IBADAH
RAYA MINGGU, 21 DESEMBER 2025
WAHYU
19:12
(SERI 2)
Subtema: MATANYA BAGAIKAN NYALA API (Seri 1)
Mula pertama
saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya kita
sekaliannya dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, sehingga kita boleh
datang menghadap Dia lewat Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian
dari zangkoor.
Saya juga
tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat tebusan TUHAN yang turut bergabung
secara lewat online / live streaming / video internet baik dari Youtube,
maupun Facebook atau media sosial lainnya yang dapat digunakan atau
diakses. Kiranya damai sejahtera dari ALLAH memenuhi ruangan ini dan hati kita
masing-masing untuk memberi sukacita dan kita bahagia saat menikmati Sabda ALLAH.
Saudara,
kita sudah berada pada penghujung tahun 2025 dan itu artinya kita sebentar lagi
(beberapa hari ke depan) akan meninggalkan tahun 2025 (menjadi tahun yang
lama). Selanjutnya kita akan memasuki tahun 2026, sebagai tahun yang baru, jika
TUHAN menghendaki. Kalau kita berada pada tahun yang baru, berarti sama artinya
kita berada pada wadah yang baru. Kalau kita ada di wadah yang baru, maka kita
semestinya harus menjadi kehidupan yang baru, itu berarti sudah mengalami
pembaharuan demi pembaharuan, manusia batiniah kita dibaharui dari sehari ke
sehari, maka, pada saat itu juga manusia lahiriah kita merosot.
Namun, hal itu tidak menjadi masalah karena kerinduan kita adalah suatu perkara
yang tidak dapat dilihat mata manusia itulah kerajaan Sorga.
Ketika
manusia batiniah (daging) dibaharui, maka di situ kita banyak menanggung
penderitaan demi penderitaan, namun tidak jadi soal, sebab yang kita rindukan
adalah kerajaan Sorga. Bahkan dalam 2 Korintus 4:17 --- “Sebab penderitaan
ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang
melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” Kemudian
Paulus berkata juga dalam 2 Korintus 4:18 --- Sebab kami tidak
memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang
kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. Jadi,
jangan sibuk berusaha / berjuang untuk merebut yang sifatnya sementara. Tetapi,
marilah kita bersama-sama berjuang untuk merebut yang sifatnya “abadi” itulah
Kerajaan Sorga. Di situ nanti mengalami kebahagiaan yang tak terkira bersama
dengan Dia selama-lamanya di dalam Kerajaan Sorga. Inilah yang sedang kita
perjuangkan.
Kemudian, hari-hari
ini adalah hari-hari terakhir dan perjalanan rohani kita sudah berada pada
mil-mil yang terakhir. Alkitab berkata dalam Wahyu 21:1-2 -- Lalu aku
melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan
bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.Dan aku
melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari ALLAH,
yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
Jadi
saudara, kalau kita sadar bahwa hari-hari ini adalah hari-hari terakhir, maka,
sudah seharusnya kita menyerahkan diri ke dalam tangan TUHAN, supaya kita
memiliki perhiasan-perhiasan rohani, sebab TUHAN hendak mendandani kerohanian
kita. Sebab, akhir dari perjalanan rohani kita adalah kelak berada pada
perjamuan malam pesta kawin Anak Domba. Itu sebabnya hari-hari terakhir ini
sudah seharusnya kita sibuk menyerahkan diri ke dalam tangan TUHAN, sibuk
memperhatikan ibadah dan pelayanan kita, maka disitu nanti TUHAN memperhias
kehidupan kita, sehingga kehidupan rohani kita semakin indah di mata TUHAN.
Saya juga
tetap menghimbau, jangan kita menutup mata, tetapi marilah dengan mata terbuka
melihat semua yang terjadi ini. Fenomena yang terjadi di Sumatera bukanlah
suatu kebetulan, tetapi itu adalah suatu tanda / sinyal / peringatan keras bagi
kita supaya di hari-hari terakhir ini, kita semakin sungguh-sungguh menyerahkan
diri dan semakin mendekat kepada TUHAN. Kalau kita jauh dari TUHAN atau
mengikuti TUHAN tetapi “dari tempat jauh”, bagaimana TUHAN dapat menolong
kita?
Sebetulnya TUHAN
mau menolong kita, akan tetapi seringkali kita mengikuti TUHAN dari tempat yang
jauh seperti Petrus. TUHAN begitu besar mengasihi kita, berkobar-kobar. Itu
sebabnya Dia menyerahkan diri-Nya, Ia rela mati bagi kita, karena kasih-Nya
kepada kita. Ia berkobar-kobar oleh api yang keluar dari takhta ALLAH di dalam
melayani TUHAN, melayani pekerjaan TUHAN, taat sampai mati bahkan sampai mati
di atas kayu salib, dan sesaat lagi kita akan melihat hal itu.
Jangan kita
menutup mata, tetapi marilah dengan mata yang terbuka melihat semua yang
terjadi ini, supaya kelak jangan ada dalam penyesalan sama seperti Esau, ia
ditolak, sebab tidak ada lagi kesempatan untuk mendapatkan berkat yang satu
itu. Ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki
kesalahannya, sekalipun dia mencari dengan mencucurkan air mata (Ibrani
12:17). TUHAN masih memberi kesempatan kepada kita dan kesempatan adalah
kemurahan TUHAN, dan kemurahan TUHAN adalah panjang sabarnya TUHAN. Kita hargai
panjang sabarnya TUHAN yang keluar dari salib, itulah tongkat. Tetapi, kalau
panjang sabar TUHAN tidak kita hargai, maka tongkat (kemurahan TUHAN) akan
berubah menjadi kutuk.
Minggu lalu
juga kita sudah melihat, pada saat antikris menjadi raja, ia akan memerintah
selama 3½ tahun di atas muka bumi ini. Pada saat itu mereka (antikris) sudah
merampas korban sehari-hari dari Panglima balatentara, kemudian merobohkan
kemah kediaman / benteng pertahanan. Pada saat itu tidak ada lagi korban
sembelihan, korban santapan, tidak ada lagi ibadah dan pelayanan yang
disertai dengan sangkal diri dan salib, tidak ada lagi kesempatan untuk
mendapat pertolongan. Di situ tidak ada lagi korban santapan itulah Pengajaran
Firman ALLAH yang murni dan benar, Firman Pengajaran yang rahasianya dibukakan,
ayat menerangkan ayat, ayat satu dijelaskan oleh ayat yang lain, sehingga,
seseorang tidak lagi mengalami penyucian. Tetapi kita sudah melihat pada minggu
yang lalu, kalau di bumi tidak ada lagi kesaksian, TUHAN akan menyatakan
kesaksian dari langit, sebab TUHAN menurunkan dua saksi; yang setia dan yang
benar, itulah kedua kaki dian dan kedua pohon zaitun terukir
di sebelah kiri dan sebelah kanan kaki dian itu, itulah Musa dan Elia.
Mereka akan memberi satu kesaksian, dan kesaksian mereka begitu dahsyat / luar
biasa dan itu adalah tanda perhatian untuk menolong gereja yang tertinggal.
Pada saat
antikris berkuasa, di situ ada suatu siksaan yang begitu dahsyat, aniaya yang
begitu berat dan yang menjadi sasarannya adalah gereja yang tertinggal. Tidak
ada yang sanggup menahan siksaan yang begitu berat itu, tetapi, kalau kita
bertahan, kita akan tertolong. Oleh sebab itu, TUHAN masih memperhatikan gereja
yang tertinggal, TUHAN kirimkan kesaksian dari langit, kesaksian dari Sorga,
itulah Musa dan Elia. Itu sebabnya kita semua harusnya tekun dalam tiga macam
ibadah pokok, sebab lewat ketekunan tiga macam ibadah pokok di situ TUHAN Yesus
Kristus tampil sebagai Imam Besar Agung dan memimpin ibadah kita sampai kepada
2 (dua) klimaks:
-
Menjadi sidang mempelai
wanita TUHAN
-
Doa penyembahan
(penyerahan diri sepenuhnya untuk taat kepada kehendak ALLAH Bapa)
Tetapi,
kalaupun gereja TUHAN tidak sampai kepada 2 (dua) klimaks, disebutlah itu
dengan gereja yang tertinggal berada dalam siksaan yang dahsyat atau aniaya antikris.
Gereja yang
tertinggal itu nampak dengan jelas dalam Wahyu 11:2 --- Tetapi
kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, = Halaman. Gereja
halaman adalah gereja jalan-jalan; jalan sana, jalan sini, masuk gereja sana,
masuk gereja sini.
TUHAN
berkata kepada dua saksi; “Janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah
diberikan kepada bangsa-bangsa lain” itulah antikris, lalu antikris akan
menginjak-injak kota suci 42 bulan lamanya atau 3½ tahun.
Itu
sebabnya, manfaatkan kesempatan yang ada ini. Ketekunan tiga macam ibadah
pokok, itu datang langsung dari Sorga dan sekarang ini kita menjalankan ibadah
menurut pola Tabernakel / pola kerajaan Sorga, bukan menurut pola / buatan
tangan manusia. Sekarang ini banyak ibadah dengan buatan tangan manusia, ada
yang berkata; “ibadah dua jam saja”, “ibadah lima jam saja”, ditentukan oleh
manusia itu sendiri, tetapi ibadah kita ditentukan oleh pola Tabernakel.
Jadi, sekali
lagi saya tegaskan, yang diukur itu menurut pola Tabernakel sebagaimana dalam Wahyu
11:1:
-
Bait Suci -> Pengudusan hingga sempurna.
-
Mezbah itulah ibadah dan pelayanan disertai dengan
sangkal diri dan pikul salib sampai berdarah-darah.
-
Mereka yang beribadah di
dalamnya (tekun dalam tiga macam
ibadah pokok).
Saudara,
kalau kita berbicara tentang BAIT SUCI, itu dimulai dari RUANGAN SUCI sampai
RUANGAN MAHA SUCI, berarti; harus tekun dalam tiga macam ibadah pokok sampai
nanti TUHAN membawa kita kepada dua klimaks itulah Tabut Perjanjian (gereja
sempurna) dan Cawan Pembakaran Emas (doa penyembahan),
Kemudian
dalam Wahyu 11:3 --- Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku,
supaya mereka bernubuat sambil berkabung, berarti; rela menderita.
Kesaksian Yesus adalah roh nubuat, jadi kesaksian Yesus ini diceritakan oleh
mereka untuk menguatkan gereja yang tertinggal. Kalau sudah selesai, mereka
akan mati (Wahyu 11:7), lalu dunia berpesta pora, dunia serasa mengalami
suatu kemenangan, padahal hal itu terjadi karena seizin TUHAN (Wahyu
11:10-11).
Mari
saudara, gunakanlah kesempatan yang ada ini, karena kesempatan yang ada ini
keluar dari tongkat itulah salib, itulah panjang sabarnya TUHAN. Kalau kita
tidak menghargai panjang sabar TUHAN, maka tongkat akan berubah menjadi kutuk
dan TUHAN menulahi Mesir dengan 10 tulah, itulah kutuk.
Sekarang
kita akan masuk pada ayat yang baru. Akan tetapi, tetaplah berdoa dalam roh,
mohon kemurahan TUHAN, supaya Firman yang disampaikan itu meneguhkan setiap
hati kita masing-masing.
Wahyu 19:12
(19:12) Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas
kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama
yang tidak diketahui seorang pun, kecuali Ia sendiri.
Di sini kita perhatikan kalimat: mata-Nya bagaikan nyala
api.
Pendeknya, dari mata-Nya terpancar suatu kewibawaan yang
luar biasa.
Saudara, hal ini ada kaitannya dengan jabatan-Nya sebagai
Raja di atas segala raja. Lagi pula, di atas kepala-Nya terdapat banyak
mahkota. Jabatan-Nya sebagai Raja, sebenarnya sudah diperlihatkan kepada
Daniel dalam sebuah mimpi.
Mari kita menelusuri hal itu dalam…
Daniel 7:1, 9
(7:1) Pada tahun
pertama pemerintahan Belsyazar, raja Babel, bermimpilah Daniel dan
mendapat penglihatan-penglihatan di tempat tidurnya. Lalu dituliskannya mimpi
itu, dan inilah garis besarnya: (7:9) Sementara aku terus melihat,
takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih
seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala
api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar;
Kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang
berkobar-kobar.
Biarlah kiranya api pentakosta itu menguasai kehidupan kita
masing-masing, sehingga kita berkobar-kobar di tengah ibadah dan pelayanan kita
di hari-hari terakhir ini.
Pendeknya, di sini kita melihat…
-
Rasul Yohanes melihat mata-Nya bagaikan nyala api
-
Sedangkan Daniel
melihat kursi-Nya dari nyala api
Itu berarti, di sini ada hubungan yang kuat antara MATA
dengan KURSI. Kursi 🡪 takhta ALLAH.
Perlu untuk diketahui:
Yang menjadi kursi / takhta Kristus di tengah-tengah
sidang jemaat adalah aktivitas ibadah dan pelayanan yang berkobar-kobar,
karena rodanya dari api yang berkobar-kobar.
Jadi, beribadah harus dengan api yang berkobar-kobar.
Imam-imam melayani TUHAN dengan api yang berkobar-kobar. Sidang jemaat saat
dengar Firman TUHAN, harus dengan api yang berkobar-kobar, jangan turuti
pikiran yang tidak menentu.
Jadi, kalau kita diajak / dilibatkan untuk melayani TUHAN
dan melayani pekerjaan TUHAN, itu bukan suatu penghinaan, bukan berarti harkat
dan martabat kita menjadi turun dan rendah. Tetapi itu merupakan suatu
penghormatan yang diberikan TUHAN kepada manusia. Orang yang melayani TUHAN
dihormati manusia dan dihormati TUHAN (Roma 14:18).
Jangan kabur saat diajak untuk terlibat melayani TUHAN dan
melayani pekerjaan TUHAN, justru TUHAN mau angkat harkat dan martabat kita, TUHAN
mau kasih penghormatan setinggi-tingginya kepada manusia.
Bayangkan saja, manusia sudah jatuh dalam dosa, dan dosa itu
sudah menjalar ke dalam dunia (Roma 5:12). Berarti; tangan manusia sudah
kotor, tetapi meskipun demikian, tangan manusia yang kotor itu dipercaya oleh TUHAN
untuk memegang pekerjaan TUHAN yang suci, bukankah itu kemurahan TUHAN yang
besar? Namun, seringkali manusia memilih-milih pekerjaan TUHAN yang cocok
di hatinya dan mencari zona kenyamanan. Kalau pekerjaan TUHAN itu berat
baginya, dia tinggalkan, tetapi kalau cocok dengan dagingnya, itu yang dipilih.
Seringkali manusia memilih-milih pekerjaan TUHAN, padahal,
pekerjaan apapun dan sekecil apapun, kalau itu datangnya dari api, takhta ALLAH
(takhta Sorgawi) akan membangkitkan suatu penghormatan dari ALLAH kepada
manusia itu sendiri yang sebenarnya hina, tak berarti. Camkanlah hal ini dengan
baik, jangan suka memilih-milih, diberi kesempatan melayani saja sudah
bersyukur, sebab tangan kita sudah banyak kotornya.
Oleh sebab itu, sebagai pemimpin sidang jemaat, dengan hati
yang tulus disertai dengan kerendahan di hati, mohonlah; kalau kita mengikuti TUHAN,
jangan dari tempat yang jauh. Tetapi, biarlah kita dipanaskan oleh TUHAN,
dipanaskan oleh api Roh Kudus supaya kita berkobar-kobar di tengah ibadah dan
pelayanan. Sebab di atas tadi sudah kita lihat mata-Nya bagaikan nyala api, berarti;
Dia sedang menyoroti ibadah dan pelayanan, menyoroti hati kita yang terlihat
dari luar nampaknya bagus / hebat, tetapi TUHAN mau lihat sampai kedalaman
hatinya, apakah pekerjaan ini dikerjakan oleh api yang keluar dari takhta ALLAH
atau bukan.
Jangan seperti Petrus, mengikuti TUHAN hanya dari jauh,
akibatnya nanti fatal sekali. Bukankah TUHAN telah menyerahkan diri-Nya
karena Dia berkobar-kobar mengasihi kita?
Mari kita lihat hal itu dalam…
Lukas 22:54 --- Perikop: “Petrus menyangkal Petrus”
(22:54) Lalu Yesus
ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar.
Dan Petrus mengikut dari jauh.
Yesus ditangkap di Taman Getsemani, lalu digiring / dibawa
untuk dihakimi di Mahkamah Agama. Tetapi, sekalipun demikian, Yesus menyerahkan
diri-Nya, tidak ada perbantahan sedikitpun, Dia tidak memilih zona kenyamanan.
Hal ini menandakan kepada kita bahwa Yesus betul-betul berkobar-kobar untuk
mengasihi kita, bahkan mengasihi seluruh dunia ini. Buktinya; Dia rela
menyerahkan nyawa, Dia tidak pilih-pilih pekerjaan TUHAN, kalau memang harus
diserahkan, Dia rela serahkan diri-Nya, tidak berbantah-bantah, tidak
memberontak, tidak lari dari sana.
Tetapi Petrus, hanya mengikuti TUHAN dari jauh. Kalau kita
mengikuti TUHAN dengan pengikutan yang tepat, maka api yang sama yang membakar TUHAN
sehingga berkobar-kobar melayani TUHAN, maka itu juga yang akan kita alami.
Tetapi Petrus mengikuti TUHAN hanya dari jauh, dia tidak merasakan api yang
membakar hidupnya, sehingga ia tidak berkobar-kobar dalam melayani TUHAN.
Saudara yang datang ke tempat ini untuk apa? Hanya cari
perempuan, cari pekerjaan atau cari kerajaan Sorga? Kalau
tujuannya lain dari pada kerajaan Sorga, maka tidak ada artinya kita datang
beribadah kepada TUHAN, justru menambah dosa dan kenajisan. Ibadah Taurat
justru menajiskan seseorang, tidak berkobar-kobar dalam melayani TUHAN dan itu
berakibat fatal.
Lukas 22:55-56
(22:55) Di
tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk
mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka. (22:56)
Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya, lalu
berkata: "Juga orang ini bersama-sama dengan Dia."
Di sini kita melihat, Petrus memanaskan dirinya bukan dengan
api TUHAN, bukan dari api yang keluar dari takhta Sorgawi (kursi ALLAH),
tetapi, dengan api dunia bersama-sama dengan dunia dan hal ini tentu saja
berakibat fatal.
Kalau kita mengikuti TUHAN hanya dari jauh, kita hanya mau
dipanaskan oleh api dunia, tidak mau dipanaskan oleh api yang keluar dari kursi
/ takhta ALLAH. Hal itu membuat kerohanian kita menggelinding dari atas ke
bawah / dari gunung sampai ke hilir, sampai akhirnya, tidak lagi mengalami
kehangatan, yang ada kedinginan.
Semestinya, dimana TUHAN berada di situ seorang pelayan juga
ada, supaya api yang sama membakar hidupnya dan ia berkobar-kobar dalam
melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN. Tetapi sangat disayangkan, Petrus
hanya mengikuti TUHAN dari jauh dan juga dipanaskan oleh api dunia
bersama-sama dengan dunia.
Jangan tinggalkan ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok,
jangan memanaskan diri dengan api dunia bersama dengan manusia duniawi, tidak
ada artinya semua itu. Gunakan akal sehat yang sudah diberkati oleh TUHAN.
Lukas 22:57-60
(22:57) Tetapi
Petrus menyangkal, katanya: "Bukan, aku tidak kenal Dia!" (22:58)
Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: "Engkau
juga seorang dari mereka!" Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku
tidak!" (22:59) Dan kira-kira sejam kemudian seorang lain
berkata dengan tegas: "Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia,
sebab ia juga orang Galilea." (22:60) Tetapi Petrus berkata: "Bukan,
aku tidak tahu apa yang engkau katakan." Seketika itu juga, sementara
ia berkata, berkokoklah ayam.
Mengikut TUHAN hanya dari jauh berakibat fatal, sebab pada
akhirnya Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali.
-
Penyangkalan pertama,
Petrus berkata: "Bukan, aku tidak kenal Dia!"
-
Penyangkal kedua, Petrus
berkata: “Bukan, aku tidak!”
-
Penyangkalan ketiga,
Petrus berkata: “Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan."
Inilah resiko kalau kita mengikuti TUHAN dari jauh, dan memanaskan
diri dengan api dunia bersama-sama dengan dunia; tidak mengakui Yesus dan
salib-Nya.
Saudara, kalau kita hanya mengakui berkat-berkat (rejeki)
yang kita terima, apalah artinya kita hidup kalau kita menyangkal Yesus dan
salib-Nya. Kalau kita mengikuti Yesus hanya supaya dapat pekerjaan, apalah arti
hidup itu. Kita menjadi berarti jelas karena Yesus, karena salib-Nya, itu yang
membuat kita berharga. Manusia tidak berharga sebelum Yesus menderita sengsara
dan mati di kayu salib, manusia hanya seperti lumpur dan sampah. Tetapi TUHAN
berkobar-kobar, berapi-api mengasihi saya dan saudara, bahkan dunia ini, karena
apinya keluar dari takhta / kursi-Nya. Masakan kita masih mau berdiang
(memanaskan diri) dari api yang datang dari dunia ini, itu keterlaluan. Hal ini
harus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh.
Jangan cari zona kenyamanan, jangan pilih-pilih pekerjaan TUHAN
lagi, jangan mengikuti TUHAN hanya dari jauh, tetapi; dimana TUHAN berada,
di situ pelayan-pelayan TUHAN berada, supaya nanti api yang sama membakar
kehidupan kita, supaya kita berkobar-kobar dalam melayani TUHAN dan melayani
pekerjaan TUHAN. Seberat dan sebesar apapun, semua itu dapat kita tanggung
bersama dengan Dia, seperti Zerubabel (Zakharia 4:6). Berbanding
terbalik dengan Simon Petrus, justru menyangkal pribadi yang telah menderita
sengsara dan mati di kayu salib, di tangannya tidak ada Batu Utama seperti
Zerubabel yang ditangannya ada Batu Utama. Kalau seorang pemimpin di tangannya
ada Batu Utama, orang-orang akan berkata; “Bagus! Bagus ekali batu itu!” Dan
tanpa saudara sadari, saudara sudah berkata hal itu, dengan bukti; kita
mengerjakan pekerjaan TUHAN baik itu Natal PPT atau Paskah PPT. Kita
mengerjakan itu, itu berarti kita juga turut berkata; “Bagus! Bagus ekali
batu itu!”
Yesus adalah batu penjuru, Ia telah menderita sengsara dan
mati di atas kayu salib, biarlah itu ada di dalam kita, jangan kita menyangkal
Yesus dan salib-Nya, jangan mengikut Yesus hanya dari jauh.
Kita kembali membaca…
Daniel 7:9
(7:9) Sementara
aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya;
pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba;
kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar;
Kalau kita melayani TUHAN dengan nyala api yang keluar dari
takhta ALLAH / kursi dari Sorga, maka kita akan berkobar-kobar di tengah ibadah
dan pelayanan. Tidak ada yang bisa menghalangi, bahkan gunung besar pun tidak
dapat menghalangi, justru menjadi rata.
Kemudian di sini kita melihat, “Roda-roda-Nya dari api
yang berkobar-kobar.”
Kalau kita bicara roda-roda, berarti ada suatu kegiatan /
aktivitas / pergerakan. Jadi, pelayanan itu tidak stuck, tetapi terus bergerak,
terus maju sesuai dengan kehendak ALLAH, sesuai dengan pimpinan dari Roh Kudus.
Jadi, model pelayanan di Sorga; semakin banyak melayani TUHAN,
semakin dipanaskan oleh api Roh. Tetapi, semakin kita jauh, persis seperti
kerohanian yang menggelinding dari gunung ke bawah / lembah, sehingga mengalami
rasa dingin saja.
Sekali lagi saya sampaikan, kalau kita banyak melayani TUHAN,
maka kita semakin dipanaskan oleh api Roh TUHAN, maka di situlah tanpak suatu
pergerakan dan kerohanian kita semakin maju bukan turun (naik bukan turun,
kepala bukan ekor).
Demikianlah pribadi Musa di dalam melayani TUHAN dan
pekerjaan TUHAN, dimulai dengan nyala api.
Mari kita lihat..
Keluaran 3:1
(3:1) Adapun
Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian.
Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun,
sampailah ia ke gunung ALLAH, yakni gunung Horeb.
Saudara, saya merindu kiranya kita sekaliannya di sebrangkan
dari padang gurun dunia ini sampai ke gunung ALLAH yakni; gunung Horeb. Di
sanalah Musa menerima petunjuk dari ALLAH itulah pola Tabernakel.
Jadi, mau tidak mau, kita semua harus digembalakan oleh
Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel, supaya nanti diseberangkan dari
dunia ini lalu ada di gunung ALLAH, berada dalam 2 (dua) klimaks;
-
Tabut perjanjian ->
Mempelai Wanita TUHAN.
-
Cawan pembakaran ukupan
emas (doa penyembahan)
Itu yang TUHAN rindukan dan kita juga merindu akan hal
itu.
Keluaran 3:2
(3:2) Lalu
Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar
dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi
tidak dimakan api
Jadi Musa memulai pelayanan dengan nyala api.
Keluaran 3:4
(3:4) Ketika
dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah ALLAH dari
tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia
menjawab: "Ya, ALLAH.”
Musa adalah hamba TUHAN yang taat, setia, dengar-dengaran.
Keluaran 3:5
(3:5) Lalu Ia
berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari
kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.
Sebetulnya tanah di Israel (tanah perjanjian), dengan tanah
di Serang ini; tidak ada bedanya. Yang menjadi pembeda tanah di sana dengan
tanah di sini adalah “hadirat ALLAH”.
Singkat kata TUHAN berfirman kepada Musa: tanggalkanlah
kasutmu dari kakimu.
Kasut berbicara tentang pendirian yang lama. Apa
pendirian Musa yang lama?
1.
40 tahun dari Mesir, ia mendapat pengetahuan dari Mesir, dari
Puteri Firaun. Tetapi kegagalan terjadi, dengan bukti; ketika dua orang Israel
bertengkar ia datang untuk mencoba memisah. Tetapi orang Israel berkata; kamu
telah membunuh orang dan kubur di dalam pasir. Karena ia ketakutan, itulah yang
membuat di lari ke Midian.
2.
40 tahun di Midian, ia menggembalakan kambing domba Yitro
mertuanya sebagai pengalaman, tetapi itu juga belum cukup.
Yang terpenting adalah kita memulai pelayanan ini dengan nyala
api, jangan mengikuti TUHAN dari jauh. Hal ini harus kita perhatikan dengan
sungguh-sungguh.
Dan akhirnya..
Keluaran 3:9-10
(3:9) Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga
telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. (3:10) Jadi
sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa
umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir."
Modal
utama di tengah-tengah pengutusan adalah nyala api, biarlah terus membakar kita
supaya kita terus berkobar-kobar dalam beribadah dan melayani TUHAN serta
pekerjaan TUHAN sampai TUHAN datang pada kali kedua. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA
MEMBERKATI
Pemberita Firman;
Gembala sidang: Pdt. Daniel U. Sitohang
No comments:
Post a Comment