KEBAKTIAN PERSEKUTUAN
PPT (SESI 1)
Dirangkai dengan
PELANTIKAN DPD SUMATERA UTARA
04 NOVEMBER 2025, Medan.
Tema: “SEMBAHLAH ALLAH!” (Wahyu 19:10)
Shalom…
Mula pertama kami
ucapkan puji Syukur kepada TUHAN, Dialah Kepala Gereja Mempelai Pria Sorga,
Dialah junjungan hidup kita masing-masing, yang telah memelihara dan membela
kehidupan kita sebagai anggota-anggota tubuh Kristus.
Saya juga berterimakasih
atas kehadiran dari pada rekan-rekan hamba TUHAN yang datang dari
berbagai-bagai denominasi. Kalau kemarin saya mencatat apabila semua hadir,
yang saya catat ada 21 (dua puluh satu) organisasi.
Satu kepercayaan yang
besar bagi kita sehingga dengan fellowship ini kita yang adalah
anggota-anggota tubuh yang berbeda-beda, tetapi kita semua sudah disatukan oleh
darah salib Kristus.
Yang kami hormati, ketua
DPD Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Sumatera Utara, Bapak Choky Tobing Bersama
Ibu, terimakasih buat perhatiannya. Juga yang kami hormati Bapak Pendeta doktor
Jendrato sebagai ketua organisasi GTDI, terimakasih buat kehadirannya Om, juga
terimakasih buat Bisop Bpk. Pdt. Panjaitan, terimakasih buat kehadirannya.
Kemudian, pengurus-pengurus DPC yang datang dari berbagai daerah seperti Aceh
Tenggara, Simalungun, Tanah Karo, Binjai, dan Deli Serdang sekitarnya.
Saya juga tidak lupa
mengucapkan selamat bagi pengurus, ketua, KSB DPD PPT Sumatera Utara, TUHAN
mempercayakan satu tanggung jawab yang besar bagi Dewan Pengurus Daerah (DPD)
Sumatera Utara karena Pengajaran ini besar, sangat berkuasa untuk membawa kita
masuk dalam Pembangunan tubuh yang sempurna, menjadi Mempelai TUHAN.
Terimakasih buat doa-doa
para hamba-hamba TUHAN (panitia penyelenggara) sehingga acara ini boleh
berjalan dengan baik dari awal sampai akhirnya kita masuk pada Kebaktian Sesi
pertama di pagi siang hari ini.
Saudara, kita akan
mengikuti kebaktian selama dua sesi, dan tema kita pada satu hari ini adalah “Sembahlah
ALLAH!” (Wahyu 19:10). Semoga kita semua nanti mendapat anugerah
dari TUHAN.
Kami ada di sini bukan
karena kami memiliki kelebihan dari pada Bapak/Ibu, rekan-rekan hamba-hamba
TUHAN, tetapi kesempatan (promosi) tentu datang dari TUHAN.
Marilah kita memeriksa
tema yang ada ini dan kita akan membaca Wahyu 19:10. Namun saya
berharap, tetaplah berdoa dalam Roh mohon kemurahan TUHAN untuk kami supaya
Firman yang dibukakan ini meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi.
Baik juga saudara
mengikuti yang lewat live streaming, video internet Youtube, Facebook,
dimanapun saudara berada bahkan sidang jemaat GPT Betania Serang Cilegon
Banten, biarlah kiranya damai Sejahtera dari Sorga, dari ALLAH memenuhi hati
kita, memberi sukacita, damai Sejahtera, bahagia saat duduk diam mendengarkan
sabda ALLAH.
Kekekalan, penyembahan.
Kekekalan, Penyerahan
diri.
Wahyu 19:10
(19:10)
Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata
kepadaku: "Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan
engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah!
Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat."
Di sini kita melihat,
malaikat berkata kepada Yohanes: “Sembahlah
Allah!” Sebab malaikat itu menolak untuk disembah oleh Rasul
Yohanes. Malaikat itu juga sadar bahwa dia bukanlah ALLAH yang harus disembah,
dia hanyalah hamba sama dengan Rasul Yohanes dan hamba-hamba TUHAN yang lain.
Jadi saudara, seperti
apapun hebatnya pemakaian TUHAN terhadap seorang hamba TUHAN dia tetap seorang
hamba, bukan ALLAH yang harus disembah.
Sekarang kita akan
melihat perjuangan Rasul Paulus supaya orang-orang yang bukan Yahudi (bangsa
Kafir) juga nanti turut menyembah ALLAH yang benar, ALLAH yang hidup, dan itu
kita akan lihat di Liakonia.
Kita akan melihat
pernyataan malaikat di dalam Wahyu 19:10 juga diperjuangkan oleh Rasul
Paulus di tengah-tengah bangsa Kafir di dalam…
Kisah Para Rasul 14:6-10
(14:6)
Setelah rasul-rasul itu mengetahuinya, menyingkirlah mereka ke kota-kota di
Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. (14:7) Di situ
mereka memberitakan Injil. (14:8) Di Listra ada seorang yang
duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum
pernah dapat berjalan. (14:9) Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus
berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat
disembuhkan. (14:10) Lalu kata Paulus dengan suara nyaring:
"Berdirilah tegak di atas kakimu!" Dan orang itu melonjak berdiri,
lalu berjalan kian ke mari.
Paulus pergi ke Listra
salah satu kota di Liakonia untuk memberitakan injil dan pada saat itu
ia juga menyembuhkan orang lumpuh dari sejak lahirnya.
Kisah para Rasul
14:11-12
(14:11)
Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berseru
dalam bahasa Likaonia: "Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita
dalam rupa manusia." (14:12) Barnabas mereka sebut Zeus
dan Paulus mereka sebut Hermes, karena ia yang berbicara.
Melihat
mujizat kesembuhan yang terjadi, orang-orang Likaonia berpendapat bahwa
dewa-dewa telah turun di tengah-tengah mereka dalam rupa manusia.
-
Barnabas mereka sebut Zeus,
Bapa para dewa dalam mitologi Yunani.
-
Paulus mereka sebut Hermes
karena ia sebagai pembicara (pembawa pesan) dalam mitologi Yunani.
Kisah Para Rasul 14:13
(14:13)
Maka datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa
lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk
mempersembahkan korban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu.
Imam
dewa Zeus yang ada di Listra dengan segala penghormatannya, ia datang membawa
lembu-lembu jantan dan karangan bunga untuk dipersembahkan kepada Paulus dan
Barnabas, yang mereka anggap sebagai dewa yang menjadi manusia ada di
tengah-tengah mereka.
Kisah
Para Rasul 14:14-15
(14:14)
Mendengar itu Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaian mereka, lalu
terjun ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru: (14:15)
"Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia
biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu,
supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah
yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.
Ketika
orang-orang Listra membawa korban persembahan mereka dari binatang dan karangan
bunga, secepatnya Paulus dan Barnabas “mengoyakkan pakaian mereka.”
Mengoyakkan
pakaian istilah sekarang adalah hancur hati sebab orang-orang
Likaonia keliru terhadap pribadi yang harus disembah persis seperti Rasul
Yohanes, keliru di dalam penyembahan padahal pada saat Yohanes tersungkur
menyembah malaikat itu umurnya sudah 90 tahun, berarti sudah tua, banyak
pengalaman, tetapi ternyata bisa keliru dalam penyembahan. Tetapi malaikat
itu berkata; sembahlah ALLAH karena saya sama seperti engkau, sama-sama hamba
TUHAN.
Demikian
juga di sini kita melihat, bahwa ketika orang-orang Listra hendak menyembah
mereka (Paulus dan Barnabas) dengan segala korban-korban yang dipersembahkan, Paulus
dan Barnabas secepatnya mengoyakkan pakaian mereka, istilah sekarang hancur
hati melihat kebodohan-kebodohan yang terjadi di Listra (Bangsa Kafir) itu.
Jadi
orang-orang Listra keliru di dalam penyembahannya, itu yang membuat Paulus dan
Barnabas hancur hati.
Saya
juga seorang pemimpin jemaat (gembala sidang) yang kami layani di Serang,
sedikit, tidak besar, GPT Betania Serang & Cilegon, tetapi saya belajar
untuk bertanggung jawab. Kalau saya melihat ada sesuatu yang keliru, apalagi
dalam penyerahannya, saya hancur hati. Saya tidak segan-segan menegur jemaat,
mau tua ataupun muda, sama saja bagi saya. Kalau bertahan ya puji TUHAN, kalau
mundur puji TUHAN juga, asal saya jangan keliru dengan banyak kesalahan yang
sengaja saya lakukan. Jangan dalam kejatuhan dan kejatuhan / tabrak sana,
tabrak sini.
Kalau
mundur karena ketegasan biar saja, tetapi kalau bertahan puji TUHAN.
Yang
pasti Paulus dan Barnabas hancur hati karena kekeliruan dari penyembahan
orang-orang Listra.
Kalau
Yohanes bisa keliru, lah kita siapa? Apakah tahbisan kita lebih hebat dari
Rasul Yohanes? Saya tidak mengukur diri saya, saya tidak mengukur Saudara.
Kalau Yohanes bisa keliru maka banyak juga hamba-hamba TUHAN di hari-hari
terakhir ini keliru di dalam hal penyembahannya, itu yang membuat hati TUHAN
hancur terkoyak-koyak.
Ini
harus kita pahami dengan sungguh-sungguh.
Singkat
kata; Barnabas dan Paulus menolak persembahan-persembahan, orang-orang Listra.
Alasan
menolak persembahan-persembahan orang-orang orang Likaonia di kota Listra,
antara lain:
-
Barnabas dan Paulus adalah
manusia biasa bukan dewa dan utusan dewa yang harus disembah seperti pemikiran
orang-orang Likaonia.
-
Paulus dan Barnabas ada
di Likaonia hanya untuk memberitakan Injil.
Jadi, Paulus dan Barnabas tahu tugas pokok dan
fungsi (tupoksi) di tengah ibadah dan pelayanan mereka.
Memberitakan
Injil berarti; memberitakan pribadi Yesus yang telah mati, bangkit, dan naik ke Sorga. Berita semacam ini berkuasa untuk melepaskan diri dari
perbuatan yang sia-sia yaitu; mempersembahkan korban kepada berhala-berhala,
lalu berbalik kepada Allah yang hidup yang menjadikan langit, bumi, laut dan
segala isinya.
Singkat
kata, yang harus disembah adalah ALLAH yang hidup, bukanlah hamba TUHAN
sekalipun hamba TUHAN dipakai oleh TUHAN di dalam hal:
-
Memberitakan Firman ALLAH dengan dahsyat.
-
Sanggup mengadakan mujizat kesembuhan, seperti
kesembuhan yang diadakan oleh Paulus kepada seorang yang lumpuh, tetapi tidak
untuk disembah.
Hamba
TUHAN perlu untuk dihormati sampai dua kali lipat, tetapi TUHAN yang harus
disembah.
Singkat
kata yang harus disembah Adalah ALLAH yang hidup.
Apa
bukti ALLAH hidup? Dia menjadikan langit dan bumi, menjadikan laut dan segala
isinya.
Jadi
hamba TUHAN tidak untuk disembah sekalipun dahsyat dalam pemberitaan Firman,
sekalipun dahsyat dalam mengadakan mujizat kesembuhan, tetapi hamba TUHAN cukup
dihormati dua kali lipat.
Kisah
para Rasul 14:16-17
(14:16)
Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya
masing-masing,
(14:17)
namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan,
yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan
musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan
kegembiraan."
Selanjutnya,
Paulus memberitahukan kepada orang-orang di Likaonia, bahwa ALLAH yang hidup
kaya dengan Rahmat, kasih-Nya dilimpahkan dengan berbagi-bagai Kebajikan kepada
orang-orang berdosa.
a. Menurunkan
hujan dari langit.
Tujuannya: untuk memberikan
musim-musim subur.
Saudara, adapun hujan yang
diturunkan dari langit;
-
Hujan awal ->
injil keselamatan supaya semua Bangsa Kafir dibenarkan, tandanya; percaya,
bertobat, dibaptis dan dipenuhkan Roh El-Kudus.
-
Hujan akhir ->
injil Kerajaan, membawa gereja TUHAN sampai kepada kemuliaan yang kekal, itulah
gereja TUHAN yang sempurna, menjadi Mempelai TUHAN, itulah hujan yang
diturunkan supaya tanah-tanah menjadi subur oleh hujan awal dan hujan akhir.
Inilah tanah-tanah yang subur
itu saudara ku.
b. TUHAN
memuaskan hati dengan makanan dan kegembiraan.
Hal ini jelas berbicara
tentang suasana pesta sebab:
-
Makanan di sini jelas menunjuk Firman
ALLAH yang dibukakan. Memberi pengertian dan mencelikkan mata rohani kita
masing-masing. Itulah makanan yang memuaskan.
-
Kegembiraan di sini adalah
tanda mabuk anggur dari sorga, bukan mabuk anggur dari babel.
Jadi jelas ini adalah Suasana
mempelai.
Jadi
TUHAN memuaskan hati, juga TUHAN memberikan makanan dan kegembiraan.
Tuhan
memuaskan hati kita siang ini dengan makanan dan dengan sukacita Mempelai.
Itu
yang dijelaskan oleh Paulus dan Barnabas, kepada orang-orang di Listra salah
satu kota di Likaonia.
Kisah
Para Rasul 14:18
(14:18)
Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, namun hampir-hampir tidak dapat
mereka mencegah orang banyak mempersembahkan korban kepada mereka.
Dengan
segala daya dan upaya, Paulus telah menjelaskan kepada orang-orang Likaonia
bahwasanya ALLAH yang harus disembah adalah ALLAH yang hidup, yang menciptakan
langit dan bumi, serta laut dan segala isinya. Sementara Paulus dan Barnabas adalah
hamba-hamba TUHAN cukup diberi hormat dua kali lipat. Dan itu sudah dijelaskan.
Kemudian,
ALLAH kaya dengan Rahmat, limpah dengan kasih-Nya dan berkuasa mengampuni
orang-orang berdosa, tetapi hasrat mereka untuk menyembah Paulus dan Barnabas,
tidak terbendung lagi disertai dengan korban-korban binatang dan
karangan-karangan bunga. Sungguh luar biasa kegerakan yang ada, tetapi itu bukanlah
kehendak ALLAH, jelas itu karena kehendak setan. Itulah yang membuat hati
Paulus dan Barnabas hancur hati.
Banyak
juga hamba TUHAN bereuforia pada saat dia dikagumi jemaat, bahkan disanjung
setinggi-tingginya. Saudara hati-hati.
Saya
sebagai ketua umum PPT, Daniel Untung Sitohang hati-hati, hai jiwa ku
hati-hati. Kemudian kita sebagai gembala-gembala sidang, pemimpin sidang
jemaat, begitu kita menjaga kekudusan pasti jemaat kagum, inipun harus
hati-hati dengan segala kewaspadaan. Jangan sampai nanti arah penyembahan dari
jemaat salah. Ketika arah penyembahan itu salah, lalu kita terima, kita
tampung, kita membuat diri ini tuhan-tuhan kecil di bumi, akhirnya melihat
hamba TUHAN lain di bumi semua menjadi kecil, tidak boleh berjumpa lagi, tidak
ada lagi perdamaian, kecuali dia datang kepada saya katanya.
Inilah
kesalahan dan kekeliruan, membuat hati Paulus dan Barnabas hancur hati sekali,
kemudian mereka sudah menjelaskan bahwa yang harus disembah adalah ALLAH,
tetapi hasrat mereka untuk menyembah Paulus dan Barnabas, tidak tertahankan
lagi. Barnabas mereka sebutkan Zeus, kemudian Paulus mereka sebut Hermes karena
dia pembicara, mereka menganggap kedua orang ini adalah dewa-dewa yang menjadi
manusia, sehingga ketika diberi penjelasan mereka sudah tidak peduli lagi.
Namun
di sini kita melihat Paulus dan Barnabas menangis, hatinya hancur, dia tidak
terima, dia tidak tersanjung hormat dan puji-pujian, dia tidak memanfaatkan
kesempatan yang ada.
Bagaimana
dengan saya? Bagaimana dengan kita? Apakah tersanjung oleh pujian? Apakah kita
terlena begitu saja? Seharusnya ketika melihat keadaan semacam itu hancurlah
hati kita. Jangan termakan pujian supaya kelak kita dibawa sampai kepada
penyembahan yang benar.
“Sembahlah
ALLAH! Berjanji jangan menerima pujian, jangan biarkan orang keliru dalam
penyembahan yang salah”
Saudara,
tadi semua sudah dijelaskan oleh Paulus secara terperinci, dengan harapan
bangsa Kafir secara umum dan orang-orang Likaonia secara khusus, STOP
mempersembahkan korban kepada mereka (Paulus dan Barnabas) dan berhala-berhala.
Perlu
untuk diketahui; umat TUHAN tidak dilarang beraktivitas, bekerja, berbisnis,
berdagang dengan halal, akan tetapi di hadapan TUHAN kita harus menyangkal
diri, dan memikul salibnya = mempersembahkan korban hanya kepada TUHAN. Baik
korban sedikit ataupun banyak, baik korban kecil ataupun besar, semua korban
hanya kepada ALLAH. Sangkal diri, pikul salib dipersembahkan sebagai korban hanya
kepada ALLAH. Tidak salah beraktivitas, tidak salah berorganisasi, tetapi
sangkal diri, pikul salib (mempersembahkan korban) hanya kepada TUHAN, karangan
bunga hanya kepada TUHAN.
Kisah
para Rasul 14:19A
(14:19)
Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan
mereka membujuk orang banyak itu memihak mereka. Lalu mereka melempari
Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka, bahwa
ia telah mati.
Pada
saat Paulus dan Barnabas menolak untuk disembah oleh orang-orang di Listra,
ternyata ada hamba TUHAN lain mencari kesempatan, itulah orang-orang Yahudi
yang datang dari Antiokhia dan Ikonium selanjutnya membujuk rayu orang-orang di
Listra, akhirnya orang-orang di Listra terbujuk rayu, orang-orang di Listra
pun memihak kepada orang-orang Yahudi yang datang dari Antiokhia dan Ikonium.
Tetapi
kita lihat dulu siapakah orang-orang Yahudi yang datang dari Antiokhia dan
Ikonium ini?
Mari
kita selidiki di dalam…
Kisah
Para Rasul 13:50-52 dan Kisah Para Rasul 14:1-2
(13:50)
Orang-orang Yahudi menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut
akan Allah, dan pembesar-pembesar di kota itu, dan mereka menimbulkan penganiayaan
atas Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari daerah itu. (13:51)
Akan tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan
bagi orang-orang itu, lalu pergi ke Ikonium. (13:52) Dan murid-murid di
Antiokhia penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus.
(14:1)
Di Ikonium pun kedua rasul itu masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu
mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani
menjadi percaya. (14:2) Tetapi orang-orang Yahudi, yang menolak
pemberitaan mereka, memanaskan hati orang-orang yang tidak mengenal
Allah dan membuat mereka gusar terhadap saudara-saudara itu.
Orang-orang
Yahudi yang menolak berita salib di Antiokhia menghasut perempuan-perempuan
terkemuka, menghasut pembesar-pembesar yang takut akan ALLAH, selanjutnya
orang-orang Yahudi itu menganiaya Paulus dan Barnabas.
Kemudian
di Ikonium, mereka memanaskan hati orang-orang yang tidak mengenal ALLAH
itulah bangsa Kafir sehingga gusarlah dan bimbanglah mereka terhadap berita
salib yang disampaikan oleh Paulus dan Barnabas di Ikonium.
Mengapa
hal itu bisa terjadi? Karena ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab
itulah orang-orang Yahudi yang menolak berita salib, mereka datang dari
Antiokhia dan Ikonium.
Tadi
saya sudah katakan di atas, semua umat TUHAN boleh bekerja, berbisnis,
berladang, berdagang yang halal. Tetapi korban persembahan harus dipersembahkan
hanya kepada TUHAN. Sangkal diri, pikul salib dipersembahkan hanya kepada
TUHAN.
Tetapi
lihatlah, orang-orang Yahudi yang menolak berita salib merusak pekerjaan TUHAN
di Antiokhia, juga merusak pekerjaan TUHAN di Ikonium sampai mendengar berita
bahwa Paulus dan Barnabas ada di salah satu kota di Liakonia itulah Listra,
orang-orang Yahudi langsung pergi ke sana hendak memanfaatkan kesempatan yang ada,
mereka tahu bahwa Paulus dan barnabas tidak gila hormat, sementara orang-orang
Listra tidak tercegah lagi untuk menyembah Paulus dan Barnabas yang diakui
sebagai dewa Zeus dan dewa Hermes, mereka memanfaatkan kesempatan itu.
Lalu
bagaimana dengan kita? Apakah kita sama seperti orang-orang Yahudi yang menolak
berita salib? Membuat suasana menjadi gaduh? Di tempat ini gaduh, pindah lagi
ke tempat lain gaduh, gaduh, dan gaduh, membuat kacau pekerjaan TUHAN.
Doakan
saudara supaya dimana ada PPT agar senantiasa membawa damai Sejahtera, ada
sukacita, kita diutus untuk membawa berita pendamaian, diutus untuk
membawa pelayanan pendamaian. Saya merindu semua anggota-anggota PPT
dari pusat sampai daerah, cabang bahkan ranting kalau TUHAN menghendaki bawalah
diri ke bawah, turunlah sedikit ke bawah, baik dalam perkataan, maupun dalam
perbuatan, termasuk gerak-gerik sekecil apapun, turunlah ke bawah.
TUHAN
Yesus membawa damai Sejahtera bukan hanya dengan kefasihan lidah, bukan dengan
otoriter, tetapi turun ke bawah, bila perlu sampai ke perut bumi sebagaimana
Daud mengakui dirinya sebagai cacing (ulat) di perut bumi.
Cacing
itu di perut bumi, jangan cacing di atas permukaan, tidak pantas hamba TUHAN di
atas permukaan.
Kita
hanyalah sama seperti pengakuan Daud; cacing / ulat, jangan termakan pujian dan
hormat. Jangan termakan sanjungan, turunlah ke bawah.
Kalau
saya salah, isteri saya akan berkata; “Ah, hanya bisa ngomong.” Kalau
sudah diomong seperti itu malunya minta ampun.
Jengkel,
tetapi masuk kamar, menangis lagi kepada TUHAN.
TUHAN
Yesus baik, TUHAN Yesus ada di perut bumi bukan? Daud tidak asal berbicara, dia
pantas menjadi raja. Saya pun tidak boleh asal berbicara, harus berbicara
dengan tepat dan benar, jangan sebentar begini besok begitu, tidak jelas
keberadaan hamba TUHAN begitu.
Kita
kembali membaca …
Kisah
Para Rasul 14:19b
(14:19b)
Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota,
karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati.
Setelah
yakin orang-orang di Listra terhasut akhirnya orang-orang Yahudi yang menolak
berita salib yang datang dari Antiokhia dan Ikonium berani melempari Paulus
dengan batu.
Hati-hati,
kalau ada Perempuan-perempuan terkemuka di salah satu gereja, ada
pembesar-pembesar di salah satu gereja yang takut TUHAN jangan dihasut-hasut,
tidak boleh, biarkan saja, itu bagiannya, bagian kita ya bagian kita.
Saat
ini hanya dikaruniakan jemaat kecil bagi kami di GPT Betania Serang Cilegon, ya
sudah.
Saya
selalu sampaikan tentang korban sehari-hari, itulah korban sembelihan dan
korban santapan.
-
Korban sembelihan artinya
ibadah itu harus disertai dengan pikul salib sampai berdarah-darah.
Meterai ibadah adalah darah.
Kalau hanya ibadah dan bisa melayani, tetapi tidak ada darah maka belum sah di
mata TUHAN.
-
Korban santapan itulah
Pengajaran Firman ALLAH yang benar dan murni itulah Firman Pengajaran yang
rahasianya dibukakan, ayat menerangkan ayat, ayat yang satu dijelaskan oleh
ayat yang lain, dari Kejadian sampai Wahyu sampai terjadi pembukaan rahasia
Firman.
Hal
ini selalu saya ingatkan kepada jemaat GPT Betania Serang Cilegon.
Sampai
akhirnya, acara demi acara seperti ini pun terjadi, bahkan acara pagi ini yaitu;
Kebaktian Persekutuan hamba-hamba TUHAN yang dirangkai dengan Pelantikan DPD –
PPT Sumatera Utara, itu adalah korban sembelihan, ibadah disertai dengan pikul
salib sampai berdarah-darah.
Jemaat
kami sedikit dan sederhana, tetapi diajar terkait korban sehari-hari. Saya
kagum kepada TUHAN.
Tetapi
meskipun begitu saya tidak menghasut-hasut gereja-gereja untuk mencari
kesempatan, ada yang gaduh lalu mencari kesempatan, tidaklah. Sampai hari ini
tidak akan saya kerjakan hal seperti itu bahkan sampai TUHAN datang tidak akan
pernah saya kerjakan. Yang ada saja, itu bagian ku, masing-masing sudah punya
bagian.
Kembali
saya sampaikan, setelah yakin orang-orang di Listra terhasut akhirnya
orang-orang Yahudi yang menolak berita salib yang datang dari Antiokhia dan
Ikonium berani melempari Paulus dengan batu. Menunjukkan bahwa mereka hidup di
bawah hukum taurat.
Adapun
kelemahan dari hukum taurat yang paling mendasar Adalah: saling menuduh dan
saling membela.
-
Menuduh berarti mempersalahkan dan
menghakimi orang yang bersalah = tidak mengampuni orang yang bersalah.
Itu kelemahan hukum taurat,
suka menuduh, suka menghakimi, suka mempersalahkan orang yang bersalah. Dengan
lain kata; tidak mau mengampuni orang yang bersalah. Itulah kelemahan yang
paling mendasar dari hukum taurat.
-
Membela berarti membenarkan dirinya
sendiri, menganggap diri lebih benar, lebih baik, lebih suci dari orang lain.
Orang semacam ini pasti
membela diri, tidak bisa terima kalau dia dihakimi.
Inilah kelemahan yang paling
mendasar dari hukum taurat; menuduh dan membela.
Saya pernah keceplosan
berbicara kepada pak Choky atau pak Philip, saya katakan; “Maafkan saya pak,
saya cabut kata-kata saya, saya salah ya.” Memangnya kenapa kalau saya
minta maaf, karena saya ketua umum, gengsi minta maaf kepada pak Philip,
tidaklah. Saya juga banyak salah.
Singkat kata, kelemahan yang
paling mendasar dari hukum taurat ialah tidak dapat mengampuni dosa.
Ciri-ciri
hidup di bawah hukum taurat: menjalankan ibadah secara lahiriah disebutlah itu
ibadah taurat.
Matius
15:7
(15:7)
Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya
tentang kamu:
(15:8)
Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal
hatinya jauh dari pada-Ku.
(15:9)
Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah
perintah manusia."
Contoh:
mulut memuliakan TUHAN, tetapi hatinya jauh dari Firman ALLAH yang disampaikan
= mempersembahkan tubuh di tengah peribadatan, tetapi manusia batin / manusia
dalam tidak dipersembahkan kepada TUHAN, itu ibadah taurat. Mulut memang
mengagungkan TUHAN, tetapi hati tidak dipersembahkan kepada TUHAN, itulah
ibadah taurat, itulah ciri-ciri berada di bawah hukum taurat.
Roma
2:1,3
(2:1)
Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain,
engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain,
engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain,
melakukan hal-hal yang sama. (2:3) Dan engkau, hai manusia, engkau yang
menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya
juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?
Siapapun
yang menghakimi orang lain, ia tidak bebas dari salah. Pokoknya kalau ada orang
yang suka menghakimi orang yang bersalah dan dia membela diri, mengatakan
dirinya lebih baik, lebih benar, lebih suci pasti orang itu tidak bebas dari
salah. Itu rumus, pegang terus jangan lupa.
Roma
2:4
(2:4)
Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan
kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah
ialah menuntun engkau kepada pertobatan?
Saudara,
jangan kita menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kemurahan
hati-Nya. Sebab maksud kemurahan ALLAH, maksud kasih karunia ALLAH, maksud
Rahmat TUHAN yang begitu hebat kepada kita adalah untuk menuntun setiap orang
kepada pertobatan, berhenti berbuat dosa dan kembali kepada ALLAH.
Itu
namanya bertobat 100%. Kiranya kita semua bertobat 100%.
-
50% berhenti berbuat dosa.
-
50% kembali kepada ALLAH.
Itu
pertobatan 100%.
Roma
2:5
(2:5)
Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun
murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang
adil akan dinyatakan.
Orang-orang
Yahudi yang datang dari Antiokhia dan Ikonium / orang-orang yang menolak berita
salib tadi mengeraskan hatinya, mereka tidak mau bertobat = menimbun murka
ALLAH pada hari penghakiman yang besar.
Di
Ikonium membuat persoalan, di Antiokhia juga membuat persoalan, kemudian di kota
Listra juga membuat persoalan, mereka mengeraskan hati, mereka tetap hidup di
bawah hukum taurat, mereka menolak berita salib / berita injil.
Tetapi
mereka tidak akan luput dari penghukuman ALLAH pada hari penghakiman yang
besar.
Singkat
kata; Paulus dan Barnabas harus menghadapi dua pihak.
-
Pihak yang pertama itulah bangsa
Kafir yang ada di Liakonia.
Mereka hidup di dalam penyembahan
berhala dan kenajisan percabulan.
-
Pihak yang kedua itulah orang-orang
Yahudi yang hidup di bawah hukum taurat.
Mereka menolak berita salib,
jelas itu menunjuk orang yang keras hati, sedangkan orang yang mengeraskan hati
disebutlah itu penyembahan berhala.
Jadi
sama, bangsa Kafir hidup dalam penyembahan berhala dan kenajisan percabulan. Kemudian
bangsa Israel juga karena keras hati, disebut juga penyembahan berhala. Kemudian
orang Yahudi yang menolak berita salib, mereka menjalankan ibadah secara
lahiriah. Itu juga yang menajiskan mereka.
Matius
15:11
(15:11)
"Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan
orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."
Jadi
sama;
-
Bangsa Kafir dalam penyembahan berhala juga kenajisan
percabulan, kemudian
-
Bangsa Israel juga dalam penyembahan berhala (keras
hati) dan kenajisan.
Kemudian
kalau menjalankan ibadah taurat, itu yang menajiskan orang.
Tidak
ada orang menjalankan ibadah taurat lalu hidup suci, sebaliknya ibadah taurat
menajiskan orang.
Maka
kitapun sampai saat ini tidak menjalankan ibadah taurat.
Mulut
memuliakan TUHAN, tetapi hatinya jauh dari pemberitaan Firman pasti najis, Alkitab
yang berkata.
Hebatnya
Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel menyucikan gereja-Nya sampai
sempurna.
Penyucian
bukan akhir dari kesempurnaan, tetapi awal untuk sampai kepada kesempurnaan.
Jadi
baik bangsa Kafir maupun bangsa Israel sama-sama dalam penyembahan berhala dan
kenajisan percabulan.
Itulah
yang dihadapi oleh Paulus dan Barnabas, mereka rindu supaya semua bangsa, bukan
hanya orang Yahudi, tetapi juga bangsa Kafir supaya mereka menyembah ALLAH yang
hidup, yang menciptakan langit, bumi, laut dan segala isinya.
Mereka
berjuang di Listra, tetapi apa boleh buat, orang Listra tidak tercegah lagi, hasrat
mereka untuk menyembah Barnabas dan Paulus sangat kuat sekali. Tugas kita
berat, tidak ringan supaya sembahlah ALLAH ini nyata.
Tetapi
seberat apapun kalau kita mengikuti maunya TUHAN pasti TUHAN menyertai, pasti
TUHAN menolong, pasti TUHAN memberkati.
Resiko
di tengah-tengah pemberitaan injil supaya terwujudnya penyembahan yang benar.
Kisah
Para Rasul 14:19b
(14:19b)
Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota,
karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati.
Orang
Yahudi yang menolak berita Injil, yang datang dari Antiokhia dan Ikonium,
bersepakat:
-
Melempari Paulus dan Barnabas.
-
Diseret keluar kota, disangka sudah mati.
Kita
rebut Sumatera Utara, semua denominasi gereja harus bersatu, kita
hanyalah cacing. Kalau raja Daud saja berkata cacing (ulat), lantas siapa kita?
Kalau cacing di perut bumi, tetaplah di perut bumi, jangan cacing naik ke permukaan.
Mungkin
tersayat-sayat hati kita, maafkan saya, tidak ada maksud untuk menghakimi.
Tetapi perlu ketegasan di hari-hari terakhir ini, TUHAN mau datang saudara.
Masak hanya kita saja yang masuk sorga? Isteri, anak-anak, dan jemaat
bagaimana? Tuhan mau datang. Tetapi setiap kali saya menyampaikan TUHAN mau
datang banyak orang Kristen tidak percaya, saya heran juga.
Nuh
sibuk membangun hidup dan nikahnya dalam Pengajaran Mempelai dalam terangnya
Tabernakel di atas gunung Sion, kemudian berita Sion disampaikan, tetapi tidak
ada yang mau karena tidak masuk akal.
Satu-satunya
galangan kapal (Bahtera) di bangun di atas gunung Sion, dimana-mana galangan
kapal dibangun di tepi laut, begitu selesai mudah diluncurkan ke laut. Namun karena
Pembangunan Tabernakel ini ada di atas gunung Sion ditolak, karena tidak masuk
akal.
Bahtera
itu ada tingkat tiga;
-
Halaman -> bawah.
-
Ruangan Suci -> tengah.
-
Ruangan Maha Suci -> atas.
Gambar Bahtera Nuh.
Ada
yang berkata; Pengajaran Mempelai tidak masuk akal. Padahal Pengajaran Mempelai
dalam terangnya Tabernakel membawa gereja masuk dalam pembangunan tubuh Kristus
yang sempurna. Tetapi mereka yang menolak berita dari gunung Sion dilenyapkan,
yang masuk hanya empat pasang. Apa itu empat pasang? Empat pasang itulah nikah.
Jadi
jangan ada yang menolak Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel meskipun
tidak masuk akal.
Yang
masuk dalam bahtera (Pembangunan tubuh) hanya empat pasang nikah, itulah Nuh
suami isteri dan tiga anak dengan masing-masing isteri, lalu binatang
berpasang-pasangan, gambaran dari bangsa Kafir, itukan kemurahan.
Jadi
jangan menolak Pengajaran Mempelai meski tidak masuk akal.
Satu-satunya
galangan kapal dibangun di atas gunung Sion itulah Pengajaran Mempelai, dalam
terangnya Tabernakel.
Jadi
jangan ragu lagi dibangun di atas gunung Sion.
Sejenak
menyerukan Yel-yel …
Gunung
Sion… disahut; Pembawa kabar baik.
Gunung
Sion… disahut; Roh Mempelai.
Jadi
kalau ada orang mengejek yel-yel PPT dan berkata, gunung Sion, tidak usah malu
apalagi tersinggung. Ini hasil kajian kita saudara.
Saya
mau sampaikan, hanya ada dua jenis ibadah;
1. Ibadah
yang murni itulah mengunjungi janda-janda -> Pengajaran
Mempelai.
2. Ibadah
yang sejati yaitu mempersembahkan hidup sebagai persembahan yang
hidup, kudus, dan berkenan kepada TUHAN itulah penyembahan.
Jadi
wujud dari Mempelai adalah penyembahannya. Jangan katakan saya mempelai, tetapi
tidak ada penyembahan.
Ini
hasil kajian saudara.
Singkat
kata; resiko memberitakan injil adalah: Dilempari dengan batu lalu diseret
ke luar kota disangka sudah mati.
Dari
pengalaman ini kita bisa mengetahui dengan jelas bahwa Paulus adalah bayangan
dari Yesus Kristus. Hamba TUHAN juga harus menjadi bayangan dari TUHAN Yesus
Kristus di tengah pengutusannya dimanapun dia berada.
Ibrani
13:10-11
(13:10)
Kita mempunyai suatu mezbah dan orang-orang yang melayani kemah tidak boleh
makan dari apa yang di dalamnya.
Tubuh
Binatang yang darahnya dibawa ke Ruangan Maha Suci sebagai korban penghapus
dosa dan korban pendamaian dibakar di luar perkemahan. Itu berarti daging
korban binatang tersebut tidak boleh dimakan menurut hukum taurat.
Ibrani
13:12
(13:12)
Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk
menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri.
Yesus
telah menggenapi hukum taurat sebab ia juga telah menderita di luar Pintu
Gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya / Dia sudah menggenapinya
di atas kayu salib.
Ibrani
13:13
(13:13)
Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung
kehinaan-Nya.
Untuk
menanggung kehinaan bersama dengan TUHAN Yesus Kristus kita harus melepaskan
harga diri seperti yang saya sampaikan tadi, mari kita turun ke bawah.
Kalau
daging kita pertahankan adalah tanda berharap untuk dipuja, diakui dimana saja.
Tetapi di sini TUHAN berkata; kita harus pergi bersama dengan Dia menanggung
penderitaan di luar perkemahan, buang harga diri. Itu yang dialami oleh Rasul
Paulus.
Jadi
kalau mau menanggung kehinaan bersama-sama dengan Kristus, pertama-tama kita
harus membuang harga diri, di luar perkemahan. Ada gelar S1 puji TUHAN, gelar
S2 puji TUHAN, gelar S3 puji TUHAN, bahkan jadi professor puji TUHAN. Berhasil
di bumi, dalam bisnis, usaha, dagang, puji TUHAN. Tetapi Alkitab berkata;
marilah kita pergi ke luar perkemahan dan menanggung kehinaan. Berarti mau
tidak mau harus melepaskan harga diri.
Imamat
16:27
(16:27)
Lembu jantan dan kambing jantan korban penghapus dosa, yang darahnya telah
dibawa masuk untuk mengadakan pendamaian di dalam tempat kudus, harus dibawa
keluar dari perkemahan, dan kulitnya, dagingnya dan kotorannya harus
dibakar habis.
Binatang
yang menjadi korban penghapus dosa dan Binatang yang dijadikan sebagai
pendamaian dosa harus dibawa ke luar perkemahan untuk selanjutnya baik kulitnya,
maupun dagingnya serta kotorannya harus dibakar di luar
perkemahan.
Singkat
kata, yang dibakar habis di luar perkemahan antara lain:
Yang
Pertama: Kulitnya.
Menunjuk perasaan manusia yang
salah, semua harus dibakar hangus tanpa wujud.
Kita lihat hal itu di dalam …
Filipi 2:5-7
(2:5) Hendaklah
kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga
dalam Kristus Yesus,
(2:6)
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
sebagai milik yang harus dipertahankan, (2:7) melainkan telah mengosongkan
diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama
dengan manusia.
Di dalam hidup bersama, dalam
nikah maupun dengan orang lain, hendaklah:
-
Pikiran Yesus ditaruh di dalam
pikiran kita.
-
Perasaan Yesus ditaruh di dalam
perasaan kita.
Itu
dalam hidup bersama, dimulai dalam nikah.
Syaratnya:
melepaskan reputasi seperti Yesus telah melepaskan reputasi-Nya.
-
Dia tinggalkan kemuliaan-Nya.
-
Dia tinggalkan Bapa-Nya di Sorga.
-
Dia tinggalkan rumah-Nya di sorga.
Selanjutnya,
turun ke bumi menjadi manusia untuk menderita sengsara dan mati di kayu
salib.
Itulah
namanya di luar perkemahan, menanggung kehinaan-Nya.
Bukti
perasaan yang salah sudah dibakar hangus:
a. Mengosongkan
dirinya = menghampakan diri.
Kita lihat dulu kehidupan yang
mau menghampakan diri.
Kita lihat di dalam…
Yohanes 3:7-8
(3:7)
Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan
kembali. (3:8) Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar
bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi.
Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."
Kehidupan yang dilahirkan
kembali menghampakan dirinya sama seperti angin yang bertiup; orang lain tidak
tahu dari mana ia datang dan orang lain juga tidak tahu kemana ia pergi.
Jadi tanda menghampakan diri adalah
tidak butuh perhatian manusia dan tidak butuh perasaan orang lain.
Kalau hamba TUHAN masih butuh
perhatian manusia, masih butuh apresiasi orang lain itu namanya bukan
menghampakan diri, itu bukan mengosongkan diri. Tetapi yang saya tahu sama
seperti yang disampaikan oleh TUHAN Yesus kepada Nikodemus, guru agama Yahudi;
Yesus berkata; Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya,
tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi.
Jadi orang yang menghampakan
diri di hadapan TUHAN, ketika dipuji, dan ketika direndahkan, dia tidak peduli.
Tetapi kita tetap mengasihi TUHAN, mengasihi pasangan, mengasihi keluarga kita,
dan keluarga yang lebih besar, itulah sidang jemaat yang TUHAN percayakan
kepada kita.
Kalau berbuat baik tidak usah
mengharapkan puji-pujian, tidak usah mengharapkan ucapan terimakasih, lakukan
saja yang baik. Puji TUHAN.
Tetapi saya yakin TUHAN pasti
meneguhkan hati kita untuk menjadi pemimpin jemaat yang senantiasa menghampakan
diri.
b. Mengambil
rupa seorang hamba.
Terkait dengan rupa hamba,
kita boleh belajar dari…
Lukas 17:7-8 --- Perikop:
“Tuan dan hamba.”
(17:7)
"Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau
menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang
dari ladang: Mari segera makan! (17:8) Bukankah sebaliknya ia akan berkata
kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah
aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan
dan minum.
Yang dimaksud dengan mengambil
rupa hamba adalah melayani dengan berikat pinggang. Jangan melayani dengan
tidak berikat pinggang, nanti banyak kekurangan yang nampak di tengah ibadah
pelayanan itu saudara.
Melayani dengan berikat
pinggang artinya melayani dengan memuaskan hati TUHAN.
Tugas kita melayani TUHAN adalah
untuk memuaskan hati TUHAN, bukan untuk memuaskan hati sidang jemaat, bukan
untuk mencari puji-pujian, bukan untuk mencari kemuliaan, bukan untuk mencari
keuntungan diri sendiri. Tetapi untuk memuaskan hati TUHAN.
Jadi mengambil rupa hamba
harus berikat pinggang, kalau tidak nampak kekurangan-kekurangan. Tetapi kalau
kita mengambil rupa hamba lalu melayani dengan berikat pinggang pasti hati
TUHAN puas.
Itu terlebih dahulu motto kita
di dalam melayani TUHAN, sedangkan diri ini nomor 2, 3 dan seterusnya.
Lukas 17:9
(17:9)
Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah
melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
Singkat kata; kalau kita
melayani dengan berikat pinggang, mengambil rupa hamba; tidak butuh ucapan
terimakasih.
Saya selalu ajarkan, kami
tidak punya pengerja, tetapi ada jemaat, mohon maaf bukan maksud untuk
menunjukkan kelebihan. Kalau jemaat datang ke Pastori baik itu mencabut rumput,
mencuci kendaraan, kemudian menyapu halaman. Kalau saya katakan terimakasih, maka
mereka katakan “tidak om”, tidak butuh terimakasih.
Tidak perlu saya suruh lagi,
mereka langsung datang ke Pastori, mengambil bagian bersama, mereka boleh
menikmati pembukaan Firman, tetapi untuk itu mereka juga harus bekerja untuk
TUHAN, berikat pinggang, mengambil rupa hamba, tidak butuh terima kasih.
Saya selalu ajarkan, melayani
TUHAN disertai memikul salib sampai berdarah-darah. Kalau tidak belum sah menjadi
anak TUHAN, meterainya hanya satu, tidak dua yaitu; darah salib.
Kita pun tidak butuh ucapan
terimakasih, tetapi tetap saya ucapkan terimakasih kepada Bapak Luddiman
Tondang, kita dijamu di tempat ini, entah Beliau tidak butuh, tetap saya harus
mengucapkan “Terimakasih Pak Matondang, saya bisa mengenal pak Sihombing,
saya bisa kenal Bisop Pdt. DR. Jendrato dan Pdt. DR. Panjaitan, jelas karena
kita dijamu di tempat ini, terimakasih Pak Matondang dan Ibu.”
Lukas 17:10
(17:10)
Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang
ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang
tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."
Mengambil rupa hamba
akan berkata;
-
Kami Adalah hamba-hamba yang tidak berguna
berarti berada di perut bumi, cacing / ulat saja supaya layak menjadi raja yang
dipilih, bukan raja undian. Raja dipilih saja berani berkata; “Aku ulat, aku
cacing.”
-
Kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.
Jadi kewajiban kita tidak
mesti harus disuruh-suruh, diomong-omong.
Kami itu bongkar pasang
perlengkapan di gereja. Gereja yang kami gunakan adalah gereja yang kami sewa.
Sudah jemaat sedikit, menyewa
pula, sudah menyewa, tinggal di Banten pula, lengkaplah penderitaan itu.
Di Gedung yang sama ada 4
(empat) gereja yang memakainya, maka kamilah yang paling malam, kamilah yang
menanggung penderitaan, sampah, kotoran, permen, lumpur, di situ menjadi satu.
Dan kami selalu bersihkan, saya tidak mau beribadah kotor. Tahun ke tahun ndak
ngomel ke pendeta yang beribadah sebelum kami.
Ada sound system, ada speaker
aktif, ada subwoofer, ada monitor, ada mixer, ada kabel berseliweran, harus
dipasang kemudian setelah itu dibongkar lagi setelah ibadah.
Saudara bisa bayangkan berapa
banyak waktu yang harus digunakan di situ. Kami hanya melakukan apa yang harus
kami lakukan, tidak boleh marah / tidak boleh ngomel, lakukan saja.
Bukan karena kami gereja kecil
lalu kami menanggung penderitaan ini, tidak. Belajar mengambil rupa hamba,
dimulai dari saya sampai pada jemaat, jangan saya mengajar rupa hamba, tetapi
saya tidak mengambil rupa hamba, tidak mungkin bisa.
Coba saudara bayangkan, hamba
TUHAN bisa datang ke Serang dua kali setahun, dari mana uang kami? Adakah donatur
kami? Tidak ada. Secara lahiriah, tidak ada, semua berdarah-darah.
Kalau saudara datang nanti
saudara bisa lihat, tetapi kami melakukan dengan sukacita, mengambil rupa hamba,
belajar untuk menanggungnya bersama-sama.
Kalau menanggungnya karena
jemaat besar, kaya, puji TUHAN. Tetapi kami menanggungnya dengan memikul salib
sampai berdarah-darah.
Inilah rupa hamba; “Kami
hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Tidak perlu bersungut-sungut,
tidak perlu berbantah-bantah.
Itulah
kulit yang dibakar di luar perkemahan.
Yang
kedua: Daging
dibakar habis di luar perkemahan.
Artinya:
daging dengan segala hawa nafsu dan segala keinginan-keinginan yang jahat itu
harus dibakar dengan hangus. Jangan kepala dari korban Binatang itu hangus,
tetapi ekornya tidak hangus. Akhirnya karena tidak diperhatikan orang kaya itu,
dia katakan; “Om kenapa begitu, persembahan saya lebih besar loh Om.”
Ekornya tidak hangus-hangus.
Semua
daging harus dibakar habis dari kepala sampai ekor, tidak ada buntut-buntutnya.
Daging
yang harus dibakar semuanya tertulis di dalam Galatia 5:19-21.
Yang
Ketiga: Kotoran
dibakar habis di luar perkemahan.
Kotoran
= sampah.
Meskipun
ini merupakan ayat mas kita, tetapi tetaplah kita membaca karena kita rendah
hati. Firman yang diulang-ulang memberi kepastian, iman teguh, bukan Firman
yang dipanas-panaskan, namun diulang dibukakan rahasianya.
Filipi
3:3
(3:3)
karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan
bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.
Tanda
orang bersunat:
1. Beribadah
oleh Roh ALLAH.
2. Bermegah
dalam Kristus Yesus.
3. Tidak
menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.
Kalaupun
kita memiliki kelebihan dalam hal lahiriah, apapun bentuknya, puji TUHAN,
tetapi tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.
Filipi
3:4-6
(3:4)
Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika
ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih
lagi: (3:5) disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari
suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku
orang Farisi, (3:6) tentang kegiatan aku penganiaya jemaat,
tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.
Ada
7 (tujuh) hal yang menjadi kelebihan Rasul Paulus secara lahiriah, dibagi dua
bagian.
1. Disunat
pada hari kedelapan.
2. Dari
bangsa Israel.
3. Dari
suku Benyamin.
4. Orang
Ibrani asli.
5. Tentang
pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi.
6. Tentang
kegiatan aku penganiaya jemaat.
7. Tentang
kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.
Kelebihan
1-4, itu sifatnya mendarah daging karena dibawa lahir, tidak bisa lepas lagi.
Tetapi
kelebihan 5-7 itu perbuatan Paulus di hadapan TUHAN sebagai kelebihan secara
lahiriah.
Yang
mana yang bisa diubah? Yang bisa diubah adalah hal 5-7 karena hal 1-4 tidak
mungkin bisa diubah karena sudah dibawa lahir. Ini kelebihan Paulus melebihi
semua rasul-rasul lainnya, tidak ada tandingannya lagi.
Tetapi
apa kata Paulus soal kelebihannya ini dalam hal lahiriah?
Filipi
3:7-8
(3:7)
Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi
karena Kristus. (3:8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena
pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh
karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah,
supaya aku memperoleh Kristus,
Tujuh
kelebihan rasul Paulus secara lahiriah, namun dianggap sampah, kotoran, harus
dibakar di luar perkemahan. Sekalipun kita memiliki kelebihan secara lahiriah,
mungkin lebih dari yang lain, namun itu harus dibakar di luar perkemahan karena
itu adalah kotoran = sampah.
Jangan
simpan sampah di rumah, buanglah sampah pada tempatnya. Jangan buang sampah ke
orang lain, tetapi buanglah sampah ke tempatnya. Kalau saya katakan; “Pendeta
tondang itu saya datang tidak dikasih makan,” itu buang sampah ke orang
lain. Pak Philip tidak mau jemput padahal saya ketua umum loh, dia baru
calon ketua DPD, dia tidak mau menjemput saya,” itu sama dengan membuang
sampah kepada pak Philip. Buanglah sampah pada tempatnya, di tong sampah.
Filipi
3:9
(3:9)
dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum
Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus,
yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.
Diawali
dari ini nanti kita sampai kepada tema yang ada; “Sembahlah Allah!”
Tidak
lagi menyembah yang lahiriah, tidak keliru lagi dalam penyembahan.
Malaikat
menegur Rasul Yohanes, Paulus berjuang di Liakonia, kita berjuang dimulai dari
diri kita, nikah dan rumah tangga kita, dalam penggembalaan kita. Baik kita
nanti maupun nikah rumah tangga sampai kandang penggembalaan yang kita layani
sama-sama menyembah ALLAH yang benar, Allah yang hidup, yang menjadikan langit
dan bumi, laut dan isinya, Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA
MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang

No comments:
Post a Comment