IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 23 DESEMBER 2025
SURAT YUDAS
PASAL 1:11
(Seri: 2)
Subtema: JALAN YANG DITEMPUH
KAIN
Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh
karena kemurahan hati TUHAN, kita dihimpunkan di atas gunung TUHAN datang
beribadah lewat ibadah doa penyembahan dan sebentar tersungkur di ujung kaki
salib TUHAN, membawa hidup kita rendah di hadapan TUHAN dan tentu saja setelah
diteguhkan oleh Firman TUHAN ALLAH.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat ketebusan
TUHAN yang turut bergabung lewat online atau live streaming atau
video internet baik dari Youtube, Facebook atau media sosial lainnya dimanapun
saudara berada.
Namun tetaplah berdoa dalam Roh, mohon kemurahan daripada TUHAN,
supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan hati kita pribadi lepas pribadi.
Mari secepatnya kita sambut Surat Yudas sebagai Firman
penggembalaan untuk Ibadah Doa Penyembahan dari Yudas 1:11.
Yudas 1:11
(1:11) Celakalah
mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena
mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan
mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.
Celakalah mereka, antara lain:
1. Orang-orang
yang mengikuti jalan yang ditempuh Kain.
2. Oleh
sebab upah menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam.
3. Binasa
karena mendurhaka seperti Korah.
Tentang: JALAN YANG
DITEMPUH KAIN.
Kejadian 4:8
(4:8) Kata Kain
kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka
ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh
dia. (4:9) Firman TUHAN kepada Kain: "Di mana
Habel, adikmu itu?" Jawabnya: "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga
adikku?"
Singkat kata; Kain membunuh Habel, adiknya itu. Padahal
sebelum Kain membunuh Habel adiknya itu, TUHAN sudah memperingatkan Kain pada ayat
6 dan ayat 7. Bahkan pada ayat 9, TUHAN juga menuntut dan
menunggu sebuah pengakuan dari apa yang telah diperbuat Kain, tetapi
Kain justru menjawab: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?”
-
Perkataan: "Aku tidak
tahu" menunjukkan bahwa Kain berdusta. Dalam hal ini Kain sudah
menciderai kesucian Roh ALLAH, bahkan Kain telah menghujat Roh ALLAH itu
sendiri.
-
Perkataan: "Apakah aku
penjaga adikku?" Menunjukkan bahwa di dalam diri Kain tidak ada
kasih ALLAH.
Singkat kata, dari jawaban Kain, kita bisa mengetahui bahwasanya
membunuh Habel adalah satu-satunya jalan yang ditempuh Kain.
Kalau saja Kain mau diperingatkan, berarti Kain tidak akan
menempuh jalan itu. Bahkan sekalipun dia sudah terlanjur melakukan dosa yaitu
dalam hal membunuh Habel adiknya, tetapi dia mau mengakui dosa; bertobat dan
kembali kepada ALLAH, itu pun masih TUHAN tolong. Tetapi di sini sudah
jelas, Kain telah menempuh jalan untuk membunuh Habel.
1 Yohanes 3:11-12 -- Perikop: "Kasih terhadap saudara sebagai tanda hidup baru."
(3:11) Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari
mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; (3:12) bukan seperti Kain, yang berasal
dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya?
Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar
Berita dari mulanya
yaitu: “bahwa kita harus saling mengasihi.”
Oleh sebab itu, jangan kita mengikuti jalan yang ditempuh
Kain yaitu membunuh Habel, adiknya.
Pendeknya, mengikuti jalan yang ditempuh Kain, berarti ia
berasal dari SI JAHAT.
Sebab, satu dari tiga tabiat si jahat adalah "pembunuh
manusia dari sejak semula" ... Yohanes 8:44.
Kembali kita membaca…
1 Yohanes 3:12B
(3:12) bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang
membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala
perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.
Penyebab Kain membunuh Habel adalah: Sebab segala
perbuatan Kain adalah jahat.
Sedangkan, perbuatan Habel adalah benar.
Berarti, sikap Kain mengandung iri hati, benci, dengki, dan
seterusnya.
Oleh sebab itu, jangan kita mengikuti jalan yang ditempuh
Kain; kalau kita melihat orang lain maju kita harus bersukacita, justru kita
terus mendukung, tidak perlu iri hati.
Jangan karena persembahan orang lain lebih baik, berkenan kepada
TUHAN, lalu kita membunuh karakter orang lain, atau menghalangi ibadah
pelayanan orang lain kepada TUHAN, itu tidak baik.
Sebab itu sekali lagi saya sampaikan, jangan kita mengikuti
jalan yang ditempuh oleh Kain.
Kenapa Kain membunuh Habel? Sebab segala perbuatan Kain adalah
jahat, sedangkan perbuatan Habel adalah benar.
Marilah kita lihat kebenarannya di dalam…
Kejadian 4:1-2
(4:1) Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan
mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu:
"Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN."
(4:2) Selanjutnya dilahirkannyalah
Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi
petani.
Hawa melahirkan 2 (dua) anak laki-laki bagi Adam:
- Anak
pertama (yang sulung) ialah: KAIN.
- Anak
kedua ialah: HABEL.
Kemudian, setelah keduanya besar:
- Habel
menjadi gembala kambing domba. Sedangkan,
- Kain
menjadi petani.
Saudara, menjadi gembala kambing domba dan menjadi petani
adalah pekerjaan yang sama-sama baik dan sama mulia, sebab oleh karena
pekerjaan itu sendiri, harkat dan martabat serta derajat seseorang akan
diangkat dan ditinggikan oleh TUHAN.
Kalau pekerjaan di bumi saja dapat menolong, bahkan
mengangkat harkat, martabat, derajat manusia, apalagi oleh pekerjaan yang mulia
di dalam TUHAN.
Kejadian 4:3-5
(4:3) Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain
mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban
persembahan; (4:4) Habel juga
mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni
lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya
itu, (4:5) tetapi Kain dan korban
persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan
mukanya muram
Setelah beberapa waktu lamanya:
- Kain
mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai
korban persembahan.
- Habel
juga mempersembahkan korban persembahan kepada TUHAN, antara lain; anak
sulung kambing domba yakni lemak-lemaknya.
Selanjutnya, di sini kita melihat, TUHAN mengindahkan
Habel dan korban persembahannya, tetapi Kain dan korban persembahannya
tidak diindahkan oleh TUHAN karena yang dipersembahkan oleh Kain adalah
sebagian dari hasil tanahnya kepada TUHAN.
Kain adalah anak sulung, tetapi sikap dan perbuatannya tidak
mencerminkan bahwa ia anak sulung, sebab yang dia persembahkan kepada TUHAN
adalah SEBAGIAN berarti tidak sepenuh.
Mari kita telusuri pengertian yang sebagian ini…
Markus 12:29-31 --
Perikop: "Hukum yang
terutama."
(12:29) Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah,
hai orang Israel, TUHAN ALLAH kita, TUHAN itu esa. (12:30) Kasihilah TUHAN, ALLAHmu, dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap
kekuatanmu. (12:31) Dan hukum
yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."
TUHAN itu ESA, berarti
satu, tidak dua.
Oleh sebab itu, mengasihi TUHAN harus dengan:
- Segenap
hati, berarti tidak sebagian hati.
- Segenap
jiwa, berarti tidak sebagian jiwa.
- Segenap
akal budi, berarti tidak sebagian akal budi.
- Segenap
kekuatan, berarti tidak sebagian kekuatan.
Kemudian, hukum yang kedua, mengasihi sesama manusia seperti
diri sendiri.
Andaikata TUHAN ALLAH itu lebih dari situ, maka kita tidak
salah mempersembahkan korban persembahan dalam bentuk sebagian atau tidak
sepenuhnya, sebab harus dibagi-bagi, tetapi TUHAN ALLAH itu Esa.
Jadi di dalam mengasihi TUHAN harus dengan segenap hati,
segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan serta mengasihi sesama
manusia sama seperti diri sendiri.
Perlu untuk diketahui mengasihi TUHAN dengan segenap
hati, segenap jiwa, segenap akal budi, segenap kekuatan serta mengasihi sesama
manusia sama seperti diri sendiri lebih utama daripada semua korban
bakaran dan semua korban sembelihan, sebagaimana yang tertulis di
dalam Injil Markus 12:23. Jadi lebih utama dari semua korban
berdarah-darah.
Jadi, persembahan Kain ditolak / tidak diindahkan TUHAN bukan
karena tidak ada tanda darah atau persembahan Habel diterima bukan karena
ada tanda darah serta lemak-lemak dari hasil penyembelihan.
Sesungguhnya, TUHAN juga menerima persembahan dari hasil
tanah.
Jadi saudara jangan pernah berpikir, TUHAN mengindahkan
Habel dan korban persembahannya karena yang dipersembahkan dari anak sulung
kambing domba sehingga ada tanda darah, sementara TUHAN tidak mengindahkan Kain
dan korban persembahannya, karena yang dipersembahkan adalah hasil tanah yang
tidak ada tanda darah, bukan karena itu, hal itu tidak ada kaitannya.
Karena jelas, tadi kita sudah melihat bahwa mengasihi TUHAN
dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan serta
mengasihi sesama seperti diri sendiri, itu adalah hukum yang lebih utama dari
semua hukum, lebih utama daripada korban bakaran dan korban sembelihan. Jadi sama
sekali tidak ada kaitannya dengan tanda darah karena sesungguhnya TUHAN juga
menerima korban persembahan dari hasil tanah.
Ayat referensinya kita perhatikan di dalam…
Imamat 2:14 --
Perikop: "Korban
sajian."
(2:14) Jikalau engkau hendak mempersembahkan korban sajian dari
hulu hasil kepada TUHAN, haruslah engkau mempersembahkan bulir gandum
yang dipanggang di atas api, emping gandum baru, sebagai korban sajian
dari hulu hasil gandummu.
Ternyata TUHAN juga menerima hulu hasil dari persembahan
tanah.
Berarti, kalau TUHAN menolak persembahan Kain, tetapi
menerima persembahan Habel, itu karena TUHAN tidak menemukan tanda
kesulungan pada persembahan Kain, selain dalam tanda sebagian. Justru tanda
kesulungan itu TUHAN temukan pada Habel, sekalipun Habel bukan anak sulung.
Jadi sebenarnya TUHAN juga menerima persembahan dari hasil
tanah asal itu bentuk hulu hasil, tetapi yang kita lihat tadi, yang
dipersembahkan oleh Kain adalah dalam bentuk sebagian bukan sepenuhnya.
Jalan Keluar:
Terkait dengan PEKERJAAN
ANAK SULUNG.
Bilangan 3:11-12
(3:11) TUHAN berfirman kepada Musa: (3:12) "Sesungguhnya, Aku mengambil orang Lewi dari antara
orang Israel ganti semua anak sulung mereka, yang terdahulu lahir dari
kandungan, supaya orang Lewi menjadi kepunyaan-Ku,
Dari antara 12 (dua belas) suku Israel, TUHAN mengangkat
suku Lewi menjadi ANAK SULUNG; menjadi milik kepunyaan TUHAN sendiri
Bilangan 8:18-19
(8:18)
Maka Aku mengambil orang Lewi ganti semua anak sulung yang ada pada orang
Israel, (8:19) dan Aku menyerahkan
orang Lewi dari tengah-tengah orang Israel sebagai pemberian kepada Harun dan
anak-anaknya untuk melakukan segala pekerjaan jabatan bagi orang Israel
di Kemah Pertemuan, dan untuk mengadakan pendamaian bagi orang Israel,
supaya orang Israel jangan kena tulah apabila mereka mendekat ke tempat
kudus."
Tugas dan pekerjaan dari anak sulung ialah:
a. Melayani
TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN sesuai dengan karunia-karunia dan
jabatan-jabatan Roh El Kudus.
b. Mengadakan
pendamaian atas umat Israel.
Tetapi kita tadi melihat, yang dipersembahkan oleh Kain
adalah sebagian, tidak dalam tanda sepenuh sekalipun dia anak sulung, berarti dia
tidak mencerminkan anak sulung dilihat dari sikap dan perbuatannya. Seharusnya
sikap dan perbuatan anak sulung harus mencerminkan bahwa dia adalah anak
sulung; melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN sesuai dengan
karunia-karunia dan jabatan-jabatan Roh-El Kudus, kemudian mengadakan
pendamaian atas umat Israel.
Perlu untuk diketahui: Kejadian 3 sampai Kejadian
6, bila dikaitkan dengan Tabernakel terkena kepada MEZBAH KORBAN BAKARAN.
Mezbah Korban Bakaran adalah:
a. Tempat
penyembelihan (bahasa Ibrani; mizbe'akh).
b. Tempat
yang tinggi (bahasa Yunani; Altare).
c. Tempat
perapian.
Demikian juga, SALIB adalah:
- Tempat
dimana Anak Domba disembelih (Yesaya 53:7).
- Tempat
dimana Ia ditinggikan untuk menyelamatkan dan menarik banyak orang yang percaya
(Yohanes 3:14-15, Yohanes 12:32-33).
Matius 20:28
(20:28)
sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani
dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Anak Manusia datang ke dunia untuk:
1.
Melayani.
Melayani
kita sekaliannya, melayani nikah dan rumah tangga kita, sehingga dengan demikian
semuanya baik.
Setiap
pribadi yang menikmati pelayanan Yesus sebagai Imam Besar maka ia akan menjadi
satu kehidupan yang merendahkan diri di hadapan TUHAN. tidak saling
sikut-menyikut, tidak saling menonjolkan diri, tidak saling membesarkan diri,
tidak iri hati seperti Kain.
2. Memberikan
nyawa-Nya sebagai tanda; penebusan dan pendamaian atas dosa dunia, supaya
umat Israel diselamatkan dibawa kembali kepada ALLAH, ditarik dan dibawa kepada
ALLAH, ke tempat yang tinggi.
Jadi kita sekaliannya hendaklah sama seperti Musa,
meninggikan ular tembaga, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan =
meninggikan salib lebih dari yang ada ini.
2 Korintus 5:18-19
(5:18)
Dan semuanya ini dari ALLAH, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan
kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian
itu kepada kami. (5:19) Sebab ALLAH
mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan
pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada
kami.
Ada dua yang TUHAN percayakan kepada seorang hamba TUHAN di
tengah-tengah pengutusannya:
1. Pelayanan
pendamaian.
Berarti, pelayanannya membawa damai sejahtera.
2. Berita
pendamaian.
Singkat kata, hamba TUHAN di tengah-tengah pengutusannya
haruslah membawa damai sejahtera, baik perkataan maupun perbuatan semuanya
harus mendatangkan damai sejahtera.
Jangan dimana kita berada, baik perkataan maupun perbuatan
merusak damai sejahtera. Kita semua dimulai dari rumah kita masing-masing haruslah
membawa damai sejahtera, kita harus memikirkan kesatuan, jangan hanya mengambil
jalannya sendiri, itu namanya dipercaya untuk membawa pelayanan pendamaian juga
membawa berita pendamaian dimanapun kita berada. Tidak boleh memikirkan nasib
sendiri, tetapi harus memikirkan bagaimana supaya lingkungan kita dimana berada
juga ada damai, jangan justru kita menjadi sandungan.
Itu sebabnya hamba TUHAN harus membawa damai sejahtera,
perkataannya tidak boleh menimbulkan pertengkaran, perbuatannya tidak boleh
menimbulkan perbantahan, sebab hamba TUHAN tidak boleh bertengkar dan tidak
boleh berbantah-bantah… 2 Timotius 2:24 -- sedangkan seorang hamba
Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus
cakap mengajar, sabar.
Jadi dimanapun kita berada harus membawa damai sejahtera,
jangan menimbulkan pertengkaran hanya karena ucapan dan ulah sedikit
menimbulkan pertengkaran, tetapi hendaklah hamba TUHAN di tengah pengutusannya
membawa berita pendamaian serta membawa pelayanan pendamaian.
2 Korintus 5:20-21
(5:20)
Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan ALLAH menasihati kamu
dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah
dirimu didamaikan dengan ALLAH. (5:21)
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita,
supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh ALLAH.
Yesus Kristus datang ke dunia bukan untuk dilayani tetapi
untuk melayani, juga untuk menyerahkan nyawa-Nya sebagai pendamaian, dan untuk
menjadi pendamaian Dia harus menjadi korban. Semua dosa itu diserap dalam
tubuh-Nya, sehingga Dialah yang menjadi korban; baik dosa saya, dosa kita
diserap dalam tubuh Yesus, sehingga Yesuslah yang menerima hukuman itu bagaikan
Mezbah Korban Bakaran terbuat dari kayu tetapi dilapisi dari tembaga.
Tembaga itu berbicara tentang penghukuman, semua dosa
manusia diserap dalam tubuh-Nya, sehingga TUHAN Yesuslah yang menerima hukuman
itu di atas kayu salib; itu sikap anak sulung.
Kita melihat; Kain adalah anak sulung, tetapi segala sesuatu
yang dipersembahkan di tengah ibadah pelayanan;
-
Ibadahnya dalam tanda sebagian.
-
Pelayanannya dalam tanda sebagian.
-
Korban dan persembahannya juga dalam
tanda sebagian.
Pendeknya, Kain dan korban persembahannya tidak mencerminkan
sebagai anak sulung.
Itu sebabnya, TUHAN menolak dan tidak mengindahkan Kain dan korban
persembahannya.
Sebaliknya TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya.
Kita baca…
Kejadian 4:4
(4:4)
Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing
dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban
persembahannya itu,
Habel mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung
kambing dombanya yakni lemak-lemak hasil penyembelihan. Itu sebabnya, TUHAN
mengindahkan Habel dan korban persembahannya.
Sedangkan TUHAN menolak persembahan Kain, karena yang
dipersembahkan dalam bentuk sebagian;
-
Beribadah juga sebagian.
-
Persembahan korban juga sebagian.
-
Pelayan juga sebagian, semua dalam
bentuk sebagian padahal dia anak sulung.
Tetapi sekalipun Habel adalah anak kedua, segala yang
dipersembahkannya dalam bentuk tanda sepenuh anak sulung.
Kita sudah melihat pekerjaan dari anak sulung adalah
-
Melayani TUHAN dan pekerjaan TUHAN.
-
Menjadi Pendamaian.
Meskipun kita adalah anak kedua, anak ketiga, anak keempat,
kita harus mengerti untuk mempersembahkan anak sulung, menjadi pendamaian. Sedangkan
lemak-lemak itu adalah korban persembahan yang terbaik itu hanya untuk TUHAN. Kalau
itu dirampas manusia jadi penyakitan, stroke, kolesterol, dan
seterusnya.
Jadi yang terbaik itu hanya untuk TUHAN.
Inilah korban persembahan daripada Habel, sehingga TUHAN
mengindahkan Habel dan korban persembahan.
Oleh sebab itu jangan kita celaka karena mengikuti jalan
yang ditempuh Kain.
Lihatlah, Kain membunuh Habel, tetapi sebelum membunuh, TUHAN
sudah memperingatkan dia, bahkan sesudah membunuh pun TUHAN menunggu pengakuan
dosa, TUHAN menunggu keubahan hidup, TUHAN menunggu pertobatan, tetapi justru Kain
berkata; “Aku tidak tahu, apakah aku penjaga adikku?”
Jadi jelas, membunuh adalah jalan yang ditempuh Kain, biar
bagaimanapun dia tetap harus membunuh, dan sesudah membunuh, dia tidak mau kembali kepada TUHAN. Jangan kita mengikuti jalan yang
ditempuh Kain.
Perhatikanlah Firman ini dengan sungguh-sungguh. Kalau TUHAN
sudah memperdamaikan kita dengan Bapa, jangan kembali mencemarkan diri dengan
kecemaran-kecemaran dunia ini, tetapi pandanglah ke depan.
Lagi pula kedatangan TUHAN sudah tidak lama lagi, kita harus
sudah siap menghadapi kedatangan TUHAN kembali untuk kedua kalinya. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
KITA.
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment