KEBAKTIAN PASKAH PERSEKUTUAN
PENGAJARAN PEMBANGUNAN TABERNAKEL
(PPT)
SERANG, RABU 27 MEI 2026 (SESI 1)
Tema:
ORANG-ORANG BERSUNAT (Seri 4)
Mula pertama saya mengucapkan puji
syukur kepada Tuhan, oleh karena rahmat-Nya kita sekaliannya dihimpunkan di
atas gunung Tuhan yang kudus dan sekarang kita ada di dalam hadirat-Nya.
Kiranya hidup kita didominasi / dipengaruhi dengan pengaruh Roh Kudus supaya
nanti kita boleh menikmati kemurahan Tuhan.
Saya juga tidak lupa menyapa
anak-anak Tuhan, umat ketebusan Tuhan yang turut bergabung lewat online / live
streaming / video internet baik dari YouTube maupun Facebook dan
media sosial lainnya yang dapat diakses atau dipergunakan.
Terima kasih sekali kepada sahabatku
rekan-rekan hamba Tuhan yang hadir pada saat malam ini. Terima kasih buat Om
Timotius Manik bersama tante, biasanya bersama rombongan, tetapi kali ini
tidak, mungkin lain waktu. Terima kasih buat hamba-Nya Bapak Pendeta Gultom
dari Riau, dan juga hamba-hamba Tuhan, sahabatku yang datang dari Jabodetabek,
Lampung dan sebagainya, saya tidak bisa sebut satu persatu. Terima kasih buat
perhatiannya, dukungan doanya, dan biarlah kiranya Tuhan yang membalaskan
berlipat-lipat ganda. Kiranya Tuhan menolong kita lewat pernyataan kasih dari
firman Allah yang akan kita terima malam ini.
Tema yang ada yang terpampang di
hadapan kita itulah: ORANG-ORANG BERSUNAT.
Dan ini merupakan seri terakhir. Jadi, berbahagialah kita yang hadir pada sesi
terakhir ini dan menurut saya ini sesi akbar, dari perjalanannya yang dimulai
dari 4 (empat) tahun yang lalu. Kiranya Tuhan tolong lagi nanti dengan
tema-tema yang baru.
Dan saya berharap supaya kita semua
tetap berdoa dalam roh, mohon kemurahan Tuhan, supaya nanti firman yang
dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
Saya senang sekali dengan pernyataan
dari pemimpin pujian tadi:
KEKEKALAN: PENYEMBAHAN
KEKEKALAN: PENYERAHAN DIRI
Inilah sasaran daripada Paskah PPT
saudaraku.
Seperti yang saudara lihat di
hadapan saudara, tema: ORANG-ORANG
BERSUNAT dari Filipi 3:3. Namun izinkanlah saya terlebih dahulu
untuk membaca dari ayat 1B-2.
Filipi 3:1B--2 --
Perikop: “Kebenaran yang sejati”
(3:1b) Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat
bagiku dan memberi kepastian kepadamu. (3:2) Hati-hatilah
terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat,
hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,
Firman Allah yang disampaikan secara
berulang-ulang dan berurut memberi kepastian. Berarti; iman teguh, kuat tidak
mudah goyah terhadap ujian dan terhadap kesulitan-kesulitan yang menghimpit.
Itu pentingnya Firman itu disampaikan secara berulang ulang, karena ada kitab
Ulangan.
Bukti kuat tidak mudah goyah.
1.
Hati-hatilah terhadap anjing-anjing.
2.
Hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja
yang jahat.
3.
Hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat
palsu.
Filpi 3:3
(3:3) karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah
oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak
menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.
Yang disebut sebagai orang-orang
yang bersunat, antara lain:
a.
Beribadah oleh Roh Allah.
Berarti tidak menjalankan ibadah Taurat, ibadah lahiriah,
ibadah rutinitas. Kemudian beribadah bukan karena ada kepentingan pribadi baik
kepentingan si pembicara ataupun kepentingan yang hadir dalam ibadah tersebut,
selain hanya untuk menyenangkan hati Tuhan. Itu namanya beribadah oleh Roh
Allah.
b.
Bermegah dalam Kristus Yesus.
Itu berarti ibadah dan pelayanan yang kita kerjakan itu
disertai dengan sangkal diri, pikul salib sampai berdarah darah.
c.
Tidak menaruh percaya pada hal-hal
lahiriah.
Contoh: Paskah PPT yang kita kerjakan selama 2 (dua) hari tiga
kali kebaktian, hal itu kita kerjakan bukan karena uang, tidak menaruh percaya
pada hal-hal yang lahirnya tetapi karena iman.
Jemaat yang kami layani bukan jemaat besar, bukan gereja
besar, kecil, sederhana saja, tetapi kami menaruh harap hanya kepada iman saja,
sehingga acara ini bisa berjalan dengan baik, disertai dengan dukungan doa dari
rekan-rekan hamba-hamba Tuhan. Tuhanlah yang membalaskan berlipat-lipat kali
ganda. Bukan lips service, tetapi ini bahasa dari ketulusan di hati saya.
Akhirnya sekarang kita mengenali
siapakah yang disebut orang bersunat, dan siapakah orang yang
tidak bersunat.
-
Orang yang bersunat adalah orang yang memiliki kepastian, iman teguh, tidak
mudah goyah terhadap kesulitan ujian yang dihadapi.
-
Orang-orang yang tidak bersunat itulah anjing-anjing dan pekerja-pekerja yang jahat.
Tetapi, kita bukan pekerja-pekerja yang jahat, bukan penyunat palsu, bukan
anjing-anjing. Karena kita belajar untuk jujur dan tulus melayani Tuhan di pos
pelayanan kita masing-masing.
Demikianlah pengertian rohani dari
SUNAT (mengerat kulit khatan secara rohani).
Saudara, pada ayat 2, di situ
terdapat kata HATI-HATILAH
sebanyak tiga kali. Maksudnya, dibutuhkan satu perjuangan di dalam hal
menghadapi anjing-anjing dan penyunat-penyunat palsu, sebab mereka adalah
pekerja-pekerja yang jahat.
Dalam kesempatan ini kita akan
melihat:
PERJUANGAN
DAUD DI DALAM HAL MENGHADAPI PEKERJA-PEKERJA YANG JAHAT, YAITU ANJING-ANJING
DAN PENYUNAT-PENYUNAT PALSU.
Mari kita pelajari dari…
1 Samuel 17:32 --- Perikop: “Daud
tiba di medan pertempuran”
(17:32) Berkatalah Daud kepada Saul: "Janganlah seseorang
menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin
itu."
Intinya di sini ialah Daud bersiap
menghadapi Goliat orang Filistin itu, disebut juga…
-
Anjing …
(1 Samuel 17:43)
-
Orang yang tidak bersunat … (1 Samuel 17:36)
Jadi kita harus berhati-hati dan
berjuang menghadapi anjing-anjing dan penyunat-penyunat palsu karena mereka itu
adalah pekerja-pekerja yang jahat, tidak jujur di hadapan Tuhan. Ada di tengah
ibadah tetapi tidak jujur, melayani Tuhan tetapi tidak jujur, tidak tulus
hatinya karena ada motif-motif yang lain.
Saya juga harus hati-hati, jangan
karena saya seorang gembala, dipercaya Pengajaran Mempelai, lalu saya merasa
hidup suci dan masuk surga, tidak boleh seperti itu. Bukan saja Daud yang harus
berjuang, kita semua juga harus berjuang menghadapi Goliat, orang Filistin yang
disebut; anjing dan orang-orang yang tidak bersunat, berarti; pekerja-pekerja
yang jahat. Ini perjuangan kita di hari-hari terakhir ini. Berjuanglah
bersama dengan Tuhan.
1 Samuel 17:33
(17:33) Tetapi Saul berkata kepada Daud: "Tidak mungkin
engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau
masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit."
Singkat kata, keinginan Daud untuk
menghadapi Goliat adalah hal yang “tidak mungkin” bagi Saul.
Alasan Saul, antara lain:
-
Daud masih muda.
Maksudnya adalah minim pengalaman dan jam terbang.
-
Sedang Goliat adalah seorang
prajurit dari masa mudanya.
Maksudnya adalah Goliat mempunyai segudang pengalaman dan
mempunyai jam terbang tinggi.
Singkatnya, Saul lebih yakin kepada
musuh yaitu; Goliat dan pengalamannya daripada percaya kepada kuasa Tuhan yang
ada di dalam diri Daud sebagai tentara Tuhan.
Saudara, hal ini tidak logis, tidak masuk akal, jika kita bandingkan
dengan 1 Samuel 10:1.
1 Samuel 10:1
(10:1) Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak,
dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: "Bukankah
TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel? Engkau akan
memegang tampuk pemerintahan atas umat TUHAN, dan engkau akan
menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya
bagimu, bahwa TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya sendiri:
Jadi, fungsi raja untuk melindungi
rakyatnya dari musuh-musuh. Tetapi kenyataannya, Saul tadi berkata kepada Daud:
"Tidak mungkin”. Dia sudah lupa dengan ayat ini, dia lupa dengan
perjanjian ini, perjanjiannya dengan Tuhan dengan perantaraan Samuel, sebab
Saul lebih yakin kepada musuh daripada kuasa Tuhan yang ada di dalam diri Daud.
1 Samuel 17:34-35
(17:34) Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa
menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang,
yang menerkam seekor domba dari kawanannya, (17:35) maka aku
mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian
apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu
menghajarnya dan membunuhnya.
Setelah mendengar pernyataan dari
Saul, Daud tidak menjadi lemah dan hatinya tidak menjadi surut karena perkataan
Saul yang sifatnya melemahkan itu. Mengapa demikian? Sebab Daud biasa
menggembalakan kambing domba ayahnya, itu kuncinya. Kata “biasa” artinya;
Daud mempunyai pengalaman di dalam hal menggembalakan kambing domba ayahnya.
Apa pengalamannya di dalam
menggembalakan kambing domba ayahnya?
Bukan kambing dombanya, tetap ayahnya.
Di sini dikatakan, apabila singa
atau beruang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka:
-
Daud mengejar menghajarnya.
-
Daud melepaskan domba itu dari mulut
singa atau mulut beruang.
Bahkan di kalimat terakhir pada ayat
35 dikatakan, "Maka aku akan menangkap janggutnya, lalu
menghajarnya dan membunuhnya." Janggut selain berbicara tentang
persekutuan, juga berbicara tentang kedewasaan, pengalaman ketuaan, pengalaman,
dewasa, tetapi itu pun bisa dihajar.
Jadi, apa yang diceritakan oleh Daud
kepada Saul menunjukkan kepada kita bahwasanya Daud…
a.
Tidak segan-segan menyerahkan
nyawanya = rela berkorban.
b.
Daud adalah gembala yang bertanggung
jawab terhadap kambing domba ayahnya.
Demikian halnya dengan pribadi Yesus
Kristus, Dia adalah gembala yang bertanggung jawab terhadap kawanan domba
Allah. “Kawanan domba Allah” bukan disebut kawanan domba Yesus. Dia anak Allah
tetapi dia bertanggung jawab terhadap kawanan domba Allah. Kita semua adalah
kawanan domba Allah. Kita juga adalah gembala-gembala kecil, harus bertanggung
jawab terhadap kawanan domba Allah.
Malam ini, kalau kita ada dalam satu
persekutuan lewat kebaktian Paskah PPT pada sesi pertama, bukan karena kita
tidak bertanggung jawab, justru kita sedang menunjukkan satu tanggung jawab
bahwa kita adalah gembala yang bertanggung jawab. Kita datang bukan main-main,
bukan jalan-jalan, tetapi justru kita ingin membuktikan bahwa kita ini adalah
gembala-gembala yang bertanggung jawab terhadap kawanan domba Allah. Itu kaitan
dari persekutuan kita malam ini
Kita perhatikan…
Yohanes 10:11 --- Perikop: “Gembala
yang baik.”
(10:11) Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan
nyawanya bagi domba-dombanya;
Jadi, kisah Daud itu sebetulnya
adalah satu nubuatan bagi kita di hari-hari terakhir ini. Dia menyerahkan
nyawanya, juga Yesus menyerahkan nyawa, itu nubuatan.
Yohanes 10:12
(10:12) sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan
yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang,
meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan
mencerai-beraikan domba-domba itu.
Inilah gembala upahan; hanya cari
uang, cari untung dari kolekte atau persepuluhan, buah sulung dan seterusnya
seterusnya.
Singkat kata…
-
Yesus adalah gembala yang baik.
Buktinya: Yesus rela menyerahkan nyawa-Nya bagi kawanan
domba Allah -- Tidak disebut kawanan domba Yesus. Jadi, sebagai Anak, Yesus
adalah gembala yang bertanggung jawab, telah menyerahkan nyawa-Nya bagi
domba-domba-Nya, bagi kawanan domba Allah.
-
Sedangkan gembala upahan:
lari meninggalkan kawanan domba apabila ia melihat serigala datang.
Serigala disebut juga anjing hutan 🡪
nabi-nabi palsu. Mereka itulah yang disebut pekerja-pekerja yang jahat dan
penyunat-penyunat palsu. Ayat referensi: Matius 7:15
Tanggung jawab Yesus sebagai Gembala
Agung berlaku sampai tiba dan tampilnya nanti: singa dan beruang. Di atas tadi Daud juga begitu, tanggung
jawabnya sampai tampilnya singa dan beruang.
Wahyu 13:1-2
(13:1) Lalu aku melihat seekor binatang keluar dari dalam laut,
bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh; di atas tanduk-tanduknya terdapat
sepuluh mahkota dan pada kepalanya tertulis nama-nama hujat. (13:2)
Binatang yang kulihat itu serupa dengan macan tutul, dan kakinya seperti
kaki beruang dan mulutnya seperti mulut singa. Dan naga itu
memberikan kepadanya kekuatannya, dan takhtanya dan kekuasaannya yang besar.
Antikris merupakan kombinasi dari
tiga jenis binatang. Antara lain:
1.
Macan tutul.
Kenapa di sini ada penyebutan macan tutul, sementara di
dalam 1 Samuel 17:34 tadi tidak ada macan tutul? Karena macan tutul itu berbicara tentang kecepatan
dan kecepatan itu diceritakan di akhir zaman, di sekarang ini. Itu sebabnya,
pada saat itu tidak diceritakan macan tutul. Tetapi yang diceritakan di situ
adalah beruang.
Jadi, kalau kita berlambat-lambat dan bermasa bodoh di
tengah fellowship, juga berlambat-lambat untuk kesungguhan dan
penyerahan diri dalam memperhatikan kesatuan tubuh yang sempurna ini, kita akan
dilibas habis oleh antikris, sebab geraknya cepat.
2.
Beruang
juga berbicara tentang cakar.
Artinya; kalau dia sudah mencakar, tidak ada yang bisa
melepaskan dirinya dari cengkaman antikris.
Kemudian beruang juga berbicara tentang kekuatan.
Tidak ada satupun orang yang bisa berhadapan langsung dengan
antikris, satu pukul saja sudah roboh. Jadi, jangan mengandalkan kekuatan
karena mungkin jemaat besar dan kaya. Dengan kelebihan yang kita miliki baik
itu S1, S2, S3 sampai dokter, profesor, sampai habis S pun, tidak akan sanggup
menghadapi pukulan beruang.
3.
Singa,
gambaran dari raja hutan.
Jadi, satu kali nanti antikris ini akan tampil sebagai raja
dan berkuasa mendominasi semua aspek-aspek, sendi-sendi kehidupan ini. Jadi
jangan dianggap enteng.
Jadi, sekali lagi saya sampaikan; sampai
kapan tanggung jawab Yesus sebagai Gembala Agung terhadap kawanan domba Allah?
Sampai tampilnya kombinasi dari tiga jenis binatang, itulah antikris ---
sampai tapal batasnya Tuhan. Tuhan pelihara, Tuhan lindungi.
Kita bersyukur terhadap kisah Daud
yang merupakan nubuatan tentang Yesus Gembala Agung, Dia setia menggembalakan
kita, Dia menyerahkan nyawa-Nya, sebab Dia gembala yang tanggung jawabnya
sampai tampilnya singa dan beruang. Bukan sampai di sini saja, tetapi sampai
tampilnya singa dan beruang (antikris).
Kembali kita membaca…
1 Samuel 17:36
(17:36) Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini.
Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu
dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah
yang hidup."
Daud telah menghajar singa dan
beruang (Ini tanggung jawab Yesus sebagai gembala yang baik, sampai tampilnya
singa dan beruang). Demikianlah nanti Daud memperlakukan Goliat orang Filistin
itu. Daud menceritakan semuanya itu kepada Saul dengan gamblang.
Sedikit melebar, saudara, kalau
berbicara dengan sederhana dan gamblang, pasti itu pengalaman hidup. Tetapi,
“ee ee” dengan lain kata kata-katanya diatur, apa yang diucapkannya itu bukan
pengalaman. Tetapi kalau dia gamblang, meskipun pelan suaranya, dengan rendah
hati, pasti itu pengalamannya.
Sekali saya sampaikan: harus
gamblang. Enak tidak enak, sampaikan pengalaman itu, tetapi bukan untuk
menyombongkan diri.
Di atas tadi kita sudah melihat,
orang Filistin disebut juga dengan…
YANG
PERTAMA: Anjing
… (1 Samuel 17:43).
Dan terkait anjing hutan telah kita
bahas secara singkat, itulah guru-guru palsu dan nabi-nabi palsu. Singkat saja,
besok kita akan dalami.
YANG KEDUA:
Orang yang tidak bersunat itu berarti; tegar tengkuk; tidak mau tunduk kepada kuasa
Tuhan.
Ayat referensi: Sebab itu sunatlah
hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk (Ulangan 10:16).
Ciri-ciri tegar tengkuk:
1.
Suka mencari alasan atau berdalih.
Jemaat, doakan supaya saya jangan suka berdalih dan mencari
alasan.
Yesaya 48:4
(48:4) Oleh karena
Aku tahu, bahwa engkau tegar tengkuk, keras kepala dan berkepala
batu,
Persamaan tegar tengkuk: keras kepala, ditambah lagi dengan
berkepala batu.
Yesaya 48:5
(48:5) maka Aku
memberitahukannya kepadamu dari sejak dahulu; sebelum hal itu menjadi
kenyataan, Aku mengabarkannya kepadamu, supaya jangan engkau berkata: Berhalaku
yang melakukannya, patung pahatanku dan patung tuanganku yang memerintahkannya.
Di sini kita melihat: kehidupan yang suka sekali berdalih.
Patung pahatan = berhala. Kekerasan di hati juga berhala.
Jadi, itulah ciri orang yang tegar tengkuk; suka kali
berdalih. Kalau ada sesuatu janji yang tidak ditepati banyak sekali alasannya.
Kalau memang tidak bisa menepati janjinya, minta ampun, minta maaf, itu saja,
sampaikan secara gamblang.
Ini bukan sok hebat, tetapi ini fakta supaya kita tahu
membedakan orang yang bersunat dan orang yang tidak bersunat. Dimulai dari
saya, kemudian imam-imam, jemaat Tuhan yang sederhana, perhatikan ini semua.
Saudara, kedatangan Tuhan sudah tidak lama lagi. Kemudian
yang saya tahu, kedatangan Tuhan persis seperti zaman Nuh, yang selamat hanya
empat pasang. Kenapa demikian? Karena ada pola Tabernakel. Bahtera itu
pola Tabernakel, kemudian bahtera itu ada tiga tingkat dan berpetak-petak,
semua itu bicara kabar mempelai.
Di Provinsi Banten adakah empat pasang? Di Provinsi DKI
adakah empat pasang nanti selamat? Di tiap-tiap provinsi di Indonesia ini tanah
air ini, adakah empat pasang yang selamat?
Jadi saudara, dari sini kita harus bisa simak dengan sungguh-sungguh. Itulah
artinya kita berfellowship malam ini dan seterusnya. Karena kita harus siap
menghadapi kedatangan Tuhan, maka kita juga harus siap dikoreksi. Siap
dikoreksi = Siap menghadapi kedatangan Tuhan.
2.
Tuli dan buta (tetapi kita tidak usah baca ayatnya).
3.
Mencemooh barisan Allah yang hidup.
-
Mencemooh artinya; menghina, disertai mengejek, merendahkan, dan
mengecilkan.
Sedikit kesaksian: bukan untuk menunjukkan kehebatan.
Saudara, demi PPT saya ini dicemooh, masa lalu saya diceritakan. Kejahatan,
kenajisan, ini dan itu semua diceritakna, sampai orang tidak mau datang ke
sini. Yang menyampaikan ini sesama GPT juga. Kemudian begitu tampil tema ini,
timbul lagi cemooh “tahu tidak jemaatnya apa arti orang-orang bersunat?”,
tetapi saya terima itu dengan lapang dada. Dan kalau saya jumpa dengan beliau,
saya salam, saya peluk, tidak akan saya balas. Saya membuktikan bahwa Tuhan tidak
salah memilih saya jadi orang-orang kudus-Nya. Tuhan tidak salah memiliki kita
menjadi orang-orang kudus-Nya yang telah menerima lima jabatan.
-
Barisan Allah yang hidup à
pejuang iman, itulah hamba-hamba Tuhan, orang-orang kudus Tuhan yang telah menerima
lima jabatan.
Sekarang kita perhatikan…
1 Samuel 17:37
(17:37) Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari
cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan
orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN
menyertai engkau."
Setelah Daud selesai menceritakan
pengalamannya sebagai seorang gembala yang cakap dan bertanggung jawab,
akhirnya Saul berkata kepada Daud, "Pergilah, Tuhan menyertai engkau.
Dari jawaban ini, Saul telah
diyakinkan oleh kesaksian Daud. Berarti; dari tidak mungkin menjadi mungkin.
Oleh sebab itu, kita harus menjadi
gembala yang bertanggung jawab, menjadi gembala yang cakap, rela menyerahkan
segala sesuatu. Kesaksian semacam ini memungkinkan untuk menolong orang yang
tidak mungkin. Memungkinkan menolong jemaat yang tidak percaya kepada Tuhan.
Mungkin selama ini jemaat sakit hati, kecewa dan seterusnya.
Jemaat juga sebagai kawanan domba
Allah, harus tergembala sungguh-sungguh, supaya nanti yang tidak mungkin
menjadi mungkin. Bagi Tuhan dan bagi orang yang percaya tidak ada yang
mustahil.
Ini pengalaman kita kalau
tergembala, setan bisa diusir (setan diusir dari Saul). Begitu juga setan yang
ada di dalam diri orang lain, mungkin jemaat’ bisa diusir. Tidak perlu
atraksi-atraksi, tidak usah pamer-pamer karunia, dengan perkataan kesaksian saja;
setan diusir. Jadi ternyata, setan diusir, setan dikalahkan bukan hanya karena
darah Anak Domba saja, tetapi dengan “perkataan kesaksian” … (Wahyu
12:11). Saul berpikir tidak mungkin, menjadi mungkin = setan dikalahkan.
Jadi, bukan hanya dengan darah Anak Domba, tetapi dengan perkataan kesaksian
dari seorang gembala yang bertanggung jawab juga mampu mengusir setan.
1 Samuel 17:38-39
(17:38) Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya
ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya.
(17:39) Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian
ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud
kepada Saul: "Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum
pernah aku mencobanya." Kemudian ia menanggalkannya.
Tindakan Saul setelah diyakinkan….
-
Mengenakan baju perangnya kepada
Daud.
-
Ditaruhnya ketopong tembaga di
kepalanya.
-
Dikenakannya baju sirah kepada Daud.
Akan tetapi Daud tidak dapat
berjalan dengan atribut-atribut tersebut. Karena tidak bisa melangkah, Daud
berkata, "Belum pernah aku mencobanya."
Arti kata “belum pernah aku
mencobanya” bagi kita sekarang: di tengah-tengah perjuangan, di
tengah-tengah peperangan rohani ini…
-
Tidak boleh menggunakan pengalaman
orang lain.
-
Tidak boleh ikut-ikutan karena kata
orang.
-
Tidak boleh menggunakan metode ini,
metode itu, dari orang lain.
Saya masih ingat, pertama-tama saya
jadi hamba Tuhan pada tahun 2001, belum ada jemaat. Saat itu saya datangi semua
gereja-gereja, dan yang sering saya masuki adalah GPdI karena masih sama-sama
Pantekosta. Kalau GPdI masih ada istilah pastori, di situlah saya sering
mampir. Di situlah saya mendapatkan masukan dari orang lain yang mengatakan:
adakan kelompok sel, kemudian pelajaran metode dari Korea selatan gimana
caranya supaya jemaat menjadi 24.000 jiwa. Akhirnya saya sibuk dengan
pengalaman orang lain, sehingga lupa menyembah. Atribut semacam ini jangan
digunakan. Meski Elia satu janda, satu anak sekolah minggu; tidak jadi soal,
tidak semua seperti Musa; dipercaya 2 juta jemaat. Jadi jangan dicoba. Tidak
usah ikut-ikutan metode ini, metode itu, baca buku ini, baca buku itu, apa
fungsi Alkitab?
Saudara, pernyataan daripada Daud
ini ternyata dibenarkan oleh Ayub.
Ayub 42:1-3
(42:1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (42:2) "Aku tahu,
bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.
(42:3) Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa
pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang
hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.
Menyelubungi keputusan tanpa
pengetahuan, artinya: tanpa pengertian
menceritakan tentang hal-hal yang ajaib terkait dengan Tuhan di tengah ibadah
pelayanan, tetapi tidak diketahui. Dengan lain kata, bicara, tetapi tidak tahu
apa yang dibicarakan = apa yang dibicarakan itu belum menjadi pengalaman.
Mungkin tahu ayat Firman, sehingga
berkhotbah di sana sini; Youtube, Facebook dan semua media sosial lainnya, tapi
khotbah itu belum menjadi pengalaman. Itu namanya menyelubungi keputusan
tanpa pengetahuan.
Sekarang banyak di Youtube, kita
tidak tahu lulusan dari sekolah Alkitab dimana, tetapi berkhotbah. Bukan
dilarang khotbah, tetapi orang tersebut mempunyai pengalaman atau tidak. Jangan
sampai menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan, itu tidak baik, itu namanya
dusta rohani di hadapan Tuhan.
Sebagai contoh…
Ayub 1:1
(1:1) Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub;
orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi
kejahatan.
Ayub adalah seorang yang …
1.
Saleh
2.
Jujur;
3.
Ia takut akan ALLAH, menjauhi
kejahatan.
Itulah keadaan Ayub dan kita
bersyukur akan hal itu.
Selain hal itu, kemudian….
Ayub 1:4-5
(1:4) Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah
mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka
diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka. (1:5) Setiap kali,
apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan
mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan
korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin
anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah
dilakukan Ayub senantiasa.
Kemudian di sini kita melihat; Ayub
senantiasa menjadi korban pendamaian untuk anak-anaknya. Hal itu bagus sekali,
tidak ada salahnya di situ.
Tetapi lihatlah, setelah semua itu
sirnah…
Ayub 2:9
(2:9) Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih
bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!"
Bayangkan, seorang istri mengajari
suaminya untuk mengutuki Tuhan, lalu disuruh bunuh diri, istri macam apa
begini? Tetapi istri-istri di sini baik-baik, saudara.
Ayub 2:10
(2:10) Tetapi jawab Ayub kepadanya:
"Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang
baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya
itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.
Dari sini kita bisa melihat; salib
Kristus belum menjadi pengalaman di dalam nikah Ayub.
Saleh, jujur, takut Tuhan, kemudian
melayani anak-anaknya siapa tahu berbuat dosa, itu semua sudah baik. Tetapi
ketika semua harta dan kekayaannya sirna, lihatlah isteri ayub. Sebab, kalau
melihat suami lihat istrinya, kalau mau kenal domba-domba, lihat gembalanya,
kalau mau kenal gembala, lihat domba-dombanya (isteri = domba). Coba gembala
menerapkan salib di dalam nikah, tidak mungkin istri menyuruh suaminya, "matilah,
terkutuklah."
Kita kembali lagi ke…
Ayub 42:4-5
(42:4) Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku
akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. (42:5) Hanya
dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku
sendiri memandang Engkau.
Hartanya hilang, anaknya mati,
sampai bara busuk menimpa Ayub, itu adalah pengalaman salib. Dulu Ayub kaya
belum karena salib. Baik, jujur, dan saleh, tetapi salib belum jadi pengalaman.
Tetapi sekarang Ayub berkata: Hanya dari kata orang saja aku mendengar
tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
Pendeknya, ternyata Ayub ikut Tuhan
hanya karena kata orang, hanya mendengar tentang kasih Tuhan ajaib. Namun
akhirnya, mata Ayub memandang Tuhan. Artinya: salib Kristus sudah menjadi
pengalaman, menyatu dalam nikahnya, dalam hidupnya, dalam ibadah pelayanannya
(sudah menyatu dengan salib).
Hati-hati, gereja mewah bukan
berarti sudah menjadi pengalaman dengan salib, belum tentu. Justru saya
hari-hari ini melihat hamba Tuhan sibuk pamer karunia, salib Kristus
ditunjangkan (disingkirkan). Mohon maaf bukan menghakimi, tetapi itu fakta
sekarang ini. Ukuran masuk Sorga bukan karunia kesembuhan, tetapi salib, tidak
bisa sampai ke surga tanpa salib.
Di tengah-tengah pengikutan kita,
salib harus menjadi pengalaman, teramat lebih dalam nikah.
Ayub 42:6
(42:6) Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan
menyesal aku duduk dalam debu dan abu."
Ejaan lama:
Ayub 42:6
(42:6) "Maka sebab itu aku mencelakan diriku dan
duduklah aku dengan sesalku dalam duli dan abu
Maka sebab itu aku mencelakakan
diriku.
Inilah yang harus kita perhatikan di
hari-hari terakhir ini, saudara tidak boleh muak dengan Pengajaran Pembangunan
Tabernakel. Biar banyak jemaat, kalau ibadah pelayanan ini belum menjadi
pengalaman, salib belum menjadi pengalaman; tidak ada artinya. Mohon maaf rekan
hamba Tuhan yang sedang memperhatikan ini dari lewat live streaming. Tetapi ini
fakta, Alkitab yang berkata, sama-sama kita membaca Alkitab, saya tidak
tambahkan dan kurangkan, supaya kita diluruskan saudara.
Jadi, bukan soal berkat-berkat atau
mukjizat tetapi; sudahkah pengalaman kita menyatu dengan salib? Kalau
soal karunia semua dikaruniakan oleh Tuhan. Sebelum saya jadi gembala utuh,
tahun 2001 banyak mukjizat; yang sakit sembuh, kista sembuh, kandungan tertutup
dibukakan Tuhan, pengusiran setan, dan banyak lagi, saya tidak bisa sebut satu
persatu. Tetapi, semua itu bukan menjadi ukuran saya masuk surga.
Yang benar: salib sudah harus
menjadi pengalaman kita di tengah pengikutan kita kepada Tuhan. Kalau salib
belum menjadi pengalaman, Alkitab berkata: “mencelakakan diri hingga mati.”
Kembali kita memperhatikan
1 Samuel 17:39-40
(17:39) Lalu Daud mengikatkan pedangnya di
luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah
dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak dapat berjalan
dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya." Kemudian ia
menanggalkannya. (17:40) Lalu Daud mengambil tongkatnya di
tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan
ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu,
sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang
Filistin itu.
Akhirnya Daud pun menanggalkan
atribut-atribut dari Saul.
Jadi, kita harus sadar, pengikutan
kita harus menyatu dengan salib. Salib sudah seharusnya menjadi pengalaman.
Jangan lagi kita ikut-ikutan menggunakan metode ini, metode itu. Tetapi kita
berjuang harus dengan pengalaman sendiri bersama dengan Tuhan.
Saya pun tanggalkan atribut itu
karena sempat membaca, sempat juga ingin dipengaruhi, pakai ini dan itu,
menari-nari dan lainnya. Tetapi sudahlah, polos-polos saja, kalau itu datang
dengan kepolosan berarti murni. Kalau karena ada atribut ini itu, lalu dia
datang, berarti tidak murni. Kalaupun jemaat sedikit percayalah hamba Tuhan,
gembala sidang; tetap dipelihara Tuhan. Domba yang dilayani oleh Daud hanya dua
tiga ekor, tetapi terpelihara.
Dari tidak ada jemaat, saya
dipelihara Tuhan dengan ajaib. Ada satu jemaat; saya dipelihara. Ada dua juga
dipelihara, itu pengalaman saya sampai sekarang di dipelihara oleh Tuhan. Sebab
itu, sadarlah, tanggalkan atribut-atribut, jangan pakai pengalaman orang lain.
Kenakanlah pengalaman sendiri di kaki salib.
Sekali lagi saya sampaikan, Daud
menanggalkan atribut Saul dan memperlengkapi dirinya sesuai dengan
pengalamannya yaitu; biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Antara lain:
1.
Tongkat di tangan.
2.
Lima batu licin dipilih dari dasar
sungai.
3.
Kantung gembala.
4.
Umban di tangan.
Setujukah saudara melayani sesuai
pengalaman di kaki salib? Jangan mengikuti metode-metode.
Saudara, perlengkapan 1, 2 dan 3
telah kita bahas pada Paskah PPT tahun lalu. Dan sekarang kita akan membahas
tentang perlengkapan yang keempat yaitu…
KETERANGAN:
UMBAN DI TANGAN.
Namun, sebelum kita membahas umban
di tangan, timbullah dulu pertanyaan: Mengapa Daud memperlengkapi diri
dengan tongkat?
Jawabnya pada…
1 Samuel 17:41-42
(17:41) Orang Filistin itu kian dekat
menghampiri Daud dan di depannya orang yang membawa perisainya. (17:42)
Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya
Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya.
Goliat dengan yakin menghampiri Daud
serta menghina Daud, sebab bagi Goliat, Daud hanyalah bocah ingusan. Dia sangat
marah dan kesal, karena merasa lawanya tidak sepadan dengannya.
1 Samuel 17:43
(17:43) Orang Filistin itu berkata kepada
Daud: "Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?"
Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud.
Di sini kita melihat Goliat berkata:
"Anjingkah aku sehingga engkau mendatangi aku dengan tongkat?"
Perkataan ini menunjukkan kepada
kita mengapa Daud memperlengkapi dirinya dengan tongkat, jelas jawabannya
karena Goliat adalah gambaran dari anjing hutan. Kalau dia bukan anjing
hutan, Daud tidak mungkin membawa tongkat gembala di tangannya. Tetapi karena
yang dihadapinya adalah anjing hutan, dia harus membawa tongkat.
Jadi, sekali lagi saya sampaikan;
menghadapi anjing hutan / serigala harus dengan tongkat gembala, bukan dengan
AI, bukan robot, bukan dengan HP, bukan dengan laptop di depan meja atau
mimbar. Hentikan HP, laptop, gadget-gadget, Tuhan Yesus memberi tongkat
gembala kepada seorang gembala.
Matius 7:15
(7:15) "Waspadalah terhadap nabi-nabi
palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi
sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.
Anjing hutan / serigala 🡪
nabi-nabi palsu.
Yohanes 10:2
(10:12) sedangkan seorang upahan yang bukan
gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat
serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu
menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.
Pekerjaan dari anjing hutan /
serigala: menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba, sehingga
domba-domba menjadi liar, tidak tergembala.
Mari kita lihat: “Liar tidak
tergembala”
Yeremia 50:6
(50:6) Umat-Ku tadinya seperti domba-domba
yang hilang; mereka dibiarkan sesat oleh gembala-gembalanya, dibiarkan mengembara
di gunung-gunung, mereka berjalan dari gunung ke bukit sehingga lupa
akan tempat pembaringannya.
Mengembara di gunung-gunung,
kemudian berjalan dari gunung ke bukit artinya: beribadah di semua tempat
peribadatan, dari satu tempat pindah lagi ke tempat peribadatan yang lain.
Dengan demikian, domba-domba lupa akan tempat pembaringan, yaitu kandang
penggembalaan = hilang dan sesat = mengambil jalannya sendiri.
Kalau nanti ditanya: "Kenapa
kamu beribadah di semua tempat peribadatan?" Jawabnya: “cari Firman
om”, sebagaimana dalam Ayub 39:11 --- ia menjelajah gunung-gunung padang rumputnya, dan mencari
apa saja yang hijau. Tetapi sebetulnya sudah hilang dan
sesat, sudah mengambil jalannya sen sendiri.
Yeremia 50:7
(50:7) Siapa pun yang menjumpai mereka,
memakan habis mereka, dan lawan-lawan mereka berkata: Kami tidak bersalah!
Karena mereka telah berdosa kepada TUHAN, tempat kebenaran, TUHAN, pengharapan
nenek moyang mereka!
Liar tidak tergembala = berdosa
kepada Tuhan: TEMPAT KEBENARAN, TUHAN
PENGHARAPAN nenek moyang Israel.
Bila kita kaitkan dengan pola
kerajaan Surga (Tabernakel)…
TEMPAT KEBENARAN à Halaman.
Di halaman terdapat 2 (dua) alat:
1.
Mezbah korban bakaran, gambaran salib, di mana Yesus dikorbankan 🡪
pertobatan.
Jadi setiap hari bertobat. Hamba Tuhan setiap hari harus
bertobat.
2.
Kolam pembasuhan tembaga, berbicara tentang baptisan air 🡪
pengalaman kematian dan pengalaman kebangkitan Yesus Kristus -- Dilahirkan baru
lewat permandian air (baptisan air). Itu namanya suasana kebangkitan. Hidup
baru itu kebangkitan. Ada dalam kegiatan roh itu kebangkitan.
Jadi, singkat kata halaman
adalah daerah pembenaran. Siapa yang membenarkan? Tuhan
Yesus Kristus oleh korban-Nya, Ia menderita sengsara, kemudian mati dan
bangkit, itu yang membenarkan kita. Jadi, kalau domba liar tidak tergembala di
semua gunung-gunung, berarti; dia lupa tempat pembaringan, berdosa kepada Tuhan
yang membenarkan Dia.
TUHAN
PENGHARAPAN nenek moyang Israel 🡪
Ruangan Suci.
1 Yohanes 3:3
(3:3) Setiap orang yang menaruh
pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.
Jadi, pengharapan à Ruangan Suci.
Kemudian, pada ruangan suci ada 3
(tiga) alat 🡪
ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok.
Jadi, kalau kita beribadah dan
melayani Tuhan dengan menggunakan pola kerajaan surga, ibadah itu teratur dan
tertib, berjalan sesuai dengan rencana dan kehendak Tuhan, sesuai maunya Tuhan.
Tidak ada istilah ibadah pertengahan minggu.
Zaman dahulu sebelum saya terima
jabatan gembala, saya bisa terima itu. Ibadah pertengahan minggu berarti; entah
Jumat, Kamis. Atau ibadah padang, family altar dan lain sebagainya. Saya tidak
pernah katakan itu salah, tetapi yang benar kita harus beribadah dan melayani
dengan pola tabernakel.
Di dalam ruangan suci (kandang
penggembalaan), tempat pembaringan, terdapat 3 (tiga) macam alat 🡪
ketekunan tiga macam ibadah pokok. Antara lain…
1.
Meja roti sajian à
ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci
= persekutuan dengan Yesus oleh firman dan perjamuan suci. Tabiat dari ANAK ALLAH.
2.
Pelita emas à
ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh.
Tabiat dari ROH ALLAH.
3.
Mezbah dupa à
ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan. Tabiat dari ALLAH BAPA yaitu; kasih.
Jadi tidak ada istilah ibadah
pertengahan minggu, ibadah 1,5 (satu setengah) jam saja, dan seterusnya, itu
adalah ibadah buatan tangan manusia. Tetapi malam ini kita mau diluruskan oleh
pola Tabernakel, diluruskan oleh Tabernakel sejati itulah Tuhan Yesus Kristus.
Kenapa di sini hanya menceritakan Halaman
dan Ruangan Suci? Karena kalau kita tekun dalam tiga
macam ibadah pokok, maka kita dibawa sampai kepada tingkat ibadah tertinggi,
dibawa sampai kepada puncak ibadah, yaitu; doa penyembahan. Dan
penyembahan inilah sarana yang akan membawa kita sampai kepada perobekan
daging (perobekan tirai).
Mari kita buktikan hal tiu …
Matius 27:50
(27:50) Yesus berseru pula dengan suara
nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.
Yesus berseru pula dengan suara
nyaring = penyembahan, lalu menyerahkan nyawa.
Penyembahan bukan seperti yang kita
tahu atau digadang-gadang oleh gereja-gereja saat ini yaitu: praise and
worship. Bukan itu pengertian yang hakiki dari penyembahan. Tidak salah
nyanyi, karena memang harus nyanyi, kita pun tadi nyanyi. Tetapi, yang disebut penyembahan
adalah penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah, bukan
lagi kehendak daging. Setelah sudah berada pada puncak ibadah (doa
penyembahan), tirai robek (masuk dalam pengalaman perobekan daging).
Matius 27:51
(27:51) Dan lihatlah, tabir Bait Suci
terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan
bukit-bukit batu terbelah,
Perobekan daging terjadi. Kalau
sudah mengalami perobekan daging; sudah tembus ke surga. Itu arti
pengajaran pembangunan Tabernakel. Bukan asal kumpul kita di sini, tujuannya
mulia, bukan mau tanding-tandingan.
Jadi, sekali lagi saya tandaskan:
harus tekun tiga macam ibadah pokok, tidak boleh menjalankan ibadah buatan
tangan manusia.
Sasarannya: berada pada tingkat
ibadah tertinggi / puncak ibadah itulah doa penyembahan. Sementara doa
penyembahan merupakan sarana untuk mencapai perobekan daging / trai terbelah
dua.
Apa yang dimaksud dengan tirai
ini?
Ibrani 10:19-23 --- Perikop:
“Ketekunan”
Judulnya saja ketekunan à Tekun tiga macam ibadah pokok.
-
Pada ayat 22 ada kata IMAN à Tekun dalam Ibadah pendalaman Alkitab.
-
Pada ayat 23 ada kata PENGHARAPAN à Tekun dalam Ibadah Raya Minggu.
-
Pada ayat 24 ada kata KASIH à Tekun dalam Ibadah Doa Penyembahan.
Tetapi, untuk apa tekun dalam tiga
macam ibadah pokok?
Ibrani 10:19-20
(10:19)
Jadi, saudara-saudara, oleh darah
Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, (10:20)
karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir,
yaitu diri-Nya sendiri,
Jadi, doa penyembahan adalah
sarana yang paling efektif untuk mencapai perobekan daging. Kalau tirai
sudah terbelah dua dari atas ke bawah, sudah mengalami perobekan daging;
penyerahan diri sepenuhnya untuk taatnya kepada kehendak Allah: TEMBUS KITA KE SURGA.
Jadi, masuk Sorga bukan karena
mukjizat, pengusiran setan. Mindset / pola pikir yang lama harus dirubah. Kita
ini Tabernakel rohani, Yesus tabernakel sejati, gunakan pola surgawi.
Kita sudah melihat fungsi tongkat
gembala. Kenapa kita menggunakan pola seperti Daud menggunakan tongkat
gembala? Supaya domba-domba tergembala? Sebetulnya ini masih panjang
sekali, tetapi saya anggap kita semua sudah memahami ini semua.
Perlengkapi diri sesuai dengan
pengalaman sendiri sebagai gembala. Tidak usah pakai metode-metode. Nikah sudah
harus menyatu dengan salib. Salib sudah menjadi pengalaman kita. Ibadah
pelayanan sudah menjadi sudah menyatu dengan salib. Jemaat pun nanti menyatu
dengan salib.
Itulah tongkat gembala menghadapi
anjing hutan, si serigala, nabi-nabi palsu. Ayo, kita kembali ke penggembalaan
kita dengan menggunakan pola kerajaan surga. Mohon maaf bukan saya ngatur.
Jadi, jangan lagi gunakan ibadah menurut buatan tangan manusia, supaya kita
dibenarkan oleh darah salib, dikuduskan oleh ketekunan tiga macam ibadah pokok.
TUHAN YESUS
KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pembertia
Firman:
Gembala
Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment