IBADAH
RAYA MINGGU, 14 JUNI 2026
KITAB
WAHYU 19:16
(SERI
3)
Subtema:
Mula
pertama saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, oleh karena rahmat-Nya, kita
sekaliannya dihimpunkan di atas gunung Tuhan yang kudus. Kita boleh datang
menghadap Dia lewat Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh.
Kita bersyukur, Tuhan beri umur panjang, nafas nafas kehidupan, kesehatan bagi
kita semua, sehingga kita dapat membawa korban dan persembahan untuk
selanjutnya dipersembahkan di atas mezbah Tuhan. Sebab, tubuh kita ini adalah
persembahan kepada Tuhan.
Saya
juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, umat ketebusan Tuhan yang turut
bergabung lewat online / live streaming / video internet baik dari YouTube,
Facebook atau media sosial apa saja yang dapat digunakan. Selanjutnya,
kiranya Tuhan bertahta di hati kita, di tengah-tengah ibadah ini, berkuasa
memberi damai sejahtera sehingga ada kesukaan besar saat kita duduk diam
mendengarkan sabda Allah.
Selanjutnya,
mari kita sambut KITAB WAHYU
sebagai firman penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu. Dan kita masih
berada pada Wahyu 19:16 sebagai seri pemberitaan Firman Allah untuk yang
ketiga kalinya.
Tetap
berdoa dalam roh, mohon kemurahan Tuhan, supaya Firman yang dibukakan itu
meneguhkan hati kita. Lepaskan dulu harga diri dan yang di belakang, supaya
kita boleh merasakan uluran tangan belas kasih Tuhan
Wahyu
19:16 --- Perikop: “Firman Allah”
(19:16) Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis
suatu nama, yaitu: "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan."
Pada
jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama yaitu: Raja segala raja dan Tuan
di atas segala tuan.
Terkait
dengan pada jubah-Nya tertulis suatu nama, yaitu: Raja segala raja dan Tuan
di atas segala tuan, telah kita bahas bersama pada 2 minggu yang lalu dan
tentu kita diberkati oleh Tuhan.
Jubah atau pakaian -> tabiat /
kelakuan / perbuatan hidup. Jadi, dari tabiat / kelakuan / perbuatan hidup,
kita dikenal oleh Tuhan. Kita mengenal siapa kita di hadapan Tuhan. Hal itu
telah kita bahas bersama-sama.
Sekarang
kita akan membahas tentang:
PADA PAHA-NYA TERTULIS SUATU NAMA, YAITU: RAJA SEGALA
RAJA DAN TUAN DI ATAS SEGALA TUAN.
Pada
minggu yang lalu kita sudah mendapatkan sedikit kisi-kisi tentang paha.
Paha ada kaitannya dengan perjalanan
atau langkah-langkah hidup.
Kejadian
49:10A
(49:10) Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun
lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak
atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.

Tongkat
kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda atau lambang pemerintahan tidak
beranjak dari antara kakinya. Itu artinya: pada paha-Nya tertulis Raja
segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Pada anatomi manusia, paha
disebut juga tungkai atas.
-
Tungkai bawah dari mata kaki sampai ke lutut.
-
Sedangkan tungkai atas dari lutut sampai ke lubang rahim /
pangkal paha.
Bila
diposisikan dengan pola Tabernakel, paha (tungkai atas), sejajarlah dengan Kolam
Pembasuhan Tembaga -> baptisan air.
Mari
kita lihat “baptisan air”.
Keluaran
30:19-12 --- Perikop: “Mengenai bejana pembasuhan”
(30:19) Maka Harun dan anak-anaknya haruslah membasuh tangan dan
kaki mereka dengan air dari dalamnya. (30:20) Apabila mereka masuk
ke dalam Kemah Pertemuan, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki
dengan air, supaya mereka jangan mati. Demikian juga apabila mereka datang
ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian dan untuk membakar korban
api-apian bagi TUHAN, (30:21)
haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati.
Itulah yang harus menjadi ketetapan bagi mereka untuk selama-lamanya,
bagi dia dan bagi keturunannya turun-temurun."
Sebelum
melangkah atau berjalan untuk memulai pelayanan antara lain:
-
Masuk ke dalam kemah pertemuan atau Ruangan Suci,
-
Datang ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian,
-
Untuk membakar korban api-apian bagi Tuhan.
Maka,
terlebih dahulu seorang imam membasuh tangan dan kaki di dalam kolam pembasuhan tembaga, supaya seorang
imam jangan mati. Dan itu merupakan ketetapan dari Tuhan turun temurun
(selamanya).
-
Tangan -> perbuatan hidup; harus terlebih dahulu disucikan
-
Kaki -> perjalanan atau
langkah-langkah hidup; terlebih dahulu disucikan
Saudara,
BEJANA/KOLAM PEMBASUHAN TEMBAGA
berbicara tentang:
1. BAPTISAN
AIR, berarti ada dalam
tanda kematian dan kebangkitan/hidup
Maksudnya….
-
Mati dari dosa dan kehidupan yang lama (masa lalu).
-
Bangkit atau hidup dalam hidup yang baru = hidup dalam kebenaran = hidup
bagi Allah.
Sebagaimana dalam Roma 6:2-4 --- Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah
mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak
tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah
dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama
dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan
dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup
dalam hidup yang baru.
2. PEMBAHARUAN, berarti; hidupnya telah dibaharui dari sehari
ke sehari.
3. PENYUCIAN oleh mandi air Firman ALLAH.
Ayat referensi: Efesus
5:26 --- untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya
dengan air dan firman,
Pendeknya,
tanpa pembaharuan dan penyucian, kita tidak dapat beribadah dan melayani Tuhan,
justru akan mengalami kematian rohani. Itu sebabnya, sebelum
berjalan/melangkah/datang kepada Tuhan beribadah dan melayani, seorang imam
terlebih dahulu membasuh tangan dan kaki di dalam bejana pembasuhan tembaga,
supaya jangan mati.
Sebagai
contoh: YAKUB.
Kejadian
32:3-5 --- Perikop: “Yakub takut ketemu dengan Esau”
(32:3) Sesudah itu Yakub menyuruh utusannya berjalan lebih
dahulu mendapatkan Esau, kakaknya, ke tanah Seir, daerah Edom. (32:4)
Ia memerintahkan kepada mereka: "Beginilah kamu katakan kepada tuanku,
kepada Esau: Beginilah kata hambamu Yakub: Aku telah tinggal pada Laban sebagai
orang asing dan diam di situ selama ini. (32:5) Aku telah mempunyai
lembu sapi, keledai dan kambing domba, budak laki-laki dan perempuan, dan
aku menyuruh memberitahukan hal ini kepada tuanku, supaya aku mendapat
kasihmu."
Yakub
sedang dalam perjalanan dari Haran Mesopotamia ke tanah Seir, daerah Edom,
untuk bertemu Esau (kakaknya). Akan tetapi, Yakub menyuruh utusannya berjalan
lebih dahulu untuk mendapatkan Esau, sekaligus membawa pesan yaitu: bahwa Yakub
telah mempunyai lembu sapi, kambing domba, budak laki-laki dan perempuan.
Tujuan pemberitahuan itu adalah supaya Yakub mendapatkan kasih dari Esau,
kakaknya.
Dari
sini kita bisa melihat bahwa Yakub menggunakan mamon untuk mendapatkan kasih
dan perhatian dari Esau, kakaknya. Ini adalah cara-cara manusia duniawi,
bukan pola pikir di dalam Tuhan, kalau kita bandingkan dengan Filipi 2:5-8.
Filipi
2:5-8
(2:5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran
dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, (2:6) yang
walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
sebagai milik yang harus dipertahankan, (2:7) melainkan telah mengosongkan
diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan
manusia. (2:8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah
merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Ini
adalah pola pikir Sorgawi --- menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat
juga dalam Kristus Yesus, yaitu:
Melepaskan
reputasi-Nya / kemuliaan-Nya, lalu turun ke bumi menjadi manusia, sehingga
dengan demikian Ia mendapat kesempatan untuk menderita sengsara dan mati di
kayu salib. Tandanya:
-
Mengosongkan diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, dan
menjadi sama dengan manusia, dalam keadaan rendah hati
-
Kemudian, taat sampai
mati, bahkan sampai mati di kayu salib, sebagai tanda kesetiaan.
Tetapi
di atas tadi kita melihat, untuk menemui Esau (kakaknya) Yakub harus
menggunakan cara-cara manusia duniawi. Dan hal itu disampaikan melalui (dengan
perantaraan) hamba-hambanya/utusannya. Pendeknya, paha atau kaki
(langkah-langkah perjalanan hidup) dari Yakub, belum mengalami penyucian dan
pembaharuan oleh Kolam Pembasuhan Tembaga.
Kejadian
32:6-7
(32:6) Kemudian pulanglah para utusan itu kepada Yakub dan
berkata: "Kami telah sampai kepada kakakmu, kepada Esau, dan ia pun
sedang di jalan menemui engkau, diiringi oleh empat ratus orang." (32:7)
Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah
orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya
menjadi dua pasukan.
Kemudian,
pulanglah utusan-utusan Yakub itu dan memberitahukan bahwa Esau sedang di jalan
untuk menemui Yakub diiringi oleh 400 orang. Mendengar berita itu sangat takutlah
Yakub, bahkan sesak hatinya, sebab Yakub berpikir bahwa Esau akan
membunuhnya.
Kenapa
dia punya pemikiran seperti itu? Karena kalau kita lihat di atas tadi, dia masih memiliki
pola pikir secara manusia duniawi. Kalau kita menggunakan pola pikir manusia
duniawi, maka akan terus mengingat hal-hal negatif, berpikir negatif, termasuk
kesalahan di masa lalu, yaitu: Esau balas dendam, untuk membunuh Yakub.
Kita
buktikan hal itu dalam…
Kejadian
27:41-42
(27:41) Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang
telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri:
"Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada
waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh." (27:42) Ketika
diberitahukan perkataan Esau, anak sulungnya itu kepada Ribka, maka
disuruhnyalah memanggil Yakub, anak bungsunya, lalu berkata kepadanya:
"Esau, kakakmu, bermaksud membalas dendam membunuh engkau.
Ini
yang diingat Yakub, bahwa Esau menaruh dendam. Pola pikir ini sudah dibentuk
dalam pikiran Yakub. Yakub selalu ingat masa lalu orang lain, rasa dendam Esau
yang disampaikan Ribka kepada Yakub terngiang-ngiang dalam pikirannya.
Semestinya, di dalam Tuhan tidak boleh seperti itu.
Saya
kasih sedikit kesaksian:
Satu
kali anak hamba Tuhan diutus ke tempat ini. Ternyata, dia sedang bermasalah
besar. Saya tidak perlu sebut masalahnya apa, pokoknya taruhannya adalah nyawa,
dia akan dibunuh, sebab teman kerjanya sudah disiksa menderita, tetapi yang
menjadi sasarannya sebenarnya adalah dia. Waktu saya mendapatkan berita ini,
dalam hati berkata: “wah luar biasa ini”, karena ini bukan masalah
kecil, tetapi besar sekali. Akhirnya saya mengatakan kepada dia: "Asal
kamu sungguh-sungguh tergembala, Om akan doa puasa untukmu”. Setelah doa puasa,
tidak lama kemudian saya dapat berita bahwa “sindikat” itu tahu kalau anak
hamba Tuhan ini ada di Serang dan Cilegon. Mereka berkata: "Saya tahu
kamu ada di Serang-Cilegon, saya tahu kamu tinggal di gereja.”
Kemudian,
satu kali saya ajak anak ini ke Serang, karena ada persekutuan. Pada saat
pulang, saya tidak bawa dia ke pastori, melainkan saya turunkan di persimpangan
jalan menuju ke rumah dimana ia tinggal. Pada saat dia berdiri di situ
menantikan jemputan, tiba-tiba ada orang datang naik sepeda motor (berboncengan),
berhenti persis di depan dia lalu bertanya: "Kamu….. (disebut
namanya)?”, dia menjawab: “oh, tidak, tidak, tidak.” Pada saat yang
sama, yang menjemput datang, akhirnya kaburlah dua orang ini.
Sindikat
ini kaitannya dengan …….. , jadi nyawa taruhannya. Tetapi saya sudah katakan: "Asal kamu
sungguh-sungguh, saya doa puasa untuk kamu", kalau istilah dunia;
pasang dada. Walaupun ketika saya pakai “pikiran ini” saya mulai gentar, tetapi
saya berpikir dengan iman saja. Tidak lama, anak ini ditelepon kembali oleh
sindikat tersebut. Mereka berkata: “Saya tahu kamu sekarang tinggal di
gereja, kalau kamu mau pulang, saya akan kasih ongkos untuk pulang, tetapi
kalau mau bertobat di situ, bertobatlah” Dan kepada anak ini pun justru
diberikan uang beberapa ratus ribu.
Pendeknya,
yang saya mau saksikan di sini adalah: kalau saya menggunakan pola pikir
manusia duniawi, saya juga akan terganggu. Tetapi saya lepaskan pola pikir
manusia duniawi, saya gunakan pikiran yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.
Dengan iman saja, bukan menggunakan / mengandalkan kekuatan seperti Yakub. Itu
yang membuat manusia menjadi kacau dalam hidupnya, ibadahnya, dalam
pelayanannya. Sebelum kehidupan semacam ini tersentuh kolam pembasuhan tembaga
(pembaharuan dan penyucian), kehidupan semacam ini tidak akan tenang sampai
kapanpun.
Seharusnya
kita menggunakan pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.
Tandanya:
- Kosongkan diri
- Mengambil rupa hamba.
- Lanjut merendahkan diri.
- Taat sampai mati bahkan
sampai mati di kayu salib = setia.
Itu
yang benar. Kesetiaan itu yang harus ditunjukkan. Tetapi Yakub masih kental
dengan pola pikir manusia duniawi, pikirannya tidak lepas dari dendam Esau,
kakaknya itu. Dia terngiang-ngiang dan selalu ingat perkataan ibunya (Ribka).
Saudara,
rasa takut yang dialami oleh Yakub menunjukkan bahwa ia tidak hidup di dalam
kasih Allah.
Saya
berdoa, kiranya kehidupan kita tersentuh dengan kolam pembasuhan tembaga
(baptisan air, pembaharuan, disucikan), supaya pola pikir kita berubah. Hendaklah kita menaruh pikiran, perasaan yang
terdapat juga dalam Kristus Yesus.
Mari
kita lihat…
1
Yohanes 4:17
(4:17) Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita,
yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman,
karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.
Dalam
hal ini kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu; kalau kita mempunyai
keberanian percaya pada hari penghakiman (berani menghadapi kedatangan Tuhan).
Berarti
selama kita di dunia ini, sama seperti Kristus Yesus, rela menyerahkan
hidup-Nya.
Pendeknya,
tidak takut berkorban, baik tenaga, pikiran, waktu, bahkan materi.
1
Yohanes 4:18
(4:18) Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang
sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa
takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.
Perlu
untuk diketahui;
Di
dalam kasih tidak ada ketakutan --- Itu berarti kita harus hidup di dalam kasih ALLAH, sebab
kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Sebab ketakutan mengandung
hukuman dan barang siapa takut ia tidak sempurna di dalam kasih. Berarti,
Yakub belum sempurna dalam kasih.
Berarti,
yang menjadi motor penggerak sehingga Yakub melakukan perbuatan baik, bukan
kasih Allah, tetapi kekuatan dan kemampuan daging yang berasal dari pola pikir
manusia duniawi.
Setelah
kita melihat kisah Yakub ini, banyak juga kekurangan/pelanggaran/kesalahannya,
meskipun dia adalah bapa leluhur orang Israel.
Pendeknya,
barang siapa takut, ia tidak sempurna dalam kasih.
Jangan
takut lagi menyerahkan hidup kepada Tuhan. Jangan hitung-hitungan lagi.
Siapa
yang berani menghadapi kedatangan Tuhan? Siapa berani untuk masuk surga? Yaitu; orang-orang yang berani
menghadapi persoalan di dunia ini.
1
Yohanes 4:19
(4:19) Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu
mengasihi kita.
Kalau
kita mengasihi sesama, itu karena Allah telah terlebih dahulu menderita
sengsara bahkan mati di kayu salib. Dan semua itu Dia lakukan untuk kita. Jadi,
mengasihi bukan karena orang lain telah berbuat baik atau mengasihi kita, sehingga
kita juga mengasihi dia, bukan seperti itu --- Itu metode-metode (pola pikir)
yang berasal dari manusia duniawi. Tetapi kita mengasihi orang lain (sesama)
karena salib di Golgota yang sudah terlebih dahulu menolong, menebus, memperdamaikan
kita dengan Allah Bapa, itu saja. Bukan karena dia sudah kirim kebaikan kepada
kita dalam bentuk apapun, lalu kita balas dengan kebaikan juga, bukan itu
motornya, itu pemikiran manusia duniawi.
1 Yohanes 4:20-21
(4:20) Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah,"
dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena
barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin
mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (4:21) Dan perintah ini kita
terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi
saudaranya.
Berkata:
“Aku mengasihi Allah”, tetapi membenci saudaranya = pendusta.
Alasannya:
barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi
Allah yang tidak dilihatnya. Kalau kita mengasihi yang tidak kelihatan, maka
kita harus bisa mengasihi yang kelihatan.
Jadi,
kalau kita berkata mengasihi Allah, maka kita wajib mengasihi sesama.
Ciri-ciri
apabila seseorang tidak sempurna dalam kasih:
Kejadian
32:7B-8
(32:7) Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka
dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya,
lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan. (32:8) Sebab pikirnya:
"Jika Esau datang menyerang pasukan yang satu, sehingga terpukul kalah,
maka pasukan yang tinggal akan terluput."
Selanjutnya
di sini kita melihat: Yakub membagi orang-orangnya menjadi dua pasukan,
termasuk kambing domba, lembu sapi dan unta. Dasar pemikiran Yakub membagi
menjadi 2 (dua) bagian adalah:
-
Jika Esau menyerang pasukan yang satu sehingga terpukul kalah,
-
Maka pasukan yang tertinggal (yang kedua) akan luput.
Itu
adalah pola pikir Yakub, pola pikir manusia duniawi, sebab Yakub masih
mengandalkan kekuatan dan kemampuannya, menunjukkan bahwa Yakub belum sempurna
dalam kasih.
Jadi
dari sini kita melihat bahwa kehidupan yang tidak sempurna dalam kasih
identik dengan pola pikir manusia duniawi, menggunakan strategi-strategi /
cara-cara manusia duniawi --- Kalau tidak begini nanti begitu, kalau tidak
begitu nanti begini. Ini ciri-ciri kehidupan
yang tidak sempurna dalam kasih, banyak sekali akalnya, licik.
Padahal
Daud pernah berkata: “di tangan Tuhanlah pertempuran” (1 Samuel 17:47).
Artinya, yang menentukan siapa yang menang atau siapa yang kalah adalah Tuhan.
Tidak usah pakai strategi atau pola pikir menurut dunia.
Kejadian
32:9-10
(32:9) Kemudian berkatalah Yakub: "Ya Allah nenekku Abraham
dan Allah ayahku Ishak, ya TUHAN, yang telah berfirman kepadaku: Pulanglah ke
negerimu serta kepada sanak saudaramu dan Aku akan berbuat baik kepadamu -- (32:10)
sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang
Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini
waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua
pasukan. (32:11) Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan
Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga
ibu-ibu dengan anak-anaknya.
Selanjutnya
di sini kita melihat: Yakub berdoa kepada Allah, memohonkan supaya ia
dilepaskan (jangan dibunuh) dari tangan Esau. Yakub takut kalau nanti Esau
datang hanya untuk membunuh dia, istri-istrinya, serta anak-anaknya. Itulah
sebabnya dia berdoa sejadi-jadinya.
Saudara,
saya mau sampaikan dengan tandas:
Berdoa
kepada Tuhan tidak salah. Memang kita harus berdoa kepada Tuhan, karena doa merupakan
“sarana” yang Tuhan berikan kepada kita untuk dapat menyampaikan isi
hati, keluh kesah oleh karena banyaknya tekanan, beban hidup, pergumulan,
kesulitan yang menghimpit. Tetapi yang menjadi persoalan adalah, doa menjadi
tidak berarti kalau kita masih menggunakan pola pikir manusia duniawi, tidak
hidup dengan iman, tidak hidup di dalam kasih yang sempurna,
(masih takut).
Di
sini kita melihat, Yakub menaikkan permohonan kepada Allah, tetapi dia takut
kepada Esau. Maksudnya, takut kalau nanti Esau membunuh dia, istrinya, dan
anak-anaknya. Bukankah doa yang kita naikkan/panjatkan kepada Tuhan
dinaikkan oleh iman yang kuat? Karena kita begitu mengasihi Tuhan dengan
segenap hati, segenap jiwa, akal budi
(bukan karena ketakutan)?
Setelah
saya membaca ayat ini, saya berkata:“lucu juga hidup Yakub ini ya”. Mungkin,
masih banyak di antara kita berdoa karena ketakutannya, karena ada
kepentingannya, bukan karena iman dan kasihnya kepada Tuhan, ini keliru. Doa
semacam ini menjadi kekejian di
hadapan Tuhan. Karena Alkitab berkata: “Siapa memalingkan telinganya untuk
tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian.” (Amsal 28:9)
Banyak
orang Kristen berpikir; kalau sudah berdoa berarti rohaniawan atau rohaniwati,
tidak seperti itu. Sebab, kalau dia tidak mau dengar Firman, doanya adalah
kekejian. Jadi, doa yang dipanjatkan hingga tembus ke surga (didengar oleh
telinga Tuhan) adalah doa yang dikerjakan oleh orang-orang yang hidup dengan
iman dan mengasihi Tuhan dan sesama.
Saudara,
rasa takut yang dialami oleh Yakub menunjukkan bahwa Yakub tidak sempurna dalam
kasih dan iman. Jadi Yakub berdoa karena takut nanti Esau membunuh. Coba kita
bandingkan dengan neneknya itulah Abraham.
Roma
4:16-17 --- Perikop: “Abraham dibenarkan karena iman”
(4:16) Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya
merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan
Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi
mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, -- (4:17)
seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak
bangsa" -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah
yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa
yang tidak ada menjadi ada.
Pertama-tama
yang saya sampaikan adalah: Firman Iman (Firman Kristus) berkuasa untuk…
-
Mengadakan yang tidak ada menjadi ada.
-
Menghidupkan yang mati.
Roma
4:18-19
(4:18) Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun
Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak
bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti
keturunanmu." (4:19) Imannya tidak menjadi lemah, walaupun
ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya
telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. (4:20)
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan,
malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,
Terhadap
janji Allah, Abraham tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat
dalam imannya dan ia tetap memuliakan Tuhan. Abraham ditetapkan oleh Tuhan
sebagai bapak bagi banyak bangsa (bapak orang beriman), padahal, sebetulnya
tidak ada dasar. Mengapa demikian?
-
Sebab usianya sudah tua. (Kalau dalam Ibrani
11:12 --- lemah syahwat atau mati pucuk).
-
Sara (istrinya) juga sudah tua. Rahimnya sudah tertutup alias mandul.
Beda
dengan Yakub; berdoa bukan karena iman, berdoa karena takut dibunuh oleh Esau,
karena bayang-bayang masa lalu, yaitu; orang-orang yang masih mengandalkan
kekuatan dan kemampuannya, bertahan dengan pola pikir manusia duniawi. Kehidupan
semacam ini, akan menjadi jahat sekali, merusak diri sendiri, merusak
lingkungan, merusak orang lain, merusak nikah dan rumah tangga, merusak
penggembalaan.
Jangan
pertahankan pola pikir manusia duniawi. Jangan ingat cerita masa lalu.
Akhirnya, doanya kepada Tuhan oleh karena rasa takut dibunuh Esau. Ada juga
yang berdoa karena takut tidak punya pekerjaan, takut tidak punya uang dan
takut tidak makan dan minum, itu bukan iman.
Bagi
saya, Yakub ini lucu. Ternyata banyak juga kekurangannya sebelum tersentuh
kolam pembasuhan tembaga (belum ada tanda baptisan, pembaharuan, penyucian
air Firman). Masih menggunakan pola pikir manusia duniawi, tidak sempurna
dalam kasih, karena dia masih penakut, dan itu dasar dia menaikkan doa. Tidak
salah berdoa, memang kita harus berdoa, sbab doa adalah sarana, tetapi
harus tahu cara berdoa.
Kejadian
32:12
(32:12) Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat
baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena
banyaknya tidak dapat dihitung."
Padahal
Yakub tahu bahwa Tuhan akan mengaruniakan keturunan padanya seperti pasir di
laut banyaknya, seperti janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, Yakub.
Saudara,
Kejadian 32:9-11 tadi, Yakub berdoa kepada Allah memohon supaya ia
dilepaskan dari tangan Esau (Esau tidak membunuh Yakub). Berdoa tetapi bukan
dasar iman, melainkan karena dasar takut.
Padahal
ayat 12, Yakub tahu bahwa Tuhan akan mengaruniakan keturunan padanya
seperti pasir di laut banyaknya.
Jadi
jelas, rasa takut yang dialami oleh Yakub menunjukkan bahwa Yakub tidak
sempurna dalam iman dan kasih.
Di
atas tadi kita sudah baca: Tuhan berjanji kepada Abraham, bahwa ia akan
dijadikan sebagai bapa banyak bangsa (bapa orang beriman) meskipun tidak ada
dasarnya, karena:
-
Usianya sudah 100 tahun berarti; lemah syahwat / mati pucuk.
-
Istrinya mandul.
Tetapi
dia tetap percaya oleh iman, diperkuat oleh iman. Jadi, kalau berdoa itu
harus diperkuat oleh iman. Beda dengan Yakub, dia berdoa karena takut dibunuh.
Seperti yang tadi sudah saya katakan: takut tidak punya makanan, pakaian, uang
(takut miskin) dan lain-lain.
Kesalahan
Yakub berikutnya, karena rasa takut…
Kejadian
32:13-18
(32:13) Lalu bermalamlah ia di sana pada malam itu. Kemudian
diambilnyalah dari apa yang ada padanya suatu persembahan untuk Esau,
kakaknya, (32:14) yaitu dua ratus kambing betina dan dua puluh
kambing jantan, dua ratus domba betina dan dua puluh domba jantan,
(32:15) tiga puluh unta yang sedang menyusui beserta
anak-anaknya, empat puluh lembu betina dan sepuluh lembu jantan, dua
puluh keledai betina dan sepuluh keledai jantan. (32:16)
Diserahkannyalah semuanya itu kepada budak-budaknya untuk dijaga,
tiap-tiap kumpulan tersendiri, dan ia berkata kepada mereka: "Berjalanlah
kamu lebih dahulu dan jagalah supaya ada jarak antara kumpulan yang satu
dengan kumpulan yang lain." (32:17) Diperintahkannyalah kepada
yang paling di muka: "Apabila Esau, kakakku, bertemu dengan engkau dan
bertanya kepadamu: Siapakah tuanmu? dan ke manakah engkau pergi? dan milik
siapakah ternak yang di depanmu itu? -- (32:18) jawablah: milik
hambamu Yakub; inilah persembahan yang dikirim kepada tuanku Esau, dan Yakub
sendiri pun ada di belakang kami."
Di
sini kita melihat, Yakub menyuruh hamba-hambanya untuk membawa persembahan
kepada Esau: Antara lain:
1) 200 kambing betina
2) 20 kambing jantan
3) 200 domba betina
4) 20 domba jantan
5) 30 unta
6) 40 lembu betina
7) 10 lembu jantan
8) 20 keledai betina
9) 10 keledai jantan
Pendeknya,
Yakub membawa suatu persembahan besar kepada Esau, kakanya, dengan tiga
kumpulan/kelompok, lalu persembahan tersebut dijaga oleh budak-budaknya di
dalam tiga kelompok tersebut, sambil menjaga jarak.
Antara
kumpulan yang satu dengan kumpulan yang lain istilah sekarang “konvoi” tetapi
jarak tetap dijaga. Secara logika, begitu hebat Yakub menyusun strategi, sebab
dia takut kepada Esau.
Akan
tetapi, tampaklah dengan jelas kesalahan-kesalahan Yakub karena takutnya kepada
Esau, antara lain:
-
Yakub
mengatakan dirinya adalah hamba terhadap
Esau. Padahal, menurut Tuhan dia adalah tuan, sedangkan Esau adalah hamba,
sebagaimana dalam Roma 9:12 --- dikatakan kepada Ribka: "Anak
yang tua akan menjadi hamba anak yang muda," --- Itu Tuhan yang
berkata, tetapi karena Yakub takut, semua jadi berubah. Kata Tuhan diubah oleh
kata manusia.
-
Yakub
sendiri pun ada di belakang kami. Saudara, inilah posisi Yakub berada.
Seharusnya seorang pemimpin berjalan
di depan, tetapi Yakub justru berada pada barisan belakang. Dalam hal ini, nampaklah tabiat Goliat di dalam diri Yakub.
Yang paling muka (depan) jaga jarak
dengan kelompok berikutnya. Itulah strategi yang dia gunakan. Sebetulnya, di
dalam hal mengasihi tidak perlu pakai strategi. Sebab satu dengan yang lain
harus saling mengasihi.
Saudara,
apa yang telah diperbuat oleh Yakub ini, kita bandingkan dengan Goliat, untuk
melihat persamaan yang ada.
1
Samuel 17:5-7
(17:5) Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju
zirah yang bersisik; berat baju zirah ini lima ribu syikal tembaga. (17:6)
Dia memakai penutup kaki dari tembaga, dan di bahunya ia memanggul
lembing tembaga. (17:7) Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun, dan
mata tombaknya itu enam ratus syikal besi beratnya. Dan seorang pembawa perisai
berjalan di depannya.
Goliat diperlengkapi dengan segala
perlengkapan di dalam tubuhnya, antaralain: ketopong
tembaga pada kepala, baju zirah, penutup kaki dari tembaga, tetapi masih juga seorang pembawa perisai
berjalan di depannya. Padahal tingginya 6 hasta sejengkal.
Biasanya, seorang tentara di dalam
medan perang harus membawa perisa sendiri (iman sendiri). Iman kita bukan
tergantung kepada pembawa perisai di depan, tetapi iman kita di dalam diri kita.
Dari sini kita bisa melihat, Yakub tidak ada bedanya dengan Goliat, dengan kata
lain; Yakub adalah manusia daging.
Sedangkan Goliat berbicara tentang
daging besar di dalam diri seseorang.
Perlu untuk diketahui:
Kalau kita mau memberi, kitalah yang
memberikannya, bukan orang lain. Kemudian ketika kita memberi bukan untuk memegahkan diri, tetapi ada
“kebanggaan” tersendiri --- bangga untuk berbagi, berjabat tangan, berpelukan
dalam kasih dan seterusnya. Kita memberi sesuatu ke orang lain, tetapi kita
suruh pembantu yang antarkan. Maka, yang menerima kiriman itu “sekelas/selevel”
dengan pembantu yang memberikan.
Kalau kita mau menghargai orang,
maka kitalah yang datang, bawalah persembahan itu langsung kepada orang itu
dengan ketulusan hati. Persembahan yang kita miliki tidak pantas dibawa oleh
orang lain, termasuk persembahan
persepuluhan, persembahan khusus, buah sulung dan persembahan-persembahan
lainnya kepada Tuhan.
Kita
sudah semakin melihat keberadaan Yakub. Sampai pada ayat ini, Yakub masih belum
tersentuh dengan kolam pembasuhan tembaga (belum mengalami penyucian dan
pembaharuan).
Sekarang…
Kejadian
32:19-20
(32:19) Begitulah diperintahkannya baik kepada yang kedua
maupun kepada yang ketiga dan kepada sekalian orang yang berjalan menggiring
kumpulan hewan itu, katanya: "Seperti perkataanku tadilah kamu katakan
kepada Esau, apabila kamu berjumpa dengan dia; (32:20) dan kamu harus
mengatakan juga: Hambamu Yakub sendiri ada di belakang kami." Sebab pikir
Yakub: "Baiklah aku mendamaikan hatinya dengan persembahan yang
diantarkan lebih dahulu, kemudian barulah aku akan melihat mukanya; mungkin
ia akan menerima aku dengan baik."
Memang
persembahan Yakub besar, tetapi dikirim melalui hamba-hambanya. Dari sini saja
sudah tidak ada etika, karena yang akan menerima persembahan itu akan menjadi
selevel dengan seorang hamba. Tetapi, menurut Yakub itu bagus, dengan
pesembahan yang banyak itu untuk kakaknya (Esau) akan menerima dia dengan muka
berseri, maksudnya; tidak ada lagi keinginan untuk membunuh atau balas dendam.
Itu menurut pola pikir Yakub.
Kejadian
32:21
(32:21) Jadi persembahan itu diantarkan lebih dahulu, tetapi
ia sendiri bermalam pada malam itu di tempat perkemahannya.
Yakub
berkemah di tempat perkembahannya yaitu di sungai Yabok (Tinggal sendiri pada
bagian belakang).
Sekarang
kita lihat…
Kejadian
32:22-24 --- Perikop: “Pergumulan
Yakub dengan Allah”
(32:22) Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua isterinya,
kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat
penyeberangan sungai Yabok. (32:23) Sesudah ia menyeberangkan
mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya. (32:24) Lalu tinggallah
Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar
menyingsing.
Sementara
semua sudah diseberangkan, dia tinggal di belakang dan bermalam di sungai Yabok
di kemahnya itu. Pada malam itu seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai
fajar menyingsing.
Begitu
juga dengan kita dalam hidup ini, setiap harinya bergumul dalam banyak perkara.
Bergumul menghadapi segala keinginan daging yang masih kuat di dalam diri kita.
Antara lain: hasrat atau ambisi, ego, kesombongan, ke-aku-an, maka untuk itu
kita harus bergumul. Dan kalau bisa, kiranya kita berkemenangan terhadap segala
pergumulan-pergumulan itu.
Kejadian
32:25
(32:25) Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat
mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi
pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.
Ketika
orang itu melihat bahwa ia tidak dapat mengalahkan Yakub, yang hidup sama
seperti Goliat yang masih mengandalkan kekuatan dan kemampuannya untuk menopang
hidupnya, maka, mau tidak mau, laki-laki itu memukul pangkal paha
persendiannya. Sehingga terpelecoklah Yakub, itu berarti Yakub tidak
bisa lagi menopang bagian dari hidupnya.
Itulah
cara Tuhan, walaupun nampaknya kejam, tetapi tidak. Karena Tuhan tidak mau
melihat kehidupan yang hari-harinya selalu mengandalkan kekuatan, kemampuannya
sendiri, dengan menggunakan strategi ini
dan itu, pola pikir manusia duniawi, menggunakan cara-cara manusia daging,
bahkan cara-cara seperti Goliat pun dilakukan.
Tujuan
Tuhan membuat Yakub terpelecok: supaya Yakub bergantung / bersandar hanya
kepada Tuhan, bukan kepada kekuatan, kemampuan manusia daging.
Jangan
lagi kita bersandar kepada gaji sebulan, bisnis/usaha, pekerjaan, proyek,
kedudukan, jabatan, pangkat. Kalau kita merasa kuat karena semua yang kita
miliki, satu kali Tuhan akan pukul pangkal pahammu sampai terpelecok, sampai
tidak berdaya. Ingat firman ini!
Kalau
masih ikut Tuhan namun masih tetap mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri,
satu kali akan Tuhan pukul pangkal pahammu sampai terpelecok, supaya pada
akhirnya tidak berdaya lagi, tidak lagi mengandalkan kekuatan, kemampuanmu,
untuk menopang seluruh kehidupan, kecuali bersandar/bergantung kepada Tuhan dan
kemurahan-Nya.
Kejadian
32:26-28
(32:26) Lalu kata orang itu: "Biarkanlah aku pergi, karena
fajar telah menyingsing." Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan
engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku." (32:27)
Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?" Sahutnya:
"Yakub." (32:28) Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan
disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan
Allah dan manusia, dan engkau menang."
Itulah
Israel, pejuang kemenangan, sebab ia telah bergumul melawan Allah dan manusia,
dan ia menang.
Sebetulnya,
jikalau seseorang telah melihat Allah, haruslah dia mati. Karena tidak ada orang
yang dapat melihat wajah Allah, pasti mati, tetapi nyatanya, Yakub masih hidup.
Itu kemurahan Tuhan
Kejadian
32:29-30
(32:29) Bertanyalah Yakub: "Katakanlah juga namamu."
Tetapi sahutnya: "Mengapa engkau menanyakan namaku?" Lalu
diberkatinyalah Yakub di situ. (32:30) Yakub menamai tempat itu Pniel,
sebab katanya: "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku
tertolong!"
Karena
Yakub bergulat dengan laki-laki dan berkemenangan, akhirnya disebutlah tempat
itu Pniel (Pnuel).
Dalam
bahasa Ibrani artiya: Yakub telah melihat Allah --- Pniel dari kata panim yang berarti wajah, dan El yang
berarti Allah. Itu sebabnya nama nabi-nabi banyak diakhiri dengan “El”. Contoh:
Israel, Daniel, Samuel, masih banyak
lagi.
Yakub
melihat Allah tetapi masih hidup, itu adalah kemurahan. Pada saat itulah Tuhan
memberkati Yakub dan berganti nama menjadi Israel. Berkat yang diterima oleh
Yakub: sekarang dia bersandar kepada kemurahan Tuhan. Hidupnya sudah
terkena kepada kolam pembasuhan tembaga, berarti mengalami baptisan
(mati-bangkit, mengalami penyucian
dan pembaharuan). Itu berkat yang
dia terima dari Tuhan, buktinya namanya menjadi Israel. Sekarang kaki Yakub
tidak bisa lagi diandalkan --- untuk bertemu dengan Esau, tidak ada lagi
strategi-strategi selain berharap hanya kepada kekuatan dan kemurahan hati Tuhan
saja.
Saya
berharap, yang sudah dibaptis juga berhenti mengandalkan kekuatannya, bagaikan
pangkal paha telah dipukul Tuhan hingga terpelecok, tidak bisa lagi bergantung
kepada kekuatan dan kemampuan sendiri.
Supaya
lebih terang lagi kita lanjut pembacaan dalam…
Hosea
12:4
(12:4) Di dalam kandungan ia menipu saudaranya, dan dalam
kegagahannya ia bergumul dengan Allah.
Di
sini sudah nampak 2 (dua) hal:
-
Dari kandungan sudah menipu
-
Dalam kegagahannya bergumul dengan Allah = mengandalkan kekuatan dan kemampuan daging.
Itulah
Yakub sebelum disucikan dan dibaharui oleh Tuhan dalam bejana pembasuhan
tembaga.
Hosea
12:5-6
(12:5) Ia bergumul dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan
memohon belas kasihan kepada-Nya. Di Betel ia bertemu dengan Dia, dan di
sanalah Dia berfirman kepadanya: (12:6) -- yakni TUHAN, Allah semesta
alam, TUHAN nama-Nya --(12:7) "Engkau ini harus berbalik kepada
Allahmu, peliharalah kasih setia dan hukum, dan nantikanlah
Allahmu senantiasa."
Sesudah
mengalami baptisan (kolam pembasuhan tembaga), Yakub meninggalkan dosa masa
lalunya….
-
Suka menipu
-
Mengandalkan kekuatan, kegagahan -> Goliat rohani, yaitu: daging besar.
-
Mengandalkan pola pikir dan cara-cara manusia duniawi.
Sekarang,
untuk bertemu dengan Esau, dia menangis untuk memohon kepada kemurahan hati
Tuhan. Inilah doa yang di dorong oleh iman dan kasih kepada Tuhan, dan
akhirnya dia selamat oleh pertolongan Tuhan. Tidak perlu pakai
stragei-strategi, itu merusak lingkungan, merusak hati.
Sesudah
kaki terpelecok berarti kekuatannya sudah dirontokkan dari dalam dirinya (tidak
bisa lagi menopang seluruh hidup ini), barulah Yakub menangis, memohon belas
kasih, sehingga dalam doa ia berkata: Tuhan tolonglah hamba ini.
Pendeknya,
pada paha-Nya tertulis suatu nama yaitu: Raja segala raja dan Tuan
di atas segala tuan. Itulah Israel, pejuang yang berkemenangan. Yakub tetap
raja dan tuan dan yang menjadi hamba adalah Esau sebagaimana yang
tertulis dalam Roma 9:12. Jadi jelas, perkataan Tuhanlah yang benar,
bukan perkataan manusia, bukan prinsip manusia, bukan pola pikir manusia yang
masih mengandalkan kekuatan dan kemampuannya.
Engkau ini harus berbalik kepada
Allah-mu.
Tujuannya ialah: peliharalah kasih setia dan
kebenaran, itu
namanya iman, supaya kalau kita berdoa, kita berdoa karena kasih dan iman.
Dan nantikanlah Allahmu senantiasa --- tunggu jawaban dari Tuhan. Yang
pasti Tuhan akan menolong, membela, menyertai, memberkati kita dari sekarang
sampai selama-lamanya. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA
MEMBERKATI
Pemberita Firman oleh;
Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment