IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 21 APRIL 2026
SURAT YUDAS 1:11
(Seri:1)
Subtema: MUSA PENGANTARA
HUKUM TAURAT
Shalom…
Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena
rahmat-Nya kita sekaliannya dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, kita
boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Doa Penyembahan, itu berarti sebentar
kita akan membawa hidup kita untuk berada di ujung kaki salib TUHAN, sujud
kepada Dia dan tentu saja terlebih dahulu diteguhkan oleh kebenaran dari Firman
ALLAH yang sebentar akan kita terima.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN,
saudara-saudari yang turut bergabung lewat online / live streaming
baik dari Youtube maupun Facebook atau media sosial lainnya yang dapat
digunakan.
Selanjutnya marilah kita mengikuti Surat Yudas sebagai Firman
penggembalaan untuk Ibadah Doa Penyembahan, dan kita masih berada pada Yudas 1:11 yang merupakan seri yang
ke-19 kalinya. Namun tetaplah berdoa dalam Roh, mohon kemurahan TUHAN supaya
Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Yudas 1:11
(1:11) Celakalah
mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena
mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan
mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.
“Celakalah mereka...”
antara lain:
a.
Karena mereka mengikuti jalan yang
ditempuh Kain.
b.
Oleh sebab upah, menceburkan diri ke
dalam kesesatan Bileam.
c.
Mereka binasa karena kedurhakaan
seperti Korah.
Tentang:
MEREKA BINASA KARENA KEDURHAKAAN SEPERTI KORAH (Bagian ketujuh)
Bilangan 16:1-3 -- Perikop:
"Pemberontakan Korah, Datan dan Abiram."
(16:1)
Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram,
anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak
orang-orang (16:2) untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus
lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang
dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan. (16:3) Maka
mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata kepada keduanya:
"Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan
TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di
atas jemaah TUHAN?"
Korah dan kumpulannya bangkit untuk memberontak melawan Musa.
Yang masuk ke dalam kumpulan Korah adalah: Datan, Abiram, dan On serta
250 pemimpin-pemimpin kenamaan. Kemudian, di tengah-tengah pemberontakan itu,
mereka juga menuduh Musa meninggi-ninggikan diri terhadap jemaah TUHAN yaitu
umat Israel.
Saudara, tuduhan semacam ini sifatnya memojokkan pihak Musa dan Harun.
Kita tahu yang suka menuduh, mendakwa, menghakimi, itu adalah pekerjaan Iblis /
Setan. Jangan suka memojokkan orang lain dengan tuduhan-tuduhan, sekalipun itu
benar, itu karakter Setan saudara. Tetapi kita adalah ciptaan ALLAH berarti
kita harus mengikuti teladan ALLAH termasuk tabiat ALLAH. Jangan suka
memojokkan orang lain dalam kesalahannya, tetapi bangkitkan dia supaya dia
jangan terpojok dengan kesalahan itu, supaya nanti dari mulutnya keluar ucapan
syukur dan mengasihi TUHAN dengan sungguh-sungguh. Tetapi Korah dan kumpulannya
justru menuduh Musa dan Harun sedang meninggi-ninggikan diri terhadap jemaah
TUHAN, menuduh dan memojokkan.
Bilangan 16:10
(16:10) dan bahwa
engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi?
Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi?
Saudara, penyebab terjadinya pemberontakan: Korah dan kumpulannya
menuntut pangkat Imam.
Sebenarnya Korah dan segenap suku Lewi telah dipisahkan ALLAH dari
antara umat Israel dan mereka diperbolehkan untuk mendekat kepada ALLAH.
Maksudnya diberi kesempatan untuk:
-
Melayani TUHAN dan pekerjaan-Nya dari Halaman sampai
Ruangan Suci.
-
Diijinkan bertugas untuk melayani umat Israel.
Tetapi kenyataannya, Korah masih saja menuntut pangkat imam.
Inilah yang melatarbelakangi sehingga Korah dan kumpulannya memberontak
melawan Musa dan Harun, tidak ada rasa puas terhadap pemberian TUHAN kepada
seluruh Kaum Lewi, di dalamnya termasuk Korah.
Bilangan 16:11
(16:11) Sebab itu,
engkau ini dengan segenap kumpulanmu, kamu bersepakat melawan TUHAN. Karena
siapakah Harun, sehingga kamu bersungut-sungut kepadanya?"
Ketika Korah dan kumpulannya memberontak melawan Musa dan Harun sama
artinya bersepakat melawan TUHAN. Jadi kalau kita memberontak terhadap
penggembalaan = bersepakat melawan TUHAN. Jadi jangan sekali-sekali kita
memberontak apapun yang terjadi.
Bilangan 16:12
(16:12) Adapun
Musa telah menyuruh orang untuk memanggil Datan dan Abiram, anak-anak Eliab,
tetapi jawab mereka: "Kami tidak mau datang.”
Musa memanggil Datan dan Abiram, tetapi mereka tidak mau datang.
Menunjukkan bahwa: Datan dan Abiram tidak hidup di dalam ketundukan;
-
Tidak taat dan tidak dengar-dengaran.
-
Tidak menghormati tahbisan suci dan urapan = kehendak
manusia (daging) ingin mengatasi kehendak ALLAH.
Karena sesungguhnya;
a.
Musa adalah utusan TUHAN,
ditetapkan untuk menuntun dan menggembalakan
serta membebaskan umat Israel dari perbudakan Mesir dan penjajahan Firaun.
Sedangkan,
b.
Harun ditugaskan untuk memegang
jabatannya sebagai imam untuk
mengerjakan penebusan dan pendamaian terhadap dosa umat Israel.
Itu adalah keputusan TUHAN dan ditetapkan di tengah-tengah umat Israel.
Maka kita perlu untuk tergembala supaya kita ada dalam tanda penebusan
dan bahwa kita diperdamaikan dengan ALLAH. Tetapi banyak orang
Kristen tidak mengerti soal tergembala, itu sebabnya mereka datang hanya
sekedar beribadah. Memang akhirnya nanti TUHAN yang menentukan selamat atau
tidak, bukan saya. Tetapi yang saya tahu, kita semua harus tergembala, menjadi
satu kehidupan domba yang tergembala. Domba kaitannya untuk disembelih dan
dipersembahkan, sedangkan anjing tidak bisa menjadi domba yang tergembala.
Domba itu untuk dipersembahkan, domba itu juga untuk diperdamaikan
dengan TUHAN.
Jadi tergembala saja dengan sungguh-sungguh.
Kalau kita melihat silsilah / latar belakang Datan dan Abiram, keduanya
adalah keturunan dari Ruben sebagaimana yang tertulis di dalam Bilangan
16:1.
Kejadian 49:3
(49:3) Ruben,
engkaulah anak sulungku, kekuatanku dan permulaan kegagahanku, engkaulah yang terutama
dalam keluhuran, yang terutama dalam kesanggupan.
Ruben adalah anak sulung Yakub berarti yang terutama dalam
keluhuran dan kesanggupan.
a.
Keluhuran (kemuliaan) kalau dikaitkan dengan Pola Kerajaan
Sorga terkena pada Ruangan Maha Suci berbicara tentang kesempurnaan dari
sidang Mempelai TUHAN dan Doa penyembahan (Ibrani 9:4).
-
Kesempurnaan sidang Mempelai TUHAN à
Tabut Perjanjian.
-
Cawan Pembakaran Ukupan dari Emas à
Doa Penyembahan.
b.
Kesanggupan à Salib
Kristus, berbicara tentang kasih karunia.
Jadi kalau kita disanggupkan untuk menyangkal diri,
memikul salib di tengah-tengah pengikutan kita kepada TUHAN itu karena kasih
karunia TUHAN sebagaimana yang tertulis di dalam 1 Korintus 15:10, jelas
hal itu diakui oleh Paulus kepada sidang jemaat di Korintus -- … Aku adalah
sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku
tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka
semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. –
Jadi kesanggupan itu menunjuk kepada salib Kristus
berbicara tentang kasih karunia. Kita sanggup karena kasih karunia, kasih
karunia itu datang dari salib. Maka sumber kekuatan dan sumber hikmat adalah
salib.
Jadi
saudara, menjadi anak sulung itu sebetulnya memperoleh berkat-berkat yang luar
biasa; dipelihara, dilindungi, dibela, dan diberkati oleh TUHAN, itu adalah
kelebihan dari anak sulung.
Jadi
kelebihan dari orang-orang yang mau melayani TUHAN dan pekerjaan TUHAN itu luar
biasa; keluhuran dan kesanggupan -- dipermuliakan berarti menjadi Mempelai
TUHAN dan hidup di dalam doa penyembahan serta senantiasa hidup di dalam kasih
karunia -- Itulah keadaan Ruben sebagai Anak Sulung, itulah keadaan daripada
orang-orang yang mau melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN. Menjadi
zangkoor pun itu disebut juga imam-imam (anak sulung).
Jadi
pertahankanlah hak kesulungan yang sudah diterima dari TUHAN supaya kemuliaan (keluhuran)
dan kesanggupan itu dinyatakan kepada orang-orang yang mau melayani TUHAN
dengan tulus tentunya.
Kejadian
49:5
(49:4)
Engkau yang membual sebagai air, tidak lagi engkau yang terutama, sebab
engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu; waktu itu engkau telah
melanggar kesuciannya. Dia telah menaiki petiduranku!
Pada akhirnya Ruben ditolak sebagai anak sulung sebab dia telah
menajiskan tempat tidur ayahnya. Pendeknya, Ruben melanggar kesucian nikah
Yakub, ayahnya.
Terkait dengan Ruben telah menajiskan tempat tidur Yakub ayahnya, hal
itu kita lihat di dalam…
1 Tawarikh 5:1-2
(5:1)
Anak-anak Ruben, anak sulung Israel. Dialah anak sulung, tetapi karena ia telah
melanggar kesucian petiduran ayahnya, maka hak kesulungannya diberikan kepada
keturunan dari Yusuf, anak Israel juga, sekalipun tidak tercatat dalam silsilah
sebagai anak sulung. (5:2) Memang Yehudalah yang melebihi
saudara-saudaranya, bahkan salah seorang dari antaranya menjadi raja,
tetapi hak sulung itu ada pada Yusuf.
Ruben memang adalah anak sulung Yakub, namun pada akhirnya hak
kesulungan itu jatuh ke tangan Yusuf sebab Ruben melanggar kesucian tempat
tidur ayahnya.
Jangan kita melanggar kesucian tempat tidur ya saudara ku.
Kita akan selidiki dan bahas,
Tentang: tempat tidur.
Lukas 17:33
(17:33)
Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya,
dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.
Doa penyembahan adalah
penyerahan diri sepenuh sampai nanti menjadi selamat.
Jadi kalau tidak sampai kepada doa penyembahan, tidak sampai kepada
penyerahan diri sepenuh, dia tetap mempertahankan harga dirinya, dia
pertahankan segala perkara di bumi, dia akan kehilangan nyawanya. Tetapi kalau
kita kehilangan nyawa, dengan lain kata; penyerahan diri sepenuhnya, tanda dalam
doa penyembahan, nanti kita akan memperolehnya.
Dari ayat ini kita bisa melihat, mau tidak mau ibadah kita harus sampai
pada tingkat ibadah yang tertinggi (puncak ibadah) yaitu: doa penyembahan, sama
artinya penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak ALLAH
supaya kita memperoleh hidup kekal.
Lukas 17:34-36
(17:34) Aku
berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur,
yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. (17:35) Ada
dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan
yang lain akan ditinggalkan." (17:36) [Kalau ada dua orang di
ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.]
Pada ayat ini kita menemukan tiga perkara. Ketiga-tiganya menunjuk pada tiga
macam ibadah pokok.
1.
Tempat tidur à
Ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan = penyerahan diri sepenuhnya untuk taat
hanya kepada kehendak ALLAH. Ini adalah tingkat ibadah yang tertinggi atau
puncak ibadah.
Kiranya hendaklah hidup rohani kita berada pada puncak
ibadah, berada pada tingkat ibadah yang tertinggi itulah doa penyembahan supaya
kita memperoleh hidup kekal.
Jadi tempat tidur ini tidak boleh dirusak oleh karena
kenajisan, oleh karena persundalan seperti isteri Lot, hatinya bersundal dengan
segala harta & kekayaan yang ditinggalkan di belakang.
Jadi tempat tidur itu tidak boleh dirusak, tidak boleh
dinajiskan oleh persundalan, hati terikat (terpaut) dengan perkara lahiriah /
perkara di bawah. Kalau hubungan intim / nikah suci / doa penyembahan dirusak
oleh karena persundalan-persundalan dengan banyak perkara di bumi seperti
isteri Lot, itu yang merusak rencana ALLAH di dalam dirinya untuk menjadikan
dia anak sulung.
Jadi jangan rusak hubungan nikah mu dengan TUHAN,
jangan rusak hubungan intim mu dengan TUHAN, jangan rusak doa penyembahan atau
penyerahan diri sepenuhnya kepada TUHAN hanya karena persundalan-persundalan di
bumi ini, hanya karena perkara-perkara di bumi ini, apapun jenisnya supaya kita
tetap ada di dalam rencana ALLAH sebagai anak sulung, supaya kita jangan
kehilangan hak kesulungan.
2.
Mengilang berarti memutar batu kilangan
à
Ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan Perjamuan Suci.
3.
4.
Ladang à Ibadah
Raya Minggu disertai dengan Kesaksian Roh sebab ladang itu adalah kegiatan Roh.
Jadi kita memang harus tekun dalam Tiga Macam Ibadah Pokok yang merupakan
sarana yang TUHAN berikan kepada kita untuk berada pada tingkat ibadah
tertinggi (puncak ibadah) itulah Doa Penyembahan.
Jadi manfaatkanlah sarana yang TUHAN berikan ini, itulah inventaris
sorgawi yang harus kita rawat, diusahakan dan dipelihara dengan
sungguh-sungguh, apapun harganya bayar saja. Kalau sempat untuk beribadah,
sempat-sempatkan saja.
Saudara, tempat tidur adalah puncak ibadah atau puncak hubungan nikah
dengan TUHAN yakni doa penyembahan, disebut juga penyerahan diri sepenuhnya
untuk taat hanya kepada kehendak ALLAH, itu tidak boleh dirusak.
Pada ayat 32-33, isteri Lot tidak sampai pada penyerahan diri
sepenuhnya atau tidak rela kehilangan nyawa, akhirnya dia jatuh ke dalam
kenajisan atau persundalan, istilah lain hatinya lebih condong kepada harta di
dunia ini.
Jadi kalau kita tidak berada pada puncak ibadah, doa penyembahan, tidak
sampai pada penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak ALLAH,
akhirnya jatuh ke dalam kenajisan percabulan, hidup di dalam persundalan,
menduakan hati TUHAN, membuat hati TUHAN cemburu dan kecewa.
Bayangkan kalau seorang isteri diduakan oleh suaminya, betapa sakitnya
hati seorang isteri. Sebaliknya, kalau seorang suami menduakan hati isterinya,
begitu kecewanya seorang isteri. Jadi saudara bisa tau sakitnya seperti apa.
Jadi jangan kecewakan TUHAN dengan persundalan supaya kita jangan
kehilangan hak kesulungan.
Demikian juga jika bandingkan dengan …
Matius 24:37-38
(24:37)
"Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya
kelak pada kedatangan Anak Manusia.
(24:38)
Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum,
kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,
Zaman akhir
sama seperti zaman Nuh, orang-orang sibuk dengan makan dan minum, kawin dan
mengawinkan.
-
Makan dan minum à
dosa yang ditimbulkan oleh hawa nafsu dan keinginan-keinginan daging yang
jahat.
-
Kawin dan mengawinkan à
kenajisan percabulan atau persundalan.
Itulah
keadaan zaman akhir sama seperti zaman Nuh, orang-orang sibuk dengan dosa-dosa
itu.
Matius 24:40-42
(24:40)
Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang
lain akan ditinggalkan; (24:41) kalau ada dua orang perempuan sedang
memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan
ditinggalkan. (24:42) Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu
pada hari mana Tuhanmu datang.
Di sini kita menemukan tiga perkara, antara lain:
1. Ladang
à
Ibadah Raya Minggu disertai dengan Kesaksian Roh sebab ladang adalah kegiatan
Roh.
2. Memutar
batu kilangan à Ibadah
Pendalaman Alkitab disertai dengan Perjamuan suci.
3. Berjaga-jaga
à
Ibadah Doa Penyembahan = penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada
kehendak ALLAH.
Dalam hal ini Nuh sudah berada pada tingkat ibadah yang tertinggi, sudah
berada pada puncak ibadah itulah doa penyembahan = penyerahan diri sepenuhnya
untuk taat hanya kepada kehendak ALLAH sehingga ia bebas dari kenajisan
percabulan, ia tidak hidup dalam hawa nafsu dan keinginan-keinginan daging =
lepas dari air bah à kenajisan
percabulan.
Nuh dan isterinya selamat, demikian juga putera-puteranya bersama dengan
isteri-isteri puteranya juga selamat.
Jadi kalau kita tekun dalam tiga macam ibadah pokok sampai berada pada
puncak ibadah itulah doa penyembahan, itu yang melepaskan kita dari puncaknya
dosa itulah kenajisan percabulan = berjaga-jaga.
Mari kita mengikuti rencana TUHAN seperti Nuh juga mengikuti rencana
TUHAN, berapa puluh tahun dia membangun bahtera di atas bukit, bahtera itu
adalah gambaran dari Tabernakel karena dia berada pada tiga tingkat; (tingkat
bawah, tingkat menengah, dan tingkat atas). Kemudian, bahtera itu juga
bentuknya berpetak-petak, dari situ kita bisa melihat, bahtera Nuh adalah gambaran
dari Pengajaran Tabernakel dan Pengajaran Mempelai.
Jadi biarlah kiranya kita digembalakan oleh Pengajaran Tabernakel dan Pengajaran
Mempelai supaya kita berada pada puncak ibadah itulah doa penyembahan, wujud
dari hubungan intim antara Mempelai Perempuan dengan Mempelai Laki-laki.
Jadi hubungan gereja TUHAN dengan Kristus Kepala adalah nikah suci,
wujudnya adalah penyembahan, itu jangan dirusak, jangan dinodai, jangan
dinajiskan. Perhatikanlah ini dengan sungguh-sungguh supaya nampak kemajuan
rohani kita pribadi lepas pribadi. Yang terutama, kita tetap mempertahakan hak
kesulungan itu.
Singkat kata, ketika Ruben ditolak menjadi anak sulung, tentu saja
timbul rasa kecewa disertai dengan sakit hati. Orang yang kecewa dan sakit hati
pasti di dalam dirinya akan timbul iri hati melihat keberhasilan orang lain.
Saudara, roh inilah yang turun atas Datan dan Abiram sehingga ketika
mereka melihat Musa dan Harun dipakai TUHAN, timbullah iri hati karena roh
kecewa dan sakit hati itu turun atas mereka. Akhirnya ketika Datan dan Abiram
melihat Musa dan Harun dipakai TUHAN, yakni;
-
MUSA dipakai sebagai gembala berarti pembebas.
Sedangkan,
-
HARUN dipakai untuk menjadi penebus dan mengerjakan
pendamaian sebab itu adalah tugasnya imam,
Akhirnya timbullah iri hati.
Awalnya mungkin tidak ada iri hati dalam diri Datan dan Abiram, mungkin
sudah kecewa dan sakit hati, tetapi iri hati belum ada. Namun begitu Korah
mengajak Datan dan Abiram masuk ke dalam kumpulan Korah, lalu Korah mengajak
untuk memberontak maka pada saat itu timbullah iri hati pada diri Datan dan
Abiram. Dan ketika timbul iri hati, mereka tidak mau datang ketika dipanggil oleh
Musa.
Tidak mau datang ketika mereka dipanggil oleh Musa.
-
Dia tidak tunduk berarti tidak taat dan tidak
dengar-dengaran.
-
Dia melanggar tahbisan suci dan urapan.
Jangan kita seperti itu saudara ku, hati-hati.
Kita kembali untuk membaca …
Bilangan 16:13-14
(16:13)
Belum cukupkah, bahwa engkau memimpin kami keluar dari suatu negeri yang
berlimpah-limpah susu dan madunya untuk membiarkan kami mati di padang gurun,
sehingga masih juga engkau menjadikan dirimu tuan atas kami? (16:14)
Sungguh, engkau tidak membawa kami ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan
madunya, ataupun memberikan kepada kami ladang-ladang dan kebun-kebun anggur
sebagai milik pusaka. Masakan engkau dapat mengelabui mata orang-orang ini?
Kami tidak mau datang."
Singkat
kata; hati Datan dan Abiram kekeh untuk menolak panggilan Musa, kekeh dengan
kekerasan di hati.
Selanjutnya,
Datan dan Abiram menuduh Musa:
-
Menjadikan dirinya tuan atas umat Israel.
-
Mengelabui mata umat Israel.
Saudara,
menuduh bahwa Musa telah menjadikan dirinya tuan atas umat Israel adalah
tuduhan yang tidak berdasar, tuduhan ini tidak beralasan. Banyak orang seperti
itu, yang terpenting adalah supaya orang lain terpojok, dirinya benar, ini
kebenaran yang salah.
Hati-hati
saudara, jangan pojokkan orang lain untuk memunculkan kebenaran di dalam diri
mu, ini kebenaran yang palsu. Kebenaran yang sejati, dia keluar dari salib.
Biarlah salib di Golgota membenarkan kehidupan kita pribadi lepas pribadi,
tidak perlu memojokkan orang lain dengan yang tidak-tidak, kalau sikap semacam
ini berasal dari dosa turunan, diubah, jangan dibawa ke rumah masing-masing
apalagi dalam nikah, juga jangan dibawa di dalam ibadah dan pelayanan dalam
penggembalaan ini.
Saudara,
tadi Datan dan Abiram menuduh Musa ingin menjadi tuan atas umat Israel. Sebetulnya,
tuduhan ini tidak berdasar dan tidak beralasan, sebaliknya Musa telah mengambil
rupa sebagai hamba.
Andaikata
pun seseorang benar telah melakukan kesalahan, tidak perlu dituduh-tuduh terus
untuk menyatakan suatu keadaan bahwa di pihak lain yang salah dan di pihak kita
yang benar, jangan, tidak perlu yang begitu-begitu. Biar Roh TUHAN yang
mengendalikan baik tubuh, jiwa, maupun Roh kita, baik hati,
pikiran, dan perasaan kita. Segenap hidup kita kiranya
dikendalikan oleh Roh TUHAN, Roh ALLAH yang suci. Maka kalau hidup kita
dikendalikan oleh Roh ALLAH pasti suci, tidak perlu dituduh-tuduh, dia sudah
salah. Lagi pula belum waktunya untuk menghakimi dan menuduh, nanti waktu
penghakiman, di situ kita akan melihat segala sesuatu yang terjadi. Sekarang
ini kita tempatkan diri saja sebagai hamba kebenaran, dengan lain kata;
mengambil rupa hamba, jangan kurang dari situ.
Bukti Musa
mengambil rupa hamba di dalam…
Bilangan
16:4
(16:4)
Ketika Musa mendengar hal itu, sujudlah ia.
“Sujudlah
ia.” Sujudlah ia menunjukkan bahwa Musa:
Yang
pertama; hidup di dalam doa penyembahan dan
Yang kedua;
senantiasa merendahkan dirinya dihadapan TUHAN.
Siapa yang
mau merendahkan diri dihadapan TUHAN?
Jawabnya
adalah: orang yang mengambil rupa hamba.
Kalau dia
tidak mengambil rupa seorang hamba, tidak mungkin ia mau merendahkan diri
dihadapan TUHAN.
Keluaran
32:32-33
(32:32)
Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu -- dan jika
tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis."
(32:33) Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: "Siapa yang berdosa
kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.
Dari dialog
antara Musa dengan TUHAN menunjukkan bahwa Musa telah mengambil rupa sebagai
hamba, dia tidak meninggi-ninggikan diri terhadap umat Israel. Kalau memang dia
mau meninggi-ninggikan diri, dari awal saja dia sudah meninggi-ninggikan diri.
Yang ketiga: Mati di
atas gunung Nebo.
Artinya dia dia dilarang untuk masuk ke tanah Kanaan (Tanah Perjanjian).
Sebenarnya, ketika Musa dikuburkan di atas gunung Nebo, menunjukkan
bahwa Musa adalah pengantara hukum taurat sebab dia telah mati dan
dikuburkan, kemudian ia juga telah naik ke Sorga menunjukkan bahwa dia telah
bangkit. Dengan demikian, dia layak menjadi pengantara hukum taurat (Perjanjian
Lama).
Mati dan bangkit adalah tugas dari pengantara. Apa buktinya Musa telah
mati dan bangkit?
Jawabnya: Sekarang dia ada di Sorga.
Namun sebelum TUHAN datang pada kali yang kedua, Musa terlebih dahulu
datang lagi untuk mempersiapkan jalan bagi sang Raja.
Bukankah dari perkara-perkara ini menunjukkan kepada kita bahwa Musa
telah mengambil rupa hamba?
Jadi tuduhan dari Datan dan Abiram tidak berdasar, tidak punya alasan,
dia hanya untuk mencari-cari kesalahan bagaimana caranya supaya Musa dan Harun
terpojok dan ketika orang lain terpojok nampaklah seolah-olah dia yang benar
itu. Itu pekerjaan Setan, tidak boleh lagi seperti itu. Biarkan saja TUHAN yang
membenarkan kita walaupun tidak cocok di hati ini.
Musa telah memecahkan dua loh batu di kaki (lereng) gunung Sinai
sebagaimana Yesus telah memecahkan hidupnya di atas kayu salib. Menunjukkan
bahwa dia adalah pengantara, dia telah mengerjakan penebusan dan memperdamaikan
dosa umat Israel kepada ALLAH.
Jadi jelas, tuduhan Datan dan Abiram sama sekali tidak benar karena Musa
telah mengambil rupa hamba.
Biarlah kiranya kita semua mengambil rupa hamba.
Yesus datang ke dunia ini, melepaskan segala reputasi-Nya, Dia mengambil
rupa hamba, Dia taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib… Filipi
2:5-8.
Ayat referensi Yesus adalah pengantara adalah:
1. 1
Yohanes 2:1-2.
2. 1
Timotius 2:5-6.
3. 2
Korintus 5:21.
Ketika Yesus mengerjakan penebusan dan pendamaian, Yesus mengambil rupa
hamba supaya orang lain dibenarkan.
Jadi sekali lagi saya sampaikan, tuduhan Datan dan Abiram ini tidak
berdasar dan tidak beralasan, tidak masuk akal. Tetapi sekalipun demikian, Musa
tetap berdiam diri, meskipun hatinya hancur.
Malam ini ketika hati mu hancur karena berdiam diri bawalah itu di kaki
salib TUHAN.
Bilangan 16:14
(16:14) Sungguh,
engkau tidak membawa kami ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,
ataupun memberikan kepada kami ladang-ladang dan kebun-kebun anggur sebagai
milik pusaka. Masakan engkau dapat mengelabui mata orang-orang ini? Kami
tidak mau datang."
Selanjutnya, Datan dan Abiram menuduh Musa telah mengelabui mata umat Israel.
Tuduhan ini menunjukkan bahwa Musa adalah orang munafik. Memang orang munafik
ini suka sekali mengelabui mata orang, di luar bagus, tetapi di dalam
tidak.
Kita lihat contoh munafik di dalam …
Matius 23:1-5
(23:1)
Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:
(23:2) "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki
kursi Musa. (23:3) Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu
yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan
mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (23:4)
Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang,
tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. (23:5) Semua
pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka
memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;
“Mereka mengajarkannya, tetapi tidak melakukannya.”
Orang munafik mengajar orang untuk memikul salib, tetapi mereka sendiri
tidak mau memikul salib. Mengajarkan jemaat untuk mengerti berkorban, tetapi
dia sendiri tidak mau berkorban. Mengajarkan jemaat untuk mempersembahkan
persepuluhan, tetapi dia sendiri mencuri miliknya TUHAN (sepersepuluh).
Saya mengajarkan persembahan persepuluhan karena saya juga belajar untuk
membawa persembahan persepuluhan kepada TUHAN dari semua penghasilan, dari
semua berkat-berkat.
Orang munafik nampak baik di luar, tetapi di hatinya tidak. Itulah orang
munafik.
Apakah Musa seperti itu? Tentu tidak, kita sudah melihat tadi, dia
sendiri rela untuk namanya dihapuskan dari Kitab Kehidupan. Itu bukan pekerjaan
orang munafik.
Contoh berikutnya…
Matius 6:5
(6:5) "Dan
apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka
mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada
tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
Orang munafik kalau berdoa panjang-panjang kemudian kalau berdoa untuk
diperlihatkan kepada orang lain, baik di rumah TUHAN termasuk di
tikungan-tikungan.
Saudara, seringkali tikungan dijadikan sebagai tempat untuk berdoa bagi
orang munafik. Tikungan ini adalah suatu kesempatan untuk menikung orang lain,
mengelabui mata orang lain. Tetapi Musa tidak seperti itu, Musa mengambil rupa
hamba, dia bukan orang munafik. Musa juga hidup di dalam doa penyembahan,
penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak ALLAH.
Jadi kalau kita melihat peristiwa pemberontakan Korah dan kumpulannya,
itu sangat menyakiti hati Musa dan hati TUHAN, tetapi dalam kesemuanya itu Musa
tetap bersabar dalam rencana-Nya TUHAN. Supaya kita tetap dalam rencana-Nya
TUHAN, dengan lain kata hak kesulungan itu tetap menjadi bagian kita, AMIN.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA
MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment