KEBAKTIAN PASKAH PERSEKUTUAN
PENGAJARAN PEMBANGUNAN TABERNAKEL (PPT)
SERANG, KAMIS 28 MEI 2026 (SESI 2)
Tema: ORANG-ORANG BERSUNAT
Subtema: UMBAN DI TANGAN (Bagian 1)
(Seri 4 di Serang)
Shalom.
Selamat pagi, salam sejahtera di dalam kasih-Nya TUHAN kita
Yesus Kristus, oleh karena kemurahan TUHAN, kita sekaliannya dihimpunkan di
atas gunung TUHAN yang kudus lewat Kebaktian Paskah PPT Sesi ke-2, kiranya
damai sejahtera dari Sorga bertakhta di hati kita sehingga kita ada sukacita,
bahagia saat kita duduk diam mendengarkan sabda ALLAH.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan
TUHAN yang turut bergabung lewat online / live streaming / video
internet baik dari Youtube maupun Facebook, atau media sosial apa saja.
Selanjutnya kita kembali untuk memeriksa tema yang sudah
ada, seperti yang sudah saya katakan ini adalah tema terakhir, berarti seri
akbar menurut saya karena kita akan melihat bahwa Goliat akan ditumbangkan oleh
pribadi yang sederhana / gembala yang sederhana itulah Daud.
Saudara, sebelum kita menyelidiki Firman untuk sesi ke-2
ini, mohon tetaplah berdoa dalam Roh, mohon kemurahan TUHAN supaya Firman yang
dibukakan ini meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Kita kembali memperhatikan tema yang ada: “ORANG-ORANG
BERSUNAT.”
Filipi 3:1b-3
(3:1b) Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi
kepastian kepadamu. (3:2) Hati-hatilah terhadap anjing-anjing,
hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap
penyunat-penyunat yang palsu,
Firman ALLAH yang disampaikan secara berulang-ulang dan
berurut memberi kepastian. Berarti kuat dan teguh hati, tidak mudah
goyah terhadap ujian demi ujian, tidak mudah goyah terhadap kesulitan yang
menghimpit sekalipun.
Bukti kuat tidak mudah goyah:
1.
Hati-hatilah terhadap
anjing-anjing.
2.
Hati-hatilah terhadap
pekerja-pekerja yang jahat.
3.
Hati-hatilah terhadap
penyunat-penyunat yang palsu.
Filipi 3:3
(3:3) karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah
oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada
hal-hal lahiriah.
Sesungguhnya yang disebut sebagai orang yang bersunat
adalah:
a.
Beribadah oleh Roh ALLAH.
Berarti menjalankan ibadah bukan karena daging
dan kepentingan, tidak ada motif-motif yang lain, baik si pembicara yang menyampaikan Firman, maupun sidang
jemaat yang duduk diam mendengarkan Firman TUHAN.
b.
Bermegah di dalam
Kristus Yesus.
Berarti menjalankan ibadah dan pelayanan
disertai dengan sangkal diri, pikul salib sampai berdarah-darah.
Tetapi
rupa-rupanya, Setan sudah memutar balik fakta, ajaran Setan sudah masuk ke
dalam gereja / rumah TUHAN. Soal beribadah dan melayani disertai dengan sangkal
diri, pikul salib sampai berdarah-darah, itu katanya kuno.
c.
Tidak menaruh percaya
pada hal-hal lahiriah.
Seperti tadi malam saya sudah sampaikan,
kebaktian Paskah Persekutuan yang kita adakan 2 (dua) hari dan 3 (tiga) sesi,
kita jalankan bukan karena kami mempunyai uang yang banyak, bukan karena
menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, tetapi kita kerjakan ini karena iman
kepada Salib di Golgota, tidak kepada yang lain-lain.
Singkatnya, pada akhirnya kita mengenali siapa yang disebut
dengan orang yang bersunat dan siapa orang yang tidak bersunat.
-
Orang-orang yang bersunat adalah: orang-orang yang memiliki kepastian yaitu orang
yang kuat dan teguh hati. Sedangkan,
-
Orang-orang yang tidak bersunat adalah: anjing-anjing dan pekerja-pekerja yang jahat.
Tetapi kita bukan anjing ya saudara, saya sebut anjing bukan
berarti saya sedang menunjuk-nunjuk kita anjing.
Jadi yang dimaksud orang-orang yang tidak bersunat adalah
anjing-anjing dan pekerja-pekerja yang jahat.
Tetapi yang pasti pada ayat 2; di situ terdapat kata;
“hati-hatilah” sebanyak 3 (tiga) kali. Itu artinya dibutuhkan satu
perjuangan di dalam hal menghadapi anjing-anjing dan penyunat-penyunat palsu
karena ternyata mereka adalah pekerja-pekerja yang jahat.
DALAM HAL INI KITA KEMBALI MELIHAT, PERJUANGAN DAUD DI DALAM
HAL MENGHADAPI PEKERJA-PEKERJA YANG JAHAT ITULAH ANJING-ANJING DAN
PENYUNAT-PENYUNAT PALSU…
Mari kita segera melihat kisah tersebut di dalam …
1 Samuel 17:32-33
(17:32) Berkatalah Daud kepada Saul: "Janganlah seseorang
menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin
itu." (17:33) Tetapi Saul berkata kepada Daud: "Tidak mungkin
engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau
masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit."
Intinya, Daud bersiap menghadapi Goliat orang
Filistin itu yang disebut juga;
-
Anjing … (ayat
43).
-
Orang-orang yang tidak
bersunat … (ayat 36).
Namun keinginan Daud untuk menghadapi Goliat adalah hal
yang tidak mungkin bagi Saul.
Alasannya;
- “Daud masih muda.”
Maksudnya adalah Daud masih minim pengalaman dan
jam terbang pada medan pertempuran. Sedangkan,
- “Goliat adalah seorang prajurit
sejak masa mudanya.”
Maksudnya adalah Goliat mempunyai segudang
pengalaman dan mempunyai jam terbang tinggi pada medan pertempuran.
Itulah alasan Saul sehingga Saul berkata; “tidak
mungkin”
Singkatnya, Saul lebih yakin terhadap musuh yaitu Goliat dan
pengalamannya daripada kuasa TUHAN yang ada di dalam diri Daud sebagai tentara
TUHAN.
Hal ini tidak masuk akal kalau kita bandingkan dengan 1
Samuel 10:1 -- "Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi
raja atas umat-Nya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas
umat TUHAN, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di
sekitarnya. --
Diurapi menjadi raja, tujuannya adalah untuk menyelamatkan
bangsanya (umat Israel) dari musuh-musuh di sekitar.
Bukan berarti kalau Goliat punya pengalaman lalu Saul harus
percaya kepada Goliat (musuh), itu pemikiran yang konyol menurut saya.
Setahu saya, sekalipun di pihak musuh nampaknya lebih unggul
/ lebih hebat, kita tetap harus berjuang. Tetapi Saul tidak seperti itu, justru
melemahkan Daud dengan berkata; “Tidak mungkin.”
1 Samuel 17:34-35
(17:34) Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa
menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang,
yang menerkam seekor domba dari kawanannya, (17:35) maka aku
mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian
apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu
menghajarnya dan membunuhnya.
Tetapi mendengar perkataan Saul, Daud tidak menjadi lemah
dan hatinya tidak menjadi surut sebab Daud BIASA
MENGGEMBALAKAN KAMBING DOMBA AYAHNYA.
Kata biasa menggembalakan berarti dia sudah mempunyai
pengalaman di dalam hal menggembalakan kambing domba. Yaitu; apabila
Singa dan Beruang menerkam seekor domba dari kawanannya maka Daud bertindak,
yaitu:
1.
Daud mengejar dan
menghajarnya.
2.
Melepaskannya dari mulut
Singa maupun Beruang.
Jadi, sekalipun perkataan Saul sangat melemahkan, namun Daud
tidak menjadi lemah dan hatinya tidak surut, justru dia berkata; “Hambamu
ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya…”
Kita ini kawanan domba ALLAH dan Yesus adalah Gembala Agung,
Dia bertanggung jawab atas hidup kita.
Kisah Daud ini adalah nubuatan tentang Yesus Kristus…
1 Samuel 17:36
(17:36) Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu
ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah
satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada
Allah yang hidup."
Seperti Daud dalam pengalamannya, menghajar Singa dan
Beruang, demikianlah nanti Daud akan menghajar Goliat sebab Goliat telah
mencemooh barisan ALLAH. Nampaknya tidak masuk akal, tetapi Daud mengatakan itu
dengan sepenuh hati, dengan keyakinan karena dia biasa menggembalakan kambing
domba, punya pengalaman di situ.
Kita juga mempunyai pengalaman tersendiri di dalam hal
menggembalakan kawanan domba ALLAH, sidang jemaat yang TUHAN percayakan. Ada
kambing yang suka menanduk, ada juga yang baik, ada yang setengah baik, ada
setengah jahat, dan lain sebagainya. Maka di dalam menghadapi peperangan rohani
pun, bagi kita sudah biasa menggembalakan kambing domba. Bagi kita kesulitan
bukan lagi satu kekejutan, tetapi kita sudah biasa menggembalakan kambing
domba. Walaupun ada kesulitan, bukan lagi suatu kekejutan. Luar biasa TUHAN
kita, TUHAN kita baik.
1 Samuel 17:37-39
(17:37) Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari
cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan
orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN
menyertai engkau." (17:38) Lalu Saul mengenakan baju
perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan
dikenakannya baju zirah kepadanya. (17:39) Lalu Daud mengikatkan
pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab
belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak
dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya."
Kemudian ia menanggalkannya.
Di sini kita melihat, yang tidak mungkin menjadi mungkin,
kalau punya pengalaman di tengah ibadah pelayanan di dalam kandang
penggembalaan.
Jadi Setan dikalahkan bukan hanya dengan darah Anak Domba,
tetapi juga karena perkataan kesaksian… Wahyu 12:11.
Maka kalau kesaksian kita tidak baik, bagaimana jemaat
tertolong. Kita suka ngutang, jemaat juga ngutang nanti. Gembala suka kredit,
sidang jemaat ikut-ikut kredit nanti bahkan pinjol-pinjolan, sama-sama pinjolan
nanti.
Setelah Saul diyakinkan, Saul berkata kepada Daud; “Pergilah!
TUHAN menyertai engkau.” Lalu Saul;
- Mengenakan baju perangnya kepada Daud.
- Ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya.
- Dikenakannya baju zirah kepadanya.
- Daud mengikatkan pedangnya di luar baju
perangnya.
Akhirnya pedang Daud tersingkir karena atribut
Saul diberikan kepada Daud.
Tetapi kenyataannya Daud tidak bisa berjalan dengan atribut
Saul tersebut.
Artinya bagi kita adalah di dalam peperangan rohani, kita tidak
perlu menggunakan metode ini dan metode itu dari orang lain, tidak perlu
menggunakan cara begini cara begitu dari orang lain, tetapi harus menggunakan
pengalaman sendiri saja, supaya kita bisa melangkah di dalam peperangan
(pertempuran) rohani.
Namun akhirnya Daud menanggalkannya karena dia tidak pernah
mencobanya.
Tadi malam hal tersebut sudah kita bahas bersama-sama,
kiranya menjadi berkat yang besar, mendarah daging di dalam kehidupan kita
sekaliannya.
1 Samuel 17:40
(17:40) Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya
dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung
gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya
dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu.
Daud pun memperlengkapi dirinya sebagai gembala kambing
domba. Maksudnya adalah: di dalam pertempuran rohani kita harus menggunakan pengalaman
tersendiri di bawah kaki salib.
Adapun perlengkapan Daud di dalam menghadapi Goliat adalah:
1.
Tongkat di tangan.
2.
Lima batu licin dipilih
dari dasar sungai.
3.
Kantung gembala.
4.
Umban di tangan.
Jadi perlengkapan senjata 1-3 sudah kita bahas pada tahun
yang lalu, dan sudah dibukukan. Yang merindu terhadap buku itu nanti bisa
dipesan kepada panitia.
Keterangan: UMBAN DI TANGAN.
1 Samuel 17:48-49
(17:48) Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui
Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang
Filistin itu; (17:49) lalu Daud memasukkan tangannya dalam
kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah
dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan
terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah.
Di sini kita melihat, ketika Goliat maju maka Daud juga maju
berlari ke barisan musuh, Daud sama sekali tidak takut dan tidak gentar sebab UMBAN ADA DI TANGANNYA.
Jadi selain ada tongkat gembala di tangan, lima batu
licin, kantung gembala, ternyata umban juga ada di tangannya.
Sekarang kita akan melihat, apa arti rohani dari UMBAN ini.
Saya berdoa kepada TUHAN kiranya TUHAN memberi pengertian
yang real supaya kita diberkati pada sesi ke-2 ini.
1 Tawarikh 12:1-2
(12:1) Inilah orang-orang yang datang kepada Daud di Ziklag,
selama ia harus menyingkir karena Saul bin Kish. Mereka pun termasuk pahlawan-pahlawan
yang membantu dia dalam peperangan. (12:2) Mereka bersenjatakan
panah, dan sanggup melontarkan batu dan menembakkan anak-anak panah dari
busur dengan tangan kanan atau tangan kiri. Mereka itu dari saudara-saudara
sesuku Saul, dari orang Benyamin:
Umban adalah alat yang dapat digunakan
untuk melontarkan batu. Ternyata Daud mengajarkan hal melontarkan batu
kepada orang-orangnya, kepada pahlawan-pahlawan yang membantu dia di dalam
peperangan.
Jadi pengalamannya di dalam mengumban singa dan beruang
ternyata diwariskan kepada pahlawan-pahlawannya.
Saya tandaskan kembali, umban adalah alat yang digunakan
untuk melontarkan batu, dia melesak hingga 100 meter lebih dengan kecepatan
rata-rata + 180 km/jam. Itulah sebabnya umban atau ketapel yang tadinya
sebagai perlengkapan seorang gembala akhirnya dipergunakan menjadi senjata
perang karena ternyata bisa membunuh musuh dari jarak yang jauh, 100 meter
lebih, melesak dengan kecepatan rata-rata + 180 km/jam dan ini senjata
yang cukup mematikan.
Sekarang kita akan melihat hal ini dari sisi yang rohani.
Yesaya 9:7-11 --- Perikop: “Murka TUHAN terhadap Efraim.”
(9:7) Tuhan telah melontarkan firman kepada Yakub, dan
firman-Nya itu menimpa Israel. (9:8) Biarlah seluruh bangsa itu
mengetahuinya, yakni Efraim dan penduduk Samaria, yang berkata dengan congkaknya
dan tinggi hatinya: (9:9) "Tembok batu bata jatuh, akan kita
dirikan dari batu pahat; pohon-pohon ara ditebang, akan kita ganti dengan
pohon-pohon aras." (9:10) Maka TUHAN membangkitkan para panglima
Rezin melawan mereka, dan menggerakkan musuh-musuh mereka: (9:11) Orang
Aram dari timur, dan orang Filistin dari barat, mereka menelan Israel
dengan mulut yang lebar. Sekalipun semuanya ini terjadi, murka-Nya belum surut,
dan tangan-Nya masih teracung.
TUHAN telah melontarkan Firman kepada Yakub dan Firman TUHAN
itu menimpa Israel yakni dengan membangkitkan panglima Rezin untuk melawan
Israel. Jadi TUHANlah yang membangkitkan panglima Rezin, raja orang Aram sama
seperti batu yang dilontarkan, oleh umban.
Jadi suasana Israel pada saat itu sangat terkepung, dari
timur dikepung, dari Barat juga dikepung karena TUHAN yang membangkitkan, TUHAN
yang melontarkan batu itu.
Pendeknya, Panglima Rezin dan sekutunya adalah batu yang
dilontarkan untuk menghukum Israel.
Tadi saya sudah sampaikan bahwa umban adalah alat yang
digunakan melontarkan batu untuk menghukum musuh. Dalam hal ini TUHAN yang
menggerakkan Rezin, dia batu yang dilontarkan untuk menghukum orang Israel.
Sedangkan, umban itulah pribadi daripada Roh TUHAN untuk melontarkan batu.
Dimana ada Firman TUHAN (batu yang dilontarkan), di situ ada
Roh TUHAN bekerja (umban), itu sepaket, tidak pernah terpisahkan. Jadi yang
melontarkan Firman ALLAH adalah Roh TUHAN.
Sedikit tambahan, Razin adalah raja orang Aram, pernah
bersekutu dengan Peka, Raja orang Israel untuk menyerang Yehuda. Namun akhirnya
TUHAN memakai Rezin sebagai batu yang dilontarkan TUHAN untuk menghukum Israel.
TUHAN melontarkan batu artinya TUHAN menghukum Israel karena
mereka berlaku congkak (sombong) sebab mereka tidak mau bertobat
sekalipun dalam zaman kerobohan dan zaman kehancuran. Itu sebabnya TUHAN
melontarkan batu dengan umban itulah Roh TUHAN, untuk menggerakkan hati Rezin,
dialah batu yang dilontarkan oleh TUHAN sebagai penghukuman karena kesombongan
daripada Israel.
Bukti kesombongan Israel dihadapan TUHAN, nyatalah pada ayat
9:
- Tembok batu bata jatuh,
lalu Israel berkata; “Akan kita dirikan dari
batu pahat.” Tidak perlu tanya TUHAN.
- Pohon-pohon ara ditebang,
lalu Israel berkata; “Akan kita ganti dengan
pohon-pohon aras.”
Kalau sudah berada dalam kerobohan, ya tinggal angkat tangan
menyerah, katakan; “Aku tidak sanggup lagi TUHAN, terlalu sulit bagi ku
menggembalakan dua tiga ekor domba ini.” Harusnya begitu, tetapi ketika
tembok batu bata jatuh, mereka justru berkata “akan kita dirikan dari batu
pahat”, tanpa tanya TUHAN.
Inikan kesombongan saudara. Berapa banyak orang Kristen, juga seorang
hamba TUHAN dalam kejatuhan, tetapi berlagak kuat sendiri, tidak perlu
tanya TUHAN, ini dosa kesombongan yang besar, yang tidak disadari oleh banyak
orang Kristen.
Pendeknya, mengandalkan kekuatan dan tidak mau bertobat
adalah kecongkakan dan kesombongan. Kehidupan semacam ini akan berhadapan
dengan umban yang akan melontarkan batu kepadanya. Demikian juga Goliat,
menyombangkan dirinya dihadapan TUHAN.
Mari kita lihat KESOMBONGAN GOLIAT, maka TUHAN akan
melontarkan batu kepada dia sebagai penghukuman.
1 Samuel 17:8-10
(17:8) Ia berdiri dan berseru kepada barisan Israel, katanya
kepada mereka: "Mengapa kamu keluar untuk mengatur barisan perangmu?
Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu
seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan daku. (17:9) Jika ia dapat
berperang melawan aku dan mengalahkan aku, maka kami akan menjadi hambamu;
tetapi jika aku dapat mengungguli dia dan mengalahkannya, maka kamu akan
menjadi hamba kami dan takluk kepada kami." (17:10) Pula kata orang
Filistin itu: "Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah
kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang."
Inti dari semua yang diucapkan Goliat adalah: Goliat
mencemooh barisan Israel.
1 Samuel 17:11
(17:11) Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan
orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan.
Singkat kata; cemaslah hati Saul dengan segenap orang
Israel dan sangat ketakutanlah mereka oleh karena cemooh Goliat.
1 Samuel 17:15-16
(17:15) Tetapi Daud selalu pulang dari pada Saul untuk
menggembalakan domba ayahnya di Betlehem. (17:16) Orang Filistin itu
maju mendekat pada pagi hari dan pada petang hari. Demikianlah ia tampil ke
depan empat puluh hari lamanya.
Empat puluh hari lamanya Goliat mencemooh barisan Israel
yaitu setiap pagi hari dan petang hari.
Sementara, Daud setia menggembalakan kambing domba ayahnya
di Betlehem. Berarti Daud belum mendengar cemooh dari Goliat tersebut.
1 Samuel 17:18
(17:18) Dan baiklah sampaikan keju yang sepuluh ini kepada kepala
pasukan seribu. Tengoklah apakah kakak-kakakmu selamat dan bawalah pulang
suatu tanda dari mereka.
Daud diperintahkan oleh Isai ayahnya untuk menengok apakah
kakak-kakaknya itu selamat, sekaligus membawa makanan kepada kepala pasukan
seribu, dan sebagainya. Tetapi tujuan utama Isai memerintahkan Daud adalah
untuk menengok apakah kakak-kakaknya itu selamat atau tidak, untuk disampaikan
kepada Isai.
Singkat cerita, Daud pun berangkat, untuk melihat keadaan
kakak-kakaknya seperti apa.
1 Samuel 17:22-24
(17:22) Lalu Daud menurunkan barang-barangnya dan meninggalkannya
di tangan penjaga barang-barang tentara. Berlari-larilah Daud ke tempat
barisan; sesampai di sana, bertanyalah ia kepada kakak-kakaknya apakah
mereka selamat.
(17:23) Sedang ia berbicara dengan mereka, tampillah maju pendekar
itu. Namanya Goliat, orang Filistin dari Gat, dari barisan orang
Filistin. Ia mengucapkan kata-kata yang tadi juga, dan Daud mendengarnya.
(17:24) Ketika semua orang Israel melihat orang itu, larilah mereka
dari padanya dengan sangat ketakutan.
Sementara bertanya tentang kabar kakak-kakaknya, akhirnya
Daud mendengar cemooh Goliat terhadap umat Israel, dan pada saat itu, orang
Israel sangatlah ketakutan.
-
Pada ayat 11;
rasa takut umat Israel masih dalam tahap CEMAS.
Cemas dengan masa depan ku, cemas
dengan keadaan nikah, cemas dengan jemaat ini.” Kenapa saya berkata demikian, karena itu yang saya alami dahulu.
Masuk di provinsi Banten
tahun 2001, belum ada jemaat, belum ada gereja, belum
ada domba-domba, lama penggembalaan ini
ada. Saya masuk 2001, penggembalaan baru terbentuk tahun 2011, itupun baru 5 orang.
Sedikit kesaksian, sehabis Firman, kami mengangkat pujian, mama saya inikan
pencipta lagu zangkoor tadi, langsung tarik suara 3, sedangkan pak Harun tarik suara 5, yang lain tarik suara 2, lalu saya
katakan; saya ini mau suara ke berapa ya? Cuma 5 orang yang bernyanyi, tetapi
suara dibagi menjadi 5 suara. Lalu saya mau masuk suara apa? Langsung saya
katakan; “stop, suara 1 semua.” (satu suara).
Itulah sedikit cerita (kesaksian)
tentang rasa takut, tetapi masih pada tahap cemas.
Kemudian ketika umur sudah di atas
30an, belum ada jodoh, “bagaimana TUHAN?” Lama juga perut ini sakit,
tidak sembuh-sembuh, karena memang tempat tinggal saya itu dikelilingi septi
tank, tifus bertahun-tahun tidak sembuh. Saya
bingung, “apa ini TUHAN, ko kejam sekali rasanya pelayanan ini.” Umur
sudah di atas 30 belum ada jodoh, pelayanan masih begini, bagaimana ini TUHAN.”
Inilah rasa takut yang saya alami, namun masih
dalam tahap rasa cemas.
-
Tetapi di ayat 24,
rasa takut orang Israel sudah berada pada tahap MELARIKAN
DIRI, maksudnya; lari dari kenyataan hidup, lari dari peperangan rohani.
Saya juga banyak tahu hamba TUHAN, rasa takutnya
bukan lagi pada tahap cemas, namun sudah lari tinggalkan pelayanan, tidak
berani menghadapi kenyataan.
Suadara, ini bukan untuk mengunggul-unggulkan
saya, tidak. Dahulu saya
tidak tahu seperti apa model pelayanan di Provinsi Banten ini. Tahu-tahu TUHAN
utus saya ke provinsi Banten, saya pikir bentuk pelayanan dimana-mana sama
saja, ternyata di luar ekspektasi saya, betapa sulitnya melayani di Provinsi
Banten ini, di rumah saja kita beribadah bisa diganggu. Akhirnya saya menangis,
“TUHAN bagaimana ini.” Tetapi ternyata rasa takut saya masih berada pada
tahap; cemas, untung saya tidak lari dari kenyataan (meninggalkan
pelayanan).
Kemudian pada tahun 2003, mama
saya masih tinggal di Bekasi, memberitahukan ada surat panggilan kerja, dari NTB. Waktu itu gaji
3,5 juta, sekarang mungkin + 30 juta.
Bagaimana? Lalu saya katakan; “Aduh, mama yang suruh saya sekolah Alkitab,
menjadi hamba TUHAN, kenapa saya dipancing-pancing lagi untuk bekerja di luaran
sana.”
Tetapi pada ayat 24, rasa takut umat Israel sudah
berada pada tahap MELARIKAN DIRI, untuk sekarang artinya; tidak sanggup
menghadapi pergumulan yang ada, dan kesulitan yang menghimpit akhirnya
tinggalkan pelayanan sama seperti bangsa Israel TAWAR HATI.
Itu sebabnya pada 1 Samuel 17:32; berkatalah Daud
kepada Saul; “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia.”
Menurut KBBI, “mencemooh” = menghina = mengejek
disertai merendahkan orang lain.
Tujuan Goliat mencemooh adalah untuk meruntuhkan mental
orang Israel dan akhirnya goyah.
Sebetulnya, strategi perang daripada Goliat, orang Filistin
ini sudah pas, karena pada akhirnya Saul sudah goyah, orang Israel juga sudah
goyah, tetapi masih ada satu orang yang tidak goyah.
Jadi siasat Setan dilancarkan, semua goyah, namun tepat pada
hari H, Daud tiba di medan perang dan dia berkata; “Jangan tawar hati
menghadapi si kulit khatan yang belum dikerat.”
Terlalu banyak persoalan dan kesulitan yang kita hadapi di
atas muka bumi ini. Terlalu sulit rasanya kita di tengah ibadah pelayanan.
Tetapi masih ada pribadi yang memberikan kekuatan sehingga kita tidak tawar
hati. Rasa takut tidak memuncak sampai melarikan diri karena masih ada satu
pribadi, tepat pada waktunya dia tampil di medan pertempuran itulah pribadi
Daud.
Mungkin domba-domba yang kita layani sudah tawar hati, rasa
takut sudah sampai pada tahap melarikan diri, tetapi kalau masih ada satu
gembala yang bertanggung jawab, kalau masih ada satu gembala di tangannya ada
umban, seisi rumah TUHAN, seluruh sidang jemaat, masih mungkin bisa tertolong.
1 Samuel 17:25
(17:25) Berkatalah orang-orang Israel itu: "Sudahkah kamu
lihat orang yang maju itu? Sesungguhnya ia maju untuk mencemoohkan orang
Israel! Orang yang mengalahkan dia akan dianugerahi raja kekayaan yang besar,
raja akan memberikan anaknya yang perempuan kepadanya dan kaum
keluarganya akan dibebaskannya dari pajak di Israel."
Bukti seseorang sudah goyah, RASA
TAKUT SUDAH SAMPAI PADA TAHAP MELARIKAN DIRI, dapat dilihat dari ungkapan-ungkapan
/ perkataan-perkataan dari mulutnya.
Di sini orang Israel berkata kepada Daud; Orang yang
mengalahkan Goliat akan dianugerahi 3 (tiga) hal:
1.
Kekayaan besar.
2.
Puteri Raja.
3.
Dibebaskan dari pajak.
Ungkapan ini kalau tidak bisa ditelaah, diterima begitu saja
nampaknya menghibur hati. Tetapi sebetulnya, ungkapan yang keluar dari mulut
orang Israel, mulut Saul, adalah ungkapan yang sudah goyah.
Jadi kalau rasa takut sudah sampai pada tahap melarikan
diri, itu bisa dilihat dari perkataan yang keluar dari mulut. Lihat saja orang
yang goyah, dari mulutnya tidak ada lagi perkataan yang menguatkan selain hanya
membicarakan 3 (tiga) hal:
1.
Berbicara soal kekayaan
yang besar ->
HARTA.
2.
Berbicara soal puteri
raja ->
WANITA.
3.
Berbicara soal dibebaskan
dari pajak = kehormatan ->
TAKHTA.
Jadi harta, wanita, dan takhta disebutlah itu sebagai
3 TA ->
Kenajisan Percabulan. Bukan hanya kenajisan secara fisik (selingkuh),
tetapi juga kenajisan percabulan secara rohani.
Apa kenajisan secara rohani?
Wahyu 17:4
(17:4) Dan perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang
dihiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan
emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya. (17:5) Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia:
"Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi."
Jadi kalau khotbah seorang hamba TUHAN, sibuk hanya
berbicara soal harta, wanita, dan takhta persis seperti isi
dari cawan emas di tangan perempuan Babel.
Maka saudara, kita ini harus semakin memahami rencana TUHAN.
Kadang begitu kita mendengar perkataan seseorang (saya tidak mau katakan hamba
TUHAN) bicara soal harta di dalam rumah
TUHAN, bicara soal wanita di dalam rumah TUHAN, bicara soal takhta
di dalam rumah TUHAN, sebetulnya ungkapan-ungkapan semacam ini menunjukkan
bahwa dia sebenarnya adalah penakut dan rasa takut itu sudah berada pada tahap melarikan
diri. Sudah goyah sebenarnya, tetapi ribuan jemaat di rumah TUHAN itu tidak
menelaah, namun menerima mentah-mentah. Lalu mereka mengatakan; “Amin, huuuuu…”
seperti sepak bola, saya bingung.
Jemaat di situ ada yang S1, S2, S3 secara sekuler, bahkan
ada yang manager, supervisor, direktur utama, vice president. Kenapa di bidang
sekuler dia mengerti soal fluktuasi ekonomi, juga dalam perdagangan dan usaha.
Tetapi dengan ucapan seorang pembicara di rumah TUHAN, kenapa tiba-tiba; “amin,
beri kemuliaan” saya bingung sekali, sbab hal yang esensi di dalam pengikutan
kepada TUHAN, yang esensi terkait dengan Kerajaan Sorga, itulah salib, mereka
katakan kebodohan dan tersandung, Tetapi begitu Goliat rohani berbicara,
“diberkati, jemaat langsung bertepuk tangan riuh huuuuu…”
Saya langsung berpikir, oh TUHAN ada ndak 4 (empat) pasang
nanti yang selamat di Provinsi DKI ini, ada 4 (empat) pasang ndak yang selamat
di provinsi Banten, ada 4 (empat) pasang ndak yang selamat di Sumatera Utara,
ada 4 (empat) pasang ndak yang selamat di Lampung dan tempat-tempat lain? Kalau
begini modelnya pelayanan.
Ini jadi pelajaran bagi kita dan pelajaran ini tidak boleh
kita tolak begitu saja, TUHAN mau datang ini. Kalau kita siap menghadapi
kedatangan TUHAN, maka harus siap dikoreksi. Ndak siap dikoreksi, maka tidak
siap menghadapi kedatangan TUHAN. Orang yang suka ngomel itu tidak siap
menghadapi kedatangan TUHAN.
Apa kenajisan percabulan itu lebih spesifik?
Wahyu 18:3
(18:3) karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa
nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan
pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa
nafsunya."
-
Semua bangsa di atas muka bumi ini telah mabuk anggur hawa
nafsu dari perempuan Babel.
-
Raja-raja di bumi telah mabuk anggur dari perempuan Babel.
-
Pedagang-pedagang di bumi telah mabuk anggur dari perempuan Babel.
Apa itu mabuk anggur perempuan Babel, apa itu kenajisan
perempuan Babel? Kenajisan percabulan adalah menjadi kaya, tetapi oleh
kelimpahan hawa nafsu perempuan Babel. Memang kita harus mabuk anggur, tetapi
mabuk anggur dari Sorga. Jangan berbicara soal harta, wanita, dan takhta, itu
kenajisan percabulan, itu kelimpahan hawa nafsu perempuan Babel.
Jadi tiga perkara itulah yang keluar dari mulut orang yang
sudah goyah, rasa takutnya sudah memuncak sampai tahap melarikan diri, dari
mulutnya itu-itu saja yang keluar. Seandainya dia siap menghadapi kenyataan
hidup tentu saja si pembicara itu akan berbicara soal salib di Golgota, apapun
resiko yang dihadapi.
Mau kisah dari mana, Kejadian 1:1 dan ayat
seterusnya, pasal 2:1 dan seterusnya, atau di Perjanjian Baru, Matius
1:1 dan seterusnya, Markus 1:1 dan seterusnya, sampai Wahyu,
tetap kaitannya dengan salib di Golgota. Tetapi kehidupan yang sudah takut
menjalankan roda kehidupan, takut dalam ibadah pelayanan, takut jemaat lari,
dia harus berbicara soal harta, wanita, dan takhta (3 TA), itu namanya
kenajisan percabulan, itulah isi cawan emas di tangan perempuan Babel.
TUHAN tolong kita karena TUHAN mau memperbaiki sikap kita,
ibadah dan pelayanan kita dihadapan TUHAN mengingat hari-hari ini adalah
hari-hari terakhir dimana kita sedang menantikan kedatangan TUHAN kembali
sebagai Raja dan Mempelai Laki-laki Sorga, sebagai Imamat Rajani. Maka dalam
menantikan TUHAN juga harus menjadi Imamat Rajani, “dari situ” kita
menantikan kedatangan TUHAN.
Jadi suami berarti imam memberi teladan, raja berarti
berkuasa “dari situ” kita menantikan kedatangan TUHAN, bukan di tempat
lain, tempatnya; “imamat rajani”, memerintah sebagai raja di bumi.
Saya tambahkan referensi lain…
Ibrani 12:16
(12:16) Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang
mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak
kesulungannya untuk sepiring makanan.
Esau ini dikuasai oleh kenajisan percabulan. Apa
buktinya? Esau menjual hak kesulungannya demi sepiring makanan, demi sesuap
nasi, dia ngompreng sana, ngompreng sini, bisnis sana, bisnis sini.
Esau ini hamba TUHAN cabul. Sudah dipanggil lalu kepadanya
diberikan jubah, tetapi masih ngompreng-ngompreng, kasihan saudara. Kalau dia
ada di dalam tahbisan yang benar, meski satu jemaat, 1 (satu) janda di Sarfat
ditambah 1 (satu) sekolah minggu pasti TUHAN pelihara secara ajaib, tidak mesti
harus 2 juta jemaat seperti hamba-Nya Musa. Tetapi sangat disayangkan Esau
tidak paham tahbisan, akhirnya dia ngompreng, saudara bisa panjangkan dalam
hati arti ngompreng. Itulah hamba TUHAN Esau, menjual yang rohani demi yang
lahiriah, itu kenajisan percabulan.
Kenapa ada percabulan? Karena nafsunya terlalu rendah,
murahan dia, tidak seharga dengan tetesan darah Yesus.
Itulah hamba TUHAN Esau, tetapi kita tidak seperti itu, kita
tulus melayani TUHAN, 1 (satu) janda pun pasti dipelihara TUHAN. Alkitab yang
berkata, bukan saya, dan saya sudah alami, dari pengalaman ini saya berani
berkata.
SIKAP DAUD TERHADAP CEMOOH GOLIAT.
1 Samuel 17:26
(17:26) Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di
dekatnya: "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang
Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah
orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan
dari pada Allah yang hidup?"
Daud tidak terpengaruh dengan 3 TA, itulah harta, takhta,
dan wanita, dengan lain kata; tidak dikuasai oleh kenajisan percabulan,
sama saja dengan bersunat. Yang terpenting bagi Daud adalah mengalahkan Goliat
supaya dengan demikian, ia menghentikan cemooh yaitu; kecongkakan dan
kesombongan = mengerat kulit khatan.
Itu tugas hamba TUHAN yang jujur, mengerat kulit khatan.
Yang terpenting bagi seorang hamba TUHAN yang tulus seperti Daud, bukan soal
kenajisan percabulan (kaya oleh kelimpahan hawa nafsu), tetapi bagaimana ia
bisa mengalahkan Goliat, mengerat kulit Khatan – menghentikan cemooh yaitu;
kesombongan, kecongkakan –
CIRI-CIRI CONGKAK DAN SOMBONG:
Yang pertama:
1 Samuel 17:4
(17:4) Lalu tampillah keluar seorang pendekar dari tentara orang
Filistin. Namanya Goliat, dari Gat. Tingginya enam hasta sejengkal.
Goliat tingginya 6 (enam) hasta sejengkal. Pendeknya, Goliat
merasa lebih tinggi, merasa lebih besar dari orang Israel. Dalam hal ini Goliat
tidak memahami janji TUHAN terhadap orang Israel. Dia merasa, saya inikan 6
(enam) hasta sejengkal + 3 (tiga) meter / merasa diri besar.
Goliat tidak memahami janji TUHAN terhadap umat Israel
di dalam …
Keluaran 19:5-7
(19:5) Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan
firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta
kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya
seluruh bumi.
(19:6) Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa
yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang
Israel."
Janji TUHAN kepada bangsa Israel adalah:
1.
Menjadi harta kesayangan
TUHAN sendiri.
TUHAN yang mempunyai bumi, tetapi hanya 1 (satu)
yang menjadi harta kesayangan TUHAN di bumi ini; itulah bangsa Israel.
2.
Menjadi imamat rajani berarti satu kedudukan yang sangat tinggi,
memerintah sebagai raja di bumi, bukan hamba tetapi tua. Esau itu hamba Yakub, sbab Yakub
adalah tuan… Roma 9:12-13.
Ini janji TUHAN kepada bangsa Israel, tetapi Goliat tidak
paham, dia merasa 6 (enam) hasta sejengkal. Lebih tinggi, lebih besar daripada
orang Israel, dia tidak paham janji TUHAN kepada orang Israel, yang dia paham
hanyalah 6 (enam) hasta sejengkal. Ini ciri kesombongan yang pertama.
6 (enam) hasta sejengkal arti rohaninya adalah: hidup menurut hawa nafsu dan keinginan-keinginan daging
yang jahat, suka menjengkali orang lain.
Alasan saya mengatakan hal itu, angka 6 adalah angka daging.
Pendeknya, Goliat mengandalkan manusia dan kekuatannya. Ini ciri kesombongan,
persis seperti TUHAN melontarkan batu atas Yakub, menimpa orang Israel,
menghukum orang Israel, mengapa? Karena kesombongan… Yesaya 9:7-11.
Sedikit kesaksian: satu kali saya diajak oleh seorang
pendeta, namanya Pdt. Wiliam, orang Ambon. Lalu kami melayani di salah satu
kantor di Jakarta, kemudian ada orang Ambon yang mau dibaptis, pada saat itu
saya sampaikan Firman Allah, tentang: baptisan darah, baptisan air,
dan baptisan Roh itukan satu kesatuan. Kalau air bisa disebut baptisan,
masakan darah tidak disebut baptisan? Roh kenapa tidak bisa disebut baptisan?
Lalu dia katakan begini; “eh ale belum lahir, kita so jadi orang Kristen eh.
Jangan ajari kita, mana ada baptisan darah eh”, sebagai seorang hamba TUHAN
saya diam saja, dan berkata; oh iya om karena beliau sudah tua. Disampaikan
baptisan darah, dikatakan; “eh ale.” Saya pikir ale itu teman-teman, saya mau
jawab “ale-ale” juga.
Aduh luar biasa, kita punya pengalaman masing-masing.
Yang Kedua:
1 Samuel 17:5-7
(17:5) Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju
zirah yang bersisik; berat baju zirah ini lima ribu syikal tembaga. (17:6)
Dia memakai penutup kaki dari tembaga, dan di bahunya ia memanggul lembing
tembaga. (17:7) Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun, dan
mata tombaknya itu enam ratus syikal besi beratnya. Dan seorang pembawa perisai
berjalan di depannya.
Goliat memiliki perlengkapan senjata, antara lain:
1.
Ketopong keselamatan ada
di kepalanya.
2.
Ia memakai baju zirah
yang bersisik dari tembaga, beratnya lima ribu syikal kalau ditimbang kurang
lebih 60 kg.
3.
Penutup kaki dari
tembaga.
4.
Lembing tembaga di bahu.
5.
Tombak dengan gagang
besar seperti pesa tukang tenun, mata tombak enam ratus syikal kurang lebih 7
kg.
6.
Pembawa perisai di
depan.
-
Hal 1 (satu) – 5 (lima)
perlengkapan yang digunakan oleh Goliat.
Tampaklah bahwa Goliat
mengandalkan kelebihan-kelebihan yang melekat di dalam dirinya. Entah itu gelar
S1, S2, S3, doktor, professor, yang melekat di dalam dirinya, itu yang
diandalkan.
Tetapi dia lupa, yang menutupi
kakinya, yang menutupi kepalanya dan seluruh tubuhnya semuanya dari tembaga,
gambaran dari penghukuman. Kalau kita kaitkan
dengan Pola Tabernakel / Pola Kerajaan Sorga; TEMBAGA
itu hanya ada di HALAMAN.
-
Mezbah Korban Bakaran
terbuat dari kayu penaga dilapisi dengan tembaga, penghukuman TUHAN ada
di situ.
-
Kolam Pembasuhan juga
seluruhnya murni (pure) tembaga, lalu sepertinya dia membuat perisai
dengan kelebihan-kelebihan yang dia punya, seperti
orang yang bangga karena anaknya sarjana, sarjono, sarjini,
itu kelebihan di dalam dirinya padahal itu adalah
tembaga semua. Sarjana, sarjini, sarjono adalah tembaga semua. Semestinya TUHAN
yang harus menerima penghukuman, kenapa kita jadi bodoh hanya karena
mengandalkan kelebihan yang kita punya, itu penghukuman saudara. Tetapi dasar
Goliat, tidak mengerti apa-apa.
Hati-hati saudara;
kalau kita mengandalkan sarjana, sarjini, sarjono,
itu adalah tembaga penghukuman, semestinya TUHAN sudah menerima penghukuman,
mengapa? Dosa kita sudah diserap di dalam tubuh-Nya, hukuman-Nya pun Dia
tanggung di atas kayu salib. Semua dosa manusia sudah dihisap di dalam tubuh-Nya,
Dialah yang menerima hukuman, kaitannya ialah: Mezbah Korban Bakaran
dan Kolam Pembasuhan Tembaga.
Kita boleh bangga dan bersyukur, tetapi jangan
andalkan kelebihan yang melekat di dalam diri, kita bangga punya TUHAN,
bersyukur, tetapi jangan andalkan kelebihan yang melekat di dalam diri
saudara.
-
Hal 6 (enam) adalah
mengandalkan si pembawa perisai di depan artinya; menaruh percaya pada hal-hal
lahiriah.
Saudara, dari hal ini kita bisa melihat bahwa Goliat adalah
pekerja-pekerja yang jahat yaitu anjing-anjing dan penyunat-penyunat palsu
sebab Goliat;
1.
Mengandalkan kekuatan
manusia daging -> 6 (enam) hasta sejengkal.
2.
Bermegah terhadap
kelebihan-kelebihan di dalam diri padahal hal itu tembaga.
3.
Menaruh percaya pada pembawa perisai, menaruh percaya
pada hal-hal lahiriah, tidak andalkan TUHAN.
Inilah yang menjadi ciri-ciri orang sombong dan congkak.
Jangan kita seperti Goliat ini, kita harus hati-hati
terhadap anjing-anjing, kita harus hati-hati terhadap penyunat-penyunat palsu,
sebab mereka adalah pekerja-pekerja yang jahat. Katanya dia penyunat, tetapi
tidak ada tanda darah-darah dalam dirinya, bagaimana itu. Maka tentu saja
Goliat disebut pekerja yang jahat. Yang dibicarakan hanya soal daging,
kelebihan di dalam diri, dan menaruh percaya kepada manusia, ini pekerja yang
jahat, penyunat-penyunat palsu, sepertinya melayani, tetapi tidak berbicara salib,
tidak ada dalam tanda darah.
Kita bandingkan dengan …
Filipi 3:3
(3:3) karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah
oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada
hal-hal lahiriah.
Jelas Goliat ini adalah orang yang tidak bersunat, belum
dikerat kulit khatannya.
Kitalah orang-orang bersunat, Goliat adalah anjing
dan penyunat palsu, pekerja yang jahat kalau kita bandingkan dengan Filipi
3:3. Inilah ciri-ciri orang sombong, layak untuk menerima lontaran batu
dari umban.
Kepada Israel juga batu dilontarkan oleh Roh TUHAN dari
Sorga. Hati Rezin dijamah, menjadi batu yang dilontarkan untuk menghukum Israel
karena Israel tidak mau bertobat dari dosa kesombongan. Zaman kerobohan tetapi
masih tetap mengandalkan kekuatan, akhirnya Rezin menjadi batu yang
dilontarkan.
Goliat inipun layak untuk menerima lontaran batu dari umban,
kita hati-hati supaya tetap dalam tahbisan, jangan kita menjadi sombong.
Hati-hati terhadap lontaran batu dari umban. Karena Roh TUHAN dari Sorga bisa
menggerakkan batu untuk dilontarkan sebagai hukuman.
Saudara, tadi kita sudah melihat, TUHAN telah melontarkan
Firman kepada Yakub dan Firman-Nya itu menimpa Israel sehingga batu dilontarkan
sebagai penghukuman oleh kecongkakan dan kesombongan Israel. Hal itu juga
berlaku atas Goliat sebab dia adalah anjing / penyunat palsu / pekerja-pekerja
yang jahat.
Sekarang saatnya batu dilontarkan atau diumban…
1 Samuel 17:45
(17:45) Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau
mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku
mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan
Israel yang kautantang itu.
Goliat mendatangi Daud dengan pedang, tombang, dan
lembing, menunjukkan bahwa Goliat mengandalkan manusia dan kekuatannya
serta mengandalkan kelebihan-kelebihan yang dia miliki. Sebaliknya, Daud
mendatangi Goliat dengan:
a.
Nama TUHAN semesta alam.
Dialah yang menciptakan langit, bumi, dan segala
isinya, yaitu; TUHAN langit dan TUHAN bumi.
Siapa yang bisa menghadapi TUHAN langit dan
TUHAN bumi, di langit Dia berkuasa, di bumi juga Dia berkuasa, harusnya TUHAN
yang kita andalkan. Kalau gembala mengandalkan kelebihan di dalam diri,
ternyata itu tembaga, itu namanya keliru, itu kesombongan. Keliru kita menjadi hamba
TUHAN jika seperti itu, kembali saja ke dunia, ayo cari uang, ngompreng di
situ, tetapi itu namanya rasa takut sudah sampai pada tahap melarikan diri.
b.
ALLAH segala barisan
Israel.
Maksudnya, Israel adalah barisan ALLAH yang
hidup (1 Samuel 17:26). Hamba
TUHAN yang diurapi oleh TUHAN -> pejuang iman.
Jadi pengurapan itu yang kita andalkan, itu
sebabnya Daud berani berkata; “Tetapi aku mendatangi engkau dengan nama
TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel…”
Jadi oleh URAPAN
(umban) inilah kita berani menghadapi Goliat, daging
yang sombong.
Pendeknya, Daud mendatangi Goliat dengan
pengurapan.
Barisan ALLAH adalah pejuang iman, hamba TUHAN
yang diurapi, dengan pengurapan itu Daud mendatangi Goliat. Kalau tadi Goliat
mendatangi Daud dengan pedang, tombak, dan lembing, tetapi Daud mendatangi
Goliat dengan pengurapan, umban rohani.
Kita bandingkan dengan …
Amsal 30:27
(30:27) belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris
dengan teratur,
“Belalang yang
tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur.” Ini karena
ada kepalanya, yaitu: urapan. Seperti kita duduk diam mendengarkan
Firman, catatannya juga teratur.
Kita datangi Goliat rohani dengan umban di tangan itulah
pengurapan. Nanti TUHAN percayakan Firman kepada kita untuk dilontarkan kepada
jemaat, tetapi bukan untuk nembak-nembak, jangan ditambahi dan dikurangi. Kalau
memang itu porsinya ya sampaikan saja, ditolak tidak apa-apa, diterima ya puji
TUHAN.
Itulah sebabnya Daud tidak tawar hati dengan cemooh Goliat.
Tidak tawar hati berarti tidak cemas, tidak melarikan dari dari Goliat, dia
hadapi kenyataan yang ada dengan umban, dengan Roh TUHAN.
Dalam peperangan rohani pun kita pasti teratur, menghadapi
kenyataan hidup sepahit-pahitnya pun pasti teratur, jangan setelah pahit lalu
mencak-mencak, tidak teratur lagi, karena sudah pahit. Tetapi sepahit-pahitnya,
Daud tetap menghadapi Goliat, tidak tawar hati, tidak cemas, tidak melarikan
diri.
1 Samuel 17:46
(17:46) Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam
tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu;
hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin
kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar,
supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, (17:47) dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN
menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan
TUHANlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."
Daud berkata kepada Goliat;
a.
“Di tangan TUHANlah
pertempuran.”
Artinya;
TUHANlah yang menentukan siapa yang menang, siapa yang kalah.
Jadi
sebagai hamba TUHAN yang diurapi tidak perlu tawar hati menghadapi Goliat
rohani, kita harus yakin dan berkata; “di tangan TUHANlah pertempuran”.
b.
“Ia pun menyerahkan kamu
ke dalam tangan kami.”
Artinya; Daud akan memenggal kepala Goliat dari tubuhnya untuk selanjutnya diserahkan
kepada;
-
Burung-burung di udara ->
antikris.
-
Binatang liar ->
nabi-nabi palsu.
Jadi dari perkataan ini, sudah jelas bahwa Daud pasti
berkemenangan sekalipun belum berhadapan dengan Goliat, dia yakin sudah pasti
menang karena di tangan TUHANlah pertempuran.
1 Samuel 17:48-49
(17:48) Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud,
maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu; (17:49)
lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari
dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu
itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke
tanah.
Singkat kata; Daud mengalahkan Goliat. Berarti perkataan
Daud terbukti sebab umban ada di tangannya.
Jadi begitu berhadapan dengan Goliat, dia ambil satu batu
dari lima batu yang ada di kantung gembala, lalu ditaruh di salang umban.
Kemudian ketika berhadapan face to face, dia umban berarti batu
dilontarkan, kenalah pada dahinya, batu itu tertanam di dahi daripada Goliat.
1 Yohanes 2:27
(2:27) Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang
telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh
orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang
segala sesuatu -- dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta -- dan
sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap
tinggal di dalam Dia.
Daud betul-betul mengandalkan TUHAN, sebagai barisan ALLAH
semesta alam, dan di tangannya ada umban, ada pengurapan untuk melontarkan
batu.
Saya pun begitu, saya katakan kepada TUHAN; “TUHAN, Firman
apa yang harus saya sampaikan di sesi ke-2 ini, jangan sampai daging ku yang
berbicara.” Sebab itu saya harus datang di kaki salib entah berapa lama pun itu
saya tidak peduli dan pengurapan itu saya terima (umban itu saya terima) nanti
urapan itu akan mengajar untuk melontarkan batu (Firman ALLAH) menghukum dosa.
Itu sebabnya di sini dikatakan; “di dalam diri kamu tetap
ada pengurapan” itulah umban yang diterima oleh Daud dari TUHAN, tidak
perlu diajar, tidak mesti banyak ayat, tidak perlu diatur harus sedikit ayat,
tergantung umban yang kita terima, nanti Roh TUHAN itu akan bekerja. Satu ayat
pun batu (Firman TUHAN) yang disampaikan, kalau itu dari TUHAN bisa kena
sasaran, ada umban di tangan, ada dalam pengurapan, supaya kesombongan itu
langsung dihukum, sudah merajalela seperti Goliat tadi, dia mencemooh umat Israel,
sombong. Karena apa? Karena 6 (enam) hasta sejengkal juga karena atribut di
dalam diri, ditambah satu orang pembawa perisai. Betul-betul dia adalah
kehidupan yang tidak bersunat.
Kalau dia bersunat, 3 (tiga) hal itu tidak ada di dalam
dirinya. Itu sebabnya ketika Saul memperlengkapi dirinya dengan ketopong, baju
zirah, dll, dia langsung tanggalkan. Dia hanya mengandalkan TUHAN dan umban di
tangannya karena dia tahu perisai di dalam dirinya meski itu adalah tembaga,
itu tetap penghukuman.
Siang ini, TUHAN berkenan menyatakan kasih-Nya supaya kita
menerima umban dari TUHAN karena TUHAN mau memperlengkapi kita di tengah
penggembalaan yang TUHAN percayakan di manapun kita menggembalakan sidang
jemaat, dimanapun kita menginjili, di dalam negeri, di luar negeri, TUHAN
sedang mengurapi kita, terimalah umban dari TUHAN, nanti Roh TUHAN itu
menggerakkan mulut ini untuk menyampaikan (melontarkan) Firman untuk menghukum
dosa kesombongan itu.
Milikilah umban rohani, umban itu yang melontarkan Firman
untuk disampaikan menghukum kesombongan. Entah berapa banyak kesombongan kita
tidak tahu, ada kesombongan yang nyata, ada kesombongan yang terselubung,
tetapi TUHAN lebih tahu, kalau kita dalam urapan, nanti urapan itu yang akan
mengumban, melontarkan Firman TUHAN itu sehingga rontok (gugur) segala
kesombongan-kesombongan itu.
Saudara, saya akhiri dengan satu kata; tinggallah di dalam
Dia, terimalah pengurapan, bawalah umban rohani karena urapan itu yang akan
mengajari kita untuk melontarkan (menyampaikan) Firman ALLAH sangat berkuasa
untuk menghukum keesombongan-kesombongan yang nampak ataupun terselubung.
Selamat membawa umban dalam pertempuran rohani dimanapun
kita menginjil dan menggembalakan sidang jemaat yang TUHAN percayakan, AMIN.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA
MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U.
Sitohang
No comments:
Post a Comment