KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Saturday, March 28, 2026

IBADAH RAYA MINGGU 22 MARET 2026


IBADAH RAYA MINGGU 22 MARET 2026

 

KITAB WAHYU

WAHYU 19:13

(SERI 8)

 

Subtema: KEMEJA BERAGI DARI LENAN HALUS

 

Mula pertama, saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN. Oleh karena rahmat-Nya kita sekaliannya dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus. Kita boleh datang beribadah dan melayani kepada TUHAN, semua karena kemurahan TUHAN. TUHAN beri umur panjang, TUHAN beri nafas kehidupan.

 

Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN, yang turut bergabung secara online / live streaming / video internet, baik dari Youtube maupun Facebook atau media sosial lainnya yang dapat digunakan, diakses.

 

Selanjutnya doa harapan kami dari tempat ini kepada TUHAN adalah supaya kiranya TUHAN menjadi Raja dan bertakhta di tengah-tengah kita, di hati kita. Sehingga, dalam kendali dari Surga kita boleh duduk diam dan tenang, menikmati sabda ALLAH dan kita boleh merasakan pertolongan TUHAN malam ini.

 

Selanjutnya, marilah kita sambut KITAB WAHYU sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu.

Kita masih berada pada Wahyu 19: 13 untuk seri yang ke-8.

 

Wahyu 19:13 --- Perikop: “Firman ALLAH”

(19:13) Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman ALLAH."

 

Dan ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah. Menunjukkan bahwa Si penunggang kuda putih itu adalah Imam Besar Agung.

 

Adapun jubah imam besar dibagi dalam 3 (tiga) hal pokok, sesuai dengan apa yang tertulis dalam Keluaran 28:1-43.

1.       Baju efod (Ayat 6-14).

2.       Gamis baju efod (Ayat 31-35).

3.       Kemeja beragi dari lenan halus (Ayat 30)

 

Saudara, malam ini kita akan masuk pada pembahasan tentang: KEMEJA BERAGI DARI LENAN HALUS.

Jadi, dengan berakhirnya pembahasan kita tentang gamis baju efod, maka malam ini kita akan masuk pada pembahasan berikutnya terkait dengan pakaian imam besar, yaitu kemeja beragi dari lenan halus.

 

Keluaran 28:39

(28:39) Haruslah engkau menenun kemeja dengan ada raginya, dari lenan halus, dan membuat serban dari lenan halus dan haruslah kaubuat ikat pinggang dari tenunan yang berwarna-warna.

 

Singkat kata, kemeja beragi dari lenan halus disebut juga: pakaian putih.

Lenan halus atau pakaian putih berbicara tentang kesucian dan kemuliaan.

Kemuliaan ini diawali dari….

-          Baju efod 🡪 sengsara dan kematian TUHAN Yesus Kristus.

-          Gamis 🡪 menunjuk kebangkitan dari TUHAN Yesus Kristus

-          Lenan halus atau pakaian putih 🡪 kemuliaan Yesus Kristus pada saat Ia naik ke surga.

 

Mari kita lihat “keadaan atau gambaran ketika Yesus naik ke Surga”.

Imamat 16:2-4 --- Perikop: “Hari Raya Pendamaian”

(16:2) Firman TUHAN kepadanya: "Katakanlah kepada Harun, kakakmu, supaya ia jangan sembarang waktu masuk ke dalam tempat kudus di belakang tabir, ke depan tutup pendamaian yang di atas tabut supaya jangan ia mati; karena Aku menampakkan diri dalam awan di atas tutup pendamaian. (16:3) Beginilah caranya Harun masuk ke dalam tempat kudus itu, yakni dengan membawa seekor lembu jantan muda untuk korban penghapus dosa dan seekor domba jantan untuk korban bakaran. (16:4) Ia harus mengenakan kemeja lenan yang kudus dan ia harus menutupi auratnya dengan celana lenan dan ia harus memakai ikat pinggang lenan dan berlilitkan serban lenan; itulah pakaian kudus yang harus dikenakannya, sesudah ia membasuh tubuhnya dengan air.

 

Disebutkan di sini bahwa; pada hari raya pendamaian, imam besar masuk ke dalam Ruangan Maha Suci untuk mengadakan pendamaian, bukan dengan pakaian imam besar selengkapnya melainkan hanya dengan kemeja lenan halus atau pakaian putih saja.

 

Jadi pada saat imam besar Harun masuk ke Ruangan Maha Suci untuk mengadakan pendamaian, ia hanya memakai pakaian lenan halus / pakaian putih. Dia tidak memakai pakaian imam besar selengkapnya, tidak memakai pakaian baju efod dan gamis baju efod, kecuali hanya lenan halus / pakaian putih saja.

Mengapa demikian? Jawabnya; karena lenan halus / pakaian putih  🡪 kemuliaan Kristus pada saat Ia naik ke sorga.

Saat di dalam Ruangan Maha Suci berarti; saat dipermuliakan.

 

Singkat kata….

a.       Hidup-Nya dalam tanda kematian di kayu salib sudah lalu, bagaikan baju efod yang sudah ditanggalkan-Nya.

b.       Kebangkitan-Nya selama 40 hari di bumi juga sudah lalu, bagaikan baju gamis yang sudah ditanggalkan-Nya.

c.       Ia pun naik ke Sorga, berada di belakang tabir dalam kemuliaan-Nya, dengan pakaian putih / lenan halus.

Pakaian putih berbicara soal kesucian dan kemuliaan.

 

Ibrani 1:3-4

(1:3) Ia adalah cahaya kemuliaan ALLAH dan gambar wujud ALLAH dan menopang segala yang ada dengan Firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, (1:4) jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

 

Setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa di bumi, sekarang Ia duduk di sebelah kanan yang Mahabesar, di tempat yang tinggi. Jadi, Ruangan Maha Suci adalah posisi TUHAN dalam kemuliaan di sebelah kanan ALLAH Bapa.

 

Dalam kemuliaan berarti:

-            Tidak lagi mengalami sengsara dan mati = baju efod ditanggalkan.

-            Tidak ada lagi kebangkitan, sebab sudah bangkit dari kematian di bumi = gamis sudah ditanggalkan.

Itulah yang dimaksud dalam kemuliaan.

 

Intinya bagi kita sekarang, kita sedang melihat bahwa Yesus dipermuliakan, duduk di sebelah kanan ALLAH Bapa. Saudara, kita tidak boleh tinggal diam atau hanya melihat saja, tetapi kita juga harus bertindak dengan segala daya dan upaya. Kita tidak boleh hanya tinggal diam melihat TUHAN Yesus sekarang duduk sebelah kanan ALLAH Bapa. Apapun resikonya dan apapun harganya, harus kita bayar. Karena kita rindu untuk berada di mana Yesus sekarang berada. Tidak boleh hanya Kristen penonton, tetapi kita juga harus ada di dalam kerajaan Surga satu kali kelak, maksudnya kita harus terlibat di dalam pekerjaan TUHAN, tidak boleh hanya penonton.

 

Kemudian di sini juga dikatakan: di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat.

Artinya: tempat ini tidak bisa dijangkau oleh…

-          Mata ular naga merah padam, itulah antikris.

-          Yang hanya hidup menurut hawa nafsu dan keinginan-keinginan daging yang jahat.

-          Pengetahuan dan perkara-perkara lahiriah / perkara-perkara yang ada di bumi ini.

Itulah pengertian dari tempat tinggi, jauh lebih tinggi daripada malaikat-malaikat.

 

Kemudian tempat tinggi juga tidak bisa dijangkau hanya karena disebut sebagai malaikat-malaikat yang sekedar melayani. Itu berarti; rohani kita pun harus meningkat dengan laju, menuju kepada kesempurnaan.

Laju berarti; tidak boleh berlambat-lambatan, pekerjaan TUHAN tidak boleh ditunda-tunda, apalagi bermalas-malasan, kalau memang ada kerinduan untuk berada di dalam kemuliaan yang kekal, duduk di sebelah kanan ALLAH Bapa. Tetapi, kalau tidak ada kerinduan untuk masuk Surga, saya sarankan (bukan saya mengusir saudara dari gereja ini, tidak): lebih baik tidak usah beribadah, karena double nanti kerugiannya. Hatimu, perasaanmu, uangmu, waktumu, bisa kau gunakan untuk kepentingan daging -- Makan, minum, kawin, mengawinkan. Tetapi sudah harus siap dengan resikonya, yaitu; neraka. Kalau sudah siap dengan neraka, tidak usah beribadah.

Jangan salah tafsir, jangan salah mengerti dengan ucapan ini. Kalau memang ujungnya harus binasa, tidak usah beribadah. Tetapi kalau ada kerinduanmu untuk masuk Surga, beribadahlah!. Kalau beribadah, ya sungguh-sungguhlah, tidak boleh “sekedar”, hanya karena dia disebut malaikat-malaikat yang “sekedar” melayani, tidak boleh. Kalau “sekedar malaikat” / “sekedar melayani”, resikonya tidak bisa menjangkau tempat yang tinggi tadi.

 

Jadi, sekali lagi saya sampaikan; tempat tinggi, tidak bisa dijangkau hanya karena ia disebut sebagai malaikat-malaikat (pelayan-pelayan, tetapi sekedar melayani). Itu berarti rohani kita pun harus meningkat dengan laju, menuju kepada kesempurnaan. Arti laju berarti; tidak berlambat-lambatan, tidak menunda-nunda pekerjaan TUHAN, tidak boleh malas, tidak boleh lipat tangan. Karena orang yang malas nanti tangannya akan diikat, kemudian kakinya akan diikat sebagaimana dalam Matius 22:13 --- Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.

Jadi itu harus diingat.

 

TUHAN telah menyatakan kemurahan yang begitu besar kepada manusia, lebih daripada makhluk-makhluk di bumi ini. TUHAN beri kaki, TUHAN beri tangan untuk bisa melangkah mengikut jejak Yesus; tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan. TUHAN beri dua tangan untuk digunakan melayani TUHAN, melayani pekerjaan TUHAN, berbuat yang baik, benar, suci dan mulia, supaya kelak jangan diikat dan dicampakkan. Karena kita mempunyai kerinduan; bahagia bersama dengan TUHAN di dalam kerajaan Sorga untuk selama-lamanya.

 

Alasan rohani kita harus meningkat dengan laju menuju kesempurnaan:

Saat ini TUHAN Yesus sudah berada dalam kemuliaan-Nya dan kesempurnaan-Nya dan menjadi Imam Besar dalam kekekalan. Jadi kita harus menikmati pelayanan Imam Besar di bumi, seperti di Surga.

 

Ibrani 8:1-2

(8:1) Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, (8:2) dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh TUHAN dan bukan oleh manusia.

 

Dari dua ayat ini kita bisa melihat; sekarang Yesus ada di tempat yang tinggi, dalam kemuliaan yang sangat besar. Ia duduk di sebelah kanan ALLAH yang Maha Besar.  Ia adalah Imam besar dan sekarang sedang melayani di kemah yang sejati, itulah ibadah di tempat kudus, yang didirikan TUHAN, bukan didirikan oleh manusia.

Jadi, di bumi ini kita harus menjalankan ibadah menurut ibadah buatan tangan TUHAN, bukan ibadah buatan tangan manusia. Ibadah yang datang dari Surga berarti; berpola kerajaan Surga.

 

Mari kita lihat “ibadah berpola kerajaan Surga

Ibrani 8:5

(8:5) Pelayanan mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah: "Ingatlah," demikian Firman-Nya, "bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu."

 

Jadi, supaya ibadah pelayanan di bumi adalah gambaran daripada ibadah pelayanan di surga, maka ibadah di bumi harus menggunakan POLA TABERNAKEL. Tabernakel dengan polanya sudah ditunjukkan oleh TUHAN kepada Musa di atas gunung Sinai, Gunung Horeb disebut juga gunung TUHAN, supaya nanti bangsa Israel menjalankan ibadah menurut pola itu. Kalau kita beribadah dan melayani menurut pola ini, maka ibadah pelayanan di bumi merupakan gambaran dari ibadah pelayanan yang ada di sorga. Dengan lain kata, kita telah menikmati pelayanan Yesus Kristus sebagai Imam Besar, sekarang ada di dalam kerajaan Surga.

 

Jadi, jangan ragu dengan pola Tabernakel. Banyak orang Kristen beribadah dengan pola-pola manusia, ibadah buatan tangan manusia, ibadah menurut pemikiran manusia, sibuk hanya bicara soal prosperity, antusias hanya pada mujizat, tetapi Salib diabaikan, dan seterusnya. Alangkah indahnya kehidupan yang telah menerima ibadah dari Surga, ibadah yang menggunakan pola Tabernakel di dalam menjalankan ibadah dan pelayanan selama di bumi.

Jadi, supaya kerohanian kita laju sampai kepada kesempurnaan, ibadah dan pelayanan kita di bumi ini harus menggunakan pola TABERNAKEL, untuk mencapai kesempurnaan, kemuliaan kekal.

 

Mari kita lihat apa yang diajarkan Paulus kepada orang Ibrani.

Ibrani 6:1-3

(6:1) Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada ALLAH, (6:2) yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal. (6:3) Dan itulah yang akan kita perbuat, jika ALLAH mengizinkannya.

 

Jadi, rohani kita harus meningkat dengan laju menuju kesempurnaan.

Syaratnya: tinggalkan asas-asas pertama tentang ajaran Kristus, selanjutnya beralih kepada perkembangan yang penuh 🡪 kesempurnaan dari sidang mempelai TUHAN. Itu sebabnya jangan kita bertahan dengan asas-asas pertama tentang ajaran Kristus, yaitu percaya, bertobat, dibaptis, lalu kepenuhan Roh Kudus. Kemudian, dalam penumpangan tangan, disitu ada mujizat kesembuhan, keajaiban, pengusiran setan. Itu semua memang perlu tetapi kita tidak boleh berhenti dan antusias hanya sampai di situ saja.

 

Saya akan buktikan. Hal itu pernah dikatakan kepada murid-murid dalam Lukas 10:17-18 --- Perikop: “Kembalinya ketujuh puluh murid”. Jadi selain 12 murid, ada murid yang lain, itulah 70 murid. Mereka telah diutus oleh TUHAN sebagaimana dalam Lukas 10:1-12 ---Perikop: “Yesus mengutus ketujuh puluh murid”.

Jadi, setelah selesai pelayanan, kembalilah ke 70 murid kepada Yesus, artinya; membawa laporan hasil pelayanan. Begitu juga dengan kita, nanti semua akan ditagih oleh TUHAN, bagaimana kita hidup selama di bumi ini.

 

Lukas 10:17-18

(10:17) Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "TUHAN, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." (10:18) Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.

 

Hasil pelayanan dari 70 murid-murid dilaporkan kepada Yesus; dimana setan-setan takluk dalam pelayanan mereka, dan hal itu pun diketahui oleh Yesus. Jadi, TUHAN tahu apa yang dikerjakan oleh 70 murid-murid di tengah pengutusan mereka. TUHAN juga tahu apa yang sedang kita kerjakan di tengah ibadah dan pelayanan dalam penggembalaan GPT Betania, seperti apapun pengikutan kita, TUHAN juga tahu. Itu sebabnya; hati-hati, jangan asal melangkah, jangan asal mengambil keputusan menurut pikiran perasaan daging.

 

Kemudian, mereka memberitahukan hal itu dengan hati gembira. Mereka bangga melakukan itu. Tidak salah mereka bangga, tetapi lihatlah ayat 19-20.

 

Lukas 10:19-20

(10:19) Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.  (10:20) Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga."

 

Sebetulnya karunia itu dari TUHAN, termasuk karunia pengusiran setan dan juga kesembuhan.

Kalau kita sadar itu karunia dari TUHAN, berarti; tidak perlu bangga di situ saja sebetulnya. Tetapi yang terpenting adalah bersuka citalah karena namamu ada terdaftar di surga. Berarti karunia kesembuhan, mengadakan mujizat, bukan tolak ukur (bukan penentu), sehingga seseorang layak dikatakan masuk Surga.

 

Berarti yang harus kita perhatikan adalah bagaimana kita sempurna sama dengan Dia, sama mulia dengan Dia, itu saja yang kita harus perhatikan. Memang belum ada yang sempurna, dan tidak ada yang sempurna, tetapi kita mengejar kesempurnaan. Kalau kita merasa tertinggal, pasti kita kejar. Tetapi, kalau kita sudah merasa baik, benar, suci, tidak akan pernah ada usaha-usaha di dalam hal memperbaiki dirinya.

Jadi, yang terpenting adalah bagaimana kita mencapai kesempurnaan, sama mulia dengan TUHAN. Sebab TUHAN sekarang duduk di sebelah kanan ALLAH Bapa.

 

Jadi sekali lagi saya sampaikan; mengadakan mujizat di tengah-tengah ibadah pelayanan itu perlu.

Misalnya…

-            Pengusiran setan.

-            Menyembuhkan orang sakit

-            Mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib.

Akan tetapi tidak boleh berhenti sampai di situ saja, tidak boleh berhenti pada penginjilan saja, tetapi harus meningkat sampai kepada kesempurnaan. Artinya: yang terpenting nama tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba atau nama kita terdaftar di Surga. Kelak kita dalam kemuliaan yang kekal, sebagaimana sekarang Yesus ada dalam kemuliaan, duduk di sebelah kanan ALLAH Bapa. Dan Dia adalah Imam Besar, sekarang melayani di dalam kekekalan.

 

Jadi saudara, kalau kita beribadah menggunakan pola Tabernakel di bumi ini, sebetulnya itu adalah nilai plus (+) yang harus kita banggakan. Tetapi tidak boleh hanya euforia, melainkan kita harus berada di dalamnya, hanyut dan tenggelam di dalam kasih ALLAH, dihisap oleh kasih ALLAH.

Jangan bangga dengan karunia-karunia. Saudara harus bisa membedakan karunia dengan salib. Yang menentukan (tolak ukur) dari keselamatan itu adalah salib, bukan karunia yang dimiliki oleh seorang hamba TUHAN, misalnya; karunia kesembuhan, dan karunia mengadakan mujizat.

 

Wahyu 20:11 --- Perikop: “Hukuman yang terakhir.”

(20:11) Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.

 

Jadi harus paham, harus mengerti, yang ada ini tidak akan ada lagi, pada saat Yesus duduk di atas tahta putih yang besar. Kemudian, pada saat itu tidak ada lagi langit dan bumi yang pertama dan segala sesuatu atau unsur-unsur di dalamnya tidak ada lagi.

 

Maka lihat ayat 12…

Wahyu 20:12

(20:12) Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.

 

Itu sebabnya saya katakan tadi; yang terpenting nama kita tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba. Sebab, pada hari penghakiman, Yesus tampil sebagai Hakim Agung mengadakan pengadilan di takhta putih yang besar. Semua orang yang mati dibangkitkan dan yang hidup datang, lalu diadili di hadapan-Nya. Kemudian TUHAN membuka semua kitab. Semua riwayat-riwayat yang tidak baik, yang tidak suci, yang tidak benar, semua nampak, yang diperbuat oleh setiap orang ada di situ. Kemudian, orang itu akan menerima hukuman yang setimpal / sesuai dengan perbuatannya.

Sesudah itu dibuka juga kitab kehidupan Anak Domba. Dan orang-orang yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan,  layak untuk berada dalam kemuliaan kekal / terdaftar di Sorga.

 

Saudara, sekarang ini, mungkin nama kita tertulis dalam kitab-kitab itu. Perbuatan kita masih tertulis di situ, kejahatan kita masih ada di situ, kenajisan, kekerasan hati, kesombongan, keangkuhan, merasa diri paling benar dan suci, masih tertulis di situ. Tetapi, TUHAN telah menyediakan bagi kita sarana itulah ibadah dan pelayanan untuk menghapuskan semua noda kotoran, kejahatan, kenajisan yang tertulis dalam kitab-kitab itu. Supaya nanti, sesudah terhapus oleh darah Anak Domba, maka nama kita tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba.

 

Pakaian putih kalau dikaitkan dengan 3 (tiga) hamba yang kepadanya dipercayakan talenta.

-       Hamba pertama dipercaya lima talenta.

-       Hamba kedua dipercaya dua talenta.

-       Hamba ketiga dipercaya hanya satu talenta.

Kepada hamba-hamba ini dipercayakan talenta dan itu harus dikerjakan / dikelola / dikembangkan, jangan dinodai, karena itu adalah pakaian putih.

 

Kepada hamba yang ketiga dipercayakan satu talenta, juga upahnya sama. Tetapi kebiasaan buruk dari manusia daging; selalu mengecilkan yang kecil, tidak setia di hadapan TUHAN. Dia menodai pelayanannya kepada TUHAN, menodai pakaian putih itu, sebab hamba yang ketiga ini jahat dan malas.

Jadi jahat + malas adalah kehidupan yang seringkali mengecilkan yang kecil. Padahal upah lima talenta, dua talenta, satu talenta nanti sama di surga.

 

TUHAN telah memberi kesempatan. TUHAN telah mati, bangkit dan sekarang telah pergi ke luar negeri, tinggalkan dunia ini ke negeri keabadian. Tetapi dari situ Dia akan kembali ke dunia ini, lalu duduk sebagai hakim yang mulia di atas takhta putih yang besar dan akan menghakimi semua orang sesuai dengan perbuatannya.

-       Apakah pakaian putih itu yang dikaitkan dengan hamba pertama?

-       Atau pakaian putih dikaitkan dengan hamba kedua?

-       Atau pakaian putih yang dikaitkan dengan hamba yang ketiga? Malas dan jahat, kelemahan daging, tidak setia.

 

Saudara TUHAN setia dan telah menunjukkan kesetiaan-Nya. Dia adalah Imam Besar, melayani di kemah yang sejati. Biarlah kiranya kita menikmati pelayanan Imam Besar, supaya kita semua masing-masing saling merendahkan diri satu dengan yang lain. Tidak saling menuding, saling menyalahkan, lalu merasa paling benar.

Seandainya pakaian putih itu tertuju ke atas, tidak perlu dia mengharapkan orang lain, tidak perlu dia tuding orang lain, tidak perlu salahkan orang lain dan membenarkan diri, tidak perlu. TUHAN saja yang benar.

 

JALAN KELUARNYA.

Kita kaitkan dengan peristiwa dalam…

Lukas 10:21 --- Perikop: “Ucapan syukur dan bahagia”

(10:21) Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, TUHAN langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. (10:22) Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu."

 

Semuanya itu TUHAN sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai 🡪 orang yang merasa diri bisa, hebat, mampu dan kuat. Tetapi TUHAN nyatakan kepada orang yang kecil. Artinya; rahasia Firman (rahasia sorga) TUHAN bukakan hanya kepada orang yang kecil.

Jadi, pembukaan rahasia Firman itu berlaku hanya kepada orang kecil. Tidak berlaku kepada orang yang merasa diri bisa, mampu, hebat, kuat, merasa diri sanggup mengatasi segala persoalan di bumi. TUHAN tutup pembukaan Firman kepada mereka.

 

Jadilah kecil berarti merendahkan diri sampai menjadi kecil. Jangan sampai; sudah miskin (tidak kaya), sudah kecil di bumi ini tetapi tidak mau jadi kecil. Kita datang dari pegunungan, dari kampung, miskin, tidak punya apa-apa, lalu tidak mau jadi kecil, tidak tahu diri namanya itu. Tetapi, sekalipun kita bukan datang dari pegunungan, bukan orang kecil, bukan orang kampung, dengan lain kata; memiliki kelebihan di bumi ini, harus tetap menjadi kecil, demi rahasia Firman yang dibukakan, rahasia sorga disingkapkan. Sehingga kita boleh mengerti rencana TUHAN, maunya TUHAN dalam hidup dan nikah rumah tangga.

 

Sudah kecil tetapi tidak mau jadi kecil, tidak tahu diri namanya. Sebab itu, belajar berkaca, jangan kepada kaca spion; hanya melihat yang di belakang. Berkaca kepada Firman ALLAH, sebagaimana yang tertulis dalam Yakobus 1:23-24 --- Sebab jika seorang hanya mendengar Firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.

Kalau hanya sekedar mengamati, itu namanya tidak tahu diri. Tetapi kita tetap bercermin supaya kita tahu siapa diri kita ini yang sebenarnya. Sebab kita mempunyai kerinduan yaitu; kerajaan Sorga. Dari mana kita tahu kerajaan Surga kalau rahasia Surga tidak disingkapkan? Jadi rahasia Surga tersingkap hanya bagi orang yang kecil.

 

Jadi, TUHAN bergembira atau bersukacita dalam Roh kalau kita satu dengan yang lain mau jadi kecil, mau merendahkan diri di hadapan TUHAN serendah-rendahnya. Kalau mau melihat kerajaan Surga; harus mau menjadi kecil, itu yang TUHAN mau, yang berkenan kepada Bapa di Surga. Jadilah pribadi-pribadi yang berkenan kepada TUHAN.

 

Biarlah Ia semakin besar kita semakin kecil. Dia semakin bertambah-tambah, kita semakin berkurang-kurang (dagingnya, keinginannya, nafsunya makin berkurang-kurang). Seperti Yohanes Pembaptis dalam Yohanes 3:30 --- Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. Dan pernyataan ini, diakui Yesus kepada orang lain di dalam Matius 11:11 ---  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.

 

Kenapa Yohanes pembaptis besar di mata TUHAN? Karena dia mau jadi kecil di hadapan TUHAN. Jadi ukuran menjadi kecil itu harus dari pengakuan yang keluar dari mulut TUHAN, bukan dari pembelaan diri dan berkata -- Aku kan sudah mengalah, bukan itu ukurannya. Ukuran kita menjadi kecil adalah mulut TUHAN, bukan mulut manusia, apalagi mulut sendiri. Banyak diantara kita begitu, setelah kita rajin, orang lain diomongin; dia pemalas, itu bukan orang besar.

Orang yang mau besar di mata TUHAN harus mau jadi kecil, dan ukurannya adalah perkataan yang keluar dari mulut ALLAH (Firman ALLAH).

 

Lihatlah “kuasa Firman Yang keluar dari mulut orang kecil

Matius 11:16

(11:1 ) Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: (11:17) Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.

 

-          Kami meniup seruling bagimu (Firman Pengajaran Mempelai), tetapi kamu tidak menari.

Kalau kita menerima Pengajaran Mempelai pasti ada sukacita mempelai, bagaikan menari.

Itu mewakili Perjanjian Baru.

-          Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.

Tidak mau berkabung, berarti; tidak mau merendahkan diri, tidak mau jadi kecil. Karena ternyata dia hanyalah orang Kristen dengan roh teman-teman, bukan sahabat. Satu kali teman bisa putus di tengah jalan, dia tinggalkan TUHAN seperti Orpa. Itu teman seperjalanan. Tetapi, sahabat sampai kapanpun akan tetap bersama dengan TUHAN, sampai akhir ruas jalan TUHAN; kematian dan kebangkitan di bumi ini.

Itu mewakili Perjanjian lama (Hukum Taurat).

 

Satu-satunya nabi dalam Perjanjian Baru yang mewakili Perjanjian Lama adalah Yohanes pembaptis.

 

Matius 11:18

(11:18) Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan.

 

Ciri hamba TUHAN Yang merendahkan diri: suka berpuasa (tidak makan dan tidak minum).

Ketika berpuasa, merendahkan diri dan kecil, mereka (teman-teman) berkata; Yohanes adalah orang yang kerasukan Setan.

 

Matius 11:19

(11:19) Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat ALLAH dibenarkan oleh perbuatannya."

 

Hikmat ALLAH / pembuka rahasia Firman, nanti itu jadi benar kalau kita hidupi (lakukan).

Itu sebabnya dari tadi saya katakan:  Firman pengajaran yang rahasianya dibukakan, kerajaan Surga disingkapkan, itu berlaku hanya untuk yang kecil. Dia dibenarkan karena dia mau jadi kecil. Jadi pembukaan rahasia Firman (hikmat) dibenarkan dari perbuatannya.

 

Yesus mau jadi kecil. Yohanes pembaptis mau jadi kecil. Maka kalau kita perhatikan Lukas 10:21 --- TUHAN Yesus bersukacita dalam Roh Kudus. Jadi, kalau kita mau jadi kecil, di situlah nanti Yesus bersukacita / bergembira dalam roh.

 

Inilah yang diajarkan oleh Yesus kepada 70 murid-murid. Supaya nanti hendaknya nama mereka tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba, dipermuliakan, seperti Yesus sekarang dipermuliakan dalam kerajaan Surga. Itulah pakaian putih saudara.

 

Ayo, sadarilah! Jangan bertingkah, kita bukan siapa-siapa. Kita hanya debu tanah yang dibentuk oleh TUHAN jadi mulia, segambar serupa dengan TUHAN, dibentuk menurut teladan TUHAN.

Jika TUHAN kehendaki, bantu doa terus, supaya kita tetap melihat pakaian putih ini lebih dalam lagi. Kita dibawa oleh TUHAN masuk dalam kerajaan sorga. Amin.

 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

Pemberita Firman oleh;

 

Gembala sidang: Pdt. Daniel U. Sitohang

 


No comments:

Post a Comment