KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Tuesday, March 24, 2026

IBADAH RAYA MINGGU, 15 MARET 2026

 


IBADAH RAYA MINGGU, 15 MARET 2026

 

KITAB WAHU

WAHYU 19:13

(SERI 7)

 

Subtema: BUNYI GIRING-GIRING EMAS

 

Mula pertama saya mengucapkan puji syukur dan berterima kasih kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Dialah Kepala Gereja Mempelai Pria Surga yang sangat mengasihi kita. Yang oleh karena rahmat-Nya kita sekaliannya dihimpunkan di atas gunung Tuhan yang kudus, sehingga kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian roh.

 

Dan saat ini kita ada dalam kekuasaan Tuhan, ada di dalam hadirat Tuhan, menguasai seluruh kehidupan kita pribadi lepas pribadi, sehingga kita boleh duduk diam dengan tenang saat menikmati sabda Allah. Biarlah damai sejahtera dari surga memenuhi ruangan ini dan hati kita. Baik juga saudara yang mengikuti secara online di mana pun berada. Puji Tuhan.

Selanjutnya marilah kita sambut KITAB WAHYU sebagai firman penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian Roh. Namun tetaplah berdoa dalam roh, mohonkanlah kemurahan hati Tuhan, supaya firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.

 

Wahyu 19:13.

(19:13) Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah."

 

Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah. Menunjukkan bahwa Si Penunggang Kuda Putih itu adalah Imam Besar.

 

Saudara, adapun jubah imam besar dibagi dalam 3 (tiga) hal pokok, sesuai dengan yang tertulis dalam Keluaran 28:1- 43 --- Perikop: “mengenai pakaian imam. Antara lain:

1.       Baju efod (ayat 6-14).

2.       Gamis baju efod (ayat 31-35).

3.       Kemeja beragi dari lenan halus (ayat yang 39).

 

Saudara, malam ini masih berada pada pembahasan tentang:

GAMIS BAJU EFOD (BAGIAN YANG KEENAM).

Keluaran 28:31

(28:31) Haruslah kaubuat gamis baju efod dari kain ungu tua seluruhnya.

 

Saudara, gamis baju efod berwarna ungu tua (biru langit) 🡪 kuasa kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.

 

Keluaran 28:32-34

(28:32) Lehernya haruslah di tengah-tengahnya; lehernya itu harus mempunyai pinggir sekelilingnya, buatan tukang tenun, seperti leher baju zirah haruslah lehernya itu, supaya jangan koyak. (28:33) Pada ujung gamis itu haruslah kaubuat buah delima dari kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi, pada sekeliling ujung gamis itu, dan di antaranya berselang-seling giring-giring emas, (28:34) sehingga satu giring-giring emas dan satu buah delima selalu berselang-seling, pada ujung gamis itu.

 

Dari ayat-ayat yang kita baca ini, ada 2 (dua) hal penting menyangkut gamis baju efod.

YANG PERTAMA: Menyangkut leher.

Sudah kita bahas beberapa minggu berturut-turut.

 

YANG KEDUA: Menyangkut ujung gamis.

Saudara, pada ujung gamis baju efod harus digantungkan buah delima dan giring-giring emas pada sekelilingnya. Pada sekelilingnya berselang-seling berarti; satu buah delima dan satu buah giring-giring emas.

-          Buah delima à sidang jemaat atau gereja Tuhan.

Jadi, buah delima itu bayangan dari sidang jemaat atau gereja Tuhan yang bergantung pada kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Kita harus bergantung kepada kuasa kematian dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, sehingga kita tidak lagi menaruh harap, tidak menggandol, tidak lagi bergantung kepada yang lain-lain.

-          Giring-giring emas 🡪 kehadiran Imam Besar Agung dalam setiap ibadah-ibadah

 

Saudara, penjelasan tentang buah delima telah berakhir pada minggu yang lalu. Puji Tuhan. Dan kita tentu saja sangat di berkati oleh pemberitaan tentang buah delima, yang memang harus bergantung kepada bergantung di ujung jubah imam besar.

 

Berarti sekarang kita akan melihat sisi dari: GIRING-GIRING EMAS.

Kembali kita membaca

Keluaran 28:34.

(28:34) sehingga satu giring-giring emas dan satu buah delima selalu berselang-seling, pada ujung gamis itu.

 

Selain buah delima, ada juga giring-giring digantungkan pada ujung gamis imam besar.

 

Keluaran 28:35

(28:35) Haruslah gamis itu dipakai Harun, apabila ia menyelenggarakan kebaktian, dan bunyinya harus kedengaran, apabila ia masuk ke dalam tempat kudus di hadapan TUHAN dan apabila ia keluar pula, supaya ia jangan mati.

 

Giring-giring itu ternyata dibuat dari emas. Kemudian bel atau giring-giring itu akan berbunyi atau bersuara jikalau imam besar berjalan atau kalau ada kegiatan gerakan imam besar. Jikalau imam besar berjalan, melangkah atau ada gerakan dari imam besar, giring-giring itu pasti akan berbunyi.

Bunyi giring-giring itu 🡪 kepenuhan Roh El Kudus atau bahasa lidah, disebut juga bahasa asing. Puji Tuhan.

 

Saudara, ada bahasa lidah di karbit. Mengapa ada bahasa lidah di karbit? Dipaksakan; seperti berbahasa lidah padahal bukan, karena ibadahnya dijalankan secara Taurat (tidak sungguh-sungguh). Tidak mengalami penyentuhan di dalam hatinya, sehingga ada pemaksaan di dalam bahasa lidah. Lihat gereja-gereja sekarang, dipaksa berbahasa lidah (bahasa lidah dikarbit.

Itu sebabnya saya sampaikan kepada saudara berkali-kali, mari datanglah menghadap Tuhan dengan kesungguhan di hati, supaya nanti kita bisa menerima sesuatu yang sifatnya berarti dari Tuhan, bukan sifatnya yang sementara. Hal-hal yang sejati dari Tuhan akan menjadi bagian kita. Tidak perlu dipaksa atau bentuk karbitan. Kiranya dapat dipahami dengan sungguh-sungguh ya saudaraku.

 

Bahasa lidah / bahasa asing berarti; berkata-kata kepada Tuhan, bukan kepada manusia.

Jadi, kalau dalam penyembahan itu ada disertai bahasa lidah / bahasa roh / bahasa asing, berarti; dia sedang berkata-kata, sedang berkomunikasi secara erat dengan Tuhan bukan kepada manusia.

Bahasa lidah itu bukan kepada manusia, tetapi kepada Tuhan. Jadi, bahasa lidah itu adalah “alat komunikasi” untuk berkata-kata kepada Tuhan.

 

1 Korintus 14:1-2 --- Perikop: “sekali lagi tentang karunia roh”

(14:1) Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. (14:2) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.

 

Berbahasa Roh Kudus atau berbahasa asing berarti: berkata-kata kepada Allah bukan kepada manusia.

Suasana semacam ini akan sangat mengharubirukan, sehingga menggetarkan hati Tuhan untuk hadir di tengah-tengah ibadah tersebut sebagai imam besar agung. Dengan kata lain; menikmati pelayanan Imam Besar = menikmati pelayanan grafirat-Nya, yaitu; kita boleh mengalami penyucian dan pendamaian.

 

Itu pentingnya penyembahan dengan hati yang hancur karena dikerjakan oleh Roh Allah yang suci. Itu tanda Yesus Tuhan kita hadir di tengah-tengah ibadah tersebut sebagai Imam Besar mengerjakan pekerjaan-Nya, grafirat-Nya, mengadakan penyucian, pendamaian untuk kita. Tapi, kalau ibadah asal-asal, Tuhan tidak hadir di situ atau kalau ibadah dijalankan secara Taurat, duduk-berdiri, duduk-berdiri sesuai agenda-agenda yang ada di gereja, Tuhan tidak hadir di situ. Kalau ibadahnya Taurat, Tuhan Imam Besar tidak hadir di situ, itu hanyalah ibadah seremonial. Itu menurut hemat saya.

Saya tidak salahkan ibadah orang lain. Saya hanya sedang menjelaskan pengertian yang saya dapat dari Tuhan, tidak sedang menghakimi.

 

Tetapi kalau kita dalam penyembahan disertai bahasa Roh Kudus / bahasa lidah / bahasa asing, sungguh mengharubirukan, sehingga menggetarkan hati Tuhan di Surga. Lalu tidak tertutup kemungkinan, Tuhan hadir di tengah-tengah ibadah itu sebagai Imam Besar Agung, mengadakan pekerjaan-Nya, grafirat-Nya berarti; menyucikan kita dan mendamaikan kita kepada Bapa di surga. Coba saudara bayangkan, beribadah tapi tanpa sentuhan, ibadah gitu-gitu saja, tidak nyambung / connect dengan Bapa kita di Surga? Jadi, jangan biasakan untuk menjalankan ibadah Taurat; karena hal itu tidak sanggup menggetarkan hati Tuhan di Surga.

 

Roma 8:25

(8:25) Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

 

Berarti kalau kita mengharapkan supaya kita penuh dengan Roh El Kudus, maka nantikanlah Dia dengan tekun di dalam ketekunan tiga macam ibadah pokok.

 

Roma 8:26

(8:26) Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

 

Demikian juga roh membantu kita dalam kelemahan kita. Itu kegunaan Roh Allah. Sebab, kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa. Bukan hanya berdoa, banyak hal kita tidak tahu. Tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Bapa di surga dengan segala keluhan-keluhan yang tak terucapkan, dengan segala keluhan-keluhan yang tak terkatakan.

Pada saat kapan ada keluhan-keluhan yang tak terkatakan? Pada saat seseorang mengalami beban berat, menghadapi situasi yang sulit, kesulitan yang menghimpit sampai tidak bisa lagi berkata-kata, tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Tetapi pada saat itulah Roh Tuhan berdoa untuk kita kepada Allah.

 

Roma 8:27

(8:27) Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.

 

Di ayat 26; Roh Tuhan berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan.

Di ayat 27, Allah mengetahui maksud roh itu. Jadi, saat Roh berdoa kepada Bapa, Allah mengetahui maksud Roh itu, sebab Allah menyelidiki hati nurani. Itulah peran Roh Kudus.

 

1 Korintus 14:4.

(14:4) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat.

 

Siapa yang berkata-kata dengan bahasa Roh Kudus / bahasa lidah / bahasa asing, ia sedang membangun dirinya sendiri kepada Tuhan. Mudah sekali untuk melihat orang yang sedang membangun dirinya, dilihat dari penyembahannya itu.

Jadi, sekali lagi saya sampaikan: siapa yang berbahasa Roh Kudus, siapa yang berbahasa lidah, siapa yang berdoa dengan bahasa asing (hati hancur), ia sedang membangun dirinya dengan Tuhan, menjalin hubungan yang erat dengan Tuhan.

 

Singkatnya, penyembahan yang disertai dengan bahasa roh / bahasa lidah / bahasa asing, tanda hadirnya Imam Besar di tengah-tengah ibadah ibadah tersebut.

 

Selanjutnya, marilah kita lihat “pekerjaan Imam Besar” dalam Injil Lukas pasal 22.

Lukas 22:24- 38 --- Perikop: “Percakapan waktu perjamuan malam.”

Berarti percakapan ini terjadi pada saat Tuhan menyelenggarakan kebaktian, disertai perjamuan kudus pada malam itu. Perjamuan yang terakhir. Sebetulnya itu sudah terjadi di Mesir pada saat penyembelihan korban Paskah. Itu adalah perjamuan malam yang terakhir, sehingga terjadilah kelepasan. Sebelumnya, bangsa Israel belum pernah mengadakan penyembelihan korban Paskah (bayangan dari perjamuan kudus).

Dan pada malam itu Tuhan menyelenggarakan kebaktian disertai dengan perjamuan kudus untuk yang pertama dan yang terakhir bagi murid-murid. Dulu bagi bangsa Israel di Mesir dan malam itu bagi murid-murid.

 

Lalu, apa yang terjadi pada waktu Yesus menyelenggarakan kebaktian disertai perjamuan suci?

 

Singkatnya, ayat 24-38; Yesus mengadakan kebaktian disertai dengan perjamuan kudus bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Dan di tengah-tengah murid-murid itu, Yesus tampil atau menampilkan diri-Nya sebagai Imam Besar.

Hal itu bisa dilihat dari apa yang telah Ia perbuat terhadap murid-murid-Nya, antara lain:

YANG PERTAMA: Yesus mengadakan pelayanan (ayat 24-27).

Hasil dari pelayanan Yesus sebagai imam besar: Murid-murid saling merendahkan diri antara satu dengan yang lain.

Jadi, kalau Imam Besar hadir, Dia akan mengadakan pelayanan dan hasil pelayanan itu satu dengan yang lain saling merendahkan diri. Biarlah masing-masing kita saling merendahkan diri satu dengan yang lain, tidak mengeraskan hati, tidak menyombongkan diri.

 

Contoh:

Lukas 22:25

(22:25) Yesus berkata kepada mereka: "Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung.

 

Jadi yang disebut sebagai pemimpin menurut ukuran dunia;

-          Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka.

-          Orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung.

 

Lukas 22:26-27

(22:26) Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. (22:27) Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.

 

Yang disebut sebagai pemimpin di dalam Tuhan:

-          Yang terbesar hendaklah menjadi yang paling muda.

Jadi saudara, ini harus diperhatikan dengan baik; kalau mau menjadi yang terbesar dalam satu perhimpunan di mana pun berada, hendaklah menjadi yang paling muda.

Muda di sini berarti; minim pengalaman, tidak merasa tua meski sudah banyak makan asam garam. Kadang-kadang baru memiliki pengetahuan sedikit sudah tidak mau diajar, bahkan merasa lebih hebat.

-            Pemimpin sebagai pelayan.

Jadi, yang disebut dengan pemimpin bukan saat dia tampil mengatur, memerintah, tetapi yang disebut sebagai pemimpin sejati di dalam Tuhan (dalam kerajaan surga), dia tampil sebagai pelayan. Dia sibuk melayani, sibuk mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan, itulah suatu bukti bahwa engkau pemimpin.

 

Hal itu bisa dilihat dari apa yang telah Ia perbuat terhadap murid-murid-Nya, antara lain:

YANG KEDUA: Yesus menjadi pendoa syafaat (ayat 28-34).

Dalam hal ini Yesus berdoa untuk Simon, supaya Simon dan imannya jangan gugur saat terjadi penampian (ayat 31-32). Kapan penampian besar-besaran terjadi? Yaitu tepatnya pada saat antikris menjadi raja dan memerintah atas antero dunia, itu penampian besar-besaran. Jadi penampian itu dimulai dari 3 ½ pertama dan memuncak pada tahun 3 ½ yang kedua.

 

Jadi, dari sini kita bisa melihat bahwa gereja Tuhan, anak-anak Tuhan, orang Kristen sangatlah mendambakan doa syafaat dari Imam Besar. Anak-anak Tuhan yang mendambakan doa syafaat dari Imam Besar, niscaya; dia akan sungguh-sungguh datang beribadah kepada Tuhan. Mengapa? Karena dia butuh Tuhan, Dia butuh doa Imam Besar. Seperti Tuhan Yesus mendoakan Simon, supaya Simon dan imannya jangan gugur pada saat  penampian terjadi.

 

Penampian itu sudah terjadi mulai dari sekarang, tetapi dia akan memuncak pada saat 7 tahun antikris menjadi raja.

Kalau menurut hemat saya, ini tidak tertulis di dalam Alkitab, tapi tersirat di hati, pikiran, di jiwa saya bahwa penampian itu dimulai dari tahun 2028. Siapa yang kuat menghadapi puncak pencobaan tanpa doa Imam Besar? Tidak ada satu pun yang sanggup. Jangankan puncak pencobaan, sedikit ujian di hadapan manusia saja kita sudah bersungut-sungut, ngomel setengah mati. Bagaimana dengan puncaknya pencobaan terjadi? Itu sebabnya kita tidak boleh anggap enteng lagi dalam pengikutan kita kepada Tuhan. Ibadah pelayanan ini tidak boleh diringankan, karena sejatinya kita butuh doa syafaat Imam Besar, itu yang akan menguatkan kita saat terjadi penampian nanti.

Bukan hanya Simon Petrus yang akan merasakan doa syafaat dari Imam Besar saat menghadapi penampian. Tetapi gereja Tuhan di atas muka bumi ini butuh doa syafaat dari Imam Besar. Sebab itu sungguh-sungguhlah datang dalam ketekunan tiga macam pada pokok. Sungguh-sungguhlah saat kita menghadap Tuhan dalam ibadah-ibadah yang Tuhan percayakan, karena kita butuh dalam doa syafaat-Nya.

 

Kalau kita menyadari diri sebagai orang yang tidak berdaya segeralah angkat tangan.

 

Sedikit saya lebarkan.

Lukas 22:31-32

(22:31) Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, (22:32) tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu."

 

Jadi sebelum hari H, sebelum Petrus mengalami itu, Tuhan sudah tahu dan Tuhan sudah terlebih dahulu mendoakan dia. Itu sebabnya Tuhan beritahukan dengan gamblang apa yang terjadi di kemudian hari, pada saat penampian terjadi; tidak ada yang kuat.  Tapi lihatlah gereja Simon Petrus yang sangat absurd, sangat konyol sekali.

 

Lukas 22:33

(22:33) Jawab Petrus: "Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!"

 

Inikan konyol namanya, absurd sebab Simon Petrus ini merasa kuat tanpa Tuhan (tanpa doa syafaat). Tetapi sekalipun dalam kekonyolan, Tuhan tetap menolong dia. Kalau Tuhan menolong dengan doa syafaat, maka Tuhan tetap kerjakan doa syafaat. Kalau Tuhan sudah berkata / berjanji, Tuhan tidak pernah menarik janji-Nya.

Kekuatan manusia tidak sanggup menghadapi kekuatan antikris, karena Alkitab sudah melukiskannya. Sebagaimana dalam Matius 24:21 ---  Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi.

Jadi, kita butuh doa syafaat Imam Besar Agung. Jangan pernah merasa superior seperti Simon Petrus. Jangan merasa diri bisa, mampu, kalaupun engkau memiliki, apalagi kalau tidak memiliki. Sadarilah, angkatlah dua tangan, tanda penyerahan total kepada Tuhan.

 

Hal itu bisa dilihat dari apa yang telah Ia perbuat terhadap murid-murid-Nya, antara lain:

YANG KETIGA: Yesus mengadakan pendamaian (ayat 35-38)

Lukas 22:37

(22:37) Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi." (22:38) Kata mereka: "Tuhan, ini dua pedang." Jawab-Nya: "Sudah cukup."

 

Singkat kata, Yesus harus menderita sengsara dan mati di kayu salib. Sebab, pendamaian tidak akan mungkin terwujud apabila kita menghadapi orang lain dengan membawa dua pedang. Coba kita pedang-pedangan dengan orang lain; ada damai di situ, ada pendamaian? Tidak mungkin. Itu sebabnya ketika murid-murid menawarkan dua pedang, Tuhan berkata “sudah cukup”. Kata sudah cukup itu menunjuk kepada ayat 37 -- Yesus berkata; "Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Kemudian, sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi."

Jadi, supaya kita berdamai dengan Allah dan berdamai dengan sesama, maka Yesus harus mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib.

 

Dengan menderita sengsara dan mati di kayu salib; sudah cukup sehingga terjadi pendamaian, itu sebabnya Yesus digantung. Apa arti digantung? Supaya Dia menjadi penghubung antara langit dengan bumi, antara Bapa dalam kemuliaan, dengan manusia yang hina karena dosa. Jadi, dosa tidak akan sampai kepada kemuliaan tanpa ada pendamaian. Tanpa pekerjaan grafirat-Nya tidak mungkin ada penyucian dan pendamaian. Jadi, Yesuslah yang menjadi korban maka terjadilah pendamaian.

 

Ayo sungguh-sungguh datang menghadap Tuhan, jangan sekedar tersungkur. Dengan hati yang tulus ucapkan saja nanti dalam penyembahanmu; haleluya. Mungkin kita tidak pandai berdoa, cukup katakan; haleluya. Nanti dengan hati yang hancur, Roh Tuhan membawa semua keluhan yang tak terkatakan. Tuhan melihat hati nurani, Tuhan melihat apa yang sedang terjadi, Tuhan melihat apa yang sedang kita alami sekarang ini.

 

Itulah bunyi giring giring emas pada ujung jubah imam besar. Kalau tidak ada suara itu, maka ia mati, pelayanannya mati. Ada ibadah pelayanan nampaknya hidup padahal mati seperti sidang jemaat di Sardis.

 

Wahyu 3:1

(3:1) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!

 

Jangan kita mengalami seperti yang dialami oleh jemaat di Sardis. Nampak hebat-hebat saat memuji Tuhan, loncat sana, loncat sini supaya nampak rohani. Tetapi saat dengar firman; melempem / mati. Kerohanian itu bukan diukur saat loncat-loncat, tetapi diukur oleh firman. Yesus menjadi manusia = firman menjadi daging.

 

Jadi, kita sangat membutuhkan kehadiran Imam Besar di tengah-tengah ibadah, karena;

-       Kita butuh Imam Besar dalam pelayanan-Nya supaya kita menjadi rendah hati.

-       Kita butuh Imam Besar dalam doa syafaat-Nya karena kita tidak mampu menghadapi masa-masa penampian.

-       Kita butuh imam besar yang sedang mengadakan pendamaian. Karena kita tidak bisa berdamai dengan Allah dan sesama tanpa korban Kristus.

Jadi itu harus kita sadari. Jangan pernah merasa diri bisa. Kalau kita butuh Imam Besar, berarti buktikanlah dengan kesungguhanmu datang menghadap Tuhan dalam setiap pertemuan-pertemuan ibadah. Ibadah ini sudah menjadi satu kebutuhan pokok.

 

Kita kembali membaca…

1 Korintus 14:4

(14:4) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat.

 

Menyembah dalam bahasa lidah jatuh pada 1 Korintus 14:4 berarti kita menemukan angka 144. Mari kita lihat penyembahan dalam bahasa lidah di Wahyu 14: 4.

 

Terlebih dahulu kita membaca ayat 1…

Wahyu 14:1

(14:1) Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.

 

Di ayat 1 tampilnya gunung Sion. Itulah inti mempelai, jumlahnya 144.000. Di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya, menunjukkan bahwa mereka adalah mempelai Tuhan.  Itulah 144; menyembah dalam bahasa lidah, jatuh di 1 Korintus 14:4. Nah, kita lihat; ada tidak penyembahan dalam bahasa lidah 144.000 ini?

 

Wahyu 14:2-3

(14:2) Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. (14:3) Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu.

 

Singkat kata, di ayat 2 dan ayat 3 nampaklah penyembahan disertai dengan bahasa lidah. Apa bahasa lidah? Bahasa yang tak terkatakan, tidak bisa diucapkan, tidak dapat dipahami oleh siapapun, kecuali orang yang menyembah itu dengan Tuhan. Kecuali 144.000 orang yang sedang menjalin hubungan dengan Tuhan.

Jadi ayat 2 dan ayat 3 ini berbicara soal penyembahan disertai bahasa Roh Kudus / bahasa lidah / bahasa asing. Berarti di sini ada hubungan yang terjalin antara inti mempelai dengan Mempelai Laki-Laki. Tubuh dengan kepala terhubung dalam penyembahan disertai bahasa lidah / bahasa roh / bahasa asing.

 

Maka di ayat 4….

Wahyu 14:4

(14:4) Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.

 

Jadi mereka itu adalah…

-          Orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan.

Ada dua perempuan dalam Wahyu.

1.       Perempuan Izebel à nabi-nabi palsu.

2.       Perempuan Babel à kepada kenajisan, percabulan, dan kekejian, itulah antikris.

Jadi dua ajaran ini ditolak, dia tidak mau mencemarkan diri dengan dua ajaran ini. Mengapa? Karena mereka murni sama seperti perawan. Kalau murni seperti perawan, berarti; sucinya itu di atas suci.

-          Mereka adalah adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi.

Berarti tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan. Bersikap laki-laki. Ya di atas ya, tidak di atas tidak.

-          Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi anak domba.

Jadi dari penebusan ini dibawa sampai kepada imam-imam dan raja raja bagi Allah, menjadi imam dan raja-raja = anak sulung.

 

Inilah kehidupan yang nampak dengan jelas bahwa ia telah membangun hidupnya dengan Tuhan. Haleluya. Puji Tuhan.

 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

Pemberita Firman oleh;

Pdt. Daniel U. Sitohang

No comments:

Post a Comment