Besar Agung Yesus telah melintasi segala langit itulah Ruangan Maha Suci. Lagi
pula, hanya Imam Besar yang diperbolehkan masuk ke dalam Ruangan Maha Suci.
Itu sebabnya, kedua anak
dari imam Harun itu mati, karena sembarangan mempersenbahkan persembahan kepada
Tuhan. Lagi pula, hanya Imam Besar Agung yang diperbolehkan masuk dalam Ruangan
Maha Suci, satu kali setahun untuk selama-lamanya. Ayat referensinya…
-
Tetapi
ke dalam kemah yang kedua hanya Imam Besar saja yang masuk sekali setahun,
dan harus dengan darah yang ia persembahkan karena dirinya sendiri dan karena
pelanggaran-pelanggaran, yang dibuat oleh umatnya dengan tidak sadar (Ibrani
9:7)
-
Firman
TUHAN kepadanya: "Katakanlah kepada Harun, kakakmu, supaya ia jangan
sembarang waktu masuk ke dalam tempat kudus di belakang tabir, ke depan
tutup pendamaian yang di atas tabut supaya jangan ia mati; karena Aku
menampakkan diri dalam awan di atas tutup pendamaian (Imamat
16:2).
Jadi, tidak boleh
sembarangan masuk ke tempat maha kudus.
Saya sebagai gembala
sidang, juga imam-imam yang mengambil bagian di tengah-tengah ibadah pelayanan
ini, bahkan sampai kepada seluruh sidang jemaat; jangan sembarangan untuk beribadah dan melayani TUHAN. Apalagi
imam-imam, jangan sembarangan melayani Tuhan, jangan sesuka hati melayani TUHAN.
Singkat kata untuk melihat sorga terbuka, maka anak-anak
TUHAN hendaklah bertekun di dalam 3 macam ibadah pokok, istilah lain; “tinggallah disini” (tinggallah di dalam
Ruangan Suci).
Kita kembali membaca…
Matius 27:45-46 ---
Perikop: “Yesus Mati”
(27:45) Mulai dari jam dua
belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. (27:46) Kira-kira
jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama
sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau
meninggalkan Aku?
Kira-kira jam tiga, Yesus
berseru dengan seruan: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" istilah
bahasa lain: “Eloi, Eloi lama sabakhtani”. Artinya: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Perkataan ini
menunjukkan kepada kita 2 hal, yaitu;
1.
Penyembahan;
yaitu penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak ALLAH saja.
2.
Yesus
seorang diri saja di dalam hal mengerjakan pekerjaan penebusan dan pendamaian
terhadap dosa dunia, tidak ada yang lain yang turut serta.
Saudara, imam-imam yang
sudah diangkat dan ditakhbiskan oleh TUHAN di dalam hal melayani TUHAN dan
melayani pekerjaan TUHAN di tengah-tengah ketekunan 3 macam ibadah pokok; tidak
perlu harus bersungut-sungut manakala mengerjakan pekerjaan itu seorang diri.
Andaikata ada orang lain bermalas-malasan, jangan kita bersungut-sungut dan
berkata; si A malas, si B malas, kenapa
saya saja yang rajin? Mungkin engkau paling rajin, kalau begitu, bandingkan
kerajinanmu dengan TUHAN Yesus,; masih
masuk akal, masih relevankah perkataan mu itu?
Ini harus kita
perhatikan dengan sungguh-sungguh, jangan ada dalih-dalih yang semacam itu. Atau
berkata; sedikit-sedikit saya, orang itu
kok tidak pernah? Itu tidak benar, itu bukan imam. Kalau dia imam, tidak
boleh menggunakan kata-kata itu, jemaat saja tidak boleh, apalagi seorang imam.
Kita akan buktikan hal
itu dalam ….
1 Timotius 2:5-6
(2:5) Karena Allah itu esa
dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu
manusia Kristus Yesus, (2:6) yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai
tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.
ALLAH itu esa, berarti:
satu / tunggal, tidak ada yang lain, seperti yang tertulis dalam hukum taurat
didalam Keluaran 20:2-3. Kemudian,
Esa pula Dia yang menjadi pengantara antara ALLAH dan manusia, itulah pribadi
Yesus Kristus.
Kata “Pengantara” à Yesus adalah Imam Besar Agung yang
telah mengorbankan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia.
Ada lagi ayat yang sama
terkait dengan “Pengantara” dalam…
1 Yohanes 2:1-2 ---
Perikop: “Kristus pengantara kita”
(2:1) Anak-anakku, hal-hal
ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang
berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus
Kristus, yang adil. (2:2) Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa
kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.
Yesus adalah Pengantara,
menunjukkan bahwa Yesus adalah Imam Besar Agung yang telah mengorbankan diriNya
atau mengadakan pendamaian untuk segala dosa kita dan juga untuk dosa
seluruh dunia, itulah tugas seorang imam.
Jadi, tidak boleh iri,
bersungut-sungut karena bekerja seorang diri, masing-masing
mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan TUHAN.
Singkat kata, pekerjaan
dari seorang Imam Besar adalah mengerjakan penebusan dan pendamaian
atas dosa orang lain, jangan justru menimbulkan dosa. Itu berarti; setelah
ditebus, selanjutnya diperdamaikan dengan ALLAH. Kalau sudah berdamai dengan
ALLAH pasti berdamai dengan manusia. Jadi, seorang imam sudah harus siap
menunjukkan tanggung jawab semacam ini di hadapan TUHAN. Kalau tidak demikian, yang
dikhawatirkan ialah; dia hanya mencari hormat dan puji-pujian yang sia-sia bagi
dirinya sendiri di tengah ibadah dan pelayanan.
Kenapa
banyak hamba TUHAN mencari hormat, puji-pujian bagi dirinya sendiri? Karena tidak mengerti
tanggung jawab semacam ini. Mestinya, sekalipun ia seorang diri, ia harus
mengerti menjadi penebusan dan pendamaian, berarti dia harus korban, jangan justru
bikin dosa kepada orang lain. Jadi, yang melayani TUHAN baik pemimpin pujian,
singer, pemain musik, multi media, dan lainnya, harus penuh tanggung jawab,
tidak boleh karena pintar-pintaran, itu namanya mencari puji-pujian dan hormat
yang sia-sia bagi dirinya sendiri.
2 Korintus 5:18-20
(5:18) Dan semuanya ini dari
Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya
dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. (5:19)
Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak
memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian
itu kepada kami. (5:20) Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus,
seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus
kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.
Seorang imam atau hamba
TUHAN di tengah pengutusannya dipercayakan 2 hal yaitu;
1.
Membawa
pelayanan pendamaian.
Itu
berarti di manapun kita berada selalu senantiasa membawa damai, dan merendahkan
diri, turun ke bawah. Jangan membuat orang lain gaduh, sengsara. Apapun yang
kita kerjakan sebagai pelayanan kita, tetaplah membawa damai sejahtera.
2.
Dipercaya
membawa berita pendamaian.
Oleh sebab
itu, berusahalah berkata-kata dengan baik dan benar, yakni perkataan-perkataan
yang keluar dari dalam hati yang tulus dan murni.
Terkait hal ini kita
akan melihat…
1 Petrus 2:9
(2:9) Tetapi kamulah bangsa
yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan
Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari
Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang
ajaib:
Semestinya kita yang
disebut sebagai;
1.
Bangsa yang terpilih berarti; imamat rajani
= melayani TUHAN dengan penuh kuasa, sebab bebas dari perhambaan dosa.
Jadi kuasa
itu tidak dibuat-buat karena gerakan / gaya / style atau karena apa-apa, kuasa
itu datang dari sorga.
2.
Bangsa yang kudus, berarti; umat
kepunyaan ALLAH sendiri, yaitu; gereja / sidang mempelai TUHAN yang sudah
dikristalisasikan oleh sungai air kehidupan
Tugas dari bangsa yang
terpilih dan bangsa yang kudus ialah; memberitakan
perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia / memberitakan salib = membawa berita
damai.
Perkataan yang keluar dari
mulut, serta perbuatan hidup adalah berita salib (berita damai). Jangan ada
getstur-getstur yang bersifat menentang Tuhan.
Sekarang kita akan
melihat…
Tantangan-tantangan
seorang imam di tengah-tengah pengutusan.
Matius 27:47 ---
Perikop: “Yesus mati”
(27:47) Mendengar itu, beberapa
orang yang berdiri di situ berkata: "Ia memanggil Elia." (27:48)
Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang,
mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang
buluh dan memberi Yesus minum. (27:49)
Tetapi orang-orang lain berkata: "Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia
datang untuk menyelamatkan Dia."
Tantangan-tantangan di
tengah pengutusan;
YANG PERTAMA: Orang
yang berdiri di situ (dekat salib) menuduh Yesus memanggil Elia.
Artinya; mereka
beranggapan Yesus meminta bantuan kepada Elia.
Kita bandingkan dengan……….
Matius 26:52 ---
Perikop: Yesus ditangkap
(26:52) Maka kata Yesus
kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab
barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. (26:53) Atau
kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera
mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? (26:54)
Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang
mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?"
Kalau Yesus mau meminta
bantuan, maka Yesus bisa saja meminta bantuan langsung kepada Bapa di sorga, bukan
kepada Elia. Maka Bapa akan mengirimkan lebih dari 12 pasukan malaikat, artinya
lebih kuat dari pada 12 murid. Tetapi,
untuk apa Yesus meminta bantuan? Bukankah kalau Dia meminta bantuan menghadapi
mereka semua, maka rencana ALLAH dalam penebusan dan pendamaian gagal total? Sebagaimana
tertulis ayat 54 --- Jika begitu,
bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan,
bahwa harus terjadi demikian?
Jadi, banyak sekali anggapan-anggapan
miring dari orang sekitar untuk
seorang imam dalam pengutusannya. Tetapi, sekalipun banyak anggapan-anggapan
yang miring; sabar saja, tetap diam saja dalam kesendirian. Tidak perlu
berbantah-bantah dan membenarkan diri, supaya salib itu tergenapi di dalam diri
kita masing-masing.
Kalau Yesus tidak menderita sengsara di atas kayu salib, siapa yang mengalami sengsara?
Jawabnya; manusia. Manusia akan tetap sengsara, sakit hati, sakit badani,
miskin, penuh dengan kekurangan dan keluhan-keluhan, sehingga ujung-ujungnya
mati. Tetapi puji Tuhan, Yesus tidak sesuai dengan anggapan-anggapan orang di
situ, Ia tidak meminta bantuan kepada Elia. Yesus tetap harus menderita
sengsara dan mati di atas kayu salib
Kita bandingkan dengan Injil….
Yohanes 18:33-36
(18:33) Maka kembalilah Pilatus
ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya:
"Engkau inikah raja orang Yahudi?" (18:34) Jawab Yesus:
"Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain
yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?" (18:35) Kata Pilatus:
"Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang
telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?" (18:36)
Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku
dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan
diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini."
Singkat kata, Yesus
harus menggenapi Kitab para nabi. Sebab, rencana ALLAH adalah; kita akan dibawa
ke tempat yang telah disediakan jauh sebelum langit dan bumi ada, itulah
Kerajaan sorga.
Jadi, kita juga harus
menggenapi Firman para nabi; menderita sengsara, sangkal diri, pikul salib.
Tantangan-tantangan di
tengah pengutusan;
YANG KEDUA: Yesus
diberi minum anggur asam dicampur empedu.
Artinya; seorang imam /
pelayan TUHAN harus sudah siap menerima kekurangan-kekurangan orang lain
sekalipun itu rasa pahit. Sedangkan anggur
asam, yakni; orang-orang yang senantiasa membuat keonaran dan kelaliman,
itulah pekerjaan dari orang-orang yang suka memecah belah dan mengacaukan
pekerjaan TUHAN (Yesaya 5:7).
Tetapi saudara, kita
harus terus melayani TUHAN, melayani pekerjaan TUHAN, fokus pada pekerjaan
TUHAN, tidak usah ragu sekalipun harus ada anggur asam dicampur empedu, itu
tantangan ke dua bagi seorang imam di tengah-tengah kekudusan membawa pelayanan
pendamaian dan berita pendamaian.
Sebagaimana dalam Yesaya
5:7 Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang
Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya
ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.
Demikian juga Rasul
Paulus, ia juga minum anggur asam campur empedu.
Rasul Paulus tetap
berdiam saja, dia fokus dengan pelayanan, melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN. Sekalipun orang-orang Yahudi
yang menolak salib melempari Paulus lalu disangka sudah mati dan diseret ke luar
kota.
Namun TUHAN datang
kepada kita sebagai Imam Besar untuk menguatkan hati kita masing-masing.
Ayat referensi soal
keonaran dan kelaliman orang Yahudi;
Kisah Para Rasul
13:50-52, Kisah Para Rasul 14:1-2,19.
YANG KETIGA: “Jangan,
baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia."
Matius 27:49
(27:49) Tetapi orang-orang lain
berkata: "Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk
menyelamatkan Dia."
Arti dari ayat ini; ada pembiaran
dari pihak-pihak tertentu di sekitar kita, berarti tidak peduli dengan
kesusahan-kesusahan kita sama seperti orang-orang yang ada di dekat salib
Yesus, berkata: "Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk
menyelamatkan Dia."
Darah Yesus yang
membungkus ibadah pelayanan kita.
Semuanya itu akan
dihadapi seorang imam, hamba TUHAN di tengah-tengah ibadah pelayanan, akan
tetapi seorang imam harus fokus dalam ibadah pelayanan dalam pekerjaan TUHAN
sekalipun harus menghadapi 3 (tiga) tantangan ini, sampai pada akhirnya ibadah
kita sampai kepada puncak ibadah yang tertinggi itulah doa penyembahan dan Tabir
Bait Suci terbelah menjadi dua; Sorga terbuka. Jadi jangan berhenti karena ada
tantangan, darah salib sangat berkuasa untuk membela dan menolong kita. Amin.
TUHAN
YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita
Firman:
Gembala
Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment