KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Tuesday, August 8, 2017

IBADAH RAYA MINGGU, 30 JULI 2017

IBADAH RAYA MINGGU, 30 JULI 2017
(Seri 27)

“KITAB WAHYU”

Subtema: BUKAN YANG TERUTAMA KARENA MELANGGAR KESUCIAN.

Shalom saudaraku.
Selamat malam, salam sejahtera bagi kita semua. Oleh karena kemurahan hati Tuhan kita dimungkinkan untuk melangsungkan Ibadah Raya Minggu disertai kesaksian.

Segera kita perhatikan firman penggembalaan Ibadah Raya Minggu dari kitab Wahyu.
Wahyu 7: 4
(7:4) Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.

Jumlah mereka yang dimeteraikan itu 144.000 dari semua suku keturunan Israel.

Kita sudah melihat suku Manasye diikutsertakan dalam pemeteraian itu. sesungguhnya suku Manasye bukan anak dari Yakub, tetapi Manasye adalah cucu dari pada Yakub, sebab Manasye adalah anak dari Yusuf.
Itu adalah kemurahan, gambaran dari bangsa kafir yang mendapat kemurahan. Sebab di dalam Kejadian 48:5 di situ dengan jelas bahwa Yakub mengakui dan mengangkat Manasye sebagai anak, disejajarkan dengan Ruben dan Simeon.

Jangan sia-siakan ibadah yang ada. Jangan sia-siakan pelayanan yang ada.
Kedatangan Tuhan sudah tidak lama lagi. Antikris sudah dengan terang-terangan menyatakan dirinya. Kalau dahulu dia bersifat bergerilya, tetapi sekarang sudah terang-terangan menampilkan keberadaannya.
Jadi kalau tidak dari sekarang kita sungguh-sungguh menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, maka tidak tertutup kemungkinan kita ini akan terseret oleh arus dunia, dengan segala pengaruhnya. Dan dunia ini suatu kali nanti akan dikuasai oleh uang. Uang yang akan berbicara. Uang yang akan mengatur dunia ini.
Kalau tidak dari sekarang kita lepaskan diri dari ikatan cinta akan uang, maka tidak tertutup kemungkinan akan terpengaruh, akan terseret oleh arus dunia ini yang begitu hebat dan luar biasa. Jangan main-main.
Kita yang sudah mendapat kemurahan, jangan bermegah atas cabang-cabang yang telah dipatahkan.
Kalau tunas liar dicangkokkan, berarti ada cabang yang dipatahkan. Namun kita sebagai bangsa kafir, sebagai tunas liar, jangan sombong, jangan bermegah.

Kalau kita lihat, berkat yang diterima oleh Dan, dia digambarkan seperti ular beludak. Tetapi tidak berhenti sampai di situ, kalimat berikutnya: “Aku menanti-nantikan keselamatan”...Kejadian 49:16-18.
Dalam Injil Matius 3, Yohanes Pembaptis berseru di padang gurun, orang-orang Farisi dan ahli Taurat bangsa Israel mendengarkan suara orang yang berseru-seru.
Adapun seruan itu: “Bertobatlah, berikanlah dirimu dibaptis”, suara ini didengar oleh ular beludak sampai akhirnya memberi diri dibaptis. Inilah keselamatan yang dinantikan oleh Dan.

Mungkin kita sama seperti ular beludak; lidah bercabang, mulut penuh tipu muslihat. Kalau berjalan penuh dengan liku-liku, tidak tulus. Tetapi kalau kita mau mendengarkan suara orang yang berseru-seru, mau mendengarkan firman Tuhan yang disuarakan, dan memberi diri untuk dimandikan dan disucikan oleh air firman, tidak tertutup kemungkinan ular beludak mendapat keselamatan.
Nantikanlah keselamatan dari Tuhan supaya kita bisa lari dari hukuman yang akan datang.
Tidak ada orang yang dapat melarikan diri dari hukuman yang akan datang kalau ia tidak mau bertobat, selanjutnya memberi diri dibaptis dan dipermandikan oleh air firman Tuhan.
Kiranya dapat dipahami dengan baik kiranya karena kesetiaan kita di dalam mengiringi Tuhan, muaranya, kita mendapatkan pemeteraian atau diikutsertakan di dalam pemeteraian, mendapat kemurahan.
Kiranya hal itu nyata dalam kehidupan kita pribadi lepas pribadi.

Mari kita membaca ayat 5-8.
Wahyu 7: 5-8
(7:5) Dari suku Yehuda dua belas ribu yang dimeteraikan, dari suku Ruben dua belas ribu, dari suku Gad dua belas ribu,
(7:6) dari suku Asyer dua belas ribu, dari suku Naftali dua belas ribu, dari suku Manasye dua belas ribu,
(7:7) dari suku Simeon dua belas ribu, dari suku Lewi dua belas ribu, dari suku Isakhar dua belas ribu,
(7:8) dari suku Zebulon dua belas ribu, dari suku Yusuf dua belas ribu, dari suku Benyamin dua belas ribu.

Yang dimeteraikan dari tiap-tiap suku adalah 12.000, maka 12 suku x 12.000 hasilnya 144.000
Kemudian kalau kita perhatikan, dari pembacaan ini, yang pertama-tama dalam pemeteraian itu adalah suku Yehuda, padahal Ruben adalah anak Yakub yang pertama, Ruben adalah buah sulung dari Yakub, tetapi justru di dalam pemeteraian yang pertama adalah Yehuda.
Ini juga menjadi perhatian kita malam ini. Perhatian kita tidak luput dari suku Yehuda.

Sebetulnya, saya ingin lanjut kepada ayat 9, tetapi hati saya didorong oleh Roh Tuhan untuk kembali menyampaikan Wahyu 7: 4-8 ini, sebab hal pemeteraian ini sangat penting sekali, tanpa pemeteraian, dia bukan milik Kristus, dia bukan milik Tuhan.
Meterai sebagai milik Tuhan adalah  Roh Kudus. Harus ada meterainya, harus ada segelnya, maka sah sebagai milik Tuhan.

12 anak Yakub sesuai dengan urutannya adalah Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Ishakar, Zebulon, Yusuf, Benyamin.
Namun di sini suku Dan tidak diikutsertakan  dalam pemeteraian, diganti dengan suku Manasye, anak Yusuf. Dalam pemeteraian ini, 6 anak yang dilahirkan oleh Lea, 2 anak yang dilahirkan oleh Zilfa, Gad dan Asyer, budak dari pada Lea. Kemudian, 1 anak yang dilahirkan oleh Bilha, budak dari pada Rahel, Dan 2 anak yang dilahirkan oleh Rahel, itulah Yusuf dan Benyamin. Kiranya dapat dipahami dengan baik.

Kita lihat; Dalam pemeteraian, urutan yang pertama adalah suku Yehuda? Mengapa bukan suku Ruben yang pertama dalam pemeteraian?
Kita bisa lihat jawabnya dalam ...
Kejadian 49: 3
(49:3) Ruben, engkaulah anak sulungku, kekuatanku dan permulaan kegagahanku, engkaulah yang terutama dalam keluhuran, yang terutama dalam kesanggupan.
Ruben sebetulnya anak sulung atau anak yang pertama yang dilahirkan Lea bagi Yakub.
Anak sulung, berarti;
-       Kekuatanku dan permulaan kegagahanku.
-       Yang terutama dalam keluhuran, yang terutama dalam kesanggupan.

Jadi, anak sulung harus bisa dibanggakan karena jelas; kekuatan dan permulaan kegagahan seorang bapa, kemudian terutama dalam keluhuran, terutama dalam kesanggupan. Itu jelas, harus bisa dibanggakan.
Barangkali secara lahiriah kita bukan anak pertama, tetapi dengan berada di tengah-tengah ibadah dan pelayanan ini menggambarkan bahwa kita adalah anak sulung, sebab hak kesulungan itu adalah ibadah dan pelayanan, sesuai dengan pengakuan Tuhan dalam Keluaran 4: 22-23.
Anak sulung; harus bisa diandalkan, harus bisa menjadi kebanggaan bagi bapanya.

Kejadian 49: 4
(49:4) Engkau yang membual sebagai air, tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki   tempat tidur ayahmu; waktu itu engkau telah melanggar kesuciannya. Dia telah menaiki petiduranku!
Tetapi di sini perhatikan kalimat: “Tidak lagi engkau yang terutama.
Perkataan Yakub kepada Ruben tentu ada alasannya sehingga ia mengatakan hal ini.
Alasannya: “Sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu.
Pendeknya; dia berzinah dengan salah satu budak, dengan salah satu isteri dari pada Yakub.

Jadi, isteri Yakub itu ada empat. Dua yang sah; Lea dan Rahel, kakak beradik.  Dua lagi budak; budak dari pada Lea adalah Zilfa, budak dari pada Rahel adalah Bilha.
Jadi dia berzinah dengan Zilfa, budak Lea. Dia menaiki tempat tidur ayahnya, dengan demikian, ia telah melanggar kesuciannya.

Saudaraku, suami isteri itu sama seperti tubuh dan kepala, menyatu, tidak terpisah. Hubungan intim itu tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun.

Hubungan intim dalam kitab Wahyu 14...
Wahyu 14: 1
(14:1) Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.
144.000 orang berdiri di bukit Sion (inti dari pada mempelai wanita Tuhan). Kemudian di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya, berarti masuk di dalam pemeteraian, layak menjadi milik Tuhan, sebab nama-Nya dan nama Bapa-Nya tertulis di dahi mereka, mereka sah dan diakui sebagai milik Tuhan.

Wahyu 14: 2-3
(14:2) Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya.
(14:3) Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu.
144.000 yang berdiri di atas bukit Sion menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan empat makhluk dan tua-tua, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari 144.000 orang yang telah ditebus dari bumi itu.
Nyanyian baru itu berbicara tentang hubungan intim antara tubuh dengan kepala, hubungan gereja dengan Kristus. Gereja sebagai tubuh-Nya, Kristus sebagai kepala-Nya.
Pendeknya, nyanyian baru berbicara tentang hubungan nikah = hubungan intim, sama seperti tubuh dengan kepala tidak bisa terpisah.

Jadi nyanyian baru yang dinyanyikan oleh 144.000 orang yang ditebus dari bumi ini itu menunjukkan persekutuan mereka dengan Tuhan begitu intim. Persekutuan yang indah ini atau hubungan intim ini tidak dapat dipelajari oleh siapapun selain mereka sendiri, sama seperti suami isteri saat melangsungkan hubungan intim, tidak ada yang tahu. Kalau ada orang lain yang tahu hubungan itu, menunjukkan bahwa dia sedang dikuasai oleh roh najis.
Inilah yang merusak kesucian. Jadi Ruben ini melanggar kesucian.

Saudara yang merasa diri anak pertama, jangan melanggar kesucian. Hati-hati.
Kalau hubungan antara suami dan isteri itu intim, maka selalu baru, ada nyanyian baru, ada kata-kata yang baru, yang lama berlalu, tidak ada kekasaran, tidak ada perbuatan keras, kasar, kejahatan, dan sebagainya.
Berarti, betul, ketika Ruben memiliki tempat tidur ayahnya, ia telah melanggar kesucian Allah.

Demikian halnya Rasul Paulus ketika diangkat ke tingkat yang ketiga, yang disebut dengan Firdaus, dia mendengar nyanyian yang tidak dapat dipelajari oleh siapapun, berarti Rasul Paulus ketika naik ke tingkat yang ketiga, terjadi hubungan intim.
Saudaraku, hubungan gereja dengan Tuhan sama seperti hubungan tubuh dengan kepala, sama seperti hubungan suami dengan isteri.  Kita boleh mereguk kesejukan, kita boleh menikmati kasih-Nya.
Kesucian semacam ini tidak boleh dilanggar. Hubungan intim seperti ini tidak boleh dilanggar, supaya kita semua boleh masuk dalam pemeteraian, diikutsertakan di dalam pemeteraian.
Kenajisan di dalam hati dan pikiran,  jangan diteruskan, sebab itu melanggar kesuciannya.
Jangan hiasi hatimu, jangan hiasi pikiranmu dengan roh najis. Itu kesenangan yang sifatnya kamuflase, omong kosong, tidak ada artinya.
Mulai sekarang, berhenti memikirkan yang tidak perlu engkau pikirkan supaya akhirnya nanti kita semua masuk dalam pemeteraian.
Jadi hubungan gereja dengan Kristus adalah hubungan nikah, persekutuan yang begitu indah dengan Tuhan.

Imamat 18: 1-3
(18:1) TUHAN berfirman kepada Musa:
(18:2) "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Akulah TUHAN, Allahmu.
(18:3) Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir, di mana kamu diam dahulu; juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, ke mana Aku membawa kamu; janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka.

Di sini ada suatu perintah, yaitu; 
-       Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir.
-       Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan.
Ini firman Tuhan yang harus diperhatikan, yang pertama-tama, terlebih dahulu harus diperhatikan untuk menjaga kudusnya perkawinan, hubungan intim antara tubuh dengan kepala, gereja dengan Kristus.

Keterangan: “Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir.”
Yang diperbuat orang di tanah Mesir, yaitu diperbudak oleh kerja paksa = diperbudak oleh dosa, tanpa hari perhentian.
Hari perhentian = hari Sabat = hari ketujuh, itulah ibadah dan pelayanan.
Perlu untuk diketahui; orang yang diperbudak oleh dosa, tanpa hari perhentian (jauh dari ibadah dan pelayanan), orang semacam ini akan tertindas sampai akan memahitkan hatinya.

Coba kita lihat sejenak;
Keluaran 1: 11-14
(1:11) Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses.
(1:12) Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu.
(1:13) Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja,
(1:14) dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.

Bangsa Israel ketika berada di Mesir, mereka diperbudak dengan kerja paksa. Mereka tertindas sampai memahitkan hati mereka.
Juga pada masa sekarang; kalau seseorang diperbudak oleh dosa (dosa apapun), kejahatan dan kenajisan, kalau dia tidak masuk pada hari perhentian (jauh dari ibadah dan pelayanan), membuat dia tertindas sampai memahitkan hatinya.

Itu yang saya alami dulu; saya ingin mencari jalan keluar, untuk  melepaskan diri dari masalah, tetap tidak ada jalan keluarnya. Pada saat punya uang, juga tidak bisa. Justru dengan uang ini, dosa bertambah-tambah, apalagi tidak ada uang, semakin tertindas.
Itulah yang diperbuat orang di tanah Mesir. Itu firman yang harus diperhatikan malam ini.

Keterangan: Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan.
Keluaran 23: 24-25
(23:24) Janganlah engkau sujud menyembah kepada allah mereka atau beribadah kepadanya, dan janganlah engkau meniru perbuatan mereka, tetapi haruslah engkau memusnahkan sama sekali patung-patung berhala buatan mereka, dan tugu-tugu berhala mereka haruslah kauremukkan sama sekali.
(23:25) Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu.

Yang diperbuat orang di tanah Kanaan adalah menyembah berhala atau jatuh dalam penyembahan berhala.
Berhala adalah segala sesuatu yang melebihi dari Tuhan.
Kalau oleh karena pekerjaan kita jauh dari ibadah, itu berhala. Karena bisnis, karena kesibukan-kesibukan di atas muka bumi ini, oleh karena itu kita jauh dari ibadah, bahkan oleh karena study sekalipun lalu jauh dari Tuhan, itu berhala. Segala sesuatu yang melebihi dari Tuhan itu berhala.
Seharusnya, patung-patung berhala buatan tangan, tugu-tugu berhala buatan tangan itu dihancurkan diremukkan, jangan sampai menyembah berhala, jangan beribadah kepada berhala. Tetapi menyembahlah kepada Tuhan, beribadahlah kepada Tuhan. Kepada Allah yang hidup, bukan kepada berhala.

Banyak orang Kristen, keliru di dalam mengikuti Tuhan karena pemikirannya keliru. Banyak orang berpikir bahwa manusia hidup karena roti makanan, tetapi perlu diketahui bahwa manusia hidup bukan dari roti makanan tetapi dari setiap perkataan itulah firman Allah yang keluar dari mulut Allah. Kalau kita perhatikan di dalam Roma 4: 16-17, firman itu menjadikan yang tidak ada menjadi ada, firman itu menghidupkan yang mati, dan oleh firman itu alam semesta ada, langit bumi dan segala isinya ada.
Dulu kita tidak berada di dalam penggembalaan semacam ini, sekarang kita boleh tergembala. Dulu kita tidak mengerti kebenaran, dulu kita tidak tahu melakukan sesuatu yang baik dan yang berkenan kepada Tuhan. Dulu kita tidak tahu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, dulu kita tidak punya ini dan itu. sekarang oleh karena firman, kita memiliki ini dan itu, kita diperlengkapi di tengah-tengah ibadah pelayanan oleh karunia-karunia Roh Kudus dan jabatan-jabatan untuk melayani Dia. Dulu kita tidak memiliki itu, itu harta rohani, bahkan harta jasmani mengikuti sesuai Matius 6: 33, carilah dahulu Kerajaan Sorga, maka semuanya ditambahkan.
Harta rohani (karunia Roh Kudus dan lima jabatan) dan harta jasmani juga mengikuti, semuanya ditambahkan, karena firman Tuhan mengadakan  yang tidak ada menjadi ada, menghidupkan yang mati Roma 4: 16-17.
Itu sebabnya di atas tadi saya katakan; banyak orang Kristen keliru mengikuti Tuhan (bukan orang di luar Kristen), sampai akhirnya mereka menyembah patung berhala, itulah uang atau mamon.
Nanti dalam Wahyu 13, patung itu berbicara sedemikian rupa. Kalau tidak dari sekarang kita lepas dari penyembahan berhala, satu kali nanti akan masuk di dalam jeratnya Setan, itulah antikris, tanpa disadari orang-orang  akan menerima cap meterai 666 di dahi atau di tangan kanan, dan sekarang gedung antikris sudah berdiri, mereka sudah terang-terangan menampilkan gedung mereka di Amerika Serikat. Pemerintah sudah mulai ikut campur mengatur gereja (tatanan gerejawi), dengan bukti apabila seorang hamba Tuhan tidak menikahkan LGBT; akan dipenjarakan. Itu bukan ceritanya, bukan katanya, itu benar. Di belahan dunia Amerika, Eropa, itu sudah terjadi; pemerintah sudah mulai ikut campur dalam tatanan gerejawi. Maka jika, seorang pendeta harus memberkati laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan, sudah terang-terangan sekarang. Pembinasa keji sudah berdiri di tempat kudus. Hati-hati.
Kalau tidak dari sejak sekarang lepas dari penyembahan berhala, nanti pada masa aniaya antikris, orang-orang akan menyembah patung berhala.

Wahyu 13: 14
(13:14) Ia menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan tanda-tanda, yang telah diberikan kepadanya untuk dilakukannya di depan mata binatang itu. Dan ia menyuruh mereka yang diam di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun yang tetap hidup itu.

Binatang yang keluar dari dalam bumi itu adalah nabi-nabi palsu, mereka mengadakan tanda-tanda heran, atau pun mujizat-mujizat di depan binatang yang keluar dari dalam laut, antikris. Lalu mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang keluar dari dalam laut.

Wahyu 13: 15
(13:15) Dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang, yang tidak menyembah patung binatang itu, dibunuh.

Terkhusus ibadah mereka yang belum memuncak sampai kepada Doa Penyembahan, hanya memiliki firman dan kesaksian (roh). Kalau mereka bertahan, sangkal diri, pikul salib, ya terbunuh. Tetapi mereka akan hidup kembali dan menjadi raja di kerajaan 1000 tahun damai bersama dengan Kristus.

Tetapi siapa yang dapat bertahan dengan siksaan aniaya yang begitu keji? Difitnah saja kita sudah panas hati. Diajar dengan yang baik saja kita tidak mau terima karena harga diri. Dosa disucikan, disingkapkan oleh kuasa firman, juga panas hati, bagaimana mungkin orang semacam ini bertahan dengan siksaan aniaya yang begitu keji? Saya ragu, saya tidak yakin.
Apa yang membuat saya ragu dengan sidang jemaat yang begitu? Buktinya dia masih lebih utama pekerjaannya, lebih utama bisnisnya, lebih utama mencari uang. Ukurannya adalah firman, bukan kebenaran diri sendiri.
Kalau firman ini cukup tajam, tidak apa-apa. Justru ini adalah perhatian Tuhan. Kalau hanya menyampaikan firman yang ditambahkan dan dikurangkan, dosanya tidak disucikan, itu adalah hamba Tuhan yang terkutuk sesuai dengan Galatia 1:8-9.
Paulus berkata: kalau hamba Tuhan hanya menyampaikan firman yang ditambahkan cerita si kancil, si kura-kura, si buaya, cerita dongeng nenek tua, itu hamba Tuhan yang terkutuk. Jadi relakan hati untuk dikoreksi firman. Lebih baik kita pikul salib saat ini tetapi akhirnya selamat, dari pada lepas dari salib namun pada akhirnya binasa. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian/bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang di kemudian hari.

Ikut Tuhan tidak instan, tidak boleh ambil jalan pintas. Waktu bangsa Israel keluar dari Mesir, Tuhan tidak izinkan mereka lewati Filistin, mereka harus tetap lewat padang gurun selama 40 tahun, dimulai dari Laut Teberau.
Kalau mereka melewati jalur Filistin, mereka tidak perlu melewati Laut Teberau, tetapi Tuhan tidak izinkan.
Mereka harus lewat laut Teberau (baptisan air). Baru di situlah mereka melewati jalan salib selama 40 tahun, sampai akhirnya tiba di tanah Kanaan, dibaptis kembali di sungai Yordan. Karena yang dibaptis di laut Teberau, mayat mereka bergelimpangan di padang gurun, dan yang lahir di padang gurun, itulah yang masuk di tanah Kanaan. Yang dari Mesir hanya Yosua dan Kaleb. Ikut Tuhan tidak boleh instan, tidak boleh lewat jalur Filistin.
Filistin itu gambaran Setan. Mesir itu dunia. Israel itu gambaran anak Tuhan (gereja Tuhan).
Ikuti jalan salib sampai tamatnya daging (40 tahun), tidak punya keinginan lagi.

Wahyu 13: 16-17
(13:16) Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya,
(13:17) dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya.

Tidak ada seorang pun yang dapat membeli, tidak ada seorang pun yang dapat menjual kecuali mereka yang menerima cap meterai dari antikris 666 di dahi atau di tangan kanan.
Berarti patung yang berbicara itulah uang, supaya akhirnya mereka dapat membeli dan menjual.
Jadi kalau dari sejak sekarang kita tidak melepaskan diri dari penyembahan berhala, tidak lepas dari ikatan akan uang, saya ragukan hidup mereka nanti.
Jangan sama dengan yang diperbuat orang di tanah Kanaan.

Kesimpulannya...
Setelah bangsa Israel dilepaskan dari Mesir oleh darah Anak Domba, selanjutnya dibawa ke tanah Kanaan, namun mereka tidak berubah, mereka berlaku seperti orang di tanah Kanaan, akhirnya bangsa Israel dibuang ke Babel selama 70 tahun.

Kita lihat Babel.
Wahyu 18: 2
(18:2) Dan ia berseru dengan suara yang kuat, katanya: "Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci,
Babel adalah tempatnya roh jahat dan roh najis yang dibenci oleh Tuhan.  Pendeknya,  bangsa Israel ditunggangi oleh roh najis.
Mereka sudah dilepaskan dari perbudakan dosa oleh darah Anak Domba, untuk dibawa ke tanah Kanaan, tanah perjanjian yang telah diwariskan kepada nenek moyang bangsa Israel; Abraham, Ishak, Yakub, sebagai milik pusaka yang harus  mereka pertahankan, tujuannya hanya satu; supaya mereka beribadah melayani, itulah hak kesulungan, maka bangsa Israel disebut anak sulung. Mengapa? Karena mereka harus beribadah melayani kepada Tuhan. Tetapi kenyataannya mereka berbuat seperti yang diperbuat oleh orang-orang di tanah Kanaan, .
Masa lalu, berarti diperbudak oleh kerja paksa, diperbudak oleh dosa,  dan jauh dari ibadah, tidak menghargai hari Sabat, namun setelah dilepaskan oleh darah Anak Domba, mereka dibawa masuk ke tanah Kanaan, tetapi mereka berbuat seperti yang diperbuat oleh orang-orang di tanah Kanaan, mereka tidak berubah, akhirnya dibuanglah ke Babel.
Babel itu tempatnya roh jahat dan roh najis bersembunyi. Apa yang dibenci oleh Tuhan itu juga yang harus kita benci, tetapi rupanya Ruben tidak memahami firman Tuhan di dalam Imamat tadi. Tidak memperhatikan perintah yang disampaikan oleh Musa kepada bangsa Israel. Perhatikan firman Tuhan, yaitu:
-       Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir.
-       Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan.
Tetapi Israel ini adalah orang yang tegar tengkuk dan juga keras hati. Tidak mau berubah sampai akhirnya dosa ini turun kepada Ruben, yaitu: dosa Babel.

Kita kembali membaca Imamat 18.
Imamat 18: 4
(18:4) Kamu harus lakukan peraturan-Ku dan harus berpegang pada ketetapan-Ku dengan hidup menurut semuanya itu; Akulah TUHAN, Allahmu.
Melakukan peraturan-peraturan Tuhan dan harus berpegang pada ketetapan Tuhan supaya hidup menurut sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki.
Apa yang telah diperintahkan oleh Musa, itu harus diperhatikan, harus berpegang teguh kepada firman Tuhan, jangan pernah dilepaskan.

Imamat 18: 5
(18:5) Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya; Akulah TUHAN.
Kalau kita berpegang pada perintah dan peraturan Tuhan, maka orang yang melakukannya akan hidup oleh-Nya.
Pendeknya; firman itu dapat memelihara kehidupan manusia itulah janji Tuhan. Kalau orang dunia melihat keadaan anak-anak Tuhan pasti terheran-heran.

Akulah TUHAN artinya jaminan hidup kita adalah Tuhan oleh kuasa firman yang disampaikan.

Imamat 18: 6-8
(18:6) Siapa pun di antaramu janganlah menghampiri seorang kerabatnya yang terdekat untuk menyingkapkan auratnya; Akulah TUHAN.
(18:7) Janganlah kausingkapkan aurat isteri ayahmu, karena ia hak ayahmu; dia ibumu, jadi janganlah singkapkan auratnya.
(18:8) Janganlah kausingkapkan aurat seorang isteri ayahmu, karena ia hak ayahmu.

Seorang anak tidak boleh menyingkapkan aurat ibunya, itu hak ayahnya.
Tuhan yang berbicara: “Akulah TUHAN” supaya jangan melanggar kesucian Allah.
Yang berhak terhadap isterinya adalah suaminya, bukan anak.

Sebagai gembala sidang saya adalah bapa rohani saudara, dan  isteri saya adalah ibu rohani saudara. Sebaliknya sidang jemaat adalah anak rohani saya.
Tetapi Ruben tadi kita sudah lihat; dia menaiki petiduran ayahnya, dia menyingkapkan aurat isteri ayahnya, dia melanggar kesucian Allah. Merusak hubungan intim antara tubuh dengan kepala = melanggar kesucian Allah.

Mengapa hal itu bisa terjadi?
Penyebab Ruben melanggar kesucian.
Kejadian 49: 4A
(49:4) Engkau yang membual sebagai air, tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu; waktu itu engkau telah melanggar kesuciannya. Dia telah menaiki petiduranku!
Engkau yang membual sebagai air”, artinya; tidak dapat mengendalikan diri seperti gelombang laut = Ruben mudah terguncang seperti air.

Saudaraku, bukankah lewat ibadah ini Tuhan meneguhkan kita untuk terus mengasihi Dia? Tetapi Ruben tidak, mudah sekali terguncang, seperti air yang membual, tidak punya ketetapan hati, mudah dipengaruhi oleh roh jahat dan roh najis, itu orang yang tidak punya ketetapan hati.
Perlu untuk diketahui; orang yang tidak punya ketetapan hati, mudah diombang-ambingkan, diguncang: berpikiran pendek, tidak berpikir panjang.

Yudas 1: 13
(1:13) Mereka bagaikan ombak laut yang ganas, yang membuihkan keaiban mereka sendiri; mereka bagaikan bintang-bintang yang baginya telah tersedia tempat di dunia kekelaman untuk selama-lamanya.
Ombak laut menghasilkan, atau membuihkan keaiban.
Berarti orang yang tidak tenang membuihkan keaiban, kejelekan, termasuk kenajisan.

Tuhan mempercayakan karunia-karunia Roh Kudus dalam 1 Korintus 12, di dalam pekerjaan pelayanan untuk mempersatukan anggota tubuh yang berbeda-beda. Kemudian dalam Efesus 4, Tuhan mempercayakan lima jabatan bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, supaya terwujudnya kesatuan dari anggota-anggota tubuh yang berbeda-beda, tetapi di dalam kitab Hagai, karena ikut sertanya orang-orang najis maka pembangunan itu; terhambat/berhenti.
Namun setelah orang-orang najis ini disingkirkan, terwujudlah pembangunan tubuh Kristus, rumah Tuhan (anggota tubuh yang berbeda-beda menjadi satu).
Ada tangan, kaki, mulut, semua, menjadi satu. Inilah rencana Allah, inilah sasaran Tuhan supaya kita masuk dalam pesta nikah Anak Domba sesuai Wahyu 19: 6-8, mereka yang masuk dalam pesta nikah itu bersorak dan bersukacita bagaikan desau air bah: Haleluya, puji Tuhan, karena Anak Domba telah menjadi raja, pengantin-Nya telah siap sedia (mempelai perempuan). Itulah sasaran akhir dari ibadah di atas muka bumi ini.
Tetapi kenyataannya, oleh karena ketidaktenangan, ketidakstabilan, tidak punya jati diri akhirnya mudah dipengaruhi oleh roh najis, diombang-ambingkan, dan akhirnya membuihkan keaiban, kejahatan, termasuk kenajisan. Ketidaktenangan menghasilkan kenajisan.

Yesaya 57: 20
(57:20) Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur.

Gelombang laut atau hidup orang yang tidak tenang (labil, tidak stabil), tidak memiliki jati diri, akan menghasilkan lumpur dan sampah.

Lumpur, itulah gambaran dari dosa yang ditimbulkan oleh musuh abadi, itulah roh jahat dan roh najis dan daging dengan segala keinginan dan hawa nafsunya. Itu semua tertulis jelas dalam kitab Mazmur.
Dosa itulah yang disebut lumpur.

Kemudian, sampah.
Filipi 3: 6
(3:6) tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.

Kelebihan Rasul Paulus dalam hal lahiriah melebihi dari orang-orang yang lain, oleh sebab itu, dia berkata  kalau ada orang mau menaruh percaya pada hal lahiriah aku lebih lagi, tetapi Rasul Paulus tidak mau menaruh percaya dalam hal-hal lahiriah; pekerjaan, kedudukan, jabatan, uang, ijazah, dan lain sebagainya.
Jangan sampai kuliah nomor satu dari ibadah, jangan sampai pekerjaan nomor satu dari ibadah. Semua disahkan, tetapi Tuhan harus menjadi nomor satu dari segala-galanya, Tuhan di atas segalanya.
Kalau ada orang yang menaruh percaya kepada hal-hal lahiriah Rasul Paulus lebih lagi, dia kaya, dia intelektual, dia Farisi, dia doktor, dia profesor, dia hebat.

Filipi 3: 7-8
(3:7) Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
(3:8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

Oleh karena Kristus Rasul Paulus melepaskan segala hal-hal yang lahiriah, bahkan menganggapnya sampah. Harusnya yang lahiriah menjadi sampah bagi kita setelah mengenal Yesus Kristus di atas segalanya. Sampah itu bukan untuk dipelihara, tetapi untuk dibuang, dibakar di dalam api neraka. Darah daging (perkara lahiriah) tidak masuk dalam Kerajaan Sorga. Itu adalah orang yang tidak tenang menghasilkan sampah, mengutamakan yang lahiriah.

Yesaya 57: 21
(57:21) Tiada damai bagi orang-orang fasik itu," firman Allahku.

Orang yang tidak tenang, yang mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang tak suci di dalam nikahnya, di dalam hidupnya, tidak ada damai, tidak ada ketenangan.

Kalau melayani dalam kenajisan, dalam kefasikan, kesombongan, pasti dalam hidupnya, maupun dalam nikahnya, tidak akan ada damai.
Coba saudara renungkan sejenak: mengapa tidak ada damai? Kalau saudara selidiki pasti karena roh najis.
Saya melebar sedikit; kegunaan Roh Kudus itu banyak, salah satunya; mengajar. Dalam suratan 1 Yohanes 2: 27,Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu -- dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta -- dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.
Roh Kudus mengajar dalam seluruh kebenaran sehingga kita tidak perlu diajar orang lain dan ajaran-Nya itu benar, tidak ada dusta. Maka kalau kita dikuasai oleh Roh Tuhan semuanya terpimpin dan semuanya dalam keadaan benar dan kondusif. Tetapi kalau roh lain yang menguasai, terlihat senyumnya seperti baik tetapi semuanya jadi salah.  Kesalahan ini menimbulkan tidak ada damai sejahtera, maka jangan mau ditipu oleh roh jahat dan roh najis. Setan itu penipu. Jangan mau ditipu. Kenikmatan dari roh najis itu kamuflase, tidak ada artinya. Jangan lakukan kejahatan, jangan lakukan kenajisan.
Harusnya melayani dengan luar biasa, dengan Roh yang bernyala-nyala dengan kebebasan dalam kasih Agape tetapi oleh karena roh najis tadi semuanya tidak terwujud.

Jalan keluarnya.
Ulangan 33: 6
(33:6) Biarlah Ruben hidup dan jangan mati, tetapi biarlah orang-orangnya sedikit jumlahnya."
Di akhir perjalanan, di akhir episode, Musa membagi-bagikan berkat kepada 12 suku Israel.
Adapun berkat Ruben adalah: “Biarlah Ruben hidup dan jangan mati.
Seharusnya upah dosa, termasuk dosa kenajisan adalah maut, tetapi berkat Tuhan kepada Ruben adalah: “Biarlah Ruben hidup dan jangan mati

Tetapi biarlah orang-orangnya sedikit jumlahnya” Kalau jumlah sedikit berarti kekuatannya sedikit.
Sesungguhnya anak sulung tanda kegagahan, tanda kekuatan, tetapi oleh karena kesalahan tadi: biarlah dia hidup tetapi sedikit jumlahnya, kekuatannya tidak seberapa lagi.

Biarlah hidup, artinya;
1.     Hidup di dalam firman Allah.
2.     Hidup oleh Roh.
3.     Tinggal di dalam kasih.

Firman itu hidup. Manusia digambarkan seperti rumput kering, kemuliaan-Nya seperti bunga, rumput kering dan bunga pun gugur. Tetapi Firman Tuhan hidup dan kekal.
Daging itu mati, Roh yang menghidupkan. Dan kasih itu kekal, nubuat akan berakhir, bahasa Roh akan berhenti, kasih akan tinggal kekal.
Biarlah hidup, berarti hidup oleh Firman, hidup oleh Roh Allah, hidup dalam kasih Allah. Itu kemurahan bagi Ruben.

Ulangan 33: 7
(33:7) Dan inilah tentang Yehuda. Katanya: "Dengarlah, ya TUHAN, suara Yehuda dan bawalah dia kepada bangsanya. Berjuanglah baginya dengan tangan-Mu, dan jadilah Engkau penolongnya melawan musuhnya."
Sedangkan berkat Yehuda adalah mendapat pembelaan dari dua tangan Tuhan yang kuat.
Saudaraku, biarlah kita semua mendapat pembelaan dari Tuhan.

Yesus digambarkan sebagai singa dari Yehuda dan Dialah tunas Daud, sesuai Wahyu 5: 5.

Kisah Para Rasul 2: 24-25
(2:24) Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.
(2:25) Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

Daud senantiasa memandang kepada Tuhan, tidak memandang kepada yang lain -> kehidupan yang tenang, tidak bimbang.
Tuhan yang senantiasa berdiri di sebelah kanan kita, tampil sebagai Pembela. Kalau Tuhan di pihakku, siapa yang berani melawan aku? Tidak ada.

Kisah Para Rasul 2: 26
(2:26) Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram,
Lihat pengalaman Daud; hatiku bersukacita, jiwaku bersorak-sorak, tubuhku akan diam dengan tenteram = ada damai sejahtera.
Ini karena ada pembelaan dari Singa Yehuda.

Kisah Para Rasul 2: 27-28
(2:27) sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.
(2:28) Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.

Pendeknya; Tuhan melepaskan Daud dari kematian karena Tuhan yang menjadi Pembela.
Biarlah kita menerima pemeteraian itu karena Tuhan yang membela, melepaskan kita dari kematian.

Amsal 7: 1-8
(7:1) Hai anakku, berpeganglah pada perkataanku, dan simpanlah perintahku dalam hatimu.
(7:2) Berpeganglah pada perintahku, dan engkau akan hidup; simpanlah ajaranku seperti biji matamu.
(7:3) Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu, dan tulislah itu pada loh hatimu.
(7:4) Katakalah kepada hikmat: "Engkaulah saudaraku" dan sebutkanlah pengertian itu sanakmu,
(7:5) supaya engkau dilindunginya terhadap perempuan jalang, terhadap perempuan asing, yang licin perkataannya.
(7:6) Karena ketika suatu waktu aku melihat-lihat, dari kisi-kisiku, dari jendela rumahku,
(7:7) kulihat di antara yang tak berpengalaman, kudapati di antara anak-anak muda seorang teruna yang tidak berakal budi,
(7:8) yang menyeberang dekat sudut jalan, lalu melangkah menuju rumah perempuan semacam itu,

Pegang firman, supaya lepas dari roh najis. Anggaplah hikmat dari firman, anggaplah pengertian dari firman sanak saudara kita, tidak ada yang lain supaya lepas dari kenajisan, sebab kenajisan ini licik sekali. Amin.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang



No comments:

Post a Comment