KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Wednesday, February 27, 2019

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 27 NOVEMBER 2018





IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 27 NOVEMBER 2018

KITAB KOLOSE
(Seri:36)

Subtema: ROH-ROH DUNIA DAN RUPA-RUPA PERATURAN.

Shalom saudaraku.
Selamat malam, salam sejahtera dan bahagia bagi kita di tengah perhimpunan Ibadah Doa Penyembahan ini dan kita memohon kiranya Tuhan memberkati kita lewat pembukaan firman Tuhan.
Dan juga saya tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, umat Tuhan, hamba-hamba Tuhan yang sedang mengikuti live streaming, video internet, Youtube, dan Facebook dimanapun anda berada, kiranya Tuhan memberkati kita sekaliannya.

Segera saja kita memperhatikan firman penggembalaan untuk Ibadah Doa Penyembahan dari surat yang dikirim oleh Rasul Paulus kepada kepada jemaat di Kolose 2:20-22.
Kolose 2:20-22
(2:20) Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: (2:21) jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; (2:22) semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.

Saudaraku sudah mengalami tanda kelahiran baru dan bebas dari roh-roh dunia itu merupakan kemurahan dari Tuhan untuk kita.

Sebelum kita memperhatikan ayat 21 dan ayat 22, terlebih dahulu kita memperhatikan
Tentang: ROH-ROH DUNIA.
Galatia 4:8
(4:8) Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah.

Dahulu sebelum mengenal Allah dengan benar, kita menghambakan diri kepada berhala-berhala yang pada hakikatnya bukan Allah yang hidup, artinya; lebih mengutamakan perkara-perkara lahiriah. Misalnya; mengabaikan Tuhan dan ibadah pelayanan hanya karena pekerjaan, usaha, bisnis, kemudian karena menuntut ilmu, dan lain sebagainya.
Sebetulnya itu adalah allah-allah yang mati bukan Allah yang hidup, tidak dapat menolong dan menyelamatkan melainkan menambah beban hidup dan membinasakan.
Perkara lahiriah apa saja tidak dapat menolong, justru perkara itu akan membuat kita semakin jauh dari Tuhan sehingga menambah beban dosa dan membinasakan.

Galatia 4:9-10
(4:9) Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? (4:10) Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun.

Sesudah mengenal Allah dengan benar (sudah lahir baru), berbalik lagi kepada roh-roh dunia.
Kembali lagi kepada roh-roh dunia maksudnya dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, memelihara bulan-bulan tertentu, memelihara masa-masa yang tetap, dan tahun-tahun. Inilah yang dimaksud roh-roh dunia.

Galatia 4:11
(4:11) Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia.
Sebetulnya berbalik lagi kepada roh-roh dunia setelah mengenal Allah (setelah lahir baru) itu merupakan kesia-siaan. Alasannya adalah roh-roh dunia ini akan membatasi kehidupan kita untuk melakukan sesuatu yang baik sesuatu yang benar, suci, dan mulia di hadapan Tuhan.
Perhatikan setiap orang yang memelihara dengan teliti hari-hari tertentu, memelihara bulan-bulan tertentu, memelihara masa-masa yang tetap, dan tahun-tahun, sebetulnya itu akan membatasi seseorang untuk melakukan yang benar, yang suci, yang mulia di hadapan Tuhan.

Ilimiah dengan hal-hal yang rohani tidak bisa menyatu, jangan sampai karena hal yang ilmiah (yang bersifat  logika) mengabaikan hal-hal yang rohani, itu sering sekali terjadi.
Pendeknya; roh-roh dunia ini membuat seseorang menjadi lemah dan miskin.
Lemah artinya; tidak kuat. Yang membuat kita kuat adalah salib Kristus bukan roh-roh dunia, bukan perkara lahiriah, bukan karena pekerjaan, bukan karena usaha, bukan karena bisnis, bukan karena seseorang memiliki pendidikan yang tinggi. Biarpun seseorang memiliki semuanya itu belum tentu dia kuat menghadapi sesuatu yang tidak suci.
Kemudian miskin artinya; tidak kaya. Yang membuat kita kaya adalah kasih karunia dan kemurahan Tuhan yang dianugrahkan kepada kita, bukan roh-roh dunia.
Yesus Kristus Dia yang kaya turun ke bumi, artinya; rela menjadi miskin supaya kita yang miskin menjadi kaya. Jadi yang membuat seseorang kaya adalah kasih karunia dan kemurahan Allah yang dianugrahkan kepada kita, bukan roh-roh dunia. Orang dunia bisa saja mempunyai ini dan itu, memiliki harta yang banyak tetapi belum tentu mengerti pekerjaan Tuhan, itu namanya miskin atau kaya jasmani tapi miskin rohani.
Itulah sedikit tentang roh-roh dunia, sedikit saya bawa kesana supaya kita bisa memahami tentang roh-roh dunia.

Kita kembali lagi membaca ...
Kolose 2:20-21
(2:20) Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: (2:21) jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini;

Kemudian sudah mengenal Tuhan dan sudah bebas dari roh-roh dunia tetapi sangat disayangkan ternyata jemaat di Kolose ini takluk pada rupa-rupa peraturan, misalnya; jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini.

Kolose 2:22
(2:22) semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.
Takluk pada rupa-rupa peraturan sebetulnya itu tidak ada faedahnya, sebab semuanya itu;
a.   Hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian.
b.   Hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.

Sekarang kita akan memperhatikan kedua hal tersebut ...
Tentang: HANYA MENGENAI BARANG YANG BINASA OLEH PEMAKAIAN.
Artinya; barang atau sesuatu benda yang dipakai sifatnya untuk sementara waktu, sesuatu yang tidak menjamin untuk hidup kekal.
1 Korintus 15:50
(15:50) Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.

Daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allahdan yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa (kerajaan kekal).
Jadi betul-betul sesuatu benda yang dipakai untuk sementara waktu adalah sesuatu yang tidak bisa menjamin hidup kekal, daging dan darah tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah atau yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.

Ayub 1:1-3
(1:1) Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. (1:2) Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. (1:3) Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.

Ayub adalah seorang yang saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Ayub mempunyai tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan, kemudian;
-   Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba.
-   Tiga ribu ekor unta.
-   Lima ratus pasang lembu.
-   Lima ratus keledai betina.
-   Budak-budak dalam jumlah yang sangat besar.
Pendeknya; Ayub mempunyai tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan, kemudian memiliki harta dan kekayaan yang begitu banyak jumlahnya, dialah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.

Ayub 1:20-21
(1:20) Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, (1:21) katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

Namun pada akhirnya seluruh harta kekayaan yang dimiliki oleh Ayub semuanya raib semuanya lenyap dan anak-anaknya juga mat.
Disini kita melihat sikap yang ditunjukkan oleh Ayub di hadapan Tuhan; “maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya” inilah sikap atau tindakan Ayub yang pertama.
Tindakan Ayub berikutnya; “sujudlah ia dan menyembah” disertai dengan pengakuan yang jujur dan tulus katanya; "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
Kesimpulan dari dua tindakan Ayub adalah; yang pertama Ayub merasa hina dan tidak layak di hadapan Tuhan, yang kedua Ayub menyadari bahwa daging dan darah serta harta kekayaan tidak dapat memberi jaminan untuk hidup yang kekal.
Jadi anak-nak Tuhan (sidang jemaat) jangan sampai takluk kepada rupa-rupa peraturan  yang sebetulnya hanyalah barang yang binasa, artinya tidak memberi jaminan untuk hidup kekal. Ayub menyadari bahwa darah dan daging tidak mewarisi kerajaan sorga, perkara lahiriah tidak memberi jaminan untuk hidup kekal, justru itu yang membuat seseorang jauh dari Tuhan.
Kita bersyukur oleh karena kemurahan-Nya kita  memperoleh suatu pengertian yang benar.

1 Petrus 1:24-25
(1:24) Sebab: "Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, (1:25) tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.

Berarti sesuatu yang lahiriah tidak memberi jaminan untuk hidup kekal, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya, firman Tuhan memberi jaminan untuk hidup kekal di dalam kerajaan sorga.
Jadi kalau seseorang sudah mengenal Allah, kemudian bebas dari roh-roh dunia namun masih takluk pada rupa-rupa peraturan itu betul-betul seperti manusia duniawi, itu kesia-siaan, tidak ada artinya, karena sama seperti barang yang binasa untuk pemakaian, tidak memberi jaminan untuk hidup kekal.

Sekarang kita kembali membaca ...
Kolose 2:21-22
(2:20) Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: (2:21) jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; (2:22) semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.

Sekarang kita akan memperhatikan ....
Tentang: HANYA MENURUT PERINTAH-PERINTAH DAN AJARAN-AJARAN MANUSIA.
Kesimpulannya; rupa-rupa peraturan yaitu: perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia, bukan perintah-perintah dan ajaran-ajaran dari Tuhan.
Markus 7:1-5
(7:1) Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. (7:2) Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. (7:3) Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; (7:4) dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. (7:5) Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"

Kesimpulan dari ayat 1 sampai ayat 5; orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat melarang murid-murid Yesus mengecap makanan hanya karena tidak membasuh tangan terlebih dahulu.

Markus 7:6-7
(7:6) Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. (7:7) Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.

Yesus menjawab ahli Taurat dan orang Farisi; “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”
Kesimpulannya, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat lebih mengutamakan adat isitadat nenek moyang orang Yahudi.

Markus 7:8
(7:8) Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."

Orang-orang Fairisi dan ahli-ahli Taurat mengabaikan perintah-perintah dan ajaran-ajaran Tuhan demi adat istiadat orang Yahudi (ajaran-ajaran manusia).

Adapun adat istiada orang Yahudi (ajaran-ajaran dan perintah-perintah manusia):
1.   Terlebih dahulu membasuh tangan sebelum makan.
2.   Kalau pulang dari pasar tidak makan sebelum membersihkan diri (mandi).
3.   Berpegang pada aturan-aturan lain dalam hal;
-   Mencuci cawan.
-   Mencuci kendi.
-   Mencuci perkakas-perkakas tembaga…Markus 7:1-5.
Mereka takluk pada rupa-rupa peraturan, tetapi tidak takluk pada perintah-perintah dan ajaran-ajaran dari Tuhan.
Dalam hal mencuci cawan, mencuci kendi, kemudian mencuci perkakas-perkakas tembaga mereka sangat memperhatikan aturannya, tapi perintah-perintah dan ajaran-ajaran Tuhan diabaikan menunjukkan bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi takluk pada rupa-rupa peraturan dan perintah manusia.

Praktek takluk pada rupa-rupa peraturan: bibir atau mulut memuliakan Tuhan tapi hatinya jauh dari Tuhan = mempersembahkan tubuh jasmaninya tetapi manusia batiniahnya tidak dipersembahkan kepada Tuhan.
Maka sangat disayangkan sekali kalau anak-anak Tuhan sudah mengenal Tuhan (lahir baru), kemudian sudah bebas dari roh-roh dunia tetapi takluk pada rupa-rupa peraturan seperti sidang jemaat di Kolose, sampai pada akhirnya mereka berpegang teguh kepada adat istiadat, berpegang teguh pada perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.
Peraturan-peraturan di tempat bekerja takluk, peraturan-peraturan di tempat kuliah takluk, tetapi peraturan-peraturan (perintah-perintah) ajaran Tuhan tidak. Mengapa seseorang sibuk kuliah lupa ibadah? Jawabnya, karena ia takluk pada aturan-aturan di tempat perkuliahan. Kenapa seseorang sibuk bekerja? Karena dia takluk kepada aturan-aturan pekerjaan, tetapi mengabaikan ajaran-ajaran dan perintah-perintah Tuhan.

Kita kembali membaca ...
Markus 7:9-12
(7:9) Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. (7:10) Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. (7:11) Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban -- yaitu persembahan kepada Allah --, (7:12) maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya.

Jadi hanya karena perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia (berpegang teguh kepada adat istiadat) akhirnya ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak hormat kepada orang tua.

Sudah mengenal Tuhan, kemudian sudah lepas dari roh-roh dunia tetapi yang anehnya jemaat di Kolose takluk pada rupa-rupa peraturan, padahal semuanya itu hanya barang yang binasa oleh pemakaian yang sifatnya sementara.
Siapa yang berani berkata: harta yang banyak memberi jaminan hidup kekal? Dapat masuk ke dalam kerajaan sorga, siapa yang berani berkata seperti itu? Tidak ada yang bisa menjamin, berarti kedua hal itu kesia-siaan.

Kita kembali membaca ...
Kolose 2:23
(2:23) Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.
Jadi saudaraku rupa-rupa peraturan walaupun nampaknya penuh hikmat dengan buatan sendiri sebab seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain hanya untuk memuaskan hidup duniawi saja.

2 Timotius 3:5
(3:5) Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!

Secara lahiriah mereka mejalankan ibadah, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya, ibadah yang semacam ini harus dijauhi, termasuk orang-orang yang menjalankan ibadah lahiriah itu sendiri harus dijauhi supaya jangan terpengaruh. Sekalipun terlihat ibadah itu penuh hikmat sebab harus merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada artinya.

Ibrani 9:1
(9:1) Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan tangan manusia.

Jadi perjanjian yang pertama mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan tangan manusia. Jadi kemah atau Tabernakel yang dibangun oleh Musa itu ada perintah-perintah dan ketentuan-ketentuan untuk setiap orang yang menjalankan ibadah di dalamnya.

Ibrani 9:2-4
(9:2) Sebab ada dipersiapkan suatu kemah, yaitu bagian yang paling depan dan di situ terdapat kaki dian dan meja dengan roti sajian. Bagian ini disebut tempat yang kudus. (9:3) Di belakang tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut tempat yang maha kudus. (9:4) Di situ terdapat mezbah pembakaran ukupan dari emas, dan tabut perjanjian, yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian,

Disini dipersiapkan suatu kemah yaitu bagian yang paling depan terdapat dua alat;
1.   KAKI DIAN EMAS -> kehidupan yang diurapi oleh Roh Kudus. Itulah orang-orang yang menjadi terang di tengah dunia ini.
2.   MEJA ROTI SAJIAN -> kehidupan atau hati yang penuh dengan firman Allah sehingga dapat menyajikan kebenaaran baik perkataan, juga perbuatan atau kesaksian hidup. Kalau hati kosong tidak diisi penuh dengan firman maka perkataan kosong, perbuatan kosong, hidup atau kesaksiannya juga kosong.

Kemudian di belakang tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut dengan Ruangan Maha Suci, disitu terdapat;
1.   MEZBAH PEMBAKARAN UKUPAN.
Dalam ruangan suci atau ruangan yang paling depan pada Tabernakel Musa terdapat tiga macam alat, yaitu; (1) Meja Roti Sajian, (2) Kaki Dian Emas (kandil), (3) Mezbah Dupa. Tetapi apa yang dilihat oleh Rasul Paulus dimana Mezbah Pembakaran Ukupan itu sudah berada di Ruangan Maha Suci, seolah-olah ada perbedaan dengan Tabernakel Musa.
Tetapi sebetulnya hal ini memberi suatu pengertian bagi kita bahwa yang berada di dalam Ruangan Maha Suci, (kerajaan sorga) adalah doa penyembahannya di hadapan Tuhan. Jadi sekalipun kita berada di atas muka bumi ini kalau betul-betul kita hidup di dalam doa penyembahan yang benar, satu kaki sudah ada di dalam kerajaan sorga.
Jadi tidak ada perbedaan antara Tabernakel Musa dengan apa yang dilihat oleh Rasul Paulus, justru semakin memberi suatu pengertian bagi kita bahwa doa penyembahan itu yang membawa kita masuk dalam kerajaan sorga. Itulah kemah ibadah yang benar, ini bukan ibadah lahiriah lagi ini sudah ibadah dalam bentuk yang rohani. Kalau bentuk lahiriahnya memang seperti yang kita lihat di dalam kemah yang pertama terdapat Meja Roti Sajian, Pelita Emas, Mezbah Dupa.

2.   TABUT PERJANJIAN.
Tabut perjanjian berbicara tentang dua hal;
1.   Takhta Allah.
2.   Hubungan intim antara gereja dengan Kristus sebagai kepala.
Tandanya ada tiga perkara di dalam tabut perjanjian;
1.   Buli-buli emas berisi manna, ini IMAN yang permanen persis seperti emas tidak berubah-ubah.
2.   Tongkat Harun yang bertunas, inilah PENGHARAPAN yang permanen.
3.   Dua loh batu bertuliskan sepuluh hukum, inilah KASIH Allah yang permanen.
Jadi semuanya sudah bersifat rohani, inilah ibadah yang berkenan, bukan lagi ibadah Taurat, ibadah lahiriah, penuh dengan aturan-aturan tetapi tidak berkenan, tidak mengandung janji.

Mari kita lihat kehidupan yang seperti ini, dimana sudah menjadi kehidupan doa, berada di ruangan maha suci.
Ayub 1:20-21
(1:20) Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, (1:21) katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

Kehidupan doa penyembahan tidak lagi terikat dengan perakara lahiriah, persis seperti pembakaran ukupan yang ada di dalam Ruangan Maha Suci. Amin.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang