KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Saturday, April 11, 2026

IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 04 APRIL 2026

 


IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 04 APRIL 2026

STUDY YUSUF

(SERI 14)

 

SUBTEMA: PELURU API PASUKAN BERKUDA

 

Kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan setinggi-tingginya karena Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk berada dalam hadirat Tuhan, menghadap Dia lewat Ibadah Kaum Muda Remaja.

Selanjutnya saya juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, umat ketebusan Tuhan yang turut bergabung lewat online atau live streaming atau video internet baik dari Youtube maupun Facebook atau media sosial lainnya yang dapat digunakan.

 

Selanjutnya mari kita sambut STUDY YUSUF sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah kaum Muda Remaja.

 

Kejadian 44:18-34

Seluruhnya adalah tutur kata Yehuda kepada Yusuf sebagai mangku negara atau raja muda di Mesir.

Isi pokok dari tutur kata Yehuda kepada Yusuf adalah memohon kelepasan bagi Benyamin.

 

Mengapa Yehuda memohon kelepasan bagi Benyamin?

 

Kejadian 44:29-31

(44:29) Jika anak ini kamu ambil pula dari padaku, dan ia ditimpa kecelakaan, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena nasib celaka. (44:30) Maka sekarang, apabila aku datang kepada hambamu, ayahku, dan tidak ada bersama-sama dengan kami anak itu, padahal ayahku tidak dapat hidup tanpa dia, (44:31) tentulah akan terjadi, apabila dilihatnya anak itu tidak ada, bahwa ia akan mati, dan hamba-hambamu ini akan menyebabkan hambamu, ayah kami yang ubanan itu, turun ke dunia orang mati karena dukacita.

 

Apabila Benyamin tidak kembali ke Kanaan, maka Yakub:

-     Turun ke dunia orang mati karena nasib celaka… (ayat 29).

-     Turun ke dunia orang mati karena dukacita… (ayat 31).

 

Perlu untuk diketahui:

Mati karena nasib celaka dan mati karena dukacita = binasa.

 

Tuhan tidak menghendaki kebinasaan manusia melainkan beroleh hidup kekal… (Yohanes 3:16).

 

Contoh: MATI KARENA NASIB CELAKA

 

Didalam Kitab Wahyu pasal 9 sampai pasal 11 terdapat 3 (tiga) celaka sebagai penghukuman dari; sangkakala yang kelima, sangkakala yang keenam, dan sangkakala yang ketujuh.

 

Saudara malam ini kita masih membahas tentang CELAKA KEDUA.

Sebelum saya membaca, terlebih dahulu saya mengingatkan bahwasanya CELAKA KEDUA terjadi pada saat malaikat yang keenam meniup sangkakalanya. Pada saat itu keempat malaikat yang terikat dekat sungai Efrat dilepaskan untuk membunuh sepertiga dari umat manusia… Wahyu 9:14-15.

 

Sedangkan pada Wahyu 9:16, jumlah tentara dari pada keempat malaikat tersebut ada 20.000 laksa, setara dengan 200 juta tentara. Dengan rincian:

1 laksa = 10.000 x 20.000 = 200 juta.

Tentara tersebut disebut pasukan berkuda.

 

Kemudian Wahyu 9:17: Kepala kuda-kuda itu sama seperti kepala singa, dan dari mulutnya keluarlah api, asap dan belerang.

 

Singkat kata; keempat malaikat tersebut memiliki :

1.   Pasukan elit yang sangat kuat dan mempunyai kekebalan dari baju zirah.

2.   Memiliki senjata yang digunakan untuk menyerang dan juga digunakan untuk mempertahankan zona /      wilayahnya.

 

Pada minggu lalu kita sudah membahas Wahyu 9 ayat 16 dan ayat 17. Kita tidak perlu lagi membahas untuk berulang-ulang.

 

Secepatnya kita membaca…

Wahyu 9:18-19

(9:18) Oleh ketiga malapetaka ini dibunuh sepertiga dari umat manusia, yaitu oleh api, dan asap dan belerang, yang keluar dari mulutnya. (9:19) Sebab kuasa kuda-kuda itu terdapat di dalam mulutnya dan di dalam ekornya. Sebab ekornya sama seperti ular; mereka berkepala dan dengan kepala mereka itu mereka mendatangkan kerusakan.

 

Oleh api, asap dan belerang yang keluar dari mulut kuda-kuda itu, membunuh sepertiga dari umat manusia. Sebab, ketiganya disebut malapetaka.

 

Perlu untuk diketahui:

Kuasa dari kuda-kuda itu terdapat di dalam mulutnya dan di dalam ekornya.

Yang pasti, dari mulut kuda-kuda itu keluarlah tiga hal; api, asap dan belerang.

 

Pada minggu yang lalu tiga hal tersebut telah kita bahas dalam pengertian yang sederhana (dalam bentuk jasmani).

Sekarang marilah kita melihat tiga hal tersebut dari “sisi rohani”.

 

1.       API

Dalam bentuk rohani, API berbicara tentang LIDAH.

 

Yakobus 3:5

(3:5) Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.

 

Api digambarkan seperti lidah.

Sedangkan lidah adalah salah satu anggota tubuh yang kecil, namun sekalipun kecil dapat memegahkan perkara-perkara yang besar.

 

Singkat kata; api adalah peluru pertama yang keluar dari mulut kuda-kuda dan itu mematikan.

Jadi LIDAH walaupun kecil, tetapi seperti API dapat membakar hutan yang besar.

 

Yakobus 3:6

(3:6) Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.

 

Pada ayat ini kembali dinyatakan, api berbicara tentang lidah.

Singkat kata, lidah adalah api. Kemudian, di kalimat terakhir dikatakan; ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.

Pendeknya, lidah yang adalah api terhubung langsung dengan API NERAKA.

 

Sekalipun lidah adalah anggota yang kecil, tetapi bisa memegahkan suatu perkara menjadi perkara yang besar, berarti; dapat merusak seluruh kehidupan manusia dan dapat merusak seluruh anggota tubuh.

 

Peluru api yang keluar dari mulut kuda ini tidak bisa dianggap ringan karena kaitannnya dengan API NERAKA; berarti; mematikan.

Jadi hati-hati dengan lidah yang adalah api bisa memegahkan satu perkara.

Jadi peluru api ini mematikan meskipun kecil, maka tidak boleh dianggap enteng, tidak boleh dianggap ringan.

 

Yakobus 3:7-8

(3:7) Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, (3:8) tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.

 

Semua jenis binatang liar, antara lain:

-     Burung-burung di udara.

-     Binatang-binatang menjalar / melata di darat.

-     Semua binatang-binatang di laut.

Semua itu dapat dijinakkan oleh sifat manusia. Tetapi, lidah yang sekalipun kecil, adalah sesuatu yang buas; tidak terjinakkan atau tidak terkuasai, seperti racun yang mematikan.

 

Pendeknya, senjata api yang keluar dari mulut kuda-kuda itu membawa manusia kepada MAUT.

 

Yakobus 3:9-10

(3:9) Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, (3:10) dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.

 

Pada ayat ini dikatakan:

-    Dengan lidah kita memuji Tuhan.

-    Tetapi dengan lidah juga; mengutuki manusia.

Intinya dari “lidah” keluar BERKAT dan KUTUK.

 

Jadi, dosa dalam perkataan dapat membawa manusia kepada HIDUP dan kepada MAUT.

Kalau lidah mengucapkan kata-kata BERKAT, maka perkataan itu membawa dia kepada HIDUP.

Kalau lidah mengucapkan kata-kata KUTUK, maka hal itu membawa manusia kepada MAUT.

Oleh sebab itu, marilah kita gunakan lidah ini dengan baik. Maksudnya; hendaklah perkataan-perkataan yang baik keluar dari mulut kita, yang sifatnya MEMULIAKAN HATI TUHAN saja.

 

Matius 12:36

(12:36) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.

 

Jadi, setiap perkataan yang keluar dari mulut, satu kali nanti akan dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman yang besar yaitu; dihadapan takhta putih…Wahyu 20:11.

Jadi hati-hati, jangan asal berbicara, jangan asal berkata-kata, kalau berkata-kata harus dipikirkan. Jangan asal terucap, dan jangan asal sesumbar.

 

Matius 12:37

(12:37) Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."

 

Singkat kata, seseorang dibenarkan menurut ucapannya dan seseorang dihukum menurut ucapannya juga.

 

Mengapa saya melarang orang berbicara sembarangan, lalu saya suruh bayar lima ribu? Ini waktunya supaya pemuda/pemudi GPT Betania mengerti.

Kalau pada akhirnya kita sadar, maka biarlah kita hanya mengucapkan kata-kata yang baik, berarti perkataan yang benar, suci dan memuliakan Tuhan saja.

Pendeknya, hidup matinya seseorang ditentukan oleh lidah yaitu; api.

 

Pertanyaannya: Kapan peluru api yang keluar dari mulut kuda-kuda itu dilancarkan?

 

Jawabnya…

2 Timotius 3:1-3  -- Perikop: "Keadaan manusia pada akhir zaman"

(3:1) Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. (3:2) Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, (3:3) tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, (3:4) suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.

 

Ada 18 macam “dosa akhir zaman” yaitu:

(1) Mencintai dirinya sendiri (2) Hamba uang (3) Membual (4) Menyombongkan diri (5) Pemfitnah (6) Berontak terhadap orang tua, (7) Tidak tahu berterima kasih (8) Tidak mempedulikan agama (9) Tidak tahu mengasihi (10) Tidak mau berdamai (11) Suka menjelekkan orang (12) Tidak dapat mengekang diri (13) Garang (14) Tidak suka yang baik (15) Suka mengkhianat (16) Tidak berpikir panjang (17) Berlagak tahu (18) Lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.

 

Dari 18 macam dosa akhir zaman, ada beberapa hal peluru api yang keluar dari mulut kuda pada ayat 2 dan ayat 3 antara lain;

-          Mereka menjadi pembual.

-          Mereka menjadi pemfitnah.

-          Tidak tahu berterima kasih.

-          Suka menjelekkan orang.

-          Tidak dapat mengekang diri.

 

Yang pasti; di hari-hari terakhir ini kita melihat orang berkata-kata dengan sesuka hati, meskipun itu menyakiti hati Tuhan. Itu adalah tanda bahwa sekarang ini kita berada pada akhir zaman.

 

Lihat saja orang sesuka hati mengucapkan kata-kata, baik secara langsung; seperti tombak di tangan Goliat, maupun secara tidak langsung atau lewat media sosial; whatsApp, handphone dan seterusnya, itu seperti lembing di tangan Goliat bisa menancap meskipun jarak jauh. Jadi perkataan yang tidak suci dan tidak baik sekarang ini mudah sekali terucap di dalam mulut seseorang.

Jadi ini harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

 

Saya tambahkan dengan “kata-kata bijak”:

Dahulu masa kanak-kanak orang akan belajar berbicara. Tetapi setelah dewasa; seseorang belajar “berdiam diri.”

Arti “diam”; bukan berarti tidak boleh berkata-kata, bukan berarti tidak boleh bercanda gurau dengan sopan. Tetapi perkataan yang sifatnya kotor, buruk, tidak suci, tidak benar, tidak mulia, jangan lagi keluar dari mulut. Sudah seharusnya membatasi diri termasuk hal-hal yang menyakiti hati Tuhan dan sesama.

 

Jadi hidup dan matinya manusia ternyata ditentukan oleh peluru api yang keluar dari mulut kuda-kuda.

Api disini berbicara tentang lidah.

Jadi sekarang ini mudah sekali orang berkata-kata dengan tidak baik.

 

Peluru api ini sudah dilancarkan dari mulut kuda-kuda, contohnya; di media sosial, secara langsung orang tidak takut lagi berbicara, dan tidak ragu-ragu mengucapkan kata-kata yang tidak baik kepada orang tua dan kepada orang yang harus di hormati.

 

Saya masih teringat masa kanak-kanak “waktu SD”… Jangan kan berkata-kata dengan guru, melihat guru saja rasa takutnya bercampur aduk dengan rasa segan, rasa sopan, dan itu menjadi satu di dalam diri ini. Bahkan ketika Bapak/Ibu guru ketika lewat, dan ketika guru tersebut lewat dihadapan kita, kita langsung sembunyi / ngumpet sampai guru tersebut berlalu tanpa melihat kita.

 

Tetapi di hari-hari ini, saya tidak melihat keadaan seperti itu lagi, berbicara pun sudah sembarangan saja dengan guru yang semestinya dihormati. Murid-murid tidak lagi menempatkan guru sebagai yang harus dihormati dan murid-murid tidak lagi menghargai wibawa dari seorang guru. Bahkan kalau ditegur saja, langsung laporan kepada orangtua dan kaitannya langsung dengan Hak Asasi Manusia. Jadi oleh HAM ini kebenaran diputar balik, sudah diplesetkan. Akhirnya manusia semakin bodoh, ucapannya juga semakin bodoh, tidak memiliki sopan santun, tidak punya etika, tidak punya tata krama (tidak punya attitude), dan guru pun akhirnya menjadi takut untuk mengajar dengan tegas, akhirnya murid-murid menjadi bodoh. Kalau murid menjadi bodoh, ucapan yang keluar dari lidah juga menjadi ucapan bodoh. Jadi hal ini sangat berbeda dengan masa saya kanak-kanak beberapa puluh tahun yang lalu.

 

Itu bisa kita temukan pada…

Efesus 4:17-19 --- Perikop: "Manusia baru"

(4:17) Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia (4:18) dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. (4:19) Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.

 

Manusia duniawi atau orang-orang yang tidak mengenal Allah, menjalankan hidup secara duniawi:

1.    Pikirannya sia-sia.

2.    Pengertiannya yang gelap.

3.    Tidak bersekutu dengan Allah, karena bodoh dan degil (keras hati).

4.    Perasaan mereka telah tumpul.

Tandanya:

  1. Hidup dalam hawa nafsu.
  2. Mengerjakan segala kecemaran dengan serakah.

 

Efesus 4:20

(4:20) Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.

 

Belajar “berdiam diri” berarti; belajar mengenal Kristus dan salib-Nya. Sebab salib-Nya lah yang harus kita gunakan untuk masuk dalam pengalaman kematian dan pengalaman kebangkitan.

 

Efesus 4:21-24

(4:21) Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, (4:22) yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, (4:23) supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, (4:24) dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

 

Orang yang belajar mengenal Kristus menanggalkan manusia lama. Lalu, rela dibaharui dalam roh dan pikiran.

 

Oleh sebab itu, Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus… Filipi 2:5.

Selanjutnya, kehidupan yang sudah dibaharui; mengenakan manusia baru, dengan lain kata; hidup lama sudah berlalu.

Maksudnya, peluru api yang dari mulut kuda-kuda itu tidak lagi menancap di dalam kehidupan kita. Karena kita sudah mengenakan manusia baru. Manusia baru berarti; diciptakan menurut teladan Tuhan, menurut gambar dan rupa Allah. Jadi untuk kembali kepada wujud semula, maka kita diciptakan menurut kehendak Allah, dan dibentuk menurut salibNya di Golgota.

 

Jadi kalau kita tidak mau dibentuk oleh Salib, maka wujud rohani kita; tidak berbentuk, berarti; rusak karena dosa, rusak karena perkataan. Oleh sebab itu kita harus dibentuk kembali menurut teladan Allah (kehendak Allah) sesuai dengan kuasa Salib.

 

EFesus 4:25

(4:25) Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

 

Ciri-ciri “manusia baru” di bentuk oleh SALIB GOLGOTA:

a.       Membuang dusta.

Tidak ada lagi perkataan dalam bentuk tipu daya dan tipu muslihat, dan tidak ada lagi perkataan yang bercabang-cabang seperti lidah bercabang (lidah ular).

b.       Berkata benar kepada sesama, karena kita adalah makhluk ciptaan Tuhan.

Artinya; Tuhan tidak pilih kasih, Tuhan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain, karena pada hakekatnya kita adalah angota-anggota tubuh Kristus. Dan Tuhan memperhatikan anggota yang paling rendah (paling lemah).

 

Efesus 4:29

(4:29) Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

Singkat kata; jangan ada lagi perkataan kotor keluar dari mulut kita, selain perkataan yang baik. Karena perkataan yang baik sifatnya; Membangun orang lain.

Jadi kita bukan untuk merubuhkan, dan bukan untuk menjatuhkan suatu bangunan rohani, tetapi kita harus membangun sesama dengan perkataan-perkataan yang baik, berarti perkataan itu; perkataan yang benar, suci, dan memuliakan hati Tuhan.

 

Maka nampaklah “Bangunan rohani” seperti POLA TEBERNAKEL.

a.       Perkataan-perkataan yang sifatnya “BENAR” terkena kepada daerah HALAMAN, tandanya;

  1. Mezbah Korban Bakaran. Berbicara tentang; SALIB, dimana Yesus menjadi Korbannya.

Jadi perkataan yang benar itu pasti keluar dari orang yang senantiasa mengarahkan dirinya kepada Korban Kristus.

  1. Kolam Pembasuhan Tembaga. Berbicara tentang; Baptisan air 🡪 Pengalaman Kematian dan Pengalaman Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.

Intinya; kalau sudah menyatu dengan pengalaman kematian dan pengalaman kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, maka perkataannya tentu saja benar.

 

b.       Perkataan-perkataan yang sifatnya “SUCI” terkena kepada RUANGAN SUCI di dalamnya terdapat 3 (tiga) macam alat;

1.       Meja Roti Sajian = Iman.

Perkataan ini berdasarkan dengan iman. Iman berarti “percaya” walaupun “tidak melihat”.

2.       Pelita Emas = Pengharapan.

Sedangkan “pengharapan” adalah jangkar atau sauh yang kuat, melabuhkan kita sampai kepada “Ruangan Maha Suci” sebagaimana yang tertulis dalam… Ibrani 6:19.

Jadi orang suci selalu berbicara tentang hal-hal yang sifatnya menguatkan orang lain. Karena dengan pengharapan sama seperti jangkar yang kuat, sampai pada akhirnya perkataan itu membawa masuk dalam Kerajaan Sorga.

3.       Mezbah Dupa = Kasih.

Perkataan dalam bentuk kasih sifatnya yang mengampuni, menutupi, sehingga tidak ada kata-kata yang merugikan orang lain, dan tidak ada kata-kata yang sifatnya menyakiti hati Tuhan.

Jadi kata-kata dalam bentuk kasih adalah kata-kata yang tidak ada kaitannya dengan hawa nafsu dan keinginan daging manusia.

 

c.       Perkataan-perkataan yang sifatnya “MEMULIAKAN TUHAN” terkena kepada RUANGAN MAHA SUCI; disitu nampak satu alat yang terutama yaitu:

-          Tabut Perjanjian sebagai takhta Allah, duduk di atas takhta kemuliaannya.

 

Jadi demikianlah orang benar akan mengucapkan; kata-kata yang benar, kata-kata yang suci, kata-kata yang memuliakan Tuhan adalah perkataan yang sifatnya MEMBANGUN seperti bangunan Pola Tabernakel, berarti perkataan itu tidak ada lagi kaitannya dengan perkara di bawah ( perkara di bumi).

 

Kolose 4:6

(4:6) Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

 

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih bukan dengan kata-kata yang hambar.

“Hambar” di sini tidak ada rasa, berarti asal ngomong saja.

Hati hati orang yang asal ngomong berarti dia kena pada peluru api yang berasal dari mulut kuda.

Kata-kata hambar ini biasanya keluar dari bibir, mulut, lidah orang yang tidak lagi suka dengan sesamanya. Kalau sudah benci; asal ngomong saja, asal terucap begitu saja, karena dia tidak lagi mau membangun, dan dia tidak menghendaki orang lain menjadi Tabernakel tempat Tuhan bertakhta.

Tetapi jangan kita seperti itu, jangan bodoh, jangan degil, tetapi kita harus dibaharui menjadi manusia baru, kita harus belajar berdiam diri.

 

Waktu kanak-kanak belajar berbicara, apa saja diucapkan. Tetapi kalau sudah dewasa belajar berdiam diri; berarti; mengenal Salib di Golgota, karena SALIB adalah sarana untuk masuk dalam Pengalaman Kematian, itulah berdiam diri.

 

Kolose 4:6

(4:6) Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

 

Jadi kalau kata-kata itu penuh kasih; sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang, berarti; tepat waktunya dan tepat sasarannya.

Tambahkan…

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya ituFilipi 4:8.

 

JALAN KELUAR…

 

PRAKTEK BERDIAM DIRI DARI MANUSIA BARU

 

Yakobus 3:2

(3:1) Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.

 

Kalau orang selalu menempatkan diri sebagai seorang guru dan hanya suka menggurui, tetapi tidak mau belajar, hukumannya jauh lebih berat dari pada hukuman dari seorang murid, karena murid selalu belajar walaupun salah.

 

Hamba Tuhan (orang kudus) dipercayakan kepadanya 5 (lima) jabatan;

Efesus 4:11

1.       Rasul-rasul.

2.       Nabi-nabi.

3.       Penginjil.

4.       Gembala-gembala.

5.       Pengajar-pengajar (guru).

Kalau karunia itu datang dari Tuhan, maka seorang hamba Tuhan harus mengerjakannya dengan baik. Tetapi kalau seseorang tidak dipercayakan karunia guru tetapi suka menggurui (tidak mau belajar), maka hukumannya jauh lebih berat. Bukan berarti saya mau membela diri, memang saya pemimpin jemaat karena saya dikaruniakan jabatan gembala dan jabatan guru dalam mengajar sidang jemaat.

Jadi kita harus menempatkan diri pada posisi yang tepat. Supaya kalau kita membawa diri ini pada posisi yang tepat, karunia yang datang dari Tuhan tidak pernah kita salahkan lagi. Ini praktek berdiam diri dari manusia baru.

 

(3:2) Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

 

Barangsiapa tidak bersalah dalam perkataan, ia adalah orang sempurna.

Tanda orang sempurna: dapat mengendalikan seluruh tubuhnya.

 

Tubuh ini perlu dikendalikan, Gesture juga perlu dikendalikan. Dari mana asal mulanya? Yaitu: barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, tanda sempurna; dapat mengendalikan seluruh anggota tubuh, mulai dari kepala sampai ujung kaki, semua aman terkendali.

 

Yakobus 3:3

(3:3) Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

 

Supaya seluruh tubuh terkendali, kita harus menggunakan kekang.

Kekang 🡪 SALIB.

Salib menjadikan kita taat, setia, dengar-dengaran. Seperti Yesus Anak Allah, Dia taat, Dia setia dan dengar-dengaran.

 

Ibrani 5:8

(5:8) Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,

 

Belajar menjadi TAAT itu karena ada kekang itulah; SALIB di GOLGOTA.

Kita menjadi pribadi yang taat, setia, dan dengar-dengaran itu karena kekang (salib).

 

Oleh kekang kita juga menjadi DENGAR-DENGARAN, sebagaimana…

Matius 26:39

(26:39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

 

Kata “Ya Bapakuà Yesus menjadi pribadi yang DENGAR-DENGARAN, dari cawan yang akan diminum isinya adalah anggur, asam campur empedu itulah; sengsara salib. Dia harus menanggung penderitaan yang tidak harus ditanggung, Dia harus menderita sengsara bahkan mati di kayu salib.

 

Pendeknya; oleh kekang Yesus adalah Anak Allah, dengar-dengaran kepada Bapa di Sorga.

 

Kemudian oleh kekang Yesus juga belajar menjadi satu kehidupan yang SETIA.

Filipi 2:8

(2:8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

 

Taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib = SETIA.

Jadi oleh kekang kita menjadi satu kehidupan yang taat, setia, dan dengar-dengaran.

 

Jadi kekang pada kuda tersebut dalam…

Yakobus 3:3

(3:3) Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

 

Kekang pada mulut kuda berbicara tentang SALIB. Jadi oleh kekang kita belajar berdiam diri, dan dari berdiam diri; nampaklah tiga hal dalam diri kita yaitu: (1) TAAT, (2) SETIA, (3) DENGAR-DENGARAN.

 

Jadi saudara kita sudah melihat peluru api adalah peluru pertama yang keluar dari mulut kuda-kuda dan jumlah pasukan berkuda itu ada 200 juta.

Saudara sekarang ini orang tidak lagi segan-segan berbicara di media sosial, dan dimana saja, semua ucapan-ucapan yang tidak berarti terlontar dari bumi, baik secara langsung, baik lewat media sosial lisan dan dalam bentuk tulisan.

 

Jadi manfaatkanlah kekang pada mulut kuda. Dari situ kita belajar berdiam diri, lalu hidup ini pun dikendalikan oleh kekang pada mulut kuda (salib di golgota), tandanya; taat, setia, dengar-dengaran. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

 

 

TUHAN YESUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

 

Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment