KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Saturday, April 18, 2026

IBADAH RAYA MINGGU, 05 APRIL 2026



IBADAH RAYA MINGGU, 05 APRIL 2026

 

KITAB WAHYU 19:13

(SERI 10)

 

Subtema: JUBAH YANG DICELUP DALAM DARAH (Seri 1)

 

Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena kemurahan hati TUHAN, kita dimungkinkan untuk mengusahakan dan memelihara kebaktian Ibadah Raya Minggu yang dirangkai dengan Paskah.

 

Saya juga tidak lupa menyapa Bapak, Ibu, Saudara/I yang turut bergabung lewat online / live streaming / video internet baik dari YouTube maupun Facebook atau media sosial lainnya yang dapat dipergunakan. Selanjutnya, biarlah kiranya TUHAN bertahta di tengah-tengah kita, di hati kita, supaya dengan damai sejahtera, sukacita / bahagia kita boleh duduk diam mendengarkan sabda ALLAH dekat kaki TUHAN.

 

Saudara, pemberitaan Firman terkait dengan Ibadah Raya Minggu yang dirangkai dengan kebaktian Paskah tetap dari KITAB Wahyu 19:13 yang merupakan seri yang ke-10 malam ini. Sebelum kita membaca, tetaplah berdoa dalam roh, mohon kemurahan TUHAN, supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.

 

Saudara, Paskah artinya: bebas atau merdeka, itulah kuasa dari kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Jadi, dengan kematian dan kebangkitan Yesus kita merdeka, dibebaskan dari segala perbudakan, ikatan-ikatan dan belenggu dosa. Kita harus bersyukur terhadap apa yang telah dikerjakan oleh Yesus Kristus 2000 tahun yang lalu. Kalau kita tekun di dalam kematian dan kebangkitan-Nya, satu kali kita akan diangkat, berarti; dipermuliakan. Itulah kelanjutan dari kematian dan kebangkitan-Nya. Oleh sebab itu, marilah kita tekun di dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

 

Selanjutnya kita akan membaca…

Wahyu 19:13

(19:13) Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman ALLAH."

 

Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah.

Pengertian secara singkat dan padat dari jubah yang telah dicelup dalam darah ialah: kehidupan yang telah dikorbankan.

-          Jubah à perbuatan hidup.

-          Darah à pada pengorbanan.

-          Kata “Ia” à pribadi Yesus Kristus, Dialah Si penunggang kuda putih, tetapi Dia juga adalah Imam Besar Agung, sebab Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah.

 

Pertanyaannya: sejak kapan jubah itu dicelup dalam darah?

Jawabnya: dari sejak mula pertama manusia ada.

 

Mari kita buktikan.

Kejadian 2:8 --- Perikop: “Manusia dan taman Eden”

(2:8) Selanjutnya TUHAN ALLAH membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.

 

Setelah TUHAN menciptakan langit dan bumi serta isinya, selanjutnya, TUHAN ALLAH membuat taman di Eden di sebelah timur. Lalu, di situlah ditempatkan TUHAN: manusia dan istrinya.

 

Kejadian 2:9-14

(2:9) Lalu TUHAN ALLAH menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. (2:10) Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang. (2:11) Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada. (2:12) Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras. (2:13) Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush. (2:14) Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat.

 

Inti ayat ini adalah TUHAN menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi. Tetapi, di tengah-tengah taman itu hanya ada pohon kehidupan dan pohon pengetahuan. Lalu ada 4 (empat) sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, yaitu: (1) Sungai Pison. (2) Sungai Gihon. (3) Sungai Tigris. (4)  Sungai Efrat

 

Selanjutnya, marilah kita melihat “bumi dan taman Eden dalam terang Tabernakel”.

-          Taman Eden à ruangan maha suci.

-          Pohon pengetahuan dan pohon kehidupan à dua kerubium, di atas Tutup Grafirat, pada Tabut Perjanjian.

-          Empat sungai à empat tiang pada pintu tirai atau tabir bait suci.

-          Sedangkan Eden à ruangan suci.

-          Bumi à halaman.

Demikianlah bentuk Taman Eden menurut pola Tabernakel (pola kerajaan Surga). Kemudian, kalau berbicara Tabernakel, berarti di situ ada Imam Besar Agung;  melayani di kemah, sebagaimana yang tertulis di dalam Ibrani 8:2 --- dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh TUHAN dan bukan oleh manusia.

 

Jadi, setelah kita melihat taman Eden melalui pola Tabernakel, maka jelas; di situ ada Imam Besar Agung. Jadi, penampilan dari Imam Besar Agung sudah ada dari sejak dahulu, walaupun pada Kejadian pasal 2 tidak ada penyebutan tentang Imam Besar dengan memakai jubah yang telah dicelup dalam darah.

 

Kejadian 2:15

(2:15) TUHAN ALLAH mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

 

Selanjutnya, TUHAN menempatkan manusia dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

Saat ini kita ada di tengah ibadah dan pelayanan (taman Eden) untuk mengusahakan dan memelihara ibadah dan pelayanan ini.

 

Mengusahakan dan memelihara taman Eden artinya: mengusahakan dan memelihara ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok, seperti 3 (tiga) alat di dalam Ruangan Suci, antara lain:

1.       Meja roti sajian à ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci = diberi makan.

2.       Pelita emas à ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian roh = diberi minum.

3.       Mezbah dupa à ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan = diberi nafas kehidupan.

Sedangkan, pohon pengetahuan dan pohon kehidupan yang ada di tengah-tengah taman (yang ada di dalam Ruangan Maha Suci) à dua kerubium = dua tangan terangkat, berbicara tentang doa penyembahan sebagai tingkat ibadah yang tertinggi (puncak ibadah).

 

Inilah yang harus diusahakan dan dipelihara dengan baik, sebab untuk sampai kepada mengangkat dua tangan terangkat, itulah doa penyembahan, berarti harus mengusahakan dan memelihara ketekunan tiga macam ibadah pokok. Karena tiadalah mungkin gereja TUHAN sampai kepada penyerahan diri (doa penyembahan), kalau tidak mengusahakan dan memelihara ketekunan tiga macam ibadah pokok. Jadi, tekun dalam tiga macam ibadah pokok adalah harga mati, tidak boleh ditawar-tawar lagi.

 

Kejadian 2:16-17

(2:16) Lalu TUHAN ALLAH memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, (2:17) tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

 

Untuk mengusahakan dan memelihara Taman Eden, syaratnya: memperhatikan perintah dan larangan TUHAN.

-          perintah TUHAN: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas

-          Larangan TUHAN: “Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Itu syarat mengusahakan dan memelihara Taman Eden (ketekunan tiga macam ibadah pokok).

 

Pertanyaan: bagaimana dengan nikah Adam dan Hawa, apakah mereka memperhatikan perintah dan larangan TUHAN?

 

Mari kita perhatikan…

Kejadian 3:6

(3:6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.

 

Pada akhirnya Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, sebab mereka makan buah pohon yang dilarang yaitu: buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Berarti; mereka tidak menghargai apa yang telah diperintahkan TUHAN dan yang telah dilarang oleh TUHAN.

 

Jangan sampai kita mengabaikan perintah-perintah TUHAN dan apa yang dilarang oleh TUHAN, supaya ibadah pelayanan ini tidak menjadi sia-sia. Namun kenyataannya, terlalu banyak juga orang Kristen mengabaikan apa yang telah diperintahkan oleh TUHAN dan apa yang telah dilarang oleh TUHAN. Sebetulnya itu adalah kesia-siaan, karena dalam hal mengusahakan dan memelihara Taman Eden diperlukan; perjuangan dan pengorbanan.

 

Kejadian 3:7

(3:7) Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

 

Setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, akhirnya mereka menjadi telanjang.

Singkat kata, setiap perbuatan-perbuatan dosa itu adalah ketelanjangan yang sangat memalukan. Dan dosa tidak bisa ditutupi dengan kebenaran diri sendiri, uang, harta, kekayaan, kedudukan, jabatan, pangkat tinggi.

Dahulu, sebelum mereka jatuh dalam dosa (melanggar hukum ALLAH), sekalipun telanjang, mereka tidak melihat mereka telanjang. Tetapi, begitu mereka melanggar hukum ALLAH (jatuh dalam dosa) terbukalah mata mereka berdua dan mereka melihat ternyata mereka telanjang.

 

Kejadian 3:8-13

(3:8) Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN ALLAH, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN ALLAH di antara pohon-pohonan dalam taman. (3:9) Tetapi TUHAN ALLAH memanggil manusia itu dan berFirman kepadanya: "Di manakah engkau?" (3:10) Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." (3:11) Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" (3:12) Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." (3:13) Kemudian berFirmanlah TUHAN ALLAH kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."

 

Dampak negatif ketelanjangan:

1.       Manusia menjadi penakut.

Cirinya: suka bersembunyi atau suka menyembunyikan dosa. Tetapi, kalau hidup di dalam kasih tidak ada rasa takut, karena di dalam kasih tidak ada ketakutan (1 Yohanes 4:18). Dan karena kasih menutupi ketelanjangan (1 Petrus 4:8).

 

Padahal, waktu mereka bersembunyi itu adalah pada waktu hari sejuk.

Kalau ada tiang awan di siang hari dan  tiang api di malam hari kita merasa aman.

Jadi sebetulnya, Adam dan Hawa ada dalam perlindungan TUHAN. Tetapi anehnya, mereka justru menyembunyikan dosa. Kalau dalam perlindungan TUHAN, tidak perlu ada dosa dan dosa itu tidak perlu harus disembunyikan.

Kalau tidak ada tiang awan dan tiang api dengan lain kata; tidak ada perlindungan, itu seperti kita belum dipanggil TUHAN; merasa diri paling benar, padahal sudah berdosa. Sehingga, kita menyembunyikan dosa dengan cara membenarkan diri. Kalau di luar TUHAN, kita seringkali menyembunyikan dosa, tetapi kalau waktu hari sejuk; tidak mungkin ada dosa yang disembunyikan.

 

2.       Adam dan Hawa saling menuduh dan saling bela diri.

-          Adam menuduh/mempersalahkan Hawa istrinya sebagaimana pada ayat 12 --- "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."

Ini adalah jawaban bodoh. TUHAN telah menempatkan Adam dan Hawa tujuannya untuk mengusahakan dan memelihara Taman Eden. Tapi syaratnya: memperhatikan perintah dan larangan. TUHAN bicara hal ini kepada Adam, karena pada waktu itu Hawa belum ada. Tetapi begitu Adam jatuh dalam dosa, lalu TUHAN mencari tahu apa yang menyebabkan dosa itu ada, justru Adam mempersalahkan Hawa.

-          Hawa membela dirinya dengan cara mempersalahkan ular sebagaimana ayat 13 ---  "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."

Ini perbuatan bodoh lagi, sebab dari dulu ular (setan) sudah salah. Kalau saya ibaratkan; seperti kain pel yang kotor, tetapi digunakan untuk membersihkan lantai yang kotor. Tiadalah mungkin lantai yang kotor itu menjadi bersih.

 

Roma 2:15

(2:15) Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.

 

Saling menuduh dan saling membela menunjukkan bahwa Adam dan Hawa hidup di bawah tekanan hukum Taurat. Kalau kita beribadah disertai dengan sangkal diri, pikul salib sampai berdarah-darah, sebetulnya itu bukan tekanan. Paskah artinya bebas -- mengalami kelepasan, kemerdekaan, tetapi, kalau seseorang saling menuduh dan saling membela, berarti; berada di bawah hukum Taurat.

Pendeknya, hidup di bawah hukum Taurat selain ada dalam tekanan yang begitu berat, juga ada dalam himpitan yang begitu berat serta kemunafikan.

 

Singkat kata, kelemahan dari hukum Taurat ialah: tidak diampuni dan tidak mengampuni orang berdosa. Orang yang hidup di bawah hukum Taurat, semua yang diperbuatnya menjadi sia-sia. Jadi, jangan kita menjalankan hidup di bawah hukum Taurat; jangan kita hidup menurut kebenaran diri sendiri.

 

Kembali kita membaca…

Kejadian 3:14

(3:14) Lalu berFirmanlah TUHAN ALLAH kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.

 

Selanjutnya di sini kita perhatikan, hukuman ALLAH kepada ular:

A.     Menjalar dengan perut.

Ini adalah tanda-tanda bahwa ular tidak diselamatkan, sebab:

-          Bila tidak ada tangan, maka seseorang tidak dapat melayani, berarti; ini tanda tidak ada keselamatan

-          Bila tidak ada kaki, maka seseorang tidak dapat mengikuti jejak atau tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah, ini tanda tidak ada keselamatan

 

B.      Makan dari debu tanah.

Kita lihat “debu tanah”…

Kejadian 3:17-19

(3:17) Lalu Firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: (3:18) semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; (3:19) dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

 

Debu tanah à orang yang hina, sebab ia telah jatuh dalam dosa seperti Adam.

Jadi, kalau seseorang tidak punya uang, itu bukan orang hina. Tetapi anggapan dunia beda, kalau pendidikannya rendah, dikatakan itu hina. Kalau rumahnya sederhana dan kecil, tidak ada isinya, disebutlah itu hina, tidak seperti itu.

 

Adapun dosa Adam ialah: lebih mendengar istrinya daripada mendengar suara Firman TUHAN ALLAH. Itu kelemahan daripada Adam. Jadi, kalau seandainya Adam ini memiliki roh dengar-dengaran, maka ia tidak perlu tunduk kepada bujuk rayu istri secantik, sebaik, sesaleh apapun dia. Tetapi inilah Adam, dia tidak dengar-dengaran, akhirnya dia  tunduk kepada Hawa. Mungkin Hawa sudah membujuk rayu, memelas-melas sehingga akhirnya Adam menjadi iba, padahal sebetulnya itu adalah perasaan daging.

 

Itulah yang dimaksud dengan debu tanah dan itulah yang menjadi makanan daripada ular sebagai hukuman yang kedua.

 

Kejadian 3:15

(3:15) Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."

 

Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, sejak itulah terjadi permusuhan antara ular dan perempuan, antara keturunannya dengan keturunan perempuan, sampai sekarang.

-          ular à iblis atau setan

-          perempuan à gereja TUHAN

 

Singkat kata, karena permusuhan antara gereja perempuan dengan ular: hidup manusia semakin menderita dan kacau balau. Sebab…

-          Selain hidup di bawah tekanan hukum Taurat

-          Manusia selama-lamanya bermusuhan dengan ular

Kata “musuh” berarti tidak jauh dari keributan, pertikaian, peperangan, kerusuhan, saling sakit-menyakiti. Tidak ada musuh membawa damai sejahtera.

 

Jadi, kehidupan nikah Adam dan Hawa itu semakin menderita sebetulnya. Demikian juga kehidupan gereja di hari-hari terakhir ini, kalau dia tetap mempertahankan untuk berada hidup di bawah Taurat, sebetulnya dia menderita, meskipun kelihatannya beribadah tiap hari.

 

Saudara, kita harus jujur di hadapan TUHAN. Itu sebabnya, dimulai dari saya, imam-imam, sampai kepada seluruh sidang jemaat, saya menghimbau: “Mari kita menjalankan ibadah ini dengan tulus”. Jalankan ibadah ini dengan jujur dan polos. Hadapi segala sesuatu dengan cinta kasih. Jangan kabur dari situasi yang sulit. Kalau kabur, di mana pun kita beribadah, tetap berada dalam tekanan yang begitu berat.

Kalau masih ada permusuhan, di situ ada pertikaian, sikut-menyikut, peperangan, kerusuhan, tidak ada damai sejahtera, walaupun nampak seperti senyam-senyum. Karena hidup manusia terdiri dari jasmani dan rohani -- Jasmani nampak bisa senyam-senyum, tetapi batinnya tidak. Adam dan Hawa coba sembunyi / lari, akhirnya dia tertekan / menderita hebat.

 

Sampai pada akhirnya, dosa itu pun menjalar sampai pada hari ini sebagaimana yang tertulis dalam Roma 5:12 ---  Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.

 

Sekarang kita perhatikan…

Roma 6:23

(6:23) Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia ALLAH ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, TUHAN kita.

 

Upah dosa ialah maut. Ini muara dari dosa yang diperbuat nikah Adam dan Hawa.

Sudah telanjang dan memalukan, juga berujung (klimaksnya) kepada kematian.

Singkatnya, kematian sudah menantikan nikah Adam dan Hawa. Jangan sampai kematian menantikan kehidupan nikah kita supaya jangan sia-sia segala perjuangan.

 

Di atas tadi kita sudah melihat, keadaan nikah Adam dan Hawa ada di bawah hukum Taurat, sudah berujung . Selain menderita, kematian juga sudah menantikan di depan. Tetapi di sini dikatakan: karunia ALLAH ialah hidup kekal, dan itu hanya didapat di dalam Kristus Yesus TUHAN kita, tidak kita temukan di dalam hukum Taurat atau hukum-hukum mana saja di bumi ini. Tidak kita temukan di dalam siapa pun, kecuali dari dalam pribadi Yesus Kristus TUHAN kita yang harus kita puja, kita muliakan selama-lamanya.

 

Terkait dengan “KASIH KARUNIA ALLAH”….

Kejadian 3:7

(3:7) Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

 

Untuk menutupi ketelanjangan, Adam dan Hawa membuat cawat dari daun pohon arah.

Daun pohon arah à kebenaran diri sendiri. Sesungguhnya itu tidak bisa bertahan lama, sebab, daun pohon ara cepat atau lambat akan kering. Kalau daun pohon ara pada akhirnya kering, dia akan rapuh, hancur dan kembalilah terlihat ketelanjangan yang sangat memalukan. Jadi tidak bisa kebenaran diri sendiri menutupi dosa, kesalahan, pelanggaran yang disebut juga ketelanjangan yang memalukan.

Jadi, jangan biasakan berdusta. Saya masih sering melihat orang berdusta. Mungkin karena dia malu sudah salah, akhirnya dia “pandai-pandai” bicara untuk menutupi kesalahannya, saya tidak suka yang seperti itu. Karena saya sudah tahu dia sedang berdusta, seringkali saya stop dia bicara, supaya tidak semakin banyak salahnya. Kalau sudah salah cepat saja akui, nanti TUHAN akan tolong dan perbaiki yang salah itu.

 

Saudara, peristiwa Adam dan Hawa menutupi ketelanjangan dengan daun pohon arah, jatuh di kejadian 3:7. Angka ini cukup berarti, bukan satu kebetulan itu. . Kalau 3 x 7 maka hasilnya adalah 21, di situlah nanti kita temukan KARUNIA ALLAH.

 

Mari kita baca…

Kejadian 3:21

(3:21) Dan TUHAN ALLAH membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.

 

TUHAN membuat pakaian untuk menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa dari kulit binatang, berarti: penyembelihan dari seekor binatang itu. Ini pakaian yang sanggup untuk menutupi ketelanjangan untuk selama-lamanya. Sedangkan daun pohon arah satu kali akan kering dan rapuh kembali, tampak dosa ketelanjangan.

 

Jadi dari sini sudah sangat jelas: sejak kapan TUHAN Yesus Kristus dikorbankan atau sejak kapan jubah itu dicelup dalam darah? Jawabnya: sejak dari Taman Eden -- sejak mula pertama manusia jatuh dalam dosa. Jadi, bukan sejak 2000 tahun yang lalu saja ketika Yesus mati di atas kayu salib, tetapi sejak mula pertama ada taman Eden (Tabernakel), di situlah imam besar melayani dengan jubah yang Dia pakai. Terdiri dari: baju efod, gamis dan lenan halus (pakaian dalam).

 

Betapa TUHAN dengan kesabaran yang luar biasa menolong manusia dari Taman Eden hingga sampai malam ini. Panjang sabar yang tidak bisa diukur oleh manusia. Kita melihat orang lain salah saja sudah langsung menghakimi, tetapi TUHAN tidak seperti itu sampai hari ini.

Jadi, jubah dicelup dalam darah itu dari sejak taman Eden sampai sekarang. Itulah karunia ALLAH dan di dalam karunia itu ada panjang sabar yang TUHAN tunjukkan kepada kita. Di dalam karunia itu kita bisa merasakan dekap hangat kasih sayang dan kasih setia TUHAN kepada kita. Dia tidak pilih kasih, Dia mengasihi semua kaum, suku, bangsa dan bahasa, tidak melihat kasta (kedudukan).

 

Jadi sudah terjawab; dari sejak kapan ya? Yaitu; dari sejak taman Eden sampai sekarang --  dari sejak mula pertama manusia ada dan jatuh dalam dosa Itu berbicara tentang kesabaran yang tidak terhingga dan kesetiaan yang tidak terhingga juga. Di situ dinyatakan jubah imam besar dicelup dalam darah. Karena, kalau tidak demikian, daun pohon ara tidak bisa menutupi dosa / ketelanjangan Adam dan Hawa. Itulah sebabnya, TUHAN mengambil kulit dari binatang, berarti; ada penyembelihan / ada korban untuk menebus dosa. Selanjutnya, korban itu memperdamaikan dosa kita kepada TUHAN.

 

Mari kita lihat “jubah telah dicelup dalam darah – penyembelihan terhadap seekor binatang untuk melindungi ketelanjangan”

 

Yohanes 19:21-24  --- Perikop: “Yesus disalibkan”

(19:21) Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi." (19:22) Jawab Pilatus: "Apa yang kutulis, tetap tertulis." (19:23) Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian -- dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. (19:24) Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu.

 

Ketika seekor Anak Domba disembelih (Yesus disalibkan), pada saat itu prajurit-prajurit mengambil:

1.       Pakaian TUHAN Yesus, lalu dibagi menjadi empat.

Artinya: kebenaran itu ditujukan kepada empat penjuru bumi: timur, barat, utara, selatan -- berlaku untuk seantero dunia, bukan hanya untuk bangsa Israel saja. Dan kita sudah merasakan pakaian yang dibagi empat, itulah kebenaran yang berasal dari Firman yang telah diberitakan oleh para misionaris. Misionaris itu dimulai dari Rasul Paulus sampai kepada Nommensen di abad 18 -- Tanah Batak, tanah Jawa, tanah Bali dilawat oleh misionaris di abad 18.

 

2.       Jubah yang tidak terjahit, itu berarti; dari atas sampai ke bawah hanya satu tenunan saja.

Jubah itu seringkali ditemukan di Timur Tengah, Afrika, India. Ini ada sejarahnya, karena waktu itu misionaris diutus. Kemudian jubah ini diperoleh hanya lewat undian atau lotre.

 

Hingga malam ini kita merasakan apa yang telah dikerjakan oleh Imam Besar.

Yang pertama: pelayanan-NYA.

Hasil dari pelayanan Imam Besar yaitu: satu dengan yang lain saling merendahkan diri, tidak merasa yang lebih besar dari yang lain. Sehingga, di situ terjalin kesatuan, kesepakatan, kesehatian, dan mudah sekali kita mengerjakan segala sesuatu di hadapan TUHAN.

 

YANG KEDUA: Merasakan doa syafaat Imam Besar, sehingga kita mampu untuk melewati masa penampian selama 7 tahun antikris menjadi raja dan memerintah atas santero dunia yang dibagi dalam 2 (dua) bagian:

-          3½ tahun yang pertama di situ masih ada ibadah tetapi sudah semakin sulit. Kemudian harga Firman juga semakin mahal --- Secupak gandum sedinar, tiga cupak jelai sedinar, tetapi jangan rusakkan minyak dan anggur (Wahyu 6:6). Tetaplah ada dalam kegiatan roh dan tetaplah hargai kasih dan anggur sukacita dari surga.

-           tahun yang kedua, puncak dari penampian, puncak gelap malam.

Artinya: di situ tidak ada lagi ibadah dan pelayanan. Di situ tidak ada lagi kebenaran yang berasal dari Firman ALLAH. Di situ korban sehari-hari sudah dirampas, itulah korban santapan dan korban sembelihan. Dan tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat dan kembali berbalik kepada TUHAN.

Itu masa penampian. Maka, kita butuh doa dari Imam Besar, supaya kita dikuatkan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan di tengah dunia yang semakin kacau balau, sampai pada puncak penampian nanti.

 

YANG KETIGA: pendamaian, sehingga kita berdamai kepada ALLAH dan kepada sesama.

Mengapa kita harus menikmati jubah perdamaian? Karena setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka diusir dari Taman Eden, bagaikan kita sekarang ini tercampak di dunia ini. Berarti; jarak kita dengan TUHAN sudah semakin jauh sekali. Semakin hari bertambah, bulan bertambah, tahun bertambah, semakin jauh jarak manusia dengan TUHAN.

Oleh sebab itu, Yesus mengadakan pendamaian supaya kita berdamai kepada ALLAH, sehingga kita kembali menyatu dengan TUHAN.

 

Saudara, jangan salah, kita merasakan pelayanan, doa dan pendamaian yang telah Dia kerjakan, bukan karena kita bisa. Kita menjadi orang yang rendah hati, benar, suci, dan mampu menghadapi masa penampian serta berdamai dengan TUHAN dan sesama, itu bukan hasil hasil kekuatan, jerih payah kita, tetapi karena oleh kemurahan hati TUHAN, seperti kita mendapatkan jubah Imam Besar lewat lotre (diundi), didapat dengan cuma-cuma saja, kemurahan saja.

 

Singkat kata, akhirnya kita mulai merasakan dosa/ketelanjangan kita mulai tertutupi. Dosa/ketelanjangan itu mulai tersisihkan sedikit demi sedikit (perlahan-lahan) tetapi pasti. Bukankah itu yang kita rasakan sampai hari ini? Meskipun kita masih mengeraskan hati.

Karunia ALLAH luar biasa membuat hati kita hancur, dan sebentar kita menikmati tubuh dan darah-Nya, itu juga karunia ALLAH, supaya kita terbebas dari hukum Taurat. Tekanan yang menghimpit, kesulitan yang menghimpit, kemudian ada kerusuhan dan pertikaian, tetapi pada akhirnya; TUHAN melihat keadaan nikah Adam dan Hawa yang sudah porak-poranda (kacau balau). TUHAN beri kesempatan mereka menggunakan daun pon ara, tetapi karena TUHAN semakin hari makin sulit kehidupan nikah mereka, akhirnya, mau tidak mau, TUHAN nyatakan karunia-Nya. Dia menaruh belas kasih kepada manusia, karena terlalu susah hidupnya, sulit mencari nafkah, penuh pertikaian. Supaya kita bisa merasakan kebaktian Paskah, melepaskan/membebaskan kita pribadi lepas pribadi, dari segala belenggu dosa / ikatan-ikatan apapun di atas muka bumi ini.

 

Jadi sekali lagi saya sampaikan: jubah ini diperoleh hanya lewat undian.

Artinya: menerima pelayanan Imam Besar itu hanya hanya karena kemurahan.

 

Kemudian, lewat jubah Imam Besar, kita juga dibawa sampai kepada Ruangan Maha Suci.

Kenapa saya berani mengatakan dibawa sampai ke dalam Ruangan Maha Suci? Sebab, sesudah Yesus (Anak Domba) disembelih, berarti itu pekerjaan penebusan. Selanjutnya, memperdamaikan kita berarti; dibawa sampai kepada Ruangan Maha Suci supaya kelak kita berdamai berjumpa dengan Dia dalam kemuliaan kekal.

 

Sebagai bukti.

Kejadian 2:8

(2:8) Selanjutnya TUHAN ALLAH membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.

 

Taman di Eden di sebelah timur.

Timur berarti dari PINTU GERBANG -- Anak Domba disembelih (kita ditebus), untuk selanjutnya kita menjadi milik TUHAN itulah BARAT --- Ruangan Maha Suci, tanah permai.

Jadi, oleh karena jubah Imam Besar ini kita ditebus lalu kita menikmati pelayanan-Nya Di Ruangan Suci sampai memuncak sampai kepada doa penyembahan: mengangkat dua tangan, wujud dari hubungan intim Antara Mempelai Laki-Laki dan mempelai perempuan.

 

Singkat kata, dari jubah imam besar yang telah dicelup dalam darah, akhirnya kita sekarang boleh merasakan kebebasan, kemerdekaan, kelepasan, sehingga Roh TUHAN yang sekarang mendominasi kehidupan kita. Itulah suasana Paskah.

Tetapi, selama berada di bawah hukum Taurat, daging berkuasa = tidak ada Paskah, tidak ada kelepasan, tidak ada kemerdekaan

 

Terpujilah kasih karunia TUHAN ALLAH, jubah yang telah dicelup dalam darah dari sejak mula pertama manusia jatuh dalam dosa hingga sampai tapal batas-Nya TUHAN, hingga nanti kita menyongsong Dia di awan nan permai.

Selamat hari Paskah, selamat hari kebebasan / kelepasan dari segala ikatan. Roh TUHAN sekarang sedang mempengaruhi kita. TUHAN memberkati. Amin.

 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

Pemberita Firman oleh;

 

Pdt. Daniel U. Sitohang

 

No comments:

Post a Comment