KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Friday, July 31, 2020

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 28 JULI 2020



IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 28 JULI 2020


KITAB KOLOSE
(Seri: 107)

Subtema: PENGUDUSAN OLEH DARAH SALIB KRISTUS

Shalom.
Pertama-tama saya mengucapkan syukur kepada TUHAN oleh karena rahmat-Nya dan kasih karunia-Nya dianugerahkan bagi kita, sehingga malam ini kita boleh berada dalam suasana penyembahan, yang disebut juga dengan suasana mempelai.
Saya juga tidak lupa menyapa umat TUHAN, anak-anak TUHAN, dan hamba-hamba TUHAN yang sedang mengikuti pemberitaan Firman TUHAN lewat live streaming video internet Youtube, Facebook di mana pun anda berada. Selanjutnya, mari kita mohonkan kemurahan dari TUHAN supaya kiranya TUHAN membukakan firman-Nya bagi kita malam ini.

Mari kita sambut Firman Penggembalaan untuk Ibadah Doa Penyembahan dari surat yang dikirim oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose.
Kolose 3:19
(3:19) Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.

“Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Kalimat ini adalah suatu pernyataan dari Allah yang ditujukan langsung kepada suami-suami supaya setiap suami tahu untuk mengasihi isterinya dengan benar.

Pelajaran yang baik dan indah bagi seorang suami di dalam hal mengasihi isterinya, dapat kita temukan dalam surat yang dikirimkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus.
Efesus 5:25-27
(5:25) Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya (5:26) untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, (5:27) supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Suami-suami di dalam hal mengasihi isterinya, di sini dinyatakan sebanyak dua kali, yaitu:
1.      Yang pertama, ayat 25-27.
2.      Yang kedua, ayat 28-29.

Kita kembali untuk memperhatikan BAGIAN YANG PERTAMA, yaitu Efesus 5:25-27.
Efesus 5:25-26
(5:25) Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya (5:26) untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,

Kasih dari seorang suami terhadap isterinya harus sama seperti kasih Kristus kepada sidang-Nya, yang dibuktikan dengan pengorbanan-Nya atau penyerahan diri-Nya bagi jemaat, dengan maksud: untuk menguduskan sidang jemaat dengan air dan firman yang limpah.

Air dan firman yang limpah à sungai air kehidupan yang mengalir keluar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba, sesuai dengan Wahyu 22:1.
Yang Pertama: Yang mengalir keluar dari takhta Allah à Injil Keselamatan atau Injil Kerajaan, yang berkuasa untuk menjadikan kita sebagai anak-anak Allah, milik kepunyaan-Nya, kehidupan yang dimeteraikan Roh Kudus.
Yang Kedua: Yang mengalir keluar dari takhta Anak Domba à Cahaya Injil tentang Kemuliaan Kristus atau yang disebut juga dengan firman pengajaran yang rahasianya dibukakan -- Singkatnya; firman yang dibukakan --, sesuai dengan 2 Korintus 4:3-5. Adapun kuasa dari Cahaya Injil tentang Kemuliaan Kristus atau firman pengajaran yang rahasianya dibukakan, ialah:
1.      Menyingkapkan segala yang terselubung, sama artinya: dosa dibongkar dengan tuntas (lahir batin), tidak ada dosa yang tersembunyi. Dalam hati pikiran dan perasaan dibongkar dengan tuntas; itulah kuasa dari Cahaya Injil tentang Kemuliaan Kristus, supaya kita juga bercahaya oleh kuasa dari Cahaya Injil tentang Kemuliaan Kristus. 
2.      Memberi pengertian kepada orang-orang bodoh. Tujuannya supaya orang-orang bodoh jangan berbuat kejahatan, jangan berbuat kesalahan, sebab itu merupakan  perbuatan bodoh di hadapan TUHAN.

TUHAN tidak melihat apakah ijazahnya tinggi atau tidak, atau apakah dia mempunyai ijazah atau tidak, apakah dia orang pandai atau orang bodoh, apakah dia orang kaya atau orang miskin. Untuk mengikuti TUHAN tidak diukur dari kepandaiannya asal saja kita mau mengakui dan menyerah terhadap pembukaan rahasia firman, maka pada saat itu juga pembukaan rahasia firman akan memberi pengertian kepada orang bodoh supaya orang bodoh tidak melakukan kesalahan atau tidak mengulangi kesalahan-kesalahannya sebab itu merupakan perbuatan bodoh di hadapan TUHAN.

Di dalam suratan Petrus juga disinggung mengenai pengudusan oleh karena darah salib Kristus -- adalah korban Kristus --. Segera saja kita berangkat untuk memperhatikannya dalam 1 Petrus 1.
1 Petrus 1:15-16,18-16
(1:15) tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, (1:16) sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. (1:18) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, (1:19) melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Perikop (judul utama) ayat ini adalah “Kekudusan dan Kasih Persaudaraan”; itu adalah suatu kemurahan yang besar jika terjadi dalam kehidupan kita masing-masing, karena dampak dari kekudusan dan kasih persaudaraan adalah tidak akan mungkin saling menyakiti, apalagi di dalam nikah.  Hubungan kita dengan TUHAN adalah hubungan intim, yakni; hubungan nikah yang suci.

Penekanan dari ayat 15-16 adalah soal “kekudusan” untuk menjadi sama dengan Dia di dalam kekudusan.
Penekanan dari ayat 18-19: Dosa warisan -- dosa yang diwariskan dari orang tua, itulah kutuk nenek moyang, baik itu dosa kejahatan, maupun dosa kenajisan, baik kecemaran-kecemaran, kebodohan-kebodohan dari orang tua turun ke anak. Tetapi di sini dikatakan: Kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu dengan darah yang mahal. Mengapa disebut dengan “darah yang mahal?” Sebab darah yang mahal itu sama seperti darah Anak Domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Anak Domba disembelih bukan karena dosanya, itu sebabnya disebut “darah yang mahal.”

Dosa warisan atau perbuatan yang sia-sia ditebus dengan darah yang mahal; karena Anak Domba disembelih bukan karena dosanya, bukan karena kejahatannya, sesuai dengan apa yang dinyatakan pada ayat 19: “Sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.
Jadi, seorang hamba TUHAN, pelayan TUHAN, teramat lebih seorang pemimpin sidang jemaat bertanggung jawab di dalam penebusan ini; maka, kita sama-sama belajar saling mendoakan dan sama-sama mendoakan untuk hidup kudus dalam segala perkara, sehingga dengan demikian, kita dipakai TUHAN untuk menolong orang-orang yang masih jauh dari TUHAN, menjadi korban untuk menebus orang lain. Oleh sebab itu, biasakan diri supaya menyatu dengan pengertian, yaitu hidup tanpa cacat cela.

Singkatnya: Penebusan yang dikerjakan oleh darah salib Kristus membawa hidup gereja TUHAN kepada sebuah pengudusan di hadapan TUHAN. Kemudian, di dalam suratan Petrus ini kita menemukan suatu fakta yang nyata, bahwasanya Allah sangat mendambakan hidup gereja TUHAN untuk menjadi sama dengan Dia di dalam hal kekudusan, supaya akhirnya menjadi pasangan yang seimbang dengan TUHAN. Kalau kita hidup kudus di hadapan TUHAN, maka dengan demikian kita menjadi pasangan yang seimbang dengan TUHAN (menjadi penopang).
Kalau berperilaku seperti binatang yang diciptakan dari tanah, maka tidak bisa dijadikan sebagai pasangan yang seimbang bagi TUHAN, tidak bisa dijadikan sebagai penopang, sebagai alat kemuliaan TUHAN. Binatang tidak bisa memberi pengertian, karena mulut tidak dapat berbicara dengan baik, kecuali hanya bisa mengeluarkan suara, ngoceh terus; itulah binatang. Jadi, kalau melayani tetapi ngoceh terus, bersungut-sungut dalam memikul salib, sesungguhnya ia tidak layak untuk menjadi penopang.

1 Petrus 1:20
(1:20) Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir.

Yesus Kristus adalah Kepala Gereja (Jemaat) dan Mempelai Pria Sorgawi; “Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan.”

Kata “dipilih” menunjukkan Dia adalah Kepala jemaat, sekaligus suami yang betul-betul bertanggung jawab bagi keselamatan dari sidang mempelai-Nya. Itulah yang dimaksud dengan “dipilih.”
Saya tandaskan malam hari ini untuk pemuda-pemudi yang menantikan (mengharapkan) pasangan hidup; biarlah kiranya mendapatkan pasangan hidup sesuai dengan pilihan TUHAN. Kalau seorang pemuda mendapatkan pasangan hidup sesuai dengan pilihan TUHAN, maka kelak isterinya menjadi penopang yang baik; tidak banyak bicara, tidak banyak mengatur, tidak banyak bersungut-sungut, seperti Marta. Kalau seorang isteri suka bersungut-sungut, berarti dia ingin mengambil tempatnya laki-laki.

Jadi, jangan saudara mengadopsi cara dunia, yang menyatakan bahwa di mana-mana perempuan yang cerewet, bukan laki-laki; ini adalah pernyataan yang salah. Yang benar adalah perintah itu berasal (bersumber) dari kepala. Bendahara juga seharusnya adalah seorang laki-laki, bukan perempuan; yang mengatur segala sesuatu di rumah perbendaharaan adalah “kepala.” Ini adalah pengertian, bukan otoriter, melainkan supaya kita semakin fleksibel; jangan bersungut-sungut.

Saya ulangi kembali: Kata “dipilih” menunjukkan bahwa Dia adalah Kepala jemaat, sekaligus suami yang betul-betul bertanggung jawab demi keselamatan dari sidang mempelai-Nya, tubuh-Nya sendiri; itulah arti dipilih.

Supaya kita semakin diberkati malam hari ini, kita akan melihat penekanannya dalam Efesus 1.
Efesus 1:22-23
(1:22) Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. (1:23) Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

Allah yang telah memilih Kristus sebagai Kepala bagi jemaat. Kalau Allah yang memilih Kepala bagi sidang jemaat, maka gereja TUHAN tidak perlu ragu lagi, tidak perlu bingung, tidak perlu takut, tidak perlu kuatir soal masa depan, apalagi soal keselamatan hidup; pasti dipelihara TUHAN.

Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus ...” Oleh sebab itu, selayaknyalah kita bersyukur karena Allah telah meletakkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus, termasuk si seteru, termasuk lawan, sebab kepala ular telah diremukkan oleh tumit Yesus dua ribu tahun yang lalu di atas kayu salib, di bukit Golgota. Jadi, kalau Allah yang memilih Kepala atas gereja TUHAN, maka kita tidak perlu ragu; Allah telah meletakkan musuh-Nya di bawah kaki salib Kristus. Allah tidak pernah salah di dalam hal memilih.

Kemudian, sesudah kebangkitan-Nya, di dalam Injil Matius 28:18 Ia berkata kepada murid-murid: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Kurang apa baiknya TUHAN Yesus? Kurang apa baiknya Allah? Ia telah memilih Kristus sebagai Kepala, sebagai seorang suami yang betul-betul bertanggung jawab di dalam hal penyelamatan tubuh-Nya.

Selanjutnya, di sini dikatakan: “Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” Sungguh luar biasa baiknya Allah kepada kita; Perhatian Allah itu lebih dari perhatian suami-suami yang ada di atas muka bumi ini, termasuk perhatian saya belum sempurna kepada isteri saya. Tetapi Allah sangat memperhatikan sidang mempelai-Nya, asal kita fokus kepada Allah, jangan memikirkan yang lain-lain.

Efesus 1:23
(1:23) Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

Kemudian, penekanan pada ayat 23 ini ialah “Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia.” Artinya, Kristus, yang adalah Kepala, telah menggenapi segala sesuatunya di dalam diri kita masing-masing, termasuk menggenapi hukum Taurat, dengan demikian kita hidup di dalam hukum kasih karunia, bebas dari hukum Taurat. TUHAN telah menggenapi hukum Taurat itu di dalam diri kita, supaya dengan demikian kita semua berada di dalam suatu kedudukan yang luar biasa dan heran, yaitu hidup di dalam kasih karunia Allah, hidup di dalam kemurahan hati TUHAN.

“Kasih karunia” menurut Matius 5:17-18 adalah, YANG PERTAMA: Bagaikan “iota” = Rendah hati.
Iota adalah kumpulan huruf yang terkecil pada abjad Yunani, di mana arti rohani dari “iota” adalah rendah hati. Jadi, kalau saya dan saudara bisa menjadi suatu kehidupan yang rendah hati, itu adalah kasih karunia, di mana Hukum Taurat digenapi dalam kehidupan kita masing-masing.
Biarlah kiranya dalam pengikutan kita kepada TUHAN; makin hari makin rendah hati, makin tahun makin lemah lembut, bukan semakin mengeraskan hati. Apalagi kalau sudah memperoleh pengertian yang suci lewat pembukaan firman, maka tidak boleh semakin mengeraskan hati, justru harus semakin lemah lembut dan rendah hati. Jangan gunakan ayat ini untuk serang balik; itu namanya pengetahuan untuk melawan sesama. Ingat; perjuangan kita bukan melawan sesama, tetapi melawan penghulu di udara uang gelap; jangan keliru dalam hal berjuang.
Jadi, rendah hati adalah kasih karunia. Oleh sebab itu, rendah hatilah.

“Kasih karunia” menurut Matius 5:17-18 adalah, YANG KEDUA: Bagaikan “satu titik” = Kecil dan rela dikecilkan.
Orang yang rendah hati, belum tentu mau (bisa) rela dikecilkan. Kita datang melayani TUHAN dengan rendah hati, tetapi ketika dikecilkan belum tentu bisa (mampu) melakukannya. Oleh sebab itu, biarlah kiranya kita setelah bagaikan “iota”, lanjut bagaikan “satu titik”, di mana kehidupan yang kecil rela dikecilkan; menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung; dan itu merupakan kasih karunia Allah.
Kalau menderita karena pukulan, itu bukan kasih karunia; tetapi kalau dengan rela menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung -- yang disebut dengan “satu titik” -- itu adalah kasih karunia.

Jadi, kehidupan kita ini adalah “kepenuhan Dia”, sebab Dia menggenapi segala sesuatu di dalam diri kita, termasuk menggenapi hukum Taurat, supaya kita jangan berada di bawah hukum Taurat. Dan kita juga tidak menjalankan ibadah ini secara Taurat, melainkan berada dalam suatu kedudukan yang istimewa, hidup dalam kasih karunia.

Selanjutnya, kita akan memperhatikan HAL YANG LAIN yang juga dipenuhkan atau digenapi di dalam hidup gereja TUHAN.
Efesus 4:10-15
(4:10) Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu. (4:11) Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,

Pada ayat 10 ini ada dua hal berkat yang luar biasa yang kita temukan lewat kematian dan kebangkitan, yakni:
BERKAT YANG PERTAMA: “Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik.” Ini berbicara tentang pengalaman Yesus dalam tanda kematian dan kebangkitan-Nya. Kalau Ia mati dan bangkit, berarti Ia telah berkemenangan terhadap musuh (si seteru), terhadap lawan yang menimbulkan dosa, antara lain:
1.      Daging dengan segala hawa nafsu dan keinginan-keinginannya yang jahat.
2.      Dunia dengan arusnya yang menghanyutkan kerohanian dari anak-anak TUHAN.
3.      Iblis atau Setan dengan pengaruhnya yang menyebabkan terjadinya pendurhakaan (pemberontakan).
Kemudian, musuh yang terakhir yang dikalahkan ialah “maut.” Biarlah kiranya dapat dipahami dengan baik.
Ia telah turun (mati) dan telah naik (bangkit) adalah tanda kemenangan; Dia telah mengalahkan si seteru, musuh yang menimbulkan dosa. Kita patut bersyukur, sebab Allah telah memilih bagian yang terbaik dalam kehidupan kita masing-masing.

BERKAT YANG KEDUA: “Untuk memenuhkan segala sesuatu”, di mana Ia memberikan lima jabatan kepada hidup gereja TUHAN, antara lain;
1.      Jabatan rasul.
2.      Jabatan nabi.
3.      Jabatan penginjil.
4.      Jabatan gembala.
5.      Jabatan guru.
Kita patut bersyukur, sebab Dia telah memenuhkan segala sesuatu di dalam hidup gereja TUHAN, termasuk Ia juga yang memberikan lima jabatan, dengan tujuan untuk untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, singkatnya; demi terwujudnya kesatuan tubuh ... Efesus 4:12.

Masing-masing kita harus bertanggung jawab di dalam kesatuan tubuh ini. Tidak boleh egois mencari kesenangan dari hal-hal yang tak suci. Sekali lagi saya tandaskan; kita masing-masing harus bertanggung jawab di dalam pembentukan tubuh Kristus.

Kesimpulannya: Allah yang telah memilih Kristus sebagai Kepala atas sidang jemaat-Nya atau tubuh-Nya. Pendeknya, pilihan Allah tepat untuk kita, anak-anak TUHAN yang juga tubuh-Nya, sebab Dia adalah;
-          Kepala yang berkemenangan, sebab segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah kaki-Nya.
-          Kristus telah memenuhkan atau menggenapi segala sesuatu atas sidang mempelai-Nya.

Dalam pemberitaan firman pun saudara harus bisa mendoakan saya; dengan duduk diam tenang fokus, itu sudah mendukung saya, sehingga kita diberkati dan kita rendah di kaki salib Kristus. Sebab tadi kita sudah melihat bahwa penopang tidak berasal dari binatang.

Kita kembali membaca Efesus 5:26-27.
Efesus 5:26-27
(5:26) untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, (5:27) supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Tujuan dari pengudusan oleh air dan firman yang limpah ialah untuk menempatkan sidang jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang, tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu = kudus, tidak bercela = sempurna. Jelas hal ini menunjuk kepada mempelai perempuan TUHAN. Itulah tujuan dari pengudusan oleh air dan firman yang limpah.

Biarlah kiranya kita senantiasa menikmati air dan firman yang limpah lewat pembukaan Firman TUHAN, supaya kita dibawa kepada suatu pengudusan, bahkan sampai tanpa cacat cela, kudus, tidak bercela, sama dengan; sempurna, itulah mempelai perempuan TUHAN. Itulah akhir dari penyucian, yaitu “kesempurnaan.”

Jadi, pengudusan dari air dan firman itu membawa kita sampai kepada tanpa cacat cela = sempurna, itulah mempelai TUHAN. Singkatnya, kesempurnaan ini adalah tugas dari hamba-hamba TUHAN, termasuk saya, sebagaimana Rasul Paulus dengan giat memperjuangkan sidang jemaat di Korintus di hadapan TUHAN.

2 Korintus 11:2
(11:2) Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.

Jemaat di Korintus dipertunangkan kepada Kristus sebagai perawan suci, sama dengan; tidak bercacat dan tidak bercela. Ini adalah tugas dari seorang hamba TUHAN di hari-hari terakhir ini untuk mempertunangkan gereja TUHAN kepada satu laki-laki sebagai perawan suci kepada Kristus, yang adalah Kepala Gereja, Mempelai Pria Sorga.

Jadi, seorang hamba TUHAN tidak boleh sibuk dengan yang lain-lain, tidak boleh sibuk dengan hal-hal lahiriah yang ada di atas muka bumi ini. Tetapi hamba TUHAN harus sibuk dengan satu perkara, yaitu mempertunangkan gereja TUHAN kepada satu laki-laki sebagai perawan suci kepada Kristus, Kepala Gereja, Mempelai Pria Sorga. Itulah tugas dari seorang hamba TUHAN, seorang gembala sidang, seorang pemimpin sidang jemaat; tidak boleh sibuk dengan yang lain-lain, apalagi fokus berbicara soal Theologi kemakmuran, fokus dengan berkat-berkat jasmani, bahkan di tengah-tengah ibadah pelayanannya hanya sebatas mengadakan mujizat-mujizat kesembuhan, tetapi soal penyucian oleh kuasa dari korban Kristus diabaikan.

Itu sebabnya, di dalam Injil Matius 7:23 kepada hamba-hamba Tuhan, dikatakan: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!
Kalau hanya berbicara berkat di tengah ibadah dan pelayanannya; seorang hamba TUHAN hanya sibuk berbicara berkat dan mujizat-mujizat kesembuhan, tetapi mengabaikan pengudusan oleh korban Kristus, maka TUHAN berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu!” karena hamba TUHAN yang demikian adalah pembuat kejahatan.
Dulu kita berpikir bahwa mencuri, tidak mengembalikan sepersepuluh itu adalah kejahatan; tetapi kalau hanya sibuk soal perkara lahiriah, itu adalah hamba TUHAN yang tidak dikenal dan pembuat kejahatan di hadapan TUHAN.

Malam hari ini kita diluruskan oleh TUHAN lewat pengertian yang suci melalui air firman yang limpah, itulah pembukaan rahasia Firman Allah yang dinyatakan bagi kita dalam setiap pertemuan-pertemuan ibadah kita. Kita patut bersyukur, sebab Allah telah memberikan Kristus sebagai Kepala bagi kita semua.

Kita lihat KEADAAN dari PERAWAN SUCI di dalam Wahyu 14.
Wahyu 14:1,4
(14:1) Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya. (14:4) Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.

144.000 (seratus empat puluh empat) ribu orang merupakan inti dari mempelai TUHAN, di mana mereka itu digambarkan seperti Puteri Sion (gunung Sion). Kemudian, di sini dikatakan: “mereka murni sama seperti perawan”, berarti; suci di atas suci.

Selain “mereka murni sama seperti perawan”, pada ayat 5 dikatakan ...
Wahyu 14:5
(14:5) Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela.

Kemudian, 144.000 (seratus empat puluh empat) ribu orang itu “mereka tidak bercela”, berarti; kudus, tidak bercela; itulah mempelai TUHAN.

Tetapi yang pasti di sini: Kesempurnaan dari mempelai perempuan itu nyata sekali, sebab di ayat 4 dikatakan: “Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan.
“Perempuan-perempuan”, yang dimaksud di sini menunjuk kepada dua perempuan yang hebat di dalam melakukan sesuatu yang tidak baik dan tidak suci di hadapan TUHAN, itulah;
1.      Perempuan Izebel.
2.      Perempuan Babel.
Berarti, kalau tidak mencemarkan diri dengan “dua perempuan” ini, sama artinya;
-    Menempatkan Kristus sebagai Kepala dalam kehidupan mereka, sebab menolak “ajaran Izebel.” Kemuliaan dari seorang perempuan adalah tudung (rambut panjang), itu berbicara soal ketundukan. Jadi, ketundukan dari inti mempelai perempuan TUHAN ini sungguh nyata, sebab mereka tidak mencemarkan diri dengan perempuan Izebel.
-   Hidup dalam kesucian, lepas dari dosa kenajisan, tidak mencemarkan diri dengan dosa kenajisan, itulah kenajisan dari “Babel.”
Yang pasti, “murni seperti perawan” artinya adalah lepas dari pengaruh dua perempuan hebat dalam perkara yang tidak suci ini, itulah “Izebel” dan “Babel.” Mulai dari sekarang, kita belajar untuk menghindarkan diri dari dua ajaran perempuan hebat ini.
Belajar menempatkan Kristus sebagai Kepala atas tubuh, berarti; dengar-dengaran. Belajar memandang salib Kristus, terlebih jika mulai tersirat sesuatu yang tidak suci di dalam pemikiran dan hati ini. Jika mulai tersirat sesuatu yang najis dalam pikiran dan hati ini, lepaskan diri dari situ, pandang saja darah salib Kristus yang menguduskan kehidupan kita sampai sempurna, tanpa cacat cela.

Jika laki-laki melihat sesuatu yang tidak suci, langsung patahkan. Sedikit kesaksian: Rumah yang bunda (orang tua kami) beli, di situ ada dibuat guna-guna, tetapi saya tidak tahu di mana itu diletakkan, sehingga Setan itu tetap ada. Jadi, jika pikiran bunda mulai kosong, Setan itu ada, tetapi puji TUHAN, bunda sadar kembali. Suatu kali ketika bunda sakit, tiba-tiba ada seorang ibu menangis di sampingnya, lalu bunda langsung menengking dan berkata: “Pergi kamu, saya pelintir kepalamu.” Lalu, laki-laki besar juga ada di situ, dan bunda melihat, kemudian berkata: “Pergi kamu, saya pelintir kamu, karena saya anak TUHAN Yesus. Darah salib berkuasa atasku.
Mungkin saudara tidak mengalami hal yang sama dengan pengalaman bunda, tetapi manakala dalam pikiran dan hati ini mulai tersirat sesuatu yang najis -- itulah ajaran Babelonia -- langsung ingat darah salib Kristus, sebab kasih Allah yang luar biasa telah menempatkan Kristus sebagai Kepala atas jemaat-Nya.

Wahyu 14:5
(14:5) Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela.

Di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta ...” Dalam Yakobus 3:2 mengatakan: Barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, tidak bercacat dan tidak bercela.

Suasana mempelai adalah suasana penyembahan, dan malam ini kita akan tersungkur di kaki salib Kristus.

Wahyu 14:2-3
(14:2) Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. (14:3) Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu.

Suasana mempelai diliputi dengan suasana penyembahan, karena mempelai TUHAN ada di dalam hubungan intim atau nikah yang suci.

Jadi, sekali lagi saya sampaikan dengan tandas, bahwa: Suasana mempelai diliputi dengan suasana penyembahan; sudah berada dalam penyerahan diri sepenuhnya kepada TUHAN, sebab hati ini sudah sepenuhnya miliknya TUHAN, bukan untuk (kepada) yang najis. Menempatkan Kristus sebagai Kepala -- sebagai tanda ketundukan -- dan hati ini adalah milik TUHAN sepenuhnya.
Banyak pengertian-pengertian dari dosa warisan (kutuk nenek moyang) yang menyatakan; hati boleh terseret kepada kenajisan, asal jangan bersetubuh. Sesungguhnya, ini adalah pengertian yang salah, pengertian yang keliru, sehingga orang yang semacam ini seringkali membenarkan dirinya.

Sekali lagi saya sampaikan dengan tandas, bahwa: Suasana mempelai diliputi dengan suasana penyembahan oleh hubungan nikah yang suci. Kalau hanya memiliki “firman” dan “Roh” saja, itu tidak cukup; oleh sebab itu, kerohanian harus sampai kepada penyembahan, penyerahan diri sepenuh kepada Allah, itulah yang menggairahkan Mempelai Pria Sorga terhadap mempelai perempuan-Nya. Amin.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang

Wednesday, July 29, 2020

IBADAH RAYA MINGGU, 26 JULI 2020


IBADAH RAYA MINGGU, 26 JULI 2020


WAHYU PASAL12
(Seri: 15)

Subtema: KECEMBURUAN DAN KESOMBONGAN NAGA BESAR SERTA PENYESATANNYA

Shalom.
Selamat sore, selamat petang. Salam sejahtera dan bahagia kiranya memenuhi kehidupan kita masing-masing.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat TUHAN yang sedang mengikuti pemberitaan Firman TUHAN lewat live streaming video internet Youtube, Facebook di mana pun anda berada.  Selanjutnya, kita mohonkan kemurahan dari TUHAN supaya kiranya TUHAN membukakan firman-Nya bagi kita sore hari ini.

Kita segera sambut Firman Penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu dari KITAB WAHYU.
Wahyu 12:9
(12:9) Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

Naga besar, si ular tua, disebut juga si Iblis atau Setan, tidak mendapat tempat lagi di sorga atau tidak layak untuk berada di tempat yang maha tinggi, sehingga ia dilemparkan ke bawah atau ke bumi bersama dengan malaikat-malaikatnya.

Nabi Yesaya juga menceritakan peristiwa tentang jatuhnya naga besar itu di dalam Yesaya 14:12.
Yesaya 14:12
(14:12) "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!

Bintang Timur, putera Fajar sudah jatuh dari langit; ia sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, sebab di sini kita melihat nabi Yesaya berkata: “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi” Jadi, ayat ini sinkron dengan Wahyu 12:9.

Lebih jelas lagi, nabi Yehezkiel meneguhkan apa yang diceritakan oleh nabi Yesaya tentang kejatuhan Iblis atau Satan tersebut.
Yehezkiel 28:12-15
(28:12) "Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah. (28:13) Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. (28:14) Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. (28:15) Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu.

Keadaan dari pada naga besar itu sebelum dijatuhkan ke bumi -- yang ternyata disebut juga Bintang Timur, putera Fajar -- ialah:
1.      Dia adalah gambar dari kesempurnaan, penuh hikmat dan maha indah.
2.      Berada di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga, antara lain; yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Kemudian, tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaannya.
3.      TUHAN memberikan tempat sebagai kerub yang berjaga-jaga di gunung kudus Allah. Jadi, kedudukannya berada di tempat yang maha tinggi sebagai kerub yang berjaga-jaga.
Begitu istimewanya ia di dalam Kerajaan Sorga sebelum ia dilemparkan ke bumi. Kemudian, dalam suasana Kerajaan Sorga, dia berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya.

Itulah keadaan dari Iblis atau Satan, naga besar itu, yang sebelumnya disebut Bintang Timur, putera Fajar; begitu istimewanya keberadaan dari pada Bintang Timur, putera Fajar ini sebelum dijatuhkan (dilemparkan) ke bumi.

Namun, marilah kita kembali membaca ayat 15-16.
Yehezkiel 28:15-16
(28:15) Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu. (28:16) Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya.

Namun pada akhirnya, terdapat kecurangan di dalam dirinya, antara lain:
YANG PERTAMA: “Dagangmu yang besar”, artinya; dipengaruhi oleh roh jual beli yang sangat kuat sekali.
Ketika Yesus menunggangi keledai muda, sampai ke Yerusalem, lalu masuk di Bait Allah, maka ditemukan-Nyalah Bait Allah sudah menjadi sarang penyamun atau tempatnya roh jual beli. Dan di situ, Yesus menemukan tiga perkara, yaitu;
1.      Pedagang-pedagang lembu sapi, kambing domba dan merpati. Ini adalah gambaran dari korban Kristus yang dipersembahkan di atas mezbah.
2.      Meja-meja penukar uang. Artinya, hati sudah menjadi tempatnya uang (cinta akan uang).
3.      Tempat duduk penjual merpati. Artinya, di dalam rumah TUHAN terdapat keakuan. Kalau keakuan sudah ada di dalam rumah TUHAN, berarti takhta Allah tidak ada di dalamnya, sehingga jadilah seperti Herodes yang hidup di dalam penyembahan palsu, pelayanan yang palsu, ibadah palsu.
YANG KEDUA: “Penuh dengan kekerasan”, berarti; tidak lagi lemah lembut, tidak lagi rendah hati.
Seharusnya, kalau kita berada di dalam Kerajaan Sorga; semakin lama semakin lemah lembut, semakin lama semakin rendah hati. Tetapi lihatlah keberadaan dari  Bintang Timur, putera Fajar ini, justru semakin penuh dengan kekerasan.
YANG KETIGA: “Berbuat dosa”, artinya; sudah dalam kecemaran-kecemarannya.

Akhirnya, pada ayat 16, Allah membuang dia dari gunung Allah, dari kedudukannya sebagai kerub yang berjaga-jaga dan dari tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya tadi. Dia kehilangan sorga, dia kehilangan segala sesuatu termasuk kekayaan dan kemuliaan sorgawi.
Kalau sampai hari ini kita masih bertahan dan tekun dalam tiga macam ibadah pokok, tentu karena satu kerinduan kita, yaitu segala kemuliaan yang terdapat di dalam Kerajaan Sorga, tidak lebih tidak kurang. Sebab, perjalanan rohani dari setiap kekristenan, perjalanan rohani dari anak-anak TUHAN, perjalanan rohani dari hidup gereja TUHAN, suatu kali nanti akan berakhir (ada ujungnya); maut atau sorga? Jadi, saudara jangan berpikir bahwa perjalanan rohani ini “tidak memiliki akhir”, suatu kali nanti “akan berakhir.”

Sekali lagi saya sampaikan: Allah membuang dia dari gunung Allah, dari kedudukannya sebagai kerub yang berjaga-jaga dan dari tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. Saya tambahkan sedikit, secara khusus kepada hamba-hamba TUHAN, kepada pelayan-pelayan TUHAN, para imam-imam yang sudah diberi kesempatan untuk melayani TUHAN, diberi kesempatan untuk melayani pekerjaan TUHAN, sesuai karunia-karunia, sesuai jabatan yang dipercayakan oleh TUHAN; hargai itu semua. Jangan kita terbuang dari kedudukan kita sebagai imam-imam, sebab kedudukan seorang imam itu tinggi dan sangat istimewa di mata TUHAN.

Yehezkiel 28:17
(28:17) Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya.

Kemudian, ia menjadi sombong karena kecantikan atau keindahan, sehingga oleh karena kecantikan ini juga, di sini dikatakan: “hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu -- demi kecantikan, demi keindahan --”. Jadi, praktek kesombongan itu ialah hikmat yang dimiliki ia musnahkan demi semaraknya.

Kalau pun kita memiliki ini dan itu, memiliki harta, kekayaan, suatu kedudukan, jabatan, ijazah tinggi, atau pun memiliki kekuasaan di bumi, itu tidak salah, justru kita patut bersyukur, kita patut berterima kasih kepada TUHAN kalau kita diberkati dengan perkara itu. Tetapi, jangan sampai hikmat TUHAN dimusnahkan oleh karena kemegahan, jangan sampai hikmat dimusnahkan karena kebanggaan diri, yaitu harta, kekayaan, kedudukan, jabatan, kekuasaan, ijazah yang tinggi, dan lain sebagainya.
Saudara perlu memperhatikan pembukaan firman sore hari ini; hikmat TUHAN dinyatakan, itulah pembukaan firman, lebih dari segala-galanya. Tetapi lihatlah, kesombongan dari Bintang Timur, putera Fajar -- atau disebut juga Lucifer -- ini, di mana hikmat yang dia miliki dimusnahkan demi semaraknya. Jangan lupa TUHAN kalau sudah diberkati; tetap hargai hikmat pembukaan firman.
Sekali lagi saya tandaskan; kalau diberkati, puji TUHAN dengan perkara-perkara itu semua, tetapi ingat; jangan sombong.

Hikmat à Pembukaan rahasia Firman. Kuasa dari pembukaan rahasia firman ialah dapat membuka pintu-pintu yang tertutup.
Yesus memegang kunci Daud. Kalau Dia yang membuka, maka tidak ada yang dapat menutup; sebaliknya, kalau Dia sudah menutup, maka tidak ada seorang pun yang dapat membuka. Kekuatan yang dimiliki manusia tidak dapat membuka pintu-pintu yang tertutup, tetapi hikmat, itulah pembukaan firman, dapat membuka pintu-pintu yang tertutup, artinya;
1.      Yang tidak ada menjadi ada.
2.      Yang mati dihidupkan kembali = berkuasa untuk menebus orang-orang yang terjual kepada maut. Seperti dalam pelajaran Pendalaman Alkitab, di mana Naomi dan Rut mendapat penebusan oleh Boas rohani, itulah pribadi dari  TUHAN Yesus Kristus yang telah Dia kerjakan dua ribu tahun yang lalu di atas kayu salib di bukit Golgota, sebagai karya penebusan untuk menebus orang-orang yang terjual kepada maut.
3.      Dapat menyelesaikan masalah-masalah yang tidak mungkin.
Itulah kuasa dari hikmat.

Sebagai ayat tambahan supaya kita lebih diteguhkan bahwa ternyata hikmat atau pembukaan firman berkuasa untuk menghidupkan orang yang mati atau yang terjual kepada maut.
Roma 4:16
(4:16) Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, -- (4:17) seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.

“Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia” Kita, yang adalah bangsa kafir, dibenarkan karena darah salib, dan itu merupakan kemurahan; itulah hikmat Allah.

Pembukana firman itu berkuasa untuk menghidupkan orang mati, kemudian berkuasa untuk menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada, berkuasa untuk menjadikan apa yang tidak mungkin bagi pikiran manusia, tetapi bagi pembukaan firman segalanya mungkin.
TUHAN sediakan pembukaan firman, TUHAN berikan hikmat untuk mengatasi segala persoalan, bahkan persoalan yang digambarkan bagaikan pintu-pintu yang tertutup; itulah pentingnya hikmat.

Tadi, kita sudah melihat Bintang Timur, putera Fajar -- atau yang disebut Lucifer --, itulah naga besar, juga disebut Iblis atau Satan, yang tidak menghargai hikmat demi semaraknya. Hal itu pun terjadi dan dihadapi oleh Rasul Paulus di tengah-tengah pelayanannya, yang bisa kita lihat di dalam 1 Korintus.

1 Korintus 1:22-24
(1:22) Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, (1:23) tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, (1:24) tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

Orang-orang Yahudi menghendaki tanda (mujizat) dan orang-orang Yunani (bangsa kafir) mencari hikmat (pengetahuan) semata, tetapi Rasul Paulus mempunyai pendirian yang teguh. Dia tetap memberitakan Kristus yang disalibkan, Dia tidak terpengaruh dengan selera dari orang Yahudi, tidak terpengaruh dengan selera orang Yunani (bangsa kafir).

Hikmat yang bersumber dari salib Kristus;
-          Bagi orang-orang Yahudi adalah suatu batu sandungan.
-          Bagi orang-orang bukan Yahudi (bangsa kafir) adalah suatu kebodohan.
Pendeknya, hikmat yang bersumber dari salib Kristus dimusnahkan demi semarak, demi kebanggaan yang lain, demi kemegahan lahiriah.

Kesimpulannya: Baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, hikmat yang bersumber dari salib Kristus dimusnahkan demi semarak, demi kemegahan diri dan kemegahan-kemegahan lahiriah lainnya. Mereka tidak peduli dengan hikmat Allah demi semarak mereka.
Itulah yang dihadapi oleh Rasul Paulus di tengah-tengah pelayanannya di hadapan TUHAN.

Kalau hikmat dimusnahkan demi semarak, demi keindahan, demi kecantikan, demi kebanggaan-kebanggaan diri yang berasal dari perkara lahiriah, itu merupakan kesombongan besar, kesombongan yang luar biasa, itu bukan kesombongan biasa. Itu sebabnya TUHAN melemparkan naga itu ke bumi ini. Jadi, bumi ini adalah tempat pembuangan bagi orang-orang yang berdosa.
Saat ini kita hidup sementara di bumi hanya sebagai seorang penumpang untuk menantikan bumi yang baru, langit yang baru, Yerusalem yang baru; tetapi juga, bumi ini menentukan bagaimana ujung perjalanan rohani kita di kemudian hari. Begitu Adam  jatuh dalam dosa, mereka menjadi telanjang dan dibuang (diusir) dari Taman Eden bagaikan kita dilemparkan di atas muka bumi ini oleh karena dosa.

Jangan sampai karena semarak, lantas hikmat kita musnahkan. Jangan sampai karena kecantikan, lantas hikmat kita musnahkan. Perlu untuk diketahui: seindah-indahnya Kerajaan Sorga, jikalau sebuah takhta tidak terdiri di dalamnya, maka sorga tidak menjadi berarti. Demikian halnya kehidupan seseorang; seindah-indahnya kehidupan seseorang oleh karena kedudukan, jabatan, harta, kekayaan, dan kekuasaan yang dia miliki, tetapi kalau damai sejahtera Kristus tidak memerintah di dalam hatinya, maka kehidupan orang itu tidak menjadi berarti. Sekalipun dia mempunyai gelar doktor, profeseor, atau seorang yang hebat, memiliki kekuasaan yang besar/orang yang berpengaruh, tetapi jikalau Allah tidak bertahkta di dalam hidupnya, maka tidak ada artinya.

Saya sampaikan kembali dengan tandas: Kalau hikmat dimusnahkan karena semarak, itu adalah kesombongan yang luar biasa, itu bukan kesombongan biasa. Ingatlah hal ini.
Oleh sebab itu, di atas tadi saya sudah sampaikan; kalau kita diberkati dengan harta, kekayaan, kedudukan, jabatan, bisnis, memiliki pendidikan yang tinggi, memiliki gelar sarjana atau doktor atau profesor, yaa puji TUHAN, tetapi jangan karena semarak itu, jangan karena keindahan itu, lantas kita musnahkan hikmat; itu adalah kesombongan yang luar biasa. Dan perlu untuk diketahui; kesombongan mendahului kejatuhan seseorang; kesombongan itu mengawali kejatuhan seseorang. Jangan sampai oleh karena kesombongan ini, kita lantas jatuh dan hancur-hancuran.

Kita kembali untuk menyimak Yehezkiel 28.
Yehezkiel 28:17
(28:17) Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya.

Engkau sombong karena kecantikanmu” Sombong karena kecantikan, karena kemegahan, karena semarak yang diperoleh dari perkara-perkara lahiriah yang berasal dari dunia ini, sehingga “hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu” Dalam kesombongan itu, hikmat (pembukaan rahasia firman) dimusnahkan demi semarak, demi kecantikan, demi keindahan dan lain sebagainya.

Kalau seorang hamba TUHAN bangga dengan kecantikan, bangga dengan keindahan, bangga dengan semaraknya oleh karena hal-hal yang bersifat lahiriah, itu adalah kesombongan yang luar biasa, itu bukanlah suatu kesederhanaan dari seorang hamba TUHAN. Dan akhirnya, naga itu pun dilemparkan ke bumi.

Bukti-bukti kesombongan yang lain dari Bintang Timur, putera Fajar.
Yesaya 14:12-14
(14:12) "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! (14:13) Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. (14:14) Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!

Di sini kita melihat, hasrat hati dari Bintang Timur, putera Fajar adalah menghendaki lima perkara sebagai bukti kesombongannya, anara lain;
-          Yang Pertama: “Aku hendak naik ke langit”;
-          Yang Kedua: “aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah”;
-          Yang Ketiga: “aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara”;
-          Yang Keempat: “Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan”;
-          Yang Kelima: “hendak menyamai Yang Mahatinggi!”.

Namun, pada ayat 12 kita melihat ...
Yesaya 14:12
(14:12) "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!

Namun sebaliknya, dia sudah jatuh dari langit, dia sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi.

Pendeknya: Ada lima hal yang dikehendaki oleh Iblis sehingga ia mendurhaka dan memberontak kepada Allah.
Adapun kelima hal dalam Yesaya 14:13-14 ialah:
-          Hal yang pertama dan hal yang kelima, sama dengan; kemuliaan.
-          Hal yang kedua, sama dengan; takhta.
-          Hal yang ketiga, sama dengan; kedudukan.
-          Hal yang keempat, sama dengan; kuasa.
Kesimpulannya: Naga besar yang disebut juga Iblis atau Satan menghendaki kemuliaan Allah, takhta Allah, kedudukan Allah, dan kuasa dari Allah. Jadi, kemuliaan, otoritas, posisi dan kuasa sangat didambakan oleh Iblis atau Satan, yang disebut juga naga besar itu.
Sementara, lima hal yang dikehendaki oleh Iblis atau Satan dari Allah itu semua sudah berada dalam rencana Allah yang ditujukan kepada manusia. Bukankah begitu luar biasa “manusia” di hadapan TUHAN?

Kejadian 1:26-28
(1:26) Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (1:27) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (1:28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah Tri Tunggal, berarti satu dalam kemuliaan-Nya, sama mulia dengan Dia. Ketika TUHAN membentuk malaikat tidak dikatakan “segambar serupa”, tetapi khusus untuk manusia, TUHAN berkata: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita”, segambar serupa (sama mulia) dengan TUHAN.

Namun, tidak berhenti sampai di situ; TUHAN juga memberikan kuasa untuk menaklukkan, antara lain;
1.      Ikan-ikan di laut.
2.      Burung-burung di udara.
3.      Ternak.
4.      Atas seluruh bumi.
5.      Atas segala binatang melata yang merayap di bumi.
Jadi, TUHAN memberikan kemuliaan bagi manusia, TUHAN berikan kuasa kepada manusia untuk menaklukkan perkara-perkara itu.

Tentu saja, Bintang Timur, putera Fajar cemburu sebab Allah memberikan semua itu kepada manusia. Inilah yang membuat akhirnya Bintang Timur, putera Fajar memberontak kepada TUHAN, sehingga timbullah hasrat di dalam hatinya untuk  menghendaki lima hal seperti yang ada di dalam diri Yesus Kristus.
Kalau orang lain diberkati, tidak perlu cemburu; kalau orang lain dipakai TUHAN, tidak usah kita iri hati dan keras hati; sebab itu adalah roh Setan, bukan dari Roh El-Kudus. Jangan cemburuan, sebab masing-masing kita sudah mempunyai bagian masing-masing dari TUHAN Yesus. TUHAN tidak pernah membedakan antara yang satu dengan yang lain, TUHAN tahu rencana-Nya. Rencana manusia bukanlah rencana TUHAN, tetapi rencana TUHAN harus menjadi rencana kita (manusia). Biarlah kita berada dalam rencana TUHAN dengan mengangkat dua tangan, menyerah saja ke mana saja TUHAN mau membawa hidup kita, bagaikan air sungai kehidupan yang mengalir dengan arusnya membawa kehidupan kita, sehingga kita melangkah sesuai dengan ketetapan firman -- arus air sungai kehidupan, itulah Firman TUHAN --.

Sekali lagi saya tandaskan: Jangan cemburu, jangan iri, jangan dengki kalau orang lain diberkati dan dipakai TUHAN dengan luar biasa. Akui semua berkat-berkat dan pemakaian TUHAN terhadap orang lain.

Tadi kita sudah melihat bahwa Allah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Allah, kemudian TUHAN memberikan otoritas dan kuasa-Nya untuk menaklukkan ikan-ikan di laut, burung-burung di udara dan segala binatang merayap di bumi. Pendeknya, rencana Allah bagi manusia menimbulkan kecemburuan bagi naga itu dan malaikat-malaikatnya.

Lebih jauh kita akan melihat dalam 1 Petrus 1.
1 Petrus 1:12
(1:12) Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.

“Berita Injil, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat. Artinya, tidak semua rahasia Kerajaan Sorga diketahui oleh malaikat-malaikat, tetapi kepada manusia hal itu dinyatakan. Begitu hebatnya TUHAN memperhatikan manusia sehingga menimbulkan kecemburuan bagi Bintang Timur, putera Fajar.

Rencana-rencana Allah yang indah tentang rahasia Kerajaan Sorga, semuanya dinyatakan kepada manusia, yang ingin diketahui oleh malaikat. Berarti, malaikat tidak mengetahui semua rencana Allah tentang rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada manusia hal itu dinyatakan. Inilah yang menimbulkan kecemburuan.

Inilah yang menjadi pemicu terjadinya kecemburuan, seperti kecemburuan dari Bintang Timur, putera Fajar, yang disebut juga naga besar, Iblis atau Satan. Tetapi puji TUHAN, di dalam Kristus Yesus ada pengharapan, maka kita tidak perlu kecil hati, karena memang akibat dari kecemburuan (iri dengki) Iblis atau Satan ini, manusia menjadi sasarannya. Sasaran dari kecemburuan, sasaran dari amarah Iblis atau Satan adalah manusia, tetapi jangan kita kecil hati.
Kalaupun hari ini kita sedikit bersusah hati, kalau pun hari ini kita sedikit menderita, atau mungkin hari ini kita sedang terpuruk yang disebabkan oleh banyak perkara, baik karena keuangan, atau karena sakit penyakit, atau karena wabah Corona yang menyebabkan ekonomi merosot, dan banyak perkara yang membuat kita menderita akibat dari cemburu (iri) dari Iblis atau Setan, namun kita tidak perlu berkecil hati, sebab di dalam TUHAN Yesus Kristus ada pengharapan.

Lihatlah, lima hal yang dikehendaki oleh hati dari Iblis atau Satan akan dilawan dan dihadapi langsung oleh TUHAN. Lima hal yang dikehendaki oleh Bintang Timur, putera Fajar, yang menjadi sumber timbulnya pendurhakaan, menjadi sumber kecemburuan, serta kesombongan, telah dibalas oleh TUHAN dengan lima luka yang dialami dan diterima oleh Yesus di atas kayu salib.

Lukas 22:42
(22:41) Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: (22:42) "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."

Perikop ayat ini adalah “Di Taman Getsemani”, itu berbicara soal pemerasan anggur sehingga kita boleh menikmati kasih Allah.  Kalau Yesus tidak mengalami pemerasan anggur, maka kita tidak akan menikmati kasih Allah.
Kita bersyukur, saat Yesus berdoa di taman Getsemani, keringat atau peluh-Nya itu bagaikan tetes-tetes (titik-titik) darah; itulah pemerasan buah anggur, sehingga kita boleh menikmati manisnya segala kemurahan dan kebaikan dari TUHAN Yesus.

Yesus berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku” Artinya, kalau seseorang dalam keadaan menderita, biasanya ia berkata: “Sudahlah, tolong, ambil penderitaan ini. Aku tidak sanggup lagi. Penderitaan ini sudah hebat, sudah panjang dan lebar, sudah berapa bulan, sudah berapa lama. Tolonglah dan ambillah.
Tetapi lihat, pernyataan Yesus berikutnya sangatlah bijaksana: “ ... tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Lihat, lima luka utama yang dialami oleh Yesus, antara lain; dua di tangan dan dua di kaki, lalu satu tusukan di lambung; lima luka inilah yang meneguhkan pernyataan Yesus di taman Getsemani, “tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Dengan demikian, tergenapilah Yesaya 14:12 dan Yehezkiel 28:16-17.

Oleh karena kehendak Allah inilah, maka lima kehendak hati Bintang Timur, putera Fajar rontok, oleh lima luka utama Yesus. Pendeknya, kehendak Allah merontokkan lima kehendak dari hati Bintang Timur, putera Fajar, itulah naga besar, yang disebut Iblis atau Satan. Jadi, di dalam TUHAN ada pengharapan. Tidak usah kecil hati. Jangan musnahkan hikmat yaitu; pembukaan firman demi semarak. Jangan sombong, tetapi hargailah pembukaan firman yang sanggup membuka pintu-pintu yang tertutup.

Biarlah kita saling mendoakan supaya dalam kerendahan kita berusaha terus untuk berjuang menghormati dan menjunjung tinggi hikmat, yakni; pembukaan firman TUHAN. Biarlah kiranya hal ini dipahami dengan baik.

Kita kembali untuk memperhatikan Yehezkiel 28:16-17.
Yehezkiel 28:16
(28:16) Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya.

Sekali lagi saya sampaikan: Hargai kepercayaan TUHAN. Kalau sudah diberi kesempatan untuk melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN, hargailah itu. Saat ini kita berada di tengah-tengah Ibadah Raya Minggu, di mana di tengah-tengahnya kita datang untuk beribadah dan melayani sesuai karunia dan jabatan Roh-El Kudus; biarlah kita menghargai itu, bagaikan sedang berjalan di tengah-tengah Kerajaan Sorga yang penuh dengan batu-batu bercahaya-cahaya; bukan batu-batu sandungan, tetapi batu-batu yang bercahaya, batu yang memberi terang dalam perjalanan rohani kita. Di dunia ini banyak batu sandungan, tetapi kalau kita melayani di dalam Kerajaan Sorga, itu bagaikan berjalan di atas batu-batu yang bercahaya.

Yehezkiel 28:16-17
(28:17) Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya.

Jangan kita lupakan pembukaan firman demi bisnis, usaha, pekerjaan, pendidikan, apapun yang kita miliki di dunia ini. Hanya di tengah ibadah kita mendapatkan pembukaan firman. Jangan sampai kita dilempar dari Kerajaan Sorga.

-          Penekanan dari ayat 16 ialah “Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah”.
-          Penekanan dari ayat 17 ialah “Ke bumi kau Kulempar menjadi tontonan”.
Saat ia dilemparkan ke bumi karena kesombongannya dan akhirnya ia menjadi tontonan. “Menjadi tontonan”, berarti; orang bisa melihat sebuah kisah cerita yang sangat mengharukan. Dari kehidupan yang begitu mulia -- diberkati dengan limpah --, akhirnya dilemparkan sehingga berada dalam kejatuhan yang hebat; dan semua melihat peristiwa itu. Sebetulnya, ini sangat memalukan. Oleh sebab itu, bertahanlah di dalam rumah TUHAN, melayani pekerjaan TUHAN karena itu jauh lebih baik. Jangan kita musnahkan pembukaan firman oleh karena semarak-semarak dunia ini, sebab itulah yang membuat kita tetap bertahan dan mulia di mata TUHAN.
Kalau sempat sombong, segera minta ampun, karena itu adalah awal jatuhnya seseorang. Kalau diberkati, puji TUHAN; tetapi jangan menjadi sombong karena berkat.

Kolose 2:13-15
(2:13) Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, (2:14) dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: (2:15) Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.

Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu -- sebab upah dosa adalah maut -- dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah -- itulah bangsa kafir, bangsa yang tidak bersunat --, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia. Orang yang terjual kepada maut dihidupkan kembali, ditebus oleh darah salib.
Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib, itulah dua tangan dan dua kaki terpaku serta satu tusukan pada lambung, sehingga Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah, melucuti penguasa-penguasa, dan menjadikan mereka tontonan. Singkatnya, dipermalukan oleh lima luka Yesus Kristus di atas kayu salib.

Oleh sebab itu, tidak usah kecil hati, jangan cepat-cepat putus asa. Yang menantikan pasangan hidup jangan putus asa. Yang mungkin sedang mengalami kesusahan dalam keuangan (ekonomi), tidak usah langsung kecil hati dan putus asa, sebab masih ada pengharapan.
Lima luka sudah melucuti semua pemerintahan dan dijadikan tontonan, sebab TUHAN tidak mau mempermalukan kita dalam kesusahan. Tidak usah putus asa, tenang saja, sabar dalam menantikan kemurahan TUHAN. Kita harus menaruh harap sebesar-besarnya hanya kepada Dia, jangan kepada yang lain. Janganlah kita keliru dalam hal mengikuti TUHAN.

Yang tidak memiliki ijazah, tidak perlu putus asa. Yang hari ini mengalami kelemahan di bidang ekonomi, tidak usah putus asa. Yang menjalankan bisnis tetapi mengalami kesusahan, tidak usah putus asa. Tenang saja, sebab lima luka utama sedang melucuti pemerintahan dan dijadikan tontonan, tetapi kita tidak dijadikan tontonan, sebab TUHAN tidak akan mempermalukan kita walaupun saat ini sedang menderita. Biarlah kita tetap tenang dalam pengharapan yang besar kepada TUHAN. Jangan gelisah, jangan putus asa, jangan jauh dari TUHAN, jangan jauh dari pelayanan. Tenang saja untuk menantikan kemurahan TUHAN, sebab akan tiba waktu Tuhan untuk memulihkan segala sesuatunya. TUHAN tidak akan pernah permalukan kita, TUHAN tidak akan jadikan kita sebagai tontonan, apalagi buah bibir.

1 Korintus 15:24-27
(15:24) Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. (15:25) Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. (15:26) Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. (15:27) Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa "segala sesuatu telah ditaklukkan", maka teranglah, bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya.

Yesus Kristus harus memerintah sebagai Raja sampai Allah betul-betul meletakkan semua musuh di bawah kaki-Nya. Jadi, sudah sangat jelas bahwa kepala ular telah diremukkan oleh tumit Yesus Kristus dua ribu tahun yang lalu. Bahkan, musuh yang terakhir pun telah dibinasakan, itulah maut. Segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki salib Kristus; Ia telah meremukkan kepala ular dengan tumit-Nya di atas kayu salib dua ribu tahun yang lalu.

Kita tidak usah kuatir, tidak usah takut, tidak usah cemas, sebab pengharapan kita besar tertuju kepada Dia yang telah mengalami lima luka utama. Dengan lima luka utama inilah Dia telah mengalahkan dan mematahkan lima kehendak dari Iblis atau Setan yang menimbulkan kecemburuan dan kesombongan.

Berkaitan dengan hal senada, kita perhatikan Roma 16:20.
Roma 16:20
(16:20) Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!

Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Jadi, TUHAN itu betul-betul memberikan kuasa kepada kita semua, TUHAN menyatakan kemuliaan-Nya, TUHAN menyatakan kuasa-Nya, TUHAN menyatakan segala sesuatu kepada kita, tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagi TUHAN, sebab Dialah yang mempunyai tabir itu dan Dialah yang dapat menyingkapkan tabir itu.
Lalu kemudian, “Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” TUHAN menyertai kita dengan kemurahan-kemurahan-Nya. Oleh sebab itu, kita tidak perlu berkecil hati.

Sesudah dilemparkan ke bumi, banyak perkara-perkara yang terjadi, baik itu kesusahan, kesulitan, dan lain sebagainya, tetapi percaya saja bahwa TUHAN Yesus menolong kita semua.

Kita kembali memperhatikan BAGIAN KEDUA dari Wahyu 12:9.
Wahyu 12:9
(12:9) Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

Naga besar, disebut juga ular tua atau Iblis Satan telah dilemparkan ke bawah -- berarti dilemparkan ke bumi -- bersama dengan malaikat-malaikatnya. Dan sesudah berada di bawah (di bumi), ia pun menyesatkan seluruh dunia; sehingga dunia ini berada di bawah kuasa kegelapan untuk menyesatkan seluruh dunia; itulah pekerjaan dari Iblis Satan.

Yesaya 14:16-17
(14:16) Orang-orang yang melihat engkau akan memperhatikan dan mengamat-amati engkau, katanya: Inikah dia yang telah membuat bumi gemetar, dan yang telah membuat kerajaan-kerajaan bergoncang, (14:17) yang telah membuat dunia seperti padang gurun, dan menghancurkan kota-kotanya, yang tidak melepaskan orang-orangnya yang terkurung pulang ke rumah?

Praktek menyesatkan seluruh dunia:
1.      Membuat bumi gemetar. Ini berbicara tentang ketakutan, kecemasan, kekuatiran yang dialami oleh penduduk bumi.
2.      Membuat kerajaan-kerajaan bergoncang. Artinya, ibadah pelayanan berada di dalam ketidakpastian. Kalau beribadah, ibadahlah dengan sungguh-sungguh. Kalau melayani, layanilah TUHAN dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai berada di dalam ketidakpastian.
3.      Membuat dunia seperti padang gurun. Artinya, tandus = kering-kering = tidak berbuah. Jelas itu menunjuk kepada orang yang hidup tanpa persekutuan yang baik dengan TUHAN. Persekutuan  yang baik dengan TUHAN itu digambarkan seperti ranting yang melekat pada pokoknya. Kalau ranting melekat pada pokok, maka ranting akan berbuah-buah, tetapi kalau ranting tidak melekat pada pokok, kering-kering, tidak berbuah.
4.      Menghancurkan kota-kotanya. Kalau kota-kota sudah hancur, ibadah pelayanan sudah hancur, berarti ibadah pelayanan itu menjadi sunyi sepi.
5.      Tidak melepaskan orang-orangnya yang terkurung pulang ke rumah. Artinya, tidak lepas dari ikatan atau belenggu; dua tangan dibelenggu, dua kaki dibelenggu, akibatnya ialah kaki tidak dapat melangkah untuk datang ke rumah TUHAN dan tangan tidak dapat digunakan untuk melayani TUHAN, serta melayani pekerjaan TUHAN.
Inilah praktek penyesatan yang dikerjakan oleh Iblis atau Satan selama berada di atas muka bumi ini. Dan TUHAN menyatakan hal ini dengan terang-terangan, sehingga sekalipun kita mendapatkan pengertian ini dengan terang-terangan, tetapi kita tidak perlu takut karena TUHAN sudah memberi pengertian ini kepada kita semua.

Hal yang senada juga dituliskan oleh nabi Yeremia. Yesaya, Yeremia, Yehezkiel adalah nabi besar yang menceritakan tentang kejatuhan dari Iblis atau Satan, termasuk akibat yang terjadi setelah Iblis atau Satan dilemparkan ke bumi, dan penyesatan yang terjadi pun dituliskan oleh Yeremia.

Yeremia 4:23-26
(4:23) Aku melihat kepada bumi, ternyata campur baur dan kosong, dan melihat kepada langit, tidak ada terangnya. (4:24) Aku melihat kepada gunung-gunung, ternyata goncang; dan seluruh bukit pun goyah. (4:25) Aku melihat, ternyata tidak ada manusia, dan semua burung di udara sudah lari terbang. (4:26) Aku melihat, ternyata tanah subur sudah menjadi padang gurun, dan segala kotanya sudah runtuh di hadapan TUHAN, di hadapan murka-Nya yang menyala-nyala!

Oleh karena penyesatan yang terjadi:
1.       Bumi campur baur dan kosong;
2.       Langit tidak ada terangnya;
3.       Gunung-gunung goncang;
4.       Seluruh bukit goyah;
5.       Tidak ada manusia;
6.       Semua burung di udara sudah lari terbang;
7.       Tanah subur sudah menjadi padang gurun;
8.       Segala kotanya sudah runtuh di hadapan TUHAN, di hadapan murka-Nya yang menyala-nyala!

Jadi, Yeremia 4:23-26 sama dengan Yesaya 14:13-14.

Yeremia 4:27
(4:27) Sebab beginilah firman TUHAN: "Seluruh negeri ini akan menjadi sunyi sepi, tetapi Aku tidak akan membuatnya habis lenyap.

Memang TUHAN sudah memberitahukan hal yang seperti itu; penderitaan dan kesusahan yang harus kita alami, tetapi ingat; TUHAN berkata: “Aku tidak akan membuatnya habis lenyap” walaupun banyak kesusahan, walaupun banyak penderitaan, kesulitan yang menghimpit di luar akal dan pikiran manusia yang disebabkan oleh kecemburuan dan kesombongan dari pada Iblis Setan, TUHAN tetap berkata: “Aku tidak akan membuatnya habis lenyap”.

TUHAN tidak pernah berjanji gelombang lautan tidak ada, cobaan tidak ada, TUHAN tidak pernah berjanji demikian. Tetapi TUHAN berkata: “Aku tetap menyertaimuí”, dan TUHAN tidak menginginkan kebinasaan dari orang-orang yang dikasihi-Nya. Jadi, jangan kita menjadi cengeng, putus asa, putus harap. Kalau pun saat ini dihimpit persoalan, tetaplah tenang sebab TUHAN tampil sebagai Pembela bagi kita, TUHAN tidak akan biarkan kita binasa (lenyap), sejauh kita menyerah kepada TUHAN, sejauh kita percaya kepada TUHAN, sejauh kita menaruh pengharapan kepada Dia.

Mari kita lihat JALAN KELUARNYA.
Yesaya 14:15
(14:15) Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur.

TUHAN tidak hanya melemparkan naga besar itu ke bumi, tetapi juga sekaligus ke dunia orang mati ia diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur.
Kalau manusia melakukan dosa, maka manusia itu diusir dari taman Eden, bagaikan kita saat ini dilempar di bumi. Tetapi kalau salah satu malaikat berdosa, tidak ada pengampunan baginya, melainkan berubah menjadi Setan dan untuk sementara disimpan di gua-gua sampai pada akhirnya dia akan dilemparkan ke dalam api neraka bila hari penghakiman tiba. Tetapi bagi manusia masih ada kesempatan.

Posisi kita (manusia) di dunia ini bagaikan berada di persimpangan; berarti ada jalan akan berakhir pada maut, dan ada jalan yang berakhir di dalam keselamatan; itulah persimpangan kita sekarang. Tetapi kalau Setan, tidak di persimpangan, melainkan dilemparkan ke bumi, lalu turun lagi ke dunia yang paling bawah, itulah alam maut. Jadi, kita ini ada di antara sorga dan maut, ada di persimpangan jalan. Lalu, jalan mana yang kita pilih; jalan yang ujungnya (bermuara) ke maut atau jalan yang ujungnya keselamatan? Kita semua memiliki pengertian yang baik dari Tuhan, maka gunakanlah itu. Jangan buang (jangan musnahkan) hikmat demi semarak, demi kecantikan, demi keidahan oleh karena perkara lahiriah. Gunakanlah hikmat itu.

Inilah hikmat yang harus kita pelajari ...
Yesaya 14:16
(14:16) Orang-orang yang melihat engkau akan memperhatikan dan mengamat-amati engkau, katanya: Inikah dia yang telah membuat bumi gemetar, dan yang telah membuat kerajaan-kerajaan bergoncang,

Orang-orang yang melihat engkau akan memperhatikan dan mengamat-amati engkau. Orang-orang yang melihat, itu jelas adalah orang yang mempunyai mata. Dan orang yang mempunyai mata, jelas dapat memperhatikan dan mengamat-amati artinya; dapat mengetahui gerak-gerik, tindak-tanduk, sampai kepada penyesatan-penyesatannya.
Perhatikanlah kebaikan dan kemurahan TUHAN. Amat-amatilah dengan seksama, jangan lupakan begitu saja, supaya kehidupan kita diterangi, supaya perjalanan rohani kita diterangi dan berujung kepada keselamatan, lepas dari ujung kebinasaan. Pendeknya, tetaplah berada di dalam takhta Allah, berjalan diantara batu-batu yang bercahaya, sehingga perjalanan rohani kita tidak tersandung.

Matius 6:22
(6:22) Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;

Mata adalah pelita tubuh yang menerangi seluruh anggota-anggota tubuh. Tubuh ini terdiri dari banyak anggota, dan yang menjadi terangnya, yang menjadi pelita adalah mata. Itu sebabnya, posisi mata berada di tempat yang tertinggi untuk menerangi anggota-anggota tubuh. Jadilah mata bagi semua anggota tubuh di mana pun kita berada. Jadilah pelita, jadilah terang untuk kehidupan sesama kita, anggota tubuh yang lain.
Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; itulah orang yang melihat, dapat memperhatikan dan dapat mengamat-amati dengan kata lain mengerti segala penyesatan dari iblis/setan.

Singkatnya, mata yang dapat melihat menjadi terang, inilah kehidupan yang berada dalam terang -- pelita adalah terang --, sehingga terang itu bercahaya menerangi perjalanan hidup anggota tubuh yang lain. Terang itu jelas bagaikan bintang-bintang yang bercahaya di cakrawala.

Daniel 12:2
(12:2) Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.

Jadi, perjalanan rohani kita ini berujung kepada keselamatan atau kepada kebinasaan; tergantung pada jalan mana yang kita pilih.

Daniel 12:3
(12:3) Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.

Tetapi orang-orang bijaksana bercahaya seperti cahaya bintang di cakrawala. Pekerjaan dari terang dunia (pelita), orang-orang bijaksana adalah menuntun banyak orang kepada kebenaran.
Inilah orang-orang (kehidupan) yang melihat sehingga dapat memperhatikan dan mengamat-amati, baik rencana TUHAN dan juga rencana Setan dia ketahui, tetapi biarlah kita memilih jalan yang ujungnya selamat, tidak binasa. Kalau matamu baik, maka teranglah seluruh tubuhmu, bagaikan bintang di cakrawala, itulah orang-orang yang bijaksana.
Orang-orang yang bijaksana adalah orang-orang yang diurapi, itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi. Kehidupan yang diurapi adalah orang-orang bijaksana. Jadi, bintang-bintang adalah orang yang diurapi, menjadi pelita, menjadi terang, menjadi mata dari anggota tubuh untuk menuntun banyak orang kepada kebenaran. Hanya orang yang bijaksana yang dapat memperhatikan dan mengamat-amati semua peristiwa ini. Jadilah bijaksana. Amin.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang