KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Sunday, May 31, 2020

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 28 MEI 2020


IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 28 MEI 2020


KITAB RUT
(Seri: 94)

Subtema: FIRMAN ALLAH MENJADI KESUKAAN & KESENANGAN

Shalom.
Pertama-tama saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan; oleh karena rahmat-Nya dan kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita, sehingga kita boleh berada di tengah perhimpunan Ibadah Pendalaman Alkitab yang disertai dengan perjamuan suci.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, hamba-hamba Tuhan yang sedang mengikuti pemberitaan firman Tuhan lewat live streaming video internet Youtube, Facebook di mana pun anda berada.
Selanjutnya, mari kita mohon kemurahan dari hati TUHAN, supaya kiranya TUHAN membukakan Firman-Nya bagi kita, TUHAN membukakan Firman yang indah-indah supaya kehidupan kita ini indah di hadapan TUHAN.

Segera saja kita menyambut Firman Penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab disertai perjamuan suci dari KITAB RUT, secara khusus Rut 2, dan kita akan segera memasuki ayat 21, namun kita terlebih dahulu memperhatikan ayat 20.
Rut 2:20
(2:20) Sesudah itu berkatalah Naomi kepada menantunya: "Diberkatilah kiranya orang itu oleh TUHAN yang rela mengaruniakan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang hidup dan yang mati." Lagi kata Naomi kepadanya: "Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita."

Kata Naomi kepada Rut, menantunya: "Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita."
Dalam hal ini, Naomi memperkenalkan Boas kepada Rut, menantunya itu, sebagai kerabat atau sebagai saudara yang terdekat. Berarti, Boas adalah pribadi yang wajib menebus Naomi dan Rut, menantunya itu, sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku di Israel, di mana hal itu ditulis dalam Imamat 21:24-25.
Boas rohani, itulah pribadi TUHAN Yesus Kristus; yang telah datang ke dunia, bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dengan kata lain; memberikan nyawa-Nya, mencurahkan darah-Nya menjadi tebusan bagi orang-orang yang terjual kepada maut. Hal itu tertulis dalam Injil Matius 20:28.

Pendeknya: Naomi adalah gambaran dari seorang ibu yang baik.

CONTOH LAIN sebagai gambaran dari seorang ibu yang baik dalam Perjanjian Baru.
1 Tesalonika 2:4-6
(2:4) Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita. (2:5) Karena kami tidak pernah bermulut manis -- hal itu kamu ketahui -- dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi -- Allah adalah saksi -- (2:6) juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.

Rasul Paulus dianggap layak oleh Allah, sehingga kepadanya dipercayakan berita Injil untuk disampaikan kepada sidang jemaat.
Kalau saat ini kita dipercayakan untuk menikmati ibadah, sekaligus dipercayakan untuk menikmati Firman yang disampaikan di tengah-tengahnya, hal itu menunjukkan bahwa TUHAN menganggap kita layak untuk itu (dianggap layak oleh Allah).

Bukti Rasul Paulus dianggap layak oleh Allah: Rasul Paulus memberitakan Injil bukan untuk menyukakan hati manusia, melainkan menyukakan hati Allah, sebab Allah sangat mengenal setiap hati dari hamba-hamba TUHAN yang menyampaikan berita Injil, juga Allah sangat mengenal setiap hati dari sidang jemaat yang mendengar Firman TUHAN.

Fakta dalam pemberitaan Injil:
YANG PERTAMA: “Tidak pernah bermulut manis.”
Hal ini menunjukkan bahwa Rasul Paulus adalah seorang hamba TUHAN yang tegas, berarti di dalam memberitakan Injil, ia tidak menggunakan perasaan manusia daging. Baik atau tidak baik waktunya, Firman Allah tetap diberitakan; tidak melihat situasi dan tidak melihat kondisi.

YANG KEDUA: “Tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi.”
Hal ini menunjukkan bahwa Rasul Paulus melayani TUHAN dengan hati yang tulus dan murni, tidak ada kepentingan-kepentingan lain di dalamnya.

Dan yang menjadi saksi untuk dua hal (perkara) di atas -- yaitu tidak pernah bermulut manis dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi -- adalah;
1.     Sidang jemaat di Tesalonika sendiri.
2.     Allah di sorga.
Jadi, Rasul Paulus memberikan dirinya untuk dipertimbangkan oleh sidang jemaat di Tesalonika. Dan ia juga tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi, berarti Allah sendiri yang menjadi saksi. Allah yang tidak kelihatan itu menjadi saksi, bahwa Rasul Paulus tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi, tidak bermain belakang.
Kalau hal (perkara) “Tidak pernah bermulut manis”, mata sidang jemaat di Tesalonika bisa dikelabui dengan doa yang panjang-panjang, tetapi untuk hal (perkara) “Tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi”, yang menjadi saksi adalah Allah yang di sorga, Allah yang tidak kelihatan.

YANG KETIGA: “Tidak pernah mencari pujian dari manusia.
Hal ini menunjukkan bahwa Rasul Paulus melayani pemberitaan Injil dengan segala kerendahan hati. Baiknya, seorang pelayan TUHAN, teramat lebih gembala sidang (pemimpin rumah TUHAN) harus melayani TUHAN dengan segala kerendahan hati. Kalau seorang hamba TUHAN mempunyai sikap dan kepribadian semacam ini, maka tentu sidang jemaat sudah seharusnya mengucap syukur dan berterima kasih setinggi-tingginya kepada TUHAN, karena hal itu layak untuk diteladani.

Pendeknya: Naomi adalah seorang ibu yang baik karena ia memberi teladan kepada Rut, menantunya itu.

1 Tesalonika 2:7
(2:7) Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.

Rasul Paulus berlaku ramah terhadap sidang jemaat di Tesalonika, sama seperti seorang ibu.
Ibu à seorang gembala sidang atau pemimpin rumah TUHAN. Tugasnya ialah mengasuh dan merawati sidang jemaat, sebagai anak-anak rohani.

“Mengasuh”, artinya; memberi didikan yang baik dan benar, yaitu teguran dan hajaran, sesuai dengan Ibrani 12:5-7. Tujuannya adalah supaya sidang jemaat sebagai anak-anak rohani semakin hari semakin dewasa secara rohani, sampai akhirnya memperoleh pengetahuan yang benar tentang Anak Allah.

“Merawat”, artinya; memulihkan dan menyembuhkan segala sakit dan penyakit, teramat lebih luka-luka pada batin kita masing-masing. Pekerjaan semacam ini tidak boleh dianggap enteng dan tidak boleh dipandang dengan sebelah mata, sebab luka pada tubuh cukup dan dapat diobati (dirawat) oleh tenaga medis, maka pasti sembuh, tetapi luka-luka pada batin atau luka-luka di hati manusia dibutuhkan perawatan yang serius dan penanganan yang penuh dengan kesabaran dari seorang hamba TUHAN. Karena sakit di hati lebih susah diobati dari pada sakit pada bagian-bagian tubuh mana pun.
Luka batin atau sakit rohani, seperti kebencian yang mendalam, terjadi akar pahit, penuh dengan dendam -- keinginan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan --, atau sakit hati terhadap seseorang; ini adalah luka yang sangat serius, yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Maka, penyakit rohani semacam ini harus ditangani dengan seksama, harus ditangani dengan serius dan penuh kesabaran dari seorang hamba TUHAN, dirawat oleh seorang ibu yang adalah gambaran dari seorang gembala sidang.
Luka-luka batin -- seperti dendam, kebencian yang mendalam atau sakit hati, termasuk akar pahit -- tidak dapat dipulihkan dengan kemampuan manusia atau tenaga medis, kecuali oleh kasih Allah yang heran. Maka, sidang jemaat sebagai anak-anak rohani, sudah seharusnya memiliki kerendahan hati dan dengan hati yang terbuka untuk dapat melihat betapa baiknya TUHAN kepada kita, di mana Dia tampil sebagai tabib, Dia tampil sebagai penyembuh yang ajaib, yang berkuasa untuk memulihkan segala luka-luka di batin.

1 Tesalonika 2:8-10
(2:8) Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. (2:9) Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. (2:10) Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya.

Rasul Paulus telah meneladani pribadi Yesus Kristus di dalam hal mengasihi sidang jemaat di Tesalonika; sebab ia bukan saja rela memberitakan (membagi) Injil, tetapi juga rela menyerahkan hidupnya kepada sidang jemaat di Tesalonika. Rasul Paulus bekerja siang malam dengan usaha dan jerih lelahnya nyata terhadap sidang jemaat di Tesalonika di dalam memberitakan Injil Allah.

1 Tesalonika 2:11-12
(2:11) Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, (2:12) dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.

Dalam kesempatan yang lain, Rasul Paulus tampil sebagai “bapa” yang baik terhadap sidang jemaat di Tesalonika. Kedudukan Rasul Paulus sebagai bapa ialah ia menguatkan hati sidang jemaat di Tesalonika dengan nasihat-nasihat Firman Allah.
Tujuannya adalah supaya sidang jemaat di Tesalonika mau menghargai panggilan Allah (panggilan kudus), yaitu supaya mereka hidup sesuai dengan kehendak Allah. Berarti, melakukan segala sesuatu tepat seperti apa yang kita dengar dan apa yang kita lihat dari Allah, itulah yang kita perbuat di hadapan TUHAN. Jadi, berbuat tidak sesuai kehendak manusia, tetapi berbuat dan melakukan segala sesuatu tepat seperti apa yang kita lihat, tepat seperti apa yang kita dengar dari TUHAN di hadapan-Nya; itulah yang kita lakukan. 

Kita harus mengakui kedudukan Rasul Paulus sebagai bapa yang baik terhadap sidang jemaat di Tesalonika. Dan dengan nasihat-nasihat Firman-Nya, sehingga membuat sidang jemaat di Tesalonika melakukan kehendak Allah. Berarti, melakukan segala sesuatu tepat seperti apa yang sudah kita lihat dan apa yang kita dengar dari TUHAN; itulah yang kita lakukan di hadapan TUHAN.

Singkatnya: Berbahagialah seorang anak, yakni sidang jemaat, jikalau gembala sidang berada pada kedudukannya sebagai seorang “ibu” yang baik dan sebagai seorang “bapa” yang baik.
Tetapi sekali lagi saya sampaikan dengan tandas; sebagai anak-anak rohani dari seorang gembala sidang, sidang jemaat harus terlebih dahulu memiliki kerendahan hati dan dengan hati yang terbuka untuk melihat kebaikan dan kemurahan hati TUHAN, karena TUHAN telah mengirim seorang hamba TUHAN, seorang gembala sidang, sebagai seorang ibu rohani yang senantiasa mengasuh dan merawati sidang jemaat, sebagai anak-anak rohaninya.

Sekarang kita kembali memperhatikan Rut 2:20-21.
Rut 2:20-21
(2:20) Sesudah itu berkatalah Naomi kepada menantunya: "Diberkatilah kiranya orang itu oleh TUHAN yang rela mengaruniakan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang hidup dan yang mati." Lagi kata Naomi kepadanya: "Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita." (2:21) Lalu kata Rut, perempuan Moab itu: "Lagipula ia berkata kepadaku: Tetaplah dekat pengerja-pengerjaku sampai mereka menyelesaikan seluruh penyabitan ladangku."

Setelah mendengarkan penjelasan dari Naomi, mertuanya itu, lalu kata Rut: “Lagipula ia berkata kepadaku: Tetaplah dekat pengerja-pengerjaku sampai mereka menyelesaikan seluruh penyabitan ladangku”.
Arti perkataan Rut ini ialah jikalau seorang gembala sidang berada pada kedudukannya sebagai seorang “ibu” yang baik dan sebagai seorang “bapa” yang baik, maka sidang jemaat, sebagai anak-anak rohani, akan teringat kembali dengan segala perkataan Firman Allah. Jadi, kalau sidang jemaat senantiasa merenungkan Firman TUHAN siang dan malam, memamah biak kembali Firman TUHAN, itu ada kaitannya dengan kedudukan dari seorang gembala sidang sebagai seorang ibu dan sebagai seorang bapa yang baik.

Kembali saya sampaikan, bahwa; sesudah Naomi menyatakan hal itu -- yang tertulis pada ayat 20 --, akhirnya Rut mengingat kembali perkataan Boas.

Rut 2:8
(2:8) Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: "Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerjaku perempuan.

Perhatikan apa yang dinyatakan Boas kepada Rut: “ … Tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerjaku perempuan.

Pendeknya, Rut teringat kembali dengan Boas dan dengan segala apa yang pernah Boas katakan kepada Rut. Hal ini terkait dengan kedudukan dari seorang “ibu” yang baik dan sebagai seorang “bapa” yang baik.
Jadi, kalau gembala sidang (pemimpin rumah TUHAN) betul-betul bertanggung jawab terhadap sidang jemaat di hadapan TUHAN, maka otomatis, sidang jemaat -- sebagai anak-anak rohani -- akan terus teringat dengan Firman TUHAN yang pernah disampaikannya. Sebaliknya, kalau sidang jemaat tidak suka dengan gembala sidang, maka tentu dia tidak suka dengan Firman TUHAN, sebab bagaimana mungkin sidang jemaat suka dengan Firman TUHAN sementara ia sendiri tidak suka dengan gembala sidang.

Oleh sebab itu, saya juga butuh dukungan doa, baik dari isteri saya, baik juga dukungan doa dari sidang jemaat, supaya saya, sebagai hamba TUHAN, yang sudah menerima jabatan gembala (pemimpin rumah TUHAN), betul-betul bertanggung jawab terhadap sidang jemaat yang TUHAN percayakan. Hubungan timbal baliknya adalah supaya sidang jemaat terus memamah biak Firman TUHAN, terus mengingat Firman TUHAN yang telah disampaikan dan yang sedang disampaikan malam ini.

Kita akan melihat bagaimana NABI YEREMIA dalam keadaan pergumulan yang hebat, di mana tidak ada seorang pun yang menghibur dia, selain Firman TUHAN Yesus Kristus.
Yeremia 15:16
(15:16) Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.

Perhatikan perkataan nabi Yeremia: “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya …
Malam ini, oleh karena kemurahan TUHAN, kita telah bertemu dengan Firman TUHAN yang disampaikan lewat Ibadah Pendalaman Alkitab yang disertai dengan perjamuan suci; kiranya kita betul-betul menikmatinya.

Tanda apabila sidang jemaat menikmati Firman Allah adalah Firman TUHAN menjadi kegirangan dan menjadi kesukaan di hati kita, melebihi kesukaan-kesukaan dari orang-orang dunia di luaran sana. Kesukaan mereka tidak kekal, kegirangan orang-orang yang di luar TUHAN tidak kekal, sifatnya sementara; habis uang yang memberi kegirangan, habis kesukaan; habis harta, habis kesukaan; habis yang ada ini, habis kesukaan; menunjukkan bahwa kesukaan yang berasal dari dunia sifatnya tidak kekal, tetapi perkataan Firman Allah kekal sampai selama-lamanya, termasuk kesukaan yang bersumber (berasal) dari Firman Allah.

Hal ini menjadi pengalaman dari nabi Yeremia di tengah-tengah ia mengalami suatu penderitaan oleh karena pergumulan-pergumulan yang hebat yang dialaminya pada waktu itu. Tidak ada lagi seorang pun yang menghibur dia, tidak ada lagi yang memberi kesukaan bagi dia, kecuali perkataan-perkataan Firman TUHAN.
-       Barangkali saat kita sedang dalam pergumulan yang berat.
-       Atau mungkin juga dalam keadaan sakit berat dan tidak ada lagi dokter yang dapat menyembuhkan sakit yang kita derita, termasuk luka di batin.
-       Atau mungkin tidak ada seorang pun yang dapat memahami kita, tidak ada seorang pun yang dapat mengerti keadaan kita dan kesusahan kita.
Tetapi ingat; Firman Allah menjadi kesukaan bagi nabi Yeremia manakala dia mengalami pergumulan-pergumulan yang begitu berat. Mungkin bagi manusia adalah hal yang mustahil untuk menyelesaikan pergumulan yang berat, tetapi tidak ada yang mustahil bagi Firman Allah; itulah yang menjadi kesukaan bagi kita masing-masing.
Singkatnya: Firman Allah menjadi kesukaan, sebab Firman Allah sanggup menjawab segala derita dan pergumulan-pergumulan yang sedang kita alami saat ini.

Saya memahami betul, bagaimana sidang jemaat pemuda remaja yang datang dari berbagai-bagai tempat, yang sudah meninggalkan kampung halamannya, yang sudah meninggalkan harta benda di kampung halamannya, yang sudah meninggalkan orang-orang yang terkasih dalam hidupnya -- teristimewa kedua orang tua, adik dan kakaknya --, atau mungkin pemuda remaja yang datang ke tempat ini sedang mengalami pergumulan berat, dihimpit oleh permasalahan yang besar, kondisi keuangan merosot oleh karena wabah Corona yang sedang terjadi saat ini, tetapi ingat; Firman Allah yang menjadi kesukaan bagi kita malam ini, Dia mengerti pergumulan kita masing-masing, Dia tahu keadaan kita masing-masing.
Mungkin kita, sebagai orang tua, merasa bahwa anak-anak sudah tidak peduli lagi dengan orang tua, atau mungkin sebaliknya, anak-anak merasa bahwa orang tuanya tidak peduli lagi terhadap dia, atau mungkin di tempat pekerjaan sepertinya kita dikecilkan dan direndahkan, tetapi Firman TUHAN menjadi jawaban, Firman TUHAN menjadi kesukaan di dalam hati kita masing-masing.

Lebih jauh kita melihat bagaimana Firman Allah menjadi kesukaan dalam kehidupan kita masing-masing.
Amsal 8:23-26
(8:23) Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada (8:24) Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air. (8:25) Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu dari pada bukit-bukit aku telah lahir; (8:26) sebelum Ia membuat bumi dengan padang-padangnya atau debu dataran yang pertama.

Singkatnya, Firman Allah sudah ada sebelum langit dan bumi dan segala isinya ada. Sebelum segala sesuatu yang ada ini dibentuk, Firman Allah sudah terlebih dahulu ada. Maka, hal ini sinkron atau sesuai dengan Injil Yohanes 1:1-2, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

Amsal 8:27-29
(8:27) Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya, (8:28) ketika Ia menetapkan awan-awan di atas, dan mata air samudera raya meluap dengan deras, (8:29) ketika Ia menentukan batas kepada laut, supaya air jangan melanggar titah-Nya, dan ketika Ia menetapkan dasar-dasar bumi,

Firman Allah ajaib dan heran, sebab Firman Allah itu berkuasa untuk:
1.     Mempersiapkan langit.
2.     Menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya.
3.     Menetapkan awan-awan di atas.
4.     Menetapkan dasar-dasar bumi.
5.   Menentukan batas kepada laut, supaya kita jangan melanggar dosa, terkhusus kenajisan dari lautan dunia ini.

Mari kita melihat hal yang senada di dalam surat yang dikirim oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma.
Roma 4:17
(4:17) seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.

Tadi kita sudah melihat; Allah menciptakan atau menjadikan langit dan bumi dan segala isinya dengan Firman Allah. Demikian juga di dalam ayat ini kita melihat; Allah yang menghidupkan orang mati. Apa buktinya? Oleh karena kemurahan hati TUHAN, kita boleh berada di tengah-tengah kegiatan Roh atau di tengah-tengah ibadah dan pelayanan ini.

Roma 8:10-11
(8:10) Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. (8:11) Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu

Jika Roh Allah diam di dalam kita, maka akan menghidupkan tubuh yang fana, menghidupkan tubuh yang akan binasa ini oleh Roh TUHAN yang diam di dalam kita.
Tubuh (daging) ini mati, tetapi Roh yang memberi hidup. Kalau seseorang hidup menurut daging, maka ia akan memikirkan hal-hal yang dari daging, sama dengan; mati. Tetapi kalau kita hidup oleh Roh, maka kita akan memikirkan perkara-perkara rohani -- itulah ibadah pelayanan atau disebut juga kegiatan Roh --, sama dengan; Roh Allah menghidupkan.

Roma 8:13
(8:13) Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

Oleh Roh itu, kita akan mematikan perbuatan-perbuatan daging, dengan demikian kita hidup dalam kebenaran.

Roma 8:15
(8:15) Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"

Dan oleh Roh Tuhan, maka akan nyata dua hal dalam kehidupan kita:
1.      Kita tidak lagi menjadi takut, sama dengan; bebas dari perhambaan dosa.
2.   Kita akan berseru: “Ya Abba, ya Bapa!”, sama dengan; kita akan senantiasa berseru kepada TUHAN, sebagai Bapa yang memelihara anak-anak-Nya.

Perlu untuk diketahui:
Yang Pertama: Bapa yang baik tidak akan memberikan “batu”, jikalau anak-anaknya meminta “roti.”
-          Batu à hukum Taurat. Kelemahannya; kejahatan dibalas dengan kejahatan.
-      Roti à Firman kasih karunia, sehingga kita dibenarkan oleh karena kasih karunia, dibenarkan oleh darah salib.
Yang Kedua: Bapa yang baik tidak akan memberikan “ular”, jika anak-anaknya meminta “ikan.”
-         Ular à Iblis atau Setan dengan segala tipu dayanya.
-       Ikan à Roh Kudus yang akan mengajar kita dalam seluruh kebenaran dan ajaran-Nya itu benar, tidak dusta.

Jadi, nyata sekali, bahwa; Allah yang menghidupkan orang mati. Dengan bukti; oleh karena kemurahan hati TUHAN, kita boleh berada di tengah-tengah kegiatan Roh, di tengah-tengah ibadah dan pelayanan ini.

Kita kembali membaca Roma 4:17.
Roma 4:17
(4:17) seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.

Perhatikan kalimat: “ … Dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.” Intinya, Firman Allah sanggup mengadakan yang tidak ada menjadi ada.

Singkatnya: Jika terjadi pembukaan rahasia Firman Allah, maka segala pintu-pintu yang tertutup akan terbuka, tidak ada yang mustahil bagi TUHAN. Bagi manusia mungkin mustahil, tetapi bagi Firman Allah tidak ada yang mustahil. Itu sebabnya, jikalau terjadi pembukaan rahasia Firman TUHAN, maka segala pintu-pintu yang tertutup akan terbuka. Tidak ada yang sulit, jikalau terjadi pembukaan rahasia Firman Allah, sebab pintu-pintu yang tertutup akan terbuka.
Inilah pokok doa yang terutama, bagi kita, sidang jemaat GPT “BETANIA”, supaya kita terus (jangan henti-hentinya) berdoa untuk pembukaan Firman Allah, supaya segala pintu-pintu yang tertutup akan terbuka, sebab tidak ada yang mustahil bagi orang-orang yang percaya terhadap pembukaan Firman TUHAN.

Lihat, di mana kemustahilan yang terjadi akan memuncak.
2 Korintus 4:3-4
(4:3) Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, (4:4) yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.

Cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, itulah Firman Pengajaran yang rahasianya dibukakan, berkuasa untuk:
1.     Menyingkapkan segala yang terselubung, sama dengan; dosa dibongkar dengan tuntas.
2.  Memberi pengertian kepada orang bodoh, dengan tujuan supaya tidak mengulangi dosa (kesalahan) sebagai perbuatan bodoh.
Hal ini ditulis dalam Mazmur 119:130.

Pendeknya: Jikalau terjadi pembukaan rahasia Firman TUHAN, maka puncaknya adalah segambar dan serupa dengan Allah, dengan kata lain; sama mulia dengan Allah. Inilah kuasa dari pembukaan rahasia Firman Allah; yang tidak ada menjadi ada.

2 Korintus 4:5
(4:5) Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.

Itu sebabnya Rasul Paulus tidak memberitakan Firman yang ditambahkan dan dikurangkan, tetapi dia murni memberitakan Cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, supaya segala pintu-pintu yang tertutup akan terbuka, sampai puncaknya segambar serupa dengan Allah. Tetapi kalau menyampaikan Firman yang ditambahkan dan dikurangkan, itu tidak berkuasa membawa kita memuncak sampai segambar serupa dengan Allah, dengan lain kata; tidak terjadi keajaiban-keajaiban.

Kita kembali membaca Amsal 8.
Amsal 8:30-31
(8:30) aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya; (8:31) aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.

Perhatikan kalimat: “Aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan … ” Arti rohaninya adalah Allah menciptakan segala sesuatu -- langit dan bumi dan segala isinya -- lewat kuasa Firman Allah. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah.

Kemudian, kalimat berikutnya yang harus kita perhatikan: “ … Setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya …” Artinya, Firman Allah menjadi kesenangan. Mengapa Firman Allah menjadi kesenangan? Sebab Firman Allah sanggup menjawab segala pergumulan-pergumulan hidup, Firman Allah sanggup mengerti keberadaan kita, dan Firman Allah menjadi solusi hidup, memberi jalan keluar dari persoalan yang sedang kita hadapi.
Manusia atau orang-orang terdekat mungkin tidak mengerti keberadaan kita yang dalam keadaan susah, dalam keadaan sulit, dalam keadaan sedang menghadapi masalah berat, atau mungkin dalam keadaan mengalami penyakit berat, mengalami persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh manusia, tetapi bagi Firman Allah tidak ada yang mustahil. Segala persoalan sesulit, serunyam, seruwet benang kusut, semua persoalan-persoalan itu bisa TUHAN uraikan dengan tuntas, sehingga setiap hari Firman Allah menjadi kesenangan bagi kita sekaliannya, melebihi kesenangan-kesenangan orang-orang dunia yang hidup secara manusiawi.

Firman TUHAN menjadi kesenangan karena Firman TUHAN mengerti hidup kita; Firman TUHAN sanggup menjawab persoalan hidup kita; Firman TUHAN mengerti keberadaan kita; Firman TUHAN sanggup mengobati, memulihkan luka-luka di batin, mengerti keadaan kita, sanggup menyembuhkan sakit penyakit kronis sekalipun, bahkan yang sudah dianggap manusia mustahil untuk sembuh, tetapi bagi Firman TUHAN Yesus Kristus tidak ada yang mustahil, sehingga dengan demikian, secara otomatis Firman Allah menjadi kesenangan bagi kita sekaliannya.
Oleh sebab itu, saat kita mendengar Firman TUHAN, jangan kita menganggapnya dengan biasa-biasa, tetapi perhatikanlah cara kamu mendengar Firman TUHAN. Jangan kita mendengar dengan cara ngantuk; jangan kita mendengar Firman TUHAN dengan cara acuh tak acuh; jangan kita mendengar Firman TUHAN dengan menganggap rendah Firman TUHAN.
Ingat: Firman TUHAN sanggup memulihkan segala sesuatu sampai pada akhirnya Firman itu menjadi kesenangan bagi kita, melebihi kesenangan orang-orang dunia.

Kemudian, di sini juga dikatakan: “ … Senantiasa bermain-main di hadapan-Nya …” Haleluya … Puji TUHAN.
Kalau kita mengingat kembali Firman TUHAN yang pernah disampaikan dan yang kita dengarkan, maka firman itu seakan-akan bermain-main bersama dengan kita; firman itu seakan-akan menari-nari di depan kita masing-masing.
Sekali lagi saya sampaikan: Kalau kita ingat kembali Firman TUHAN, kalau kita berjumpa dengan Allah, maka Firman itu;
-       Seakan-akan bermain-main bersama dengan kita.
-       Seakan-akan menari-nari di depan kita semua.
Mengapa saya mengatakan demikian? Tepat seperti Amsal 17:17, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”, sehingga kalau kita berjumpa kembali dengan Firman-Nya, Dia seakan-akan bermain-main bersama dengan kita, seakan-akan menari-nari di hadapan kita, berarti menjadi suatu penghiburan dalam kehidupan kita masing-masing.
Tidak ada yang dapat mengerti keadaan kita, kecuali Firman TUHAN Yesus Kristus, Dia sudah ada sebelum langit dan bumi ada, Dia yang menentukan segala sesuatu yang ada, Dia menetapkan, Dia segala-galanya, Dia mengerti keadaan kita. Orang lain mungkin tidak suka dengan keberadaan kita, tetapi Firman Allah memberi jalan keluar, bahkan bermain-main bersama dengan kita dan seakan-akan menari-nari di hadapan kita, sehingga menjadi suatu penghiburan bagi kita, sebab Firman-Nya sudah menjadi jawaban dan mengerti keadaan kita.

Kita bersyukur dengan kelimpahan kasih karunia lewat pembukaan Firman-Nya, Dia bermain-main dengan kita setiap saat setiap waktu, seakan-akan menari-nari di hadapan kita untuk memberi penghiburan melalui jalan keluar yang Dia berikan kepada kita. Mungkin sulit untuk menyelesaikan masalah, tetapi Firman-Nya dapat menyelesaikan masalah kita, seakan-akan bermain-main bersama kita dan menari-nari di hadapan kita.
Sangat sulit rasanya untuk mengadakan suatu ibadah yang sebebas-bebasnya di tanah Provinsi Banten ini, tetapi kalau kita penuh dengan Firman Allah, maka Dia akan membukakan segala pintu, sehingga segala masalah terselesaikan, bagaikan bermain-main bersama kita dan seakan-akan menari-nari di depan mata kita.

Demikianlah Firman Allah senantiasa bermain-main di hadapan kita dan seakan-akan menari-nari di depan mata kita sebagai penghiburan, sebab Firman Allah sudah menjadi jawaban, sudah menjadi solusi, sudah menyembuhkan sakit kita baik lahir maupun batin.

Siapakah yang mendapatkan penghiburan dari Firman Allah ini? Siapakah yang bermain-main dan menari-nari dengan Firman Allah ini?
Amsal 8:31
(8:31) aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.

Anak-anak manusia menjadi kesenanganku.” Jelas, tanpa ragu saya mengatakan, bahwa “anak-anak manusia” menunjuk kepada orang-orang yang senantiasa menyangkal dirinya dan memikul salibnya. Inilah orang-orang yang senantiasa mendapatkan penghiburan dari Firman Allah, di mana tadi Firman Allah itu bermain-main dan menari-nari di depan mata kita masing-masing.
Demikian juga Anak Manusia datang ke dunia bukan dilayani, tetapi untuk melayani, bahkan menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan dosa manusia.

Oleh sebab itu, biarlah kita senantiasa sungguh-sungguh menaruh harap kepada kemurahan hati TUHAN lewat pembukaan demi pembukaan yang disampaikan. Ingat selalu pembukaan Firman TUHAN.
Memang itu ada kaitannya dengan seorang ibu yang baik atau gembala sidang yang baik, yang bertanggung jawab terhadap sidang jemaat, sebagai anak-anak rohani.

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak”Ibrani 12:5-7.

Kisah Para Rasul 20:35
(20:35) Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."

Kalau kita ingat perkataan TUHAN Yesus Kristus, maka kita akan berbahagia dan diberkati, sebab di sini dikatakan: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Dalam ejaan lama dituliskan: Terlebih berkat memberi dari pada menerima.
Jadi, berbahagialah orang yang mengingat Firman TUHAN dan diberkatilah orang yang senantiasa mengingat perkataan TUHAN Yesus Kristus. Dialah Gembala Agung yang sudah menggembalakan kita dengan baik dan benar, sehingga kita tidak kekurangan, baik secara jasmani maupun secara rohani, sebab Yesus TUHAN adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku.
-       Secara jasmani; apa yang kita makan, minum, pakai dicukupkan.
-    Secara rohani; TUHAN telah mengambil aib kita. Dan oleh kasih-Nya yang besar, TUHAN menutup segala kekurangan-kekurangan kita semua.

Yesaya 55:11
(55:11) demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Firman TUHAN yang keluar dari mulut Allah tidak akan kembali kepada Allah dengan sia-sia. Demikian juga, Firman Allah yang diperdengarkan malam ini, tidak akan sia-sia. Sebaliknya;
1.     Firman Allah itu akan melaksanakan apa yang Allah kehendaki.
2.     Firman Allah itu akan berhasil dalam apa yang Allah suruhkan kepadanya.

Kita melakukan kehendak Allah Bapa, maka kita akan berhasil, sebab Firman Allah yang diperdengarkan tidak sia-sia, tetapi justru Firman Allah itu membuat kita berhasil. Dan oleh Firman Allah itu, kita melakukan segala kehendak Allah Bapa. Kehendak Allah, berarti melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang kita lihat dan sesuai dengan apa yang kita dengar.

Wahyu 19:9
(19:9) Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah."

 Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.” Kalau kita ingat dan berjumpa kembali dengan perkataan Allah, maka perkataan Allah akan membawa kita pada kebahagiaan yang sempurna, yaitu pesta nikah Anak Domba.
Sasaran akhir dari perjalanan rohani kita di atas muka bumi ini adalah perjamuan malam pesta nikah Anak Domba, kelak bersanding dengan Dia, TUHAN, Juruselamat, Dia Raja di atas segala raja, Dialah Mempelai Laki-Laki Sorga yang kita nanti-nantikan, yang kelak datang pada kali yang kedua di awan nan permai.  Kita akan bersanding dengan Dia, sama mulia dengan Dia, sederajat dengan Dia.

Bagi TUHAN, lewat Firman-Nya, tidak ada yang mustahil, sebab Dia menjadikan yang tidak ada menjadi ada oleh Firman-Nya, sehingga kita hidup kembali. Tidak ada yang mustahil bagi TUHAN.
Lihat, Firman Allah senantiasa bermain-main dengan kita, sebab Dia mengerti keberadaan kita, Dia penghiburan, karena Firman Allah memberi jalan keluar, memberi solusi, menjawab segala pergumulan yang kita hadapi. Amin.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang


Thursday, May 28, 2020

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 26 MEI 2020



IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 26 MEI 2020


KITAB KOLOSE
(Seri: 98)

Subtema: MELAKUKAN SEGALANYA DALAM NAMA TUHAN YESUS

Shalom.
Selamat malam, salam sejahtera dan bahagia memenuhi setiap kehidupan kita masing-masing. Saya tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat TUHAN, hamba-hamba TUHAN, yang sedang mengikuti pemberitaan Firman TUHAN lewat live streaming video internet Youtube, Facebook di mana pun anda berada.
Selanjutnya, mari kita mohon kemurahan dari TUHAN, supaya Ia membukakan Firman-Nya bagi kita malam ini, sehingga membentuk kehidupan kita, dan selanjutnya membawa hidup kita rendah di ujung kaki salib; tersungkur dan sujud menyembah Allah yang hidup, bagaikan 24 (dua puluh empat) tua-tua yang berada di hadapan takhta Anak Domba Allah.

Segera kita menyambut firman penggembalaan untuk Ibadah Doa Penyembahan dari surat yang dikirim oleh Rasul Paulus kepada jemaat di KOLOSE. Sekarang kita akan memperhatikan Kolose 3:17 sebagai ayat terakhir dari perikop yang pertama dari Kolose pasal 3.

Kolose 3:17
(3:17) Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Berarti, jangan kita melakukan segala sesuatu di tengah ibadah dan pelayanan ini hanya karena yang lain-lain.

1 Korintus 10:29-31
(10:29) Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberatan hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu. Mungkin ada orang yang berkata: "Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain? (10:30) Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang berkata jahat tentang aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?" (10:31) Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

Seumpama; jika kita makan, jika kita minum atau jika kita melakukan sesuatu yang lain, biarlah semuanya dilakukan hanya untuk kemuliaan Allah saja. Dengan demikian, tidak ada keberatan-keberatan hati nurani orang lain, dengan kata lain; orang lain tidak akan tersandung.
Jadi, kalau kita melakukan segala sesuatu, baik perkataan maupun perbuatan, di tengah ibadah pelayanan, orang lain tidak akan tersandung, apabila semua dilakukan untuk kemuliaan Allah.

1 Korintus 10:32
(10:32) Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah.

Oleh sebab itu, jangan kita menjadi batu sandungan, baik;
-   Bagi orang Yahudi à orang-orang yang hanya mencari mujizat di tengah ibadah dan pelayanan.
-   Bagi orang Yunani à orang yang hanya mencari hikmat, persis seperti ahli Taurat yang mengerti Firman, tetapi tidak menjadi pelaku Firman.
-   Maupun Jemaat Allah à kehidupan yang senantiasa menjunjung tinggi korban Kristus. Sekalipun seseorang senantiasa menjunjung tinggi korban Kristus -- di mana wujudnya rendah hati dan lemah lembut --, janganlah kita menjadi batu sandungan bagi dia.

Jangan menjadi batu sandungan, baik dalam perkataan, maupun perbuatan. Perkataan dan perbuatan yang kelihatan, itu kaitannya dengan batin (hati) manusia.

Roma 14:13
(14:13) Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!

Jangan sampai karena perkataan dan perbuatan kita, sehingga membuat orang lain jatuh atau tersandung. Oleh sebab itu, janganlah kita saling menghakimi lagi.

Perlu untuk diketahui: Menghakimi adalah salah satu tabiat yang paling dibenci oleh TUHAN. Namun sangat disayangkan, hal itu disukai (digemari) oleh orang-orang yang hidup di luar TUHAN. Mengapa orang-orang dunia menyukai hal itu? Sebab menghakimi adalah sebuah sarana yang paling efektif dan efisien untuk dua hal:
1.     Untuk membenarkan dirinya sendiri.
2.     Untuk membuat orang jatuh dan tersandung, dengan kata lain; menjadi orang yang bersalah atau tertuduh.
Itulah hebatnya tabiat menghakimi, yang penuh dengan kemunafikan.

Alasan untuk “jangan saling menghakimi”: Karena menghakimi atau menuduh atau mendakwa adalah tabiat dari Iblis atau Setan. Itu bukan tabiat dari Allah, dari sorga, sehingga oleh tabiat ini, banyak orang jatuh dan tersandung.

Sebagai pembuktiannya, sejenak kita membaca 1 Petrus 5.
1 Petrus 5:8-9
(5:8) Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. (5:9) Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.

Iblis adalah “singa yang mengaum-aum”, menunjukkan bahwa Iblis adalah si pendakwa dengan tabiat menghakimi, sehingga banyak orang menanggung penderitaan, dengan kata lain; jatuh atau tersandung.
Kemudian, pada ayat ini, Petrus juga menyinggung, bahwa setiap hari si Iblis “berjalan keliling.” Berarti, Iblis tidak memiliki hari perhentian atau tanpa hari perhentian. Namun, bagi kita; TUHAN memberi hari perhentian untuk kita sehingga malam ini kita berada di tengah-tengah hari perhentian lewat Ibadah Doa Penyembahan.

Kembali saya sampaikan: Si Iblis berjalan keliling, berarti; Iblis tidak memiliki hari perhentian atau tanpa hari perhentian.

Ayub 1:6-7
(1:6) Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis. (1:7) Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi."

Di sini kita melihat: “Anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis.”
Kepada anak-anak Allah, TUHAN tidak bertanya: “Dari mana engkau?”, sebab anak-anak Allah senantiasa ada pada hari perhentian. Oleh sebab itu, kalau anak-anak TUHAN tidak berada pada hari perhentian, jauh dari ibadah dan pelayanan, dengan lain kata; menghindar dari ibadah dan pelayanan, maka kehidupan semacam ini perlu dipertanyakan, bahkan perlu dicurigai.

Sebaliknya, kepada Iblis, TUHAN berkata: “Dari mana engkau?” Dan di sini kita melihat, jawab Iblis kepada TUHAN: “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.” Dalam ejaan lama ditulis: “… berjalan keliling dan beridar-idar di atas bumi …
Berjalan keliling dan beredar-edar di atas bumi menunjukkan bahwa Iblis tidak memiliki hari perhentian atau tanpa hari perhentian.

Jadi, kalau orang-orang Kristen tidak tergembala dengan benar dalam suatu penggembalaan, maka rohnya pasti beredar-edar, tanpa hari perhentian. Dan orang yang semacam ini suka berdalih, maksudnya; mencari alasan-alasan yang tepat dan benar dan masuk akal untuk meninggalkan atau menghindari ibadah dan pelayanan, untuk meninggalkan tanggung jawabnya di hadapan TUHAN.

Ayub 1:8-10
(1:8) Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (1:9) Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? (1:10) Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.

Kepada Iblis, TUHAN mengakui, bahwa Ayub adalah seorang yang;
1.     Saleh.
2.     Jujur.
3.     Takut akan Allah, berarti menjauhi kejahatan.

Sekarang kita lihat pernyataan sebagai jawaban Iblis kepada TUHAN.
Yang Pertama: Pada ayat 9, Iblis berkata: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?” Artinya, Ayub tidak akan takut akan Allah jika ia kehilangan segala miliknya.
Yang Kedua: Pada ayat 10, Iblis berkata:
-   Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya?”, maksudnya; Allah yang memagari hidupnya, rumahnya dan segala milik Ayub.
-   Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu”, maksudnya; Allah memberkati pekerjaan Ayub dan miliknya semakin bertambah banyak.

Ayub 1:11
(1:11) Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu."

Kesimpulannya: Pekerjaan dari pada Iblis adalah mendakwa, menghakimi, sehingga manusia itu jatuh atau tersandung. Inilah pekerjaan Iblis atau Setan. Demikian juga orang yang menghindari ibadah dan pelayanan, tanpa hari perhentian; ia suka cari pekerjaan (mencari soal-soal) menghakimi dan menuduh.

Kalau kita ada pada hari perhentian, maka kita tahu apa yang kita kerjakan di tengah hari perhentian itu, tetapi kalau tidak berada pada hari perhentian, pasti ia mencari kesibukan; menghakimi, menuduh, mendakwa, sehingga banyak orang jatuh dan tersandung.
Itu sebabnya kepada sidang jemaat di Korintus, Rasul Paulus dengan tegas berkata: kalau melakukan segala sesuatu, baik itu perkataan maupun perbuatan, lakukanlah dalam nama TUHAN Yesus Kristus. Hal ini juga sudah dinyatakan kepada jemaat di Kolose, namun oleh karena kemurahan TUHAN, pernyataan yang sama juga kita terima dari Allah, dari sorga. Betapa mulia perhatian TUHAN kepada kita masing-masing, supaya kita jangan mudah jatuh dalam dosa dan tersandung; tidak mudah sakit hati, tidak mudah putus asa dan kecewa. Sekalipun ada yang mengecewakan, namun tidak tersandung.

Kembali saya sampaikan, bahwa; pekerjaan dari pada Iblis adalah mendakwa, menghakimi, sehingga manusia itu jatuh atau tersandung. Akhirnya, dimulai dari Ayub 1:12 sampai dengan Ayub 2:1-13, atas seijin TUHAN, Ayub dihakimi atau dicobai oleh Iblis atau Setan. Itulah pekerjaan Iblis atau Setan, yaitu menghakimi. Dan tentu, tabiat ini dilakukan bukan “dalam nama TUHAN Yesus Kristus”.

Sekarang kita akan BANDINGKAN dengan sebuah kisah dalam Perjanjian Baru.
Matius 12:43
(12:43) "Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. (12:44) Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapi teratur. (12:45) Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini."

Pekerjaan dari pada Iblis atau Setan ialah mengembara atau beredar-edar, dengan kata lain; tanpa hari perhentian. Kalau tanpa hari perhentian (ibadah dan pelayanan), pasti ada kesibukan lain, tetapi pastinya bukan “dalam nama TUHAN Yesus Kristus”, sama seperti yang tertulis dalam ayat ini, di mana sasaran dari penghakiman Iblis ialah rumah dalam keadaan kosong, sekalipun bersih tersapu dan rapi teratur.

Kosong, artinya; tidak diisi oleh satu pribadi yang sangat berharga, agung dan mulia, yaitu Allah Yang Maha Esa.

1 Timotius 1:15-17
(1:15) Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. (1:16) Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. (1:17) Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.
1 Timotius 2:5-6
(2:5) Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, (2:6) yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.

Wujud yang kelihatan dan yang nampak dari Allah yang esa, yang tak kelihatan itu ialah kasih-Nya. Walaupun Dia tidak kelihatan, tetapi “wujud yang kelihatan dari yang tak kelihatan adalah kasih-Nya”, sebab manusia Kristus Yesus telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia.  
Sebagai ayat-ayat pendukung ialah:
1.  Ulangan 6:4, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
2.  Maleakhi 2:15, “Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.
3.  Markus 12:29, “Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
4.  Markus 12:32, “Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.”
5. Yohanes 5:44, “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?”
6.  1 Korintus 8:4, “Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: "tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.”
7.  Yudas 1:25, “Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.”

Kembali saya sampaikan dengan tandas: Wujud yang kelihatan dan yang nampak dari Allah yang esa, yang tidak kelihatan, ialah kasih-Nya.
Jika dikaitkan dengan Pengajaran Tabernakel, “KASIH” terkena pada salah satu dari tiga alat yang ada di dalam Ruangan Suci, yaitu Mezbah Dupa. Mezbah Dupa à doa penyembahan.

Saya merasakan bahwa TUHAN sedang memimpin kehidupan rohani kita, memimpin ibadah kita ini sampai kepada doa penyembahan, itulah puncak ibadah, puncak rohani. Dan itulah yang sedang dituntut oleh TUHAN dari kehidupan kita masing-masing, dari gereja TUHAN di hari-hari terakhir ini, supaya kita boleh memperoleh keselamatan yang dari Allah. Tetapi kalau hanya menggemukkan diri seperti imam Eli, maka yang terjadi nanti adalah batang lehernya patah.

Wahyu 5:8
(5:8) Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.

Satu cawan emas penuh dengan kemenyan, itulah doa orang-orang kudus, yang bisa kita lihat di dalam pribadi 24 (dua puluh empat), di mana mereka segera tersungkur di hadapan Anak Domba itu.

Terkait dengan hal itu, kita perhatikan Wahyu 8:3-4.
Wahyu 8:3-4
(8:3) Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. (8:4) Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.

Sebagai Imam Besar, Yesus tampil untuk memimpin doa penyembahan dari orang-orang kudus di bumi, dan dibawa sampai kepada Allah, bagaikan asap dupa kemenyan yang naik membumbung tinggi sampai kepada hadirat Allah.

Terkait dengan doa penyembahan, kita harus mengerti lebih jauh di dalam Injil Matius 27.
Matius 27:50
(27:50) Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.

Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya”, ini merupakan doa penyahutan, penyembahan dari Imam Besar Agung, di mana Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk taat kepada kehendak Allah Bapa. Singkatnya, penyembahan yang benar adalah penyerahan diri sepenuhnya untuk taat kepada kehendak Allah Bapa.

Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa: Kasih adalah wujud yang nampak dan yang kelihatan dari Allah yang esa, yang tidak kelihatan.

Karena kita sudah memperoleh kesimpulan dengan pasti mengenai rumah yang “kosong” tadi, maka kita kembali membaca Matius 12.
Matius 12:44
(12:44) Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapi teratur.

Setelah kita bisa mengambil kesimpulan bahwa wujud yang kelihatan dari yang tak kelihatan (Allah yang esa) adalah kasih, yang menunjuk kepada doa penyembahan, berarti …
-   “Kosong”, artinya; hidup tanpa penyembahan. Penyembahan à Kasih dari Allah yang esa.
-    “Bersih tersapu” à pekerjaan dari Firman Allah = iman.
-    “Rapi teratur” à pekerjaan dari Roh Kudus = pengharapan.

Memiliki “Firman”, memiliki “Roh Kudus”, tetapi “kosong”, dengan lain kata; tidak diisi dengan wujud dari Allah, itulah kasih Allah, lewat doa penyembahan, maka itu semua tidak ada artinya. Sekalipun bersih tersapu (penuh dengan firman), sekalipun rapi teratur (penuh dengan Roh Kudus), tetapi tidak ada artinya kalau rumah itu kosong, kalau rumah itu tidak diisi oleh Satu Pribadi yang berharga dan mulia, itulah Allah yang esa, dengan wujud-Nya yaitu KASIH -- menunjuk kepada doa penyembahan --. Jelas, penyembahan adalah kasih kepada Allah.

Matius 12:45
(12:45) Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini."

Karena rumah itu “kosong”, maka roh itu mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat untuk masuk dan berdiam di situ. Akhirnya, keadaan orang itu lebih buruk dari keadaannya semula, dengan kata lain; jatuh dan tersandung.
-       Jatuh, berarti; berada dalam kubangan yang dalam dan begitu hebat.
-       Tersandung, sama artinya; putus asa, kecewa dan patah semangat.

Oleh sebab itu, sangat masuk akal, kalau tadi di dalam surat yang dikirim oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose, terkhusus Kolose 3:17 adalah melakukan segala sesuatu, baik perkataan maupun perbuatan, lakukanlah itu dalam nama TUHAN Yesus Kristus, supaya orang lain jangan tersandung. Tetapi kalau kita datang di tengah ibadah dan pelayanan, dan kita lakukan itu semua karena ada sebuah kepentingan, ada ambisi, ada kepentingan untuk golongan atau kelompoknya, maka pasti orang lain tersandung, dan kalau orang lain tersandung, di dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, dengan jelas dia berkata: Mengapa kebebasanku ditentukan oleh orang lain?
Tetapi kita harus mengerti; jangan kita melakukan segala sesuatu -- umpama dalam hal makan, umpama dalam hal minum, umpama dalam segala sesuatu hal yang lain -- karena ada sebuah kepentingan dan ambisi, supaya orang lain jangan tersandung.

Oleh sebab itu, TUHAN ajar kita malam ini untuk lebih intropeksi diri, TUHAN ajar kita untuk lebih mawas diri, TUHAN ajar kita malam ini untuk lebih bijaksana di dalam melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN, TUHAN ajar kita untuk lebih dewasa, supaya kita melakukan segala sesuatu “dalam nama TUHAN Yesus Kristus”, tanpa kepentingan, tanpa motivasi untuk golongan atau kelompoknya.

JALAN KELUARNYA.
Kolose 3:17
(3:17) Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Segala sesuatu yang kita lakukan, baik perkataan maupun perbuatan, hendaklah dilakukan “dalam nama TUHAN Yesus Kristus”. Jangan ada kepentingan pribadi, jangan ada kepentingan golongan dan kelompok, dan jangan ada motivasi-motivasi lain.

CONTOH dari pribadi Rasul Paulus.
1 Korintus 10:32-33
(10:32) Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. (10:33) Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.

Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang”, berarti; jangan menghakimi, jangan menjadi batu sandungan, supaya orang lain jangan syak di dalam hatinya. Seperti halnya Rasul Paulus berusaha untuk menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, berarti; baik perkataan maupun perbuatan dilakukan “dalam nama TUHAN Yesus Kristus”. Rasul Paulus melakukan hal itu bukan untuk kepentingan dirinya, bukan untuk kepentingan golongan dan kelompoknya, tetapi untuk kepentingan orang banyak, dengan satu tujuan yaitu supaya orang banyak beroleh selamat.

Oleh sebab itu, kita harus berusaha untuk melepaskan diri dari roh egosentris (kepentingan diri). Jangan kita hanya tidur, tidak memikirkan pekerjaan TUHAN, jangan kita menggemukkan diri, supaya batang leher jangan patah (terputus), seperti imam Eli. Tetapi biarlah kita gunakan batang leher untuk menundukkan kepala di ujung kaki salib TUHAN; tersungkur dan sujud menyembah Allah yang hidup, bagaikan 4 (empat) makhluk dan 24 (dua puluh empat) tua-tua. Kalau titik nol, itulah penyembahan, menjadi ruang lingkup kita, maka kita tidak akan lupa apa yang terkait dengan ruang lingkup kita, pasti kita selalu ingat pekerjaan TUHAN, tidak lupa pekerjaan TUHAN.
Berbanding terbalik dengan orang-orang di luaran sana; mengapa mereka memiliki tabiat Setan, yaitu suka menghakimi, menuduh dan mendakwa? Itu karena mereka tidak berada pada hari perhentian, mereka beredar-edar tanpa hari perhentian, sehingga mencari kesibukan-kesibukan tetapi tidak dalam nama TUHAN Yesus Kristus, sehingga baik perkataan maupun perbuatannya menjadi sandungan saja. Orang yang beredar-edar tidak tergembala, ia suka berdalih, suka mencari alasan yang begitu tepat dan benar, dengan satu tujuan supaya ia bisa menghindari ibadah, supaya bisa lepas dari pelayanan, lepas dari salib.

1 Korintus 9:18
(9:18) Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.

Biarlah sebaiknya kita juga mengadopsi apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus, di mana ia berkata: “Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah” Artinya, melakukan segala sesuatu dalam nama TUHAN Yesus Kristus, dan ia melakukan itu tanpa kepentingan diri, tanpa upah. Sebab selanjutnya, Rasul Paulus berkata: “aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil”, artinya; tanpa kepentingan diri.

Puji TUHAN … Kita bersyukur dengan pribadi Rasul Paulus, sebab dia layak menjadi contoh, menjadi teladan, menjadi kesaksian yang besar. Dari yang tidak ada apa-apa menjadi pahlawan rohani bagi sidang jemaat, bagi anak-anak rohani, baik bagi bangsa kafir, maupun bagi bangsa Yahudi sendiri. Jadilah pahlawan-pahlawan rohani karena kita menjadi teladan, menjadi contoh, baik dalam perkataan maupun perbuatan, dan melakukan segala sesuatu yang lainnya di dalam nama TUHAN Yesus Kristus.

1 Korintus 9:19
(9:19) Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

Rasul Paulus menjadikan dirinya hamba untuk semua orang. Sama seperti Yesus Kristus, di dalam Matius 20:28, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” Yesus datang ke dunia ini bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Melayani, berarti menyerahkan nyawa-Nya untuk menjadi tebusan, dengan lain kata; untuk menjadi pendamaian dosa. Kalau kita datang melayani di hadapan takhta Allah, maka jadilah pendamaian dosa, menjadi korban untuk memperdamaikan orang lain kepada Allah.

Tujuan Rasul Paulus menjadikan dirinya hamba untuk semua orang adalah “supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang”, memenangkan sebanyak mungkin orang.

1 Korintus 9:20-22
(9:20) Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. (9:21) Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. (9:22) Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.

Rasul Paulus berusaha menjadi segala-galanya, berusaha untuk menyelami hati orang-orang lain, antara lain:
1. Orang-orang Yahudi, menunjuk kepada; orang-orang yang mencari tanda-tanda heran atau pun mujizat-mujizat di tengah-tengah ibadah dan pelayanan; hanya sekedar mencari mujizat, mencari berkat-berkat jasmani di dalam mengikuti TUHAN di tengah ibadah dan pelayanannya.
Untuk itu pun, Rasul Paulus berusaha untuk menyelami hati mereka, itulah orang-orang Yahudi.

2. Orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat, menunjuk kepada dua hal;
-     Orang yang merasa diri benar.
-   Orang yang menjalankan ibadah rutinitas (ibadah lahiriah). Misalnya, mulut memuliakan TUHAN, tetapi sebenarnya, hatinya jauh dari TUHAN, sama dengan; mempersembahkan tubuh jasmaninya di tengah ibadah, tetapi manusia batiniahnya tidak dipersembahkan kepada TUHAN. 
Untuk orang semacam ini pun, Rasul Paulus juga berusaha untuk menyelami mereka, menyelami hati orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat.

3. Orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat atau tidak mengenal hukum Taurat, menunjuk kepada; bangsa kafir, orang-orang di luar Yahudi. Orang-orang yang tidak mengenal hukum Taurat, biasanya seringkali menggunakan hukum sendiri atau juga menggunakan hukum rimba -- yang kuat adalah yang menang --.
Dan untuk orang-orang semacam ini, Rasul Paulus juga berusaha untuk menyelami hati mereka yang tidak mengenal hukum Taurat.

4. Orang-orang yang lemah, menunjuk kepada; orang-orang yang tidak kuat, yaitu mereka yang mudah untuk tersinggung, mudah kecewa, mudah putus asa, juga mereka yang segera murtad, tidak memiliki pendirian yang kuat.
Untuk orang-orang yang lemah semacam ini juga, Rasul Paulus berusaha untuk menyelami hati mereka.

Tujuan Rasul Paulus melakukan itu semua hanya satu, yaitu supaya memenangkan beberapa orang dari antara mereka semua. Itu sebabnya Rasul Paulus berkata: “Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya” Artinya, Rasul Paulus menjadi hamba bagi semua orang.

Saya tidak mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus adalah sesuatu perkara yang mudah untuk dilakukan, tetapi apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus ini merupakan contoh yang baik, contoh yang benar, contoh yang suci dan mulia untuk kita ikuti dan kita sedang berjuang untuk melakukannya/mengikutinya.
Perjalanan bangsa Israel selama 40 (empat puluh) tahun di padang gurun, itu adalah perjalanan salib, demikian jugalah perjalanan rohani kita di hari-hari terakhir ini. Tetapi kita tidak perlu takut, kita tidak perlu menggunakan logika kita, dengan berpikir dan bertanya-tanya; bagaimana caranya supaya kita tiba pada satu titik, itulah hari perhentian, yang merupakan ujung perjalanan rohani kita? Kita tidak perlu takut dan tidak perlu ragu, sebab kita tahu bahwa kepak sayap Allah yang mendukung perjalanan bangsa Israel di padang gurun; dua tangan TUHAN yang kuat yang akan membawa kita dekat dengan Dia.

1 Korintus 9:23
(9:23) Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.

Segala sesuatu dilakukan oleh Rasul Paulus adalah karena Injil, bukan karena kepentingan dirinya. Jadi, dia melakukan segala sesuatu, baik dalam perkataan maupun perbuatannya dalam nama TUHAN Yesus Kristus, sehingga orang lain tidak tersandung.

Betul-betul Rasul Paulus ini adalah seorang hamba TUHAN yang dapat menyelami hati orang lain, dapat menyelami hati semua orang, dia tidak mau menghakimi orang lain, dia tidak mau menjadi batu sandungan bagi orang lain, karena dia tidak mau menuduh dan menghakimi, mendakwa orang lain, karena dia sadar bahwa itu merupakan tabiat dari Iblis Setan, tabiat dari orang-orang yang suka mencari soal-soal (pekerjaan), itulah orang-orang yang tidak ada pada hari perhentian.
Kalau seseorang suka ngerumpi, suka bergosip, itu adalah orang yang rohnya beredar-edar, tidak ada hari perhentian.

Filipi 2:4
(2:4) dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Setiap orang, janganlah ia hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, jangan hanya memperhatikan kepentingan kelompoknya, jangan hanya memperhatikan golongannya, tetapi biarlah kita masing-masing memperhatikan kepentingan orang banyak.

Maka, apa yang kita kerjakan, biarlah itu kita kerjakan dalam nama TUHAN Yesus Kristus; hanya kepentingan Injil saja, bukan kepentingan pribadi. Oleh sebab itu, mari kita melayani TUHAN dalam tahbisan yang benar dan suci, supaya tanda-tanda yang lain tidak ada di dalam diri kita, yaitu tanda kenajisan dan juga tanda kepentingan diri tidak terlihat di dalam diri kita masing-masing.

1 Timotius 1:15-16
(1:15) Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. (1:16) Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.

TUHAN mengasihi orang yang paling berdosa, bahkan menunjukkan kesabaran-Nya kepada orang yang paling berdosa -- seperti pengakuan Rasul Paulus --, sehingga Rasul Paulus menjadi contoh bagi orang yang percaya kepada-Nya dan yang mendapat hidup yang kekal. Oleh karena kesabaran TUHAN kepada kita yang paling berdosa ini, oleh karena kesabaran TUHAN kepada kita yang paling hina ini, kiranya kita menjadi contoh, menjadi teladan, menjadi kesaksian yang besar, supaya orang percaya kepada Allah dan mendapat hidup yang kekal. 

Sekali lagi saya tandaskan: Hindarkan diri dari roh egosentris. Jangan menggemukkan diri. Kalau memang selama ini di dalam hal beribadah dan melayani hanya menggemukkan diri sehingga batang leher putus (patah), maka biarlah kita menyesali diri, dengan membawa diri di kaki salib dengan hati yang hancur (menangis sejadi-jadinya). Kita gunakan batang leher ini untuk menundukkan kepala di ujung kaki salib, tersungkur, sujud menyembah, berada di titik nol, berada di ruang lingkup sehingga kita boleh ingat ruang lingkup, berarti ingat ibadah, ingat pelayanan, ingat pekerjaan TUHAN, ingat kesucian dan kemuliaan TUHAN.

1 Timotius 2:6-7
(2:6) yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan. (2:7) Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pemberita dan rasul -- yang kukatakan ini benar, aku tidak berdusta -- dan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran.

Untuk menyaksikan kasih dan kemurahan hati Allah, untuk menyaksikan kesabaran Allah, Paulus ditetapkan atau diberikan jabatan (1) penginjil, (2) rasul, bahkan ia ditetapkan jabatan (3) guru atau pengajar orang-orang bukan Yahudi (bangsa kafir). Dan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus ini benar, tidak dusta, bahkan sebenarnya, ia dikaruniakan memiliki lima jabatan -- yang bisa ditemukan dalam kitab Kisah Para Rasul --.

Intinya, Rasul Paulus melakukan segala sesuatu, baik perkataan maupun perbuatan dilakukan dalam nama TUHAN Yesus Kristus tanpa kepentingan diri, supaya memenangkan sebanyak-banyaknya orang.
Secara pribadi, saya sampaikan dengan tandas: Hindarkan diri untuk kepentingan diri, hindarkan diri untuk kepentingan kelompoknya atau golongannya, supaya kita menyatu (kesatuan tubuh Kristus terwujud), berarti di atas segalanya nama TUHAN dipermuliakan.
TUHAN tetapkan kita sebagai apapun, itu semua karena kemurahan-Nya, karena kesabaran-Nya, untuk menjadi contoh teladan. Jangan kita salah gunakan karunia-karunia Roh Kudus, jangan kita salah gunakan jabatan-jabatan dan apa saja yang telah dipercayakan oleh TUHAN, tetapi gunakanlah itu dalam nama TUHAN Yesus Kristus. Amin.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang