KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Wednesday, March 31, 2021

IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 27 MARET 2021


 
IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 27 MARET 2021
 
STUDY YUSUF
(Seri: 228)
 
Subtema: MENGHORMATI UNDANGAN
 
Selamat malam, salam sejahtera bahagia memenuhi setiap kehidupan kita masing-masing. Saya tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat TUHAN, terkhusus kaum muda remaja yang sedang mengikuti pemberitaan firman TUHAN lewat live streaming video internet Youtube, Facebook dalam dan luar negeri, dimanapun anda berada kiranya TUHAN memberkati kita.
Selanjutnya, mari kita mohon kemurahan TUHAN, supaya kiranya firman yang dibukakan itu betul-betul berkuasa atas kehidupan kita, meneguhkan kehidupan kita pribadi lepas pribadi, mengingat hari-hari ini adalah hari terakhir; hari yang jahat, Setan dengan kuasanya begitu ganas untuk merusak pergaulan yang baik dari kehidupan pemuda remaja.
 
Selanjutnya, kita sambut STUDY YUSUF sebagai firman penggembalaan untuk Ibadah Kaum Muda Remaja. Kita kembali membaca Kejadian 41.
Kejadian 41:37-40
(41:37) Usul itu dipandang baik oleh Firaun dan oleh semua pegawainya. (41:38) Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: "Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?" (41:39) Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. (41:40) Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu."
 
Singkat kata: Firaun mempunyai keyakinan yang sangat besar bahwasannya: Yusuf layak untuk menjadi kuasa atas istana Firaun dan seluruh rakyat akan taat kepada perintah Yusuf.
Pertanyaannya: Mengapa Firaun mempunyai keyakinan yang begitu besar? Jawabnya ialah karena Yusuf adalah;
-          Seorang yang penuh dengan Roh Allah
-          Dan seorang yang berakal budi dan bijaksanai = penuh dengan Firman Allah.
Berarti, untuk menjadi hamba TUHAN yang berkuasa, untuk menjadi pelayan-pelayan TUHAN yang berkuasa mutlak harus penuh dengan Roh Allah yang suci serta penuh dengan firman Allah supaya berakal budi dan bijaksana.
 
Kejadian 41:41
(41:41) Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: "Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir."
 
Selanjutnya, Yusuf pun dilantik untuk menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.
Sebagai tambahan bagi kita: Apabila seorang hamba TUHAN atau pelayan TUHAN datang menghadap Allah dengan tahbisan yang benar dan suci, seyogyanya TUHAN sudah melantik dia sebagai imamat rajani atau hamba TUHAN yang berkuasa untuk memerintah di bumi ini.
 
Terkait soal melantik juga disinggung oleh Daud; dia bukan raja yang menurut pilihan manusia melainkan dia raja menurut pilihan TUHAN. Jadi, dia raja besar, maka tentu pengalaman saat dilantik untuk menjadi raja juga dialami oleh Daud. Tetapi, perlu untuk diketahui: Yesus adalah tunas daud, Raja di atas segala raja.
 
Mazmur 2:6
(2:6) "Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!"
 
Ini merupakan pengakuan dari Allah sendiri. Allah telah memilih seorang raja dan melantiknya di Sion, yakni gunung Allah yang kudus.
Ini merupakan pengakuan Allah yang ditulis oleh raja Daud, tentu itu juga merupakan pengalamannya sendiri.
 
Terkait soal raja Sion yang sudah dilantik itu, juga disinggung kembali oleh Daud di dalam Mazmur 48, dengan perikop: “Sion, kota Allah”, Sion adalah kota Allah yang kudus. Kita sekarang berada di tengah-tengah kota Allah yang kudus, bukan? Itu merupakan kemurahan hati TUHAN bagi kita.
Mazmur 48:2-3
(48:2) Besarlah TUHAN dan sangat terpuji di kota Allah kita! (48:3) Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi; gunung Sion itu, jauh di sebelah utara, kota Raja Besar.
 
Tadi, kita sudah melihat; peristiwa Allah memilih raja dan melantiknya di gunung Sion, jadi wajar saja Sion adalah kota raja besar. Singkatnya: Gunung Sion adalah kota raja besar, dengan 2 (dua) bukti:
1.      Gunung Sion menjulang permai.
2.      Gunung Sion menjadi kegirangan bagi seluruh bangsa di bumi ini.
 
Kita akan melihat bukti yang lain sesuai dengan nubuatan dari Yesaya. Yesaya ini adalah salah satu dari 5 (lima) nabi besar.
Kita membaca Yesaya 2, dengan perikop: “Sion sebagai pusat kerajaan damai.” TUHAN sudah melantik raja-Nya di Sion, sampai nanti akhirnya gunung Sion menjadi pusat kerajaan damai sejahtera atas bangsa-bangsa yang diam di bumi ini.
Yesaya 2:2-3
(2:2) Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, (2:3) dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem."
 
Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung …” Itu akan terjadi saudara, ingat itu. Jangan tinggalkan Pengajaran Mempelai supaya kita semua tidak mengalami suatu kerugian besar.
 
Singkatnya, di hari-hari terakhir akan terjadi dua hal terhadap gunung Sion;

-          Yang pertama: Gunung Sion akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit. Kalimat ini, menunjukkan bahwa; gunung Sion menjulang permai = Mazmur 48:2-3.

-          Yang kedua: Segala bangsa akan berduyun-duyun ke gunung Sion dan banyak suku bangsa akan naik ke gunung Sion. Kalimat yang kedua ini, menunjukkan bahwa; gunung Sion menjadi suatu kegirangan yang besar bagi seluruh bangsa yang diam di bumi. 

Dengan demikian, terlihatlah dengan jelas; adanya persamaan yang akurat antara Yesaya 2:2-3 dengan Mazmur 48:2-3. Tidak perlu ragu, bukan?
 
Sekarang, timbul pertanyaan bagi kita: APA BUKTI BAHWASANNYA GUNUNG SION MENJULANG PERMAI DAN MENJADI KEGIRANGAN?
-          Bukti yang pertama: Dari Sion keluar pengajaran.
-          Bukti yang kedua: Firman TUHAN dari Yerusalem.
Inilah bukti bahswasannya; gunung Sion menjulang permai dan menjadi kegirangan.
 
Selanjutnya, mari kita melihat penjelasan dari kedua bukti di atas, tentu saja dimulai dengan penjelasan bukti yang pertama: DARI SION KELUAR PENGAJARAN.
Adapun manfaat dari pengajaran ialah supaya TUHAN mengajar kita tentang jalan-jalan TUHAN. Jadi, tentu saja, kita sangat bersyukur kepada TUHAN kalau kita ada di atas gunung TUHAN, itu kemurahan bagi kita, sebab dari Sion keluar pengajaran.
 
Kita lihat jalan-jalan TUHAN. Rupanya hal itu sangat berarti bagi Salomo, dia seorang pribadi yang sangat memiliki hikmat Allah.
Amsal 30:18-19
(30:18) Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti: (30:19) jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.
 
Sekalipun Salomo memiliki hikmat yang heran, yang luar biasa, ternyata Salomo mengaku bahwasannya ada 4 (empat) hal yang tidak dapat dimengerti olehnya, jelas itu menunjuk kepada: Jalan-jalan TUHAN, antara lain;

-          Jalan rajawali di udara, berbicara tentang: Kemuliaan Yesus sebagai Raja.

-          Jalan ular di atas cadas, berbicara tentang: Sengsara Yesus sebagai manusia.

-          Jalan kapal di tengah laut, berbicara tentang: Kebangkitan Yesus sebagai hamba.

-          Jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis, berbicara tentang: Keadilan Yesus sebagai Anak Allah. Pesta nikah Anak Domba adalah keadilan Yesus sebagai Anak Allah.

 
Singkatnya;

-          Yang pertama: Yesus adalah Raja dalam kemuliaan-Nya.

-          Yang kedua: Yesus adalah manusia dalam sengsara-Nya.

-          Yang ketiga: Yesus adalah hamba dalam kebangkitan-Nya.

-          Yang keempat: Yesus adalah anak Allah dalam keadilan-Nya. Kiranya kita kelak berada dalam kemuliaan-Nya, dan itu merupakan keadilan dari Anak Allah.

Inilah 4 (empat) jalan-jalan TUHAN yang tidak dipahami, yang tidak dimengerti oleh Salomo yang penuh hikmat yang heran. Namun, jalan-jalan TUHAN tersebut sudah dilalui oleh Yesus Kristus, Anak Allah. Maka, tentu saja, terang saja; umat TUHAN, orang Kristen juga harus melalui jalan-jalan itu. Namun, ternyata di Sorga jalan-jalan TUHAN tersebut dilukiskan oleh 4 (empat) makhluk.
 
Wahyu 4:6
(4:6) Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang. (4:7) Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang.
 
Di tengah-tengah takhta dan di sekelilingnya ada 4 (empat) makhluk penuh dengan mata, berarti; 4 (empat) makhluk tersebut sepenuhnya berada di dalam terang atau dikuasai oleh terang. Kemudian, mata itu ada di sebelah muka dan di sebelah belakang.
-          Di sebelah muka, menunjukkan; perjalanan ke depan sudah berada dalam terang yang ajaib.
-          Di sebelah belakang, menunjukkan bahwa; dosa masa lalu sudah diperdamaikan oleh darah salib.
Imam-imam yang sudah mendapatkan kemurahan untuk melayani TUHAN sesuai dengan karunia-karunia dan jabatan-jabatan yang dipercayakan oleh TUHAN, mari kita dengan sungguh-sungguh mempertanggung jawabkan di hadapan TUHAN, maksudnya; dosa masa lalu sudah diterangi, sudah diperdamaikan oleh darah Anak Domba, dan ke depan kita berada dalam terang yang ajaib. Jangan sampai kita datang kepada TUHAN dalam keadaan belum berdamai dengan Allah, sebab masih mempertahankan dosa masa lalu.
 
Adapun wujud dari 4 (empat) makhluk tersebut ialah:

-          Yang pertama: Sama seperti singa à kemuliaan Yesus sebagai raja.

-          Yang kedua: Sama seperti anak lembu à kebangkitan Yesus sebagai hamba.

-          Yang ketiga: Mempunyai muka seperti muka manusia à sengsara yang dialami oleh Yesus sebagai manusia.

-          Yang keempat: Sama seperti burung nasar à keadilan dan kebenaran Yesus sebagai Anak Allah.

Inilah 4 (empat) jalan-jalan TUHAN, yang telah dilewati oleh Yesus Anak Domba Allah di bumi. Dan ternyata jalan-jalan TUHAN tersebut dilukiskan oleh 4 (empat) makhluk yang berada di sekeliling takhta dan di tengah-tengah takhta itu.
Yang pasti, kita sudah melihat keempat jalan-jalan TUHAN yang sudah dilalui oleh Anak Domba Allah di bumi. Kemudian, jalan-jalan TUHAN itu dilukiskan oleh 4 (empat) makhluk di Sorga.
 
Jadi, ibadah di bumi merupakan gambaran dan bayangan dari ibadah yang di Sorga. Tidak boleh kita mengadakan suatu ibadah atau berada di tengah ibadah menurut cara-cara manusiawi, tetapi ibadah yang sedang kita kerjakan di bumi harus merupakan bayangan dan gambaran dari ibadah di Sorga, harus ada polanya; ibadah di bumi harus berpola dengan Tabernakel Sorgawi.
Dengan mempunyai pengertian semacam ini, kita dapat menyenangkan hati TUHAN dalam setiap pertemuan-pertemuan ibadah kita di bumi ini.
 
Lebih dalam kita akan melihat, di dalam Wahyu 4.
Wahyu 4:8
(4:8) Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang."
 
Selanjutnya, pada ayat 8 kita akan melihat; keberadaan dari 4 (empat) makhluk yang berada di sekekliling takhta dan di tengah-tengah takhta itu. Ada beberapa hal tentang 4 (empat) makhluk tersebut, yang dapat kita temukan pada ayat 8:
Selanjutnya, pada ayat 8 kita akan melihat; keberadaan dari 4 (empat) makhluk yang berada di sekekliling takhta dan di tengah-tengah takhta itu. Ada beberapa hal tentang 4 (empat) makhluk tersebut, yang dapat kita temukan pada ayat 8:
HAL YANG PERTAMA: Keempat makhluk tersebut ternyata masing-masing bersayap 6 (enam) sekelilingnya, berarti daging dengan segala keinginan-keinginanya tidak nampak lagi, sudah ditutupi (dibungkusi) dengan 6 (enam) sayap.
 
HAL YANG KEDUA: Sebelah dalamnya penuh dengan mata, artinya: Tidak ada lagi sesuatu yang disembunyikan. Pada Wahyu 4:6 dikatakan; 4 (empat) makhluk itu penuh dengan mata sebelah muka dan di sebelah belakang.
-          Sebelah muka, menunjukkan; perjalanan ke depan berada dalam terang yang ajaib.
-          Di sebelang belakang, menunjukkan bahwa; dosa masa lalu telah diperdamaikan oleh darah salib.
Tetapi, kehidupan yang sudah diperdamaikan belum tentu ke depan dia bertahan dalam pendamaian. Namun, pada Wahyu 4:8 bagian yang kedua; sebelah dalamnya penuh dengan mata, artinya: Betul-betul tidak ada sesuatu lagi yang disembunyikan, ini merupakan suatu tabiat yang luar biasa. Kiranya kehidupan muda remaja tidak lagi ada sesuatu yang disembunyikan = sebelah dalamnya penuh dengan mata.
 
HAL YANG KETIGA: 4 (empat) makhluk tersebut berseru siang dan malam tanpa henti-hentinya. Berarti tidak ada rasa lelah, tidak ada rasa bosan, tidak ada rasa jenuh di dalam melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN.
Tidak boleh berhenti di dalam melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN. Serukan nama Yesus baik dalam perkataan dan perbuatan, dimanapun dan dalam keadaan kondisi apapun, bahkan keadaan terdesak sekalipun serukan nama TUHAN, baik lewat perkataan maupun lewat perbuatan. Jangan berhenti melayani TUHAN walaupun susah ataupun senang, bahkan dalam keadaan kondisi terjepit sekalipun, dihimpit masalah sekalipun, tetaplah serukan nama TUHAN.
 
Adapun seruan dari 4 (empat) makhluk tersebut ialah, YANG PERTAMA: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa”, artinya: 4 (empat) makhluk tersebut menyerukan kekudusan dari Allah Trinitas.

-          Menyerukan kekudusan dari Allah Bapa, berarti kita harus penuh dengan kasih Allah Bapa. Kegunaan kasih adalah menutupi banyak sekali dosa dan kasih itu berkuasa untuk mengampuni sesama.

-          Menyerukan kekudusan dari Allah Anak. Perbuatan dari Allah Anak, Yesus Kristus adalah telah mengerjakan sebuah pekerjaan yang mulia, yaitu; Dia mati di atas kayu salib sehingga darah-Nya tercurah atas kita untuk menyucikan setiap kehidupan kita masing-masing. Dialah roti yang dipecah-pecahkan; Dialah roti hidup yang telah memecahkan kehidupan-Nya di atas kayu salib.

Biarlah penyucian firman Allah kita boleh rasakan = penuh dengan firman Allah. Kalau kita semua penuh dengan Firman Allah = kita semua berada dalam kekudusan dari Anak Allah, Firman Allah.

-          Menyerukan kekudusan dari Roh Allah. Berarti penuh dengan Roh Allah, sehingga memberikan diri untuk dipimpin oleh Roh Allah sampai betul-betul berada di dalam pengaruh yang besar dari Roh Allah yang suci itu sendiri.

Jika ingin penuh dengan Roh Allah, berilah diri dipimpin oleh Roh Allah, sehingga berada dalam pengaruh yang besar dari Roh Allah, jangan lagi berada dalam pengaruh daging.

Biarlah kiranya kita semua menyerukan kekudusan dari Allah Trinitas.
Adapun seruan dari 4 (empat) makhluk tersebut ialah, YANG KEDUA: “… yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang." Artinya: 4 (empat) mahkluk tersebut betul-betul mengakui bahwasannya kasih karunia Allah atau kemurahan Allah lebih dari pada hidup.
Maka, setiap kali saya mengangkat pujian (lagu) “kemurahan” saya selalu mengangkat pujian dengan segenap hati, walaupun pujian (nyanyian) ini singkat, tetapi maknanya sungguh dalam. Oleh sebab itu, saya juga menghimbau setiap kali kita menaikkan pujian apapun termasuk tentang “kemurahan TUHAN” nyanyikan dengan kesungguhan di hati.

-          Oleh karena kemurahan TUHAN kita berada dalam perhimpunan ibadah Kaum Muda Remaja, itu kemurahan lebih dari pada hidup.

-          Oleh karena kemurahan TUHAN diberi nafas hidup, itu kemurahan lebih dari pada hidup.

-          Oleh karena kemurahan TUHAN diberi kesempatan untuk melayani pekerjaan TUHAN, itu kemurahan lebih dari pada hidup dari manusia daging.

Manusia daging hidupnya hanya sebatas untuk memuaskan keinginan daging, tetapi kemurahan TUHAN lebih dari pada hidup. Kita berada di tengah-tengah ibadah itu kemurahan untuk memberi hidup. diberi kesempatan untuk melayani TUHAN itu kemurahan lebih dari pada hidup manusia daging, diberi kesempatan untuk melayani pekerjaan TUHAN sesuai dengan karunia jabatan, sesuai dengan talenta yang ada, seberapun talenta yang ada, itu kemurahan lebih dari pada pada hidup manusia daging. Hargailah, serukanlah bahwa; “kemurahan TUHAN lebih dari pada hidup.”
Tetapi, kadang-kadang kita menganggap enteng kemurahan TUHAN;

-          seolah-olah kita hidup karena kekuatan kita,

-          seolah-seolah kita hidup karena pekerjaan kita; karena kita mempunyai pekerjaan, karena kita mempunyai gaji besar, karena kita mempunyai penghasilan yang banyak, mempunyai uang yang banyak, mempunyai bisnis yang luar biasa, 

itu semua pemikiran yang keliru. Tetapi, pemikiran yang tulus murni adalah pemikiran dari 4 (empat) makhluk: mereka menyerukan yang sudah ada, yang ada, dan yang akan datang, artinya: 4 (empat) makhluk tersebut mengakui kemurahan TUHAN lebih dari hidup, kemurahan TUHAN lebih dari segala-galanya.
 
TUHAN itu TUHAN  yang ajaib. Kalau 4 (empat) makhluk mengakui kemurahan lebih dari pada hidup, itu nyata.
TUHAN kita itu tidak omdo (omong doang), TUHAN kita itu tidak jarkoni (bisa ngajar ra bisa nglakoni = bisa mengajar, tidak bisa melakukan). TUHAN Allah kita itu betul-betul menggenapkan hukum Taurat di dalam diri-Nya, berarti tidak omdo (omong doang). 10 (sepuluh) Hukum Taurat yang tertulis dalam 2 (dua) loh batu, yang diterima oleh Musa sudah dieksekusi oleh Yesus di atas kayu salib.
Jadi, TUHAN kita itu tidak omdo (omong doang), tidak jarkoni (bisa ngajar ra bisa nglakoni = bisa mengajar, tidak bisa melakukan). Jadi, kemurahan TUHAN lebih dari hidup, lebih dari segalanya, karena TUHAN kita tidak omdo (omong doang), TUHAN kita tidak jarkoni (bisa ngajar ra bisa nglakoni = bisa mengajar, tidak bisa melakukan).
 
Mari kita lihat KEMURAHAN TUHAN LEBIH DARI HIDUP, dari Wahyu 1, dengan perikop: Salam kepada ketujuh jemaat. Inilah salam kepada tujuh sidang jemaat di Asia kecil; Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, Laodikia.
Wahyu 1:7
(1:7) Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.
 
“Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan …” Menunjukkan bahwa; betul-betul TUHAN Yesus adalah manusia rohani seutuhnya. 
 
“… dan setiap mata akan melihat Dia …” Ketika Yesus datang pada kali yang kedua; Dia tampil sebagai Raja dan Mempelai Pria Sorga, dan semua manusia akan melihat.
Jangan kita percaya dengan mesias palsu, guru-guru palsu, setelah mereka mengadakan mujizat palsu mereka berkata;
-          lihat, mesias ada di padang gurun,
-          kemudian ada lagi yang berkata; lihat, mesias ada di bilik.
Kalau suatu ibadah bentuknya kotak-kotak, janganlah percaya kepada hamba TUHAN yang mengkotak-kotakan, yang memblok-blokan, tetapi yang kita percayai adalah seorang utusan TUHAN yang pelayanannya membawa kepada kesatuan tubuh Kristus yang sempurna, sehingga semua mata akan melihat kedatangan-Nya pada kali yang kedua sebagai Raja dan Mempelai Pria Sorga.
 
“… juga mereka yang telah menikam Dia …” Yang juga turut melihat kedatangan Yesus untuk yang kedua kali adalah juga mereka yang telah menikam Dia. Yang menikam Dia adalah tentara romawi dan pasukannya. Namun, akhirnya;

-          Tentara romawi juga mendapat kemurahan yang besar.

-          Kepala pasukan mendapat kemurahan. Kemurahan yang terakhir juga dia melihat kedatangan Yesus pada kali yang kedua sebagai Raja dan Mempelai Pria Sorga. Ini merupakan kemurahan.

·         Kemurahan yang pertama: Dia yang menikam, tetapi dia juga tertolong.

·         Kemurahan yang terakhir: Saat kepala pasukan ini melihat kedatangan Yesus untuk yang kedua kalinya ke dunia ini.

 
“… Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia …” Selagi masih ada kesempatan kita gunakan kesempatan emas ini untuk memperbaiki kehidupan kita, selanjutnya diselamatkan. Jangan sampai kita meratap karena penyesalan yang hebat, karena tidak menghargai kesempatan; tidak mau bertobat selama masih ada kesempatan. Jangan ada ratapan semacam itu.
Masih ada waktu; masih ada waktu untuk bertobat, supaya jangan kita meratap karena sudah tidak ada lagi kesempatan.
 
Jadi, ayat 7; jelas itu berbicara soal kemurahan.
 
Wahyu 1:8
(1:8) "Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa."
 
"Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah” Yesus Kristus, Anak Allah, Dia adalah Alfa, Dia juga Omega. Dan kita harus yakin karena itu adalah firman yang mengatakannya.
Dia adalah Alfa dan Omega, Dia yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.
 
Tadi seruan 4 (empat) makhluk bagian B: yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang. Di sini; Dia adalah Alfa dan Omega, diawali dengan yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang.
Kemudian, lebih sempurna lagi kita melihat ayat 17-18.
 
Wahyu 7:17-18
(1:17) Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir. (1:18) dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.
 
Selanjutnya, di sini kita melihat; Yesus kembali berkata: Aku adalah;
-          Yang awal = Alfa.
-          Yang akhir = omega.
-          Yang hidup = yang ada,
-          Kemudian mati = yang sudah ada.
-          Lalu, Aku hidup = yang akan datang.
 
Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia, tetapi Dia juga;
-          Alfa = yang awal.
-          Omega = yang akhir.
Kemudian, Dia juga berkata;
-          Yang ada = hidup.
-          Yang sudah ada = mati.
-          Yang akan datang = hidup.
Tetapi, seruan dari pada 4 (empat) makhluk pada bagian B adalah;

-          Diawali dengan: “Yang sudah ada”, itulah berbicara tentang sengsara Yesus dan kematian Yesus di kayu salib. Itu adalah kemurahan.

-          Baru dilanjutkan dengan: “Yang ada” = hidup.

-          Kemudian dilanjutkan lagi: “Yang akan datang” = hidup.

Berarti, kemurahan TUHAN lebih dari pada hidup. Serukanlah itu dan buktikan dimanapun kita berada.
 
Oleh sebab itu, saya akan hubungkan langsung; kemurahan TUHAN ini lebih dari pada hidup, yang sudah kita alami dan sudah kita terima dari TUHAN Yesus Kristus; Dialah Allah menjadi manusia.
Wahyu 1:4
(1:4) Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya,
 
“… Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu …” Kasih karunia dan damai sejahtera yang lebih dari pada hidup, kiranya menyertai kita masing-masing dari sekarang sampai selama-lamanya.
 
Wahyu 1:5-6
(1:5) dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya -- (1:6) dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, -- bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.
 
Jadi, di awali dengan kasih karunia itulah kemurahan TUHAN lebih dari pada hidup serta damai sejahtera menyertai kita dari sekarang sampai selama-lamanya. Mengapa? Sebab, Dia mengasihi kita, apa buktinya? Dia telah melepaskan kita dari dosa dan dari maut oleh kuasa darah-Nya; Dia rela mati dan darah-Nya dicurahkan untuk mengampuni dosa kita semua, oleh kuasa darah-Nya dan kuasa kematian dan kebangkitan-Nya.
Selanjutnya, membuat kita menjadi suatu kerajaan; menjadi imam-imam, hamba-hamba TUHAN, pelayan-pelayan TUHAN, menjadi pilihan bagi Dia. Inilah kemurahan lebih dari pada hidup.
 
Kemurahan lebih dari pada hidup sudah kita alami. TUHAN sangat mengasihi kita. Apa buktinya? Jawabnya ialah Dia rela mati untuk menebus dosa kita, sesudah ditebus kita dijadikan sebagai imamat, inilah kemurahan lebih dari hidup dan  sudah terbukti.
Seharusnya hati kita hancur dan menangis malam ini mengingat kebaikan TUHAN; betul-betul kemurahan TUHAN lebih dari pada hidup dan itu sudah dilukiskan oleh 4 (empat) makhluk yang ada di sekeliling takhta dan di tengah-tengah takhta itu. Maka, ibadah di bumi harus menjadi bayangan dan gambaran dari ibadah yang di Sorga. Mari serukan kemurahan TUHAN, sedangkan kemurahan TUHAN lebih dari pada hidup.
Kemurahan TUHAN lebih dari pada hidup sudah terbukti. Buktinya: Sesudah ditebus selanjutnya dijadikan imam bagi Allah, kemurahan TUHAN lebih dari pada hidup, bersyukur.
 
Wahyu 5:9-10
(5:9) Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. (5:10) Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."
 
Fakta yang akurat sekali bahwasannya, ternyata; 4 (empat) makhluk yang di sekeliling takhta itu juga mengakui: Oleh karena Anak Domba yang disembelih, Ia telah membeli dan menebus mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan bangsa. Sesudah ditebus selanjutnya, menjadikan mereka suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah kita, tujuannya: Supaya mereka memerintah sebagai raja di bumi. Jadi, kalau kita dijadikan suatu kerajaan dan imam-imam bagi Allah itu adalah suatu kedudukan yang sangat tinggi yang harus kita hormati, kita junjung tinggi apapun yang terjadi, apapun yang kita alami.
Jangan hanya karena sibuk dengan perasaan, kepentingan, keinginan yang engkau kerjakan, lalu engkau lebih mengecilkan kedudukan yang tinggi itu, salah kaprah kalau seperti itu.  Hormati kedudukan yang sangat tinggi itu; menjadi imamat rajani itu adalah kedudukan yang sangat tinggi.
TUHAN mau jadikan kita memerintah sebagai raja di bumi; jangan kita menjadi hamba dosa, budak dosa. Harus menjadi imamat rajani di bumi; pelayan TUHAN, hamba TUHAN, umat TUHAN yang berkuasa memerintah di bumi.
 
Kalau seorang hamba TUHAN turun dari Yerusalem ke Yerikho, pasti ujung-ujungnya jatuh ke tangan penyamun, ingat akan hal ini. Hari selasa kemarin saya sudah sampaikan; kalau seorang hamba TUHAN mau berubah saat ditegur dari kesalahannya dia akan bersyukur; dia akan tetap menjadi imamat rajani, pelayan TUHAN, hamba TUHAN. Tetapi, kalau seorang hamba TUHAN tetap mempertahankan keinginannya; dosanya karena nafsu dagingnya, dosanya karena kejahatannya, dosanya karena kenajisannya, dia pasti tidak akan bertahan lama di gunung Sion, di Yerusalem, kota Allah yang kudus, dan lama-lama dia akan turun. Dan hari selasa lalu sudah saya sampaikan dan itu sudah terbukti.
Kemudian, malam ini akan saya sampaikan kembali: Kalau hamba TUHAN, pelayan TUHAN turun dari pelayanannya dia akan jatuh ke tangan penyamun, tidak bisa tidak. Firman TUHAN lebih benar dari pada pikiran manusiawi. Jangan pertahankan sesuatu yang tidak baik walaupun menurutmu baik.
Inlah kemurahan TUHAN lebih dari pada hidup yang diakui langsung oleh 4 (empat) makhluk.
 
Oleh sebab itu, ibadah di bumi harus menjadi gambaran dan bayangan ibadah di Sorga. Mengapa harus demikian? Kita lihat dalam Mazmur 24.
Mazmur 24:3-5
(24:3) "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" (24:4) "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. (24:5) Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.
 
Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Atau siapa yang boleh berdiri atau siapa yang layak untuk melayani pekerjaan TUHAN?
Jawaban Yang Pertama: Orang yang bersih tangannya = orang yang bersih perbuatan atau kelakuan atau solah tingkahnya.
 
Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Atau siapa yang boleh berdiri atau siapa yang layak untuk melayani pekerjaan TUHAN?
Jawaban Yang Kedua: Murni hatinya.

-          Jangan kita melayani tetapi ada kepentingan.

-          Jangan kita melayani hanya pamer-pamer.

Kalau melayani karena kepentingan, biasanya orang semacam ini tetap mempertahankan cara yang lama; perasaannya, hati dan pikiran manusia dagingnya dipertahankan. Tetapi, yang berhak bertahan melayani di gunung Sion adalah murni hatinya.

 
Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Atau siapa yang boleh berdiri atau siapa yang layak untuk melayani pekerjaan TUHAN?
Jawaban Yang Ketiga: Tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan = tidak suka menipu. Contoh menipu: di depan terlihat baik, di belakang tidak.

Jangan menipu; di dalam belum diperbaiki tetapi ingin menjadi pelita di bagian luarnya, itu adalah penipu, walaupun kita berkata kita tidak menipu, tetapi itu juga penipuan,

Misalnya; kalau hati saya jahat, hati saya tidak beres, tetapi saya berkoar-koar di atas mimbar, itu penipuan besar-besaran. Jangan kita berkata “berdusta demi kebaikan” supaya orang lain baik, supaya orang lain mengerti, itu berdusta demi kebaikan juga itu.

 
Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Atau siapa yang boleh berdiri atau siapa yang layak untuk melayani pekerjaan TUHAN?
Jawaban Yang Keempat: Tidak bersumpah palsu; kalau ya katakan ya, kalau tidak katakan tidak, lebih dari pada itu berasal dari si jahat, anak setan.
Inilah yang bertahan bahkan layak berdiri untuk melayani pekerjaan TUHAN, tetapi jangan salah; BESAR UPAH DARI SORGA.
 
Kalau kita melayani TUHAN di gunung Sion, dengan 4 (empat) kriteria di atas nyata dalam hidup kita, maka dialah hamba TUHAN, pelayan TUHAN, imamat rajani yang berhak untuk menerima berkat dari TUHAN; berkat jasmani maupun berkat rohani.
Kemudian, keadilan Allah menyelamatkan dia; masuk dalam pesta nikah Anak Domba, itu keadilan, itu keselamatan karena keadilan. Berkat semacam ini tidak bisa ditemukan di luaran sana; di luar ibadah, di luar pelayanan, di luar gunung Sion. Jadi, jangan bersungut-sungut kalau kita ditegur; di tengah pelayanan ada kesalahan lalu ditegur, jangan bersungut-sungut karena besar upah dan upah yang semacam ini tidak ditemukan di luaran sana.
 
Mazmur 24:6
(24:6) Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub." S e l a
 
Itulah angkatan yang menanyakan Dia, yang mencari wajah TUHAN.
Dosalah yang menyembunyikan wajah TUHAN. Biarlah kita mencari wajah TUHAN, berarti hidup suci. Berbahagialah orang yang suci hatinya karena merekalah yang melihat TUHAN, ini merupakan ucapan bahagia yang kelima.
 
Kita kembali membaca Yesaya 2.
Yesaya 2:2-3
(2:2) Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, (2:3) dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem."
 
Di hari-hari terakhir akan terjadi dua hal terhadap gunung Sion:

-          Yang pertama: Gunung Sion menjulang permai.

-          Yang kedua: Gunung Sion menjadi kegirangan bagi bangsa-bangsa di bumi.

Buktinya:

-          Yang pertama; dari Sion keluar pengajaran.

Manfaat pengajaran ialah mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya. Kita sudah melihat 4 (empat) jalan di bumi, yang juga sudah dilukiskan oleh 4 (empat) makhluk di Sorga.

-          Yang kedua; firman TUHAN dari Yerusalem.

 
Penjelasan tentang bukti yang kedua: FIRMAN TUHAN DARI YERUSALEM.
Manfaat firman TUHAN dari Yerusalem adalah supaya kita berjalan menempuhnya, jelas ini menunjuk: jalan yang ditinggalkan oleh Yesus Kristus, Dia adalah Anak Domba Allah, Dia juga Imam Besar yang sudah mengadakan pendamaian dosa di atas kayu salib. Mari kita menempuh jalan semacam ini juga.
 
1 Petrus 2:19-20
(2:19) Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. (2:20) Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
 
Menanggung penderitaan yang tidak harus ditanggung = sengsara salib = kasih karunia = kemurahan.
Kalau menderita karena dosa itu pukulan telak yang menyakitkan, tetapi kalau kita menderita karena salib itu adalah kasih karunia, itu kemurahan,
 
1 Petrus 2:21
(2:21) Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
 
Kita dipanggil untuk mengikuti jejak-jejak kaki Yesus yang berdarah itu.
Jadi, kita dipanggil untuk mengikuti teladan Yesus; mengikuti tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah-darah itu. Kalau kita menempuh jalan yang ditinggalkan oleh Yesus itu, maka semua dosa rontok, semua musuh akan kalah seketika itu juga. Itulah tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah yang ditinggalkan dan inilah jalan yang harus kita tempuh. Sebab, Dialah Anak Domba Allah yang telah disembelih, Dia juga Imam Besar Agung yang sudah mengadakan pendamaian dosa di atas kayu salib.
 
Itulah arti dari Firman TUHAN dari Yerusalem, maksudnya; kita menempuh jalan yang ditinggalkan oleh Yerusalem. Yerusalem itulah imam-imam, hamba TUHAN, pelayan TUHAN. Yesus adalah Imam Besar Agung, Dia telah mengadakan pendamaian dosa, ini jalan yang ditinggalkan, mari kita menempuhnya. Jangan sampai kita tidak menempuh jalan yang ditinggalkan-Nya, karena untuk itulah kita dipanggil. Tetapi, kalau kita menempuh jalan yang ditinggalkan semua dosa rontok, semua musuh dikalahkan. Ada 3 (tiga) musuh kita, yaitu:
1.      Daging dengan keinginannya.
2.      Setan itulah roh jahat dan roh najis dan pengaruhnya.
3.      Dunia dan arusnya yang menghanyutkan sampai anak TUHAN mengalami kematian rohani.
Tetapi, semua musuh ini akan dikalahkan, asalkan kita menempuh jalan yang ditinggalkan.
 
1 Petrus 2:22-23
(2:22) Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. (2:23) Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.
 
Praktek menempuh jalan yang ditinggalkan

1.      Ia tidak berbuat dosa = hidup suci = penuh dengan Firman Allah.

2.      Tipu tidak ada dalam mulut-Nya = tidak ada dusta = penuh dengan Roh Allah. Sebab, kalau kita penuh dengan Roh Allah orang lain tidak perlu mengajari kita, sebab Roh Allah itu akan mengajari kita tentang segala sesuatu. Dan ajaran Roh Allah itu benar, tidak dusta. Kalau ada dusta, berarti orang semacam ini belum penuh dengan Roh Allah.

3.      Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam

Singkatnya: Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan = penuh dengn kasih Allah.

Inilah praktek mengikuti contoh teladan yang ditinggalkan; tapak-tapak kaki Yesus yang berdarah.
 
Jadi;
-          Kalau kita tidak berbuat dosa = hidup suci = penuh dengan Firman Allah.
-          Tidak ada dusta = penuh dengan Roh Allah.
-          Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan = penuh dengan kasih Allah.
Jadi, sudah sangat jelas; jalan yang ditinggalkannya itulah tapak-tapak kaki Yesus, jejak kaki Yesus yang berdarah-darah. Jadi, jalan yang ditempuh itu sudah diperciki oleh darah Yesus.
 
Jalan ke Sorga adalah jalan yang sudah diperciki oleh darah Yesus. Tidak ada alat yang tidak diperciki oleh darah salib; semua perabotan yang ada di Tabernakel, semuanya sudah diperciki oleh darah salib, sudah ditandai dengan darah. Jadi, jalan ke Sorga adalah jalan salib, itulah tapak kaki Yesus yang berdarah-darah, jejak yang ditingalkan supaya kita menempuhnya. Dia Imam Besar, Dia yang sudah meninggalkan teladan itu, Dia Yerusalem sejati; Dia Imam Besar Agung yang telah mengadakaan pendamaian dosa. Itulah jejak yang ditinggalkan dan kita harus menempuh itu.
 
Untuk berada di Halaman Tabernakel, pertama-tama harus melalui; pintu gerbang, artinya: percaya. Jadi, percaya itu merupakan pintu gerbang Sorga, tetapi belum masuk Sorga, baru pintu gerbangnya saja.
Sesudah berada di pintu gerbang, maka alat pertama yang ditemukan di Halaman adalah Mezbah Korban Bakaran, itulah salib Kristus. Sedangkan, binatang yang dikorbankan di atas mezbah itulah gambaran dari pribadi Yesus yang disalibkan. Kemudian, dari darah itu diambil dan diperciki sampai kepada semua perabotan yang ada di dalam Tabernakel, sampai akhirnya berada di Ruangan Maha Suci.
Jadi, jalan untuk menuju Kerajaan Sorga sudah diperciki oleh darah salib. Maka, kita dipanggil betul-betul harus mengikuti jejak yang ditinggalkan-Nya, harus menempuh jalan yang ditingalkan-Nya, untuk sampai kepada Kerajaan Sorga, tidak bisa tidak. Kita harus segera memahaminya.
 
1 Petrus 1:2
(1:2) yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.
 
Taat kepada Yesus Kritus, pasti menerima percikan darah-Nya.
Jadi, kalau kita mengikuti jejak Kristus, berarti sama dengan: Telah menerima percikan darah, mengalami percikan darah. Percikan darah, berarti sengsara tanpa dosa. Ingat, itu penyucian terakhir yang dialami oleh gereja sampai akhirnya boleh bertemu dengan Allah, sama seperti;
-          7 (tujuh) kali percikan darah di atas Tutupan Grafirat,
-          dan 7 (tujuh) kalai percikan darah di depan Tabut Perjanjian.
Itu penyucian terakhir untuk sampai kepada kesempurnaan.
Jadi, mau tidak mau kita harus mengikuti jejak Kristus; kita harus menempuh jalan yang ditinggalkan-Nya, itu mutlak, tidak boleh tawar menawar lagi sampai kita berada dalam kesempurnaan.
 
Yohanes 14:4
(14:4) Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.".
 
Perikopnya: “Rumah Bapa”, Rumah Bapa di Sorga. Sekarang ini, kita sedang berjalan menempuh jalan yang ditinggalkan-Nya, berjalan menuju rumah Bapa di Sogra, tempuhlah jejak yang ditinggalkan oleh Kristus.
 
Kemana aku pergi kamu tahu jalan ke situ. Asal kita betul-betul menyangkal diri, pikul salib, ikut TUHAN pasti tidak sesat di tengah jalan. Ikuti jejak yang ditinggalkan oleh Kristus; jejak-jejak yang berdarah, pasti kita tiba di rumah Bapa di Sorga. Tetapi, kalau kita berhenti di tengah jalan hanya karena firman yang ditambahkan dan firman dikurangkan pasti sesat di tengah jalan, tidak sampai ditujuan akhir. Ingatlah akan hal itu.
 
Yohanes 14:5-6
(14:5) Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" (14:6) Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku
 
“Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi …” Karena dia tidak percaya; imam Tomas adalah melihat dulu baru percaya, ini bukan iman yang benar. Iman yang benar adalah percaya walaupun tidak melihat.
 
Supaya sampai kepada hidup kekal; mau tidak mau kita harus menempuh jalan yang ditinggalkan oleh Yesus Kristus; itulah jalan salib, jalan yang sudah diperciki oleh darah salib Kristus. Untuk sampai kepada hidup kekal, mau tidak mau harus menempuh jalan yang ditinggalkan oleh Yesus Kristus yaitu mengalami percikan darah; orang lain yang berdosa kita yang menderita, itu penyucian terakhir, sehingga pasti tiba di rumah Bapa di Sorga. Biarlah kita menempuh jalan yang ditinggalkan TUHAN.
 
Dikuatkan kembali oleh Rasul Paulus, di dalam Kisah Para Rasul 14.
Kisah Para Rasul 14:22
(14:22) Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.
 
Malam ini kita diajarkan untuk bertekun di dalam iman, iman yang benar.
Banyak hamba TUHAN berkata “melayani dengan iman”, tetapi tidak sesuai dengan kehendak TUHAN, tetapi malam ini kita diajar supaya bertekun dalam iman yang benar. Untuk masuk dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara, inilah iman yang benar. Menolak sengsara, berarti menolak masuk Sorga. Bertekunlah dalam iman, berarti untuk masuk Sorga harus mengalami banyak sengsara, percikan darah.
 
Inilah firman Allah dari Yerusalem, manfaatnya: supaya kita menempuhnya.
Yerusalem itu adalah imam-imam, pelayan TUHAN, hamba TUHAN. Yesus adalah Imam Besar Agung yang sudah mengadakan pendamaian dosa, darah-Nya memperdamaikan dosa manusia. Darah semacam ini sudah ditinggalkan, inilah jejak yang ditinggalkan, dan kita dipanggil untuk menempuhnya supaya kita sampai ke rumah Bapa di Sorga.
 
Filipi 1:29
(1:29) Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,

Dikaruniakan untuk menderita untuk Dia. Jadi, bukan hanya percaya tetapi juga dikaruniakan untuk menderita. Karunia menderita adalah karunia yang tidak bisa diselami oleh akal pikiran manusia. Itu sebabnya, Salomo yang memiliki hikmat yang heran tidak dapat memahami jalan-jalan TUHAN;

-          Jalan yang pertama: Jalan rajawali di udara, berbicara tentang: Kemuliaan Yesus sebagai Raja.

-          Jalan yang kedua: Jalan ular di atas cadas, berbicara tentang: Sengsara Yesus sebagai manusia. Ini sulit dipahami oleh akal dan pikiran manusia, termasuk Salomo yang penuh dengan hikmat. Dia datang dari Sorga sebagai Raja dalam kemuliaan penuh, tetapi turun ke bumi menjadi manusia, kemudian mengalami sengsara hebat. Ini adalah pengalaman yang tidak bisa diselamai oleh akal pikiran manusia secara sehat, hanya bisa diselami dengan iman.

-          Jalan ketiga: Jalan kapal di tengah laut, berbicara tentang: Kebangkitan Yesus sebagai hamba.

-          Jalan keempat: Jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis, berbicara tentang: Keadilan Yesus sebagai Anak Allah.

 
Jadi, kepada kamu bukan dikaruniakan hanya percaya saja, tetapi dikaruniakan juga untuk menderita untuk Dia.
Karunia ini adalah karunia yang tidak bisa diselami oleh akal dan logika manusia. Tetapi, lihatlah Allah kita hebat; 10 (sepuluh) hukum sudah dieksekusi di dalam diri-Nya, Dia bukan Allah yang omdo (omong doang), Dia bukan Allah yang jarkoni (bisa ngajar ra bisa nglakoni = bisa mengajar, tidak bisa melakukan), supaya kita selamat. Kalau hamba TUHAN jarkoni (bisa ngajar ra bisa nglakoni = bisa mengajar, tidak bisa melakukan) tidak akan selamat, bahkan mulutnya dipakai untuk menimbulkan penyakit kanker sehingga sidang jemaat juga mengalami penyakit kanker yang menjalar dan akhirnya membinasakan.
 
Jadi, kita bersyukur firman TUHAN dari Yerusalem, itulah contoh teladan yang ditinggalkan Yesus sebagai Imam Besar. Kita harus menempuh jalan yang ditinggalkan itu, sampai kita tiba di rumah Bapa di Sorga.
 
Namun, ada SYARAT UNTUK BERADA DI GUNUNG SION.
Yesaya 2:2-3
(2:2) Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, (2:3) dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem."
 
Mari kita naik ke gunung TUHAN. Kata “mari” itu menunjuk undangan yang harus kita hargai, undangan yang harus kita hormati. Undangan TUHAN yang ditujukan kepada kita harus dijunjung tinggi, kita harus hormati.
Jangan sama seperti peristiwa di Injil Matius 22; mereka yang layak untuk diundang tidak menghargai undangan;
-          Ada yang pergi untuk melihat usahanya.
-          Ada yang pergi ke ladang.
-          Bahkan ada yang membunuh hamba yang diutus oleh Raja untuk mengundang.
Jangan kita seperti itu. Hormati undangan Sorgawi, junjung tinggi undangan Sorgawi, hai bangsa-bangsa yang diam di bumi, dimulai dari kita malam ini.
 
Wahyu 22:15-17
(22:15) Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar. (22:16) "Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang." (22:17) Roh dan pengantin perempuan itu berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!
 
Roh dan gunung Sion, Yerusalem baru, berkata: “marilah!” Gunung Sion dan Yerusalem adalah pengundang.
Roh dan mempelai mengundang “marilah!” Barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: “Marilah! = turut menjadi pengundang.
Kalau melayani, sungguh-sungguh; jangan pasif, jangan banyak ngomel, jangan bersungut-sungut, jangan panas hati. Kalau sudah mendengar undangan, maka yang menerima undangan juga harus turut berkata “marilah” = turut mengundang.
 
Jadi, jangan pasif, hai hamba-hamba TUHAN, pelayan TUHAN, imam-imam di gunung Sion.
Yang tangannya bersih, hatinya murni, tidak menipu, tidak dusta, tidak pasif tetapi aktif, inilah yang menghormati undangan; sungguh-sungguh melayani TUHAN dalam kesucian, karena kita ini utusan TUHAN, diutus untuk memberi kesaksian dengan Roh yang tak terbatas.
Hormatilah undangan itu, maka kita juga harus mengundang; melayani TUHAN dengan sungguh-sungguh, tidak boleh pasif dalam melayani TUHAN harus aktif di hari-hari terakhir ini, jangan ngomel kalau melayani, susah senang jangan ngomel, ada korban tenaga, pikiran, waktu, uang, materi jangan ngomel, hargai undangan.
Saya berpikir tadi listrik akan mati karena memang ada pemberitahuan, sehingga genset harus dipersiapkan untuk dihidupkan. Namun, untuk menghidupkan genset dibutuhkan juga bahan bakar, dan untuk membeli bahan bakar serta alat dan bahan yang dibutuhkan, apakah harus ngomel? Jawabnya ialah TIDAK, kalau kita mengerti ayat ini kita harus melayani TUHAN dengan sungguh-sungguh.
 
Itulah syarat untuk berada di gunung Sion. Tetapi, yang tidak diundang, yang tidak layak masuk dalam Kerajaan Sorga, antara lain:
YANG PERTAMA: Anjing-anjing.  Ada 3 (tiga) tabiat anjing:
1.      Menjilat borok, berarti menyukai kelemahan orang lain.
2.      Menjilat muntah, berarti kembali mengulangi kesalahan yang sama.
3.      Anjing hutan (serigala), tabiatnya: Menerkam dan mencerai beraikan kawanan domba, sehingga domba-domba menjadi liar.
YANG KEDUA: Tukang-tukang sihir à orang-orang yang tidak mau menghargai salib; maunya instan saja, maunya diberkati saja.
YANG KETIGA: Orang-orang sundal. Inilah orang-orang yang ada di tengah ibadah, tetapi dikuasai nafsu cabul; tidak suka salib, tetapi berbicara soal kelimpahan.
YANG KEEMPAT: Pembunuh. Membenci sesama setara dengan dosa membunuh, membenci merupakan akar pahit.
YANG KELIMA: Penyembah berhala; takluk kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin.
YANG KEENAM: Pendusta à orang yang tidak penuh dengan Roh Kudus.
 
Wahyu 19:6-7
(19:6) Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. (19:7) Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.
 
Yesus disebut juga singa dari suku Yehuda, menunjukkan bahwa; ketika Yesus datang pada kali yang kedua kelak Dia akan tampil sebagai Raja.
Kemudian, Yesus juga disebut Anak Domba, sebab dia kelak tampil sebagai Mempelai Laki-Laki Sorga. Jadi, Yesus tidak pernah disebut sebagai anjing.
Jadi, ayat 6 sampai ayat 7 itu adalah suasana pesta nikah Anak Domba.
 
Wahyu 19:8-9
(19:8) Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.] (19:9) Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah."
 
“… kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus …” Kepada mempelai wanita dikaruniakan untuk memakai kain lenan halus, itulah perbuatan-perbuatan benar dari orang-orang kudus.
 
Jadi, yang menghargai undangan layak masuk dalam pesta nikah Anak Domba sebagai sasaran akhir dari ibadah di muka bumi ini. Jadi, muara dari ibadah di bumi ini adalah pesta nikah Anak Domba, bukan soal mujizat dan bukan soal berkat.
Perjalanan rohani kita di atas muka bumi ini adalah masuk dalam perjamuan kawin Anak Domba; Yesus tampil sebagai raja dan Mempelai Pria Sorga dan kepada mempelai wanita dikaruniakan lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih, itulah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.
 
Berbahagialah mereka yang diundang dalam pesta nikah Anak Domba, sebab itu adalah Firman Allah yang benar dan murni.
Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah." Inilah Firman Allah yang benar dan murni. Jadi, kalau di tengah ibadah, firman yang disampaikan hanya sibuk soal berkat, mujizat dan sensasi itu tidak murni, tetapi firman yang benar adalah Pengajaran Mempelai dalam terangnya Tabernakel yang membawa kita masuk dalam pesta nikah Anak Domba. Hargailah undangan.
 
Roh dan pengantin itu berkata “marilah!” Juga mereka yang sudah mendengar undangan itu juga turut berkata “marilah!” = turut mengundang. Itulah Frman Allah yang benar dan murni.
Kalau sudah dengar firman, hargai; TUHAN sudah utus malaikat-Nya itulah hamba TUHAN dengan Roh yang tak terbatas untuk memberi kesaksian lewat Pengajaran Mempelai, hargai. Jangan malah sibuk mengurusi urusannya, jangan malah sibuk pergi ke ladangnya, jangan menyakiti hamba TUHAN yang membawa undagan seperti yang tertulis dalam Matius 22 tentang; pesta nikah Anak Raja, dalam pesta nikah itu hidangan sudah tersedia.
Hargailah undangan ini dan hormati juga yang membawa undangan, jangan dilawan (jangan memberontak). Haleluya.Amin.
 
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
 
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang