KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Sunday, March 29, 2026

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 24 MARET 2026

 


IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 24 MARET 2026

 

SURAT YUDAS 1:11

(Seri: 15)

 

Subtema: MENGHARGAI & MENGHORMATI TAHBISAN

 

Shalom.

Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya, kita sekaliannya dimungkinkan untuk berada di atas gunung TUHAN yang kudus, kita sekarang ada dalam hadirat TUHAN, menghadap Dia lewat Ibadah Doa Penyembahan, itu berarti sebentar kita akan membawa hidup kita rendah dan tersungkur di ujung kaki salib TUHAN, sujud menyembah kepada Dia.

 

Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN yang turut bergabung lewat online atau live streaming atau video internet, baik dari Youtube, Facebook, atau media sosial lainnya yang dapat digunakan atau diakses.

 

Doa dan harapan kami dari tempat ini, kiranya kita semua berada dalam kendalinya TUHAN berarti TUHAN yang bertakhta di hidup kita sehingga kita boleh tenang saat kita duduk diam mendengarkan sabda ALLAH dekat kaki TUHAN, tidak perlu gelisah dan membuat rancangan-rancangan yang tak suci.

 

Mari kita sambut Surat Yudas sebagai Firman penggembalaan untuk Ibadah Doa Penyembahan dari Yudas 1:11, namun tetaplah berdoa dalam Roh mohon kemurahan daripada TUHAN supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi. Kehidupan yang sudah diteguhkan nanti dengan mudah tersungkur di ujung kaki salib TUHAN.

 

Yudas 1:11

(1:11) Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.

 

“Celakalah mereka...” antara lain:

a.     Karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain.

b.    Oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam.

c.     Mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.

 

Pada malam hari ini kita masih melanjutkan pembahasan,

Tentang: MEREKA BINASA KARENA KEDURHAKAAN SEPERTI KORAH (Bagian ketiga).

 

Bilangan 16:1-2

(16:1) Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak orang-orang (16:2) untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan.

 

Korah beserta Datan, Abiram, dan On + 250 (dua ratus lima puluh) orang-orang Israel bangkit untuk memberontak terhadap Musa dan Harun.

Marilah kita mengenali Korah dan kumpulannya tersebut, antara lain:

-       Korah berasal dari keturunan LEWI.

-       Datan dan Abiram adalah anak-anak Eliab. Sedangkan, On adalah anak Pelet.

Tetapi ketiga-tiganya adalah keturunan RUBEN.

-       250 (dua ratus lima puluh) orang Israel adalah PEMIMPIN-PEMIMPIN YANG DIPILIH oleh rapat, mereka adalah orang-orang yang kenamaan.

Itulah keberadaan dari Korah dan kumpulannya (konco-konco).

 

Bilangan 16:3

(16:3) Maka mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata kepada keduanya: "Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?"

 

Korah dan kumpulannya menuduh bahwa Musa dan Harun telah meninggikan diri terhadap umat Israel.

 

Namun, ketika Musa mendengar tuduhan itu SUJUDLAH IA, menunjukkan bahwa Musa berserah penuh kepada TUHAN. Berarti, Musa tidak membalas kejahatan dengan kejahatan sebagai tanda kerendahan di hati.

 

Terkait dengan kepasrahan kepada TUHAN, kita dapat menemukan hal itu di dalam...

1 Petrus 2:21 -- Perikop: "Penderitaan Kristus sebagai teladan."

(2:21) Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.

 

Kita dipanggil untuk mengikuti teladan Yesus yaitu JEJAK-NYA; tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah.

Pendeknya, orang-orang yang dipanggil hendaklah berpadanan dengan panggilan itu.

 

1 Petrus 2:22-23

(2:22) Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.

(2:23) Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

 

Adapun teladan yang ditinggalkan TUHAN bagi kita yaitu:

1.         Ia tidak berbuat dosa berarti penuh dengan Firman ALLAH.

2.         Tipu tidak ada di dalam mulutnya berarti penuh dengan Roh El-Kudus.

3.         > Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki, itu telah ditunjukkan oleh Musa dan Harun. Ketika ia dituduh meninggi-ninggikan diri terhadap umat Israel, ia langsung sujud, menyerahkan perkaranya kepada TUHAN, ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Ø  Ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam.

Banyak orang kalau sudah menderita suka mengancam. Banyak orang ketika ditegur sedikit saja, dia langsung mengancam dengan berkata; “Lihat saja saya tidak akan datang beribadah, lihat saja saya tidak akan kembalikan persepuluhan saya, lihat saja saya akan tinggalkan penggembalaan ini, lihat saja saya hasut orang lain.”

Tetapi lihatlah ketika Yesus menderita, dalam penderitaan yang hebat dari Jumat malam sampai Sabtu Sore di Bukit Golgota, Dia tidak mengancam tentara Romawi. Dia tidak mengancam Imam-Imam kepala yang menyerahkan Yesus kepada tentara Romawi, tetapi Dia menyerahkan segala perkara itu kepada ALLAH Bapa karena ALLAH adalah hakim yang adil.

 

Pendeknya, ketika Korah menuduh Musa meninggi-ninggikan diri; maka mendengar itu “Sujudlah ia.”

Ia menyerahkan persoalannya (perkaranya) kepada TUHAN. Itu berarti Musa penuh dengan kasih. Kasih itu fungsinya adalah menutupi dosa, mengampuni dosa kemudian mengikat dan mempersatukan.

    

Bayangkan kalau seorang pemimpin rumah TUHAN arogan / tidak penuh kasih, maka tidak ada kesatuan diantara umat itu. Tetapi baik Yesus maupun Musa penuh dengan Firman ALLAH, penuh dengan Roh ALLAH, penuh dengan kasih ALLAH. Ketika dia dituduh meninggi-ninggikan diri terhadap umat TUHAN, dia hanya sujud, berserah kepada TUHAN (Bapa di Sorga), Dialah ALLAH yang berhak untuk menghakimi setiap orang, Dia adalah hakim yang adil.

 

Jika berperkara dengan sesama tidak perlu membawa perkara itu sampai ke meja hijau namun sujud (berserah) saja kepada TUHAN. Semakin kita membawa ke meja hijau, perkara itu semakin besar, tidak selesai, maka sujud saja.

Pendeknya, sebagai seorang hamba TUHAN Musa berpadanan dengan panggilannya, dengan lain kata: Menghargai dan menghormati tahbisannya.

Jadi saya sebagai hamba TUHAN, imam-imam dan pelayan TUHAN masing-masing harus menghargai dan menghormati tahbisan itu sendiri.

 

1 Petrus 2:24

(2:24) Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.

 

Yesus telah memikul dosa manusia di dalam tubuh-Nya di kayu salib, berarti Yesus telah mengadakan penyucian terhadap dosa, sekaligus mengerjakan grafirat / pendamaian. Menunjukkan bahwa Yesus menghargai dan menghormati tahbisan yang benar dan suci.

Sekali lagi saya sampaikan, imam-imam, pelayan-pelayan TUHAN teramat lebih hamba-hamba TUHAN harus menghargai dan menghormati tahbisan.

 

Tahbisan imam apa?

1.    Menjadi pendamaian sepenuh (korban lembu jantan muda).

2.    Penyerahan diri sepenuh (korban domba jantan pertama).

3.    Tahbisan sepenuh berarti, disucikan untuk dikhususkan bagi TUHAN (korban domba jantan kedua).

 

Pendeknya, hamba-hamba TUHAN, pelayan-pelayan TUHAN, imam-imam harus menjadi grafirat, harus menjadi pendamaian, tidak saling menuding-nuding, tidak saling mempersalahkan.

Demikianlah TUHAN Yesus Kristus memikul dosa manusia di dalam tubuh-Nya di atas kayu salib, itu pekerjaan grafirat (pendamaian), kalau memang kita bisa mengerjakannya, kerjakan saja, tidak usah alihkan kepada orang lain, misalnya karena tidak mau pusing, banyak cara untuk menghindarinya, itu tidak benar, sekalipun dia ada di tengah ibadah pelayanan, tetapi dia tidak menghormati tahbisan, TUHAN menguji setiap Roh manusia.

 

Perlu untuk diketahui: Surat 1 & 2 Timotius dan surat Titus adalah surat tahbisan.

 

2 Timotius 2:23-25

(2:23) Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, (2:24) sedangkan seorang hamba TUHAN tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar 2:25 dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin TUHAN memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran,

 

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang hamba TUHAN, imam-imam, pelayan-pelayan TUHAN di dalam menjaga tahbisannya: Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, istilah sehari-hari "jangan mencari persoalan."

Kalau sudah tahu ya sudahlah, langsung sujud saja di kaki salib, doakan saja. Sebab, hal itu menimbulkan PERTENGKARAN, sedangkan seorang hamba TUHAN tidak boleh bertengkar. Itu tahbisan, dan Musa tahu persis hal itu. Itu sebabnya dia tidak berbantah-bantah, ia tidak bertengkar dengan Korah dan kumpulannya, tetapi ketika ia dituduh meninggi-ninggikan diri maka secepatnya “sujudlah ia” (Bilangan 16:4).

 

Sebaliknya, seorang hamba TUHAN hendaklah memiliki kata “HARUS”:

-    Harus ramah terhadap semua orang. Tidak boleh pilih kasih, apalagi seorang gembala sidang tidak boleh pilih kasih. Karena yang seorang perpuluhannya kecil lalu diabaikan, kemudian yang lain perpuluhannya lebih besar maka dia mengadakan pendekatan yang erat. Tidak boleh pilih kasih, tetapi harus ramah terhadap semua orang.

     Kita semua harus belajar mengembalikan persepuluhan. Tetapi andaikata pun jemaat tidak mengembalikan sepersepuluh (milik TUHAN), seorang gembala tetap berlaku ramah supaya jemaat jangan kecewa kepada TUHAN.

-    Harus cakap mengajar. Berarti, tidak boleh asal-asalan menyampaikan Firman ALLAH.

Menyampaikan Firman TUHAN dengan maksimal, sepenuh hati, menyampaikan segala sesuatu yang TUHAN mau. Jangan dikurang-kurangi, jangan ditambah-tambahi, dan tidak perlu takut di tengah-tengah pemberitaan Firman ALLAH.

     Semoga kita mendapatkan ajaran yang baik, benar, dan suci supaya kita tetap berkobar-kobar, bergairah di dalam setiap ibadah dan pelayanan kita dihadapan TUHAN.

-    Harus sabar dan lemah lembut, dengan demikian dapat menuntun orang yang suka melawan (memberontak) seperti yang ditunjukkan oleh Musa kepada Korah dan kumpulannya.

     Banyak jemaat yang melawan, mungkin tidak dari mulut, tetapi matanya mendelik, matanya melotot, ngomel, ngedumel, menggerutu, bersungut-sungut, itu juga termasuk pemberontakan. Kemudian sikap dengan ketus-ketus, terhadap sikap seperti ini harus sabar dan lemah lembut.

Maksud dan tujuan dari semua itu adalah: mungkin TUHAN memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat, selanjutnya memimpin mereka sehingga mengenal kebenaran.

 

Doakan saya supaya bisa lebih sabar lagi dari hari-hari yang lalu.

Saya tidak tuduh siapa-siapa yang melawan, tetapi yang saya minta adalah doakan saya supaya lebih sabar dan lemah lembut, mungkin TUHAN memberi kesempatan kepada dia untuk bertobat, selanjutnya memimpin dia sehingga mengenal kebenaran dan saya terus belajar di situ.

 

Kemudian, muara dari pertobatan dan mengenal kebenaran adalah sadar kembali. Kalau sadar berarti lepas dari jerat Iblis yang mengikat dia selama ini. Jadi menghadapi orang yang memberontak harus sabar dan lemah lembut, muaranya: sadar kembali berarti lepas dari jerat Iblis yang selama ini mengikat dia sesuai kehendaknya supaya terus memberontak (melawan) seperti Korah dan kumpulannya. Tetapi dengan kesabaran dan kelemahlembutan, berarti TUHAN memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin dia untuk mengenal kebenaran.

Ini dari pihak seorang pemimpin sidang jemaat, tetapi dari pihak jemaat yang suka memberontak, sadarlah dan mengertilah kebenaran ini bahwa dengan pemberontakan itu, seseorang sedang diikat oleh kehendak Setan, dan sedang dipermain-mainkan oleh Setan. Sadarilah itu, menangislah sebentar di kaki salib. 

 

Pertanyaannya: Mengapa Korah dan kumpulannya bangkit memberontak terhadap Musa dan Harun?

Bilangan 16:9-10

(16:9) Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, (16:10) dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi?

 

Korah dan kumpulannya menuntut pangkat imam.

Sesungguhnya Korah bin Kehat adalah keturunan Lewi, sedangkan Lewi telah dipisahkan dari umat Israel sehingga mereka boleh mendekat kepada ALLAH. Maksudnya; diberi kepercayaan dan tanggung jawab.

 

Adapun tugas Lewi:

-    Memperhatikan mezbah dan alat-alat di dalam Ruangan Suci.

     Bagi orang Israel, perabotan dan alat-alat di dalam Ruangan Suci itu sangat penting sebab tanpa alat-alat tersebut, orang Israel tidak bisa menjalankan ibadahnya.

     Sebetulnya, diberi kesempatan untuk mendekat yaitu untuk memperhatikan alat-alat di dalam Ruangan Suci itu sudah bagus sebab tanpa alat-alat yang ada di dalam Tabernakel, tidak mungkin orang Israel dapat beribadah.

Artinya betapa pentingnya peran dari suku Lewi.

 

-    Dipercaya melayani umat Israel.

 

Pendeknya, diberi kesempatan untuk mendekat kepada ALLAH itu lebih dari kata CUKUP, maka Korah dan kumpulannya seharusnya tidak perlu menuntut pangkat imam lagi.

Melayani TUHAN bukan untuk mencari popularitas, bukan untuk mencari ketenaran supaya diakui dan seterusnya, bukan untuk mencari pujian dan hormat. Tetapi di sini kita melihat, Korah dan kumpulannya sesungguhnya sudah diberi kesempatan untuk mendekat kepada ALLAH, diberi kesempatan untuk melayani TUHAN dan pekerjaan TUHAN, itu sudah lebih dari cukup. Tetapi anehnya, Korah dan kumpulannya masih juga menuntut pangkat imam, tidak ada kata cukup pada Korah dan kumpulannya.

 

Marilah kita melihat lebih dalam lagi, tanggung jawab dan kepercayaan TUHAN terhadap suku Lewi.

Bilangan 3:6-7

(3:6) "Suruhlah suku Lewi mendekat dan menghadap imam Harun, supaya mereka melayani dia. (3:7) Mereka harus mengerjakan tugas-tugas bagi Harun dan bagi segenap umat Israel di depan Kemah Pertemuan dan dengan demikian melakukan pekerjaan jabatannya pada Kemah Suci. (3:8) Mereka harus memelihara segala perabotan Kemah Pertemuan, dan mengerjakan tugas-tugas bagi orang Israel dan dengan demikian melakukan pekerjaan jabatannya pada Kemah Suci.

 

Suku Lewi diberi kesempatan mendekat kepada ALLAH, itu berarti:

-       Mereka harus mengerjakan tugas-tugas bagi Harun dan bagi umat Israel.

-       Mereka harus memelihara perabotan atau alat-alat yang ada di dalam kemah suci.

 

Bilangan 3:9-10

(3:9) Orang Lewi harus kauserahkan kepada Harun dan anak-anaknya; dari antara orang Israel haruslah orang-orang itu diserahkan kepadanya dengan sepenuhnya. (3:10) Tetapi Harun dan anak-anaknya haruslah kautugaskan untuk memegang jabatannya sebagai imam, sedang orang awam yang mendekat harus dihukum mati."

 

Tadi suku Lewi diambil dari antara umat Israel supaya mereka mendekat kepada ALLAH berarti melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN, memperhatikan perabotan-perabotan, dan seterusnya. Sementara di ayat 10; Harun dan anak-anaknya ditugaskan untuk memegang jabatan IMAM. Imam berarti pemimpin (kepala).

 

Singkat kata, ketika Korah dan kumpulannya menuntut pangkat imam, menunjukkan bahwa:

-    Dalam satu kesempatan, ia sedang meninggi-ninggikan diri dan membesarkan diri di hadapan ALLAH

-    Dalam kesempatan lain, Korah dan kumpulannya merendahkan tahbisan serta merendahkan kehendak dan ketetapan ALLAH.

TUHAN sudah menetapkan suku Lewi dengan pekerjaannya, sedangkan Harun dan anak-anaknya juga sudah diberi tanggung jawab sebagai imam. Itu tidak boleh diputar balik. 

 

Bilangan 3:11-12

(3:11) TUHAN berfirman kepada Musa: (3:12) "Sesungguhnya, Aku mengambil orang Lewi dari antara orang Israel ganti semua anak sulung mereka, yang terdahulu lahir dari kandungan, supaya orang Lewi menjadi kepunyaan-Ku,

 

ALLAH telah mengambil suku Lewi menjadi anak sulung, berarti menjadi milik kepunyaan ALLAH sendiri.

Pengalaman semacam ini LEBIH DARI CUKUP, tidak perlu lagi menuntut pangkat imam. Diangkat menjadi anak sulung, diambil dari antara suku-suku Israel, diberi kesempatan untuk mendekat, itu sesungguhnya sudah lebih daripada cukup.

Maka mau jadi apapun, kalau sudah diberi kesempatan mendekat, sudah kerjakan saja, yang penting kita jadi hamba-Nya TUHAN.

 

Jadi Roh kita harus bersih ketika diberi kesempatan untuk mendekat kepada TUHAN. Diberi kesempatan untuk mendekat kepada TUHAN berarti menjadi milik kepunyaan TUHAN, itu lebih dari segala-galanya. Maka untuk apa lagi kita menuntut pangkat imam.

Sebab di dalam Bilangan 3:10, orang awam yang mendekat saja harus dihukum mati. Orang awam tidak boleh mendekat, kalau dia mendekat, dihukum mati. Maka, menjadi milik kepunyaan ALLAH itu sudah lebih dari cukup.

 

Datan, Abiram dan On ketiganya berasal dari suku Ruben, serta 250 orang Israel, mereka adalah pemimpin-pemimpin yang dipilih oleh rapat, mereka adalah orang-orang kenamaan.

 

Singkat kata, baik Korah sebagai orang Lewi, maupun Datan, Abiram, dan On yang merupakan orang Ruben serta 250 pemimpin kenamaan, mereka semua adalah orang-orang yang masuk dalam golongan ANAK SULUNG.

Ruben itu adalah anak sulung, sedangkan Lewi diangkat menjadi anak sulung, kemudian 250 pemimpin-pemimpin kenamaan. Pendeknya, kumpulan ini adalah orang-orang yang masuk dalam kategori anak sulung. Tetapi sangat disayangkan, mereka tidak mengerti tahbisan, suka membesar-besarkan diri sehingga kehendak daging mengatasi kehendak ALLAH. Jangan kita seperti itu saudara.

 

Saya sebagai gembala sidang juga para imam dan pelayan TUHAN jangan kita seperti itu. Menjadi milik kepunyaan ALLAH itu lebih dari cukup. Apapun yang kita kerjakan, ya kerjakan saja, tidak usah pilih-pilih pekerjaan, tidak usah memilih pekerjaan supaya tampak lebih terhormat dari yang lain, yang terpenting adalah menjadi milik kepunyaan ALLAH sendiri. Tetapi sangat disayangkan, Korah dan kumpulannya sebetulnya adalah golongan anak sulung, tetapi mereka tidak menghargai dan tidak menghormati tahbisan. Kalau kehendak daging mengatasi kehendak ALLAH itu namanya tidak menghargai dan tidak menghormati tahbisan.

 

Dahulu diantara kita ada yang seperti itu, kalau berbicara kepada orang lain, dia mengatakan “pendeta itu”, tidak mengakui saya sebagai gembalanya. Semoga bertobat dari situ. Kalau engkau malu mengakui saya sebagai gembala mu maka engkau malu diakui sebagai domba-domba yang harus digembalakan oleh TUHAN.

Apa salahnya “Bapak gembala saya” supaya engkau diakui sebagai domba, meskipun tubuh saya pendek, tidak punya pendidikan tinggi, tetapi saya sudah ditempatkan sebagai gembala, kenapa saudara meniadakan apa yang sudah ditetapkan oleh TUHAN?

Saudara mau bertobat? Bertobatlah, rendahkan diri dihadapan TUHAN.

Itu sebabnya tadi saya katakan, melayani TUHAN harus dengan Roh yang bersih, tidak boleh sembarangan, hargai tahbisan, jangan keras hati lagi, TUHAN sedang dalam perjalanannya, kemarin sudah disaksikan.

 

JALAN KELUAR:

Bilangan 16:4-7

(16:4) Ketika Musa mendengar hal itu, sujudlah ia. (16:5) Dan ia berkata kepada Korah dan segenap kumpulannya: "Besok pagi TUHAN akan memberitahukan, siapa kepunyaan-Nya, dan siapa yang kudus, dan Ia akan memperbolehkan orang itu mendekat kepada-Nya; orang yang akan dipilih-Nya akan diperbolehkan-Nya mendekat kepada-Nya. (16:6) Perbuatlah begini: ambillah perbaraan-perbaraan, hai Korah, dan kamu segenap kumpulannya, (16:7) bubuhlah api ke dalamnya dan taruhlah ukupan di atasnya, di hadapan TUHAN pada esok hari, dan orang yang akan dipilih TUHAN, dialah yang kudus. Cukuplah itu, hai orang-orang Lewi!"

 

Pada Ayat 4, sujudlah ia à Doa Penyembahan, bagaikan asap kemenyan atau ukupan wangi-wangian yang naik ke hadapan ALLAH.

Ukupan ini dibubuhkan di atas perbaraan api, berarti sudah dihancurkan terlebih dahulu barulah dibubuhkan di atas perbaraan api. Inilah yang disebut asap dupa kemenyan (ukupan wangi-wangian).

 

Singkat kata, hidup dalam doa penyembahan adalah kehidupan yang SUDAH DIHANCURKAN oleh penderitaan itu sendiri. Jadi kalau ada penderitaan tidak usah lari, itu adalah satu kesempatan bagi kita sampai hancur. Kalau sudah hancur maka dia akan dibubuhkan di atas perbaraan api, itulah kehidupan dalam doa penyembahan.

Setelah dibubuhkan, naiklah asap dupa kemenyan, itulah yang disebut dengan ukupan wangi-wangian.

Siapa yang hidup dalam doa penyembahan? Itulah kehidupan yang sudah dihancurkan oleh penderitaan itu.

Jadi sengsara karena salib dan aniaya karena Firman adalah satu kesempatan yang indah dan kesempatan emas untuk dihancurkan oleh penderitaan itu sendiri supaya dibubuhkan di atas perbaraan api. Itulah Musa.

Dan itulah Yesus dalam pengalaman-Nya di atas kayu salib. Ketika Yesus berkata; “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Matius 27:50), kemudian Dia menyerahkan nyawa-Nya. Dia sudah dihancurkan oleh penderitaan itu.

 

Jadi tidak usah lari dari sengsara salib dan aniaya karena Firman. Biar kita hancur karena penderitaan itu sendiri, selanjutnya nanti dibubuhkan di atas perbaraan api, itulah yang disebut asap dupa kemenyan, ukupan wangi-wangian yang naik ke hadirat TUHAN, yakni doa penyembahan. Berarti mereka yang hidup dalam doa penyembahan sudah dihancurkan oleh penderitaan itu.

 

Beberapa yang dijadikan ukupan, antara lain: Getah damar, kulit lokan (kerang-kerangan), getah rasamala, kemenyan tulen, semua itu dihancurkan (digiling halus) barulah dibubuhkan di atas perbaraan api.

 

Inilah jalan keluar yang bisa kita lihat dari pribadi Musa, dia seorang pemimpin yang sabar dan lemah lembut karena mungkin TUHAN memberi kesempatan kepada orang lain untuk bertobat selanjutnya memimpin dia kepada kebenaran, muaranya supaya dia sadar. Kalau sudah sadar maka lepas dari jerat Setan yang selama ini mengikat dia sehingga dia hidup di dalam kehendak Setan.

Hebat sekali Musa ini sebenarnya, dahsyat sekali seorang imam kalau dia berada dalam tahbisan yang benar, mampu menolong seisi rumahnya, isterinya dan anak-anaknya, meningkat lagi mampu menolong sidang jemaat dalam satu kandang penggembalaan GPT Betania ini. Dan Yesus adalah pribadi yang sangat menghormati tahbisan. Dia sujud menyembah dalam segala penderitaan-Nya, Dia bagaikan ukupan wangi-wangian yang dibubuhkan di atas perbaraan api, dan Dia adalah Mezbah Dupa yang besar sesuai dengan Wahyu 8:3-4.

 

Wahyu 8:3-4

(8:3) Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. (8:4) Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.

 

Jadi kalau pemimpin sidang jemaat hidup dalam tahbisan yang suci dan benar, pemimpin semacam ini akan memimpin umat TUHAN sampai kepada puncak ibadah; Doa Penyembahan.

Jadi kalau ibadah tidak dipimpin sampai kepada tingkat ibadah yang tertinggi, percuma kita menjalankan ibadah di situ, tidak ada artinya. Yang melepaskan kita dari daya tarik bumi (magnet bumi) adalah asap dupa kemenyan. Hanya satu perkara yang mampu melepaskan kita dari daya tarik bumi (perkara-perkara di bawah) itulah doa penyembahan. Semua perkara kalau dilemparkan ke atas, termasuk pena ini akan jatuh ke bawah, kecuali asap dupa kemenyan, doa penyembahan.

 

Percayalah dari ajaran yang kita terima sampai malam ini, Yesus tampil di tengah-tengah kita sebagai Imam Besar Agung; melayani, berdoa, dan memperdamaikan dosa kita, lebih daripada itu, memimpin kita sampai kepada dua klimaks:

1.    Menjadi sidang Mempelai TUHAN.

2.    Hidup dalam doa penyembahan.

 

Dari ajaran ini kita baru sadar sekarang, kita berpikir selama ini semua ibadah itu sama saja, tidak sama saudara. Tetapi saya tidak salahkan ibadah orang lain. Yang saya katakan, kalau kita menjalankan ibadah dan pelayanan dengan menggunakan Pola Tabernakel, ibadah itu berbeda karena ibadah semacam ini buatan tangan TUHAN yang dibawa langsung oleh Yesus turun ke bumi, keluar dari kayu salib.

 

Malam ini kita sudah melihat bagaimana Musa setia dalam mengepalai Rumah TUHAN (Ibrani 3:2-3).

Ibrani 3:1-3

(3:1) Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, (3:2) yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musa pun setia dalam segenap rumah-Nya. (3:3) Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya. (3:4) Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah. (3:5) Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, (3:6) tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.

 

Musa sudah tunjukkan itu; “Sujudlah Ia” berarti memimpin sidang jemaat sampai pada tingkat ibadah yang tertinggi.

Di dalam Wahyu 8:3-4; sudah digenapi oleh Yesus Kristus.

Pada ayat 6; Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.

Peganglah apa yang sudah kita terima, bermegahlah dengan ajaran yang benar, Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel memimpin kita sampai kepada tingkat ibadah tertinggi, doa penyembahan, AMIN.

 

 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

 

Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang

 

 

No comments:

Post a Comment