KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Thursday, May 26, 2016

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 3 MEI 2016


IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 3 MEI 2016

“KITAB MALEAKHI”

Subtema : TAKJUB KEPADA PEDANG YANG TAJAM

Shalom...!
Selamat malam, salam sejahtera bagi kita sekaliannya, salam di dalam kasih Kristus dengan kasih sayang dan kasih setia-Nya yang abadi kita dimungkinkan untuk melangsungkan ibadah pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci.

Kita kembali memperhatikan firman penggembalaan untuk ibadah pendalaman Alkitab dari Maleakhi pasal 4.
Maleakhi 4:1
(4:1) Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka.

Terlebih dahulu kita memperhatikan kalimat: “Bahwa sesungguhnya hari itu datang.”
Ini berbicara tentang kedatangan Yesus Kristus untuk kali yang kedua, dimana Ia tampil sebagai Raja yang berkuasa untuk menghakimi semua bangsa = hari penghakiman.
Sebagai gambaran dari hari penghakiman itu: “Menyala seperti perapian. Maka yang akan terbakar pada hari penghakiman itu adalah; jerami.
Jerami = batang padi / batang gandum yang kering sesudah dituai à kerohanian yang kering-kering = tidak berbuah = tidak dapat berbuat baik.

Yohanes 15:4-6
(15:4) Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
(15:5) Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
(15:6) Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Penyebab kerohanian menjadi kering-kering adalah; “hidup tanpa persekutuan dengan Tuhan” = jauh dari Tuhan = berada di luar Tuhan....“Seperti ranting tidak melekat pada pokok anggur dan menjadi kering, tidak menghasilkan buah.”
Tidak menghasilkan buah, artinya; tidak dapat berbuat apa-apa = tidak dapat berbuat baik = tidak dapat menyenangkan hati Tuhan.
Siapapun dia biar orang kaya, pintar, kalau jauh dari Tuhan dia tidak akan pernah bisa menghasilkan sesuatu yang baik.

Lebih jauh mengenai kerohanian yang kering-kering...
Yeremia 17:5-6
(17:5) Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
(17:6) Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

Mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri = bergantung pada kekuatannya dan manusia, berarti; tidak bergantung kepada kemurahan hati Tuhan, kerohanian yang kering-kering.

Kerohanian yang kering-kering diumpamakan seperti tiga hal, yaitu;
1.     “Seperti semak bulus di padang belantara” = tanpa pemeliharaan Tuhan.
2.     “Tidak akan mengalami datangnya keadaan baik” = tidak mengalami pemulihan.
3.     a.“Ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun” = gersang, tandus, tidak menghasilkan apa-apa.
b.“Tinggal di negeri padang asin yang tidak berpenduduk” = hidup tanpa kasih Allah.
Tinggal di daerah yang tidak berpenduduk = hidup menyendiri. Kalau hidup seorang diri di tengah orang banyak = hidup tanpa kasih Allah.

Yeremia 17:4
(17:4) Engkau terpaksa lepas tangan dari milik pusakamu yang telah Kuberikan kepadamu, dan Aku akan membuat engkau menjadi budak musuhmu di negeri yang tidak kaukenal, sebab dalam murka-Ku api telah mencetus yang akan menyala untuk selama-lamanya."

“Lepas tangan dari milik pusaka yang dipercayakan oleh Tuhan.”
Artinya; melepaskan diri dari ibadah dan pelayanan.
Milik pusaka à harta warisan itulah ibadah dan pelayanan.
Tuhan telah mewariskan ibadah dan pelayanan ini kepada kita sebagai milik pusaka yang harus dipertahankan, jangan lepaskan apapun alasannya.

Akibat lepas tangan dari milik pusaka: “Menjadi budak musuh atas seijin Tuhan.”
Ada 2 musuh utama / musuh abadi;
1.     Daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.
Daging itu musuh dalam selimut karena daging tinggal bersama-sama dengan kita.
Jadi jangan biasakan hidup menurut keinginan daging. Jangan meninabobokkan daging, asal ada makanan dan minuman, cukuplah. Karena setiap orang yang hidup menurut keinginan daging, hanya memikirkan hal-hal dari daging, tidak memikirkan hal-hal dari Roh. Tidak akan memikirkan kemajuan-kemajuan dari ibadah dan pelayanan dalam kandang penggembalaan.
2.     Iblis / setan = roh jahat dan roh najis = penghulu di udara dengan segala tipu dayanya.
-       Roh jahat disebut juga serigala.
Pekerjaan serigala: Menerkam dan mencerai-beraikan kawanan domba sehingga kawanan domba tidak tergembala dengan baik... Yohanes 10:12.
-       Roh najis disebut juga dengan; burung.
Pekerjaan roh najis; menghambat pembangunan tubuh Kristus.

Tempat ketika diperbudak oleh musuh.
Jawabnya: “Di negeri yang tidak mereka kenal.”
Ada 2 kali bangsa Israel diperbudak musuh.
-       Selama 430 tahun di Mesir.
Bangsa Israel diperbudak dengan kerja paksa sampai memahitkan hati mereka.
Kalau seseorang diperbudak oleh dosa tanpa hari perhentian (sabat) maka yang akan terjadi adalah; capek hati / lelah hati sampai hati terasa pahit.
Itulah yang dialami bangsa Israel selama 430 tahun diperbudak di Mesir.
-       Selama 70 tahun di Babel.
Babel adalah tempatnya roh jahat dan roh najis bersembunyi.
Kesimpulannya; bangsa Israel diperbudak musuh di negeri yang tidak mereka kenal yaitu; Mesir dan Babel.

Tuhan menjanjikan suatu negeri kepada bangsa Israel itulah negeri Kanaan tujuannya; supaya mereka dapat beribadah dan melayani Tuhan.
Tempat kita beribadah dan melayani Tuhan sangat familiar, sangat kita kenal sekali, karena di luar ibadah dan pelayanan adalah tempat yang tidak kita kenal / asing bagi kita. Oleh sebab itu, kalau ada orang yang lebih suka diluar sana dari pada berada di negeri yang Tuhan janjikan, tanda bahwa ia sedang diperbudak musuh.
Kalau seseorang lebih mengenal dunia dan daerah kefasikan yaitu; tempat roh jahat dan roh najis, berarti; dapat dipastikan ia sedang diperbudak oleh musuh. Itu sebabnya, Daud lebih suka satu hari di pelataran bait Allah dari pada beribu ribu hari di tempat lain.

Pertanyaannya: Siapakah yang digambarkan seperti jerami?
Jawabnya: “Orang gegabah dan semua orang yang berbuat fasik.”

Sejenak kita melihat orang yang gegabah...
Maleakhi 3:13-15
(3:13) Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: "Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?"
(3:14) Kamu berkata: "Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap-Nya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam?
(3:15) Oleh sebab itu kita ini menyebut berbahagia orang-orang yang gegabah: bukan saja mujur orang-orang yang berbuat fasik itu, tetapi dengan mencobai Allahpun, mereka luput juga."

Orang gegabah berkata, antara lain;
a.     "Adalah sia-sia beribadah kepada Allah.”
b.     “Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap-Nya?”
c.     “Apakah untungnya berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan Tuhan semesta alam?”
Pendeknya, perkataan orang gegabah adalah perkataan kurang ajar.

Saudaraku, sebagai anak Tuhan jangan terlalu gampang mengucapkan kata-kata. Apalagi berbicara tentang yang berkaitan dengan kandang penggembalaan di dalamnya ada gembala Agung, jangan ya, tidak boleh.
Keterangan: “Apakah untungnya berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam?”
Arti rohaninya: Tidak ada untungnya menyesali kesalahan dan tidak ada untungnya bersedih hati atas dosa-dosa yang pernah terjadi.
Menyesallah terhadap kesalahan yang sudah pernah dilakukan, tetapi kalau menyesal jangan ulangi lagi, cukup satu kali jangan berkali-kali, kalau berkali-kali menyesal berarti melakukan kesalahan berkali-kali, ini namanya orang bebal, tidak bisa diajar lagi.

Contoh berjalan dengan tidak memakai pakaian berkabung...
Matius 11:20
(11:20) Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya:

Yesus mengecam kota-kota yang tidak mau bertobat dan berkabung, sekalipun di situ yang paling banyak terjadi mujizat-mujziat-Nya, antara lain;
Yang pertama: Kota Khorazim dan Betsaida.

Matius 11:21-22
(11:21) "Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.

Oleh karena mujizat yang sama yang terjadi di Khorazim dan Betsaida, Tirus dan Sidon sudah lama bertobat. Sesungguhnya, mujizat lebih banyak terjadi di Khorazim dan Betsaida.
Ada hal yang harus kita ketahui dengan pasti; kalau orang lain bisa bertobat, berjalan dengan menggunakan pakaian kabung, seharusnya kita juga bisa.
Waktu sekolah Alkitab saya juga seperti itu, pada waktu itu saya yang paling terbelakang, tetapi saya berusaha mengajar ketertinggalan saya. Saya punya tekat yang kuat di dalam hati, kalau dia bisa kenapa saya tidak bisa, kalau dia bisa menjadi manusia rohani, kenapa saya tidak bisa???
Kalau orang lain ditolong oleh Tuhan, kita juga akan di tolong oleh Tuhan, asal kita mau menyerahkan diri, persoalannya di situ.

Mujizat yang terbesar adalah air berubah menjadi anggur.
Kalau firman yang rahasianya dibukakan, mendarah daging, seperti 6 tempayan yang diisi oleh air, sekali waktu kita akan berubah menjadi manusia rohani; air menjadi anggur, menjadi manusia rohani. Itu mujizat pertama dan yang terbesar.
Kalau oleh karena mujizat ini orang lain bisa berubah, bertobat dan berkabung, kenapa kita tidak bisa?

Saya banyak melakukan kesalahan di masa lalu, bahkan tidak terhingga, tetapi saya punya prinsip dan tekad yang kuat, saya harus bisa bangkit lagi dari keterpurukan. Dan ternyata benar, Tuhan tolong, asal kita mau.

Yang kedua: Kota Kapernaum
Matius 11:22-23
(11:22) Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.
(11:23) Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini.
(11:24) Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu."

Karena Kapernaum tidak mau bertobat dan berkabung, maka Tuhan menurunkan ke dunia orang mati, yaitu; lautan api kedua. Kemudia Tuhan memberi suatu perbandingan; seandainya mujizat yang terjadi di Kapernaum juga terjadi di Sodom, niscaya kota Sodom masih berdiri sampai sekarang.

Jangan sampai kita yang sudah menerima mujizat yaitu; firman pengajaran mempelai dalam terangnya Tabernakel namun tidak mau berkabung dan bertobat / bangga dengan pengajaran mempelai tetapi tidak mau bertobat.

Yesus tampil di Kapernaum sebanyak empat kali, dua diantaranya mengadakan mujizat.
1.     Matius 4:13.
2.     Matius 8:3 à Yesus menyembuhkan seorang hamba perwira di Kapernaum.
3.     Markus 1:21 à Mengajar di rumah ibadat dan menyembuhkan seorang yang kerasukan Setan.
4.     Yohanes 2:12

Mujizat pertama.
Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum....” Matius 8:3
Kesembuhan terjadi terhadap hamba perwira tersebut dengan sepatah kata saja, sesuai dengan imannya.
Sepatah kata = kebenaran karena iman, dengan praktek; dengar-dengaran.
Bukti dengar-dengaran; pergi, datang dan kerjakan.
-     Pergi” itu tanda pengutusan. Orang yang diutus itu selalu berdua-duaan artinya; hidup oleh firman dan Roh, bagaikan sepasang bola mata.
-     Datang” berarti bertanggung jawab atas pekerjaan Tuhan. Datang = menghampiri takhta kasih karunia = mempertanggungjawabkan ibadah dan pelayanan.
-     Kerjakan” berarti bekerja dan melayani Tuhan.

Perwira itu berkata; aku tidak layak menerima engkau di dalam rumah. Inilah alasan sehingga perwira tersebut merindukan sepatah kata.
Saudaraku, orang yang dengar-dengaran, selalu merasa tidak layak, tidak ada apa-apanya, senantiasa menempatkan diri rendah di bawah kaki Tuhan. Hal ini telah saya sampaikan dua minggu yang lalu.

Mujizat kedua
Markus 1:21
(1:21) Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar.

Yesus berada di Kapernaum untuk yang kedua kalinya.
Kemudian, setelah hari sabat mulai, Yesus masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar.
Hari sabat = hari yang ketujuh = hari perhentian bagi Tuhan Allah.

Saat kita masuk pada hari perhentian bagi Allah, pada saat itulah kita mendapatkan ajaran-ajaran yang mulia dari Tuhan, antara lain.
1.     Keluaran 20:8-11
(20:8) Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
(20:9) enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
(20:10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
(20:11) Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Ajaran yang kita terima ketika menguduskan hari sabat adalah; untuk mengikuti teladan Allah sebab enam hari lamanya Allah menjadikan langit dan bumi serta isinya, dan pada hari yang ketujuh ia berhenti.

Yohanes 8:13-15
(13:13) Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.
(13:14) Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;
(13:15) sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Teladan yang harus kita ikuti dari Yesus Kristus adalah; saling membasuh kaki sesama.
Kalau Yesus berbuat seperti ini, maka kita juga wajib melakukannya, kepada sesama karena itu suatu teladan yang baik.

Yohanes 13:16
(13:16) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.

Mengikuti teladan Yesus Kristus yaitu; saling membasuh kaki, menunjukkan bahwa dia adalah seorang hamba.
Hamba Tuhan = hamba kebenaran.
Jadi sekalipun dia bukan seorang pendeta, bukan seorang yang mempunyai pendidikan tinggi, tetapi kalau saling membasuh kaki sesama, maka dia disebut hamba Tuhan, hamba kebenaran.
Sekali lagi saya tandaskan, yang disebut hamba Tuhan adalah; kalau kita mau saling membasuh kaki sesama, bukan ditentukan oleh gelar yang diperoleh.
Membasuh kaki sesama = saling mengampuni.

Yohanes 13:4-5
(13:4) Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,
(13:5) kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.

“Mengikatkan kain lenan pada pinggang-Nyaà bahwa Dia adalah hamba Tuhan.
Setelah Yesus membasuh kaki murid-murid, lalu menyekanya dengan kain lenan yang terikat pada pinggang-Nya itu à pelayanan disertai dengan kasih.
Melayani itu harus disertai dengan kasih, tidak boleh pilih kasih, melayani itu harus dimulai dari ketulusan.

Sejauh ini Tuhan mampukan saya untuk tidak memandang muka, tidak pilih kasih, doakan terus supaya saya tetap seperti itu tidak memandang muka dalam melayani Tuhan.

Yohanes 12:25-26
(12:25) Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.
(12:26) Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

Perlu diketahui:
-       Seorang hamba / pelayan Tuhan, harus mengikut Tuhan artinya; sangkal diri pikul salibnya = rela kehilangan nyawanya.
-       Di mana Yesus berada, di situpun seorang pelayan akan berada = tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan.
Berarti; senantiasa mengikuti teladan Yesus dengan tepat dan benar.

Sebab itu seorang hamba Tuhan harus mengikuti Yesus tepat dimana Ia berada. Keberadaan Yesus Kristus tepat pada salib, suatu teladan yang harus kita ikuti.

Kita lihat lebih jauh hamba Tuhan yang seperti ini...
Lukas 22:24
(22:24) Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka.

Kalau saling membesarkan diri sekalipun dalam perjamuan, pasti di situ terjadi pertengkaran.
Saat ini kita sedang dalam perjamuan, ada roti, firman pengajaran yang rahasianya dibukakan. Tetapi kalau satu dengan yang lain / imam-imam saling membesarkan diri di tengah-tengah ibadah dan pelayanannya, pasti di situ terjadi pertengkaran hebat.

Lukas 22:25
(22:25) Yesus berkata kepada mereka: "Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung.

Untuk ukuran dunia;
-       "Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka.”
-       “orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung.”

Bandingkan dengan seorang pelayan Tuhan / standar hamba Tuhan:
Lukas 22:26
(22:26) Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.

Sebagai ukuran untuk pelayan Tuhan:
-       Yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda.”
Muda à minim pengalaman, berarti; selalu mau diajar dan selalu belajar = tidak berpuas diri.
Itulah orang yang terbesar di dalam Tuhan, hamba Tuhan yang besar di dalam Tuhan.
-       Pemimpin sebagai pelayan.”
Pemimpin terbesar adalah; jikalau dia mau melayani, kalau tidak mau melayani dia bukan seorang pemimpin, sebab dirinya saja tidak terpimpin, bagaimana dia disebut seorang pemimpin.

Sekarang kita lihat...
Lukas 22:27
(22:27) Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.

Yesus melayani, Dia pemimpin terbesar sepanjang zaman, sebab Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.

Lukas 22:28
(22:28) Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami.

“Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami” = Seorang hamba Tuhan harus tetap mengikuti Tuhan dan dimana Yesus berada di situ juga seorang pelayan Tuhan berada.
Itulah hamba-hamba Tuhan (orang yang melayani Tuhan), tepat di mana Yesus berada, di situ juga ia berada = sangkal diri dan pikul salib jangan jauh dari situ. Itulah ajaran yang pertama, pada saat kita menguduskan hari sabat.

2.     Ulangan 5:14
(5:13) Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
(5:14) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau lembumu, atau keledaimu, atau hewanmu yang manapun, atau orang asing yang di tempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki dan hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga.
(5:15) Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat.

Ajaran yang kedua saat menguduskan hari sabat adalah; supaya terlepas dari perbudakan dosa.
Saudaraku, bangsa Israel pernah diperbudak oleh Mesir selama 430 tahun lamanya. Ini jangka waktu yang lama sekali, sepertinya ditinggalkan oleh Tuhan.

Mari kita lihat itu..
Keluaran 1:10-14
(1:10) Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan--jika terjadi peperangan--jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini."
(1:11) Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses.
(1:12) Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu.
(1:13) Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja,
(1:14) dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.

Bangsa Israel ditindas dengan kerja paksa sampai memahitkan hidup mereka.
Kalau seseorang diperbudak oleh dosa, tanpa hari perhentian, tanpa menguduskan hari sabat, maka hidupnya akan mengalami suatu kepahitan, tertindas oleh dosa kejahatan dan tertindas oleh dosa kenajisan.
Sebaliknya, kalau kita menguduskan hari sabat di situ kita mendapat suatu ajaran supaya kita terlepas dari perbudakan dosa.

Saya tidak yakin orang yang di luar sana, saat menghadapi masalah, dia mendapat solusi kemudian mendapat suka cita besar.
Hiburan yang berasal dari dunia adalah hiburan sesaat, bersifat sementara dan tidak memberi jawaban, justru menambah masalah. Minum / mabok, justru menghabiskan uang, tambah lagi masalah. Ini harus diperhatikan sungguh-sungguh.

Adapun kerja paksa itu antara lain:
a.     “Mengerjakan tanah liat” = melakukan perbuatan yang sia-sia, yaitu; hidup dalam dosa kejahatan dan kenajisan. Inilah yang membuat seseorang menjadi hina seperti tanah liat.
Pokoknya, kalau seseorang mengerjakan pekerjaan yang sia-sia yaitu melakukan kejahatan dan kenajisan, itu yang membuat seseorang hina. Orang-orang yang di luar Tuhan, orang-orang yang tidak mau masuk pada hari perhentian, keinginannya hanya untuk mengerjakan tanah liat, tidak lebih dan tidak kurang.
b.     “Mengerjakan batu bata” artinya; hidup dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging.
Batu penjuru adalah dasar dari tiap-tiap bangunan, itulah Yesus Kristus yang disalibkan (korban Kristus), tetapi batu bata adalah hawa nafsu daging dan segala keinginannya, itulah orang yang tidak mau menguduskan hari sabat. Setiap saat, setiap waktu hanya hidup menuruti keinginan daging, akhirnya akan memahitkan hidup seseorang.

15 perbuatan daging dalam Galatia 15:19-21 semua, tidak ada yang pada akhirnya / endingnya mendatangkan sesuatu yang baik, yang memuaskan hati Tuhan, justru memahitkan hidup seseorang.

Tetapi puji Tuhan, ketika Yesus berada di Kapernaum, Ia mengajar pada hari sabat, ajaran ini sudah kita terima pada malam ini. Ajaran pertama; supaya kita mengikuti contoh teladan Yesus, ajaran kedua; supaya kita terlepas dari perbudakan dosa.

Mari kita lihat...
Galatia 5:19-21
(5:19) Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,
(5:20) penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,
(5:21) kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

15 perbuatan daging menghabisi manusia rohani, sebab itu rasul Paulus dengan tegas menghimbau supaya mereka jangan hidup menuruti hawa nafsu daging dan jangan menuruti kehendak daging = jangan lagi mengerjakan batu bata.

Mari kita lihat menara babel...
Kejadian 11:1-6
(11:1) Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya.
(11:2) Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.
(11:3) Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat.
(11:4) Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi."
(11:5) Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu,
(11:6) dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.

Kalau pekerjaannya hanyalah tanah liat dan batu bata yang terjadi adalah:
a.     Tidak akan pernah menghasilkan  sesuatu yang baik bahkan apapun yang direncanakan tidak terlaksana.
b.     Justru hanya menceraikan saudara bersaudara, menceraikan satu dengan yang lain (tercerai-berai) = berserak ke seluruh dunia.
Lihat, orang yang mengerjakan tanah liat dan batu bata, hanya untuk mencari nama bukan mencari Tuhan sehingga orang yang hanya mencari nama mendirikan menara sampai ke langit, itu adalah suatu kesombongan, tetapi Tuhan gagalkan.

Tidak ada artinya kita mencari nama di muka bumi ini, supaya dihormati, supaya terkenal atau berusaha menjadi kaya untuk mencari nama, berusaha memiliki gelar yang tinggi untuk mencari nama, tidak ada artinya kalau di luar Tuhan, justru membuat dia terpisah jauh dari Tuhan.
Mengerjakan tanah liat dan batu bata tidak dapat mempersatukan kita, justru yang terjadi di situ adalah kesombongan, cari nama. Sebab itu dalam kesempatan yang kedua penampilan Yesus Krisus di Kapernaum Ia mengajarkan dua perkara ini.
Jangan sampai karena roh jahat dan roh najis, keluarga besar GPT “BETANIA” Serang dan Cilegon jadi terpisah, hati-hati, tidak ada artinya itu, jangan kerjakan sesuatu yang hina.

Mari kita lihat ending dari dua ajaran ini...
Markus 1:22
(1:22) Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.

Orang-orang yang berada di Kapernaum, atau orang-orang yang menerima ajaran itu takjub.
Kalau kita takjub terhadap dua ajaran ini, membuktikan bahwa Yesus tampil sebagai Imam Besar. Kalau kita menjalankan ibadah dan pelayanan tanpa kehadiran dari Imam Besar tidak ada artinya. Kalau imam besar hadir di dalam sebuah ibadah maka giring-giring di ujung jubahnya harus bersuara, itu tanda kehadiran dari imam besar.

Siapa kita ini yang selalu mengerjakan tanah liat dan batu bata, semuanya hina, dan mengarah kepada kehancuran? Tetapi malam ini Yesus hadir di tengah-tengah kita, Ia tampil sebagai Imam Besar, memperdamaikan dosa kita, Dia menjadi pengantara antara Allah dengan manusia, itu menunjukkan keadilan-Nya bagi kita di masa sekarang ini.
Kita takjub mendengar pengajaran ini karena kita mau disucikan
                                                                                                                              
“Yesus mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.”
Ahli-ahli Taurat; mengerti firman tetapi tidak menjadi pelaku.
Berarti; mengajar sebagai orang yang berkuasa artinya; firman Allah itu sudah terlebih dahulu mendarah daging dalam kehidupan-Nya à firman yang tajam yaitu; pedang bermata dua.
Orang bisa takjub mendengarkan ajaran kalau yang disampaikan itu adalah pedang bermata dua.

Mari kita lihat kuasa dari pedang bermata dua..
Ibrani 4:12
(4:12) Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

Pedang bermata dua itulah disebut dengan firman yang hidup dan kuat. Ahli Taurat, mengerti firman tetapi tidak menjadi pelaku, jadi firman itu tidak pernah kena dirinya, tidak pernah mengoreksi dirinya.
Kalau firman tidak kena dulu, tidak ada kuasa, bagi seorang hamba Tuhan yang menyampaikan Firman Allah.

Selain hidup dan kuat dia menusuk amat dalam, artinya; mengoreksi dosa yang terselubung, tersembunyi di bagian dalam sekali, antara lain;
-     Jiwa dan roh.”
Perlu diketahui; roh manusia adalah motor penggerak dari tubuh.
Jadi pergerakan seseorang itu tergantung dari roh itu sendiri, kalau rohnya dikuasai oleh Roh Tuhan maka pergerakannya sesuai dengan pimpinan Roh itu. Tetapi kalau rohnya dikuasai dusta, maka pergerakannya juga dikuasai dusta. Di sini kita melihat pedang bermata dua itu sanggup menyucikan jiwa dan roh manusia.
Kenapa pergerakan seseorang najis?  Karena dirinya dikuasai oleh roh najis.

-     “Sendi-sendi dan sum-sum.”
Yaitu; menyucikan dosa yang disembunyikan di balik kekerasan hati.
Sum-sum berada di dalam tulang yang keras itu berbicara tentang kebenaran diri sendiri, di situlah dosa disembunyikan. Tetapi pedang bermata dua mampu menyucikan dosa di balik kekerasan hati.
Kemudian, sendi-sendi adalah gambaran dari dosa yang disembunyikan dibalik cela-cela.

-     “Sanggup membedakan pertimbangan dan pemikiran hati kita.”
Pertimbangan yang salah disucikan. Ketika kita membuat suatu rencana terlebih dahulu dipertimbangkan. Kenapa rencana menjadi salah? Karena pertimbangan manusia salah.
Kalau seseorang banyak melakukan suatu pekerjaan yang salah, itu karena pertimbangannya salah. Sebab itu, sebelum melangkah lebih jauh, pertimbangkan dulu dengan matang, sesuai degan firman yang kita terima, kalau tidak, pasti banyak kesalahan dalam menyusun rencana-rencana ke depan.
Ini pun disucikan dan pikiran hati yang salah juga disucikan.
Siapa yang bisa melihat pikiran manusia? Siapa yang bisa melihat hati manusia? Selain firman Allah yaitu pedang bermata dua, yang lebih tajam.

Kita harus segera menyerah kepada ajaran ini, tidak boleh bertahan (keras hati), supaya kita bisa takjub dan bisa melihat kemuliaan Allah di dalam kehidupan kita dan hidup kita menjadi indah dalam pengikutan kita kepada Tuhan, melayani Tuhan itu menjadi indah. Mengerjakan suatu pekerjaan di dalam ibadah dan pelayanan menjadi indah, karena sudah diawali takjub melihat pedang bermata dua, sehingga melayani Tuhan bukan lagi suatu keterpaksaan.

Ibrani 4:13
(4:13) Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan, semuanya harus kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan malam ini, segera menyerah kepada Dia, sebab segala sesuatu kita pertanggung jawabkan kepada Dia. Amin.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita firman;
Gembala sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang


No comments:

Post a Comment