KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Thursday, January 1, 2026

IBADAH RAYA MINGGU, 21 DESEMBER 2025

 


IBADAH RAYA MINGGU, 21 DESEMBER 2025

 

WAHYU 19:12

(SERI 2)

Subtema: MATANYA BAGAIKAN NYALA API (Seri 1)

 

Mula pertama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya kita sekaliannya dihimpunkan di atas gunung TUHAN yang kudus, sehingga kita boleh datang menghadap Dia lewat Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian dari zangkoor.

 

Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN, umat tebusan TUHAN yang turut bergabung secara lewat online / live streaming / video internet baik dari Youtube, maupun Facebook atau media sosial lainnya yang dapat digunakan atau diakses. Kiranya damai sejahtera dari ALLAH memenuhi ruangan ini dan hati kita masing-masing untuk memberi sukacita dan kita bahagia saat menikmati Sabda ALLAH.

 

Saudara, kita sudah berada pada penghujung tahun 2025 dan itu artinya kita sebentar lagi (beberapa hari ke depan) akan meninggalkan tahun 2025 (menjadi tahun yang lama). Selanjutnya kita akan memasuki tahun 2026, sebagai tahun yang baru, jika TUHAN menghendaki. Kalau kita berada pada tahun yang baru, berarti sama artinya kita berada pada wadah yang baru. Kalau kita ada di wadah yang baru, maka kita semestinya harus menjadi kehidupan yang baru, itu berarti sudah mengalami pembaharuan demi pembaharuan, manusia batiniah kita dibaharui dari sehari ke sehari, maka, pada saat itu juga manusia lahiriah kita merosot. Namun, hal itu tidak menjadi masalah karena kerinduan kita adalah suatu perkara yang tidak dapat dilihat mata manusia itulah kerajaan Sorga.

Ketika manusia batiniah (daging) dibaharui, maka di situ kita banyak menanggung penderitaan demi penderitaan, namun tidak jadi soal, sebab yang kita rindukan adalah kerajaan Sorga. Bahkan dalam 2 Korintus 4:17 --- “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” Kemudian Paulus berkata juga dalam 2 Korintus 4:18 --- Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. Jadi, jangan sibuk berusaha / berjuang untuk merebut yang sifatnya sementara. Tetapi, marilah kita bersama-sama berjuang untuk merebut yang sifatnya “abadi” itulah Kerajaan Sorga. Di situ nanti mengalami kebahagiaan yang tak terkira bersama dengan Dia selama-lamanya di dalam Kerajaan Sorga. Inilah yang sedang kita perjuangkan.

 

Kemudian, hari-hari ini adalah hari-hari terakhir dan perjalanan rohani kita sudah berada pada mil-mil yang terakhir. Alkitab berkata dalam Wahyu 21:1-2 -- Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari ALLAH, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.

Jadi saudara, kalau kita sadar bahwa hari-hari ini adalah hari-hari terakhir, maka, sudah seharusnya kita menyerahkan diri ke dalam tangan TUHAN, supaya kita memiliki perhiasan-perhiasan rohani, sebab TUHAN hendak mendandani kerohanian kita. Sebab, akhir dari perjalanan rohani kita adalah kelak berada pada perjamuan malam pesta kawin Anak Domba. Itu sebabnya hari-hari terakhir ini sudah seharusnya kita sibuk menyerahkan diri ke dalam tangan TUHAN, sibuk memperhatikan ibadah dan pelayanan kita, maka disitu nanti TUHAN memperhias kehidupan kita, sehingga kehidupan rohani kita semakin indah di mata TUHAN.

 

Saya juga tetap menghimbau, jangan kita menutup mata, tetapi marilah dengan mata terbuka melihat semua yang terjadi ini. Fenomena yang terjadi di Sumatera bukanlah suatu kebetulan, tetapi itu adalah suatu tanda / sinyal / peringatan keras bagi kita supaya di hari-hari terakhir ini, kita semakin sungguh-sungguh menyerahkan diri dan semakin mendekat kepada TUHAN. Kalau kita jauh dari TUHAN atau mengikuti TUHAN tetapi “dari tempat jauh”, bagaimana TUHAN dapat menolong kita?

Sebetulnya TUHAN mau menolong kita, akan tetapi seringkali kita mengikuti TUHAN dari tempat yang jauh seperti Petrus. TUHAN begitu besar mengasihi kita, berkobar-kobar. Itu sebabnya Dia menyerahkan diri-Nya, Ia rela mati bagi kita, karena kasih-Nya kepada kita. Ia berkobar-kobar oleh api yang keluar dari takhta ALLAH di dalam melayani TUHAN, melayani pekerjaan TUHAN, taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib, dan sesaat lagi kita akan melihat hal itu.

 

Jangan kita menutup mata, tetapi marilah dengan mata yang terbuka melihat semua yang terjadi ini, supaya kelak jangan ada dalam penyesalan sama seperti Esau, ia ditolak, sebab tidak ada lagi kesempatan untuk mendapatkan berkat yang satu itu. Ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun dia mencari dengan mencucurkan air mata (Ibrani 12:17). TUHAN masih memberi kesempatan kepada kita dan kesempatan adalah kemurahan TUHAN, dan kemurahan TUHAN adalah panjang sabarnya TUHAN. Kita hargai panjang sabarnya TUHAN yang keluar dari salib, itulah tongkat. Tetapi, kalau panjang sabar TUHAN tidak kita hargai, maka tongkat (kemurahan TUHAN) akan berubah menjadi kutuk.

 

Minggu lalu juga kita sudah melihat, pada saat antikris menjadi raja, ia akan memerintah selama 3½ tahun di atas muka bumi ini. Pada saat itu mereka (antikris) sudah merampas korban sehari-hari dari Panglima balatentara, kemudian merobohkan kemah kediaman / benteng pertahanan. Pada saat itu tidak ada lagi korban sembelihan, korban santapan, tidak ada lagi ibadah dan pelayanan yang disertai dengan sangkal diri dan salib, tidak ada lagi kesempatan untuk mendapat pertolongan. Di situ tidak ada lagi korban santapan itulah Pengajaran Firman ALLAH yang murni dan benar, Firman Pengajaran yang rahasianya dibukakan, ayat menerangkan ayat, ayat satu dijelaskan oleh ayat yang lain, sehingga, seseorang tidak lagi mengalami penyucian. Tetapi kita sudah melihat pada minggu yang lalu, kalau di bumi tidak ada lagi kesaksian, TUHAN akan menyatakan kesaksian dari langit, sebab TUHAN menurunkan dua saksi; yang setia dan yang benar, itulah kedua kaki dian dan kedua pohon zaitun terukir di sebelah kiri dan sebelah kanan kaki dian itu, itulah Musa dan Elia. Mereka akan memberi satu kesaksian, dan kesaksian mereka begitu dahsyat / luar biasa dan itu adalah tanda perhatian untuk menolong gereja yang tertinggal.

 

Pada saat antikris berkuasa, di situ ada suatu siksaan yang begitu dahsyat, aniaya yang begitu berat dan yang menjadi sasarannya adalah gereja yang tertinggal. Tidak ada yang sanggup menahan siksaan yang begitu berat itu, tetapi, kalau kita bertahan, kita akan tertolong. Oleh sebab itu, TUHAN masih memperhatikan gereja yang tertinggal, TUHAN kirimkan kesaksian dari langit, kesaksian dari Sorga, itulah Musa dan Elia. Itu sebabnya kita semua harusnya tekun dalam tiga macam ibadah pokok, sebab lewat ketekunan tiga macam ibadah pokok di situ TUHAN Yesus Kristus tampil sebagai Imam Besar Agung dan memimpin ibadah kita sampai kepada 2 (dua) klimaks:

-          Menjadi sidang mempelai wanita TUHAN

-          Doa penyembahan (penyerahan diri sepenuhnya untuk taat kepada kehendak ALLAH Bapa)

Tetapi, kalaupun gereja TUHAN tidak sampai kepada 2 (dua) klimaks, disebutlah itu dengan gereja yang tertinggal berada dalam siksaan yang dahsyat atau aniaya antikris.

Gereja yang tertinggal itu nampak dengan jelas dalam Wahyu 11:2 --- Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, = Halaman. Gereja halaman adalah gereja jalan-jalan; jalan sana, jalan sini, masuk gereja sana, masuk gereja sini.

TUHAN berkata kepada dua saksi; “Janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain” itulah antikris, lalu antikris akan menginjak-injak kota suci 42 bulan lamanya atau 3½ tahun.

Itu sebabnya, manfaatkan kesempatan yang ada ini. Ketekunan tiga macam ibadah pokok, itu datang langsung dari Sorga dan sekarang ini kita menjalankan ibadah menurut pola Tabernakel / pola kerajaan Sorga, bukan menurut pola / buatan tangan manusia. Sekarang ini banyak ibadah dengan buatan tangan manusia, ada yang berkata; “ibadah dua jam saja”, “ibadah lima jam saja”, ditentukan oleh manusia itu sendiri, tetapi ibadah kita ditentukan oleh pola Tabernakel.

 

Jadi, sekali lagi saya tegaskan, yang diukur itu menurut pola Tabernakel sebagaimana dalam Wahyu 11:1:

-          Bait Suci -> Pengudusan hingga sempurna.

-          Mezbah itulah ibadah dan pelayanan disertai dengan sangkal diri dan pikul salib sampai berdarah-darah.

-          Mereka yang beribadah di dalamnya (tekun dalam tiga macam ibadah pokok).

 

Saudara, kalau kita berbicara tentang BAIT SUCI, itu dimulai dari RUANGAN SUCI sampai RUANGAN MAHA SUCI, berarti; harus tekun dalam tiga macam ibadah pokok sampai nanti TUHAN membawa kita kepada dua klimaks itulah Tabut Perjanjian (gereja sempurna) dan Cawan Pembakaran Emas (doa penyembahan),

 

Kemudian dalam Wahyu 11:3 --- Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, berarti; rela menderita. Kesaksian Yesus adalah roh nubuat, jadi kesaksian Yesus ini diceritakan oleh mereka untuk menguatkan gereja yang tertinggal. Kalau sudah selesai, mereka akan mati (Wahyu 11:7), lalu dunia berpesta pora, dunia serasa mengalami suatu kemenangan, padahal hal itu terjadi karena seizin TUHAN (Wahyu 11:10-11).

 

Mari saudara, gunakanlah kesempatan yang ada ini, karena kesempatan yang ada ini keluar dari tongkat itulah salib, itulah panjang sabarnya TUHAN. Kalau kita tidak menghargai panjang sabar TUHAN, maka tongkat akan berubah menjadi kutuk dan TUHAN menulahi Mesir dengan 10 tulah, itulah kutuk.

 

Sekarang kita akan masuk pada ayat yang baru. Akan tetapi, tetaplah berdoa dalam roh, mohon kemurahan TUHAN, supaya Firman yang disampaikan itu meneguhkan setiap hati kita masing-masing.

 

Wahyu 19:12

(19:12) Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorang pun, kecuali Ia sendiri.

 

Di sini kita perhatikan kalimat: mata-Nya bagaikan nyala api.

Pendeknya, dari mata-Nya terpancar suatu kewibawaan yang luar biasa.

 

Saudara, hal ini ada kaitannya dengan jabatan-Nya sebagai Raja di atas segala raja. Lagi pula, di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota. Jabatan-Nya sebagai Raja, sebenarnya sudah diperlihatkan kepada Daniel dalam sebuah mimpi.

 

Mari kita menelusuri hal itu dalam…

Daniel 7:1, 9

(7:1) Pada tahun pertama pemerintahan Belsyazar, raja Babel, bermimpilah Daniel dan mendapat penglihatan-penglihatan di tempat tidurnya. Lalu dituliskannya mimpi itu, dan inilah garis besarnya: (7:9) Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar;

 

Kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar.

Biarlah kiranya api pentakosta itu menguasai kehidupan kita masing-masing, sehingga kita berkobar-kobar di tengah ibadah dan pelayanan kita di hari-hari terakhir ini.

 

Pendeknya, di sini kita melihat…

-          Rasul Yohanes melihat mata-Nya bagaikan nyala api

-          Sedangkan Daniel melihat kursi-Nya dari nyala api

Itu berarti, di sini ada hubungan yang kuat antara MATA dengan KURSI. Kursi 🡪 takhta ALLAH.

 

Perlu untuk diketahui:

Yang menjadi kursi / takhta Kristus di tengah-tengah sidang jemaat adalah aktivitas ibadah dan pelayanan yang berkobar-kobar, karena rodanya dari api yang berkobar-kobar.

Jadi, beribadah harus dengan api yang berkobar-kobar. Imam-imam melayani TUHAN dengan api yang berkobar-kobar. Sidang jemaat saat dengar Firman TUHAN, harus dengan api yang berkobar-kobar, jangan turuti pikiran yang tidak menentu.

 

Jadi, kalau kita diajak / dilibatkan untuk melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN, itu bukan suatu penghinaan, bukan berarti harkat dan martabat kita menjadi turun dan rendah. Tetapi itu merupakan suatu penghormatan yang diberikan TUHAN kepada manusia. Orang yang melayani TUHAN dihormati manusia dan dihormati TUHAN (Roma 14:18).

Jangan kabur saat diajak untuk terlibat melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN, justru TUHAN mau angkat harkat dan martabat kita, TUHAN mau kasih penghormatan setinggi-tingginya kepada manusia.

 

Bayangkan saja, manusia sudah jatuh dalam dosa, dan dosa itu sudah menjalar ke dalam dunia (Roma 5:12). Berarti; tangan manusia sudah kotor, tetapi meskipun demikian, tangan manusia yang kotor itu dipercaya oleh TUHAN untuk memegang pekerjaan TUHAN yang suci, bukankah itu kemurahan TUHAN yang besar? Namun, seringkali manusia memilih-milih pekerjaan TUHAN yang cocok di hatinya dan mencari zona kenyamanan. Kalau pekerjaan TUHAN itu berat baginya, dia tinggalkan, tetapi kalau cocok dengan dagingnya, itu yang dipilih.

 

Seringkali manusia memilih-milih pekerjaan TUHAN, padahal, pekerjaan apapun dan sekecil apapun, kalau itu datangnya dari api, takhta ALLAH (takhta Sorgawi) akan membangkitkan suatu penghormatan dari ALLAH kepada manusia itu sendiri yang sebenarnya hina, tak berarti. Camkanlah hal ini dengan baik, jangan suka memilih-milih, diberi kesempatan melayani saja sudah bersyukur, sebab tangan kita sudah banyak kotornya.

 

Oleh sebab itu, sebagai pemimpin sidang jemaat, dengan hati yang tulus disertai dengan kerendahan di hati, mohonlah; kalau kita mengikuti TUHAN, jangan dari tempat yang jauh. Tetapi, biarlah kita dipanaskan oleh TUHAN, dipanaskan oleh api Roh Kudus supaya kita berkobar-kobar di tengah ibadah dan pelayanan. Sebab di atas tadi sudah kita lihat mata-Nya bagaikan nyala api, berarti; Dia sedang menyoroti ibadah dan pelayanan, menyoroti hati kita yang terlihat dari luar nampaknya bagus / hebat, tetapi TUHAN mau lihat sampai kedalaman hatinya, apakah pekerjaan ini dikerjakan oleh api yang keluar dari takhta ALLAH atau bukan.

 

Jangan seperti Petrus, mengikuti TUHAN hanya dari jauh, akibatnya nanti fatal sekali. Bukankah TUHAN telah menyerahkan diri-Nya karena Dia berkobar-kobar mengasihi kita?

 

Mari kita lihat hal itu dalam…

Lukas 22:54 --- Perikop: “Petrus menyangkal Petrus”

(22:54) Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh.

 

Yesus ditangkap di Taman Getsemani, lalu digiring / dibawa untuk dihakimi di Mahkamah Agama. Tetapi, sekalipun demikian, Yesus menyerahkan diri-Nya, tidak ada perbantahan sedikitpun, Dia tidak memilih zona kenyamanan. Hal ini menandakan kepada kita bahwa Yesus betul-betul berkobar-kobar untuk mengasihi kita, bahkan mengasihi seluruh dunia ini. Buktinya; Dia rela menyerahkan nyawa, Dia tidak pilih-pilih pekerjaan TUHAN, kalau memang harus diserahkan, Dia rela serahkan diri-Nya, tidak berbantah-bantah, tidak memberontak, tidak lari dari sana.

 

Tetapi Petrus, hanya mengikuti TUHAN dari jauh. Kalau kita mengikuti TUHAN dengan pengikutan yang tepat, maka api yang sama yang membakar TUHAN sehingga berkobar-kobar melayani TUHAN, maka itu juga yang akan kita alami. Tetapi Petrus mengikuti TUHAN hanya dari jauh, dia tidak merasakan api yang membakar hidupnya, sehingga ia tidak berkobar-kobar dalam melayani TUHAN.

 

Saudara yang datang ke tempat ini untuk apa? Hanya cari perempuan, cari pekerjaan atau cari kerajaan Sorga? Kalau tujuannya lain dari pada kerajaan Sorga, maka tidak ada artinya kita datang beribadah kepada TUHAN, justru menambah dosa dan kenajisan. Ibadah Taurat justru menajiskan seseorang, tidak berkobar-kobar dalam melayani TUHAN dan itu berakibat fatal.

 

Lukas 22:55-56

(22:55) Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka. (22:56) Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya, lalu berkata: "Juga orang ini bersama-sama dengan Dia."

 

Di sini kita melihat, Petrus memanaskan dirinya bukan dengan api TUHAN, bukan dari api yang keluar dari takhta Sorgawi (kursi ALLAH), tetapi, dengan api dunia bersama-sama dengan dunia dan hal ini tentu saja berakibat fatal.

Kalau kita mengikuti TUHAN hanya dari jauh, kita hanya mau dipanaskan oleh api dunia, tidak mau dipanaskan oleh api yang keluar dari kursi / takhta ALLAH. Hal itu membuat kerohanian kita menggelinding dari atas ke bawah / dari gunung sampai ke hilir, sampai akhirnya, tidak lagi mengalami kehangatan, yang ada kedinginan.

 

Semestinya, dimana TUHAN berada di situ seorang pelayan juga ada, supaya api yang sama membakar hidupnya dan ia berkobar-kobar dalam melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN. Tetapi sangat disayangkan, Petrus hanya mengikuti TUHAN dari jauh dan juga dipanaskan oleh api dunia bersama-sama dengan dunia.

Jangan tinggalkan ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok, jangan memanaskan diri dengan api dunia bersama dengan manusia duniawi, tidak ada artinya semua itu. Gunakan akal sehat yang sudah diberkati oleh TUHAN.

 

Lukas 22:57-60

(22:57) Tetapi Petrus menyangkal, katanya: "Bukan, aku tidak kenal Dia!" (22:58) Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: "Engkau juga seorang dari mereka!" Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak!" (22:59) Dan kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas: "Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia, sebab ia juga orang Galilea." (22:60) Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan." Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.

 

Mengikut TUHAN hanya dari jauh berakibat fatal, sebab pada akhirnya Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali.

-          Penyangkalan pertama, Petrus berkata: "Bukan, aku tidak kenal Dia!"

-          Penyangkal kedua, Petrus berkata: Bukan, aku tidak!”

-          Penyangkalan ketiga, Petrus berkata: Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan."

Inilah resiko kalau kita mengikuti TUHAN dari jauh, dan memanaskan diri dengan api dunia bersama-sama dengan dunia; tidak mengakui Yesus dan salib-Nya.

 

Saudara, kalau kita hanya mengakui berkat-berkat (rejeki) yang kita terima, apalah artinya kita hidup kalau kita menyangkal Yesus dan salib-Nya. Kalau kita mengikuti Yesus hanya supaya dapat pekerjaan, apalah arti hidup itu. Kita menjadi berarti jelas karena Yesus, karena salib-Nya, itu yang membuat kita berharga. Manusia tidak berharga sebelum Yesus menderita sengsara dan mati di kayu salib, manusia hanya seperti lumpur dan sampah. Tetapi TUHAN berkobar-kobar, berapi-api mengasihi saya dan saudara, bahkan dunia ini, karena apinya keluar dari takhta / kursi-Nya. Masakan kita masih mau berdiang (memanaskan diri) dari api yang datang dari dunia ini, itu keterlaluan. Hal ini harus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh.

 

Jangan cari zona kenyamanan, jangan pilih-pilih pekerjaan TUHAN lagi, jangan mengikuti TUHAN hanya dari jauh, tetapi; dimana TUHAN berada, di situ pelayan-pelayan TUHAN berada, supaya nanti api yang sama membakar kehidupan kita, supaya kita berkobar-kobar dalam melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN. Seberat dan sebesar apapun, semua itu dapat kita tanggung bersama dengan Dia, seperti Zerubabel (Zakharia 4:6). Berbanding terbalik dengan Simon Petrus, justru menyangkal pribadi yang telah menderita sengsara dan mati di kayu salib, di tangannya tidak ada Batu Utama seperti Zerubabel yang ditangannya ada Batu Utama. Kalau seorang pemimpin di tangannya ada Batu Utama, orang-orang akan berkata; “Bagus! Bagus ekali batu itu!” Dan tanpa saudara sadari, saudara sudah berkata hal itu, dengan bukti; kita mengerjakan pekerjaan TUHAN baik itu Natal PPT atau Paskah PPT. Kita mengerjakan itu, itu berarti kita juga turut berkata; “Bagus! Bagus ekali batu itu!”

 

Yesus adalah batu penjuru, Ia telah menderita sengsara dan mati di atas kayu salib, biarlah itu ada di dalam kita, jangan kita menyangkal Yesus dan salib-Nya, jangan mengikut Yesus hanya dari jauh.

 

Kita kembali membaca…

Daniel 7:9

(7:9) Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar;

 

Kalau kita melayani TUHAN dengan nyala api yang keluar dari takhta ALLAH / kursi dari Sorga, maka kita akan berkobar-kobar di tengah ibadah dan pelayanan. Tidak ada yang bisa menghalangi, bahkan gunung besar pun tidak dapat menghalangi, justru menjadi rata.

 

Kemudian di sini kita melihat, “Roda-roda-Nya dari api yang berkobar-kobar.”

Kalau kita bicara roda-roda, berarti ada suatu kegiatan / aktivitas / pergerakan. Jadi, pelayanan itu tidak stuck, tetapi terus bergerak, terus maju sesuai dengan kehendak ALLAH, sesuai dengan pimpinan dari Roh Kudus.

Jadi, model pelayanan di Sorga; semakin banyak melayani TUHAN, semakin dipanaskan oleh api Roh. Tetapi, semakin kita jauh, persis seperti kerohanian yang menggelinding dari gunung ke bawah / lembah, sehingga mengalami rasa dingin saja.

 

Sekali lagi saya sampaikan, kalau kita banyak melayani TUHAN, maka kita semakin dipanaskan oleh api Roh TUHAN, maka di situlah tanpak suatu pergerakan dan kerohanian kita semakin maju bukan turun (naik bukan turun, kepala bukan ekor).

 

Demikianlah pribadi Musa di dalam melayani TUHAN dan pekerjaan TUHAN, dimulai dengan nyala api.

 

Mari kita lihat..

Keluaran 3:1

(3:1) Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung ALLAH, yakni gunung Horeb.

 

Saudara, saya merindu kiranya kita sekaliannya di sebrangkan dari padang gurun dunia ini sampai ke gunung ALLAH yakni; gunung Horeb. Di sanalah Musa menerima petunjuk dari ALLAH itulah pola Tabernakel.

Jadi, mau tidak mau, kita semua harus digembalakan oleh Pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel, supaya nanti diseberangkan dari dunia ini lalu ada di gunung ALLAH, berada dalam 2 (dua) klimaks;

-          Tabut perjanjian -> Mempelai Wanita TUHAN.

-          Cawan pembakaran ukupan emas (doa penyembahan)

Itu yang TUHAN rindukan dan kita juga merindu akan hal itu. 

 

Keluaran 3:2

(3:2) Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api

 

Jadi Musa memulai pelayanan dengan nyala api.

 

Keluaran 3:4

(3:4) Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah ALLAH dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, ALLAH.”

 

Musa adalah hamba TUHAN yang taat, setia, dengar-dengaran.

 

Keluaran 3:5

(3:5) Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.

 

Sebetulnya tanah di Israel (tanah perjanjian), dengan tanah di Serang ini; tidak ada bedanya. Yang menjadi pembeda tanah di sana dengan tanah di sini adalah “hadirat ALLAH”.

 

Singkat kata TUHAN berfirman kepada Musa: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu.

Kasut berbicara tentang pendirian yang lama. Apa pendirian Musa yang lama?

1.       40 tahun dari Mesir, ia mendapat pengetahuan dari Mesir, dari Puteri Firaun. Tetapi kegagalan terjadi, dengan bukti; ketika dua orang Israel bertengkar ia datang untuk mencoba memisah. Tetapi orang Israel berkata; kamu telah membunuh orang dan kubur di dalam pasir. Karena ia ketakutan, itulah yang membuat di lari ke Midian.

2.       40 tahun di Midian, ia menggembalakan kambing domba Yitro mertuanya sebagai pengalaman, tetapi itu juga belum cukup.

 

Yang terpenting adalah kita memulai pelayanan ini dengan nyala api, jangan mengikuti TUHAN dari jauh. Hal ini harus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh.

 

Dan akhirnya..

Keluaran 3:9-10

(3:9) Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. (3:10) Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir."

 

Modal utama di tengah-tengah pengutusan adalah nyala api, biarlah terus membakar kita supaya kita terus berkobar-kobar dalam beribadah dan melayani TUHAN serta pekerjaan TUHAN sampai TUHAN datang pada kali kedua. Amin.

 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

Pemberita Firman;

 

Gembala sidang: Pdt. Daniel U. Sitohang

 

 

 

No comments:

Post a Comment