KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Sunday, June 25, 2017

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 21 JUNI 2017

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 21 JUNI 2017
(SERI 119)

Subtema: BERADA DI TEMPAT KUDUS.

Shalom.
Selamat malam, salam sejahtera dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena kemurahan hati Tuhan, kita dimungkinkan untuk melangsungkan Ibadah Doa Penyembahan.

Segera saja kita memperhatikan firman penggembalaan dalam Ibadah Doa Penyembahan dari surat yang dikirim oleh rasul Paulus kepada jemaat di Kolose.
Saya akan membawa oleh-oleh dari Sumatera dari pemberitaan firman yang terakhir di Sumatera. Yang sudah mendengar, tidak apa-apa mendengar terus supaya nanti firman itu lebih mantap dalam kehidupan kita semua.
Kolose 1: 21
(1:21) Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat,
Kita kembali memperhatikan kalimat: “Yang dahulu hidup jauh dari Allah.
Ini menunjuk kepada:
-       Bangsa kafir = orang-orang yang tidak bersunat.
-       Orang fasik dengan segala perbuatan fasik mereka.

Lebih jauh kita perhatikan tentang YANG DAHULU HIDUP JAUH DARI ALLAH.
Efesus 2: 1
(2:1) Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.

Yang dahulu hidup jauh dari Allah banyak melakukan pelanggaran dan banyak melakukan dosa, sedangkan upah dosa adalah maut (Roma 6: 23).

Efesus 2: 2-3
(2:2) Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.
(2:3) Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.

Tiga hal penyebab terjadinya dosa, sehingga seseorang menjadi hidup jauh dari Allah, yaitu:
1.    Mengikuti jalan dunia ini.
Dunia ini mempunyai arus, mempunyai pengaruh atau magnet atau daya tarik yang sangat kuat untuk mempengaruhi dan menghanyutkan kerohanian anak-anak Tuhan sampai dibawa kepada kematian rohani.
Mati rohani, berarti; tidak dapat berbuat apa-apa.
Sesuai dengan Injil Matius 4, Yesus menghadapi 3 kali ujian dari Setan, ujian yang ketiga Setan membawa Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi, kemudian Setan itu memperlihatkan kerajaan dunia dan kemegahan dunia, menunjukkan bahwa dunia ini mempunyai arus, mempunyai magnet, daya tarik yang sangat kuat untuk mempengaruhi, menenggelamkan kehidupan rohani anak-anak Tuhan hingga sampai nanti dibawa pada kematian rohani. Tetapi syarat untuk menerima kerajaan dunia dan kemegahan dunia, Setan berkata: “Engkau harus menyembah aku”, tetapi Yesus berkata: “Enyah engkau Iblis, engkau harus menyembah Tuhan Allahmu dan kepada Dia sajalah engkau berbakti”, setelah itu dia pergi.
Sebetulnya sewaktu Setan membawa Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi, itu bagus, sama halnya seperti kita malam ini, kita berada di atas gunung yang tinggi, bagus. Gunung yang sangat tinggi itu gunung Sion, tetapi kalau ibadah dan pelayanan itu mengarah kepada kerajaan dunia dan kemegahannya, mengarah kepada perkara di bawah, perkara lahiriah, itu sama dengan menyembah kepada Setan.
Yang benar; ibadah itu harus mengarah kepada Kristus sebagai kepala, wujudnya nanti penyatuan anggota tubuh yang berbeda-beda.
2.    Mentaati penguasa kerajaan angkasa.
Pertanyaannya; siapakah orang-orang yang mentaati penguasa kerajaan angkasa?
Jawabnya: Yaitu orang-orang yang dikuasai roh pendurhakaan.
Mendurhaka = memberontak atau berani melawan kepada Allah. Jadi orang yang memberontak, orang yang berani melawan Tuhan, menunjukkan bahwa dia sedang dikuasai oleh roh pendurhakaan.
Seringkali kita karena pahitnya hidup yang disebabkan oleh kesalahan sendiri akhirnya kita mempersalahkan Tuhan, menyalahkan ibadah, menyalahkan pelayanan, menyalahkan firman, menyalahkan gembala, akhirnya kita tidak segan-segan untuk memberontak, menunjukkan bahwa dia sedang dikuasai roh pendurhakaan.
3.    Hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging.
Perlu untuk diketahui;
-       Hidup menurut keinginan daging; memikirkan hal-hal yang dari daging, berarti tidak memikirkan hal-hal yang dari Roh, itulah perkara di atas, perkara rohani, yaitu ibadah dan pelayanan dengan segala kegiatan-kegiatan yang ada di dalamnya.
-       Hidup menurut keinginan daging menunjukkan bahwa ia berada di bawah hukum Taurat, berarti; mata ganti mata, gigi ganti gigi, arti rohaninya; kejahatan dibalas kejahatan = orang yang berbuat salah tidak luput dari penghukuman.
Ibadah Taurat disebut juga ibadah lahiriah, menjalankan ibadah secara lahiriah, yaitu mulut memuliakan Tuhan tetapi hatinya jauh dari Tuhan = mempersembahkan tubuh jasmaninya kepada Tuhan, tetapi manusia batiniahnya tidak dipersembahkan kepada Tuhan. Inilah ibadah yang tidak mengandung janji atau ibadah yang sia-sia.

Sekarang kita akan melihat ...
Keberadaan yang dahulu hidup jauh dari Allah.
Efesus 2: 11-12
(2:11) Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu -- sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, --
(2:12) bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.

Keadaan dari orang-orang yang dahulu hidup jauh dari Allah: “Tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan (bukan ahli waris), tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.
Keadaan orang yang seperti ini akan binasa, berujung pada kematian yang kekal.

Efesus 2: 13
(2:13) Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.

Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus, yang dahulu hidup jauh sudah menjadi dekat oleh darah Kristus.
Malam ini kita boleh mendekat kepada Tuhan lewat ibadah Doa Penyembahan, oleh karena darah salib Kristus, semua oleh karena kemurahan hati Tuhan.
Dahulu waktu kita masih jauh dari Tuhan, kita jauh dari ibadah, jauh dari pelayanan, jauh dari kegiatan Roh, jauh dari pengorbanan; banyak perbuatan kejahatan, kenajisan, kefasikan, kelicikan, dusta, dan sebagainya, waktu masih jauh. Tetapi  sekarang kita berada di dalam rumah Tuhan, beribadah dan melayani, semua karena darah salib Kristus, bukan karena gagah hebat kuat, bukan karena kita pintar, cerdas, bukan karena kita punya ini dan itu, tetapi oleh karena kemurahan Tuhan, darah salib. Mari kita manfaatkan kemurahan hati Tuhan.

Sekarang kita lihat lebih jauh ...
Ibrani 10: 19
(10:19) Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,

Oleh darah salib Kristus, kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.
Masuk ke dalam tempat kudus = dekat dengan Tuhan.

Kalau kita kaitkan dengan Pengajaran Tabernakel, tempat kudus -> Ruangan Maha Suci.
Sedangkan di dalam Ruangan Maha Suci terdapat satu alat, yaitu TABUT PERJANJIAN. Inilah alat yang paling utama dari semua peralatan di dalam Tabernakel.

Tabut perjanjian terdiri dari dua bagian:
YANG PERTAMA: PETI DARI TABUT PERJANJIAN -> sidang mempelai wanita Tuhan.
Wahyu 21: 9-11
(21:9) Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba."
(21:10) Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah.
(21:11) Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.

Pengantin perempuan mempelai Anak Domba adalah gambaran dari gunung Sion atau Yerusalem yang baru, dengan dua keadaannya, yaitu:
1.     Kota yang kudus.
2.     Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah.

Sekarang tentang: KOTA YANG KUDUS.
Wahyu 21: 2
(21:2) Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
Kota yang kudus, yaitu Yerusalem yang baru, yang berhias bagaikan pengantin perempuan.
Pendeknya; kota yang kudus (Yerusalem yang baru) memiliki perhiasan rohani sebagai harta yang indah.

Mari kita lihat PERHIASAN ROHANI.
2 Timotius 1: 14
(1:14) Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.
Perhiasan rohani, yaitu harta yang indah, itulah karunia-karunia Roh Kudus.

1 Korintus 12: 4-10
(12:4) Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.
(12:5) Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.
(12:6) Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.
(12:7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.
(12:8) Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.
(12:9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.
(12:10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.

Ada rupa-rupa karunia, jadi karunia itu tidak hanya satu, banyak karunia-karunia. Juga ada banyak jenis pelayanan dari hamba-hamba Tuhan yang dipercaya Tuhan.
Tetapi semua itu sumbernya dari Allah yang mengerjakannya. Jadi bukan hamba Tuhan. Hamba Tuhan itu hanya alat sekalipun dipercaya karunia-karunia Roh Kudus dengan pelayanan yang berbeda-beda. Dan di tengah-tengah pelayanan itu banyak mujizat, sumbernya dari Tuhan.
Kalau hamba Tuhan memahami hal ini, maka hamba Tuhan tidak boleh sombong. Anak Tuhan juga tidak boleh sombong, tidak boleh ada penonjolan di tengah ibadah dan pelayanan.

Ada 9 karunia-karunia Roh Kudus:
1.     Karunia untuk berkata-kata dengan hikmat.
2.     Karunia berkata-kata dengan pengetahuan.
3.     Kepada yang seorang roh yang sama memberikan iman.
4.     Kepada yang lain ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.
5.     Kepada yang seorang roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat.
6.     Karunia untuk bernubuat.
7.     Karunia untuk membedakan bermacam-macam roh.
8.     Karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh.
9.     Karunia untuk menafsirkan bahasa roh.

1 Korintus 12: 11
(12:11) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

Sembilan karunia itu semuanya dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama.
Jadi karunia-karunia Roh Kudus itu dikaruniakan kepada setiap hamba-hamba Tuhan namun sumbernya dari Roh yang satu dan yang sama. Kalau sumbernya dari Roh yang satu dan yang sama, maka pekerjaan Tuhan itu menjadi tertib, tidak tumpang tindih, kemudian tidak ada penonjolan di situ, tidak ada yang merasa diri lebih hebat, tidak ada yang merasa diri lebih bisa, mampu dari pada yang lain, sehingga ibadah dan pelayanan itu tertib, saling melengkapi satu dengan yang lain.
Kalau sumbernya dari dua roh, terjadi pergesekan, ada yang lebih hebat. Tetapi kalau sumbernya dari Roh yang satu dan yang sama, semuanya tertib.

Tujuan memiliki perhiasan rohani (karunia Roh Kudus).
Wahyu 21: 2
(21:2) Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
Tujuannya adalah untuk membawa masuk dalam pesta nikah Anak Domba, berarti anggota-anggota tubuh yang berbeda-beda menjadi satu, dengan kata lain terwujudnya pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.

Jadi tujuannya adalah untuk mendandani kita. Siapa yang berdandan? Itulah pengantin perempuan mempelai Anak Domba yang layak masuk dalam pesta nikah Anak Domba.
Jadi sekarang ini kita sedang didandani supaya apa? Supaya kita nanti dibawa masuk dalam pesta nikah Anak Domba.
Kita bersyukur ada perhiasan rohani yang dipercayakan kepada hamba-hamba Tuhan supaya terwujudnya pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.
Yang berdandan untuk suaminya, berarti dibawa masuk dalam pesta nikah Anak Domba, sebab yang layak masuk dalam pesta nikah Anak Domba adalah mereka yang berdandan untuk suaminya. Kalau saudara perhatikan dalam suatu pernikahan, pengantin perempuan harus didandani.

1 Korintus 12: 12-13
(12:12) Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.
(12:13) Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.

Dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari Roh yang satu dan yang sama, berarti telah menikmati karunia-karunia Roh Kudus yang sumbernya dari roh yang satu dan yang sama, sampai akhirnya anggota tubuh yang berbeda itu menjadi satu.
Mengapa satu? Karena kita semua diberi minum dari satu Roh, telah menikmati pelayanan dari sembilan karunia yang sumbernya dari Roh yang satu dan yang sama.

1 Korintus 12: 20-22
(12:20) Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh.
(12:21) Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau."
(12:22) Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan

Setiap anggota tubuh saling membutuhkan satu dengan yang lain, berarti tidak boleh dikuasai roh egosentris, kepentingan pribadi.
Kita harus melayani dengan jujur dan polos, karena orang jujur yang polos dipimpin oleh ketulusan hatinya, dipimpin oleh Roh Kudus.

1 Korintus 12: 23-24
(12:23) Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.
(12:24) Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus,

Justru kepada salah satu anggota yang kurang terhormat kita berikan penghormatan khusus dan kepada salah satu anggota yang kurang elok, kita harus memperhatikannya secara khusus.
Mungkin cara bicaranya kurang elok, perkataannya kurang elok, sikap dan perbuatannya kurang elok, ini membutuhkan perhatian khusus, supaya jangan terlanjur-lanjur di dalam perkataan yang kurang elok, di dalam tindakan perbuatan yang kurang elok. Justru harus diperhatikan. Tidak boleh diabaikan, tidak boleh dicueki.

Kalau pun misalnya ada yang keluar dari penggembalaan, itu biarlah cara Tuhan, jangan cara saya. Karena kalau ilalang dicabut, nanti gandum juga tercabut. Hari-hari ini kita telah menikmati pemberitaan tentang gunung Sion, Yerusalem yang baru, dari sana keluar pengajaran salib.
Jadi siapa yang bertahan di sana adalah orang-orang yang sungguh-sungguh memikul salib. Yang tidak bertahan, Tuhan sendiri yang akan menyingkirkannya, bukan saya. Kalau saya nanti bahaya, resikonya banyak.
Hari-hari ini kita sedang berbicara tentang gunung Sion, berarti Tuhan telah menyatakan gunung tempat kita beribadah ini adalah gunung Sion. Bukan semata-mata pemberitaan firman yang disampaikan dalam setiap ibadah itu suatu kebetulan, tetapi betul-betul itu adalah pernyataan kasih Tuhan kepada GPT “BETANIA” Serang & Cilegon, tidak ada kebetulan. Termasuk pelayanan di Medan (persekutuan hamba-hamba Tuhan) tidak ada kebetulan. Semua betul-betul firman itu tersusun rapi dari Tuhan dan tepat pada sasarannya.
Jadi yang kurang elok harus diperhatikan, kalau dia mau diperhatikan, puji Tuhan.

1 Korintus 12: 25
(12:25) supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.

Jadi supaya tidak terjadi perpecahan dari anggota tubuh yang berbeda, maka satu dengan yang lain harus saling memperhatikan.
Jangan bawa pengertian dan perasaan masing-masing dalam beribadah dan melayani Tuhan.

1 Korintus 12: 26
(12:26) Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.

Kalau salah satu anggota tubuh yang berbeda itu menderita, maka semua anggota yang lain harus merasakannya. Sebaliknya, kalau salah satu anggota yang berbeda itu dihormati, kita semua harus bersukacita, jangan iri, dengki. Harus juga turut merasakannya. Yang satu dihormati, yang satu harus juga turut merasakannya.
Perhiasan rohani memperlengkapi hamba-hamba Tuhan untuk membawa anggota tubuh yang berbeda itu menjadi satu, menjadi pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.
Jadi saudara yang berkorban untuk pekerjaan Tuhan di Sumatera kemarin, tidak usah kecut hati, tidak usah merasa sudah dirugikan, saudara tidak perlu memikirkan itu, karena apa yang sudah kita kerjakan, semuanya diberkati oleh Tuhan. Mereka diberkati, kita harus korban, supaya mereka mengenal Pengajaran Mempelai. Kalau Yesus tidak korban, manusia berdosa tidak akan tertolong, harus ada yang berkorban, jangan pernah merasa rugi, jangan pernah merasa dirugikan.

Tentang: KOTA ITU PENUH DENGAN KEMULIAAN ALLAH.
Wahyu 21: 11
(21:11) Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.

Penuh dengan kemuliaan Allah, berarti bercahaya seperti cahaya permata yaspis.
Permata yaspis itu jernih seperti kristal. Kristal = transparan = tampil apa adanya = luar dan dalam sama, tidak ada yang ditutup-tutupi, tidak berlaku munafik. Ini menunjuk kepada orang yang jujur dan polos.
Perlu untuk diketahui; kejujuran dan kepolosan adalah motor penggerak sehingga seseorang berkobar-kobar, berapi-api melayani Tuhan.

Keluaran 3: 2-3
(3:2) Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.
(3:3) Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?"

Kalau berkobar-kobar, berapi-api di tengah ibadah dan pelayanan, itu suatu penglihatan yang hebat.
Jadi jangan rugi untuk berkobar-kobar, berapi-api beribadah dan melayani Tuhan, itu suatu penglihatan yang hebat.
Berapi-api, berkobar-kobar tetapi tidak terbakar, tidak hangus, tidak hancur, itu suatu penglihatan yang hebat. Biasanya kalau banyak berkorban hancur-hancuran, itu ukuran dunia, tetapi di dalam Tuhan tidak.
Berkobar-kobar, berapi-api, bernyala-nyala, itu suatu penglihatan yang hebat, kita tidak hangus, kita tidak hancur.
Jadi, jangan pernah merasa rugi untuk melayani Tuhan dengan segala jerih payah, dengan segala apa yang kita miliki, itu suatu penglihatan yang hebat, tidak hancur kita, tidak rugi kita, Tuhan tidak tidur, Tuhan punya mata, Tuhan melihat, maka kita melayani bukan melayani gembala, bukan melayani manusia, kita melayani Tuhan.

Keluaran 3: 4-5
(3:4) Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah."
(3:5) Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."

Ada dua tanda melayani dengan berapi-api:
1.    Ada hadirat Tuhan.
Di mana ada hadirat Tuhan, di situ ada berkat. Di tengah api itu Tuhan berbicara, berarti ada hadirat Tuhan, membawa hadirat Tuhan. Kita ketahui selama tabut perjanjian ada di rumah Obed-Edom, selama itu pula rumah Obed-Edom diberkati.
Selama pelayanan kita membawa hadirat Tuhan, selama itu pula pelayanan kita memberkati.
Sedikit kesaksian; selepas kita tinggalkan Bakal Batu, Bakal Gajah, desa itu dihujani dengan hujan berkat, karena sudah hampir satu bulan terjadi musim kemarau, sementara sidang jemaat di sana kehidupan mereka dari bertani. Jadi begitu kita tinggalkan desa itu, desa itu diberkati sekali. Dimana ada Tuhan, di situ ada berkat. Itu kalau dari Tuhan, tanda berkobar-kobar berapi-api melayani Tuhan. Itu tidak bisa dipungkiri.
2.    Berdiri di tempat kudus.
Berarti pendiriannya benar, tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang tak suci.
Syaratnya: melepaskan kasut -> cara hidup yang lama.

Kuasa bila melayani dalam kemuliaan...
Keluaran 3: 6-8
(3:6) Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.
(3:7) Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.
(3:8) Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.

Berkuasa melepaskan orang-orang yang sengsara yaitu: orang yang diperbudak oleh dosa.
Tuhan mengutus Musa untuk melepaskan bangsa Israel dari perbudakan dosa. Kalau seseorang diperbudak dosa tanpa hari perhentian, tanpa ibadah dan pelayanan, itu akan memahitkan seseorang. Karena dosa, hidup seseorang menjadi pahit.
Tetapi banyak orang Kristen tidak menyadari hal itu, sehingga dia tetap menjauh dari Tuhan, tetapi di sini kita melihat, kuasa bila melayani dalam kemuliaan: berkuasa melepaskan orang yang sengsara yaitu orang yang diperbudak dosa. Tuhan mengutus Musa melepaskan bangsa Israel dari perbudakan kerja paksa, dari pengerah-pengerah. Jadi kekejaman bangsa Mesir memperbudak bangsa Israel disebut pengerah-pengerah.
Pengerah-pengerah itu berarti lebih pahit dari tindasan-tindasan, sudah ditindas tetapi masih juga diambil keuntungan yang besar walaupun bangsa Israel tertindas.

Tandanya kelepasan: berada di tanah perjanjian sebagai milik pusaka yang diwariskan kepada bangsa Israel.
Milik pusaka yang diwariskan -> ibadah dan pelayanan. Itulah tanda kelepasan: ada di dalam ibadah dan pelayanan.
Tetapi anehnya banyak orang melepaskan diri dari ikatan Roh, dari kegiatan ibadah pelayanan untuk menikmati kebebasan dunia. Sebetulnya kebebasan dunia itu jerat bagi dia, sebabnya Tuhan berfirman kepada bangsa Israel: “Apabila engkau masuk di tanah Kanaan dengan tujuh penduduk negeri Kanaan yang besar itu, jangan bercampur baur dengan mereka, jangan kawin mengawinkan, jangan menyembah allah mereka, sebab itu menjadi jerat bagimu.”
Kita bersyukur ada di tengah ibadah dan pelayanan, menunjukkan kalau itu tanda kelepasan.
Jangan berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan Roh, dari ibadah dan pelayanan untuk menikmati kebebasan dunia, itu jerat. Jangan sekali-sekali memiliki pemikiran seperti itu.

Wahyu 21: 11
(21:11) Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.

Berkobar-kobar, berapi-api melayani Tuhan disebut dengan permata yaspis, permata yang paling indah.
Jadilah permata yang paling indah, itulah permata hati Tuhan.

Tabut perjanjian terdiri dari dua bagian:
YANG KEDUA: TUTUP PENDAMAIAN DENGAN KEDUA KERUB DI ATASNYA -> Tuhan Yesus Kristus.
Tetapi kita tidak berbicara tentang kedua kerub di atas tutup pendamaian. Kita hanya berbicara tentang tutup pendamaian.
Tutup pendamaian -> pribadi Yesus sebagai Imam Besar.
Tugas Imam Besar adalah untuk memperdamaikan dosa manusia.

Ibrani 9: 12-14
(9:12) dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.
(9:13) Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah,
(9:14) betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.

Tugas dari Imam Besar adalah memperdamaikan dosa bahkan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan yang sia-sia.
Kalau hati nurani telah disucikan dari perbuatan yang sia-sia, maka perasaan kita menjadi benar, sehingga dengan demikian kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup, terlepas dari penyembahan berhala.

Ibrani 4: 14-15
(4:14) Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.
(4:15) Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

Berpegang pada pengakuan iman, berpegang teguh kepada Pengajaran Mempelai, itulah Pengajaran Tabernakel.
Kuat terhadap ujian, kuat terhadap cobaan, itulah orang-orang yang berpegang teguh kepada pengakuan iman, berpegang teguh kepada Tuhan, tidak berpegang kepada yang lain-lain.
Banyak orang setelah menghadapi ujian, menghadapi cobaan yang begitu banyak, justru tidak berpegang pada pengakuan iman, justru dia lepaskan pengakuan imannya kepada Tuhan, hanya karena ujian-ujian, hanya karena uang, hanya karena kedudukan, hanya karena jabatan, hanya karena ijazah, hanya karena harta dan kekayaan, dia lepaskan pengakuan imannya kepada Tuhan, dia lepaskan Pengajaran Mempelai dalam terang-Nya Tabernakel.
Tetapi orang yang dosanya sudah diperdamaikan oleh Imam Besar, hati nurani yang jahat telah disucikan, orang yang seperti ini tetap berpegang teguh pada pengakuan iman, berpegang teguh kepada Tuhan lewat Pengajaran Mempelai dalam terang-Nya Tabernakel, sekalipun banyak mengalami ujian. Ujian satu belum selesai, muncul ujian kedua dan seterusnya, tetapi tetap berpegang pada pengakuan iman. Iman kepada Tuhan lewat Pengajaran Mempelai. Dan orang yang seperti ini tidak berbuat dosa.

Ibrani 4: 16
(4:16) Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.
Sampai akhirnya kita penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, dari sanalah kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan kita pada waktunya.
Jadi tunggu waktu Tuhan. Tunggulah waktu Tuhan. Saya tahu kita ini banyak menderita, banyak mengalami pergumulan-pergumulan, tunggu waktu Tuhan. Pertolongan Tuhan tepat pada waktunya.
Jangan paksakan waktu kita menjadi waktu Tuhan, tetapi waktu Tuhan adalah waktu kita. Tunggulah waktu Tuhan. Sabarlah. Nanti indah pada waktunya.

1 Korintus 5: 18-20
(5:18) Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.
(5:19) Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.
(5:20) Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Itu tugas pendamaian; memperdamaikan dosa manusia kepada Allah.
Kita diutus di bumi provinsi Banten untuk memperdamaikan dosa manusia kepada Allah. Utusan-utusan Tuhan menjadi pengantara antara Allah dengan manusia, itulah tutup pendamaian -> imam besar, tugasnya; untuk memperdamaikan dosa manusia.
Hamba-hamba Tuhan, imam-imam diutus di rumah, di tengah ibadah dan pelayanan, di tempat perkuliahan, di tempat bekerja, dimanapun kita berada, tugasnya hanya satu: untuk memperdamaikan dosa manusia kepada Allah, menjadi pengantara antara Allah dan manusia. Tugas dari seorang pelayan Tuhan; menjadi pendamaian terhadap dosa, bukan menimbulkan dosa, berarti menjadi korban. Amin.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang