KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Saturday, November 12, 2022

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 10 NOVEMBER 2022


 
IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 10 NOVEMBER 2022

KITAB MALEAKHI PASAL 1
(Seri: 14)
 
Subtema: SUNYI SENYAP
 
Pertama-tama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN yang sudah memungkinkan kita untuk berada di tengah perhimpunan Ibadah Pendalaman Alkitab yang disertai dengan perjamuan suci. Biarlah sejahtera bahagia di dalam kita duduk diam dan menikmati Firman yang dibukakan sebentar.
Saya tidak lupa menyapa sidang jemaat TUHAN yang ada di Bandung, di Malaysia, bahkan umat ketebusan TUHAN yang senantiasa setia untuk digembalakan oleh GPT “BETANIA” Serang, Cilegon, Banten, Indonesia, lewat live streaming video internet Youtube, Facebook, di mana pun anda berada.
Marilah kita mohon kemurahan TUHAN, supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.
 
Secepatnya kita sambut STUDY MALEAKHI sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab yang disertai dengan perjamuan suci.
Kita masih memperhatikan Maleakhi 1, dengan perikop: “TUHAN mengasihi Israel
Maleakhi 1:2-3
(1:2) "Aku mengasihi kamu," firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?" "Bukankah Esau itu kakak Yakub?" demikianlah firman TUHAN. "Namun Aku mengasihi Yakub, (1:3) tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun."
 
Sesungguhnya TUHAN mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.
Yakub berganti nama menjadi Israel.

Pernyataan TUHAN ini tentu mempunyai dasar yang sangat kuat, apabila kita meneliti kisah antara Esau dan Yakub.
 
Kejadian 25:24-26
(25:24) Setelah genap harinya untuk bersalin, memang anak kembar yang di dalam kandungannya. (25:25) Keluarlah yang pertama, warnanya merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab itu ia dinamai Esau. (25:26) Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub. Ishak berumur enam puluh tahun pada waktu mereka lahir.
 
Ribka melahirkan anak kembar (dua anak laki-laki)

Anak yang pertama bernama ESAU.
Tanda lahirnya: Warnanya merah, kemudian seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu.
Dari tanda lahirnya ini, sudah sangat jelas; Esau adalah benar-benar anak sulung. Karena tanda lahir itulah ia dinamai Esau.
 
Malam ini kita datang kepada TUHAN, menghadap TUHAN lewat Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci. Akan tetapi, kita datang menghadap TUHAN bukan hanya semata-mata mempersembahkan tubuh jasmani (lahirnya) lewat kehadiran kita, namun juga mempersembahkan hati kita, disebut juga manusia dalam atau batin kita kepada TUHAN, supaya nama Esau tidak disematkan kepada kita masing-masing.
 
Anak yang kedua diberi nama YAKUB.
Tanda lahirnya: Seluruh tubuhnya klimis, dengan kata lain; lahir dengan tidak membawa apa-apa, namun ia mempunyai kelebihan yaitu Yakub memegang tumit Esau.
Biarlah dua tangan kita senantiasa memegang tumit Yesus supaya kita memperoleh kemenangan demi kemenangan, sampai akhirnya kita memperoleh hak kesulungan itu dari TUHAN dan kita berhak untuk mewarisi tanah air Kerajaan Sorga.
Dari tanda lahir ini, itulah sebabnya ia dinamai Yakub. Itu berarti; namanya sesuai dengan perbuatannya atau tabiatnya.

Kalau beribadah hanya dalam bentuk lahiriah; tubuh jasmani dipersembahkan kepada TUHAN dalam setiap pertemuan ibadah, tetapi manusia batin tidak dipersembahkan, itu adalah ibadah Esau. Tetapi lihatlah Yakub; ia lahir dengan tidak ada apa-apa, tidak membawa apa-apa, ia lahir dengan klimis, tetapi tangannya memegang tumit Esau.
Jangan kita lepas tangan dalam setiap pertemuan ibadah kita kepada TUHAN, tetapi biarlah kita gunakan dua tangan untuk melayani TUHAN.
 
Dalam satu hari ada 12 (dua belas) jam, dalam satu hari satu malam ada 24 (dua puluh empat) jam, lalu tangan ini gunakan untuk apa? Kalau kita berlaku dewasa dan bijaksana, maka dua tangan harus memegang tumit Yesus supaya kita berkemenangan. Jangan lepas tangan, jangan lepas tanggung jawab setiap kita ada di tengah-tengah pertemuan ibadah kepada TUHAN.
Pengertian ini harus diterima, jangan ditolak dan jangan panas hati, supaya kita dewasa. Hanya orang yang dewasa, orang yang berhikmat yang memahami pengertian-pengertian sorgawi.
 
Setiap kita menghadap TUHAN dalam setiap pertemuan ibadah, biarlah kita gunakan dua tangan untuk melayani TUHAN, melayani pekerjaan TUHAN, membawa korban dan mempersembahkannya di atas mezbah.
Tangan → Perbuatan hidup atau tabiat hidup.
 
Sekilas kita sudah melihat tanda lahir dari kedua anak Ribka, yakni Esau dan Yakub. Sekarang, kita akan melihat SAAT KEDUANYA BERTAMBAH BESAR.
Kejadian 25:27-28
(25:27) Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah. (25:28) Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub.
 
Setelah bertambah besar, pertama-tama kita akan melihat dari sisi ESAU.
ESAU menjadi seorang yang pandai berburu daging. Itu berarti, hari-harinya dihabiskan hanya dengan sibuk untuk berburu daging. Segala tabiat daging ditulis dengan komplit dalam Galatia 5:19-21.

Kemudian, selain sibuk berburu daging, Esau adalah seorang yang suka tinggal di padang.
Padang → Dunia dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya.
Menurut 1 Yohanes 2:16, Segala sesuatu yang ada di dalam dunia ialah keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup; dan ketiganya bukanlah berasal dari Bapa di sorga, melainkan berasal dari dunia.
Itu sebabnya dalam 1 Yohanes 2:15, barangsiapa mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya, maka kasih Allah Bapa tidak ada di dalam orang itu.
Kasih adalah yang terbesar, kasih itulah yang menyelamatkan, kasih itu tidak berkesudahan. Jadi, kalau seseorang tidak memiliki kasih, maka pasti binasa. Itulah Esau yang pada akhirnya binasa.
 
Sedangkan YAKUB adalah seorang yang tenang.
Kata "tenang" bukan menunjuk bahwasanya Yakub sudah berada pada puncak ibadah, yakni doa penyembahan sebagai wujud dari gunung Sion.

Suatu kali, dunia ini akan mengalami gempa bumi, yang sebetulnya sudah dapat kita rasakan sekarang ini. Segala sesuatu telah digoncang; pemerintahan digoncang, politik digoncang, ekonomi digoncang, sampai menggoncang nikah-nikah di dunia ini.
Akan tetapi, mereka yang sudah berada pada puncak ibadah akan mengalami suatu ketenangan yang sangat tinggi di tengah-tengah goncangan-goncangan yang terjadi atas dunia ini. Kalau ibadah sudah memuncak sampai kepada doa penyembahan, maka kehidupan semacam ini pasti tenang; tidak gusar, tidak gelisah, tidak takut masa depan, tidak kuatir jika tidak mempunyai ini dan itu.
Dari pengertian ini, kita sudah dapat mengukur kedudukannya kerohanian kita masing-masing.
 
Ayat referensi: Wahyu 8:1-5
-          Ayat 1 berbicara tentang ketenangan, sebagai puncak ibadah.
-          Sedangkan ayat 3-4, ibadah di bumi sudah memuncak sampai kepada doa penyembahan.
-          Ayat 5, dunia mengalami goncangan.
Ayat referensi yang lain: Yesaya 30:15,
-          Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan. Jadi, kita diselamatkan oleh darah salib.  Kalau dikaitkan dengan pola Tabernakel, Bertobat → Mezbah Korban Bakaran.
-          Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu, itulah doa penyembahan.
 
Itu sebabnya di atas tadi saya katakan: Kalau ibadah sudah memuncak sampai doa penyembahan, di situ kita mengalami suatu ketenangan yang sangat tinggi. Di tengah-tengah goncangan, kita tetap mengalami ketenangan yang tinggi; tidak takut, tidak kuatir, sebab TUHAN yang memelihara hidup kita.
Selanjutnya, pada puncak kesesakan, gereja yang sudah memuncak ibadahnya sampai doa penyembahan berhak untuk menerima sayap burung nasar. Dan saat goncangan terjadi, gereja TUHAN yang sempurna, gereja yang sudah menerima sayap burung nasar akan diterbangkan ke padang belantara, padang gurun; diasingkan untuk dipelihara selama kesesakan terjadi, tepatnya pada saat antikris menjadi raja selama 3.5 (tiga setengah) tahun atas bumi ini.
 
Kemudian, selain tenang, Yakub juga suka tinggal di kemah.
Kemah → Rumah TUHAN, itulah kehidupan manusia (saya dan saudara).
Kalau kita mengacu pada 1 Korintus 3:16, 1 Korintus 6:19, Kemah atau rumah TUHAN adalah tempat Roh Allah berdiam, tempat Roh Allah beraktivitas.
Dalam 1 Korintus 3:17, Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Jadi, perhatikanlah ibadah dan pelayanan setiap kali kita menghadap TUHAN dalam rumah TUHAN, karena itu adalah kegiatan Roh. Jangan ada yang merusak rumah TUHAN, jangan ada yang merusak kegiatan Roh, itulah ibadah dan pelayanan, supaya ia jangan dirusakkan oleh TUHAN.
 
Orang yang tidak menghargai ibadah dan pelayanan adalah orang yang sama dengan merusakkan kemah TUHAN, membinasakan rumah TUHAN. Sama seperti antikris, binatang yang keluar dari dalam laut;
-          bertanduk sepuluh dan sepuluh mahkota di atas tanduk,
-          berkepala tujuh, tetapi setiap kepala tertulis nama-nama hujat.
Apabila antikris menjadi raja atas seantero dunia, antikris akan menghujat Bapa, menghujat nama-Nya, Yesus Anak Allah, menghujat kemah kediaman-Nya, dan tidak akan diampuni lagi.
-          Menghujat Bapa; masih diampuni.
-          Menghujat Anak; masih diampuni.
-          Tetapi menghujat kemah kediaman Allah; tidak akan diampuni lagi.
 
Kalau kita sadar bahwa kita adalah rumah TUHAN, maka lebih baik satu hari di dalam rumah TUHAN dari pada beribu-ribu kali di tempat lain dalam pekerjaannya, dalam bisnisnya, dalam kesibukannya, lalu menghasilkan uang dan kekayaan yang banyak, tetapi itu yang menjadikan dia sebagai orang fasik, angkuh, tinggi hati, lupa kepada yang memberi kesehatan, lupa kepada yang memberi panjang umur, lupa kepada yang memberi berkat.
Tetapi selain seorang yang tenang, Yakub suka tinggal di kemah; ia tidak membinasakan kemah kediaman Allah, dia tidak merusak kegiatan Roh, karena dia sadar bahwa dia adalah rumah TUHAN, tempat Roh Allah berkarya, beraktivitas dalam setiap pertemuan-pertemuan ibadah setiap kali datang menghadap TUHAN.
Jangan binasakan Bait Allah supaya engkau jangan binasa kelak. Biar engkau banyak uang, tetapi bila engkau tidak menghargai ibadah, maka engkau binasa.
 
Janganlah kita peka terhadap yang negatif, tetapi setiap kali didikan salib, nasihat Firman kita terima dalam setiap pertemuan ibadah, kita harus berlaku dewasa dan bijaksana, supaya oleh Firman yang dibukakan itu, kita didewasakan. Jangan kita bersungut-sungut setiap kali kita diproteksi, disucikan oleh Firman, sebab tujuan kita ada dalam kegiatan Roh adalah supaya rumah TUHAN jangan dibinasakan.
Bukankah sekarang TUHAN ada di dalam rumah Bapa di sorga? Dia sedang bekerja sampai hari ini; Dia tidak tertidur; Dia tidak terlelap, Dia sedang membangun rumah sebanyak jiwa yang diselamatkan. Maka, kita pun tidak boleh berhenti, tidak jauh dari setiap pertemuan-pertemuan ibadah, sebab Penjaga kita tidak terlelap, Penjaga kita tidak tertidur; Ia ada di rumah Bapa di sorga sedang membangun rumah, mempersiapkan rumah kemah kediaman yang kekal untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu, siapa yang merusak rumah TUHAN, membinasakan rumah TUHAN, ia sendiri akan dibinasakan.
 
Itulah tabiat dari pada Yakub; selain tenang, ia suka tinggal di kemah. Perhatikanlah hal ini. Jangan risau, jangan takut karena pengertian, pikiran, perasaan manusia daging.
 
Ingat: Waktu tahun-tahun lalu engkau cemas, kuatir dan takut karena tidak ada sesuatu engkau miliki dalam rumahmu. Tetapi lihatlah; sampai saat ini, kita semua diberi umur panjang, diberi kesehatan, diberi kesempatan untuk datang menghadap TUHAN dalam setiap pertemuan ibadah; tidak kekurangan apa-apa. Eben-Haezer, "Sampai di sini TUHAN menolong kita."
Apakah rasa takutmu, kuatirmu di masa lalu membuat engkau jatuh dan tergeletak? Tidak. TUHAN terus topang walaupun ditandai dengan ketakutan, kecemasan, dan penuh kekuatiran, tetapi sampai hari ini TUHAN tolong.
Kalau kita menyadari hal itu, mengerti hal itu, dan kita jadikan hal itu sebagai pelajaran, maka tentu kita tidak akan lagi kuatir mulai sekarang, hari ini dan sampai selama-lamanya. Oleh sebab itu, tinggallah di dalam rumah TUHAN.
 
Masakan engkau takut kepada atasanmu, tetapi tidak takut kepada Atasan segala atasan? Padahal segala sesuatu yang engkau miliki itu datangnya dari Raja di atas segala raja. Kecemasan, ketakutan dan kekuatiranmu tidak dalam menolongmu.
Maka, kita harus selalu berkata: Eben-Haezer, "Sampai di sini TUHAN menolong kita." Setiap kali kita mendapatkan pertolongan, biarlah kita katakan: Sampai hari ini TUHAN tolong saya. Bila besok kita mendapatkan pertolongan, kita kembali berujar: Eben-Haezer, "Sampai di sini TUHAN tolong saya."
Tinggallah di dalam rumah TUHAN, belajarlah dari pengalaman di waktu-waktu yang lalu. Jangan rusakkan rumah TUHAN, supaya engkau jangan dibinasakan.
 
Dalam Maleakhi 1:2-3, TUHAN berkata: Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau. TUHAN mempunyai dasar yang kuat mengatakan hal itu, dan kita sudah melihat hal itu dari sisi tanda lahir Esau dan Yakub maupun dari sisi pada saat mereka sudah bertambah besar.
 
Sekarang kita akan melihat: DAMPAK NEGATIF DIBENCI OLEH TUHAN.
Maleakhi 1:3
(1:3) tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun."
 
TUHAN membuat pegunungan Esau menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya TUHAN jadikan padang gurun.
 
Tentang Yang Pertama: PEGUNUNGAN ESAU MENJADI SUNYI SEPI.
Sunyi sepi, berarti; tidak ada sukacita, tidak ada keramaian, tidak ada hirup pikuk; semua hening.
 
Terkait dengan “sunyi sepi”, kita akan membaca Yehezkiel 35, dengan perikop: “Murka TUHAN atas pegunungan Seir
Yehezkiel 35:4-5
(35:4) Aku akan menjadikan kota-kotamu reruntuhan dan engkau menjadi sunyi sepi, dan engkau akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN. (35:5) Oleh karena dalam hatimu terpendam rasa permusuhan yang turun-temurun dan engkau membiarkan orang Israel menjadi makanan pedang pada hari sial mereka, waktu saatnya tiba untuk penghakiman terakhir,
 
Kota-kota Edom menjadi reruntuhan, berarti; pegunungan Edom menjadi sunyi sepi.
Penyebabnya:
-          Dalam hati Edom, terpendam rasa permusuhan turun temurun terhadap Yakub (Kejadian 27:35-37).
-          Membiarkan Israel menjadi makanan pedang pada hari sial mereka.

Pendeknya: Edom memiliki tabiat:
-          Pendendam = Tanpa pengampunan = Hidup tanpa kasih; terus menerus bermusuhan dengan saudara kandung.
-          Tidak mau memperhatikan Yakub, bahkan rela menjadikan Yakub makanan pedang pada waktu sialnya = Tidak peduli dengan pekerjaan TUHAN = Egois = Kepentingan diri sendiri. Mau diberkati TUHAN, diberi umur panjang dan kesehatan, diberi kemampuan untuk bekerja dan mengerjakan kesibukannya, tetapi tidak mau membalas kasih TUHAN, itulah Esau yang egois. Sekalipun orang lain sudah susah payah bekerja memikul salib dalam pekerjaan TUHAN, namun ia tidak peduli; itu Esau, di mana yang terpenting bagi dirinya adalah terberkati.
 
Hati-hati dengan tabiat Esau ini, sebab inilah yang menyebabkan pegunungan Esau menjadi sunyi sepi.
Lihatlah: Orang yang hidup tanpa kasih, tidak peduli dengan orang lain, orang yang egois, tidak peduli dengan kesusahan orang lain, pasti kehidupannya sunyi sepi; ibadah pelayanannya tidak ada keramaian, hidupnya sunyi sepi saja. Itulah Esau, itulah pegunungan Seir yang juga merupakan pegunungan Edom yang menjadi sunyi sepi.
 
Pertahankan hati nurani yang baik. Jangan engkau abaikan itu. Jangan seperti Esau dengan tabiatnya, sebab itulah yang menjadikan seseorang sunyi sepi.
Ayo, kita harus saling melengkapi. Kalau yang satu kekurangan, maka yang lain harus saling memperhatikan. Jangan tutup mata di saat orang lain dalam keadaan susah. Inilah yang membuat pegunungan Edom, pegunungan Seir menjadi sunyi sepi, tidak ada keramaian.
 
Amos 1:11
(1:11) Beginilah firman TUHAN: "Karena tiga perbuatan jahat Edom, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena ia mengejar saudaranya dengan pedang dan mengekang belas kasihannya, memendamkan amarahnya untuk selamanya dan menyimpan gemasnya untuk seterusnya,
 
Kehidupan Esau ...
1.      Ia mengejar saudaranya (Yakub) dengan pedang.
2.      Mengekang (menahan) belas kasihan = Tidak peduli.  
3.      Memendamkan amarahnya untuk selamanya.
4.      Menyimpan gemasnya untuk seterusnya.
Kehidupan semacam ini pasti sunyi sepi, hidupnya pasti sunyi sepi. Ibadahnya tidak ramai, tidak semarak.
Kalau pun dia datang beribadah melayani TUHAN pasti terpaksa = Sunyi sepi. Kalau pun dia datang beribadah melayani TUHAN, pasti bersungut-sungut = Sunyi sepi.
 
-          Datang beribadah, tetapi terpaksa = Sunyi sepi.
-          Nampaknya melayani TUHAN, tetapi terpaksa, bersungut-sungut, amarah dipendam = Sunyi sepi.
Sunyi sepi, berarti; tidak ada kegiatan keramaian di situ, tidak ada sukacita Roh Kudus di situ, itulah Esau.
Jadi, kalau TUHAN berkata: “Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau”, alasan ini mendasar sekali.
 
Amos 1:12
(1:12) Aku akan melepas api ke dalam Téman, sehingga puri Bozra dimakan habis."
 
TUHAN melepas api ke dalam Téman, anak Esau.
-          Beribadah tetapi terpaksa, ada api asing di situ.
-          Beribadah tetapi bersungut-sungut, ada api asing di situ.
-          Beribadah dan melayani TUHAN, tetapi penuh dengan emosional dan amarah yang terpendam di dalam hati, ada api asing di situ.
Tetapi itu terjadi atas seizin TUHAN. TUHAN tahu segala sesuatu yang terjadi, walaupun Edom menyembunyikannya.
Kalau dia mau bertobat, TUHAN akan ampuni. Tetapi jika tidak mau bertobat karena “api asing” itu tetap dipertahankan, maka akan sampai kepada puncaknya, yaitu api neraka menghabiskannya.
 
Yoel 3:19
(3:19) Mesir akan menjadi sunyi sepi, dan Edom akan menjadi padang gurun tandus, oleh sebab kekerasan terhadap keturunan Yehuda, oleh karena mereka telah menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tanahnya.
 
Betapa Edom ini menjadi sunyi sepi, karena dia menaruh rasa dendam, egois dan tidak ada kasih.
 
Yehezkiel 35:7-9
(35:7) Aku akan menjadikan pegunungan Seir musnah dan sunyi sepi dan melenyapkan dari padanya orang-orang yang lalu-lalang. (35:8) Aku akan memenuhi juga pegunungannya dengan orang-orang yang mati terbunuh. Di bukit-bukitmu, di lembah-lembahmu dan alur-alur sungaimu akan berebahan orang-orang yang mati terbunuh oleh pedang. (35:9) Aku akan menjadikan engkau sunyi sepi untuk selama-lamanya dan kota-kotamu tidak akan didiami lagi. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.
 
Seir adalah pegunungan Edom; pada akhirnya, pegunungan Edom menjadi sunyi sepi, dengan lain kata; kota-kotanya tidak berpenghuni, tidak berpenduduk, tidak ada orang yang berlalu-lalang, tidak ada kegiatan-kegiatan lagi.
 
Yehezkiel 35:10
(35:10) Oleh sebab engkau mengatakan: Kedua bangsa itu dan kedua negeri itu akan menjadi milikku dan kita akan memilikinya -- sebetulnya TUHAN ada di situ --
 
Edom ingin berkuasa memiliki Israel dan Yehuda, padahal TUHAN ada di situ.
 
Setelah Rehabeam, anak Salomo, menjadi raja, duduk di atas takhta, Israel terbagi (terpecah belah) menjadi dua kerajaan.
-          Sebelas suku menjadi kerajaan Israel.
-          Satu suku, itulah kerajaan Yehuda.  
Edom ingin memiliki kedua negeri ini, Edom ingin menguasai kedua bangsa ini, padahal TUHAN ada di situ.
Itulah Edom, itulah manusia daging yang suka tinggal di padang; ingin berkuasa atas kehendak TUHAN, ingin berkuasa atas daerah teritorialnya TUHAN Yesus.

Jangan kita datang beribadah dengan caranya Edom; sibuk dengan urusan daging dan kesukaannya tinggal di padang. Tabiat semacam ini ingin menguasai dua negeri (Israel dan Yehuda), padahal TUHAN ada di situ.
Maka, kalau kita datang beribadah, biarlah kita datang menghadap TUHAN dengan hati yang tulus, dengan hati yang murni. Jangan pengaruhi orang lain, sebab TUHAN ada di situ.  
 
Israel dan Yehuda adalah milik kepunyaan TUHAN, di mana TUHAN ada di dalam diri orang itu. Jangan coba-coba pengaruhi dengan tabiat dagingmu dengan berbagai macam cara. Tetapi itu adalah kenyataan yang diperbuat oleh Edom (Esau), padahal TUHAN ada di situ.
 
Kita bisa mengelabui orang dengan perkataan yang manis di saat seseorang sedang mengalami hari sial bagi daging, tetapi TUHAN tidak bisa ditipu.
Sial bagi daging adalah pada saat dimakan pedang, dikoreksi oleh Firman Allah. Jadi, ketika seseorang sedang dimakan pedang (Firman Allah), sedang dikoreksi oleh Firman Allah, itu adalah hari sial bagi daging.
Jika seseorang mengalami sial bagi daging, lalu kita manfaatkan dengan pandainya kita berbicara kepada orang itu dengan perkataan manis-manis, tetapi kita pengaruhi dengan tabiat daging, hati-hati; engkau berurusan dengan TUHAN, karena TUHAN ada di situ.
 
Lihatlah Edom: Pada hari sial Yakub karena dimakan pedang, justru dibiarkan; padahal, TUHAN ada di situ.
Jangan engkau permainkan TUHAN, sebelum engkau dihancurkan oleh TUHAN. Sekarang, kita harus hati-hati dalam bertindak. Kalau engkau tahu yang baik, pertahankan hati nurani; itu adalah alarm terakhir. Kalau alarm itu rusak, maka akan kebablasan bagaikan rem blong yang tabrak sana, tabrak sini, hantam sana, hantam sini, padahal TUHAN ada di situ; itu adalah tabiat Edom, tetapi kita tidak seperti itu.
 
Jadi, TUHANlah yang memiliki Israel dan TUHANlah yang mempertahankan Yehuda.
TUHAN memilih Israel. Siapa yang kuat, itulah yang menjadi raja atas Israel, tetapi TUHAN tidak pernah menyesal atas pilihanNya terhadap Israel.
Sementara Yehuda dipertahankan oleh TUHAN; itu sebabnya, yang menjadi raja atas Yehuda adalah dari garis keturunan Daud, sampai lahirnya Tunas Daud.
Jadi, TUHAN ada di situ; oleh sebab itu, jangan pengaruhi orang lain dengan tabiat daging (tabiat Edom).
 
Yehezkiel 35:11-12
(35:11) oleh sebab itu, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku akan memperlakukan engkau seperti engkau memperlakukan mereka dalam murkamu dan cemburumu, yang timbul dari kebencianmu terhadap mereka; dan Aku akan menyatakan diri kepadamu pada saat Aku menghakimi engkau. (35:12) Dan engkau akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, mendengar segala penistaanmu yang kauucapkan melawan gunung-gunung Israel yang demikian: Gunung-gunung itu sudah menjadi sunyi sepi dan diserahkan kepada kita menjadi makanan kita.
 
Karena pengaruh atau tabiat dari pada Edom, maka gunung-gunung Israel menjadi sunyi sepi, tetapi TUHAN tetap ada di Israel, TUHAN tetap ada di Yehuda.

Walaupun saat ini kita seperti sunyi sepi tidak ada apa-apa, tetapi sekali waktu TUHAN akan menyatakan diri-Nya sebagai Hakim yang adil, tepatnya pada saat hari TUHAN, pada saat kedatangan-Nya kembali untuk yang kedua kali. TUHAN kita itu adil; TUHAN itu melihat.
Ini adalah suatu pelajaran yang baik dan bagus, jangan diabaikan begitu saja:
-          Jangan kita berlaku seperti tabiat dari pada Esau yang sibuk berburu daging dan suka tinggal di padang.
-          Berbanding terbalik dengan Yakub; seorang yang tenang, tidak sibuk berburu daging, tetapi sibuk dalam kegiatan rohani, sampai kepada puncaknya, yaitu doa penyembahan, sehingga dia tetap tenang sekalipun ada goncangan. Kemudian, dia suka tinggal di kemah rumah TUHAN; dia tidak membinasakan rumah TUHAN, dia menghargai ibadah dan pelayanan, dia menghargai pekerjaan pelayanan TUHAN sebagai kegiatan Roh, aktivitas dari Roh Allah, itulah rumah TUHAN.
 
Tetapi lihatlah, sekalipun demikian, Edom yang sibuk berurusan dengan daging dan suka tinggal di padang -- gambaran dari dunia -- ingin menguasai, ingin memiliki Israel dan Yehuda dengan cara dia. Sebetulnya, jika TUHAN kehendaki, ini bisa berkembang arahnya sampai kepada antikris.
Tetapi yang mau saya sampaikan saat ini: Hargai ibadah, jangan engkau rusak seperti Edom yang menginginkan Israel dan Yehuda = Ibadah dan pelayanan dirusak.
Kelak akan ada hari penghakiman, perhatikanlah itu baik-baik. Jangan engkau merasa hidup terpelihara dengan berkat yang ada, tetapi sifatnya sementara.
 
Lebih rinci kita perhatikan dalam Obaja 1, dengan perikop: “Nubuat tentang Edom
Obaja 1:1,8
(1:1) Penglihatan Obaja. Beginilah firman Tuhan ALLAH tentang Edom -- suatu kabar telah kami dengar dari TUHAN, seorang utusan telah disuruh ke tengah bangsa-bangsa: "Bangunlah, marilah kita bangkit memeranginya!" -- (1:8) Bukankah pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan melenyapkan orang-orang bijaksana dari Edom, dan pengertian dari pegunungan Esau?
 
Pegunungan Esau menjadi sunyi sepi, tidak ada lagi keramaian kota, tidak ada lagi pengunjung, tidak ada lagi penduduk, tidak ada lagi orang yang lalu lalang.
Tetapi di sini lebih rinci lagi kita melihat: Pegunungan Esau menjadi sunyi sepi, sebab TUHAN melenyapkan orang-orang bijaksana dan pengertian di gunung Edom lenyap.

Orang-orang bijaksana, orang-orang yang mempunyai pengertian → Bintang-bintang di langit.
Kalau orang bijaksana lenyap, maka sidang jemaat yang dilayani orang bijaksana; tidak punya pengertian.
 
Obaja 1:9
(1:9) Juga para pahlawanmu, hai Téman, akan tertegun, supaya semua orang di pegunungan Esau lenyap terbunuh.
 
Kemudian, para pahlawan tertegun.
Pahlawan = Tentara perang → Imamat rajani.
Para pahlawan tertegun, berarti imamat rajani melongo, tidak ada kegiatan. Kalau pahlawan yang melayani TUHAN tertegun, berarti tidak ada aktivitas, diam saja tertegun = Sunyi sepi.
 
Tetapi yang pasti: Pegunungan Esau menjadi sunyi sepi, sebab TUHAN melenyapkan orang-orang bijaksana dan pengertian di gunung Edom pun lenyap.
 
Kita lihat ORANG BIJAKSANA di dalam kitab Daniel 12.
Daniel 12:3
(12:3) Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.
 
Orang-orang bijaksana sama seperti bintang-bintang di langit (cakrawala).
Tugas orang bijaksana, orang yang berpengertian dari sorga, orang yang berhikmat berakal budi adalah menuntun banyak orang kepada kebenaran.

Tetapi kalau orang bijaksana binasa, maka tidak ada orang yang menuntun kepada kebenaran, sehingga tentu hidup menjadi sunyi sepi; hari-hari dirundung malang, hari-hari kesusahan, hari-hari kecewa dan putus asa.
Tetapi kalau ada orang yang bijaksana, dia menuntun banyak orang kepada kebenaran, memberi sebuah pengertian, sehingga sekalipun dalam persoalan pergumulan, dalam permasalahan, dalam pergumulan, maka kebenaran memberi jalan keluar, sehingga masalah selesai, tidak dirundung malang, tidak putus asa, tidak kecewa, tidak sunyi sepi.
 
Kembali saya sampaikan dengan tandas: Kalau orang yang bijaksana, orang yang berpengertian sudah binasa, maka pengertian pun lenyap. Kalau pengertian pun lenyap;
-          Orang yang bermasalah, maka masalahnya tidak selesai = Sunyi sepi.
-          Orang yang berperkara, maka perkaranya tidak selesai = Sunyi sepi.
-          Orang yang sedang berpersoalan, maka persoalannya tidak selesai = Sunyi sepi.
 
Mengapa dalam setelah selesai pemberitaan Firman disampaikan, maka saat itu juga secepatnya kita langsung tersungkur di kaki salib? Karena orang bijaksana yang menyampaikan pengertian dari sorga memberi jalan keluar dari setiap masalah, memberi jalan keluar dari setiap persoalan; di situ ada kebahagiaan. Tanpa sadar, kita hanyut dan tenggelam dihisap oleh kasih TUHAN; hati hancur, air mata tidak tertahankan lagi, sehingga yang dahulu sunyi sepi, kini terhibur.
 
Camkanlah apa yang sudah TUHAN nyatakan kepada kita malam ini: Orang bijaksana itu seperti bintang-bintang yang bercahaya di cakrawala, yang menerangi kegelapan, menerangi kebuntuan, menerangi segala kesulitan, sehingga kita terhibur, tidak lagi berada dalam sunyi sepi.
 
Sekarang, kita perhatikan Matius 2, dengan perikop: “Orang-orang majus dari Timur
Matius 2:1-2
(2:1) Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem (2:2) dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."
 
Bintang Timur menuntun orang-orang majus sampai mereka tiba di Yerusalem (di Barat).
Saat ini kita berada di kota Yerusalem, di kota Allah, lewat Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci; kita menghadap TUHAN, lalu menyembah TUHAN.
Sebagaimana pernyataan dari orang-orang majus kepada Yerusalem: Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami datang untuk menyembah Dia. Jadi, sudah sangat jelas; puncak ibadah adalah doa penyembahan.
 
Kita tidak perlu ragu kalau hidup rohani kita dituntun sampai kepada puncaknya, itulah doa penyembahan; itu sudah benar, karena orang majus dari Timur dituntun oleh bintang yang bercahaya itu, mereka dituntun sampai tiba di Yerusalem. Lalu setelah tiba di Yerusalem, mereka bertanya tentang raja yang dilahirkan itu. Mengapa? Karena tujuan mereka adalah untuk menyembah.

Kalau orang bijaksana menuntun, maka dia akan menuntun sampai kepada puncak ibadah, itulah doa penyembahan.
Belum sempurna rasanya seorang guru, seorang pemimpin rohani memimpin tanpa sampai kepada puncak ibadah. Tetapi orang bijaksana akan lengkap kesempurnaan itu kalau dia memimpin jiwa-jiwa sampai kepada puncak ibadah, doa penyembahan.
 
Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami datang untuk menyembah Dia. Itulah yang ditanyakan oleh orang-orang majus kepada Yerusalem.
Yerusalem itu, antara lain;
-          Raja Herodes.
-          Imam-imam kepala.
-          Tua-tua dan ahli-ahli Taurat dari orang Yahudi.
Waktu orang majus bertanya, maka terkejutlah Herodes beserta seluruh Yerusalem; mereka tidak terima dengan kehadiran Yesus sebagai Raja.
 
Kita kembali memperhatikan ayat 2 ini.
Matius 2:2
(2:2) dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."
 
Pertanyaannya: MENGAPA KITA HARUS MENYEMBAH TUHAN?
Jawabnya: Karena Dia adalah Raja orang Yahudi.

Kata "Raja" di sini menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah TUHAN dan Pemimpin yang bertanggung jawab, Pemimpin yang sejati yang mengasihi kita, berarti Dia bukanlah TUHAN yang egois, Dia adalah TUHAN yang peduli dengan kita, Dia tidak seperti Edom yang hanya peduli dengan dirinya sendiri.
 
Saya akan tunjukkan bahwa Dia adalah Yesus Kristus TUHAN, Pemimpin yang bertanggung jawab di dalam Matius 27, dengan perikop: “Yesus disalibkan
Matius 27:37
(27:37) Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: "Inilah Yesus Raja orang Yahudi."
 
Yesus mati di atas kayu salib, jelas karena Dia adalah Raja orang Yahudi. Jadi, Yesus mati bukan mati konyol, bukan mati karena dosa, tetapi Yesus mati karena Dia adalah Raja orang Yahudi
 
Pendeknya: Yesus adalah TUHAN, Yesus adalah Pemimpin yang sejati, sebab Dia rela mati karena dosa manusia; Dia peduli, Dia mengerti keadaan kita, Dia tahu seperti apa kita.
Dia berkorban dan mati di atas kayu salib karena Dia adalah Raja; ini Pemimpin yang bertanggung jawab, ini Pemimpin sejati, ini Pemimpin yang memahami, mengerti dan tahu seperti apa kita, tahu kesusahan di hati.
 
Jadi, bukan sekedar sebutan “Raja” begitu saja, tetapi lebih dari apa yang kita pikirkan. Kata “Raja” menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah TUHAN, Dia Pemimpin sejati.
Apa bukti Pemimpin sejati? Dia mati karena dosa manusia, bukan karena kesalahannya. Yesus bukan mati bodoh, Yesus tidak mati konyol, seperti pemahaman saudara-saudara kita yang tidak mengenal Yesus.
 
Matius 27:38
(27:38) Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.
 
Kalau Yesus disalibkan bersama dengan kedua penjahat di sebelah kanan dan di sebelah kiri, itu artinya; Yesus disamakan dengan dua penjahat = Ia rela menjadi hina, supaya kita yang hina ini menjadi kaya; kaya dalam kebajikan, kaya dalam kelimpahan kasih karunia, kaya dalam rahmat TUHAN.

Biarlah kita senantiasa sangkal diri, pikul salib, ikut TUHAN setiap hari, supaya manusia debu, kehidupan yang hina karena dosa menjadi mulia karena Yesus mau dihinakan, supaya kita menjadi kaya oleh karena kekayaan kasih karunia, kita kaya dalam perbuatan kebajikan.
-          Dia rela menjadi miskin supaya kita yang miskin menjadi kaya.
-          Dia rela menjadi hina supaya kita yang hina menjadi mulia.
Luar biasa; debu tanah bisa menjadi mulia, bagaimana jalannya? Orang pandai, cendikiawan tidak bisa memecahkan persoalan “hina menjadi mulia”;
-          tidak bisa memecahkan persoala “debu tanah menjadi emas”,
-          tidak bisa memecahkan persoala “debu tanah menjadi mur”,
-          tidak bisa memecahkan persoala “debu tanah menjadi kemenyan”.
Itu hanyalah pekerjaan dari pribadi seorang Pemimpin yang bertanggung jawab.
 
Coba kita ingat dan renungkan; berapa kali berbuat dosa setiap harinya? Berapa hari yang sudah kita lalui, berapa bulan yang sudah kita lalui, berapa tahun yang sudah kita lalui? Sudah tidak terhingga lagi, sampai kita merasa bahwa kita tidak mungkin selamat, karena begitu dalamnya kita jatuh dalam jurang kehinaan itu.
Tetapi lihatlah:
-          Yang kaya rela menjadi miskin di atas kayu salib, supaya yang miskin menjadi kaya.
-          Yang mulia rela menjadi hina supaya kita yang hina menjadi mulia.
Luar biasa, bukan? Tetapi mengapa kita menganggap sepi kemurahan TUHAN, seolah-olah yang lahiriah itulah yang memberikan sukacita? Mengapa menganggap enteng ibadah dan pelayanan, tidak mau angkat tangan menyerah untuk terlibat dalam pekerjaan TUHAN? Mengapa sunyi sepi kalau sudah tahu kekayaan dan kemurahan yang luar biasa ini?
 
Dalam Roma 2:4, dikatakan: Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?
Mengapa engkau membuat dirimu sepi-sepi, mengapa engkau tidak lagi menghargai kemurahan TUHAN? Padahal kalau kita menghadap TUHAN, ada dalam keramaian kota, itu menuntun kita sampai kepada pertobatan sejati.
 
Jangan anggap sunyi sepi kemurahan TUHAN, sebab maksud kemurahan Allah adalah menuntun kita kepada pertobatan sejati.
Pertobatan sejati, artinya; bertobat 100% (seratus persen), tidak hanya 50% (lima puluh persen).
-          Pertobatan 50% (lima puluh persen), berarti; hanya berhenti berbuat dosa.
-          Pertobatan 100% (seratus persen), berarti; berhenti berbuat dosa, selanjutnya kembali kepada Allah.
Jangan hanya berhenti berbuat dosa, tetapi kembalilah kepada Sang Khalik.
 
Matius 27:35
(27:35) Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi.
 
Yang terjadi ketika Yesus disalibkan:
1.      Mereka membagi-bagikan pakaian-Nya.
2.      Mereka membuang undi untuk jubah-Nya.
 
Pakaian Yesus dibagi menjadi 4 (empat) bagian, sementara jubah-Nya itu tidak dapat dibagi-bagi, karena jubah itu tidak terjahit dari atas sampai ke bawah. Dan yang menerima jubah-Nya adalah orang yang mendapatkan undi; itu sebabnya harus dibuang undi.
 
Mazmur 22:17-18
(22:17) Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. (22:18) Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku.
 
Ini adalah peristiwa ketika Yesus disalibkan; ini adalah nubuatan dari nabi Daud, yang sudah digenapi 2000 (dua ribu) tahun yang lalu di bukit Golgota.
Mereka menusuk tangan dan kaki, menusuk lambung, tetapi tidak ada tulang-tulang-Nya yang dipatah-patahkan; Dia melindungi kita semua.
 
Mazmur 22:19
(22:19) Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.
 
Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka. Pakaian → Tabiat atau kebenaran, yang harus disampaikan kepada empat penjuru bumi.
 
Sedangkan jubah tidak untuk dibagi, tetapi diterima lewat undian. Jubah adalah pakaian Imam Besar.
Tugas Imam Besar Agung: Melayani, berdoa dan memperdamaikan dosa kita.
Kalau sampai malam ini kita menikmati pelayanan Imam Besar Agung, di mana Dia berdoa untuk segala keluhan kita, serta melayani dan memperdamaikan dosa kita kepada Allah Bapa, itu bagaikan orang yang mendapatkan undian.
Mendapat undian = Mendapat kemurahan. Kemurahan yang kita terima, itu bagaikan menerima undian. Kita menikmati segala pelayanan Imam Besar, menikmati kemurahan TUHAN, bagaikan menerima undian; itu sebabnya, jubah itu bukan untuk dibagi-bagi.
 
Mengapa disebut seperti mendapatkan undian? Karena yang tidak layak menjadi layak, itu adalah kemurahan, seperti mendapatkan undian. Siapa yang tahu kalau seseorang mendapat undian? Tidak ada yang tahu. Dan kalau seseorang mendapat undian, itu karena kemurahan.
Jadi, kalau sampai hari ini kita masih menikmati pelayanan Imam Besar, dan Dia berdoa atas segala persoalan, keluhan, pergumulan yang kita hadapi, lalu disampaikan kepada Bapa di sorga, sekaligus mempersatukan kita dengan Allah Bapa, sebab Dia sudah memperdamaikan dosa kita, itu adalah kemurahan, bagaikan menerima jubah lewat undian.
 
Sekarang, kita kembali untuk melihat: Tugas dari orang yang bercahaya (bintang).
Matius 2:8
(2:8) Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia."
 
Ini adalah ibadah dan penyembahan palsu dari Herodes.
 
Matius 2:9-11
(2:9) Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. (2:10) Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. (2:11) Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
 
Bintang Timur, itulah orang bijaksana, memimpin ibadah kita sampai kepada puncak ibadah, yaitu doa penyembahan. Demikianlah orang-orang majus itu sujud menyembah kepada Dia, Yesus Kristus, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu.
 
Kalau ibadah kita dituntun oleh bintang timur, orang bijaksana, sampai kepada doa penyembahan, dan secepatnya wujud dari gunung Sion itu terlaksana dalam kehidupan kita, itu adalah kemurahan TUHAN.
Kita dituntun sampai kepada puncak ibadah, doa penyembahan, wujud dari gunung Sion, itu adalah kemurahan bagi kita.
 
Dalam penyembahan itu, orang-orang majus membawa dan mempersembahkan 3 (tiga) perkara:
1.      Mempersembahkan emas → Kemurnian dari Pengajaran Firman Allah yang benar dan murni. Kalau dikaitkan dengan pribadi yang bertabiatkan Ilahi (yang sudah terangkat naik ke sorga), terkena pada pribadi MUSA, di tangannya ada hukum-hukum Allah.
2.      Mempersembahkan kemenyan → Doa Penyembahan, wujud dari gunung Sion. Kalau dikaitkan dengan pribadi yang bertabiatkan Ilahi, terkena pada pribadi HENOKH yang diangkat hidup-hidup.
3.      Mempersembahkan mur → Urapan Roh El Kudus. Demikianlah ELIA diangkat setelah ia dijemput oleh kereta berapi Roh Kudus.
Inilah 3 (tiga) perkara yang dipersembahkan oleh orang majus saat mereka menyembah Yesus, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu; inilah sasaran kita, yaitu memiliki tabiat Ilahi supaya kelak kita diangkat ke sorga.
 
Lebih jauh tentang bintang timur, orang yang bijaksana, yang akan kita bandingkan dengan Wahyu 1.
Wahyu 1:20
(1:20) Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat."
 
Ketujuh bintang di tangan kanan TUHAN adalah  ketujuh malaikat sidang jemaat di Asia Kecil.
Pendeknya: Bintang-bintang → Guru-guru, pemimpin-pemimpin di dalam rumah TUHAN, itulah orang-orang bijaksana yang menuntun kehidupan rohani kita sampai kepada puncak ibadah, yaitu doa penyembahan. Saat kita berada pada puncak ibadah (doa penyembahan), di situlah kita mempersembahkan 3 (tiga) perkara, yaitu emas, kemenyan, dan mur, itulah 3 (tiga) manusia yang bertabiatkan Ilahi, yaitu Musa, Henokh dan Elia.
 
Kembali saya sampaikan: Ketujuh bintang di tangan kanan TUHAN adalah  ketujuh malaikat sidang jemaat di Asia Kecil, itulah gembala-gembala, itulah guru-guru, itulah orang bijaksana yang menuntun sidang jemaat di Asia Kecil sampai kepada puncak ibadah, itulah doa penyembahan.
 
Jadi, ada persamaan antara Injil Matius 2 dengan Wahyu 1:20. Dan lebih terang lagi, akan kita lihat dalam Wahyu 1.
Wahyu 1:16-18
(1:16) Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik. (1:17) Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, (1:18) dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.
 
Rasul Yohanes adalah seorang yang bijaksana, yang menuntun banyak orang kepada kebenaran.
Tetapi seorang pemimpin sejati; dia harus mengenal Pribadi Alfa dan Omega, Awal dan Akhir, Yang Hidup - mati - hidup.
-          Hidup; kedatangan Yesus ke dunia.
-          Kemudian Dia mati di kayu salib.
-          Lalu hari ketiga, Dia bangkit, Dia hidup.
Dari Alfa sampai ke Omega; Hidup - mati - hidup.
Jadi, pemimpin sejati harus mengenal pribadi Yesus Kristus, Dia adalah Pemimpin sejati.
 
Kata “Raja” → Yesus Kristus adalah TUHAN dan Pemimpin yang bertanggung jawab, Dia Pemimpin sejati.
Demikian juga dalam Wahyu 1, di tangan kanan-Nya ada ketujuh bintang, itulah ketujuh malaikat sidang jemaat, yang adalah pemimpin, guru-guru atas sidang jemaat. Sebagai guru, dia harus mengenal Pribadi Alfa dan Omega, Awal dan Akhir, Yang Hidup - mati - hidup.
 
Malam ini kita sudah melihat penampilan dari pemberitaan Firman TUHAN. Kita sudah melihat akibat atau dampak negatif dari tindakan Esau yang sibuk berburu daging dan suka tinggal di kemah, yaitu akhirnya dia dibenci oleh TUHAN. Dan kebencian itu sudah nyata, di mana pegunungan Seir, pegunungan Edom menjadi sunyi sepi.
 
Maukah kita menganggap sunyi sepi kemurahan hati TUHAN? Bukankah kemurahan hati TUHAN itu menuntun kita? Dia adalah orang bijaksana yang menuntun kita sampai kepada pertobatan sejati.
Hati-hati, janganlah ibadah kita menjadi sunyi sepi, supaya dampak negatif ini jangan menjadi bagian kita, tetapi Dia yang mulia rela menjadi hina, supaya kita yang hina menjadi mulia.
 
-          Bagaimana mungkin tanah liat bisa berubah menjadi emas?
-          Bagaimana mungkin tanah liat bisa berubah menjadi kemenyan yang berbau harum?
-          Bagaimana mungkin yang hina bisa berubah menjadi mur, kehidupan yang diurapi?
Manusia yang bertabiat Ilahi, itulah Musa, Henokh, dan Elia, bagaimana mereka bisa dipermuliakan? Tentu saja bisa, karena Firman Allah, TUHAN Yesus Kristus, Dia Raja di atas segala raja, Dia Pemimpin sejati, Dialah Firman Allah yang ajaib. TUHAN menyatakan keajaiban-Nya supaya kita ada dalam keheranan yang ajaib; yang hina menjadi mulia, yang miskin menjadi kaya, yang tidak mempunyai apa-apa menjadi sesuatu yang berharga; dari tanah liat menjadi emas, dari tanah liat menjadi minyak mur, dari tanah liat menjadi kemenyan yang berbau harum di hadapan TUHAN.
-          Dahulu diinjak-injak begitu hina, tetapi berubah menjadi mur, kehidupan yang diurapi.
-          Dahulu diinjak-injak begitu hina, tetapi berubah menjadi kemenyan yang berbau harum di hadapan TUHAN.
-          Dahulu diinjak-injak begitu hina, tetapi Dia mengubah kita yang hina ini menjadi kehidupan yang murni bagaikan emas. Pertahankan kemurnian hatimu.
 
 
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
 
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang