KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Tuesday, July 12, 2011

IBADAH DOA PENYEMBAHAN , 12 Juli 2011

YA ABBA, YA BAPA (seri 12)

Shalom..!
Salam sejahtera, dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Oleh karena kasih Nya yang besar kita dapat kembali beribadah pada malam hari ini, dalam ibadah Doa Penyembahan.
Kembali kita melihat tema “Ya Abba, Ya Bapa”, seri 12

Roma 8: 14-15
(8:14) Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.
(8:15) Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"

Kehidupan yang dipimpin Roh Kudus disebut anak-anak Allah, berarti kalau tidak dipimpin Roh Allah, bukan lah anak Allah
Oleh Roh Kudus, kita dapat berseru “ya Abba, ya Bapa”, oleh sebab itu, biarlah seluruh kehidupan kita ini memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus sepenuhnya supaya kita dapat berseru “Ya Abba, ya Bapa”, karena tanpa Roh Kudus kita tidak dapat berseru “ya Abba, ya Bapa”.
“Ya Abba, Ya Bapa” adalah seruan dari anak-anak Tuhan kepada Allah sebagai Bapa yang baik.
Abba artinya: Bapa yang baik, yang memelihara anak-anak Nya.
Banyak sekali bapa di muka bumi ini tetapi hanya satu Bapa yang baik , Dialah Allah yang hidup, Allah yang berkuasa, Allah yang menciptakan langit dan bumi dan segala isinya.

Mari kita lihat, seruan di dalam Wahyu pasal 7
Wahyu 7: 9-10
(7:9) Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.
(7:10) Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!"

Ada seruan dari orang banyak yang tidak terhitung banyaknya, yaitu dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan takhta Anak Domba, kemudian mereka berseru.
Seruannya adalah "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!"
Seruan ini adalah seruan dari orang-orang yang diselamatkan.
Orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya adalah orang yang diselamatkan, sebab seruan mereka adalah seruan keselamatan.
Sebab itu, biarlah seruan Yesus di atas kayu salib, menggema sampai kepada kita kemudian kita bawa lewat doa penyembahan sampai kembali ke takhta Allah
Sebab itu, jangan berhenti berseru kepada Tuhan, tetapi biarlah kita terus berseru kepada Tuhan, “ya Abba, ya Bapa”

Wahyu 7: 11-12
(7:11) Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah,

Saat orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya berseru, ada 3 golongan tersungkur di hadapan takhta Allah menyembah Allah dan Anak Domba, yaitu:
1.      Malaikat
2.      24 tua-tua
3.      Keempat makhluk
Berarti seruan dari orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya, bukanlah seruan yang asal-asalan tetapi adalah seruan yang berkuasa, sehingga membuat 3 golongan itu tersungkur di hadapan takhta Allah dan takhta Anak Domba.
Sebab itu perhatikan Firman dengan sungguh-sungguh, karena bukan ijazah, bukan kemampuan, bukan harta, bukan usia yang lebih tua, yang membuat seseorang berkuasa.
Terutama bagi kita yang sudah melayani harus memiliki kuasa untuk membawa orang-orang yang di sekitar kita masuk dalam penyembahan di hadapan takhta Allah dan takhta Anak Domba.

Wahyu 7: 12
(7:12) sambil berkata: "Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!"

Ketiga golongan itu, mengaminkan seruan dari orang banyak itu, itu berarti seruan dari orang banyak itu, sangatlah berkuasa, sehingga ketiga golongan ini mengagungkan dan memuliakan dengan kata-kata puji-pujian kepada Allah.
Tetapi janganlah menyembah dengan  kepura-puraan, agar orang di sekitar kita turut mengagungkan Tuhan.

Mari kita lihat ciri-ciri orang banyak:
Wahyu 7: 9
(7:9) Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.

Selain mengenakan jubah putih ( dapat dilihat pada “YA ABBA, YA BAPA” seri 10), cirinya adalah MEREKA MEMEGANG DAUN-DAUN PALEM DI TANGAN MEREKA

Mari kita lihat daun palem dalam injil Yohanes 12
Yohanes 12: 12-13
(12:12) Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem,
(12:13) mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!"

Orang banyak mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!"
Seruan mereka, yang memegang daun-daun palem à bahwa mereka menyambut kedatangan Yesus sebagai Raja.

Dalam injil Markus (Markus 11: 1-10), dengan kisah yang sama, tidak disebutkan daun palem melainkan ranting-ranting.

Wahyu 19: 6-8
(19:6) Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.
(19:7) Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.
(19:8) Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.]

Inilah kumpulan yang banyak tadi, yaitu menyambut kedatangan Yesus sebagai Raja, sekaligus mempelai Pria sorga
Berarti mereka yang memegang daun palem adalah mereka yang sudah siap masuk pesta nikah/perjamuan kawin Anak Domba, merekalah yang menjadi pengantin perempuan Anak Domba.
Biarlah kita di hari-hari terahkhir ini, kita memegang daun palem, yaitu selalu menyongsong Yesus Kristus, sebagai Raja sekaligus mempelai Pria sorga, jangan seperti perempuan hamil (dalam 1 Tesalonika 5: 1-4) yang berkata “aman, damai”, tetapi sekali waktu kedatangan Yesus seperti pencuri menimpanya. Tetapi bagi kita yang memegang daun palem, kedatangan Yesus adalah seperti menyongsong kedatangan Raja sekaligus mempelai Pria Sorga.
Oleh sebab itu, marilah kita merendahkan diri di hadapan Tuhan agar Firman berkuasa dalam hidup kita dan seruan kita pun kepada Tuhan dapat berkuasa, sehingga orang lain pun turut mengagungkan Tuhan.

Mari kita perhatikan daun palem dan ranting-ranting, dalam Perjanjian Lama
Imamat 23: 39-43
(23:39) Akan tetapi pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu pada waktu mengumpulkan hasil tanahmu, kamu harus mengadakan perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya; pada hari yang pertama haruslah ada perhentian penuh dan juga pada hari yang kedelapan harus ada perhentian penuh.
(23:40) Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, tujuh hari lamanya.
(23:41) Kamu harus merayakannya sebagai perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya dalam setahun; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. Dalam bulan yang ketujuh kamu harus merayakannya.
(23:42) Di dalam pondok-pondok daun kamu harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun,
(23:43) supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah TUHAN, Allahmu."

Daun palem/ranting-ranting itu, digunakan untuk dijadikan pondok, itulah yang disebut hari raya pondok daun.
Hari raya pondok daun dirayakan selama 7 hari, dan selama 7 hari itu haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun dan bersukacita di hadapan Tuhan.
Hari raya pondok daun artinya: hari raya perhentian penuh untuk Tuhan

Imamat 23: 35-36
(23:35) Pada hari yang pertama haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.
(23:36) Tujuh hari lamanya kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN, dan pada hari yang kedelapan kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN. Itulah hari raya perkumpulan, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.

Perhentian penuh untuk Tuhan yaitu tidak melakukan pekerjaan yang berat di hadapan Tuhan selama 7 hari, supaya dapat melakukan segala kegiatan-kegiatan untuk Tuhan selama hari raya pondok daun.
Selama 7 hari harus berada di dalam pondok daun dan tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat, melainkan bersukaria di dalam pondok-pondok daun di hadapan Tuhan.
Sebab itu, kalau kita masih melakukan pekerjaan yang berat, biarlah kita segera menyadarinya sehingga kita senantiasa berada di dalam pondok daun, yaitu hari perhentian penuh untuk Tuhan.

Ciri-ciri  merayakan hari raya pondok daun/hari perhentian yang penuh untuk Tuhan:
Imamat 23: 35
(23:35) Pada hari yang pertama haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.

Maksud kita mengadakan perhentian penuh untuk Tuhan adalah senantiasa menguduskan diri di hadapan Tuhan, itulah yang dimaksud pertemuan kudus, sebab tanpa kekudusan/kesucian, tidak dapat melihat Allah.

Kegiatan saat merayakan hari raya pondok daun selama 7 hari di dalam pondok-pondok daun:
Imamat 23: 36
(23:36) Tujuh hari lamanya kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN, dan pada hari yang kedelapan kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN. Itulah hari raya perkumpulan, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.

Inilah kegiatan selama 7 hari di dalam pondok-pondok daun, yaitu mempersembahkan korban api-apian kepada Tuhan yang baunya menyenangkan hati Tuhan.

Imamat 23: 37
(23:37) Itulah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, yang harus kamu maklumkan sebagai hari pertemuan kudus untuk mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN, yaitu korban bakaran dan korban sajian, korban sembelihan dan korban-korban curahan, setiap hari sebanyak yang ditetapkan untuk hari itu,

Sebagai korban api-apian kepada Tuhan, setiap hari yaitu
1.      Korban bakaran
Korban bakaran -> kasih Allah Bapa

Markus 12: 30-31
(12:30) Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
(12:31) Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."

Biarlah kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan, juga mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri.
Tidak ada lagi hukum yang utama dari kedua hukum ini, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama

2.      Korban sajian
Imamat 2: 1
(2:1) "Apabila seseorang hendak mempersembahkan persembahan berupa korban sajian kepada TUHAN, hendaklah persembahannya itu tepung yang terbaik dan ia harus menuangkan minyak serta membubuhkan kemenyan ke atasnya.
Imamat 24: 5-9
(24:5) "Engkau harus mengambil tepung yang terbaik dan membakar dua belas roti bundar dari padanya, setiap roti bundar harus dibuat dari dua persepuluh efa;
(24:6) engkau harus mengaturnya menjadi dua susun, enam buah sesusun, di atas meja dari emas murni itu, di hadapan TUHAN.
(24:7) Engkau harus membubuh kemenyan tulen di atas tiap-tiap susun; kemenyan itulah yang harus menjadi bagian ingat-ingatan roti itu, yakni suatu korban api-apian bagi TUHAN.
(24:8) Setiap hari Sabat ia harus tetap mengaturnya di hadapan TUHAN; itulah dari pihak orang Israel suatu kewajiban perjanjian untuk selama-lamanya.
(24:9) Roti itu teruntuk bagi Harun serta anak-anaknya dan mereka harus memakannya di suatu tempat yang kudus; itulah bagian maha kudus baginya dari segala korban api-apian TUHAN; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya."
Imamat 6: 14-16
(6:14) "Inilah hukum tentang korban sajian. Anak-anak Harun haruslah membawanya ke hadapan TUHAN ke depan mezbah.
 (6:15) Setelah dikhususkan dari korban sajian itu segenggam tepung yang terbaik dengan minyak, serta seluruh kemenyan yang di atas korban sajian itu, maka haruslah semuanya dibakar di atas mezbah sehingga baunya menyenangkan sebagai bagian ingat-ingatannya bagi TUHAN.
(6:16) Selebihnya haruslah dimakan oleh Harun dan anak-anaknya; haruslah itu dimakan sebagai roti yang tidak beragi di suatu tempat yang kudus, haruslah mereka memakannya di pelataran Kemah Pertemuan.

Korban sajian = roti sajian, yaitu roti tanpa ragi dari tepung yang terbaik = roti kudus.
Roti -> Firman Allah
Tanpa ragi = tanpa dosa kejahatan
Berarti mempersembahkan korban sajian adalah hidup benar sesuai dengan Firman Tuhan, tanpa dosa kejahatan, karena sedikit ragi/dosa kejahatan saja sudah mengkamiri seluruh adonan/seluruh hidup.
Saya dan saudara adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia dari segala sesuatu, lebih mulia dari binatang yang merayap dan yang ada di dalam air, dan lebih mulia dari tumbuh-tumbuhan di atas muka bumi dan yang lain-lain, oleh sebab itu, biarlah kita hidup benar sesuai dengan Firman Tuhan tanpa ragi/dosa kejahatan.
Kalau manusia hidup dengan segala kejahatan/terkamiri oleh ragi, tidak menyenangkan, tidak manis di hadapan Tuhan, tetapi kalau umbi-umbian di kasih ragi akan menjadi manis dan enak untuk dimakan, tetapi manusia bukanlah umbi-umbian.

3.      Korban sembelihan
Mazmur 51: 19
(51:19) Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Korban sembelihan kepada Allah adalah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk, tidak akan Kau pandang hina, ya Allah.
Sebab itu, biar kita selalu merendahkan diri, supaya saat kita hancur hati di kaki Tuhan, itu bukanlah luapan hati semata, tetapi kalau kita benar-benar rendah hati, air mata itu tidaklah karena luapan. Kalau air mata karena luapan hati itu hanyalah sesaat, tetapi kalau rendah hati, air mata adalah karena Firman Tuhan yang mengajar, menasehati, sampai jiwa hancur, hati patah dan remuk.
Biarlah kita terus rendah hati, agar air mata yang keluar bukanlah karena luapan hati, inilah korban sembelihan yang benar di hadapan Tuhan.
Biarlah kita hancur hati saat diajar oleh Firman, janganlah mengeraskan hati, seperti tanah kering yang tidak membutuhkan air.
= berdiri di atas korban Kristus = aniaya karena Firman = sengsara salib

4.      Korban curahan
Korban curahan -> urapan Roh Kudus
Biarlah Roh Kudus senantiasa tercurah dalam kehidupan kita ini sehingga hidup kita ini bukan kita lagi tetapi Roh Kuduslah yang memimpin kita setiap saat, setiap waktu dimanapun kita berada.
Contoh:
Kejadian 35: 13-15
(35:13) Lalu naiklah Allah meninggalkan Yakub dari tempat Ia berfirman kepadanya.
(35:14) Kemudian Yakub mendirikan tugu di tempat itu, yakni tugu batu; ia mempersembahkan korban curahan dan menuangkan minyak di atasnya.
(35:15) Yakub menamai tempat di mana Allah telah berfirman kepadanya "Betel".

Minyak -> urapan Roh Kudus
Berarti kalau minyak tercurah di atas kepala kita, kita hidup oleh Roh Kudus/dipimpin oleh Roh Kudus sebab hidup saya dan saudara adalah rumah Tuhan, tempat Roh Allah berdiam seperti Yakub menuangkan minyak di atas tugu batu yang didirikan di Betel.
Betel artinya rumah Tuhan/tempat Roh Allah berdiam.



TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA