KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Tuesday, September 12, 2017

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 06 SEPTEMBER 2017

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 06 SEPTEMBER 2017
(Seri 125)

KITAB BOLOSE.

Subtema: TANGGUH KARENA MEMILIKI ROH KEMULIAAN.

Shalom saudaraku...
Selamat malam, salam sejahtera bagi kita semua. Oleh karena kemurahan hati Tuhan, kita dimungkinkan untuk melangsungkan Ibadah Doa Penyembahan.

Sebelum kita tersungkur di kaki salib Tuhan, terlebih dahulu kita memperhatikan firman penggembalaan dari surat yang dikirim oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose.
Kolose 1: 24
(1:24) Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.
Secara khusus kita perhatikan Kolose 1: 24 bagian A, yaitu: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu.

Di sini kita perhatikan, Rasul Paulus bersukacita karena ia telah mengambil bagian di dalam penderitaan Kristus. Menderita di tengah-tengah pelayanan = mengambil bagian dalam penderitaan Kristus.

1 Petrus 4: 13
(4:13) Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.
Rasul Petrus juga berkata dengan hal yang sama: “Bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus.
Jadi kalau harus menderita karena sangkal diri dan pikul salib di tengah-tengah ibadah dan pelayanan ini, tetaplah bersukacita.

Tentu Paulus dan Petrus mempunyai alasan yang jelas sehingga mereka harus mengatakan dan menuliskan hal yang sama dan menyampaikan hal yang sama kepada kita malam hari ini.
Adapun alasan kedua rasul tersebut menyatakan hal yang sama adalah (ayat 13): “Supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.
Tetaplah bersukacita karena besar upah yang akan kita terima, yaitu; kerajaan Sorga, kemuliaan yang kekal.

Jadi jangan bersungut-sungut karena sangkal diri pikul salib di tengah-tengah ibadah dan pelayanan ini. Tetap bersukacita, karena besar upah yang akan kita terima.

Matius 5: 10
(5:10) Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Tetaplah (bersukacita) sekalipun mengalami aniaya karena firman, mengalami sengsara karena salib, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Hal yang senada ...
Matius 5: 11-12
(5:11) Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
(5:12) Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Berbahagialah setiap orang, karena nama Tuhan dia dicela, dianiaya dan bahkan kepada-Nya difitnahkan segala yang jahat karena besar upah yang akan kita terima, yaitu Kerajaan Sorga.
Nabi-nabi yang terdahulu pada zaman Taurat juga banyak menderita di tengah-tengah ibadah dan pelayanan mereka.  Menderita karena sangkal diri, pikul salib, menderita karena mengambil bagian di dalam penderitaan Kristus.
Jangan muka cemberut lalu patah semangat, kemudian tidak ada gairah, karena mendapat bagian dalam penderitaan Kristus.

2 Korintus 4: 17
(4:17) Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
Rasul Paulus berkata kepada jemaat di Korintus: “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
Artinya; menderita karena salib, menderita atau teraniaya karena firman, menghasilkan kemuliaan kekal.
Jadi saudaraku, tidak usah berkecil hati saat mengalami sengsara salib, aniaya karena firman.

Upah yang akan kita terima melebihi dari penderitaan yang kita alami. Sebab penderitaan yang kita alami sekarang ini adalah penderitaan ringan, tidak sebanding dengan upah yang akan kita terima, artinya, kemuliaan yang akan kita terima, melebihi dari segala-galanya, termasuk penderitaan sekarang ini.

1 Petrus 1: 11
(1:11) Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu.
Pendeknya; dibalik salib, Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya supaya kita tidak putus asa di tengah-tengah ibadah dan pelayanan ini, tetapi sebaliknya dibalik kemuliaan Tuhan sediakan salib, supaya apa? Supaya kita tetap rendah hati.

Ciri-ciri orang yang bersukacita di dalam penderitaan Kristus.
YANG PERTAMA.
1 Petrus 4: 15-16
(4:15) Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.
(4:16) Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.

Tidak merasa malu walaupun menderita karena salib, tidak merasa malu walaupun teraniaya karena firman (kebenaran).
Itu sebabnya di sini dikatakan: “Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.
Jadi jangan karena kesalahan seseorang menderita sebab hal itu yang menyebabkan seseorang malu.

1 Petrus 2: 20
(2:20) Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
Pertanyaannya; dapatkah disebut puji-pujian jika seseorang menderita pukulan (karena kesalahan), atau karena seseorang berbuat dosa?
Jawabnya: tidak, sebab menderita karena pukulan (menderita karena kesalahan), itulah yang menyebabkan seseorang menjadi malu.

1 Petrus 2: 19
(2:19) Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.
Sebaliknya adalah kasih karunia (kemurahan) karena sadar akan kehendak Allah, seseorang menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Itulah kasih karunia.
Kalau menderita karena pukulan, menderita karena kesalahan, itu bukan kemurahan. Tetapi menderita karena salib, itu yang disebut kemurahan.
Tidak perlu malu, tidak perlu gengsi. Kalau orang masih gengsi saat dengar nasihat firman, orang seperti ini selalu ingin dihormati, tetapi tidak bisa menghormati orang lain.

Ciri-ciri orang yang bersukacita di dalam penderitaan Kristus.
YANG KEDUA.
2 Korintus 4: 16
(4:16) Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
Tidak tawar hati sekalipun manusia lahiriah semakin merosot.
Berarti, tidak malu pada saat harga diri diinjak-injak, itu persamaannya. Sebaliknya kalau manusia batiniahnya merosot, maka manusia lahiriahnya yang akan menonjol. Di dalam manusia lahiriah ini terdapat banyak perkara termasuk mempertahankan harga diri.
Perlu untuk diketahui; kalau garam menjadi tawar, maka ia tidak berguna di tengah ibadah dan pelayanan, selain diinjak-injak orang sesuai dengan Matius 5.

Yesaya 53: 1-2
(53:1) Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?
(53:2) Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.

Ia tidak tampan, semarak-Nya pun tidak ada, berarti manusia lahiriah-Nya merosot, tetapi justru dengan demikian, kita memandang Dia. Kemudian, rupa pun tidak, berarti manusia lahiriah-Nya merosot, tetapi justru kita menginginkan-Nya. Manusia lahiriah Yesus Kristus merosot, sehingga kita menginginkan-Nya, kita memandang-Nya, kita membutuhkan-Nya.
Pendeknya, kiblat atau sentral dari ibadah dan pelayanan ini adalah salib, sehingga kita senantiasa mengarahkan pandangan kita pada salib.
Ini harus diperhatikan, dan kiranya firman itu berkuasa di dalam hidup kita malam ini dan seterusnya.

Yesaya 53: 3-4
(53:3) Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.
(53:4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

Dihina, dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan, biasa menderita kesakitan, tetapi sesungguhnya, penyakit kita lah yang ditanggung-Nya dan kesengsaraan kita yang dipikul-Nya. Jadi Dia menderita di atas kayu salib, karena dosa manusia. Pendeknya, sekalipun manusia lahiriah Yesus Kristus merosot, namun manusia batiniah kita dibaharui dari sehari ke sehari.

Sekali lagi saya tandaskan, kiblat atau sentral dari ibadah dan pelayanan ini adalah salib. Jangan berkiblat kemana-mana.
Inilah ciri-ciri yang kedua, yang pertama tidak malu, yang kedua tidak tawar hati, justru dengan demikian, Dia rela menanggung penderitaan, Yesus sanggup dan berkuasa menolong orang berdosa.

Dampak positif bersukacita dalam penderitaan.
1 Petrus 4: 14
(4:14) Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.
Jadi kalau menderita karena salib Kristus, maka seseorang memiliki Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah, Roh kebenaran.
Kalau kemuliaan dari dunia ini, bisa saja dibuat-buat. Besok ada kesalahan, tidak ada kemuliaan lagi seperti bunga rumput. Tetapi kemuliaan dari Tuhan itu sifatnya kekal.

1 Petrus 4: 12
(4:12) Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.
Jangan heran terhadap nyala api siksaan sebagai ujian = tahan terhadap ujian atau tidak terbakar oleh nyala api (ujian).
Kalau seseorang telah memiliki Roh kemuliaan, dia tahan terhadap ujian, dan tidak membesar-besarkan masalahnya, karena Ia tahan terhadap ujian.
Kita butuh Roh kemuliaan supaya kita tahan terhadap ujian, nyala api siksaan, tidak terbakar oleh api emosi, tidak terbakar oleh api amarah, tidak terbakar oleh api yang lain-lain = tahan terhadap ujian.

Mari kita lihat orang yang seperti ini ...
Daniel 3: 5-6
(3:5) demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu;
(3:6) siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!"

Apabila orang sudah mendengar bunyi berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian (alat-alat musik), maka setiap orang akan sujud kepada patung berhala yang didirikan oleh Nebukadnezar.
Sebetulnya tadi kita sudah mendengar bunyi alat musik, dan kita memuji Tuhan, malam ini kita menyembah kepada Tuhan saja.  

Daniel 3: 12
(3:12) Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan."
Di sini kita melihat, Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak mengindahkan titah Nebukadnezar, sehingga mereka tidak memuja dewa, tidak menyembah patung emas yang didirikan Nebukadnezar, artinya; terlepas dari penyembahan berhala.
Berhala, artinya; segala sesuatu yang melebihi dari Tuhan. Kalau sesuatu perkara melebihi dari Tuhan itu yang disebut dengan berhala. Misalnya, kalau pekerjaan nomor satu dari ibadah, itu berhala dan lain sebagainya.
Pendeknya; Sadrakh, Mesakh dan Abednego terlepas dari penyembahan berhala.

Lalu konsekuensinya ...
Daniel 3: 21-22
(3:21) Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
(3:22) Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas.

Karena Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak mengindahkan titah raja, lalu mereka dilemparkan ke dalam dapur api yang menyala-nyala, tujuh kali lebih panas dari dapur api manapun.
Saudaraku, dapur api PT. Krakatau Steel atau PT. Posco Krakatau (pabrik baja) yang ada di Cilegon, kurang lebih 5000 derajat celcius untuk mencairkan bahan baku baja (pelet). Namun Nebukadnezar memanaskan api itu tujuh kali lebih panas dari dapur api manapun, termasuk dapur api Krakatau Steel, khusus untuk Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Berarti, betapa panasnya ujian yang harus dihadapi.
Kalau tujuh kali lebih panas dari dapur api manapun, menunjukkan bahwa nyala api siksaan yang dihadapi oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego lebih dari pada nyala api siksaan yang dialami oleh orang lain.

Sekarang kita lihat ...
Daniel 3: 25
(3:25) Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!"
Ketika Sadrakh, Mesakh dan Abednego dilemparkan ke dalam dapur api yang menyala-nyala, mereka tidak terbakar, baik celana, baik pakaian, baik topi, baju mereka tidak terbakar hangus.

Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak terluka oleh karena api, mereka tidak terbakar oleh panas api yang lebih panas dari dapur api manapun. Baju mereka pun tidak hangus, pakaian mereka tidak hangus, tidak terbakar. Apapun yang mereka miliki, yang melekat pada tubuh mereka, tidak ada yang hangus.

Tadi yang dilemparkan hanya tiga orang kemudian setelah tiga orang ini (Sadrakh, Mesakh dan Abednego) berada di dalam api, Nebukadnezar melihat menjadi empat orang, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa.
Roh kemuliaan menjadikan kita sama seperti anak dewa dengan bukti; tidak terbakar, tahan terhadap nyala api siksaan sebagai ujian, mereka bertahan, karena roh kemuliaan itu menjadikan kita seperti anak dewa. Itu kegunaan dari roh Kemuliaan.
Banyak orang kristen mudah terbakar emosi, panas hati, jengkel saat dosanya dikoreksi oleh firman yang tajam, wajahnya seperti cabai keriting. Pendeknya, tidak terima terhadap teguran firman karena harga dirinya terlalu tinggi. Orang seperti ini mudah terbakar emosinya.
Kalau kita penuh dengan Roh kemuliaan, tahan terhadap nyala api siksaan, yaitu; segala jenis ujian, maka orang lain akan melihat kita seperti anak dewa. Bukan kita menjadikan kita dewa, tetapi orang lain akan melihat kita seperti anak dewa.

Bagaimana sekarang, apakah saya dan saudara merasa rugi apabila bersukacita pada saat mengambil bagian di dalam penderitaan Kristus?
Intinya, kegunaan Roh Kemuliaan: tidak mudah terbakar, tahan terhadap ujian (nyala api siksaan) seberat apapun.

Daniel 3: 26-27
(3:26) Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: "Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!" Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.
(3:27) Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaran pun tidak ada pada mereka.

Tubuh Sadrakh, Mesakh, Abednego tidak mampan oleh nyala api, sekalipun berada di dalam api yang telah dipanaskan, tujuh kali lebih panas dari dapur manapun.
Dengan demikian apabila menghadapi nyala api, orang yang memiliki Roh kemuliaan tidak terbakar. Dan Tuhan tidak mencium bau bakar oleh karena nyala api siksaan, Tuhan tidak mencium bau bakar oleh ujian artinya; tidak panas hati. Bagian apapun di dalam hidup kita, tidak akan terbakar.

Daniel 3: 28
(3:28) Berkatalah Nebukadnezar: "Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.
Akhirnya, Nebukadnezar memuja Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Hari ini bersama dengan kita, si Ronald, si Adi, turut memuja Allah yang kita sembah. Semoga dengan kesaksian kita, mereka bertahan.
Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk membela Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Kita butuh malaikat sidang jemaat. Firman penggembalaan untuk membela kehidupan kita semua.
Karena pada dasarnya kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kita butuh malaikat sidang jemaat, berarti kita butuh firman penggembalaan untuk membela saya dan saudara. Maka tetaplah tergembala.

Tuhan sudah utus nabi Elia untuk mendahului Dia. Kita merasakan firman nabi di tengah penggembalaan ini dengan kuasa Elia. Dari situ kita mendapatkan pembelaan. Tidak panas hati, tidak ada bau bakaran, sehingga setiap orang yang ada di sekitar kita nyaman dan enak, merasakan suasana sorga. Tetapi kalau ada bau terbakar (bau hangus), orang lain tidak mengalami damai sejahtera. Jangan ada lagi aroma bau bakar tercium dari tubuh kita. Amin.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang