IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 10 MARET 2026
SURAT YUDAS 1:11
(Seri: 13)
Subtema: SIAPAKAH
KORAH ?
Shalom.
Mula pertama saya mengucapkan puji
syukur kepada TUHAN, oleh karena kemurahan hati TUHAN, kita sekaliannya
dihimpunkan di atas gunung TUHAN, dan kita boleh menghadap Dia lewat Ibadah Doa
Penyembahan itu berarti sebentar kita akan gunakan waktu kita untuk berada di
ujung kaki salib TUHAN, tersungkur di hadapan takhta TUHAN, sujud menyembah
kepada Dia sebab hanya kepada Dia sajalah kita berbakti.
Saya
juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN, yang turut
bergabung lewat online atau live streaming atau video internet,
baik dari Youtube, Facebook, atau media sosial lainnya yang dapat digunakan,
selanjutnya kiranya kuasa dari tempat yang Maha Tinggi dan damai sejahtera dari
ALLAH senantiasa berkuasa di hati kita untuk memberikan damai sejahtera saat
kita duduk diam dekat kaki TUHAN, mendengarkan sabda ALLAH sehingga kita nanti boleh merasakan pertolongan
TUHAN lewat Firman yang diurapi sekaligus meneguhkan hati kita untuk tersungkur
di kaki salib TUHAN.
Mari kita
sambut Surat Yudas sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Doa Penyembahan
dari Yudas 1:11, namun tetaplah berdoa dalam Roh mohon kemurahan
daripada TUHAN supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita pribadi
lepas pribadi.
Yudas
1:11
(1:11) Celakalah
mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena
mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan
mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.
“Celakalah mereka ...”,
antara lain:
a.
Karena mereka mengikuti jalan yang
ditempuh Kain.
b.
Oleh sebab
upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam.
c.
Mereka binasa karena kedurhakaan
seperti Korah.
Kalau orang-orang Kristen di atas
muka bumi ini mengikuti tiga contoh yang tidak baik ini maka mereka akan celaka
seperti tiga celaka dari tiga contoh yang tidak baik tersebut.
Oleh sebab itu, tingkatkan kegiatan
kita di jalur perlombaan, tingkatkan ibadah dan pelayanan kita sampai tingkat ibadah
yang tertinggi itulah doa penyembahan, jangan kita mengikuti contoh yang tidak
baik dari; Kain, Bileam, dan Korah. Namun mari kita mengikuti jalan yang
ditinggalkan TUHAN itulah tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah.
Saudara, kita telah membahas hal a
dan hal b dan kita semua telah diberkati oleh TUHAN dari dua hal tersebut,
semua oleh karena kemurahan TUHAN bagi kita. Maka dengan demikian, oleh karena
kemurahan hati TUHAN malam ini kita akan masuk kepada pembahasan;
Tentang: Mereka
binasa karena kedurhakaan seperti Korah.
Bilangan 16:1-3
(16:1) Korah
bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram,
anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak
orang-orang (16:2) untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus
lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang
dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan. (16:3) Maka
mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata kepada
keduanya: "Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang
kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu
meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?"
Korah beserta; Datan, Abiram, dan On, plus 250 (dua ratus lima puluh) orang-orang Israel bangkit untuk memberontak melawan Musa
dan Harun.
Singkat kata; Korah dan kumpulannya,
Korah dan konco-konconya memberontak kepada Musa dan Harun.
Kita akan mencari tahu siapakah
Korah dan kumpulannya?
Pertanyaan pertama: Siapakah
Korah?
Jawabnya: Korah adalah keturunan LEWI.
Apa kelebihan suku Lewi dari antara suku-suku di Israel?
Bilangan 16:8-9
(16:8) Lalu
berkatalah Musa kepada Korah: "Cobalah dengar, hai orang-orang Lewi! (16:9)
Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh ALLAH Israel dari umat
Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan
pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani
mereka,
ALLAH memisahkan orang Lewi / suku
Lewi untuk mendekat kepada ALLAH.
Mendekat kepada ALLAH berarti;
a.
Dipercaya
untuk melayani pekerjaan TUHAN yakni mezbah di dalam Kemah Suci Tabernakel.
b.
Bertugas
untuk melayani umat TUHAN.
TUHAN ALLAH Israel mendambakan umat
ketebusan-Nya lebih mendekat kepada TUHAN.
Kita dibentuk oleh dua tangan TUHAN
dari seonggok tanah liat itulah Adam (manusia pertama), namun Adam tidak taat
kepada Firman akhirnya telanjang dan dosa ketelanjangan itu pun menjalar,
sampai sekarang sudah masuk ke dunia. Tetapi 2000 (dua ribu) tahun yang lalu TUHAN
sudah mengerjakan pekerjaan yang mulia, penebusan dan pendamaian di atas kayu
salib, menebus kita dari hukum dosa dan hukum taurat (hukum maut).
Jadi wajar saja TUHAN mendambakan
kita untuk mendekat kepada TUHAN.
Jadi kalau TUHAN mengajar kita dan
berusaha untuk menarik tangan kita supaya semakin hari mendekat kepada Dia,
jangan kita marah-marah, jangan kita bersungut-sungut, dalam segala perkara
kondisi rohani kita harus stabil, tidak boleh labil, sebentar senang sebentar
tidak. Sekalipun dunia dalam keadaan fluktuasi, tetapi kita harus tetap kuat,
memiliki kerohanian yang stabil, supaya semakin hari kita semakin mendekat.
Karena kehidupan rohani yang stabil adalah kehidupan rohani yang sudah dewasa
dan kehidupan semacam ini semakin hari akan semakin mendekat kepada TUHAN.
Terkait dengan mendekat kepada TUHAN,
kita membaca di dalam…
Bilangan 8:18-19
(8:18) Maka Aku
mengambil orang Lewi ganti semua anak sulung yang ada pada orang Israel, (8:19)
dan Aku menyerahkan orang Lewi dari tengah-tengah orang Israel sebagai
pemberian kepada Harun dan anak-anaknya untuk melakukan segala pekerjaan
jabatan bagi orang Israel di Kemah Pertemuan, dan untuk mengadakan
pendamaian bagi orang Israel, supaya orang Israel jangan kena tulah apabila
mereka mendekat ke tempat kudus."
TUHAN mengambil suku Lewi dari antara orang Israel,
tujuannya:
a. Untuk
melayani pekerjaan TUHAN di Kemah Pertemuan.
b. Mengadakan pendamaian bagi umat Israel.
Itulah yang menjadi tugas dari suku Lewi.
Jadi mereka secara khusus dipisahkan dari umat Israel
untuk melakukan dua perkara ini.
Keterangan: MELAYANI PEKERJAAN TUHAN DI KEMAH
PERTEMUAN.
Kemah Pertemuan / Ruangan Suci di dalamnya ada 3 (tiga) macam
alat:
1. Meja Roti Sajian. Alat ini perlu diperhatikan / diatur oleh suku Lewi.
Artinya: Tekun
dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan Perjamuan Suci.
2. Pelita
Emas. Alat ini perlu diperhatikan / diatur oleh suku Lewi.
Artinya: Tekun dalam Ibadah Raya Minggu
disertai dengan kesaksian Roh.
3. Mezbah
Dupa. Alat ini perlu diperhatikan / diatur oleh suku Lewi.
Artinya: Tekun dalam Ibadah Doa
Penyembahan.
Gambar
Ruangan Suci
Jadi ketiga alat ini harus kita
usahakan dan peliharakan dengan baik.
Kalau kita memelihara dan
memperhatikan 3 (tiga) peralatan di dalam Kemah Pertemuan maka dengan demikian TUHAN
juga akan mengatur dan memperhatikan kehidupan kita, segala keperluan kita
diperhatikan oleh TUHAN Yesus kristus, Dia Imam Besar Agung, Kepala Gereja
Mempelai Pria Sorga, masa depan kita juga ada pada dua tangan TUHAN yang
terpaku.
Perlu untuk diketahui:
- Mengatur
dan memperhatikan Meja Roti Sajian = Merawat IMAN, berarti percaya
walaupun tidak melihat.
Karena
kebanyakan orang melihat dulu baru percaya. Sementara untuk melihat Kerajaan
Sorga dan ALLAH bertakhta di dalamnya harus dengan iman, tidak bisa dengan
kasat mata. Kalau kita berharap melihat Sorga dengan kasat mata maka sampai
kapan pun kita tidak akan bisa masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Jadi iman
itu harus dipelihara, iman percaya walaupun tidak melihat. Iman harus dirawat
supaya kita masuk ke dalam Kerajaan Sorga, seperti Rasul Paulus, ia tidak
memperhatikan yang kelihatan, tetapi memperhatikan yang tidak kelihatan (2
Korintus 4:18).
-
Mengatur dan memperhatikan Pelita
Emas = Merawat PENGHARAPAN.
Pengharapan berfungsi melabuhkan kita
sampai ke belakang Tabir, yakni Ruangan Maha Suci. Sebab, pengharapan bagaikan
sauh / jangkar
kapal yang kuat memberikan kita kekuatan saat
diterpa badai gelombang dunia ini, dan dengan kekuatan itu kita
dilabuhkan/bersandar di dada Yesus yaitu Ruangan Maha Suci.
Jadi
pengharapan itu harus dirawat dan diperhatikan dengan baik karena orang dunia
terlalu banyak menaruh pengharapan kepada dunia dan perkara-perkara di bawah
akhirnya kelak dia tidak akan mendapat apa-apa karena dunia tidak bisa
diharapkan, siapapun tidak bisa diharapkan.
Jadi
pengharapan itu harus diperhatikan dan dirawat sedemikian rupa.
- Mengatur dan memperhatikan Mezbah Dupa
= Merawat KASIH.
Kasih yang sempurna berfungsi sebagai
pengikat yang mempersatukan:
a. Kita dengan TUHAN dan sesama, kemudian
b. Menyempurnakan.
Sebagaimana
yang tertulis dalam Kolose 3:14.
Kalau tidak
ada kasih, kita tidak mungkin sempurna. Kalau tidak ada kasih kita tidak akan
memperoleh hidup kekal di dalam Kerajaan Sorga. Jadi kasih itu harus diatur dan
dirawat sedemikian rupa supaya kita satu dengan TUHAN dan sesama. Kasih yang
sempurna menyempurnakan saya dan kita semua.
Keterangan: MENGADAKAN PENDAMAIAN BAGI UMAT
ISRAEL.
Sebagai pemimpin-pemimpin rohani (guru-guru kebenaran) di
dalam rumah TUHAN, orang-orang Lewi harus mengerti mengerjakan pekerjaan
penebusan dan pendamaian terhadap dosa manusia.
Seorang pemimpin rohani/imam-imam/suku Lewi dituntut banyak,
tetapi
tujuannya supaya hubungan kita tidak terpisah dan tetap mendekat kepada TUHAN. Maka kalau kita ingin mendekat kepada TUHAN tentu dituntut
banyak.
Jangan pernah berharap mendekat kepada ALLAH di dalam Sorga, tetapi tidak
mau memenuhi / menolak tuntutan ALLAH, itu
sesuatu yang tidak mungkin.
Banyak orang Kristen berharap untuk
masuk Sorga, banyak orang Kristen berharap memperoleh sesuatu yang baik, yang
suci, dan mulia dari TUHAN, tetapi dia tidak mau mendekat kepada TUHAN. Kalau
mau mendekat berarti mau memenuhi tuntutan TUHAN yakni menjadi pendamaian atas
dosa manusia. Kalau kita datang hanya sekedar beribadah, tetapi tidak mau
menjadi pendamaian, itu artinya kita tidak sedang mendekat kepada TUHAN. Yang
saya tahu dari Alkitab adalah mendekat kepada TUHAN berarti memenuhi
tuntutan-tuntutan TUHAN, memenuhi kriteria sebagai suku Lewi, pelayan TUHAN
yaitu menjadi pendamaian atas umat Israel.
Bagaimana saudara, mau mendekat atau
sekedar saja datang beribadah kepada TUHAN?
Rindu masuk ke dalam Kerajaan Sorga
dengan lain kata; mendekat kepada ALLAH di takhta-Nya atau hanya sekedar
beribadah, tetapi tidak mendapat apa-apa, ini suatu kerugian yang besar.
Jadi saya kira, pikiran kita ini
harus diberkati oleh TUHAN. Pikiran yang diberkati oleh TUHAN berarti memiliki
hikmat dari Sorga yang sudah menyatu dengan alam pikiran kita. Itu yang disebut
dengan orang yang dewasa dan bijaksana. Jadi kita harus bijaksana di dalam
mengikut TUHAN.
Saudara, kita ini harus bersyukur
kepada TUHAN karena kalau kita tidak mendapat pemahaman semacam ini bagaimana
kita mengerti tentang mendekat kepada TUHAN, sementara pengetahuan manusia
terbatas untuk membawa kita masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Tetapi doa saya, doa Yesus Imam
Besar Agung kiranya berlaku atas kita terkait dengan mendekat kepada TUHAN.
Hal ini juga TUHAN ajarkan kepada
murid-murid di dalam injil…
Matius 20:25
(20:25)
Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah
bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar
menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
Dunia dalam kepemimpinannya:
- Memerintah rakyatnya dengan tangan besi,
berarti tidak ada pengampunan.
Orang yang tidak bisa mengampuni = orangnya kasar seperti besi, tidak
mengerti keadaan orang lain.
Berbeda
dengan orang yang suka mengampuni, lemah lembut, mengerti keadaan orang lain.
- Menjalankan kuasanya dengan keras,
berarti bersifat otoriter dan tidak ada bedanya dengan hukum Taurat.
Mata ganti
mata, gigi ganti gigi = tanpa kemurahan.
Maka kita patut bersyukur kepada TUHAN,
Dia adalah Imam Besar Agung berarti Kepala Gereja, Dia telah menebus kita dari
hukum dosa dan hukum maut, yakni hukum taurat. Akan tetapi semua hukum taurat telah
dieksekusi habis di kayu salib, butir ke butir sampai butir ke-10 semua
dieksekusi habis karena Dia Imam Besar Agung, dengan lain kata kita telah
ditebus dari kutuk hukum taurat.
Betapa mulianya, agungnya, luhurnya
korban Kristus itu bagi kita sekaliannya. Entah apa jadinya kalau kita tidak
tergembala di dalam TUHAN, suami-isteri, orang tua-anak, saudara-bersaudara, gontok-gontokan,
keadaan rumah panas terus, neraka belum tiba, tetapi neraka kecil-kecil sudah ada
di dalam rumah, di dalam hidup nya.
Itulah kondisi kepemimpinan di dalam
dunia seperti hukum taurat. Jadi menderita sebetulnya kalau kita dipimpin oleh
dunia, apalagi bila nanti antikris tiba, berkuasa menjadi raja dan memerintah
atas seantero dunia.
Saya tahu TUHAN turut bekerja untuk
mendatangkan kebaikan bagi kita semua.
Matius 20:26-28
(20:26) Tidaklah
demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu,
hendaklah ia menjadi pelayanmu, (20:27) dan barangsiapa ingin
menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; (20:28)
sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani
dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Kepemimpinan di dalam TUHAN yang datang dari Sorga
harus mengikuti teladan dari anak manusia, yakni;
a. Yang terbesar hendaklah menjadi PELAYAN.
b. Yang terkemuka hendaklah menjadi HAMBA.
Hamba tidak memusingkan dirinya selain hanya untuk menyenangkan hati
tuannya, dia tidak mempedulikan harga dirinya, selain hanya memikirkan bagaimana
untuk menyenangkan hati tuannya, bukan untuk menyenangkan hatinya, juga memikirkan
kepentingan tuannya, bukan untuk kepentingannya.
Kalau isi
pokok doa kita “inilah hamba mu” maka kita juga harus menempatkan diri
sebagai hamba TUHAN, tidak pusing dengan diri ini, tidak pusing dengan harga
diri selain hanya memikirkan TUHAN dan keinginannya.
Setelah TUHAN menerangi hati kita
dengan pengertian ini, biarlah kiranya nanti kita tersungkur di kaki salib,
mengambil satu keputusan yang tepat supaya kita betul-betul menjadi hamba di
hadapan TUHAN, nanti pulang ke rumah masing-masing tidak kembali ke habitat
yang lama.
Sebab Anak Manusia datang ke dunia
ini bukan untuk dilayani, bukan untuk mencari penghormatan dan puji-pujian yang
sia-sia, melainkan untuk 2 (dua hal) yakni;
a.
Melayani dan bersyafaat bagi umat manusia.
Jadi kita sedang dilayani oleh TUHAN,
dari pelayanan ini kita mengerti rencana TUHAN, kita tahu tentang kebenaran
yang datang dari Firman, kita tahu tentang kekudusan, kita tahu tentang
keluhuran (kemuliaan) dan bukan hanya itu kita dijamin oleh Imam Besar karena
Imam Besar sedang bersyafaat kepada kita, mendoakan hidup kita, mendoakan nikah
dan rumah tangga kita, mendoakan suami-suami, mendoakan isteri-isteri,
mendoakan anak-anak, mendoakan orang tua, mendoakan mertua, mendoakan menantu,
mendoakan saudara laki-laki dan saudara perempuan. Itulah tugas Yesus, melayani
dan bersyafaat.
b.
Memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan
dan
pendamaian bagi dosa manusia.
Jadi nyawa pun dipertaruhkan supaya menebus orang lain.
Sesudah ditebus selanjutnya didamaikan kepada ALLAH.
Jadi saudara, itulah dua
kepemimpinan yang diberikan sebagai contoh kepada murid-murid.
Kepemimpinan di dalam dunia, penuh
dengan otoriter, tangan besi. Sedangkan kepemimpinan di dalam TUHAN / datang
dari Sorga jauh berbeda.
Maka kepemimpinan di dalam TUHAN mengikuti
contoh teladan dari Anak Manusia.
2 Korintus 5:18-19
(5:18) Dan
semuanya ini dari ALLAH, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita
dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu
kepada kami. (5:19) Sebab ALLAH mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh
Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan
berita pendamaian itu kepada kami.
Kepada seorang imam di tengah-tengah pengutusannya dipercayakan
2 (dua) hal:
1. Pelayanan pendamaian. Berarti senantiasa membawa damai di
tengah-tengah pelayanan.
- Sebagai
pelayan TUHAN yang kepadanya dipercayakan karunia untuk memimpin pujian,
kerjakanlah itu sampai mati di situ. Kalau seorang pemimpin pujian dalam
pelayanannya, tetapi tidak mengetahui lagu, ini namanya tidak membawa damai di
tengah pelayanannya.
- Sebagai
seorang singer, kaya dalam perbendaharaan lagu-lagu, diperlengkapi dengan
lagu-lagu rohani.
- Yang
bertugas di musik, semakin dipertajam karunianya di bagian musik.
- Yang
melayani di bagian multimedia semakin hari semakin dipertajam sehingga dengan
demikian, membawa damai di tengah-tengah pelayanannya.
2. Berita pendamaian. Berarti, seorang imam
/ pelayan TUHAN memiliki sikap yang tegas di dalam hal menyampaikan
pengajaran Salib itulah Pengajaran Firman ALLAH yang murni dan benar, berita
semacam ini membawa damai sejahtera. Kalau membawa berita-berita yang lain tidak ada damai sejahtera.
Pemberitaan Firman
dalam bentuk prosperity maksudnya berita soal kekayaan, kehormatan,
kemuliaan, kejayaan, dan kemakmuran, awalnya menyukakan hati, tetapi pada
akhirnya akan merusak damai sejahtera. Karena Paulus jelas menyatakannya kepada
Timotius, perkataan nabi-nabi palsu sama seperti penyakit kanker, menjalar dan
merusak iman. Mengajarkan pengalaman kebangkitan tanpa pengalaman kematian itu
berita palsu seperti penyakit kanker, dia menjalar dari sel yang satu kepada
sel yang lain terus sampai merusak iman daripada orang-orang yang percaya
akhirnya kandaslah bahtera hidup rohani mereka, tidak lanjut lagi… (2
Timotius 2:16-19).
2 Korintus 5:20-21
(5:20) Jadi kami
ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan ALLAH menasihati kamu
dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah
dirimu didamaikan dengan ALLAH. (5:21) Dia yang tidak mengenal dosa
telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan
oleh ALLAH.
Utusan-utusan Kristus adalah orang-orang yang tidak mengenal dosa
namun dijadikan dosa = dikorbankan untuk membenarkan orang lain, membenarkan umat TUHAN. Itulah pekerjaan penebusan
dan pendamaian atas dosa manusia.
Setelah hutang dosa orang lain
ditebus, lanjut memperdamaikan dosa orang lain kepada TUHAN, yang dikorbankan
adalah utusan-utusan TUHAN, pelayan-pelayan TUHAN, para suku Lewi yang melayani
di dalam rumah TUHAN.
Kiranya secara
khusus seorang imam yang sudah dipercayakan satu tanggung jawab memiliki pengertian sampai kepada pengertian yang ada di dalam
2 Korintus 5:18-21.
Yohanes 12:26
(12:26)
Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ
pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
Melayani TUHAN dengan cara yang
benar / berkenan kepada TUHAN akan membangkitkan penghormatan dari ALLAH.
Pelayanan yang berkenan bagi ALLAH membangkitkan
penghormatan dari ALLAH.
Maka jangan melayani sampai susah hati, tetapi tidak membangkitkan penghormatan.
Sebab itu biarlah kiranya kita
sebagai pelayan TUHAN di tengah pengutusan, membawa dua hal:
1.
Pelayanan
pendamaian.
2.
Berita
pendamaian.
Bukan hanya mengerjakan,
memperhatikan, dan mengatur perabotan-perabotan yang ada di dalam Kemah
Pertemuan, tetapi juga harus melayani umat TUHAN, mengerjakan penebusan dan
pendamaian atas umat manusia.
Demikianlah suku Lewi,
mereka diperbolehkan mendekat kepada ALLAH di dalam Bilangan 16:9,
tetapi sayang sekali mereka menyia-nyiakannya sebab pada akhirnya Korah
memberontak kepada Musa dan Harun.
Tadi suku Lewi memang diambil dari
antara suku Israel untuk mendekat kepada ALLAH, tetapi bukan saja mereka
diambil lebih dekat kepada ALLAH, tetapi kemah-kemah mereka juga lebih dekat dengan
Tabernakel, mengelilingi Tabernakel.
Saudara, di Sorga juga ada malaikat
yang dekat dengan ALLAH bahkan dipercaya lebih dari malaikat-malaikat lainnya
yaitu bintang Timur Putera Fajar sebagaimana yang dinarasikan dan dinyatakan
oleh nabi Yesaya.
Yesaya 14:11-14
(14:11) Ke dunia
orang mati sudah diturunkan kemegahanmu dan bunyi gambus-gambusmu;
ulat-ulat dibentangkan sebagai lapik tidurmu, dan cacing-cacing sebagai
selimutmu." (14:12) "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai
Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai
yang mengalahkan bangsa-bangsa! (14:13) Engkau yang tadinya berkata
dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku
mengatasi bintang-bintang ALLAH, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan,
jauh di sebelah utara. (14:14) Aku hendak naik mengatasi
ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!
Bintang Timur, putera Fajar (bintang kejora) memiliki
kedudukan yang sangat dekat dengan ALLAH, buktinya:
1. Dipercaya untuk memainkan gambus-gambus atau alat-alat musiknya.
2. Mengiringi sekaligus memimpin paduan suara (zangkoor) di Sorga sebab ALLAH
memang harus dipuja untuk selama-lamanya.
Di sorga juga ada seperti Lewi ini itulah Bintang
Kejora, dia dekat dengan ALLAH.
Tadi kita sudah melihat, suku Lewi
diambil dari umat Israel untuk mendekat dengan ALLAH bahkan kemah mereka juga
lebih dekat dari suku-suku yang lain sebab kemah mereka mengelilingi
Tabernakel.
Singkat kata; pada akhirnya bintang
kejora direndahkan / dijatuhkan ke dunia orang mati sehingga ia setara dengan:
-
Cacing di perut bumi = hidup tanpa
kebangkitan = binasa.
-
Ulat-ulat yang tempatnya adalah di Neraka (Markus
9:46).
Kalau awalnya kedudukannya dekat
dengan ALLAH namun pada akhirnya dia dijatuhkan (direndahkan), hal itu terjadi
karena Bintang Kejora memberontak kepada ALLAH. Sebab di dalam dirinya /
hatinya terdapat ke aku an sebanyak 5 (lima) kali, antara lain:
-
Aku hendak naik ke langit.
-
Aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi
bintang-bintang ALLAH.
-
Aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di
sebelah utara.
-
Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan.
-
Aku hendak menyamai Yang Mahatinggi!
Inilah pemberontakan daripada
Bintang Timur, Putera Fajar kepada TUHAN. Namun oleh karena pemberontakannya
itu dia direndahkan / dijatuhkan ke bumi setara dengan ulat-ulat dan
cacing-cacing, tidak ada lagi pengampunan kepada dia padahal awalnya
kedudukannya begitu dekat dengan ALLAH.
Jadi saudara, apa yang terjadi
dengan Korah, sebetulnya itu sudah pernah terjadi sebelum Korah ada. Berarti
dari situ kita bisa melihat, pemberontakan daripada Korah ini adalah pekerjaan
daripada Lucifer (Iblis / Setan) merasuki hidup Korah.
Itu sebabnya pada akhirnya Korah dan
konco-konconya, Korah dan keluarganya, isteri dan anak-anaknya turun ke dunia
orang mati dengan hidup-hidup, ditelan bumi dengan hidup-hidup, direndahkan
seperti bintang timur Putera Fajar.
Jangan kita ditelan bumi hidup-hidup
saudara. Banyak orang Kristen terlihat hidup padahal sudah mati sebelum binasa.
Lihat orang yang mengharapkan harta kekayaannya, lupa kepada TUHAN sudah mati
sebelum binasa = ditelan bumi hidup-hidup. Banyak juga orang Kristen, ditelan
bumi hidup-hidup, mati sebelum binasa. Tetapi tidak sadar, itu sebabnya masih
tetap petantang-petenteng.
Apabila seseorang masih petantang-petenteng
itu karena masih ada sesuatu yang diandalkan. Sedangkan orang yang menyadari
diri, dia akan berkata semua ini karena kemurahan TUHAN, kita tidak bisa
petantang petenteng karena semua itu.
Jadi Korah ini pada akhirnya
dirasuki oleh Lucifer / Iblis / Setan.
Maka setiap orang yang suka
memberontak terhadap nasihat-nasihat yang baik, itu roh Lucifer. Jadi jangan
hati, pikiran, dan hidup mu dikuasai oleh Lucifer kalau masih merindukan Takhta
ALLAH, Kerajaan Sorga, kemuliaan kekal.
Orang yang uring-uringan itu labil,
sebentar senang sebentar tidak padahal katanya rindu Sorga sehingga ketika
ditanya “mau masuk neraka?” Pasti dia katakan; “tidak.”
Nah mulai dari sekarang, kuasa Firman
ALLAH malam ini menyadarkan setiap hati kita masing-masing. Hai yang tidur
rohani bangunlah sadarlah sekarang, jangan goyah lagi, melangkah dengan langkah
yang pasti sesuai dengan ketetapan Firman ALLAH yang sudah kita terima hingga
malam ini.
Dampak negatifnya:
Yesaya 14:20
(14:20)
Engkau tidak akan bersama-sama dengan raja-raja itu di
dalam kubur, sebab engkau telah merusak negerimu dan membunuh
rakyatmu. Anak cucu orang yang berbuat jahat tidak akan disebut-sebut untuk
selama-lamanya.
Orang yang memberontak kepada TUHAN seperti
Korah sekalipun dia datang dari suku Lewi pada akhirnya namanya tidak tertulis
di dalam Kitab Kehidupan Anak Domba, tidak terdaftar di Sorga.
Dahulu adalah pribadi yang terdekat
namun pada akhirnya dilupakan oleh TUHAN sebab memberontak kepada ALLAH.
Dampak negatif pemberontakan:
- Merusak negeri sendiri.
Dahulu kita
berasal dari negeri-Nya TUHAN, menjadi Lewi-Lewi, melayani TUHAN dan melayani
pekerjaan TUHAN, memperhatikan perabotan-perabotan di dalam kemah Pertemuan
sekaligus mengerjakan penebusan dan pendamaian, tetapi pada akhirnya negeri itu
dirusak = menyia-nyiakan kemurahan TUHAN.
- Membunuh masa depan orang lain.
Jadi kalau
seorang Lewi / pelayan TUHAN suka memberontak, dia bukan hanya merusak
negerinya sendiri / merusak dirinya, namun juga merusak orang lain.
Jadi saudara, besar harapan saya
kepada TUHAN, oleh doa Imam Besar Agung supaya baik hidup saya, nikah saya,
pelayanan saya benar dihadapan TUHAN supaya pelayanan saya, hidup saya berarti
bagi TUHAN, berarti bagi jemaat, tidak merusak hidup jemaat.
Memang kalau kita tidak memahami hal
ini kita seringkali uring-uringan, namun kalau kita menyadarinya pasti enak
sekali mengikuti maunya TUHAN. Tetapi kalau maunya kita saja yang kita ikuti
susahnya minta ampun.
Tetapi coba kalau ikuti / pasrah /
sudah sampai pada penyembahan – mengangkat tangan – pasti nikmatnya minta
ampun.
Jangan ikuti tuntutan-tuntutan hati
seperti tuntutan Korah yang nanti di minggu yang akan datang kita akan lihat
itu. Karena tuntutannya tidak terpenuhi akhirnya memberontak kepada Musa.
Tetapi andai saja kita mau menyerah
dengan keputusan TUHAN, hidup ini indahnya minta ampun, tidak ada gejolak.
Jadi kepada suku Lewi dipercayakan
Mezbah; perabotan-perabotan dalam Kemah Pertemuan sebagai alat-alat untuk
melaksanakan kebaktian. Tadi kita sudah bahas itu yaitu; mengatur dan
memperhatikan tiga alat dalam Kemah Pertemuan – ketekunan tiga macam ibadah
pokok -- itulah pekerjaan suku Lewi.
Saudara, bagi orang Israel kalau
tidak ada peralatan /perabotan tersebut di dalam Tabernakel maka umat Israel
tidak mungkin menjalankan ibadah. Dan kalau ibadah tidak dijalankan sama dengan
membunuh umat TUHAN.
Maka, JALAN KELUARNYA kita lihat di
dalam…
Bilangan 16:8-9
(16:8) Lalu
berkatalah Musa kepada Korah: "Cobalah dengar, hai orang-orang Lewi! (16:9)
Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh ALLAH Israel dari umat
Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan
pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka,
Suku Lewi dipisahkan dari antara umat Israel untuk mendekat kepada ALLAH.
Kata "dipisahkan" menurut bahasa Yunani adalah
HAGIAZO berarti dikuduskan dan dikhususkan untuk melayani TUHAN
dan pekerjaan TUHAN, dari Hagiazo
menjadi hagiasmos.
Kita lihat kehidupan Hagiazo /
kehidupan yang dikhususkan untuk TUHAN di dalam …
Kisah
Para Rasul 22:13
(22:13)
Ia datang berdiri di dekatku dan berkata: Saulus, saudaraku, bukalah matamu dan
melihatlah! Dan seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia.
Ini
peristiwa yang dialami oleh Paulus, pada akhirnya dia dipanggil TUHAN,
dikuduskan dan dikhususkan untuk melayani TUHAN secara khusus jemaat-jemaat di
Asia Kecil dan itu diceritakan kepada jemaat-jemaat di Asia Kecil.
Kisah
Para Rasul 22:14
(22:14)
Lalu katanya: ALLAH nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui
kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara
yang keluar dari mulut-Nya.
Jadi
orang-orang yang dikhususkan untuk melayani TUHAN dan pekerjaan TUHAN maka ia
ditetapkan untuk:
1.
Untuk mengetahui kehendak ALLAH.
Yesus datang ke dunia ini
bukan karena kehendak-Nya, tetapi karena kehendak ALLAH. Menanggung penderitaan
yang tidak harus Ia tanggung itu adalah kehendak ALLAH. Minum cawan ALLAH
disertai dengan empedu yang pahit itu adalah kehendak ALLAH.
2.
Untuk melihat yang benar.
Banyak hal yang tidak benar di
dunia ini, tetapi orang-orang yang dikhususkan, ditetapkan untuk melihat yang
benar saja.
Biar saudara melihat yang
benar saja di dalam diri ku. Saya juga melihat apa yang benar saja dari sidang
jemaat supaya jangan ada perpisahan diantara kita, tidak tersandung dan tidak
menjadi batu sandungan.
Saya sebagai suami hanya
melihat yang benar saja dari dalam isteri ku, juga isteri ku hanya melihat yang
benar saja di dalam diri ku sehingga nanti ada damai sejahtera dari Sorga yang
melampaui akal dan pikiran manusia dan itu menjadi bagian kita sampai selama-lamanya.
3.
Untuk mendengar suara yang keluar dari mulut ALLAH.
Saudara, banyak suara yang
keluar dari mulut-mulut yang tidak bertanggung jawab.
Contoh kecil saja, Petrus
sering kali mengucapkan kata-kata yang tidak perlu untuk diucapkan terhadap
pribadi Yesus sang guru. Dia pernah berkata kepada Yesus bahwa “Aku siap mati
bersama engkau” namun faktanya tidak, sebaliknya dia menyangkal Yesus sebanyak
tiga kali bahkan Petrus juga pernah berkata di atas gunung yang tinggi setelah
melihat kemuliaan; “TUHAN aku akan membangun rumah, satu untuk mu, satu untuk
Elia, satu untuk Musa.” Lalu siapa kita ini? Kita tidak layak membangun hidup
kita untuk TUHAN, tetapi hidup kita dibangun oleh TUHAN.
Itu sebabnya kita harus
mendengar suara yang keluar dari mulut ALLAH. Jangan kita mendengar suara yang
keluar dari mulut orang-orang yang tidak bertanggung jawab baik dari mulut
nabi-nabi palsu, mulut dari antikris, juga mulut dari ular naga merah padam.
Tetapi biarlah kiranya kita mendengar mulut yang bertanggung jawab, tegas dalam
menyampaikan berita salib. Ini kehidupan yang dikhususkan / dipisahkan /
hagiazo menjadi hagiasmos.
Kisah
Para Rasul 22:15
(22:15)
Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang
kaulihat dan yang kaudengar.
Apa
yang didengar dan dilihat oleh Rasul Paulus dari TUHAN?
Ketika
ia diangkat ke tingkat yang ketiga dari Sorga yang disebut Firdaus, kalau
dikaitkan dengan Pola Tabernakel terkena pada Ruangan Maha Suci, ternyata
menurut Ibrani 9:1-4, dua hal yang didengar dan dilihat oleh Rasul
Paulus, yaitu:
1. Tabut
Perjanjian -> takhta ALLAH = Mempelai TUHAN.
2. Cawan
Pembakaran Ukupan dari Emas -> Doa Penyembahan (tumpuan kaki TUHAN).
Inilah
yang dilihat oleh Rasul Paulus dan diberitakan kepada jemaat di Korintus hingga
kepada kita malam ini supaya kita sampai kepada dua hal di atas.
Sebentar
kita akan tersungkur di kaki salib, menjadi tumpuan kaki TUHAN, di kaki salib
yang terpaku, kitalah tumpuan kaki TUHAN, AMIN.
TUHAN
YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita
Firman:
Gembala
Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment