KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Sunday, January 17, 2016

IBADAH RAYA MINGGU, 10 JANUARI 2016

IBADAH RAYA MINGGU, 10 JANUARI 2016

Wahyu pasal empat”
(SERI 1)

Subtema : celaka besar ATAS dunia, 3x7 dari Allah Trinitas

Shalom...!
Selamat malam, salam sejahtera, salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus oleh karena kasih-Nya kita dapat melangsungkan Ibadah Raya Minggu pada malam ini. Waktu yang singkat ini jangan dipakai untuk berburu daging, seperti Esau, sehingga pada saat dia merindukan hak kesulungan itu, dia ditolak, kesempatan yang kedua tidak didapatkan lagi, sekalipun dia sudah mencucurkan air mata.

Kita telah menikmati firman penggembalaan untuk ibadah raya minggu dari tujuh sidang jemaat yang ada di Asia kecil yang sekarang disebut Turki / Istanbul. Ini bermula dari satu keluarga di Dadap-Tangerang yang ingin tergembala, tetapi rupanya mereka tidak lanjut.
Setiap anak Tuhan yang menikmati firman pengajaran mempelai itu kasih karunia, karena tidak banyak orang sanggup menerimanya. Firman pengajaran mempelai menerapkan pola kerajaan sorga, ayat tidak asal main comot, inilah kasih karunia kepada kita semua. Sesuatu yang kita peroleh dengan mahal, harus dibayar juga dengan mahal, kalau murah, berarti harganya juga murahan. Kerajaan sorga bukan murahan, semua butuh perjuangan.

Setelah menikmati firman penggembalaan dari Wahyu pasal 2-3, saya berharap Tuhan meneguhkan Wahyu pasal 4 untuk selanjutnya saya sampaikan, bantu doa supaya Tuhan tolong, dan pemberitaan firman ini kita nikmati.
Sebetulnya saya tidak terpikir untuk menyampaikan Wahyu pasal 4 sebab wahyu ini sangat berat sekali, betul-betul dengan segala penyerahan untuk menyampaikan ini. Saya berdoa dan berharap kiranya Tuhan tolong kita malam ini.

Segera kita perhatikan..
Wahyu 4:1
(4:1) Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.

Penglihatan rasul Yohanes ketika di Pulau Patmos adalah; “Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga.”
Ini adalah dambaan dari setiap orang, setiap manusia, dambaan kita semua, biarlah kiranya pintu sorga terbuka bagi kita semua. Ketika tingkap-tingkap langit terbuka, Tuhan mencurahkan segala kemurahan-Nya dan berkat-berkatnya, itu sebabnya pintu kerajaan sorga dambaan dari setiap orang. Berbahagialah rasul Yohanes, karena pintu sorga telah dibuka baginya, tetapi kita juga berbahagia karena Tuhan menyatakan firman-Nya malam ini bagi kita.

Pelajaran ini dapat kita petik dari jemaat Filadelfia.
Wahyu 3:7
(3:7) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.

Tuhan tampil sebagai;
-     “Yang kudus.” Aktifitas-Nya; hidup dalam kekudusan.
-     "Yang benar. Aktifitas-Nya; hidup benar.
-     Yang memegang kunci daud.” Aktifitas kunci; untuk membuka pintu yang tertutup.

Itulah penampilan Tuhan bagi sidang jemaat filadelfia untuk mengoreksi kerohanian mereka.

Wahyu 3:8
(3:8) Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.

Setelah dikoreksi, diselidiki, Tuhan berkata:
Yang pertama: Aku tahu segala pekerjaanmu”, sehingga Tuhan membuka pintu sorga bagi mereka.
Pendeknya, pintu sorga terbuka bagi sidang jemaat di Filadelfia.

Yang kedua: Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa”.
Kekuatan sidang jemaat filadelfia tidak seberapa, begitu juga kita jemaat yang masih kecil ini, kekuatan kita tidak seberapa.
Jadi sekalipun kekuatan dari jemaat di filadelfia tidak seberapa, tetapi biasanya jemaat yang seperti ini mengerti pekerjaan Tuhan, seperti jemaat di Makedonia, kekuatan mereka tidak seberapa tetapi mengerti untuk berkorban, bahkan Jemaat di Makedonia memohon kepada rasul Paulus, supaya memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkorban.

YANG KETIGA: BAGIAN A.
....ENGKAU menuruti firman-Ku.”
Menuruti firman Tuhan berarti; patuh pada ajaran yang benar = taat.
Kalau seseorang patuh pada ajaran yang benar pasti menundukkan diri kepada Kristus sebagai kepala.
Samuel, sekalipun dia masih kecil, ketika Allah memanggil dia tiga kali ia selalu menjawab; “Ya Bapa.” Kemudian Samuel menghampiri imam Eli, tetapi Imam Eli berkata: “Aku tidak memanggil.” Begitu juga panggilan yang kedua, ia segera menjawab; “Ya Bapa”, dan menghampiri imam Eli, tetapi imam Eli berkata: “Aku tidak memanggil.” Sebetulnya, waktu tidur adalah zona nyaman, tetapi Samuel tidak bersungut-sungut ketika dipanggil dan tetap berkata; “Ya Bapa.” Begitu juga pada panggilan yang ketiga ia berkata; “Ya Bapa” dan pada saat itu mengertilah imam Eli bahwa Allah yang memanggil Samuel, dan ia mengatakan kepada Samuel, kalau engkau dipanggil katakan; “Ya Bapa hamba-Mu ini mendengar.” Samuel yang masih kecil menuruti firman Tuhan, tidak satupun firman itu dibiarkan gugur dari kehidupannya.

Orang yang menuruti firman Tuhan pasti taat, setia, dengar-dengaran dan menunjukkan ketundukannya kepada kepala. Jangan biarkan firman itu gugur, itu adalah tanda bahwa kita menuruti setiap firman yang kita dengar dan terima lewat ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok. Kenapa saya katakan jangan biarkan gugur? Karena kita sudah menghabiskan banyak waktu, tenaga, pikiran dan materi, lalu membiarkan firman itu gugur, apa artinya kita beribadah, bukankah itu adalah ibadah kesia-siaan?
Mari kita semua menuruti firman Tuhan, jangan membiarkan firman Tuhan itu gugur begitu saja, supaya kita menjadi pribadi yang taat, setia dan dengar-dengaran.

YANG KETIGA: BAGIAN B.
“..ENGKAU TIDAK MENYANGKAL NAMA-KU.”
Berarti; sangkal diri dan pikul salib, dan itu merupakan syarat mutlak mengikuti dan melayani Tuhan.
-     Sangkal diri  berarti menyangkal segala sesuatu yang ada di dalam diri, berarti tidak merasa diri bisa, mampu dan hebat.
Orang yang menyangkal diri adalah tanda bahwa dia adalah orang yang diurapi Roh Kudus, sebab orang yang menyangkal diri tidak mengakui kelebihan dalam diri, tidak merasa diri bisa, tidak merasa diri mampu, tidak merasa diri hebat = nol. Nol adalah titik terendah, permukaan air adalah titik terendah.

Mari kita lihat...
Kejadian 1:1-2
(1:1) Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
(1:2) Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

“Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”
Roh kudus seperti air yang mengalir, Ia hanya akan mencari dataran yang rendah, lalu berkumpul di suatu tempat / wadah itulah laut. Laut disebut dengan permukaan air dan dari lautlah diukur suatu ketinggian, itulah kerajaan sorga.
Biarlah kita semua menyangkal diri tanda kehidupan yang dipenuhkan Roh Kudus.

-     Pikul salib.
Mari kita semua memikul tanggung jawab yang Tuhan percayakan, di mulai dari saya sebagai seorang gembala; harus menggembalakan kawanan domba dalam tiga macam ibadah pokok, tidak boleh menyerahkan kepada sembarang hamba Tuhan dan membuat jadwal.
Banyak gereja sekarang ini, gembalanya digilir, sedangkan hamba-hamba Tuhan yang digilir tidak tahu keberadaan dari sidang jemaat, ada yang masih keras hati, memberontak, berdusta, mereka tidak tahu, yang tahu keadaan dari sidang jemaat hanya gembala sidang, sebab itu mimbar tidak boleh diserahkan kepada hamba-hamba Tuhan seenaknya. Itulah tanggung jawab saya sebagai gembala.
Sebagai suami; bertanggung jawab kepada isteri dan anak. Sebagai imam-imam; pikullah tanggung jawab yang sudah Tuhan percayakan, baik sebagai pemimpin pujian, pemain musik, pembaca, singer, kolekte, bendahara, sekretaris, dan lain sebagainya, pikul saja, jangan bersungut-sungut. Kepercayaan Tuhan adalah kemurahan Tuhan untuk menolong hidup rohani kita, supaya kita selamat di bumi dan di sorga. Sebagai seorang isteri; tunduk kepada suami. Sebagai seorang anak; hormat kepada orangtua. Masing-masing kita harus memikul salib tidak boleh dilepaskan.

Wahyu 3:10
(3:10) Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.

Sidang jemaat di filadelfia menuruti firman Tuhan. Tujuannya; untuk tekun menantikan kedatangan Yesus Kristus untuk yang kedua kali.
Banyak orang salah mengerti, salah presepsi soal menuruti firman, sebab banyak orang berusaha untuk mengerti firman Tuhan tujuannya supaya diangkat menjadi diaken, imam-imam, diberi suatu jabatan di gereja. Jangan keliru, tujuan kita menuruti firman Tuhan adalah untuk tekun menantikan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya.

Sejenak kita melihat kedatangan Yesus pada kali yang kedua..
Wahyu 19:6-7
(19:6) Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.
(19:7) Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

Kedatangan Yesus pada kali yang kedua:
Pertama: Tampil sebagai Raja yang duduk di atas takhta untuk menghakimi seluruh bumi.”
Ia akan tampil sebagai raja yang berkuasa, yang duduk di atas takhta, untuk menghakimi seluruh bumi, Ia mengumpulkan seluruh bangsa dihadapan-Nya, selanjutnya mengadakan pemisahan seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Domba ditempatkan di sebelah kanan, kambing di sebelah kiri.

Perlu diketahui; Yesus tidak tertarik menjadi raja kepada mereka yang pengikutannya hanya sebatas mujizat-mujizat. Yesus tampil menjadi raja atas mereka yang telah siap sedia.
Kita selidiki..
Yohanes 6:1-3, 10-15
(6:1) Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias.
(6:2) Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.
(6:3) Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya.
(6:10) Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya.
(6:11) Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.
(6:12) Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang."
(6:13) Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan.
(6:14) Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia."
(6:15) Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

Perhatikan pada ayat 3; “Yesus menyingkir” dan pada ayat 15; “Yesus menyingkir pula ke gunung, seorang diri”.
Artinya; Yesus tidak tertarik menjadi raja atas orang banyak, sebab orang banyak mengikuti Yesus oleh karena mujizat kesembuhan dan mujizat lima roti dan dua ikan.
-     Mujizat pertama; terjadi kesembuhan, itu pekerjaan Roh Kudus.
-     Mujizat kedua; Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki dengan lima roti dan dua ikan, itu firman Allah.
Tetapi kita perhatikan ibadah mereka tidak memuncak sampai kepada penyembahan. Itulah sebabnya Yesus tidak tertarik menjadi Raja atas orang banyak.

KEDUA: “Tampil sebagai mempelai pria sorga, bagi mempelai wanita-Nya.”
Jadi kedatangan Yesus pada kali kedua bukan lagi mencari orang berdosa, jangan keliru, tetapi tampil sebagai Raja dan Mempelai Pria Sorga bagi mempelai wanita-Nya.
Berbicara mempelai berarti; berbicara hubungan intim antara Kristus sebagai kepala dengan sidang jemaat sebagai mempelai wanita-NYA. Sebab itu, ketika pemberkatan pada kedua mempelai (mempelai wanita dan mempelai pria) tidak boleh jauh-jauh, mereka harus dekat, sebab mereka akan disatukan.

Pertanyaannya: Layakkah kita menyatu dengan kepala? Sementara dalam suatu nas Yesus berkata: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya".. Matius 8:20.
Pekerjaan serigala: Menerkam dan mencari-beraikan kawanan domba.
-     Menerkam = menyakiti.
-     Mencerai-beraikan = memisahan kawanan domba dari Tuhan, terpisah dari ibadah dan pelayanan, terpisah dari kasih Tuhan.
Kemudian, mungkinkah ada penyatuan antara tubuh dengan kepala sementara tubuh sudah menjadi sarangnya burung? Sarangnya burung / penghulu di udara = dikuasai roh najis.

Kalau hal ini terjadi, itu tidak mungkin, karena pada saat Yesus datang, Ia bukan mencari orang berdosa, tetapi Ia datang untuk mempelai wanita-Nya yang sudah siap sedia.

Sekarang kita lihat mempelai wanita-Nya..
Wahyu 12:1
(12:1) Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.

“Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” à Gereja Tuhan yang sempurna = mempelai perempuan Tuhan.

Kondisi mempelai perempuan.
-      “Berselubungkan Matahari”, ini pakaian, menunjuk kepada kasih dari Allah Bapa.
Kegunaan kasih; menutupi banyak sekali dosa...1 Petrus 4:8. Dalam Kolose 3:14, kasih mempersatukan dan menyempurnakan.
Dari sejak semula kasih Allah telah dinyatakan, begitu Adam dan isterinya jatuh dalam dosa karena telah melanggar hukum Allah, mereka telanjang dan pada saat mereka telanjang, Tuhan mengenakan kulit binatang, itulah pribadi Yesus Kristus yang disalib untuk menutupi dosa kita.

-      “Bulan di bawah kakinya.”
Bulan à pribadi Yesus Kristus yang disalibkan, itulah dasar bangunan, landasan hidup kita, kalau kita berdiri di atas korban, kita kuat.
Ini merupakan suatu pendirian dari anak Tuhan sehingga pendirian menjadi kokoh. Landasan dari kehidupan anak Tuhan adalah korban Kristus, supaya kita kuat.

Matius 7:25
(7:25) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.

Kita lihat di sini ketika rumah didirikan di atas batu, rumah itu kokoh dan kuat sekalipun menghadapi banyak ujian, antara lain:
Ujian pertama: “hujan turun” = ujian yang datang dari atas à penghulu di udara.
Dalam Efesus 6:11-12; perjuangan kita bukan melawan darah dan daging tetapi melawan tipu muslihat dari penghulu-penghulu di udara. Jadi, kalau ada anak Tuhan suka berjuang, berselisih dengan sesamanya ini adalah anak Tuhan yang keliru.

Kalau kita perhatikan ketika Yesus ditangkap kemudian diserahkan untuk disalibkan, tidak sekalipun Yesus mengadakan perlawanan, Ia tidak melakukan pembelaan. Kalau Yesus melakukan perlawanan, maka Ia sedang terperangkap oleh tipu muslihat dari Iblis/Setan, justru Yesus berkata kepada Pilatus: “Kerajaan-Ku bukan berasal dari bumi, tetapi dari sorga.” Kebenaran tidak datang dari bumi tetapi dari sorga. Kalau kebenaran dari bumi maka yang terjadi adalah gontok-gontokkan, siapa yang kuat itu yang menang, berarti sedang terperangkap oleh tipu daya Iblis Setan. Sebab itu Yesus juga berkata; kalau kerajan-Nya dari bumi, saat ini juga Yesus akan membawa para malaikat-Ku untuk berhadapan dengan mereka, tetapi kebenaran itu datang dari sorga, sehingga Dia tidak perlu berjuang melawan darah dan daging. Pendeknya, rumah Tuhan akan menjadi kuat, karena didirikan di atas batu itulah; korban Kristus. Rasul Paulus adalah ahli bangunan yang cakap dan dia sudah meletakkan dasar itu.

Ujian kedua: “datanglah banjir.”
Saat ini banjir itu sudah datang dan melanda dunia dan kita juga melihat banjir itu sudah melanda pada zaman Nuh, sehingga kalau kita perhatikan, anak-anak manusia itu dosanya semakin hari semakin banyak, sehingga setiap laki-laki mengambil perempuan siapa saja yang disukai. Sekarang ini dosa kenajisan sudah melanda dunia, bukan hanya kota besar tetapi sudah masuk desa, tetapi kalau bangunan itu didirikan di atas korban Kristus dia kuat, tidak rubuh tidak jatuh dalam dosa kenajisan.

Ujian ketiga: “angin melanda”i à angin-angin pengajaran palsu.
Sekarang ini marak firman yang ditambahkan dan dikurangkan.
·       Firman yang ditambahkan: Menyampaikan satu dua ayat, lalu ditambahkan dengan cerita-cerita isapan jempol, takhayul-takhayul, silsilah-silsilah dan filsafat-filsafat kosong manusia.
·       Firman yang dikurangkan: Pemberitaan firman tentang salib Kristus diganti dengan dua hal, yaitu;
Ø  Teori kemakmuran artinya; orang Kristen tidak boleh miskin harus kaya.
Hamba Tuhan yang menerapkan pelayanan seperti ini biasanya meninabobokan orang kaya, supaya orang kaya itu tidak mundur dari ibadah dan pelayanannya, sehingga yang menjadi majikan di gereja adalah orang kaya.
Ø  Mujizat-mujizat atau tanda-tanda heran.
Biasanya hamba Tuhan yang menerapkan hal ini mengecilkan salib. Tetapi kalau kita katakan hal ini, mereka tidak terima, cukup kita mengerti kebenaran dan kita lakukan.

-     Mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.”
Ini adalah kehidupan yang diurapi  Roh Kudus. Kehidupan yang diurapi Roh Kudus bercahaya seperti bintang-bintang di cakrawala.

Mari kita lihat kehidupan yang diurapi itu...
Daniel 12:2
(12:2) Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.

Pada saat Yesus datang pada kali yang kedua, orang yang mati akan dibangkitkan dari kuburan, ada yang memperoleh hidup kekal ada yang binasa.

Daniel 12:3
(12:3) Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.

Bermahkotakan 12 bintang di atas kepala sama seperti orang bijaksana, menuntun orang dalam kebenaran. Sama seperti Roh Kudus dengan tujuh tabiatnya, yaitu;  (1) Penolong (2) Menyertai (3) Penghibur (4) Mengajarkan (5) Mengingatkan (6) Menginsafkan (7) Memimpin dalam seluruh kebenaran. Jadilah bintang-bintang yang bercahaya untuk menuntun orang dalam kebenaran.

Inilah gereja Tuhan yang sempurna, yang layak masuk dalam pesta nikah Anak Domba. Kalau tubuh menjadi liangnya serigala dan sarangnya burung, anak manusia tidak ada tempat untuk meletakkan kepala-Nya, tidak ada penyatuan antara tubuh dengan kepala.
Dari pengertian-pengertian inilah kita tertolong, kalau hanya cerita-cerita dan mujizat-mujizat apa yang bisa menolong kita? Biar saya berkali-kali mengadakan mujizat-mujizat terlebih pada awal-awal pelayanan, apakah itu ukuran saya masuk surga? Ya tidak lah. Baru-baru ini orangtua saya sembuh dari kista, batu empedu, doa-doa di dengar Tuhan, puji Tuhan, mujizat berlaku, tetapi itu bukan ukuran untuk masuk sorga, yang terpenting cari dahulu kerajaan Allah semua ditambahkan termasuk kesembuhan.

Praktek untuk tekun dalam menantikan kedatangan Tuhan pada kali yang kedua:
Ibrani 10:22
(10:22) Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

Iman à Ketekunan dalam ibadah pendalaman Alkitab disertai perjamuan suci, sebab tekun dalam ibadah pendalaman Alkitab menghasilkan iman. Iman; percaya kepada firman.
Kalau dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena kepada meja roti sajian. Di atas meja roti sajian terdapat dua susun roti, masing-masing terdiri dari 6 ketul roti, tetapi bila disatukan menjadi 66, itulah jumlah seluruh kitab dalam perjanjian lama dan perjanjian baru.

Ibrani 10:23
(10:23) Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

Pengharapan à Ketekunan dalam ibadah raya minggu disertai dengan kesaksian,  sebab ibadah raya minggu menghasilkan pengharapan.

Ibrani 10:24
(10:24) Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.

Kasih à ketekunan dalam ibadah doa penyembahan, sebab ibadah doa penyembahan menghasilkan kasih.

Inilah praktek untuk tekun menantikan kedatangan Tuhan, sebab itu judul pada pasal ini adalah; ketekunan.
Biarlah kita berdoa dengan kerinduan yang mendalam supaya Tuhan buka jalan untuk tekun dalam tiga macam ibadah sebab itulah praktek tekun menantikan kedatangan Tuhan sesuai dengan pola Tabernakel, miniatur kerajaan sorga.
Pada minggu yang lalu saya sudah sampaikan; banyak sebutan ibadah, tetapi tidak sesuai dengan pola Tabernakel.

Sebab itu...
Ibrani 10:25
(10:25 )Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita.”
Kenapa ada pernyataan pertemuan-pertemuan? Itu menunjuk kepada ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok, di sini tidak dikatakan; jangan menjauhkan diri dari pertemuan ibadah, melainkan pertemuan-pertemuan.
Jadi, puncak ibadah bukan ibadah raya minggu, itu belum masuk dalam ukuran, ibadah yang diukur itu memuncak sampai kepada penyembahan.

Ibrani 10:26
(10:26) Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.

Sudah mengerti tentang tiga macam ibadah pokok, tetapi sengaja menjauhkan diri, maka darah Yesus tidak berlaku atas dia, terutama imam-imam yang sudah melayani Tuhan. Lalu pakai apa lagi dosa ini ditebus? Apakah dengan darah babi? Apakah dengan barang fana?

Tuhan baik, Tuhan memberi pengertian-pengertian kepada kita, supaya meggunakan rumus yang benar sesuai dengan pola Tabernakel, oleh sebab itu ayat itu tidak boleh asal comot; lalu dikhotbahkan.
Tuhan memberi pengertian yang begitu dalam yang tidak dapat diselami oleh pikiran manusia untuk menolong  kehidupan kita, ibadah dan pelayanan kita, nikah rumah tangga kita. Firman pengajaran mempelai itu berbicara tentang nikah.

Ibrani 10:27
(10:27) Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.

Darah Yesus tidak berlaku atas dia berarti; binasa, dilemparkan ke dalam api neraka yang menghanguskan.
Saya kira tidak ada yang tahan terhadap api neraka, begitu panasnya, kena panas api dari dapur saja sudah panas, apa lagi dapur api neraka 7 kali lebih panas dari dapur api. Angka 7 à sempurna, berarti panasnya itu sempurna, siapa yang mampu bertahan di situ?
Lebih baik dari sekarang singkirkan egois, keras hati itu, karena tidak ada yang mampu bertahan di sana, segera tundukkan diri kepada Kristus sebagai kepala. Jangan ada kepentingan diri, Tuhan tidak mau ada dua lisme, yang Tuhan mau tundukkan diri kepada Kristus sebagai kepala, kalau masih dua lisme, mulai malam ini pelan-pelan singkirkan, itu tidak ada artinya.
Dapur api dari Krakatau Steel itu beribu-ribu derajat celcius, barulah bahan baku dari baja itu bisa lebur. Konon ada cerita, kucing lompat ke dapur api Krakatau Steel, tidak sampai 3 detik, sudah tidak terlihat. Itu baru dapur api Krakatau Steel, apalagi dapur api neraka. Hayo, siapa yang berani tinggalkan tiga macam ibadah?
Kalau kita tekun dalam tiga macam ibadah pokok dengan segala kegiatan di dalamnya bukan Tuhan mau menyusahkan kita, justru itu kemurahan Tuhan untuk menyelamatkan keluarga kita, dari dapur api itu.

Ibrani 10:19-21
(10:19) Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,
(10:20) karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,
(10:21) dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.

Perlu diketahui; oleh karena darah Anak Domba Allah, kita sekarang penuh dengan keberanian beribadah dan tekun dalam tiga macam ibadah pokok, bukan karena gagah hebat kita melainkan oleh darah Yesus.

Ibrani 9:11
(9:11) Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, --artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, --

Tugas Imam Besar adalah melayani dan memperdamaikan dosa manusia di atas kayu salib, Dialah pengantara antara Allah dengan manusia.

Kalau dalam perjanjian lama; Harun sebagai imam besar mengadakan pendamaian dosa dengan membawa darah anak domba jantan dan anak lembu jantan masuk ke ruangan maha suci, selanjutnya diadakan tujuh kali percikan di atas tutup pendamaian dan di depan tabut perjanjian untuk memperdamaikan dosa manusia. Dalam perjanjian baru; Yesus telah datang sebagai Imam Besar bukan lagi membawa darah anak domba jantan dan anak lembu jantan, tetapi membawa darah-Nya sendiri.

Ibrani 9:12-14
(9:12) dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.
(9:13) Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah,
(9:14) betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.

Oleh darah Anak Domba kita dapat beribadah kepada Allah.
Gereja-gereja diakhir zaman ini banyak beribadah karena uang, bukan karena darah Anak Domba, bukan karena pengorbanan lagi, sudah mulai keliru, keluar dari kebenaran, beribadah karena sembako. Para pelayan, antara lain; pemimpin pujian, pemain musik, singer, dibayar ada yang 100 ribu ada yang 50 ribu, tidak lagi menghargai korban Kristus.
Hargai darah Anak Domba, sebab itu melayani tidak boleh mengandalkan kekuatan, kecakapan dan uang, tetapi dengan segala pengorbanan, jangan ukur darah Yesus dengan uang.
Camkan hal ini dengan baik, tuliskan itu, tukik dalam hati, ingat selalu kebenaran firman supaya tidak lagi mengecilkan darah Anak Domba.

Dampak positif tekun dalam tiga macam ibadah pokok:
“...Maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.”
Ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok adalah jaminan untuk melindungi kita atas pencobaan yang akan menimpa seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.

Kalau dikaitkan dengan pola Tabernakel, tekun dalam tiga macam ibadah pokok, terkena pada ruangan suci.
Di dalam ruangan suci terdapat tiga macam alat, antara lain;
-     Meja roti sajian à ketekunan dalam  ibadah pendalaman Alkitab.
-     Pelita emas à ketekunan dalam ibadah raya minggu disertai kesaksian.
-     Mezbah dupa à ketekunan dalam ibadah doa penyembahan.
Pada ruangan suci sampai ruangan maha suci, di atasnya ada tudung dengan empat warna untuk melindungi tiga macam alat yang ada di ruangan suci.


Sebab itu tidak boleh asal menyampaikan khotbah, kalau saudara perhatikan dari awal saya menyampaikan firman; ayat menjelaskan ayat, tidak seenaknya sendiri, supaya kita mengerti dan mata rohani kita tercelik, kita melihat sorga, jadi sorga itu tidak sempit, luas, selama ini terlalu sempit pengertian kita kepada sorga.

Saudaraku pencobaan dari atas yang akan menimpa dunia ini datangnya dari: Allah Trinitas.
Perhatikan rentetan kitab Wahyu: Wahyu pasal 1: Penglihatan Rasul Yohanes di Pulau Patmos. Wahyu pasal 2-3: Berbicara tentang tujuh sidang jemaat di Asia kecil. Wahyu pasal 4: Tuhan membuka kerajaan sorga bagi rasul Yohanes. Wahyu pasal 5 masih ada kaitannya dengan pasal 4, namun pada Wahyu pasal 6 dan seterusnya adalah pencobaan dari atas, 3x7 celaka besar yang akan menimpa dunia yang datangnya dari Allah Trinitas.

Mari kita perhatikan celaka:
Yang pertama: Anak Domba membuka ketujuh meterai.
Yang kedua: Ketujuh malaikat meniup ketujuh sangkakala.
Yang ketiga: Ketujuh malaikat menumpahkan ketujuh cawan Allah.
Judul Wahyu pasal 6: Enam meterai dibuka. Kemudian, Wahyu pasal 8: Materai yang ketujuh dibuka. Kemudian, setelah tujuh materai dibuka, tujuh sangkakala ditiup, terdapat pada Wahyu pasal 8-9. Setelah tujuh sangkakala dititup, barulah tujuh cawan murka Allah ditumpahkan ke atas bumi, terdapat pada Wahyu pasal 16.
-     Celaka dari ketujuh meterai yang dibuka, menimpa mereka ynag melepaskan ibadah raya minggu.
-     Celaka dari ketujuh sangkakala yang ditiup, menimpa mereka yang melepaskan ibadah pendalaman Alkitab.
-     Celaka dari tujuh cawan murka Allah ditiupkan atas mereka yang melepaskan diri dari ibadah doa penyembahan.

Mari kita lihat sejenak akhir dari tujuh cawan murka Allah...
Wahyu 16:20-21
(16:20) Dan semua pulau hilang lenyap, dan tidak ditemukan lagi gunung-gunung.
(16:21) Dan hujan es besar, seberat seratus pon, jatuh dari langit menimpa manusia, dan manusia menghujat Allah karena malapetaka hujan es itu, sebab malapetaka itu sangat dahsyat.

Hujan es besar, seberat seratus pon, jatuh dari langit menimpa manusia.”
Bulan Oktober lalu hujan es turun di Australia sebesar kelereng dan tiga minggu lalu hujan es turun sebesar bola tenis, tahun depan akan lebih besar lagi, yaitu sebesar bola voly sampai puncaknya turunlah hujan es sebesar 100 pon = 50 Kilogram. Kalau sebesar kelereng saja turun, matilah semua orang, apalagi 100 pon, siapa yang akan mampu menghadapinya?

Jadi ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok dampak positifnya melindungi kita dari ujian, cobaan yaitu celaka besar yang akan menimpa dunia, yang datangnya dari Allah Trinitas, yaitu; tujuh meterai itulah Roh Kudus, tujuh sangkakala itulah firman Allah, tujuh cawan murka Allah itulah kasih Allah Bapa.  Kalau tidak tekun dalam tiga macam ibadah pokok tidak ada perlindungan kepada kita.

Saat ini Tuhan masih memberi kesempatan kepada kita untuk melangsungkan tiga macam ibadah pokok, ini adalah panjang sabarnya Tuhan, jangan sampai panjang sabar Tuhan ini diambil dari kita, maka habislah kita. Sebab itu tadi sudah saya katakan; jangan ada dua lisme, segera tunjukkan ketundukkan kepada Kristus sebagai kepala, jangan ada kepentingan diri sendiri, singkirkan keras hati itu, tidak ada artinya. Tidak ada lagi waktu untuk mendengarkan firman yang ditambahkan dan firman yang dikurangkan; cerita-cerita, isapan-isapan jempol, takhayul-takhayul, filsafat-filsafat kosong, tidak ada artinya. Kesempatan ini adalah panjang sabar Tuhan, tidak boleh bermain-main.

Sejenak kita melihat..
Wahyu 6:15-16
(6:15) Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung.
(6:16) Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: "Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu."

Siapapun tidak bisa berlindung dari cobaan yang akan menimpa dunia, termasuk, petinggi negara; raja, presiden,  jenderal, tidak bisa, yang bisa melindungi adalah tiga macam ibadah pokok, itu jaminannya.
Jadi jangan sekali-kali berlindung kepada raja, presiden, jenderal, berlindunglah kepada Tuhan, tekun dalam tiga macam ibadah pokok. Waktu yang ada tinggal sedikit, singkat, jadi jangan lagi mengutamakan pekerjaan, uang, harta, kekayaan.

Jelas sekali bahwa perlindungan kita dari tiga macam ibadah pokok, perwira saja tidak bisa berlindung, hanya di dalam Tuhan saja, lewat ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok dan saya selalu memproklamirkan terus tentang tiga macam ibadah pokok, ini bukan ajaran sesat, ini kebenaran, karena ada rumusnya, tidak asal comot ayat.

Kembali kita memperhatikan..
Wahyu 3:11
(3:11) Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.

-     “Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu...”
Tuhan akan datang segera menjadi Raja dan Mempelai Pria Sorga. Kemudian, peganglah apa yang ada padamu, apa yang kita punya sekarang ini? Yang pasti firman pengajaran mempelai, jangan lepaskan itu, kemudian tekun dalam tiga macam ibadah pokok, jangan lepaskan, firman Allah, Roh Allah, kasih Allah, jangan lepaskan, harta yang indah itulah karunia-karunia Roh yang kita peroleh sehingga kita mampu melayani Tuhan, jangan lepaskan itu.

Tuhan membuka pintu sorga dan kita masuk dan melihat suasana di dalamnya, ketika pintu sorga terbuka maka segala berkat kelimpahan, kemurahan dan kasih karunia selalu mengikuti kita sepanjang hidup kita.

-     “....Supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.”
Tuhan sudah menyediakan mahkota kepada kita sejak dunia dijadikan, seperti rasul Paulus telah disediakan mahkota kepadanya, sebab ia telah mengakhiri pertandingan sampai garis akhir, berarti sampai mati dan sampai Tuhan datang pada kali yang kedua. Amin.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita firman;
Gembala sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang



No comments:

Post a Comment